Judul buku: The Magic Library: Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Penulis: Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Januari 2016
Tebal: 284 halaman
ISBN: 978-979-433-924-4
Jostein Gaarder adalah penulis Norwegia yang karya-karyanya telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sisi paling menarik dari karya-karyanya adalah bahwa ia mengangkat tokoh anak dan remaja serta memberi nuansa reflektif yang kental.
Dalam karya Gaarder yang ditulis bersama Klaus Hagerup ini, tokoh remaja kembali tampil sebagai pemeran utama. Novel ini mengambil tema yang relatif lebih ringan, bukan dengan bobot filosofis yang cukup berat, yakni tentang dunia kepenulisan dan perbukuan. Cara penyajiannya khas Gaarder: berlapis, mengandung unsur cerita detektif dan misteri, dan ada unsur petualangan yang khas anak-anak dan remaja.
Novel ini berkisah tentang dua saudara sepupu, Berit dan Nils, yang tinggal di kota yang berbeda di Norwegia. Keduanya berkorespondensi dengan menggunakan buku-surat yang mereka kirimkan via pos. Nah, bersamaan dengan awal mereka saling berkirim surat itu, Berit dan Nils mengalami beberapa kejadian aneh yang berhubungan dengan seorang perempuan misterius.
Di sebuah toko buku, perempuan misterius, yang belakangan diketahui bernama Bibbi Bokken itu, membayari buku yang dibeli Nils dan tampak ngiler menyusur dan memandangi buku-buku. Sementara Berit secara tak sengaja menemukan dan membaca surat untuk Bibbi Bokken dari seseorang yang menyinggung soal “perpustakaan ajaib” dan “buku yang akan terbit tahun depan di Norwegia” (hlm. 11-15).
Jadilah kemudian buku-surat Berit dan Nils itu dipenuhi dengan tema peristiwa misterius itu. Semakin tebal misteri yang menyelimuti beberapa kejadian terkait dengan Bibbi Bokken itu, semakin Berit dan Nils diliputi rasa penasaran yang kadang bercampur dengan rasa ketakutan. Ada dugaan bahwa Bibbi Bokken, yang kadang disebut si Nyonya Buku dan si Penyihir Buku, bersama komplotannya sedang mengincar buku-surat Berit dan Nils. Dan itu tampak terbungkus dalam sebuah rencana rahasia berbau konspirasi yang berkaitan dengan Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken dan dunia perbukuan di Norwegia.
Yang unik, dan ini khas Gaarder, di sepanjang petualangan bak detektif penuh misteri itu, ada banyak hal menarik yang tersaji ke hadapan pembaca tentang dunia perbukuan dan kepenulisan. Berit dan Nils dalam buku-suratnya berbicara tentang Winnie the Pooh karya A.A. Milne, penulis buku anak-anak dari Swedia Astrid Lindgren, HC Andersen yang masyhur dari Denmark, Anne Frank yang meninggal di usia remaja sebagai korban Perang Dunia II dengan catatan hariannya yang kemudian cukup melegenda, penulis drama dari Norwegia Henrik Ibsen, dan sebagainya (hlm. 36-52).
Surat-surat Berit dan Nils serta alur novel ini juga banyak menyajikan pengenalan tentang dunia perbukuan dan perpustakaan. Misalnya tentang sistem klasifikasi desimal Dewey, yang digunakan untuk memudahkan pengkategorian buku di perpustakaan (hlm. 63-66). Ada juga dialog dan pemaparan tentang sejarah buku dan penerbitan, penemuan mesin cetak yang dikenal dengan Revolusi Gutenberg, teori sastra, teori fiksi, proses kreatif kepengarangan (teori menulis), dan semacamnya (hlm. 215-219).
Novel ini memang tepat dikatakan sebagai “sebuah surat cinta kepada buku dan dunia penulisan”—sebutan yang diberikan oleh sebuah terbitan di Jerman untuk karya ini. Novel ini tampaknya sengaja disusun untuk mempromosikan budaya baca-tulis dan mengenalkan lika-liku dunia kepustakaan dan kepenulisan kepada anak dan remaja.
Strategi tekstual yang dimainkan karya ini cukup kena dan cocok untuk segmen pembaca yang disasar. Alih-alih memaparkan secara kronologis atau sistematis, karya ini justru menyelipkan pesan cinta buku dan menyuguhkan pesona karya-karya dari dunia aksara dalam jalinan kisah misteri petualangan yang menarik dan enak diikuti—sesuai dengan selera kaum remaja dan anak-anak.
Versi yang sedikit berbeda dengan tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 15 April 2016.
Jumat, 15 April 2016
Pesan Cinta Buku untuk Anak dan Remaja
Minggu, 16 November 2014
Menjawab Ironi Era Manusia
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Oktober 2014
Tebal: 246 halaman
Paul Crutzen, seorang ahli kimia dari Belanda, menyebut zaman kita saat ini sebagai Era Manusia atau Antroposen. Istilah ini merujuk pada besarnya dampak kehadiran manusia pada bumi. Dampak tersebut terangkum dalam frasa yang cukup populer beberapa dekade terakhir ini: perubahan iklim.
Menurut Crutzen, Era Manusia dimulai sejak akhir abad ke-18. Sejak itu, kadar CO2 di atmosfer meningkat secara teratur. Akibatnya, terjadi banyak penurunan mutu lingkungan, seperti pencemaran yang semakin akut, keanekaragaman hayati yang terus tergerus, cuaca ekstrem yang semakin tak menentu, yang semuanya diikuti dengan sejumlah kejadian buruk bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.
Isu lingkungan dan perubahan iklim ini rupanya juga menarik minat Jostein Gaarder, penulis asal Norwegia yang sebelumnya dikenal dengan novel filsafat berjudul Dunia Sophie. Selain Dunia Sophie, Gaarder juga menulis novel-novel yang bernuansa filsafat, seperti Misteri Soliter dan Gadis Jeruk.
Novel yang dalam terjemahan bahasa Indonesia berjudul Dunia Anna ini adalah karya terbaru Gaarder, yakni diterbitkan pada tahun 2013. Sebagaimana karya-karyanya yang lain, dalam novel ini Gaarder menggunakan tokoh utama perempuan berusia remaja—yang dalam novel ini bernama Anna—untuk menyampaikan gagasan-gagasan utamanya kepada pembaca.
Berlatar tahun 2012 di Norwegia, Anna yang berusia 16 tahun bersama kekasihnya yang bernama Jonas merasa gelisah dengan dampak perubahan iklim yang dia saksikan di Norwegia. Salju yang biasanya tebal di sekitar pergantian tahun tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, orang-orang memperbincangkan beberapa ekor rusa kutub yang berkeliaran di perkebunan—sesuatu yang tak biasa.
Dengan beberapa tanda tersebut, Anna dan Jonas menunjukkan kepeduliannya pada masalah perubahan iklim. Namun, sesuai dengan karakter Gaarder, kepedulian mereka tidak difokuskan pada bentuk gerakan nyata di lapangan. Keduanya tidak bergerak pada level aksi advokasi. Gaarder lebih banyak menyajikan renungan mendalam yang tampil dalam dialog kedua remaja tersebut. Namun begitu, dialog keduanya tidak melulu berkutat dalam hal yang bersifat filosofis. Keduanya juga menggali strategi nyata apa yang bisa dilakukan untuk menanggulangi krisis lingkungan yang dihadapi umat manusia.
Yang menarik, Gaarder telah memiliki strategi yang tepat untuk memperkuat gagasannya tentang perubahan iklim. Novel yang diterjemahkan dari bahasa Norwegia ini menggunakan latar dua lapis. Selain dunia Anna dan Jonas yang berlatar tahun 2012, ada juga tokoh Nova yang hidup pada tahun 2082. Anna tidak lain adalah nenek buyut Nova, yang dalam novel ini juga merupakan gadis remaja.
Kisah berlapis yang memang menjadi ciri khas Gaarder dalam karya-karyanya yang lain tampak sangat cocok untuk memperkuat problem perubahan iklim. Bagaimanapun, isu perubahan iklim menjadi semakin penting jika dipikirkan dalam kerangka lintas-generasi. Kepedulian terhadap lingkungan tidak lain adalah kepedulian atas umat manusia generasi mendatang. Dalam bahasa Gaarder, isu krisis iklim bukanlah konflik antar bangsa. “Yang saling berhadapan dalam konflik ini ialah generasi-generasi,” tulis Gaarder.
Pada tahun 2082, Nova digambarkan mewarisi sebuah dunia yang sekarat. Banyak sekali jenis flora dan fauna yang sudah musnah dari bumi. Yang ada hanya rekaman gambar atau video aneka makhluk yang tersimpan dalam sekumpulan arsip digital. Ada juga kebun binatang internasional versi “virtual” di Den Haag yang binatang-binatangnya tidak terdiri dari darah dan daging tapi tercipta dari sinar laser. Kebun binatang ini dibuat sebagai pengingat bagi umat manusia tentang pemusnahan besar-besaran akibat ulah mereka.
Dunia Anna dan dunia Nova disajikan saling bergantian dalam novel ini. Kedua dunia yang berlatar tahun berbeda dan berjarak 70 tahun ini silih berganti saling memperkuat ironi Era Manusia: bahwa kehadiran manusia memang benar-benar berdampak luar biasa pada bumi dan makhluk hidup yang ada di dalamnya.
Pesan yang mengemuka dengan sangat kuat dalam novel ini adalah soal tanggung jawab manusia untuk bersikap bijak dalam menggunakan sumber daya bumi. Gaarder tampak ingin memberi peringatan tentang ironi Era Manusia. Manusia yang sering disebut sebagai makhluk cerdas atau bijak (homo sapiens) nyatanya terbukti berbuat yang sesuka hati pada alam dan lingkungan sehingga memberi dampak buruk. Jika demikian, di manakah wawasan etis yang dimiliki manusia?
Dengan kerangka imajiner-futuristik yang dibangun dalam alur cerita novel ini, Gaarder menunjukkan bahwa apa yang kita lakukan saat ini, dalam bentuk sesederhana dan sekecil apa pun, dapat membentuk wajah bumi di masa depan yang bisa saja di luar bayangan kita. Melalui imajinasi Anna, Gaarder membuat pengakuan bahwa kita adalah generasi yang egois dan brutal yang semena-mena mengeksploitasi alam dan mengabaikan nasib generasi mendatang.
