Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Mei 2014

Rasa Iba dan Perilaku Nista


Setiap manusia normal pasti memiliki sisi perasaan yang bisa membuatnya gembira, marah, sedih, haru, dan sebagainya. Mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, kita bisa gembira. Menyaksikan kesewenangan, kita bisa marah. Tertimpa musibah, kita bisa sedih. Menemukan ketulusan, kita bisa terharu.

Tak ada yang salah jika seorang manusia memiliki perasaan-perasaan itu. Yang penting takarannya tepat dan situasinya memang wajar, tidak dibuat-buat. Jika berlebihan atau tidak ditempatkan secara pas, perasaan-perasaan itu bisa saja menggiring kita untuk berbuat sesuatu yang tercela dan nista.

Kemarahan mungkin bisa membuat kita bertindak di luar batas hak dan wewenang kita. Kesedihan berlebihan mungkin bisa membuat kita putus harapan. Kegembiraan atau rasa haru mungkin juga bisa membuat kita lupa diri sehingga berbuat seenaknya, seperti mengambil hak orang lain, dan semacamnya.

Setan mungkin memang begitu cerdik menguntit kita di antara berbagai perasaan yang mungkin mendatangi kita secara wajar. Pada saat itu, setan mungkin mendorong kita dan membumbui perasaan kita dengan seribu satu resep yang kemudian bisa membuat kita tidak tepat dalam menyikapi perasaan manusiawi tersebut.

Terkait hal ini, saya punya pengalaman pribadi saat saya merasa begitu haru dan iba. Bukan pada siapa-siapa, tapi pada ibu saya.

Saat itu baru saja lebaran Iduladha tahun 2010. Ibu saya ingin mengunjungi salah satu adik saya yang mondok di Pondok Pesantren Darul Falah, Bangsri, Jepara. Mumpung liburan, ibu dan saya tidak punya tugas mengajar atau kesibukan khusus lainnya. Maka tepat pada malam hari di hari lebaran, dengan menggunakan angkutan umum, saya bersama ibu saya berangkat menuju Bangsri, Jepara.

Singkat cerita, setelah dari siang hingga sore berjumpa dengan adik saya, sowan ke kiai, melihat-lihat pondok, dan sebagainya, pada sore sekitar pukul 16.15 WIB kami berdua hendak pulang ke Madura.

Ibu dan adik saya di PP Darul Falah, Bangsri, Jepara

Kami menunggu angkutan umum menuju kota Jepara dari Bangsri. Cukup lama kami menunggu, angkutan umum rata-rata penuh sesak. Rupanya ini memang jam-jam terakhir angkutan umum menuju kota Jepara dan memang angkutannya terbatas. Akhirnya kami pun menemukan angkutan yang sebenarnya sudah cukup sesak. Saya bersama ibu naik ke angkutan dengan agak berdesakan. Untung kami bisa menemukan tempat duduk. Ternyata keadaan angkutan umum pedesaan di Jepara tak jauh berbeda dengan angkutan umum di kampung saya.

Tak sampai setengah jam, kami tiba di kota Jepara. Sekali lagi, kami cukup kesulitan menemukan angkutan ke Kudus. Para penumpang tampak memenuhi bus tanggung menuju Kudus sampai terlihat sebagian berdiri berdesakan. Cukup lama menunggu bersama beberapa orang yang tampaknya juga hendak ke Kudus, saya coba bertanya. Ternyata memang demikian angkutan ke Kudus jelang petang, selalu ramai dan sesak.

Daripada tak menemukan angkutan, akhirnya kami putuskan untuk ikut salah satu bus yang sudah penuh. Naik ke atas bus, saya dan ibu saya sudah tak menemukan tempat duduk lagi. Kami harus rela untuk berdiri berdesakan.

Saat itulah, di tengah perjalanan ke Kudus, saya sesekali menatap ibu saya yang berdiri sambil berpegangan di antara para penumpang. Saya merasa begitu haru dan iba. Ibu saya, yang usianya saat itu sudah hampir 60 tahun, tak memperlihatkan ekspresi yang kusut. Ibu tampak biasa saja. Sementara saya merasa gelisah menyaksikan ibu harus berdiri berdesakan di angkutan umum sore itu.

Jarak sekitar 30 km ke kota Kudus terasa lama. Pikiran saya melayang-layang memikirkan ibu yang masih tak kunjung menemukan tempat duduk. Orang-orang mungkin sama-sama kecapekan sehingga tak siap untuk berbagi tempat duduk. Saya berusaha untuk mengerti. Tapi ini ibu saya, ibu yang saya saksikan tiap hari ketulusannya dalam membesarkan anak-anaknya, ibu yang saya tahu juga begitu penuh perhatian kepada murid-muridnya di kelas dan di pondok, ibu yang saya tahu sangat peduli dengan para tetangga dan tamu-tamu yang berkunjung ke rumah.

Saya teringat ibu saya saat dia dulu menyiapkan daging abon untuk putrinya yang sedang belajar di Jombang. Dia menyiapkan sendiri di dapur, lalu tiba-tiba saat itu tangannya kecipratan minyak goreng yang sedang panas di atas penggorengan. Saya teringat ibu saya saat malam-malam mencucikan pakaian putra-putrinya di rumah dan rela menunda waktu istirahatnya setelah seharian penuh—ya, seharian penuh—ke sana kemari dengan berbagai hal. Saya teringat ibu saya yang kadang memanggil seorang tetangga yang kebetulan melintas di sebelah timur rumah saat ibu punya sesuatu yang bisa dibagi untuknya.

Pikiran saya terhenti berkelana saat sadar bahwa jalanan sudah cukup gelap. Cahaya lampu mulai menerangi jalanan dan bangunan-bangunan di kiri kanan.

Pada akhirnya, sekitar maghrib, kami tiba di Terminal Jetak yang merupakan terminal kedua di kota Kudus dan menjadi penghubung utama ke Jepara. Terminal tipe C itu sudah terlihat gelap. Bus yang kami tumpangi menurunkan penumpang di luar terminal.

Sadar dengan suasana terminal yang kelihatan lengang, pikiran saya jadi gelisah. Masih adakah angkutan kota ke Terminal Kudus untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya? Kami bertanya kepada orang di situ, dan katanya kadang masih ada. Kami pun menunggu. Cukup lama, yang ditunggu tak datang jua. Akhirnya kami pun putuskan untuk menunggu sambil berjalan ke arah kota.

Kami berjalan dengan pelan sambil sesekali melihat siapa tahu ada angkutan melintas. Kadang kami melihat ada angkutan kota yang mendekat, tapi ternyata ia sudah tak hendak ke Terminal Kudus. Sopirnya sudah mau pulang ke rumah.

Cukup lama juga kami berjalan. Saya mulai merasa agak gerah. Saya lihat ibu saya. Ibu tampak biasa saja. Saya berpikir untuk mencari sekadar tempat duduk di pinggir jalan untuk beristirahat sejenak. Tapi kebetulan di sekitar saya tak melihat tempat yang bisa menjadi tempat istirahat.

Akhirnya, setelah cukup lama, kami menemukan angkutan kota yang bisa mengantar kami. Bukan ke Terminal Kudus, tapi kata si sopir, kami bisa menunggu bus ke Surabaya di situ. Alhamdulillah.

Selama di angkutan itu, pikiran saya kembali pada bayangan ibu tadi sore yang berdiri di angkutan dan juga ibu yang berjalan cukup jauh sampai menemukan angkutan ini. Saya seperti menyesal, mengapa saya tidak mengusahakan untuk menyewa mobil untuk perjalanan ke Jepara ini. Ya, keluarga kami memang tidak punya kendaraan pribadi, termasuk sepeda motor. Tapi saya pikir kami bisa menyewa mobil untuk perjalanan ini. Namun saya sadar bahwa menyewa mobil dari Sumenep ke Jepara tidaklah murah, paling tidak untuk ukuran kantong keluarga kami.

Andai kami membawa mobil sewaan ke Jepara, tentu ibu tidak harus berdiri berdesakan dari Jepara ke Kudus dan tidak harus berjalan kaki cukup lama saat petang ketika mencari angkutan yang dapat mengantar kami ke Terminal Kudus.

Saya membayangkan, pengalaman seperti tadi, perasaan iba menyaksikan ibu yang tampak “menderita”, saya jadi terpikir: mungkin pengalaman-pengalaman seperti ini bisa mengubah seseorang berpikir untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Andai saya kemudian, di waktu-waktu berikutnya, punya kekuasaan, atau punya pintu menuju kekuasaan, bisa jadi rasa iba saya pada ibu saya itu dapat menggiring saya untuk menyalahgunakan kekuasaan saya guna mengobati kekecewaan dan mungkin rasa bersalah saya karena telah membiarkan ibu saya punya pengalaman kurang nyaman seperti itu. Saya bisa saja berbuat sesuatu yang nista.

Saat itu saya jadi terpikir mungkin beberapa orang yang menyalahgunakan kekuasaannya dengan melakukan tindakan korupsi ada yang di antaranya berangkat dari motif kompensasi atas derita atau rasa iba yang ia temui, termasuk iba atas diri sendiri atau orang-orang terdekat yang dicintainya. Untuk situasi seperti inilah maka mungkin muncul istilah nepotisme.

Perasaan iba itu lalu mungkin mengubah diri seseorang untuk melupakan nilai-nilai moral atau bentuk-bentuk ukuran kepatutan sosial lainnya. Tepat pada titik inilah mungkin terletak situasi yang membahayakan kita saat tenggelam dalam perasaan di luar takaran yang wajar. Rasa iba, sebagaimana perasaan lainnya, dapat melelapkan akal sehat sehingga mungkin saja kita berbuat sesuatu yang “tidak masuk akal” dengan melanggar norma-norma sosial.

Kembali pada rasa haru dan iba saya atas pengalaman bersama ibu tersebut, saya percaya bahwa bagaimanapun, ketulusan ibu saya juga menjadi salah satu kunci penting untuk tetap menjaga saya dari perasaan yang berlebihan. Ketulusan ibu saya untuk mengunjungi salah seorang adik saya di pondok di Jepara dan kerelaannya untuk dengan cara apa pun bisa memenuhi keinginannya itu menurut saya insya Allah turut menularkan semangat dan energi positif untuk saya sehingga—alhamdulillah—saya masih bisa terjaga dari sisi buruk perasaan yang melebihi takaran.

Sampai di sini, saya berdoa semoga Allah senantiasa menjaga ibu saya dan keluarga saya pada khususnya untuk senantiasa terhindar dari perasaan yang berlebihan sehingga dapat membuat kami lepas dari nilai-nilai dan norma yang kami yakini. Lebih khusus lagi, semoga Allah senantiasa menjaga ibu saya dan memberi rahmat dan keselamatan di dunia dan akhirat. Karena dari ibu saya, kami senantiasa belajar banyak hal tentang hidup yang mulia. Amien.


Baca juga:
>> Dunia Ayah Kian Menyempit

Read More..

Sabtu, 10 Mei 2014

Dunia Ayah Kian Menyempit


Sekitar hampir setahun setengah ini, dunia ayah saya kian hari tampaknya semakin menyempit. Hari-harinya hampir sepenuhnya hanya dihabiskan dengan berbaring di kamar. Ayah tak bisa ke mana-mana. Untuk duduk saja ayah sudah mesti dibantu. Ia sudah tak kuasa berjalan tanpa dibantu kursi roda. Bahkan, untuk berdiri tegak pun, ia sudah sangat kesulitan meski dibopong.

Dunia ayah saya benar-benar telah semakin menyempit. Beberapa bulan terakhir, kata-katanya sudah sangat sulit dimengerti, bahkan oleh kami yang sehari-hari hidup bersama dengannya. Dengan wajah yang tampak begitu lelah dan kusut, terkadang ayah berteriak seperti memanggil-manggil orang. Namun kami tidak tahu pasti apa maksudnya.

Dengan pelafalan yang nyaris tak jelas, kami hanya bisa menerka makna yang ada di balik suara ayah yang lebih sering seperti gumaman itu. Kadang kami menangkap rasa pasrah, atau perasaan yang kosong, saat makna di balik lafal-lafalnya itu gagal ditangkap atau dijawab sekenanya. Kadang pula kami menangkap rasa serupa geram. Pada saat seperti itu, saya membayangkan mungkin ayah saya merasa tengah berada di perbatasan dunia. Ayah berusaha berpegang dan bertahan agar tetap berada di satu dunia bersama kami.

Bahasa memang bisa menyatukan dan memisahkan, seperti kisah Iskandar Dzulqarnain yang direkam al-Qur'an, saat ia tiba di antara dua gunung dan penduduknya menggunakan bahasa yang nyaris tak bisa dipahami. Itulah mungkin gambaran tentang batas dunia—dunia kita yang dibatasi bahasa.

