Tampilkan postingan dengan label BIB Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BIB Diary. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juni 2026

Tak Ada Penjual Buku di UIN Yogyakarta

Gerbang kampus UIN Yogyakarta yang dulunya menjadi salah satu tempat lapak buku.

Jika Anda mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta akhir dekade 1990-an hingga 2000-an atau setelah kampus itu kemudian menjadi UIN, Anda mungkin akan cukup dimanjakan oleh suasana kampus yang sangat meriah dengan pajangan buku-buku di lingkungan sekitar kampus. Di jalan akses sisi selatan kampus yang kini menjadi pintu utama kampus UIN, mulai sekitar pukul tujuh pagi Anda akan menyaksikan gelaran buku-buku yang dijual oleh beberapa pelapak. Mereka berjejer rapi di sisi selatan jalan, tanpa mengganggu arus kendaraan yang keluar masuk di jalan tersebut.

Tepat di samping pintu masuk utama kampus yang mengarah ke masjid, persisnya di sisi kanan, ada koperasi mahasiswa (kopma) yang di antaranya menjual buku-buku dari berbagai penerbit. Kalau pelapak yang ada di area pinggir selatan kampus membuka gelaran mereka dari pagi hingga jelang waktu zhuhur, toko buku Kopma buka hingga malam hari.

Selain dua titik utama tersebut, kadang ada juga pelapak “non-reguler” yang menjual buku-buku secara acak di sekitar UPT Perpustakaan di bagian utara kampus (kini menjadi gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora), atau juga di halte bus seberang pintu masuk utama. Pelapak “non-reguler” ini sering kali menjual buku-buku obral dari penerbit tertentu.

Tak jauh dari kampus, tepatnya di Gowok, mulai sekitar tahun 2000-an, ada toko buku Social Agency yang koleksi bukunya jauh lebih lengkap dari penjual buku lain di area kampus UIN waktu itu. Social Agency, yang sebelumnya dikenal membuka gerai di Jalan Gejayan dan juga di shopping center (kini bernama Taman Pintar) dekat Malioboro, memberi diskon yang cukup standar untuk harga mahasiswa, ditambah juga fasilitas sampul plastik gratis.

Tapi itu semua adalah kisah dari masa lalu. Anda tak akan menemukannya lagi sekarang.

Perubahan mungkin memang terjadi pelan-pelan. Anda akan terkejut saat menyadari kontras antara satu titik waktu dengan titik waktu lainnya.

Begitulah yang terjadi, saat tadi saya mengetahui bahwa Kopma UIN Sunan Kalijaga sudah tidak lagi menjual buku. Kopma UIN yang saya tahu pada tahun 2000-an cukup solid dan banyak menorehkan prestasi, kini tak memberi layanan pemenuhan salah satu kebutuhan pokok mahasiswa, yakni buku.

“Kopma sudah tidak jualan buku lagi, Pak,” kata petugas yang sedang berjaga, tadi sore. “Sudah tutup beberapa waktu yang lalu,” tambahnya, yang tampak bisa menangkap keterkejutan saya.

Saya jadi teringat koleksi buku-buku saya yang dibeli di Kopma IAIN/UIN. Meski saya dulu kuliah di UGM, saya dulu kos di sekitar IAIN dan cukup sering melihat-lihat dan membeli buku-buku di sekitaran kampus itu. Saya jadi ingat betapa koleksi buku yang dijual di Kopma IAIN waktu itu rasanya jauh lebih lengkap daripada koleksi Kopma UGM. Buku-buku baru juga cepat tersedia di situ.

Tadi sore saya jadi tersadar bahwa di lingkungan kampus Sapen itu kini sudah tak ada lagi penjual buku. Penjual buku terdekat yang tersisa adalah Social Agency Gowok. Saya lalu bergegas ke situ, teringat bahwa pada sekitar dua tahun yang lalu, toko buku itu sudah sangat sepi pengunjung. Saya ingat, waktu itu saya keliling melihat-lihat koleksi buku yang sangat banyak hingga ke lantai dua. Sayangnya, jumlah pengunjung waktu itu tak lebih banyak dari petugas jaga di toko tersebut.

Social Agency Ambarrukmo (Gowok) dekat kampus UIN Yogyakarta.

Bagaimana dengan tadi sore? Satu perbedaan yang cukup mencolok adalah bahwa berbeda dengan dua tahun lalu, Social Agency tak lagi menjual sembako di salah satu sudut tokonya. Kembali ke pengaturan awal: hanya ada buku, dan beberapa alat tulis dan alat peraga pendidikan. Tapi soal pengunjung tetap sama. Toko buku yang sangat luas itu sepi pengunjung. Saya hanya melihat lima pengunjung. Koleksi bukunya juga lebih banyak didominasi oleh buku-buku produk Pustaka Pelajar, penerbit yang juga dimiliki oleh pemilik toko buku tersebut.

Tutupnya toko buku di Kopma UIN saya pikir pastilah karena alasan bisnis. Menjual buku sudah tidak menguntungkan secara hitung-hitungan bisnis, sehingga apalah daya divisi tersebut akhirnya haruslah ditutup. Kalau berjualan buku di lingkungan mahasiswa yang seharusnya akrab dengan buku sudah tidak lagi punya prospek, lalu memangnya yang prospek itu jualan apa? Pikiran nakal saya muncul sekilas.

Kalau para penjual buku di lingkungan kampus UIN sudah tidak ada, di manakah para mahasiswa kini mengakses buku? Koleksi dan pengelolaan perpustakaan kampus sekarang sudah jauh lebih bagus daripada dahulu. Demikian pula, toko-toko buka sudah banyak tersedia di lokapasar online yang sangat mudah diakses dan menawarkan layanan yang relatif nyaman—termasuk harga yang kompetitif.

