Minggu, 27 Desember 2015

Jurus Ampuh Menyingkir dari Sesat Pikir


Judul buku: Kitab Anti Bodoh: Terampil Berpikir Benar Terhindar dari Cacat Logika dan Sesat Pikir
Penulis: Bo Bennett, Ph.D.
Penerbit: Serambi, Jakarta
Cetakan: Pertama, September 2015
Tebal: 380 halaman


Kemampuan untuk berpikir benar bukanlah pembawaan yang senantiasa dimiliki setiap manusia. Menarik kesimpulan dan berpikir dengan benar adalah keterampilan yang harus dipelajari. Itulah yang dipelajari dalam ilmu logika yang dirintis oleh Aristoteles.

Buku ini adalah buku populer di bidang logika. Bo Bennett, Ph.D., penulisnya, tidak memaparkan istilah-istilah teknis dan cara bernalar menurut ilmu logika. Sebaliknya, Bennett mengambil jalan yang berbeda: ia menunjukkan secara jelas dan menarik berbagai jenis sesat pikir yang biasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam ilmu logika, sesat pikir biasanya dikategorikan dalam tiga kelompok yaitu sesat pikir karena bahasa, sesat pikir formal, dan sesat pikir material. Namun, karena ditujukan untuk pembaca umum, Bennett dalam buku ini langsung saja memaparkan lebih dari 300 bentuk cacat logika atau sesat pikir yang telah dihimpunnya selama bertahun-tahun (hlm. 23). Di setiap uraian bentuk cacat logika atau sesat pikir, Bennett memberinya nama, memberi gambaran singkat, rumus atau bentuknya, contoh, penjelasan, pengecualian, dan juga kiat untuk terhindar dari sesat pikir tersebut.

Sistematika uraian yang seperti ini memang cukup memudahkan pembaca untuk memahami tiap model yang diterangkan. Bahkan bisa terasa mengasyikkan karena contoh yang diangkat cukup sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Cacat logika yang paling populer, termasuk dalam ilmu logika, diistilahkan argumentum ad hominem. Sesat pikir model ini terjadi saat orang tidak menyerang substansi argumen yang dikemukakan, tapi justru menyorot pada orang yang melontarkan argumen.

Untuk model ini, Bennett menjelaskannya dalam tiga bentuk. Ada yang dengan cara menistakan pelontar argumen, mengacu pada konflik kepentingan, dan mengaitkan tanpa dasar. Misalnya, ada orang menyebut Pol Pot, pemberontak komunis Kamboja, yang sangat kejam dan menentang agama. Lalu ada yang menghubungkan seseorang, sebutlah ia Dadang, yang juga menentang agama dengan melabelinya sebagai orang yang juga sangat kejam (hlm. 35-40).

Dengan latar pengalaman dan kesarjanaan di bidang pemasaran dan psikologi sosial, Bennett juga menemukan argumen yang cacat di dunia bisnis. Di bidang bisnis, proposisi atau pernyataan banyak dipergunakan untuk membujuk. Misalnya sesat pikir yang disebutnya “mengacu kepada rayuan gombal.” Sering ditemukan dalam iklan kalimat yang menyatakan: “Anda harus membeli mobil ini karena Anda akan terlihat sangat keren dengan mobil ini. Bahkan Anda akan terlihat lebih muda di balik kemudi mobil ini” (hlm. 81).

Tak ada argumen dalam kalimat ini. Si penjual sama sekali tak mengemukakan argumen. Yang ada hanya pendasaran palsu berupa rayuan gombal.

Sesat pikir kadang juga dibangun melalui sikap subjektif berupa keberpihakan yang bersifat apriori. Saat ada sejumlah data yang dapat berstatus sebagai argumen, seseorang kadang menyeleksi bagian tertentu yang sesuai dengan kecenderungan subjektifnya. Ini yang oleh Bennett disebut “perhatian yang pilih-pilih.” Contohnya, saat ada informasi bahwa Indeks Harga Saham Gabungan menguat 200 poin dan rupiah menguat atas dolar Amerika, tetapi harga cabai rawit melambung, seseorang kadang kemudian mengatakan bahwa kondisi ekonomi sedang payah hanya dengan mendasarkan pada harga cabai rawit dan mengabaikan fakta lainnya (hlm. 320).

Ada juga pengelabuan dengan cara menonjolkan prestasi seseorang. Pelontar argumen menyebutkan beberapa keberhasilan yang dicapai seseorang, lalu menggunakannya untuk membenarkan salah satu pendapatnya (hlm. 52).

Memang benar bahwa tidak semua tindakan yang diambil seseorang selalu berdasarkan pada pertimbangan rasional yang ketat. Namun, membiarkan pandangan, keyakinan, tindakan, atau sikap kita berdasar pada argumen sesat pikir bukanlah sesuatu yang lucu.

Buku ini menuntun kita untuk menunjukkan berbagai bentuk sesat pikir di sekitar kita. Dengan mengenali berbagai bentuk sesat pikir dan menyingkirkannya, kita mengembalikan kehormatan diri kita sebagai makhluk otonom yang mampu bernalar.

Di tengah berbagai bentuk perbudakan akali dan bujuk rayu terselubung yang menipu, baik dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan juga politik, buku ini adalah bagian dari upaya mendidik masyarakat agar cerdas dan kritis dalam mengambil sikap.


Tulisan ini dimuat di Harian Radar Madura, 27 Desember 2015.

Read More..

Selasa, 24 November 2015

Membaca Efektif


Seringkali ada orang bertanya kepada saya: bagaimana caranya membaca yang baik sehingga kita mudah mengikat pengetahuan atau informasi yang kita cerna itu? Dengan kata lain, bagaimana caranya agar kita tidak mudah lupa atas apa yang telah kita baca?

Mungkin memang sulit untuk mendapatkan hasil yang sempurna: bahwa semua yang kita baca dapat kita ingat sepenuhnya. Tapi mungkin ada semacam kiat agar kegiatan membaca dapat lebih menghasilkan informasi yang—paling tidak relatif lama—tertancap dalam ingatan kita.

