Friday, 6 December 2019

Annuqayah and the Environmental Concern


This video is an example of environmental program in Annuqayah islamic boarding school (Pesantren Annuqayah) Guluk-Guluk, Madura, East Java. Indonesia.

Mrs. Hasbiyah, as you’ve seen in the video, has been involving with this program since 2002 when she was a student (santri) in Annuqayah. Now she is a leader of local community (Sumber Makmur) that actively conserve, develop, produce, and promote the use of herbal medicine particularly in her nighbourhood. Basically, she has a weekly informal meeting with the community member (the member is about fourty women), and initially they pray together, recite the Qur’an, and learn about religious teaching. Beside that, the community produce herbal medicine and local food.

Through this traditionally typical local community in Madura, she has made an important effort and contribution to change the way of people think about health, medicinal plant that recently tend to be abandoned by the young generation in Madura, and also about the importance of caring and preserving the biodiversity in the environment to improve the quality of life.

This kind of program has been initiated and assisted by Annuqayah Community Service Bureau (Biro Pengabdian Masyarakat Pondok Pesantren Annuqayah) since its foundation in 1979. The foundation of this bureau affirm the religious orientation of the religious leader (kiai) in Annuqayah. They believe that religion is not only deal with ritual and eschatological things but also must have a contribution to concrete situation of the people. To do so, in the pesantren, it is not enough for students to learn only religious knowledge. Not all the students in the pesantren are expected to become a kiai (religious leader). The most important goal of religious based education in pesantren is that after they are graduated, the students could make a contribution, or give assistance and service to the people based on religious values.

In the first years after it was founded, the bureau has several program, such as reforestation and encouraging people to plant trees in their yard (Guluk-Guluk, Madura is a barren area, the soil is dominantly lime store rock), helping people to have access to clean water, and other program to improve the economy of the people. The idea and the implementation of these programs mainly take advantage of the local community that routinely carried out a meeting. The kiai, the religious leader of the typical local community, facilitate a discussion and propose the idea of the environmental project.

Thanks to hard work and participation of the community, in 1981 Pesantren Annuqayah received the prestigious Kalpataru environmental award from the Ministry of Environment Republic of Indonesia for reforestation program.

The program of the Bureau since its foundation has been developed based on the values of participation and cooperation. Through the program, the bureau tries to encourage people autonomy to improve the quality of life. But the most important message of the program is that religion should play a role to a better world and environment.

In the recent time, the program to promote and nurture environmental awareness in Pesantren Annuqayah not only carried out by the bureau. Environmental awareness now is also become one of the main focus in the boarding and formal education in Pesantren Annuqayah. Madrasah/schools in the pesantren now have a strong attention to environmental program and try to respond to contemporary challenge of environmental problem. One of the example is the attention to reduce the plastic waste in the school neighbourhood and also in the boarding. The school and the boarding make a strict rule to control the plastic waste.

The other important thing to be underlined is that the effort to raise environmental awareness in Pesantren Annuqayah also depends on the availability of exemplary figure that consistently practice the ecogreen life style in the daily life. Some figures of kiai in Pesantren Annuqayah actively promote the environmental awareness through their practice.


Short speech at Eco-Islam Conference, Karachi, 23 November 2019.


Read More..

Saturday, 15 June 2019

Tahlilan, Strategi Dakwah ala Islam Nusantara


Di desa tempat saya tinggal saat ini, di pedalaman Madura, ada tradisi tahlilan bersama di pemakaman umum desa di sore hari di hari lebaran Idulfitri. Sekitar pukul empat sore, sebagian warga desa—tua, muda, laki-laki, perempuan, remaja, anak kecil—berbondong-bondong datang ke pemakaman umum Desa Taro’an, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan. Beberapa warga yang mudik dari tempat mereka merantau pun turut hadir.

Tradisi tahlil bersama di hari lebaran sebenarnya sesuatu yang lazim khususnya di Madura. Di tanah kelahiran saya di Desa Guluk-Guluk, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, tahlilan dilakukan tepat setelah salat Idulfitri di masjid.

Berbeda dengan tahlilan yang dilaksanakan setelah salat Idulfitri yang juga digelar di tempat saya salat Id, tahlilan di pemakaman umum Desa Taro’an di sore hari di hari lebaran ternyata punya sedikit latar cerita yang cukup menarik.

