Sabtu, 24 Mei 2003

Agenda Kekuasaan dan Agenda Peradaban

Dahulu, ketika negeri ini masih berada dalam cengkeraman rezim totaliter Orde Baru, banyak orang yang mengimpikan datangnya babak pembebasan: sebuah ajang ekspresi bebas tuduhan subversi yang memberi ruang luas bagi ekseprimentasi gagasan dan harapan suci. Sang Mesiah pun datang dengan nama Reformasi. Nabi tanpa kitab suci ini pun dikutip di mana-mana, yang seperti menjanjikan pembebasan semua warga negara untuk merayakan otonominya.

Gelora gairah tibanya reformasi dirasakan melecut semua hal, dari konstelasi politik nasional hingga lokal. Di tingkat lokal, lalu-lintas peristiwa terjalin amat kental karena secara langsung melibatkan persepsi dan partisipasi masyarakat bawah terhadap manuver elit-elit masyarakatnya. Angin perubahan yang dihembuskan arus reformasi pada beberapa kasus lokal terlihat begitu kuat, terutama menyangkut perubahan konfigurasi-konfigurasi politik yang direpresentasikan oleh kekuatan partai politik. Sebuah partai yang dahulu menjadi kekuatan mayoritas bisa jadi terpuruk habis kekuatannya karena sudah tidak mempunyai kesempatan untuk membodohi rakyat, atau dukungannya beralih ke partai lain yang baru didirikan.

Partai politik pun menjadi sebuah kekuatan politik baru yang cukup mendapat peluang terbuka untuk menggalang kekuatannya tanpa harus cemas pada ancaman politik dan intimidasi pihak penguasa yang dulu bekerja sama dengan kekuatan militer. Fenomena di daerah memperlihatkan bahwa berbagai kekuatan elit masyarakat yang pada masa Orde Baru bersikap netral (mungkin apatis, sinis, atau pesimis) terhadap kekuatan partai politik mulai keluar ke forum publik dan mencari tempat yang cocok di berbagai kekuatan politik yang ada. Paska-pemilu pun konstelasi semakin berubah: pos-pos kekuasaan yang cukup signifikan dipegang kelompok yang dulu terpinggirkan. Di sinilah pluralisme kekuatan politik betul-betul terlihat.

Pertanyaan sederhana yang cukup menggelitik bisa diajukan dalam konteks kiprah baru para elit masyarakat ini di kancah partai politik dan kekuasaan: apa yang sudah dan dapat diperankan mereka untuk memanfaatkan peluang reformasi guna memperbaiki kehidupan masyarakat? Tentu yang paling berhak menjawab hal ini adalah para elit sendiri sehingga pertanyaan ini mesti dilihat dari sisi reflektif-introspektif, bukan dari sudut pandang interogatif.

Tumpahnya berbagai kekuatan elit masyarakat ke kancah partai politik adalah bagian dari euforia reformasi, ketika sentralisme kekuasaan pecah berkeping-keping. Kepingan-kepingan itu tentu saja dipandang cukup layak diperebutkan sehingga dalam level tertentu terlihat betapa perebutan bola kekuasaan sedemikian keras. Ini yang terkadang membuat kita khawatir: akankah iklim kebebasan berekspresi hanya akan memperkokoh primordialisme dan komunalisme?

Kembali ke soal partai politik, mungkin kita perlu mundur sedikit ke belakang menyegarkan ingatan dan pengertian kita tentang apa sebenarnya partai politik, keterbatasan dan jangkauan perannya. Dalam buku klasik para mahasiswa ilmu politik yang ditulis oleh Prof. Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, dinyatakan bahwa partai politik bertujuan ‘untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik untuk melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan mereka’ (1996: 161). Jelas bahwa partai memang lebih mengagendakan penguasaan pos-pos kekuasaan, tentu dengan niat untuk mewujudkan orientasi nilai bersama (visi dan misi) yang dimiliki kelompok tersebut.

Persoalan yang bisa diajukan adalah bagaimana bila nyatanya pengelola partai politik itu sendiri, terutama di daerah, masih relatif miskin visi dan orientasi sehingga yang terjadi hanya semacam seremonialisme dan birokratisme. Dugaan ini terutama muncul dalam konteks partisipasi dan sosialisasi politik. Bagaimanapun, selain agenda kekuasaan yang terepresentasi dalam momen pemilu, partai politik juga (mestinya) mengemban fungsi komunikasi dan sosialisasi politik. Artinya, partai politik juga harus dapat membantu masyarakat untuk ‘memperoleh sikap dan orientasi terhadap fenomena politik’ (Miriam Budiardjo, 1996: 163). Dalam ungkapan sederhana, partai politik harus bisa memberi pengertian yang proporsional bagi masyarakat terhadap persoalan-persoalan mendasar yang dihadapi mereka sehari-hari di daerah (ekonomi, sosial, dan politik). Kemampuan pembacaan inilah yang saat ini dibutuhkan, sehingga akhirnya masyarakat dapat memiliki sikap kritis dan menjadi modal awal untuk advokasi diri mereka sendiri.

Kenyataannya, partai politik lebih suka membiarkan rakyat buta warna: mereka lebih suka tetap dijadikan bebek, sehingga suara mereka nanti tetap dapat dijaring dalam pemilu.

Jalan pembebasan dan arah perbaikan yang lebih maju yang dtempuh via partai politik memang tidak bisa diabaikan signifikansinya. Tapi di tengah mandulnya fungsi-fungsi partai politik ini, mestinya para elit masyarakat dapat menimbang dan lebih menegaskan kembali pilihan keterlibatannya untuk memperjuangkan masyarakat ini, sehingga langkah-langkah yang diambilnya tidak sia-sia. Apalagi bila sebenarnya beberapa elit tersebut sudah memiliki peran yang cukup definitif di komunitasnya.

Catatan terakhir yang hendak dirangkum uraian singkat ini adalah bahwa di atas segalanya, agenda reformasi dan agenda politik terpenting pada dasarnya selalu bertumpu pada agenda peradaban. Politik adalah salah satu segi kehidupan kemanusiaan, seperti juga ekonomi atau agama. Cukup tepatlah kiranya kemudian untuk mengatakan bahwa dengan demikian politik juga harus diletakkan dalam kerangka agenda peradaban, penciptaan masyarakat yang lebih beradab yang mampu bersifat tanggap, jernih, dan proporsional. Partai politik adalah salah satu media ke sana, dengan segala keterbatasan dan kelebihannya.

Dengan melihat politik sebagai sebuah kerja peradaban, maka konsen politik pada dasarnya bukan hanya pada soal “kekuasaan”. Politik bukan hanya kerja sesaat untuk menggenggam tampuk otoritas kekuasaan, tapi politik adalah kerja antar-generasi untuk menjunjung martabat kemanusiaan dengan sinaran permata-suci keberadaban. Karena itulah, kepedulian terhadap soal pencemaran lingkungan, peningkatan taraf pendidikan (kemampuan baca-tulis, minat belajar), konservasi warisan budaya, juga dibutuhkan.

Setelah reformasi lima tahun berlalu, sebagian besar masyarakat kembali terjebak dalam lalu-lintas keseharian yang tak kalah pelik, dan terkadang melupakan bahwa apa yang hendak direformasi itu bukan hanya mengacu kepada orang-orang, melainkan sejumlah sikap dan perilaku, sejumlah cara pandang, ketika masyarakat diperlakukan hanya sebagai objek tak berkesadaran dan ditelantarkan begitu saja.

Tulisan ini dimuat di Harian Pontianak Post, 23 Mei 2003.

Read More..

Minggu, 11 Mei 2003

Remaja, Kenali Diri Hadapi Globalisasi

Judul buku : It’s My Life!: Diary Plus Buat Remaja
Penulis : Tian Dayton
Penerbit : Kaifa, Bandung
Cetakan : Kedua, Februari 2003 (Cet. I November 2002)
Tebal : 278 halaman


Kaum remaja saat ini menghadapi tantangan masa depan yang cukup berat. Ketika persaingan hidup semakin ketat dan tuntutan kreativitas juga semakin mengemuka, kaum remaja masih harus berhadapan dengan godaan arus global yang memanfaatkan kerapuhan psikologi mereka. Rayuan globalisasi ini biasanya bekerja dengan pencitraan-pencitraan identitas diri menurut kepentingan kapital yang hanya dapat melahirkan generasi-generasi penurut, tidak kritis, apatis, dan miskin visi masa depan. Sulitnya lagi, dari segi usia, masa remaja merupakan medan pencarian identitas diri, ketika sang remaja juga diliputi tuntutan tanggung jawab, egoisme, dan keinginan ekspresi kebebasan yang meluap.

