Sabtu, 21 Januari 2006

Perspektif Cinta dalam Mendidik Anak-Anak

Judul buku‭ ‬:‭ ‬Rumah Cinta Penuh Warna:‭ ‬Catatan Kebahagiaan Mendidik Buah Hati
Penulis‭ ‬:‭ ‬Asma Nadia dan Isa
Penerbit ‬:‭ ‬Qanita,‭ ‬Bandung
Cetakan ‬:‭ ‬Pertama,‭ ‬September‭ ‬2005
Tebal‭ :‭ ‬168‭ ‬halaman



Selain berbagai tindak kekerasan,‭ ‬saat ini dunia anak-anak kita dikepung dengan berbagai bentuk serbuan dan tekanan sosial-budaya yang dapat membuatnya kehilangan masa depan yang cerah.‭ ‬Beberapa kasus anak-anak bunuh diri yang belakangan cukup sering diberitakan di media misalnya menunjukkan bagaimana anak-anak menghadapi tekanan sosial yang hebat di sekolah atau komunitasnya sehingga kemudian dapat memilih jalan keluar yang cukup tragis itu.‭ ‬Penelitian Organisasi Buruh Internasional‭ (‬ILO‭) ‬Jakarta mengungkapkan bahwa di Jakarta anak-anak saat ini sudah mulai tak asing dengan dunia narkoba.‭ ‬Anak-anak bahkan juga terlibat dalam proses produksi dan distribusi narkoba‭ (‬Kompas,‭ ‬13/07/2005‭)‬.

Lalu di manakah keluarga,‭ ‬tempat anak-anak berbagi masalah dan ruang menempa kepribadiannya‭? ‬Sulit dibantah bahwa institusi keluarga saat ini tengah menghadapi krisis yang membuatnya kehilangan fungsi sosial untuk mendidik dan menanamkan nilai-nilai dasar kemanusiaan dan kedewasaan kepada anak-anak.‭ ‬Apakah saat ini para orangtua telah terlalu sibuk bekerja dan beraktivitas,‭ ‬lalu nyaris sepenuhnya memercayakan pendidikan anak-anaknya pada‭ ‬baby sitter,‭ ‬sekolah,‭ ‬atau bahkan televisi‭? ‬Apakah para orangtua saat ini juga sudah cukup yakin bahwa pola relasi dan pendekatan pendidikan yang mereka terapkan sudah cukup memberi ruang bagi anak-anak mereka untuk dapat merasakan nuansa cinta yang penuh warna dalam rumah mereka‭?

Salah satu simpul solusi dari persoalan dunia anak yang rentan dan rapuhnya fungsi institusi keluarga saat ini adalah dengan memberdayakan sekaligus menciptakan kehangatan di lingkungan keluarga itu sendiri.‭ ‬Atas hal ini,‭ ‬sebenarnya sudah cukup banyak buku yang mencoba memberikan kiat-kiat ataupun penjelasan yang lebih bersifat teoretis tentang mendidik anak dalam keluarga,‭ ‬menjadi orangtua yang baik,‭ ‬mencipta keluarga yang kompak,‭ ‬atau semacamnya.

Keunikan buku ini mengemuka karena ia menyajikan pengalaman sehari-hari dalam keluarga yang dituturkan dengan cukup sederhana.‭ ‬Pasangan muda Asma Nadia dan Isa dalam buku ini berbagi kisah tentang pengalaman mereka membesarkan kedua anaknya,‭ ‬Caca‭ (‬8‭ ‬tahun‭) ‬dan Adam‭ (‬4‭ ‬tahun‭)‬.‭ ‬Secara garis besar pembaca akan menemukan dua poin penting dalam catatan pengalaman Asma dan Isa ini:‭ ‬bagaimana kedua buah hati mereka itu kadang dapat memperlihatkan potensi-potensi kreatif yang menakjubkan,‭ ‬dan bagaimana mereka semua mengelola kebersamaan dalam bingkai cinta dan kasih sayang.

Asma dan Isa dapat dikatakan tipikal pasangan muda dengan aktivitas yang sibuk.‭ ‬Sebagai penulis fiksi remaja terkemuka,‭ ‬sehari-hari Asma sibuk mengelola Forum Lingkar Pena dan atau berbicara di‭ ‬workshop kepenulisan atau forum-forum ilmiah lainnya.‭ ‬Sementara Isa bekerja di TV NHK Jepang selain juga menekuni bidang pengembangan pendidikan anak.‭ ‬Tapi pasangan muda ini begitu sadar bahwa anak-anak mereka tak hanya butuh uang.‭ ‬Di tengah kesibukan,‭ ‬mereka tetap berupaya keras untuk memberikan kebahagiaan dalam cinta,‭ ‬perhatian,‭ ‬dan waktu untuk anak-anak mereka‭ (‬hlm.‭ ‬111‭)‬.‭ ‬Isa,‭ ‬yang juga pernah mengembangkan konsep dongeng interaktif untuk anak,‭ ‬sering ditunggu-tunggu kepulangannya dari kantor oleh kedua anak mereka untuk diajak bermain bersama.‭ ‬Di antara rasa lelah,‭ ‬dengan sabar Isa memenuhi keinginan mereka.‭ ‬Alasannya sederhana:‭ ‬mumpung mereka masih membutuhkan,‭ ‬mumpung orangtua mereka masih menjadi teman favorit mereka,‭ ‬mumpung mereka belum menjadi dewasa dan dibekap dengan berbagai kesibukan‭ (‬hlm.‭ ‬18‭)‬.

Menyediakan waktu untuk bermain dengan anak ternyata tidak hanya baik untuk menanamkan kedekatan emosional anak dengan orangtua,‭ ‬tapi juga bisa menjadi media membangun kekompakan antara dua anak kecil yang sama-sama baru mulai meninggi egonya.‭ ‬Begitulah pendekatan Isa untuk membentuk‭ ‬sense kerjasama di antara kedua anaknya.‭ ‬Saat bermain berantem-beranteman,‭ ‬Isa yang berperan sebagai monster yang berusaha dikalahkan Adam berbisik,‭ “‬Kau tak mungkin menang,‭ ‬apalagi kalau kakakmu tidak membantu‭” (‬hlm.‭ ‬65‭)‬.

Anak-anak kerap membuat kesal para orangtua dengan sikap nakal dan usilnya.‭ ‬Menghadapi hal semacam ini para orangtua kebanyakan bereaksi dengan marah atau memberi hukuman.‭ ‬Tapi justru Asma menemukan bahwa ternyata teguran itu lebih mudah diterima jika diungkapkan dengan cara yang lebih lembut,‭ ‬dengan mengutarakan betapa sedihnya mereka saat melihat Caca dan Adam berbuat hal-hal yang nakal‭ (‬hlm.‭ ‬80‭)‬.

Jika terpaksa harus menghukum,‭ ‬hukuman harus disosialisasikan sebelumnya,‭ ‬logis,‭ ‬mendidik,‭ ‬dan memberi efek jera.‭ ‬Pernah Asma begitu marah pada Caca sehingga ia memutuskan untuk memberinya hukuman:‭ ‬dikurung di kamar mandi.‭ ‬Tapi,‭ ‬demi menghindar dari hal-hal yang tak diinginkan,‭ ‬Asma menemukan cara menarik dalam mengeksekusi hukumannya.‭ ‬Asma menemani Caca dalam kamar mandi yang gelap,‭ ‬begitu lama,‭ ‬sampai akhirnya Caca sadar dan meminta maaf atas kesalahannya‭ (‬hlm.‭ ‬41‭)‬.

Mendidik dengan cinta.‭ ‬Itulah benang merah dan kata kunci utama yang dapat dipetik dari kisah-kisah Asma dan Isa dalam mendidik anak-anak mereka.‭ ‬Mungkin kekuatan misterius cinta ini pulalah yang kemudian tak jarang melahirkan sikap-sikap yang menakjubkan dari anak-anak,‭ ‬seperti yang juga ditemukan dalam kisah-kisah Asma dan Isa.‭ ‬Tentang bagaimana suatu hari di sebuah rumah makan Caca memasukkan delapan koinnya ke kotak amal,‭ ‬atau Caca yang berinisiatif menyumbangkan tabungannya untuk ulang tahun Adam yang nyaris tak dirayakan karena keterbatasan dana keluarga,‭ ‬atau ungkapan-ungkapan cinta kedua anak mereka dalam kata-kata atau gambar yang indah.

Atas hal-hal yang menakjubkan semacam ini Asma dan Isa memang seperti membiarkannya tak terjelaskan,‭ ‬bagaimana semua ini bisa muncul dari sikap kedua anak mereka yang masih polos itu.‭ ‬Mungkin memang sulit memberikan penjelasan tentang bagaimana anak-anak dapat digiring untuk bersikap peka dan solider dengan sesama.‭ ‬Mungkin itu semua adalah bagian dari misteri menakjubkan anak-anak.‭ ‬Mungkin pula semua itu memang didapat tidak dengan tips-tips instan,‭ ‬tapi dengan cinta yang terus ditempa saban hari dengan kelembutan dan ketulusan.