Menurut para tetua di desa kami, dulunya di hari lebaran pemakaman umum desa kami sering ditempati orang-orang bermain taruhan atau judi. Waktunya biasanya antara setelah asar hingga jelang maghrib. Orang-orang bergerombol di sudut-sudut lokasi pemakaman. Warga resah. Tak ada yang berinisiatif mengambil tindakan.

Kemudian salah satu tokoh masyarakat desa mengajukan usulan. Namanya Kiai Zainuddin Abdul Mu’thi. Dengan beberapa tokoh masyarakat, dia mengajak warga untuk tahlil bersama di pemakaman umum di sore hari di hari lebaran. Tujuan utamanya agar orang-orang yang biasa main taruhan di pemakaman umum jadi sungkan dan berhenti main taruhan di sana.

Walhasil, usulan ini disambut baik oleh warga. Di sore hari di hari lebaran, warga berduyun-duyun ke pemakaman umum Desa Taro’an. Beberapa orang membawa alas. Ada juga yang menyiapkan pengeras suara. Tahlil pun digelar secara rutin tiap lebaran Idulfitri—juga Iduladha.

Sejak saat itu, orang-orang yang bermain taruhan di pemakaman tak ada lagi. Tak terdengar kabar apakah orang-orang itu masih melanjutkan kebiasaannya di tempat yang lain.

Dalam tahlilan yang rutin dilaksanakan, Kiai Zainuddin yang memimpin tahlilan juga mengingatkan warga pada leluhur desa yang makamnya ada di pemakaman umum tersebut. Memang, orang-orang di Desa Taro’an tidak tahu tentang riwayat dan silsilah tetua desa yang makamnya ada di pemakaman umum desa. Makamnya pun cukup unik. Dua makam yang dari batu nisannya teridentifikasi jenis kelamin laki-laki dan perempuan terletak di tengah pemakaman umum desa. Dua makam ini dikelilingi oleh batu karang setinggi sekitar setengah meter. Cukup aneh, karena lokasi Desa Taro’an berjarak sekitar 6,5 km dari pantai.

Jadi, selain memberantas maksiat, kegiatan tahlilan ini juga menjadi sarana untuk menyambungkan silsilah keimanan dan dakwah warga dengan leluhur desa yang dipercaya merintis dakwah Islam di desa kami. Hal ini terus diingatkan setiap acara tahlil digelar, sambil juga ditambahi dengan pesan-pesan keagamaan yang bersifat kontekstual.

Tahun demi tahun, perhatian masyarakat Desa Taro’an pada pemakaman umum di desanya semakin membaik. Dua tahun yang lalu, secara bergotong royong masyarakat desa membangun congkop atau pendopo kecil tepat di tengah lokasi pemakaman umum, di sekitar dua makam leluhur desa. Ukurannya sekitar 10 x 8 meter.

Setelah bangunan ini selesai, masyarakat juga membuat kegiatan rutin bulanan. Setiap hari Jum’at legi, masyarakat Desa Taro’an menggelar acara khataman Alquran, dimulai dari pagi-pagi benar setelah subuh hingga siang. Selain mendoakan para leluhur, khataman juga diniatkan untuk keselamatan desa dan masyarakatnya.

Bagi saya, kisah ini memberikan sedikit gambaran tentang pola dan strategi dakwah ala Islam Nusantara yang teduh dan tidak menggunakan cara kekerasan. Saya yakin, model dan strategi dakwah Islam yang seperti ini cukup banyak untuk ditemukan di tingkat akar rumput, meski minim publikasi.


Read More..

Tuesday, 4 June 2019

Pesan Kebangsaan Idul Fitri


Idul Fitri memiliki makna spiritual yang bersifat individual dan sosial. Pada tingkat perorangan, Idul Fitri adalah perayaan kembalinya seseorang ke fitrah kemanusiaan yang suci setelah melalui tempaan puasa satu bulan penuh. Melalui olah rohani pengendalian diri selama bulan puasa, pribadi yang berhasil akan meraih kemenangan dengan kembali ke status asal penciptaan—seperti terlahir suci.

Pemahaman tentang makna spiritual Idul Fitri secara sosial dapat berangkat dari pemahaman fitrah individual manusia. Menurut M Quraish Shihab, penamaan manusia dengan kata al-insan—dalam bahasa Arab yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia—diambil dari kata uns yang berarti senang atau harmonis. Artinya, manusia memiliki fitrah mendasar untuk menjalin hubungan baik yang bersifat harmonis dengan sesama.