Globalisasi jelas-jelas memfasilitasi—atau mungkin, lebih tepatnya, memanfaatkan—dimensi-dimensi semacam ini untuk menancapkan pengaruhnya. Sarana yang paling ampuh tentu adalah media komunikasi dengan efek pencitraan yang dimilikinya. Dalam situasi seperti ini, seorang remaja menjadi cukup tidak mudah untuk merumuskan kediriannya secara lebih independen dan berdasar pada pembacaan diri yang jernih. Apalagi globalisasi juga diiringi dengan tarikan yang cukup kuat ke arah gaya hidup tertentu yang juga mengglobal. Krisis identitas inilah yang pada akhirnya dapat menjadi benih bagi krisis kemanusiaan di abad ini.

Dalam konteks tersebut di atas, buku ini sungguh patut diacungi jempol karena menyediakan sebuah ruang penjelajahan diri yang cerdas dan menyenangkan untuk kaum remaja. Buku ini format dasarnya berbentuk catatan harian, tapi sudah disusun sedemikian rupa oleh penulisnya sehingga di satu sisi dapat mengungkapkan dan mengeksplisitkan identitas diri melalui tulisan, dan di sisi yang lain dapat memanfaatkan langkah pengenalan diri tersebut untuk memberikan motivasi, visi, dan kekuatan jiwa menghadapi tantangan masa depan.

Ada lima wilayah yang dibidik buku ini dalam proses penjelajahan pengenalan diri kaum remaja: diri sendiri, keluarga dan teman, pengelolaan perasaan, kemandirian menjalani hidup, dan visi masa depan. Setiap bagian, atau bahkan sub-bagian tertentu, diawali dengan semacam orientasi singkat terhadap makna masing-masing bagian tersebut dari perspektif psikologi remaja. Kemudian ada semacam panduan pertanyaan atau daftar isian untuk menjelajahi kisi-kisi diri. Di bagian pertama tentang diri sendiri misalnya ada sejumlah pertanyaan tentang citra diri: bagaimana diri sang remaja dicitrakan, baik secara positif maupun negatif, oleh anggota keluarga, teman, dan guru. Lalu ada sejumlah pertanyaan lanjutan berkenaan dengan citra diri tersebut.

Soal citra diri ini kemudian juga dipertajam pada bagian citra tubuh. Untuk soal ini sang remaja diberi pengantar pembuka dengan sedikit eksplorasi dan contoh catatan seorang remaja dalam mencitrakan tubuhnya. Sudah lazim diketahui bahwa di zaman sekarang ini citra tubuh seorang remaja khususnya begitu gencar diserbu oleh definisi-definisi global dengan berbagai kepentingannya: bahwa misalnya seorang gadis remaja yang cantik adalah yang langsing, berkulit putih, berambut lurus, dan sebagainya. Pada bagian ini ada satu kisah pendek Santi tentang bagaimana dia mempersepsikan tubuhnya yang kegemukan. Dengan pengantar dan cerita ini, sang remaja dapat berekspresi dengan motivasi kepercayaan diri yang cukup baik ketika tiba untuk menuliskan isian tentang citra dirinya.

Salah satu bagian yang cukup labil dalam kehidupan remaja adalah hubungannya dengan keluarga dan teman. Menginjak usia remaja, seseorang akan lebih terikat dengan teman-teman sepermainannya sehingga kadang mengabaikan keutuhan relasi keluarga. Dalam buku ini disediakan ruang eksplorasi yang cukup untuk mengukuhkan ikatan cinta, kasih sayang, dan harapan masa depan keluarga. Ada contoh penggambaran bagaimana posisi dan kedekatan sang remaja dengan masing-masing anggota keluarga (juga dengan teman) dan harapan ideal yang diinginkan.

Selain masalah keluarga dan teman, aspek emosi adalah sisi yang juga cukup rentan. Remaja sering digambarkan terlalu mengedepankan perasaan dan kurang mampu berpikiran jernih. Pada bagian inilah sang remaja dibantu untuk satu-persatu memuntahkan dan mengidentifikasi luapan emosi yang pernah dialaminya. Tantangan kemandirian dan visi masa depan juga mendapat tempat. Menghadapi masa depan, sang remaja dikuatkan, didorong, dan diyakinkan untuk dapat menyingkirkan rasa minder dan memanfaatkan anugerah dan potensinya secara baik.

Buku ini dapat menjadi sahabat yang tepat untuk remaja, terutama karena biasanya seorang remaja mula-mula selalu berjumpa dengan rasa bingung bagaimana harus memulai melangkah. Buku ini memberikan jawaban cerdas dan kreatif, dan seperti hendak menegaskan kembali sebuah pernyataan terkenal dari periode Yunani kuno: kenalilah dirimu sendiri (Gnothi se auton), yang menjadi dasar filsafat Sokrates. Menurut Sokrates, pengenalan diri bermanfaat untuk menghasilkan pengetahuan dan perilaku yang lebih baik, tepat, dan bijak. Dengan melakukan petualangan cerdas ke relung-relung diri hingga ke palung terdalam, sang remaja dipersilakan untuk menyingkap tirai diri yang kadang enggan diakui karena terasa kurang mengenakkan. Justru dengan menumpahkan melalui catatan harian yang terpandu di buku ini sang remaja sebenarnya dapat berekspresi dan menyehatkan batin dan kepercayaannya.

Kritik terhadap buku ini adalah bahwa buku ini kurang menyediakan ruang untuk menggali dimensi sosial dan religius remaja. Bisa jadi karena sang penulis berasumsi bahwa dimensi personal-eksistensial lebih penting dan menonjol pada sosok remaja. Memang ada satu halaman tempat sang remaja diminta menulis “surat untuk Tuhan”. Tapi sekiranya dimensi religius ini, seperti juga dimensi sosial, digali lebih mendalam, maka sisi sang remaja tersebut akan lebih terungkap dari perspektif yang lebih utuh dan manusiawi.

Tapi tentu saja buku ini tetap amat layak diapresiasi. Selain cara penyajiannya yang sangat pas untuk remaja, baik dari segi tuturan bahasa maupun tata letak, buku ini juga dapat menjadi media bagi remaja untuk belajar berekspresi melalui tulisan, sebuah kemampuan yang cukup mendasar dalam proses belajar.


Read More..

Sabtu, 26 April 2003

Seusai Perang

Gemuruh perang Irak pelan-pelan mereda. Tapi orang-orang di sana tentu masih belum bisa mengusir sedih dan gelisah mereka: hilangnya sahabat dan kerabat tercinta, lantaknya bangunan tinggal dan tempat bersejarah, belum lagi masa depan yang masih dipenuhi jelaga. Kita yang berada di belahan dunia lain mestinya mampu berempati dengan kemanusiaan mereka yang tercederai semena-mena. Tapi sungguh, tragedi perang semacam di Irak itu bukan hanya sepenggal berita tentang direnggutnya nyawa atau harta. Bukan pula sekadar ajang permainan politik antar-negara-negara adidaya yang berebut kuasa. Sungguh, ini adalah kabar buruk tentang masa depan peradaban dunia. Di awal milenium baru ini, justru peradaban kita mengalami involusi ke titik yang cukup jauh.

Dalam film arahan Oliver Stone yang dirilis tahun 1986 berjudul Platoon, yang merefleksikan pengalaman Stone ketika terjun di perang Vietnam, Chris (diperankan oleh Charlie Sheen) berkata tentang suasana perang di Vietnam: “Konon seseorang menulis: Neraka adalah kemustahilan nalar. Aku merasakan tempat ini demikian. Ya, neraka.” Ungkapan ini dengan tepat mengungkapkan involusi peradaban yang baru saja berulang ini.

Makna involusi yang dimaksudkan di sini akan terlihat begitu benderang bila kita mencermati bagaimana Immanuel Kant, seorang filsuf Jerman abad ke-18, mendefinisikan Pencerahan (Aufklärung). Pencerahan baginya adalah “jalan keluar” yang membebaskan manusia dari ketidakdewasaannya. Jalan menuju kedewasaan di sini diungkapkan Kant dengan keberanian menggunakan rasio sendiri, terangkum dalam semboyan: Sapere Aude! (Beranilah berpikir sendiri!).