Untuk pertanyaan seperti ini, saya mencoba memberi jawaban berdasarkan sedikit pengalaman saya. Menurut saya, membaca buku yang relatif memungkinkan kita untuk lebih kuat menghimpunnya dalam ingatan yang baik adalah dengan cara membaca-terfokus dengan titik tujuan yang jelas. Maksudnya, kita membaca buku dalam kerangka sebuah penelusuran atau upaya untuk menjawab pertanyaan tertentu—sesederhana apa pun.

Dengan menempatkan kegiatan membaca dalam kerangka maksud yang lebih luas, kita akan lebih mudah mengikat jalinan informasi yang kita peroleh dari berbagai sumber bacaan. Dari jalinan yang mungkin dapat dirajut itulah, saya pikir ingatan kita akan lebih mudah menyimpannya, karena di antara berbagai informasi yang diperoleh dari berbagai sumber itu ada titik-titik tertentu yang bisa saling dikaitkan.

Jawaban ini saya temukan berdasar dari pengalaman saya saat menyusun sebuah tulisan yang kadang relatif panjang. Atau saat saya berupaya mengumpulkan butir-butir informasi untuk menemukan sebuah gambaran yang relatif lebih besar dan utuh tentang suatu hal—misalnya saat hendak membahas tema tertentu di kelas atau di sebuah kesempatan diskusi.

Dalam situasi seperti itu, kegiatan membaca yang saya lakukan cukup jelas tujuannya. Ada satu target terfokus dari kegiatan membaca. Ada butir informasi yang cukup spesifik yang ingin saya kumpulkan dan rekatkan. Ada (beberapa) pertanyaan yang menggantung di benak saya sepanjang kegiatan membaca yang saya lakukan.

Pertanyaan atau target yang saya buat itu menurut saya berfungsi seperti akar pohon yang memudahkan air hujan untuk terserap ke bumi. Ia memberi jalan bagi informasi untuk terkumpul di titik yang lebih dalam.

Ini cukup berbeda dengan kala saya membaca sebuah buku tanpa satu konteks yang mengorientasikan dan mengaitkan kegiatan membaca saya dengan sesuatu yang lebih besar dan luas. Meski mungkin kegiatan membaca di sini tetap bermakna dan bermanfaat, tapi butir-butir informasinya kadang masih agak kesulitan untuk terikat dengan gugus pengetahuan lainnya. Bisa jadi karena gugus informasinya itu terlalu jauh secara masa maupun konteksnya.

Akhirnya, membaca-terfokus dengan titik tujuan yang jelas akan lebih berdampak bagi kuatnya ikatan informasi yang dihimpun apabila ditindaklanjuti dengan menulis. Ya, menulis. Pada dasarnya, kegiatan membaca dalam bentuknya yang paling sederhana pun akan lebih mudah terikat dan padu dalam pikiran jika kita menuliskannya. Apalagi kegiatan membaca itu kita lakukan dengan alur, fokus, dan target yang jelas.

Pada titik ini saya semakin yakin bahwa kegiatan membaca dan menulis memang harus dilakukan secara padu. Keduanya merupakan kegiatan yang saling menguatkan. Membaca tapi tidak menulis mungkin akan membuat pengalaman membaca atau hasil bacaan kita kurang tersusun secara rapi dalam pikiran. Sedangkan menulis tanpa bekal bacaan yang baik mungkin akan kurang mendalam.

Apa yang saya paparkan secara singkat di sini hanya berdasar pada pengalaman pribadi saya. Lebih dari itu, mungkin sekali ada cara-cara lain yang bisa dilakukan agar kegiatan membaca kita dapat lebih bermakna dan lebih padu dengan kegiatan lain dalam aktivitas kita sehari-hari.

Wallahu a‘lam.


Tulisan terkait:
>> Merawat Gairah Membaca


Read More..

Kamis, 19 November 2015

Pelajaran Bahasa


Bahasa apakah yang dapat menghubungkan seseorang dengan orang lain yang belum atau tidak bisa berbicara? Apakah memang mungkin ada komunikasi antara dua orang yang salah satunya belum atau tidak bisa berbicara?

Beberapa bulan ini, saat menemani anak saya bermain-main untuk waktu yang relatif lama, saya kadang berpikir tentang komunikasi yang tengah berlangsung di antara kami. Anak saya sekarang belum genap berumur 10 bulan. Kemampuan verbalnya belum seberapa. Dia belum bisa mengucapkan satu kata yang bermakna. Bisanya hanya mengoceh sesukanya.

Lalu saat saya bersamanya, menemaninya, sementara dia kadang sibuk sendiri dengan membongkar-bongkar barang yang sudah ditata di ruangan, apakah di antara kami sebenarnya ada jalinan komunikasi? Ada kalanya saya menggodanya dengan bermain semacam petak umpet. Atau saya memancing perhatiannya dengan barang yang bisa mengeluarkan bunyi tertentu. Bisa saja dia tersenyum memperlihatkan dua giginya yang tumbuh di bawah. Tapi kadang dia bergeming atau tetap dengan kesibukannya.

Saya tak bisa menjawab secara pasti bentuk komunikasi apa yang sebenarnya kami jalin. Kami kadang bersama untuk waktu yang cukup lama. Bisa 2 hingga 3 jam. Apa mungkin memang ada orang yang berada bersama di satu tempat tapi di antara mereka tidak terjalin komunikasi?

Di antara pertanyaan-pertanyaan yang datang dan tersimpan itu, saya lalu teringat salah satu bagian dalam buku Robert Frager, Obrolan Sufi. Frager menulis tentang pelayanan orangtua pada anaknya, bahwa itu adalah bagian dari pelajaran cinta, saat kita mulai belajar mengatasi narsisisme dan mengobati egoisme dan perhatian pada diri sendiri. Memiliki anak menurut Frager adalah terapi kejut versi Tuhan agar manusia belajar mencintai dengan tulus sehingga potensi jiwanya yang bersifat ilahi dapat tumbuh.

Jadi saya lalu berpikir bahwa ini adalah sebentuk komunikasi spiritual. Saya tidak tahu apakah ini bisa disebut dengan istilah komunikasi. Tapi mungkin bahwa dalam perjumpaan-tanpa-bahasa antara saya dan anak saya itu, saya sebenarnya sedang belajar bahasa cinta. Bukankah cinta adalah bahasa semesta?

