Sunday, 18 February 2018

Sumbangan Islam untuk Peradaban Dunia


Judul buku: The Genius of Islam: Penemuan-Penemuan Hebat Umat Islam yang Mengubah Dunia
Penulis: Bryn Barnard
Penerbit: Noura Books, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2017
Tebal: 84 halaman
ISBN: 978-602-385-262-8

Ketika umat Islam saat ini tak berada di baris terdepan dalam kancah peradaban dunia, ada orang yang tidak tahu bahwa peradaban Islam telah ikut memberikan sumbangan besar bagi peradaban dunia. Catatan sumbangan peradaban Islam telah tercatat dalam buku-buku sejarah. Tapi kadang akses yang terbatas membuat hal ini kurang tersebar, bahkan di kalangan umat Islam sendiri.

Buku ini menyajikan beberapa sumbangan penting peradaban Islam dalam kemasan yang dirancang untuk anak-anak dan remaja. Ada 12 tema atau fokus khusus yang dipilih di antara berbagai sumbangan peradaban Islam yang tersaji dalam buku ini.

Pada bagian pertama, penulis buku sekaligus ilustrator yang memang fokus pada penerbitan buku anak-anak ini memberikan pemaparan singkat tentang peradaban Islam. Selain uraian kronologi singkat tentang peradaban Islam, Barnard juga memberikan penjelasan tentang dorongan Islam untuk mencari pengetahuan sehingga umat Islam sejak awal sejarahnya telah mulai menyelami khazanah ilmu yang berasal dari peradaban lain.

Untuk menjelaskan jejak peradaban muslim pada dunia saat ini, Barnard menuturkan bahwa buku yang kita baca, musik yang kita mainkan, kata-kata yang kita ucapkan, angka-angka yang kita hitung, makanan yang kita santap, dan sains yang menjadi landasan kehidupan kita memiliki unsur yang dipengaruhi oleh Islam.

Jejak peradaban Islam di antaranya terlihat pada penggunaan kertas. Saat ini, manusia menggunakan sekitar 300 juta ton kertas setiap tahunnya. Jejak penggunaan kertas secara massal ditemukan sejak era masyarakat Islam. Memang, penemu kertas adalah bangsa China pada sekitar sebelum abad ke-2 SM. Akan tetapi, Islam merupakan masyarakat pertama yang menghasilkan kertas secara massal. Di antara tandanya, pada pertengahan abad ke-9, Baghdad memiliki lebih dari seratus toko yang menjual kertas dan buku.

Peradaban kertas mendorong peradaban buku yang luar biasa sehingga bangsa muslim menjadi masyarakat pencinta buku. Salah seorang khalifah Abbasiyah, al-Mansur, mendirikan perpustakaan dan pusat penerjemahan yang luar biasa di Baghdad. Karena sudah berhasil membentuk peradaban kertas, pembudayaan buku memiliki sisi berbeda dengan Perpustakaan Alexandria yang legendaris di Mesir. Saat perpustakaan Alexandria dihancurkan pada 391, sebagian besar pengetahuan yang tersimpan di sana hilang. Sementara itu, saat bangsa Mongol menyerang Baghdad pada 1238, peradaban Islam sudah berhasil menyimpan dan menggandakan buku-buku di sana di kota-kota muslim lainnya seperti di Kairo, Damaskus, dan juga Kordoba.

Namun peradaban Islam tidak hanya berkutat dalam dunia keilmuan yang sifatnya teoretis. Peradaban Islam juga tercatat sebagai perintis sistem pelayanan kesehatan yang digunakan saat ini. Pelayanan kesehatan dalam bentuk rumah sakit dikembangkan oleh peradaban muslim setelah mereka menemukan model perawatan kesehatan di Persia. Sistem yang lebih rumit dalam pelayanan kesehatan, termasuk apotek dan sistem hierarki dan spesialisasi dalam tata kerja rumah sakit, lahir dari dunia muslim.

Dunia arsitektur juga tak lepas dari jejak peradaban muslim. Bahkan di dunia Eropa, jejak ini dapat kita temukan dengan mudah. Secara umum, bangsa muslim menggabungkan unsur-unsur arsitektur dari Mesopotamia dan Romawi kuno, yang kemudian ditiru oleh bangsa Eropa dan disebarkan seiring dengan kolonialisme ke berbagai penjuru dunia.

Bentuk konkret arsitektur yang dikembangkan masyarakat muslim adalah pelengkung runcing yang dibuat untuk mengurangi tekanan tembok sehingga memungkinkan mereka untuk membangun gedung yang lebih tinggi dengan lebih banyak ruang terbuka di dalam.

Hal lain yang disampaikan buku ini terkait dengan sumbangan peradaban Islam di bidang astronomi, pertanian, optik, mesin dengan mekanisme engkol dan tuas, dan juga musik.