Karena itulah,‭ ‬Asma dan Isa bertutur dengan sama sekali tak hendak menggurui.‭ ‬Teori-teori,‭ ‬tips-tips,‭ ‬atau kiat-kiat,‭ ‬tak terlalu banyak ditemukan di sepanjang buku ini.‭ ‬Yang banyak adalah kisah-kisah ringan,‭ ‬tempat pembaca akan banyak menemukan hikmah bertaburan,‭ ‬yang kadang cukup menggugah dan mengharukan.‭ ‬Tapi justru karena kisah-kisah yang diangkat dari pengalaman sehari-hari itulah,‭ ‬Asma dan Isa cukup berhasil untuk memberikan sebuah potret sederhana tentang bagaimana cinta dan kehangatan itu mestinya disemaikan kepada anak-anak kita dalam keluarga—sesuatu yang mungkin bisa menjadi perspektif alternatif dalam mendidik anak-anak.

Buku ini sangat cocok untuk pasangan muda yang baru mulai menapaki mahligai pernikahan,‭ ‬terutama sebagai bekal untuk melahirkan individu-individu baru yang berdaya,‭ ‬berkualitas,‭ ‬dan untuk mengantar mereka ke gerbang dunia dengan senyum bahagia.


Read More..

Minggu, 08 Januari 2006

Bastian Tito dan Kenangan Seorang Anak Kampung

Ilustrasi karya Zainur Rahman van Hamme

Pagi itu, dalam sisa suasana tahun baru, saya mendapat berita yang mengejutkan. Bastian Tito, penulis cerita silat Wiro Sableng, meninggal dunia pada Senin pagi, 2 Januari 2006. Sejenak saya tertegun diam. Rimba persilatan berduka. Dunia kepenulisan kita kembali berduka.

Nama Bastian Tito sebagai penulis menjadi lebih populer setelah cerita-cerita silat Wiro Sableng yang ditulisnya, yang dikenal dengan julukan Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, diangkat ke layar kaca pada pertengahan dekade 1990-an. Tapi dahulu, bagi saya dan teman-teman sepermainan saya, di sebuah kampung pedalaman Madura, Bastian Tito adalah sosok yang menghidupkan imajinasi dan mengantar saya menjelajah ke banyak dunia.

Bagi saya pribadi, Bastian termasuk orang yang berhasil membuat saya keranjingan membaca dan mencintai pustaka. Buku-bukunya saya beli di pasar desa atau di kios koran di kota (Sumenep). Harga jualnya di tahun 1990-an terhitung murah: seribu perak. Tebalnya antara 100 hingga 200 halaman. Penerbitnya tak cukup ternama. Kemasannya juga tak cukup mewah, dengan kertas buram dan binding yang tak terlalu kuat.

Kemasan karya-karyanya yang sederhana tak terlalu jadi masalah, karena sebagai seorang pencerita, Bastian sungguh menunjukkan kemampuan yang andal dan cukup luar biasa. Setting cerita, alur, penokohan, dan cara penggambaran suasana dalam karya-karyanya sungguh kaya, menarik, dan khas. Pengembaraan Wiro yang membuana mulai dari seantero Pulau Jawa, Madura, Bali, Sumatera, hingga ke negeri Cina dan Jepang, menegaskan penggalian bahan referensi yang cukup mendalam dari penulisnya. Cara penggambaran Bastian saat seorang tokoh muncul dalam sebuah momen peristiwa juga cukup menarik. Tanpa perlu secara langsung menyebut nama atau identitas seorang tokoh, seperti Wiro Sableng, Pangeran Matahari, Sinto Gendeng, Si Muka Bangkai, Tua Gila, Kakek Segala Tahu, atau Dewa Tuak, Bastian justru lebih sering memunculkan seorang tokoh dengan ciri khas mereka dengan karakter yang kuat. Wiro misalnya digambarkan dengan pakaiannya yang serba putih dan agak kumal, sering garuk-garuk kepala, serta sikapnya yang konyol dan kocak.

Seperti dalam cerita silat Kho Ping Hoo, banyak filosofi universal yang termuat dalam kisah Wiro. Penggunaan angka 212 (baca: dua satu dua) pada kapak yang Wiro gunakan, yang juga ditato ke dada Wiro, dijelaskan dalam Empat Brewok dari Goa Sanggreng, dimaksudkan untuk mengingatkan bahwa dalam kehidupan selalu melekat hal-hal yang berpasangan, seperti senang-susah, menang-kalah, atau hidup-mati, tapi semuanya berasal dari dan akan kembali ke Yang Mahasatu.

Pencapaian kebahasaan (kesusastraan) Bastian dalam karya-karyanya tak dapat dipandang sebelah mata, meski karya-karyanya tak dipajang di toko-toko buku terkemuka sekelas Gunung Agung atau Gramedia. Selain cara penggambaran tokoh, cerita, dan suasana yang bernas, cerdas, dan merangsang imajinasi, Bastian juga memperkenalkan ungkapan-ungkapan khas berbau lokal dalam menuturkan peristiwa. Untuk menggambarkan durasi waktu, misalnya, kita akan cukup sering menemukan frasa “sepeminuman teh” atau “sepenanakan nasi” yang tak kita jumpai dalam karya penulis lainnya. Untuk jarak atau ukuran, misalnya, Bastian sering menggunakan “lima tombak” atau “tiga langkah”. Pencapaian kebahasaan yang khas semacam ini jelas akan sulit divisualisasikan ketika cerita silat Wiro Sableng ini diangkat ke layar kaca, sehingga kebanyakan para penggemar Wiro Sableng konon tidak terlalu menyukai versi televisinya.

Kelincahan bercerita yang ditemukan dalam karya-karya pria kelahiran 23 Agustus 1945 ini mungkin tidak terlalu mengherankan, jika kita tahu bahwa Bastian telah tekun menulis sejak kelas 3 SD dan menerbitkan karyanya sejak 1964. Kisah Wiro Sableng sendiri mulai diterbitkan pada 1967. Ratusan judul karya cerita silat telah ditulisnya. Seorang saudara saya yang setia mengoleksi cerita silat Wiro Sableng mengatakan bahwa koleksinya sudah hampir 200 judul. Padahal Bastian juga sempat menulis cerita-cerita lain selain Wiro Sableng, seperti Boma si pendekar cilik, dan juga cerita berlatar budaya Minang, Kupu-kupu Giok Ngarai Sianok.

Kepulangan Almarhum ke hadirat-Nya pada tanggal dua bulan satu di awal tahun baru ini buat saya menorehkan kesan mendalam dan sejumlah harapan besar dan doa. Semoga masih akan ada penulis-penulis semacam Bastian di masa depan, yang tak henti menulis cerita-cerita memikat, tapi karyanya dapat dijangkau oleh anak-anak kampung yang uang jajannya pas-pasan. Saya berharap akan ada penerbit besar yang tertarik untuk menerbitkan karya-karya “sederhana dan murah” semacam karya Bastian, seperti halnya juga komik-komik lokal, yang mungkin tak cukup memberi gengsi, tapi akan cukup berarti. Saya juga berharap bahwa anak-anak di kampung saya saat ini masih akan bisa menemukan karya-karya murah tapi tak kalah berkualitas semacam karya Bastian di pasar desa, di tengah gempuran sinetron dan tayangan televisi, sehingga itu dapat mengokohkan tradisi membaca di kalangan mereka. Karya-karya Bastian dan semacamnya buat saya, teman-teman sepermainan saya, dan mungkin anak-anak di kampung lainnya, adalah pahlawan dan guru yang telah menyontekkan tradisi membaca dan membuka akses ke dunia aksara.

Selamat jalan Bastian Tito. Karya-karyamu adalah amal yang akan terus diberi pahala oleh Yang Mahakuasa.

* Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 8 Januari 2006

Read More..

Kamis, 05 Januari 2006

Vampir Kebudayaan dan Sisi Hitam Dunia Kepenulisan

Tulisan ini ingin memperkaya perspektif tentang sisi hitam dunia kepenulisan yang dalam beberapa pekan terakhir menjadi topik yang hangat dibicarakan di rubrik "Di Balik Buku" Jawa Pos. Jika sebelumnya disinggung soal fenomena ghost-writers dan pialang kepengarangan, yang pada satu titik memperlihatkan terkikisnya idealisme dalam dunia kepenulisan, tulisan ini ingin menekankan peranan perangkat teknologi dalam memperlancar berbagai praktik penyelewengan dalam aktivitas kepenulisan tersebut.

Ada satu kasus menarik yang dapat diungkapkan di sini menyangkut hal ini. Seorang rekan saya yang di antaranya mengelola penerbitan buku-buku fiksi remaja, selain buku-buku yang lain, bercerita bahwa ia pernah menerima email komplain dari pembaca yang merasa tertipu karena salah satu buku fiksi remaja yang ia beli sebagian isinya sama dengan buku yang terbit di penerbit lain di kota yang sama, dengan pengarang yang sama, hanya dengan perbedaan tokoh-tokoh dan tempat kejadiannya saja; sementara kalimat hingga titik-komanya pun bahkan persis.