Jika melihat secara lebih luas, memang dunia buku saat ini tampaknya sudah banyak berubah. Sumber informasi dan pengetahuan selain buku sudah muncul sedemikian masif dan pervasif: menyeruak sebegitu banyak dan tumpah ruah seperti tak terbatas. Kanal-kanal video diskusi dan ceramah keilmuan di berbagai platform tersedia dan terus berkembang. Demikian juga, akses buku berbahasa asing dalam format pdf atau yang lainnya juga semakin mudah diperoleh. Yang paling baru, mesin kecerdasan buatan menyediakan kemampuan untuk merangkum bahan-bahan bacaan dengan cepat dan mudah.

Itulah beberapa perubahan yang sedang terjadi di lingkungan yang lebih luas, yang sebagiannya kemudian mungkin turut berpengaruh pada menurunnya prospek penjualan buku khususnya di lingkungan kampus UIN Sapen.

Setelah tidak ada toko buku atau orang berjualan buku fisik di lingkungan kampus, mungkin interaksi mahasiswa UIN Sapen sekarang lebih banyak dengan perpustakaan kampus, toko buku online, dan sumber-sumber belajar di internet. Pertanyaannya: ketika buku-buku fisik tidak terpajang di lingkungan terbuka atau ruang publik seperti dulu tersedia di para pelapak sekitar kampus, seberapa itu berpengaruh terhadap interaksi dan produksi diskursus keilmuan di sana pada khususnya?

Tentu saja ini bukan pertanyaan yang diharapkan dapat dijawab dengan cepat. Tapi setidaknya ini bagian dari kegelisahan saya atas adanya sebuah perubahan di sebuah lingkungan ilmiah yang memiliki sejarah cukup panjang. Lapak buku fisik adalah salah satu infrastruktur ilmu dan peradaban. Kehadirannya, dan juga peralihan bentuknya, mungkin akan mengubah cara ilmu beredar dan dikonsumsi.

Wallahualam.

Kotagede, 18 Juni 2026

Read More..

Kamis, 30 Januari 2025

Nasib Koran dan Nostalgia Lampu Merah Adisucipto


Kalau Anda berada di sekitar Indomaret Papringan, Yogyakarta, dekat kampus Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (dulu bernama Instiper), yang juga dekat dengan kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sekitar pukul 9 pagi, mungkin saja Anda akan melihat seorang perempuan paruh baya berjalan dari arah Jalan Laksda Adisucipto. Pakaiannya sederhana. Jalannya, maaf, pincang, dengan topi capil di kepalanya. Tubuhnya tidak terlalu tinggi.

Anda dapat memastikan bahwa perempuan itu adalah yang saya maksud bila ia membawa koran-koran sambil berjalan pelan ke arah Jalan Ori atau kadang terus lurus di Jalan Petung. Meski dalam sekitar setahun setengah ini saya jarang berpapasan dengannya, tapi seingat saya, dia selalu membawa (sisa-sisa) koran dalam perjalanannya ke arah Papringan.

Ya, dia adalah penjual koran di pertigaan Laksda Adisucipto dekat kampus UIN Yogyakarta. Saya masih mengenalinya, seperti sekitar lebih dari 20 tahun yang lalu saat saya sering melihatnya di lampu merah pagi-pagi. Dulu, dia berjualan koran bersama seorang perempuan yang lebih tua—mungkin ibunya. Seingat saya, dulu ada juga penjaja koran laki-laki di lampu merah itu.

Saya membayangkan, betapa setianya dia menjadi penjaja koran hingga lebih dari 20 tahun di situ. Dulu, saat masih menjadi mahasiswa jenjang sarjana dan masih aktif menulis di media massa, pagi-pagi saya dan juga beberapa rekan penulis dari kampus UIN Yogyakarta biasa mendatangi penjaja koran entah itu di lampu merah tersebut, atau di kios koran Batas Kota dekat Hotel Saphir, atau di kios dekat pertigaan Jalan Bimokurdo. Kami menumpang ngintip, mencari tahu, tulisan siapa yang dimuat di koran hari itu.

Itu sekitar akhir tahun 1999 hingga 2002, saat saya cukup aktif mengirimkan tulisan ke media massa. Dari UIN Yogyakarta, banyak sekali penulis-penulis yang aktif menulis di media massa. Rubrik yang paling banyak dituju adalah resensi buku. Selain bisa mendapatkan honor, tulisan resensi buku yang dimuat di media dapat diajukan ke penerbit untuk mendapatkan reward buku—bahkan juga reward lainnya.

Saat beberapa bulan yang lalu saya berpapasan dengan perempuan penjaja koran itu di perempatan Jalan Ori, saya membeli koran Kompas—meski saya sudah berlangganan epaper Kompas. Saya mencium baru kertasnya yang khas, dan saya kemudian terpikir tentang nasib koran di era digital.

Setidaknya dalam satu tahun terakhir, sejak awal 2024 hingga sekarang, saya nyaris tak pernah bertemu dengan Harian Kompas yang terbit lebih dari 16 halaman. Rubrik-rubriknya jadi minimalis. Tak ada lagi rubrik tinjauan buku di versi cetak. Bahkan, di versi online/digital pun, rubrik tinjauan buku jarang muncul.

Ya, nasib koran cetak sungguh telah banyak berubah. Tak seperti 20 tahun yang lalu. Saya ingat, di antara tahun 2000 hingga setidaknya 2002, Kompas sering terbit hingga 48 halaman, dengan alokasi rubrik yang beragam. Rubrik opini pun diberi ruang yang lebih banyak daripada biasanya yang hanya 2 halaman. Demikian pula rubrik tinjauan buku, yang untuk Kompas waktu itu berada dalam satu manajemen dengan rubrik opini. Ruang untuk resensi buku pun waktu itu tidak hanya muncul setiap hari ahad. Bahkan, dalam satu pekan, kadang sampai empat hari ada resensi buku yang dimuat di Kompas. Tentu saja ini juga menjadi berkah bagi penulis-penulis dari kalangan mahasiswa seperti saya waktu itu yang memang cukup mengandalkan pendapatan dari honor menulis untuk hidup di Yogyakarta.