Jika dikatakan bahwa makna kata-kata itu sifatnya manasuka, maka kini saya semakin paham betapa kata-kata atau bahasa tidak lebih hanya soal kesepakatan. Manusia belajar berbahasa dan merekam kata-kata dengan menyimpan makna yang sifatnya manasuka itu dalam ingatannya. Lalu bagaimanakah jika kata-kata yang dilontarkan pun dilafalkan dengan tidak jelas dan nyaris seperti manasuka?

Namun begitu, saya percaya bahwa di balik pelafalan yang terganggu, dunia ide ayah saya masih hidup meski mungkin tak semeriah saat ia masih sehat. Dunia ide ayah saya tampaknya masih mampu menangkap suasana bahagia, sedih, dan semacamnya, atau bahkan merekam nama-nama baru yang masuk ke dalam dunianya yang makin menyempit itu.

Saat saya membawa dan memperkenalkan istri saya untuk pertama kalinya ke hadapannya, ayah saya menunjukkan ketersambungannya dengan ungkapan haru dan sesenggukan tertahan. Pernah suatu hari saat saya hanya pulang sendiri ke rumah tanpa istri saya, saya mencoba menguji ingatan ayah saya tentang nama istri saya. Ternyata ayah saya bisa mengingat dan menyebutnya dengan baik.

Tapi bagaimanapun, dunia ayah saya memang kian menyempit. Mungkin kini ayah hanya menyimpan sejumlah gagasan dalam jumlah yang amat sedikit—yang mungkin tak lain hanya berkaitan dengan hal-hal mendasar terkait kebutuhan manusia untuk bertahan hidup ditambah dengan perbendaharaan yang berisi orang-orang terdekatnya.

Menyaksikan dunia ayah saya yang menyempit itu, kadang saya teringat pada saat ayah saya untuk pertama kalinya menyeberang Jembatan Suramadu di pertengahan Juni 2010 saat bersama kerabat yang lain menjemput kedatangan saya dari Eropa. Surabaya—itulah jarak terjauh yang ditempuhnya setelah pada akhir 2007 ayah diserang stroke ringan.

Apakah yang ayah rasakan saat itu, empat tahun yang lalu, saat kami bersama-sama berkumpul dengan lengkap untuk sebentuk rasa syukur atas tuntasnya studi dan kedatangan saya? Saya juga teringat Mei 2007, saat ayah menghadiri wisuda saya di Yogyakarta bersama kerabat-kerabat dekat. Saya melihat foto wisuda saya, menatap ekspresi bahagia ayah di antara istri dan anak-anaknya. Ya Allah, lama saya tak melihat raut wajah ayah yang seperti itu.

Kini, dalam dunianya yang semakin menyempit itu, ayah hampir pasti akan memanggil-manggil kami jika di kamarnya ayah hanya sendiri dan sedang terjaga. Ayah memang tak perlu apa-apa, hanya ingin ada salah satu dari kami di sana. Apakah dunia yang kian menyempit itu telah menghadirkan rasa cemas untuknya?

Ayah saya memang termasuk orang yang suka "kepikiran" saat anak-anaknya pergi ke tempat jauh. Saat untuk pertama kalinya saya berangkat kuliah ke Yogyakarta pada tahun 1997, kami dapat menangkap kecemasannya. Begitu juga saat adik-adik saya melanjutkan studi ke luar kota selang beberapa tahun kemudian.

Dunia ayah kian hari tampak kian menyempit. Beberapa pekan terakhir, saya menyaksikan betapa sulitnya ayah untuk bergerak atau ke kamar mandi meski sudah dibantu. Ya Allah, kadang saya merasa tidak tega saat menangkap ketakberdayaan dan rasa sakitnya saat ayah dibantu berjalan.

Kini, dalam dunianya yang semakin menyempit, saat saya berada di kamar mendampinginya, saya sering bertanya-tanya apakah ayah masih menyimpan gagasan tentang doa dan harapan. Saat pikiran dan dunianya semakin tergerus oleh penyakit dan usia, apakah ayah masih terpikir untuk mendoakan kami, putra-putrinya, seperti dahulu dilakukannya?

Beberapa bulan lalu pernah ada orang yang bertamu untuk meminta doa berkah dari ayah. Saya yang menemuinya di ruang tamu. Saat saya menyampaikan maksud kedatangan si tamu kepada ayah yang terbaring di kamar, ayah tampak masih tersambung. Saya memandu ayah untuk berdoa sesuai dengan maksud kedatangan si tamu, dan ayah terdengar membacakan doa.

Menyaksikan hal ini, saya merasakannya sebagai bagian dari setitik harapan. Menghadapi kehidupan baru dan merasakan beratnya tantangan hidup ke depan, saya tentu sangat berharap dari doa dan perkenan orangtua. Saya percaya bahwa doa mereka akan menjadi kekuatan berharga buat saya. Semoga Allah senantiasa memberkahi kedua orangtua saya. Amien.

Baca juga:
>> Ayah, Apa Kau Masih Bisa Memimpin Pembacaan Shalawat di Perayaan Maulid Tahun Ini?

Read More..

Selasa, 16 Agustus 2011

Taman Rahasia


Aku ingin bercerita kepadamu tentang taman rahasia di suatu tempat di Skandinavia. Taman rahasia itu hanya muncul sebentar di awal musim semi yang datang terlambat setelah salju turun berbulan-bulan. Namun ia melintas tak lama, sebelum musim panas kemudian mengubah senyum indahnya sehingga ia menyimpan kembali rahasianya rapat-rapat karena tak sanggup berhadapan langsung dengan terik matahari yang sebenarnya tak seberapa jika dibandingkan dengan terpaan panas negeri tropis seperti di negeri kita.

Taman rahasia itu terletak di dekat jalan setapak di puncak sebuah bukit. Dari sana, kau bisa menyaksikan fjord, semacam teluk kecil yang beriak tak terlalu besar, lalu bukit-bukit yang pucuknya masih sedikit bersalju akan kelihatan menjadi latar di belakangnya. Sesekali kau akan dapat mendengar riuh burung berkicau yang berlompatan di dedahan pohon yang mulai merimbun. Atau juga camar di kejauhan.

Di sekitar taman itu, kau tak akan dapat melihat tukang kebun yang merawat rumput hijau, bunga-bunga putih, dan bunga-bunga kuning yang mulai merekah. Sebenarnya, para tukang kebun itulah yang membuat taman ini disebut rahasia, karena mereka itu yang menyimpan rahasia keindahan taman ini, yang juga membuat taman ini tak terlihat oleh mata telanjang, tapi mesti dipandang dengan hati yang bening, serupa cermin yang memantulkan keindahan alam negeri-negeri dongeng.

Mereka menjaga rahasia itu dari ancaman campur tangan manusia yang datang mencari keindahan bunga musim semi tapi tak cukup peduli akan nilai kesuciannya. Mereka menjaga rahasia itu di antara kesunyian yang berbicara saat orang-orang tak lagi tampak di sekitar taman rahasia itu. Mereka menjaga rahasia itu sampai akhirnya tiba saatnya seseorang yang mereka tunggu melintas dan menemukan taman rahasia itu.

Sebenarnya, aku telah beberapa kali melintas di taman rahasia itu sambil tak jemu mengagumi keindahannya yang kadang memang tampak menyimpan misteri. Tapi sungguh sayang, aku baru menyadarinya saat ini, bahwa itu adalah taman rahasia Skandinavia, saat aku tak bisa lagi leluasa menceritakannya kepadamu, saat aku tak bisa lagi melihat jejak bunga-bunga putih bermekaran dan menyimak nyanyian burung di sana.

Angin musim semi telah jauh. Malam telah larut. Aku berusaha merengkuh keindahan taman rahasia dalam jarak yang tak mungkin kutaklukkan. Taman rahasia melantunkan keindahannya dalam tembang pengantar tidur tentang nyanyian bumi dan ladang persemaian nasib manusia.

Dan taman rahasia tetap di sana, menunggu si pelintas yang ditunggunya.

Read More..

Rabu, 08 Juni 2011

Suara Senja

Sore ini saya duduk sendiri di sini, di pinggiran desa yang sunyi dan dikelilingi hutan berjarak beberapa kilometer dari kota Malang. Di sini, jarang sekali saya mendengar bunyi mesin kendaraan sejak tiba Jum’at petang yang lalu. Sesekali di kejauhan saya mendengar lamat-lamat alunan pengeras suara memutar lagu-lagu atau ayat suci di malam hari.

Sore ini, di sekeliling, di antara rerimbunan pohon menjulang dan udara dingin, berbagai macam binatang berbunyi. Cicak, aneka serangga dan burung, dan di kejauhan ada juga suara lutung. Menyimaknya lebih dalam, saya membayangkan seolah-olah mereka itu adalah para pengisi suara dari sebuah film kolosal yang disutradarai oleh Sang Maha Pencipta.

Sore ini saya bersyukur telah sedikit menemukan waktu jeda. Meski bukan jeda dari segalanya, paling tidak saya berkesempatan untuk mendengarkan suara senja di sebuah tempat baru yang kadang terasa asing ini. Senja yang mendung dan berkabut memang bisa membawa sedikit murung. Tapi saya mencoba menangkap suara senja yang lain dari binatang-binatang liar yang ada di sekeliling saya saat ini.

Adakah mereka sekarang sedang menyuarakan keriangan? Adakah mereka tengah merayakan kebebasan? Ataukah mereka tengah menyampaikan rasa terima kasih mereka kepada beberapa manusia di sini yang terus saling bergandeng tangan memperjuangkan hak-hak para satwa liar? Atau mungkinkah saja mereka sedang menyuarakan protes-protes mereka atas kerakusan manusia yang telah menepikan nilai kehidupan mereka?

Suara-suara mereka bergabung dengan suara alam lainnya di sini: desir angin, riak dedaunan, dan suara-suara lainnya. Semua tampak tengah membentuk harmoni.

Senja hari ini akan segera berakhir. Tapi saya yakin bahwa harmoni itu akan terus berlanjut ke malam, lalu ke dinihari, pagi, siang, dan tiba kembali di senja seperti sekarang ini. Selain Sang Waktu, siapa lagi yang bisa menghentikan harmoni mereka ini?

Saya tahu bahwa waktu yang saya punya hanyalah setitik dari seluruh rangkaian putaran harmoni semesta ini. Sore ini, di detik-detik yang tersisa, saya berusaha menyerahkan waktu jeda saya untuk bergabung dalam harmoni alunan semesta. Saya mencoba menjadi bagian dari mereka. Di antara keheningan, saya mencoba bergabung dan merasakan indahnya harmoni suara senja.

Petungsewu, 6 Juni 2011

Read More..

Rabu, 21 Juli 2010

Dunia Tak Akan Lagi Sama


Sekarang kau sudah tahu semuanya. Tak ada lagi misteri. Tak ada lagi tirai yang menutupi jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu. Kebisuan, kabar angin yang bertebaran, sangkaan yang mengecewakan, kiriman buku kecil di hari ulang tahun, surat-surat yang hanya berbalas kata-kata singkat, kunjungan terakhir di awal tahun, semua telah dibicarakan.

Namun begitu, kupikir, mungkin saja kau masih menyimpan pertanyaan tentang momentum titik penyingkapan ini: mengapa harus sekarang kau mendapatkan penjelasannya, setelah sekian lama kau terperangkap dalam ketidakmengertian?

Kau sendiri tak terlalu banyak menjelaskan apa yang terjadi pada dirimu dalam rentang belasan tahun itu—setidaknya sejauh yang terkait dengan diriku. Aku sendiri tak mencoba mempertanyakannya. Aku tahu, jika memang ada hal penting, kau mungkin akan menyampaikannya padaku; kau akan mengurai satu persatu hal-hal yang mungkin saja masih kau simpan di situ, di bilik hatimu—entah kapan.

Sebagaimana sering terjadi, isi kepalaku kini memuat pertanyaan-pertanyaan umum yang cenderung agak abstrak. Dalam konteks dan momentum yang lain, pertanyaan serupa pernah singgah sejenak. Tapi tak pernah kurasakan pertanyaan itu datang berulang-ulang menuntut penjelasan—seperti sekarang. Mungkin penjelasannya tak harus spesifik, dan bisa lebih bersifat umum pula, sebagaimana karakter pertanyaannya.

Apakah (dan bagaimanakah) setiap informasi tertentu yang kuterima mengubah cara pandangku atas dunia? Lebih khusus lagi, apakah (dan bagaimanakah) informasi tertentu tentang seseorang akan menggeser atau memutar haluan pandanganku atau memberiku cara pandang yang baru tentang seseorang itu? Seberapa jauh informasi tertentu (tentang seseorang) dapat menebarkan kebencian, rasa permusuhan, toleransi, permakluman, atau mungkin cinta? Seberapa penting informasi tertentu dibutuhkan untuk membuat sebuah keputusan? Apa ini ada kaitannya dengan yang pernah Sokrates nyatakan bahwa wawasan dan pengetahuan yang benar dapat menuntun pada tindakan yang benar? Jenis “wawasan dan pengetahuan yang benar” macam apa yang kiranya “dapat menuntun pada tindakan yang benar”?