Kasus ini jelas menunjukkan bagaimana perangkat komputer telah benar-benar berperan untuk memudahkan si pelaku dalam menyelewengkan sebuah karya. Tindakan tak bermoral ini tidak dilakukan secara manual dengan sedikit mengotak-atik judul dan segi-segi kebahasaan dalam suatu naskah, tapi cukup diolah dengan bantuan software pengolah kata MS-Word, tekan Ctrl-H, dan seterusnya. Bahkan, duplikasi semacam itu sebenarnya juga bisa dilakukan tidak saja oleh “si penulis asli”, tapi juga oleh orang ketiga, dengan bantuan teknologi scanner. Sebuah buku atau artikel tinggal discan, diambil teksnya, lalu olah di MS-Word (tinggal pilih: apa dengan find-replace, atau copy-paste). Kerja-kerja semacam ini dijamin tak bakalan cukup banyak memeras tenaga—jika dibandingkan dengan aktivitas kepenulisan yang sesungguhnya—dan hanya akan memakan waktu tak lebih dari 1 x 24 jam!

Praktik yang sebelumnya paling lazim dan sederhana dilakukan dengan bantuan kecanggihan komputer adalah mengedit segi-segi kebahasaan naskah, mengganti judul, dan kemudian menjual naskah tersebut ke beberapa penerbit. Rekan saya tersebut di atas juga sempat bertutur bahwa ia pernah dikibuli oleh seorang dosen dari sebuah perguruan tinggi berlabel Islam di sebuah kota yang “berhasil” menjual dan menerbitkan naskahnya ke tiga penerbit di kota itu sekaligus pada waktu yang hampir bersamaan (termasuk ke penerbit yang dikelolanya), dengan beberapa modifikasi yang tidak signifikan. Yang dirugikan jelas penerbit dan pembaca. Pembaca yang kurang cermat bisa jadi akan membeli ketiga buku yang sebenarnya sama itu—dan dengan begitu ia telah menghamburkan uangnya dengan sia-sia. Sementara penerbit, selain akan memperoleh citra kurang baik dari pembaca yang kurang paham duduk soal yang sebenarnya, juga akan membuat market share untuk buku tersebut menjadi berkurang.

Karena itu, tak berlebihan kiranya jika dalam konteks persoalan ini saya ingin menyebut komputer dan perangkat teknologi lainnya itu sebagai “vampir kebudayaan”—meminjam istilah Afrizal Malna dalam salah satu esainya di tahun 1997—, ketika teknologi canggih tersebut dapat juga menjadi semacam penghisap darah kreativitas-sejati manusia dalam aktivitas pengembangan kebudayaan—tanpa harus menafikan segi positif teknologi tersebut—dan mengantarkan pada tindakan-tindakan tak bermoral.

Konon, modifikasi dan pengembangan dari teknologi copy-paste yang relatif sederhana ini telah berkembang pesat, mulai dari mengkopi dan mengedit seadanya beberapa halaman dari sebuah naskah buku terjemahan, untuk kemudian dimasukkan dalam salah satu bagian buku yang diaku sebagai karyanya, hingga dengan modus paling mutakhir yang ditopang dengan fasilitas internet. Belakangan, di lingkungan terbatas, berkembang rumor yang menyatakan bahwa ada sebagian (kecil) penulis di media yang bekerja dengan cara tersebut, dengan memanfaatkan mesin pencari di dunia maya yang memang sangat cerdas itu (semacam “google” atau “altavista”)—dengan bergiga-giga data yang dapat diakses dari seantero dunia, dengan berbagai pilihan bahasa dan tema—bukan untuk diolah sebagai referensi, tetapi dengan lebih banyak comot sana sini, diracik dan digabung-gabungkan, tanpa ada unsur-unsur baru. Dengan kata lain, semacam copy-paste.

Persoalannya sekarang, bagaimana kita menghadapi kejahatan intelektual semacam ini? Bagaimana penerbit dapat mengendus tindak penyelewengan yang memanfaatkan teknologi ini? Terus terang memang sulit rasanya menemukan solusi yang paling mujarab. Menyerahkan tugas penyingkapan kejahatan semacam ini kepada penerbit sebelum menerbitkan suatu naskah jelas terdengar tak masuk akal. Apalagi arus buku-buku baru di pasaran belakangan ini berkembang sangat pesat. Begitu banyak karya terbit, begitu banyak penulis baru muncul; begitu banyak penerbit berdiri dengan lini-lini baru; semakin meluas pula jaringan distribusi penjualan buku ke pelosok nusantara.

Yang paling mungkin dilakukan adalah semacam pemantauan dan sosialisasi tentang modus-modus kejahatan semacam ini, baik kepada para pembaca, peresensi, penerbit, atau siapapun yang peduli, baik melalui forum-forum informal, media massa, atau di forum-forum mailing list. Bila ditemukan, penerbit bersangkutan harus diberi tahu, sehingga untuk selanjutnya, nama “si penjahat”, meski mungkin tak dapat diseret ke pengadilan, harus di-black list dan dibekukan dari daftar jagat kepenulisan. Selain itu, mungkin saja dilakukan jika praktik yang dapat dikategorikan dalam modus plagiarisme ini dimasukkan dalam salah satu klausul surat perjanjian penerbitan, tentu dengan poin yang akan memberatkan pihak penulis. Siapa tahu “si penjahat” akan urung menjual naskahnya justru karena dia kemudian takut ketahuan dan dihukum secara moral oleh masyarakat.

* Tulisan ini pernah dimuat di Harian Jawa Pos, 4 Desember 2005

Read More..

Senin, 02 Januari 2006

Menjadi Petualang


Larut tertinggal di belakang. Pagi datang menjelang. Aku masih terbangun, terantuk-antuk di kursi belakang bus yang terus melaju. Kulirik jam tangan, jam dua lima belas menit. Kebanyakan penumpang di atas bus yang hampir penuh itu tertidur lelap. Beberapa kelihatan lelah terkantuk-kantuk. Mungkin pikiran mereka sedang berkelana entah ke mana, ke arah belakang atau ke depan. Lampu bus di dalam yang remang terlihat indah, berpadu dengan pemandangan kiri kanan yang memperlihatkan hamparan sawah diterangi purnama. Deru mesin bus terdengar lantang di antara senyap malam dan suasana pedesaan.

Tak lama lagi bus ini akan tiba di perhentiannya yang terakhir. Tak lama lagi aku akan tiba di rumah. Tapi pikiranku seperti masih tertinggal di jalur-jalur perjalananku. Ini bukan semacam kenangan, memorabilia suatu perjalanan. Ini semacam kesan sederhana tentang suatu petualangan—atau tepatnya, seseorang yang menjadi petualang—yang kemudian mengantar ke sejumlah pertanyaan.

Aku teringat pada seorang filsuf terkemuka Jerman yang butir-butir pemikirannya disebut-sebut menjadi salah satu dasar bagi lahirnya semangat Pencerahan Eropa di abad kedelapan belas. Dia, yang putra seorang pembuat pelana kuda, tinggal di sebuah kota di Prusia Timur nyaris sepanjang hidupnya—delapan puluh tahun! Meski sekarang dunia telah menjadi desa, aku tak bisa membayangkan jika di abad ini akan ada orang yang semacam itu; yang nyaris terus berdiam dalam milieunya, tak berjumpa langsung dengan wajah-wajah dari lain nusa, tak mendengar langsung orang-orang yang bercakap dengan lain bahasa.

Aku cukup tahu bagaimana rasanya rindu pulang. Setiap di suatu perjalanan, setiap di suatu tempat persinggahan, setiap di kampung perantauan, ada saatnya perasaan rindu pulang menyeruak datang. Tapi perjalanan kemarin telah memberiku suatu pengertian baru tentang indahnya petualangan.

Sebuah petualangan ibarat air yang mengalir, yang membawa kita ke sungai-sungai, jeram, selokan, atau sebuah pemandangan pasar apung yang menakjubkan. Sebuah petualangan adalah arus sungai yang mengalirkan sehelai daun ke muara, terus ke laut. Dalam petualangan, mungkin kita akan disambut hangat oleh seorang kawan lama atau menemukan sanak saudara yang sebelumnya bahkan kita tak pernah berjumpa. Mungkin pula kita akan menyaksikan pemandangan alam yang belum pernah kita lihat, pasar yang terbakar dan orang-orang yang meratapi barang-barangnya yang hangus dilahap api, atau suasana hening pedesaan. Mungkin pula di sebuah terminal kita akan kecopetan.