Semakin susutnya halaman koran cetak, saya yakin itu juga menunjukkan banyak hal lainnya. Saya amati, iklan di koran Kompas pun juga semakin sedikit. Bahkan cukup sering saya lihat iklannya adalah iklan internal, iklan sendiri, entah dari Harian Kompas sendiri, atau Gerai Kompas (yang menjual produk buku, dan semacamnya), atau divisi Kompas yang menggelar kegiatan pelatihan dan semacamnya.

Saya pikir itu berarti geliat usaha media cetak semakin surut. Kita tahu, beberapa tahun terakhir telah banyak media massa yang undur diri dari versi cetak, dan hanya terbit dalam versi digital/website.

Tentu saja, pendapatan penjaja koran di tengah susutnya media cetak juga terancam. Variasi media cetak turun drastis. Pembelinya juga sangat mungkin semakin berkurang—entah karena adanya alternatif versi digital, menurunnya minat membaca media cetak, berkurangnya mahasiswa yang dulu juga menjadi “pelanggan” meski tidak setiap hari, dan semacamnya.

Suatu hari, beberapa bulan yang lalu, saat kalender menunjukkan hari libur nasional, saya duduk-duduk di angkringan depan kos Astra Seroja di Papringan. Waktu itu sekitar pukul 9 pagi. Bersama saya, ada seorang bapak, pensiunan karyawan di Universitas Negeri Yogyakarta. Sekitar 10 menit berbincang, perempuan penjaja koran itu tampak muncul dari arah barat, di pintu masuk Jalan Ori I, berjalan ke arah timur, mendekat ke angkringan tempat saya nongkrong.

Saat mendekat, si bapak memanggil perempuan itu, menanyakan koran yang terbit di hari itu, dan membelinya. Si bapak tak menerima uang kembalian, malah memberinya bonus nasi bungkus angkringan dan dua tempe. Si perempuan tersenyum gembira.

Saya pikir, si bapak juga tahu, bahwa penjaja koran di era sekarang menghadapi tantangan hidup yang tidak mudah. Mungkin si perempuan penjaja koran itu tak punya pilihan pekerjaan lain selain menjual koran. Ya, dia tak punya banyak kebebasan. Dia menapaki jalan takdirnya—dengan kesunyiannya, dengan ketabahannya.

Read More..

Rabu, 10 Juli 2024

Dari Sudut Ruang di Kursi Tunggu


Dari sudut ruang di kursi tunggu ini, saya menatap pintu itu lekat-lekat. Saya membaca nama-nama itu. Dua nama itu. Satu menangani ayah saya, sepuluh tahun lalu, dalam waktu tidak lebih dari 2x24 jam, sebelum kemudian ayah saya meninggal dunia di rumah sakit ini. Nama lainnya menangani ayah-mertua saya selama sekitar 2 bulan hingga beliau meninggal di awal Ramadan lalu.

Dan saya terduduk di sini, menunggu panggilan untuk bertemu dengan dokter itu.

Pikiran saya masih dipenuhi dengan baris-baris kalimat dalam berkas tugas kuliah yang belum selesai. Hari ini adalah hari terakhir penyetoran tugas. Tapi saya harus menemui dokter itu untuk menindaklanjuti hasil pemeriksaan laboratorium dua hari yang lalu. Harus hari ini, karena berkaitan dengan obat yang harus saya minum dan beberapa keluhan yang saya alami sekitar 2 bulan terakhir. Saya tidak bisa menunda.

Tiba-tiba bayangan pikiran saya dilempar ke momen tahun lalu. Ya, tahun lalu saya juga duduk di sini. Hampir persis tahun lalu. Waktu itu pertengahan Juni. Saya duduk di sini tahun lalu untuk mengurus berkas pendaftaran beasiswa studi saya yang mensyaratkan surat keterangan sehat dari rumah sakit. Dan di akhir semester perkuliahan ini saya harus bertemu dengan dokter yang sama untuk masalah kesehatan saya sendiri.

Saya telah menjalani satu tahun yang penuh warna. Jogja, Astra Seroja, kereta, bus Eka, suka duka. Oiya, ada juga yang masih satu wazan: Mas Anta. Satu tahun yang ternyata di antaranya dimulai dari sini, dan juga titik akhirnya di ujung semester kedua ini juga saya masih harus ke sini. Seperti cerita David Webb yang berburu identitasnya di sekuel Bourne edisi kedua ke Johnston Medical Clinic yang merupakan tempat Special Research Development proyek Treadstone.

Lembar demi lembar perjalanan satu tahun melintas dalam pikiran saya. Rasanya begitu cepat waktu berlalu. Saya bersyukur bahwa saya telah berdiri di sini, di lintasan terakhir sebelum mencapai garis finish etape pertama.

Ada momen-momen yang rasanya sayang jika tak dituliskan. Momen yang mungkin memang tidak akan terulang dan rekamannya ingin saya bagikan. Saya membayangkan saya berharap bahwa nanti anak saya akan membacanya, seperti beberapa bulan lalu saat anak saya membaca petikan cerita saya yang ketinggalan kereta terakhir di Frankfurt dan harus kedinginan dan menjadi “gelandangan” semalam di penghujung 2009 dahulu.