Tadi pagi hingga siang, setelah sekitar empat hari tak berjumpa, saya kembali belajar bahasa itu. Saya menemaninya sambil saya menyalin beberapa berkas di komputer, juga sambil membuka-buka buku bacaan. Saya juga mendampinginya saat ia mulai menarik-narik jemuran kecil di serambi dalam rumah. Kadang ia berusaha berdiri di satu sisi dan melangkah ke samping sambil tangannya tetap meraih mencari pegangan. Bila saya menemaninya dengan tiduran, dia suka sekali menggunakan tubuh saya sebagai tempat latihannya berdiri.

Bahasanya kadang hanya dengan rengekan. Saya berusaha menerka. Kadang karena haus, kadang karena mengantuk. Saat saya menafsir, saat itu juga mungkin saya sedang berusaha perlahan belajar bahasa cinta.

Pertanyaan berikutnya, bagaimanakah pelajaran yang sedang saya ikuti ini nantinya akan berubah bentuk saat ia sudah bisa melafalkan kata-kata dan mengucapkan kalimat secara lengkap sesuai dengan kaidah bahasa? Di manakah pelajaran bahasa cinta itu akan termuat? Apakah bahasa semesta ini akan sirna perlahan dimakan rutinitas bahasa yang sudah sifatnya biasa?

Rasanya saya pantas khawatir bahwa pelajaran berharga ini bisa saja akan menghilang di kelas kehidupan saya. Lalu bagaimana saya dapat memastikan bahwa pelajaran ini dapat terus berlangsung dalam jalinan relasi antara saya dengan anak saya?

Read More..

Selasa, 10 November 2015

Kompetisi Inovasi di Balik Revolusi Teknologi

Judul buku: Apple vs Google: Perseteruan Korporasi Besar yang Melahirkan Revolusi Teknologi Digital
Penulis: Fred Vogelstein
Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Juni 2015
Tebal: viii + 372 halaman


Perseteruan dan persaingan merupakan hal yang menarik diikuti. Apalagi jika melibatkan subjek-subjek penting yang menjadi kunci perubahan masyarakat dan dunia.

Buku ini memaparkan persaingan keras dua perusahaan raksasa yang berperan penting dalam merevolusi kehidupan masyarakat saat ini: Apple dan Google. Disadari atau tidak, kedua perusahaan besar ini telah melahirkan sejumlah inovasi teknologi informasi yang membuat bentuk dan intensitas komunikasi dan pergaulan masyarakat mengalami perubahan yang luar biasa.

Fred Vogelstein, penulis buku ini, memulai kisah revolusioner oleh Apple dan Google dari latar dan detik-detik peluncuran iPhone oleh Apple pada tahun 2007. Setelah sukses dengan iPod, awal 2007 Steve Jobs mengumumkan bahwa Apple akan mencipta ulang telepon seluler bernama iPhone. Langkah Apple untuk masuk ke industri ponsel terbilang cukup berani. Kala itu, pembuat ponsel di Amerika sangat tergantung pada operator seluler karena ponsel dibundel dengan layanan seluler (hlm 32).

Namun, visi revolusioner iPhone menunjukkan hasil luar biasa. Dalam waktu 6 bulan pertama Apple sukses menjual 3,4 juta iPhone. Tahun berikutnya, Apple membangun toko aplikasi iTunes yang kemudian juga menjadi sumber pendapatannya.

Sementara itu, rencana Google untuk mengembangkan Android sebenarnya lebih dilatarbelakangi atas kekhawatiran Google atas seteru lamanya yakni Microsoft. Google khawatir Microsoft perlahan akan menyingkirkan mesin pencari Google dari ponsel berbasis Windows CE dan menggantikannya dengan mesin pencari produk Microsoft (hlm. 70).

Maka pada bulan Juli 2005, Google mengakuisisi Android dari Andry Rubin. Rencana besar Rubin saat itu, dengan digratiskan, Android sebagai sebuah sistem operasi (OS) akan menciptakan ekosistem perangkat lunak yang ujung-ujungnya dapat memberi keuntungan bagi Google (hlm. 74-75).

Saat itu Google sebenarnya tengah menjalin kerja sama dengan Apple untuk menyuplai iPhone dengan aplikasi andalan Google. Apple dan Google bersatu untuk melawan dominasi Microsoft. Namun, perkembangan di Android pada akhirnya membuat Apple dan Google saling berhadapan secara sengit.

Ketika ponsel Android pertama diluncurkan pada September 2008, Jobs marah. Meski tak ada kehebohan saat rilis Android, Jobs dapat melihat potensi kompetitif Android. Lebih dari itu, Apple merasa dikhianati karena Google masuk ke wilayah kerjanya. Kemarahan Jobs terbukti. Pada 2010, Android meledak. Pada akhir 2010, ada hampir dua ratus model ponsel Android di lima puluh negara (hlm. 189).

Apple menanggapi demam Android dengan iPad yang dijual pertama pada April 2010. Sekali lagi, Jobs berani mengambil risiko dengan iPad. Komputer tablet telah beberapa kali berusaha dibuat tapi selalu gagal. Namun iPad ternyata sungguh berbeda (hlm. 229).

Perseteruan Apple vs Google semakin memanas dengan pengajuan gugatan oleh Apple atas sejumlah perusahaan pembuat ponsel berbasis Android, seperti Samsung, HTC, dan Motorola. Yang paling heboh adalah kasus Apple vs Samsung pada 2012 yang dimenangi oleh Apple. Samsung diharuskan membayar ganti rugi $1 miliar meski tergugat masih mengajukan keberatan atas putusan ini.

Kisah perseteruan Apple vs Google dalam buku ini tersaji dengan data yang sangat lengkap yang di antaranya belum pernah disiarkan. Selain itu, gaya tutur Vogelstein sangat memikat. Pada banyak bagian, aspek dramatis persaingan Apple vs Google tersaji bak novel yang bisa membuat pembaca ikut tegang dan mungkin emosional.