Menjadi petualang mungkin akan mengubah total makna rumah dalam pengertian yang konvensional. Seorang petualang mungkin tak pernah risau atau tak pernah dihinggapi perasaan rindu pulang, karena baginya semesta adalah rumah tinggalnya. Rumah bukan lagi menjadi semacam konsep yang mengacu ke sebuah pusat yang relatif stabil. Rumah selalu dibuat dan dimaknai dalam setiap momen kebaruan yang justru ditemukan dalam area pekarangan yang tak terbatas. Mungkin dengan itu rumah tak dicari di luar diri, karena diri kemudian mengganti sebagai pusat baru yang menempati posisi dan fungsi rumah. Seorang petualang, pikirku, berumah-dalam-diri.

Tapi kukira saat ini tak banyak orang yang sanggup kembali menjadi semacam kaum nomaden di zaman yang menuntut orang-orang untuk menemukan sebentuk tempat sandaran, mungkin jaminan, agar tak digilas dunia yang bergerak entah ke mana. Kalaupun ada, mungkin ia akan sangat terbantu dengan piranti komunikasi yang sanggup menemaninya menyelusup hingga ke pelosok kampung, untuk tetap menghubungkannya dengan sang pusat, rumah tinggalnya. Para petualang sejati mungkin memang hanya bisa kita temukan di masa lalu, dalam cerita-cerita silat dan sandiwara radio.

Seperti inilah tepatnya pikiranku saat itu, saat diguncang di atas bus yang melaju. Samar-samar muncul bayangan lain dari suatu senja, dari masa lalu, di balai-balai di bawah pohon mangga, di halaman langgar tua, seorang bocah yang khusyuk mendengarkan kisah para pendekar dari sebuah radio. Para pendekar yang membela kebenaran, menumpas kejahatan, berkelana menebar kebajikan. Entah, apakah pikiran bocah itu ikut larut dalam keasyikan bertualang seperti dalam kisah yang ia dengarkan.

Akan tetapi aku kadang berpikir, apakah justru seorang petualang awalnya adalah seorang yang terbuang? Apakah rumah si petualang di kampung halamannya telah diluluhlantakkan, sehingga ia harus mengembara, membangun rumah baru entah di mana atau membangun rumah dalam dirinya? Ataukah dia terusir dari rumah asalnya; terusir karena perbuatannya yang dianggap tak benar? Apakah seorang petualang awalnya adalah seorang yang sebatang kara?

Waktu terus merambat. Pertanyaan-pertanyaanku terhenti di situ. Bus bergerak melambat. Di depan, tempat terakhir untuk menurunkan penumpang telah terlihat.


Juli-November 2005

Read More..

Senin, 19 Desember 2005

Simone de Beauvoir dan Etika Pembebasan Perempuan

Judul Buku : Pembebasan Tubuh Perempuan:
Gugatan Etis Simone de Beauvoir terhadap Budaya Patriarkat
Penulis : Shirley Lie
Pengantar : Karlina Supelli
Penerbit : Grasindo, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2005
Tebal : xx + 102 halaman



Di kalangan para aktivis gender, Simone de Beauvoir merupakan salah satu tokoh kunci yang pemikirannya tak bisa dilewatkan untuk ditelaah. Magnum opusnya, Le Deuxième Sexe (1949), dicatat sebagai karya klasik yang memberikan uraian cukup komprehensif tentang kondisi (ketertindasan) perempuan dan telah memberikan pengaruh yang cukup signifikan dalam menginspirasi dan memotivasi gerakan-gerakan pembebasan perempuan. Karya klasiknya itu, yang dalam bahasa Inggris berjudul The Second Sex, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, diterbitkan oleh Pustaka Promethea Yogyakarta (2003).

Buku yang semula adalah tesis di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta ini adalah salah satu dari sedikit karya dalam bahasa Indonesia yang mencoba mensistematisasi dan mengkontekstualkan pemikiran-pemikiran Beauvoir. Gagasan-gagasan Beauvoir yang dapat dikatakan bersifat filosofis dan merupakan kritik pedas terhadap budaya patriarkat yang menindas dalam buku ini diletakkan dalam kerangka praksis-etis pembebasan kaum perempuan. Untuk itu, penulis buku ini, selain mengolah dari The Second Sex, juga banyak mengolah pemikiran filosofis Beauvoir yang tertuang dalam The Ethics of Ambiguity.

Budaya patriarkat memulai riwayat penindasannya terhadap perempuan dengan stigmatisasi negatif terhadap kebertubuhan perempuan. Unsur-unsur biologis pada tubuh perempuan dilekati dengan atribut-atribut patriarkat dengan cara menegaskan bahwa tubuh perempuan adalah hambatan untuk melakukan aktualisasi diri. Perempuan diciutkan semata dalam fungsi biologisnya saja. Dengan cara demikian, tubuh bagi kaum perempuan tak lagi dapat menjadi instrumen untuk melakukan transendensi sehingga perempuan tak dapat memperluas dimensi subjektivitasnya kepada dunia dan lingkungan di sekitarnya. Tubuh yang sudah dilekati nilai-nilai patriarkat ini kemudian dikukuhkan dalam proses sosialisasi serta diinternalisasikan melalui mitos-mitos yang ditebar ke berbagai pranata sosial: keluarga, sekolah, masyarakat, bahkan mungkin juga negara.

Dalam kerangka penjelasan seperti inilah maka perempuan kemudian diposisikan sebagai jenis kelamin kedua (the second sex) dalam struktur masyarakat. Akibatnya, perempuan tak dapat mengolah kebebasan dan identitas kediriannya dalam kegiatan-kegiatan yang positif, konstruktif, dan aktual. Dalam situasi yang demikian ini, pola relasi kaum laki-laki dan perempuan menjadi tak ramah lagi. Kaum laki-laki tak menghendaki adanya ketegangan relasi subjek-objek, sebagaimana dijelaskan oleh filsuf-filsuf eksistensial, dengan menyangkal subjektivitas perempuan dan menjadikannya sebagai pengada lain absolut.

Pada titik inilah pemikiran Beauvoir tentang etika ambiguitas menjadi penting dikemukakan. Dengan etika ambiguitas, Beauvoir menolak sikap yang ingin mengelak dari ketegangan relasi tersebut. Menurut Beauvoir, ketegangan antara “kebutuhan akan orang lain” dan “kekhawatiran dikuasai orang lain” (diobjekkan) merupakan situasi yang harus diterima apa adanya dan ditransendensikan ke dalam situasi yang lebih proporsional dan manusiawi.

Jalan pembebasan kaum perempuan ditempuh dari dua jalur utama, yakni level pemikiran dan praktik. Pada tataran pemikiran, tubuh perempuan harus dibebaskan dari label-label yang ditempelkan oleh budaya patriarkat yang membuatnya tak leluasa melakukan proses transendensi. Selain menempatkan konsep subjek dengan tubuh yang berbeda dan ambigu, Beauvoir juga menyerukan untuk mengubah pola relasi antara kaum laki-laki dan perempuan dari ikatan biologis dan fungsional menjadi ikatan manusawi dan etis, yang terangkum dalam semangat persahabatan dan kemurahan hati.

Di level praktik, Beauvoir mengusulkan pentingnya kemandirian ekonomi sebagai pintu pembuka bagi pembebasan tubuh perempuan, yang akan semakin mantap jika dipadukan dengan perlakuan setara terhadap perempuan di ranah sosial, budaya, dan politik, yang dicapai melalui revolusi sosial.

Selain melakukan sistematisasi, buku ini cukup berhasil melakukan kritik dan kontekstualisasi pemikiran-pemikiran Beauvoir dalam konteks problem-problem kekinian perempuan di era globalisasi. Di beberapa bagian, misalnya, menurut penulis buku ini, Beauvoir kadang terlihat terlalu menyederhanakan persoalan situasi perempuan dan tidak mengakomodasi kompleksitas situasi penindasan perempuan yang cukup rumit. Di akhir bagian, penulis buku ini menambahkan bahwa selain ancaman nilai-nilai patriarkat sebagaimana tampak jelas dalam pemikiran Beauvoir, perempuan kini juga ditantang oleh kekuatan pasar bebas yang untuk beberapa hal tak jauh berbeda dengan kultur patriarkat dalam soal menyempitkan ruang perempuan ke dalam kategori objek belaka, di tengah kegamangan kaum perempuan untuk terjun ke dalam ketegangan dan sifat dasar kebebasannya.

Karya ini cukup berhasil menyajikan pemikiran-pemikiran filosofis Simone de Beauvoir tentang praksis etis pembebasan perempuan dalam bahasa dan uraian yang cukup mudah dicerna tanpa harus kehilangan segi kedalaman kajiannya. Buat mereka yang terjun di level gerakan (sosial) pembebasan perempuan, buku ini dapat menyuguhkan peta umum kondisi perempuan dengan berbagai kompleksitas persoalannya, dan buat kaum perempuan sebagai individu, Beauvoir melalui karya ini memberikan semangat dan seruan untuk hidup lebih autentik dan hidup dengan menggali identitas dan kebebasannya.