Dari sini kita dapat memperoleh sebuah gambaran kontras, bagaimana perang yang dalam ungkapan Chris merenggut nalar kemanusiaan dan mencipta neraka di dunia itu pada dasarnya sungguh menggerogoti pencapaian keberhasilan manusia untuk senantiasa hidup dituntun oleh akal sehatnya. Periode Pencerahan di Barat adalah penegasan semangat Renaisans sekaligus anti-tesis pola pikir Abad Pertengahan. Etos Pencerahan di satu sisi telah mendorong banyak perkembangan pemikiran dan kemajuan peradaban, termasuk segenap hal yang diraih abad informasi sekarang ini. Tapi dari Chris, kita tersentak, bahwa ternyata kita masih bisa terjerembab ke jurang ketidakdewasaan itu.

Dalam kasus perang Irak, ketidakdewasaan itu bisa mewujud dalam cara berpikir berstandar ganda dalam memperlakukan sebuah negara. Bandingkanlah, misalnya, bagaimana Amerika memperlakukan Irak dan Israel. Ketidakdewasaan juga tercermin dalam egoisme dan kesombongan hegemonik yang dimiliki Amerika atas negara-negara yang lain.

Perang tidak saja mengoyak akal sehat, tapi juga nurani dan peradaban yang subjek utamanya adalah manusia. Perang adalah peninggalan peradaban biadab yang hanya mengedepankan kekuatan fisik. Sementara kualitas-kualitas kemanusiaan sejati diabaikan. Ironi sebuah perang memang benar-benar hanya menciptakan neraka! Dalam buku bagus berjudul Holy War, yang bercerita tentang perang suci agama, dengan lincah Karen Armstrong menyajikan gambaran ambigu dan paradoksal dari sebuah perang: betapa pada Perang Salib Keempat, tentara-tentara Kristen Eropa akhirnya malah memerangi saudara-saudara seiman mereka, yakni kaum Kristen Ortodoks Yunani, bukannya kaum muslim di Tanah Suci Yerusalem. Bukan hanya nalar yang dicampakkan, tapi bahkan iman keagamaan juga diinjak oleh adonan “kemustahilan nalar” yang menggumpal.

Kita yang hidup di tanah nusantara ini mungkin memang (semoga) tidak akan mengalami perang sedahsyat di Irak. Tapi ketidakdewasaan, sungguh masih menjadi momok yang kerap menguntit di belakang kita. Caranya bekerja memang selalu lihai, bergerak diam-diam menumpang di atas label-label pembenaran tertentu, atau bersembunyi di balik retorika dan pemutarbalikan fakta dan kata-kata, sehingga kerap sulit teridentifikasi.

Tidak perlu kita jauh-jauh membayangkan bahwa hal semacam ini terjadi pada level sosial dan bersifat massif, yang tentu saja akibatnya akan juga meluas. Seorang kepala keluarga bisa saja bertindak tidak dewasa dengan mengabaikan kemandirian berpikir anggota keluarganya dan hanya memaksa untuk menerima gagasannya, tapi tidak mengindahkan pengertian dan pengalaman kompleks anggota keluarganya atau justru bersikap apriori. Bila ini masih terjadi, elemen mendasar dalam masyarakat kita tentu akan sulit dididik berlaku dewasa.

Seusai perang, kita harus kembali mengingatkan semuanya untuk menabuh genderang perang melawan cara-cara tidak dewasa yang hanya akan menyurutkan keberadaban kita. Bahkan bila kita harus menghadapi lawan yang mungkin saja adalah diri kita sendiri. Dengan begitu, kita bisa terus menjaga harkat kemanusiaan kita.

April 2003

Read More..

Jumat, 25 April 2003

Pendidikan Nilai dan Khazanah Lokal

Beberapa tahun yang lalu, dunia pendidikan kita diramaikan oleh diskusi soal format baru pendidikan moral di sekolah. Bila sebelumnya moral selalu dikaitkan dengan nilai-nilai dasar Pancasila (sebagai filosofi atau pandangan-dunia bangsa Indonesia) yang kemudian disajikan dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (sebelumnya disebut Pendidikan Moral Pancasila), maka diskusi tersebut berusaha memberi ruang yang lebih terbuka bagi pemaknaan moral bagi peserta didik. Gagasan yang melandasi usaha ini adalah bahwa pendidikan moral di sekolah yang berlangsung sebelumnya terlalu negara-sentris, kering, hambar, bahkan cenderung ideologis dan pro-status quo. Reformasi di bidang pendidikan moral di sekolah ini juga dipandang mendesak karena diduga salah satu biang terpuruknya bangsa ini dalam krisis multi-dimensi diakibatkan oleh kegagalan pendidikan moral di sekolah.

Formulasi substansi dan materi pengajaran pendidikan moral yang lama memang terlalu berpola deduktif, khas kebijakan politik Orde Baru yang ingin melakukan kontrol di semua bidang kehidupan. Pemaknaaan nasionalisme, misalnya, jarang sekali dikaitkan dari sudut pandang kelompok-kelompok masyarakat yang begitu beragam. Nasionalisme disajikan dalam bentuknya yang negara-sentris. Separatisme dimaknai secara hitam-putih tanpa dilihat dari perspektif yang lebih luas. Sementara itu, nilai-nilai seperti kejujuran, ketulusan, dan semacamnya, sering kali tampil sekadar semacam petuah tanpa eksplorasi mendalam dari segi raison d’être-nya, eksplisit maupun implisit.

Momentum lahirnya kebijakan otonomi daerah, yang diatur dalam UU No. 22/1999, seperti memberi nafas baru bagi dunia pendidikan kita yang terengah-engah. Berdasarkan undang-undang tersebut, wewenang terbesar bidang pendidikan berada di tangan pemerintah daerah, baik kebijakan menyangkut alokasi budget maupun kebijakan yang bersifat strategis di bidang kurikulum. Apalagi dengan diterbitkannya Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, maka perangkat pemulihan daya pendidikan semakin tersedia.

Dari perspektif otonomi pendidikan ini, menarik untuk didiskusikan peluang pengembangan pendidikan moral atau pendidikan nilai di sekolah yang berbasis pada sumber daya atau khazanah setempat, yakni yang bisa berupa sejarah atau pemikiran yang bersumber dari kearifan lokal. Asumsi dasarnya adalah bahwa dalam warisan sejarah dan pemikiran lokal itu terdapat sejumlah etos dan nilai moral yang inheren dan betul-betul hidup dalam masyarakat, sehingga ada keterjalinan yang cukup kuat antara peserta didik dengan kurikulum yang disajikan. Bahkan, khazanah yang juga bisa disebut tradisi ini pada titik tertentu dapat menjelma visi dan orientasi bersama yang dapat mengarahkan gerak maju masyarakat. Dalam ranah tersebut pula dimungkinkan terjadinya proses dialog-kreatif baik bersifat personal-eksistensial maupun sosial-kolektif dengan nilai-nilai keberadaban yang menjadi muasal akar hidup masyarakat itu sendiri.

Selain karena memang didukung oleh instrumen kebijakan yang cukup memungkinkan itu, peluang pengembangan ini menjadi cukup terbuka karena belakangan kita relatif semakin mudah mengakses khazanah lokal melalui buku-buku ilmiah populer. Beberapa penerbit seperti Kepustakaan Populer Gramedia (kelompok Penerbit Gramedia) cukup antusias menerbitkan buku bernuansa sejarah dan antropologi bertema budaya lokal, seperti Cilacap: 1830-1942 karya Susanto Zuhdi, Tapanuli: 1915-1940 karya Lance Castles, dan Makassar Abad XIX karya Edward L. Poelinggomang. Sementara Penerbit Mata Bangsa di Yogyakarta misalnya menerbitkan disertasi Prof. Kuntowijoyo berjudul Madura 1850-1940, dan penerbit LKiS menerbitkan buku Carok karya Dr. A. Latief Wiyata. Buku-buku tersebut setidaknya sudah bisa menjadi bahan awal untuk mengangkat khazanah lokal yang selama ini kurang diperhatikan untuk disajikan kepada siswa di sekolah. Belum lagi bila pemerintah daerah nantinya membaca peluang ini dan mengeksplorasi serta memberdayakan karya-karya putra daerah di seantero perguruan tinggi yang mengupas khazanah lokal tersebut. Karya-karya semacam ini yang bersifat ilmiah dan berbasis penelitian serius kemungkinan besar akan cukup banyak ditemukan di lingkungan akademik kita.

Dengan memberi ruang kepada khazanah dan sejarah lokal ini, berarti dunia pendidikan kita berusaha mempertautkan kembali keterputusan dunia pendidikan dengan proses pembudayaan yang menjadi titik akhir dari pendidikan moral itu sendiri. Proses internalisasi nilai-nilai moral tidak lagi akan bercorak terlalu deduktif, tetapi bisa lebih bersifat induktif sehingga secara perlahan dan mendalam dapat diturunkan ke lubuk pemahaman peserta didik. Alur induksi nilai-nilai tersebut menjadi mungkin karena nilai-nilai itu sendiri memang sudah terjangkarkan secara cukup baik dalam jalan panjang wawasan kebudayaan masyarakat.