Satu tahun perjalanan ikhtiar untuk merawat passion dan semangat keilmuan dalam diri saya yang saya rasakan sempat redup sebelumnya di antara rutinitas kegiatan saya. Ya, rasanya saya memang telah diserang virus itu: rutinitas, yang sering saya sampaikan di kelas bahwa itu adalah musuh terbesar filsafat yang dapat menenggelamkan kita dan membutakan kita dari sikap kritis dan reflektif.

Satu tahun ini, saya sudah diajak melihat-lihat kios gagasan. Menekuri lembar-lembar kertas, menelusuri jurnal-jurnal. Diskusi-diskusi di kelas. Waktu yang terasa berlari cepat dan menyempit saat menuntaskan tugas ulasan bacaan. Daftar bacaan yang seperti tak habis-habis, seperti Sisifus yang mendorong batu-batu. Lebih dari itu, ada orang-orang yang saya jumpai. Persona, bukan sekadar nama-nama. Para guru, rekan-rekan di kelas. Mitra diskusi lainnya yang sudi meluangkan waktu mereka. Aktor dan aktris pendukung yang tak bisa saya abaikan dan mesti juga nanti dipersilakan naik panggung untuk diberi penghargaan. Mereka semua yang nanti akan tampak semakin luar biasa.

Saya teringat anak saya saat pertama diajak ke pasar malam di kota. Lampu-lampu gemerlap. Meski semula seperti takut, akhirnya anak saya mau naik komidi putar dan tak lagi takut dengan ketinggian. Dari atas, dia bisa melihat pemandangan kota. Seperti John Keating saat mengajak murid-muridnya untuk naik berdiri di atas meja di kelasnya dalam Dead Poets Society. Melihat dari ketinggian. Memberi perspektif baru.

Kelebat bayang-bayang itu buyar. Nama saya dipanggil dari pengeras suara yang kadang terdengar sayup tapi kadang begitu memekakkan telinga. Saya harus masuk dan menemui dokter itu. Mendengarnya memberi penjelasan yang rasanya terlalu singkat untuk saya yang berharap detail dan pernah membaca Beauchamp dan Childress tentang etika profesi kedokteran. Dan nanti antre di apotek. Lalu pulang untuk menyelesaikan tugas paling akhir di semester ini agar saya dapat bebas dari sekolah dan bebas dari makalah—setidaknya di akhir etape ini.

Pamekasan, 6 Juli 2024

Read More..

Jumat, 01 Maret 2024

Objektivitas dan Jarak Kritis


Salah satu persoalan dalam penelitian ilmiah adalah soal objektivitas. Peneliti harus dapat mengambil jarak dengan objek material yang akan dia cermati. Bagaimana jika posisi peneliti adalah bagian dari objek yang akan dia teliti?

Masalah ini telah melahirkan perdebatan tentang posisi insider dan outsider dalam penelitian ilmiah dan telah menjadi tema diskusi penting yang terus berkembang. Dalam khazanah studi agama, saya pernah diperkenalkan dengan tulisan Kim Knott yang membahas masalah ini. Knott membuat pembedaan posisi insider dan outsider dalam empat kategori: complete observer (peneliti seutuhnya), observer as paticipant (peneliti sebagai partisipan), participant as observer (partisipan sebagai peneliti), dan complete participant (partisipan seutuhnya).

Belakangan, melalui buku Ismail Fajrie Alatas saya mendapatkan rujukan beberapa sarjana lain mengenai diskursus masalah ini. Alatas mengutip tiga sumber dalam diskusi masalah ini, yakni karya Lila Abu-Lughod (1988) berjudul “Fieldwork of a Dutiful Daughter” dalam buku Arab Women in the Field: Studying Your Own Society, Nathaniel Mackey (1992) berjudul “Other: From Noun to Verb”, Gayatri Spivak (1992) berjudul “Acting Bits/Identity Talk”, dan buku karya Trinh T Minh-Ha (1989) berjudul Woman, Native, Other: Writing Postcoloniality and Feminism.

Alatas mengutip tiga sumber itu dalam bukunya What is Religious Authority (2021) di akhir bab pertama saat menjelaskan problem metodologis terkait subjek yang dia tulis. Buku itu membahas tentang Habib Luthfi, sedangkan Alatas juga adalah seorang muslim Indonesia dari kalangan Ba Alawi—sama seperti Habib Luthfi. Lalu apa kata Alatas?

The extended time I have spent outside Indonesia since I was fourteen and the historical and anthropological training that I have received have created some measure of critical distance to the tradition and culture that I was born into.

Lamanya waktu yang saya habiskan di luar Indonesia sejak berusia 14 tahun serta pendidikan sejarah dan antropologi yang saya peroleh menciptakan jarak kritis dengan tradisi dan budaya tempat saya lahir.



Di sini Alatas menyampaikan tentang jarak kritis yang dapat dia ciptakan dengan objek yang dia teliti yang terbentuk oleh dua faktor: pendidikan sejarah dan antropologi yang dia peroleh, dan waktu yang dia habiskan di luar Indonesia mulai dia berusia 14 tahun.

Yang lebih menarik, di bagian akhir pendahuluan, Alatas menulis:

In my view, the best anthropological research is one that maintains, rather than ignores or suspends, the tension between estrangement and intimacy and uses it to sketch a simultaneously objectifiable and personal, but nevertheless incomplete, picture of human sociality that “arises from within human sociality.”

Bagi saya, penelitian antropologi yang paling baik adalah yang mempertahankan, dan bukannya mengabaikan atau mengesampingkan, ketegangan antara keterasingan dan kedekatan serta menggunakannya untuk membuat sketsa gambaran sosialitas manusia yang dapat diobjektivikasi sekaligus bersifat pribadi. Sketsa tersebut tentu tidak akan pernah lengkap karena ia “muncul dari dalam sosialitas manusia” itu sendiri.