* Tulisan ini dimuat di Jurnal Perempuan edisi 45, Januari 2006


Read More..

Jumat, 16 Desember 2005

Mata Itu...

Di balik kelopak mata ini ada luka, lara, gelisah dan air mata. Saat dia terbuka, berjuta warna akan menyilaukannya. Jadi biarkan dia tertutup, mengatup dalam gelap. Karena gelap melindunginya dari kelelahan dalam perjalanan panjang.



Aku terdiam, terpaku menatap mata itu. Mata yang seperti menyimpan berjuta enigma. Mata yang seperti menanggung beban tiada terkira. Mata yang seperti tiba di titik frustrasi, tak menemukan ruang untuk berbagi. Mata yang bila membuka seperti hanya menemukan ufuk-lazuardi yang terluka di serambi rumahnya.

Mata itu seperti betul-betul ingin bertutur tentang banyak hal yang tak kuasa ia ungkapkan. Tapi mengapa bila kutanya dia hanya menjawab dengan diam? Malah kadang dengan sedikit nada marah, sambil mengingatkan, agar aku tak lagi menyinggung soal itu. Teramat banyak cerita; begitu miskin kata-kata. Mungkin, bila tiba saatnya ia harus mendedahkan semuanya, dengan terbata ia akan bertutur dengan air mata, yang mengalir ke hidung mungil dan sudut bibirnya yang kadang bergetar. Ia berlari menjauh, menumpahkan itu semua dalam kesendiriannya. Dalam kesunyiannya.

Sementara dunia tak akan ke mana-mana; ia akan tetap di sana, dengan segala merah, jingga, kuning, biru, dan kelabunya.

Akan tetapi, bagaimanapun juga, aku sadar bahwa aku tak akan pernah bisa tahu sepenuhnya, apalagi merasakan sedalamnya, hamparan catatan harian yang tak kutulis sendiri. Jalan setapak yang rumputnya tak kuinjak. Paling-paling, dengan anugerah yang luar biasa, dengan imajinasi dan empati, aku mungkin saja melibatkan diri, membaca aksara-aksara yang ia pahatkan, garis-garis yang ia goreskan dan coretan-coretan spontan yang ia torehkan, yang kadang mewujud sesuatu yang membutuhkan penjelasan. Meski sering aku sadar, bahwa suatu saat imajinasi dan empati akan membentur garis demarkasi, yang memisahkan dunia-yang-dicipta-olehnya dan dunia-yang-terberi-di-hadapan-kita-begitu-saja.

Sementara imajinasi dan empati sangat tidak cukup bila hanya diolah dari (pemandangan) mata. Ia membutuhkan sejumlah bahan lainnya. Semacam catatan resep, ruang, waktu, dan juga tempat adonan.

Kadang aku berpikir bahwa mata adalah semacam tabung besar tempat menyimpan rahasia-rahasia diri yang terdalam. Mungkin juga tempat menyimpan kegelisahan dan kebahagiaan. Tebersit tanya, seberapa besar sebenarnya daya tampung tabung itu? Mungkinkah, suatu saat, tabung itu meluap, memuntahkan segala isinya? Atau jangan-jangan ternyata di dalam ada semacam alat yang dapat mendaur sebagian atau seluruh isinya, mengolah gelisah menjadi gairah, mengubah air mata menjadi api semangat, mengubah resah menjadi senyum sumringah… Jangan-jangan, seperti kata seorang teman, mata-yang-memutuskan-untuk-terpejam itu melewatkan kelebat fajar, cahaya pagi yang menyegarkan, dan hanya kembali membuka saat ia hanya bisa menemukan temaram…

Sejauh masih ada nikmat kesempatan dan kekuatan, mengapa tak kau tatap lanskap dunia, meski horison senja terhalang kepul asap bercampur jelaga? Tidakkah kau yang mengajariku, bahwa kita tak pernah sendiri di sini, dalam perjalanan panjang yang memang melelahkan ini? Perjalanan panjang, tak pernah kita tahu seberapa juta jengkal untaiannya terhampar, ke arah mana berkelok, dengan siapa kita akan bergenggam tangan, di mana akhir tanjakan. Di antara sisa-sisa titik keberadaan kita yang rentan, kita mungkin masih punya kesungguhan, kecermatan, dan niat suci untuk menjalaninya dengan tegar hati.

Mata itu… Aku ingin selalu becermin di antara retakan-retakan semesta. Tapi aku juga ingin menyaksikan saudaraku, kerabatku, orang-orang yang kucinta, bisa menemukan bahagia di antara cermin yang selalu ia bawa.

Read More..

Senin, 10 Oktober 2005

Senja di Pelabuhan (1)

Aku sungguh merindukan pulang. Aku rindu senja di pelabuhan.

Sebenarnya tak ada yang istimewa dengan pelabuhan itu. Hanya semacam tempat lalu-lalang orang-orang dengan berbagai tujuan dan keperluan. Tak sering aku menikmati senja di pelabuhan itu, karena kebanyakan aku menyeberangi selat itu di malam hari. Dan di malam hari, pelabuhan seperti tak menyisakan hal yang dapat dinikmati. Hanya temaram, di antara sisa-sisa bunyi yang tak seriuh di terik hari. Mungkin ada pula rasa kantuk yang tak tertahankan, selain juga sejenis kekhawatiran, bahwa di pojok remang bisa saja terjadi tindak kriminal.

Aku masih ingat, di suatu senja, aku duduk di perigi di sudut barat pelabuhan itu, memandangi laut dan orang-orang yang tak begitu ramai di sekitar. Ada beberapa orang yang sedang memancing ikan di ujung sebuah perigi yang menjorok agak jauh ke arah laut, di bagian barat pelabuhan. Di seberang terlihat pemandangan kota dan kapal-kapal besar yang menunggu jadwal keberangkatan.

Senja memang baru dimulai. Aku duduk di dekat sebatang pohon beringin, berlindung dari sisa-sisa sengatan sinar matahari. Aku duduk saja, kadang berjuntai, kadang bersila. Tak ada teman yang bisa kuajak bicara. Aku sendiri saja, menikmati suasana senja yang terasa membawa diriku ke mana-mana. Seperti kapal-kapal di seberang, yang mengantarkan orang-orang ke berbagai rumah tujuan atau tempat pengembaraan.

Tapi senja di pelabuhan itu telah membawaku ke tempat-tempat yang tak tertebak, yang merentang di antara masa silam hingga jauh ke masa depan. Dan aku mencoba menyerahkan diriku kepada sang nakhoda, ke arah manakah dia akan melayarkan kapalnya.

Aku masih ingat, di senja itu, aku tak habis bertanya, mengapa senja di pelabuhan memiliki sedemikian kekuatan yang sanggup membawaku ke tempat-tempat yang seperti tak kenal batas. Apakah diriku sebegitu lemahnya menghadapi metafor-metafor hidup yang terpancang di senja-pelabuhan itu, sehingga aku tak kuasa menolak untuk diajak ke dunianya, dunia-senja-di-pelabuhan? Apakah biru laut telah begitu rupa menggenangi sungai-sungai kesadaranku, sehingga luapannya menjadi tak tertampung lagi?

Dunia-senja-di-pelabuhan terlihat ibarat sehelai potret yang bertutur tentang bermacam hal. Orang-orang yang terburu di antara himpitan waktu, di antara tuntutan dan kebutuhan yang tak kunjung selesai didefinisikan. Lelaki-lelaki muda, anak-anak belia, perempuan paruh baya, yang berteriak menjajakan barang-barang dagangannya. Wajah-wajah yang menyimpan segudang cerita tentang haru-pilu hidup. Beberapa yang mungkin mengharap jemputan. Burung-burung yang beterbangan bernyanyi penuh riang—mungkin karena sedang menuju pulang. Kapal yang bergerak bolak-balik melintas dan mengantar ke seberang, seperti mengangkut harapan, lalu merapat dan beristirahat di pelabuhan. Bola matahari di ufuk barat yang bergerak pelan mendekati tenggelam, mengubah cahayanya yang tajam keputihan benderang menjadi kuning kemerah-merahan. Semburat cahaya senja yang teduh memukau, yang menghamparkan permadani anggun bersepuh emas di luas riak kecil gelombang. Senja yang berbatasan di antara siang dan petang. Senja yang membawa orang-orang ke halte peristirahatan.

Senja telah merangkak melewati separuh jalan. Aku masih duduk di situ, menyapukan pandangan ke sekeliling, berusaha memotret detail sudut-sudut senja di pelabuhan itu, lalu menyimpannya dalam saku memoriku yang entah berapa ribu giga kapasitasnya. Kelak, suatu waktu, aku ingin memperlihatkannya kepada sahabat-sahabat karibku, saudara-saudaraku, anak-istriku, sambil bercerita tentang setiap kelebat pikiran yang datang menghampiriku saat itu.

Aku masih mencermati detail senja di pelabuhan itu, sampai kemudian terasa ada suara merdu di belakang yang memanggil namaku. Aku pun menoleh.

