Monday, 18 June 2018

Idulfitri, Mudik Rohani


Idulfitri adalah kisah perjalanan pulang menuju fitrah kemanusiaan. Berkelana di belantara dunia yang penuh karut-marut dan cenderung mencipta kegundahan, Idulfitri adalah momentum bagi kita untuk kembali pada karakter dasar manusia tanpa embel-embel identitas duniawi yang berbeda-beda yang kadang memecah belah dan dapat mengerdilkan nilai kemanusiaan.

Secara kebahasaan, kata “Idulfitri” yang berasal dari Bahasa Arab dapat berarti “kembali ke asal”. Asal yang dimaksud adalah asal penciptaan, yakni bahwa manusia terlahir suci. Berdasarkan teks kitab suci, dalam Islam diyakini bahwa fitrah manusia adalah naluri beragama (agama tauhid) dan kecenderungannya pada kebaikan. Karena itu, berbuat baik pada dasarnya menenteramkan, dan berbuat buruk harus dilakukan dengan susah payah, penuh keterpaksaaan, dan justru berujung pada kerisauan.

Fitrah untuk mengimani agama tauhid dibangun di atas keyakinan adanya perjanjian primordial antara roh manusia dengan Tuhan untuk beriman pada Tuhan Yang Maha Esa (Q.,s. Al-A’raf/7: 172). Tugas manusia adalah menjaga kesucian perjanjian iman ini dari kekufuran dan kelak harus dipertanggungjawabkan di akhirat.

Sementara itu, fitrah manusia untuk cenderung pada kebaikan dalam bahasa yang lain mungkin identik dengan pengakuan akan adanya nilai moral universal dalam konteks kemanusiaan dan peradaban. Nilai-nilai yang sama dalam semua kebudayaan ini dalam ungkapan James Rachels (2004: 60) adalah aturan moral yang diperlukan untuk menjamin kelestarian masyarakat.

Dalam perjalanannya, fitrah kemanusiaan ini, seperti juga fitrah keimanan yang sifatnya mendasar, dapat tercederai oleh kehidupan duniawi dengan berbagai godaannya. Perbuatan-perbuatan buruk, yang kadang juga bercampur dengan asumsi atau cara pandang yang kurang jernih, sekecil apapun bentuknya, lambat laun juga dapat menutupi potensi suci manusia yang cenderung pada kebajikan itu sehingga keimanan dan fitrahnya pun layu dan gugur.

Penjara Ego

Perjuangan untuk menjaga dan perjalanan untuk meraih kembali fitrah ini tentu bukan perjalanan yang mudah. Imam Jamal Rahman (2013: 174-176), praktisi dan ahli spiritualitas lintas agama dari Amerika, mencatat bahwa umat beragama kadang gagal merawat fitrah kemanusiaan ini akibat kungkungan ego yang belum berhasil dijinakkan. Wujudnya dapat berupa bias dan eksklusivitas kelembagaan serta perasaan superioritas moral atas kelompok yang lain.

Akibatnya, kita terjebak pada diri-kecil yang eksklusif dan menghalangi kita untuk menjalin ikatan kemanusiaan dalam makna yang lebih luas. Orientasi fitrah untuk berbuat kebajikan kemudian menyempit dalam lingkar kelompok tertentu. Dalam konteks kisah Adam, situasinya mungkin mirip dengan klaim iblis yang sombong dengan mengakui bahwa ia lebih baik ketimbang manusia.

Nalar eksklusif ini bertentangan dengan penjelasan al-Qur’an bahwa tujuan keberagaman dalam penciptaan manusia adalah agar manusia saling mengenal (Q., s. al-Hujurat/49: 13). Khaled Abou El Fadl (2005: 206-207), tokoh muslim moderat dari University of California Los Angeles, memaknai fakta keberagaman ini sebagai sebuah tantangan etis bagi seorang muslim untuk dapat bekerja sama dengan orang lain yang berbeda demi kebajikan bersama.

Daya tarik untuk berpikir secara eksklusif ini belakangan cenderung menguat seiring dengan semakin keruhnya lalu-lintas informasi yang mengganggu kejernihan pikiran dan kebeningan hati yang sejatinya merupakan perkakas penting dalam menjaga fitrah kemanusiaan tersebut. Berita-berita palsu (hoax) yang disebarkan sembarangan secara masif pada titik tertentu mengubah kebohongan sebagai kebenaran, dan kemudian mengotori pikiran dan hati manusia saat membuat keputusan tindakan.

Tempaan Puasa

Idulfitri dapat dilihat sebagai sebuah etape bagi perjuangan kembali kepada fitrah kemanusiaan tersebut setelah melewati fase olah tubuh dan olah batin sepanjang bulan Ramadan. Al-Qur’an menyebutkan bahwa tujuan diwajibkan puasa bagi umat Islam adalah agar kita bertakwa (Q.s, al-Baqarah/2: 183).

Menurut Fazlur Rahman (1999: 29), akar kata “taqwa” dalam Bahasa Arab berarti “menjaga atau melindungi diri dari sesuatu”. Jadi, takwa bermakna melindungi seseorang dari akibat-akibat perbuatan buruk yang dilakukannya. Dalam diri orang yang bertakwa tertanam rasa takut (kepada Allah) yang mengarahkannya pada kesadaran akan tanggung jawab di Hari Akhir sehingga ia selalu berpegang pada fitrah kemanusiaannya itu.

