Hari ini gerimis turun hampir seharian. Sesekali salju yang agak keras turun, mirip butiran es yang amat kecil. Saya merasakannya saat keluar membeli jeruk ke tempat belanja di sudut komplek asrama. Butir-butir es itu jatuh menerpa jaket dan terdengar seumpama alat musik perkusi. Saat saya melintas di atas tumpukan salju yang agak mengeras atau yang becek, suaranya menjadi nyaris tak terdengar tergantikan oleh suara gesekan sepatu.
Hari ini langit mendung berwarna kelabu. Tak ada matahari. Jendela kamar basah diterpa rintik yang tertiup angin. Jelang petang, saat lampu-lampu rumah yang berderet di bebukitan mulai dinyalakan di kejauhan, kabut turun memotong jarak pandang.
Malam datang semakin terlambat. Menghadap jendela yang agak buram, saya menunggu bulan yang akan muncul dari balik gedung di seberang kamar. Tapi langit memang kelam tertutup awan—dan bulan bersembunyi di sana.
Tirai jendela saya biarkan terbuka, berharap akan menemukan bulan menggantung di angkasa memancarkan cahaya saat orang memadamkan lampu-lampu mereka selama sejam. Langit tetap berselimut awan yang gelap.
Pukul 20.30, lampu kamar saya padamkan. Saya buka jendela kamar pelan-pelan. Dingin seketika masuk menyerbu. Rumah-rumah di bebukitan itu masih bercahaya. Di bawah, pohon yang kerontang tampak suram di antara penerangan lampu yang berwarna kekuningan. Salju masih menutupi tanah di bawahnya. Suasana begitu lengang.
Malam terus berjingkat, seperti pencuri yang tak ingin diketahui keberadaannya. Apakah saya memang punya harta yang cukup berharga untuk dicuri? Entahlah. Akhir pekan ini, saya merasa begitu tua dan lelah. Tua dan malam. Sedang meja saya masih berantakan.
Minggu, 28 Maret 2010
Sebuah Cerita Akhir Pekan
Label: Diary, European Adventures
Sabtu, 27 Maret 2010
Perkenalan yang Terlambat
“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” demikian sebuah ungkapan bijak mengatakan. Kalimat ini terlintas di pikiran saya saat baru beberapa menit menonton film dokumenter berjudul Addicted to Plastic (2009). Di bagian pembuka film itu, ada gambaran singkat betapa kehidupan kita mulai dari kamar tidur hingga berbagai kegiatan yang lain telah dikepung habis-habisan oleh plastik.
Saya merasa terlambat berkenalan dengan informasi penting perihal plastik—dengan berbagai masalahnya. Meski saat duduk di bangku Madrasah Aliyah pernah tertarik pada isu lingkungan dan sempat menulis sebuah artikel tentang lingkungan, saya merasa cukup terlambat untuk mendapatkan “pencerahan” yang pada gilirannya berlabuh pada sikap yang konsisten, lebih konkret, dan lebih luas.
Saat mengikuti acara Environmental Teachers’ International Convention (ETIC) 24-29 Maret 2008 yang lalu di Kaliandra, Pasuruan, momentum “pencerahan” itu pun datang. Forum yang kaya inspirasi itu mendorong saya untuk kemudian menemukan berbagai informasi mendasar yang cukup revolusioner buat saya berkaitan dengan isu lingkungan.
Plastik adalah yang paling awal. Hasil penelusuran saya di internet memberi saya banyak informasi yang cukup mengejutkan. Buat saya yang hidup dan dibesarkan di kampung di pedalaman Madura, saya baru sadar bahwa plastik sebenarnya adalah sejenis makhluk yang hadir secara diam-diam di sekitar saya, sampai akhirnya saya tersadar ketika mereka telah memberi ancaman nyata yang mewujud dalam tumpukan sampah yang nyaris tak dapat terurai.
Air minum dalam kemasan plastik adalah contoh yang cukup mudah dilihat. Saya tidak tahu kapan persisnya orang-orang di kampung saya dan yang lainnya menjadi begitu terpikat dengan produk ini. Air dalam kemasan sudah menjadi bagian hidup sehari-hari masyarakat di sekitar saya. Di sekolah, kantor-kantor pemerintah, bahkan saat bertamu ke tetangga pun, saya biasanya akan disuguhi air dalam kemasan plastik. Semakin hari jenisnya pun semakin beragam—tak hanya air minum biasa, tapi juga teh, dan sebagainya. Sulit saya bayangkan sebelumnya: bahkan saya bisa mendapatkannya setelah ikut tahlilan di tetangga.
Kantong kresek adalah wujud lain dari plastik yang paling populer. Dari pusat perbelanjaan di kota-kota hingga pasar tradisional di desa, hampir semua menggunakan kantong kresek atau berbahan plastik. Mungkin karena proses kedatangannya yang cukup samar, orang-orang kebanyakan sulit bersikap kritis untuk mempertanyakan muasal dan nasib akhir dari kantong kresek yang diterima setiap kali mereka berbelanja ini. Mereka tak sadar bahwa usia kantong-kantong kresek itu akan jauh lebih panjang dari rata-rata usia kita. Tak hanya itu, mereka juga tak sadar akan harga yang harus dibayar untuk itu semua.
Ketaksadaran ini sering kali saya temukan saat saya berbelanja. Juli 2009, saat berkunjung ke Yogyakarta, saya sempat mampir ke sebuah toko buku dan membeli dua buah buku tipis. Saya membayar Rp 24.800,- untuk dua buku tersebut. Kebetulan saya tak membawa tas ransel. Akan tetapi, karena merasa kedua buku itu dapat saya pegang dengan nyaman, saya menolak kantong kresek yang diberikan oleh pelayan toko itu.
Si pelayan tampak keheranan dan setengah memaksa saya untuk menerima kantong kresek itu. “Mbak, saya tak mau menambah jumlah sampah,” kata saya, singkat.
Tapi dia tetap memaksa. “Gapapa Mas, ini. Nanti kalau sudah di luar, buang saja ke tempat sampah kalau memang tak mau,” katanya dengan nada dan ekspresi yang tak nyaman.
Saya tambah heran dan jadi bertanya-tanya dalam hati, apakah dia memaksa karena alasan promosi, yakni karena di kantong kresek itu ada nama toko buku ini?
“Mbak, tanpa kantong kresek, saya bisa membawa dua buku saya dengan nyaman. Jadi tak perlu. Lagi pula, sampah plastik itu butuh puluhan atau bahkan ratusan tahun untuk dapat terurai di tanah,” jawab saya sambil bergegas meninggalkannya yang tampak masih menunjukkan rasa jengkelnya atas penolakan saya.