Memang dalam proses penerapannya nanti kreativitas pemerintah (dalam hal ini terutama mungkin adalah Dewan Pendidikan di masing-masing kabupaten) akan banyak dituntut, terutama dalam meramu bahan-bahan untuk bidang studi ini. Demikian juga penyediaan fasilitas pendukung dan sistematisasi bahan mentah yang relatif masih belum terstruktur. Tantangan ini di sisi yang lain juga dapat meningkatkan kepedulian putra daerah bagi pengembangan pendidikan dan konservasi khazanah lokal yang belakangan terancam punah dilibat arus globalisasi.

Tulisan ini dimuat di Harian Kompas, 23 April 2003.

Read More..

Kamis, 17 April 2003

Mengenali Diri dengan Cerdas Kata


Judul buku : Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza
Penulis : Hernowo
Penerbit : Kaifa, Bandung
Cetakan : Pertama, Februari 2003
Tebal : xxxii + 276 halaman


Masyarakat Indonesia pada umumnya masih memandang buku sebagai sesuatu yang mewah. Bahkan di kalangan insan pendidikan pun, buku belum mendarah-daging dalam proses pembelajaran. Kegiatan membaca dan menulis dirasakan sebagai aktivitas elitis yang memberatkan baik oleh siswa atau guru di sekolah dan dianggap sebagai kegemaran sekelompok orang yang biasa disebut orang-orang serius, intelektual, dan pemikir.

Padahal keterampilan membaca dan menulis adalah ruh proses pendidikan dan bisa menjadi basis pembelajaran. Lebih dari itu, menurut Hernowo, penulis buku ini, cerdas kata (word smart) memiliki rentang fungsi yang cukup luas, mulai dari manfaat untuk menjalankan kehidupan sehari-hari (menulis surat, berbicara di depan publik), untuk memantapkan suatu profesi (wartawan, pembawa acara), hingga untuk pengembangan diri dan kepribadian.

Buku ini, yang seperti hendak mengulang sukses buku yang ditulis sebelumnya berjudul Mengikat Makna, diangkat dari pengalaman-pengalaman keseharian penulisnya bergulat dengan dunia pembelajaran dan tulis-menulis, baik sebagai seorang senior di Penerbit Mizan Bandung, guru di SMU Muthahhari, maupun sebagai dosen di STIKOM Bandung. Dari setumpuk pengalamannya itulah, Hernowo dalam buku ini berbagi pengalaman dan pemikiran perihal dunia buku dan kepenulisan.

Terhadap keprihatinan pada minimnya gairah membaca dan menulis khususnya di kalangan pendidikan sebagaimana disinggung di atas, Hernowo menyatakan bahwa kunci pendobraknya adalah revolusi paradigmatik: bahwa buku sebaiknya didorong untuk dipersepsikan sebagai makanan. Lebih tepatnya lagi, buku adalah makanan ruhani yang diperlukan untuk memupuk kepribadian sehingga mengantarkan seseorang pada kematangan diri. Tentu saja, dalam konteks ini, ada keterjalinan yang tak terhindarkan antara aktivitas membaca dan menulis itu sendiri, yang keduanya merupakan wujud dari cerdas kata.

Bertolak dari pemikiran Howard Gardner tentang multiple intelligences yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki delapan macam kecerdasan, Hernowo menduga kuat bahwa cerdas kata ini dapat menjadi gerbang pembuka pada puncak pengenalan dan revolusi diri. Dengan pengenalan diri ini, seseorang akan dapat mengembangkan dan mendewasakan kepribadian serta mendapatkan “mata baru” dalam menatap persoalan-persoalan hidup. Hernowo juga mengutip James W. Pennebaker, psikolog dari Universitas Texas, yang mengungkapkan bahwa seseorang yang dapat mengekspresikan dirinya secara sangat bebas secara tertulis akan tertolong dari serangan depresi.

Untuk tiba pada manfaat luar biasa dari aktivitas menulis itu, Hernowo dalam buku ini memberikan sejumlah trik menarik. Dalam konteks mempersepsikan buku sebagai makanan, Hernowo menganjurkan untuk memulai kegiatan membaca dan menulis dari tema-tema atau hal-hal yang kita sukai dan lekat dengan kehidupan kita sehari-hari, sebagaimana kita memilih makanan yang kita gemari. Dalam hal menulis, menulis catatan harian menjadi sebuah aktivitas yang bisa menjadi ajang kita melumasi “mesin” menulis atau melemaskan “otot-otot” menulis kita sehingga terus terasah dengan baik. Ekspresi lepas tanpa keterikatan ketat pada pakem-pakem bahasa pada suatu titik dapat memunculkan daya kreatif yang luar biasa. Dalam hal membaca buku kita sudah cukup dibantu dengan adanya beragam bentuk penyajian buku yang dirancang untuk membantu mengenyahkan rasa bosan dan menangkap gagasan secara lebih menyenangkan. Seperti juga halnya makanan, mencicipi nikmatnya membaca dan menulis tidak perlu harus dilahap sekalian, bisa secara ngemil (sedikit demi sedikit).

Menghidupkan semangat membaca dan menulis di lingkungan keluarga dilakukan dengan menyediakan ruang kondusif bagi pembelajaran, dengan menempatkan ruang belajar yang mudah diakses dan mudah terlihat oleh anak-anak (sehingga mempertunjukkan keteladanan) dan membagikan pengalaman membaca dan menulis itu kepada keluarga dengan penyajian yang menarik. Ini juga berlaku di ruang kelas.

Rasa dan aroma bacaan yang sudah kita tangkap itu tidak boleh dibiarkan lenyap. Pengalaman membaca dan kehidupan kita sehari-hari bersifat acak, sampai kemudian ditata dalam sebuah komposisi tulisan yang membermaknakan dan menjalinnya sedemikian rupa sehingga dapat mengekspresikan kedalaman dan kesatuan emosi, gagasan, keinginan, dan harapan kita. Dalam wadah semacam itulah, seseorang mengasah seluruh potensi diri kemanusiaannya. Cerdas kata menggali potensi otak kiri manusia yang berkaitan dengan penalaran logis (ingat, tulisan menuntut struktur logis dan sistematis yang koheren) sekaligus otak kanan yang mengungkapkan kekayaan emosi (sebuah tulisan juga menggambarkan semangat, imajinasi, dan spontanitas).

Refleksi pengalaman dan pergulatan Hernowo dalam buku ini selain banyak menggagas beberapa hal untuk melembagakan kegemaran membaca dan menulis di lingkungan sekolah dan keluarga (dimensi sosial) juga berusaha merangsang optimalisasi potensi kecerdasan manusia dari sisi cerdas kata (dimensi personal-eksistensial). Kelebihan buku ini adalah gaya penyajiannya yang cukup menyenangkan, dilengkapi dengan ilustrasi dan kutipan-kutipan kata-kata menarik, dan memiliki variasi penyajian yang kaya, mulai dari tulisan bergaya makalah, esai ringan, surat, hingga berbentuk tanya-jawab. Hanya saja pemilihan simbol “pizza” sebagai makanan yang berusaha dikaitkan dengan aktivitas membaca mungkin akan terasa kurang akrab di kalangan kelas menengah ke bawah dalam masyarakat kita.


Read More..

Kamis, 27 Februari 2003

Spiritualitas Para Pebisnis

Judul buku : The Corporate Mystic: Sukses Berbisnis dengan Hati
Penulis : Gay Hendricks dan Kate Ludeman
Pengantar : Haidar Bagir
Penerbit : Kaifa, Bandung
Cetakan : Pertama, Desember 2002
Tebal : xxxii + 248 halaman



Peraih Nobel Ekonomi 1998, Amartya Sen, menyatakan bahwa aktivitas ekonomi pada dasarnya adalah suatu kegiatan manusiawi biasa yang karena itu semestinya juga memperhatikan segi-segi etis. Bila dalam buku On Ethics and Economics Sen telah melakukan suatu eksplorasi yang lebih bersifat teoritik-konseptual dan lebih berkaitan dengan aspek makro ekonomi, maka buku ini mencoba menelaah pengalaman konkret para pebisnis sukses di Amerika dalam memberikan sentuhan etis dan spiritual dalam aktivitas bisnis mereka itu.