Manusia yang jalinan hubungannya dengan orang lain terganggu pasti juga akan mengalami kegelisahan. Hidupnya tidak akan bisa tenang. Manusia yang menyakiti orang lain, mendendam, atau melakukan dosa, berarti telah mengotori fitrah kemanusiaannya.

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, di antara pesan Idul Fitri yang penting digarisbawahi, dorongan untuk menjaga dan memperkuat jalinan harmoni antarmanusia. Berbagai fenomena kehidupan kebangsaan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan, ancaman terhadap harmoni kebangsaan tidak pernah usai. Memang benar di balik keragaman bangsa juga tersimpan potensi bekerja sama menuju bangsa yang unggul. Namun, tidak sedikit pula gejala yang menunjukkan bahwa harmoni itu dapat terganggu.

Salah satu pengganggu yang semakin mengkhawatirkan adalah persebaran hoaks karena intensitasnya semakin meningkat dan dampaknya semakin meluas mulai dari lokal hingga nasional. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, dalam empat bulan pertama tahun 2019, persebaran hoaks media sosial terus meningkat. Kemenkominfo mencatat ada 175 hoaks di bulan Januari 2019, 353 di bulan Februari, 453 di bulan Maret, dan 486 di bulan April.

Hoaks yang mengancam harmoni kebangsaan ini terutama berkaitan dengan isu politik. Identifikasi Kemenkominfo, periode Agustus 2018 hingga April 2019, dari 1.731 hoaks, 620 di antaranya masuk dalam kategori politik dan 210 masuk kategori pemerintahan.

Hoaks di bidang politik terkait pemilu yang baru usai digelar. Dampak persebarannya membuat masyarakat terbelah ke dalam kubu-kubu politik yang terus membangun narasi disharmoni yang tidak sehat. Beberapa dampaknya bahkan berupa tindak kekerasan seperti Mapolsek Tambelangan di Kabupaten Sampang pada 22 Mei lalu akibat hoaks yang ditelan mentah-mentah.

Narasi disharmoni terus terbangun terutama di media sosial, disusun oleh kaum awam yang memang kurang berpendidikan hingga dilakukan oleh mereka yang secara formal sudah cukup terdidik. Narasi disharmoni dan ancaman perpecahan sangat mengganggu kehidupan berbang-sa dan bernegara karena jalan untuk membangun dan meningkatkan mutu kehidupan masyarakat akan terhambat. Nalar dan emosi warga banyak dikotori informasi sesat, sehingga ruang kerja sama untuk berbuat kebajikan menyempit.

Secara teknis, hoaks dapat diatasi dengan klarifikasi dan peningkatan literasi. Kemenkominfo sendiri tak hanya berhenti mengidentifikasi hoaks di internet, tapi juga memverifikasi dan memvalidasi, sehingga diharapkan dapat memulihkan keadaan. Selain Kemenkominfo, banyak komunitas yang juga gigih mengidentifikasi dan mengklarifikasi hoaks.

Harmoni kebangsaan yang terancam hoaks dapat juga dilawan dengan memperkuat makna spiritual Idul Fitri khususnya dalam konteks fitrah harmoni manusia sebagai makhluk sosial. Dengan merayakan Idul Fitri, umat Islam khususnya didorong menjernihkan sikap batin dalam memandang dan berinteraksi dengan orang lain.

Dalam literatur dan tasawuf, umat Islam sering diingatkan tentang bahaya prasangka, dengki, dan dendam. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad Saw mengingatkan agar kita berhati-hati dengan prasangka karena bisa serupa berita bohong. Dalam hadis yang lain dikatakan, jika di benak terlintas prasangka buruk tentang orang lain, jangan melayani dan melanjutkannya dengan tindakan lain.

Hoaks tentang “polisi Tiongkok” dalam aksi demo yang berlanjut rusuh pada 21-22 Mei lalu dapat menjadi cermin dan pelajaran tentang tindakan ceroboh dan grusa-grusu yang dipupuk oleh prasangka. Pelaku tanpa menyadari dapat mengganggu harmoni dan mengancam keutuhan bangsa.