Ini bukan pengalaman pertama saya berhadapan dengan pelayan toko yang keheranan saat ada pembeli menolak diberi kantong kresek. Sebenarnya, di penghujung 2008, di toko buku yang sama, saya juga mengalami kejadian serupa—dengan pelayan yang berbeda.
Bagi saya, pengalaman seperti ini jelas menunjukkan lemahnya pengetahuan dasar mereka tentang bahaya sampah plastik sehingga mereka tidak merasa sedang dikepung oleh bahaya sampah plastik. Akhirnya, peluang besar untuk menyampah dengan kantong kresek menjadi biasa. Sebaliknya, menolak kantong kresek tampak sebagai sikap yang aneh.
Biasanya, jika memang berniat untuk berbelanja, saya akan membawa kantong kain atau tas ransel dari rumah. Saat di rumah, saya cukup sering membawa tas plastik daur ulang karya murid-murid SMA 3 Annuqayah jika memang berniat mau berbelanja. Sering kali tas plastik daur ulang ini menjadi perhatian orang, termasuk pelayan toko. Pada saat itulah saya sering mendapat kesempatan untuk sekadar berbagi info mendasar tentang bahaya sampah plastik.Berbagi pengetahuan, berbagi pengalaman, dan berbagi kesadaran. Itulah yang juga saya lakukan bersama murid-murid SMA 3 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, sejak April 2008. Sepulang dari ETIC di Pasuruan, bersama murid-murid saya mencoba menyebarkan informasi tentang bahaya sampah plastik. Sejauh ini, kami menggunakan media hasil kreasi daur ulang sampah plastik sebagai penarik perhatian atau sebagai pintu masuk ke perbincangan yang lebih luas dan mendalam. Dari satu sekolah ke sekolah yang lain, juga dari satu komunitas ke komunitas yang lain, kami mencoba mengajak mereka untuk mencermati perubahan di sekitar, khususnya bagaimana sampah plastik telah pelan-pelan semakin mengancam.
Sampai di sini saya berkesimpulan bahwa sering kali kita butuh informasi dan pengetahuan untuk bisa mengubah perilaku tertentu. Tentu tak semua jenis informasi dan pengetahuan bisa memberi pengaruh perubahan. Mungkin kita juga harus pintar mengolahnya, meraciknya dengan “bahan” yang lain, agar informasi dan pengetahuan itu bisa menginspirasi untuk perubahan.
Dan ini bukanlah hal yang mudah.
Selain informasi dan pengetahuan, saya percaya bahwa dukungan sistem itu perlu, seperti bahwa kantong kresek itu tak dibagikan secara gratis di pusat perbelanjaan, seperti juga kenyamanan bersepeda di Belanda, dan semacamnya.
Akan tetapi, setelah tujuh bulan tinggal di Eropa, saya menjadi semakin percaya bahwa pengetahuan dan dukungan sistem saja mungkin tak akan cukup. Di Belanda dan Norwegia, misalnya, meski kantong kresek di pusat perbelanjaan ada harganya (EUR 0,22 di Belanda dan NOK 0,70 di Norwegia), saya kadang masih melihat orang belanja tak membawa kantong sendiri dari rumah sehingga harus beli kantong kresek.
Lain dari itu, teman flat saya yang orang Eropa ternyata juga tak terbiasa memilah jenis sampah, meski di komplek asrama mahasiswa di sini tong sampah dibuat terpisah dan para mahasiswa diingatkan untuk memilah sampah. Saat teman-teman di Milis Keluarga Trondheim, milis warga Indonesia di Trondheim, Norwegia, membahas tentang Earth Hour, ada yang kritis mempertanyakan mengapa lampu di kampus NTNU Trondheim sering menyala di malam hari meski mungkin ruangannya sedang tak digunakan.
Di Indonesia pun, saya juga pernah mengalami paradoks serupa saat mengikuti sebuah acara yang diselenggarakan oleh lembaga yang menaruh minat besar pada pendidikan lingkungan. Sajian makan siangnya menggunakan kemasan styrofoam.
Memang, sikap konsisten itu tak mudah dilakukan.
Pengalaman menyaksikan paradoks semacam itu, baik di tanah air maupun di Eropa, menjadi hiburan tersendiri buat saya. Perkenalan saya yang terlambat dengan pengetahuan dan informasi yang revolusioner dalam kaitannya dengan gaya hidup ramah lingkungan tak membuat saya minder dan surut untuk mendorong diri saya sendiri agar bisa lebih konsisten.
Lebih dari itu, ada hal penting yang selalu saya garis bawahi, yakni bahwa dukungan pengetahuan dan informasi, sistem, dan mungkin perangkat teknologi ramah lingkungan, semuanya adalah faktor eksternal. Perubahan, bagaimanapun, selalu akan kembali ke diri kita sendiri—bukan yang lain.
Baca juga:
Against Plastic Rubbish Read More..
Label: Environmental Issues
Sabtu, 06 Maret 2010
Serasa di Minas Tirith
Sebulan di Trondheim, 500 kilometer arah utara ibukota Norwegia, Oslo, saya kadang membayangkan seolah sedang tinggal di Minas Tirith, ibukota kerajaan Gondor. Paling tidak, itu yang cukup sering saya rasakan setiap kali berjalan mendaki atau turun bukit menuju atau dari kampus Dragvoll NTNU.
Dari sepanjang jalan setapak yang masih tertimbun salju tebal, tak begitu jauh, tampak pemandangan rumah-rumah warna-warni yang menutupi sisi bukit. Rumah-rumah itu warna-warni karena kebanyakan terbuat dari kayu dan dicat merah, kuning, hijau, biru, putih, dan nuansa warna indah yang agak sulit saya gambarkan. Satu di antaranya membentuk seperti tangga berundak mengikuti kontur bukit. Memang bukitnya tak setinggi dan securam Minas Tirith, tapi cukup untuk mengingatkan saya pada kota imajiner rekaan Tolkiens dalam trilogi terakhir The Lord of the Rings yang tergambar begitu eksotik di versi filmnya yang legendaris itu.