Faktanya, aku menemukan hal yang tak sederhana—setidaknya sependek pengalaman dan pengamatanku. Pengetahuan dan informasi tertentu dapat menyeret seseorang pada keputusasaan, kekecewaan, penyesalan, kebencian, dan semacamnya. “Matilah terhadap segala yang kau tahu,” tulis Putu Wijaya.

Saat pikiran-pikiran ini berdatangan, tebersit bayangan andai suatu saat, atau mungkin dalam waktu dekat, kita bisa membicarakannya berdua, mereka-reka berbagai kemungkinan jawabannya tanpa harus terbebani dengan fakta-fakta lalu atau yang mungkin saja datang kemudian. Membicarakannya, kita mungkin tak harus mencoba mengantisipasi situasi spesifik yang akan terjadi. Tak harus gentar dengan itu. Fakta-fakta kita masukkan dalam kurung terlebih dahulu. Karena kenyataan memang terkadang begitu rumit—bahkan mungkin pahit. Mungkin karena kenyataan adalah semacam pertautan persona tak terhingga bersama nilai-nilai dan latar unik yang mereka bawa.

Setelah kau dan aku pelan-pelan mulai bersama-sama mengetahui semuanya, mari kita nikmati pembicaraan yang indah ini, tentang pertanyaan-pertanyaan di atas ini, sambil sesekali merayakan kegilaan kita bersama-sama. Dan kemudian, dunia tak akan lagi sama.

Read More..

Kamis, 10 Juni 2010

Perjalanan-dalam-Kegelapan


Sudah beberapa hari berlalu, tapi syair itu kadang masih berkelebat di pikiran saya.

Gagasan tentang perjalanan, masa depan yang gelap, kesendirian, dan keberpasrahan pada Kuasa Tuhan, buat saya sungguh menggetarkan. Adakah yang lebih menakutkan daripada ketidakpastian-dalam-kesendirian? Adakah yang lebih menakutkan selain perjalanan-dalam-kegelapan?

Telah begitu lama saya terbiasa berpikir dengan kepastian sebagaimana ditanamkan dalam paradigma sains positivistik—clear and distinct, dalam istilah RenĂ© Descartes—sehingga saya kadang terlupa dan seakan menampik fakta bahwa nyatanya pengetahuan saya memiliki batas yang tak pantas untuk terlalu dibanggakan. Apakah sebenarnya saya sedang berusaha mencari penghiburan dengan selalu berusaha percaya pada kepastian?

Kegelapan ini terasa mengurung saya dari ujung ke ujung. Sungguh saya merasa tak benar-benar tahu dengan pasti bagaimana semua ini bermula dan bagaimana akan berakhir—di mana, kapan, dan seterusnya.

Lalu mengapa puisi itu mempersandingkan kegelapan dan iman? Bukankah pada umumnya orang banyak menghubungkan iman dengan Pencerahan? “Go out into the darkness and put your hand into the Hand of God,” kata puisi itu.

Menurut saya, kegelapan adalah jalan yang senyatanya sedang saya tempuh. Dalam konteks ini, kegelapan mungkin adalah semacam simbol absurditas. Absurditas ini tampak dalam gagasan bahwa rasanya hidup terlalu pendek untuk saya untuk bisa merengkuh makna semua ini dengan purna—tujuan, keinginan, penyesalan, pemahaman, dan sebagainya. Di antara hasrat saya untuk mendapatkan kesempurnaan dan kepastian, saya berhadapan dengan fakta betapa rentang perjalanan-gelap saya hanyalah sepersekian sekon dari sejarah alam raya. Dengan kata lain, setetes air di antara samudera.

Dalam kependekan, kegelapan, dan kesendirian itu, rasanya iman memberi saya makna untuk sejengkal langkah yang mungkin sempat saya buat bersama semesta. Lebih dari itu, iman di perjalanan-dalam-kegelapan—bukan di jalan yang benderang—menantang saya untuk merespons makna dan implikasi kegelapan itu dengan baik. Justru karena saya bukanlah malaikat yang berjalan di atas rel dan rute yang pasti, saya tertantang untuk membuat rekam jejak yang indah—bukan hanya untuk saya, tapi jika mungkin bahkan untuk semesta.

Kini, saat saya berada di salah satu halte perjalanan ini, saya pun mereka-reka dan mencoba menyiapkan bekal untuk perjalanan berikutnya. Saya tidak tahu pasti apakah saat ini sedang pagi, siang, sore, atau sudah malam. Buat saya, perjalanan-dalam-kegelapan juga berarti bahwa saya bisa saja tertipu oleh petunjuk “waktu objektif”—ah, saya jadi teringat Henri Bergson. Seperti di kota tempat saya tinggal sekarang, Trondheim, Norwegia, tak mudah untuk membuat patokan waktu dari gelap dan terang, paling tidak untuk seorang yang berasal dari negeri tropis. Karena itu, perjalanan-dalam-kegelapan juga menuntut saya untuk memperlakukan setiap detik dengan harga yang pantas—pantas untuk sebuah absurditas.

Sambil menunggu waktu untuk meninggalkan halte ini, di antara berkemas, saya mencoba mengingat apakah saya masih punya lilin yang tersisa di ransel saya. Semoga lilin saya masih cukup untuk sisa perjalanan ini.


Terima kasih untuk Bang Mauritz Panggabean yang telah menginspirasi tulisan ini dan mempertemukan saya dengan syair Minnie Louise Haskins (1875-1957), “The Gate of the Year”, dan lukisan Theodor Severin Kittelsen (1857-1914), "Soria Moria". Gambar diambil dari Wikipedia.

Read More..

Kamis, 13 Mei 2010

Keajaiban Menulis

“Saat menuliskan sesuatu, kadang tak disangka kita kemudian dibawa pada suatu titik kesimpulan atau titik pemikiran yang tak diduga sebelumnya,” kata May Thorseth, dosen pembimbing saya Selasa kemarin, saat mendiskusikan sebagian naskah awal tesis saya di kampus Dragvoll NTNU Trondheim.

Pembicaraan ini muncul saat kami mendiskusikan tulisan awal saya yang memuat kerangka umum dan alur proyek tesis saya. Dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis yang memungkinkan saya untuk dapat melihat arah dan peta yang lebih jelas dari penelitian saya. Kemudian akhirnya ia menyarankan agar saya segera menuliskan dan masuk ke poin pembahasan utama. “Dalam proses menulis, kadang kita menemukan dan memahami satu poin gagasan yang terasa baru dan mencerahkan. That’s the magic of writing,” ujarnya.

Saya tersenyum mendengar kalimat itu. Saya cukup dapat merasakan apa yang ia sebut sebagai “keajaiban menulis” itu. Benar. Saya merasa bahwa proses menulis, perlahan, dapat membentuk cara berpikir seseorang. Tidak saja dalam pengertian cara seseorang bernalar atau menyusun alur dan logika, tetapi mungkin juga memengaruhi cara seseorang memandang suatu hal atau persoalan.

Dalam rentang proses yang lebih panjang, menulis sangat mungkin membentuk identitas dan karakter seseorang. Menulis membantu memperkaya dan mengolah berbagai nuansa pengalaman dalam sudut pandang subjektif tertentu, sehingga dengan begitu ia bisa juga dilihat sebagai sebuah proses interaksi-reflektif antara pengalaman dan penafsiran. Hal atau pengalaman yang sederhana mungkin bisa terlewatkan begitu saja. Akan tetapi, dengan tingkat kepekaan tertentu yang sudah cukup terasah, hal sederhana itu bisa saja melahirkan refleksi dan poin gagasan yang mungkin cukup menarik.

Saat pengalaman yang ditafsirkan itu semakin kompleks dan beragam, matriks kemungkinan gagasan yang akan dihasilkan bisa menjadi semakin luas. Pada titik itulah proses menulis kemudian seperti menjadi proses memilah lorong-lorong menuju alur kesimpulan (sementara) yang terasa lebih dapat diterima secara subjektif sesuai dengan stok pengetahuan dan sudut pandang si penulis. Kompleksitas matriks kemungkinan itu dipilah, dicoba untuk ditata, disederhanakan, dan akhirnya disimpulkan.

Dalam proses lanjutan, saat sebuah tulisan telah rampung dan diakhiri oleh si penulis dan dilepas ke publik, ia akan terus berkembang biak sendiri lepas dari otoritas (authority, “kepengarangan”) si penulis. Kematian pengarang, sebagaimana dikabarkan oleh Roland Barthes, tentu saja bukanlah kabar buruk yang harus disesali, karena bagaimanapun teks pada akhirnya adalah juga tindakan yang memiliki hak otonominya sendiri. Sekecil apa pun, apa yang telah kita tulis pada akhirnya akan menjadi bagian dari Buku Semesta—dan ada kehadiran kita di sana, meski tak bisa purna.

Namun begitu, meski sudah lepas dari kuasa pengarang, kehadiran teks otonom tersebut ke wilayah publik telah membuka peluang pintu dialog bagi gagasan yang sebelumnya hanya sunyi sendiri dalam benak si penulis. Kesunyian sebuah gagasan yang hanya semarak dalam benak seseorang akhirnya dirayakan secara publik melalui tulisan.

Saat ide tentang tulisan ini menyergap saya semalam sebelum tidur, saya pun sempat bertanya-tanya: akan seperti apakah jadinya ide tersebut saat dituliskan dan bagaimana ia akan berakhir—dalam prosesnya maupun ketika sudah menjadi teks otonom.

Sekarang saya tahu bahwa tulisan ini sendiri (bersama ide yang muncul tadi malam itu) mungkin adalah bagian dari pencarian saya tentang makna aktivitas kepenulisan saya selama ini. Ini mungkin bagian dari cara saya merayakan jalan sunyi seorang penulis, dengan berusaha mengusir kabar kesunyian itu dengan sebuah pesta bertajuk “keajaiban menulis”.

Adakah yang mau bergabung bersama saya dalam pesta ini?

Read More..

Minggu, 25 April 2010

Tentang Takdir Sebuah Titik dan Seseorang dari Kegelapan Masa Depan

Hidup adalah jejaring. Kita adalah titik yang terhubung dengan titik-titik yang lain. Takdir kita adalah bahwa kita tak bisa sepenuhnya mengucilkan kehadiran kita di luar jangkauan titik-titik yang lain. Kita didefinisikan dan mendefinsikan hal-hal dalam kaitannya dengan hal-hal yang lain.

Hari ini saya berpikir tentang takdir sebuah titik yang terlempar ke bumi yang takdirnya terperangkap di antara jejaring takdir yang lain. Sebagaimana yang lain, ia terlahir dengan faktisitas yang tak bisa ia tolak. Ia pun lalu mengembara, kemudian terus berkembang dan menjadi matang sehingga akhirnya tampak cukup kemilau. Mungkin di luar ia terlihat tak amat istimewa, tapi di dalam ia seperti menyimpan cahaya.

Namun kini ia rupanya tengah berada dalam situasi yang tak terlalu menguntungkan. Ya, karena hidup adalah jejaring. Takdir satu titik bertemu dengan takdir titik yang lain, juga yang lain, terus yang lain lagi, ditambah yang lainnya lagi, sampai akhirnya mengikat membentuk tali yang menjerat tanpa ia kehendaki. Memang, di antara simpul tali itu ada yang tak begitu kuat karena hanya dibangun di atas praduga dan rekaan belaka—bukan fakta. Namun begitu, ini cukup mampu untuk membuat rangkaian titik-titik itu bertambah kusut.

Pertanyaan yang kemudian datang mengganggu pikiran saya adalah: takdir titik manakah yang kira-kira akan dapat mengeluarkannya dari jejaring takdir himpunan titik-titik itu?

Seseorang dari kegelapan masa depan mencoba menakar perannya bahwa ia akan menjadi elemen baru dari himpunan titik yang rumit itu. Namun ia pun ragu bahwa ia akan mampu masuk ke situ sebagai pengurai bagi belitan titik yang melilit pelik itu. Ia sadar bahwa ia pun tak lebih dari sebuah titik yang juga tak bisa lepas dari jejaringnya sendiri. Ia, seseorang dari kegelapan masa depan di balik kaca yang buram, tahu bahwa jika ia memilih terlibat ke situ, mungkin itu akan menjadi semacam “bunuh diri” yang tak hanya akan melibatkan dirinya, tapi juga titik lain dalam jejaringnya—atau bahkan titik lain yang tak pernah ia duga sebelumnya.

“Seseorang dari kegelapan masa depan itu mungkin pengecut. Atau peragu. Atau entah,” pikir saya yang gagal untuk membuat kesimpulan yang tegas.

