Saturday, 15 June 2019

Tahlilan, Strategi Dakwah ala Islam Nusantara


Di desa tempat saya tinggal saat ini, di pedalaman Madura, ada tradisi tahlilan bersama di pemakaman umum desa di sore hari di hari lebaran Idulfitri. Sekitar pukul empat sore, sebagian warga desa—tua, muda, laki-laki, perempuan, remaja, anak kecil—berbondong-bondong datang ke pemakaman umum Desa Taro’an, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan. Beberapa warga yang mudik dari tempat mereka merantau pun turut hadir.

Tradisi tahlil bersama di hari lebaran sebenarnya sesuatu yang lazim khususnya di Madura. Di tanah kelahiran saya di Desa Guluk-Guluk, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, tahlilan dilakukan tepat setelah salat Idulfitri di masjid.

Berbeda dengan tahlilan yang dilaksanakan setelah salat Idulfitri yang juga digelar di tempat saya salat Id, tahlilan di pemakaman umum Desa Taro’an di sore hari di hari lebaran ternyata punya sedikit latar cerita yang cukup menarik.

Menurut para tetua di desa kami, dulunya di hari lebaran pemakaman umum desa kami sering ditempati orang-orang bermain taruhan atau judi. Waktunya biasanya antara setelah asar hingga jelang maghrib. Orang-orang bergerombol di sudut-sudut lokasi pemakaman. Warga resah. Tak ada yang berinisiatif mengambil tindakan.

Kemudian salah satu tokoh masyarakat desa mengajukan usulan. Namanya Kiai Zainuddin Abdul Mu’thi. Dengan beberapa tokoh masyarakat, dia mengajak warga untuk tahlil bersama di pemakaman umum di sore hari di hari lebaran. Tujuan utamanya agar orang-orang yang biasa main taruhan di pemakaman umum jadi sungkan dan berhenti main taruhan di sana.

Walhasil, usulan ini disambut baik oleh warga. Di sore hari di hari lebaran, warga berduyun-duyun ke pemakaman umum Desa Taro’an. Beberapa orang membawa alas. Ada juga yang menyiapkan pengeras suara. Tahlil pun digelar secara rutin tiap lebaran Idulfitri—juga Iduladha.

Sejak saat itu, orang-orang yang bermain taruhan di pemakaman tak ada lagi. Tak terdengar kabar apakah orang-orang itu masih melanjutkan kebiasaannya di tempat yang lain.

Dalam tahlilan yang rutin dilaksanakan, Kiai Zainuddin yang memimpin tahlilan juga mengingatkan warga pada leluhur desa yang makamnya ada di pemakaman umum tersebut. Memang, orang-orang di Desa Taro’an tidak tahu tentang riwayat dan silsilah tetua desa yang makamnya ada di pemakaman umum desa. Makamnya pun cukup unik. Dua makam yang dari batu nisannya teridentifikasi jenis kelamin laki-laki dan perempuan terletak di tengah pemakaman umum desa. Dua makam ini dikelilingi oleh batu karang setinggi sekitar setengah meter. Cukup aneh, karena lokasi Desa Taro’an berjarak sekitar 6,5 km dari pantai.

Jadi, selain memberantas maksiat, kegiatan tahlilan ini juga menjadi sarana untuk menyambungkan silsilah keimanan dan dakwah warga dengan leluhur desa yang dipercaya merintis dakwah Islam di desa kami. Hal ini terus diingatkan setiap acara tahlil digelar, sambil juga ditambahi dengan pesan-pesan keagamaan yang bersifat kontekstual.

Tahun demi tahun, perhatian masyarakat Desa Taro’an pada pemakaman umum di desanya semakin membaik. Dua tahun yang lalu, secara bergotong royong masyarakat desa membangun congkop atau pendopo kecil tepat di tengah lokasi pemakaman umum, di sekitar dua makam leluhur desa. Ukurannya sekitar 10 x 8 meter.

Setelah bangunan ini selesai, masyarakat juga membuat kegiatan rutin bulanan. Setiap hari Jum’at legi, masyarakat Desa Taro’an menggelar acara khataman Alquran, dimulai dari pagi-pagi benar setelah subuh hingga siang. Selain mendoakan para leluhur, khataman juga diniatkan untuk keselamatan desa dan masyarakatnya.

Bagi saya, kisah ini memberikan sedikit gambaran tentang pola dan strategi dakwah ala Islam Nusantara yang teduh dan tidak menggunakan cara kekerasan. Saya yakin, model dan strategi dakwah Islam yang seperti ini cukup banyak untuk ditemukan di tingkat akar rumput, meski minim publikasi.


Read More..

Tuesday, 4 June 2019

Pesan Kebangsaan Idul Fitri


Idul Fitri memiliki makna spiritual yang bersifat individual dan sosial. Pada tingkat perorangan, Idul Fitri adalah perayaan kembalinya seseorang ke fitrah kemanusiaan yang suci setelah melalui tempaan puasa satu bulan penuh. Melalui olah rohani pengendalian diri selama bulan puasa, pribadi yang berhasil akan meraih kemenangan dengan kembali ke status asal penciptaan—seperti terlahir suci.

Pemahaman tentang makna spiritual Idul Fitri secara sosial dapat berangkat dari pemahaman fitrah individual manusia. Menurut M Quraish Shihab, penamaan manusia dengan kata al-insan—dalam bahasa Arab yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia—diambil dari kata uns yang berarti senang atau harmonis. Artinya, manusia memiliki fitrah mendasar untuk menjalin hubungan baik yang bersifat harmonis dengan sesama.

Manusia yang jalinan hubungannya dengan orang lain terganggu pasti juga akan mengalami kegelisahan. Hidupnya tidak akan bisa tenang. Manusia yang menyakiti orang lain, mendendam, atau melakukan dosa, berarti telah mengotori fitrah kemanusiaannya.

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, di antara pesan Idul Fitri yang penting digarisbawahi, dorongan untuk menjaga dan memperkuat jalinan harmoni antarmanusia. Berbagai fenomena kehidupan kebangsaan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan, ancaman terhadap harmoni kebangsaan tidak pernah usai. Memang benar di balik keragaman bangsa juga tersimpan potensi bekerja sama menuju bangsa yang unggul. Namun, tidak sedikit pula gejala yang menunjukkan bahwa harmoni itu dapat terganggu.

Salah satu pengganggu yang semakin mengkhawatirkan adalah persebaran hoaks karena intensitasnya semakin meningkat dan dampaknya semakin meluas mulai dari lokal hingga nasional. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, dalam empat bulan pertama tahun 2019, persebaran hoaks media sosial terus meningkat. Kemenkominfo mencatat ada 175 hoaks di bulan Januari 2019, 353 di bulan Februari, 453 di bulan Maret, dan 486 di bulan April.

Hoaks yang mengancam harmoni kebangsaan ini terutama berkaitan dengan isu politik. Identifikasi Kemenkominfo, periode Agustus 2018 hingga April 2019, dari 1.731 hoaks, 620 di antaranya masuk dalam kategori politik dan 210 masuk kategori pemerintahan.

Hoaks di bidang politik terkait pemilu yang baru usai digelar. Dampak persebarannya membuat masyarakat terbelah ke dalam kubu-kubu politik yang terus membangun narasi disharmoni yang tidak sehat. Beberapa dampaknya bahkan berupa tindak kekerasan seperti Mapolsek Tambelangan di Kabupaten Sampang pada 22 Mei lalu akibat hoaks yang ditelan mentah-mentah.

Narasi disharmoni terus terbangun terutama di media sosial, disusun oleh kaum awam yang memang kurang berpendidikan hingga dilakukan oleh mereka yang secara formal sudah cukup terdidik. Narasi disharmoni dan ancaman perpecahan sangat mengganggu kehidupan berbang-sa dan bernegara karena jalan untuk membangun dan meningkatkan mutu kehidupan masyarakat akan terhambat. Nalar dan emosi warga banyak dikotori informasi sesat, sehingga ruang kerja sama untuk berbuat kebajikan menyempit.

Secara teknis, hoaks dapat diatasi dengan klarifikasi dan peningkatan literasi. Kemenkominfo sendiri tak hanya berhenti mengidentifikasi hoaks di internet, tapi juga memverifikasi dan memvalidasi, sehingga diharapkan dapat memulihkan keadaan. Selain Kemenkominfo, banyak komunitas yang juga gigih mengidentifikasi dan mengklarifikasi hoaks.