Saat saya melewatinya di hari yang sangat cerah, pemandangannya benar-benar indah. Langit biru yang begitu bersih benar-benar seakan ruang kosong yang aneh tapi memukau. Sisa-sisa salju yang menutupi sebagian atap rumah dan sedikit sisi bukit yang kosong membuat pemandangannya seperti negeri fantasi—ya, seperti Bumi-Tengah. Sisi bukit yang kosong itu tampak seperti cadas terjal yang tak begitu rata, sehingga salju yang memutih membentuk lukisan yang juga indah. Di halaman salah satu rumah yang berada dekat kaki bukit, tampak beberapa gazebo kecil dihampari salju di sekelilingnya yang tampak kontras dengan ukuran rumah yang begitu besar.
Sisi bukit itu terkesan sangat indah di mata saya juga karena saya telah melihatnya dalam suasana yang berbeda. Tepat sebulan yang lalu, saat baru mulai kuliah, saya pernah menikmati pemandangan bukit ini di pagi buta, satu jam sebelum matahari terbit. Waktu itu, kuliah saya masuk pukul 08.15, sedang matahari terbit pukul 08.26. Lampu-lampu temaram dan suasana yang masih gelap memberi kesan dan detail pemandangan yang berbeda.
Di kesempatan lain, saya menikmati pemandangan bukit itu saat saya pulang dari kampus dan salju sedang turun cukup lebat. Memang, pandangan mata jadi agak terbatas. Tapi rumah-rumah di lereng bukit itu tetap terlihat meski samar di antara warna putih yang dominan.
Tentu saja, pandangan saya tak selalu mengarah pada sisi bukit di jalan setapak menuju kampus itu. Karena tepat di seberang arah bukit, terhamparlah lanskap kota Trondheim yang begitu indah, lengkap dengan selat dan bebukitan lain di batas akhir pandangan saya. Tyholt Tower di area kampus Teknologi Kelautan NTNU tampak menjulang, selain menara Nidaros Cathedral yang terkenal karena menjadi tempat penobatan raja-raja Norwegia.
Pemandangan berbukit di Trondheim memang menarik karena kota kecil yang berpenduduk sekitar 170 ribu jiwa ini berada di dekat laut (selat) serta merupakan pertemuan Sungai Nidelva dan Trondheimsfjorden. Salah satu hal yang menarik saya temukan saat saya mencoba mengelili “pulau” kecil yang menjadi pusat kota Trondheim. Dikelilingi oleh Sungai Nidelva, dari situ pandangan saya dibatasi oleh bukit-bukit di kejauhan yang mengelilingi pusat kota Trondheim. Rumah-rumah kayu di tepi Sungai Nidelva pun tak kalah eksotiknya dengan rumah-rumah yang menutupi sebagian bukit-bukit itu.Memang, sampai saat ini saya belum cukup jauh menjelajahi kota yang merupakan bekas ibukota Norwegia ini. Tapi saya sudah cukup bisa merasakan nuansa fantasi yang cukup kuat di sini. Setidaknya demikianlah dari sudut pandang saya.
Ya, serasa di Minas Tirith. Tapi saya tak bertemu Gandalf, Frodo, atau Aragorn. Pun, jangan harap saya nanti pulang akan membawa Cincin buatan Sauron. Saya bukan pahlawan—atau apa pun semacam itu. Saya berharap nanti pulang dari kota ini bukannya membawa fantasi. Saya ingin membawa sesuatu yang lebih nyata, yang mungkin akan cukup berharga untuk dibagi untuk semua.
Label: European Adventures
Minggu, 14 Februari 2010
Mengunjungi Rumah Anne Frank
Dari luar, tak tampak sesuatu yang istimewa pada rumah itu. Di tepi sebuah kanal, berjarak sekitar 1,5 km dari Amsterdam Centraal Station, rumah yang berdiri kokoh itu tampak biasa saja, seperti rumah-rumah lain di sebelahnya. Namun, di siang hari, di pintu masuk rumah itu akan sering tampak orang-orang berbaris panjang membentuk antrean.
Rumah itu tak lain adalah “Anne Frank House”, sebuah museum yang mendokumentasikan kisah persembunyian Anne Frank dari kejaran rezim Hitler Jerman di era Perang Dunia Kedua. Gadis yang bernama lengkap Annelies Frank itu adalah satu dari jutaan korban pembantaian atas orang-orang Yahudi oleh Hitler.
Gadis kelahiran Frankfurt 12 Juni 1929 ini pada tahun 1933 bersama keluarganya mengungsi ke Belanda, saat Hitler memulai kekuasaannya yang anti-Yahudi di Jerman. Namun, pada bulan Mei 1940, tentara Jerman berhasil menduduki Belanda. Perburuan Yahudi pun juga terjadi di Belanda.
Terhitung sejak 6 Juli 1942, keluarga Anne Frank bersembunyi di rumah yang kini telah dijadikan museum itu. Lebih dua tahun mereka bersembunyi di tempat itu, sampai akhirnya di bulan Agustus 1944 tentara Nazi berhasil menemukan mereka.
Bagaimana kisah Anne Frank dapat tersiar ke seluruh penjuru dunia? Selama di persembunyian, Anne Frank menuliskan catatan-catatan hariannya dan akhirnya diterbitkan pertama kali pada tahun 1947. Saat ini, buku harian yang berjudul The Diary of a Young Girl itu telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa dunia, termasuk bahasa Indonesia.Saat berkunjung ke museum ini, saya berusaha menangkap dari dekat suasana tempat yang menjadi latar penulisan salah satu autobiografi atau catatan harian yang paling menarik untuk dibaca itu. Rumah itu sendiri ditata sedemikian rupa sehingga tetap menyerupai kondisi aslinya.
Ketika berhasil menangkap mereka yang bersembunyi di rumah itu, tentara Jerman juga mengangkut semua furnitur. Akan tetapi, untuk dapat mengetahui gambaran lengkap kondisi rumah sebelum dikosongkan, di salah satu kamar terdapat miniatur rumah yang memberi gambaran detail setiap kamar-kamarnya.
Selain itu, di beberapa kamar terdapat semacam layar televisi yang menampilkan video-video pendek berkaitan dengan sejarah Anne Frank, termasuk video Otto Frank, ayah Anne Frank yang selamat dari eksekusi tentara Jerman.
Tentu saja, salah satu bagian paling penting dalam rumah ini adalah Secret Annex, sebutan untuk tempat persembunyian keluarga Anne Frank. Kamar yang menjadi persembunyian itu tampak begitu muram dengan pencahayaan yang terbatas. Toilet dan alat memasak yang cukup sederhana dibiarkan sebagaimana adanya.
