Saat beberapa pekan lalu berada di tengah puluhan bahkan mungkin ratusan peziarah di makam Maulana Malik Ibrahim di kota Gresik, saya bertanya-tanya: apa yang membuat orang-orang ini beramai-ramai datang ke tempat ini? Apa sebenarnya yang menjadi penarik atau magnet di tempat ini sebagaimana di makam-makam Wali Songo lainnya?
Meski dibesarkan di lingkungan pesantren, saya baru tersadar bahwa ternyata lingkungan terkecil saya, yakni keluarga dan perkampungan Pesantren Annuqayah di Guluk-Guluk, Sumenep, rasanya tidak memiliki tradisi ziarah yang sangat kuat. Tak ada rombongan ziarah yang sifatnya rutin dan diikuti oleh jumlah yang besar ke makam Wali Songo setiap tahunnya.
Saya mendengar kisah orang-orang yang berziarah ke makam Wali Songo atau makam para wali dan ulama lainnya dengan latar nazar tertentu. (Dalam tradisi Islam, nazar berarti janji untuk berbuat sesuatu (dalam hal ini: berziarah) saat maksud seseorang terkabul.) Ada pula orang yang berziarah lantaran sedang menghadapi satu masalah berat yang ingin diselesaikan atau memiliki hajat tertentu yang ingin diwujudkan.
Tentu saja saya tak bisa menebak isi kepala orang-orang yang saya lihat saat itu. Para peziarah itu, yang di antaranya saya lihat mengenakan pakaian seragam, masing-masing menyimpan maksud kedatangannya ke tempat itu dalam dirinya masing-masing. Saya sendiri saat itu sebenarnya berada di tempat itu selama beberapa waktu secara kebetulan.
Namun, saat saya sadar bahwa saya ada di makam Maulana Malik Ibrahim, saya jadi terpikir sesuatu. Saya teringat buku-buku sejarah Wali Songo dan buku sejarah masuknya Islam di Indonesia, seperti yang ditulis Agus Sunyoto dan Azyumardi Azra. Ingatan saya menyebutkan bahwa Maulana Malik Ibrahim yang inskripsi makamnya bertuliskan angka tahun 882 H/1419 M dianggap sebagai penyebar Islam tertua di tanah Jawa. Dalam buku Atlas Wali Songo (2012), Agus Sunyoto mengutip pendapat beberapa sejarawan yang menegaskan hal ini.
Tepat dalam statusnya sebagai penyebar Islam tertua di tanah Jawa itulah pikiran saya mengatakan bahwa nilai penting ziarah ke makam Maulana Malik Ibrahim ini mungkin adalah untuk merawat dan menyegarkan jalinan silsilah keimanan saya. Jika Maulana Malik Ibrahim adalah penyebar Islam tertua di tanah Jawa maka tentu saja keyakinan keagamaan yang saya miliki dan ajaran keagamaan yang saya anut saat ini bersumber dari peranannya itu. Keimanan saya pastilah tersambung dengan kepercayaan yang serupa dengan Maulana Malik Ibrahim itu.
Saya jadi terpikir bahwa di setiap tempat, dengan skala yang sempit hingga luas, pastilah ada tokoh kunci yang menjadi pelopor dakwah Islam sehingga ajaran agama Islam menjadi hidup dan berkembang di sana. Dan dalam hal ini, Maulana Malik Ibrahim berada dalam konteks tempat dengan skala yang luas.
Menurut saya, sangat pantas kiranya kita memberi penghormatan dan berupaya merawat silsilah keimanan kita dengan cara yang secara subjektif cocok untuk diri kita masing-masing. Bagi saya, berziarah ke Maulana Malik Ibrahim dan atau para pelopor dakwah Islam lainnya, seperti untuk wilayah Madura kita mengenal Kiai Kholil Bangkalan, dapat menjadi upaya reflektif dan spiritual untuk merawat dan menyegarkan bangunan keimanan diri saya.
Yang pertama mungkin semacam rasa syukur dan penghormatan, karena mereka, para ulama dan pendakwah itu, telah menjadi perantara bagi sampainya keimanan dan ajaran Islam pada diri saya. Selain itu, kadar ketokohan, spiritualitas, serta kecintaan dan kedekatan mereka dengan Allah swt pada tingkat tertentu nilainya sangatlah istimewa, sehingga menjadi faktor penting yang membuat umat Islam tertentu seperti saya yang dibesarkan dalam tradisi pesantren bertawasul (tawassul) melalui para wali tersebut.
Kerangka seperti ini tampaknya penting untuk digarisbawahi untuk memberi nilai lebih pada kegiatan ziarah yang selama ini sering dilakukan oleh umat Islam Indonesia pada khususnya. Ziarah ke para wali atau ulama jika bisa jangan hanya dilakukan lantaran adanya keperluan yang sifatnya “pragmatis” saja, tapi juga diletakkan sebagai upaya untuk menelusuri jalinan keimanan kita dan merefleksikannya secara subjektif dalam diri kita masing-masing. Dengan demikian kita berharap agar bangunan keimanan kita dapat terus terawat dan dapat tersambung ke sumber pokok keimanan kita, yakni Allah swt.
Hanya Allah-lah yang dapat memberi pertolongan untuk kita. Wallahu a‘lam.
Sabtu, 05 Juli 2014
Merawat Silsilah Keimanan
Label: Journey, Reflection, Religious Issues, Spirituality
Minggu, 23 Mei 2010
Menikmati Tarian Aurora di Langit Trondheim
Jika kau ditanya tentang kota di Eropa yang pada akhir April salju masih turun di sana, Trondheim adalah salah satunya. Ia terletak hampir 500 kilometer ke arah utara dari ibu kota Norwegia, Oslo. Kota yang didirikan oleh Raja Norwegia Olav Tryggvason pada 997 ini memang memiliki pesona alam yang khas.
Letaknya yang mendekati lingkar Kutub Utara membuat kota ini akan sangat unik di puncak musim dingin dan musim panas. Memasuki Mei, saya sempat terpaku mengamati jadwal salat bulanan yang saya dapatkan dari Masjid Komunitas Muslim Trondheim. Betapa tidak, di akhir Mei, matahari terbit pada pukul 03.26 dan baru akan tenggelam pada pukul 23.07.
Dari tetangga kamar yang asli orang Norwegia, saya menjadi tahu bahwa di sekitar pertengahan Juni-Juli, rentang waktu dari matahari terbenam hingga terbit tak sampai empat jam, sehingga bisa dibilang ketika itu Trondheim nyaris tak punya malam. Saya jadi teringat potongan syair lagu kelompok musik asal Swedia, Roxette, berjudul June Afternoon. "It's a bright June afternoon, it never gets dark. Wah-wah! Here comes the sun".
Saya sulit membayangkan bagaimana umat Islam berpuasa pada bulan Juni atau Juli di sini. Tak hanya soal ibadah, saya pun merasa agak kesulitan mengikuti irama perubahan waktu yang menjadikan siang merentang semakin panjang. Merasa lebih nyaman belajar (membaca dan menulis) di saat malam, kini saya agak kerepotan mengatur jadwal kerja ketika hari terasa tak kunjung petang. Padahal, di sepanjang Mei, saya mesti berkejaran dengan tenggat akhir penulisan tesis.Sebaliknya, di puncak musim dingin, antara akhir Desember dan awal Januari, siang hanya berlangsung sekitar empat jam. Cuaca pun bisa menjadi sangat ekstrem. Beberapa hari di akhir Februari yang lalu, saya sempat mengalami suhu 20-24 derajat Celsius di bawah nol!
Di tengah suhu ekstrem dan guyuran salju, saya tetap memberanikan diri berjalan kaki dari asrama mahasiswa Moholt Studentby ke kampus Universitas Sains dan Teknologi Norwegia atau Norges Teknisk-Naturvitenskapelige Universitet (NTNU) Dragvoll. Jarak 2,2 kilometer terasa lebih jauh. Di samping karena mendaki, guyuran dan tumpukan salju di jalan terasa cukup memperlambat dan membuat berat langkah-langkah kaki saya.
Namun saya tahu bahwa mungkin saya akan cukup kesulitan untuk punya pengalaman seperti ini lagi. Sebab, menurut kabar di koran lokal Trondheim, cuaca hari itu memang terbilang ekstrem, dan menurut catatan hanya terpecahkan oleh cuaca pada 52 tahun yang lalu.
Selain demi menghemat biaya hidup yang relatif lebih mahal dibanding negara Eropa lainnya, berjalan kaki ke kampus Dragvoll memang menyenangkan. Mendaki jalanan yang menanjak, saya mendapatkan pemandangan Kota Trondheim yang seolah menyerupai negeri dongeng.
Saat mulai mendekati Dragvoll, saya dapat menyaksikan lanskap Kota Trondheim dari ketinggian. Menara Tyholt di area kampus Departemen Teknologi Kelautan NTNU tampak menjulang. Di menara setinggi 124 meter itu, saya pernah menikmati pemandangan Kota Trondheim yang masih bertabur salju di sebuah restoran yang bergerak memutar di puncak menara.
Dari atas bukit menuju Dragvoll, di seberang kota yang penduduknya hanya sekitar 170 ribu jiwa ini, tampak teluk kecil dan perbukitan bertutup salju menjadi batas akhir pandangan mata saya. Tapi yang paling menarik perhatian saya adalah sisi yang berseberangan dengan hamparan Kota Trondheim itu, yakni bukit-bukit yang hampir sepanjang lerengnya dipenuhi dengan rumah kayu berwarna-warni. Ada yang merah, kuning, hijau, biru, putih, abu-abu, dan berbagai nuansa warna indah yang agak sulit saya gambarkan.
Balkon dan gazebo kecil di beberapa rumah tampak benar-benar memikat. Salah satu di antaranya tampak sebuah bangunan besar yang membentuk seperti tangga berundak mengikuti kontur bukit. Memang bukitnya tak setinggi dan securam Minas Tirith, tapi cukup untuk mengingatkan saya pada kota rekaan J.R.R. Tolkiens dalam trilogi terakhir The Lord of the Rings, yang tergambar begitu eksotik di versi filmnya, itu.
Saat menyusuri jalan ke Dragvoll, sering kali saya terpesona ketika mendapati langit benar-benar cerah dan biru serta sisa-sisa salju masih tampak di atap-atap rumah dan sisi bukit yang terjal itu. Lalu langkah-langkah sepatu saya di atas salju melahirkan bunyi yang khas. Mendekati kampus Dragvoll, lereng yang dipenuhi rumah kayu berganti dengan hutan kecil yang mengelilingi salah satu sisi kampus. Sungguh pemandangan yang benar-benar indah.
Moholt atau Dragvoll mungkin bisa dibilang sudah mendekati pinggiran Kota Trondheim. Sementara itu, pusat kota Trondheim sendiri yang tak begitu luas terbilang cukup unik. Ia berada di sebuah "pulau kecil" yang terbentuk oleh liukan mulut Sungai Nidelva yang berjumpa dengan Trondheimsfjorden—teluk kecil Trondheim yang berada di sisi utara.
Sebagaimana pusat kota pada umumnya, di sana ada beberapa pusat belanja, toko-toko, dan kantor pemerintah. Sebuah pusat belanja, Trondheim Torg, berada tepat di pusat kota. Trondheim Torg terasa tampak sangat sederhana untuk ukuran kota terbesar ketiga di Norwegia.
Hal paling menarik di pusat kota tentu saja adalah Katedral Nidaros. Ia merupakan landmark kota yang pernah menjadi ibu kota Norwegia hingga 1217 ini. Katedral yang mulai dibangun pada 1070 ini hingga sekarang menjadi monumen bangunan Gothic terpenting di Norwegia dan menjadi tujuan utama para peziarah sejak Abad Pertengahan untuk Eropa wilayah utara. Peran pentingnya terlihat dari fakta bahwa raja Norwegia dinobatkan di sini.