Harmoni kebangsaan yang terancam hoaks dapat juga dilawan dengan memperkuat makna spiritual Idul Fitri khususnya dalam konteks fitrah harmoni manusia sebagai makhluk sosial. Dengan merayakan Idul Fitri, umat Islam khususnya didorong menjernihkan sikap batin dalam memandang dan berinteraksi dengan orang lain.

Dalam literatur dan tasawuf, umat Islam sering diingatkan tentang bahaya prasangka, dengki, dan dendam. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad Saw mengingatkan agar kita berhati-hati dengan prasangka karena bisa serupa berita bohong. Dalam hadis yang lain dikatakan, jika di benak terlintas prasangka buruk tentang orang lain, jangan melayani dan melanjutkannya dengan tindakan lain.

Hoaks tentang “polisi Tiongkok” dalam aksi demo yang berlanjut rusuh pada 21-22 Mei lalu dapat menjadi cermin dan pelajaran tentang tindakan ceroboh dan grusa-grusu yang dipupuk oleh prasangka. Pelaku tanpa menyadari dapat mengganggu harmoni dan mengancam keutuhan bangsa.

Sikap dengki juga tak kalah berbahaya. Imam Syafi’i (w 820) mengingatkan, setiap permusuhan sejatinya dapat diharapkan bisa membaik, kecuali yang didasari sikap dengki. Sikap dengki mengotori pikiran seseorang, sehingga menutup pintu nalar dan hati yang jernih.

Maaf dan Cinta

Prasangka dan dengki mengotori hati, sehingga mengganggu fitrah harmoni sebagai modal pokok dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Idul Fitri mengajarkan agar umat terus belajar mencapai tingkat ketulusan maaf yang sejati. Maaf adalah wujud kesadaran bahwa dendam, kebencian, dan kemarahan hanyalah penghalang kebebasan yang justru memerangkap kita di ruang ego yang sempit dan pengap.

Orang yang mampu memberi maaf dapat menahan diri dari upaya membalas dendam. Menurut ajaran Islam sebagaimana tertuang dalam Surah Annahl ayat 125, membalas dengan setimpal itu diizinkan. Akan tetapi, memaafkan itu jauh lebih baik. Jalaluddin Rakhmat menerangkan, memaafkan itu lebih baik. Menurutnya, manusia cenderung membalas lebih buruk, sehingga terjerembap ke perilaku zalim.

Dalam kehidupan sosial, maaf di sini tentu saja tidak berarti kita menafikan nilai dan dampak perilaku buruk, zalim, dan tidak adil. Perbuatan buruk tetap harus diadili. Namun, maaf di sini lebih sebagai sebuah sikap batin dalam melihat dan membuka jalinan dengan orang lain. Sebab, tertutupnya pintu maaf juga berarti tertutupnya kemungkinan jalinan harmoni dan kerja sama dengan orang lain.

Pada lapisan makna yang terdalam, memaafkan adalah ungkapan cinta. Memberi maaf dengan tulus merupakan ungkapan cinta pada orang yang dimaafkan. Ini tingkat tertinggi sikap batin memaafkan. Jika terus dipupuk akan menjadi kekuatan besar dalam merawat harmoni kebangsaan.

Umat Islam yang sudah menjalani puasa harus berbesar hati bahwa dirinya sudah berhasil melewati jihad dan latihan batin menaklukkan berbagai bentuk nafsu sepanjang bulan. Inilah yang perlu terus dijaga. Sebab di antara pesan kebangsaan Idul Fitri yang cukup kontekstual saat ini adalah panggilan untuk senantiasa menjaga fitrah harmoni kemanusiaan sebagai dasar bagi upaya untuk terus menebarkan kebajikan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 4 Juni 2019.

Read More..

Thursday, 18 April 2019

Para Pengilham dan Bahan Baku Harapan


Judul buku: DI’s Way: Pribadi-Pribadi yang Menginspirasi
Penulis: Dahlan Iskan
Penerbit: Noura Books, Jakarta
Cetakan: Pertama, Februari 2019
Tebal: 200 halaman
ISBN: 978-602-385-765-4

Harapan adalah penggerak untuk mendorong perubahan di tengah situasi yang menantang. Bangsa yang mau bangkit harus bisa mengindustrialisasi harapan (manufacturing hope)—istilah yang diperkenalkan Dahlan Iskan setelah diangkat menjadi Menteri BUMN pada tahun 2011. Untuk mengindustrialisasi harapan, kata Dahlan Iskan, bahan bakunya adalah niat baik, ikhlas, kreativitas, tekad, dan totalitas.

Buku ini memuat 25 kisah sosok-sosok mengilhamkan yang dijumpai Dahlan. Melalui esai-esai renyahnya, Dahlan menjadi corong untuk menyuplai bahan baku harapan untuk bangsa ini.

Dahlan berkisah tentang Irwansyah, pribadi inspiratif dari Desa Untoronadi, Magetan. Irwansyah menjadi semacam Bulog di desanya. Setelah panen, dia membeli gabah petani yang harganya sedang anjlok. Tapi harga belinya tidak lantas ikut anjlok juga dan selesai setelah transaksi. Irwansyah menjual gabah tersebut saat harga sudah naik. Hasil jualnya dihitung ulang: uang yang sudah diterima petani dihitung, dipotong biaya proses pengeringan, dan sisanya dikembalikan ke petani.

Dari mana Irwansyah mengambil keuntungan? Dia mengambil laba dari pekerjaannya sebagai penjual pupuk. “Strategi Bulog” Irwansyah digunakan untuk mempertahankan loyalitas konsumennya.

Irwansyah sejauh ini hanya mampu membeli gabah dari 40 petani di desanya. Tapi peran dan strateginya luar biasa. Kata Dahlan, Irwansyah menggabungkan peran Bulog, Bank Indonesia, Bappenas, Kementan, dan BUMN untuk level desa (hlm. 132-137).

Esai-esai dalam buku yang semula terbit di “rumah baru” Dahlan, disway.id, ini juga menuturkan kehebatan sosok-sosok pengilham di bidang teknologi. Dahlan berkisah tentang Profesor Raldi Artono Koestoer yang di kartu namanya tak mencantumkan gelar apa pun. Kata Dahlan, Profesor Raldi bukan intelektual biasa. Dia intelektual egaliter. Kerja intelektulanya tak hanya dengan disiplin berpikir keras. Dia juga membawa misi. Misi kemanusiaan.

Profesor Raldi membuat inkubator murah untuk mengatasi masalah meninggalnya bayi prematur. Inkubator buatan Profesor Raldi hanya butuh listrik 50 watt. Beratnya 13 kg. Tapi inkubatornya ini hanya dijual khusus. Yakni khusus untuk pembeli yang mau jadi relawan: meminjamkan untuk orang miskin (hlm. 17-21).

Dahlan juga menulis tentang Garuda Maintenance Facility (GMF), salah satu anak perusahaan Garuda yang sukses besar. GMF yang dipimpin oleh Ir. Iwan Joeniarto MM ini ternyata dipercaya melayani perawatan pesawat banyak maskapai asing, seperti KLM. Total, GMF yang berlokasi dekat landasan pacu bandara Soekarno-Hatta melayani maskapai dari 15 negara (hlm. 26).

Namun kadang inovasi, niat baik, dan kreativitas anak negeri menghadapi kendala yang cukup ironis. Rudy Tavinos membuat ide brilian dengan membuat kilang di dekat sumur minyak sehingga minyak mentah tidak perlu diangkut ke sana kemari.

Membangun kilang butuh biaya besar. Sekitar 100 triliun rupiah. Balik modalnya lama. Jadinya rencana membangun kilang tak kunjung nyata sehingga BBM impor terus. Rudy muncul dengan ide sederhana tapi jitu: membuat “kilang mulut tambang”. Meskipun kapasitasnya kecil, tapi mangkus. Tantangan teknis berhasil diatasinya. Hasilnya, produksi sumur minyak Exxcon Cepu diolah di kilang Rudy.