Di salah satu sisi dinding, ada garis-garis pendek menandai perkembangan tinggi badan Anne Frank dan saudarinya, Margot. Dekat jendela, tampak sebuah iklan untuk Opekta, perusahaan Otto Frank, yang selama pendudukan tak dikelola secara langsung olehnya. Ada pula beberapa edisi majalah hiburan tergeletak di meja di ruangan yang lain, yang dahulu disuplai oleh pegawai Victor Kugler dan rekan-rekannya, yang mengamankan keluarga Anne Frank di rumah itu dan membantu mengelola perusahaan Otto.
Hidup yang muram dan sangat mendambakan kebebasan memang sempat tergambar dalam catatan harian Anne Frank. Bukalah catatan harian tanggal 24 Desember 1943, saat Anne Frank menulis: “I long to ride a bike, dance, whistle, look at the world, feel young and know that I’m free.”
Selama dalam persembunyian di Secret Annex, mereka harus menggunakan toilet dan bak cuci seminimal mungkin. Suara pun harus benar-benar dijaga—karena nyawa adalah taruhannya.
Sesungguhnya, hidup dalam persembunyian sekian lama karena nyawa yang terancam memang merupakan sebuah tragedi dan tekanan psikologis yang tak mudah dilewati. Hari-hari tak hanya dilalui dengan membosankan, tapi penuh waspada dan kecemasan. Apalagi untuk anak gadis belia seusia Anne Frank saat itu, yang mestinya melewati masa-masa indahnya dengan hari-hari penuh kebebasan. Namun, Anne Frank mengaku dengan tegas bahwa menulis dapat memberinya jalan pembebasan dalam mengatasi segala dukanya itu.
“When I write I can shake off all my cares. My sorrow disappears, my spirits are revived!” tulisnya pada 5 April 1944. Menulis kemudian ternyata memang benar-benar menjadi satu-satunya jalan bagi Anne Frank untuk menyapa dunia yang sulit untuk dijangkaunya saat itu.
Rumah Anne Frank yang beralamat di Prinsengracht 263, Amsterdam itu mulai dibuka untuk masyarakat umum sejak 1960, 50 tahun yang lalu. Otto Frank sendiri yang secara aktif terlibat mengusahakan agar Secret Annex itu dapat diakses oleh publik sebagai sebuah museum.Museum ini bukanlah museum biasa. Siapapun yang menyusuri ruang-ruang kecilnya yang penuh dengan sejarah pasti akan dengan cukup mudah terlibat secara emosional ke dalam situasi yang ingin digambarkannya. Sebagaimana disadari oleh Otto Frank, museum ini dapat menjadi tempat berbagi nilai-nilai kemanusiaan, hak asasi manusia, kesadaran akan ancaman prasangka, diskriminasi, dan kekerasan.
Meninggalkan Rumah Anne Frank, kesan mendalam tetap tertanam dalam ingatan. Saat ini, prasangka dan diskriminasi masih terus saja menghantui pergaulan masyarakat dunia. Kelompok masyarakat tertentu di berbagai belahan dunia masih sering dilekati dengan atribut-atribut tertentu yang secara sosial merugikan dan cenderung diskriminatif.
Rupanya, mempromosikan cara pandang yang sederhana untuk melihat orang lain memang tidak mudah. Proses dan dinamika sosial yang kompleks kadang mendorong seseorang untuk memperlakukan orang lain tidak sebagai manusia, tapi sebagai seseorang-dengan-atribut-tertentu—dengan berbagai konsekuensinya.
Beberapa pekan setelah mengunjungi Rumah Anne Frank, saya membayangkan, andai orang-orang yang telah pernah berkunjung ke rumah itu bisa menangkap kesadaran etis dalam memandang manusia yang lain, alangkah damainya dunia ini. Seandainya bukan seandainya.
Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 14 Februari 2010.
Jumat, 15 Januari 2010
A Lonely Biker
“Ceritakanlah padaku tentang warna putih,” katanya di suatu senja. Lalu aku pun bercerita tentang salju.
Sore itu, dari balkon apartemen yang masih dipenuhi salju, aku melihat seorang penyepeda keluar dari komplek Warande, Zeist, yang menampung sekitar seribu penghuni itu. Duduk di atas sadel, mengayuh pedal di jalanan yang licin dikelilingi pemandangan putih yang menghampar, di antara pohon-pohon menjulang yang juga memutih, aku seperti menangkap nuansa kesunyian yang hadir diam-diam. Ia tampak bersembunyi dalam tas kotak di belakang sadel sepedanya.
Ia datang bersama butir-butir lembut yang telah mengurung benua ini di bawah titik nol. Dengan kepolosannya, ia telah menjungkalkan si penyepeda ke ngarai sunyi yang seperti tak bertepi. Kepada yang lain, ia telah memaksa mereka untuk memarkir sepedanya dalam gudang-gudang bawah tanah lebih lama.
Sore itu tak ada sinar matahari. Butir-butir salju yang menghampar itu tak sedang berkilauan diterpa cahaya keperakan. Si penyepeda bergerak perlahan di jalanan kecil yang saljunya sama sekali tak disingkirkan. Ia tampak bersabar. Bunyi roda sepedanya yang berputar melewati butir-butir salju yang lembut itu sesekali diiringi oleh kicau burung di kejauhan. Tiupan angin yang tak sedang amat kencang kadang menjatuhkan salju di pepohonan. Beberapa tampak menerpa jaketnya yang berwarna hitam. Wahai penyepeda, apa yang tengah kau jemput di luar sana?
Dari atas balkon, aku menyaksikan titik hitam itu bergerak perlahan di antara pemandangan putih yang tampak polos dan seperti berasal dari negeri kayangan.
Putih salju, apa pun makna keberadaanmu, apa pun atribut yang kau antarkan kepadaku, aku tahu, bahwa suatu saat kau akan luluh, mencair, lalu menghilang, entah ke mana, untuk kemudian kembali di suatu masa.
Label: Diary, European Adventures
Senin, 04 Januari 2010
Badai Salju dan Pengalaman Terburuk di Belanda
Musim dingin di Belanda adalah pengalaman pertama saya melihat salju secara langsung. Menyaksikan butir-butir salju berjatuhan di balkon dan lanskap yang memutih sejauh mata memandang, semua sungguh tampak begitu indah. Dua hari pertama salju turun, saya berusaha menikmati pemandangan di mana-mana. Saya ke Amsterdam, keliling pusat kota Utrecht, dan bersepeda di sekitar Zeist.