Bagi mereka yang terjun di dunia kreatif, buku ini juga menggambarkan secara cukup detail proses kelahiran inovasi revolusioner dari rahim Apple dan Google. Lingkungan kerja yang tak biasa di Google, disiplin dan kerja keras yang luar biasa di Apple, keberanian menghadapi risiko dan pola pikir tak lazim, semuanya adalah beberapa kunci penting yang dapat tersimpul dari narasi di buku ini.

Selain itu, buku ini secara tidak langsung juga memberikan gambaran tentang tantangan era informasi yang kian kompleks. Revolusi teknologi digital yang dihasilkan oleh inovasi Apple dan Google benar-benar telah mengubah banyak aspek penting dalam kehidupan saat ini, seperti dalam cara orang belajar dan mengakses informasi, cara berkomunikasi, dan menikmati hiburan. Terkait hal itu, buku ini secara tidak langsung juga bisa mengajak pembaca untuk menjadi pribadi dan konsumen yang kritis di antara berbagai produk teknologi dan perubahan yang mengikutinya.


Versi yang sedikit diperpendek dimuat di Koran Jakarta, 10 November 2015
.


Read More..

Minggu, 08 November 2015

Memburu Harta yang Berkah


Judul buku: Belajarlah kepada Lebah dan Lalat: Langkah Cerdas Mendapatkan Kekayaan dan Keberkahan Hidup
Penulis: K.H. Agoes Ali Masyhuri
Penerbit: Zaman, Jakarta
Cetakan: Pertama, Juni 2015
Tebal: 238 halaman


Hidup yang berharga adalah hidup yang mendatangkan kebaikan untuk diri sendiri maupun sesama. Itulah hidup yang berkah. Hidup yang berkah dijelaskan dengan ilustrasi bahwa segala yang diperoleh dalam hidup, baik itu harta, ilmu, keluarga, usia, dan sebagainya, memberi nilai tambah bagi berbagai bentuk kebaikan.

Buku yang ditulis oleh Gus Ali, panggilan akrab KH Agoes Ali Masyhuri (pengasuh International Islamic Boarding School Bumi Shalawat Progresif Sidoarjo) ini memuat esai-esai reflektif tentang menapaki jalan hidup yang berkah. Secara khusus Gus Ali memfokuskan uraiannya pada soal kekayaan yang dapat mengantar pada hidup yang berkah.

Dalam membahas masalah ini Gus Ali menggunakan sudut pandang keagamaan yang bersifat esoteris (tasawuf). Di bagian awal, Gus Ali menyentakkan pembaca dengan beberapa hal mendasar, yakni bahwa Allah itu sungguh-sungguh Maha Pemberi Rezeki. Gus Ali memberi ilustrasi kehidupan dunia binatang yang saling memberi dukungan dalam keberlangsungan kehidupannya.

Selain itu, Gus Ali juga memaparkan bentuk-bentuk rezeki baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Ini mengantarkan pada kesimpulan bahwa manusia itu sesungguhnya diciptakan untuk kaya. Jika binatang saja dapat mencukupi kebutuhannya dengan baik, apalagi manusia yang memiliki banyak potensi diri yang dapat memudahkan usahanya untuk mendapatkan rezeki atau kekayaan.

Gus Ali juga menambahkan bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia sebelum Dia menciptakan manusia. Jalan menuju rezeki dan kekayaan telah disediakan (halaman 21). Meski manusia diciptakan untuk kaya, ada satu penghambat utama yang juga dimiliki manusia, yakni bahwa manusia itu suka menganggur dan malas.

Albert Camus menyatakan bahwa pengangguran adalah santapan bagi setan. Senada dengan itu, Imam Syafii juga mengingatkan bahwa jika kita tidak menyibukkan diri dengan kebaikan, kita akan disibukkan dengan kebatilan (halaman 45-46). Dengan mengambil teladan yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW Gus Ali menegaskan bahwa kerja itu adalah ibadah.

Lebih dari sekadar sesuatu yang bersifat personal, Gus Ali menegaskan bahwa bekerja itu adalah bentuk kontribusi nyata seseorang bagi pembangunan peradaban. Pada titik ini, Gus Ali seperti hendak menegaskan bahwa hidup yang berkah itu juga adalah hidup yang memberi sumbangan kebaikan bagi sesama.

Ilustrasi sederhana tentang kekayaan yang memberi keberkahan hidup itu digambarkan dengan ibarat lebah dan lalat. Lebah tidak sembarang dalam mencari makan, juga dalam membangun rumahnya. Selain itu, lebah tidak suka mengganggu makhluk hidup lain, malahan madu yang dihasilkan lebah memberi manfaat kepada banyak makhluk lain. Ini berbeda dengan lalat yang sembarangan dalam mencari makan.

Ia hinggap pada makanan di dapur, tapi juga tak masalah untuk hinggap di tempat sampah atau bahkan pada bangkai dan kotoran manusia. Karena itu, bagi manusia lalat identik dengan penyebaran penyakit. Dalam menjelaskan tentang cara memperoleh kekayaan yang berkah, Gus Ali menggunakan kerangka keagamaan, yakni bahwa semuanya harus berlandaskan nilai dan ajaran agama.

Artinya, bekerja itu mulai dari cara memilih sumbernya, proses mendapatkannya, hingga penggunaannya harus diliputi oleh nilai agama sebagai panduan moral hidup. Karena itu, dalam mem-buru kekayaan yang berkah, dalam bekerja kita harus memulai dengan selalu ingat (zikir) kepada Allah dan diliputi oleh semangat takwa.

Setelah berusaha dengan bekerja, kita juga harus rida dengan apa yang dianugerahkan Allah kepada kita. Ini adalah sikap dasar. Dalam bentuk laku konkret, agama mendorong agar kita bangun pagi-pagi benar untuk bekerja (etos), juga untuk berbagi rezeki yang diperoleh pada orang lain (halaman 84, 92).

Jika kerangka kebajikan agama memberi keberkahan hidup maka demikian pula sebaliknya. Hal-hal yang membuat kekayaan tidak berkah adalah hal-hal yang berseberangan dengan agama. Misalnya berbuat curang dalam berbisnis atau aniaya kepada orang lain, atau enggan bersedekah karena takut harta akan habis (halaman 109).