Dari kutipan ini, tampak Alatas menggiring kita untuk sedikit mengesampingkan soal objektivitas atau keberjarakan peneliti dengan subjek yang dia teliti dalam pengertian konvensional. Alatas mengajak kita untuk masuk tidak saja ke ruang refleksi tentang identitas yang semakin kompleks, tapi juga ke dalam ketegangan personalitas dan sosialitas manusia yang mungkin dapat dikatakan merupakan salah satu diskursus filosofis tentang manusia yang lebih luas. Sosialitas dan personalitas tak harus dilihat dalam posisi yang bertentangan. Justru ketegangan di antara keduanya dapat menjadi nilai lebih, termasuk dalam konteks penelitian ilmiah.

Lalu bagaimana tentang jarak kritis yang terbentuk melalui proses pendidikan? Saya percaya bahwa proses pendidikan secara umum akan dapat membentuk sikap kritis untuk bersikap objektif atau memupuk kemampuan mengambil jarak dengan objek yang sedang diamati. Ini adalah kemampuan khas manusia. Tanpa pendidikan akademik pun, kemampuan mengambil jarak ini sudah dimiliki oleh manusia. Melalui proses pendidikan yang intensif, kemampuan ini akan semakin kuat.

Karena itu, ketika kemarin ada yang mempertanyakan kepada saya “…kamu mau meneliti pesantren atau kiai di Madura, kira-kira bagaimana kamu bisa mengambil jarak dan bersikap objektif? Jangan-jangan nanti penelitiannya hanya melegitimasi hal tertentu dari apa yang sudah mapan di pesantren di Madura selama ini…”, saya santai saja.

Saya pernah menulis tentang hal-hal yang saya merupakan bagian di dalamnya. Saya pernah menulis hal-hal yang memungkinkan saya mengalami bias personal dalam tulisan saya. Tapi nyatanya saya tidak selalu terjerembab ke dalam sikap buta dan bias sepenuhnya. Saya tetap bisa mengambil jarak—dengan batas-batas tertentu. Seperti tulisan saya tentang sastra pesantren, yang dibilang bias oleh Ariel Heryanto (2014: 72-73), tapi juga mendapatkan apresiasi oleh Ariel karena ada catatan kritis yang saya kemukakan di sana.

Tapi komentar tentang atas sikap objektif itu tentu tak bisa saya lewatkan begitu saja. Komentar itu memancing pertanyaan lebih jauh: kalau Alatas mengemukakan dua unsur yang berperan untuk dapat menciptakan jarak kritis agar dapat bersikap objektif secara proporsional, lalu apa kira-kira faktor lain yang dapat berperan untuk menjaga jarak kritis tersebut?

Mari, bantu saya untuk menjawab pertanyaan ini lebih lanjut.

Keterangan: kutipan terjemahan dari buku Ismail Fajrie Alatas diambil dari terjemahan versi Penerbit Bentang/Mizan (2024).

Read More..

Selasa, 06 Februari 2024

Teks Babon, Buku Babon


Saat membaca buku terjemahan What is Religious Authority karya Ismail Fajrie Alatas yang baru diterbitkan Mizan/Bentang, terutama di bagian pengantar yang banyak mengeksplorasi aspek metodologi, saya jadi teringat tentang pentingnya bahan-bahan pokok dan mendasar dalam karya ilmiah. Saya teringat tentang pentingnya mahasiswa dan kalangan akademisi membaca teks-teks kunci dan mendasar pada tiap bidang atau rumpun keilmuan yang ditekuninya.

Saat Alatas menyebut Talal Asad, misalnya, saya jadi ingat teks yang dirujuk karya Asad yang telah menjadi klasik, yakni esai panjang “The Idea of an Anthropology of Islam” (1986). Di kalangan akademisi, khususnya yang menggeluti bidang antropologi, teks tersebut sangat penting karena memuat kritik atas pendekatan kajian Islam yang selama ini berkembang. Asad menawarkan gagasan yang jika dirumuskan secara sederhana menempatkan Islam sebagai tradisi diskursif (discursive tradition).

Cara pandang ini menolak corak esensialisme yang memandang Islam dengan menghubungkannya pada esensi tertentu dan mencoba melihat dinamika pemaknaan Islam sebagai sebuah tradisi yang hidup, yang dinamis. Praktik tradisi umat Islam yang beragam pada waktu, tempat, dan komunitas yang berbeda menandakan perbedaan bernalar sesuai dengan kondisi sosio-historis masing-masing. Karena itu, menurut Asad, antropologi Islam berusaha untuk memahami kondisi sejarah yang memungkinkan terjadinya produksi dan upaya untuk mempertahankan tradisi diskursif tertentu, termasuk juga bagaimana proses transformasi terjadi beserta upaya yang dilakukan.

Memang Alatas tidak sepenuhnya sepakat dengan seluruh poin gagasan Asad sehingga Alatas juga menggunakan perspektif metodologi yang lain dalam karyanya itu. Namun fokus saya di sini bukan tentang penelitian Alatas secara khusus. Fokus saya adalah tentang pentingnya memperkenalkan teks-teks kunci kepada mahasiswa dan bagaimana kalangan akademisi membekali dirinya dengan teks-teks babon tersebut.

Saya menduga kritik terhadap kondisi dunia akademik kita yang tidak sehat belakangan ini, seperti lesunya diskusi akademik, maraknya plagiarisme, berkembangnya publikasi ilmiah yang bersifat instan, di antaranya juga terkait dengan lemahnya penguasaan para akademisi atas teks-teks kunci pada bidang yang digelutinya. Ia tidak kenal peta bacaan kunci tersebut, baik yang sifatnya klasik maupun yang mutakhir. Akibatnya, ia tidak bergerak di wilayah-wilayah yang sifatnya fondasional pada bidang keilmuannya dan seringnya hanya bergerak di wilayah pinggiran.