Meraih takwa dengan berpuasa tentu bukan perkara yang gampang. Nabi Muhammad saw telah mengingatkan bahwa tidak sedikit orang yang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga—jauh dari capaian takwa. Tingkatan takwa ini hanya bisa diraih jika seseorang telah berpuasa menurut tingkatan ketiga sebagaimana yang dijelaskan al-Ghazali, yakni saat seseorang tidak hanya menahan lapar, dahaga, dan nafsu seksual, tetapi juga berhasil mempuasakan anggota badan dari perbuatan dosa, hati dan pikirannya dari urusan duniawi dan hal-hal yang bernilai rendah.

Menahan lapar dalam puasa menurut al-Ghazali dapat melunakkan dan menjernihkan hati dan meruntuhkan tabir yang menghalangi hati dari pancaran kebenaran sejati. Nafsu konsumsi, bahkan meski terarah pada yang halal, menurut al-Ghazali dapat menjerumuskan seseorang pada tindakan yang dapat mencederai hak orang lain.

Selain pengendalian nafsu tubuh, puasa juga adalah kesempatan untuk menajamkan refleksi dengan perenungan (tafakur) dan iktikaf yang sangat disarankan terutama pada 10 hari terakhir Ramadan. Aktivitas reflektif ini dilakukan untuk mengisi energi batin secara intensif (Chodjim, 2013: 97). Menarik diri dari keramaian dan kegaduhan hidup yang rutin dalam kerangka reflektif telah dilakukan oleh tokoh-tokoh revolusioner sebelum mendapatkan pencerahan. Buddha bermeditasi di bawah pohon Bodhi, dan Nabi Muhammad juga menyepi di Gua Hira di bulan Ramadan sebelum menerima wahyu.

Berdasarkan uraian singkat di atas, pada tingkatan yang paling tinggi, puasa memuat kekuatan penuh dari fitrah kemanusiaan untuk selalu terhubung dengan Sang Asal, untuk mematrikan kesadaran pada perjanjian primordial, dan menerjemahkannya dalam laku perbuatan.

Idulfitri dengan demikian adalah mudik rohani untuk meneguhkan kembali fitrah kemanusiaan kita. Umat Islam pada khususnya diajak untuk menyegarkan kembali makna perjanjian primordialnya dengan Allah, meneguhkan keimanan dan mengagungkan Allah, dan mengorientasikan visi keimanannya pada kebajikan untuk sesama.

Kerangka orientasi makna Idulfitri yang demikian ini tidak saja menguatkan filosofi manusia menurut perspektif Islam yang berpandangan terbuka dan menghormati keberagaman, tetapi juga menjadi pengingat bahwa sejatinya Islam adalah agama yang dapat menebarkan rahmat bagi semesta alam.


Versi lebih pendek dari tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 18 Juni 2018.

Read More..

Monday, 11 June 2018

Pesantren, Ramadan, dan Jeda Reflektif


Sebagai subkultur, pesantren di antaranya memiliki cara pandang tersendiri tentang waktu dan pengelolaannya. Ritme dan jadwal kegiatan belajar santri sehari-hari di pesantren berlangsung dengan mengikuti jadwal shalat lima waktu. Dalam rentang satu tahun, libur pesantren juga mengikuti liburan hari-hari besar Islam, termasuk libur Ramadan.

Namun, saat pesantren mulai mengadopsi sistem pendidikan formal dengan kalender pendidikan yang diatur sedemikian rupa oleh otoritas pemerintah, ritme waktu di pesantren juga berubah. Hal ini juga terkait dengan libur bulan Ramadan.

Berdasarkan pengalaman saya saat belajar di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, dahulu libur Ramadan adalah libur akhir tahun pelajaran. Waktu itu, kalender pendidikan di pesantren dalam satu tahun mengikuti kalender hijriyah (lunar), dan Ramadan adalah libur panjang akhir tahun.

Kegiatan akhir tahun pelajaran madrasah di Pesantren Annuqayah dahulu hingga tahun 1992 dimulai tepat keesokan hari setelah malam Nisyfu Syakban. Itu adalah waktu perayaan setelah ujian akhir di madrasah yang dikenal juga dengan istilah Haflatul Imtihan. Puncak Haflatul Imtihan dilaksanakan sekitar sepekan kemudian, lalu setelah itu liburan panjang pun dimulai. Santri kembali ke pesantren dua pekan setelah lebaran.

Dalam sistem kalender pendidikan seperti itu, Ramadan bagi pesantren adalah semacam jeda reflektif. Setahun ditempa dengan berbagai kegiatan kependidikan dan keagamaan di pesantren, libur Ramadan adalah saat bagi santri untuk kembali ke rumah dan lingkungan masyarakatnya. Selain hidup bermasyarakat, Ramadan di kampung halaman adalah kesempatan bagi santri untuk mengikuti ritme kegiatan keagamaan di masa bulan Ramadan.

Kiai M. Faizi, salah satu pengasuh di Pesantren Annuqayah saat ini yang juga dikenal sebagai penyair dan budayawan, di laman Facebook-nya mencatat ada 11 manfaat liburan pesantren dalam konteks kekinian. Selain sebagai tempat santri “berlatih” berkiprah di masyarakat, di antara manfaat yang ditulis Kiai Faizi adalah bahwa libur Ramadan merupakan “aktivitas politik pertanggungjawaban” saat santri kembali dipasrahkan kepada orangtuanya.

Sementara itu, sebagian santri ada juga yang kembali ke pondok untuk mengikuti pengajian kitab yang diselenggarakan di pesantren. Di pesantren, selain mengaji kitab, mereka juga bertadarus dan tarawih bersama. Kegiatan belajar dan berkegiatan di pesantren saat Ramadan bisa dikatakan berbasis kesadaran santri—tidak ada tekanan dan aturan seketat saat hari-hari aktif.