Akan tetapi, kisah Rudy berakhir menyedihkan. Kata Dahlan, lumbung itu tidak untuk ayam. Keluar aturan pemerintah yang melarang jual minyak mentah di mulut tambang. Ironis. Akhirnya kilang Rudy tutup (hlm. 124-128).

Pada titik ini, kita melihat bahwa Dahlan dalam esai-esainya ini tidak hanya menyodorkan bahan baku harapan. Dahlan juga memercikkan cara pandang kritis. Bahwa bahan baku harapan pada akhirnya juga harus dikelola dan disinergikan dengan kebijakan oleh para pengurus publik.

Seperti juga saat Dahlan berkisah tentang Erika Eriyanti, petani wortel dari Batu, Malang, yang hanya lulusan SMA. Dia memimpin rekan-rekannya untuk belajar dan berinovasi, termasuk belajar kepada para petani di Berastagi, Sumut. Di esai ini, Dahlan menyentil dengan humor, dengan mengatakan bahwa petani seperti Erika ini terlihat kian mandiri, berusaha maju tanpa “bantuan dari pemerintah, misalnya pemerintah Tiongkok” (hlm. 41).

Kisah para pengilham di buku ini adalah senjata ampuh untuk menyuburkan harapan dan melawan sikap pesimistis dalam menatap masa depan. Kisah-kisah dalam buku ini penting untuk dicerna dan disebarkan, agar model kreativitas, tekad, ketulusan, dan kerja positif lainnya dapat ditiru dan dikembangkan di tempat lainnya.


Tulisan ini adalah naskah awal yang kemudian disunting redaksi dan dimuat di Koran Jakarta, 18 April 2019.


Read More..

Friday, 25 January 2019

Melawan Hoaks, Merawat Demokrasi


Judul buku: Kebohongan di Dunia Maya: Memahami Teori dan Praktik-Praktiknya di Indonesia
Penulis: Budi Gunawan dan Barito Mulyo Ratmono
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta
Cetakan: Pertama, 2018
Tebal: xvi + 166 halaman
ISBN: 978-602-424-868-0

Belakangan ini, berita bohong (hoax) dan berita palsu (fake news) semakin merajalela. Pembuat, penyebar, dan konsumennya bahkan melibatkan orang-orang terdidik. Dampaknya, kehidupan sosial menjadi kacau. Harmoni dan kesatuan masyarakat terancam.

Ancaman ini kian nyata jika kita melihat data Kementerian Komunikasi dan Informatika tahun 2018 yang menyebutkan bahwa penanganan konten negatif seperti hoaks, berita palsu, dan ujaran kebencian pada tahun 2017 meningkat sembilan kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Buku ini membedah fenomena hoaks yang menjamur di Indonesia pada beberapa tahun terakhir ini. Uraiannya yang ringkas, kaya data, dan memberi pemetaan dan solusi konkret adalah kelebihan buku ini. Apalagi kedua penulisnya berpengalaman di berbagai jabatan di instansi kepolisian dan saat ini bekerja di Badan Intelijen Negara (BIN).

Hoaks muncul bersamaan dengan munculnya media baru di jagat maya khususnya media sosial. Platform media baru ini mendorong berkembangnya budaya partisipasi (participatory culture) yang tidak saja menempatkan masyarakat sebagai konsumen teknologi, tetapi juga sebagai produsen yang siap menyumbangkan konten sesederhana apa pun di dunia internet.

Melalui media baru yang lazim disebut media sosial inilah hoaks di Indonesia pada khususnya menyebar dengan cara yang cukup mudah dan juga murah. Murah, karena memang tanpa biaya. Mudah, karena pengguna media sosial di Indonesia khususnya terus meningkat.

Pola produksi berita hoaks pada dasarnya masih memanfaatkan media arus utama. Para pembuat hoaks mengamati berita yang berpotensi menimbulkan kontroversi, meramunya dengan fiksi diberi bumbu SARA dan ujaran kebencian, dan mengganti judul (kadang juga gambar) dengan gaya bombastis dan provokatif.

Mesin penyebaran hoaks melalui media sosial menggunakan beberapa strategi. Di antaranya dengan membuat akun-akun anonim dan mengikuti situs-situs sumber hoaks, lalu membagikan berita-berita hoaks tersebut ke jaringan pertemanannya. Pengelola akun anonim ini membidik jaringan pertemanannya yang gemar membagikan postingan hoaks mereka untuk diteruskan pada kelompok pertemanannya masing-masing.

Penyebaran hoaks kadang juga memanfaatkan pengamat politik atau politisi yang memiliki kesesuaian sikap politik dengan muatan hoaks secara sadar atau tidak didorong untuk dapat dijadikan mesin viralisasi.

Penyebaran hoaks terutama dilatarbelakangi oleh motif ekonomi dan politik. Situs-situs penyebar hoaks terbukti dapat meraup keuntungan yang besar dari iklan. Situs postmetro.co misalnya memperoleh pendapatan iklan 25 hingga 30 juta rupiah per bulan dengan memproduksi sekitar 80 berita palsu. Sementara itu, portalpiyungan.co diperkirakan memperoleh penghasilan 379 dolar AS per tahun dari iklan, sedangkan seword.com 854 dolar AS per tahun. Secara politik, berita hoaks digunakan untuk menyerang lawan politik, menebar kebencian, dan juga meningkatkan rasa percaya diri dan untuk personal branding.

Di sini kita dapat melihat bahwa hoaks sangatlah mengancam kehidupan demokrasi. Saat ruang publik dikotori oleh berita-berita palsu, masyarakat dapat digiring pada sikap tertentu dengan lebih mengandalkan sentimen emosional dan mengabaikan nalar sehat mereka. Di sisi lain, hoaks juga memperlihatkan cara-cara yang tidak sehat dan tidak bermoral untuk meraih pengaruh kekuasaan.

Menghadapi fenomena hoaks ini, buku ini mengajukan solusi dengan pendekatan reflexive security dengan melibatkan unsur negara, pasar, dan masyarakat. Negara harus memperkuat aturan dan perangkat terkait pemberantasan hoaks, seperti sanksi atas laman pembuat dan pelaku penyebar hoaks. Pasukan siber pemerintah juga harus lebih berdaya dan sigap cara kerjanya. Selain itu, korporasi atau pelaku pasar, seperti yang terkait sumber iklan yakni Google dan Facebook, harus didorong agar dapat bekerja sama baik dalam hal menghentikan iklan pada sumber-sumber hoaks maupun dalam hal penyaringan informasi.

Yang tak kalah penting, masyarakat perlu terus didorong untuk kritis dan aktif memerangi hoaks. Melek informasi atau literasi digital harus terus diupayakan.

Beriringan dengan fakta-fakta mutakhir yang semakin jelas di depan mata, buku ini mengingatkan kita semua bahwa ancaman hoaks harus segera dilawan dan diantisipasi bersama. Tujuan utamanya demi menyelamatkan mutu kehidupan demokrasi, agar masyarakat dapat menemukan ruang publik yang jernih dan dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang lebih baik dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.


Tulisan ini adalah naskah awal yang kemudian disunting redaksi dan dimuat di Koran Jakarta, 24 Januari 2019.

Read More..

Sunday, 9 December 2018

Warisan Gus Dur untuk Resolusi Konflik


Judul buku: Gus Dur, Islam Nusantara, dan Kewarganegaraan Bineka: Penyelesaian Konflik Aceh dan Papua 1999-2001
Penulis: Ahmad Suaedy
Penerbit: Gramedia, Jakarta
Cetakan: Pertama, November 2018
Tebal: xxxiv + 488 halaman
ISBN: 978-602-06-1813-5

Diceritakan bahwa suatu hari Presiden Abdurrahman Wahid—yang akrab dipanggil Gus Dur—menerima laporan bahwa di Papua ada pengibaran bendera Bintang Kejora–bendera Organisasi Papua Merdeka (OPM). Kalangan tentara melihat ini sebagai bentuk ancaman separatisme. Setelah mengetahui bahwa ada juga bendera merah putih yang dikibarkan dengan posisi lebih tinggi, Gus Dur dengan santai menanggapi, “Anggap saja Bintang Kejora itu umbul-umbul.”

