Tampilkan postingan dengan label European Adventures. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label European Adventures. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Juni 2016

Bila Profesor Turun Gunung


Ada yang menarik pada peringatan Dies Natalis ke-380 Utrecht University di Belanda akhir Maret lalu. Melalui halaman Facebooknya yang dikelola dengan baik, dikabarkan bahwa pada 30 Maret lalu, Utrecht University menyelenggarakan program yang diberi nama “Meet the Professor”.

Pada program ini, 140 profesor Utrecht University datang ke sekolah-sekolah dasar di wilayah Utrecht untuk menceritakan kehidupan akademis dan ranah penelitian yang mereka geluti. Dengan dilepas oleh rektor Utrecht University, Prof. Bert van der Zwaan, dari aula Academiegebouw yang terletak di area Dom Tower di pusat kota Utrecht, para profesor itu berangkat dengan menggunakan sepeda onthel dan mengenakan toga kebesaran mereka.

Sebagaimana dijelaskan di laman Utrecht University, program ini bertujuan untuk menularkan kesadaran akan pentingnya riset sejak dini kepada anak-anak. Utrecht University berpandangan bahwa sangatlah penting untuk menyiapkan generasi yang menghargai ilmu, penelitian, dan kerja-kerja akademis.

Lebih jauh, Utrecht University tidak hanya mengirim para profesor itu ke sekolah-sekolah dasar. Kampus akan terus menjalin hubungan kemitraan dengan sekolah dasar di Utrecht dalam kegiatan-kegiatan yang lebih terstruktur. Bentuknya berupa peningkatan kapasitas guru maupun juga pelibatan murid-murid sekolah dasar dalam kegiatan riset yang dilakukan para profesor itu.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh kampus yang berdiri pada 26 Maret 1636 ini menarik kita cermati dalam konteks keindonesiaan. Pada hari Rabu, 6 April 2016 yang lalu, seminar nasional bertema “Rethinking Research: Policies and Practice” yang dilaksanakan di Auditorium LIPI Jakarta mengungkap bahwa hasil riset belum menjadi acuan pokok pemerintah dalam pengambilan kebijakannya. Alasannya, tradisi riset di kalangan akademisi Indonesia masih lemah. Bahkan, terungkap sebuah ironi bahwa 90 persen penelitian tentang Indonesia bukan dikerjakan oleh peneliti Indonesia (Kompas, 7 April 2016).



Kultur akademis dunia kampus di Indonesia memang masih berada dalam pertanyaan besar. Kesibukan yang bersifat administratif maupun rutin (yakni mengajar dan membimbing mahasiswa) menyita banyak waktu para akademisi sehingga ruang untuk pengembangan keilmuan melalui riset masih belum cukup kuat. Selain itu, kebijakan terkait riset di kampus dinilai masih belum cukup kondusif.

Kegiatan “Meet the Professor” di Utrecht University menunjukkan bahwa kehidupan akademis para profesor dan pengajar di sana memang menarik. Gairah intelektual atau semangat penggalian ilmu dan pencarian temuan baru (penelitian) mendapatkan tempat dan penghargaan yang baik dengan dukungan maksimal dari kampus pada khususnya.

Saat mengikuti pendidikan jenjang magister di Utrecht University pada 2009-2010, dukungan akademis terhadap mahasiswa telah terlihat sejak hari pertama saya mengikuti kegiatan kampus. Di hari pertama, mahasiswa diperkenalkan dengan fasilitas dan pemanfaatan sumber-sumber ilmiah di perpustakaan kampus. Suasana akademis yang memanjakan hasrat belajar ini tampak dalam kemudahan dan kenyamanan para civitas academica untuk memanfaatkan sumber belajar di perpustakaan.

Selain iklim akademis yang mendukung, kegiatan “Meet the Professor” menunjukkan visi yang tajam dunia kampus dalam memandang tantangan masa depan. Kampus memperkuat bidang penelitiannya dengan juga menyiarkan kegiatan riset dan akademiknya kepada masyarakat dengan harapan bahwa kelak akan lahir generasi peneliti yang dapat melanjutkan riset dan memberi perhatian ilmiah pada bidang-bidang yang kini tengah diteliti. Untuk visi yang jauh ke depan ini, kampus tak segan untuk menjalin kemitraan dengan (murid dan guru) sekolah dasar.

Pada satu sisi, pilihan untuk mengirim para profesor ke sekolah-sekolah dasar ini juga dapat dilihat sebagai sebuah tantangan. Bagaimanakah kiranya para profesor yang dalam alam pikirnya setiap hari terisi dengan istilah-istilah teknis akademis yang mungkin cukup rumit itu dapat menuturkan kisah bidang minat penelitiannya secara sederhana kepada murid-murid sekolah dasar? Tentu bukan sesuatu yang mudah.



Tantangan akademis semacam ini sebenarnya cukup bernilai substantif bagi dunia akademis, yakni terkait upaya untuk menyampaikan dan menghubungkan kerja-kerja akademis dengan tantangan kontekstual terkini dan masa depan.

Selain itu, dengan mengunjungi dan berbincang pada murid dan guru sekolah dasar, para profesor itu sedang membangun dan menguatkan jembatan peradaban antargenerasi.

Kita juga bisa menangkap kesederhanaan pada para profesor yang ikut dalam kegiatan yang berlangsung selama 4 jam ini. Mereka mengayuh sepeda onthel dari pusat kota ke sekolah-sekolah di penjuru Utrecht dengan harapan agar apa yang mereka kerjakan dapat berharga, bermanfaat, dan berkelanjutan. Tak ada gengsi meski mereka sudah mencapai gelar akademis tertinggi.

Program “Meet the Professor” ini sangatlah menginspirasi dan penting untuk direfleksikan oleh kita. Poin utamanya terkait dengan visi dunia akademis yang tajam dan antisipatif serta kontekstualisasi kehidupan kampus dengan tantangan masyarakat. Tentu saja ini hanya bisa dilakukan dalam satu lingkungan akademis yang baik—yakni lingkungan akademis yang menghargai ilmu, kerja keras, dan kerja sama, serta menyadari akan tantangan peradaban yang dihadapi masyarakat, bukan dalam lingkungan kampus yang kadang masih suka terjebak pada isu-isu yang bersifat dangkal.


Keterangan: foto-foto di atas diambil dari laman FB Utrecht University. Secara berurutan, tiga foto di atas adalah karya Lize Kraan, Steven Snoep, dan Jos Kuklewski.


Read More..

Kamis, 15 November 2012

Berbagi Rasa Eropa


Tiap kali mengingat pengalaman Eropa selama 10 bulan dalam rentang 2009-2010, saya senantiasa bersyukur. Menjalani studi di Utrecht, Belanda, dan Trondheim, Norwegia, dengan dukungan beasiswa dari Uni Eropa, saya tak hanya memperoleh pengalaman akademik yang menarik, tapi juga pengalaman hidup yang lebih berwarna.

Perjumpaan dengan manusia dengan latar yang sangat beragam, kehidupan di negeri dengan musim yang bahkan cukup ekstrem, hidup dalam tatanan sosial yang berbeda, nilai dan ideologi atau keyakinan yang berlainan, semua merupakan pengalaman berharga yang saya temukan dalam wajah Eropa.

Saya juga bersyukur bahwa sejak menjelang keberangkatan saya ke Eropa dulu hingga kembali ke kampung halaman, saya sempat menulis sekitar 30 catatan bertajuk pengalaman Eropa. Catatan-catatan itu mengangkat tema yang beragam: pengalaman ribetnya mengurus dokumen sebelum berangkat, pengalaman bersepeda di Belanda, pengalaman “menggelandang” semalam di Frankfurt, pengalaman mengunjungi museum Anne Frank di Amsterdam, kesan lalu-lalang di kereta bawah tanah kota Paris, keterpukauan menyaksikan daun-daun yang berjatuhan di musim gugur, kesunyian musim dingin, keterpencilan kota Trondheim, Norwegia, di dekat lingkar kutub utara, dan sebagainya. Ada juga catatan yang ditulis lebih setahun setelah kepulangan saya dari Eropa. Tulisan itu mengenang sebuah tempat di dekat kampus di Trondheim yang menjadi eksotis saat musim semi datang dan bunga-bunga liar bertebaran di pinggiran hutan.

Saya telah membagikan tulisan-tulisan itu di blog saya, langsung setelah tulisan-tulisan itu dibuat. Akan tetapi, meski menurut catatan tulisan-tulisan itu telah diklik oleh puluhan bahkan ratusan pengunjung, saya masih ingin tetap berbagi rasa Eropa yang saya rekam dalam tulisan-tulisan saya itu.

Ada beberapa pengalaman yang tak sempat saya tulis saat saya di Eropa. Karena itu, saya pikir idealnya mungkin saya mesti menulis ulang pengalaman Eropa itu secara lebih utuh. Namun saya masih tak berhasil mengatur waktu saya untuk hal ini. Hingga sekarang, saya membiarkan beberapa pengalaman itu hanya tercatat sebagai tema yang seperti menunggu waktu untuk dituliskan. Apa mungkin saya kekurangan kayu bakar untuk memasak ide-ide itu?

Akhirnya, setelah lebih dua tahun pulang dari Eropa, saya memutuskan untuk memilih tulisan-tulisan yang mencatat rasa Eropa itu. Saya ingin membukukannya, meskipun dengan cara dan kemasan yang sederhana. Setelah melalui proses yang relatif singkat, dengan berbagai pertimbangan, di hadapan saya akhirnya terpilih 20 tulisan.

Saya kemudian menatanya sendiri dengan perangkat lunak di komputer. Saya juga merancang sampulnya. Dalam hal ini, saya mungkin bisa dibilang cukup berani, atau nekat, karena sesungguhnya terkait dengan perangkat lunak perwajahan, saya benar-benar masih baru mulai belajar.

Saya menggunakan foto-foto jepretan saya ketika di Eropa untuk melengkapi tulisan-tulisan itu, termasuk juga untuk sampulnya. Saya tak bisa mengabaikan foto-foto saya itu, karena sebenarnya beberapa tulisan justru lahir dari gambar yang saya rekam dengan kamera saku saya saat di Eropa.

Demikianlah. Pada akhirnya, saya pun belajar menjadi wirausaha untuk membagikan rasa Eropa ini. Setelah semuanya rampung, saya membawa naskah dengan tebal 106 halaman itu ke percetakan. Saya memperbanyak naskah yang saya beri judul 10 Bulan Pengalaman Eropa itu hingga dua ribu eksemplar.

Sekarang saya hanya bisa penasaran, ke manakah kertas-kertas yang mencatat rasa Eropa itu akan menyebar. Saya juga penasaran, bagaimana rasanya racikan pengalaman yang saya susun dan saya sajikan ini di lidah para pembaca nanti.

Selebihnya, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada mereka yang berkenan ikut mencicipi rasa Eropa sajian saya ini. Saya juga menyampaikan terima kasih kepada mereka yang memungkinkan rasa Eropa ini dapat saya alami dan dibagi. Terakhir, saya mohon maaf jika sajian saya kurang sempurna.

Tabik.

Read More..