Buku ini bernilai penting karena kerangka keimanan dalam melihat kekayaan dan kerja akan menjadi panduan moral yang dapat menjadi penjamin mutu bagi keberkahan kekayaan itu sendiri. Jika kita belakangan melihat orang-orang kaya, tapi menjalani hidup yang hampa, sangat mungkin itu karena keberkahan tercabut dari hartanya.


Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 25 Oktober 2015.


Read More..

Senin, 19 Oktober 2015

Merawat Gairah Membaca


Mendapatkan sesuatu itu bisa jadi cukup mudah. Yang lebih sulit dari itu adalah mempertahankannya. Demikian kurang lebih ungkapan bijak yang pernah saya dengar. Benar, merawat sesuatu itu justru sering lebih sulit daripada mendapatkannya.

Membaca termasuk dalam masalah ini. Saat godaan kegiatan hidup sehari-hari semakin banyak, tidak mudah rasanya untuk mempertahankan gairah membaca. Apalagi jika levelnya masih berusaha untuk membentuk dan mengokohkan gairah membaca.

Saya sebenarnya masih belum merasa sebagai orang yang punya gairah membaca yang sangat baik. Saya tidak bisa bertahan sangat lama membaca buku, tidak seperti beberapa orang yang saya kenal yang bisa betah berjam-jam menekuri halaman-halaman buku. Satu jam membaca buku tanpa diselingi kegiatan lain bagi saya terasa cukup berat.

Biasanya saya menyelingi dengan kegiatan lain sekadar untuk mengambil jeda. Mungkin ini juga terkait dengan kemampuan dan daya tahan mata saya yang terganggu akibat kecelakaan dijatuhi kayu pada saat berusia 13 tahun.

Saat menyadari betapa masih banyak buku-buku penting di bidang yang saya minati yang masih belum saya baca, saya jadi berpikir bagaimana caranya agar kegiatan membaca ini bisa lebih terjaga demi mengokohkan dan merawat gairah membaca saya.

Kesadaran ini muncul bersamaan dengan perkenalan saya dengan media sosial khusus untuk pembaca buku, yakni Goodreads. Saat memasukkan judul-judul buku yang pernah saya baca tuntas, ternyata jumlahnya tidak sebanyak yang saya bayangkan. Sejak itulah saya berusaha membangun komitmen membaca secara lebih konsisten.

Teknisnya bagaimana? Dengan mempertimbangkan berbagai kegiatan saya yang lain, saya kemudian meneguhkan niat untuk minimal dalam satu tahun bisa menamatkan 12 judul buku. Artinya, satu bulan khatam satu buku. Agar lebih mudah, perhitungannya saya mulai sejak awal tahun. Setelah menamatkan membaca satu buku, saya catat data dan tanggal selesainya di Goodreads.

Bila ada hari-hari atau pekan-pekan yang sudah padat dengan berbagai kegiatan atau tugas kependidikan, biasanya saya akan cukup kesulitan untuk menamatkan satu buku. Kesibukan macam ini bisa berlangsung selama satu, dua, atau tiga bulan. Saya butuh jeda waktu yang cukup tenang untuk bisa menyelesaikan buku secara utuh.

Kadang juga faktornya terkait dengan pilihan buku. Gairah membaca, dalam pengalaman saya, sering terkait dengan pilihan buku yang disiapkan untuk dibaca. Ada jenis buku tertentu yang dapat lebih mudah memantik gairah membaca, bahkan di saat kesibukan cukup padat. Misalnya, saat menuntaskan buku Misteri Berserah Kepada Allah karya Ibn ‘Athaillah al-Sakandari (Penerbit Zaman) yang merupakan terjemahan dari kitab al-Tanwir fi Isqath al-Tadbir, yang saya baca di bulan September lalu. Juga buku Apple vs Google karya Fred Vogelstein terbitan Bentang yang saya baca Agustus lalu.

Komitmen mengkhatamkan buku minimal 12 judul dalam setahun cukup membantu untuk mengingatkan dan mendorong saya jika pada titik waktu tertentu target yang dipatok tampak mengkhawatirkan. Pada situasi seperti ini, kadang saya mengambil langkah pragmatis: saya memilih buku yang cukup tipis asal temanya masih masuk dalam bidang minat bacaan saya.

Dalam memenuhi target bacaan, saya juga berusaha mempertimbangkan variasi jenis buku. Misalnya, saya berusaha agar dalam satu tahun ada buku teks yang dapat menjadi rujukan tulisan ilmiah yang saya tuntaskan secara utuh.

Dengan target yang cukup sedikit itu, saya berusaha pilihan buku untuk buku-target ini bisa relatif ideal. Artinya, saya berusaha memilih buku yang bergizi, buku yang dikerjakan dengan cukup baik dan sungguh-sungguh, atau memiliki keunggulan yang lain. Kadang ada juga buku yang ternyata setelah dibaca jauh dari harapan karena isinya cukup bermasalah.

Ya, cukup banyak suka duka atau hal-hal yang saya temukan seiring dengan upaya membangun komitmen membaca ini pada beberapa tahun terakhir. Yang jelas, di kesadaran saya, sampai saat ini masih tertanam kuat bahwa masih banyak buku bermutu, buku legendaris, atau buku babon di bidang minat bacaan atau keilmuan saya yang masih menjadi target.

Tapi ternyata saya tidak sendiri. Ada, atau mungkin banyak, orang lain yang juga punya kegelisahan yang sama. Beberapa bulan lalu, saat Seno Gumira Adjidarma berkunjung ke Annuqayah untuk sebuah acara diskusi, dia juga menuturkan bahwa dia masih belum tuntas membaca beberapa karya sastra dunia terkemuka yang mestinya dia baca.

Jadi ini menjadi semacam hiburan buat saya. Tapi tentu, hiburan ini bisa menipu dan bisa melenakan jika saya kemudian jadi melupakan niat dan komitmen saya untuk merawat gairah membaca ini.