Pesan Gaarder ini tak disampaikan hanya melalui renungan para tokoh utamanya yang bercorak filosofis atau reflektif. Melalui Anna dan Nova, Gaarder juga mengungkap data-data faktual yang dapat menggugah kepedulian kita atas isu-isu lingkungan. Misalnya, tentang jumlah CO2 yang telah dilepaskan manusia di atmosfer selama sepuluh tahun terakhir, atau juga perbandingan dampak lingkungan dari sebuah perjalanan udara dari Oslo ke New York pulang-pergi.
Melalui novel ini, Gaarder mengajak umat manusia untuk berani “menjadi lebih besar daripada diri sendiri”. Secara sederhana, ajakan Gaarder ini berarti seruan untuk melepas egoisme yang sempit. Gaarder, yang pada tahun 1997 bersama istrinya menginisiasi penghargaan internasional bernama Sophie Prize bagi mereka yang peduli lingkungan, menegaskan bahwa “aku adalah bagian dari—aku juga mengambil bagian dalam—sesuatu yang lebih besar dan lebih berkuasa ketimbang diriku.”
Dengan cara ini, sekali lagi Gaarder menekankan pentingnya kepedulian dan tanggung jawab sesama manusia terutama dalam kerangka lintas-generasi. Yang penting digarisbawahi, Gaarder tampaknya juga berharap adanya kerja sama yang kuat antarbangsa di dunia untuk mengatasi krisis iklim. Dalam novel ini, digambarkan bahwa Nova menjalin hubungan dengan seorang pemuda Arab yang menjadi pengungsi iklim di Norwegia. Demikian pula, dalam salah satu dialog Anna dengan psikiaternya, tersirat ajakan untuk tidak berprasangka buruk pada orang-orang Arab.
Untuk poin yang terakhir ini, Gaarder cukup mewakili pandangan terbuka masyarakat Norwegia yang menjadi kebijakan politik pemerintah saat ini untuk menerima kaum imigran dari berbagai wilayah, termasuk imigran muslim dari Asia dan Afrika. Sikap Gaarder ini bukan tanpa alasan. Pandangan terbuka semacam ini penting dikembangkan karena bagaimanapun problem krisis iklim bukanlah masalah yang dihadapi kelompok masyarakat tertentu, tapi merupakan masalah umat manusia secara keseluruhan.
Penggunaan tokoh remaja dalam novel ini menjadi sangat kuat relevansinya karena kaum muda dapat memainkan peran yang sangat penting untuk mengubah wajah dunia menjadi lebih hijau dan lestari.
Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 16 November 2014.
Minggu, 20 Desember 2009
Cinta dan Pencarian Diri
Judul buku: Perahu Kertas
Penulis: Dee
Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Agustus 2009
Tebal: xii + 444 halaman
Karya-karya Dewi Lestari, atau yang populer dengan nama pena Dee, memang telah banyak mengangkat tema cinta, mulai dari Supernova (3 seri), Filosofi Kopi, hingga Rectoverso. Demikian pula, novel terbarunya ini, yang berjudul Perahu Kertas, masih mengangkat tema cinta. Bedanya, novel ini bergenre populer dan menggunakan tokoh remaja yang berproses hingga menemukan kematangannya.
Karena bergenre populer, maka pembaca setia karya-karya Dee ketika baru memulai membaca novel ini mungkin akan sedikit merasakan hal yang agak berbeda dibandingkan saat menikmati karya Dee sebelumnya yang cenderung “serius”. Bisa dikatakan bahwa novel ini secara gaya penyajian dan alur mirip dengan chicklit atau teenlit. Akan tetapi, lambat laun, pembaca akan merasakan ruh Dee dalam novel yang ditulis selama 55 hari kerja ini—tulisan yang reflektif, dan, dalam batas-batas tertentu, bagi yang cukup akrab dengan tulisan-tulisan Dee selain karya fiksinya yang dapat ditemukan di weblognya, cukup menggambarkan “pandangan-dunia” Dee tentang hidup, cinta, dan takdir.
Hebatnya, Dee bisa membungkus ide-ide yang sangat filosofis dan serius macam itu melalui tokoh-tokoh remaja novel ini. Dengan dua tokoh utama bernama Kugy dan Keenan, tokoh-tokoh remaja lainnya dalam novel ini tampil dalam rentang empat tahun, dimulai saat Kugy dan Keenan memulai masa perkuliahannya di Bandung.
Kugy adalah seorang gadis mungil yang aneh, cuek, pengkhayal, berantakan, dan bercita-cita menjadi juru dongeng dan penulis cerita. Keenan adalah seorang remaja cerdas, artistik, dan bermimpi menjadi pelukis. Keduanya dipertemukan secara kebetulan oleh Eko dan Noni, saat Eko menjemput Keenan, sepupunya, di stasiun Bandung. Noni, pacar Eko, adalah sahabat karib Kugy sejak kecil.
Perkenalan Kugy dan Keenan di awal masa kuliah mereka ternyata pelan-pelan melahirkan perasaan saling mengagumi dan saling menyukai. Namun, situasinya menjadi rumit dengan fakta bahwa Kugy masih menjalin hubungan dengan Ojos, dan di sisi yang lain, Noni dan Eko tengah berupaya mencomblangkan Keenan dengan seorang famili Noni bernama Wanda. Dari titik inilah, ketegangan kisah cinta Kugy dan Keenan yang sebenarnya dimulai.
Lebih dari sekadar kisah cinta biasa, kisah Kugy dan Keenan juga menyimpan kisah pergulatan panjang pencarian diri yang otentik. Gagasan ini, jika disederhanakan dan diungkapkan dengan bahasa populer kalangan remaja, akan serupa dengan upaya untuk “menjadi diri sendiri”. Tentang bagaimana Kugy dan Keenan merawat impian-impian, kata hati, pilihan hidup, dan cita-cita mereka, berhadapan dengan kompleks realitas hidup di lingkungannya masing-masing yang tak sederhana, dilematis, dan kadang tampak pahit.
Keenan, misalnya, digambarkan terpaksa kuliah di jurusan manajemen, sementara sejatinya dia ingin menyerahkan hidupnya di dunia kesenian. Ia harus mengikuti kehendak orang tuanya, sampai akhirnya di satu titik perjalanan kisah ini Keenan mengambil sebuah keputusan yang sangat berani: berhenti kuliah, berkomitmen mandiri secara ekonomi, dan total hidup dengan melukis.
Keteguhan Keenan dengan keputusannya ini tak bisa dilepaskan dari cerita-cerita inspiratif yang ditulis Kugy, terutama saat Kugy tengah tertekan dan kalut akibat proyek percomblangan Noni dan Eko, dan menuliskan pengalamannya dengan anak-anak miskin di pinggiran Bandung dalam kisah Jenderal Pilik dan Pasukan Alit.
Titik penting novel ini terjadi saat Keenan memutuskan untuk menghilang dan tinggal di Ubud bersama Pak Wayan, sahabat lama ibunya, dan memulai merajut mimpinya menjadi pelukis. Di titik itu pula, pembaca akan merasakan bahwa jalinan perasaan Kugy dan Keenan terancam putus. Apalagi saat jalinan cerita ini menuturkan bahwa di Ubud Keenan terpikat dengan Luhde Laksmi, ponakan Pak Wayan, sementara Kugy, yang baru lulus kuliah dan kemudian bekerja di sebuah biro iklan di Jakarta, menjalin hubungan dengan bosnya di kantor.
Di bagian seperempat terakhir novel, pembaca akan menemukan bagian-bagian yang sangat menentukan bagi penyelesaian konflik dan keseluruhan alur kisah novel yang sebenarnya sudah lebih dulu dilansir dalam versi digital (WAP) pada April 2008. Di bagian ini, pembaca akan menemukan “Dee yang sebenarnya”, yang menghadirkan renungan-renungan hidup yang mendalam dengan juru bicara tokoh-tokoh novel yang usianya kebanyakan masih belia. Memang, pembaca tidak akan terlalu dibebani dengan metafor-metafor berat dan refleksi filosofis yang cukup serius, seperti dalam Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Namun begitu, hal ini tidak mengurangi kualitas dan kedalaman refleksi Dee.
Salah satu kelebihan novel ini adalah efek adiktif yang dimilikinya. Dee sendiri menjelaskan bahwa novel ini juga memang mencoba mengambil semangat komik dan cerita bersambung, yang pada dasarnya berupaya menjaga rasa penasaran pembaca. Membaca Perahu Kertas, pembaca seperti akan dilayarkan ke suatu kisah yang cukup menguras emosi dan cukup bernuansa eksistensial.
Di tengah melimpahnya genre novel-novel populer remaja bertema cinta di pasar perbukuan, novel ini dapat dikatakan sebagai sebuah terobosan baru untuk berbagi kisah yang memikat dan inspiratif yang sarat nilai-nilai renungan mendalam, jauh dari dangkal. Tak hanya soal cinta, tapi juga renungan soal relasi etis antarmanusia.
Kamis, 06 Agustus 2009
Panduan Belajar dan Tinggal di Belanda
Judul buku: Negeri van Oranje
Penulis: Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, April 2009
Tebal: viii + 478 halaman
Saya membeli buku ini di pertengahan April lalu, saat sedang ada acara ke Surabaya. Saat itu pas dua pekan setelah saya menerima surat elektronik dari Linköping University (koordinator Konsorsium MAE), mengabarkan bahwa saya dinominasikan sebagai penerima beasiswa Erasmus Mundus dari Komisi Eropa di program Master of Applied Ethics (MAE). Saya berpikir, jika saya lulus, mungkin saja Konsorsium akan menempatkan saya di Utrecht University (salah satu kampus anggota Konsorsium MAE), dan karena itu buku ini mungkin akan cukup berguna buat saya. Maka saya pun membeli buku ini di Togamas Surabaya.
