Tuesday, 16 November 2010

Bagikan Pengalamanmu, Bagikan Kisah-Kisahmu


Kini yang tersisa adalah penyesalan. Waktu jelas tak bisa terulang. Sekarang saya hanya bisa meratap mengapa dahulu saya tak rajin menuliskan semuanya—pengalaman penuh warna yang sebelumnya bahkan tak terbayangkan akan dapat saya lewati.

Hari Kamis dua pekan yang lalu, di kelas Jurnalistik, setelah beberapa pekan awal memberi bekal wawasan pengetahuan dan pengantar umum tentang jurnalisme, saya mencoba menanamkan semangat kepenulisan kepada murid-murid setingkat SLTA di siang itu. Saya memperkenalkan gagasan tentang jurnalisme warga (citizen journalism) kepada mereka dengan sebuah kerangka yang “agak politis”. Saya katakan bahwa media arus utama tak selalu sudi berbagi ruang untuk menuturkan hal-hal penting yang terkait dengan kepentingan masyarakat luas. Karena itu, kita sebagai warga masyarakat mestinya juga terlatih dan memiliki kemampuan untuk menuliskan hal-hal penting di sekitar kita. Bahkan hal yang personal pun terkadang dapat memiliki nilai penting yang lebih luas, yakni dapat menjangkau pada kepentingan masyarakat luas.

Saat berdiskusi tentang jurnalisme warga itu, pikiran saya sebenarnya tengah mendua. Jika yang keluar dari mulut saya adalah semacam upaya menyulut semangat murid-murid untuk menulis, benak saya saat itu dipenuhi dengan penyesalan. Pikiran saya melayang ke Belanda, tepat setahun yang lalu, saat saya mencoba mencatat kisah daun-daun yang berjatuhan di musim gugur, lalu juga perjalanan kereta di suatu senja dari Leiden ke Utrecht.

Rasa sesal yang menyelimuti pikiran saya muncul saat saya menyadari betapa banyak pengalaman-pengalaman menarik lainnya yang tak sempat saya catat. Pengalaman di hari-hari pertama saat baru tiba di Belanda di tengah menjalankan ibadah puasa, misalnya, hanya sempat saya catat dengan cara yang terlalu kaku dan “kering”.

Setiba di Utrecht awal September tahun lalu, saya memang langsung disambut dengan berbagai kesibukan, mulai dari perkuliahan dengan tugas-tugas yang langsung berjibun, urusan administrasi dengan Kantor Registrasi Kota dan kampus, termasuk juga pengenalan lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Tambahan lagi, itu semua harus dilakukan bersama penyesuaian cuaca baru dan antisipasi yang kurang matang.

Tapi kalau dipikir-pikir, mestinya semua situasi itu tak bisa menjadi alasan atas kelalaian saya melewatkan momen-momen yang tak tercatat itu. Justru sebaliknya: mestinya itu semua menjadi dorongan sehingga momen yang penuh warna itu dapat terekam dalam sebuah komposisi yang dapat dibaca di kemudian hari.

Namun saya patut juga bersyukur bahwa selama di Utrecht dalam waktu lima bulan, lebih sepuluh tulisan telah saya tulis. Mengingat kembali masa-masa itu setahun yang lalu, saya berpikir bahwa salah satu faktor yang membantu saya menjaga semangat kepenulisan saya waktu itu adalah Blog Pengalamanku yang dikelola oleh Radio Nederland Wereldomroep (RNW) yang memberi ruang bagi orang-orang Indonesia di Belanda untuk membagikan cerita dan pengalaman mereka. Bahkan saya berhasil mendapatkan tiga sovenir dari Blog Pengalamanku untuk tulisan-tulisan yang saya kirimkan—yakni iPod Nano yang kemudian menemani hari-hari saya bersepeda dan menikmati Belanda dan Eropa, hardisk eksternal 1 terra yang lalu dibuat untuk menyimpan file-file penting yang saya dapatkan di Eropa, dan E-Book Reader yang sungguh bermanfaat buat saya.

Setelah sekitar lima bulan kembali beraktivitas di kampung halaman, saya terkadang geregetan saat membaca tulisan-tulisan pengalaman teman-teman saya di Eropa, baik yang ditulis di blog pribadi maupun Blog Pengalamanku RNW. Sekali lagi, saya kini hanya bisa menyesal. Lebih dari itu, bahkan kesibukan-kesibukan di kampung halaman pun belakangan telah melumpuhkan semangat saya untuk terus menulis.

Memang benar, waktu tak dapat dibeli. Momen dan kesempatan hanya datang satu kali. Karena itulah, selagi Anda sedang berada dalam sebuah ruang pengalaman yang unik, semisal pengalaman bertajuk “pengalaman-Eropa”, maka kesempatan semacam itu jangan disia-siakan. Tuliskan, bagikan!

7 komentar:

M. Faizi said...

Saya termasuk orang yang selalu merasa wajib untuk menulis catatan perjalanan, meskipun jarak tempuhnmya cukup pendek. Saat perjalanan berlangsung, saya memagn tidak menuliskannya seketika itu juga. Saya cukup mencatat butir=-butir penting, seperti jam dan tanggal, jarak, kejutan, dll., yang nanti akan saya kembangkan dalam sebuah tulisan. Umumnya, tulisan saya berupa catatan perjalanan dengan Colt T-120 dan bis.

http://titosdupolo.blogspot.com
http://kormeddal.multiply.com/journal

ahmad saihdah said...

Pengalaman unik itu bisa juga dihadirkan di Sabajarin dan sekitarnya. Mungkin karena terlalu dekat secara emosional, persekitaran itu adalah napas yang sekali tarik, terlalu biasa. :-D

Mungkin, penjarakan perlu untuk mendatangkan deru. Saya selalu menikmati guratan Anda, karena ia dicoret dengan seluruh.

M Mushthafa said...

Ahmad, betul sekali, pengalaman unik itu bisa terjadi di mana saja. Bahkan di luar alam nyata -- mimpi, misalnya. Juga tak harus perjalanan dengan Colt T-120 atau bus. Cuma tinggal bagaimana kita berbagi dan membentangkannya dalam tulisan.

SUBAIDI said...

Benar, dan sepertinya saya jg harus menulskan pengalaman saya merantau d Kangean, mungkin tak seindah Eropa tapi serunya mungkin melebihi :))
Namun saya malas, apalagi media perekaman satu2nya cuma ponsel yang sangat terbatas.

lamanday said...

itu foto pas nulis tesis ya? :)

rizqi said...

..bahagianya bisa mbaca tulisan kek gini..banyak pengalaman indahku,tapi gak sempat kutulis...emmmm setidaknya aku selalu membawa kamera kemana ku pergi..dan itu menjadi kisahku sendiri didalam gambar yang ada dikomputerku..tak selalu tulisan,gambar pun bisa membuat kita kembali merasakan apa yang waktu itu terjadi :)

M Mushthafa said...

Rizqi, mari menulis, mari berbagi pengalaman, berbagi inspirasi. Berbagi gambar juga boleh.. :-)
Terima kasih telah berkunjung ke sini..