Namun demikian, saya juga perlu menggarisbawahi bahwa urusan membaca ini baru satu hal. Hal lain yang lebih penting juga masih banyak, seperti mengamalkan apa yang saya baca, membagikan apa yang saya baca kepada orang-orang di sekitar, dan sebagainya. Untuk hal-hal yang disebut terakhir ini, saya pikir saya juga sangat perlu membangun strategi untuk menguatkan tekad agar bisa mewujudkannya.


Read More..

Minggu, 04 Oktober 2015

Teladan Sultan Para Wali

Judul buku: Syekh Abdul Qadir Al-Jailani: Biografi Sultan Para Wali
Editor: Syekh Tosum Bayrak & Saleh Ahmad al-Syami
Penerbit: Zaman, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2015
Tebal: 250 halaman
ISBN: 978-602-1687-49-9


Di kehidupan komunitas muslim Indonesia sehari-hari, nama Syekh Abdul Qadir al-Jailani sangat terkenal. Hal ini tidak saja karena dia adalah pendiri Tarekat Qadiriyah yang punya banyak pengikut di seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Syekh Abdul Qadir juga menyandang gelar Sultan Para Wali. Karena itu, di pembukaan acara-acara doa bersama, masyarakat muslim tradisional Indonesia sering tidak lupa untuk turut mendoakan Syekh Abdul Qadir.

Dalam kepercayaan muslim tradisional, para wali (seperti Wali Songo yang sangat populer di Indonesia) dihormati karena mereka dipandang menyandang karamah dan menjadi penghubung silsilah keimanan mereka pada Islam. Lebih dari itu, para wali juga menjadi saluran “penghubung” (wasilah) spiritualitas dan doa pada Allah swt.

Buku ini memuat biografi singkat Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang ditulis oleh Syekh Tosum Bayrak dan Saleh Ahmad al-Syami. Selain biografi, buku ini juga memuat petikan terpilih dari karya-karya al-Jailani.

Al-Jailani hidup hampir persis sezaman dengan Imam al-Ghazali (450-505). Dia dilahirkan di al-Jil atau Jailan yang kini termasuk wilayah Iran pada tahun 470 dan meninggal pada tahun 562 dalam usia 92 tahun (hlm. 16, 71).

Pendidikan keagamaan dan spiritualitasnya diperoleh di Bagdad yang ketika itu menjadi pusat peraban Islam di masa Dinasti Abbasiyah. Al-Jailani tiba di Bagdad ketika ia berusia 18 tahun. Pada saat yang sama, al-Ghazali meninggalkan kota Bagdad di tengah krisis spiritual yang dialaminya.

Ada kisah menarik saat al-Jailani dalam perjalanan ke Bagdad. Dengan bekal harta peninggalan ayahnya yang juga dibagi dengan saudaranya, al-Jailani berangkat ke Bagdad dengan 40 keping emas. Sebelum berangkat, ibunya berpesan agar al-Jailani senantiasa jujur. Nah, di tengah perjalanan, rombongan al-Jailani dicegat oleh perampok. Dengan polos, al-Jailani memberi tahu bahwa ia membawa 40 keping emas di balik bajunya.

Setelah menggeledah dan membuktikan pengakuan al-Jailani, si perampok malah terkejut dan tertegun. Yang luar biasa, para perampok itu justru terilhami untuk bertobat. Oleh para penafsir kisah orang-orang suci, ini disebut sebagai pertanda keberkahan al-Jailani untuk menuntun orang ke jalan kebaikan (hlm. 18-19).

Sebelum memasuki kota Bagdad, al-Jailani dikisahkan dicegat oleh Nabi Khidir dan memberinya jalan pada penempaan spiritual di pinggiran kota Bagdad selama 6 tahun. Setelah lewat 6 tahun, mulailah al-Jailani belajar di Bagdad. Guru spiritual al-Jailani adalah Syekh Hammad ibn Muslim al-Dabbas. Ia juga belajar ilmu-ilmu agama kepada Ali Abul Wafa al-Qayl, Qadhi Abu Sa’id al-Mubarak ibn Ali al-Muharrimi, dan sebagainya. Dari yang terakhir inilah al-Jailani dianugerahi jubah darwis, simbol silsilah spiritualitas yang tersambung ke Nabi (hlm. 27-28).

Saat al-Jailani menerima banyak murid dan menjadi guru ruhani bagi mereka, al-Jailani memberikan teladan spiritual yang luar biasa. Dikisahkan bahwa al-Jailani pernah bertutur tentang dua belas sifat sebagai kriteria guru ruhani sejati. Dua di antaranya adalah menyembunyikan aib manusia dan bersedia memberi maaf untuk orang lain (hlm. 35). Sikap yang sangat lembut ini dilapisi dengan keikhlasan dan tawaduk yang luar biasa sehingga tak heran hingga sekarang banyak orang yang percaya akan keberkahan yang dipancarkan al-Jailani.

Hidup di tengah kota Bagdad yang menjadi pusat kekuasaan tidak membuat al-Jailani menjadi penjilat. Ia dikenal tak pernah berusaha mendekat apalagi berteman dengan penguasa. Dikisahkan bahwa ia tak pernah memberi penghormatan berlebihan pada penguasa yang melebihi penghargaan dan penghormatannya pada orang-orang biasa.

Ini menegaskan sikap para kaum spiritualis yang memandang kehidupan dunia dengan berbagai godaannya, seperti harta, kedudukan atau kekausaan, dan popularitas, sebagai potensi penghalang bagi tersucikannya diri.

Namun demikian, bukan berarti al-Jailani antidunia. Menurut al-Jailani, dunia haruslah dikejar sebagai kebutuhan pokok saja. Kebutuhan terhadap dunia, bagi al-Jailani, hanyalah sebatas bekal orang yang bepergian (hlm. 151). Ini berdasar pada pandangan bahwa dunia hanyalah sementara, sedang tujuan dari perjalanan adalah akhirat.

Al-Jailani memang tidak menulis banyak karya tulis. Ada 3 karya yang disepakati dinisbahkan kepadanya, yakni al-Gunyah, al-Fath al-Rabbani, dan Futuh al-Ghayb (hlm. 80). Namun demikian, al-Jailani penting dan berpengaruh terutama bukan lantaran karyanya tapi karena inspirasi keteladanan dalam hal spiritualitasnya.