Jawaban ini bukan sekadar guyonan khas Gus Dur. Jawaban ini dapat menjadi pintu masuk untuk memahami strategi penyelesaian konflik ala Gus Dur khususnya dalam kasus Aceh dan Papua secara lebih menyeluruh, sebagaimana yang dipaparkan dengan baik oleh Ahmad Suaedy dalam buku ini.

Menurut Suaedy, Gus Dur mendobrak asumsi dan visi mendasar dalam penanganan konflik Aceh dan Papua yang sebelumnya hanya parsial, belum radikal, bahkan salah jalur. Untuk konflik Aceh, misalnya, Presiden Habibie memberi jalan keluar dengan diterbitkannya UU No. 44/1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh yang mengakomodasi penerapan syariah Islam di Aceh. Padahal, masalah pokok konflik Aceh adalah ketidakadilan ekonomi dan represi militer. Demikian pula, penanganan konflik di Papua pada masa pemerintahan Soeharto cenderung manipulatif, represif, dan melibatkan kekerasan oleh tentara.

Bagi Gus Dur, konflik Aceh dan Papua berakar pada visi kewarganegaraan yang keliru yang membuat kepedulian negara pada warganya cenderung formalistik belaka. Sentralisme Orde Baru ala Soeharto menempatkan protes rakyat sebagai ancaman. TNI masa itu mendefinisikan tantangan nasional di antaranya dalam wujud separatisme.

Gus Dur memperjuangkan visi kewarganegaraan bineka yang berusaha menempatkan seluruh unsur warga negara secara setara. Masyarakat Papua dan Aceh bukanlah musuh negara. Mereka juga warga negara yang setara, sama-sama memiliki aspirasi dan juga ingin mendapatkan perlakuan yang adil dari negara.

Kesetaraan ini diterjemahkan dengan memberikan pengakuan (recognition) terhadap eksistensi masyarakat Papua atau OPM dan Aceh atau GAM. Pengakuan ini kemudian diikuti dengan penghormatan (respect) yang berwujud kesediaan untuk memberikan kebebasan berekspresi, berkumpul, dan juga jaminan keamanan.

Tentu saja, langkah-langkah ini oleh Gus Dur dimulai dengan membangun hubungan saling percaya (trust) yang sebelumnya tidak ada antara pemerintah dan kelompok-kelompok di Aceh dan Papua. Kebijakan Gus Dur untuk mengizinkan pengibaran bendera Bintang Kejora di Papua dan Bulan Bintang di Aceh juga dalam kerangka tersebut. Gus Dur juga menunjuk Jacobus Perviddya Solossa, yang ikut menandatangani pernyataan tuntutan merdeka kepada Presiden Habibie, sebagai Gubernur Papua.

Langkah Gus Dur dalam usaha menyelesaikan konflik Aceh dan Papua secara damai berpuncak pada capaian tersusunnya RUU Otonomi Khusus untuk Aceh dan Papua yang mengakomodasi aspirasi politik, ekonomi, dan budaya masyarakat Aceh dan Papua. Proses pembahasan RUU ini di DPR mendapatkan pengawalan oleh gerakan masyarakat sipil sehingga meskipun Gus Dur dilengserkan semangat UU tersebut tidak berubah arah.

Buku yang semula merupakan disertasi penulisnya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini adalah karya yang sangat berharga yang berusaha merekam warisan pemikiran dan aksi nyata Gus Dur dalam penyelesaian konflik Aceh dan Papua yang telah banyak memakan korban. Suaedy dalam buku ini juga menunjukkan bahwa pemikiran dan aksi Gus Dur dalam penyelesaian konflik Aceh dan Papua ini berlandaskan pada metodologi Islam post-tradisional yang merupakan khazanah Islam Nusantara. Gus Dur, menurut Suaedy, memilih jalan non-ideologis sebagai landasan penyelesaian konflik dengan memberi penekanan pada tujuan dan misi Islam untuk kesejahteraan masyarakat yang dalam terma Islam Nusantara populer dengan istilah rahmatan lil ‘alamien.

Kita tahu bahwa hingga kini penyelesaian konflik Aceh dan Papua masih belum benar-benar tuntas. Dengan demikian, buku ini mengingatkan bahwa perjuangan visi kewarganegaraan bineka yang menjadi semangat Gus Dur harus terus dikawal ketat, termasuk mengawal unsur keadilan kepada kelompok-kelompok yang (dulunya) terpinggirkan. Sebab, kata Gus Dur, perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi.


Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 9 Desember 2018.


Read More..

Friday, 30 November 2018

Bersyukur, Rahasia Hidup Bahagia


Judul buku: Chicken Soup for the Soul: Kekuatan Bersyukur (101 Kisah tentang Berterima Kasih yang Dapat Mengubah Hidup)
Editor: Amy Newmark dan Deborah Norville
Penerbit: Gramedia, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2018
Tebal: xviii + 504 halaman
ISBN: 978-602-03-8103-9


Meraih hidup bahagia sebenarnya banyak tergantung pada sikap batin kita. Penderitaan atau bahkan kesengsaraan hidup sering kali terjadi karena sikap batin yang tidak tepat.

Buku ini menyajikan kisah-kisah inspiratif tentang kekuatan bersyukur sebagai salah satu sikap batin yang dapat mengantarkan pada kebahagiaan. Bersyukur dalam 101 kisah yang tersaji dalam buku ini dimaknai melalui pengalaman yang beragam sehingga nuansa maknanya menjadi sangat kaya.

Dalam pengantar editor ditegaskan bahwa bersyukur itu tidak sama dengan mengucapkan terima kasih. Memang benar bahwa ucapan terima kasih sebagai salah satu wujud sikap sopan santun dapat membantu memperlancar hubungan sosial. Namun, berterima kasih memiliki makna yang jauh lebih mendalam (hlm. xii).

Elizabeth Atwater menceritakan perubahan cara pandangnya tentang kakeknya saat sang kakek meninggal dunia. Sejak kecil hingga remaja, dia memandang kakeknya sebagai laki-laki yang tak punya apa-apa. Kakeknya hidup pas-pasan dan bekerja sebagai tukang. Rumahnya sesak dan lusuh. Perabotnya tidak menarik. Dalam hati, Atwater kerap mencemooh saat kakeknya bercerita tentang keberuntungan hidupnya.

Namun pandangan Atwater berbalik ketika hadir pada pemakaman kakeknya. Atwater terkesiap saat melihat nyaris orang sekota hadir pada acara pemakaman itu. Bill Fletcher, hartawan di kota kecil itu memberi kesaksian yang luar biasa tentang kakeknya. “Dia tidak pernah punya banyak uang, tetapi betapa berharganya harta yang dimilikinya,” kata Fletcher.

Atwater tersadar bahwa kakek yang di matanya tak punya apa-apa itu ternyata dipandang dengan iri hati oleh orang yang memiliki segalanya yang dapat ditawarkan oleh dunia (hlm. 316-318).

Kakek Atwater adalah sosok yang hidup dengan penuh syukur atas anugerah hidup yang dimilikinya. Sang kakek melihat segala sesuatu dengan hatinya yang bening sehingga semua nikmat dapat benar-benar terasa dan merasuk dalam batinnya. Itulah yang membuatnya bahagia.

Bersyukur pada dasarnya juga adalah tentang perspektif. Orang yang sulit bersyukur lebih sering berpikir negatif sehingga tidak mampu melihat berkah hidup yang diterimanya.

Kisah Diane Stark dalam buku ini dapat mewakili orang-orang yang suka mengeluh saat menghadapi hal-hal sepele yang tidak disukainya dan menutupi limpahan kebaikan lainnya. Stark mengomel saat kehabisan krim kopi kesukaannya, mengeluh saat merasa tidak suka dengan warna mobilnya, dan sebagainya. Padahal, di Afrika ada anak-anak yang kesulitan mendapatkan sepatu dan berisiko terkena kutu jiggers sehingga kakinya kadang harus diamputasi.

Stark sadar bahwa kegembiraannya selama ini sering direnggut oleh cara pandangnya yang membuat dia sering mengeluh. Bersyukur adalah jalan keluarnya (hlm. 194-198).