Buku yang ditulis oleh empat orang Indonesia yang pernah belajar di negeri Belanda ini dimasukkan dalam kategori novel. Buat saya kategori ini sebenarnya agak “meragukan”, karena di dalamnya juga disajikan beberapa selingan kiat/tip berkaitan dengan alur cerita yang sedang dituturkan—dan itu tampak aneh dalam buku yang disebut sebagai novel. Saat cerita agak fokus ke soal transportasi, misalnya, ada boks tiga halaman berisi kiat seputar sepeda di Belanda. Karena itu, setelah menuntaskan novel ini, saya merasa bahwa sejatinya buku ini adalah buku panduan perjalanan (dalam pengertian yang sangat luas), tapi kemudian diberi alur sedemikian rupa sehingga berbentuk cerita/novel.
Karena itu, tampak sekali bahwa alur yang disajikan dibuat sedemikian rupa hingga dapat menampung berbagai segi penting berkaitan dengan kehidupan di Belanda. Ada bagian yang mengangkat masalah makanan dan masak-memasak, bersosialisasi, kerja sambilan, internet, acara budaya, sukses di kampus, birokrasi di Belanda, mencari akomodasi, traveling atau berlibur, dan lainnya.
Novel ini mengisahkan persahabatan lima orang Indonesia yang belajar di Belanda. Mereka tinggal di kota yang berbeda di Belanda dan bertemu secara kebetulan di Amersfort, salah satu kota di provinsi Utrecht. Diawali dengan pertemuan tak disengaja itu, kisah novel ini mengalir menuturkan pengalaman dan suka-duka persahabatan mereka. Karena mengklaim sebagai novel, selain memuat berbagai segi kehidupan di negeri Kincir Angin tersebut, buku ini berusaha menampilkan ketegangan (konflik) cerita yang sebenarnya cukup populer, yakni konflik percintaan di tengah kehidupan rantau Eropa.
Sebagai sebuah cerita, novel ini cukup enak dicerna. Aliran kisah tersaji dengan cukup lincah dan kocak. Situasi yang menggambarkan kejutan budaya juga tampak kelihatan di beberapa bagian novel ini. Kelima tokoh yang menjadi juru bicara novel ini juga memiliki latar belakang yang beragam, sehingga menambah kekayaan nuansa alur cerita.
Buku ini sangat cocok buat mereka yang mau belajar di Belanda. Buku ini kaya informasi tentang bagaimana kiat dan tip belajar di Belanda. Andaikan para penulisnya berbagi tip tentang bagaimana agar bisa mendapatkan beasiswa belajar ke sana, sepertinya calon pembaca dan pembeli buku ini bisa semakin luas.
Ada bagian di novel ini yang mencoba memberikan diskusi yang tampak cukup substantif, yakni tentang bagaimana para pelajar yang pernah mengenyam pendidikan di Eropa berkiprah untuk masa depan dan kemajuan tanah air. Menurut saya, jika diskusi tentang tema-tema semacam ini bisa digali lebih mendalam dan luas, novel ini tidak hanya akan memberikan informasi buat para pelajar dan yang akan belajar di Eropa, tetapi juga mungkin bisa menumbuhkan refleksi yang lebih mendalam di tengah konteks kehidupan sosial budaya tanah air belakangan ini.
Menurut saya, kesempatan menempuh studi di Eropa—atau di gugus peradaban lainnya—memberi peluang untuk mengecap secara langsung dialog peradaban yang dapat melahirkan inspirasi dan semangat baru. Kemungkinan peluang kultural semacam inilah yang menurut saya cukup menarik untuk terus dimanfaatkan untuk dapat mengimbangi proses perkembangan dunia global yang semakin bergerak cepat ini.
Rabu, 30 Juli 2008
Senja Kala Keluarga dan Belenggu Transisi Budaya: Ulasan atas Novel "Belenggu" karya Armijn Pane
Setiap gugus kebudayaan pada dasarnya selalu berada dalam situasi dinamis. Di satu sisi, ia berjumpa dan bergaul dengan gugus kebudayaan yang lain. Di sisi yang lain, ia mengalami pergesekan internal di antara berbagai elemen di dalam untuk menafsirkan kembali nilai-nilai dan fondasi kebudayaannya. Sudut pandang semacam ini menegaskan bahwa kebudayaan bukan semata produk atau sesuatu yang diciptakan, tetapi lebih merupakan proses atau kata kerja sehingga ia sangat berkaitan dengan agenda dayacipta masyarakat. Merujuk pada tipologi Sutan Takdir Alisjahbana, kebudayaan ditandai dengan tiga aspek pokok, yaitu aspek ekspresif dalam seni dan agama, aspek progresif dalam ilmu, teknologi, dan ekonomi, dan aspek organisasional dalam politik, yaitu dalam kekuasaan dan solidaritas (Kleden, 1988: 166-181). Melalui ketiga aspek inilah dayacipta kebudayaan selalu tampak bergerak dalam proses perubahan.
Perubahan dalam kebudayaan melibatkan proses tawar-menawar yang mengharuskan setiap individu dalam masyarakat bergulat dengan warisan kebudayaan yang dimilikinya untuk menatap tantangan masa depan dengan penuh keberanian. Karena kebudayaan adalah juga paradigma kultural (cultural paradigm) bagi seseorang yang akan sangat menentukan bentuk dan sudut pandangnya melihat persoalan di sekitar, tak jarang transformasi dan transisi kebudayaan memperlihatkan sebuah pergolakan dan kontroversi yang intens. Intensitas itu terjadi karena manusia sebagai subjek kebudayaan pada titik yang sama berada di dalam paradigma-kultural lama yang melingkupinya, sementara ia juga dituntut untuk dapat mengambil jarak agar dapat melihat paradigma baru yang dinegosiasikan itu secara lebih jernih. Sampai di sini, transformasi dan transisi kebudayaan itu pada tingkat tertentu kemudian dapat mengantarkan subjek kebudayaan pada situasi krisis yang mengguncang paradigma-kulturalnya yang lama (Kleden, 1988: 185-189).
Guncangan budaya dan krisis paradigmatis tersebut menjadi salah satu tema yang muncul dalam karya sastra modern. Karya sastra modern menjadi saksi yang mendokumentasikan pergulatan para subjek kebudayaan menghadapi perubahan. Karya sastra jenis ini di
Dalam konteks kesenian dan kebudayaan, Denys Lombard (2005: 199-201) menggambarkan periode
Dalam konteks kesusastraan dan kondisi sosial
Gagasan Armijn Pane, yang pernah mendapat penghargaan Anugerah Seni pada tahun 1967 dari pemerintah karena karya-karyanya dan jasa-jasanya dalam bidang sastra terutama dalam bidang Sastra Indonesia Modern, terbilang sangat maju dan cukup berbeda dengan arus utama zamannya, sehingga tak heran jika Belenggu ditolak oleh Balai Pustaka dan akhirnya diterbitkan oleh penerbit swasta dengan minat intelektual, Dian Rakyat. Selain filosofi kepenulisannya yang berbeda, novel Belenggu juga mengangkat tema yang pada saat itu terbilang tabu, yakni masalah perselingkuhan dalam keluarga. Perselingkuhan waktu itu dipandang sebagai masalah pribadi dalam kehidupan rumah tangga yang tak pantas dibicarakan secara terbuka—berbeda dengan sekarang, ketika gosip masalah rumah tangga oleh media
Ketiga tokoh utama ini berinteraksi dalam ketegangan atmosfer perselingkuhan yang digambarkan sejak bagian pembuka novel ini. Kisah dalam novel ini diawali dengan penggambaran keretakan hubungan Tono dan Tini, yang dilukiskan dengan cara menyajikan Tono yang baru pulang menangani pasien dan tengah kebingungan mencari-cari bloknot yang berisi pesan telepon dari para pasien. Mestinya Tini yang bertugas mencatat dan menyimpan bloknot itu di dekat pesawat telepon. Tapi Tono tak menemukannya. Pada bagian ini digambarkan Tono yang kesal, dan di bagian yang lain kemudian ditegaskan perasaan Tini yang tak sudi menjadi “budak suruhan penjaga telepon” (hlm. 17, 62).
Selanjutnya, cerita berlanjut pada benih perselingkuhan yang kemudian terjadi antara Tono dan Rohayah. Dengan menyamar sebagai pasien yang pura-pura sakit dan perlu ditolong, Rohayah memanggil Tono untuk mengobatinya. Saat pertama kali bertemu, Tono tak ingat bahwa perempuan yang memperkenalkan diri sebagai Nyonya Eni dan tinggal di sebuah hotel itu adalah teman lama yang memang mendamba cintanya sejak dahulu.
Pada pertemuan pertama, Tono memang berhasil selamat dari jebakan Nyonya Eni. Tono tak tergoda. Akan tetapi, situasi kritis yang tengah dihadapi ikatan pernikahan Tono dan Tini memungkinkan perselingkuhan berlanjut dengan nyaris mulus. Tono, yang mengharapkan sosok seorang istri yang dapat melayani dan mendukung profesinya sebagai seorang dokter, tak menemukan itu pada Tini. Sebaliknya, pada sosok Rohayah, Tono menemukan pemenuhan atas harapan-harapannya akan seorang istri yang “berlutut, membukakan tali sepatu” atau “menunggu suami dengan senyum yang murah di rumah” (hlm. 17, 33).
Jika Tono mewakili gagasan tentang pernikahan dalam paradigma “konvensional”, dalam novel ini Tini ditampilkan memiliki pandangan yang berseberangan. Menurut Tini, sebagai istri, perempuan juga berhak untuk “menyenangkan pikiran, menggembirakan hati” karena dia “manusia juga yang berkemauan sendiri”. Tini mengibaratkan istri yang hanya tinggal di rumah sebagai “barang simpanan, berbedak dan berpakaian bersih, sekali setahun dijemur diluar”. Tini menolak situasi yang demikian. Dia menegaskan, “Kami lain, kami bimbing nasib kami sendiri, tiada hendak menanti rahmat laki-laki” (hlm. 53). Di bagian yang lain, dalam dialog melalui
“Yu, Yu, benarkah kita perempuan, baru boleh dikatakan benar-benar cinta, kalau kesenangannya saja yang kita ingat, kalau kita tiada ingat akan diri kita, kalau kesukaan kita cuma memelihara dia? Kalau tiada perasaan yang demikian, benarkah kita belum benar-benar kasih akan dia? Aku bingung, yu, bukankah kita berhak juga hidup sendiri? Bukankah kita ada juga kemauan kita? Mestikah kita matikan kemauan kita itu? Entahlah, yu, aku belum dapat berbuat begitu” (hlm. 71).