Buku ini didasarkan atas sejumlah wawancara panjang tak kurang dari seribu jam dengan ratusan pengusaha dan eksekutif perusahaan sukses di Amerika. Dari situ terungkap bahwa ternyata para pengusaha sukses itu amat layak disebut mistikus korporat (The Corporate Mystic), karena di perusahaan mereka mampu menampilkan sejumlah nilai dan karakteristik yang amat berkait dengan dasar-dasar spiritualitas universal dan perenial. Di antaranya adalah nilai kejujuran, visi ke depan dan fokus yang cermat, disiplin yang kuat, dan integritas.

Mereka menjalani hidup dengan asas-asas spiritualisme yang betul-betul hidup, nyata, dan empiris—tidak melulu konseptual apalagi dogmatik. Mereka berbisnis tidak hanya dengan mengerahkan kemampuan otak rasional, tapi juga dengan mengedepankan hati dan intuisi. Para pengusaha yang diteliti pada umumnya adalah sosok pemimpin yang mampu menerjemahkan spiritualitas menjadi kekuatan visioner yang mampu menggerakkan perusahaan menuju kesuksesan.

Pengamatan Hendricks dan Ludeman, penulis buku ini, menunjukkan bahwa sebagai pemimpin, mistikus korporat ini memiliki tiga modal utama: integritas yang mampu menonjolkan kejujuran sejati, visi yang mampu menegaskan niat, dan intuisi yang mampu menggenapi potensi kemanusiaan. Integritas di sini adalah suatu landasan kokoh bagi kesadaran akan dua kutub keberadaan kita: bahwa di satu sisi seseorang harus menjadi diri sendiri seutuhnya, dengan menampilkan kejujuran dan autentisitas kepribadian; sementara di sisi lain seseorang juga harus menyatakan rasa kebersamaan kemanusiaan dengan memandang perusahaan dari sudut semesta.

Sementara itu, visi dalam kepemimpinan adalah suluh kesadaran yang dapat menuntun pergerakan semua elemen perusahaan menghadapi tantangan masa depan. Yang menarik, mistikus korporat tidak hanya membiarkan visinya mendekam dalam pikirannya sendiri, tapi juga dialirkan pada anggota keluarga perusahaannya. Sedangkan naluri memberi ruang bagi kreativitas dalam memutuskan suatu persoalan yang menentukan, serta membantu arah perjuangan visi yang sudah jelas itu.

Ketiga karakter ini setelah diolah dan disinergikan mampu menghidupkan ruh perusahaan, sehingga perusahaan menjadi semacam media aktualisasi bersama. Ini berarti bahwa adonan integritas, visi, dan naluri pada gilirannya menghasilkan tanggung jawab, komitmen, dan kebersamaan. Komunikasi yang cair menjadi kata kunci lainnya yang memampukan semua elemen perusahaan menjadi bisa saling berempati dan mengolah gagasan-gagasan dengan terbuka untuk perubahan yang lebih baik.

Kualitas-kualitas moral yang ditemukan Hendricks dan Ludeman di kalangan pengusaha itu sebenarnya memang akan menegaskan hal yang sudah cukup lama disuarakan: bahwa ada dimensi etis dalam berbisnis yang perlu diperhatikan, karena itu juga adalah suatu faktor penting yang dapat mengantarkan kepada keberhasilan perusahaan itu. Kolapsnya perekonomian bisa bermula dari tercederanya moralitas dalam dunia bisnis. Contoh yang bisa dikemukakan di sini adalah kasus resesi ekonomi AS pada awal 1990-an yang terjadi akibat skandal perusahaan-perusahaan Saving and Loans yang menjajakan junk-bonds. Krisis ekonomi dan moneter yang terjadi di beberapa kawasan Asia Tenggara sejak 1998 pun ada yang melihatnya dari sisi ini.

Buku ini semakin menegaskan makna penting moralitas dalam kehidupan bisnis. Moralitas, atau lebih spesifik lagi: spiritualitas, akan memompakan kekuatan yang tak terkira untuk merawat daya hidup perusahaan. Maka tak aneh bila Hendricks dan Ludeman dalam buku ini meramalkan bahwa pengusaha yang sukses pada abad ke-21 akan menjadi para pemimpin spiritual. Mereka mungkin saja akan menyisihkan para spiritualis yang lain yang dibesarkan di masjid, gereja, kuil, atau wihara.

Ada dua catatan menarik yang dapat dikemukakan berdasarkan uraian-uraian dalam buku ini. Pertama, dengan menawarkan bentuk spiritualitas yang terlepas dari agama-agama formal, buku ini dari sisi lain adalah sebentuk tantangan terhadap agama-agama formal untuk dapat mampu mengembangkan tipe spiritualitas yang bersifat produktif, dapat membimbing manusia dalam kebersamaan dan kesuksesan. Kedua, karena buku ini amat menekankan bentuk spiritualitas dan dimensi etis dalam bisnis yang lebih erat dengan aspek kepemimpinan perusahaan, maka buku ini mengabaikan aspek eksternal dari kehidupan bisnis: negara. Persoalannya, mampukah sebuah pemimpin perusahaan yang spiritualis menggerakkan perusahaannya untuk hidup dengan nilai yang diyakininya itu bila ternyata ia berada dalam suatu sistem sosial-politik yang korup?

Lepas dari dua hal tersebut buku ini tentu amat layak diapresiasi. Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa keterpurukan ekonomi yang mendera bangsa kita juga disebabkan oleh terabaikannya dimensi etis ini. Dari buku ini kita dapat menggali bersama pengalaman pengusaha Amerika meraih sukses dan menangkap benang merah yang dapat diikatkan ke dalam kehidupan konkret kita sehari-hari.


Tulisan ini dimuat di Koran Tempo, 24 Februari 2003.


Read More..

Selasa, 28 Januari 2003

Menghargai Sejarah

Setiap arus waktu yang telah berlalu tak akan dapat lagi kembali. Bahkan, upaya untuk merangkumnya dalam suatu bentuk dokumentasi, bila itu diartikan secara ketat, hanya akan berakhir muspra. Apa yang telah berlalu, akan segera retak. Tetapi, manusia adalah makhluk dengan kemampuan untuk selalu mengatasi berbagai bentuk keterbatasannya, mentransendensi ruang-waktu menjelajah ke dimensi tak terbatas—masa lalu, masa depan, yang ada dalam kenyataan, yang ada dalam impian, atau yang ada dalam kemungkinan. Dalam konteks inilah, manusia menurut Martin Heidegger (1889-1976) ditandai dengan ciri historisitas (historicity). Dalam pengertian ini, manusia adalah subyek sekaligus obyek sejarah. Di satu sisi, manusia terlahir dalam suatu kubangan sejarah tertentu yang akan terus membentuknya sepanjang waktu, sementara ia sendiri juga senantiasa berusaha melakukan pergulatan-pergulatan dalam bentuk inovasi-inovasi kreatif dalam rangka menapakkan jejak langkahnya di antara lorong-lorong sejarah.

Historisitas ini tidak saja melekat pada level individu, tapi juga berkait dengan tatanan kebudayaan suatu masyarakat. Kontinuitas perkembangan suatu peradaban direkam dan dirawat dalam dan melalui pita sejarah. Dalam wadah sejarah itulah akar tradisi yang mewujud nilai-nilai luhur diseduh untuk merengkuh identitas bersama masyarakat.

Akan tetapi dalam masyarakat kita, kesadaran terhadap sisi historisitas itu, baik dalam level individu maupun sosio-kultural, saat ini tanpa disadari tengah dikekang dan diblokade sedemikian rupa. Belenggu kesadaran itu bisa saja pernah bernama Rezim Totaliter yang maha meliputi semua relung kehidupan masyarakat, bisa juga rayuan untuk bergabung dengan tarian globalisasi yang kadang menganggap sejarah sebagai semacam sampah, atau bisa juga situasi yang menjemukan lantaran tidak betah merunut benang kusut yang dibiarkan sekian lama direnggut para penggadai kearifan sejarah.

Dalam konteks ini patutlah kita menyimak pandangan Goenawan Mohamad, yang menyatakan bahwa dalam masyarakat kita tidak ada institutional memory yang mampu menghubungkan pengalaman antar-generasi, sehingga kesadaran sejarah sulit terbentuk. Situasi semacam ini menjadikan masyarakat begitu rentan terhadap arus raksasa bernama globalisasi yang berpotensi menyeret masyarakat dari dekapan nilai-nilai lokal.