Selasa, 16 Agustus 2011

Taman Rahasia


Aku ingin bercerita kepadamu tentang taman rahasia di suatu tempat di Skandinavia. Taman rahasia itu hanya muncul sebentar di awal musim semi yang datang terlambat setelah salju turun berbulan-bulan. Namun ia melintas tak lama, sebelum musim panas kemudian mengubah senyum indahnya sehingga ia menyimpan kembali rahasianya rapat-rapat karena tak sanggup berhadapan langsung dengan terik matahari yang sebenarnya tak seberapa jika dibandingkan dengan terpaan panas negeri tropis seperti di negeri kita.

Taman rahasia itu terletak di dekat jalan setapak di puncak sebuah bukit. Dari sana, kau bisa menyaksikan fjord, semacam teluk kecil yang beriak tak terlalu besar, lalu bukit-bukit yang pucuknya masih sedikit bersalju akan kelihatan menjadi latar di belakangnya. Sesekali kau akan dapat mendengar riuh burung berkicau yang berlompatan di dedahan pohon yang mulai merimbun. Atau juga camar di kejauhan.

Di sekitar taman itu, kau tak akan dapat melihat tukang kebun yang merawat rumput hijau, bunga-bunga putih, dan bunga-bunga kuning yang mulai merekah. Sebenarnya, para tukang kebun itulah yang membuat taman ini disebut rahasia, karena mereka itu yang menyimpan rahasia keindahan taman ini, yang juga membuat taman ini tak terlihat oleh mata telanjang, tapi mesti dipandang dengan hati yang bening, serupa cermin yang memantulkan keindahan alam negeri-negeri dongeng.

Mereka menjaga rahasia itu dari ancaman campur tangan manusia yang datang mencari keindahan bunga musim semi tapi tak cukup peduli akan nilai kesuciannya. Mereka menjaga rahasia itu di antara kesunyian yang berbicara saat orang-orang tak lagi tampak di sekitar taman rahasia itu. Mereka menjaga rahasia itu sampai akhirnya tiba saatnya seseorang yang mereka tunggu melintas dan menemukan taman rahasia itu.

Sebenarnya, aku telah beberapa kali melintas di taman rahasia itu sambil tak jemu mengagumi keindahannya yang kadang memang tampak menyimpan misteri. Tapi sungguh sayang, aku baru menyadarinya saat ini, bahwa itu adalah taman rahasia Skandinavia, saat aku tak bisa lagi leluasa menceritakannya kepadamu, saat aku tak bisa lagi melihat jejak bunga-bunga putih bermekaran dan menyimak nyanyian burung di sana.

Angin musim semi telah jauh. Malam telah larut. Aku berusaha merengkuh keindahan taman rahasia dalam jarak yang tak mungkin kutaklukkan. Taman rahasia melantunkan keindahannya dalam tembang pengantar tidur tentang nyanyian bumi dan ladang persemaian nasib manusia.

Dan taman rahasia tetap di sana, menunggu si pelintas yang ditunggunya.

Read More..

Kamis, 10 Juni 2010

Perjalanan-dalam-Kegelapan


Sudah beberapa hari berlalu, tapi syair itu kadang masih berkelebat di pikiran saya.

Gagasan tentang perjalanan, masa depan yang gelap, kesendirian, dan keberpasrahan pada Kuasa Tuhan, buat saya sungguh menggetarkan. Adakah yang lebih menakutkan daripada ketidakpastian-dalam-kesendirian? Adakah yang lebih menakutkan selain perjalanan-dalam-kegelapan?

Telah begitu lama saya terbiasa berpikir dengan kepastian sebagaimana ditanamkan dalam paradigma sains positivistik—clear and distinct, dalam istilah RenĂ© Descartes—sehingga saya kadang terlupa dan seakan menampik fakta bahwa nyatanya pengetahuan saya memiliki batas yang tak pantas untuk terlalu dibanggakan. Apakah sebenarnya saya sedang berusaha mencari penghiburan dengan selalu berusaha percaya pada kepastian?

Kegelapan ini terasa mengurung saya dari ujung ke ujung. Sungguh saya merasa tak benar-benar tahu dengan pasti bagaimana semua ini bermula dan bagaimana akan berakhir—di mana, kapan, dan seterusnya.

Lalu mengapa puisi itu mempersandingkan kegelapan dan iman? Bukankah pada umumnya orang banyak menghubungkan iman dengan Pencerahan? “Go out into the darkness and put your hand into the Hand of God,” kata puisi itu.

Menurut saya, kegelapan adalah jalan yang senyatanya sedang saya tempuh. Dalam konteks ini, kegelapan mungkin adalah semacam simbol absurditas. Absurditas ini tampak dalam gagasan bahwa rasanya hidup terlalu pendek untuk saya untuk bisa merengkuh makna semua ini dengan purna—tujuan, keinginan, penyesalan, pemahaman, dan sebagainya. Di antara hasrat saya untuk mendapatkan kesempurnaan dan kepastian, saya berhadapan dengan fakta betapa rentang perjalanan-gelap saya hanyalah sepersekian sekon dari sejarah alam raya. Dengan kata lain, setetes air di antara samudera.

Dalam kependekan, kegelapan, dan kesendirian itu, rasanya iman memberi saya makna untuk sejengkal langkah yang mungkin sempat saya buat bersama semesta. Lebih dari itu, iman di perjalanan-dalam-kegelapan—bukan di jalan yang benderang—menantang saya untuk merespons makna dan implikasi kegelapan itu dengan baik. Justru karena saya bukanlah malaikat yang berjalan di atas rel dan rute yang pasti, saya tertantang untuk membuat rekam jejak yang indah—bukan hanya untuk saya, tapi jika mungkin bahkan untuk semesta.

Kini, saat saya berada di salah satu halte perjalanan ini, saya pun mereka-reka dan mencoba menyiapkan bekal untuk perjalanan berikutnya. Saya tidak tahu pasti apakah saat ini sedang pagi, siang, sore, atau sudah malam. Buat saya, perjalanan-dalam-kegelapan juga berarti bahwa saya bisa saja tertipu oleh petunjuk “waktu objektif”—ah, saya jadi teringat Henri Bergson. Seperti di kota tempat saya tinggal sekarang, Trondheim, Norwegia, tak mudah untuk membuat patokan waktu dari gelap dan terang, paling tidak untuk seorang yang berasal dari negeri tropis. Karena itu, perjalanan-dalam-kegelapan juga menuntut saya untuk memperlakukan setiap detik dengan harga yang pantas—pantas untuk sebuah absurditas.

Sambil menunggu waktu untuk meninggalkan halte ini, di antara berkemas, saya mencoba mengingat apakah saya masih punya lilin yang tersisa di ransel saya. Semoga lilin saya masih cukup untuk sisa perjalanan ini.


Terima kasih untuk Bang Mauritz Panggabean yang telah menginspirasi tulisan ini dan mempertemukan saya dengan syair Minnie Louise Haskins (1875-1957), “The Gate of the Year”, dan lukisan Theodor Severin Kittelsen (1857-1914), "Soria Moria". Gambar diambil dari Wikipedia.

Read More..

Minggu, 23 Mei 2010

Menikmati Tarian Aurora di Langit Trondheim

Jika kau ditanya tentang kota di Eropa yang pada akhir April salju masih turun di sana, Trondheim adalah salah satunya. Ia terletak hampir 500 kilometer ke arah utara dari ibu kota Norwegia, Oslo. Kota yang didirikan oleh Raja Norwegia Olav Tryggvason pada 997 ini memang memiliki pesona alam yang khas.

Letaknya yang mendekati lingkar Kutub Utara membuat kota ini akan sangat unik di puncak musim dingin dan musim panas. Memasuki Mei, saya sempat terpaku mengamati jadwal salat bulanan yang saya dapatkan dari Masjid Komunitas Muslim Trondheim. Betapa tidak, di akhir Mei, matahari terbit pada pukul 03.26 dan baru akan tenggelam pada pukul 23.07.

Dari tetangga kamar yang asli orang Norwegia, saya menjadi tahu bahwa di sekitar pertengahan Juni-Juli, rentang waktu dari matahari terbenam hingga terbit tak sampai empat jam, sehingga bisa dibilang ketika itu Trondheim nyaris tak punya malam. Saya jadi teringat potongan syair lagu kelompok musik asal Swedia, Roxette, berjudul June Afternoon. "It's a bright June afternoon, it never gets dark. Wah-wah! Here comes the sun".

Saya sulit membayangkan bagaimana umat Islam berpuasa pada bulan Juni atau Juli di sini. Tak hanya soal ibadah, saya pun merasa agak kesulitan mengikuti irama perubahan waktu yang menjadikan siang merentang semakin panjang. Merasa lebih nyaman belajar (membaca dan menulis) di saat malam, kini saya agak kerepotan mengatur jadwal kerja ketika hari terasa tak kunjung petang. Padahal, di sepanjang Mei, saya mesti berkejaran dengan tenggat akhir penulisan tesis.

Sebaliknya, di puncak musim dingin, antara akhir Desember dan awal Januari, siang hanya berlangsung sekitar empat jam. Cuaca pun bisa menjadi sangat ekstrem. Beberapa hari di akhir Februari yang lalu, saya sempat mengalami suhu 20-24 derajat Celsius di bawah nol!

Di tengah suhu ekstrem dan guyuran salju, saya tetap memberanikan diri berjalan kaki dari asrama mahasiswa Moholt Studentby ke kampus Universitas Sains dan Teknologi Norwegia atau Norges Teknisk-Naturvitenskapelige Universitet (NTNU) Dragvoll. Jarak 2,2 kilometer terasa lebih jauh. Di samping karena mendaki, guyuran dan tumpukan salju di jalan terasa cukup memperlambat dan membuat berat langkah-langkah kaki saya.

Namun saya tahu bahwa mungkin saya akan cukup kesulitan untuk punya pengalaman seperti ini lagi. Sebab, menurut kabar di koran lokal Trondheim, cuaca hari itu memang terbilang ekstrem, dan menurut catatan hanya terpecahkan oleh cuaca pada 52 tahun yang lalu.

Selain demi menghemat biaya hidup yang relatif lebih mahal dibanding negara Eropa lainnya, berjalan kaki ke kampus Dragvoll memang menyenangkan. Mendaki jalanan yang menanjak, saya mendapatkan pemandangan Kota Trondheim yang seolah menyerupai negeri dongeng.

Saat mulai mendekati Dragvoll, saya dapat menyaksikan lanskap Kota Trondheim dari ketinggian. Menara Tyholt di area kampus Departemen Teknologi Kelautan NTNU tampak menjulang. Di menara setinggi 124 meter itu, saya pernah menikmati pemandangan Kota Trondheim yang masih bertabur salju di sebuah restoran yang bergerak memutar di puncak menara.


Dari atas bukit menuju Dragvoll, di seberang kota yang penduduknya hanya sekitar 170 ribu jiwa ini, tampak teluk kecil dan perbukitan bertutup salju menjadi batas akhir pandangan mata saya. Tapi yang paling menarik perhatian saya adalah sisi yang berseberangan dengan hamparan Kota Trondheim itu, yakni bukit-bukit yang hampir sepanjang lerengnya dipenuhi dengan rumah kayu berwarna-warni. Ada yang merah, kuning, hijau, biru, putih, abu-abu, dan berbagai nuansa warna indah yang agak sulit saya gambarkan.