Sikap dengki juga tak kalah berbahaya. Imam Syafi’i (w 820) mengingatkan, setiap permusuhan sejatinya dapat diharapkan bisa membaik, kecuali yang didasari sikap dengki. Sikap dengki mengotori pikiran seseorang, sehingga menutup pintu nalar dan hati yang jernih.

Maaf dan Cinta

Prasangka dan dengki mengotori hati, sehingga mengganggu fitrah harmoni sebagai modal pokok dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Idul Fitri mengajarkan agar umat terus belajar mencapai tingkat ketulusan maaf yang sejati. Maaf adalah wujud kesadaran bahwa dendam, kebencian, dan kemarahan hanyalah penghalang kebebasan yang justru memerangkap kita di ruang ego yang sempit dan pengap.

Orang yang mampu memberi maaf dapat menahan diri dari upaya membalas dendam. Menurut ajaran Islam sebagaimana tertuang dalam Surah Annahl ayat 125, membalas dengan setimpal itu diizinkan. Akan tetapi, memaafkan itu jauh lebih baik. Jalaluddin Rakhmat menerangkan, memaafkan itu lebih baik. Menurutnya, manusia cenderung membalas lebih buruk, sehingga terjerembap ke perilaku zalim.

Dalam kehidupan sosial, maaf di sini tentu saja tidak berarti kita menafikan nilai dan dampak perilaku buruk, zalim, dan tidak adil. Perbuatan buruk tetap harus diadili. Namun, maaf di sini lebih sebagai sebuah sikap batin dalam melihat dan membuka jalinan dengan orang lain. Sebab, tertutupnya pintu maaf juga berarti tertutupnya kemungkinan jalinan harmoni dan kerja sama dengan orang lain.

Pada lapisan makna yang terdalam, memaafkan adalah ungkapan cinta. Memberi maaf dengan tulus merupakan ungkapan cinta pada orang yang dimaafkan. Ini tingkat tertinggi sikap batin memaafkan. Jika terus dipupuk akan menjadi kekuatan besar dalam merawat harmoni kebangsaan.

Umat Islam yang sudah menjalani puasa harus berbesar hati bahwa dirinya sudah berhasil melewati jihad dan latihan batin menaklukkan berbagai bentuk nafsu sepanjang bulan. Inilah yang perlu terus dijaga. Sebab di antara pesan kebangsaan Idul Fitri yang cukup kontekstual saat ini adalah panggilan untuk senantiasa menjaga fitrah harmoni kemanusiaan sebagai dasar bagi upaya untuk terus menebarkan kebajikan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 4 Juni 2019.

Read More..

Thursday, 18 April 2019

Para Pengilham dan Bahan Baku Harapan


Judul buku: DI’s Way: Pribadi-Pribadi yang Menginspirasi
Penulis: Dahlan Iskan
Penerbit: Noura Books, Jakarta
Cetakan: Pertama, Februari 2019
Tebal: 200 halaman
ISBN: 978-602-385-765-4

Harapan adalah penggerak untuk mendorong perubahan di tengah situasi yang menantang. Bangsa yang mau bangkit harus bisa mengindustrialisasi harapan (manufacturing hope)—istilah yang diperkenalkan Dahlan Iskan setelah diangkat menjadi Menteri BUMN pada tahun 2011. Untuk mengindustrialisasi harapan, kata Dahlan Iskan, bahan bakunya adalah niat baik, ikhlas, kreativitas, tekad, dan totalitas.

Buku ini memuat 25 kisah sosok-sosok mengilhamkan yang dijumpai Dahlan. Melalui esai-esai renyahnya, Dahlan menjadi corong untuk menyuplai bahan baku harapan untuk bangsa ini.

Dahlan berkisah tentang Irwansyah, pribadi inspiratif dari Desa Untoronadi, Magetan. Irwansyah menjadi semacam Bulog di desanya. Setelah panen, dia membeli gabah petani yang harganya sedang anjlok. Tapi harga belinya tidak lantas ikut anjlok juga dan selesai setelah transaksi. Irwansyah menjual gabah tersebut saat harga sudah naik. Hasil jualnya dihitung ulang: uang yang sudah diterima petani dihitung, dipotong biaya proses pengeringan, dan sisanya dikembalikan ke petani.