Pesona alam dan jejak sejarah menyatu dalam kota yang menjadi pusat pendidikan dan riset teknologi di Norwegia ini. Masih di kawasan pusat kota, setiap pulang Jumatan, saya sering sulit menahan godaan untuk menikmati pemandangan rumah-rumah kayu yang di antaranya berasal dari abad ke-18. Rumah kayu tipikal Skandinavia yang berwarna-warni itu berderet rapi di tepi Sungai Nidelva yang meliuk, tepatnya di dekat kawasan Kota Lama.
Di situ pula ada jembatan tua yang pertama dibangun menjelang akhir abad ke-17. Berdiri di tengah jembatan, saya menatap ke arah liukan sungai dengan airnya yang bersih dan tenang, sementara di kejauhan tampak gedung tua kampus NTNU Gløshaugen berdiri di atas ketinggian bukit. Sungguh akan sempurna jika mendung tak sedang menutupi angkasa.
Tak jauh dari jembatan itu, terdapat Sykkelheisen Trampe, lift untuk sepeda yang merupakan satu-satunya di dunia. Lift yang dibangun pada 1993 itu panjangnya 130 meter, tepat berada di perempatan kawasan Kota Lama. Sayang, saat terakhir saya ke sana, lift itu tampak belum dioperasikan—mungkin karena tumpukan salju belum benar-benar bersih.
Lebih dari itu semua, pengalaman paling menarik selama tinggal di Trondheim sejak awal Februari lalu adalah saat saya menyaksikan aurora. Sebelumnya, saya tak menyangka bahwa di Negeri Viking ini saya akan dapat menyaksikan salah satu fenomena alam yang hanya ada di beberapa tempat di belahan bumi itu.
Aurora Borealis, cahaya langit di dekat wilayah lingkar Kutub Utara yang terlihat di malam hari, saya saksikan di pekan kedua April lalu. Begitu mengetahui akan ada aurora dari laman ramalan cuaca yang biasa saya lihat, menjelang tengah malam saya bersiap di puncak salah satu bukit di kawasan kompleks asrama Moholt. Bersama puluhan mahasiswa lain yang ternyata sudah berada di sana lengkap dengan kamera mereka, saya begadang menikmati tarian aurora di langit utara.
Dari atas bukit itu, aurora kadang tampak melintang seumpama selendang yang dikibarkan di atas bangunan kompleks mahasiswa Moholt Studentby. Jauh di belakang, tampak bukit yang bercahaya oleh lampu-lampu kota. Warna kehijauan bertaburan di langit di balik pohon yang tampak masih meranggas. Titik-titik bintang kecil bersinar keputihan di kejauhan.
Cahaya kehijau-hijauan itu berpendar di langit. Kadang ia membentang panjang dari timur ke barat, berkelebat, lalu mengental, meremang, menebal, dan menipis. Di saat yang lain, ia tampak menumpuk di langit utara dalam area yang cukup melebar, lalu sesekali mementaskan tarian lembut sebelum akhirnya menghilang ditelan langit cerah bertabur bintang. Dari sudut yang berbeda, kadang cahaya kehijauan itu membentuk seperti tanduk Viking yang menggantung di langit.
Saya tahu, teman-teman saya, mahasiswa Indonesia, yang berada di negara Eropa lainnya mungkin akan merasa iri melihat foto dan catatan saya menyaksikan aurora, karena aurora hanya ada di langit utara. Tapi saya juga perlu memberi tahu bahwa tinggal di Trondheim menuntut ketahanan mental.
Bagaimanapun, kota yang topografinya berbukit dan beriklim maritim ini bisa dibilang cukup terpencil. Ya, Norwegia, seperti juga Swedia, adalah negeri yang sunyi. Di dua negara Skandinavia ini, wilayah yang dimanfaatkan tak lebih dari 4 persen. Selebihnya hanya lahan kosong, hutan, danau, dan semacamnya. Setelah Oslo, kota besar terdekat dari Trondheim adalah Bergen, yang berjarak sekitar 650 kilometer.
Kesunyian mungkin akan terasa semakin menjadi-jadi saat musim dingin begitu panjang, dan salju masih tetap saja turun bahkan hingga awal bulan Mei. Rumput tak kunjung menghijau, pepohonan masih kerontang, dan langit cukup sering berwajah muram. Saya kadang menjadi agak heran, mengapa St. Olav dahulu menamai kota ini Trondheim, yang berarti "rumah yang nyaman ditinggali"?
Saya bertanya-tanya, jika awal Mei salju masih turun, seperti saat saya menulis catatan ini, lalu kapan saya akan menikmati daun dan bunga-bunga yang bersemi? Semoga Juni. Ya, mungkin Juni, bersama Judas Priest yang akan mengentak dan meramaikan Kota Trondheim dalam ajang festival musik rock tahunan (Trondheim Rock) di sini.
Memandangi butiran salju yang turun pagi ini, saya pun berharap semoga salju yang saya saksikan di pekan pertama bulan Mei ini tak akan menjadi salju terakhir dalam pengalaman hidup saya.
Tulisan ini dimuat di Koran Tempo, 23 Mei 2010.
Minggu, 14 Februari 2010
Mengunjungi Rumah Anne Frank
Dari luar, tak tampak sesuatu yang istimewa pada rumah itu. Di tepi sebuah kanal, berjarak sekitar 1,5 km dari Amsterdam Centraal Station, rumah yang berdiri kokoh itu tampak biasa saja, seperti rumah-rumah lain di sebelahnya. Namun, di siang hari, di pintu masuk rumah itu akan sering tampak orang-orang berbaris panjang membentuk antrean.
Rumah itu tak lain adalah “Anne Frank House”, sebuah museum yang mendokumentasikan kisah persembunyian Anne Frank dari kejaran rezim Hitler Jerman di era Perang Dunia Kedua. Gadis yang bernama lengkap Annelies Frank itu adalah satu dari jutaan korban pembantaian atas orang-orang Yahudi oleh Hitler.
Gadis kelahiran Frankfurt 12 Juni 1929 ini pada tahun 1933 bersama keluarganya mengungsi ke Belanda, saat Hitler memulai kekuasaannya yang anti-Yahudi di Jerman. Namun, pada bulan Mei 1940, tentara Jerman berhasil menduduki Belanda. Perburuan Yahudi pun juga terjadi di Belanda.
Terhitung sejak 6 Juli 1942, keluarga Anne Frank bersembunyi di rumah yang kini telah dijadikan museum itu. Lebih dua tahun mereka bersembunyi di tempat itu, sampai akhirnya di bulan Agustus 1944 tentara Nazi berhasil menemukan mereka.
Bagaimana kisah Anne Frank dapat tersiar ke seluruh penjuru dunia? Selama di persembunyian, Anne Frank menuliskan catatan-catatan hariannya dan akhirnya diterbitkan pertama kali pada tahun 1947. Saat ini, buku harian yang berjudul The Diary of a Young Girl itu telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa dunia, termasuk bahasa Indonesia.Saat berkunjung ke museum ini, saya berusaha menangkap dari dekat suasana tempat yang menjadi latar penulisan salah satu autobiografi atau catatan harian yang paling menarik untuk dibaca itu. Rumah itu sendiri ditata sedemikian rupa sehingga tetap menyerupai kondisi aslinya.
Ketika berhasil menangkap mereka yang bersembunyi di rumah itu, tentara Jerman juga mengangkut semua furnitur. Akan tetapi, untuk dapat mengetahui gambaran lengkap kondisi rumah sebelum dikosongkan, di salah satu kamar terdapat miniatur rumah yang memberi gambaran detail setiap kamar-kamarnya.
Selain itu, di beberapa kamar terdapat semacam layar televisi yang menampilkan video-video pendek berkaitan dengan sejarah Anne Frank, termasuk video Otto Frank, ayah Anne Frank yang selamat dari eksekusi tentara Jerman.
Tentu saja, salah satu bagian paling penting dalam rumah ini adalah Secret Annex, sebutan untuk tempat persembunyian keluarga Anne Frank. Kamar yang menjadi persembunyian itu tampak begitu muram dengan pencahayaan yang terbatas. Toilet dan alat memasak yang cukup sederhana dibiarkan sebagaimana adanya.
Di salah satu sisi dinding, ada garis-garis pendek menandai perkembangan tinggi badan Anne Frank dan saudarinya, Margot. Dekat jendela, tampak sebuah iklan untuk Opekta, perusahaan Otto Frank, yang selama pendudukan tak dikelola secara langsung olehnya. Ada pula beberapa edisi majalah hiburan tergeletak di meja di ruangan yang lain, yang dahulu disuplai oleh pegawai Victor Kugler dan rekan-rekannya, yang mengamankan keluarga Anne Frank di rumah itu dan membantu mengelola perusahaan Otto.
Hidup yang muram dan sangat mendambakan kebebasan memang sempat tergambar dalam catatan harian Anne Frank. Bukalah catatan harian tanggal 24 Desember 1943, saat Anne Frank menulis: “I long to ride a bike, dance, whistle, look at the world, feel young and know that I’m free.”
Selama dalam persembunyian di Secret Annex, mereka harus menggunakan toilet dan bak cuci seminimal mungkin. Suara pun harus benar-benar dijaga—karena nyawa adalah taruhannya.
Sesungguhnya, hidup dalam persembunyian sekian lama karena nyawa yang terancam memang merupakan sebuah tragedi dan tekanan psikologis yang tak mudah dilewati. Hari-hari tak hanya dilalui dengan membosankan, tapi penuh waspada dan kecemasan. Apalagi untuk anak gadis belia seusia Anne Frank saat itu, yang mestinya melewati masa-masa indahnya dengan hari-hari penuh kebebasan. Namun, Anne Frank mengaku dengan tegas bahwa menulis dapat memberinya jalan pembebasan dalam mengatasi segala dukanya itu.
“When I write I can shake off all my cares. My sorrow disappears, my spirits are revived!” tulisnya pada 5 April 1944. Menulis kemudian ternyata memang benar-benar menjadi satu-satunya jalan bagi Anne Frank untuk menyapa dunia yang sulit untuk dijangkaunya saat itu.
Rumah Anne Frank yang beralamat di Prinsengracht 263, Amsterdam itu mulai dibuka untuk masyarakat umum sejak 1960, 50 tahun yang lalu. Otto Frank sendiri yang secara aktif terlibat mengusahakan agar Secret Annex itu dapat diakses oleh publik sebagai sebuah museum.Museum ini bukanlah museum biasa. Siapapun yang menyusuri ruang-ruang kecilnya yang penuh dengan sejarah pasti akan dengan cukup mudah terlibat secara emosional ke dalam situasi yang ingin digambarkannya. Sebagaimana disadari oleh Otto Frank, museum ini dapat menjadi tempat berbagi nilai-nilai kemanusiaan, hak asasi manusia, kesadaran akan ancaman prasangka, diskriminasi, dan kekerasan.
Meninggalkan Rumah Anne Frank, kesan mendalam tetap tertanam dalam ingatan. Saat ini, prasangka dan diskriminasi masih terus saja menghantui pergaulan masyarakat dunia. Kelompok masyarakat tertentu di berbagai belahan dunia masih sering dilekati dengan atribut-atribut tertentu yang secara sosial merugikan dan cenderung diskriminatif.
Rupanya, mempromosikan cara pandang yang sederhana untuk melihat orang lain memang tidak mudah. Proses dan dinamika sosial yang kompleks kadang mendorong seseorang untuk memperlakukan orang lain tidak sebagai manusia, tapi sebagai seseorang-dengan-atribut-tertentu—dengan berbagai konsekuensinya.
Beberapa pekan setelah mengunjungi Rumah Anne Frank, saya membayangkan, andai orang-orang yang telah pernah berkunjung ke rumah itu bisa menangkap kesadaran etis dalam memandang manusia yang lain, alangkah damainya dunia ini. Seandainya bukan seandainya.
Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 14 Februari 2010.