Jeda reflektif santri saat Ramadan ini mungkin mendekati atau mirip dengan momen saat Nabi Muhammad saw. menjalani masa-masa rutin tahannuts di Gua Hira. Tahannuts, menurut Quraish Shihab, “bisa jadi merupakan tata cara yang sesuai dengan ajaran Nabi Ibrahim as.”. Bentuknya bisa berupa renungan, tafakkur, dan zikir. Dalam al-Qur’an dan ajaran tasawuf pada khususnya, tafakkur yang dapat berarti juga sebagai momen reflektif mendapat tempat yang cukup penting.

Secara sederhana, al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menerangkan bahwa kegiatan tafakur itu dapat menghasilkan ilmu atau pengetahuan, dan ilmu atau pengetahuan dapat mengubah keadaan hati. Jika hati berubah maka perilaku anggota badan juga dapat berubah.

Kini, ritme tahunan kegiatan kependidikan dan keagamaan pesantren sedikit berubah. Ramadan tidak mesti menjadi akhir tahun pelajaran madrasah/pendidikan. Seperti tahun ini, pelaksanaan perayaan akhir tahun pelajaran dilaksanakan pada saat yang berbeda-beda di beberapa pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan bercorak pesantren. Ada yang bentuknya disederhanakan dan dilaksanakan beberapa hari sebelum Ramadan. Ada juga yang dilaksanakan di bulan Ramadan. Lainnya ada yang akan dilaksanakan di bulan Syawal atau setelah lebaran.

Apakah perubahan ritme tahunan kegiatan di pesantren terkait Ramadan ini berpengaruh pada kehidupan pesantren atau cara berpikir santri secara umum? Ini mungkin bisa ditelaah secara khusus dan lebih mendalam. Tata waktu adalah salah satu unsur orientasi dalam sistem kebudayaan manusia. Yang jelas, tata waktu subkultur pesantren saat ini tengah berubah akibat perubahan kalender pendidikan ini.

Masalah ini semakin menarik untuk diteliti lebih jauh jika kita meletakkan situasi yang berubah ini dalam kerangka kebudayaan yang melatarinya. Bagaimanapun, harus diakui bahwa tata waktu pendidikan formal yang saat ini diadopsi pesantren sedikit banyak mengikuti pengaturan waktu menurut dunia industri yang bisa dibilang bias Barat. Masa akhir tahun pelajaran yang berlaku saat ini sejatinya sangat cocok untuk negara empat musim seperti di Eropa atau Amerika Utara. Itu adalah masa liburan musim panas, saat kerja dan kegiatan pokok diliburkan. Sedangkan waktu libur di pertengahan adalah libur natal dan tahun baru, saat turunnya salju mencapai puncaknya.

Yuval Noah Harari dalam buku larisnya yang berjudul Sapiens menjelaskan semakin berkuasanya waktu industrial dalam kebudayaan manusia di berbagai penjuru dunia. Sistem waktu yang mengandalkan ketepatan dan keseragaman di sektor industri lambat laun juga diadopsi sekolah, rumah sakit, kantor pemerintah, dan lainnya. Jika waktu industrial semakin dominan, dan sistem ini secara tidak disadari juga menjadi landasan ritme waktu kegiatan kependidikan di pesantren, kemungkinan adanya pengaruh—disadari atau tidak—sangatlah terbuka.

Memang, perubahan yang dialami pesantren bukan hanya terkait ritme waktu. Ini hanya salah satu sisi yang dalam kerangka kebudayaan dapat bermakna dan memiliki konsekuensi yang cukup samar namun bisa cukup penting. Sisi lainnya tentu saja terkait dengan berbagai bentuk perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat kita, seperti penetrasi teknologi informasi yang luar biasa yang juga berdampak pada kehidupan santri pada khususnya.

Semua perubahan ini mungkin memang bagian dari perubahan alamiah dalam kehidupan sosial dan kebudayaan yang terus berkembang. Yang perlu dipikirkan secara lebih serius adalah pengaruhnya terhadap nilai-nilai dan pandangan dunia pesantren, dan yang lebih penting lagi antisipasi dan langkah konkretnya yang harus diambil oleh pesantren.

Tulisan ini dimuat di Radar Madura, 11 Juni 2018.


Read More..

Wednesday, 6 June 2018

Kisah Para Penakluk Nafsu


Judul buku: Chicken Soup for the Soul: Makin Sedikit Makin Bahagia (101 Kisah tentang Mengubah Hidup dengan Melepaskan Apa yang Dimiliki)
Editor: Amy Newmark dan Brooke Burke-Charvet
Penerbit: Gramedia, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2018
Tebal: xvi + 438 halaman
ISBN: 978-602-03-6124-6


Konsumsi adalah fenomena kehidupan modern. Peningkatan konsumsi yang masif dengan berbagai perkakas pendukungnya oleh sebagian kalangan dipandang sebagai gejala patologi. Erich Fromm misalnya melihat konsumsi yang kompulsif sebagai bentuk pelarian manusia modern dari kehampaan untuk mencari kebahagiaan. Namun menurut Fromm upaya itu hanyalah kesia-siaan.

Buku ini memuat kisah orang-orang biasa yang berusaha meraih kebahagiaan dengan mempraktikkan gaya hidup sederhana, bukan dengan merayakan konsumsi berlebihan. Para penutur di buku ini berlatar belakang profesi yang beragam. Mereka mungkin memang bukan ideolog anti-kapitalisme dan anti-konsumerisme. Akan tetapi kisah-kisah mereka dalam buku ini sungguh mengilhamkan dalam memberi teladan tentang hidup yang disyukuri dan kemurahan berbagi.