Saya tahu, bagaimanapun, seseorang dari kegelapan masa depan mungkin akan datang untuknya. Namun saya tak pernah tahu siapa dia sesungguhnya—kecuali waktu telah menyingkapkan tirai gaibnya. Seperti juga halnya saya tak pernah tahu takdir apa pula yang akan membawanya—ke arah mana, dan bagaimana.

Sampai di sini saya masih tetap saja penasaran, dan pertanyaan itu masih menempel di benak saya: takdir titik manakah yang kira-kira akan dapat mengeluarkannya dari jejaring takdir himpunan titik-titik itu?

Saya berpikir, saat takdirnya—dan juga masa depannya—nyata-nyata tak bisa ia definisikan berdasarkan pencapaiannya yang cukup kemilau , dan juga akan sangat ditentukan oleh takdir titik yang lain dalam jejaringnya, apakah saya boleh mengatakan bahwa hidup ini terlalu absurd dan tidak adil—paling tidak untuknya? Ia telah melewati perjalanan panjang dan hari-hari melelahkan yang telah menempanya sedemikian rupa. Tapi di persimpangan yang cukup menentukan, ia terjebak dalam jerat takdir titik yang lain, dalam jejak-jejak titik yang lain yang mengarah pada alur hidup yang dirangkainya.

Mengamati situasi semacam ini, saya kadang suka memaknainya sebagai bentuk nyata dari hidup yang absurd. Hidup yang tak mudah dijelaskan dan tampak tak menyediakan makna apa-apa. Tapi saya tahu bahwa jauh dari itu semua, situasi semacam ini buat saya sebenarnya justru semakin menegaskan bahwa hidup memang adalah jejaring. Kita tak bisa hanya berpikir untuk memuluskan jalan takdir titik tertentu saja—mungkin milik kita sendiri—karena ada banyak titik yang lain yang juga akan terkait dengannya. Membatasi untuk hanya berpikir tentang atau pada satu titik saja adalah sebentuk kealpaan akan takdir semesta.

Lebih dari itu, saya pun berpikir bahwa itu juga menjadi isyarat yang kuat betapa kita tak bisa menguasai masa depan—atau lainnya—secara penuh. Sebab lukisan masa depan tak hanya ditentukan oleh garis yang kita guratkan, tapi juga digoreskan oleh pelukis yang lain dengan karakter dan gradasi warna sesuai dengan seleranya masing-masing.

Menjelang tengah malam, saya masih tak bisa lepas dari pertanyaan saya ini yang terlontar di sebuah perbincangan siang tadi setelah mungkin sebelumnya menunggu momentum cukup lama untuk dirumuskan. Namun, saat perlahan saya mencoba menuliskan butir-butir pikiran saya dalam catatan ini, terlintaslah dalam benak saya bahwa jangan-jangan ini semua hanya semacam kerusuhan dalam pikiran saya saja—pantulan dari keruwetan pikiran saya sendiri. Artinya, titik yang saya bicarakan dari tadi, yang digambarkan tengah berada dalam kerumitan, sebenarnya tak pernah seperti itu—atau mungkin tak merasa seperti itu. Ia baik-baik saja, atau merasa baik-baik saja, menjemput hari-hari mendatang dengan senyum di bibirnya.

Akhirnya, sepanjang terkait titik yang saya pikirkan itu, saya mengembalikan semuanya pada Rencana Semesta. Karena saya sebenarnya tak tahu apa-apa tentangnya—juga yang lainnya. Selebihnya, saya kembali pada kesimpulan saya, bahwa hidup ini adalah jejaring, dan saya tak bisa mengendalikan semua jejaring itu menurut kehendak dan keinginan saya. Namun saya yakin, dalam segala keterbatasan, ada hal-hal berguna yang bisa kita lakukan untuk membuat semuanya menjadi lebih baik—sekecil apa pun itu bentuknya.

Tulisan terkait:
>> Membincang Takdir

Read More..

Jumat, 02 April 2010

Ayah, Apa Kau Masih Bisa Memimpin Pembacaan Shalawat di Perayaan Maulid Tahun ini?

Andai kau sedang berada di rantau, momen apakah yang akan membuatmu paling mudah untuk teringat pada ayah atau ibumu? Saya menduga kuat bahwa salah satu jawaban favorit adalah saat sakit. Bila kebetulan terbaring sakit di rantau, kita akan tersadar bahwa kita sedang benar-benar sendiri dan jauh dari keluarga.

Tujuh bulan di Eropa, alhamdulillah bisa dibilang saya belum pernah benar-benar sakit. Pernah juga sih, dua kali kurang enak badan agak serius. Yang pertama gara-gara kelelahan sepulang dari Jerman, dan yang kedua pas awal-awal baru tiba di Belanda—mungkin karena masih penyesuaian dengan cuaca dan sibuk mengurus ini itu. Masing-masing, sekitar dua hingga tiga hari saya tak banyak beraktivitas dan hanya beristirahat di kamar saja.

Namun demikian, bukan sakit yang mengingatkan saya pada orang rumah. Selama di Eropa, bulan Maulid-lah yang telah benar-benar mengingatkan saya pada ayah. Dalam rindu, saya bertanya-tanya: apakah ayah masih bisa memimpin pembacaan shalawat di perayaan Maulid tahun ini?

Di sepanjang bulan Maulid, bahkan kadang juga sebelum dan sesudahnya, di Madura pada khususnya biasanya ramai dengan perayaan Maulid. Orang-orang maupun lembaga banyak yang ikut memperingati kelahiran Baginda Nabi Muhammad saw. Bisa dikatakan hampir tiap hari. Dalam perayaan Maulid, shalawat, diba’ dan barzanji dilantunkan bersama-sama dengan dipandu oleh salah seorang yang hadir. Sering kali juga diiringi dengan tabuhan rebana.

Ayah saya bisa dibilang biasa memandu atau memimpin pembacaan shalawat di acara-acara perayaan Maulid di daerah saya. (Sebenarnya, shalawat juga biasa dibacakan dalam acara pernikahan dan ritus lainnya.) Memang, ayah memiliki suara yang merdu. Beberapa orang mengatakan bahwa jika membaca al-Qur’an, suara ayah mirip dengan Syeikh Ali bin Abdurrahman al-Hudzaifi, imam Masjid Nabawi, Madinah, yang terkenal itu.

Dalam perayaan Maulid, ayah biasanya membacakan diba’ dan barzanji atau bacaan shalawat dengan irama lagu yang konvensional. Saya tidak tahu apakah penggambaran saya ini benar. Yang jelas, pilihan irama lagunya bisa dibilang relatif sudah lazim didengar dan mudah diikuti oleh jama’ah yang hadir.

Saya sendiri memang lebih suka seperti itu. Dengan pilihan shalawat yang kurang akrab didengar, saya kadang merasa kurang bisa menyatu dengan suasana religius yang berusaha dibangun dalam sebuah perayaan Maulid.

Meski pilihan irama lagunya biasa, saya harus katakan bahwa saat ayah membacakan diba’, barzanji, atau shalawat, saya dapat merasakan keindahan dan ketulusannya dalam memberikan pujian dan penghormatan kepada Baginda Rasul.

Saat ini, tujuh bulan berpisah dengan keluarga di rumah, dipisahkan jarak sebelas ribu kilometer, saya bertanya-tanya: apakah ayah masih bisa melantunkan diba’, barzanji, dan shalawat di perayaan Maulid tahun ini?

Sejak akhir 2007, yakni sejak stroke (ringan) menyerangnya, saraf motorik ayah terganggu. Ini menyebabkan ayah menjadi agak kesulitan mengolah suaranya. Ayah juga mengatakan bahwa nafasnya menjadi tidak cukup panjang lagi. Sejak saat itu, terkadang ayah menolak memimpin pembacaan diba’ atau barzanji di acara perayaan Maulid.

Kalaupun ayah bersedia, saya dapat merasakan betapa ayah sudah tak bisa fasih membaca diba’ atau barzanji seperti dulu, sebelum stroke menyerangnya. Saya masih ingat, di suatu siang di awal 2007 saya sempat mengikuti sebuah acara Maulid di rumah salah satu famili, dan ayah memimpin pembacaan diba’ di acara itu. Saya masih bisa merasakan kekuatan lantunan suaranya. Bacaan diba’, barzanji, dan shalawat ayah buat saya terasa cukup mampu untuk menghadirkan Baginda Rasul di antara kekhidmatan jama’ah yang hadir di sana.

Setelah itu, saya dapat merasakan betapa kadang ayah tampak kesulitan untuk melafalkan bait-bait syair yang berisi pujian kepada Nabi Muhammad itu. Bahkan kadang ketika membaca ayat al-Qur’an saat shalat berjama’ah, ayah juga kesulitan dan tak sefasih sebelumnya. Kadang ayah tampak cukup emosional dan tak sabar saat ia mengalami kesulitan semacam itu.

Kini, bulan Maulid telah lewat. Tapi mungkin saja masih ada orang yang merayakan Maulid Nabi di sekitar rumah saya. Dan, sampai sekarang pun, pikiran itu masih terus membayangi saya: apakah ayah masih bisa memimpin pembacaan shalawat dalam perayaan Maulid tahun ini—juga tahun-tahun mendatang?

Ayah, saya rindu bacaan shalawatmu. Ayah, saya berdoa untukmu, dan semoga syafa’at Nabi selalu tercurah untukmu. Ayah, maafkan saya, anakmu yang tak tahu berbakti ini.

Read More..

Minggu, 28 Maret 2010

Sebuah Cerita Akhir Pekan


Hari ini gerimis turun hampir seharian. Sesekali salju yang agak keras turun, mirip butiran es yang amat kecil. Saya merasakannya saat keluar membeli jeruk ke tempat belanja di sudut komplek asrama. Butir-butir es itu jatuh menerpa jaket dan terdengar seumpama alat musik perkusi. Saat saya melintas di atas tumpukan salju yang agak mengeras atau yang becek, suaranya menjadi nyaris tak terdengar tergantikan oleh suara gesekan sepatu.

Hari ini langit mendung berwarna kelabu. Tak ada matahari. Jendela kamar basah diterpa rintik yang tertiup angin. Jelang petang, saat lampu-lampu rumah yang berderet di bebukitan mulai dinyalakan di kejauhan, kabut turun memotong jarak pandang.

Malam datang semakin terlambat. Menghadap jendela yang agak buram, saya menunggu bulan yang akan muncul dari balik gedung di seberang kamar. Tapi langit memang kelam tertutup awan—dan bulan bersembunyi di sana.

Tirai jendela saya biarkan terbuka, berharap akan menemukan bulan menggantung di angkasa memancarkan cahaya saat orang memadamkan lampu-lampu mereka selama sejam. Langit tetap berselimut awan yang gelap.

Pukul 20.30, lampu kamar saya padamkan. Saya buka jendela kamar pelan-pelan. Dingin seketika masuk menyerbu. Rumah-rumah di bebukitan itu masih bercahaya. Di bawah, pohon yang kerontang tampak suram di antara penerangan lampu yang berwarna kekuningan. Salju masih menutupi tanah di bawahnya. Suasana begitu lengang.

Malam terus berjingkat, seperti pencuri yang tak ingin diketahui keberadaannya. Apakah saya memang punya harta yang cukup berharga untuk dicuri? Entahlah. Akhir pekan ini, saya merasa begitu tua dan lelah. Tua dan malam. Sedang meja saya masih berantakan.

Moholt, Trondheim, 27/03/2010 22.48

Read More..

Jumat, 15 Januari 2010

A Lonely Biker


“Ceritakanlah padaku tentang warna putih,” katanya di suatu senja. Lalu aku pun bercerita tentang salju.

Sore itu, dari balkon apartemen yang masih dipenuhi salju, aku melihat seorang penyepeda keluar dari komplek Warande, Zeist, yang menampung sekitar seribu penghuni itu. Duduk di atas sadel, mengayuh pedal di jalanan yang licin dikelilingi pemandangan putih yang menghampar, di antara pohon-pohon menjulang yang juga memutih, aku seperti menangkap nuansa kesunyian yang hadir diam-diam. Ia tampak bersembunyi dalam tas kotak di belakang sadel sepedanya.

Ia datang bersama butir-butir lembut yang telah mengurung benua ini di bawah titik nol. Dengan kepolosannya, ia telah menjungkalkan si penyepeda ke ngarai sunyi yang seperti tak bertepi. Kepada yang lain, ia telah memaksa mereka untuk memarkir sepedanya dalam gudang-gudang bawah tanah lebih lama.