Sabtu, 02 Januari 2010
Gelandangan Semalam
Saat kereta yang kami tumpangi dari Kassel dalam perjalanan sekitar 8 jam dari Berlin tiba di halte Frankfurt West pada pukul 00.55 Senin (28/12) dini hari, saya dan Mas Suratno sudah merasa lega. Sebentar lagi kami akan segera tiba di rumah, di Eschborn, dua halte dari situ, dan benar-benar akan dapat istirahat setelah dua hari mengunjungi Leipzig dan Berlin.
“Nanti kita masak mi dan telur saja, baru tidur,” kata Mas Suratno. Bayangan mi dan telur yang masih hangat untuk melawan suhu udara musim dingin di bawah nol derajat sudah terlintas di benak saya. Namun, ketika melihat papan informasi di halte Frankfurt West, saya langsung merasa lemas. Ternyata kereta terakhir ke Eschborn, kotamadya di barat laut Frankfurt tempat Mas Suratno tinggal, sudah lewat sekitar 5 menit sebelumnya.
“Kalau begitu, alternatifnya, kita akan bermalam atau melewatkan malam ini di Hauptbahnhof (Hbf) Frankfurt,” kata Mas Suratno. Waduuuuh. Jadi tertunda nih istirahatnya, pikir saya. Memang, Hbf Frankfurt, atau stasiun pusat Frankfurt, memang besar dan luas. Tapi saya tidak yakin akan cukup nyaman menunggu sambil beristirahat di situ hingga kereta pertama ke Eschborn berangkat pukul 04.59. Untungnya, kami masih dapat menumpang kereta terakhir ke Hbf Frankfurt, pukul 01.10.
Tiba di Hbf Frankfurt, kami sepakat untuk mencari warung yang masih buka untuk menunggu kereta pagi. Beruntung, McD masih buka. Ternyata di McD banyak sekali orang-orang yang sepertinya juga sedang menunggu kereta atau kemalaman seperti kami. Tak jauh dari tempat kami duduk, ada 6 muda-mudi berbahasa Spanyol dengan tas-tas besar mereka. Di meja di depan saya, seorang berkulit hitam tidur dengan menundukkan kepalanya ke lengannya yang disilangkan di meja di depannya. Sisa makanan yang dipesannya baru saja diambil oleh petugas kebersihan McD. Seorang tua yang baru saja masuk mulai menyantap pesanannya di samping saya.
Waktu terasa berjalan lambat, sampai akhirnya tepat pada pukul 2 dini hari seorang pegawai McD yang tampak rapi dan mengenakan dasi menghampiri meja muda-mudi Spanyol yang tampak asyik sekali berbincang itu. Saya dapat mendengar kata-kata pegawai itu dengan jelas: “Kami akan segera tutup, mohon maaf,” katanya.
Belum setengah jam kami di situ, kami pun terpaksa keluar. Kami tak punya pilihan: kami pun berencana kembali masuk ke Hbf Frankfurt dan berharap menemukan tempat nyaman di dalam untuk menunggu.
Tapi sungguh sial nasib kami. Beberapa meter dari pintu masuk, kami sudah dapat melihat orang-orang yang hendak masuk tampak diperiksa oleh petugas keamanan. Saat mendekat, kami ditanya oleh petugas keamanan itu: hendak ke mana? Mas Suratno spontan menjawab: Darmstadt—sebuah kota di pinggiran Frankfurt. Si petugas langsung tak mengizinkan kami masuk. “Kereta pertama ke Darmstadt baru beroperasi nanti jam 5,” jawabnya singkat.
Ternyata petugas keamanan hanya mengizinkan masuk untuk mereka yang hendak segera berangkat. Petugas itu memeriksa tiket—mereka tak bisa ditipu. Kami, bersama beberapa orang lainnya yang juga tak bisa masuk, akhirnya ngeloyor pergi begitu saja.
Jelas kami tak punya tujuan. Tak ada kenalan di sekitar Hbf Frankfurt. Akhirnya, spontan saja, kami berjalan di sekitar bangunan Hbf yang besar, sambil berharap menemukan tempat yang nyaman untuk berlindung dari udara dingin. Saat di salah satu sisi bangunan Hbf kami menyaksikan ada orang berkerumun di semacam halte bus, kami pun mencoba mendekat dan berbaur dengan mereka. Ternyata mereka adalah rombongan yang sedang menunggu bus untuk perjalanan ke luar kota.
Agak lama di situ dan merasa kedinginan, kami coba lagi untuk berjalan. Di sebuah jalan masuk ke halte kereta bawah tanah, kami jadi terpikir untuk berlindung di situ. Tapi ternyata pintu masuk halte ditutup, dan kami hanya bisa nongkrong tepat di pintu masuk bawah tanah selama beberapa saat. Namun begitu, tetap saja kami kedinginan.
Akhirnya, jelang pukul tiga dini hari, kami pun berhasil menemukan penyelamat kami. Di salah satu sisi bangunan Hbf, kami menemukan sebuah ruangan yang tampak seperti kafe. Dari jendela, kami dapat melihat beberapa orang duduk-duduk di dalam. Kami pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Setelah menjelaskan bahwa kami ketinggalan kereta terakhir ke Eschborn, petugas yang membukakan pintu langsung mempersilakan kami masuk ke dalam dan duduk.
Kami duduk di meja bundar dekat jendela di sudut ruangan. Tak jauh dari kami, 6 muda-mudi Spanyol yang tadi kami jumpai di McD tampak sudah agak lama di situ, asyik berbincang. Di sudut lainnya, beberapa orang yang tampak tua terlihat tidur dengan cara mereka masing-masing. Seorang di antaranya mengorok cukup keras—yang kadang mengundang senyum muda-mudi Spanyol itu.
“Ternyata kami menemukan tempat yang tepat,” kata saya pada petugas yang sangat ramah dan berseragam biru itu setelah ia menjelaskan tempat tersebut. Menurut si petugas, tempat itu adalah semacam organisasi kemanusiaan, namanya Bahnhofs Mission, yang membantu orang-orang seperti kami, dan sebagainya. Bahnhofs Mission, sesuai dengan namanya, berbasis di stasiun-stasiun kereta api di Jerman, dan memberi bantuan bahkan untuk hal-hal kecil, seperti membantu menemukan jadwal kereta, kaum difabel, dan sebagainya.
Meski hanya duduk-duduk dan mengobrol, kami sungguh lega karena paling tidak kami selamat tak membeku kedinginan di luar. Kami di situ sekitar 90 menit. Setengah jam sebelum jadwal kereta pertama ke Eschborn, kami pun pamit dan melangkah masuk ke Hbf Frankfurt. Stasiun masih belum begitu ramai. Dengan rasa kantuk dan lelah yang seperti tak tertanggungkan, kami melangkah pasti, membayangkan tempat istirahat kami di Eschborn yang hangat.
Label: European Adventures, Journey
Senin, 23 November 2009
Di Sepanjang Titik-Titik Perjalanan
Kereta ini sebentar lagi akan segera melaju ke arah timur bergerak menjauh dari titik matahari tenggelam. Angin musim dingin bertiup sedikit kencang. Tak ada cahaya keperakan. Langit mendung. Tak ada biru. Hanya kelabu.
Dari atas kereta yang berada di ketinggian, aku dapat menyaksikan orang-orang lalu-lalang. Beberapa di antara mereka tampak berlari ke arah bus yang terparkir rapi. Begitulah. Stasiun memang selalu ramai. Tapi aku tak tahu, seberapa banyak jumlah penjemput dan pengantar di stasiun ini. Apakah tradisi menjemput dan mengantar juga lazim di negeri ini?
Bersama seorang teman, hampir sepanjang hari aku menjelajahi kota ini, menyusuri lorong-lorong dan sudut-sudutnya yang menyimpan banyak hal dari masa lalu. Kincir angin di tepi kanal, rumah seorang pelukis ternama dengan patung anak kecil di halamannya, perpustakaan yang menyimpan buku-buku dan manuskrip dari abad-abad silam, benteng tua, dan juga museum.
Dan sekarang, sore ini, aku duduk di atas kereta yang akan segera bergerak ke arah timur. Aku akan melanjutkan perjalanan. Di antara keramaian, sambil menikmati lagu-lagu bernuansa Renaisans, pikiranku tertegun pada gagasan tentang perjalanan.
Sampai kapan sebenarnya aku akan berada di perjalanan? Empat puluh satu menit perjalanan kereta yang akan kutempuh tak lama lagi hanyalah setitik kecil dari langkah-langkah kaki lainnya yang mungkin nyaris tak berhingga. Di manakah ujungnya?
Di antara deru kereta yang mulai melaju, aku membayangkan bahwa ini adalah sebuah perjalanan dalam perjalanan. Aku telah meninggalkan satu titik perhentian dalam titik perhentian yang jauh lebih besar. Di antara himpunan titik-titik itulah, sekarang aku tengah berusaha membuat gambar—dengan warna-warninya, bersama lika-likunya.
Label: Diary, European Adventures, Journey
Jumat, 16 Oktober 2009
Labirin Metro Kota Paris
“Deux vitres nous séparaient lorsque nos yeux se sont croisés. Dans le métro comme foudroyées, nous nous sommes regardées, choquées... Nous avions la même robe!” * Magali V. – Paris
Jika ada seseorang yang pertama kali berkunjung ke Paris, maka rekan-rekannya yang lain yang masih belum mendapat kesempatan serupa pasti akan memintanya untuk bercerita tentang situs-situs wisata terkemuka: Eiffel, Louvre, Notre-Dame, dan yang lainnya. Bila tidak dengan cerita, rekan-rekannya itu akan meminta untuk melihat foto-foto yang sempat diabadikan oleh temannya.
Menghabiskan akhir pekan selama tiga hari di Paris seminggu yang lalu, saya tak cukup punya kesan mendalam tentang simbol-simbol utama Kota Cahaya itu. Mungkin karena saya hanya sekadar—katakanlah—melintas di tempat-tempat terkenal yang telah menyedot banyak turis dunia itu. Mungkin sebenarnya saya kurang bisa menikmatinya, dan musti kembali lagi ke sana untuk bisa lebih dalam menyelaminya dengan intensitas yang lebih baik.
Karena itu, saya tak akan bercerita tentang bermacam landmark kota Paris itu. Biarlah kali ini saya berdiri di pinggiran saja, dan akan menuturkan sedikit cerita tentang labirin metro kota Paris. Ya, benar, metro. Mungkin pilihan ini juga terkait dengan kedatangan saya di Paris pada Jum'at subuh yang lalu. Saya tiba di Paris melalui Terminal Bus Internasional Gallieni, dan langsung menyusuri metro kota Paris menuju KBRI Paris di Cortambert 47.
Saat itu pagi masih begitu dingin dan irama kehidupan metro yang sebenarnya masih belum terasa. Menjelang pukul 7 pagi, saat matahari masih sejam kemudian baru akan terbit, lorong-lorong metro memang masih cukup lengang. Orang-orang mungkin masih bermalas-malasan di balik selimut tebal mereka dan menunggu matahari keluar dari peraduannya.
Ini adalah pengalaman pertama saya menggunakan jalur transportasi kereta bawah tanah, yang sebelumnya hanya saya saksikan di film-film. Begitu masuk ke lorong metro, saya langsung terkesan dengan lorong-lorongnya yang mirip labirin: berkelok, dan bercabang-cabang. Saya semakin terkesan saat singgah di beberapa stasiun metro lainnya yang memiliki lebih banyak lorong, seperti République dan Châtelet Les Halles.Desain stasiun-stasiun metro kota Paris tidaklah seragam. Lorong-lorongnya kadang bermotif bata yang disusun seperti tembok biasa; ada yang berwarna putih, merah, kuning keemasan, dan lain-lain. Ada pula yang bermotif keramik persegi empat dengan warna yang juga berbeda-beda. Tepat di tempat tunggu stasiun, yang dindingnya melengkung sehingga tampak seperti goa besar, kursi-kursinya pun dibuat tidak seragam, baik bentuk maupun warnanya.
Dinding-dinding lorong metro Paris tak dibiarkan kosong begitu saja. Di kanan kiri lorong, saya menyaksikan bermacam iklan yang dibingkai dengan sangat artistik. Isinya pun juga aneka macam, mulai dari iklan produk, iklan wisata, pertunjukan teater, konser atau pameran, atau iklan layanan masyarakat.