Read More..

Sabtu, 24 September 2005

Surat Buat Elva

From: “M Mushthafa” <musthov79@yahoo.com>
To: elvarahma@yahoo.com
Date: Tue, Sep 20, 2005 23:12
Subject: Elva, Temukan Permata Dirimu

Elva. Dunia tempat kau akan tinggal kelak akan menjadi semakin liar, sulit ditebak sulit dikendalikan. Perubahan juga tak akan lagi berjingkat. Ia melesat bagai kilat. Yang bergerak lamban akan menuai sesal. Yang tak bersikap cerdas akan tergilas. Aku tak tahu apakah sekarang, dari kejauhan, kau sudah dapat merasakan dentuman dan gemuruhnya, menghantam ke seluruh segi-segi kehidupan di sekitarku di sekelilingmu. Kukira tak ada yang sanggup melarikan diri bersembunyi dari dahsyat getaran perubahan zaman.

Sebutan populer yang terlalu sering aku dengar, yang mungkin di masamu akan terasa usang atau bahkan sudah tergantikan, menyatakan bahwa ini adalah zaman globalisasi; sebuah zaman ketika definisi jarak menjadi tak terlalu berarti, karena dunia telah mengerut dan menjelma semacam kampung mini, tempat desas desus tetangga begitu jelas di telinga. Sebagai kampung, dunia kemudian membuat perbauran nilai, tradisi, pandangan hidup, dan sikap sehari-hari menjadi cukup mudah berlangsung. Semuanya seperti dituang dalam sebuah gelas, dengan sebuah sendok yang terus mengaduk tak kenal lelah.

Lalu di manakah dirimu saat itu, Elva sayang? Apakah kau ikut berpusing dalam adukan itu dan tak sempat mengendap di kedalaman? Apakah kau justru merasakan asiknya pusaran arus tiada henti itu, membuatmu senantiasa merasa baru, menampik disebut kuno dan ndeso? Atau kau masih berdiri tercengang di persimpangan, takjub campur bingung menyaksikan berbagai hal di sekelilingmu?

Elva sayang. Terus terang aku mencemaskan saat-saat itu, kelak, entah di kalender berapa, saat aku perlahan harus melepasmu berkenalan dan menjelajah dunia, saat aku cukup yakin bahwa kau akan mulai menyusun bata rumah duniamu sendiri, entah bersama siapa saja. Tentu aku tak bisa menahanmu terlalu lama dalam pangkuanku dalam pelukanku. Sebab itu bukanlah sikap yang bijak pula. Sebab sejatinya kau sama sekali bukan milikku. Saat kau disebut sebagai remaja, langkah-langkah kecilmu tak akan dapat sepenuhnya kupandu, lantaran kau sudah punya keinginan dan harapan, lantaran kau sudah akil balig, sudah sanggup menentukan pilihan, sudah mulai menemukan kebebasan, dalam pengertian yang lebih luas.

Adapun dunia saat ini, apalagi kelak, sudah terlalu riuh dengan carut marut. Kadang aku berpikir bahwa dunia sekarang ini dan dunia yang akan kau hadapi ibarat belantara. Rambu-rambu menjadi tak begitu jelas dalam tatapan polosmu yang rapuh. Kau dapat dengan cukup mudah tersesat, seperti halnya juga kau akan dapat cukup mudah merasa terbuang dan terabaikan di tengah keramaian. Bahkan di beberapa tempat, jika kau amati, ada jeram, dengan pusaran ganas yang siap melumatmu ke arus kepentingan kelompok tertentu—kepentingan global, kepentingan kapital. Sialnya, mereka ini begitu piawai menyembunyikan kepentingan sepihak mereka dalam retorika dalam manis kata-kata. Dalam belantara dunia, mereka begitu lihai memoles citra, dengan disokong oleh siasat media, mengajakmu bergabung dalam kerumunan, rombongan bebek, massa yang tak kritis dan apatis, atau orang-orang yang miskin visi.

Saat menjadi remaja, aku begitu mencemaskan kau terlalu begitu mudah ditarik ke sana kemari oleh pelbagai pusaran ganas itu, tanpa kau sadar sepenuhnya akan bahaya yang mengintai di balik itu semua. Memang, masa remaja adalah semacam fase peralihan saat dimulainya perjalanan diri untuk menjadi manusia dewasa. Menurutku, sebenarnya perjalanan diri menuju dewasa itu tak akan pernah tiba di titik henti, karena setiap saat manusia akan terus berusaha mengatasi sikap-sikap kekurangannya. Karena itu, tak salah jika dikatakan bahwa perjalanan itu kemudian akan menjadi begitu menantang; menantangmu untuk betul-betul menjadi pribadi mandiri dalam membaca segala gelagat dunia, di tengah perubahan-perubahan diri yang kau alami dan mulai terbitnya pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang pada tingkat tertentu dapat mengombang-ambingkan pikiran dan perasaanmu.

Elva sayang. Memang aku percaya bahwa perjalananmu untuk menjadi pribadi mandiri tak akan sepenuhnya kau lalui sendiri. Aku tak akan membiarkanmu sendiri. Aku masih akan terus bersamamu. Doaku untuk kebahagiaanmu masih akan terus tulus kueja. Aku masih akan menjadi sahabatmu, mitramu, tempat kau berbagi bahagia dan lara. Pun, kelak kau juga akan bertemu dengan keping-dirimu; sosok yang akan menemani perjalanan hidupmu selanjutnya. Tapi satu hal, aku tak bisa henti bertanya: apakah bekal yang kuberikan buatmu sudah cukup memadai untuk perjalanan panjangmu? Apakah kau sudah cukup mengemasi peralatanmu untuk menghadapi tantangan dunia?

Elva sayang. Aku ingin menegaskan kepadamu bahwa bekal sederhana yang paling patut kau punya adalah semacam cermin. Aku sangat berharap kau dapat cukup sadar akan dirimu sendiri; kau betul-betul kenal dengan dirimu sendiri; kau dapat menjelaskan apa saja kelebihan dan potensi diri, selain juga kekurangan dan kelemahanmu; kau dapat merasakan kala kau berbuat sesuatu yang tak patut; kau dapat mengendus ketika egomu berusaha menguasai diri, ketika kau diam-diam berbohong pada dirimu sendiri—dan yang terpenting, kau mau mengakui semuanya. Cermin itu bukan untuk membuatmu narsis, tapi agar kau dapat lebih mudah menemukan permata dalam dirimu.

Aku teringat pelajaran-pelajaranku di awal kuliah dulu, sebuah pernyataan terkenal dari periode Yunani kuno: kenalilah dirimu sendiri (Gnothi se auton), yang menjadi dasar filsafat Sokrates. Menurut Sokrates, pengenalan diri bermanfaat untuk menghasilkan pengetahuan dan perilaku yang lebih baik, tepat, dan bijak. Dengan cermin yang kau punya, dengan menyelam ke relung-relung diri hingga ke palung terdalam, kau bahkan akan dapat menyingkap tirai diri yang kadang enggan kau akui, karena mungkin kau melihat itu sebagai semacam kekurangan yang tak mengenakkan. Berbagai segi negatif semacam itu, Elva sayang, bukannya harus kau tampik dan kau abaikan. Karena jika begitu, bisa jadi kau justru membiarkan si pengkritik-diri atau sisi gelapmu itu menguasai kesadaranmu. Jika mereka duduk bertakhta, kau akan kehilangan tenaga. Kau harus dapat mengelolanya, sebagai bagian dari perjalanan menuju ke kedewasaanmu.

Menurut para ilmuwan, kala seseorang menginjak remaja, ia akan lebih banyak menggunakan amigdala daripada korteks dalam otaknya untuk memproses informasi. Konon, amigdala ini lebih berkaitan dengan emosi dan insting; sedang korteks lebih pada kerja-kerja berpikir, bernalar, dan menyusun rencana ke depan. Pada masa itu emosimu akan cukup labil, mudah terombang-ambing, ketimbang fase lain dalam hidupmu. Tapi jika kau berhasil mengidentifikasi batas-batas kepantasan dari sikap dan perilaku yang kau lakukan, yang itu kau dapatkan setelah kau berhasil menyusun berbagai keping diri dalam dirimu secara lebih utuh, insya Allah kau akan dapat lebih mudah untuk berbenah. Kau akan lebih berpikiran dingin dan jernih mendengarkan kritik, dan menyikapi cercaan dan tindakan kasar tidak dengan dendam.