Pikiran-pikiran Tini dan berbagai gagasan yang ditampilkan dalam novel ini dapat dikatakan cukup maju untuk sebuah pandangan beraroma feminisme di zamannya. Salah satu diskusi cukup hangat yang bersifat filosofis tentang eksistensi perempuan dalam pernikahan adalah negosiasi yang mesti dihadapi perempuan antara tuntutan aspek personal-eksistensial seperti gagasan Tini atau Tati di atas dan aspek sosial pernikahan untuk dapat memenuhi harapan “masyarakat” (baca: laki-laki). Eko Bambang Subiantoro (2002: 7-18) memaparkan bagaimana dalam pernikahan dan atau keluarga dalam masyarakat patriarki terjadi sublimasi identitas dan eksistensi diri perempuan pada laki-laki. Karlina Supelli (2003: 12-21) menunjukkan bagaimana makna hidup bagi perempuan setelah masuk ke dalam keluarga lebih sebagai hidup untuk memenuhi harapan masyarakat, masuk ke kawasan the generalized other, mengubur “diri” dalam sosialitas “fungsi”. Gugatan Tini dan Tati di atas kurang lebih mirip dengan penggambaran Simone de Beauvoir (1908-1986), filsuf Prancis terkemuka dan tokoh feminis, saat menggambarkan takdir perempuan dalam keluarga yang terjebak dalam rutinitas domestik yang nyaris tak bermakna. Beauvoir bahkan mengibaratkannya dengan kutukan Sisifus—sosok yang dipopulerkan oleh Albert Camus (1913-1960) untuk menggambarkan absurditas hidup.
Her home is thus her earthly lot, the expression of her social value and of her truest self. Because she does nothing, she eagerly seeks self-realization in what she has… Few task are more like the torture of Sisyphus than housework, with its endless repetition: the clean becomes soiled, the soiled is made clean, over and over, day after day (Beauvoir, 1989: 451).
(Rumahnya menjadi takdir perempuan di dunia, ekspresi nilai sosialnya dan dirinya yang sejati. Karena tidak melakukan apa-apa, dengan bersemangat perempuan mencari pewujudan dirinya pada apa yang dia miliki… Beberapa tugas lebih seperti penderitaan Sisifus daripada pekerjaan rumah, dengan pengulangan tanpa akhir: barang yang bersih menjadi kotor, yang kotor dibersihkan, begitu terus-menerus, hari demi hari).
Alur novel ini cukup dapat ditebak. Pada akhirnya Tono dan Tini tak kuasa mempertahankan bahtera keluarga mereka. Keduanya bercerai. Tini berangkat ke
Dengan bertolak dari semangat realisme kejiwaan, Armijn Pane dalam novel ini mencoba bersikap “objektif”. Tak ada penilaian moral atas perselingkuhan yang dilakukan antara Tono dan Rohayah. Tak ada isyarat atau penjelasan tentang pihak mana yang dipandang benar atau pihak mana yang patut dipersalahkan (Kleden, 1988: 205). Padahal, dalam bingkai kultur masyarakat patriarki, dalam kasus perselingkuhan perempuan sering kali dapat dengan mudah dijadikan kambing hitam yang harus menanggung kesalahan—apalagi perempuan yang memang hidup sebagai “perempuan panggilan” seperti Rohayah. Pilihan Armijn Pane untuk tak memberi penilaian moral atas kasus perselingkuhan ini jelas berseberangan dengan arus utama semangat kepenulisan di zamannya. Seperti dicatat oleh
Tak terjebak pada sikap menghakimi yang kadang bersifat apriori seperti itu, fokus uraian Armijn Pane dalam novel ini justru terletak pada situasi batin ketiga tokoh utamanya itu. Pada titik inilah kita dapat menemukan keistimewaan lain novel ini. Monolog atau komunikasi intrapersonal yang bersifat reflektif di antara ketiga tokohnya digali dan tersaji begitu intens, sehingga situasi transisi dan guncangan budaya yang dialami masyarakat
Paling tidak ada dua titik fokus yang bisa diambil untuk melihat lebih dekat pergulatan batin tokoh-tokoh utama novel ini. Yang pertama berkaitan dengan substansi pergulatan itu digambarkan, sehingga dari situ pada tingkat tertentu dapat terlihat “pesan terselubung” yang ingin disampaikan penulis. Gugatan-gugatan Tini, kegelisahan Rohayah dan juga Tono pada taraf tertentu memperlihatkan kadar perenungan yang mendalam dan berani. Dalam bingkai transisi kebudayaan, refleksi yang dilakukan para tokoh utama dalam novel ini tak lain adalah negosiasi untuk menghadapi senja kala keluarga yang tak mampu memenuhi harapan para tokohnya masing-masing.
Pada titik inilah makna judul novel ini menjadi dapat lebih dimengerti. Dalam novel ini, para tokohnya digambarkan berada dalam belenggu arus transisi. Tini, yang mulai berkenalan dengan ide emansipasi, terbelenggu dalam perjuangannya sebagai aktivis sosial yang justru menjauhkannya dari Tono. Sementara itu, Tono dibelenggu oleh angan-angannya—demikian Armijn Pane mengistilahkannya—tentang sosok ideal seorang istri dokter yang mestinya dapat membantu dan mendukung profesi suaminya. Sedangkan Rohayah berada dalam proses transisi dari belenggu masa lalunya yang kelam. Masing-masing tokoh dalam novel ini terikat dengan kepentingan nilai subjektifnya yang terbentuk melalui pendidikan dan pengalaman hidupnya.
Jika mau disebut sebagai “pesan terselubung” yang ingin disampaikan Armijn Pane, maka itu adalah ihwal belenggu subjektivitas yang menempatkan masing-masing karakter dalam ruang sempit yang mengerdilkan pikirannya (Dahana, 2008: 65). Belenggu subjektivitas itu secara sosiologis tampak sebagai sesuatu yang wajar, karena proses transformasi dan transisi kebudayaan memang membentuk situasi sosio-kultural yang cukup kompleks. Ide-ide baru yang berkaitan dengan kebebasan dan pembebasan, seperti halnya emansipasi, pada titik tertentu dapat memunculkan situasi serupa euforia. Euforia adalah perasaan nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan (Tim KBBI, 2001: 310). Bersentuhan dengan gagasan dan paradigma baru, subjek kebudayaan bisa saja larut dalam euforia yang bisa mengantarkannya ke berbagai wilayah penjelajahan personal-eksistensial yang tak tertebak. Seperti itulah kira-kira yang dialami Tini. Petualangannya dengan euforia gagasan emansipasi harus dibayar dengan keretakan kehidupan keluarganya. Dalam situasi seperti ini, euforia dapat menjadi jenis belenggu yang lain—selain belenggu obsesi dan belenggu masa lalu.
Tokoh-tokoh dalam novel ini, terutama dua tokoh perempuan, yakni Tini dan Rohayah, memperlihatkan sikap berani yang cukup menarik diamati. Keputusan mereka untuk lepas dari ikatan keluarga dan cinta—Tini yang bersikeras untuk bercerai dan Rohayah yang memutuskan untuk melanjutkan petualangannya di saat kemungkinan untuk menjalin kehidupan berkeluarga dengan Tono mulai terbuka—seperti menegaskan bahwa keduanya adalah sosok yang kuat, mandiri, dan berani menanggung risiko. Dalam perspektif pemikiran Beauvoir, keputusan tindakan kedua perempuan dalam novel ini seperti ingin menunjukkan bahwa mereka bukanlah jenis kelamin kedua (the second sex) yang tak berdaya dan takut dengan pilihan kebebasannya (Swastika, 2004). Sedang mengenai Tono, Armijn Pane menggambarkan di akhir kisah bagaimana dia menatap masa depannya dan kesadarannya untuk lepas dari belenggu subjektivitasnya.
Diapun insaf, sekali-sekali manusia itu akan merasa terbelenggu semangatnya dan pikirannya, tetapi hal itu hanya untuk sementara waktu saja, sebagai tempat perhentian sebelum sampai ke masa yang baru, ketika belenggu zaman dahulu terlepas sama sekali, matapun dapat memandang dengan leluasa ke zaman yang akan datang (hlm. 148).
Dalam kisah pergulatan batin para tokoh novel ini menghadapi belenggunya masing-masing, kita dapat merasakan perasaan bimbang, “rusuh”, pedih, dan dilema yang mengombang-ambingkan mereka. Hal ini turut menegaskan kadar akut problem yang mereka hadapi. Dalam situasi disharmoni, Tono dan Tini kadang merindukan keintiman keluarga seperti yang mereka lihat pada sahabat-sahabat di sekitar mereka. Dalam beberapa bagian novel ini digambarkan tentang bagaimana harapan-harapan, kerinduan, dan kebimbangan itu muncul (hlm. 57, 72, 77-78, 89-90). Akan tetapi, nyatanya Tono dan Tini tetap saja terbelenggu dengan subjektivitas dan egoisme mereka—tak ada yang mau mengalah.
Khusus mengenai Tini, diceritakan bahwa puncak kegelisahan Tini terjadi saat ia berjumpa dengan Hartono yang mengunjungi suaminya, Sukartono, yang kebetulan sahabat lamanya. Sementara itu, Hartono adalah mantan kekasih Tini. Dalam pertemuan itu, terjadi perbincangan mendalam tentang bagaimana keduanya menghadapi belenggu masa lalu dan obsesi mereka masing-masing. Di akhir perjumpaan, Armijn Pane menggambarkan:
Tini menganjurkan tangannya, hendak berjabat tangan. Dijabat oleh Hartono, terasa padanya tangan Tini dingin dan lenyap. Didalam hati Hartono, seolah-olah hidup, berkembang. Katanya dengan gembira: “Selamat tinggal Pop, sama-sama berani hidup, kehidupan baru. Mari kita pikul beban kita, mari kita buang belenggu semangat kita.”