Kesadaran untuk bersyukur kadang tidak mudah diraih. Ia membutuhkan latihan. Membuat perbandingan, seperti yang dilakukan Stark, adalah salah satu bentuknya. Ada juga cara yang lain, seperti dalam kisah Earlene yang mengeluhkan suaminya yang mulai memasuki masa pensiun dan sering membuatnya kesal. Temannya lalu menyarankan Earlene untuk menulis daftar kebaikan suaminya. Daftar inilah yang kemudian membuatnya berubah dan mulai bersyukur (hlm. 90-92).

Kisah-kisah dalam buku ini mengungkapkan bahwa bersyukur dapat menekan beban hidup dan mengikis stres. Ada emosi positif yang ditularkan dalam sikap syukur yang kita pilih. Karena itu, bersyukur dapat menyegarkan hidup kita yang suntuk dan dipenuhi dengan pikiran jelek tentang situasi yang sedang dihadapi.

Di tengah kehidupan kita saat ini yang terasa semakin penuh beban, buku ini memberikan pelajaran penting tentang cara membentuk sikap batin positif untuk meraih kebahagiaan. Kisah-kisahnya yang bertolak dari pengalaman hidup sehari-hari yang sederhana membuat buku ini tidak terkesan menggurui sehingga pelajarannya terasa sangat membumi.


Tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 30 November 2018.

Read More..

Monday, 22 October 2018

Menyoal Pengembangan Literasi di Indonesia


Judul buku: Dongeng Panjang Literasi Indonesia: Sehimpun Esai
Penulis: Yona Primadesi
Penerbit: Kabarita, Padang
Cetakan: Pertama, 2018
Tebal: x + 110 halaman
ISBN: 9786026106278


Beberapa tahun terakhir, dunia literasi di Indonesia tampak mendapatkan tempat yang semakin baik. Kebijakan publik yang mendukung untuk pengembangan literasi bermunculan. Perhatian lembaga, masyarakat, dan perorangan pada pengembangan literasi juga tampak semakin meningkat.

Salah satu tanda meningkatnya perhatian pada dunia literasi tampak pada munculnya produk-produk edukasi untuk anak baik berupa buku dan media pembelajaran berbasis teknologi begitu populer. Linimasa media sosial dipenuhi dengan promosi produk-produk tersebut. Orangtua muda yang terobsesi agar anak-anaknya dapat gemar membaca, menjadi pintar, dan akhirnya sukses nyaris tak ragu untuk membeli produk-produk tersebut.

Namun, muncul pertanyaan kritis: apakah langkah seperti itu bagus untuk menumbuhkan kegemaran membaca dan menjadikan anak literat? Demikian juga, apakah kebijakan publik yang dibuat juga telah berada pada jalur yang tepat untuk mendorong kemajuan dunia literasi sebagai salah satu pilar kemajuan peradaban?

Yona Primadesi, dosen Ilmu Perpustakaan dan juga aktivis literasi dari Padang, dalam buku ini memberikan banyak catatan kritis atas pengembangan literasi di Indonesia, termasuk tentang cara sebagian orang memperkenalkan dunia literasi kepada anak-anak.

Menurut Yona, literasi dini (emerging literacy) tidak bisa dilakukan hanya dengan cara menyediakan bahan bacaan untuk anak-anak. Yona justru mengajukan gagasan untuk menghidupkan kembali tradisi yang berbasis kearifan lokal. Dalam masyarakat Minangkabau, misalnya, ada tradisi manjujai, yakni bentuk komunikasi antara ibu dan anak yang intens dengan berdendang, mendongeng, dan semacamnya. Dalam tradisi manjujai, legenda, sejarah, dongeng, dan anekdot lokal diperkenalkan. Pada tahapan selanjutnya, menurut tradisi masyarakat Minangkabau, anak laki-laki usia balig akan belajar secara informal di surau bersama rekan-rekan seusianya.

Mendongeng di sini bagi Yona tidak sama pengertiannya dengan membacakan buku dongeng. Mendongeng secara lebih mendasar adalah mengenalkan wawasan dan menanamkan minat pada pengetahuan. Karena itu, literasi dini yang lebih mendasar bukanlah dengan “memperlihatkan” atau menyediakan buku pada anak. Minat anak bukan diarahkan pada media, tapi pada materi atau topik-topik tertentu.

Pandangan Yona ini didasarkan pada pemahaman yang lebih luas tentang literasi. Di beberapa bagian buku ini, Yona mengkritik pandangan umum yang memahami literasi dalam kaitannya dengan membaca dan menulis belaka. Yona mengutip penjelasan Deklarasi Praha yang digagas PBB pada tahun 2003 tentang literasi yang mengelompokkan literasi dalam beberapa tahapan, yakni literasi dasar, kemampuan untuk meneliti dengan menggunakan referensi, kemampuan menggunakan media informasi, literasi teknologi, dan kemampuan mengapresiasi grafis dan teks visual.

UNESCO bahkan mendefinisikan literasi sebagai proses pembelajaran seumur hidup. Atas dasar ini, gagasan-gagasan Yona tentang literasi dalam buku ini berusaha keluar dari pemahaman umum yang menyempitkan makna literasi dengan hanya mencukupkan pada semboyan “Ayo Membaca!”.

Bagi Yona, literasi diarahkan untuk membentuk minat belajar dan mempertajam kepekaan anak pada kenyataan hidup di sekitarnya. Betul, kemampuan membaca dan menulis adalah kompetensi mendasar. Akan tetapi, kemampuan itu harus dilanjutkan dengan keterampilan mengelola, menganalisis, mengemas, dan membagikan informasi dengan baik.

Yona sendiri mempraktikkan literasi dini ini kepada putrinya, Naya, dengan cara yang cukup mengilhamkan. Yona tidak cukup mendongengkan cerita Si Kancil atau Malin Kundang, tapi juga menceritakan figur-figur sastrawan. Misalnya, Yona bertutur tentang Pramoedya Ananta Toer dengan berbagai sisi heroik, melankoli, dan dramatisasinya.

Yona, yang juga terlibat aktif dalam pengelolaan rumah baca, secara khusus menggarisbawahi pentingnya memperkenalkan sastra kepada anak. Tak hanya memupuk kecintaan pada buku, mendekatkan sastra pada anak juga membantu anak bersikap kritis dan peka memahami diri dan lingkungannya. Pada bagian ini Yona menyayangkan masih minimnya upaya untuk mengadaptasi dan mengemas ulang karya-karya sastra Indonesia agar lebih ramah anak.

Tanggung jawab pemupukan budaya literasi juga menjadi bagian kritik dalam buku ini. Selama ini, banyak orangtua yang berpikir untuk menyerahkan urusan pengembangan literasi pada sekolah, pemerintah, atau rumah baca. Padahal, tanggung jawab pertama mestinya ada pada keluarga. Pada titik ini, Yona juga menekankan pentingnya teladan dalam keluarga.

Orangtua yang hanya membelikan buku pada anaknya tapi tidak dapat menjadi figur sosok yang cinta buku dan literat maka rasanya akan tampak kurang padu di mata anaknya. Anak-anak belajar mencintai buku pertama-tama terutama dengan melihat orang-orang terdekatnya—siapa lagi kalau bukan orangtua—yang memiliki kebiasaan membaca yang baik.

Buku ini memuat banyak gagasan yang mengilhamkan untuk pengembangan literasi di Indonesia. Sudut pandangnya yang kritis dan juga berbasis pengalaman membuat buku ini memiliki kekuatan argumentasi yang kuat baik untuk diangkat sebagai saran untuk perorangan maupun sebagai rekomendasi kebijakan publik bagi pengembangan literasi.


Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 21 Oktober 2018.

Read More..

Saturday, 28 July 2018

Ternyata, Ada Pengurus Publik yang Tidak Melunasi Pajak Kendaraannya


Ternyata, sebagian pengurus publik tidak melunasi pajak kendaraannya. Kalau dalam Ilmu Logika, pernyataan ini termasuk proposisi partikular negatif. Kalau dalam kehidupan sehari-hari, pernyataan ini dapat termasuk kategori fakta. Saya tahu ini fakta dari sebuah tulisan yang saya baca pagi ini:

"Cerita buruk DPR sepertinya nggak ada matinye. Ada saja perilaku buruk anggota legislataif mulai dari hampir setiap waktu tertangkap Komisi Pemberantasan Korupsi karena korupsi sampai ditangkap polisi di jalan. Tidak ada habis-habisnya anggota DPR tertangkap karena korupsi. Cerita negatif kali ini anggota DPR tertangkap polisi lantaran ngemplang pajak kendaraan bermotor.