Akan tetapi, salju sebenarnya juga menyimpan cerita buruk. Dan saya juga telah benar-benar mengalaminya—di saat yang sungguh tepat!
Kejadian itu terjadi satu hari setelah badai salju yang melanda Belanda. Minggu, 20 Desember, salju turun sepanjang hari sehingga ketebalan salju di balkon saya hampir mencapai 30 cm! Menurut berita di situs Radio Nederland, badai salju yang turun di beberapa negara Eropa ini memang telah memakan cukup banyak korban.
Saya juga menjadi korban keesokan harinya, saat saya hendak berangkat liburan ke Frankfurt dengan menggunakan bus Eurolines dari Utrecht CS. Menurut jadwal dan tiket yang saya pegang, bus Eurolines ke Frankfurt akan berangkat pukul 09.45 dari Utrecht CS. Jadi, pukul 8.30 saya sudah menuju Utrecht CS dan tiba di halte bus Eurolines di Jaarbeursplein pada pukul 09.00.
Halte bus Eurolines satu komplek dengan halte bus-bus antarkota lain di sisi barat Utrecht CS itu. Kabar buruknya: tak ada tempat duduk untuk orang-orang yang menunggu di ruang terbuka itu. Jalanan, pohon-pohon yang meranggas, sepeda yang diparkir cukup lama, semua memutih akibat badai salju kemarin. Putih dan tebal. Butir-butir salju di pepohonan itu sesekali tertiup angin dan jatuh ke bawah.
Saya berdiri saja di halte Eurolines bersama beberapa orang yang juga sedang menunggu bus. Tas punggung saya tak dilepas. Tak lama setelah saya di situ, 4 mahasiswa Indonesia dari Deventer juga tiba di halte tersebut. Mereka mau berlibur ke Paris dan juga menggunakan Eurolines.
Waktu berjalan melambat saat menunggu. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 10 pas. Saya menunggu dengan agak cemas, karena udara dingin di situ seperti sudah sulit ditahan. Yang paling terasa adalah kaki dan tangan—agak kaku, seperti mau membeku. Karena itu, sesekali saya pindah ke tempat lain yang tak bersalju, agar sepatu tak bersentuhan langsung dengan salju tebal itu. Tapi tetap saja. Karena dingin telah menyebar ke mana-mana.
Saat pukul sebelas tampak ada bus Eurolines masuk ke area Jaarbeurs, saya berharap ini adalah bus ke Jerman. Ternyata itu bus ke Paris.
Jelang pukul 12, saya sudah tak tahan dengan dingin dan penantian yang serba tak jelas itu. Saya heran, mengapa tak ada kabar dari Eurolines. Saya sudah mencoba menelepon nomor kantor Eurolines di Amsterdam, tapi saya harus antre panjang di jalur telepon itu sehingga saya akhiri saja. Akhirnya saya pun masuk ke komplek Utrecht CS. Mungkin bisa sedikit menghangatkan badan, pikir saya, dan sekalian untuk ke toilet.
Setelah dari toilet, saya duduk-duduk di ruang tunggu Utrecht CS, tepatnya di dekat Blue Screen, papan jadwal kereta. Sambil menikmati segelas kopi, saya kembali mencoba menghubungi kantor Eurolines. Akhirnya, meski berada di antrean ketujuh belas, saya menunggu. Setelah menunggu sekitar 15 menit dengan agak gelisah karena khawatir pulsa terkuras habis, akhirnya saya tersambung dengan operator.
Dan ini dia kabar buruknya: setelah diperiksa, si petugas mengabarkan bahwa bus Eurolines ke Frankfurt baru saja meninggalkan Utrecht! Saya pun menerangkan bahwa saya telah menunggu di halte selama hampir 3 jam, dan tak ada kabar apa pun, sampai akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke Utrecht CS karena sudah tak kuat menahan udara dingin. Si petugas menjelaskan bahwa hari itu semua jadwal bus menjadi kacau karena badai salju.
Tapi saya tetap saja heran: apa gunanya saya memberi nomor telepon saya di formulir pemesanan tiket jika dalam situasi darurat seperti ini saya sama sekali tak mendapat kabar! Memang sih, tiket Eurolines itu hitungannya bisa relatif murah. Tapi kan itu bukan alasan untuk membuat penumpang terlantar kedinginan. Satu-satunya jalan keluar adalah menunggu bus berikutnya. Dan itu, paling cepat, pukul tiga sore. Saya harus bersabar dan bertahan di tengah cuaca dingin.
Akhirnya, pukul empat kurang seperempat saya sudah berada di dalam bus Eurolines ke Frankfurt. Gara-gara badai salju, saya sudah terhukum kedinginan di Utrecht CS menunggu bus. Sungguh ini adalah pengalaman terburuk saya selama di Belanda.
Label: European Adventures
Sabtu, 02 Januari 2010
Gelandangan Semalam
Saat kereta yang kami tumpangi dari Kassel dalam perjalanan sekitar 8 jam dari Berlin tiba di halte Frankfurt West pada pukul 00.55 Senin (28/12) dini hari, saya dan Mas Suratno sudah merasa lega. Sebentar lagi kami akan segera tiba di rumah, di Eschborn, dua halte dari situ, dan benar-benar akan dapat istirahat setelah dua hari mengunjungi Leipzig dan Berlin.
“Nanti kita masak mi dan telur saja, baru tidur,” kata Mas Suratno. Bayangan mi dan telur yang masih hangat untuk melawan suhu udara musim dingin di bawah nol derajat sudah terlintas di benak saya. Namun, ketika melihat papan informasi di halte Frankfurt West, saya langsung merasa lemas. Ternyata kereta terakhir ke Eschborn, kotamadya di barat laut Frankfurt tempat Mas Suratno tinggal, sudah lewat sekitar 5 menit sebelumnya.
“Kalau begitu, alternatifnya, kita akan bermalam atau melewatkan malam ini di Hauptbahnhof (Hbf) Frankfurt,” kata Mas Suratno. Waduuuuh. Jadi tertunda nih istirahatnya, pikir saya. Memang, Hbf Frankfurt, atau stasiun pusat Frankfurt, memang besar dan luas. Tapi saya tidak yakin akan cukup nyaman menunggu sambil beristirahat di situ hingga kereta pertama ke Eschborn berangkat pukul 04.59. Untungnya, kami masih dapat menumpang kereta terakhir ke Hbf Frankfurt, pukul 01.10.