…Tini tersenyum: “Benarlah, masing-masing manusia mempunyai beban, marilah kita pakai beban itu untuk alas gedung baru.” (hlm. 116).
Titik balik Tini untuk mengambil keputusan yang menentukan, yakni bercerai dengan suaminya, semakin menguat saat ia mengunjungi Rohayah tak lama setelah ia bertemu dengan Hartono. Di
Demikianlah. Dalam kaitannya dengan belenggu yang mengikat ketiga tokoh utama novel ini, akhir novel ini memperlihatkan cara mereka mengatasi problem transisi budaya dan belenggu subjektivitas yang menderanya. Pilihan eksistensial ini sungguh terasa amat sulit, karena memang membutuhkan keberanian yang tak sedikit. Keberanian ketiga tokoh utama ini untuk melepaskan belenggunya sepertinya tak jauh berbeda dengan keberanian Armijn Pane untuk mengangkat tema yang kontroversial di zamannya ini dan untuk memilih alur dan
Perahu tumpangan keyakinanku, berlayarlah engkau, jangan enggan menempuh angin ribut, taufan badai, ke tempat pelabuhan yang hendak engkau tuju. Berlayarlah engkau ke dunia baru (hlm. 5).
Titik fokus kedua yang dapat digunakan untuk melihat pergulatan batin para tokoh dalam novel ini adalah berkaitan dengan alasan mengapa pergolakan eksistensial dan transisi budaya yang dialami para tokoh utama dalam novel ini digambarkan dengan cara yang mirip dengan monolog. Monolog, jika mengacu pada teori komunikasi, merupakan sebentuk komunikasi intrapersonal. Komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang berlangsung dalam diri seseorang. Seseorang berbicara kepada dirinya sendiri, bertanya kepada dirinya, dan dijawab oleh dirinya sendiri. Komunikasi intrapersonal ini terjadi karena adanya perangsang internal dari subjek dan juga perangsang eksternal dari lingkungan sekitar (Effendi, 1993: 57-58). Nah, pertanyaannya, mengapa Tini, Rohayah, dan juga Tono dalam novel ini digambarkan lebih banyak membicarakan kerisauan mereka dengan dirinya sendiri, yakni dalam modus monolog?
Jawaban yang mungkin untuk dikemukakan adalah karena tema yang diangkat novel ini tergolong tabu. Tokoh-tokoh dalam novel ini tak bisa secara vulgar membicarakan masalah keretakan kehidupan keluarga mereka dengan orang lain, karena hal itu masih dipandang sebagai aib pribadi dan keluarga. Dalam konteks tokoh perempuan, jawaban lain yang mungkin diajukan adalah karena perempuan tak dapat bersuara dengan cukup leluasa untuk mengutarakan kegalauan dan gugatan mereka. Menghadapi tekanan budaya patriarki yang menempatkan perempuan tak sejajar dengan kaum laki-laki, dialog yang adil seperti menjadi sesuatu yang terlalu sulit diperoleh. Karena jalur komunikasi interpersonal sudah tak menjanjikan situasi yang nyaman dan setara, maka perempuan kemudian lebih banyak bergulat dengan monolog pribadi. Kemungkinan kedua ini menjadi lebih kuat dan mengemuka karena tema yang dibicarakan oleh tokoh-tokoh perempuan dalam novel ini terbilang sensitif dan berkaitan dengan paradigma-kultural yang baru. Terlepas dari sikap setuju atau tidak, gugatan Tini berkaitan dengan tatanan keluarga pada zamannya tampak sebagai sesuatu yang luar biasa.
Dari pemaparan singkat ini, tampaklah keistimewaan novel Belenggu yang memiliki semangat berbeda dengan novel-novel yang lahir pada era sebelum kemerdekaan
Jika dilihat dari segi “pesan” dan tema yang diangkat, nilai kontekstual novel ini akan tetap terasa dan relevan untuk masyarakat
Sementara itu, di sisi yang lain, gagasan-gagasan emansipasi seperti yang diusung oleh Tini saat ini telah tiba pada tingkat pencapaian yang cukup jauh. Jika Tini dahulu menuntut agar perempuan memperoleh haknya untuk menyalurkan kehendak dan cita-citanya di sektor publik, maka saat ini gagasan seperti itu sudah tak cukup asing lagi dan relatif lebih diterima. Otonomi perempuan dalam relasinya dengan laki-laki dalam ruang keluarga sudah lebih baik—meski memang belum purna. Akan tetapi, dalam konteks feminisme, saat ini terjadi “serangan balik” terhadap perempuan saat mereka dibayang-bayangi oleh belenggu mitos kecantikan dan konsumerisme yang berkongkalikong dengan penguasa modal (Wolf, 2004: 25-26, 129).
Dengan situasi seperti ini, tak dapat disangkal bahwa saat ini berbagai belenggu seperti yang tergambar dalam novel ini terus hadir dengan berbagai rupa—tak hanya subjektivitas obsesif, masa lalu, atau euforia—seiring dengan transformasi dan transisi budaya yang terus berlangsung. Dalam konteks inilah maka novel ini diharapkan dapat menginspirasikan refleksi dan banyak hal lain berkaitan dengan cara kita bersiasat menghadapi berbagai bentuk belenggu tersebut.
Wallahualam.
Bahan Bacaan
Beauvoir, Simone, 1989, The Second Sex, Penerjemah: H.M. Parshley, Vintage Books,
Dahana, Radhar Panca, 2008, “Nasionalisme dalam Belenggu Waktu”, dalam Majalah Tempo Edisi Khusus 100 Tahun Kebangkitan Nasional, Edisi 19-25 Mei 2008, PT Tempo Inti Media, Jakarta.
Effendi, Onong Uchjana, 1993, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Citra Aditya Bakti,
Kieser, Bernhard, 2003, “Keluarga: Bahtera yang sudah Karam?”, Majalah Basis, Mei-Juni 2003, Yayasan BP Basis,
Kleden, Ignas, 1988, Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan, Cetakan Kedua, LP3ES,
Lombard, Denys, 2005, Nusa Jawa: Silang Budaya, Penerjemah: Winarsih Partaningrat Arifin, dkk, Cetakan Ketiga, Gramedia,
Pane, Armijn, 2006, Belenggu, Cetakan Kedua Puluh, Dian Rakyat,
Sahal, Ahmad, 1999, “Sastra, Ambiguitas, dan Tawa Tuhan”, kata pengantar dalam Kenedi Nurhan (Ed.), Derabat: Cerpen Pilihan Kompas 1999, Kompas,
Subiantoro, Eko Bambang, 2002, “Perempuan dan Perkawinan: Sebuah Pertaruhan Eksistensi”, Jurnal Perempuan, No. 22/2002, Yayasan Jurnal Perempuan,
Sumardjo, Jakob, 2000, “Armijn Pane dan ‘Belenggu’”, dalam J.B. Kristanto (Ed.), Seribu Tahun Nusantara, Kompas, Jakarta.
Supelli, Karlina, 2003, “Keluarga: Jarak Fungsi dari Diri (Surat-Surat Nokturnal)”, Majalah Basis, Mei-Juni 2003, Yayasan BP Basis,
Swastika, Alia, 2004, “Perempuan dalam Sastra
Tim KBBI, 2001, Kamus Besar Bahasa
Wolf, Naomi, 2004, Mitos Kecantikan: Kala Kecantikan Menindas Perempuan, Penerjemah: Alia Swastika, Niagara,
Read More..
Label: Book Review: Novel
Minggu, 25 Mei 2008
Bukan Cerita-Pembunuhan Biasa
Penulis : Truman Capote
Penerjemah : Santi Indra Astuti
Penerbit : Bentang Pustaka,
Cetakan : Pertama, September 2007
Tebal : viii + 476 halaman
Cukup banyak novel yang mengisahkan cerita pembunuhan bergaya detektif ataupun horor. Tapi buku karya Truman Capote—wartawan The New Yorker—ini bukanlah cerita-pembunuhan biasa. Hal utama yang membedakan karya Capote ini adalah titik tolak dan pengolahannya. Capote mengangkat cerita dalam buku ini dari kisah nyata.
Awal penulisan buku ini bermula saat Capote membaca berita pembantaian keluarga petani kaya
Tertarik dengan berita tersebut, Capote berangkat ke tempat kejadian bersama sahabatnya, Harper Lee—pengarang novel terkenal To Kill a Mockingbird. Setiba di Holcomb, Capote menjadi benar-benar terpikat dengan kasus ini, sehingga ia kemudian mengikuti perjalanan kasus ini hingga
Alur utama novel yang dibagi dalam empat bagian ini sebenarnya terbilang cukup sederhana. Dimulai dari latar kejadian dan kasus pembantaian di bagian pertama, perburuan si pelaku dan kisah perjalanan pelaku yang melarikan diri, tertangkapnya si pembantai, dan berakhir dengan penggambaran malam eksekusi si pembantai di bulan April 1965, di sebuah gudang yang dingin di sudut lapangan Penjara Negara Bagian Kansas di Lansing.
Keistimewaan pemaparan cerita dalam buku ini akan tampak jika pembaca melihatnya dari sudut pandang jurnalistik. Bagaimanapun, jika dilihat dari latar penulisan, novel ini pertama dan terutama harus dilihat sebagai sebuah karya jurnalistik. Sebuah liputan mendalam atas sebuah kasus yang disajikan dengan kecanggihan narasi yang memukau. Dalam novel ini, Capote berhasil menggambarkan detail setiap bagian cerita dengan amat cermat.
Karakter semua tokoh penting dalam novel ini tergambar dengan sangat kuat. Karakter masing-masing anggota keluarga Clutter, misalnya, tergambarkan dengan cukup kuat, baik dengan langsung menceritakan kehidupan sehari-hari mereka atau melalui interaksinya dengan para tetangga. Karakter keluarga Clutter yang dikenal baik dan disegani oleh para tetangga karena ramah dan suka membantu digambarkan di bagian awal novel ini dengan sangat baik, dengan secara detail menuturkan aktivitas masing-masing anggota keluarga di hari terakhir mereka sebelum pembantaian. Sesekali ada kilas balik yang bersifat umum untuk memperkuat deskripsi yang disajikan. Ketakutan warga Holcomb yang terteror setelah peristiwa pembantaian itu juga tergambar dengan baik dengan cara menuturkan pembicaraan orang-orang di kawasan terpencil itu, baik di kedai, kantor pos, sekolah, atau rumah penduduk.