Balkon dan gazebo kecil di beberapa rumah tampak benar-benar memikat. Salah satu di antaranya tampak sebuah bangunan besar yang membentuk seperti tangga berundak mengikuti kontur bukit. Memang bukitnya tak setinggi dan securam Minas Tirith, tapi cukup untuk mengingatkan saya pada kota rekaan J.R.R. Tolkiens dalam trilogi terakhir The Lord of the Rings, yang tergambar begitu eksotik di versi filmnya, itu.

Saat menyusuri jalan ke Dragvoll, sering kali saya terpesona ketika mendapati langit benar-benar cerah dan biru serta sisa-sisa salju masih tampak di atap-atap rumah dan sisi bukit yang terjal itu. Lalu langkah-langkah sepatu saya di atas salju melahirkan bunyi yang khas. Mendekati kampus Dragvoll, lereng yang dipenuhi rumah kayu berganti dengan hutan kecil yang mengelilingi salah satu sisi kampus. Sungguh pemandangan yang benar-benar indah.


Moholt atau Dragvoll mungkin bisa dibilang sudah mendekati pinggiran Kota Trondheim. Sementara itu, pusat kota Trondheim sendiri yang tak begitu luas terbilang cukup unik. Ia berada di sebuah "pulau kecil" yang terbentuk oleh liukan mulut Sungai Nidelva yang berjumpa dengan Trondheimsfjorden—teluk kecil Trondheim yang berada di sisi utara.

Sebagaimana pusat kota pada umumnya, di sana ada beberapa pusat belanja, toko-toko, dan kantor pemerintah. Sebuah pusat belanja, Trondheim Torg, berada tepat di pusat kota. Trondheim Torg terasa tampak sangat sederhana untuk ukuran kota terbesar ketiga di Norwegia.


Hal paling menarik di pusat kota tentu saja adalah Katedral Nidaros. Ia merupakan landmark kota yang pernah menjadi ibu kota Norwegia hingga 1217 ini. Katedral yang mulai dibangun pada 1070 ini hingga sekarang menjadi monumen bangunan Gothic terpenting di Norwegia dan menjadi tujuan utama para peziarah sejak Abad Pertengahan untuk Eropa wilayah utara. Peran pentingnya terlihat dari fakta bahwa raja Norwegia dinobatkan di sini.

Pesona alam dan jejak sejarah menyatu dalam kota yang menjadi pusat pendidikan dan riset teknologi di Norwegia ini. Masih di kawasan pusat kota, setiap pulang Jumatan, saya sering sulit menahan godaan untuk menikmati pemandangan rumah-rumah kayu yang di antaranya berasal dari abad ke-18. Rumah kayu tipikal Skandinavia yang berwarna-warni itu berderet rapi di tepi Sungai Nidelva yang meliuk, tepatnya di dekat kawasan Kota Lama.

Di situ pula ada jembatan tua yang pertama dibangun menjelang akhir abad ke-17. Berdiri di tengah jembatan, saya menatap ke arah liukan sungai dengan airnya yang bersih dan tenang, sementara di kejauhan tampak gedung tua kampus NTNU Gløshaugen berdiri di atas ketinggian bukit. Sungguh akan sempurna jika mendung tak sedang menutupi angkasa.


Tak jauh dari jembatan itu, terdapat Sykkelheisen Trampe, lift untuk sepeda yang merupakan satu-satunya di dunia. Lift yang dibangun pada 1993 itu panjangnya 130 meter, tepat berada di perempatan kawasan Kota Lama. Sayang, saat terakhir saya ke sana, lift itu tampak belum dioperasikan—mungkin karena tumpukan salju belum benar-benar bersih.

Lebih dari itu semua, pengalaman paling menarik selama tinggal di Trondheim sejak awal Februari lalu adalah saat saya menyaksikan aurora. Sebelumnya, saya tak menyangka bahwa di Negeri Viking ini saya akan dapat menyaksikan salah satu fenomena alam yang hanya ada di beberapa tempat di belahan bumi itu.

Aurora Borealis, cahaya langit di dekat wilayah lingkar Kutub Utara yang terlihat di malam hari, saya saksikan di pekan kedua April lalu. Begitu mengetahui akan ada aurora dari laman ramalan cuaca yang biasa saya lihat, menjelang tengah malam saya bersiap di puncak salah satu bukit di kawasan kompleks asrama Moholt. Bersama puluhan mahasiswa lain yang ternyata sudah berada di sana lengkap dengan kamera mereka, saya begadang menikmati tarian aurora di langit utara.

Dari atas bukit itu, aurora kadang tampak melintang seumpama selendang yang dikibarkan di atas bangunan kompleks mahasiswa Moholt Studentby. Jauh di belakang, tampak bukit yang bercahaya oleh lampu-lampu kota. Warna kehijauan bertaburan di langit di balik pohon yang tampak masih meranggas. Titik-titik bintang kecil bersinar keputihan di kejauhan.

Cahaya kehijau-hijauan itu berpendar di langit. Kadang ia membentang panjang dari timur ke barat, berkelebat, lalu mengental, meremang, menebal, dan menipis. Di saat yang lain, ia tampak menumpuk di langit utara dalam area yang cukup melebar, lalu sesekali mementaskan tarian lembut sebelum akhirnya menghilang ditelan langit cerah bertabur bintang. Dari sudut yang berbeda, kadang cahaya kehijauan itu membentuk seperti tanduk Viking yang menggantung di langit.


Saya tahu, teman-teman saya, mahasiswa Indonesia, yang berada di negara Eropa lainnya mungkin akan merasa iri melihat foto dan catatan saya menyaksikan aurora, karena aurora hanya ada di langit utara. Tapi saya juga perlu memberi tahu bahwa tinggal di Trondheim menuntut ketahanan mental.

Bagaimanapun, kota yang topografinya berbukit dan beriklim maritim ini bisa dibilang cukup terpencil. Ya, Norwegia, seperti juga Swedia, adalah negeri yang sunyi. Di dua negara Skandinavia ini, wilayah yang dimanfaatkan tak lebih dari 4 persen. Selebihnya hanya lahan kosong, hutan, danau, dan semacamnya. Setelah Oslo, kota besar terdekat dari Trondheim adalah Bergen, yang berjarak sekitar 650 kilometer.

Kesunyian mungkin akan terasa semakin menjadi-jadi saat musim dingin begitu panjang, dan salju masih tetap saja turun bahkan hingga awal bulan Mei. Rumput tak kunjung menghijau, pepohonan masih kerontang, dan langit cukup sering berwajah muram. Saya kadang menjadi agak heran, mengapa St. Olav dahulu menamai kota ini Trondheim, yang berarti "rumah yang nyaman ditinggali"?

Saya bertanya-tanya, jika awal Mei salju masih turun, seperti saat saya menulis catatan ini, lalu kapan saya akan menikmati daun dan bunga-bunga yang bersemi? Semoga Juni. Ya, mungkin Juni, bersama Judas Priest yang akan mengentak dan meramaikan Kota Trondheim dalam ajang festival musik rock tahunan (Trondheim Rock) di sini.

Memandangi butiran salju yang turun pagi ini, saya pun berharap semoga salju yang saya saksikan di pekan pertama bulan Mei ini tak akan menjadi salju terakhir dalam pengalaman hidup saya.


Tulisan ini dimuat di Koran Tempo, 23 Mei 2010.

Read More..

Kamis, 13 Mei 2010

Keajaiban Menulis

“Saat menuliskan sesuatu, kadang tak disangka kita kemudian dibawa pada suatu titik kesimpulan atau titik pemikiran yang tak diduga sebelumnya,” kata May Thorseth, dosen pembimbing saya Selasa kemarin, saat mendiskusikan sebagian naskah awal tesis saya di kampus Dragvoll NTNU Trondheim.

Pembicaraan ini muncul saat kami mendiskusikan tulisan awal saya yang memuat kerangka umum dan alur proyek tesis saya. Dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis yang memungkinkan saya untuk dapat melihat arah dan peta yang lebih jelas dari penelitian saya. Kemudian akhirnya ia menyarankan agar saya segera menuliskan dan masuk ke poin pembahasan utama. “Dalam proses menulis, kadang kita menemukan dan memahami satu poin gagasan yang terasa baru dan mencerahkan. That’s the magic of writing,” ujarnya.

Saya tersenyum mendengar kalimat itu. Saya cukup dapat merasakan apa yang ia sebut sebagai “keajaiban menulis” itu. Benar. Saya merasa bahwa proses menulis, perlahan, dapat membentuk cara berpikir seseorang. Tidak saja dalam pengertian cara seseorang bernalar atau menyusun alur dan logika, tetapi mungkin juga memengaruhi cara seseorang memandang suatu hal atau persoalan.

Dalam rentang proses yang lebih panjang, menulis sangat mungkin membentuk identitas dan karakter seseorang. Menulis membantu memperkaya dan mengolah berbagai nuansa pengalaman dalam sudut pandang subjektif tertentu, sehingga dengan begitu ia bisa juga dilihat sebagai sebuah proses interaksi-reflektif antara pengalaman dan penafsiran. Hal atau pengalaman yang sederhana mungkin bisa terlewatkan begitu saja. Akan tetapi, dengan tingkat kepekaan tertentu yang sudah cukup terasah, hal sederhana itu bisa saja melahirkan refleksi dan poin gagasan yang mungkin cukup menarik.

Saat pengalaman yang ditafsirkan itu semakin kompleks dan beragam, matriks kemungkinan gagasan yang akan dihasilkan bisa menjadi semakin luas. Pada titik itulah proses menulis kemudian seperti menjadi proses memilah lorong-lorong menuju alur kesimpulan (sementara) yang terasa lebih dapat diterima secara subjektif sesuai dengan stok pengetahuan dan sudut pandang si penulis. Kompleksitas matriks kemungkinan itu dipilah, dicoba untuk ditata, disederhanakan, dan akhirnya disimpulkan.

Dalam proses lanjutan, saat sebuah tulisan telah rampung dan diakhiri oleh si penulis dan dilepas ke publik, ia akan terus berkembang biak sendiri lepas dari otoritas (authority, “kepengarangan”) si penulis. Kematian pengarang, sebagaimana dikabarkan oleh Roland Barthes, tentu saja bukanlah kabar buruk yang harus disesali, karena bagaimanapun teks pada akhirnya adalah juga tindakan yang memiliki hak otonominya sendiri. Sekecil apa pun, apa yang telah kita tulis pada akhirnya akan menjadi bagian dari Buku Semesta—dan ada kehadiran kita di sana, meski tak bisa purna.

Namun begitu, meski sudah lepas dari kuasa pengarang, kehadiran teks otonom tersebut ke wilayah publik telah membuka peluang pintu dialog bagi gagasan yang sebelumnya hanya sunyi sendiri dalam benak si penulis. Kesunyian sebuah gagasan yang hanya semarak dalam benak seseorang akhirnya dirayakan secara publik melalui tulisan.

Saat ide tentang tulisan ini menyergap saya semalam sebelum tidur, saya pun sempat bertanya-tanya: akan seperti apakah jadinya ide tersebut saat dituliskan dan bagaimana ia akan berakhir—dalam prosesnya maupun ketika sudah menjadi teks otonom.