Setiap pokok bahasan dalam buku ini disajikan dengan ilustrasi yang menarik. Selain itu, teks ide-ide pokok dicetak dengan warna yang berbeda sehingga memudahkan pembaca untuk memberi perhatian lebih pada bagian tersebut. Pemaparan juga melibatkan fakta-fakta kunci yang mendukung atas narasi yang disusun.

Meski ditujukan untuk anak-anak, buku ini memuat informasi yang sangat penting untuk diketahui pula oleh kalangan dewasa. Ada beberapa fakta unik yang relatif sulit untuk ditemukan di sumber yang lain yang tersaji dalam buku ini.

Buku ini membangun kesadaran kita semua bahwa peradaban dunia bagaimanapun dibentuk melalui proses bersama di antara berbagai unsur kebudayaan. Sumbangan peradaban muslim yang disampaikan dalam buku ini pun tentu saja tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang berangkat dari ruang kosong. Ia juga adalah lanjutan yang berkesinambungan dengan capaian peradaban masyarakat lain di era yang berbeda.

Buku ini adalah upaya untuk menanamkan wawasan dunia dan peradaban yang terbuka untuk anak-anak dan remaja sejak dini untuk membekali mereka kesadaran akan peradaban masa kini tempat mereka hidup.


Tulisan ini dimuat di Harian Radar Madura, 18 Februari 2018.

Read More..

Saturday, 10 February 2018

Kata Baku dan Selingkung


“Otentik” atau “autentik”? “Sekedar” atau “sekadar”? “Nopember” atau “november”? “Shalat” atau “salat”? Di manakah di antara kedua kata-kata tersebut yang merupakan kata baku? Yang disebut pertama atau yang kedua?

Ketika tulisan saya hari Ahad 21 Januari 2018 dimuat di Jawa Pos di rubrik Buku, saya lihat redaktur Jawa Pos mengubah kata “autentik” dalam tulisan saya menjadi “otentik”. Saya menemukan pengubahan itu dengan mudah karena saya menggunakan kata itu pada bagian judul. Tentu saja pengubahan tidak hanya dilakukan pada judul tulisan saya. Kata “autentik” dalam tubuh tulisan juga diganti dengan kata “otentik”.

Perbedaan penulisan beberapa kata sebagaimana disebutkan di atas ada yang merupakan kata baku dan tidak baku. Ada juga yang perbedaannya lebih karena pilihan lingkungan atau lembaga tertentu.

Kata “otentik”, “sekedar”, “nopember”, “shalat”, bisa kita temukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun demikian, dalam KBBI, kata-kata tersebut disebutkan sebagai bentuk tidak baku.

Meski kata-kata tersebut oleh KBBI disebut sebagai bentuk tidak baku, ada lembaga atau lingkungan tertentu yang secara sadar tetap memilih menggunakan kata-kata tidak baku tersebut. Begitulah. Memang ada orang atau lembaga yang mengikuti sepenuhnya pada standar KBBI. Namun ada pula orang atau lembaga yang memilih berbeda untuk kasus tertentu.

Saya lihat di situlah posisi Jawa Pos yang mengubah kata “autentik” dengan “otentik” pada tulisan saya. Gaya selingkung seperti yang dilakukan Jawa Pos biasanya sudah melewati proses internal berupa kesepakatan dan sosialisasi kepada unsur-unsur internal: bahwa ada kata-kata tertentu yang dipilih untuk tidak mengikuti standar baku KBBI.

Pilihan untuk tidak mengikuti kata baku KBBI tersebut bisa saja dibuat dengan alasan “ilmiah”. Tapi mungkin ada juga orang yang hanya berdasarkan pada sekadar alasan yang lebih bersifat subjektif. Saya, misalnya, sampai saat ini masih merasa kurang nyaman untuk menulis kata “Alquran”, “shalat”, “selawat”, dalam tulisan-tulisan saya sebagaimana standar KBBI. Sebagai muslim yang sehari-hari juga hidup di lembaga dan lingkungan keilmuan muslim, lidah saya terasa kurang nyaman untuk mengikuti lafal penulisan ala KBBI untuk kata-kata tersebut.

Saya bukan ahli bahasa. Tapi tentu saja boleh-boleh saja saya punya pilihan. Namun begitu, saat tulisan saya harus tampil di tempat yang memiliki standar yang berbeda dengan pilihan saya, saya biasa saja dan menghormati pilihan mereka.

Demikian.


Read More..