Tiba di Hbf Frankfurt, kami sepakat untuk mencari warung yang masih buka untuk menunggu kereta pagi. Beruntung, McD masih buka. Ternyata di McD banyak sekali orang-orang yang sepertinya juga sedang menunggu kereta atau kemalaman seperti kami. Tak jauh dari tempat kami duduk, ada 6 muda-mudi berbahasa Spanyol dengan tas-tas besar mereka. Di meja di depan saya, seorang berkulit hitam tidur dengan menundukkan kepalanya ke lengannya yang disilangkan di meja di depannya. Sisa makanan yang dipesannya baru saja diambil oleh petugas kebersihan McD. Seorang tua yang baru saja masuk mulai menyantap pesanannya di samping saya.
Waktu terasa berjalan lambat, sampai akhirnya tepat pada pukul 2 dini hari seorang pegawai McD yang tampak rapi dan mengenakan dasi menghampiri meja muda-mudi Spanyol yang tampak asyik sekali berbincang itu. Saya dapat mendengar kata-kata pegawai itu dengan jelas: “Kami akan segera tutup, mohon maaf,” katanya.
Belum setengah jam kami di situ, kami pun terpaksa keluar. Kami tak punya pilihan: kami pun berencana kembali masuk ke Hbf Frankfurt dan berharap menemukan tempat nyaman di dalam untuk menunggu.
Tapi sungguh sial nasib kami. Beberapa meter dari pintu masuk, kami sudah dapat melihat orang-orang yang hendak masuk tampak diperiksa oleh petugas keamanan. Saat mendekat, kami ditanya oleh petugas keamanan itu: hendak ke mana? Mas Suratno spontan menjawab: Darmstadt—sebuah kota di pinggiran Frankfurt. Si petugas langsung tak mengizinkan kami masuk. “Kereta pertama ke Darmstadt baru beroperasi nanti jam 5,” jawabnya singkat.
Ternyata petugas keamanan hanya mengizinkan masuk untuk mereka yang hendak segera berangkat. Petugas itu memeriksa tiket—mereka tak bisa ditipu. Kami, bersama beberapa orang lainnya yang juga tak bisa masuk, akhirnya ngeloyor pergi begitu saja.
Jelas kami tak punya tujuan. Tak ada kenalan di sekitar Hbf Frankfurt. Akhirnya, spontan saja, kami berjalan di sekitar bangunan Hbf yang besar, sambil berharap menemukan tempat yang nyaman untuk berlindung dari udara dingin. Saat di salah satu sisi bangunan Hbf kami menyaksikan ada orang berkerumun di semacam halte bus, kami pun mencoba mendekat dan berbaur dengan mereka. Ternyata mereka adalah rombongan yang sedang menunggu bus untuk perjalanan ke luar kota.
Agak lama di situ dan merasa kedinginan, kami coba lagi untuk berjalan. Di sebuah jalan masuk ke halte kereta bawah tanah, kami jadi terpikir untuk berlindung di situ. Tapi ternyata pintu masuk halte ditutup, dan kami hanya bisa nongkrong tepat di pintu masuk bawah tanah selama beberapa saat. Namun begitu, tetap saja kami kedinginan.
Akhirnya, jelang pukul tiga dini hari, kami pun berhasil menemukan penyelamat kami. Di salah satu sisi bangunan Hbf, kami menemukan sebuah ruangan yang tampak seperti kafe. Dari jendela, kami dapat melihat beberapa orang duduk-duduk di dalam. Kami pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Setelah menjelaskan bahwa kami ketinggalan kereta terakhir ke Eschborn, petugas yang membukakan pintu langsung mempersilakan kami masuk ke dalam dan duduk.
Kami duduk di meja bundar dekat jendela di sudut ruangan. Tak jauh dari kami, 6 muda-mudi Spanyol yang tadi kami jumpai di McD tampak sudah agak lama di situ, asyik berbincang. Di sudut lainnya, beberapa orang yang tampak tua terlihat tidur dengan cara mereka masing-masing. Seorang di antaranya mengorok cukup keras—yang kadang mengundang senyum muda-mudi Spanyol itu.
“Ternyata kami menemukan tempat yang tepat,” kata saya pada petugas yang sangat ramah dan berseragam biru itu setelah ia menjelaskan tempat tersebut. Menurut si petugas, tempat itu adalah semacam organisasi kemanusiaan, namanya Bahnhofs Mission, yang membantu orang-orang seperti kami, dan sebagainya. Bahnhofs Mission, sesuai dengan namanya, berbasis di stasiun-stasiun kereta api di Jerman, dan memberi bantuan bahkan untuk hal-hal kecil, seperti membantu menemukan jadwal kereta, kaum difabel, dan sebagainya.
Meski hanya duduk-duduk dan mengobrol, kami sungguh lega karena paling tidak kami selamat tak membeku kedinginan di luar. Kami di situ sekitar 90 menit. Setengah jam sebelum jadwal kereta pertama ke Eschborn, kami pun pamit dan melangkah masuk ke Hbf Frankfurt. Stasiun masih belum begitu ramai. Dengan rasa kantuk dan lelah yang seperti tak tertanggungkan, kami melangkah pasti, membayangkan tempat istirahat kami di Eschborn yang hangat.
Label: European Adventures, Journey
Jumat, 25 Desember 2009
“Kalian Ini Adalah Para Elite...”
“Kalian ini adalah para elite. Kalian punya kesempatan belajar di luar negeri. Kira-kira bagaimana jika Indonesia kelak dipimpin oleh kalian? Apakah bisa lebih baik, bisa lebih bersih?”
Kurang lebih, begitulah kalimat-kalimat yang sempat terlontar dari Ibu Tatiana malam itu di pesta ulang tahun salah seorang rekan mahasiswa Indonesia di Utrecht. Kehadiran Bu Tati, yang telah cukup lama tinggal di Zeist dan punya cukup banyak pengalaman internasional, memang terasa cukup mengubah suasana—tak seperti lazimnya acara kumpul-kumpul mahasiswa Indonesia di Utrecht pada umumnya.
Bu Tati menanyai satu per satu rekan-rekan mahasiswa Indonesia yang malam itu datang ke Warande 190: apa program studi yang ditekuni di Utrecht, apa saja aktivitas di Indonesia, dan sebagainya. Jadilah kami seperti harus presentasi singkat tentang diri kami masing-masing. Bu Tati tak segan untuk menggali lebih dalam. Salah seorang di antara kami ada yang kemudian presentasi tentang tesis yang dikerjakannya.