Sekarang saya tahu bahwa tulisan ini sendiri (bersama ide yang muncul tadi malam itu) mungkin adalah bagian dari pencarian saya tentang makna aktivitas kepenulisan saya selama ini. Ini mungkin bagian dari cara saya merayakan jalan sunyi seorang penulis, dengan berusaha mengusir kabar kesunyian itu dengan sebuah pesta bertajuk “keajaiban menulis”.

Adakah yang mau bergabung bersama saya dalam pesta ini?

Read More..

Senin, 12 April 2010

Tarian Aurora di Langit Utara


Sungguh saya tak menduga sebelumnya bahwa di negeri Viking ini saya akan punya kesempatan untuk menyaksikan salah satu keindahan alam yang hanya dapat disaksikan di belahan bumi tertentu saja. Setelah sempat gagal sebelumnya, akhirnya tadi malam saya berhasil menikmati keindahan langit utara yang menampilkan aurora.

Aurora adalah cahaya di langit dekat wilayah kutub yang hadir di malam hari. Cahaya ini muncul sebagai akibat dari interaksi antara medan magnetik bumi dengan partikel bermuatan yang dipancarkan matahari. Aurora di langit utara disebut Aurora Borealis. Saya cukup kesulitan dan tak paham membaca penjelasan ilmiahnya yang cukup terperinci di Wikipedia. Mungkin saya harus membacanya berulang-ulang dengan lebih cermat untuk bisa menangkap penjelasannya.

Yang pasti, tadi malam saya tak perlu benar-benar harus mengerti penjelasan ilmiah tentang apa itu aurora untuk bisa mengagumi dan menikmati keindahannya. Cahaya kehijau-hijauan itu berpendar di langit. Kadang ia membentang panjang dari timur ke barat, berkelebat, lalu mengental, meremang, menebal, dan menipis. Di saat yang lain, ia tampak menumpuk di langit utara dalam area yang cukup melebar, lalu sesekali mementaskan tarian lembut sebelum akhirnya menghilang ditelan langit cerah bertabur bintang. Dari sudut yang berbeda, kadang cahaya kehijauan itu membentuk seperti tanduk Viking yang menggantung di langit.

Saya menyaksikan aurora tadi malam dari puncak bukit kecil di komplek asrama mahasiswa Moholt, Trondheim. Jaraknya hanya sekitar 150 meter dari apartemen saya. Selasa jelang tengah malam hingga Rabu dini hari yang lalu, hampir dua jam saya di sana menunggu aurora, namun mendung tebal telah menyembunyikannya. Untungnya, tadi malam aurora berhasil hadir dengan sempurna, sejak mendekati tengah malam hingga menyongsong fajar.

Di antara puluhan mahasiswa dari berbagai negara yang ramai-ramai berkumpul di bukit kecil untuk menyaksikan keindahan aurora itu, saya mencoba merekam gambar aurora dengan kamera saku saya dari berbagai sudut. Sayangnya, di puncak bukit kecil yang juga menjadi tempat parkir mobil itu ada satu lampu di tengah yang agak mengganggu untuk dapat menyaksikan pemandangan langit malam dengan lebih sempurna. Namun demikian, dengan mengambil sudut pandang yang tepat, sedikit teknik, dan tentu saja kesabaran, saya dapat mengabadikan beberapa gambar aurora dengan cukup memuaskan.

Dari atas bukit itu, aurora kadang tampak melintang seumpama selendang yang dikibarkan di atas bangunan komplek mahasiswa Moholt Studentby. Jauh di belakang, tampak bukit yang bercahaya oleh lampu-lampu kota. Saya juga sempat mengambil gambar aurora dari balik pohon yang masih belum berdaun. Warna kehijauan bertaburan di langit di balik pohon yang tampak meranggas itu. Titik-titik bintang kecil bersinar keputihan.

Tarian cahaya indah di langit utara—apakah saya masih akan punya kesempatan untuk kembali menyaksikannya? Mengingat kembali pemandangan langit tadi malam itu, saya masih merasa takjub dan bertanya-tanya: seberapa dalam sebenarnya rahasia semesta telah berhasil kita singkapkan? Aurora, bagaimanapun, hanyalah bagian kecil dari mukjizat bumi, planet kecil di antara bintang-bintang terserak dan benda langit di angkasa yang tak terhingga hitungannya.

Wahai aurora, pesan apakah yang hendak kau bawa untuk kami di sini?

Read More..

Jumat, 02 April 2010

Ayah, Apa Kau Masih Bisa Memimpin Pembacaan Shalawat di Perayaan Maulid Tahun ini?

Andai kau sedang berada di rantau, momen apakah yang akan membuatmu paling mudah untuk teringat pada ayah atau ibumu? Saya menduga kuat bahwa salah satu jawaban favorit adalah saat sakit. Bila kebetulan terbaring sakit di rantau, kita akan tersadar bahwa kita sedang benar-benar sendiri dan jauh dari keluarga.

Tujuh bulan di Eropa, alhamdulillah bisa dibilang saya belum pernah benar-benar sakit. Pernah juga sih, dua kali kurang enak badan agak serius. Yang pertama gara-gara kelelahan sepulang dari Jerman, dan yang kedua pas awal-awal baru tiba di Belanda—mungkin karena masih penyesuaian dengan cuaca dan sibuk mengurus ini itu. Masing-masing, sekitar dua hingga tiga hari saya tak banyak beraktivitas dan hanya beristirahat di kamar saja.

Namun demikian, bukan sakit yang mengingatkan saya pada orang rumah. Selama di Eropa, bulan Maulid-lah yang telah benar-benar mengingatkan saya pada ayah. Dalam rindu, saya bertanya-tanya: apakah ayah masih bisa memimpin pembacaan shalawat di perayaan Maulid tahun ini?

Di sepanjang bulan Maulid, bahkan kadang juga sebelum dan sesudahnya, di Madura pada khususnya biasanya ramai dengan perayaan Maulid. Orang-orang maupun lembaga banyak yang ikut memperingati kelahiran Baginda Nabi Muhammad saw. Bisa dikatakan hampir tiap hari. Dalam perayaan Maulid, shalawat, diba’ dan barzanji dilantunkan bersama-sama dengan dipandu oleh salah seorang yang hadir. Sering kali juga diiringi dengan tabuhan rebana.

Ayah saya bisa dibilang biasa memandu atau memimpin pembacaan shalawat di acara-acara perayaan Maulid di daerah saya. (Sebenarnya, shalawat juga biasa dibacakan dalam acara pernikahan dan ritus lainnya.) Memang, ayah memiliki suara yang merdu. Beberapa orang mengatakan bahwa jika membaca al-Qur’an, suara ayah mirip dengan Syeikh Ali bin Abdurrahman al-Hudzaifi, imam Masjid Nabawi, Madinah, yang terkenal itu.

Dalam perayaan Maulid, ayah biasanya membacakan diba’ dan barzanji atau bacaan shalawat dengan irama lagu yang konvensional. Saya tidak tahu apakah penggambaran saya ini benar. Yang jelas, pilihan irama lagunya bisa dibilang relatif sudah lazim didengar dan mudah diikuti oleh jama’ah yang hadir.

Saya sendiri memang lebih suka seperti itu. Dengan pilihan shalawat yang kurang akrab didengar, saya kadang merasa kurang bisa menyatu dengan suasana religius yang berusaha dibangun dalam sebuah perayaan Maulid.

Meski pilihan irama lagunya biasa, saya harus katakan bahwa saat ayah membacakan diba’, barzanji, atau shalawat, saya dapat merasakan keindahan dan ketulusannya dalam memberikan pujian dan penghormatan kepada Baginda Rasul.

Saat ini, tujuh bulan berpisah dengan keluarga di rumah, dipisahkan jarak sebelas ribu kilometer, saya bertanya-tanya: apakah ayah masih bisa melantunkan diba’, barzanji, dan shalawat di perayaan Maulid tahun ini?

Sejak akhir 2007, yakni sejak stroke (ringan) menyerangnya, saraf motorik ayah terganggu. Ini menyebabkan ayah menjadi agak kesulitan mengolah suaranya. Ayah juga mengatakan bahwa nafasnya menjadi tidak cukup panjang lagi. Sejak saat itu, terkadang ayah menolak memimpin pembacaan diba’ atau barzanji di acara perayaan Maulid.

Kalaupun ayah bersedia, saya dapat merasakan betapa ayah sudah tak bisa fasih membaca diba’ atau barzanji seperti dulu, sebelum stroke menyerangnya. Saya masih ingat, di suatu siang di awal 2007 saya sempat mengikuti sebuah acara Maulid di rumah salah satu famili, dan ayah memimpin pembacaan diba’ di acara itu. Saya masih bisa merasakan kekuatan lantunan suaranya. Bacaan diba’, barzanji, dan shalawat ayah buat saya terasa cukup mampu untuk menghadirkan Baginda Rasul di antara kekhidmatan jama’ah yang hadir di sana.

Setelah itu, saya dapat merasakan betapa kadang ayah tampak kesulitan untuk melafalkan bait-bait syair yang berisi pujian kepada Nabi Muhammad itu. Bahkan kadang ketika membaca ayat al-Qur’an saat shalat berjama’ah, ayah juga kesulitan dan tak sefasih sebelumnya. Kadang ayah tampak cukup emosional dan tak sabar saat ia mengalami kesulitan semacam itu.

Kini, bulan Maulid telah lewat. Tapi mungkin saja masih ada orang yang merayakan Maulid Nabi di sekitar rumah saya. Dan, sampai sekarang pun, pikiran itu masih terus membayangi saya: apakah ayah masih bisa memimpin pembacaan shalawat dalam perayaan Maulid tahun ini—juga tahun-tahun mendatang?

Ayah, saya rindu bacaan shalawatmu. Ayah, saya berdoa untukmu, dan semoga syafa’at Nabi selalu tercurah untukmu. Ayah, maafkan saya, anakmu yang tak tahu berbakti ini.

Read More..

Minggu, 28 Maret 2010

Sebuah Cerita Akhir Pekan


Hari ini gerimis turun hampir seharian. Sesekali salju yang agak keras turun, mirip butiran es yang amat kecil. Saya merasakannya saat keluar membeli jeruk ke tempat belanja di sudut komplek asrama. Butir-butir es itu jatuh menerpa jaket dan terdengar seumpama alat musik perkusi. Saat saya melintas di atas tumpukan salju yang agak mengeras atau yang becek, suaranya menjadi nyaris tak terdengar tergantikan oleh suara gesekan sepatu.

Hari ini langit mendung berwarna kelabu. Tak ada matahari. Jendela kamar basah diterpa rintik yang tertiup angin. Jelang petang, saat lampu-lampu rumah yang berderet di bebukitan mulai dinyalakan di kejauhan, kabut turun memotong jarak pandang.

Malam datang semakin terlambat. Menghadap jendela yang agak buram, saya menunggu bulan yang akan muncul dari balik gedung di seberang kamar. Tapi langit memang kelam tertutup awan—dan bulan bersembunyi di sana.

Tirai jendela saya biarkan terbuka, berharap akan menemukan bulan menggantung di angkasa memancarkan cahaya saat orang memadamkan lampu-lampu mereka selama sejam. Langit tetap berselimut awan yang gelap.

Pukul 20.30, lampu kamar saya padamkan. Saya buka jendela kamar pelan-pelan. Dingin seketika masuk menyerbu. Rumah-rumah di bebukitan itu masih bercahaya. Di bawah, pohon yang kerontang tampak suram di antara penerangan lampu yang berwarna kekuningan. Salju masih menutupi tanah di bawahnya. Suasana begitu lengang.