Karakter dua pembunuh, Perry dan Dick, mendapat porsi pemaparan yang lebih banyak lagi—karena dapat dikatakan bahwa kedua orang inilah tokoh utama novel ini. Karakter dua pemuda ini menjadi semakin tergambar kuat setelah mereka ditangkap, dalam proses pemeriksaan, dan selama proses pengadilan. Dalam menggambarkan karakter Perry dan Dick ini sepertinya Capote cukup terbantu oleh akses yang dimilikinya untuk mengikuti kasus ini dari dekat dan menelaah arsip-arsip yang berhubungan dengan tokoh dan peristiwa. Dalam novel ini, misalnya, ada kutipan
Karya Capote ini sering digunakan sebagai rujukan dan contoh dari apa yang populer disebut sebagai “jurnalisme baru”. Jurnalisme baru, yang populer di Amerika sejak 1960-an, berusaha mengatasi keterbatasan
Tentu saja dalam model penulisan jurnalisme sastrawi fakta tetap harus menjadi patokan utama. Dalam konteks ini, buku Capote yang disebutnya sebagai “novel nonfiksi” ini bisa menjadi agak kontroversial. Disebutkan dalam Wikipedia bahwa selama mewawancarai narasumber, Capote tak pernah mencatat dan hanya mengandalkan ingatannya. Ia baru menulis setelah wawancara selesai. Capote mengklaim bahwa memorinya mampu mengingat 94% persis seperti apa yang dikatakan narasumber. Terkait dengan aspek faktual dalam novel ini, memang ada beberapa komentator yang meragukannya.
Terlepas dari hal tersebut, bagaimanapun novel ini memang bukan cerita-pembunuhan biasa. Jika kita melihatnya sebagai sebuah karya “fiksi”, sangat layak jika dikatakan bahwa novel ini disebut-sebut sebagai a brilliant insight of criminal mind, sebuah kajian lengkap dan emosional untuk mengenali benak para penjahat. Dunia gelap Perry dan Dick diceritakan dengan sangat terperinci dan penuh emosi. Di sisi yang lain, jika kita membaca karya ini sebagai “novel nonfiksi”, sebagai sebuah karya jurnalistik, maka novel ini bisa memberikan inspirasi bagi para jurnalis untuk menyajikan fakta, peristiwa, ataupun fenomena dengan cara penyajian baru yang lebih tajam, mendalam, dan mencerahkan.
Tulisan ini dimuat di Harian Sinar Harapan, 1 November 2008.
Read More..Rabu, 23 Januari 2008
Asma Nadia dan Dilema Poligami
Judul buku: Istana Kedua
Penulis: Asma Nadia
Penerbit: Gramedia, Jakarta
Cetakan: Pertama, Agustus 2007
Tebal: 248 halaman
Beberapa bulan terakhir ini, di beberapa koran nasional terjadi perdebatan yang cukup sengit dan panas tentang kecenderungan beberapa sastrawan dalam merepresentasikan perempuan dan seksualitas dalam karya-karya mereka. Ada kalangan yang berdiri di titik ekstrem: menghujat atau membela, dan ada pula yang berusaha menengahi. Karya sastra yang kental dengan tema seksualitas pada tingkat tertentu identik dengan perempuan penulis yang melahirkan karya tersebut.
Polemik tersebut, hingga tingkat tertentu, berpeluang untuk mengabaikan kreativitas dan pergulatan perempuan penulis lainnya yang juga melahirkan karya-karya sastra. Jika sastra bertema seksualitas perempuan oleh beberapa kalangan dipandang sebagai karya yang bernuansa pemberontakan atas pengekangan seksualitas perempuan dalam lingkungan budaya patriarki, maka sebenarnya para perempuan penulis memiliki caranya masing-masing untuk menunjukkan “perlawanannya” terhadap konstruksi budaya yang melingkupinya.
Contohnya bisa ditemukan dalam novel terbaru karya Asma Nadia ini. Dalam novel ini, Asma mengangkat tema poligami dengan memberi penekanan pada segi nasib dan pergulatan perempuan di ruang keluarga.
Kisah dalam novel ini berpusat pada kehidupan sepasang suami istri yang hidup berbahagia, Andika Prasetya dan Arini. Keduanya telah menikah selama sepuluh tahun dan dikaruniai tiga orang anak. Alur cerita dibuka dengan kegundahan Arini. Secara kebetulan ia menemukan informasi mencurigakan yang mengantarkannya pada sebuah nomor telepon. Ketika nomor itu dihubungi, di ujung telepon terdengar suara perempuan yang langsung memperkenalkan diri sebagai “Nyonya Prasetya”.
Kegundahan Arini, yang seorang penulis, dalam novel ini diperkuat oleh guratan nasib yang dialami Lia, teman kosnya ketika kuliah dulu. Dalam sebuah reuni kecil-kecilan, Arini terkejut begitu tahu bahwa Lia telah cerai dengan Benny, suaminya yang mantan aktivis kampus. Menurut Lia, ia menemukan suaminya tidur dengan sekretarisnya di rumah mereka.
Arini menjadi semakin sadar, bahwa laki-laki itu cukup mudah berpaling ke perempuan lain—sesuatu yang membuatnya tak habis mengerti. Saat mencoba berintrospeksi, Arini berkesimpulan bahwa dirinya sudah cukup berbakti kepada suaminya dan memberikan semua yang ia punya. Tapi mengapa diam-diam suaminya membangun istana kedua tanpa sepengetahuan dirinya?
Selain Arini, ada tokoh kunci lain dalam novel ini, yang kemudian diketahui sebagai “Nyonya Prasetya” itu. Ia adalah Mei Rose, seorang gadis berdarah keturunan yang menjalani hidup memilukan bersama tantenya. Di tengah upayanya untuk merajut kehidupannya secara mandiri, Mei beberapa kali ditipu mentah-mentah oleh beberapa orang lelaki, yang salah satunya sampai membuatnya hamil. Dalam rasa putus asanya, ia mencoba bunuh diri. Namun nasib berkata lain. Pada saat kritis itulah Mei bertemu dengan Pras, yang menolongnya dan kemudian mengantarkannya pada mahligai pernikahan.
Kisah dalam novel ini berakhir dengan pertemuan Arini dan Mei. Ada dialog tajam antara keduanya, yang cukup menghentak kesadaran Arini. Mei menggugat Arini, agar Arini bisa maklum dengan nasibnya. Mei mengingatkan bahwa Arini telah mendapatkan banyak hal yang patut disyukuri: orangtua, suami yang baik, anak-anak yang sehat, karier kepenulisan, segalanya. Lalu Mei bercerita tentang kemalangannya, bahwa hal baik yang pernah terjadi pada hidupnya hanyalah kehadiran Pras. Mei menuntut permakluman.
Di halaman-halaman akhir, digambarkan bagaimana perasaan Arini yang sepertinya bisa memberi permakluman untuk Pras dan Mei. Dalam bagian terakhir, digambarkan bagaimana masa depan anak-anaknya menjadi penguat tersendiri bagi Arini untuk menerima garis hidupnya itu.
Dalam novel ini, banyak bagian yang memuat gugatan kritis terhadap praktik poligami. Ada bagian yang mencoba menelanjangi dalih kaum laki-laki yang beralasan poligami dalam rangka mengikuti sunah Nabi, sementara dalam praktiknya mereka kurang menghargai istri pertama dan anak-anaknya. Lagi pula, mengapa teladan kehidupan Nabi yang dicontoh adalah episode poligami Nabi, padahal Nabi menjalin rumah tangga hanya bersama seorang istri, Khadijah, selama 28 tahun? Kaum lelaki kadang juga berdalih menikahi istri keduanya untuk alasan menolong, dan demi mendidik istri pertama mereka untuk belajar ikhlas dan mendapatkan tiket yang semakin mudah menuju surga!
Akan tetapi, berbagai gugatan atas poligami yang diangkat Asma dalam novel ini menjadi agak dilematis. Alur novel ini pada akhirnya memang seperti memberi permakluman untuk pilihan poligami Pras—dan Arini juga menerimanya. Mei yang mualaf; Mei yang tak punya siapa-siapa; Mei yang memilukan; semuanya seperti dibuat sebagai alasan untuk memaafkan kasus poligami Pras. Alur dalam novel ini seperti hendak mengatakan bahwa kasus poligami Pras adalah “aturan main yang ditetapkan Tuhan”, atau sebuah “takdir”. Mungkin dapat dikatakan bahwa sepertinya Asma ingin mengantarkan akhir kisah ini dalam sebuah happy ending, dengan plot yang diatur sedemikian rupa. Meski arahnya cenderung demikian, dalam novel ini kita dapat merasakan bahwa Asma juga merasa wajib memberi catatan-catatan kritis atas praktik poligami yang ada selama ini.
Dari sini pembaca dapat memahami dan membaca secara implisit “batas-batas wacana” yang hendak ditegaskan Asma dalam masalah poligami ini. Seperti juga di salah satu bagian novel ini yang menggambarkan pengandaian Arini yang merasa jijik bila berhubungan badan dengan suaminya—karena mengetahui suaminya yang berpoligami—tetapi akhirnya Arini tak bisa menggugat lebih jauh karena ada teks hadis yang menyatakan bahwa Allah dan malaikat mengutuk istri yang menolak suaminya dalam masalah itu.
Banyak hal lain yang bisa digali dan didiskusikan lebih lanjut dari novel yang ditulis oleh penulis berbakat yang saat ini menjadi CEO Lingkar Pena Publishing House ini. Terlepas dari pro dan kontra masalah poligami dan “pesan” yang berusaha disampaikan, novel ini telah memperkaya perspektif perempuan dalam membaca masalah poligami. Dan itu menegaskan bahwa perempuan penulis di Indonesia tak hanya bisa menggugat budaya patriarki dengan mengeksplorasi tema seksualitas, tetapi bisa juga berangkat dari tema yang lain yang sebenarnya juga masih cukup kaya dan bernilai penting untuk terus digali.