Sore itu tak ada sinar matahari. Butir-butir salju yang menghampar itu tak sedang berkilauan diterpa cahaya keperakan. Si penyepeda bergerak perlahan di jalanan kecil yang saljunya sama sekali tak disingkirkan. Ia tampak bersabar. Bunyi roda sepedanya yang berputar melewati butir-butir salju yang lembut itu sesekali diiringi oleh kicau burung di kejauhan. Tiupan angin yang tak sedang amat kencang kadang menjatuhkan salju di pepohonan. Beberapa tampak menerpa jaketnya yang berwarna hitam. Wahai penyepeda, apa yang tengah kau jemput di luar sana?

Dari atas balkon, aku menyaksikan titik hitam itu bergerak perlahan di antara pemandangan putih yang tampak polos dan seperti berasal dari negeri kayangan.

Putih salju, apa pun makna keberadaanmu, apa pun atribut yang kau antarkan kepadaku, aku tahu, bahwa suatu saat kau akan luluh, mencair, lalu menghilang, entah ke mana, untuk kemudian kembali di suatu masa.

Read More..

Senin, 23 November 2009

Di Sepanjang Titik-Titik Perjalanan

Kereta ini sebentar lagi akan segera melaju ke arah timur bergerak menjauh dari titik matahari tenggelam. Angin musim dingin bertiup sedikit kencang. Tak ada cahaya keperakan. Langit mendung. Tak ada biru. Hanya kelabu.

Dari atas kereta yang berada di ketinggian, aku dapat menyaksikan orang-orang lalu-lalang. Beberapa di antara mereka tampak berlari ke arah bus yang terparkir rapi. Begitulah. Stasiun memang selalu ramai. Tapi aku tak tahu, seberapa banyak jumlah penjemput dan pengantar di stasiun ini. Apakah tradisi menjemput dan mengantar juga lazim di negeri ini?

Bersama seorang teman, hampir sepanjang hari aku menjelajahi kota ini, menyusuri lorong-lorong dan sudut-sudutnya yang menyimpan banyak hal dari masa lalu. Kincir angin di tepi kanal, rumah seorang pelukis ternama dengan patung anak kecil di halamannya, perpustakaan yang menyimpan buku-buku dan manuskrip dari abad-abad silam, benteng tua, dan juga museum.

Dan sekarang, sore ini, aku duduk di atas kereta yang akan segera bergerak ke arah timur. Aku akan melanjutkan perjalanan. Di antara keramaian, sambil menikmati lagu-lagu bernuansa Renaisans, pikiranku tertegun pada gagasan tentang perjalanan.

Sampai kapan sebenarnya aku akan berada di perjalanan? Empat puluh satu menit perjalanan kereta yang akan kutempuh tak lama lagi hanyalah setitik kecil dari langkah-langkah kaki lainnya yang mungkin nyaris tak berhingga. Di manakah ujungnya?

Di antara deru kereta yang mulai melaju, aku membayangkan bahwa ini adalah sebuah perjalanan dalam perjalanan. Aku telah meninggalkan satu titik perhentian dalam titik perhentian yang jauh lebih besar. Di antara himpunan titik-titik itulah, sekarang aku tengah berusaha membuat gambar—dengan warna-warninya, bersama lika-likunya.

Read More..

Rabu, 11 November 2009

Daun-Daun yang Berpulang

Daun-daun itu jatuh ke tanah bersama hembusan angin dingin di bawah bentangan langit yang kelabu. Daun-daun itu terbang, luruh perlahan, sehingga dahan-dahan pepohonan pun jadi kerontang. Daun-daun itu, yang beberapa bulan sebelumnya cerah menghijau, beberapa pekan terakhir berubah warna. Mereka berganti kemerah-merahan, kuning, cokelat, dan akhirnya tak mampu lagi menggantung dan bertahan. Pegangan mereka lunglai, dan satu persatu gugur berserakan.

Sang Waktu telah merontokkan kekuatan mereka dan membawanya ke musim ini. Sang Musim telah mengantarkan daun-daun itu pada takdir purba yang telah tercatat bersama semesta. Di hamparan tanah yang mulai sering basah karena embun dan rintik hujan, mereka sama sekali tampak tak resah. Sesekali ditiup angin yang agak kencang, di sana mereka menunggu lebur untuk pulang ke rumah asal.

Sang Musim, perlahan tapi pasti, juga tengah mengusir burung-burung ke selatan, menceraikan persaudaraan tulus mereka dengan rimbun daun-daun di tanah ini. Kicaunya mulai jarang terdengar. Tataplah langit, dan kau akan menyaksikan burung-burung yang tampak mulai bergegas menemukan tempat yang lebih nyaman ke arah selatan, berkelana mencari pohon dan dedaunan.

Burung-burung itu terbang ke selatan menjemput harapan. Tapi aku tak tahu apakah mereka akan kembali ke tempat ini dengan cerita tentang langit biru yang teduh dan daun-daun yang menghijau. Mungkin mereka justru akan menemukan asap hitam yang terus mengepul dari hutan-hutan. Mungkin saja rumah singgah mereka di sana, di selatan, sudah tak lagi nyaman.

Di sini, saat ini, daun-daun sedang berpulang. Pohon-pohon pun mulai kesepian. Sayang sekali, aku tak akan berada di tempat ini saat mereka datang kembali. Padahal, sepertinya mereka akan menghidangkan kisah-kisah dari tanah leluhur yang penuh kebijaksanaan.

Read More..

Jumat, 16 Oktober 2009

Labirin Metro Kota Paris

“Deux vitres nous sĂ©paraient lorsque nos yeux se sont croisĂ©s. Dans le mĂ©tro comme foudroyĂ©es, nous nous sommes regardĂ©es, choquĂ©es... Nous avions la mĂªme robe!” * Magali V. – Paris

Jika ada seseorang yang pertama kali berkunjung ke Paris, maka rekan-rekannya yang lain yang masih belum mendapat kesempatan serupa pasti akan memintanya untuk bercerita tentang situs-situs wisata terkemuka: Eiffel, Louvre, Notre-Dame, dan yang lainnya. Bila tidak dengan cerita, rekan-rekannya itu akan meminta untuk melihat foto-foto yang sempat diabadikan oleh temannya.

Menghabiskan akhir pekan selama tiga hari di Paris seminggu yang lalu, saya tak cukup punya kesan mendalam tentang simbol-simbol utama Kota Cahaya itu. Mungkin karena saya hanya sekadar—katakanlah—melintas di tempat-tempat terkenal yang telah menyedot banyak turis dunia itu. Mungkin sebenarnya saya kurang bisa menikmatinya, dan musti kembali lagi ke sana untuk bisa lebih dalam menyelaminya dengan intensitas yang lebih baik.

Karena itu, saya tak akan bercerita tentang bermacam landmark kota Paris itu. Biarlah kali ini saya berdiri di pinggiran saja, dan akan menuturkan sedikit cerita tentang labirin metro kota Paris. Ya, benar, metro. Mungkin pilihan ini juga terkait dengan kedatangan saya di Paris pada Jum'at subuh yang lalu. Saya tiba di Paris melalui Terminal Bus Internasional Gallieni, dan langsung menyusuri metro kota Paris menuju KBRI Paris di Cortambert 47.

Saat itu pagi masih begitu dingin dan irama kehidupan metro yang sebenarnya masih belum terasa. Menjelang pukul 7 pagi, saat matahari masih sejam kemudian baru akan terbit, lorong-lorong metro memang masih cukup lengang. Orang-orang mungkin masih bermalas-malasan di balik selimut tebal mereka dan menunggu matahari keluar dari peraduannya.

Ini adalah pengalaman pertama saya menggunakan jalur transportasi kereta bawah tanah, yang sebelumnya hanya saya saksikan di film-film. Begitu masuk ke lorong metro, saya langsung terkesan dengan lorong-lorongnya yang mirip labirin: berkelok, dan bercabang-cabang. Saya semakin terkesan saat singgah di beberapa stasiun metro lainnya yang memiliki lebih banyak lorong, seperti RĂ©publique dan ChĂ¢telet Les Halles.

Desain stasiun-stasiun metro kota Paris tidaklah seragam. Lorong-lorongnya kadang bermotif bata yang disusun seperti tembok biasa; ada yang berwarna putih, merah, kuning keemasan, dan lain-lain. Ada pula yang bermotif keramik persegi empat dengan warna yang juga berbeda-beda. Tepat di tempat tunggu stasiun, yang dindingnya melengkung sehingga tampak seperti goa besar, kursi-kursinya pun dibuat tidak seragam, baik bentuk maupun warnanya.

Dinding-dinding lorong metro Paris tak dibiarkan kosong begitu saja. Di kanan kiri lorong, saya menyaksikan bermacam iklan yang dibingkai dengan sangat artistik. Isinya pun juga aneka macam, mulai dari iklan produk, iklan wisata, pertunjukan teater, konser atau pameran, atau iklan layanan masyarakat.

Memperhatikan poster-poster iklan dan lalu-lalang orang di sepanjang labirin dan kereta metro kota Paris, saya dapat menangkap nuansa seni dan keragaman budaya kehidupan dan warga kota Paris. Dari kehidupan bawah tanah kota metropolitan yang dihuni oleh sekitar 12 juta orang ini, terbayang arus perjumpaan yang mungkin sangat intens di antara beragam kebudayaan dunia. Dengan cara yang cukup sederhana, lorong-lorong metro kota Paris seolah menceritakannya kepada saya.

Metro kota Paris adalah metro tersibuk kedua di kawasan Eropa setelah Moskwa. Konon, setiap hari ia melayani 4,5 juta penumpang di sepanjang 214 km rel yang dimilikinya. Saat tahu bahwa dari keenam belas jalur yang ada beberapa di antaranya sudah berusia lebih dari satu abad, terbayang betapa peradaban kota Paris dalam bidang transportasi telah dibangun sejak lama. Paris telah menyediakan basis material yang cukup baik untuk melayani pergerakan orang-orang yang hidup di dalamnya untuk mengerjakan proyek peradabannya masing-masing—untuk menyusun batu bata kecil peradabannya sehingga perlahan membentuk bangunan yang mapan dan kemudian diwariskan pada generasi berikutnya.

Saya teringat pengamen dengan harmonika di salah satu stasiun yang saya sudah lupa di mana tepatnya. Saya juga teringat seorang pengemis tua yang duduk di lantai lorong metro di atas hamparan koran yang ia gelar. Saya teringat grafiti warna-warni yang berkelebat di antara lorong kereta yang gelap—saya bertanya-tanya: bagaimana grafiti-grafiti ini dibuat? Saya teringat poster besar yang memuat gambar para pemain sepak bola tim nasional Perancis yang beberapa di antaranya berkulit hitam. Saya teringat rombongan pemuda kulit hitam yang menyanyi sepanjang lorong metro merayakan kemenangan telak Perancis atas Kepulauan Faroe, yang memberi peluang bagi Perancis untuk berlaga di Piala Dunia Afrika Selatan tahun depan.

Saya juga teringat pembicaraan-pembicaraan saya dengan beberapa teman saat menyusuri lorong-lorong metro kota Paris. Saya teringat teriakan pemuda-pemudi yang berlarian di antara kereta yang akan segera berangkat. Saya teringat poster besar bermotif seperti kaligrafi khat kufi yang saya jumpai di beberapa stasiun. Saya teringat kata-kata bijak dalam bahasa Perancis yang memuat pesan sangat multikultural di République.

Rasanya, labirin metro kota Paris memang cukup layak juga untuk menjadi tempat wisata peradaban di antara landmark ternama lainnya. Jika kita menghidupkan sedikit saja kepekaan kita untuk melihat lebih dalam kehidupan lorong-lorong metro dengan lebih cermat, mungkin saja kita akan menemukan salah satu ruh peradaban yang menggerakkan kehidupan kota Paris yang masyhur itu.

Baca juga:
>> Di Jalanan Kota Jakarta

Read More..

Selasa, 06 Oktober 2009

Gempa itu Tak Datang di Malam Hari

Sebenarnya, di hari itu, Sabtu, 26 Mei 2006, saya bangun cukup awal, sebelum fajar tiba. Namun, setelah salat Subuh, saya memilih untuk tidur lagi. Maunya saya bersepeda keluar. Tapi, karena hari itu saya punya banyak agenda, saya memutuskan untuk tidur saja.

Saya mulai berbaring sekitar pukul lima. Tak sampai satu jam kemudian, tanpa saya bayangkan sebelumnya, saya dibangunkan oleh goncangan keras di lantai kamar saya. Seketika saya terbangun. Saya merasakan getaran keras dan suara yang mirip dengan deru kereta api yang melintas cepat. Masih dalam keadaan setengah sadar, di tengah penerangan kamar yang minim, ditambah lagi tak berkacamata sehingga pandangan saya agak kabur, dengan spontan saya berusaha keluar dari kamar.