Kisah Jeanie Jacobson dari Omaha, Nebraska, memberi perspektif baru tentang kebiasaan menumpuk barang berlebihan yang tak dimanfaatkan secara maksimal. Setiap kali membantu teman-temannya membereskan rumah dengan menyortir barang-barang yang jarang digunakan untuk disumbangkan, ia mengajukan pertanyaan khas: “Apakah kau menahan berkat orang lain?” (hlm. 284-286)

Pertanyaan Jacobson ini, yang kemudian juga diarahkan kepada dirinya sendiri, membuka mata kesadaran kita bahwa menumpuk barang senyatanya adalah sebentuk keserakahan. Keserakahan itu menghalangi orang lain untuk memperoleh apa yang sebenarnya ia butuhkan. Sesederhana itu.

Denise Barnes tahu pasti betapa tidak mudah melawan rayuan iklan untuk mencari kepuasan dengan berbelanja. Awal tahun 2014 adiknya memberitahunya bahwa sedang membuat tantangan untuk tidak membeli baju, tas, sepatu, dan perhiasan baru selama setahun. Barner pun bergabung dengan tantangan itu. Mulanya memang tidak mudah, apalagi di tengah gempuran promo obral di kanan-kiri. Tapi begitu sukses melewati tantangan ini, Barnes merasakan bahwa ia telah menjalani hidup yang lebih bermakna (hlm. 59-63).

Godaan konsumsi yang kompulsif semakin kuat karena dukungan sistem ekonomi dan keuangan yang ada. Kisah Marsha Porter, seorang pengulas film, dalam bangkit kembali dengan hidup tanpa kartu kredit sungguh menarik disimak. Kemudahan bertransaksi yang diiming-imingkan oleh penyedia kartu kredit membuat Porter terjerat. Tiga belas kartu kreditnya menuntutnya melakukan pembayaran minimum setiap bulan yang berjumlah 1270 dolar. Setelah dengan upaya keras berhasil bebas dari jerat kartu kredit, kini ia tak lagi menggunakannya. Dan Porter kemudian merasakan momen-momen yang istimewa dan membahagiakan (hlm. 349-353).

Hidup yang tak mengenal batas konsumsi juga kadang didorong oleh tradisi. Kebiasaan merayakan ulang tahun, misalnya. Rebecca Smith Masterson dari Phoenix, Arizona, bertutur tentang ulang tahun putranya yang istimewa tanpa undangan, keriuhan, tumpukan hadiah, dan hura-hura. Putranya yang berumur sembilan tahun cukup tidur di tempat tidur Masterson di malam menjelang ulang tahunnya, ditambah dengan beberapa permintaan sederhana (hlm. 403-404).

Amy Newmark, editor serial Chicken Soup for the Soul, juga membagikan kisahnya di bagian akhir. Saat selesai mengkaji 300 finalis untuk buku ini, ia seperti duduk di depan cermin tentang gaya hidup yang dijalaninya sendiri. Di awal tahun itu, tahun 2016, ia lalu berkomitmen untuk membuat proyek 52 minggu berberes-beres barang yang menumpuk di rumahnya (hlm. 405-408).

Buku ini adalah kisah-kisah orang hebat yang betul-betul mengerti dan menghayati kenikmatan dan kebahagiaan hidup sederhana. Kisah mereka adalah cerita tentang penaklukan nafsu konsumtif dengan bekal keberanian di atas kesadaran bahwa makin sedikit mereka akan makin bahagia. Mereka adalah teladan nilai kesederhanaan. Meski tidak mesti di atas landasan religius, kesadaran mereka ini juga dibangun dengan fondasi rasa syukur atas berbagai nikmat dalam kehidupan yang mereka dapatkan.

Naskah ini adalah versi awal yang kemudian dimuat di Koran Jakarta, 6 Juni 2018.

Read More..

Friday, 18 May 2018

Menumbuhkan Ketabahan untuk Meraih Kesuksesan


Judul buku: Grit: Kekuatan Passion + Kegigihan
Penulis: Angela Duckworth
Penerbit: Gramedia, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2018
Tebal: 402 halaman
ISBN: 978-602-03-8159-6


Jika orang ditanya tentang kunci kesuksesan, banyak yang menjawab bahwa kerja keras adalah hal yang lebih penting daripada bakat. Meski demikian, dalam kehidupan sehari-hari faktanya kita cenderung untuk memberi tempat yang lebih istimewa pada orang yang dianggap berbakat.

Penelitian Chia-Jung Tsay membuktikan “bias bakat” yang diam-diam menguasai kecenderungan banyak orang. Chia meneliti pendapat orang tentang dua pemain piano dan dua profil wirausaha. Ternyata profil yang lebih disukai dan dinilai akan sukses adalah mereka yang biodatanya menunjukkan latar bakat alami (hlm. 27-28).

Buku berbasis penelitian yang disajikan dengan gaya bertutur yang sungguh renyah ini memperlihatkan bahwa rahasia kesuksesan yang sebenarnya terletak pada perpaduan antara hasrat (passion) dan kegigihan (perseverance) yang disebut “ketabahan” (grit). Orang yang sukses adalah orang yang tahu secara sangat mendalam apa yang mereka inginkan. Dia tahu ke arah mana dia akan melangkah. Selain itu, orang yang sukses juga luar biasa tegar dan bekerja keras untuk menjalani alur menuju tujuan yang dia tetapkan (hlm. 9).