Memperhatikan poster-poster iklan dan lalu-lalang orang di sepanjang labirin dan kereta metro kota Paris, saya dapat menangkap nuansa seni dan keragaman budaya kehidupan dan warga kota Paris. Dari kehidupan bawah tanah kota metropolitan yang dihuni oleh sekitar 12 juta orang ini, terbayang arus perjumpaan yang mungkin sangat intens di antara beragam kebudayaan dunia. Dengan cara yang cukup sederhana, lorong-lorong metro kota Paris seolah menceritakannya kepada saya.
Metro kota Paris adalah metro tersibuk kedua di kawasan Eropa setelah Moskwa. Konon, setiap hari ia melayani 4,5 juta penumpang di sepanjang 214 km rel yang dimilikinya. Saat tahu bahwa dari keenam belas jalur yang ada beberapa di antaranya sudah berusia lebih dari satu abad, terbayang betapa peradaban kota Paris dalam bidang transportasi telah dibangun sejak lama. Paris telah menyediakan basis material yang cukup baik untuk melayani pergerakan orang-orang yang hidup di dalamnya untuk mengerjakan proyek peradabannya masing-masing—untuk menyusun batu bata kecil peradabannya sehingga perlahan membentuk bangunan yang mapan dan kemudian diwariskan pada generasi berikutnya.
Saya teringat pengamen dengan harmonika di salah satu stasiun yang saya sudah lupa di mana tepatnya. Saya juga teringat seorang pengemis tua yang duduk di lantai lorong metro di atas hamparan koran yang ia gelar. Saya teringat grafiti warna-warni yang berkelebat di antara lorong kereta yang gelap—saya bertanya-tanya: bagaimana grafiti-grafiti ini dibuat? Saya teringat poster besar yang memuat gambar para pemain sepak bola tim nasional Perancis yang beberapa di antaranya berkulit hitam. Saya teringat rombongan pemuda kulit hitam yang menyanyi sepanjang lorong metro merayakan kemenangan telak Perancis atas Kepulauan Faroe, yang memberi peluang bagi Perancis untuk berlaga di Piala Dunia Afrika Selatan tahun depan.
Saya juga teringat pembicaraan-pembicaraan saya dengan beberapa teman saat menyusuri lorong-lorong metro kota Paris. Saya teringat teriakan pemuda-pemudi yang berlarian di antara kereta yang akan segera berangkat. Saya teringat poster besar bermotif seperti kaligrafi khat kufi yang saya jumpai di beberapa stasiun. Saya teringat kata-kata bijak dalam bahasa Perancis yang memuat pesan sangat multikultural di République.Rasanya, labirin metro kota Paris memang cukup layak juga untuk menjadi tempat wisata peradaban di antara landmark ternama lainnya. Jika kita menghidupkan sedikit saja kepekaan kita untuk melihat lebih dalam kehidupan lorong-lorong metro dengan lebih cermat, mungkin saja kita akan menemukan salah satu ruh peradaban yang menggerakkan kehidupan kota Paris yang masyhur itu.
Baca juga:
>> Di Jalanan Kota Jakarta
Label: Cultural Issues, Diary, European Adventures, Journey
Rabu, 26 Agustus 2009
Di Jalanan Kota Jakarta
Ahad pagi (23/8) kemarin, saya kembali tiba di Jakarta setelah hampir di sepanjang Juli lalu saya tinggal dan keliling Jakarta untuk persiapan studi ke Eropa. Dan kini saya kembali untuk persiapan terakhir sebelum saya berangkat meninggalkan Indonesia.
Saat bus yang saya tumpangi dari Madura mulai memasuki tol Cikampek, aroma Jakarta sudah mulai tercium. Akan tetapi, jalanan tampak tak sepadat biasanya—sangat tidak menggambarkan citra Jakarta. Sopir bus yang saya tumpangi juga agak heran dengan jalanan yang cukup lengang. Si kondektur mencoba menjawab, bahwa selain karena hari Ahad, mungkin juga karena awal puasa, sehingga orang-orang agak malas keluar rumah. Walhasil, bus bergerak dengan cukup cepat dan tiba lebih awal di pool Lebak Bulus. Begitu juga saat saya naik angkutan kota ke tempat sepupu saya di Pisangan, Ciputat, kendaraan melaju tanpa hambatan yang berarti.
Sebagai sebuah kota metropolitan, Jakarta menghadapi masalah transportasi yang tidak mudah. Konon, jumlah rasio daya tampung jalan dan jumlah kendaraan yang lalu-lalang di Jakarta tidak seimbang, sehingga terciptalah kemacetan. Bagi mereka yang sudah lama tinggal di Jakarta, mereka akan betul-betul mengerti hal ini dengan baik. Lebih dari itu, mereka pun akan terbiasa. Lain halnya dengan mereka yang ke Jakarta hanya sewaktu-waktu, untuk kepentingan jangka pendek tertentu. Setiap kali ke Jakarta, jalanan bagi mereka mungkin akan menjelma serupa tempat hukuman yang cukup mengesalkan.
Apakah situasi yang demikian akan berpengaruh pada pola relasi manusia yang sehari-hari tinggal dan berkembang biak di sana? Saya jadi teringat celetukan teman saya saat dia mengemudikan mobilnya di jalanan Jakarta di ujung senja saat menuju rumah tinggalnya di selatan Jakarta sebulan yang lalu. “Jakarta sudah tak layak ditinggali,” katanya dengan nada kesal. Sampai sebegitukah jalanan, sehingga ia bisa menjadikan sebuah kota tak cukup manusiawi untuk dihuni?
Sempat terpikir, orang-orang Jakarta mungkin telah dirampok usia hidupnya oleh jalanan—sama juga dengan kenyataan bahwa gemerlap lampu Jakarta telah mengusir bintang-bintang. Orang-orang yang sehari-hari memiliki aktivitas rutin di Jakarta, katakanlah, orang kantoran, pasti akan secara rutin pula berhadapan dengan kemacetan di jalanan Jakarta. Mereka mungkin saja mencoba bersiasat dengan mengatur jam berangkat dan jam pulang, mencoba rute jalan tikus yang kadang penuh polisi tidur, atau mengganti mode transportasi. Akan tetapi, jalanan tetap sulit memberi kenyamanan. Seperti tak ada pilihan.
Di tengah tuntutan hidup yang terus seperti tak masuk akal, jalanan Jakarta menambah beban tekanan bagi orang-orang yang mencoba setia (atau mungkin terpaksa) menyusurinya. Namun begitu, kesetiaan mereka kadang justru dibalas dengan kutukan. Kutukan yang memaksa mereka untuk mengubah cara pandang mereka terhadap orang lain.
Cobalah satu dua kali Anda mencoba naik Kopaja. Perhatikan cara sopir membawa kendaraan yang menjadi jaminan bagi keberlangsungan asap dapur dan kehidupan keluarganya. Beberapa kali saya mendengar langsung teriakan keras sopir Kopaja atau angkot lainnya ke kendaraan yang disalipnya dengan semena-mena di tengah kemacetan dan bunyi klakson yang terdengar frustrasi: “Setoran Bang!” Kata-kata ini terdengar seperti permohonan—atau mungkin juga ratapan. Tapi seperti juga ada nuansa kekerasan jalanan yang tersimpan diam-diam di balik ungkapan dan tekanan yang terus membayanginya.
Kota, dengan jalanan yang mengantar para penduduknya beraktivitas dan mencari nafkah, saat ini terus tertantang untuk merawat wajah keberadabannya. Hampir separuh penduduk dunia sekarang tinggal di perkotaan, dan di beberapa negara, kota benar-benar memiliki daya magnet yang menyedot para penduduk di pedesaan dan segenap warisan kebudayaan mereka untuk dilumat di kehidupan kota.
Saya jadi teringat bahwa bahasa Arab untuk kata “kota” (hadlar, madinah) memiliki kedekatan atau bahkan masih satu rumpun dengan ungkapan yang menggambarkan “peradaban”. Mungkin dalam bentangan sejarah panjang kehidupan manusia kota memang telah menjadi penggerak kebudayaan dan pendorong terbentuknya keberadaban. Akan tetapi, jika jalanan kini telah cenderung mengkhianati persaudaraan dan makna keterhubungan akar kebahasaan itu, maka tentunya, sekali lagi, ini akan menjadi satu tantangan bagi umat manusia yang patut direnungkan bersama.
Pikiran-pikiran saya ini, yang mulai berletupan di akhir Juli lalu, seperti kemudian dirangkum oleh sebuah stiker yang terpampang di sebuah bus kota jurusan Ciputat-Gajah Mada yang saya tumpangi di hari Rabu, 29 Juli 2009, saat saya akan menghadiri Predeparture Briefing Erasmus Mundus Scholarship Programme Uni Eropa di Le Meridien. Di pagi yang masih menyisakan dingin itu, saya berdiri berdesakan di dekat pintu belakang bus. Di tengah perjalanan, tanpa sengaja pandangan saya tertuju pada sebuah stiker yang pinggirannya sudah robek tapi menuliskan kalimat yang sangat reflektif dan menggugah.
Label: Daily Life, Diary, Journey
Kamis, 23 April 2009
Al-Hikmah Surabaya: Ironi untuk Pesantren
Rabu pekan lalu, 15 April, saya berkesempatan mengunjungi SMA Al-Hikmah Surabaya. Saya tidak sendiri ke saya. Saya bersama rombongan guru-guru Annuqayah. Semuanya berjumlah 60 orang. Keenam puluh orang itu adalah perwakilan Yayasan Annuqayah, pengurus Pesantren, pimpinan satuan pendidikan dari tingkat dasar sampai menengah atas, dan wali kelas MA 1 Annuqayah Putra dan MA 1 Annuqayah Putri.
Kegiatan ini sebenarnya adalah bagian dari Program Peningkatan Mutu Madrasah kerja sama Pondok Pesantren Annuqayah dengan Sampoerna Foundation (SF) Jakarta. Program ini fokus pada peningkatan mutu dua madrasah yang saya sebut tadi. Kebetulan saya membantu mengorganisasi kegiatan untuk program ini. Tujuan utama kunjungan ke SMA Al-Hikmah yang langsung dilanjutkan dengan magang beberapa guru Annuqayah selama dua hari di Al-Hikmah terutama adalah untuk mempelajari model pengelolaan program bimbingan dan konseling di sekolah itu. Karena itu, dua Madrasah Induk—istilah untuk menyebut satuan pendidikan yang terlibat dengan program SF tersebut—melibatkan seluruh wali kelasnya dalam kunjungan ini.
Rencana kunjungan ini sebenarnya sudah cukup lama, cuma sempat tertunda. Koordinasi dengan pihak SMA Al-Hikmah dilakukan oleh Kiai Alawi Thaha, termasuk tentang alur kegiatan di sana. Saya lebih banyak membantu teknis penyiapan di belakang.
Rombongan berangkat dari Annuqayah Rabu lewat tengah malam, sekitar pukul 00.35 WIB. Perjalanan ke Surabaya lancar-lancar saja. Saat azan subuh, kami terapung di tengah Selat Madura. Begitu merapat ke Tanjung Perak, kami langsung menuju Masjid Al-Akbar Surabaya untuk shalat Subuh dan istirahat. Setelah sarapan dengan nasi katering, tepat pukul 07.25 WIB rombongan menuju SMA Al-Hikmah yang lokasinya tak jauh dari Masjid Al-Akbar.
Matahari bersinar cerah saat rombongan kami memasuki komplek SMA Al-Hikmah yang cukup luas. Di halaman dan lapangan, tampak murid-murid sedang berolah raga. Bus langsung menuju lokasi parkir. Begitu turun dan masuk ke komplek gedung SMA Al-Hikmah, rombongan langsung disambut oleh petugas dan langsung diantarkan ke ruang pertemuan.