Saya berusaha membuka pintu kamar secepatnya. Namun saya kesulitan. Goncangan yang masih tak berhenti itu membuat saya sulit menguasai keseimbangan. Di belakang saya, rak buku setinggi 180 cm tampak bergoyang dan mau roboh. Di dekat pintu, air mineral dalam galon berkapasitas 19 liter terdengar beriak. Setelah berusaha keras, akhirnya saya berhasil keluar dari kamar saya. Beruntung, kamar saya paling dekat ke pintu keluar rumah. Begitu keluar, saya langsung keluar, berlari ke jalan depan rumah.

Ternyata saya agak terlambat keluar. Begitu tiba di luar, orang-orang sudah tampak banyak berdiri dalam suasana yang masih penuh tanda tanya. Belum lama saya berdiri di pinggir jalan, dari arah gang tepat di barat rumah, seekor anjing putih yang cukup besar berlari cepat ke arah saya dan hampir saja menabrak saya. Saya pikir anjing itu juga panik dengan goncangan keras itu.

Goncangan masih sedikit terasa, sampai akhirnya pun mereda. Orang-orang pun saling bertanya tentang apa yang tengah terjadi. Beberapa tampak berusaha melihat lebih jelas ke arah utara, ke arah Gunung Merapi. Apakah Gunung Merapi meletus? Tapi tak ada yang tampak istimewa dari arah utara. Tak ada kepulan. Gunung Merapi, di pagi yang mulai terang itu, tampak menjulang biasa, tanpa tanda-tanda yang cukup berbeda.

Orang-orang pun kemudian tak ragu untuk menyimpulkan bahwa goncangan keras yang baru saja terjadi itu adalah gempa. Ya, gempa bumi.

Begitu merasa agak aman, saya mencoba kembali ke kamar untuk mengambil kacamata dan telepon seluler. Masuk ke kamar, saya mendapatkan kamar saya sudah berantakan. Rak buku di sisi barat kamar roboh ke arah timur. Buku-buku bertebaran. Galon air mineral juga tergeletak di lantai. Untung airnya sedang tidak penuh, sehingga air yang tumpah tidak seberapa. Saya segera mengambil kacamata, telepon seluler, dan dompet, dan kemudian segera kembali ke luar.

Di luar, orang-orang terus mencoba mencari informasi tentang kejadian di pagi itu. Namun, ternyata telepon seluler pun sulit digunakan. Listrik juga padam.

Saya berkumpul dengan teman-teman saya di kos seberang tempat saya. Adik saya juga di situ. Katanya, dia tak bisa keluar kamar sampai goncangan berakhir karena dia tak berhasil membuka kunci pintu kamarnya. Beruntung bahwa dinding dan atap kamarnya tak roboh. Ya, kami beruntung. Di perkampungan kami, Papringan, tak ada bangunan roboh. Hanya ada tembok rumah yang sebagian roboh, tepat di perempatan masuk ke jalan ke arah tempat saya.

Beberapa teman mengajak untuk melihat-lihat keadaan di sekitar Papringan. Mereka berencana ke Sapen. Saya pun mencoba menyusul mereka dengan naik sepeda. Namun, saya tak melanjutkan rencana saya begitu melihat lalu-lintas di Jalan Adisucipto yang tampak begitu kacau. Orang-orang seperti terlihat panik. Pada saat itulah saya berpikir bahwa gempa yang baru saja terjadi ini bisa jadi lebih parah dari yang saya bayangkan. Saya pun kembali ke kos.

Ternyata apa yang saya bayangkan itu memang benar. Beberapa saat kemudian, informasi yang lebih utuh berhasil didapatkan dari radio. Gempa telah terjadi. Gempa tektonik itu berkekuatan 5,9 skala Richter, terjadi pada pukul 05.55 WIB selama 57 detik. Episentrum gempa terletak di dekat pantai selatan.

Bersamaan dengan gempa susulan yang terjadi pada pukul 08.15 WIB, kepanikan bertambah karena isu tsunami menyebar di antara orang-orang yang masih kebingungan. Tentu, kata “tsunami” terdengar begitu menakutkan. Gambar-gambar tragedi Tsunami Aceh yang cukup untuk membuat orang-orang cemas masih belum hilang dari ingatan. Salah seorang teman yang pagi itu ikut berkumpul di tempat saya langsung meninggalkan saya dan teman-teman, bergegas membawa motornya tanpa mengajak saya atau teman-teman lainnya—bahkan dia lupa tak memakai alas kakinya. Begitulah. Orang-orang panik.

Semakin siang, saya semakin tahu bahwa gempa kali ini telah memakan banyak korban dan telah membuat Jogja menjadi tak lagi “berhati nyaman”. Makanan, air bersih, listrik, jelas akan menjadi masalah. Saat itu uang tunai di dompet saya cuma sekitar 25 ribu rupiah. ATM jelas tak bisa digunakan. Beruntung, tak lama setelah gempa, saya dengan adik saya sempat makan di warung sebelah yang buka sebentar.

Menyadari situasi ini, saya pun, bersama adik dan beberapa teman, memutuskan untuk pulang. Sebenarnya, sejak tengah hari, banyak mahasiswa dan orang-orang yang memutuskan untuk meninggalkan Jogja. Rupanya, pemberitaan di televisi yang memperlihatkan dahsyatnya gempa dan korban jiwa serta bangunan yang diruntuhkannya telah membuat keluarga mereka masing-masing di luar Jogja cemas, sehingga meminta mereka untuk pulang saja. Begitu pula yang terjadi dengan saya.

Dengan uang terbatas, saya pun meninggalkan Jogja sekitar pukul lima sore. Dengan uang tunai terbatas, saya naik bis sampai Solo, untuk kemudian mencari uang tunai di ATM, dan melanjutkan perjalanan ke Madura. Sepanjang perjalanan, orang-orang bercerita tentang gempa Jogja. Mereka bercerita tentang korban jiwa dan kerusakan yang terjadi di mana-mana. Sepanjang perjalanan Jogja-Solo, saya dapat menyaksikan bangunan-bangunan yang hancur, rusak, atau miring.

Dapat dikatakan bahwa saya tak mengalami kerugian material dari bencana alam ini. Meski begitu, gempa Jogja adalah satu pengalaman eksistensial yang memberi banyak hal buat saya. Saya berbincang dengan beberapa teman saya yang penduduk asli Jogja. Buat beberapa di antara mereka, gempa Jogja telah memaksa mereka untuk memulai segalanya dari awal. Tak hanya soal aspek duniawi—mereka pun akhirnya dipaksa untuk berefleksi, tentang banyak hal. Salah seorang di antaranya, yang seorang penulis dan pengamat pendidikan, mengatakan bahwa bencana ini telah menegaskan bahwa harta benda yang dikumpulkan bertahun-tahun bisa saja hilang seketika; dan yang sangat berguna ketika itu adalah para sahabat. Sungguh, ini pelajaran tentang kefanaan yang benar-benar nyata, tapi sering kali dilupakan—apakah itu berarti sebentuk pengingkaran diam-diam?

Saya kembali lagi ke Jogja tepat sepekan setelah musibah yang menewaskan lebih enam ribu korban jiwa itu terjadi. Saya bermaksud untuk membawa pulang buku-buku saya. Beruntung sekali, kamar kos saya tak roboh, karena setelah gempa terjadi, malam harinya hujan deras turun mengguyur Jogja. Salah seorang teman saya yang kamar kosnya roboh harus merelakan buku-bukunya hancur oleh hujan bercampur puing-puing bangunan.

Dua hari saya di Jogja, sebelum akhirnya pulang kembali ke Madura. Hari-hari itu saya tengah berusaha keras fokus untuk menyelesaikan tugas akhir saya yang baru saja dimulai. Dan saya berpikir bahwa situasi Jogja tak lagi kondusif untuk tugas yang harus segera saya tuntaskan itu. Dua hari di Jogja, saya sempat berkeliling melihat-lihat suasana. Ternyata, hari itu adalah hari pertama kota Jogja kembali beraktivitas, setelah selama seminggu sebelumnya dicekam sunyi akibat gempa.

Beberapa bulan setelah gempa Jogja, saya masih mendengar banyak cerita kemanusiaan yang mengundang empati, tentang bagaimana masyarakat korban gempa berusaha bangkit menyusun kehidupan baru mereka di antara harapan yang tersisa. Cerita yang agak detail saya dapatkan dari salah seorang teman kuliah saya yang akhirnya menunda urusan akademiknya dan berfokus mengorganisasi warga kampungnya untuk membangun kembali kehidupan mereka.

Kenangan tentang kejadian gempa Jogja ini serta merta muncul kembali ke benak saya beberapa hari yang lalu saat mendengar kabar bahwa gempa dahsyat terjadi meluluhlantakkan Sumatera Barat. Gempa yang terjadi pada hari Rabu, 30 September 2009 pukul 17.16 WIB itu berkekuatan 7,6 skala Richter. Dari berita yang berhasil saya ikuti, saya dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa bencana ini lebih parah daripada gempa Jogja. Korban jiwa mungkin bisa mencapai ribuan. Kekuatan gempa yang lebih besar mengakibatkan kisah-kisah tragis para korban akan terasa lebih mengiris hati. Orang-orang yang meninggal dalam reruntuhan bangunan. Dusun-dusun yang menjadi kuburan massal.

Seperti gempa Jogja, malam hari setelah gempa, hujan juga turun di sana. Saya dapat membayangkan suasana mencekam yang terjadi selama hujan turun. Bencana dahsyat baru saja terjadi. Tanpa penerangan. Suara hujan, yang mungkin bercampur guntur diiringi halilintar. Saya tak dapat membayangkan andaikan gempa itu datang di malam hari. Mungkin akan benar-benar serupa kiamat.

Malam ini, saya berjarak belasan ribu kilometer dengan mereka yang tengah dirundung duka. Dengan keterbatasan yang saya punya, saya berusaha menjangkau mereka, merasakan penderitaan mereka. Saya merasa saya punya keterbatasan untuk menunaikan kewajiban saya terhadap saudara-saudara saya yang tengah ditimpa musibah ini. Dari jauh, saya berdoa untuk mereka.

Read More..

Sabtu, 26 September 2009

Mencari Masjid

Sejujurnya, saya bukan termasuk orang yang “benar-benar terpaut hatinya dengan masjid”. Saya merasa masih jauh untuk disebut sebagai seorang muslim yang baik. Selama ini, mungkin saya agak kecewa dengan masjid yang belum dapat menjadi tempat berbagi masalah-masalah keagamaan dan sosial dalam arti yang luas—tidak hanya tempat ritual. Dan saya sendiri mungkin masih terlalu picik untuk memulai berbuat sesuatu demi mengatasi kekecewaan saya itu.

Namun begitu, setelah lebih dua pekan hidup di negeri asing, ada rasa rindu untuk menemukan masjid, tempat kaum muslim berkumpul, meski masih hanya sekadar untuk memenuhi kewajiban (ritual) keagamaan. Saya merindukan deretan jamaah yang berbaris rapi, suara adzan, juga lantunan suara imam yang berwibawa dan menyentuh emosi. Lebih dari itu, saya merindukan bangunan yang berbentuk masjid—bukan masjid dalam pengertian sederhana, yakni tempat bersujud, yang itu bisa di mana saja.

Saat menjelang pelaksanaan shalat Idulfitri kemarin, saya sempat berharap bahwa itu akan berlebaran di tempat yang “benar-benar masjid”. Ternyata tidak. Shalat 'Ied kemarin dilaksanakan di sebuah sekolah muslim di tengah kota Utrecht.

Pada hari Kamis kemarin, saya pun berketetapan bahwa untuk shalat Jum'at pekan ini, saya harus menemukan masjid. Sudah dua kali shalat Jum'at saya lewatkan—di antaranya karena saya sedang kurang sehat hingga tak berpuasa. Saya pun berusaha memastikan tempat sebuah masjid yang alamatnya saya ketahui dari seorang gadis berjilbab asal Maroko yang saya tanya di bus pada hari Kamis sebelumnya. Pencarian saya sebelumnya tak berhasil, sampai akhirnya Kamis kemarin saya menemukan alamat website masjid tersebut. Dari situlah, dengan bantuan Wikimapia, akhirnya saya dapat memastikan lokasi masjid dan rute ke arah masjid itu dari apartemen saya.

Masjid itu bernama al-Muttaqien, berjarak 2,5 km dari apartemen saya. Tempatnya di daerah De Clomp, pinggiran barat kota Zeist. Masjid itu dibangun pada tahun 1993, dan, ini yang cukup menggembirakan saya, bangunannya memang benar-benar berbentuk masjid.

Saya tiba di masjid itu pada pukul 13.30, saat orang-orang mulai berdatangan untuk shalat Jum'at. Saya sama sekali tak kesulitan menemukan masjid itu. Menara kecilnya terlihat jelas di dekat rerimbunan pohon di salah satu sudut bangunan.