Angela Duckworth, penulis buku ini, menggarisbawahi bahwa keterpesonaan pada bakat dapat membuat orang menjauh dari jalan kesuksesan. Karena terarah pada bakat, maka upaya atau kerja keras akan kurang diperhatikan. Bahkan, lebih jauh Duckworth mengutip filsuf besar Jerman, Nietzsche, yang menyatakan bahwa ketika kita menilai seseorang itu istimewa—dengan kata lain: berbakat—maka kita terdorong untuk tidak menyainginya. Kita seperti kemudian diperbolehkan untuk tidak bekerja keras jika sudah berhadapan dengan sosok berbakat.

Nilai paling penting buku ini bukan terletak pada pemaparannya tentang apa sebenarnya kunci kesuksesan itu. Buku ini sangat penting untuk dibaca karena memaparkan secara mendalam cara menumbuhkan ketabahan. Pada bagian awal, Duckworth mengembangkan Skala Ketabahan untuk mengukur ketabahan yang kita miliki pada saat tertentu.

Menurut Duckworth, ketabahan ditumbuhkan melalui dua jalur utama, yakni dari dalam ke luar, dan dari luar ke dalam. Ketabahan dapat ditumbuhkan dari dalam dengan menegaskan dan memupuk minat, kebiasaan dan kemampuan berlatih secara terfokus, merumuskan tujuan dalam berbagai kegiatan atau pekerjaan dengan level yang padu, dan harapan atau kemampuan untuk bangkit setiap menghadapi kegagalan. Empat hal ini adalah aset psikologis yang dapat ditumbuhkan dari dalam diri seseorang sebagai bekal meraih kesuksesan (hlm. 103-104).

Sedangkan dari faktor luar ketabahan dapat ditumbuhkan dengan pengasuhan. Kata pengasuhan berasal dari bahasa Latin yang berarti “untuk membawa maju”. Duckworth lalu memperkenalkan model pengasuhan yang bijaksana untuk menjelaskan model pengasuhan yang ideal yang baik untuk mendukung tumbuhnya ketabahan. Pada bagian ini, Duckworth memberi pengertian yang jernih dan bisa menengahi model pengasuhan otoriter dan pengasuhan yang penuh kasih sayang (hlm. 233-253).

Duckworth juga menggarisbawahi bahwa pengasuhan bukan hanya terkait dengan ibu dan ayah. Guru, mentor, pelatih, atasan, bahkan teman, dapat berada dalam kerangka pengasuhan yang dapat menumbuhkan ketabahan.

Buku ini ditulis dengan penyajian yang ringan. Ada banyak contoh kasus yang diangkat yang sebagian besar merupakan hasil riset penelitian terkait sehingga informasi yang termuat begitu kaya dengan data ilmiah.

Dari buku ini kita diingatkan untuk mengalihkan fokus dan strategi kita yang semula bertolak dari kekaguman berlebihan pada bakat, tingkat IQ yang tinggi, dan semacamnya, pada upaya untuk membentuk iklim hasrat dan kegigihan yang kuat. Buku yang ditulis oleh mantan guru sekolah menengah dan kini menjadi profesor psikologi di University of Pennsylvania ini bernilai penting bagi kita sebagai bekal untuk menyiapkan generasi mendatang yang sukses baik pada tingkat individu maupun kolektif.

Versi pendek tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 18 Mei 2018.


Read More..

Friday, 9 March 2018

Derita, Makna, dan Kebebasan Batin


Judul buku: Man’s Search for Meaning
Penulis: Viktor E. Frankl
Penerjemah: Haris Priyatna
Penerbit: Noura Books, Jakarta
Cetakan: Pertama, Desember 2017
Tebal: xxii + 234 halaman
ISBN: 978-602-385-416-5


“Segala sesuatu yang tidak membunuh saya, membuat saya jadi lebih kuat”. Demikian ujar Nietzsche. Viktor E Frankl (1905-1997), seorang neuorolog dan psikiater terkemuka di Eropa, telah membuktikan pernyataan ini.

Frankl selama tiga tahun (1942-1945) pernah berada di empat kamp konsentrasi yang berbeda, termasuk Auschwitz. Di antara kekejaman, keganasan, dan penderitaannya di kamp, Frankl menemukan dan berhasil merefleksikan banyak hal yang kemudian dituliskannya setelah ia bebas. Dari situ, lahirlah buku yang berjudul Man’s Search for Meaning ini. Hingga sekarang, buku ini telah dicetak ulang lebih dari 100 kali dalam edisi bahasa Inggris dan diterbitkan dalam 49 bahasa ini.

Melalui buku ini, Frankl kemudian dikenal sebagai pendiri teori psikologi logoterapi. Dalam teorinya, Frankl menyatakan bahwa dorongan utama manusia dalam hidup bukanlah untuk mencari kesenangan atau kepuasan atau juga kekuasaan. Logoterapi meyakini bahwa perjuangan untuk mencari makna adalah dorongan utama manusia. Karena itu, logoterapi lebih memfokuskan pada masa depan. Dalam konteks ini, logoterapi membantu seseorang untuk menemukan makna hidupnya melalui proses yang bersifat analitis (hlm. 142-143).

Manusia yang tidak dipandu oleh makna hidup akan mengalami kehampaan eksistensial. Ini adalah fenomena yang mewabah khususnya sejak abad ke-20. Karena menjalani hidup tanpa orientasi makna yang jelas, manusia kemudian mengubah arah hidupnya pada upaya untuk mencari kesenangan belaka (hlm. 155).