Tidak tanggung-tanggung, dia menunggak pajak selama dua tahun. Adalah anggota DPR dari Gerindra bernama Kardaya Warnika yang tertangkap basah ngemplang pajak. Anggota Komisi VII DPR itu terjaring razia karena tidak membayar pajak kendaraan bermotor. Dia ditangkap polisi di Jalan DI Panjaitan, Jakarta Timur."


Ini adalah kutipan tajuk rencana Koran Jakarta hari ini, 28 Juli 2018 yang kebetulan saya baca. Isinya tentang anggota DPR yang tertangkap polisi karena kendaraan bermotornya tidak dilunasi pajaknya.

Sebagai murid Kiai M Faizi dalam hal urusan pemeriksaan pajak kendaraan bermotor melalui pemeriksaan plat nomor di situs Dinas Pendapatan Daerah, saya sudah sangat sering mendapatkan kendaraan bermotor (sering kali mobil-mobil yang tergolong menengah ke atas) yang tidak dilunasi pajaknya. Bahkan beberapa di antaranya saya ketahui mobil tersebut milik pengurus publik atau juga tokoh masyarakat.

Ya, tentu cerita saya ini tentang mobil yang lalu-lalang di sekitar wilayah yang biasa saya lintasi: Pamekasan-Sumenep khususnya. Kendaraan-kendaraan itu kebanyakan masih bisa saya cek status pajaknya melalui laman Dinas Pendapatan Daerah Jawa Timur. Kadang saya juga memeriksa pajak kendaraan bermotor di luar wilayah Jawa Timur yang juga bisa dilakukan dengan mudah di internet.

Tak hanya saat berjumpa di jalanan, saat menghadiri acara-acara umum baik di lembaga publik maupun acara lainnya saya kadang memeriksa nomor kendaraan yang saya temui. Tak mesti karena ingin tahu kelunasan pajaknya, tapi kadang hanya untuk mengetahui besaran pajak yang dibayarkan oleh si pemilik.

Pernah saat bersepeda motor saya berada di belakang sebuah mobil mewah yang nilai pajaknya lebih dari untuk membayar Mio J keluaran tahun 2014 yang saya kendarai. Saya dan mobil itu sama-sama terjebak macet di Pasar Keppo, Galis, Pamekasan. Saya tergoda untuk memfoto dan kemudian memeriksa pajaknya karena saya sudah pernah bertemu dengan mobil ini sebelumnya di sebuah acara. Oh, ternyata pajaknya tidak dibayar! Pada nomor kendaraannya, tahun pembayaran pajaknya saat itu ditutupi dengan bendera merah putih (untung tak ditambah stiker: NKRI Harga Mati!).

Kadang kalau ada berita kecelakaan di situs internet saya iseng juga memeriksa pajak mobil yang kecelakaan tersebut. Pernah ada berita iring-iringan mobil pejabat yang tabrakan beruntun. Situs Kompas mencantumkan nomor kendaraannya. Saya cek: eeeee salah satunya ternyata tak membayar pajak.

Pernah juga Addarori Ibnu Wardi beberapa tahun lalu memposkan gambar aparat berseragam cokelat yang sedang parkir dengan sepeda motornya (kalau tidak salah saat mengantar jamaah umroh atau haji). Saya cek nomor kendaraannya: eeeee motornya ada yang masih menunggak pajak.

Saat saya mengetahui bahwa secara rutin Pemerintah Provinsi Jawa Timur kerap punya program pemutihan pajak kendaraan bermotor, saya jadi berpikir: mungkin saja orang-orang yang suka telat (atau tidak melunasi) pajak kendaraan bermotor itu tahu tentang hal ini sehingga mereka menunda pembayaran pajaknya (ada yang hingga beberapa tahun lho). Kan lumayan untuk dibuat biaya cetak banner atau modal usaha lainnya. Apalagi mobil yang tak dibayar pajaknya itu sekelas Innova atau bahkan Alphard.

Saat keterbukaan informasi publik seperti sekarang ini semakin lebar karena akses internet yang semakin mudah, masyarakat di antaranya dapat mengambil manfaat untuk juga ikut serta melakukan evaluasi atas program pemerintah dalam hal pajak kendaraan bermotor. Mungkin saja pemilik kendaraan bermotor yang saya jumpai yang belum bayar pajak itu lupa, seperti cerita anggota DPR dalam tajuk rencana Koran Jakarta di atas. Dengan begitu kita bisa mengingatkan. Lain lagi jika kita menduga kuat bahwa lupanya tersebut terjadi secara sistematis. Mungkin yang seperti ini perlu perlakuan berbeda.

Oiya, terakhir, kalau mau tahu lebih jauh tentang cara memeriksa pajak kendaraan bermotor atau hal lain tentang tertib lalu-lintas, silakan hubungi Kiai M Faizi.


Read More..

Friday, 27 July 2018

Refleksi Futuristik atas Sejarah Manusia


Sapiens: Sejarah Ringkas Umat Manusia dari Zaman Batu hingga Perkiraan Kepunahannya (Yuval Noah Harari, diterjemahkan oleh Yanto Musthofa, Penerbit Pustaka Alvabet, Jakarta, Juli 2017, 530 halaman, ISBN: 978-602-6577-17-7)

Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia (Yuval Noah Harari, diterjemahkan oleh Damaring Tyas Wulandari Palar, Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia), Jakarta, September 2017, viii + 525 halaman, ISBN: 978-602-424-416-3)


Kita hidup di zaman yang terus berlari. Orang-orang menjalani hidup dengan bergegas sehingga banyak yang tak sempat untuk menyediakan waktu sela dan berefleksi.

Buku yang ditulis oleh Yuval Noah Harari, profesor sejarah dari Hebrew University of Jerusalem, ini mendedahkan sejarah umat manusia (homo sapiens) sejak kemunculannya pada sekitar 200 ribu tahun yang lalu di Afrika Timur hingga kini. Meski cukup ringkas jika dilihat dari periode yang dipaparkan dan tebal buku yang disajikan, buku ini mampu mengantarkan pembacanya ke ruang jeda yang reflektif dan futuristik untuk melihat jejak panjang dari titik pijak yang tengah didiaminya saat ini. Kerangka reflektif yang tersirat secara cukup kuat merupakan salah satu keunggulan buku yang tersaji dengan gaya tutur yang lincah ini.

Kita tahu bahwa saat ini manusia telah menjadi penguasa bumi. Nasib bumi dan semua makhluk yang ada di dalamnya nyaris tergantung pada manusia. Padahal, pada 70 ribu tahun yang lalu manusia adalah binatang remeh yang tak punya kuasa apa-apa atas nasib bumi. Keberadaannya tidaklah signifikan—seperti ubur-ubur, simpanse, atau harimau.

Ini adalah pokok masalah yang dijawab buku ini di bagian awal. Dengan kilasan sejarah yang singkat dan padat, buku ini memulai dengan penjelasan tentang proses supremasi manusia atas makhluk lain di planet bumi. Harari menjelaskannya saat ia mulai menguraikan tiga periode revolusi penting dalam sejarah manusia, yaitu revolusi kognitif, revolusi pertanian, dan revolusi sains.

Revolusi kognitif adalah awal kebangkitan manusia menuju puncak kekuasaannya. Menurut Harari, revolusi kognitif ini terjadi pada sekitar 70 ribu tahun yang lalu saat manusia menemukan cara baru dalam berpikir dan berkomunikasi. Mulai saat itu, manusia mampu menggunakan bahasa sebagai sarana berbagi informasi tentang dunia.

Dengan keluwesannya, bahasa dengan fungsi baru itu mampu memerdekakan manusia dari kerangka makhluk biologis yang terbatas sehingga kemudian manusia mencatatkan dirinya sebagai makhluk yang menyejarah dan berbudaya. Revolusi kognitif mengunggulkan manusia menjadi binatang dengan kemampuan kerja sama secara fleksibel dalam level yang bersifat masif. Inilah kunci awal dominasi manusia di atas planet bumi.