Begitu semua rombongan duduk rapi di tempat yang tersedia, acara langsung dimulai. Susunan acara berlangsung cukup sederhana. Setelah dibuka, ketua rombongan Annuqayah, Kiai Alawi Thaha, memberikan sambutan dan perkenalan. Kemudian, Kepala SMA Al-Hikmah, Drs. Edy Kuntjoro, memberikan sambutan sekaligus presentasi tentang pengelolaan SMA Al-Hikmah.Presentasi berlangsung sangat menarik dan menyentuh. Waktu berjalan tanpa terasa. Tak tampak rasa bosan di wajah hadirin. Mungkin karena Pak Edy bisa menguasai para hadirin dengan retorika dan penampilannya. Alurnya runtut dan penggambarannya terperinci dan sangat hidup. Pak Edy juga pandai mempermainkan intonasi. Sesekali dia melambatkan kecepatan suaranya, atau berbicara tanpa pengeras suara dengan setengah berbisik.
Pemaparan Pak Edy dimulai dari sejarah lembaga pendidikan Al-Hikmah yang berdiri pada tahun 1989 dan diinisiasi oleh warga sekitar Gayungsari Surabaya yang berpusat di Masjid Al-Hikmah. Saat itu muridnya hanya 13 orang. Kini murid di semua lembaga pendidikan Al-Hikmah mencapai 2300 orang. SMA Al-Hikmah sendiri baru berdiri pada tahun 2005, dan saat ini jumlah muridnya sekitar 210 orang.
Meski baru meluluskan satu angkatan, SMA Al-Hikmah tampak mampu menorehkan prestasi yang cukup luar biasa. Dari sekian pemaparan tentang manajemen pengelolaan, aktivitas, dan capaian SMA Al-Hikmah, saya dapat berkesimpulan bahwa visi sekolah yang menerapkan sistem full day school ini tampak membuahkan hasil yang positif.
”Visi SMA Al-Hikmah adalah membentuk murid yang berakhlaqul karimah dan berprestasi akademik optimal,” demikian kata Edy di bagian awal presentasi, mengacu pada teks PowerPoint yang ditampilkan di layar. Dari pemaparan lebih terperinci, tampak bahwa visi yang sederhana tapi bernilai substantif ini mampu dibumikan dengan rangkaian strategi dan manajemen yang begitu rapi, tertata, padu, dan konsisten.
Ada banyak strategi yang diambil untuk mencapai visi tersebut, mulai dari sistem perekrutan guru, sistem evaluasi, penanaman karakter keagamaan yang kuat, dan sebagainya. Hasilnya, untuk poin yang pertama, yakni soal akhlaqul karimah, saya menyaksikan hal-hal yang luar biasa di sini yang mengantarkan saya pada kesimpulan bahwa pendidikan moral atau pendidikan karakter di sini terlaksana cukup efektif dan padu sehingga memberi hasil yang baik.
Pendidikan karakter berbasis ajaran Islam tampak jelas menjadi ruh kehidupan dan aktivitas sehari-hari di Al-Hikmah. Setiap sebelum masuk kelas, seluruh warga Al-Hikmah membaca a-Qur’an tanpa kecuali. Ajaran-ajaran keagamaan yang sederhana benar-benar dihargai dengan cara membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari, baik itu oleh guru maupun murid. Warga Al-Hikmah terbiasa shalat tahajjud, shalat berjamaah, puasa sunnah, berinfak, berdoa setiap memulai aktivitas, mengaji al-Qur’an, dan amalan-amalan lainnya.
Tak hanya ajaran keagamaan yang bersifat formal, nilai-nilai keagamaan yang bersifat substansial juga tampak menjadi ruh Al-Hikmah, seperti kejujuran, kebersihan, kedisiplinan, sikap saling menghormati, penghargaan kepada orang lain, semangat belajar, dan lain sebagainya. Jika ditemukan dalam suatu ujian ada guru yang memberi kunci jawaban pada murid, atau ada guru yang memberi nilai ujian yang tak semestinya, maka si guru mendapatkan sanksi berat dari Yayasan. Jika guru datang terlambat di sekolah, dan itu berarti ia tidak mengikuti sesi mengaji bersama, maka si guru langsung akan diminta mengaji di ruangan Kepala Sekolah.
Dalam tingkat tertentu, banyak hal yang semestinya ada di pesantren dan belakangan sudah terasa mulai langka saya temukan di Al-Hikmah. Di Annuqayah, saya punya dugaan kuat bahwa tak banyak murid lulusan Aliyah dan sederajat yang hafal Juz ‘Amma. Sementara itu, murid SMA Al-Hikmah yang akan lulus diwajibkan menghapal Juz ’Amma dan juz pertama dengan maknanya. Saya tahu kefasihan bacaan al-Qur’an murid SMA Al-Hikmah saat saya shalat berjamaah Zhuhur yang dipimpin oleh salah murid. Memang, Al-Hikmah menaruh perhatian khusus pada soal kemampuan baca al-Qur’an, sehingga jika ada guru yang diterima di Al-Hikmah dan masih belum lancar baca al-Qur’an, maka ia wajib mengikuti program bimbingan membaca al-Qur’an hingga lancar.
Baik melalui pemaparan Pak Edy maupun melalui pengalaman yang ditemukan di lapangan, terutama oleh peserta kunjungan yang kemudian magang, rombongan guru Annuqayah dapat merasakan berbagai macam kelebihan sekolah ini, mulai dari komitmen pengabdian guru, bimbingan kepada murid, pendidikan karakter (spiritual), dan sebagainya. Lebih dari itu, beberapa guru Annuqayah juga sampai terharu, tersentuh, terpana, dan kagum dengan torehan prestasi Al-Hikmah dalam membentuk suasana pendidikan di lingkungan sekolah mereka.
Setelah presentasi dan dialog yang berlangsung hingga sekitar pukul 10.00 WIB itu, rombongan Annuqayah kemudian melihat secara langsung kegiatan murid dan guru serta berbagai fasilitas yang ada di SMA Al-Hikmah. Pada saat berkeliling, banyak hal mengagumkan yang ditemui di Al-Hikmah terkait dengan kerapian, ketertiban, kedisiplinan, dan sebagainya. Saat makan siang selepas shalat Zhuhur, misalnya, ada salah seorang guru Annuqayah yang ditegur oleh murid Al-Hikmah karena makan sosis sambil berdiri. Si murid menegur dengan sangat sopan. Luar biasa!
Sekitar pukul 13.15 WIB, rombongan Annuqayah meninggalkan SMA Al-Hikmah. Dari Al-Hikmah, rombongan kembali menuju Masjid Al-Akbar untuk shalat. Rombongan baru meninggalkan Surabaya pada pukul 17.00 WIB dan tiba di Annuqayah jelang tengah malam.Oleh-oleh terbesar dari Al-Hikmah adalah ironi pendidikan untuk pesantren. Al-Hikmah, tempat pendidikan berbasis masyarakat perkotaan, tampak lebih berdaya untuk menghidupkan nilai keagamaan dan nilai moral yang sangat dijunjung pesantren. Sementara saat ini pesantren tampak mengalami krisis, terutama di bidang pendidikan—khususnya pendidikan moral.
Tentu ini tak berarti bahwa pesantren kemudian tak memiliki kekuatan positif yang tersisa. Pak Edy benar—sebagaimana disampaikannya saat sambutan. Jika Annuqayah telah bertahan sebagai lembaga pendidikan keagamaan sepanjang lebih 120 tahun, maka itu berarti Annuqayah punya satu kekuatan besar.
Saya sangat menggarisbawahi pernyataan Pak Edy ini, terutama untuk menumbuhkan semangat bahwa berbagai pekerjaan rumah yang menunggu untuk diselesaikan di Annuqayah mestinya dapat menemukan jalan keluarnya jika kekuatan besar yang membuat Annuqayah bertahan melewati berbagai periode zaman itu ditemukan dan dimanfaatkan dengan baik. Demikianlah—semestinya.
Label: Education, Journey, School Corner
Senin, 16 Maret 2009
One Night in Jogja
I had a nice trip to Jogja last weekend. Actually, this trip should be done before the weekend, because I want to take advantage of Maulid holiday. But my unhealthy condition for about one week constrained the plan. The main purpose of this trip is to accompany my mother to visit Pesantren Nurul Ummah Kota Gede, where my little sister has been living for seven months.
As usual, we departed for Jogja at night, after Isya’. Last Thursday night, we left to Jogja at 08.40 pm. We had an exiting ride that night—as the trip on the way home too. We rode a new bus, serving for a recovered route: Sumenep-Jogja. But the driver, conductor and his assistant, were the new comer for this route.
We arrived at Jogja at 06.30 am. The street was crowded. I tried to join to the crowd on the city bus for a little while. The atmosphere of Jogja started to penetrate me. The conductor, passengers in the morning, and traffic.
I took a rest in my brother’s dormitory until noon. At 1.30 pm, I went out to the Ikapi Jogja Book Fair 2009. This event held at Jogja Expo Center. I tried to contact my friends to come with me to the Book Fair. But finally I went alone, because they had already had appointments with their friends.
Book hunting is always interesting for me. On the Book Fair, I seek through the stack of books, trying to find some cheap, unique, uncommon, and fascinating books—the books that I didn’t find them in the common bookstore. I went around the exhibition area for more than one hour, and I was frustrated because I just got one book on the Insist Press Publisher.
At last, I left the exhibition and went out to a new book store near UIN campus. Its name is Yusuf Agency. The store sells used and cheap books. This would be an interesting books-hunting. Among the dusty shelves, I was looking for a surprise. At last, I found a series of books about easy scientific experiments written by Janice Pratt VanCleave, a winner of Phil Delta Outstanding Teacher of the Year 1982. The books are about physics, biology, chemistry, astronomy, and geography. It seems that the books are especially designed for kids, but I think they are also suitable for junior or senior high school students. These books were enough to cure my weary day.
After dinner, I went out to my friend’s dormitory at Gowok. I spent the night there with my friends—one night in Jogja. Next day, Saturday, I went along with my mother and my brother to Pesantren Nurul Ummah Kota Gede. We were there until 11 am.
We left Jogja at 7 pm. One night in Jogja—it seems that it was a too short nostalgic trip. But I have to compromise on this. At least, I got something new on this trip—new experiences, new books.
During the way home, I really enjoyed the way of the driver handle the bus. He often overtook another vehicles in front us. It’s like a bus-racing. So, I didn’t sleep at the bus until we got near to Jombang.
On the way home, I wonder when I can make a satisfied memorable trip to Jogja. I am waiting for that moment. Always.
Label: :: In English ::, Journey
Kamis, 25 Desember 2008
Notulen dari atas Taksi
Kalau saya menyebut “taksi” di judul tulisan ini, jangan bayangkan mobil sedan seperti taksi-taksi di Surabaya atau Jakarta. “Taksi” yang saya maksudkan di sini adalah sebutan untuk angkutan pedesaan di Madura. Semakin ke pelosok rute taksi di Madura, kondisi mobilnya relatif semakin buruk—mungkin disesuaikan dengan kondisi jalannya. Taksi dengan rute yang melintas jalan provinsi biasanya relatif masih cukup bagus kondisinya. Taksi di jalan yang paling pelosok biasanya berjenis mobil pick-up.
Saat masih kecil dulu, saya nyaris selalu ikut ayah saya yang setiap pekan pulang ke rumah asalnya di Karduluk. Kami pasti naik taksi, karena ayah tak punya kendaraan bermotor—sampai sekarang.
Ingatan saya tentang taksi di masa kecil dulu ternyata masih tak jauh berbeda dengan taksi saat ini, terutama taksi dengan rute yang sering saya tumpangi, yakni rute Prenduan-Ganding. Sopir dan kenek taksi biasanya akan menunggu penumpang penuh sesak, sehingga kadang Mitsubishi L300 atau Toyota Hiace-nya memuat sekitar hampir 20 orang! Saat masih kecil dulu, pernah suatu kali taksi yang saya tumpangi bersama ayah dicegat polisi. Saya lihat, dengan tatapan yang tampak tanpa emosi dan tanpa empati, si polisi berkata kepada si sopir, “Penumpang bukan pindang, jangan ditumpuk-tumpuk seperti itu.” Tampaknya si polisi sedang ingin menjadi pahlawan penegak hukum negara.