Begitu memasuki bangunan tersebut, saya langsung meletakkan tas dan berwudu. Saat saya masuk ke dalam ruang utama masjid, adzan sedang dikumandangkan. Suasana begitu hening dan khidmat. Saya pun mengambil posisi di tempat yang masih kosong. Memandang berkeliling, tampak beberapa tiang dan lengkungan seperti masjid pada umumnya. Ada rak al-Qur'an di dinding bagian depan. Jendela-jendelanya yang tertutup kaca juga bermotif arsitektur masjid. Lantainya dihampari karpet berwarna hijau dan merah. Orang-orang yang hadir kebanyakan berwajah Arab. Beberapa di antara mereka mengenakan pakaian panjang (gamis). Tak hanya orang tua, saya juga melihat beberapa anak belia di antara jamaah shalat Jum'at.

Saya melewatkan shalat Jum'at di masjid itu dengan perasaan puas. Kerinduan saya terobati: pada masjid, adzan, khotbah Jum'at, dan jamaah kaum muslim yang hadir di situ—meski tak satu pun saya kenal. Khotbah disampaikan dalam bahasa Arab yang dilantunkan dengan sangat fasih. Khotib berdiri di podium yang anggun. Jamaah menyimak pesan-pesan keagamaan yang dituturkan dengan baik, ringkas, padat, dan bermakna. Dengan pengeras suara yang sepertinya hanya terdengar di dalam ruangan, khotib mengingatkan jamaah untuk terus menjaga hikmah Ramadan, agar terus menjaga semangat untuk memperbaiki kualitas keimanan dan ketakwaan. Dia mengatakan bahwa salah satu tanda puasa dan ibadah kita diterima adalah manakala kita dapat melanjutkannya dengan bentuk kebaikan yang lain.

Di akhir khotbah, sang khotib mengumumkan bahwa di akhir pekan, jamaah diminta untuk kerja bakti membersihkan masjid. Wah, sepertinya komunitas muslim di sini sudah cukup kompak merawat masjid ini.

Yang agak kurang mengenakkan buat saya adalah ketika usai shalat, sebagian jamaah langsung bubar keluar. Memang, mereka keluar masjid dengan tertib, melewati satu-satunya pintu keluar satu persatu. Akan tetapi, kenyataan bahwa mereka tak berdzikir dan berdoa membuat saya bertanya-tanya keheranan.

Saya berdzikir sejenak dan berdoa. Di sekitar saya tampak beberapa orang masih berdzikir dan berdoa. Ada yang shalat sunnah. Ada pula yang mengobrol. Tak lama kemudian, saya pun keluar. Di luar masih mendung—sejak pagi nyaris tiada henti. Saat saya hendak membuka kunci sepeda saya di tempat parkir, seseorang berjarak dua meter dari tempat saya memanggil. Ouw, ternyata ada orang Indonesia juga di sini. Kami pun berkenalan. Namanya Wangsa Tirta Ismaya. Dia sudah tiga kali shalat Jum'at di sini, meski dia tinggal di pusat kota Utrecht. Kebetulan kampusnya di Uithof—sama seperti saya. Dia bilang, Jum'atan di sini enak, daripada di masjid orang Turki.

Kami berbincang cukup lama, dan terus berlanjut ke sebuah supermarket yang berada tak jauh dari masjid itu. Akhirnya, saya pun pulang ke apartemen, setelah berbelanja beberapa kebutuhan sehari-hari di situ.

Dalam perjalanan pulang, saya merasa lega dan puas. Saya sudah menemukan masjid. Saya sudah menemukan tempat saudara-saudara saya, kaum muslim, berkumpul setiap Jum'at. Saat mengayuh sepeda di jalanan sambil melawan angin yang terasa dingin, diam-diam terbersit harapan bahwa masjid ini dapat mengantarkan saya pada kualitas keagamaan yang lebih baik. Saya berdoa untuk itu.

Saya berjanji, Jum'at mendatang, saya akan datang lebih awal. Insya Allah.

>> Beri rating untuk tulisan ini di Blog Radio Nederland Wereldomroep.

Read More..

Jumat, 25 September 2009

Berlebaran di Rantau



Ini adalah pengalaman saya yang pertama: berlebaran di rantau. Tak tanggung-tanggung, lebaran kali ini, saya berjarak hampir 12 ribu kilometer dari rumah saya, dari keluarga saya, dari tempat saya dibesarkan.

Lalu, apakah ada bedanya? Bagaimana rasanya? Ruang yang memisahkan mulanya memang terasa biasa, seperti tak berbeda. Saat bangun di waktu Subuh di hari lebaran, saya seperti di rumah saja. Dari kamar saya yang berukuran 4 x 3,5 meter, perbedaan itu belum begitu terasa.

Tapi, begitu saya melangkah keluar, berangkat menuju “masjid” tempat kaum muslim Indonesia akan melangsungkan Shalat 'Ied, satu persatu perbedaan itu semakin terasa. Saya keluar dari aparteman sekitar pukul 7.20. Tiba di luar, saya menemukan jalanan yang diselimuti kabut tebal, yang membuat pandangan menjadi terbatas. Udara pagi juga menyengat dingin. Saya agak bergegas berjalan ke halte, mengejar bus pertama yang menuju Central. Jalanan masih sangat sepi. Mungkin karena hari Minggu.

Tak ada suara petasan atau gema takbir bersahutan. Tak ada orang lalu-lalang dengan pakaian-pakaian terbaik mereka. Kabut menambah sepi yang dingin.

Sepanjang perjalanan, di beberapa halte yang kebanyakan masih sangat sepi, saya menjumpai beberapa orang yang sepertinya juga tengah berangkat menuju masjid untuk berlebaran—orang-orang berwajah Arab atau Afrika. Sempat terpikir: apakah mereka juga tengah berada di perantauan, atau justru sudah lama berumah tinggal di negeri ini?

Tak sulit untuk menemukan “masjid” tempat kaum muslim Indonesia akan melaksanakan Shalat 'Ied. Alamatnya di Marnixlaan 362, Utrecht, di komplek Sekolah Aboe Daoed. Shalat digelar di ruang aula sekolah. Saat saya tiba, beberapa orang sudah tampak di dalam.

Saat takbir mulai dibacakan oleh salah seorang panitia, perasaan saya mulai tersentuh. Meski tampak terdengar tak begitu fasih dan kadang terkesan agak tertatih, gema takbir di hari itu tampak berbeda. Saya tidak tahu bagaimana menggambarkannya secara persis. Makna kebesaran Allah dan keagungan-Nya seperti muncul menyelinap begitu saja, bercampur aduk dengan kerinduan akan lantunan takbir serupa di kampung halaman.

Seusai shalat dan khotbah, acaranya salam-salaman dan makan-makan. Kaum muslim Indonesia yang hadir saat itu mungkin hampir berjumlah 100 orang. Cukup ramai. Di hari itu, mereka adalah keluarga saya—meski hampir semuanya tak saya kenal, bahkan namanya saja.

Acara usai menjelang pukul 12 siang. Setelah membantu membereskan tempat acara sebentar, saya pun pulang ke apartemen. Ya, saya langsung pulang. Tak ada acara lain. Tak ada acara silaturahim keliling ke famili. Di aparteman, saya langsung kembali ke keseharian saya di sini.

Berlebaran di rantau membuat saya mulai mengerti makna hari lebaran di kampung halaman. Saya mulai memaklumi, mengapa di Indonesia setiap tahun orang-orang berbondong-bondong mudik ke kampung halaman mereka di hari lebaran—bahkan dengan layanan dan situasi transportasi yang penuh tantangan.

Orang-orang menyimpan kerinduan akan kampung halaman—dan kebersamaan. Orang-orang ingin menjenguk masa lalu mereka, meski sekadar serupa kenangan. Dan mereka yang tengah di rantau tak mungkin mendapatkan semua itu. Mereka hanya bisa berdoa dari kejauhan.

Read More..

Selasa, 15 September 2009

Dari Pinggiran Kota Kecil Dekat Utrecht


Sebelum tiba di Belanda, saya tidak tahu bahwa saya tidak akan tinggal di kota Utrecht. Maklum, saya memang masih belum mengerti peta lokasi dan detail tempat yang akan saya tinggali. Saya mendapat kepastian akomodasi saya tepat satu minggu sebelum keberangkatan saya. Karena mencari akomodasi di Belanda cukup sulit, maka saat penyedia akomodasi memberi penawaran kamar buat saya, saya tak berpikir panjang untuk menerimanya.

Warande, itu nama komplek dua bangunan berbentuk L yang terletak di pinggiran kota Zeist yang kini saya tinggali. Zeist adalah sebuah kotamadya yang berada di arah timur kota Utrecht. Karena berada di wilayah pinggiran, suasana Warande relatif sepi. Apalagi ia dikelilingi oleh rerimbunan pohon-pohon menjulang serupa cemara yang tingginya bisa melebihi kamar saya yang berada di lantai empat. Lebih sepekan tinggal di Warande, saya merasakan suasana yang sunyi. Jarang sekali ada “keramaian” di sekitar sini. Suara-suara kendaraan dari jalan utama yang berjarak sekitar 250 meter pun tidak terdengar cukup keras dari sini.

Jarak Warande dengan Kampus Uithof sekitar 5 kilometer. Jika menggunakan sepeda ontel, ini ditempuh sekitar 20 menit. Jika dengan bus, tentu bisa lebih cepat. Ada beberapa halte bus di sekitar Warande yang bisa mengantar saya ke kampus, pusat kota Utrecht, atau tempat yang lain.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, komplek pertokoan Vollenhove, yang oleh website SSH (pengelola komplek ini) disebut “big shopping center”, dapat dicapai dalam hitungan beberapa menit. Di sana ada beberapa supermarket, toko buah, toko pakaian, toko obat, dan sebagainya. Setelah beberapa kali ke komplek itu, saya jadi agak heran mengapa tempat itu mereka sebut “big”, karena bangunannya hanya seperti ruko biasa, dan para pengunjungnya pun tidaklah ramai—biasa-biasa saja.

Dari ketinggian lantai empat di kamar saya, setiap hari saya menikmati sajian ujung-ujung pohon yang menari diterpa angin musim gugur yang mulai tiba. Biasanya, di pagi hari, saat matahari mulai terbit, saya membuka pintu ke arah balkon agar udara segar masuk ke kamar. Kebetulan, kamar saya agak menghadap ke timur.

Pemandangan menarik di balkon pagi hari selalu saya dapatkan jika langit sedang tidak begitu mendung. Setiap pagi, saya dapat menyaksikan langit yang seperti dilukis oleh jejak asap pesawat terbang yang menuju atau lepas landas dari Bandara Schipol, Amsterdam—bandara tersibuk kelima di Eropa. Garis-garis putih yang tampak lembut saling menyilang di angkasa, berlatar langit biru yang sebagian menyala merah keperakan. Sungguh, ini pemandangan indah.

Akan tetapi, saya tidak berani berlama-lama membuka pintu ke arah balkon itu. Apalagi duduk-duduk agak lama. Udara dingin sudah terasa sangat menusuk buat saya yang berasal dari negeri tropis dan baru pertama kali tinggal di negeri berempat musim seperti di sini. Jika sebelum tiba ke sini saya cukup terobsesi dengan balkon, membayangkan bisa duduk-duduk santai sambil menikmati pemandangan dari ketinggian, saya baru sadar bahwa itu tidak berlaku jika kita tidak cukup siap berhadapan satu lawan satu dengan udara dingin yang bisa mencapai 11 derajat celcius—atau bahkan lebih rendah!

Sejak sore kemarin, gerimis sesekali datang. Beberapa bagian di lantai balkon tampak tergenang air bersama dedaunan yang kecokelatan. Hingga siang ini, gerimis kadang masih turun. Saya di kamar saja, tak bisa ke mana-mana. Lagipula, semalaman saya mengerjakan tugas kuliah dan baru selesai pagi ini.

Gerimis mengolah kesunyian Warande mencipta suasana yang tampak absurd buat saya. Saya tak mencium bau tanah, seperti saat hujan pertama turun di rumah. Gerimis hanya menebalkan kesunyian—tak lebih. Saya tidak tahu, apakah orang-orang yang sudah cukup lama tinggal di komplek ini memang sudah terbiasa dengan suasana semacam ini. Atau, barangkali, saya saja yang merasakan kesunyian di Warande.

Saya tak mau berpikir terlalu lama tentang ini. Tapi, rasa gentar tiba-tiba tampak berkelebat mendatangi saya, saat ingat bahwa sebentar lagi musim dingin akan tiba. Saya tidak punya cukup senjata untuk mengantisipasi serangan salju dan suhu di sekitar nol derajat—dan kesunyian yang akan menyertainya.