Dalam pandangan logoterapi, makna hidup bukanlah hal yang bersifat abstrak. Makna hidup yang harus ditemukan adalah makna yang spesifik. Dalam pengertian sederhana, ia adalah tugas yang unik yang dijalani dalam hidup sehari-hari. Hidup dengan tugas khusus yang disadari bagi Frankl adalah juga sebentuk pertanggungjawaban atas hidup itu sendiri.

Pengalaman Frankl hidup di kamp selama tiga tahun membuktikan bahwa makna hidup bermakna sangat penting saat seseorang menjalani pengalaman negatif atau penderitaan. Menurut Frankl, orang yang relatif memiliki makna hidup akan lebih mudah bertahan menghadapi berbagai bentuk ancaman fisik dalam tahanan. Frankl memberi kesaksian bahwa kekuatan batin manusia bisa berdiri lebih tinggi dari nasib yang menimpa fisiknya (hlm. 98).

Kehidupan di kamp yang sangat kejam tidak hanya dapat menumpulkan emosi seseorang, tapi juga dapat membunuh harapan. Namun, bagi seseorang yang kebebasan batinnya masih terawat baik, orientasi makna hidupnya dapat menjadi tempat berlindung dari kehampaan dan keterasingan (hlm. 54).

Pada titik ini, logoterapi tampak menempatkan kebebasan positif di tempat yang istimewa pada kehidupan seseorang. Kebebasan positif, yakni kebebasan untuk secara sadar dan aktif mengorientasikan hidupnya pada titik tujuan tertentu atau kebebasan untuk menentukan sikap dalam setiap keadaan, akan dapat menjadi benteng dan sekoci penyelamat bagi seseorang yang sedang berada di titik nadir penderitaan.

Dengan kekuatan kebebasan batin dan kebebasan spiritual yang hebat, penderitaan sebagai sebuah nasib yang tak terhindarkan kemudian dilihat sebagai kesempatan untuk memperdalam makna hidup. Bahkan, kalau perlu penderitaan dilihat sebagai bagian dari tugas hidup. Berbekal orientasi makna hidup yang kuat, perasaan lemah dan takut lalu disingkirkan, sedangkan keberanian mengemuka.

Di tengah beratnya beban hidup di masa kini yang rawan menciptakan kegalauan, kecemasan, dan bahkan kehampaan eksistensial, buku ini membawa pesan yang kuat bahwa dalam kondisi terburuk pun hidup punya potensi untuk memiliki makna. Tugas kitalah untuk menemukannya. Dengan cara ini, buku ini berusaha memupuk optimisme dan memperluas cakrawala harapan kita.

Naskah ini adalah versi awal yang kemudian dimuat di Koran Jakarta, 9 Maret 2018.


Read More..

Sunday, 18 February 2018

Sumbangan Islam untuk Peradaban Dunia


Judul buku: The Genius of Islam: Penemuan-Penemuan Hebat Umat Islam yang Mengubah Dunia
Penulis: Bryn Barnard
Penerbit: Noura Books, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2017
Tebal: 84 halaman
ISBN: 978-602-385-262-8

Ketika umat Islam saat ini tak berada di baris terdepan dalam kancah peradaban dunia, ada orang yang tidak tahu bahwa peradaban Islam telah ikut memberikan sumbangan besar bagi peradaban dunia. Catatan sumbangan peradaban Islam telah tercatat dalam buku-buku sejarah. Tapi kadang akses yang terbatas membuat hal ini kurang tersebar, bahkan di kalangan umat Islam sendiri.

Buku ini menyajikan beberapa sumbangan penting peradaban Islam dalam kemasan yang dirancang untuk anak-anak dan remaja. Ada 12 tema atau fokus khusus yang dipilih di antara berbagai sumbangan peradaban Islam yang tersaji dalam buku ini.

Pada bagian pertama, penulis buku sekaligus ilustrator yang memang fokus pada penerbitan buku anak-anak ini memberikan pemaparan singkat tentang peradaban Islam. Selain uraian kronologi singkat tentang peradaban Islam, Barnard juga memberikan penjelasan tentang dorongan Islam untuk mencari pengetahuan sehingga umat Islam sejak awal sejarahnya telah mulai menyelami khazanah ilmu yang berasal dari peradaban lain.

Untuk menjelaskan jejak peradaban muslim pada dunia saat ini, Barnard menuturkan bahwa buku yang kita baca, musik yang kita mainkan, kata-kata yang kita ucapkan, angka-angka yang kita hitung, makanan yang kita santap, dan sains yang menjadi landasan kehidupan kita memiliki unsur yang dipengaruhi oleh Islam.

Jejak peradaban Islam di antaranya terlihat pada penggunaan kertas. Saat ini, manusia menggunakan sekitar 300 juta ton kertas setiap tahunnya. Jejak penggunaan kertas secara massal ditemukan sejak era masyarakat Islam. Memang, penemu kertas adalah bangsa China pada sekitar sebelum abad ke-2 SM. Akan tetapi, Islam merupakan masyarakat pertama yang menghasilkan kertas secara massal. Di antara tandanya, pada pertengahan abad ke-9, Baghdad memiliki lebih dari seratus toko yang menjual kertas dan buku.

Peradaban kertas mendorong peradaban buku yang luar biasa sehingga bangsa muslim menjadi masyarakat pencinta buku. Salah seorang khalifah Abbasiyah, al-Mansur, mendirikan perpustakaan dan pusat penerjemahan yang luar biasa di Baghdad. Karena sudah berhasil membentuk peradaban kertas, pembudayaan buku memiliki sisi berbeda dengan Perpustakaan Alexandria yang legendaris di Mesir. Saat perpustakaan Alexandria dihancurkan pada 391, sebagian besar pengetahuan yang tersimpan di sana hilang. Sementara itu, saat bangsa Mongol menyerang Baghdad pada 1238, peradaban Islam sudah berhasil menyimpan dan menggandakan buku-buku di sana di kota-kota muslim lainnya seperti di Kairo, Damaskus, dan juga Kordoba.