Dari mana Irwansyah mengambil keuntungan? Dia mengambil laba dari pekerjaannya sebagai penjual pupuk. “Strategi Bulog” Irwansyah digunakan untuk mempertahankan loyalitas konsumennya.

Irwansyah sejauh ini hanya mampu membeli gabah dari 40 petani di desanya. Tapi peran dan strateginya luar biasa. Kata Dahlan, Irwansyah menggabungkan peran Bulog, Bank Indonesia, Bappenas, Kementan, dan BUMN untuk level desa (hlm. 132-137).

Esai-esai dalam buku yang semula terbit di “rumah baru” Dahlan, disway.id, ini juga menuturkan kehebatan sosok-sosok pengilham di bidang teknologi. Dahlan berkisah tentang Profesor Raldi Artono Koestoer yang di kartu namanya tak mencantumkan gelar apa pun. Kata Dahlan, Profesor Raldi bukan intelektual biasa. Dia intelektual egaliter. Kerja intelektulanya tak hanya dengan disiplin berpikir keras. Dia juga membawa misi. Misi kemanusiaan.

Profesor Raldi membuat inkubator murah untuk mengatasi masalah meninggalnya bayi prematur. Inkubator buatan Profesor Raldi hanya butuh listrik 50 watt. Beratnya 13 kg. Tapi inkubatornya ini hanya dijual khusus. Yakni khusus untuk pembeli yang mau jadi relawan: meminjamkan untuk orang miskin (hlm. 17-21).

Dahlan juga menulis tentang Garuda Maintenance Facility (GMF), salah satu anak perusahaan Garuda yang sukses besar. GMF yang dipimpin oleh Ir. Iwan Joeniarto MM ini ternyata dipercaya melayani perawatan pesawat banyak maskapai asing, seperti KLM. Total, GMF yang berlokasi dekat landasan pacu bandara Soekarno-Hatta melayani maskapai dari 15 negara (hlm. 26).

Namun kadang inovasi, niat baik, dan kreativitas anak negeri menghadapi kendala yang cukup ironis. Rudy Tavinos membuat ide brilian dengan membuat kilang di dekat sumur minyak sehingga minyak mentah tidak perlu diangkut ke sana kemari.

Membangun kilang butuh biaya besar. Sekitar 100 triliun rupiah. Balik modalnya lama. Jadinya rencana membangun kilang tak kunjung nyata sehingga BBM impor terus. Rudy muncul dengan ide sederhana tapi jitu: membuat “kilang mulut tambang”. Meskipun kapasitasnya kecil, tapi mangkus. Tantangan teknis berhasil diatasinya. Hasilnya, produksi sumur minyak Exxcon Cepu diolah di kilang Rudy.

Akan tetapi, kisah Rudy berakhir menyedihkan. Kata Dahlan, lumbung itu tidak untuk ayam. Keluar aturan pemerintah yang melarang jual minyak mentah di mulut tambang. Ironis. Akhirnya kilang Rudy tutup (hlm. 124-128).

Pada titik ini, kita melihat bahwa Dahlan dalam esai-esainya ini tidak hanya menyodorkan bahan baku harapan. Dahlan juga memercikkan cara pandang kritis. Bahwa bahan baku harapan pada akhirnya juga harus dikelola dan disinergikan dengan kebijakan oleh para pengurus publik.

Seperti juga saat Dahlan berkisah tentang Erika Eriyanti, petani wortel dari Batu, Malang, yang hanya lulusan SMA. Dia memimpin rekan-rekannya untuk belajar dan berinovasi, termasuk belajar kepada para petani di Berastagi, Sumut. Di esai ini, Dahlan menyentil dengan humor, dengan mengatakan bahwa petani seperti Erika ini terlihat kian mandiri, berusaha maju tanpa “bantuan dari pemerintah, misalnya pemerintah Tiongkok” (hlm. 41).

Kisah para pengilham di buku ini adalah senjata ampuh untuk menyuburkan harapan dan melawan sikap pesimistis dalam menatap masa depan. Kisah-kisah dalam buku ini penting untuk dicerna dan disebarkan, agar model kreativitas, tekad, ketulusan, dan kerja positif lainnya dapat ditiru dan dikembangkan di tempat lainnya.


Tulisan ini adalah naskah awal yang kemudian disunting redaksi dan dimuat di Koran Jakarta, 18 April 2019.


Read More..