Tapi aku juga mesti mengingatkan, bahwa kau tak boleh sepenuhnya mengenyahkan bilik perasaan dalam dirimu. Perasaan, emosi, jika ditempatkan dan disikapi secara wajar dan benar, itu akan bernilai penting, untuk membuatmu berbagi haru dan empati, menanamkan sikap peduli, dan mengikis sikap apatis. Jangan sampai kau mengarungi perjalanan hidupmu hanya dengan nalar, tanpa sentuhan lembut perasaan. Aspek emosi dalam diri itu akan ikut menegaskan segi-segi manusiawimu, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Elvaku sayang. Aku berharap kelak, terutama di masa remajamu, kau akan suka menuliskan catatan harianmu, tapak-tapak kecilmu, di bukumu. Aku ingin di situ kau melakukan semacam solilokui, bertukar pikiran dengan cermin-diri, berbagi perasaan, kegundahan dan kebahagiaan dalam beragam ekspresi. Aku tahu bahwa di situ kau kadang akan menjumpai kesunyian. Tapi sunyi dalam solilokui adalah hening yang akan mengantarkanmu pada bening. Hening, yang akan memendarkan cahaya permatamu. Hening, yang akan mengingatkanmu untuk menghargai dan mensyukuri hidupmu. Masih ingatkah kau Elva, saat kuceritakan, bahwa ibumu tak menamaimu dengan bunga, bukan hanya karena bunga indah pun bahkan ada yang beracun, tapi karena dengan namamu ibumu ingin mengingatkanmu (dan mendoakanmu) tentang hal itu, bahwa hidupmu adalah beribu anugerah?

Elva sayang. Cinta terlalu luas, horison harapan nyaris tak berbatas. Hidup di zaman yang begitu bergegas ini membuatku tak menemukan wadah yang cukup lapang untuk menampung semua cinta dan harapan. Kadang aku gamang menyaksikan akan betapa beratnya deraan hidup, yang mungkin juga akan menamparmu, sementara kita kadang mengalami kesulitan untuk mengarifi hidup yang cuma sekali ini. Harapku, semoga aku telah dan akan dapat memberimu dunia kecil yang tak terlalu buruk—juga orang-orang di sekitarmu—yang bisa memberimu kehangatan dan perasaan damai, memberimu ruang dan kesempatan memperbaiki diri, tempat pikiran-pikiran dapat dipertemukan di satu ruang bijak bercahaya benderang, tempat harapan, keinginan, perasaan, dan pencarian diri-yang-autentik diberi layaknya penghargaan; dan semoga itu semua cukup menguatkanmu untuk menghadapi dunia.

Elva sayang. Penghargaan terhadap hidup serta sikap hidup dan komitmen yang menyertainya kupikir akan dapat menjadi modal berharga untuk melepasmu bergaul dengan dunia. Tentu nanti kau akan berhadapan dengan berbagai situasi konkret yang akan menuntutmu untuk berpikir jernih beribu kali, untuk menemukan sikap dan jalan keluar yang dewasa. Insya Allah, jika kau dapat bersikap jujur pada dirimu, terlatih berpikiran jernih, mengenali dirimu seutuhnya, kau akan lebih mudah membuat keputusan dan tak selalu jatuh dalam bimbang. Dan di setiap tangga, kukira kau harus terus berefleksi tentang apa yang telah kau lalui. Bukankah kau masih ingat salah satu ungkapan bijak kesukaanku, yang menyatakan bahwa hidup tanpa refleksi adalah hidup yang tak layak dijalani?

Elva sayang. Selamat menempuh garis perjalanan hidupmu. Semoga Tuhan selalu memberimu kebahagiaan.

Read More..

Minggu, 18 September 2005

Kisah Tragis Korban Kekerasan Anak

Judul buku : 24 Wajah Billy
Penulis : Daniel Keyes
Penerbit : Qanita, Bandung
Cetakan : Pertama, Juli 2005
Tebal : 700 halaman


Dalam masyarakat kita, anak masih sering cenderung dipandang sebagai milik orangtua, sehingga di satu sisi tindakan kekerasan terhadap anak seperti mendapat permakluman dan toleransi serta dipandang sebagai bagian dari pendidikan yang memang merupakan kewajiban orangtua. Selain itu, tindakan kekerasan terhadap anak secara umum juga lebih dipandang sebagai masalah internal keluarga, sehingga relatif menjadi tabu untuk dibicarakan secara lebih terbuka.

Padahal, kita tentu akan sepakat bahwa anak sebenarnya juga memiliki hak untuk dapat menikmati suasana hangat dalam keluarga, sehingga ia dapat mengembangkan potensi dirinya secara lebih sempurna. Kesadaran tentang hak-hak anak dan efek buruk kekerasan terhadap anak masih menjadi sesuatu yang cukup langka di masyarakat kita. Bentakan, tamparan, pengurungan, ataupun penelantaran (neglect), dipandang dalam kerangka pendisiplinan anak.

Novel karya Daniel Keyes yang berkisah tentang perjalanan hidup William S. Milligan ini secara tidak langsung mempertegas kepada kita betapa tindakan kekerasan terhadap anak dapat melahirkan tragedi berkepanjangan yang tidak sederhana. Akibat serangkaian trauma masa kecil dan kekerasan yang ia alami sejak anak-anak hingga remaja, Billy, demikian dia akrab dipanggil, mengidap kepribadian majemuk (dissosiative identity disorder). Gangguan kejiwaan yang diderita Billy yang mirip skizofrenia dan ditandai dengan gejala amnesia ini terungkap setelah ia ditahan atas tuduhan serangkaian pemerkosaan di kampus Ohio State University pada Oktober 1977. Sebelum menjalani proses pengadilan, sejumlah psikiater terkemuka menyatakan kondisi Billy yang berkepribadian majemuk itu, sehingga ia dipandang tidak layak menjalani proses persidangan. Setelah dirawat di RS Harding selama sembilan bulan, Billy divonis tak bersalah karena dinilai tidak waras.

Penyingkapan sosok-sosok pribadi yang tinggal dalam diri Billy, yang kesemuanya berjumlah 24 kepribadian, terjadi setelah ia dirawat secara baik oleh Dr. David Caul di Athens Mental Health Center. Di situlah “Sang Guru”, yang merupakan fusi dari seluruh sosok pribadi Billy, bercerita tentang suka duka perjalanan hidup Billy, tentang bagaimana seluruh kepribadian itu lahir satu-persatu. Di bagian inilah para pembaca awam akan dapat lebih mudah memahami mengapa kepribadian majemuk itu mungkin terjadi pada diri seseorang.

Riwayat keluarga Billy memang cukup rumit. Ayah kandungnya bunuh diri saat ia balita. Di tengah keterjepitan kehidupan ekonomi keluarganya, ibunya sempat rujuk dengan mantan suaminya, Dick Jonas, meski tak bertahan lama. Kehadiran ayah tiri lainnya yang baru, Chalmer, ternyata semakin memperburuk beban psikologis Billy. Chalmer tidak hanya suka membentak Billy dan ibunya, tetapi juga beberapa kali melakukan pelecehan seksual dan penyiksaan fisik kepada Billy. Bayang-bayang trauma dan ketakutan yang sangat terhadap perlakuan Chalmer inilah yang sepertinya banyak menjadi latar kemunculan sosok-sosok pribadi yang lain dalam diri Billy. Dapat ditegaskan bahwa pribadi-pribadi tersebut muncul sebagai reaksi atas trauma dan situasi tertekan yang bersifat kronis yang dihadapi Billy. Mereka “diciptakan” sebagai mekanisme pertahanan diri, dengan membangkitkan satu sisi tertentu dari diri Billy untuk menghadapi situasi yang tak tertanggungkan.

Terapi yang dijalani Billy setelah ia diputus tak bersalah dan upayanya untuk hidup sebagai orang normal memang tak berjalan mulus. Beberapa pemberitaan media yang cenderung menyudutkan Billy dan keterlibatan berbagai pihak menanggapi kasus yang sangat menggemparkan itu, baik pengacara, hakim, polisi, politisi, dokter, hingga petugas medis, cukup mengganggu proses terapi sehingga Sang Guru sempat menghilang. Padahal, kehadiran Sang Guru untuk memediasi dialog di antara sosok-sosok pribadi itu, untuk kemudian saling mengenal, berkomunikasi, dan saling membantu memecahkan masalah masing-masing, sangatlah diperlukan.

Bagian akhir novel yang edisi bahasa Inggrisnya terbit tahun 1982 ini berkisah tentang bagaimana Billy harus dirawat di tiga rumah sakit berpenjagaan maksimum selama dua setengah tahun, termasuk RS Lima, yang sempat membuat Billy cukup tertekan, hingga akhirnya kembali ditangani Dr. Caul di Athens. Selanjutnya, menurut Ensiklopedi Wikipedia, Billy bebas pada 1988 dan kini tinggal di California, memiliki Stormy Life Productions dan membuat film. Meski hingga kini masih berkepribadian majemuk, dia sempat menjadi penyelia dalam pembuatan film tentang kisah hidupnya sendiri, The Crowded Room, yang disutradarai Joel Schumacher.