Namun peradaban Islam tidak hanya berkutat dalam dunia keilmuan yang sifatnya teoretis. Peradaban Islam juga tercatat sebagai perintis sistem pelayanan kesehatan yang digunakan saat ini. Pelayanan kesehatan dalam bentuk rumah sakit dikembangkan oleh peradaban muslim setelah mereka menemukan model perawatan kesehatan di Persia. Sistem yang lebih rumit dalam pelayanan kesehatan, termasuk apotek dan sistem hierarki dan spesialisasi dalam tata kerja rumah sakit, lahir dari dunia muslim.

Dunia arsitektur juga tak lepas dari jejak peradaban muslim. Bahkan di dunia Eropa, jejak ini dapat kita temukan dengan mudah. Secara umum, bangsa muslim menggabungkan unsur-unsur arsitektur dari Mesopotamia dan Romawi kuno, yang kemudian ditiru oleh bangsa Eropa dan disebarkan seiring dengan kolonialisme ke berbagai penjuru dunia.

Bentuk konkret arsitektur yang dikembangkan masyarakat muslim adalah pelengkung runcing yang dibuat untuk mengurangi tekanan tembok sehingga memungkinkan mereka untuk membangun gedung yang lebih tinggi dengan lebih banyak ruang terbuka di dalam.

Hal lain yang disampaikan buku ini terkait dengan sumbangan peradaban Islam di bidang astronomi, pertanian, optik, mesin dengan mekanisme engkol dan tuas, dan juga musik.

Setiap pokok bahasan dalam buku ini disajikan dengan ilustrasi yang menarik. Selain itu, teks ide-ide pokok dicetak dengan warna yang berbeda sehingga memudahkan pembaca untuk memberi perhatian lebih pada bagian tersebut. Pemaparan juga melibatkan fakta-fakta kunci yang mendukung atas narasi yang disusun.

Meski ditujukan untuk anak-anak, buku ini memuat informasi yang sangat penting untuk diketahui pula oleh kalangan dewasa. Ada beberapa fakta unik yang relatif sulit untuk ditemukan di sumber yang lain yang tersaji dalam buku ini.

Buku ini membangun kesadaran kita semua bahwa peradaban dunia bagaimanapun dibentuk melalui proses bersama di antara berbagai unsur kebudayaan. Sumbangan peradaban muslim yang disampaikan dalam buku ini pun tentu saja tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang berangkat dari ruang kosong. Ia juga adalah lanjutan yang berkesinambungan dengan capaian peradaban masyarakat lain di era yang berbeda.

Buku ini adalah upaya untuk menanamkan wawasan dunia dan peradaban yang terbuka untuk anak-anak dan remaja sejak dini untuk membekali mereka kesadaran akan peradaban masa kini tempat mereka hidup.


Tulisan ini dimuat di Harian Radar Madura, 18 Februari 2018.

Read More..

Saturday, 10 February 2018

Kata Baku dan Selingkung


“Otentik” atau “autentik”? “Sekedar” atau “sekadar”? “Nopember” atau “november”? “Shalat” atau “salat”? Di manakah di antara kedua kata-kata tersebut yang merupakan kata baku? Yang disebut pertama atau yang kedua?

Ketika tulisan saya hari Ahad 21 Januari 2018 dimuat di Jawa Pos di rubrik Buku, saya lihat redaktur Jawa Pos mengubah kata “autentik” dalam tulisan saya menjadi “otentik”. Saya menemukan pengubahan itu dengan mudah karena saya menggunakan kata itu pada bagian judul. Tentu saja pengubahan tidak hanya dilakukan pada judul tulisan saya. Kata “autentik” dalam tubuh tulisan juga diganti dengan kata “otentik”.

Perbedaan penulisan beberapa kata sebagaimana disebutkan di atas ada yang merupakan kata baku dan tidak baku. Ada juga yang perbedaannya lebih karena pilihan lingkungan atau lembaga tertentu.

Kata “otentik”, “sekedar”, “nopember”, “shalat”, bisa kita temukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun demikian, dalam KBBI, kata-kata tersebut disebutkan sebagai bentuk tidak baku.

Meski kata-kata tersebut oleh KBBI disebut sebagai bentuk tidak baku, ada lembaga atau lingkungan tertentu yang secara sadar tetap memilih menggunakan kata-kata tidak baku tersebut. Begitulah. Memang ada orang atau lembaga yang mengikuti sepenuhnya pada standar KBBI. Namun ada pula orang atau lembaga yang memilih berbeda untuk kasus tertentu.

Saya lihat di situlah posisi Jawa Pos yang mengubah kata “autentik” dengan “otentik” pada tulisan saya. Gaya selingkung seperti yang dilakukan Jawa Pos biasanya sudah melewati proses internal berupa kesepakatan dan sosialisasi kepada unsur-unsur internal: bahwa ada kata-kata tertentu yang dipilih untuk tidak mengikuti standar baku KBBI.

Pilihan untuk tidak mengikuti kata baku KBBI tersebut bisa saja dibuat dengan alasan “ilmiah”. Tapi mungkin ada juga orang yang hanya berdasarkan pada sekadar alasan yang lebih bersifat subjektif. Saya, misalnya, sampai saat ini masih merasa kurang nyaman untuk menulis kata “Alquran”, “shalat”, “selawat”, dalam tulisan-tulisan saya sebagaimana standar KBBI. Sebagai muslim yang sehari-hari juga hidup di lembaga dan lingkungan keilmuan muslim, lidah saya terasa kurang nyaman untuk mengikuti lafal penulisan ala KBBI untuk kata-kata tersebut.