Memang globalisasi merupakan sesuatu fakta sejarah yang tidak tertolak walaupun tak dapat dipungkiri bahwa ia juga memiliki sisi-sisi positifnya. Tapi patut disadari bahwa bagaimanapun denyut nadi dan perkembangan suatu masyarakat yang sebenarnya akan banyak ditentukan oleh pemaknaan terhadap aliran darah sejarah yang berwujud tradisi (yang bersifat lokal) yang memuat nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Tradisi yang dimaksudkan di sini sejalan dengan yang telah didefinisikan Marshall Hodgson, yaitu sebagai suatu dialog yang hidup dan berakar pada referensi bersama atas peristiwa-peristiwa kreatif tertentu dari masa lampau. Dari situlah suatu masyarakat dapat merumuskan bersama-sama visi dan orientasi ke depan. Dari situlah para generasi menemukan anak tangga yang begitu berharga untuk akhirnya tiba di suatu kebudayaan yang mampu mengaktualisasi nilai-nilai keberadaban dan kemanusiaan.

Namun demikian, persoalan yang dihadapi masyarakat kita saat ini, terutama di kalangan para generasi baru, adalah sulitnya akses yang cukup memadai untuk terlibat kembali ke pengembaraan kekayaan tradisi atau sejarah kebudayaan masyarakatnya. Berbagai fasilitas sosial yang dapat merujukkan pengalaman aktual para generasi baru kepada tatanan nilai para pendahulunya kurang mendapat tempat yang cukup diperhatikan. Museum-museum sudah terlalu kering dan hambar, pelajaran sejarah lokal di sekolah sudah punah, dan kesenian-kesenian daerah kalah dengan musik-musik populer. Pun, tak ada lagi cerita sebelum tidur tentang legenda-legenda masyarakat daerah, karena para orang tua sudah digantikan perannya oleh sang kotak ajaib bernama televisi.

Keadaan yang demikian ini menuntut perhatian semua pihak yang masih mau menghargai sejarah untuk bersepakat bahwa di sanalah sebenarnya rumah tinggal jiwa kebudayaan kita. Di atas landasan kesadaran semacam ini seluruh elemen masyarakat dapat segera memulai mengikatkan kembali temali tradisi ini ke tiang-tiang penyangga kebudayaan masa depan. Dengan langkah-langkah kecil ini dimungkinkan masyarakat kita akan dapat menegaskan kembali identitas kulturalnya sehingga dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, dan rasa percaya diri dapat bangkit kembali dari keterpurukannya. Jejak langkah sejarah tidak boleh dibiarkan punah, karena di situlah para leluhur menanamkan petuah-petuah.

Januari 2003

Read More..

Senin, 13 Januari 2003

Menyambung Missing Link Sains dan Agama

Judul Buku: Revolusi IQ/EQ/SQ: Antara Neurosains dan Al-Qur’an
Penulis: Taufiq Pasiak
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, November 2002
Tebal: 363 halaman


Beberapa tahun belakangan ini di kalangan intelektual Barat muncul suatu perkembangan yang cukup menarik dalam ranah studi psikologi, yakni ditemukannya dimensi baru kecerdasan manusia yang disebut EQ (Emotional Quotient/Kecerdasan Emosional) dan SQ (Spiritual Quotient/Kecerdasan Spiritual). Penemuan yang memberi apresiasi tinggi terhadap emosi dan spiritualitas manusia ini menjadi menarik karena menyiratkan adanya suatu perjumpaan epistemologis antara disiplin psikologi dengan tradisi spiritual (agama).

Namun karena penemuan ini banyak digagas dan dipopulerkan oleh ilmuwan Barat, maka masih terdapat semacam wajah sekuler dalam proses pengembangannya. Apa yang disebut spiritualitas dalam perspektif SQ masih merupakan suatu bentuk spiritualitas ala Barat, spiritualitas yang lepas dari bayang-bayang ikatan agama formal.

Buku utuh yang ditulis oleh Taufiq Pasiak ini berusaha memberikan perspektif yang lebih mendalam tentang keutuhan potensi akal manusia yang tercermin dalam tiga bentuk kecerdasan (IQ, EQ, dan SQ), terutama dengan memosisikan SQ sebagai ultimate intelligence. Penulis buku ini dalam soal ini cukup otoritatif karena ia lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi dan kini tengah menjalani S2 di IAIN Alauddin Makasar dan Pasca-Sarjana IKD UGM Yogyakarta. Cara pemaparannya yang enak diikuti (dan dilengkapi dengan banyak ilustrasi) menjadi begitu menarik karena di satu sisi buku ini mengeksplorasi struktur dan fungsi otak manusia secara cukup lengkap (bab pertama hingga bab keenam), ditambah lagi dengan perspektif Al-Qur’an tentang tiga dimensi kecerdasan otak tersebut (bab ketujuh hingga bab kesepuluh). Jadilah perjumpaan epistemologis itu menjadi lebih eksplisit.

Sejauh ini orang kebanyakan mengidentikkan kecerdasan dengan kecerdasan IQ semata, sehingga yang dihargai hanyalah orang cerdas di bidang matematika atau bahasa, sementara orang yang memiliki kemampuan lain kurang mendapat penghargaan yang layak. Padahal tidak jarang orang yang memiliki IQ rendah mempunyai bentuk kecerdasan yang lain (pandai bergaul, berkemampuan seni atau olah raga, dan sebagainya). Fakta ini amatlah merugikan, karena penghargaan terhadap potensi kecerdasan orang-orang semacam ini menjadi kurang, seperti terlihat dalam iklan-iklan lowongan pekerjaan.

Enam bab pertama buku ini memberikan uraian yang cukup jelas tentang berbagai potensi otak yang begitu kaya itu. Otak adalah sebuah universum di kepala manusia yang memiliki kemampuan lebih daripada prosesor sebuah komputer. Otak dapat terus berkembang terus-menerus dan secara otomatis dapat mempelajari dirinya. Seorang ahli saraf, Brodmann, memetakan otak dalam 47 wilayah dengan pembagian kerja masing-masing yang berbeda, termasuk yang berhubungan dengan organ-organ penting seperti lidah, tangan, telinga, kaki, dan sebagainya. Dua penemuan penting yang memperluas pemahaman kita tentang potensi otak adalah konsep EQ Daniel Goleman yang berpijak pada jalur saraf emosi yang ditemukan oleh ahli saraf Joseph deLoux, serta penemuan Titik Tuhan (God Spot) oleh Ramachandran bersama timnya dari Universitas California yang terletak di bagian samping kepala yang disebut lobus temporal.

Sinyal Al-Qur’an yang bersifat paralel terhadap berbagai penemuan sains mengenai otak ini diurai dalam bab ketujuh hingga kesepuluh. Untuk menggambarkan potensi otak ini Al-Qur’an menggunakan kata ‘aql (akal), sesuatu daya berpikir yang meliputi tiga bentuk kecerdasan (IQ, EQ, SQ). Dari sudut semantik, kata ‘aql mulanya bermakna kecerdasan praktis, tapi Al-Qur’an kemudian menggunakannya dalam rentang makna yang luas: mulai dari daya memahami (rasional maupun intuitif) hingga dorongan moral yang bersifat spiritual (lihat, misalnya, Q.S. al-‘Ankabût [29]: 42; al-Mulk [67]: 10). Karena itu tidak aneh bila kata akal dalam Al-Qur’an memiliki keterkaitan dengan kata qalb (kalbu), sehingga akal seakan-akan adalah mata hati (‘ayn al-qalb).

Uraian-uraian dalam buku ini menggenapi upaya menyambung missing link sains dan agama dengan jalan yang lebih eksplisit, yakni dengan pemaparan komprehensif tentang seluk-beluk otak manusia yang disertai dengan beberapa kajian terhadap beberapa pandangan dan ayat-ayat Al-Qur’an. Dari perspektif yang lebih luas apa yang dilakukan penulis buku ini adalah semacam usaha islamisasi sains yang selama ini sudah mulai dilakukan pada beberapa cabang ilmu (ekonomi, sosiologi, psikologi, fisika, kedokteran, dan sebagainya). Bila dilihat dari perspektif Hanna Djumhana Bastaman—ahli psikologi yang telah merintis islamisasi psikologi di Indonesia—maka yang dilakukan Taufiq Pasiak dalam buku ini masuk dalam kategori paralelisasi, yakni menunjukkan adanya kesejalanan (paralelitas) konsepsi Al-Qur’an dengan temuan sains mutakhir menyangkut otak dan kecerdasan manusia (IQ, EQ, SQ).