Saat dulu saya mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA 3 Annuqayah, saya juga memiliki pikiran serupa. Siswa-siswa mestinya diperkenalkan dengan teks-teks kunci bidang sastra Indonesia. Keprihatinan itu lalu memicu saya untuk menghimpun sejumlah cerpen-cerpen Indonesia yang saya anggap sebagai “cerpen sepanjang zaman”. Saya berdiskusi dengan banyak rekan, termasuk dengan AS Laksana, Kiai Faizi, almarhum M. Zamiel el-Muttaqien, Bernando J. Sujibto, dan yang lainnya, dan akhirnya sekolah “menerbitkan” kumpulan cerpen pilihan karya para sastrawan Indonesia dari setiap periode/generasi. Apa yang saya lakukan itu pernah ditulis dan diapresiasi oleh AS Laksana dalam satu esainya di Jawa Pos, 29 Desember 2013.

Kembali ke pokok pembicaraan, saat membaca karya Alatas yang sangat renyah dan mengilhamkan ini, saya bertemu dengan teks-teks kunci atau buku-buku babon lainnya yang sebagian masih banyak yang belum saya baca.

Keprihatinan atas kondisi dunia akademik yang lemah dalam penguasaan teks kunci itu mendorong saya untuk berpikir tentang pentingnya membuat antologi atau setidaknya daftar bacaan yang direkomendasikan pada bidang-bidang tertentu. Misalnya bidang filsafat moral, etika lingkungan, tasawuf, studi al-Qur’an, pendidikan Islam, dan seterusnya. Di kampus tempat saya mengajar, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, saya sering mendorong hal tersebut, sehingga prodi tempat saya mengajar saat ini sudah mulai membuat daftar tersebut dan mendorong mahasiswa dengan mewajibkan mereka membaca teks-teks tersebut setiap semester dengan target tertentu.

Lebih detail dari itu, saya teringat salah satu buku Franz Magnis-Suseno yang berjudul 13 Tokoh Etika. Buku yang terbit di Kanisius dan pertama terbit tahun 1997 itu (saya dulu meresensinya di Surabaya Post saat saya baru masuk kuliah di Filsafat UGM Yogyakarta) lalu disusul oleh buku lain yang diberi judul 13 Model Pendekatan Etika (Kanisius, 1998). Buku yang terakhir ini memuat kutipan teks-teks pokok dari ketiga belas filsuf yang dibahas Magnis-Suseno pada buku sebelumnya. Ada pengantar singkat yang diberikan oleh Magnis-Suseno sebelum kutipan teks kunci disajikan. Di bagian akhir, ada daftar pertanyaan yang dibuat untuk menguji pemahaman pembaca.

Buku semacam ini menurut saya sangat penting untuk membantu penguasaan mahasiswa dan akademisi atas konsep dan gagasan dasar pada setiap bidang ilmu sehingga penguasaan dan pengembangan diskursus keilmuan dapat lebih mudah dilakukan.

Sayangnya hal-hal semacam ini belum banyak dipikirkan dan dikerjakan. Kita belum punya infrastruktur belajar yang cukup dan diperlukan oleh mereka yang mau belajar, mendalami ilmu, dan mengembangkan ilmu. Tak heran bila perkembangan ilmu di lingkungan kita bergerak sangat lambat—untuk tidak mengatakan macet.


Read More..

Selasa, 23 Januari 2024

Menulis Pendek, Menulis Panjang


Butuh tenaga ekstra untuk bisa menulis panjang dengan target menulis di kisaran 5000 kata. Tapi saya ingat, jarak 12 ribu kilometer tetap dimulai dari tapak satu dua langkah. Artinya, 5000 kata tetaplah dimulai dari dua tiga kalimat.

Saya tidak terbiasa menulis panjang seperti untuk artikel jurnal yang menuntut minimal 5000-an kata. Jadi ketika mulai kuliah S-3, saya sempat khawatir jika ada tugas makalah yang menuntut minimal panjang tulisan seperti itu. Namun ternyata alhamdulillah, untuk tugas-tugas makalah presentasi dengan minimal 4000 kata, saya bisa mengerjakannya dengan sistem kebut (sehari) semalam. Asal bahan sudah cukup jelas, sistematika disiapkan, proses penulisannya bisa pake sistem balapan.

Begitulah saya mengerjakan tugas makalah presentasi di semester ini. Terjepit di antara berbagai aktivitas, makalah diselesaikan dalam waktu sekitar sehari semalam. Hasilnya tak buruk-buruk amat. Saya berpikir, kok ternyata bisa saya menulis agak panjang? Ya itu tadi, karena tulisan panjang adalah tulisan pendek yang disatukan. Untungnya, saya sudah cukup terbiasa menulis—yang pendek-pendek itu, dahulu, terutama saat masih aktif menulis populer resensi buku di koran-koran dan juga aktif menulis untuk rindupulang.id, blog kesayangan yang beberapa tahun terakhir cukup terlantar.

Jadi mungkin benar apa yang sering saya katakan: menulis itu juga soal keterampilan, seperti memasak atau menyetir kendaraan. Iya terkait juga dengan jam terbang. Saya ingat saat saya pertama kali belajar memasak saat menempuh S-2. Mentor saya teman kelas dari Bangladesh—dan juga YouTube, yang kontennya belum seheboh sekarang. Saya ingat bagaimana kakunya saya memotong-motong bawang. Saya masih menyimpan videonya. Hehehe..