Sabtu, 05 Agustus 2006
Wajah Ambigu Badan Spionase
Judul buku: Digital Fortress (Benteng Digital)
Penulis: Dan Brown
Penerbit: Serambi, Jakarta
Penerjemah: Ferry Halim
Cetakan: Pertama, Mei 2006
Tebal: 568 halaman
Nama Dan Brown melambung setelah novelnya, The Da Vinci Code (2003), mengguncang dunia dengan tema kontroversial yang diangkatnya. Dalam karya fiksi yang konon sudah terjual lebih 45 juta eksemplar itu, Dan Brown dengan cerdas menggabungkan gaya thriller detektif dan teori konspirasi, untuk mengungkapkan hal-hal yang bercorak subversif yang ditudingkan kepada kekuasaan Gereja.
Novel Dan Brown sebelumnya, Angels and Demons (2000), dengan setting Vatikan-Roma, dan tokoh utama bernama Robert Langdon, yang ditampilkan kembali dalam The Da Vinci Code, juga mengangkat tema seputar agama, yakni pergulatan teologi (agama) dan sains.
Dalam kedua novel tersebut, terlihat betapa Brown tidak saja hendak menyajikan sebuah kisah (fiksi) yang menghibur dan memicu adrenalin, tetapi Brown juga memunculkan kembali tema-tema abadi yang cukup kental dengan nuansa filosofis yang berkisar pada tema-tema teologi dan agama.
Melalui karya terjemahan Indonesia Dan Brown yang terbaru ini, berjudul Benteng Digital, yang edisi Inggrisnya terbit tahun 1998, Brown hadir kembali dengan tema yang berbeda dengan dua novel yang lebih dulu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia itu. Dalam novel ini, Brown masuk ke wilayah sosial-politik dengan mengangkat soal dunia spionase di Amerika.
Jika selama ini kebanyakan orang hanya mengenal spionase Amerika via organisasi semacam CIA (Central Intelligence Agency) dan FBI (Federal Bureau of Investigation) saja, Brown dalam novel ini menghadirkan sebuah lembaga spionase Amerika yang luar biasa dan penuh misteri. Namanya NSA, National Security Agency (Badan Keamanan Nasional). NSA didirikan pada tahun 1952 oleh Presiden Truman, bertugas melindungi Amerika dari ancaman keamanan negara asing dan terorisme, serta melindungi informasi rahasia milik Amerika. Konon, dalam membuat keputusan, FBI dan CIA pun tergantung kepada layanan NSA. Lembaga yang mempekerjakan dua puluh enam ribu karyawan ini keberadaannya sangat dirahasiakan. Bahkan pemerintah menolak mengakui keberadaannya, sehingga NSA kadang diplesetkan menjadi No Such Agency (tidak ada badan semacam itu).
Seperti dalam tiga karya Dan Brown yang lain, novel ini juga diawali dengan sebuah kematian misterius, yang kali ini dialami oleh seorang berkebangsaan Jepang bernama Ensei Tankado di Sevilla Spanyol. Kematian Tankado ini menjadi perhatian serius NSA karena Tankado sedang mengiklankan peranti lunak yang baru dibuatnya, bernama Digital Fortress, via internet, yang dklaim dapat melindungi dokumen dengan kode sandi rahasia yang tak dapat ditembus dan dipecahkan—bahkan oleh para pemecah sandi di NSA sekalipun! Tentu saja NSA merasa sangat terancam dengan Digital Fortress, yang itu berarti akan mematikan kerja utama NSA.
Tankado sebenarnya pernah bekerja di NSA, tapi akhirnya diberhentikan dan dideportasi. Saat di NSA, Tankado terlibat dalam proyek pembuatan TRANSLTR, sebuah komputer mahacanggih dengan tiga juta prosesor yang sanggup memecahkan kode dalam bentuk apa pun—tapi ternyata tidak untuk kode produk Digital Fortress. Liciknya, NSA mengumumkan bahwa proyek TRANSLTR gagal, sehingga kemudian orang-orang tak sadar bahwa NSA sebenarnya diam-diam memiliki senjata ampuh untuk masuk ke ruang pribadi mereka. Nah, Tankado sendiri termasuk orang yang bersimpati dengan EFF—Electronics Frontier Foundation, sebuah koalisi yang menyokong kebebasan berpendapat secara online dan mendidik masyarakat tentang realitas dan bahaya hidup di era elektronik—sehingga akhirnya ia bersikap tak simpatik dengan proyek TRANSLTR itu.
Novel ini menceritakan bagaimana NSA berburu sandi untuk membuka dan memodifikasi Digital Fortress yang disimpan oleh Tankado sendiri, demi menyelamatkan masa depan NSA. Kematian misterius Tankado dan perburuan sandi Digital Fortress ini selanjutnya melibatkan dua tokoh utama dalam novel ini, Susan Fletcher, kriptografer kepala di NSA, dan pacarnya, David Becker, profesor termuda bidang bahasa dari Universitas Georgetown (semacam Robert Langdon dalam The Da Vinci Code).
Alur dan teknik bercerita Dan Brown dalam novel ini masih sangat khas: sinematik (filmis), seperti ketika Brown menampilkan kilasan peristiwa di Spanyol tentang Becker yang berburu cincin Tankado sambil dibayangi ancaman pembunuh misterius, bergantian dengan ketegangan penuh intrik di markas NSA antara Susan Fletcher dan petinggi serta staf NSA lainnya. Brown menyuguhkan kepingan fakta-fakta dengan amat cerdik, membiarkan pembaca dalam bayang tanda tanya, sehingga pembaca sulit untuk berhenti membaca hingga tuntas cerita.
Yang pasti, pembaca yang tamat melahap novel ini akan dibuat berpikir kembali dan mengambil jarak untuk menilai aktivitas badan spionase semacam NSA. Dapat dikatakan bahwa Brown seakan-akan meletakkan badan spionase semacam NSA di wilayah abu-abu, antara semangat patriotik yang diusungnya untuk menjaga kedaulatan negara dan keselamatan warganya dari ancaman bahaya, dan bayang-bayang sosok Bung Besar dalam rekaan novelis George Orwell yang menguntit setiap perilaku warga negara dengan kuasa tanpa batas dan semena-mena.
Akan tetapi, dengan akhir cerita yang cenderung berpihak pada NSA, dan beberapa pengungkapan aksi patriotik NSA dalam beberapa kasus, sangat mungkin pembaca yang tamat membaca novel ini akan dibuat ragu untuk melaknat NSA atau sejenisnya karena kemampuannya untuk menelanjangi privasi setiap orang. Padahal, dari perspektif Orwellian, semulia apa pun dasar tujuan Bung Besar, tak ada yang bisa menjamin bahwa kekuasaan Bung Besar yang menggurita itu akan konsisten digunakan sesuai dengan niat sucinya, dan bahwa ia tidak akan terjebak pada bujuk penguasa. Seperti disindir oleh penyair Roma, Juvenal, dalam bahasa Latin: Quis custodiet ipsos custodes? Siapa yang akan mengawasi para pengawas?
Tapi tentu saja pembaca dapat membuat penilaian dan memberikan perspektif tersendiri atas beberapa hal mendasar yang diangkat sebagai latar persoalan novel ini. Selain itu, lepas dari soal-soal mendalam dan serius yang bisa dikaji lebih lanjut dari novel ini, sebagai sebuah cerita, novel ini sangat menghibur, memikat, dan mencerdaskan.
Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 20 Agustus 2006.
Senin, 29 Mei 2006
“Ateis-Yahudi” Menafsir Salahuddin al-Ayyubi
Judul buku: Kitab Salahuddin: Sebuah Novel
Penulis : Tariq Ali
Penerjemah: Anton Kurnia
Penerbit: Serambi, Jakarta
Cetakan: Pertama, Januari 2006
Tebal: 592 halaman
Di antara sekian banyak tokoh muslim terkemuka, Salahuddin al-Ayyubi (1138-1193), yang di Barat dikenal dengan nama Saladin, memiliki tempat yang sangat terhormat di kalangan umat Islam. Ini terutama karena Salahuddin adalah pejuang muslim yang berhasil merebut kembali kota suci Yerusalem pada 1187, setelah dikuasai Tentara Salib selama hampir sembilan puluh tahun. Peran kunci Salahuddin dalam Perang Salib itu menancapkan pengaruh yang dalam seiring dengan residu Perang Salib itu sendiri yang hingga kini terus membayangi pola relasi kaum muslim dan Barat pada umumnya.
Kisah kepahlawanan Salahuddin telah banyak dicatat dalam buku-buku sejarah. Bahkan baru-baru ini penggalan kisahnya diangkat oleh Ridley Scott dalam film Kingdom of Heaven (2005). Lalu bagaimana jika kisah Salahuddin disajikan dalam bentuk novel?
Tariq Ali, seorang penulis dan aktivis Kiri Baru ateis kelahiran Pakistan, mengangkat riwayat hidup Salahuddin al-Ayyubi dalam novel ini dengan menggunakan pena seorang sejarawan Yahudi bernama Ibnu Yakub. Alkisah, atas rekomendasi Ibnu Maymun (1135-1204), filsuf besar Yahudi yang bekerja sebagai dokter pribadi Salahuddin di Mesir, Ibnu Yakub ditunjuk untuk menjadi penulis memoar Salahuddin. Ibnu Yakub mulai menuliskan memoar Salahuddin pada tahun 1181, ketika Salahuddin telah menjadi penguasa paling berpengaruh di dunia Islam. Untuk itu, Ibnu Yakub harus mundur ke belakang menggali masa kanak-kanak dan masa remaja Salahuddin ketika masih tinggal di Baalbek dan Damaskus. Saat itu semangat jihad sedang gencar dikampanyekan Sultan Nuruddin (w. 1174), penerus Sultan Imaduddin Zengi (w. 1146) yang memelopori perlawanan umat Islam menghadapi kaum Franj (Tentara Salib) dalam Perang Salib Kedua.
Peristiwa yang mengantarkan Salahuddin ke kejayaannya dimulai ketika ia diminta menemani pamannya, Shirkuh, yang menjadi panglima Nuruddin, dalam sebuah operasi militer untuk meredam gejolak politik di Mesir. Tidak saja kemenangan yang diraihnya di Mesir, tetapi tak lama kemudian Salahuddin dibaiat sebagai penguasa Mesir pada tahun 1169, setelah Shirkuh meninggal dunia secara mendadak.