Dari pinggiran kota kecil dekat Utrecht di suatu siang yang dingin, sekali lagi saya tersadar bahwa saya kini tengah memulai satu perjalanan baru untuk rentang waktu 10 bulan ke depan. Perjalanan yang harus dilalui dengan penuh perjuangan dan kerja keras. Saya datang ke sini bukan untuk berlibur. Saya ke sini untuk menimba ilmu, pengetahuan, pengalaman, dan banyak hal lainnya. Saya telah menyimpan banyak harapan dan keinginan tepat saat saya meninggalkan kampung halaman jelang akhir Agustus kemarin. Dan saya butuh kesungguhan, optimisme, keteguhan, dan kekuatan untuk melaluinya dengan baik dan penuh makna. Saya berdoa untuk itu semua. Amien.

Read More..

Rabu, 02 September 2009

Menyongsong Belanda dan Norwegia

Keberangkatan saya untuk studi di Eropa sudah tinggal beberapa hari lagi. Akhir pekan ini, saya sudah akan meninggalkan Jakarta menuju Amsterdam.

Beberapa saat sebelum saya meninggalkan rumah di Madura, sempat terbersit di kepala saya tentang dua negara yang akan menjadi tempat studi saya: Belanda dan Norwegia. Muncul pertanyaan: mengapa saya ternyata ditakdirkan akan belajar di dua negara Eropa itu? Mengapa bukan di negara yang lain? Mungkin ini termasuk pertanyaan bodoh.

Namun begitu, secara tak sengaja pikiran saya terus menyusur ke belakang, ke masa-masa yang cukup lampau, sampai akhirnya saya pun menemukan sedikit jawaban yang bisa saja dilihat sebagai suatu kebetulan. Saya teringat pada sebuah buku saya berjudul Negeri Belanda: Selayang Pandang. Buku ini sebenarnya sudah terlupakan. Ia tak terdata dalam daftar koleksi buku saya.

Sebelum bertolak ke Jakarta, saya mencoba mencari buku ini, dan, alhamdulillah, akhirnya ditemukan di tumpukan buku-buku lama saya. Saya beruntung bahwa ternyata saya mencatat tanggal penerimaan buku itu, yakni 27 Juli 1993. Itu berarti enam belas tahun yang lalu. Jika tak salah, itu saat saya mau naik ke kelas tiga Tsanawiyah (setingkat SMP).

Saya menerima buku itu secara gratis dari Kedutaan Besar Belanda bersama beberapa buku lain yang tak berhasil saya temukan di rumah. Seingat saya, ada kamus kecil bahasa Belanda, peta Belanda, dan beberapa buku lain. Saya masih ingat, saya mengirimkan kartu pos ke Kedutaan Besar Belanda di Jakarta untuk meminta buku bacaan. Entah seperti apa bahasa yang saya gunakan di kartu pos itu.

Tahun 1993 buat saya adalah semacam tahun peralihan, ketika saya mulai berani mencoba membaca buku-buku ilmiah (nonfiksi). Sebelumnya, bacaan saya hanya sebatas buku fiksi, terutama cerita silat legendaris Wiro Sableng yang mulai saya kenal sejak tahun 1988. Minat saya untuk mulai membaca tulisan nonfiksi bisa dikata juga didorong dari perkenalan saya dengan surat kabar dan hobi saya mengkliping. Di tahun 1992, koran sore Surabaya Post masuk ke kampung saya, setelah jauh sebelumnya Jawa Pos sudah bisa dibaca—entah sejak kapan tepatnya. Kemudian di tahun 1993, saat mulai terbit, Republika juga masuk, meski dengan kedatangan yang terlambat.

Buku Negeri Belanda: Selayang Pandang mungkin adalah buku gratis pertama yang saya dapatkan. Menyusul berikutnya, saya juga mendapatkan kiriman buku gratis dari Kedutaan Republik Islam Iran, Radio NHK Jepang, Deutsch Welle, dan yang lainnya, termasuk juga kiriman gratis buku Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya dari Cendana.

Saya jadi berpikir bahwa mungkin Belanda paling tidak secara relatif juga sedikit menandai mulai meluasnya minat bacaan dan kepenulisan saya. Jika sebelumnya saya hanya menulis untuk majalah dinding sekolah dan catatan harian, di pertengahan Tsanawiyah saya mulai berani mencoba menulis surat (“mempublikasikan” tulisan [?]) untuk minta buku gratis ke kedutaan-kedutaan atau badan lainnya.

Bagaimana dengan Norwegia? Terus terang, mula-mula saya tak begitu menyangka bahwa rute studi saya—selain Belanda—adalah Norwegia. Konsorsium MAE (Master of Applied Ethics), program studi saya, selain kedua negara itu juga termasuk Swedia. Dan saya menduga bahwa saya akan ditempatkan di Belanda dan Swedia. Namun, saat surat pelulusan dari Konsorsium MAE dan Uni Eropa saya terima, ternyata rute studi saya adalah Belanda dan Norwegia.

Pada saat itulah seketika saya lalu teringat pada salah satu penulis favorit saya: Jostein Gaarder. Saya jadi berpikir, mungkin garis keputusan ini juga ada kaitannya dengan sosok yang mulai saya kenal sejak awal 1997 ini, saat saya hampir lulus dari Madrasah Aliyah (setingkat SMA). Mungkin ini adalah jalan yang akan memungkinkan saya untuk bertemu langsung dengan penulis yang produktif menghasilkan novel-novel filsafat dan tinggal di Oslo ini.

Gaarder buat saya adalah sosok yang kuat pengaruhnya, terutama untuk memantapkan tekad saya mempelajari filsafat sebagai sebuah disiplin ilmu. Sebenarnya, perkenalan saya dengan filsafat dimulai lebih awal, tepat satu tahun sebelum saya membaca novel Jostein Gaarder yang ternama, Dunia Sophie (Mizan, Desember 1996). Di paruh kedua 1996, saya telah membaca beberapa buku filsafat yang relatif berat, seperti Nietzsche (LKiS, Mei 1996) karya St. Sunardi, Postmodernisme (Kanisius, 1996) karya I. Bambang Sugiharto, dan yang lainnya. Akan tetapi, baru setelah saya amat terpikat saat membaca Dunia Sophie, yakni awal 1997, saya merasa mantap untuk mendalami filsafat.

Dengan demikian, Gaarder, yang menulis novelnya dalam bahasa Norwegia, bisa dibilang adalah sosok yang mengantarkan saya ke Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta di pertengahan tahun 1997, dan selanjutnya membukakan samudera pemikiran yang begitu luas dari dunia filsafat.

Dengan begitu, saya merasa bahwa mungkin kini saya tengah menyongsong undangan Gaarder untuk sebuah jamuan di taman filsafat di dekat rumahnya. Saya mengharapkan sebuah jamuan musim semi yang indah, di bawah naungan langit utara dengan bintang-bintangnya yang memikat. Saya juga berharap nanti dapat membawa pulang oleh-oleh cerita pengalaman dari sana—pengalaman yang tampaknya terlalu berharga untuk dilewatkan tak tercatatkan begitu saja.

Read More..

Rabu, 26 Agustus 2009

Di Jalanan Kota Jakarta

Ahad pagi (23/8) kemarin, saya kembali tiba di Jakarta setelah hampir di sepanjang Juli lalu saya tinggal dan keliling Jakarta untuk persiapan studi ke Eropa. Dan kini saya kembali untuk persiapan terakhir sebelum saya berangkat meninggalkan Indonesia.

Saat bus yang saya tumpangi dari Madura mulai memasuki tol Cikampek, aroma Jakarta sudah mulai tercium. Akan tetapi, jalanan tampak tak sepadat biasanya—sangat tidak menggambarkan citra Jakarta. Sopir bus yang saya tumpangi juga agak heran dengan jalanan yang cukup lengang. Si kondektur mencoba menjawab, bahwa selain karena hari Ahad, mungkin juga karena awal puasa, sehingga orang-orang agak malas keluar rumah. Walhasil, bus bergerak dengan cukup cepat dan tiba lebih awal di pool Lebak Bulus. Begitu juga saat saya naik angkutan kota ke tempat sepupu saya di Pisangan, Ciputat, kendaraan melaju tanpa hambatan yang berarti.

Sebagai sebuah kota metropolitan, Jakarta menghadapi masalah transportasi yang tidak mudah. Konon, jumlah rasio daya tampung jalan dan jumlah kendaraan yang lalu-lalang di Jakarta tidak seimbang, sehingga terciptalah kemacetan. Bagi mereka yang sudah lama tinggal di Jakarta, mereka akan betul-betul mengerti hal ini dengan baik. Lebih dari itu, mereka pun akan terbiasa. Lain halnya dengan mereka yang ke Jakarta hanya sewaktu-waktu, untuk kepentingan jangka pendek tertentu. Setiap kali ke Jakarta, jalanan bagi mereka mungkin akan menjelma serupa tempat hukuman yang cukup mengesalkan.

Apakah situasi yang demikian akan berpengaruh pada pola relasi manusia yang sehari-hari tinggal dan berkembang biak di sana? Saya jadi teringat celetukan teman saya saat dia mengemudikan mobilnya di jalanan Jakarta di ujung senja saat menuju rumah tinggalnya di selatan Jakarta sebulan yang lalu. “Jakarta sudah tak layak ditinggali,” katanya dengan nada kesal. Sampai sebegitukah jalanan, sehingga ia bisa menjadikan sebuah kota tak cukup manusiawi untuk dihuni?

Sempat terpikir, orang-orang Jakarta mungkin telah dirampok usia hidupnya oleh jalanan—sama juga dengan kenyataan bahwa gemerlap lampu Jakarta telah mengusir bintang-bintang. Orang-orang yang sehari-hari memiliki aktivitas rutin di Jakarta, katakanlah, orang kantoran, pasti akan secara rutin pula berhadapan dengan kemacetan di jalanan Jakarta. Mereka mungkin saja mencoba bersiasat dengan mengatur jam berangkat dan jam pulang, mencoba rute jalan tikus yang kadang penuh polisi tidur, atau mengganti mode transportasi. Akan tetapi, jalanan tetap sulit memberi kenyamanan. Seperti tak ada pilihan.

Di tengah tuntutan hidup yang terus seperti tak masuk akal, jalanan Jakarta menambah beban tekanan bagi orang-orang yang mencoba setia (atau mungkin terpaksa) menyusurinya. Namun begitu, kesetiaan mereka kadang justru dibalas dengan kutukan. Kutukan yang memaksa mereka untuk mengubah cara pandang mereka terhadap orang lain.

Cobalah satu dua kali Anda mencoba naik Kopaja. Perhatikan cara sopir membawa kendaraan yang menjadi jaminan bagi keberlangsungan asap dapur dan kehidupan keluarganya. Beberapa kali saya mendengar langsung teriakan keras sopir Kopaja atau angkot lainnya ke kendaraan yang disalipnya dengan semena-mena di tengah kemacetan dan bunyi klakson yang terdengar frustrasi: “Setoran Bang!” Kata-kata ini terdengar seperti permohonan—atau mungkin juga ratapan. Tapi seperti juga ada nuansa kekerasan jalanan yang tersimpan diam-diam di balik ungkapan dan tekanan yang terus membayanginya.

Kota, dengan jalanan yang mengantar para penduduknya beraktivitas dan mencari nafkah, saat ini terus tertantang untuk merawat wajah keberadabannya. Hampir separuh penduduk dunia sekarang tinggal di perkotaan, dan di beberapa negara, kota benar-benar memiliki daya magnet yang menyedot para penduduk di pedesaan dan segenap warisan kebudayaan mereka untuk dilumat di kehidupan kota.

Saya jadi teringat bahwa bahasa Arab untuk kata “kota” (hadlar, madinah) memiliki kedekatan atau bahkan masih satu rumpun dengan ungkapan yang menggambarkan “peradaban”. Mungkin dalam bentangan sejarah panjang kehidupan manusia kota memang telah menjadi penggerak kebudayaan dan pendorong terbentuknya keberadaban. Akan tetapi, jika jalanan kini telah cenderung mengkhianati persaudaraan dan makna keterhubungan akar kebahasaan itu, maka tentunya, sekali lagi, ini akan menjadi satu tantangan bagi umat manusia yang patut direnungkan bersama.

Pikiran-pikiran saya ini, yang mulai berletupan di akhir Juli lalu, seperti kemudian dirangkum oleh sebuah stiker yang terpampang di sebuah bus kota jurusan Ciputat-Gajah Mada yang saya tumpangi di hari Rabu, 29 Juli 2009, saat saya akan menghadiri Predeparture Briefing Erasmus Mundus Scholarship Programme Uni Eropa di Le Meridien. Di pagi yang masih menyisakan dingin itu, saya berdiri berdesakan di dekat pintu belakang bus. Di tengah perjalanan, tanpa sengaja pandangan saya tertuju pada sebuah stiker yang pinggirannya sudah robek tapi menuliskan kalimat yang sangat reflektif dan menggugah.

Read More..