Demikian juga menulis. Mereka yang belum terbiasa menulis, mungkin akan terbata-bata memulai paragraf dan kalimat-kalimat pembuka. Satu paragraf selesai, kebingungan datang untuk melanjutkan paragraf berikutnya. Seperti mobil mogok yang kehabisan bahan bakar. Ya, begitulah, kadang penulis pemula tidak siap dengan bahan mentah, seperti saat saya memasak kare ayam di Utrecht dan lupa tidak membeli jahe untuk membuat masakan saya lebih enak.

Tapi soal keterampilan, sekali lagi, itu soal jam terbang. Saya ingat, dahulu saat masih duduk di bangku sekolah kelas menengah, saya juga rajin menulis catatan harian. Sayang sebagian tak terarsip. Yang tersisa ada catatan harian tahun 1996. Tapi ada juga arsip tulisan saya di era-era itu, termasuk ada juga yang menggambarkan proses kreatifnya, mulai dari mengumpulkan dan merangkum bahan dari berbagai sumber, hingga kemudian saya tuangkan dalam satu tulisan yang kalau saya bayangkan waktu itu hitungannya agak panjang.

Jadi kalau ada orang yang tiba-tiba dituntut untuk menulis panjang, tapi sebelumnya belum terbiasa bahkan untuk menulis yang pendek-pendek, saya bisa membayangkan betapa mumetnya dia itu. Makanya, daripada mumet, saran saya, cobalah untuk menulis yang pendek-pendek dulu, di kisaran 500 kata, itu sudah sangat bagus jika dilakukan secara rutin.

Saya ingat, pada awal 2013 saya pernah mendapat proyek penulisan 40 esai yang masing-masing panjangnya sekitar 400 hingga 500 kata. Saya lakukan tiap hari. Malam menyiapkan bahan, pagi setelah subuh saya tulis. Alhamdulillah berjalan lancar.

Setelah lama tidak aktif menulis, dan dalam beberapa bulan ini dipaksa membaca dan menulis karena saya sekolah lagi, saya bersyukur. Sepertinya rindupulang.id akan senang menyambut saya membuka akun blogger.com, dan memposkan tulisan-tulisan baru yang melulu tidak hanya tentang hal akademik, tapi tulisan-tulisan spontan yang saya tulis sekali duduk semacam ini.

Salam hangat.



Read More..

Kamis, 05 Oktober 2023

Memori dan Legitimasi dan Pencarian Umat Islam Masa Kini

Catatan Membaca The First Muslims (2007) karya Asma Afsaruddin


Buku karya Asma Afsaruddin, The First Muslims: History and Memory (Oxford: OneWorld Publication, 2007), ini berusaha menyajikan peta perebutan makna sejarah dan ajaran Islam oleh umat Islam masa kini. Secara garis besar, buku ini memuat dua bagian. Bagian pertama, buku ini menyajikan secara singkat sejarah dan pemikiran tiga generasi muslim awal yang juga dikenal dengan sebutan al-salaf al-shalih. Kedua, buku ini memaparkan beberapa butir pemikiran umat Islam masa kini yang dibagi dalam dua kelompok besar tentang beberapa isu pokok yang banyak diperbincangkan. Dua kelompok itu disebut kelompok islamis dan kelompok modernis.

Bagian yang pertama merupakan titik tolak yang menjadi landasan perdebatan dari dua kelompok yang dituturkan di bagian kedua. Pergulatan sejarah umat Islam di tiga generasi awal dipandang telah melahirkan memori dan menjadi basis legitimasi bagi aneka penafsiran sikap keagamaan yang muncul saat ini, termasuk yang dikemukakan oleh kelompok islamis dan kelompok modernis.

Dengan menyadari pentingnya pemaparan fase sejarah tiga generasi awal tersebut, buku ini menyandarkan rujukannya pada sumber-sumber klasik berbahasa Arab baik berupa biografi atau sejarah, tafsir, adab, dan sebagainya. Terkait sumber rujukan ini, Asma sejak awal menegaskan bahwa klaim kaum revisionis yang cenderung meragukan beberapa sumber Islam awal dapat tertolak, sebagian juga karena adanya rujukan dan manuskrip terkini yang memperkuat posisi sumber-sumber klasik tersebut.

Asma memaparkan bagian pertama ini dalam delapan bab, meliputi periode kehidupan Nabi Muhammad saw, khulafa’ al-rasyidun, masa sahabat, tabi’un, dan tabi’ al-tabi’in, dalam 147 halaman (dari total 199 halaman bagian isi). Dengan ruang pembahasan yang singkat, Asma memberi penekanan pada penggalan sejarah yang penting seperti tentang Konstitusi Madinah, isu-isu kunci dalam kepemimpinan setelah Rasul, perubahan tata kehidupan bermasyarakat setelah meluasnya wilayah Islam, dan sebagainya.

Konstitusi Madinah misalnya memuat term jihad militer tapi dalam arti bertahan. Perjanjian itu juga memaknai ummah tidak saja beranggotakan komunitas muslim tapi juga umat Yahudi dan juga Kristen. Menarik dicatat bahwa sejauh terkait konflik Nabi dengan suku Yahudi di Madinah, yang mengemuka menurut Asma adalah lebih terkait dengan pelanggaran perjanjian yang dilakukan oleh suku Yahudi tersebut. Tak ada sentimen Yahudi yang mengemuka. Ini juga terbukti dalam kisah seorang perempuan Yahudi yang berusaha meracun Nabi tapi kemudian terbongkar. Nabi tidak menjadikan kasus ini untuk mengangkat sentimen Yahudi di kalangan umat Islam.