Sunday, 21 January 2018

Tantangan Menjadi Manusia Autentik


Judul buku: Solitude: In Pursuit of a Singular Life in a Crowded World
Penulis: Michael Harris
Penerbit: Thomas Dunne Books, New York
Cetakan: Pertama, 2017
Tebal: 256 halaman
ISBN: 978-1-250-08860-4

Manusia masa kini menjalani kehidupan sehari-hari dengan dikepung oleh berbagai perangkat teknologi. Obsesi untuk terus terhubung dengan orang lain melalui berbagai media sosial di gawai yang kita jinjing ternyata berpotensi menghilangkan salah satu sisi penting dalam kehidupan kita, yakni momen kesendirian, yang nilainya tak bisa diremehkan.

Itulah gagasan pokok yang dituturkan Michael Harris, penulis asal Kanada, dalam buku ini. Manusia di era digital kini tampaknya memiliki ketakutan berlebih untuk terputus dari jejaring maya yang dirajut oleh perangkat teknologi dengan berbagai fasilitas pendukungnya. Harris memberi ilustrasi yang cukup mengena. Cobalah mengetik “fear of being without” di mesin pencari Google, maka fitur auto-complete di baris pertama akan menampilkan “fear of being without your phone”.

Harris juga mengutip sebuah penelitian tahun 2013 yang melibatkan 7.500 pengguna telepon seluler di Amerika. Salah satu hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa 80 persen di antara mereka segera mengambil telepon seluler 15 menit setelah bangun tidur.

Semakin tergerusnya momen kesendirian menurut Harris dapat menggerogoti hal-hal yang cukup bernilai. Kesendirian bagi Harris menjadi tempat yang baik untuk lahirnya kreativitas, inovasi, dan pemikiran yang segar. Tengoklah para penemu seperti Einstein atau Newton. Momen kesendirian juga dapat menjadi pengantar bagi lahirnya pencerahan. Buddha, Yesus, juga Nabi Muhammad, tulis Harris, tiba pada titik transformatif kesadaran dan awal kepemimpinan sosialnya yang revolusioner setelah menjalani momen kesendirian.

Kesendirian dapat memperdalam pemahaman seseorang akan aspek interior dirinya. Tapi di sisi yang lain ia juga dapat memperkuat ikatan seseorang dengan orang lain. Kesendirian juga dapat membebaskan seseorang dari tekanan konformitas. Selain itu, kesendirian menyediakan ruang yang dibutuhkan seseorang untuk menemukan sumber terdalam gairah, kegembiraan, dan kepenuhan makna hidupnya.

Kehidupan zaman modern di era teknologi memang rawan menimbulkan depresi dan alienasi. Namun menurut Harris banyak orang salah paham. Mereka berpikir bahwa keterasingan harus diobati dengan berbaur seluas-luasnya—termasuk di media sosial. Bagi Harris, memaknai dan menggeluti kesendirian hingga mendalam justru menawarkan solusi bagi problem alienasi, yakni dengan cara mengajak individu untuk menemukan dan memperjuangkan sisi kehidupannya yang unik—itulah hidup yang autentik.

Harris juga mencontohkan salah satu momen kesendirian yang cukup klasik, yakni membaca. Mengutip Keith Oatley, profesor psikologi kognitif di University of Toronto, Harris menyatakan bahwa membaca dapat membantu seseorang untuk meningkatkan kemampuan berempati—kemampuan untuk menyingkirkan ego dan terlibat dengan posisi orang lain. Namun demikian, kepungan perangkat teknologi yang hiper-sosial membentuk budaya membaca yang baru.

Di era digital ini, pengalaman membaca akan sulit mendapatkan kepenuhan fungsinya, yakni untuk membaca mendalam dengan manfaat seperti yang dikemukakan Oatley. Mengutip Maryanne Wolf, neurosaintis dari Tufts University, Harris menulis bahwa membaca dengan gawai—bahkan meski kita mematikan fungsi notifikasi—adalah antitesis dari membaca secara mendalam.

Secara umum, buku ini menggambarkan tantangan manusia zaman now untuk menjadi manusia autentik. Penetrasi perangkat teknologi dalam kehidupan sehari-hari yang semakin menghilangkan momen kesendirian cenderung menyulitkan seseorang untuk keluar dari arus kerumunan karena semakin tumpulnya kemampuan reflektif yang dimilikinya. Lebih jauh, tanpa disadari ritme kehidupan individu perlahan semakin dikendalikan oleh aktor-aktor di balik layar berbagai perangkat teknologi itu yang pusatnya terutama adalah kepentingan pasar.

Buku ini bermakna penting sebagai pengingat bahwa momen kesendirian itu bukan hanya menyia-nyiakan waktu. Ia memuat nilai yang sangat kontekstual dengan tantangan zaman sekarang ketika era teknologi diam-diam dapat merenggut kebebasan dan mengantarkan manusia pada perbudakan akali terselubung.

Tulisan ini adalah naskah awal yang kemudian dimuat di Harian Jawa Pos, 21 Januari 2018.


Read More..