Dalam konteks seperti itulah maka buku ini menjadi menarik dan penting untuk dibaca. Teladan orang-orang suci seperti al-Jailani yang memberi keteduhan dalam beragama dan merangkul mereka yang tersesat untuk kembali ke jalan kebaikan sangatlah penting untuk terus disampaikan, agar agama senantiasa tampak sebagai jalan yang memberi terang.


Tulisan ini dimuat di Harian Radar Madura, 4 Oktober 2015.


Read More..

Kamis, 03 September 2015

Ihwal Pembangunan


Melalui proses yang mungkin jarang diperhatikan, sebuah kata terkadang menjadi mantra. Maknanya dipahami begitu saja sebagaimana biasa dan apa yang tersimpul di balik makna kata itu dalam kehidupan yang nyata dipandang benar dan wajar adanya.

Sesekali, mari kita cubit nalar kita sedikit agar ia tidak lelap di antara sihir kerutinan hidup yang terus menguasai kita.

Misalnya tentang kata “pembangunan.” Secara kebahasaan, kata “pembangunan” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “proses, cara, perbuatan membangun.” Ia dipandang menggambarkan sesuatu yang baik—bahkan kadang harus dilakukan. Tapi apa jadinya jika kata “pembangunan” telah menjadi mantra?

Tadi siang, saat melintas di jalan menuju rumah saya di Desa Taro’an, Tlanakan, Pamekasan, saya melewati jalan yang sedang diperbaiki. Beberapa bulan lalu, jalan beraspal selepas kota Pamekasan menuju rumah saya ini penuh lubang. Persisnya, kerusakan parah ada di titik 3 kilometer menjelang rumah. Tapi sejak beberapa hari yang lalu jalan ini mulai diperbaiki. Ada beberapa kendaraan berat yang bekerja sepanjang hari. Truk-truk besar lalu-lalang mengangkut kerikil dan seperti pasir kasar yang digunakan untuk mempertinggi jalan.

Lebih dari itu, jalan yang sejak pertama kali saya lewati di akhir 2013 tak pernah diperbaiki itu tampaknya juga akan diperlebar, termasuk juga di sebelum jalan yang aspalnya rusak berat. Tanda-tanda pelebaran itu tampak dari pohon-pohon yang ditebang di kanan kiri jalan. Batang-batang pohon rebah di atas tanah.

Inilah poin yang ingin saya bicarakan. Pengaspalan jalan, termasuk pelebaran jalan, tentu saja adalah contoh dari apa yang disebut “pembangunan.” Orang-orang, termasuk saya tentunya, akan menikmati jalan yang nantinya akan nyaman dan lebar ini. Namun demikian, jika pembangunan harus meminta tumbal berupa ditebangnya pepohonan yang di antaranya sudah cukup rindang itu maka ini sudah dianggap biasa dan wajar.

Memang betul, segala sesuatu bisa memuat risiko. Ini adalah risiko pembangunan, tepatnya pelebaran jalan. Pohon-pohon yang tumbang itu, yang untuk bisa rimbun dan rindang tidak bisa disulap dalam waktu semalam, adalah harga yang harus dibayar untuk jalan yang nyaman dan lebar.

Namun jika “pembangunan” tidak kita inginkan sebagai serupa mantra, maka kita harus berpikir tentang risiko atau tumbal yang diakibatkannya. Artinya, pohon-pohon itu mestinya benar-benar kita pertimbangkan.

Sayang pepohonan itu tak bisa berbicara atau menggugat atas posisinya sebagai risiko pelebaran jalan. Jika pepohonan itu menjadi seperti Ent di trilogi The Lord of the Rings, mereka mungkin akan menunjukkan bahwa makna “pembangunan” bisa memberi sesuatu yang mungkin akan merugikan.


Read More..

Jumat, 28 Agustus 2015

Kosmopolitanisme Islam ala Gus Nadir

Judul Buku: Dari Hukum Makanan Tanpa Label Halal hingga Memilih Mazhab yang Cocok
Penulis: Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D.
Penerbit: Mizania, Jakarta
Cetakan: Pertama, Juni 2015
Tebal: xliv + 228 halaman


Ada anggapan bahwa hukum Islam itu kaku dan cukup sulit beradaptasi dengan perkembangan dunia. Melalui buku ini, Gus Nadir, panggilan akrab Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D., membuktikan bahwa anggapan itu keliru.

Buku ini sebagian besar berisi tanya-jawab tentang hukum Islam dengan mengambil latar situasi masa kini dan dunia global. Bertolak dari pengalaman tinggal di Australia selama 18 tahun, Gus Nadir mengangkat masalah-masalah sederhana di bidang hukum Islam yang biasa dialami sehari-hari di kehidupan modern, terutama di luar negeri.

Misalnya tentang hukum makanan tanpa label halal. Umat Islam yang pernah tinggal di luar negeri pasti akan merasakan masalah mencari makanan halal. Di Eropa, umat Islam biasanya akan berbelanja di toko-toko muslim Maroko atau Turki. Memang ada juga daging yang diberi label halal. Tapi bagaimana hukum daging tanpa label halal?

Dalam buku ini, Gus Nadir mengangkat kegelisahan seorang muslim Indonesia yang belajar di Australia tentang daging yang dibelinya di supermarket biasa dan tanpa label halal. Sebagian rekannya yang juga muslim jadi ragu untuk menikmati hidangan yang dibuatnya.

Atas situasi ini, Gus Nadir, yang memiliki 6 gelar akademik di bidang hukum dan hukum Islam, menjelaskan dengan cukup teperinci, termasuk dari sudut pandang beberapa mazhab hukum Islam. Misalnya, ada yang mewajibkan secara mutlak agar sembelihan itu dilakukan dengan menyebut nama Allah (basmalah). Namun begitu, Imam Syafi’ie memberi hukum sunnah. Yang dilarang adalah menyembelih dengan menyebut selain nama Allah karena itu seolah-olah berarti mempersembahkan sembelihan kepada selain Allah.