Saat saya dewasa, jika melihat polisi di jalan, saya jadi selalu ingat kata-kata dingin si polisi pada si sopir itu. Saya kadang kemudian tak habis pikir: apakah si polisi tidak tahu betapa tekanan ekonomi para sopir pedesaan itu telah menuntutnya sedemikian rupa sehingga mereka tak punya pilihan lain kecuali memuat penumpang sebanyak-banyaknya—asal masih muat? Bukankah itu pelajaran ekonomi yang paling sederhana: modal sekecil-kecilnya, untuk keuntungan yang sebesar-besarnya? Kalau mau berbicara tentang keselamatan, bukankah para sopir itu juga tengah berusaha menyelamatkan dapur keluarga mereka?
Dalam lima bulan terakhir, secara rutin saya kembali berlangganan memanfaatkan jasa taksi-taksi di rute Prenduan-Ganding. Setiap Kamis, saya naik taksi ke Karduluk: berangkat pagi-pagi sebelum jam tujuh, dan pulang selepas tengah hari.
Hal berbeda yang paling tampak yang saya temui belakangan ini terutama berkaitan dengan penumpang. Saat ini, penumpang sudah semakin jarang. (Apakah ini pertanda baik, bahwa masyarakat sudah banyak yang punya kendaraan bermotor?) Sementara jumlah taksi yang beroperasi relatif cukup banyak.
Tadi siang, saat saya pulang dari Karduluk, saya lihat ada 11 mobil yang antre menunggu penumpang. Dan, ini dia kabar buruknya, tak ada satu pun kendaraan yang berpenumpang. Semuanya kosong melompong. Saya jadi tak tahu taksi yang mana yang berada di antrean terdepan, sampai kemudian ada seorang pemuda yang melambai-lambaikan tangannya di kejauhan sambil berteriak, “Lukguluk, Ganding...”
Rupanya saya menjadi penumpang pertama di siang yang cukup terik itu. Saya masuk dan duduk di kursi belakang. Kaca jendela saya buka agak lebar, agar angin lebih leluasa masuk. Si pemuda yang berteriak dan mengantar saya tadi kemudian menghilang entah ke mana.
Dari kursi belakang, saya bisa melihat taksi-taksi lain yang berjejer di kanan kiri jalan. Di antara mobil-mobil itu, saya melihat stiker-stiker calon anggota legislatif yang ditempel di kaca-kaca mobil, dengan berbagai ukuran, dari bermacam partai. Beberapa minggu yang lalu, saya sempat bertanya kepada sopir yang saya tumpangi tentang stiker-stiker itu. Katanya, ada orang yang membagikannya.
Cukup lama saya duduk sendiri di mobil itu, mungkin sekitar 20 menitan, sampai kemudian si sopir datang, menghidupkan mesin, dan berangkat. Toyota Hiace yang umurnya pasti tak jauh berbeda dengan usia saya itu pun melaju. Saya menyapa si sopir, memastikan apa dia memang mau berangkat—karena penumpangnya hanya saya. Dia mengiyakan tanpa menoleh ke belakang—mungkin agak sedikit kesal dengan nasibnya siang itu.
Untunglah, baru sekitar 100 meter mobil itu bergerak, ada dua orang penumpang menyetop mobil ini. Seorang pemuda berkaos Palang Merah Indonesia dan memakai sarung, dan seorang nenek tua. Sekitar hampir satu kilometer kemudian, saat mobil bergerak pelan hampir tikungan, ada lagi seorang ibu tua yang naik. Dialah yang kemudian meramaikan atmosfer mobil di siang yang kerontang ini.
Ibu tua itu berkulit hitam agak keriput, mengenakan baju berwarna kuning, dengan motif bunga-bunga. Jilbabnya warna oranye. Saya tidak bisa melihat cukup jelas, karena dia duduk di kursi tengah, di kursi ekstra yang terbuat dari kayu. Pandangan saya sedikit terhalang oleh dua orang penumpang yang duduk di kursi tengah. Si ibu tua itu mengatakan bahwa dia sebenarnya tadi lama menunggu di pertigaan Prenduan. Tapi akhirnya dia memilih berjalan kaki. Dia khawatir jika terlanjur naik taksi, taksi itu antre lama sekali—seperti pengalamannya sebelumnya.
Belum lama dia naik ke taksi, dia menyodorkan ongkos kepada si sopir taksi sambil menyebutkan tempat tujuannya itu. (Untuk diketahui, taksi ini tak ada keneknya, seperti kebanyakan taksi belakangan ini, karena menurut sopir-sopir rute Prenduan-Ganding, keuntungan yang didapat saat ini sungguh tak seberapa untuk dibagi dengan kenek.) Dia hendak pergi melayat ke Brungbung. Dari belakang saya mendengar si sopir meminta ongkos tambahan. Sepertinya si ibu memberi uang dua ribu rupiah, dan si sopir meminta tambahan seribu rupiah.
“Memang ongkosnya segini, Bu. Sudah lama tarifnya naik, berbulan-bulan yang lalu. Percayalah. Saya tak mau membohongi ibu,” kata si sopir meyakinkan. Si ibu tampak masih bertahan, seperti hendak menawar, sampai akhirnya ia mengeluarkan uang ribuan yang sudah lusuh dan sedikit sobek.
Tak lama setelah ibu itu menggenapi ongkosnya seperti permintaan sopir, dua penumpang yang lain turun karena sudah tiba di tujuan—di sebuah tempat bernama “na-bungkar”. Tinggallah kami berdua di taksi. Setelah itu, dari mulut si ibu, mengalirlah cerita-cerita menarik yang sungguh mengundang haru. Si ibu memulai dengan memberi tahu bahwa ia berasal dari Pamekasan.
“Saya dari Kampung Baru, Pamekasan,” katanya, seperti hendak melengkapi formulir identitas yang tak disodorkan oleh siapa-siapa. Si sopir kontan memberi respons cepat.
“Kenal dengan Toha, Bu?” tanya si sopir.
“Ya, kenal, dia tetangga saya. Dia di timur rumah saya,” si ibu menukas.
“Dia itu paman saya, Bu,” ujar si sopir.
Begitu tahu ada tetangganya yang memiliki hubungan kerabat dengan si sopir, pembicaraan menjadi semakin akrab. Si ibu menanyakan nama si sopir. Sopir itu bernama Idris.
Cerita-cerita pun mengalir semakin lancar. Fakta bahwa si sopir ternyata masih ponakan salah satu tetangganya itu ternyata menjadi semacam pelumas bagi kisah-kisah ibu tua itu yang lainnya.
Ibu tua itu bekerja sebagai pemulung. Jika cukup mujur, katanya, dia bisa meraup untung dua puluh ribu rupiah per hari—atau lebih. Rupanya, nasib si ibu ini masih sedikit lebih baik daripada 3 miliar orang lain di muka bumi ini—yakni separuh populasi manusia—yang hidup dengan uang tak sampai dua puluh ribu rupiah sehari.
Ibu tua itu adalah tulang punggung keluarga. Suaminya sudah uzur dan tak bisa bekerja. Meski tak bekerja, suaminya masih tetap merokok. “Uang rokoknya sehari menghabiskan empat ribu rupiah, Nak. Dan sayalah yang menyediakannya,” kata si ibu menjelaskan pada Idris dengan nada pasrah. “Meski sebenarnya bukan kewajiban saya, setiap hari saya tetap menyediakan uang rokok itu. Mungkin ini bisa menjadi amal kebaikan saya,” lanjutnya.
Si ibu kemudian bercerita tentang anak-anaknya yang sudah berkeluarga dan tak tinggal bersamanya. Menurut si ibu, garis nasib anak-anaknya tak jauh berbeda dengan dirinya: hidup pas-pasan. “Yang penting semuanya sehat dan selamat, Bu,” kata Idris menanggapi.
Cerita si ibu akhirnya harus berakhir karena Brungbung sudah di depan mata. Sebelum turun, saya menyaksikan peristiwa yang sungguh tak terduga sebelumnya: Idris tiba-tiba menjulurkan dua lembar uang ribuan kepada si ibu tua.
“Bu, ini saya kembalikan ongkosnya dua ribu,” katanya.
Si ibu tertegun sebentar, lalu menerima dua lembar uang ribuan bergambar Pattimura itu. Dengan agak terburu, si ibu berucap, “Terima kasih, Nak. Hatimu sungguh mulia. Semoga Tuhan memberi balasan kebaikan untukmu.” Si ibu turun dari taksi, dan melangkah pergi ke arah barat.
Idris tak berhenti lama. Ia segera membawa mobilnya bergerak ke utara, dengan satu-satunya penumpang di mobil yang dikemudikannya. Saya lalu menyapanya. Idris kemudian bercerita tentang sepinya penumpang yang berakibat pada minimnya uang yang dia dapatkan. Saat mobil menaik di tanjakan yang terkenal dengan sebutan “druksin”, saya mencoba menghitung pendapatan Idris siang ini. Saya nanti akan membayar lima ribu rupiah. Si ibu tua dari Pamekasan tadi cuma diambil seribu rupiah. Dua orang yang turun di na-bungkar tadi sepertinya masing-masing membayar dua ribu rupiah. Jadi, semuanya sepuluh ribu rupiah. Padahal, berapa liter bahan bakar yang harus diisikan ke tangki mobilnya untuk rute sekitar 11 kilometer itu? Yang jelas, meski tahu pendapatannya siang ini cukup seret, Idris tak ragu beramal untuk si ibu tua dari Pamekasan itu.
Selepas Pangurai, ada lagi satu penumpang yang ikut taksi si Idris ini. Penumpang itu seorang gadis yang mengenakan seragam yang cukup saya kenal. Dia murid MA 1 Annuqayah Putri—yang kebagian jadwal masuk siang hari. Idris mungkin akan menerima uang seribu rupiah dari gadis ini. Sempat terlintas dalam pikiran saya bahwa gadis ini mungkin adalah semacam gol hiburan atas kekalahan Idris siang ini.
Tapi, setelah dipikir-pikir sejenak, saya kira pikiran saya itu keliru. Siang ini Idris tidak kalah. Ia telah meraih kemenangan besar. Ia telah mengalahkan “egoisme”-nya, sehingga ia bisa tulus berbagi dengan ibu tua dari Pamekasan itu, meski tahu bahwa dirinya tak bisa berbuat lebih karena hanya di situlah batas kemampuannya.
Saya jadi teringat stiker-stiker calon anggota legislatif yang ditempel di mobil-mobil taksi yang antre di pertigaan Prenduan tadi—yang kebetulan tak saya temukan di mobil si Idris ini. Apakah para calon anggota legislatif itu pernah mendengar langsung kisah orang-orang kecil seperti yang terekam dari atas taksi-taksi rute Prenduan-Ganding ini? Apakah saat duduk di gedung DPR yang megah itu nanti mereka akan ingat, bahwa dulu mereka pernah menempelkan janji-janji manis mereka di kendaraan yang ditumpangi orang-orang bernasib malang ini?
Saya yakin, jika mereka mau mencatat kisah-kisah para penumpang taksi semacam ini, niscaya mereka akan membutuhkan buku notula yang amat tebal. Dan, notulen-notulen yang mereka buat itu kelak akan menjadi saksi, apakah mereka benar-benar dapat menjadi pahlawan bagi orang-orang yang telah lama bermimpi mendapatkan kehidupan hari esok yang lebih baik itu.
Label: Daily Life, Journey
Senin, 17 November 2008
Ke Jogja Tak Mampir di Feri
Pekan yang lalu aku berkunjung ke Jogja. Rencana semula cuma tiga hari, tapi situasi memaksaku untuk tinggal hingga lima hari.