Kerja sama dalam level masif ini dapat terjadi karena manusia mampu memunculkan dan hidup di dalam realitas yang dikhayalkan (entitas fiktif), tak hanya dalam dunia material yang berupa realitas objektif. Entitas fiktif ini—yang dapat berupa mitos, agama, negara, korporasi, konsep hak asasi manusia (HAM), dan lain-lain—terbukti mampu menyatukan manusia untuk bergerak dalam satu landasan cerita dan norma tertentu.

Penemuan pertanian sekitar 10 ribu tahun yang lalu tidak hanya mengubah pola hidup nomaden menjadi kehidupan menetap. Revolusi pertanian mendorong ledakan populasi. Tapi kemelimpahan hasil makanan dari pertanian bagi Harari adalah perangkap kemewahan yang pada gilirannya menuntut manusia untuk bekerja lebih keras.

Revolusi pertanian pelan-pelan mengantarkan manusia pada penyatuan yang kini membuat dunia menjadi desa global. Harari mencatat tiga hal yang mempersatukan manusia, yaitu uang, imperium, dan agama. Uang berhasil menjadi dasar bagi tatanan moneter dunia. Imperium menyatukan beragam kelompok masyarakat dalam satu entitas politik tertentu yang terus berkembang dinamis. Agama mempertemukan orang-orang yang melimpahkan otoritas absolut pada Tuhan dan wakil-wakilnya di bumi untuk menjamin stabilitas sosial dalam kehidupan bersama.

Namun revolusi pertanian tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kedahsyatan dampak revolusi sains. Revolusi sains dimulai dengan “penemuan ketidaktahuan” sekitar 500 tahun yang lalu. Kesediaan untuk mengakui ketidaktahuan ini membuat sains modern menjadi lebih dinamis dan aktif untuk menjangkau hal-hal baru dibandingkan dengan tradisi pengetahuan sebelumnya. Dari rahim sains modern lalu lahirlah teknologi berbasis energi-energi baru.

Menurut Harari, revolusi sains yang sebenarnya baru terjadi saat sains beraliansi dengan agama dan atau ideologi, termasuk juga imperium atau otoritas politik. Dari sini muncullah imperialisme. Dari sini pula lahir kapitalisme yang mendorong berputar cepatnya roda-roda industri—juga konsumerisme.

Keberhasilan buku ini dalam mengurai titik-titik penting yang paling menentukan dalam perubahan sejarah kebudayaan manusia di antaranya tampak saat Harari menjelaskan titik mula dan dampak industrialisasi. Secara cerdik, Harari memberi gambaran pokok pergeseran dunia industri dengan mengangkat perubahan cara pandang manusia terhadap waktu. Harari menarasikan asal usul penggunaan jam sistem GMT (Greenwich Mean Time) secara global yang disusul dengan cara pemaknaan baru manusia pada waktu, adopsi cara pengaturan jam ala dunia industri oleh berbagai institusi seperti sekolah, dan juga dampak-dampak lanjutannya yang cukup revolusioner.

Berbagai hal yang lahir dari revolusi sains akhirnya mengantarkan banyak revolusi penting dalam kehidupan manusia sekarang. Saat ini, revolusi terjadi tidak dalam hitungan ribuan tahun. Berbagai penemuan baru dalam dua abad terakhir telah mengantarkan pada situasi-situasi tak terduga. Internet, misalnya, dengan aneka inovasinya, saat ini telah merasuk ke berbagai aspek kehidupan dengan berbagai dampaknya sehingga sekarang kita tak bisa membayangkan dunia tanpa internet.

Di bagian akhir, Harari menggambarkan kehidupan manusia yang semakin maju saat manusia mulai menembus batas-batas biologisnya dan menerobos hukum seleksi alam. Yang menarik, dengan nada retoris Harari menyampaikan betapa berbahayanya kemampuan hebat hewan yang kini “nyaris menjadi Tuhan” ini jika ia senantiasa “tidak puas, tidak bertanggung jawab, dan tidak mengetahui apa yang diinginkan”. Pada bagian ini, Harari tampak menunjukkan kepeduliannya pada dimensi etis sains dan teknologi dan kebutuhan akan nilai-nilai tertentu sebagai landasan orientasi masa depan.

Edisi terjemahan bahasa Indonesia dari buku yang telah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa ini terbit dalam dua versi. Versi pertama diterbitkan oleh Pustaka Alvabet pada bulan Juli 2017 dengan penerjemah Yanto Musthofa dan editor Nunung Wiyati. Sedangkan versi kedua diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) pada bulan September 2017 dengan penerjemah Damaring Tyas Wulandari Palar dan penyunting Andya Primanda.

Secara umum, dua versi terjemahan ini bisa dibilang sama bagusnya. Saya sendiri membaca utuh versi terjemahan yang terbit lebih awal. Namun, saat versi kedua terbit, saya juga membeli dan membaca secara acak pada bagian-bagian yang sebelumnya sudah saya tandai sebagai bagian yang penting atau menarik.

Pembacaan ini kemudian memberikan sedikit perbandingan bagi saya terkait aspek penerjemahannya. Sekilas, saya merasa bahwa terjemahan Yanto Musthofa yang diterbitkan Alvabet terasa lebih nyaman dan lebih lincah gaya tuturnya. Misalnya petikan terjemahan dari bagian buku yang menggambarkan cara pandang paradigma modern terhadap pengaturan waktu:

Permulaan yang sederhana ini melahirkan jaringan global jadwal, yang diselaraskan sampai ke bagian terkecil, detik. Ketika media siaran—pertama radio, kemudian televisi—mulai bercokol, mereka memasuki sebuah dunia jadwal dan menjadi pendorong utama dan juru dakwahnya (hlm. 421).

Versi terjemahan Damaring Tyas Wulandari Palar seperti berikut:

Awal yang sederhana itu melahirkan jejaring jadwal global, yang disinkronisasi sampai sepersekian detik. Ketika media siaran—pertama-tama radio, lantas televisi—muncul untuk pertama kali, mereka memasuki dunia jadwal dan menjadi penegak dan penyebar utamanya (hlm. 423).

Pilihan terjemahan versi Alvabet untuk menggunakan frasa “mulai bercokol” dan “juru dakwah”, bukannya “muncul untuk pertama kali” dan “penyebar utama” sebagaimana di versi KPG, terasa lebih nyaman dan lebih berisi muatan maknanya untuk sampai ke ruang pemahaman saya. Versi lengkap bahasa Inggrisnya—saya membaca versi terbitan Vintage—adalah sebagai berikut:

This modest beginning spawned a global network of timetables, synchronised down to the tiniest fractions of a second. When the broadcast media—first radio, then television—made their debut, they entered a worl of timetables and became its main enforcers and evangelists (hlm. 396).

Namun demikian, saya menemukan penerjemahan bagian tertentu di versi Alvabet yang terasa kurang pas. Pengalaman saya sebagai editor buku karya terjemahan dulu di Penerbit Serambi dan di Penerbit Bentang Pustaka menunjukkan bahwa jika terdapat kalimat atau frasa yang kurang berhasil dipahami sepenuhnya maka biasanya penerjemah atau editor akan memilih untuk menerjemahkannya secara literal. Ini yang saya temukan di versi terjemahan Alvabet.

Di halaman 6 misalnya di versi terjemahan Alvabet ada subjudul “Tulang Belulang dalam Kloset”. Dalam pemahaman saya, frasa ini tertangkap agak membingungkan dan kurang jelas maknanya. Ternyata, di versi bahasa Inggrisnya tertulis “Skeletons in the Closet” (hlm. 5), yang jika dicari di kamus bahasa Inggris akan ditemukan bahwa pengertian frasa tersebut adalah “rahasia yang tersimpan yang jika terbongkar akan mempermalukan pihak tertentu”. Di versi terjemahan KPG, teks tersebut diterjemahkan “Rahasia yang Tersimpan Rapat”.

Di bagian lain, kasus serupa saya temukan. Ini kutipan dari versi terjemahan Alvabet:

Jutaan tahun evolusi telah mendesain kita untuk hidup dan berpikir sebagai anggota-anggota komunitas. Hanya dalam waktu dua abad kita sudah menjadi individu-individu teralienasi. Tak ada yang memberi kesaksian lebih baik tentang hebatnya kekuatan kultur (hlm. 428).