Pembicaraan kami sebenarnya cukup lepas. Bu Tati, yang juga bisa berbahasa Prancis dan Spanyol, juga banyak berbagi cerita dan pengalaman hidupnya di Belanda. Di bagian ini, tampak sikap kritis Bu Tati dalam melihat realitas sosial. “Bagi kalian, yang relatif tak begitu lama tinggal di Belanda, mungkin akan melihat bahwa hidup di sini enak. Sebenarnya, tantangan hidup dan masalah sosial di sini juga banyak,” katanya.
Masalah kesejahteraan masyarakat, prasangka kepada etnis atau kelompok tertentu, menurut Bu Tati tak sepenuhnya selesai di negeri Kincir Angin ini. Jangan dikira bahwa di negara maju dan liberal seperti Belanda tak ada diskriminasi. Tentang hal ini, Bu Tati menuturkan beberapa pengalaman kecil yang relevan. Hmmm... rupanya tajam juga cara pandang Bu Tati ini.
Malam itu, kami tak sekadar berkumpul untuk merayakan dan mensyukuri ulang tahun rekan kami. Secara tidak langsung, ada sedikit peringatan dari Bu Tati tentang hidup yang sedang kami jalani di sini—juga tentang hari depan. Ya, benar, kami mungkin memang bisa disebut sebagai para elite sosial. Kami menikmati kesempatan untuk merantau dan belajar di sini, di tempat yang disebut sebagai “negara maju”—sebuah kesempatan yang mungkin hanya bisa diimpikan oleh orang lain.
Apa yang bisa kami bawa pulang dari sini? Apa yang akan kami kerjakan nanti? Pertanyaan semacam ini sejatinya menuntut banyak hal dari kami: bahwa kami harus punya proyek masa depan, proyek peradaban, sesuai dengan minat dan kepedulian kami, di komunitas masing-masing. Apakah harapan ini terlampau berlebihan, atau memang wajar?
Beberapa pekan setelah obrolan di malam itu, kata-kata Bu Tati masih cukup sering terngiang di ingatan saya: “Kalian ini adalah para elite...”
Label: European Adventures
Senin, 21 Desember 2009
Bertemu Sinterklaas
Memasuki bulan November yang lalu, teman-teman di kelas mulai berbicara tentang Sinterklaas. Saya, yang cukup awam dalam soal ini, mencoba bertanya kepada salah satu teman kelas. Dia menjelaskan secara cukup baik tentang perayaan Sinterklaas di Belanda.
Sinterklaas merujuk pada seorang uskup dari Myra, Turki, yang baik hati, suka menolong orang miskin dan juga dikenal sebagai pelindung anak-anak. Di Belanda, perayaan Sinterklaas dilaksanakan setiap tanggal 5 Desember. Di hari itu, Sinterklaas bersama Piet Hitam (Zwarte Piet) yang menemaninya membagikan hadiah untuk anak-anak. Sedangkan anak yang nakal akan dibawa pergi ke Spanyol.
Tentu saja, pikir saya, di mata anak-anak bayangan tentang hadiah sangatlah menyenangkan, dan hukuman dibawa ke Spanyol akan cukup menakutkan.
Teman saya itu kemudian menuturkan bahwa Sinterklaas bersama rombongannya akan hadir secara bergiliran di kota-kota besar di Belanda setiap akhir pekan. Sayangnya, saat rombongan Sinterklaas berkunjung ke Utrecht pada 14 November yang lalu, saya sedang bepergian ke Amsterdam untuk suatu keperluan, sehingga tak bisa melihat langsung rombongan Sinterklaas yang katanya tiba melewati kanal Utrecht.
Penasaran dengan Sinterklaas, menjelang 5 Desember saya mencoba keliling bersepeda di sekitar Zeist. Akhirnya, pada hari Jum’at sore, 4 Desember, saya berhasil melihat Sinterklaas bersama beberapa Piet Hitam yang sedang dikerumuni anak-anak di sebuah pusat perbelanjaan. Saat itu, saya menyaksikan beberapa anak yang sepertinya tampak sangat senang bermain di sekitar Sinterklaas yang membagikan hadiah-hadiah berupa makanan ringan. Ibu mereka, yang sebagian tampak mengawasi dari kejauhan, kadang terlihat geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah anak-anak mereka.Saya mencoba membaca pikiran anak-anak yang tampak girang dan tertawa-tawa riang itu. Saya membayangkan, mereka sedang mendapatkan suatu pelajaran moral untuk berbuat baik pada sesama. Beberapa waktu yang lalu, saat berkumpul dengan komunitas masyarakat Indonesia di sebuah acara informal, salah seorang di antara mereka yang sudah tinggal di sini (Utrecht) menyatakan bahwa pelajaran moral Sinterklaas tidaklah terlalu berhubungan dengan agama—ya, saya cukup bisa memakluminya; bukankah Belanda memang negara yang tergolong sekuler?
Dengan memandang perayaan Sinterklaas yang tak lagi terlalu mengacu pada aspek religius, saya jadi maklum saat menyaksikan seorang anak dari seorang ibu yang kelihatannya muslim bermain dengan Sinterklaas di supermarket di Jum’at sore itu. Sepertinya Sinterklaas di sini telah menjadi semacam simbol moral universal tentang dorongan untuk berbuat baik.
Saya menjadi semakin yakin akan hal ini saat mencoba mencari informasi lebih jauh di internet, dan menyadari kenyataan bahwa Sinterklaas sendiri pada dasarnya adalah seorang Katolik—meskipun ia oleh Vatikan dicoret dari daftar orang-orang suci. Bagaimana bisa orang terhormat dari Katolik dirayakan di sebuah negara yang mayoritas Protestan seperti Belanda? Jawabannya jelas: Sinterklaas telah melampaui sekat formalitas (sekte) agama, dan mungkin sudah cukup menyatu dengan gerak hidup kebudayaan masyarakatnya yang memiliki bermacam keyakinan. Memang, dari situasi semacam ini, simbol agama menjadi tak terlalu kelihatan.
Saat 5 Desember berkeliling di sekitar Zeist, saya kembali berjumpa dengan Sinterklaas di pusat kota. Piet Hitam berkeliaran di sepanjang jalan di situ. Dari kejauhan, tampak di antara mereka sedang memberi bungkusan hadiah untuk seorang anak yang sedang berjalan dengan digandeng oleh ibunya.
Dalam hati saya bertanya: mengapa mereka tak memberi hadiah untuk saya? Hmmm.... mungkin karena saya bukan anak-anak lagi—semoga bukan karena saya termasuk “anak nakal”.