Pada masa khulafa’ al-rasyidun, beberapa khalifah mengambil keputusan yang cukup menarik diperbincangkan dan menjadi cermin tentang bagaimana para sahabat membaca norma Islam sepeninggal Nabi. Abu Bakar misalnya memutuskan untuk memerangi pada pembangkang yang tidak mau membayar zakat di masa kepemimpinannya. Keputusan ini diprotes oleh sebagian sahabat karena tak ada teks yang tegas yang dapat melegitimasi keputusan tersebut. Namun Abu Bakar kemudian menjelaskan landasan keputusannya dengan baik. Dari poin ini, menurut al-Jahiz, Abu Bakar menunjukkan bahwa untuk mengikuti ajaran Islam diperlukan kedalaman pemahaman dan pengetahuan yang dapat melampaui permukaan teks. Hal serupa juga terjadi pada masa Umar bin al-Khaththab, misalnya ketika Umar menangguhkan hukuman bagi pencuri saat wilayah kekuasaannya mengalami masa paceklik. Sementara ada sumber yang menggambarkan Umar bersikap diskriminatif terhadap kelompok agama lain, Asma menolak dengan menyatakan bahwa sumber tersebut baru muncul pada abad ke-9, dan apalagi banyak fakta sejarah lain yang menunjukkan sikap toleran Umar dalam pendudukan di beberapa wilayah seperti Yerusalem, yang jauh lebih baik daripada penguasa Bizantium sebelumnya.

Tarik menarik antara semangat egalitarianisme Islam yang dibangun sejak awal kelahirannya terus terjadi pada masa tabi’un. Jika pada masa pemerintahan Bani Umayyah suku Arab tampak dominan dan superior, pada era Abbasiyah hal itu bisa dikatakan tidak terlihat lagi. Berbagai unsur warga wilayah kekuasaan Islam yang multi-etnis berpartisipasi aktif dalam tata pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat. Namun, pada saat yang sama, pada era Abbasiyah ini mulai muncul pemaknaan jihad sebagai aktivitas militer. Pada masa ini, jihad juga kadang dimaknai sebagai qital (pertempuran).

Bagian kedua buku ini kemudian memetakan pandangan kelompok islamis dan modernis masa kini dalam menyikapi beberapa masalah, seperti negara Islam, syariah, posisi perempuan, dan jihad. Menurut Asma, pembacaan kaum modernis jauh lebih berhasil dalam berusaha bercermin dari pemikiran dan praktik kaum al-salaf al-shalih daripada kaum islamis. Kaum modernis lebih adaptif dalam soal penerapan hukum Islam, terbuka dalam membincang konsep kenegaraan, toleran terhadap kelompok minoritas, dan juga membuka ruang partipasi publik bagi kaum perempuan. Kaum islamis yang terpengaruh dengan doktrin takfir akhirnya cenderung gagal menampilkan teladan wajah Islam yang tecermin dari generasi al-salaf al-shalih.

* * * * *

Kesan dan pertanyaan yang pertama muncul setelah membaca buku ini terkait ruang kosong yang dilewatkan oleh Asma pada fase sejarah setelah periode tabi’ al-tabi’in. Jika tujuan menulis buku ini tidak sekadar berbicara tentang umat Islam awal, tapi juga kaitannya dengan umat Islam masa kini, maka seorang diasumsikan bahwa umat Islam masa kini semata merujukkan sikap dan pandangannya pada periode tiga generasi muslim awal sebagaimana yang dibahas Asma dalam buku ini.

Menurut saya, sikap dan pandangan umat Islam masa kini bisa saja juga terbentuk oleh peristiwa, memori, atau warisan dari periode yang tidak dibahas Asma. Misalnya, periode yang melibatkan terjadinya peristiwa Perang Salib pada akhir abad ke-11 hingga abad ke-13. Mungkin benar, bahwa perujukan pada periode generasi al-salaf al-shalih lebih banyak terkait dengan soal legitimasi. Namun penyikapan kaum muslim saat ini tidak hanya tentang legitimasi, tapi bisa juga terbentuk dari apa yang oleh Karen Armstrong dalam The Holy War (2001) disebut sebagai krisis identitas, seperti yang juga melatari peristiwa Perang Salib, sehingga kaum islamis misalnya oleh Asma disebut lebih menempatkan Islam sebagai ideologi politik semata.

Apakah dengan demikian berarti Asma berasumsi bahwa peristiwa Perang Salib, misalnya, tidaklah signifikan dalam pembentukan sikap dan pandangan kaum islamis dan modernis?

Pembacaan terhadap titik sejarah yang dianggap penting, seperti Perang Salib, penting juga untuk menelusuri pembentukan cara pandang diri kaum islamis dan modernis, atau pembentukan identitas. Beberapa sejarawan menulis pemaparan sejarah juga kadang dari perspektif pencarian makna identitas ini, seperti Tamim Ansary yang menulis Destiny Disrupted: A History of the World Through Islamic Eyes (2009), atau Tariq Ramadan yang menulis In the Footsteps of the Prophet (2006).

Selanjutnya, jika dibandingkan dengan buku Khaled Abou El Fadl, The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists (2005), mungkin akan lebih baik jika secara khusus Asma juga memberi porsi untuk menjelaskan sedikit latar kemunculan kelompok islamis ini, terutama dalam konteks tatanan sosial-politik dunia. Di buku The Great Theft, misalnya, Abou El Fadl secara khusus menjelaskan cukup panjang lebar kelahiran kaum puritan baik di era awal maupun di masa kini, sebelum kemudian menguraikan satu persatu doktrin atau pemahaman keagamaan mereka.

Pertanyaan yang menarik dan mungkin cukup menantang adalah jika uraian Asma dihubungkan dalam konteks Islam di Indonesia, baik itu menyangkut perujukan pada memori sejarah, legitimasi, dan klaim autentisitasnya secara doktrinal, maupun juga pada identifikasi dan pengelompokan kecenderungan pemikiran yang berkembang saat ini.

Wallahu a’lam.




Read More..