Teks berbahasa Inggris untuk terjemahan tersebut adalah sebagai berikut:

Millions of years of evolution have designed us to live and think as community members. Within a mere two centuries we have become alienated individuals. Nothing testifies better to the awesome power of culture (hlm. 403-404).

Kalimat terakhir pada versi terjemahan Alvabet tampak kurang jelas gagasan pokok yang akan disampaikan. Penerjemahannya cenderung literal. Saat membaca versi terjemahan KPG, gagasan pokok kalimat tersebut jadi lebih mudah tertangkap.

Jutaan tahun evolusi telah membentuk kita untuk hidup dan berpikir sebagai anggota masyarakat. Dalam dua abad saja kita telah menjadi individu-individu teralienasi. Itulah bukti terbaik mengenai dahsyatnya kekuatan budaya (hlm. 431).

Buku yang edisi pertamanya terbit di Israel pada 2011 dengan judul Kitzur Toldot Ha’enoshut ini sangat penting dibaca untuk merefleksikan noktah kecil kehidupan kita dalam bentang sejarah semesta yang lebih luas.

Uraiannya yang kaya data, tajam, dan mengalir dalam alur dan cara tutur yang hidup mampu memberi pemaparan sederhana yang cukup jelas tentang bagian-bagian atau unsur-unsur paling menentukan hingga membentuk titik-titik perubahan penting dalam rentang sejarah manusia. Cara pembahasannya yang utuh meski singkat memberi pembaca perspektif yang baru, lebih padu, dan mencerahkan untuk memahami tantangan masa depan umat manusia.

Yang paling mendasar, pesan penting yang hendak disuarakan buku ini juga adalah perihal tantangan etis manusia dengan segala pencapaiannya saat ini yang bisa dibilang cukup luar biasa. Tantangan yang menunggu jawaban mendesak inilah yang menjadi salah satu kesimpulan reflektif pemaparan Harari dalam buku ini.


Tulisan ini dimuat di Karepe Dotkom, 17 Juli 2018.

Read More..

Monday, 16 July 2018

Orientasi Kependidikan untuk Guru


Memasuki awal tahun pelajaran baru di sekolah, insan pendidikan di Indonesia banyak menyorot kegiatan orientasi untuk siswa baru yang saat ini diberi nama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Masuknya unsur kekerasan yang ditengarai selalu muncul dalam kegiatan tersebut membuat pemerintah pada tahun 2016 mengeluarkan instruksi khusus untuk memformat ulang kegiatan rutin tahunan tersebut.

Selain kegiatan MPLS, sejak 2015 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memberi penekanan pada keterlibatan orangtua/wali untuk mendukung proses pendidikan di sekolah dengan mendorong mereka untuk mengantarkan anak-anak mereka pada hari pertama sekolah.

Di luar kedua hal tersebut, kita semua mengetahui bahwa kunci penting pendidikan di sekolah bagaimanapun terletak di tangan guru. Para guru itulah yang sehari-hari bersentuhan secara langsung dengan murid melalui pembelajaran di kelas, pergaulan di lingkungan sekolah, maupun dalam kegiatan ekstrakurikuler. Mengingat posisi penting guru tersebut, pertanyaan yang menarik diangkat di awal tahun pelajaran adalah tidakkah penting kiranya bagi sekolah untuk menyegarkan orientasi kependidikan para guru melalui kegiatan khusus di awal tahun pelajaran.

Dalam tugas dan pengabdian mereka sehari-hari, para guru telah berjibaku dengan dinamika yang sangat beragam di kelas dan di sekolah sesuai dengan latar tempat, lingkungan sosial-budaya, dan karakter murid yang ada. Di luar sekolah, para guru juga bersentuhan dengan arus pergaulan sosial yang terus mengalami perubahan cepat. Media sosial dan internet pada umumnya yang dapat dilihat sebagai sumber belajar dan tempat aneka “teladan” perilaku saat ini menjadi aktor penting yang tak bisa diremehkan pengaruhnya bagi dunia pendidikan.

Dengan situasi dan tantangan yang sedemikian rupa, penyegaran orientasi kependidikan untuk guru sebenarnya adalah hal yang sangat penting dilakukan secara lebih tertata oleh sekolah. Bagaimanapun, kegiatan rutin mengajar yang juga ditambah dengan tugas administratif cukup rawan menumpulkan kepekaan para guru untuk melihat tantangan kontekstual masa kini dalam kaitannya dengan nilai dasar tugas keguruan dalam praksis pendidikan dan pembelajaran di sekolah.

Jika ditilik secara mendalam, kata “orientasi” memiliki makna yang sangat mendasar dan penting. Dalam menjelaskan pengertian Etika atau Filsafat Moral, Franz Magnis-Suseno (1996: 13) memberikan gambaran makna “orientasi” dengan situasi yang dihadapi oleh seseorang yang sedang bepergian ke tempat yang asing untuk pertama kali. Bisa dibayangkan situasi kejiwaan orang tersebut: tiba sendiri di terminal tanpa tahu harus ikut angkutan yang mana untuk tiba ke tempat yang ditujunya. Sementara itu, calo-calo dan bahkan juga preman mengintai memanfaatkan kebingungan orang tersebut.

Gambaran ini memberikan pengertian makna orientasi yang sangat penting dan kontekstual. Melalui gambaran ini, kita dapat memahami bahwa orang yang kehilangan orientasi terancam tak akan mencapai apa yang menjadi tujuannya. Di samping itu, ada kemungkinan pihak ketiga yang mengambil keuntungan dari situasi orang yang kehilangan orientasi dan dapat memicu masalah dan kerugian.

Siswa baru di sekolah mengikuti kegiatan orientasi karena dianggap mereka akan memasuki jenjang pendidikan dan lingkungan belajar baru. Jika siswa perlu mendapatkan orientasi sebelum memulai belajar di sekolah maka orientasi untuk guru sebenarnya juga sangatlah penting. Bahkan, meskipun bukan pertama kali mengajar, orientasi untuk guru di awal tahun pelajaran tetaplah penting.

Awal tahun pelajaran adalah momentum yang tepat untuk menyegarkan kembali visi kependidikan para guru terutama terkait peran yang sedang dimainkan mereka dalam kehidupan sosial. Visi ini perlu terus disegarkan seiring dengan situasi zaman yang berubah.

Hal yang paling penting digarisbawahi pada orientasi visi keguruan terkait dengan peran dan tugas guru. Jika peran guru hanya dilihat dalam kerangka yang sempit, maka kerja kependidikan berada dalam asumsi yang bersifat pinggiran. Padahal, pendidikan merupakan kerja peradaban yang maknanya sangat mendalam. Para guru adalah agen penting dalam perubahan dan kemajuan masyarakat. Pendidikan bukan hanya mengantarkan individu pada mobilitas vertikal, tapi juga mengantar masyarakat menyongsong kebangkitan dan kemajuannya sebagai komunitas atau bangsa.

Sejarah kebangsaan Indonesia menunjukkan bahwa tokoh-tokoh penting pendiri bangsa pernah mengabdi di dunia pendidikan sebagai guru. Perjumpaan langsung para guru dengan para generasi penerus bangsa yang intens setiap hari dapat mengilhamkan dan memberikan dorongan yang kuat untuk mengerahkan segenap daya dan kemampuan dalam kerangka pengabdian pada masyarakat dan bangsa.

Guru yang memiliki kerangka pikir yang lebih luas akan dapat membawa masalah-masalah dan tantangan aktual kebangsaan ke ruang pembelajaran baik sebagai materi maupun sebagai jangkar orientasi pembelajaran. Masalah-masalah seperti ancaman narkoba, virus radikalisme dan terorisme, eksploitasi alam yang mengabaikan keadilan, dan sebagainya adalah sekian masalah dan tantangan kebangsaan yang perlu direspons oleh dunia pendidikan khususnya para guru.

Dengan bekal orientasi yang segar dan pembacaan aktual atas visi kependidikan yang dilakoninya, diharapkan para guru dapat memberikan sumbangan yang lebih besar bagi pembangunan kehidupan kebangsaan.


Tulisan ini adalah naskah awal artikel yang kemudian dimuat di Koran Jakarta, 16 Juli 2018.

Read More..