Saya bukan ahli bahasa. Tapi tentu saja boleh-boleh saja saya punya pilihan. Namun begitu, saat tulisan saya harus tampil di tempat yang memiliki standar yang berbeda dengan pilihan saya, saya biasa saja dan menghormati pilihan mereka.

Demikian.


Read More..

Sunday, 21 January 2018

Tantangan Menjadi Manusia Autentik


Judul buku: Solitude: In Pursuit of a Singular Life in a Crowded World
Penulis: Michael Harris
Penerbit: Thomas Dunne Books, New York
Cetakan: Pertama, 2017
Tebal: 256 halaman
ISBN: 978-1-250-08860-4

Manusia masa kini menjalani kehidupan sehari-hari dengan dikepung oleh berbagai perangkat teknologi. Obsesi untuk terus terhubung dengan orang lain melalui berbagai media sosial di gawai yang kita jinjing ternyata berpotensi menghilangkan salah satu sisi penting dalam kehidupan kita, yakni momen kesendirian, yang nilainya tak bisa diremehkan.

Itulah gagasan pokok yang dituturkan Michael Harris, penulis asal Kanada, dalam buku ini. Manusia di era digital kini tampaknya memiliki ketakutan berlebih untuk terputus dari jejaring maya yang dirajut oleh perangkat teknologi dengan berbagai fasilitas pendukungnya. Harris memberi ilustrasi yang cukup mengena. Cobalah mengetik “fear of being without” di mesin pencari Google, maka fitur auto-complete di baris pertama akan menampilkan “fear of being without your phone”.

Harris juga mengutip sebuah penelitian tahun 2013 yang melibatkan 7.500 pengguna telepon seluler di Amerika. Salah satu hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa 80 persen di antara mereka segera mengambil telepon seluler 15 menit setelah bangun tidur.

Semakin tergerusnya momen kesendirian menurut Harris dapat menggerogoti hal-hal yang cukup bernilai. Kesendirian bagi Harris menjadi tempat yang baik untuk lahirnya kreativitas, inovasi, dan pemikiran yang segar. Tengoklah para penemu seperti Einstein atau Newton. Momen kesendirian juga dapat menjadi pengantar bagi lahirnya pencerahan. Buddha, Yesus, juga Nabi Muhammad, tulis Harris, tiba pada titik transformatif kesadaran dan awal kepemimpinan sosialnya yang revolusioner setelah menjalani momen kesendirian.

Kesendirian dapat memperdalam pemahaman seseorang akan aspek interior dirinya. Tapi di sisi yang lain ia juga dapat memperkuat ikatan seseorang dengan orang lain. Kesendirian juga dapat membebaskan seseorang dari tekanan konformitas. Selain itu, kesendirian menyediakan ruang yang dibutuhkan seseorang untuk menemukan sumber terdalam gairah, kegembiraan, dan kepenuhan makna hidupnya.

Kehidupan zaman modern di era teknologi memang rawan menimbulkan depresi dan alienasi. Namun menurut Harris banyak orang salah paham. Mereka berpikir bahwa keterasingan harus diobati dengan berbaur seluas-luasnya—termasuk di media sosial. Bagi Harris, memaknai dan menggeluti kesendirian hingga mendalam justru menawarkan solusi bagi problem alienasi, yakni dengan cara mengajak individu untuk menemukan dan memperjuangkan sisi kehidupannya yang unik—itulah hidup yang autentik.

Harris juga mencontohkan salah satu momen kesendirian yang cukup klasik, yakni membaca. Mengutip Keith Oatley, profesor psikologi kognitif di University of Toronto, Harris menyatakan bahwa membaca dapat membantu seseorang untuk meningkatkan kemampuan berempati—kemampuan untuk menyingkirkan ego dan terlibat dengan posisi orang lain. Namun demikian, kepungan perangkat teknologi yang hiper-sosial membentuk budaya membaca yang baru.

Di era digital ini, pengalaman membaca akan sulit mendapatkan kepenuhan fungsinya, yakni untuk membaca mendalam dengan manfaat seperti yang dikemukakan Oatley. Mengutip Maryanne Wolf, neurosaintis dari Tufts University, Harris menulis bahwa membaca dengan gawai—bahkan meski kita mematikan fungsi notifikasi—adalah antitesis dari membaca secara mendalam.

Secara umum, buku ini menggambarkan tantangan manusia zaman now untuk menjadi manusia autentik. Penetrasi perangkat teknologi dalam kehidupan sehari-hari yang semakin menghilangkan momen kesendirian cenderung menyulitkan seseorang untuk keluar dari arus kerumunan karena semakin tumpulnya kemampuan reflektif yang dimilikinya. Lebih jauh, tanpa disadari ritme kehidupan individu perlahan semakin dikendalikan oleh aktor-aktor di balik layar berbagai perangkat teknologi itu yang pusatnya terutama adalah kepentingan pasar.

Buku ini bermakna penting sebagai pengingat bahwa momen kesendirian itu bukan hanya menyia-nyiakan waktu. Ia memuat nilai yang sangat kontekstual dengan tantangan zaman sekarang ketika era teknologi diam-diam dapat merenggut kebebasan dan mengantarkan manusia pada perbudakan akali terselubung.

Tulisan ini adalah naskah awal yang kemudian dimuat di Harian Jawa Pos, 21 Januari 2018.


Read More..