Jogja sekarang nyaris tak lagi menyisakan masa lalu buatku. Tempat-tempat telah banyak berubah, paling tidak dibandingkan dengan dua tahun yang lalu. Di sekitar bekas kosku, di tempat yang masih harus masuk jalan kecil, beberapa ruko telah berdiri dengan aktivitas yang cukup padat. Jalan raya Jogja semakin terlihat metropolis. Bangunan-bangunan baru berdiri dengan gagah, dengan polesan warna-warni yang seperti ingin menampilkan citra maju. Di malam hari, lampu-lampu billboard dan papan nama elektronik bangunan-bangunan itu menambah semarak. Selain pusat-pusat perbelanjaan, seperti Mal Ambarukmo yang seperti ingin menandingi Mal Malioboro, kafe-kafe bermunculan bak jamur di musim penghujan, juga distro, layanan perawatan tubuh, dan juga tempat main futsal.
Selama di Jogja kemarin, aku memang nyaris tak ke mana-mana, karena—sialnya—begitu tiba di sana aku jadi kurang sehat, sakit, sampai muntah-muntah—mungkin karena masuk angin, kehujanan, ditambah cuaca yang tak bersahabat. Jadi, aku tak sempat jalan-jalan dengan puas. Tapi begitulah kesan yang kutangkap dari beberapa kesempatanku keluar. Jogja yang berubah.
Mungkin aku ke Jogja pada saat yang kurang tepat. Musim hujan sudah mulai membuat Jogja nyaris selalu dihampiri gerimis, terutama setiap senja menjelang petang. Dan, bagiku, gerimis di sore hari di Jogja sering mengundang perasaan absurd yang sulit dijelaskan. Seperti saat empat tahun yang lalu saat baru lebaran dan aku sudah harus masuk kantor di saat Jogja masih relatif sepi dan hujan deras selalu datang di sore hari. Seperti saat aku berkemas hendak meninggalkan Jogja kemarin. Perasaan absurd itu muncul kembali dan sulit kuusir.
Jogja yang nyaris tak menyisakan masa lalu itu memang tak sampai membuatku merasa terasing. Tapi ada kalanya aku ingin menapak kembali ke puing-puing masa lalu. Sayang, ke Jogja kemarin aku tak sempat mampir di Feri, angkringan belakang kos yang pernah menjadi tempat nongkrongku. Aku rindu dengan sapaannya, keramahannya, dan kerja kerasnya. Juga tempe bakarnya—tentu.
Ke Jogja tak mampir di Feri memang terasa seperti kurang lengkap. Buatku, Feri adalah salah satu ikon Jogja yang khas. Ia seperti tak pernah bertemu dengan absurditas itu. Ia menjalani hidup dengan begitu riang dan tampak tanpa beban. Setidaknya itu tergambar dari lagu-lagu rege yang melantun dari radio dan atau mulutnya. Mungkin hidupnya sederhana, tapi ia tampak berbahagia. Ia seperti berhasil melawan kutukan absurditas itu.
Ke Jogja tak mampir di Feri, sungguh seperti melewatkan satu pelajaran berharga.
Label: Journey
Kamis, 03 April 2008
Sepekan di Kaliandra

Rombongan kami tiba di Kaliandra sekitar jam 9 malam di penghujung hari Minggu. Suasana cukup gelap. Tak banyak lampu penerangan yang menyala di halaman begitu kami masuk di gerbang yang terbuat dari bambu. Saat itu aku masih tak punya bayangan tentang tempat yang akan kami tinggali selama sepekan. Juga orang-orang yang akan bersama kami. Aku tak terlalu memikirkan itu. Perjalanan dari jelang tengah siang tadi agak melelahkan juga. Ditambah dengan udara dingin dan gerimis yang turun sejak dari Surabaya tadi.
Kami diantar ke kamar oleh seorang anak yang kira-kira seusia dengan adik bungsuku. Dia membawa payung. Kami melewati jalan menaik berbatu yang tertata rapi. Kanan-kirinya cukup rimbun. Sekilas dari beberapa bangunan yang kami lewati, aku melihat corak bangunan tradisional Jawa dengan penataan yang asri. Akhirnya kami tiba di bangunan yang disebut-sebut oleh salah seorang yang menyambut kami tadi di halaman sebagai “Rumah Anjasmara”.
Rumah Anjasmara dapat dikatakan sebagai sebuah pondokan. Sederhana, tapi bersih dan rapi tertata. Bentuknya kubus dan memiliki loteng. Pintu depan tepat ada di tengah. Begitu masuk, kita akan berada di ruang tengah yang tak begitu luas. Ada seperangkat meja kursi yang ditata di bawah tangga yang menaik ke arah loteng. Lurus dengan pintu masuk, berderet 8 kamar mandi yang memenuhi sepanjang satu sisi rumah. Sisi kanan kiri ruang tengah adalah kamar tidur yang kulihat sudah ditempati beberapa orang.
Kami dipersilakan naik ke loteng. Tepat di sisi tangga terbawah, tertempel nama-nama peserta yang akan menempati loteng. Kalau tak salah ingat, ada sekitar 15 nama lengkap dengan alamatnya. Setelah melewati tangga terakhir, kami tiba di atas. Ada sekitar lima orang yang sudah di loteng. Di loteng yang berbentuk huruf “U” itu berderet kasur-kasur yang pas untuk satu orang. Rombongan kami memilih di bagian terdekat dengan tangga untuk turun. Sebelum keluar, si anak yang mengantar kami mempersilakan kami untuk makan malam di tempat yang sudah disediakan di dekat dapur. Tapi kami sudah makan tadi di perjalanan. Kami pun menata barang-barang kami, untuk kemudian rebahan.
Pagi pertama di Kaliandra. Aku keluar dari rumah sekitar jam setengah enam. Udara masih terasa dingin sekali. Maklum, Kaliandra berada di ketinggian sekitar hampir 900 meter di atas permukaan laut. Cahaya matahari tak cukup memancarkan kehangatan. Sisa gerimis selama masih cukup terasa di rimbun dedaunan. Di luar, aku melihat-lihat keadaan, mencoba mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang tempat yang ditata menghijau ini. Akhirnya aku tiba di sebuah pendopo yang sepertinya akan menjadi tempat utama kegiatan kami selama hampir sepekan. Sebuah pendopo biasa. Ada spanduk panjang terpasang di dalam. Di depannya, halaman yang cukup luas membentang. Ada pohon beringin berdiri kokoh.
Sepertinya, halaman pendopo ini akan difungsikan sebagai tempat pameran. Kami pun menyiapkan poster sederhana dan barang-barang lainnya yang akan diikutsertakan di tempat pameran tersebut. Kesibukan kami di pagi pertama selesai saat sarapan sudah disiapkan di ruang makan terbuka yang sederet dengan rumah penginapan kami.
Setelah mandi dan sarapan, semua peserta melihat-lihat poster dan berbagai macam barang yang dipamerkan di halaman pendopo. Hampir semua menampilkan kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan lingkungan hidup atau isu pemanasan global. Beberapa poster didesain dengan cukup serius.
Pembukaan resmi acara pertemuan guru lingkungan internasional ini dimulai agak siang—sekitar jam sepuluh. Selain sambutan-sambutan, kami juga disuguhi penampilan anak-anak Sekolah Ciputra yang membawakan beberapa lagu dan solo biola. Juga ada tarian tradisional Jawa. Prosesi pembukaan diakhiri dengan penyatuan tanah dan air yang dibawa oleh masing-masing tim peserta dari berbagai daerah dan penjuru dunia.
Selepas istirahat siang, acara dilanjutkan dengan pembicara utama. Seorang nenek tua yang tampak masih sangat energik. Profesor dari Universitas Negeri Malang bernama lengkap Radyastuti Suwarno. Dia berbicara dengan cukup mengalir, meyakinkan, dan tak membosankan. Namun begitu, hujan di luar yang cukup deras mengguyur cukup mengganggu konsentrasi kami mengikuti pemaparan pakar pendidikan lingkungan ini.
Selepas rehat sore, para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk diajak berkeliling di komplek Kaliandra. Selama berkeliling hingga matahari terbenam, kami mendapatkan banyak pemandangan indah di pusat pendidikan alam dan budaya yang luasnya 16 hektar ini. Masing-masing kelompok melewati jalur yang berbeda, sesuai dengan arahan pemandu. Kami naik turun bebukitan, beratus kelokan, menyeberangi semacam parit kecil, dan melewati beberapa bangunan dengan berbagai fungsi—rumah tinggal, kolam renang, pendopo, bengkel kerja, tempat pembibitan, kandang peternakan, pengolahan kompos, lumbung, dan sebagainya. Semuanya dalam lingkungan yang perdu menghijau dan penuh nuansa natural. Yang menarik, semua aktivitas dalam komplek Kaliandra ini seperti satu kesatuan yang saling menyokong, seperti sebuah sistem yang begitu menyatu padu.
Perjalanan berkeliling Kaliandra tak terasa cukup melelahkan. Udara dingin yang diselingi kabut menahan keringat di tubuh kami yang mungkin berjalan dalam jarak yang sebenarnya cukup jauh. Rehat malam berlangsung cukup singkat. Lalu dilanjutkan dengan sharing harapan dan kekhawatiran untuk kegiatan yang akan berlangsung hingga akhir pekan.
Hari kedua seharian diisi dengan presentasi. Dari pagi hingga siang, ada lanjutan presentasi dari pembicara utama, yakni dari Suko Widodo (Unair Surabaya). Selepas siang hingga malam, presentasi dilanjutkan dengan sesi paralel. Aku mengikuti sesi paralel presentasi dari utusan dari Polandia (Antoni Salamon), dan setelah itu dari Portugal (Fatima Matos Almeida).
Tim kami dari Annuqayah tampil sore harinya. Tak mengira presentasi kami cukup mencuri perhatian para peserta yang kebetulan memilih hadir di sesi kami. Seorang peserta dari Malaysia semalam memang sudah menaruh sedikit rasa takjub karena kami dari sebuah pesantren di Madura mau berbicara tentang lingkungan. Katanya, di Malaysia orang Madura memiliki citra yang kurang baik. Lagipula, pesantren di sana tak lebih dari hanya mengajar mengaji saja. Presentasi kami rupanya telah cukup mengubah citra dan kesan negatif tentang Madura—mungkin juga tentang pesantren.
Sesi malam diisi dengan pembicara utama yang tak bisa hadir tadi siang, yakni Richard Bachmann, seorang guru Sekolah Ciputra Surabaya. Dia mengantarkan diskusi pada bagaimana metode menumbuhkan kesadaran lingkungan melalui pendidikan—yang memang merupakan tajuk besar kegiatan ini.
Hari ketiga kami diajak jalan-jalan. Ada enam tempat tujuan yang disediakan panitia. Ke pantai (bakau) di Bangil, pusat industri di Pasuruan, hutan dan sawah (padi) di dekat komplek Kaliandra, sungai di Purwodadi, dan ekosistem urban di Malang. Semua peserta diminta untuk memilih tempat tujuan masing-masing. Aku memilih ikut ke sungai.
Setengah sembilan keenam rombongan diberangkatkan. Perjalanan ke Sungai Kaliadem Purwodadi di belakang Kebun Raya ditempuh sekitar satu jam. Begitu tiba, kelompok kami yang terdiri dari delapan orang dibagi menjadi tiga kelompok kecil, dan diminta melakukan survei singkat lokasi. Setelah berkeliling setengah jam, kami berkumpul dan berbagi informasi tentang sungai tersebut. Setelah itu, kami pun diajak kembali ke sungai, melakukan beberapa percobaan sederhana, dan mendiskusikan isu-isu lingkungan yang terkait hingga tiba makan siang. Kami kemudian makan siang sambil melanjutkan diskusi. Kami kembali ke Kaliandra sekitar jam dua siang, ketika hujan mulai turun.