Malam terus berjingkat, seperti pencuri yang tak ingin diketahui keberadaannya. Apakah saya memang punya harta yang cukup berharga untuk dicuri? Entahlah. Akhir pekan ini, saya merasa begitu tua dan lelah. Tua dan malam. Sedang meja saya masih berantakan.

Moholt, Trondheim, 27/03/2010 22.48

Read More..

Sabtu, 06 Maret 2010

Serasa di Minas Tirith


Sebulan di Trondheim, 500 kilometer arah utara ibukota Norwegia, Oslo, saya kadang membayangkan seolah sedang tinggal di Minas Tirith, ibukota kerajaan Gondor. Paling tidak, itu yang cukup sering saya rasakan setiap kali berjalan mendaki atau turun bukit menuju atau dari kampus Dragvoll NTNU.

Dari sepanjang jalan setapak yang masih tertimbun salju tebal, tak begitu jauh, tampak pemandangan rumah-rumah warna-warni yang menutupi sisi bukit. Rumah-rumah itu warna-warni karena kebanyakan terbuat dari kayu dan dicat merah, kuning, hijau, biru, putih, dan nuansa warna indah yang agak sulit saya gambarkan. Satu di antaranya membentuk seperti tangga berundak mengikuti kontur bukit. Memang bukitnya tak setinggi dan securam Minas Tirith, tapi cukup untuk mengingatkan saya pada kota imajiner rekaan Tolkiens dalam trilogi terakhir The Lord of the Rings yang tergambar begitu eksotik di versi filmnya yang legendaris itu.

Saat saya melewatinya di hari yang sangat cerah, pemandangannya benar-benar indah. Langit biru yang begitu bersih benar-benar seakan ruang kosong yang aneh tapi memukau. Sisa-sisa salju yang menutupi sebagian atap rumah dan sedikit sisi bukit yang kosong membuat pemandangannya seperti negeri fantasi—ya, seperti Bumi-Tengah. Sisi bukit yang kosong itu tampak seperti cadas terjal yang tak begitu rata, sehingga salju yang memutih membentuk lukisan yang juga indah. Di halaman salah satu rumah yang berada dekat kaki bukit, tampak beberapa gazebo kecil dihampari salju di sekelilingnya yang tampak kontras dengan ukuran rumah yang begitu besar.

Sisi bukit itu terkesan sangat indah di mata saya juga karena saya telah melihatnya dalam suasana yang berbeda. Tepat sebulan yang lalu, saat baru mulai kuliah, saya pernah menikmati pemandangan bukit ini di pagi buta, satu jam sebelum matahari terbit. Waktu itu, kuliah saya masuk pukul 08.15, sedang matahari terbit pukul 08.26. Lampu-lampu temaram dan suasana yang masih gelap memberi kesan dan detail pemandangan yang berbeda.

Di kesempatan lain, saya menikmati pemandangan bukit itu saat saya pulang dari kampus dan salju sedang turun cukup lebat. Memang, pandangan mata jadi agak terbatas. Tapi rumah-rumah di lereng bukit itu tetap terlihat meski samar di antara warna putih yang dominan.

Tentu saja, pandangan saya tak selalu mengarah pada sisi bukit di jalan setapak menuju kampus itu. Karena tepat di seberang arah bukit, terhamparlah lanskap kota Trondheim yang begitu indah, lengkap dengan selat dan bebukitan lain di batas akhir pandangan saya. Tyholt Tower di area kampus Teknologi Kelautan NTNU tampak menjulang, selain menara Nidaros Cathedral yang terkenal karena menjadi tempat penobatan raja-raja Norwegia.

Pemandangan berbukit di Trondheim memang menarik karena kota kecil yang berpenduduk sekitar 170 ribu jiwa ini berada di dekat laut (selat) serta merupakan pertemuan Sungai Nidelva dan Trondheimsfjorden. Salah satu hal yang menarik saya temukan saat saya mencoba mengelili “pulau” kecil yang menjadi pusat kota Trondheim. Dikelilingi oleh Sungai Nidelva, dari situ pandangan saya dibatasi oleh bukit-bukit di kejauhan yang mengelilingi pusat kota Trondheim. Rumah-rumah kayu di tepi Sungai Nidelva pun tak kalah eksotiknya dengan rumah-rumah yang menutupi sebagian bukit-bukit itu.

Memang, sampai saat ini saya belum cukup jauh menjelajahi kota yang merupakan bekas ibukota Norwegia ini. Tapi saya sudah cukup bisa merasakan nuansa fantasi yang cukup kuat di sini. Setidaknya demikianlah dari sudut pandang saya.

Ya, serasa di Minas Tirith. Tapi saya tak bertemu Gandalf, Frodo, atau Aragorn. Pun, jangan harap saya nanti pulang akan membawa Cincin buatan Sauron. Saya bukan pahlawan—atau apa pun semacam itu. Saya berharap nanti pulang dari kota ini bukannya membawa fantasi. Saya ingin membawa sesuatu yang lebih nyata, yang mungkin akan cukup berharga untuk dibagi untuk semua.

Read More..

Minggu, 14 Februari 2010

Mengunjungi Rumah Anne Frank

Dari luar, tak tampak sesuatu yang istimewa pada rumah itu. Di tepi sebuah kanal, berjarak sekitar 1,5 km dari Amsterdam Centraal Station, rumah yang berdiri kokoh itu tampak biasa saja, seperti rumah-rumah lain di sebelahnya. Namun, di siang hari, di pintu masuk rumah itu akan sering tampak orang-orang berbaris panjang membentuk antrean.

Rumah itu tak lain adalah “Anne Frank House”, sebuah museum yang mendokumentasikan kisah persembunyian Anne Frank dari kejaran rezim Hitler Jerman di era Perang Dunia Kedua. Gadis yang bernama lengkap Annelies Frank itu adalah satu dari jutaan korban pembantaian atas orang-orang Yahudi oleh Hitler.

Gadis kelahiran Frankfurt 12 Juni 1929 ini pada tahun 1933 bersama keluarganya mengungsi ke Belanda, saat Hitler memulai kekuasaannya yang anti-Yahudi di Jerman. Namun, pada bulan Mei 1940, tentara Jerman berhasil menduduki Belanda. Perburuan Yahudi pun juga terjadi di Belanda.

Terhitung sejak 6 Juli 1942, keluarga Anne Frank bersembunyi di rumah yang kini telah dijadikan museum itu. Lebih dua tahun mereka bersembunyi di tempat itu, sampai akhirnya di bulan Agustus 1944 tentara Nazi berhasil menemukan mereka.

Bagaimana kisah Anne Frank dapat tersiar ke seluruh penjuru dunia? Selama di persembunyian, Anne Frank menuliskan catatan-catatan hariannya dan akhirnya diterbitkan pertama kali pada tahun 1947. Saat ini, buku harian yang berjudul The Diary of a Young Girl itu telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa dunia, termasuk bahasa Indonesia.

Saat berkunjung ke museum ini, saya berusaha menangkap dari dekat suasana tempat yang menjadi latar penulisan salah satu autobiografi atau catatan harian yang paling menarik untuk dibaca itu. Rumah itu sendiri ditata sedemikian rupa sehingga tetap menyerupai kondisi aslinya.

Ketika berhasil menangkap mereka yang bersembunyi di rumah itu, tentara Jerman juga mengangkut semua furnitur. Akan tetapi, untuk dapat mengetahui gambaran lengkap kondisi rumah sebelum dikosongkan, di salah satu kamar terdapat miniatur rumah yang memberi gambaran detail setiap kamar-kamarnya.

Selain itu, di beberapa kamar terdapat semacam layar televisi yang menampilkan video-video pendek berkaitan dengan sejarah Anne Frank, termasuk video Otto Frank, ayah Anne Frank yang selamat dari eksekusi tentara Jerman.

Tentu saja, salah satu bagian paling penting dalam rumah ini adalah Secret Annex, sebutan untuk tempat persembunyian keluarga Anne Frank. Kamar yang menjadi persembunyian itu tampak begitu muram dengan pencahayaan yang terbatas. Toilet dan alat memasak yang cukup sederhana dibiarkan sebagaimana adanya.

Di salah satu sisi dinding, ada garis-garis pendek menandai perkembangan tinggi badan Anne Frank dan saudarinya, Margot. Dekat jendela, tampak sebuah iklan untuk Opekta, perusahaan Otto Frank, yang selama pendudukan tak dikelola secara langsung olehnya. Ada pula beberapa edisi majalah hiburan tergeletak di meja di ruangan yang lain, yang dahulu disuplai oleh pegawai Victor Kugler dan rekan-rekannya, yang mengamankan keluarga Anne Frank di rumah itu dan membantu mengelola perusahaan Otto.

Hidup yang muram dan sangat mendambakan kebebasan memang sempat tergambar dalam catatan harian Anne Frank. Bukalah catatan harian tanggal 24 Desember 1943, saat Anne Frank menulis: “I long to ride a bike, dance, whistle, look at the world, feel young and know that I’m free.”

Selama dalam persembunyian di Secret Annex, mereka harus menggunakan toilet dan bak cuci seminimal mungkin. Suara pun harus benar-benar dijaga—karena nyawa adalah taruhannya.

Sesungguhnya, hidup dalam persembunyian sekian lama karena nyawa yang terancam memang merupakan sebuah tragedi dan tekanan psikologis yang tak mudah dilewati. Hari-hari tak hanya dilalui dengan membosankan, tapi penuh waspada dan kecemasan. Apalagi untuk anak gadis belia seusia Anne Frank saat itu, yang mestinya melewati masa-masa indahnya dengan hari-hari penuh kebebasan. Namun, Anne Frank mengaku dengan tegas bahwa menulis dapat memberinya jalan pembebasan dalam mengatasi segala dukanya itu.

“When I write I can shake off all my cares. My sorrow disappears, my spirits are revived!”
tulisnya pada 5 April 1944. Menulis kemudian ternyata memang benar-benar menjadi satu-satunya jalan bagi Anne Frank untuk menyapa dunia yang sulit untuk dijangkaunya saat itu.

Rumah Anne Frank yang beralamat di Prinsengracht 263, Amsterdam itu mulai dibuka untuk masyarakat umum sejak 1960, 50 tahun yang lalu. Otto Frank sendiri yang secara aktif terlibat mengusahakan agar Secret Annex itu dapat diakses oleh publik sebagai sebuah museum.

Museum ini bukanlah museum biasa. Siapapun yang menyusuri ruang-ruang kecilnya yang penuh dengan sejarah pasti akan dengan cukup mudah terlibat secara emosional ke dalam situasi yang ingin digambarkannya. Sebagaimana disadari oleh Otto Frank, museum ini dapat menjadi tempat berbagi nilai-nilai kemanusiaan, hak asasi manusia, kesadaran akan ancaman prasangka, diskriminasi, dan kekerasan.

Meninggalkan Rumah Anne Frank, kesan mendalam tetap tertanam dalam ingatan. Saat ini, prasangka dan diskriminasi masih terus saja menghantui pergaulan masyarakat dunia. Kelompok masyarakat tertentu di berbagai belahan dunia masih sering dilekati dengan atribut-atribut tertentu yang secara sosial merugikan dan cenderung diskriminatif.