Kritik yang selama ini ditujukan kepada kalangan intelektual yang getol mempromosikan proyek islamisasi ilmu adalah kekhawatiran adanya sikap yang kurang teliti (atau malah “semena-mena”) dalam kerja epistemologis tersebut sehingga akhirnya hanya dapat meninggalkan kesan apologis belaka. Dalam konteks buku ini pembaca dapat saja menangkap kesan adanya kekurangmantapan dalam proses paralelisasi dan perbandingan tersebut lantaran pengkajian terhadap paralelitas neurosains dan Al-Qur’an dalam buku ini cenderung berat sebelah: terlalu banyak porsi yang diberikan kepada kajian masalah otak, sementara analisis terhadap pandangan dunia Al-Qur’an yang bersifat lebih mendalam terasa kurang.

Terlepas dari itu, terdapat satu hal yang berhasil ditegaskan buku ini dalam konteks islamisasi ilmu, yaitu menyangkut soal orientasi profetis ilmu, bahwa bagaimanapun pada akhirnya titik akhir suatu ilmu adalah kesejahteraan manusia. Ada dimensi humanisme teosentris (rahmat li al-‘âlamîn) yang hendak ditegaskan, yang selama ini lambat-laun semakin pupus dari aras paradigmatik ilmu. Secara eksplisit hal ini ditegaskan di bagian akhir buku ini, bahwa mesti ada tindak lanjut dari pergeseran paradigmatik psikologi dan kedokteran, yakni bahwa kesadaran sains harus menjelma menjadi kesadaran moral, kesadaran untuk berbuat. Artinya, penemuan dimensi kodrati spiritualitas manusia dalam otak ini mesti menjadi landasan bagi suatu aksi sosial yang berlandaskan pada kebersihan hati, kebesaran jiwa, dan spiritualitas kemanusiaan yang memungkinkan bertemunya visi persaudaraan kemanusiaan. Dengan begitu, ruang-ruang interaksi masyarakat menjadi relatif lebih steril dari nafsu dan egoisme, serta kembali disemarakkan dengan kemurnian mata-hati yang fitri.

Read More..

Senin, 02 Desember 2002

Mengembangkan Teologi Islam Positif

Judul Buku : Teologi Dialog Islam-Barat: Pergumulan Muslim Eropa
Penulis : Tariq Ramadan
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : Pertama, Maret 2002
Tebal : 322 halaman


Hidup sebagai kelompok minoritas memang selalu mengundang konflik identitas personal yang diam-diam terjadi secara massif. Kadangkala, rasa inferiority complex timbul, diiringi dengan sikap-sikap tidak dewasa yang malah semakin merugikan dan membatasi ruang gerak mereka.

Buku ini, yang berjudul asli To be a European Muslim: A Study of Islamic Sources in the European Context, merupakan hasil refleksi kritis penulisnya, Tariq Ramadan, selama hidup dan mengamati pergumulan identitas kaum muslim di kawasan Eropa. Komunitas muslim Eropa mulai muncul pada sekitar Perang Dunia Kedua, ketika kawasan Eropa secara sosial-ekonomi berantakan dan membutuhkan banyak tenaga kerja murah. Arus imigrasi mengalir deras dari kawasan Asia, Afrika Utara, dan Turki ke negara-negara Eropa, terutama Inggris, Jerman, dan Prancis. Di penghujung milenium, umat Islam di Eropa Barat sudah mencapai jumlah antara 12 hingga 15 juta jiwa.

Konflik identitas yang dihadapi mereka di lingkungannya menyangkut pilihan subjektif apakah mereka adalah seorang muslim atau seorang warga negara di Eropa. Pertanyaannya, mungkinkah ada identitas jalan tengah yang mampu menyelamatkan mereka dari tuduhan sebagai seorang fundamentalis atau orang yang terasing dari ajaran agama Islam?

Hal penting yang digarisbawahi Tariq Ramadan, penulis buku ini yang merupakan cucu Hasan Al-Banna dan tinggal di Prancis, dalam buku ini adalah adanya kenyataan bahwa seringkali kaum muslim Eropa merespons persoalan konflik identitas mereka secara emosional dan penuh ketakutan sehingga justru memperumit identifikasi masalah yang sebenarnya mereka hadapi. Bahkan mereka cenderung reaktif dan defensif sehingga kadang-kadang merusak citra diri kaum muslim sendiri.

Berangkat dari keprihatinan itulah, Tariq Ramadan dalam buku ini berusaha untuk mengkonstruksi semacam “teologi dialog” yang bercorak positif, tidak protektif tapi bersifat kontributif bagi komunitas baru kaum muslim di Eropa. Untuk menjawab persoalan tersebut, Tariq dalam buku ini mencoba menggali kembali sumber-sumber utama ajaran Islam baik yang bersifat teologis maupun yuridis yang berhubungan dengan soal persoalan tersebut.

Salah satu pokok ajaran Islam yang cukup penting yang dibahas oleh Tariq adalah bahwa keberadaan seorang muslim di muka bumi ini harus merupakan keberadaan yang aktif, dengan melibatkan diri dalam semua urusan manusia. Ini adalah refleksi dari keberimanan seorang muslim itu sendiri, seperti tampak dalam banyak ayat al-Qur’an yang selalu mengaitkan iman dengan perbuatan baik (amal saleh) (bandingkan, Q., s. Ali Imran/3: 110). Lebih jauh lagi, kalimat syahadat (persaksian keberislaman) menurut Tariq bukan sekedar pernyataan biasa, tetapi juga mengandung konsep mendalam tentang pemberian amanah yang menuntun jalan hidup seseorang maupun masyarakat.

Untuk itulah, Tariq juga menekankan pentingnya pemikiran-pemikiran baru yang berbasis pada aktivitas ijtihad (atau fatwa) untuk mengarahkan keberimanan seorang muslim kepada suatu bentuk Teologi Islam yang aktif-positif. Bagian pertama buku ini merupakan usaha Tariq untuk memberikan landasan pemikiran terhadap hal tersebut, yakni ketika Tariq menguraikan historisitas perkembangan khazanah keilmuan Islam. Ilmu-ilmu keislaman pada dasarnya adalah upaya untuk memelihara agar iman selalu intens, sejalan dengan ajaran al-Qur’an dan Nabi Saw dalam setiap situasi sejarah.

Pada salah satu uraian dalam bagian pertama buku ini Tariq mencatat beberapa prinsip penting yang terdapat di dalam prinsip-prinsip metodologi hukum Islam (ushul fiqh). Di antaranya prinsip al-mashlahat (pertimbangan manfaat umum), ketentuan pertanggungjawaban setiap tindakan manusia, serta adanya beberapa hal menyangkut hukum yang pemutusannya diserahkan pada ijtihad manusia sendiri.

Salah satu konsep hukum Islam yang mengatur legalitas eksistensi seorang muslim di tengah komunitas masyarakat tercermin dalam konsep dar al-Islam dan dar al-harb. Dua konsep ini sebenarnya memang tidak terdapat dalam al-Qur’an dan Sunnah, tapi merupakan hasil klasifikasi ijtihad ulama klasik. Dar al-Islam (wilayah Islam) adalah wilayah geografis tempat diberlakukannya hukum Islam, dan atau berada di bawah naungan pemerintahan muslim. Dar al-harb (wilayah perang) secara umum didefinisikan sebagai wilayah sistem pemerintahan yang “tidak islami”.

Tariq jelas-jelas mengkritik model pembagian yang sangat dikotomis itu. Konstruksi dunia kontemporer sudah sedemikian kompleks sehingga persoalan tersebut tidak dapat disederhanakan begitu saja. Bahkan terkadang, dari definisi tersebut di atas, muncul paradoks: di negara yang disebut dar al-harb komunitas muslim justru lebih menikmati kebebasan mengekspresikan ajaran keberagamaannya ketimbang di wilayah dar al-Islam.

Logika konflik yang diusung dalam gambaran dwipolar itu telah menjebak umat Islam dalam suatu cara berpikir yang tidak positif. Tariq mengajukan suatu cara pandang baru: Barat bersama negara-negara yang dipengaruhinya saat ini adalah pusat dunia, sedang yang lain adalah periferi. Dengan cara pandang demikian, ketika seseorang hidup di dunia Barat (pusat), maka ia tidak harus mundur ke visi lama dua kutub dengan mencari-cari musuh, melainkan harus mencari mitra yang bersedia dan bertekad memilih produk budaya Barat untuk meningkatkan kontribusi positif terhadap dunia, menolak penyimpangannya yang merusak, meningkatkan kebajikan dan keadilan dalam dan melalui persaudaraan manusia, untuk semua umat manusia apapun ras, asal, atau agama mereka. Di Barat, mereka (kaum muslim) harus memberi kesaksian (membuktikan kebenaran), mereka harus menjadi saksi atas siapa mereka sebenarnya dan atas nilai-nilai (positif) yang mereka percayai.