Tiba di Kaliandra, ternyata rombongan yang lain masih banyak yang pulang datang. Tiba bersama kami, kelompok hutan dan sawah. Ditunggu-tunggu, kelompok yang lain cukup lama tiba, hingga waktu makan malam siap terhidang. Sesi malam yang mestinya sharing tentang pengalaman di lapangan tertunda. Tiap kelompok malam itu menyiapkan bahan presentasi besok.
Hari keempat seharian berupa presentasi hasil studi lapangan dari keenam kelompok. Masing-masing diminta berbagi apa yang sudah didapat, dengan penekanan pada metodologi apa yang mungkin dikembangkan untuk dapat dibawa ke sekolah atau komunitas dalam rangka penguatan kesadaran lingkungan. Sharing seharian telah cukup memberi banyak inspirasi, terutama menyangkut apa yang dapat dilakukan di masing-masing komunitas. Apa yang ada di sekitar kita ternyata dapat dijadikan sebagai titik tolak untuk menyemaikan kesadaran lingkungan. Alam adalah laboratorium besar yang dapat dimanfaatkan untuk banyak hal.
Malam harinya adalah penampilan bertajuk “Cultural Night”. Masing-masing daerah diminta menampilkan kesenian tradisional. Dari Papua, Pak Faroka, Pak Sipri, dan Pak Frans tampil dengan koteka dan lagu daerah. Demikian pula dari Jawa, Bali, dan yang lain. Kami dari Madura tak punya cukup persiapan, dan tampil seadanya menyanyikan dua lagu Madura.
Hari kelima adalah hari terakhir acara resmi. Setelah sesi foto-foto di pagi hari, masing-masing kelompok diminta untuk menyusun rencana aksi. Sore harinya, rencana tindak lanjut dipajang dan disharing tanpa presentasi langsung, tapi dengan cara berkeliling saling melihat-lihat.
Malam harinya adalah malam penutupan. Malam itu kami dijamu makan malam di rumah megah Pak Bagoes, pendiri Yayasan Kaliandra. Jamuan makan malam berlangsung dengan protokoler yang cukup ketat dan resmi. Kami tiba di rumah Pak Bagoes sekitar jam tujuh lewat. Begitu tiba, kami menikmati hidangan makanan ringan, lalu tari topeng diiringi suara gamelan. Makan malam berakhir lewat jam sembilan.
Setelah makan malam, acara selanjutnya hiburan. Tapi sebelum penampilan hiburan oleh tim panitia, kami melewati acara yang cukup seru. Semua peserta diminta untuk berjalan di atas arang yang membara sepanjang tiga meter tanpa alas kaki. Saat itu waktu sudah menunjuk sekitar jam sepuluh. Sebagai persiapan, kami bermeditasi sebentar dengan dipandu panitia bernama Anam. Setelah bermeditasi, mental kami disiapkan untuk berjalan di atas arang membara. Ya, semacam latihan. Selain tip teknis saat melintas nanti, yang terpenting mental kami diperkuat dengan kata-kata penyemangat yang harus kami teriakkan keras-keras dan sepenuh hati nanti sebelum melintas arang: “Saya bisa! Saya harus bisa! Saya pasti bisa!” Kami berlatih atau bersimulasi dengan kata-kata itu dua kali.
Waktunya pun tiba. Satu per satu peserta berjalan di atas arang membara itu. Tak ada urutan yang ditentukan. Yang siap, langsung saja berangkat. Aku pun akhirnya mengambil giliran. Aku teriakkan kata-kata penyemangat itu sepenuh hati, dan aku pun berjalan di atas arang yang membara itu dengan pasti.
Malam semakin larut tanpa terasa. Setelah semua peserta melintas, kami disuguhi hiburan bermacam kesenian tradisional, sambil menikmati jajanan tradisional yang disediakan di pinggir halaman. Semua peserta menikmati semua sajian dengan penuh suka cita. Lewat tengah malam suasana masih penuh semangat. Aku dan beberapa kawan baru menuju Rumah Anjasmara setelah waktu menunjukkan jam satu dini hari lewat.
Hari keenam adalah hari terakhir di Kaliandra. Acaranya hanya penutupan resmi yang berlangsung singkat di pagi hari. Dalam acara penutupan juga ada pengumuman singkat dari panitia tentang rencana aksi terbaik yang disusun peserta. Ternyata, rencana aksi terbaik adalah milik tim kami dari Annuqayah.
Sekitar setengah sepuluh acara penutupan berakhir. Setelah itu kami berkemas untuk pulang. Mobil jemputan sudah menunggu satu jam sebelumnya. Menjelang jam sebelas siang, rombongan kami pun meluncur turun meninggalkan ketinggian Kaliandra bersama banyak hal yang kami dapatkan selama sepekan.
Tulisan terkait:
>> Inspirasi dari Kaliandra dan Malang
Label: Education, Environmental Issues, Journey
Jumat, 20 Juli 2007
Galeri Senja
Senja memang terlihat begitu indah jika disaksikan dari pantai. Suara debur ombak yang menyisir bibir pantai, buih yang terlempar ke udara setelah membentur karang terjal, angin yang bertiup kencang, sampan yang melaut di kejauhan, dan cahaya senja yang keperakan—semua seperti lukisan alam yang begitu indah.
Aku seperti berada di sebuah galeri seorang Maestro. Aku tiba-tiba ingin sekali menjadi bagian dari lukisan itu, bagian dari lanskap senja yang menyatu dengan sabda agung Penciptanya. Aku teringat sebuah petikan cerita tentang seseorang yang begitu menyukai senja tempat matahari tenggelam di ufuk samudera. Ia menatap senja itu dengan pikiran seakan ia akan mati di laut, seakan samudera akan menjadi kuburannya.
Aku tak begitu pasti apa yang kurasakan ketika sedang menatap senja di pantai itu. Saat itu aku memang sedang tak teringat pada kematian. Tapi aku bisa menghayati kesementaraan. Matahari, senja, keindahan, segera akan berganti malam. Setelah itu gelap. Awan sudah terlihat menyambut berarak ke arah sisi barat, seperti kelambu yang siap mengantar matahari rebah di peristirahatannya.
Aku mencoba bermain-main dengan ombak di pasir pantai yang tak seberapa luas itu, membiarkan tubuhku dipermainkan arus ombak yang lumayan kuat. Sesekali aku berteriak, ketika gulungan ombak yang tampak begitu besar siap menerpa tubuh kurusku. Tapi suaraku tak berarti apa-apa, ditelan gemuruh ombak yang kemudian mencapai tepian pantai.
Saat matahari semakin turun di ufuk barat, sehingga cahayanya menjadi kemerahan, aku berhenti mandi dan bermain dengan ombak, lalu duduk di sebongkah karang cukup besar yang agak menjorok ke arah lautan. Aku menghadap ke utara, ke arah lautan lepas yang seperti tak berbatas. Jauh ke utara, aku seperti menatap jalan menurun entah menuju negeri apa—mungkin negeri-dalam-lautan, seperti dalam dongeng. Tubuhku yang sedikit menggigil disapu cahaya matahari senja, yang saat itu tak menyisakan terik seperti di siang hari. Sesekali aku menatap ke arah barat, ke cahaya kemerahan yang semakin berpendar di antara gumpalan awan.
Aku tiba-tiba merindukan langit pantai dengan cahaya purnama.
Label: Journey
Sabtu, 21 April 2007
Senja di Pelabuhan (2)
Aku tiba di pelabuhan itu di suatu senja dengan sisa-sisa gerimis. Senja memang sudah akan segera berakhir. Di seberang,
“Kak, ini senja yang indah,” katamu dengan sedikit berbisik.
“Ya, dan aku ingin sekali menghadiahkannya untuk mbakmu,” kataku pelan, sambil tetap menatap ke arah barat. “Kupikir ia juga sudah lama tak menikmati indahnya senja di pelabuhan ini.” Read More..
Label: Journey
Jumat, 20 April 2007
Sepotong Kartu Pos tentang Insomnia
- catatan yang tertinggal
Malam mulai beranjak larut. Suara mesin bis terdengar keras di pertigaan kecil itu. Nyanyian jangkrik dan binatang malam lainnya lumat olehnya. Beberapa penumpang sudah duduk lebih awal di dalam bis—mungkin agar mendapatkan tempat duduk yang cocok. Memang belum semua penumpang hadir di tempat itu. Tapi para pengantar telah menambah ramai suasana. Beberapa di antara mereka terlihat saling berbincang sambil berdiri, entah tentang apa.
Tanda waktu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Kursi bis sudah hampir penuh. Sepertinya sudah tak ada lagi yang ditunggu. Aku bergegas mengeluarkan kertas catatan daftar penumpang dari saku celanaku, naik ke dalam bis, dan mencoba memastikan bahwa tak ada lagi penumpang yang tertinggal. Begitu selesai, aku memberi tahu sopir bahwa sudah waktunya berangkat. Pintu bis kemudian ditutup rapat. Suaranya menghentak di antara bunyi mesin bis yang mulai mengeras. Bis mulai bergerak pelan, menikung ke arah barat, dan meluncur mengikuti jalan kecil sedikit berkelok yang seperti dipenuhi tubuh besar bis itu.
Para penumpang kelihatan masih asyik berbincang di dalam bis. Aku duduk di kursi paling belakang, kecapekan. Seharian tak istirahat, membantu mempersiapkan keberangkatan di malam ini. Punggung kusandarkan ke kursi bis yang memanjang. Nikmat rasanya, mencoba meregangkan otot-otot di punggung. Aku mencoba menikmati momen itu. Pergerakan bis yang pelan tak cukup mengganggu. Sopir mengemudikannya dengan baik.
Aku menghidupkan pemutar mp3 di telepon genggamku. Sebelum berangkat, aku memang telah memilih beberapa lagu untuk menemani perjalananku ini. Lagu-lagu yang berkisah tentang bulan, purnama, perjalanan, keceriaan, kegundahan, juga harapan. Suara lagu yang mulai mengalun memang tak sangat jelas terdengar di sela-sela tarikan gas bis yang meluncur di jalan-jalan desa. Aku tak bisa detail menikmati permainan musik dan lantunan suara yang dibawakan oleh pasangan suami-istri itu. Tapi aku masih bisa menangkap suasana yang ingin disampaikan lagu mereka itu.
Saat itu bis baru berjalan sekitar lima belas menit, melintasi areal persawahan yang memanjang ke arah timur, ketika pemutar mp3ku tiba-tiba seperti tersedak, berhenti sejenak. Sepotong kartu pos dengan resolusi 640 x 480 piksel kuterima sesaat kemudian. Ada beberapa kata tertulis singkat di bawahnya. Kata-kata itu, kartu pos itu, bercerita tentang insomnia. Memang tak panjang. Sayang, aku sudah tak ingat lagi bagaimana persisnya kata-kata itu. Tapi kira-kira begini: “Yulis dari tadi mau tidur ga bisa-bisa. Yulis pura-pura merem aja dech...biar cepet tidur.” Di sisi kiri atas kartu pos itu, tampak seikat rambut terurai di sudut mata yang memejam.
Ekspresi mata itu seperti tak mudah dibaca. Ia hanya bercerita tentang insomnia. Tak lebih. Ia tak menceritakan lebih jauh tentang insomnianya itu. Bahkan ketika kemudian aku meneleponnya, di antara guncangan bis yang terus bergerak ke arah timur, aku tak mendapatkan penjelasan yang memuaskan. Tapi aku memang dapat mengatakan bahwa tatapan binar penuh keceriaan si pemilik mata itu, yang mudah kusaksikan di antara perjumpaanku dengannya, tak lagi dapat kusaksikan dalam sepotong kartu pos itu. Tak seperti kartu pos yang dikirimnya tadi siang. Saat kutanya di telepon, ia hanya menjawab singkat, dengan senyuman yang seperti tertahan: “Yulis ingin menyimpannya untuk pertemuan berikutnya.”
Aku menunggu cukup lama untuk mata indah yang telah menatap hitam-putih dunia yang dengan tegar dihadapinya. Ya, aku telah menunggu cukup lama. Mungkin sekitar sembilan purnama kemudian aku baru menyaksikannya dari dekat.
Label: Journey