Rupanya, mempromosikan cara pandang yang sederhana untuk melihat orang lain memang tidak mudah. Proses dan dinamika sosial yang kompleks kadang mendorong seseorang untuk memperlakukan orang lain tidak sebagai manusia, tapi sebagai seseorang-dengan-atribut-tertentu—dengan berbagai konsekuensinya.

Beberapa pekan setelah mengunjungi Rumah Anne Frank, saya membayangkan, andai orang-orang yang telah pernah berkunjung ke rumah itu bisa menangkap kesadaran etis dalam memandang manusia yang lain, alangkah damainya dunia ini. Seandainya bukan seandainya.

Zeist, Utrecht, 5 Januari 2010.

Tulisan ini dimuat di Harian
Jawa Pos, 14 Februari 2010.

Read More..

Jumat, 15 Januari 2010

A Lonely Biker


“Ceritakanlah padaku tentang warna putih,” katanya di suatu senja. Lalu aku pun bercerita tentang salju.

Sore itu, dari balkon apartemen yang masih dipenuhi salju, aku melihat seorang penyepeda keluar dari komplek Warande, Zeist, yang menampung sekitar seribu penghuni itu. Duduk di atas sadel, mengayuh pedal di jalanan yang licin dikelilingi pemandangan putih yang menghampar, di antara pohon-pohon menjulang yang juga memutih, aku seperti menangkap nuansa kesunyian yang hadir diam-diam. Ia tampak bersembunyi dalam tas kotak di belakang sadel sepedanya.

Ia datang bersama butir-butir lembut yang telah mengurung benua ini di bawah titik nol. Dengan kepolosannya, ia telah menjungkalkan si penyepeda ke ngarai sunyi yang seperti tak bertepi. Kepada yang lain, ia telah memaksa mereka untuk memarkir sepedanya dalam gudang-gudang bawah tanah lebih lama.

Sore itu tak ada sinar matahari. Butir-butir salju yang menghampar itu tak sedang berkilauan diterpa cahaya keperakan. Si penyepeda bergerak perlahan di jalanan kecil yang saljunya sama sekali tak disingkirkan. Ia tampak bersabar. Bunyi roda sepedanya yang berputar melewati butir-butir salju yang lembut itu sesekali diiringi oleh kicau burung di kejauhan. Tiupan angin yang tak sedang amat kencang kadang menjatuhkan salju di pepohonan. Beberapa tampak menerpa jaketnya yang berwarna hitam. Wahai penyepeda, apa yang tengah kau jemput di luar sana?

Dari atas balkon, aku menyaksikan titik hitam itu bergerak perlahan di antara pemandangan putih yang tampak polos dan seperti berasal dari negeri kayangan.

Putih salju, apa pun makna keberadaanmu, apa pun atribut yang kau antarkan kepadaku, aku tahu, bahwa suatu saat kau akan luluh, mencair, lalu menghilang, entah ke mana, untuk kemudian kembali di suatu masa.

Read More..

Senin, 04 Januari 2010

Badai Salju dan Pengalaman Terburuk di Belanda


Musim dingin di Belanda adalah pengalaman pertama saya melihat salju secara langsung. Menyaksikan butir-butir salju berjatuhan di balkon dan lanskap yang memutih sejauh mata memandang, semua sungguh tampak begitu indah. Dua hari pertama salju turun, saya berusaha menikmati pemandangan di mana-mana. Saya ke Amsterdam, keliling pusat kota Utrecht, dan bersepeda di sekitar Zeist.

Akan tetapi, salju sebenarnya juga menyimpan cerita buruk. Dan saya juga telah benar-benar mengalaminya—di saat yang sungguh tepat!

Kejadian itu terjadi satu hari setelah badai salju yang melanda Belanda. Minggu, 20 Desember, salju turun sepanjang hari sehingga ketebalan salju di balkon saya hampir mencapai 30 cm! Menurut berita di situs Radio Nederland, badai salju yang turun di beberapa negara Eropa ini memang telah memakan cukup banyak korban.

Saya juga menjadi korban keesokan harinya, saat saya hendak berangkat liburan ke Frankfurt dengan menggunakan bus Eurolines dari Utrecht CS. Menurut jadwal dan tiket yang saya pegang, bus Eurolines ke Frankfurt akan berangkat pukul 09.45 dari Utrecht CS. Jadi, pukul 8.30 saya sudah menuju Utrecht CS dan tiba di halte bus Eurolines di Jaarbeursplein pada pukul 09.00.

Halte bus Eurolines satu komplek dengan halte bus-bus antarkota lain di sisi barat Utrecht CS itu. Kabar buruknya: tak ada tempat duduk untuk orang-orang yang menunggu di ruang terbuka itu. Jalanan, pohon-pohon yang meranggas, sepeda yang diparkir cukup lama, semua memutih akibat badai salju kemarin. Putih dan tebal. Butir-butir salju di pepohonan itu sesekali tertiup angin dan jatuh ke bawah.

Saya berdiri saja di halte Eurolines bersama beberapa orang yang juga sedang menunggu bus. Tas punggung saya tak dilepas. Tak lama setelah saya di situ, 4 mahasiswa Indonesia dari Deventer juga tiba di halte tersebut. Mereka mau berlibur ke Paris dan juga menggunakan Eurolines.

Waktu berjalan melambat saat menunggu. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 10 pas. Saya menunggu dengan agak cemas, karena udara dingin di situ seperti sudah sulit ditahan. Yang paling terasa adalah kaki dan tangan—agak kaku, seperti mau membeku. Karena itu, sesekali saya pindah ke tempat lain yang tak bersalju, agar sepatu tak bersentuhan langsung dengan salju tebal itu. Tapi tetap saja. Karena dingin telah menyebar ke mana-mana.

Saat pukul sebelas tampak ada bus Eurolines masuk ke area Jaarbeurs, saya berharap ini adalah bus ke Jerman. Ternyata itu bus ke Paris.

Jelang pukul 12, saya sudah tak tahan dengan dingin dan penantian yang serba tak jelas itu. Saya heran, mengapa tak ada kabar dari Eurolines. Saya sudah mencoba menelepon nomor kantor Eurolines di Amsterdam, tapi saya harus antre panjang di jalur telepon itu sehingga saya akhiri saja. Akhirnya saya pun masuk ke komplek Utrecht CS. Mungkin bisa sedikit menghangatkan badan, pikir saya, dan sekalian untuk ke toilet.

Setelah dari toilet, saya duduk-duduk di ruang tunggu Utrecht CS, tepatnya di dekat Blue Screen, papan jadwal kereta. Sambil menikmati segelas kopi, saya kembali mencoba menghubungi kantor Eurolines. Akhirnya, meski berada di antrean ketujuh belas, saya menunggu. Setelah menunggu sekitar 15 menit dengan agak gelisah karena khawatir pulsa terkuras habis, akhirnya saya tersambung dengan operator.

Dan ini dia kabar buruknya: setelah diperiksa, si petugas mengabarkan bahwa bus Eurolines ke Frankfurt baru saja meninggalkan Utrecht! Saya pun menerangkan bahwa saya telah menunggu di halte selama hampir 3 jam, dan tak ada kabar apa pun, sampai akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke Utrecht CS karena sudah tak kuat menahan udara dingin. Si petugas menjelaskan bahwa hari itu semua jadwal bus menjadi kacau karena badai salju.

Tapi saya tetap saja heran: apa gunanya saya memberi nomor telepon saya di formulir pemesanan tiket jika dalam situasi darurat seperti ini saya sama sekali tak mendapat kabar! Memang sih, tiket Eurolines itu hitungannya bisa relatif murah. Tapi kan itu bukan alasan untuk membuat penumpang terlantar kedinginan. Satu-satunya jalan keluar adalah menunggu bus berikutnya. Dan itu, paling cepat, pukul tiga sore. Saya harus bersabar dan bertahan di tengah cuaca dingin.

Akhirnya, pukul empat kurang seperempat saya sudah berada di dalam bus Eurolines ke Frankfurt. Gara-gara badai salju, saya sudah terhukum kedinginan di Utrecht CS menunggu bus. Sungguh ini adalah pengalaman terburuk saya selama di Belanda.


>> Beri rating untuk tulisan ini di Blog Radio Nederland Wereldomroep.

Read More..

Sabtu, 02 Januari 2010

Gelandangan Semalam

Saat kereta yang kami tumpangi dari Kassel dalam perjalanan sekitar 8 jam dari Berlin tiba di halte Frankfurt West pada pukul 00.55 Senin (28/12) dini hari, saya dan Mas Suratno sudah merasa lega. Sebentar lagi kami akan segera tiba di rumah, di Eschborn, dua halte dari situ, dan benar-benar akan dapat istirahat setelah dua hari mengunjungi Leipzig dan Berlin.

“Nanti kita masak mi dan telur saja, baru tidur,” kata Mas Suratno. Bayangan mi dan telur yang masih hangat untuk melawan suhu udara musim dingin di bawah nol derajat sudah terlintas di benak saya. Namun, ketika melihat papan informasi di halte Frankfurt West, saya langsung merasa lemas. Ternyata kereta terakhir ke Eschborn, kotamadya di barat laut Frankfurt tempat Mas Suratno tinggal, sudah lewat sekitar 5 menit sebelumnya.

“Kalau begitu, alternatifnya, kita akan bermalam atau melewatkan malam ini di Hauptbahnhof (Hbf) Frankfurt,” kata Mas Suratno. Waduuuuh. Jadi tertunda nih istirahatnya, pikir saya. Memang, Hbf Frankfurt, atau stasiun pusat Frankfurt, memang besar dan luas. Tapi saya tidak yakin akan cukup nyaman menunggu sambil beristirahat di situ hingga kereta pertama ke Eschborn berangkat pukul 04.59. Untungnya, kami masih dapat menumpang kereta terakhir ke Hbf Frankfurt, pukul 01.10.

Tiba di Hbf Frankfurt, kami sepakat untuk mencari warung yang masih buka untuk menunggu kereta pagi. Beruntung, McD masih buka. Ternyata di McD banyak sekali orang-orang yang sepertinya juga sedang menunggu kereta atau kemalaman seperti kami. Tak jauh dari tempat kami duduk, ada 6 muda-mudi berbahasa Spanyol dengan tas-tas besar mereka. Di meja di depan saya, seorang berkulit hitam tidur dengan menundukkan kepalanya ke lengannya yang disilangkan di meja di depannya. Sisa makanan yang dipesannya baru saja diambil oleh petugas kebersihan McD. Seorang tua yang baru saja masuk mulai menyantap pesanannya di samping saya.

Waktu terasa berjalan lambat, sampai akhirnya tepat pada pukul 2 dini hari seorang pegawai McD yang tampak rapi dan mengenakan dasi menghampiri meja muda-mudi Spanyol yang tampak asyik sekali berbincang itu. Saya dapat mendengar kata-kata pegawai itu dengan jelas: “Kami akan segera tutup, mohon maaf,” katanya.

Belum setengah jam kami di situ, kami pun terpaksa keluar. Kami tak punya pilihan: kami pun berencana kembali masuk ke Hbf Frankfurt dan berharap menemukan tempat nyaman di dalam untuk menunggu.