Dengan mempertimbangkan uraian tersebut, Tariq mengaitkan posisi komunitas muslim di Eropa dengan konsep dar al-da`wah. Dar al-da`wah mengacu kepada situasi Nabi sebelum hijrah ke Madinah, ketika beliau hidup sebagai minoritas dan dituntut untuk mempertunjukkan (mempersaksikan) keyakinan agamanya kepada masyarakat Mekah.

Untuk memperjelas uraiannya, Tariq menjelaskan bahwa ada lima unsur pokok yang menjadi bagian dari identitas seorang muslim, yakni iman dan spiritualitas yang diyakininya, kepatuhan melaksanakan ibadah dan perintah agama, perlindungan hak sosial, politik dan ekonomi, kebebasan untuk beribadah atau memberi kesaksian terhadap kebenaran agamanya, serta partisipasi aktif dalam masyarakat. Ketika kelima hal ini ada, maka seorang muslim bertanggung jawab untuk bertindak memastikan keamanan mereka atau memperbaiki situasi mereka maupun masyarakat secara menyeluruh.

Jalan tengah yang diusahakan Tariq Ramadan untuk merumuskan identitas seorang muslim di tengah-tengah dunia global yang plural ini adalah bagian dari usaha pembuktian bahwa Islam dapat (dan seharusnya) tampil sebagai rahmat bagi semesta (rahmat li al-`alamien). Hal ini menjadi penting untuk dipikirkan dan diagendakan mengingat kecenderungan akhir-akhir ini yang menunjukkan adanya sikap-sikap defensif dan protektif yang berlebihan dalam menyikapi berbagai bentuk ancaman dan rongrongan terhadap identitas dan ajaran agama.

Ini tidak saja dialami oleh komunitas muslim minoritas seperti di Eropa. Tapi, sebagai umat mayoritas pun komunitas muslim kadang-kadang masih bersikap tidak dewasa dan proporsional menyikapi pluralitas sosial di masyarakat, sehingga secara ironis memunculkan sikap-sikap yang justru mencitrakan sesuatu yang negatif. Sikap percaya diri berlebih memang kadang berpotensi melahirkan perilaku totaliter.

Kelebihan buku ini terletak pada uraiannya yang khas, yang menggali kembali etos sejarah nilai Islam dalam tradisi keilmuan yang dibangunnya sepanjang zaman, berhadapan dengan problem pluralitas agama dan sosial. Etos yang termuat dalam lembar sejarah ini belakangan memang kurang begitu diperhatikan, akibat keterjebakan komunitas muslim ketika membaca warisan sejarah dan tradisi keilmuan yang dimilikinya. Pendasaran kepada nilai-nilai yang terkandung dalam fakta sejarah memang kemudian menjadikan argumen yang disusun menjadi cukup kuat.

Teologi Dialog yang direkomendasikan buku ini pada akhirnya memang tidak saja menuntut dialog intens intra-agama untuk membangun keberimanan yang positif, tetapi juga ajakan untuk memberdayakan diri melalui kemandirian politik dan finansial, serta pemilihan agenda-agenda mengakar yang berorientasi ke depan.

Tulisan ini dimuat di www.attin.org 1 Desember 2002.

Read More..

Senin, 18 November 2002

Bahasa, Yang Menjelma Jendela

Bulan ini bulan bahasa. Di bulan ini, orang-orang memperingati kekuatan serangkaian bunyi dan aksara, yang dulunya sanggup menyatukan bangsa, mengantarkan warga menuju gerbang kemerdekaan negeri tercinta, Indonesia. Tapi itulah sejarah, yang kini mungkin sudah tak lagi bertuah, bahkan bagi orang-orang yang mengaku sebagai pewaris sah darah juang para pahlawan. Sekarang adalah tahun 2002, suatu anak tangga yang retak-retak di awal milenum ketiga; bukan lagi Oktober 1928, yang udaranya dipenuhi bara gelora yang sanggup menggerakkan dan menghimpun kekuatan bangsa.

Saat ini, masihkah kita bisa berharap pada kekuatan bahasa, untuk kembali mengantarkan bangsa ini ke sebuah ruang masa depan yang lebih bermakna? Adakah bahasa masih dapat menyisakan kekuatannya ketika sekian lama ia dipecundangi dan dilumuri dengan ambisi dan ketidakjujuran yang seringkali malah dibangga-banggakan? Otoritarianisme Orde Baru sepanjang lebih dari 30 tahun telah memerkosa bahasa sedemikian rupa, sehingga setiap kata diabsahkan tafsirnya dalam suatu kamus tunggal penguasa. Rakyat tak lagi berdaya menentukan makna, menjiwai bahasa.

Tapi reformasi terbukti tidak sekonyong-konyong menyediakan ruang yang melegakan bagi unit-unit bahasa untuk mementaskan kejernihannya. Reformasi masih juga tak kunjung bersih dari asap sisa pembakaran, halimun, atau juga endusan nafas angkuh yang selalu mencari celah untuk berselingkuh. Bahasa yang hanya menjadi sebentuk jargon malah tak dapat dibendung kehadirannya. Spanduk-spanduk, pamflet, salebaran, dari yang bernada membujuk hingga yang provokatif (dari level biasa hingga yang berbau ancaman) terpampang di tempat-tempat umum, disebar untuk menggalang kekuatan politik massa.

Dengan kata lain, belum ada ruang publik yang sanggup menampung pengungkapan bahasa yang dapat memaparkan lempeng ketajaman logika yang tertata dan disepuh permata ketulusan. Pertanyaannya, di manakah dimensi itu kini berada, di antara sejumlah harapan dan keinginan yang selalu terintangi oleh sekian bencana? Ke arah mana sebenarnya para elit bangsa sedang berpikir, sadar atau tidak, tentang bahasa dalam kerangka masa depan bangsa?

Hal yang cukup mendesak saat ini adalah bagaimana memosisikan kembali bahasa dalam kesadaran kolektif bangsa sebagai sebuah media penghantar menuju kemenyatuan aras rasional yang jernih dalam menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa. Sudah cukup lama bangsa ini menjadikan bahasa tidak sebagai jendela, tapi sebagai sekat yang semakin mengentalkan komunalisme, fanatisme, dan jargonisme. Masyarakat dirintangi untuk dapat menikmati kejernihan tatanan bahasa yang sanggup membuka mata dunia, membelah akal majal yang selama ini hanya menerpurukkan bangsa dalam perasaan saling dendam.

Bahasa yang menjelma jendela adalah bahasa yang membebaskan, ungkapan polos rakyat bawah yang memiliki kejujuran dan ketulusan, tuturan kaum ilmuwan yang berpegang pada prinsip dasar epistemologis pengembangan pengetahuan, bahwa titik akhir suatu ilmu adalah prinsip etis yang indah dan bermoral. Bahasa yang menjelma jendela adalah bahasa yang sanggup merobohkan dinding pembatas kelompok, mempertemukan dalam satu ruang perjamuan kemanusiaan, meleburkan hasrat jahat dan mengangkat niat bulat demi mengecap nikmat yang hakikat.

Di bulan bahasa ini, kita diajak bersama-sama mengail kembali kearifan sejarah dari peristiwa Sumpah Pemuda 1928. Bersama ini pula, seluruh komponen bangsa diseru untuk melepas atribut partikular kediriannya untuk menyatu dalam satu rombongan besar kebangsaan. Lalu, bahasa, yang menjadi latar peristiwa sejarah ini, kita kembalikan dalam kefitriannya yang paling dasar: sebagai bentuk cara berpikir yang relatif steril dari sesat pikir, kontradiksi, dan ketidakmasukakalan. Bersama inilah, kita semua berharap agar cara berkomunikasi kita semakin dipulihkan, dengan mengandalkan kejernihan nalar dan kejujuran suatu niatan. Bukan cuma dalam level komunikasi sosial sehari-hari, tapi juga dalam soal pengembangan ilmu, pemilihan opsi keputusan publik, juga media massa.

Masa depan bangsa ini, di antaranya, mungkin saja terselip di antara baris-baris aksara, baik yang meluncur di antara lisan orang-orang, atau yang terpahat di pagina-pagina terbitan buku, harian atau mingguan. Memulai berbenah dari titik paling rendah, di antara jejak langkah sejarah dan masa depan yang cerah, adalah sebentuk pertanggungjawaban kita sebagai anak bangsa.

Tulisan ini dimuat di Rubrik "Budaya" Harian Jawa Pos, 17 November 2002.

Read More..