Pamor Salahuddin terus melesat, sampai-sampai Nuruddin di Damaskus cemas akan tersaingi. Tapi takdir berbicara lain. Pada 1174 Sultan Nuruddin wafat, sehingga Salahuddin kemudian menjadi satu-satunya pemimpin muslim yang kekuasaannya paling berpengaruh di masa itu. Puncaknya, pada 2 Oktober 1187, Salahuddin berhasil merebut kota suci Yerusalem. Kisah Salahuddin dalam novel yang edisi bahasa Inggrisnya terbit pada 1998 ini ditutup saat dia meninggal dunia enam tahun kemudian, pada 1193.
Salahuddin sangat dikenal dengan sifat-sifatnya yang mulia: sederhana dan tak gila harta, cinta pada ilmu, saleh dan taat beribadah, dan sangat akrab serta toleran terhadap orang lain, bahkan kepada kaum Frank yang kafir. Pemilihan Tariq Ali untuk menampilkan sosok narator utama buku ini pada seorang yang beragama Yahudi seperti ingin menegaskan sikap toleran Salahuddin yang memang masyhur itu. Dalam hal penggambaran sosok pribadi Salahuddin yang lebih mendalam, Tariq Ali banyak menggali melalui perspektif Ibnu Yakub ini dan juga melalui Shadhi, penasihat yang juga “paman” Salahuddin. Dari dua tokoh fiktif ciptaan Tariq Ali ini pula pembaca akan menemukan banyak sisi alternatif dan mendalam dari setiap peristiwa, termasuk kisah-kisah cinta Salahuddin.
Pada titik inilah pembaca akan mendapatkan penggambaran yang cukup terang tentang pengalaman seksual Salahuddin terutama melalui kisah kehidupan dua orang istri Salahuddin dalam harem, Halimah dan Jamilah. Kehadiran sosok Halimah, yang muncul di bagian awal novel ini, mungkin akan cukup mengganggu bagi beberapa pembaca yang sebelumnya begitu menyucikan sosok Salahuddin. Bagaimana tidak: Halimah dikisahkan diperistri Salahuddin setelah perempuan cantik itu diperebutkan oleh dua orang perwira tinggi Salahuddin di Mesir.
Kisah-kisah romantika, bahkan juga skandal-skandal seksual, memang cukup banyak ditemukan dalam novel ini. Nyaris setiap tokoh penting tak suci dari hal semacam ini. Ibnu Maymun, yang di Barat dikenal dengan nama Maimonides, misalnya diceritakan sempat tertangkap basah berhubungan badan dengan istri Ibnu Yakub; Imaduddin al-Ishfahani (w. 1201), ulama dan penasihat Salahuddin, dan juga Sultan Imaduddin Zengi, digambarkan sebagai homoseks; ayah Salahuddin, Najmuddin Ayyub, diceritakan menjalin hubungan gelap dengan seorang penyanyi cantik bernama Zubaidah. Halimah dan Jamilah sendiri digambarkan sebagai pasangan lesbian.
Hingga tingkat tertentu, penggambaran semacam ini memang terkadang kelihatan agak mengganggu, terutama jika dilihat dari perspektif tingkat akurasi historis fakta-fakta tersebut. Sayangnya, tentang akurasi historis ini Tariq Ali tidak memberi penjelasan secara cukup detail, kecuali sekadar pernyataan bahwa sosok Ibnu Yakub, Shadhi, dan tokoh-tokoh perempuan dalam novel ini sepenuhnya rekaan belaka.
Mengangkat penggalan sejarah dalam bentuk novel, apalagi dengan eksplisit seperti dalam karya ini (yakni, bahwa ini adalah kisah Salahuddin al-Ayyubi), cenderung memicu persoalan epistemologis yang cukup serius: seberapa jauh dan seberapa mendalam aspek “fiktif” yang dihadirkan penulis sehingga pada tingkat tertentu (tidak) mencederai alur sejarah yang “sesungguhnya terjadi”? Meski di pengantar singkat Tariq Ali menegaskan bahwa “semakin seseorang menjelajahi kehidupan batin yang dibayangkan dari tokoh-tokohnya, kian penting ia mesti bersetia pada fakta-fakta dan peristiwa-peristiwa historis” (hlm. 15), pertanyaan di atas masih akan cukup menantang untuk dijawab dalam konteks novel ini.
Tentu saja, pada akhirnya persoalan ini semakin memperjelas karakter penulisan sejarah, baik dalam bentuk konvensional maupun yang difiksikan, yang pada dasarnya memang penuh nuansa interpretasi. Mengapa Tariq Ali berfokus pada kisah hidup Salahuddin, bukannya tokoh penting Perang Salib lainnya seperti Imaduddin Zengi, Nuruddin, atau Baybars (1260-1277), yang dalam sejarah Perang Salib sendiri kurang mendapat tempat yang sebanding dengan peran penting mereka, atau bahkan Richard si Hati Singa (1157-1199); mengapa Bahauddin Ibnu Syaddad (1145-1234), sahabat dan penulis biografi Salahuddin, sama sekali tidak dihadirkan dalam novel ini; mengapa momen peralihan Salahuddin menjadi sosok yang lebih religius tidak ditelisik lebih teliti; atau mengapa banyak skandal seksual yang dikemukakan—semuanya menegaskan aspek interpretatif dari penulisan sejarah.
Relevan dengan hal tersebut, maka kehadiran dan pergulatan tokoh-tokoh perempuan (fiktif) yang dihadirkan Tariq Ali dalam novel ini akan terlihat sangat jauh berbeda konteks dan maknanya dengan kehadiran sosok Sibylla dalam film Kingdom of Heaven yang disutradarai Ridley Scott, yang terkesan cenderung hanya “dieksploitasi” secara seksual, meski sosok Sibylla sendiri secara historis memang ada. Halimah dan Jamilah, dengan kecerdasan dan penguasaan mereka atas pemikiran filsafat Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, al-Farabi, dan sebagainya, dalam novel ini seperti hendak menjadi corong Tariq Ali untuk menunjukkan dunia patriarki Abad Pertengahan dan ketertenggelaman peran kaum perempuan baik dalam pergaulan sosial maupun dalam penulisan sejarah. Dalam percakapan dengan Ibnu Yakub, misalnya, Halimah mengutip Ibnu Rusyd yang mengkritik kecenderungan memanfaatkan perempuan secara terbatas untuk tujuan memiliki keturunan semata (hlm. 166); Jamilah juga mengutip Ibnu Rusyd untuk mempertegas peran penting perempuan dalam ranah sosial, bahkan juga intelektual (hlm. 216).
Dalam konteks historiografi, jika kita membuka catatan sejarah yang relevan seperti buku Perang Salib: Sudut Pandang Islam karya Carole Hillenbrand (Serambi, 2005) atau Perang Suci karya Karen Armstrong (Serambi, 2003), kita akan cukup kesulitan menemukan penggambaran peran dan nasib kaum perempuan dalam peristiwa sejarah Perang Salib. Dalam buku Hillenbrand misalnya hanya ada deskripsi singkat tentang bagaimana para perempuan kaum Franj dipandang oleh kaum muslim. Dalam konteks ini maka sosok Halimah dan Jamilah dalam novel ini dapat dilihat sebagai sebentuk kritik historiografis di tengah kecenderungan pembungkaman suara kaum perempuan di balik tirai patriarkis ilmu sejarah atau ilmu-ilmu sosial pada umumnya.
Lebih jauh lagi, Tariq Ali, yang sangat lantang mengkritisi kebijakan-kebijakan politik luar negeri Amerika dan Israel, terlihat juga hendak melakukan demitologisasi dan dekonstruksi atas pensucian tokoh-tokoh penting sejarah semacam Salahuddin, Sultan Nuruddin, Imaduddin al-Ishfahani, dan yang lainnya. Ini tak hanya berlaku dalam konteks skandal seksual seperti yang digambarkan di atas. Di beberapa bagian novel yang dinarasikan secara mengalir dengan latar kota Mesir, Damaskus, dan Yerusalem ini, tak ada semacam beban bagi Tariq Ali untuk menegaskan bahwa di awal kekuasaan Nuruddin maupun Salahuddin, keduanya tak segan memerangi sesama muslim untuk tujuan konsolidasi (hlm. 278, 362). Penggambaran dan data sejarah semacam ini sebenarnya juga dapat kita temukan dalam karya Hillenbrand (2005: 149, 207, 222) tersebut di atas, yang justru secara khusus mengolah dari sumber-sumber yang ditulis oleh sejarawan muslim Abad Pertengahan.
Lepas dari itu semua, novel yang disusun dengan cukup apik dan lugas ini layak diapresiasi, bukan karena novel ini dapat memberi pemahaman tentang akar historis konflik Islam dan Barat, seperti yang tertulis di sampul belakang novel terjemahan ini, karena memang novel ini tidak terlalu mengarah ke sana, tetapi lebih karena novel ini memotret pertemuan dan pergaulan budaya dan agama di Abad Pertengahan dari perspektif yang unik, seperti yang menjadi tema besar tiga novel Tariq Ali lainnya—Shadows of Pomegranate Tree (1996), The Stone Woman (2000), dan A Sultan in Palermo (2005). Sudut pandang yang diolah Tariq Ali dalam novel ini menempatkan tokoh dan peristiwa dalam lintasan kehidupan Salahuddin tidak saja dalam kerangka ideologi, teologi, atau narasi-narasi besar semata, tetapi lebih dikembalikan ke dunia sehari-hari—dunia fenomenologis, yang oleh Husserl disebut Lebenswelt—yang mendasar yang dihidupi oleh para subjek yang terlibat di dalamnya. Dengan cara ini, perspektif kemanusiaan akan sangat mungkin lebih mudah tampil ke permukaan dalam memotret peristiwa-peristiwa besar sejarah yang sarat dengan konflik dan tragedi, yang memang sangat membutuhkan cara pembacaan yang cermat dan bijak.
Versi lebih pendek tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 28 Mei 2006, 1 hari setelah Gempa Jogja.