Tapi sungguh sial nasib kami. Beberapa meter dari pintu masuk, kami sudah dapat melihat orang-orang yang hendak masuk tampak diperiksa oleh petugas keamanan. Saat mendekat, kami ditanya oleh petugas keamanan itu: hendak ke mana? Mas Suratno spontan menjawab: Darmstadt—sebuah kota di pinggiran Frankfurt. Si petugas langsung tak mengizinkan kami masuk. “Kereta pertama ke Darmstadt baru beroperasi nanti jam 5,” jawabnya singkat.

Ternyata petugas keamanan hanya mengizinkan masuk untuk mereka yang hendak segera berangkat. Petugas itu memeriksa tiket—mereka tak bisa ditipu. Kami, bersama beberapa orang lainnya yang juga tak bisa masuk, akhirnya ngeloyor pergi begitu saja.

Jelas kami tak punya tujuan. Tak ada kenalan di sekitar Hbf Frankfurt. Akhirnya, spontan saja, kami berjalan di sekitar bangunan Hbf yang besar, sambil berharap menemukan tempat yang nyaman untuk berlindung dari udara dingin. Saat di salah satu sisi bangunan Hbf kami menyaksikan ada orang berkerumun di semacam halte bus, kami pun mencoba mendekat dan berbaur dengan mereka. Ternyata mereka adalah rombongan yang sedang menunggu bus untuk perjalanan ke luar kota.

Agak lama di situ dan merasa kedinginan, kami coba lagi untuk berjalan. Di sebuah jalan masuk ke halte kereta bawah tanah, kami jadi terpikir untuk berlindung di situ. Tapi ternyata pintu masuk halte ditutup, dan kami hanya bisa nongkrong tepat di pintu masuk bawah tanah selama beberapa saat. Namun begitu, tetap saja kami kedinginan.

Akhirnya, jelang pukul tiga dini hari, kami pun berhasil menemukan penyelamat kami. Di salah satu sisi bangunan Hbf, kami menemukan sebuah ruangan yang tampak seperti kafe. Dari jendela, kami dapat melihat beberapa orang duduk-duduk di dalam. Kami pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Setelah menjelaskan bahwa kami ketinggalan kereta terakhir ke Eschborn, petugas yang membukakan pintu langsung mempersilakan kami masuk ke dalam dan duduk.

Kami duduk di meja bundar dekat jendela di sudut ruangan. Tak jauh dari kami, 6 muda-mudi Spanyol yang tadi kami jumpai di McD tampak sudah agak lama di situ, asyik berbincang. Di sudut lainnya, beberapa orang yang tampak tua terlihat tidur dengan cara mereka masing-masing. Seorang di antaranya mengorok cukup keras—yang kadang mengundang senyum muda-mudi Spanyol itu.

“Ternyata kami menemukan tempat yang tepat,” kata saya pada petugas yang sangat ramah dan berseragam biru itu setelah ia menjelaskan tempat tersebut. Menurut si petugas, tempat itu adalah semacam organisasi kemanusiaan, namanya Bahnhofs Mission, yang membantu orang-orang seperti kami, dan sebagainya. Bahnhofs Mission, sesuai dengan namanya, berbasis di stasiun-stasiun kereta api di Jerman, dan memberi bantuan bahkan untuk hal-hal kecil, seperti membantu menemukan jadwal kereta, kaum difabel, dan sebagainya.

Meski hanya duduk-duduk dan mengobrol, kami sungguh lega karena paling tidak kami selamat tak membeku kedinginan di luar. Kami di situ sekitar 90 menit. Setengah jam sebelum jadwal kereta pertama ke Eschborn, kami pun pamit dan melangkah masuk ke Hbf Frankfurt. Stasiun masih belum begitu ramai. Dengan rasa kantuk dan lelah yang seperti tak tertanggungkan, kami melangkah pasti, membayangkan tempat istirahat kami di Eschborn yang hangat.

Read More..

Jumat, 25 Desember 2009

“Kalian Ini Adalah Para Elite...”

“Kalian ini adalah para elite. Kalian punya kesempatan belajar di luar negeri. Kira-kira bagaimana jika Indonesia kelak dipimpin oleh kalian? Apakah bisa lebih baik, bisa lebih bersih?”

Kurang lebih, begitulah kalimat-kalimat yang sempat terlontar dari Ibu Tatiana malam itu di pesta ulang tahun salah seorang rekan mahasiswa Indonesia di Utrecht. Kehadiran Bu Tati, yang telah cukup lama tinggal di Zeist dan punya cukup banyak pengalaman internasional, memang terasa cukup mengubah suasana—tak seperti lazimnya acara kumpul-kumpul mahasiswa Indonesia di Utrecht pada umumnya.

Bu Tati menanyai satu per satu rekan-rekan mahasiswa Indonesia yang malam itu datang ke Warande 190: apa program studi yang ditekuni di Utrecht, apa saja aktivitas di Indonesia, dan sebagainya. Jadilah kami seperti harus presentasi singkat tentang diri kami masing-masing. Bu Tati tak segan untuk menggali lebih dalam. Salah seorang di antara kami ada yang kemudian presentasi tentang tesis yang dikerjakannya.

Pembicaraan kami sebenarnya cukup lepas. Bu Tati, yang juga bisa berbahasa Prancis dan Spanyol, juga banyak berbagi cerita dan pengalaman hidupnya di Belanda. Di bagian ini, tampak sikap kritis Bu Tati dalam melihat realitas sosial. “Bagi kalian, yang relatif tak begitu lama tinggal di Belanda, mungkin akan melihat bahwa hidup di sini enak. Sebenarnya, tantangan hidup dan masalah sosial di sini juga banyak,” katanya.

Masalah kesejahteraan masyarakat, prasangka kepada etnis atau kelompok tertentu, menurut Bu Tati tak sepenuhnya selesai di negeri Kincir Angin ini. Jangan dikira bahwa di negara maju dan liberal seperti Belanda tak ada diskriminasi. Tentang hal ini, Bu Tati menuturkan beberapa pengalaman kecil yang relevan. Hmmm... rupanya tajam juga cara pandang Bu Tati ini.

Malam itu, kami tak sekadar berkumpul untuk merayakan dan mensyukuri ulang tahun rekan kami. Secara tidak langsung, ada sedikit peringatan dari Bu Tati tentang hidup yang sedang kami jalani di sini—juga tentang hari depan. Ya, benar, kami mungkin memang bisa disebut sebagai para elite sosial. Kami menikmati kesempatan untuk merantau dan belajar di sini, di tempat yang disebut sebagai “negara maju”—sebuah kesempatan yang mungkin hanya bisa diimpikan oleh orang lain.

Apa yang bisa kami bawa pulang dari sini? Apa yang akan kami kerjakan nanti? Pertanyaan semacam ini sejatinya menuntut banyak hal dari kami: bahwa kami harus punya proyek masa depan, proyek peradaban, sesuai dengan minat dan kepedulian kami, di komunitas masing-masing. Apakah harapan ini terlampau berlebihan, atau memang wajar?

Beberapa pekan setelah obrolan di malam itu, kata-kata Bu Tati masih cukup sering terngiang di ingatan saya: “Kalian ini adalah para elite...”

Read More..

Senin, 21 Desember 2009

Bertemu Sinterklaas

Memasuki bulan November yang lalu, teman-teman di kelas mulai berbicara tentang Sinterklaas. Saya, yang cukup awam dalam soal ini, mencoba bertanya kepada salah satu teman kelas. Dia menjelaskan secara cukup baik tentang perayaan Sinterklaas di Belanda.

Sinterklaas merujuk pada seorang uskup dari Myra, Turki, yang baik hati, suka menolong orang miskin dan juga dikenal sebagai pelindung anak-anak. Di Belanda, perayaan Sinterklaas dilaksanakan setiap tanggal 5 Desember. Di hari itu, Sinterklaas bersama Piet Hitam (Zwarte Piet) yang menemaninya membagikan hadiah untuk anak-anak. Sedangkan anak yang nakal akan dibawa pergi ke Spanyol.

Tentu saja, pikir saya, di mata anak-anak bayangan tentang hadiah sangatlah menyenangkan, dan hukuman dibawa ke Spanyol akan cukup menakutkan.

Teman saya itu kemudian menuturkan bahwa Sinterklaas bersama rombongannya akan hadir secara bergiliran di kota-kota besar di Belanda setiap akhir pekan. Sayangnya, saat rombongan Sinterklaas berkunjung ke Utrecht pada 14 November yang lalu, saya sedang bepergian ke Amsterdam untuk suatu keperluan, sehingga tak bisa melihat langsung rombongan Sinterklaas yang katanya tiba melewati kanal Utrecht.

Penasaran dengan Sinterklaas, menjelang 5 Desember saya mencoba keliling bersepeda di sekitar Zeist. Akhirnya, pada hari Jum’at sore, 4 Desember, saya berhasil melihat Sinterklaas bersama beberapa Piet Hitam yang sedang dikerumuni anak-anak di sebuah pusat perbelanjaan. Saat itu, saya menyaksikan beberapa anak yang sepertinya tampak sangat senang bermain di sekitar Sinterklaas yang membagikan hadiah-hadiah berupa makanan ringan. Ibu mereka, yang sebagian tampak mengawasi dari kejauhan, kadang terlihat geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah anak-anak mereka.

Saya mencoba membaca pikiran anak-anak yang tampak girang dan tertawa-tawa riang itu. Saya membayangkan, mereka sedang mendapatkan suatu pelajaran moral untuk berbuat baik pada sesama. Beberapa waktu yang lalu, saat berkumpul dengan komunitas masyarakat Indonesia di sebuah acara informal, salah seorang di antara mereka yang sudah tinggal di sini (Utrecht) menyatakan bahwa pelajaran moral Sinterklaas tidaklah terlalu berhubungan dengan agama—ya, saya cukup bisa memakluminya; bukankah Belanda memang negara yang tergolong sekuler?

Dengan memandang perayaan Sinterklaas yang tak lagi terlalu mengacu pada aspek religius, saya jadi maklum saat menyaksikan seorang anak dari seorang ibu yang kelihatannya muslim bermain dengan Sinterklaas di supermarket di Jum’at sore itu. Sepertinya Sinterklaas di sini telah menjadi semacam simbol moral universal tentang dorongan untuk berbuat baik.

Saya menjadi semakin yakin akan hal ini saat mencoba mencari informasi lebih jauh di internet, dan menyadari kenyataan bahwa Sinterklaas sendiri pada dasarnya adalah seorang Katolik—meskipun ia oleh Vatikan dicoret dari daftar orang-orang suci. Bagaimana bisa orang terhormat dari Katolik dirayakan di sebuah negara yang mayoritas Protestan seperti Belanda? Jawabannya jelas: Sinterklaas telah melampaui sekat formalitas (sekte) agama, dan mungkin sudah cukup menyatu dengan gerak hidup kebudayaan masyarakatnya yang memiliki bermacam keyakinan. Memang, dari situasi semacam ini, simbol agama menjadi tak terlalu kelihatan.

Saat 5 Desember berkeliling di sekitar Zeist, saya kembali berjumpa dengan Sinterklaas di pusat kota. Piet Hitam berkeliaran di sepanjang jalan di situ. Dari kejauhan, tampak di antara mereka sedang memberi bungkusan hadiah untuk seorang anak yang sedang berjalan dengan digandeng oleh ibunya.

