![]() |
| Gerbang kampus UIN Yogyakarta yang dulunya menjadi salah satu tempat lapak buku. |
Jika Anda mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta akhir dekade 1990-an hingga 2000-an atau setelah kampus itu kemudian menjadi UIN, Anda mungkin akan cukup dimanjakan oleh suasana kampus yang sangat meriah dengan pajangan buku-buku di lingkungan sekitar kampus. Di jalan akses sisi selatan kampus yang kini menjadi pintu utama kampus UIN, mulai sekitar pukul tujuh pagi Anda akan menyaksikan gelaran buku-buku yang dijual oleh beberapa pelapak. Mereka berjejer rapi di sisi selatan jalan, tanpa mengganggu arus kendaraan yang keluar masuk di jalan tersebut.
Tepat di samping pintu masuk utama kampus yang mengarah ke masjid, persisnya di sisi kanan, ada koperasi mahasiswa (kopma) yang di antaranya menjual buku-buku dari berbagai penerbit. Kalau pelapak yang ada di area pinggir selatan kampus membuka gelaran mereka dari pagi hingga jelang waktu zhuhur, toko buku Kopma buka hingga malam hari.
Selain dua titik utama tersebut, kadang ada juga pelapak “non-reguler” yang menjual buku-buku secara acak di sekitar UPT Perpustakaan di bagian utara kampus (kini menjadi gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora), atau juga di halte bus seberang pintu masuk utama. Pelapak “non-reguler” ini sering kali menjual buku-buku obral dari penerbit tertentu.
Tak jauh dari kampus, tepatnya di Gowok, mulai sekitar tahun 2000-an, ada toko buku Social Agency yang koleksi bukunya jauh lebih lengkap dari penjual buku lain di area kampus UIN waktu itu. Social Agency, yang sebelumnya dikenal membuka gerai di Jalan Gejayan dan juga di shopping center (kini bernama Taman Pintar) dekat Malioboro, memberi diskon yang cukup standar untuk harga mahasiswa, ditambah juga fasilitas sampul plastik gratis.
Tapi itu semua adalah kisah dari masa lalu. Anda tak akan menemukannya lagi sekarang.
Perubahan mungkin memang terjadi pelan-pelan. Anda akan terkejut saat menyadari kontras antara satu titik waktu dengan titik waktu lainnya.
Begitulah yang terjadi, saat tadi saya mengetahui bahwa Kopma UIN Sunan Kalijaga sudah tidak lagi menjual buku. Kopma UIN yang saya tahu pada tahun 2000-an cukup solid dan banyak menorehkan prestasi, kini tak memberi layanan pemenuhan salah satu kebutuhan pokok mahasiswa, yakni buku.
“Kopma sudah tidak jualan buku lagi, Pak,” kata petugas yang sedang berjaga, tadi sore. “Sudah tutup beberapa waktu yang lalu,” tambahnya, yang tampak bisa menangkap keterkejutan saya.
Saya jadi teringat koleksi buku-buku saya yang dibeli di Kopma IAIN/UIN. Meski saya dulu kuliah di UGM, saya dulu kos di sekitar IAIN dan cukup sering melihat-lihat dan membeli buku-buku di sekitaran kampus itu. Saya jadi ingat betapa koleksi buku yang dijual di Kopma IAIN waktu itu rasanya jauh lebih lengkap daripada koleksi Kopma UGM. Buku-buku baru juga cepat tersedia di situ.
Tadi sore saya jadi tersadar bahwa di lingkungan kampus Sapen itu kini sudah tak ada lagi penjual buku. Penjual buku terdekat yang tersisa adalah Social Agency Gowok. Saya lalu bergegas ke situ, teringat bahwa pada sekitar dua tahun yang lalu, toko buku itu sudah sangat sepi pengunjung. Saya ingat, waktu itu saya keliling melihat-lihat koleksi buku yang sangat banyak hingga ke lantai dua. Sayangnya, jumlah pengunjung waktu itu tak lebih banyak dari petugas jaga di toko tersebut.
![]() |
| Social Agency Ambarrukmo (Gowok) dekat kampus UIN Yogyakarta. |
Bagaimana dengan tadi sore? Satu perbedaan yang cukup mencolok adalah bahwa berbeda dengan dua tahun lalu, Social Agency tak lagi menjual sembako di salah satu sudut tokonya. Kembali ke pengaturan awal: hanya ada buku, dan beberapa alat tulis dan alat peraga pendidikan. Tapi soal pengunjung tetap sama. Toko buku yang sangat luas itu sepi pengunjung. Saya hanya melihat lima pengunjung. Koleksi bukunya juga lebih banyak didominasi oleh buku-buku produk Pustaka Pelajar, penerbit yang juga dimiliki oleh pemilik toko buku tersebut.
Tutupnya toko buku di Kopma UIN saya pikir pastilah karena alasan bisnis. Menjual buku sudah tidak menguntungkan secara hitung-hitungan bisnis, sehingga apalah daya divisi tersebut akhirnya haruslah ditutup. Kalau berjualan buku di lingkungan mahasiswa yang seharusnya akrab dengan buku sudah tidak lagi punya prospek, lalu memangnya yang prospek itu jualan apa? Pikiran nakal saya muncul sekilas.
Kalau para penjual buku di lingkungan kampus UIN sudah tidak ada, di manakah para mahasiswa kini mengakses buku? Koleksi dan pengelolaan perpustakaan kampus sekarang sudah jauh lebih bagus daripada dahulu. Demikian pula, toko-toko buka sudah banyak tersedia di lokapasar online yang sangat mudah diakses dan menawarkan layanan yang relatif nyaman—termasuk harga yang kompetitif.
Jika melihat secara lebih luas, memang dunia buku saat ini tampaknya sudah banyak berubah. Sumber informasi dan pengetahuan selain buku sudah muncul sedemikian masif dan pervasif: menyeruak sebegitu banyak dan tumpah ruah seperti tak terbatas. Kanal-kanal video diskusi dan ceramah keilmuan di berbagai platform tersedia dan terus berkembang. Demikian juga, akses buku berbahasa asing dalam format pdf atau yang lainnya juga semakin mudah diperoleh. Yang paling baru, mesin kecerdasan buatan menyediakan kemampuan untuk merangkum bahan-bahan bacaan dengan cepat dan mudah.
Itulah beberapa perubahan yang sedang terjadi di lingkungan yang lebih luas, yang sebagiannya kemudian mungkin turut berpengaruh pada menurunnya prospek penjualan buku khususnya di lingkungan kampus UIN Sapen.
Setelah tidak ada toko buku atau orang berjualan buku fisik di lingkungan kampus, mungkin interaksi mahasiswa UIN Sapen sekarang lebih banyak dengan perpustakaan kampus, toko buku online, dan sumber-sumber belajar di internet. Pertanyaannya: ketika buku-buku fisik tidak terpajang di lingkungan terbuka atau ruang publik seperti dulu tersedia di para pelapak sekitar kampus, seberapa itu berpengaruh terhadap interaksi dan produksi diskursus keilmuan di sana pada khususnya?
Tentu saja ini bukan pertanyaan yang diharapkan dapat dijawab dengan cepat. Tapi setidaknya ini bagian dari kegelisahan saya atas adanya sebuah perubahan di sebuah lingkungan ilmiah yang memiliki sejarah cukup panjang. Lapak buku fisik adalah salah satu infrastruktur ilmu dan peradaban. Kehadirannya, dan juga peralihan bentuknya, mungkin akan mengubah cara ilmu beredar dan dikonsumsi.
Wallahualam.
Kotagede, 18 Juni 2026
Read More..