Label: Daily Life, European Adventures
Minggu, 20 Desember 2009
Cinta dan Pencarian Diri
Judul buku: Perahu Kertas
Penulis: Dee
Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Agustus 2009
Tebal: xii + 444 halaman
Karya-karya Dewi Lestari, atau yang populer dengan nama pena Dee, memang telah banyak mengangkat tema cinta, mulai dari Supernova (3 seri), Filosofi Kopi, hingga Rectoverso. Demikian pula, novel terbarunya ini, yang berjudul Perahu Kertas, masih mengangkat tema cinta. Bedanya, novel ini bergenre populer dan menggunakan tokoh remaja yang berproses hingga menemukan kematangannya.
Karena bergenre populer, maka pembaca setia karya-karya Dee ketika baru memulai membaca novel ini mungkin akan sedikit merasakan hal yang agak berbeda dibandingkan saat menikmati karya Dee sebelumnya yang cenderung “serius”. Bisa dikatakan bahwa novel ini secara gaya penyajian dan alur mirip dengan chicklit atau teenlit. Akan tetapi, lambat laun, pembaca akan merasakan ruh Dee dalam novel yang ditulis selama 55 hari kerja ini—tulisan yang reflektif, dan, dalam batas-batas tertentu, bagi yang cukup akrab dengan tulisan-tulisan Dee selain karya fiksinya yang dapat ditemukan di weblognya, cukup menggambarkan “pandangan-dunia” Dee tentang hidup, cinta, dan takdir.
Hebatnya, Dee bisa membungkus ide-ide yang sangat filosofis dan serius macam itu melalui tokoh-tokoh remaja novel ini. Dengan dua tokoh utama bernama Kugy dan Keenan, tokoh-tokoh remaja lainnya dalam novel ini tampil dalam rentang empat tahun, dimulai saat Kugy dan Keenan memulai masa perkuliahannya di Bandung.
Kugy adalah seorang gadis mungil yang aneh, cuek, pengkhayal, berantakan, dan bercita-cita menjadi juru dongeng dan penulis cerita. Keenan adalah seorang remaja cerdas, artistik, dan bermimpi menjadi pelukis. Keduanya dipertemukan secara kebetulan oleh Eko dan Noni, saat Eko menjemput Keenan, sepupunya, di stasiun Bandung. Noni, pacar Eko, adalah sahabat karib Kugy sejak kecil.
Perkenalan Kugy dan Keenan di awal masa kuliah mereka ternyata pelan-pelan melahirkan perasaan saling mengagumi dan saling menyukai. Namun, situasinya menjadi rumit dengan fakta bahwa Kugy masih menjalin hubungan dengan Ojos, dan di sisi yang lain, Noni dan Eko tengah berupaya mencomblangkan Keenan dengan seorang famili Noni bernama Wanda. Dari titik inilah, ketegangan kisah cinta Kugy dan Keenan yang sebenarnya dimulai.
Lebih dari sekadar kisah cinta biasa, kisah Kugy dan Keenan juga menyimpan kisah pergulatan panjang pencarian diri yang otentik. Gagasan ini, jika disederhanakan dan diungkapkan dengan bahasa populer kalangan remaja, akan serupa dengan upaya untuk “menjadi diri sendiri”. Tentang bagaimana Kugy dan Keenan merawat impian-impian, kata hati, pilihan hidup, dan cita-cita mereka, berhadapan dengan kompleks realitas hidup di lingkungannya masing-masing yang tak sederhana, dilematis, dan kadang tampak pahit.
Keenan, misalnya, digambarkan terpaksa kuliah di jurusan manajemen, sementara sejatinya dia ingin menyerahkan hidupnya di dunia kesenian. Ia harus mengikuti kehendak orang tuanya, sampai akhirnya di satu titik perjalanan kisah ini Keenan mengambil sebuah keputusan yang sangat berani: berhenti kuliah, berkomitmen mandiri secara ekonomi, dan total hidup dengan melukis.
Keteguhan Keenan dengan keputusannya ini tak bisa dilepaskan dari cerita-cerita inspiratif yang ditulis Kugy, terutama saat Kugy tengah tertekan dan kalut akibat proyek percomblangan Noni dan Eko, dan menuliskan pengalamannya dengan anak-anak miskin di pinggiran Bandung dalam kisah Jenderal Pilik dan Pasukan Alit.
Titik penting novel ini terjadi saat Keenan memutuskan untuk menghilang dan tinggal di Ubud bersama Pak Wayan, sahabat lama ibunya, dan memulai merajut mimpinya menjadi pelukis. Di titik itu pula, pembaca akan merasakan bahwa jalinan perasaan Kugy dan Keenan terancam putus. Apalagi saat jalinan cerita ini menuturkan bahwa di Ubud Keenan terpikat dengan Luhde Laksmi, ponakan Pak Wayan, sementara Kugy, yang baru lulus kuliah dan kemudian bekerja di sebuah biro iklan di Jakarta, menjalin hubungan dengan bosnya di kantor.
Di bagian seperempat terakhir novel, pembaca akan menemukan bagian-bagian yang sangat menentukan bagi penyelesaian konflik dan keseluruhan alur kisah novel yang sebenarnya sudah lebih dulu dilansir dalam versi digital (WAP) pada April 2008. Di bagian ini, pembaca akan menemukan “Dee yang sebenarnya”, yang menghadirkan renungan-renungan hidup yang mendalam dengan juru bicara tokoh-tokoh novel yang usianya kebanyakan masih belia. Memang, pembaca tidak akan terlalu dibebani dengan metafor-metafor berat dan refleksi filosofis yang cukup serius, seperti dalam Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Namun begitu, hal ini tidak mengurangi kualitas dan kedalaman refleksi Dee.
Salah satu kelebihan novel ini adalah efek adiktif yang dimilikinya. Dee sendiri menjelaskan bahwa novel ini juga memang mencoba mengambil semangat komik dan cerita bersambung, yang pada dasarnya berupaya menjaga rasa penasaran pembaca. Membaca Perahu Kertas, pembaca seperti akan dilayarkan ke suatu kisah yang cukup menguras emosi dan cukup bernuansa eksistensial.
Di tengah melimpahnya genre novel-novel populer remaja bertema cinta di pasar perbukuan, novel ini dapat dikatakan sebagai sebuah terobosan baru untuk berbagi kisah yang memikat dan inspiratif yang sarat nilai-nilai renungan mendalam, jauh dari dangkal. Tak hanya soal cinta, tapi juga renungan soal relasi etis antarmanusia.