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Billy ini. Selain melengkapi novel-novel populer berlatar pribadi yang memiliki masalah mental yang belakangan cukup banyak terbit dan mendapat respons positif, termasuk novel Sybil karya Flora Rheta Schreiber yang berkisah tentang gadis dengan 16 kepribadian dan edisi bahasa Indonesianya hingga kini telah cetak ulang dua belas kali, secara khusus novel ini sekali lagi semakin mempertegas tentang efek buruk kekerasan terhadap anak. Meski bukan penyebab langsung, hampir semua penderita kepribadian majemuk memiliki riwayat kekerasan di masa kecilnya, seperti yang dialami Billy, yang dituturkan dengan sangat baik dan cukup detail oleh Keyes dalam buku ini.

Kekerasan terhadap anak itu sendiri sebenarnya masih menjadi persoalan yang cukup akut. Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur misalnya mengungkapkan bahwa kasus kekerasan terhadap anak yang diungkap di media Jawa Timur sepanjang 2002 ada 210 kasus (Kompas, 24/04/2003). Sementara itu, Kak Seto Mulyadi, Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak, memaparkan bahwa di banyak tempat dan forum pertemuan dengan para orangtua, diperkirakan 50-60 persen orangtua mengaku melakukan child abuse dalam berbagai bentuk (Kompas, 09/01/2003).

Ditambah lagi dengan pola perlakuan yang kurang bijak terhadap anak yang menderita keterbelakangan mental atau bermasalah. Bukannya dihadapi dengan kesabaran ekstra dan lebih telaten, mereka kadang dieksploitasi, ditelantarkan, dan atau dibatasi ruang geraknya. Dalam kasus Billy misalnya, dia sering merasa dipersalahkan atas sejumlah perilakunya di rumah, baik oleh ayah tiri maupun ibunya, sehingga merasa betul-betul tersudut, kehilangan sosok pelindung, rasa nyaman, dan kehangatan di keluarga, hingga bahkan tak dapat mengenali dan mendefinisikan identitas dirinya secara utuh.

Karya yang disusun atas dasar wawancara dengan sosok Sang Guru dan puluhan narasumber lainnya ini tidak saja mengajak kita untuk berbagi haru dan empati, tapi juga untuk mencoba memulai berbuat sesuatu yang lebih konkret untuk masa depan kehidupan anak-anak kita yang lebih baik. Dibutuhkan ruang-ruang sosial yang cukup kondusif dan bebas dari teror kekerasan, di tingkat keluarga maupun yang lebih luas, agar proses pengenalan diri dan penggalian potensi anak dapat benar-benar mengantarkannya kepada titik yang lebih utuh dan manusiawi.


Read More..

Rabu, 31 Agustus 2005

Gelar Palsu dan Sistem Sosial yang Sakit

Meski desas-desus maraknya gelar akademik palsu telah cukup lama berkembang, baru belakangan kasus ini mencuat ke permukaan, di saat terbongkarnya aktivitas Institut Manajemen Global Indonesia (IMGI) yang berafiliasi dengan perguruan tinggi ilegal Northern California Global University (NCGU). IMGI, yang memiliki 53 cabang di berbagai daerah di Indonesia, dilaporkan telah mencetak sekitar sembilan ribu lulusan dengan berbagai gelar, mulai dari PhD, MBA, MSc, bahkan profesor, dengan membayar sejumlah biaya tertentu.

Ada apa sebenarnya di balik fenomena ini? Apakah ini menunjukkan gairah dan ketertarikan masyarakat pada dunia pendidikan, atau justru sebaliknya, cara pandang yang sakit pada makna pendidikan atau gelar akademik dalam tatanan masyarakat kita? Kasus ini mungkin hanya semacam puncak gunung es dari realitas yang lebih kompleks, yang semakin membuat kita bertanya-tanya tentang dunia pendidikan dan capaian kemajuan masyarakat kita.

Pertama sekali, dalam konteks ini, mungkin akan cukup menarik jika kita mengundang seorang tokoh yang dikenal lantang mengkritik institusi sekolah, yang terkenal dengan karyanya berjudul Deschooling Society (1971), yakni Ivan Illich (1926-2002). Illich mengkritik keras dengan menyatakan bahwa sekolah selama ini hanya menjadi pelayan kapitalisme. Sekolah tidak mengembangkan semangat belajar, menanamkan kecintaan pada ilmu, atau mengajarkan keadilan. Sekolah lebih menekankan pengajaran menurut kurikulum yang telah dipaket demi memperoleh sertifikat—selembar bukti untuk mendapatkan legitimasi bagi individu untuk memainkan perannya dalam pasar kerja yang tersedia.

Bila dibawa ke dalam konteks Indonesia masa kini, mungkin kritik pedas Illich akan terkesan ekstrem. Tapi hal yang sangat jelas dari kritik Illich adalah berkuasanya sekolah sebagai satu-satunya institusi yang mempunyai otoritas untuk memberi legitimasi tingkat pendidikan seseorang. Situasi semacam ini, pada titik tertentu, seperti mungkin yang terjadi di negeri kita saat ini, membuat masyarakat menjadi lebih menghargai gelar akademik ketimbang prestasi atau kompetensi. Sementara orang-orang yang cukup memiliki gelar atau sertifikat akademik tertentu dapat lebih mudah memiliki akses pekerjaan dan partisipasi dalam sistem sosial, mereka yang memiliki prestasi nyata dan kompetensi unik akan menghadapi hambatan teknis yang lebih untuk berkembang dan berkiprah.

Memang benar bahwa sistem sosial kita membutuhkan sebuah sistem atau patokan untuk mengukur kapabilitas seseorang untuk masuk di dunia kerja atau berpartisipasi lebih jauh dalam sistem sosial masyarakat. Akan tetapi, ketika sistem dan patokan yang dibuat menjadi begitu formal dan kaku, yang itu berarti mempersempit ruang gerak mereka yang punya kompetensi tapi tanpa legitimasi formal, maka yang terjadi adalah, meminjam istilah Ignas Kleden (1988: xxx), semacam klerikalisasi. Istilah ini ingin menunjukkan bahwa sejauh ini proses-proses pendidikan tidak mengarah pada pembentukan kelompok masyarakat terdidik yang dapat berperan secara produktif bagi perkembangan kehidupan peradaban bangsa. Pendidikan lebih menjadi panggung penobatan gelar-gelar akademik, untuk kemudian para lulusannya berpartisipasi secara luas dalam birokrasi.

Tak berlebihan kiranya untuk mengaitkan produk dunia pendidikan kita dengan birokrasi; karena sejauh menyangkut fenomena gelar palsu ini, kalangan birokrat, juga kalangan elite sosial masyarakat, terbukti cukup meminati gelar-gelar akademik—terlepas itu diperoleh secara sungguh-sungguh, palsu, atau setengah palsu—yang mungkin saja terasa menambah bobot kewibawaan dan prestise sosial mereka.

Dari sini tampak jelas betapa gelar akademik sebagai bagian dari produk pendidikan ternyata berada dalam status feodal baru—sesuatu yang sebenarnya cukup berseberangan dengan cita-cita pendidikan itu sendiri. Pendidikan yang semestinya dapat membawa masyarakat untuk terus mentradisikan pola pikir yang jernih, proporsional, dan mengedepankan nilai objektif, justru terjebak dalam simbolisme gelar yang dangkal.

Carut-marut yang berada di balik fenomena gelar palsu ini menggugah kita untuk mempertanyakan kembali peran dunia pendidikan untuk membawa masyarakat ke capaian dan tatanan sosial yang lebih baik dan sehat. Tentu saja jalan keluarnya tidak hanya harus dilakukan dari jalur pembenahan dunia pendidikan itu sendiri. Di satu sisi, dalam konteks gelar palsu dan status simbolik/feodalisme produk pendidikan, ada dimensi kultural yang patut dipertimbangkan. Ini semakin menegaskan perlunya pendekatan-pendekatan atau strategi (kebijakan) pendidikan yang lebih integratif dengan tatanan budaya masyarakat. Bagaimanapun, sulit ditampik bahwa dalam pengertian tertentu fenomena gelar palsu ini juga menunjukkan raibnya aspek nilai dalam proses-proses pendidikan kita; pendidikan cenderung terlepas dari agenda besar bangsa untuk menuju masyarakat yang lebih beradab, dengan terlalu mengaitkan pendidikan dengan dunia kerja.

Di samping itu, tentu ada pula faktor-faktor objektif yang berkait dengan kebijakan tertentu dalam tatanan sosial masyarakat kita, untuk memberi ruang partisipasi yang terbuka bagi mereka yang tak memiliki label atau legitimasi formal (gelar). Bagaimanapun juga ini harus terus dipikirkan dan dicarikan jalan keluar, baik untuk memperluas partisipasi masyarakat maupun untuk mempromosikan cara pandang yang lebih objektif dalam menghargai talenta dan potensi setiap individu dalam masyarakat.

Dengan perbaikan yang lebih menyeluruh dan mendalam kita dapat berharap bahwa dunia pendidikan kita akan benar-benar dapat mengantarkan masyarakat ke titik kemajuan peradaban yang lebih manusiawi.


Tulisan ini dimuat di Radar Madura, 27 Oktober 2008.

Read More..