Dalam hati saya bertanya: mengapa mereka tak memberi hadiah untuk saya? Hmmm.... mungkin karena saya bukan anak-anak lagi—semoga bukan karena saya termasuk “anak nakal”.

Read More..

Senin, 23 November 2009

Di Sepanjang Titik-Titik Perjalanan

Kereta ini sebentar lagi akan segera melaju ke arah timur bergerak menjauh dari titik matahari tenggelam. Angin musim dingin bertiup sedikit kencang. Tak ada cahaya keperakan. Langit mendung. Tak ada biru. Hanya kelabu.

Dari atas kereta yang berada di ketinggian, aku dapat menyaksikan orang-orang lalu-lalang. Beberapa di antara mereka tampak berlari ke arah bus yang terparkir rapi. Begitulah. Stasiun memang selalu ramai. Tapi aku tak tahu, seberapa banyak jumlah penjemput dan pengantar di stasiun ini. Apakah tradisi menjemput dan mengantar juga lazim di negeri ini?

Bersama seorang teman, hampir sepanjang hari aku menjelajahi kota ini, menyusuri lorong-lorong dan sudut-sudutnya yang menyimpan banyak hal dari masa lalu. Kincir angin di tepi kanal, rumah seorang pelukis ternama dengan patung anak kecil di halamannya, perpustakaan yang menyimpan buku-buku dan manuskrip dari abad-abad silam, benteng tua, dan juga museum.

Dan sekarang, sore ini, aku duduk di atas kereta yang akan segera bergerak ke arah timur. Aku akan melanjutkan perjalanan. Di antara keramaian, sambil menikmati lagu-lagu bernuansa Renaisans, pikiranku tertegun pada gagasan tentang perjalanan.

Sampai kapan sebenarnya aku akan berada di perjalanan? Empat puluh satu menit perjalanan kereta yang akan kutempuh tak lama lagi hanyalah setitik kecil dari langkah-langkah kaki lainnya yang mungkin nyaris tak berhingga. Di manakah ujungnya?

Di antara deru kereta yang mulai melaju, aku membayangkan bahwa ini adalah sebuah perjalanan dalam perjalanan. Aku telah meninggalkan satu titik perhentian dalam titik perhentian yang jauh lebih besar. Di antara himpunan titik-titik itulah, sekarang aku tengah berusaha membuat gambar—dengan warna-warninya, bersama lika-likunya.

Read More..

Rabu, 11 November 2009

Daun-Daun yang Berpulang

Daun-daun itu jatuh ke tanah bersama hembusan angin dingin di bawah bentangan langit yang kelabu. Daun-daun itu terbang, luruh perlahan, sehingga dahan-dahan pepohonan pun jadi kerontang. Daun-daun itu, yang beberapa bulan sebelumnya cerah menghijau, beberapa pekan terakhir berubah warna. Mereka berganti kemerah-merahan, kuning, cokelat, dan akhirnya tak mampu lagi menggantung dan bertahan. Pegangan mereka lunglai, dan satu persatu gugur berserakan.

Sang Waktu telah merontokkan kekuatan mereka dan membawanya ke musim ini. Sang Musim telah mengantarkan daun-daun itu pada takdir purba yang telah tercatat bersama semesta. Di hamparan tanah yang mulai sering basah karena embun dan rintik hujan, mereka sama sekali tampak tak resah. Sesekali ditiup angin yang agak kencang, di sana mereka menunggu lebur untuk pulang ke rumah asal.

Sang Musim, perlahan tapi pasti, juga tengah mengusir burung-burung ke selatan, menceraikan persaudaraan tulus mereka dengan rimbun daun-daun di tanah ini. Kicaunya mulai jarang terdengar. Tataplah langit, dan kau akan menyaksikan burung-burung yang tampak mulai bergegas menemukan tempat yang lebih nyaman ke arah selatan, berkelana mencari pohon dan dedaunan.

Burung-burung itu terbang ke selatan menjemput harapan. Tapi aku tak tahu apakah mereka akan kembali ke tempat ini dengan cerita tentang langit biru yang teduh dan daun-daun yang menghijau. Mungkin mereka justru akan menemukan asap hitam yang terus mengepul dari hutan-hutan. Mungkin saja rumah singgah mereka di sana, di selatan, sudah tak lagi nyaman.

Di sini, saat ini, daun-daun sedang berpulang. Pohon-pohon pun mulai kesepian. Sayang sekali, aku tak akan berada di tempat ini saat mereka datang kembali. Padahal, sepertinya mereka akan menghidangkan kisah-kisah dari tanah leluhur yang penuh kebijaksanaan.

Read More..

Senin, 09 November 2009

Belajar tentang Belajar: Dua Bulan di Utrecht University

Setelah dua bulan menjalani studi di program Master of Applied Ethics Utrecht University, saya mencatat beberapa hal menarik terkait dengan sistem pendidikan tinggi di sini yang dalam banyak hal cukup memberi inspirasi. Sebelumnya, jauh sebelum saya berangkat ke Eropa dan mengetahui bahwa sepanjang satu semester di Utrecht University saya hanya akan mengikuti empat mata kuliah, saya merasa cukup senang karena berpikir bahwa beban studi (akademik) saya tidak akan terlalu banyak. Itu berarti saya akan cukup punya waktu untuk berkegiatan di luar aktivitas akademik, termasuk jalan-jalan.

Tetapi ternyata saya keliru. Empat mata kuliah yang untuk satu semester dibagi dalam dua blok itu (satu blok ada dua mata kuliah) ternyata menyita banyak waktu saya. Setelah menuntaskan blok pertama dan selesai mengikuti dua mata kuliah utama, saya jadi tahu bahwa ternyata tugas-tugas kuliah begitu banyak, seperti juga halnya bahan-bahan bacaan yang mesti tuntas dilahap sebelum masuk kelas.

Tugas-tugas itu telah terjadwal dengan rapi sepanjang 9 pekan di blok pertama. Begitu juga bahan bacaan. Sebenarnya, saya sudah menerima informasi tentang satu mata kuliah menyangkut gambaran umum, tujuan, alur, referensi, dan tugas-tugas, tepat 20 hari sebelum perkuliahan dimulai—saat itu saya masih berada di Madura. Dosen pengampu salah satu mata kuliah itu mengirimkannya via email ke seluruh mahasiswa, lengkap dengan peta tempat kuliah, toko buku, dan info pendukung lainnya.
Inilah catatan pertama saya: perkuliahan di sini dirancang dengan sangat matang. Dosen menyiapkan semuanya dengan sangat baik dan terencana. Dan mereka sangat disiplin dengan rencana tersebut, sehingga aktivitas perkuliahan dapat berjalan dengan sangat baik.

Dari sisi mahasiswa, perkuliahan di sini menuntut kerja keras dan kemandirian. Jika tak membaca bahan bacaan atau artikel yang diwajibkan untuk satu pertemuan tertentu, jangan harap kita bisa benar-benar paham dengan apa yang sedang dibicarakan di kelas. Kelas di sini bukan dirancang untuk menambah stok pengetahuan baru. Kelas adalah ruang untuk mendiskusikan artikel relevan yang sudah ditentukan sebelumnya dalam daftar referensi, dan dosen menjadi pengarah dan mitra yang menawarkan alur dan alternatif.

Memang, pada tataran ide, hal semacam ini mungkin bukan sesuatu yang baru. Dahulu, di dunia pendidikan Indonesia ada istilah CBSA, atau Cara Belajar Siswa Aktif. Sayangnya, hal semacam ini, bahkan di tingkat perguruan tinggi pun, baru lebih sebagai teori saja. Di tingkat praktik, sulit sekali kita menemukan sistem belajar semacam ini. Karena itu, menjalani suatu proses belajar yang benar-benar menuntut sikap aktif seperti ini buat saya adalah sesuatu yang baru, menarik, dan menantang.
Inilah catatan kedua saya: sistem kuliah di sini, paling tidak dari pengalaman saya dua bulan ini, memberi ruang dan bahkan menuntut sikap aktif dari mahasiswa.

Dengan jumlah mata kuliah yang relatif sedikit dalam satu semester, saya juga mencatat bahwa tradisi akademik di sini adalah memberi kesempatan yang cukup leluasa untuk menggali suatu tema hingga cukup mendalam. Dengan kata lain: terfokus. Mata kuliahnya saja sudah cukup spesifik. Dalam blok pertama, misalnya, saya mengikuti dua kuliah dengan nama Ethical Theory and Moral Practice dan satu lagi Human Dignity and Human Rights. Hasilnya tentu saja lebih jelas, memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang tema tertentu.

Setelah saya telusuri, ternyata hal semacam ini tidak hanya berlaku di tingkat program magister. Salah seorang teman sekelas saya yang orang Belanda kebetulan berlatar belakang pendidikan S1 jurusan filsafat. Menurut dia, kuliah di S1 di sini juga demikian adanya: satu semester terdiri dari empat mata kuliah.

Saya beruntung telah belajar bersama teman-teman kelas yang berjumlah sekitar 20 orang dengan latar yang sangat beragam. Mereka berasal dari berbagai negara: Belanda, Amerika, Kanada, Italia, Serbia, Slovenia, Afrika Selatan, Bangladesh, dan Cina. Karena jurusan saya terbilang interdisipliner, latar belakang studi mereka juga beragam, tak hanya filsafat. Ada yang kedokteran, hukum, turisme, ekonomi, dan politik. Dengan aneka latar itu, di kelas kami dapat berbagi banyak hal berdasarkan perspektif masing-masing.

Dari segi usia, mereka sangat beragam. Beberapa masih berumur 23 tahun, belum lama menyelesaikan studi S1. Tapi ada juga yang sudah berkepala lima—mungkin seusia dengan sang dosen. Yang menarik, mereka yang sudah cukup lanjut itu mengikuti program ini bukan semata untuk meraih gelar, tapi tampak karena benar-benar haus akan ilmu dan pengalaman akademik. Salah seorang di antara mereka, yang kebetulan pernah satu kelompok dalam dua tugas mata kuliah bersama saya, adalah seorang perempuan yang sudah punya cucu dan telah bekerja sebagai dosen di NHTV Breda University. Dia meminati studi turisme dan merasa perlu belajar tentang aspek etis dalam turisme sehingga dia mengikuti program ini.

Demikianlah. Sejak sebelum berangkat, saya memang telah mencatat bahwa saya belajar di Eropa tidak hanya sekadar untuk menuntut ilmu khusus sesuai dengan jurusan saya. Saya juga ingin sekali belajar tentang bagaimana sistem perkuliahan di Eropa berlangsung. Dan, selama dua bulan di sini, saya sudah belajar banyak hal tentang itu. Mungkin apa yang saya tangkap ini memang masih belum cukup menjadi gambaran yang utuh tentang sistem pendidikan di sini. Akan tetapi, semuanya tampak inspiratif. Beberapa di antaranya ingin sekali saya coba nanti di Indonesia, meski tak musti dilakukan di sistem pendidikan formal.

Saya yakin, dalam rentang sisa waktu saya di sini, saya masih akan belajar banyak hal tentang semua itu—semoga bisa lebih luas, mendalam, dan substantif.

>> Beri rating untuk tulisan ini di Blog Radio Nederland Wereldomroep.

Read More..