Ada lagi kisah yang agak lucu tapi bagi mereka yang pernah hidup di luar negeri pasti sudah terbiasa mengalaminya. Di luar negeri, selain di masjid, cukup sulit menemukan tempat berwudu seperti di Indonesia karena toilet yang ada berjenis toilet kering. Jadinya, jika berwujud di wastafel, seorang muslim harus mengangkat kakinya saat membasuh kaki. Selain terlihat geli, ini juga membuat lantai menjadi basah atau becek.

Gus Nadir menjelaskan bahwa dalam menerapkan syariat, Islam berprinsip untuk memudahkan pelaksanaan ajaran tertentu dalam situasi khusus seperti dalam kasus di atas. Untuk masalah ini, Gus Nadir merujukkannya pada contoh yang diberikan Rasulullah yang memperbolehkan mengusap khuff (sesuatu yang menutupi kaki sampai mata kaki baik berupa sepatu atau kaos kaki) saat berwudu. Nabi melakukan ini baik dalam status bermukin maupun saat di perjalanan. Tentu saja ada syarat dan ketentuan tertentu dan hal lain mengatur hal ini yang diuraikan dengan baik oleh Gus Nadir.

Selain masalah yang spesifik berkaitan dengan hukum Islam, Gus Nadir juga memaparkan tentang masalah keislaman secara umum, seperti ucapan selamat natal, mencari fatwa keagamaan (termasuk bertanya via Google), penghinaan terhadap Nabi Muhammad, dan sebagainya.

Gus Nadir juga mengangkat masalah Islam di Australia. Sebagaimana di masyarakat Barat Kristen pada umumnya, Islam kadang memang disalahpahami di Australia. Misalnya, pada tahun 2005, Menteri Pendidikan Australia, Brendan Nelson, menyarankan agar sekolah Islam di Australia mengadopsi Simpson values atau jika tidak they should “clear off”. Simpson values ini adalah nilai-nilai kepahlawanan yang merujuk pada legenda John Simpson Kirkpatrick (w. 1915).

Gus Nadir, yang kini mengajar di Fakultas Hukum Monash University, Australia, menyesalkan kecurigaan dan miskomunikasi Barat yang bahkan terjadi di kalangan pejabat teras ini. Nelson, tulis Gus Nadir, rupanya tidak tahu tentang kisah kepahlawanan tokoh muslim seperti Shalahuddin al-Ayyubi yang legendaris yang mencerminkan nilai-nilai Islam yang tak jauh berbeda dengan Simpson values yang dimaksud. Yang terjadi, lanjut Gus Nadir, bukanlah the clash of civilization, tapi the clash of ignorance.

Dari kasus-kasus hukum Islam sehari-hari dan politik di Australia pada khususnya, Gus Nadir dengan penguasaannya yang mendalam atas khazanah Islam klasik dalam buku ini berhasil menunjukkan wajah kosmopolitanisme Islam: bahwa dalam hal hukum, syariat Islam itu tidaklah kaku dan dapat hidup dengan selaras di era modern. Selain itu, Islam juga membawa nilai-nilai agung yang sangat relevan dan kontekstual hingga kini.

Penyampaiannya yang bersifat populer, yakni bermodel naratif dan penuh dengan dialog, membuat buku yang ditulis oleh lulusan Pesantren Buntet Cirebon putra almarhum Prof. K.H. Ibrahim Hosen ini renyah dicerna. Meski demikian, dengan referensi yang kaya dan otoritatif, jelaslah bahwa buku ini bukan karya sembarangan dan tak boleh disepelekan.


Tulisan ini dimuat di Koran Madura, 28 Agustus 2015.

Read More..

Kamis, 27 Agustus 2015

Senjata Orang-Orang Mukmin

Judul buku: Kitab Doa Tertua: Al-Ma’tsurat
Penulis: Abu Bakr al-Thurthusyi al-Andalusi
Penerbit: Zaman, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2015
Tebal: 478 halaman


Bagi seorang yang beriman, doa menjadi kunci penting dalam mengarungi tantangan hidup. Doa tidak saja memberi jawaban atas masalah keduniawian tapi juga atas masalah keakhiratan.

Buku ini adalah kitab klasik karya seorang ulama terkemuka dari Andalusia (Spanyol), yakni Abu Bakr al-Thurthusyi al-Andalusi (w. 520 H.). Buku memberi uraian yang sangat lengkap tentang doa, meliputi pengertian, manfaat, tata cara atau panduan, dan contoh-contoh doa Nabi yang semuanya bersumber dari rujukan otoritatif.

Doa pada dasarnya menjadi bagian pokok dari agama sehingga bernilai sangat penting bagi pemeluknya. Seorang mukmin adalah hamba Allah yang membaktikan seluruh hidupnya sebagai ibadah atau penghambaan kepada Allah. Erat dengan status seorang mukmin sebagai hamba, doa menurut Abu Bakr bisa bermakna penyembahan atau juga penghambaan (‘ibadah). Selain itu, doa juga bisa bermakna permintaan tolong (isti‘anah), memohon dan meminta, atau juga berarti panggilan.

Doa menjadi penanda penghayatan seorang mukmin. Dalam surah al-A‘raf ayat 55, setelah memberi perintah untuk berdoa, di akhir ayat Allah menyebutkan bahwa Dia tidak menyukai orang yang melampaui batas. Al-Qurthubi kemudian menafsirkan bahwa yang dimaksud orang yang melampaui batas adalah orang yang enggan berdoa. Keengganan untuk berdoa dipandang identik dengan kesombongan atau bahkan sikap menentang.

Dalam pengertian memohon atau meminta, doa adalah sebentuk komunikasi manusia dengan Tuhan. Karena itu, agar lebih sempurna, ada tata cara tertentu yang mesti diperhatikan. Ada yang berkaitan dengan sikap batin. Misalnya, sebelum berdoa, seseorang harus merendahkan dan memasrahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Demikian pula, harus ada kebulatan tekad dan optimisme selain rasa khusyuk. Bahkan, teladan dari para nabi, rasul, wali, dan orang saleh mengajarkan bahwa sebelum berdoa, kita memulai dengan bertobat atas maksiat dan pelanggaran yang telah diperbuat.

Tata cara berdoa yang bersifat lahiriah misalnya sebaiknya kita berdoa dengan suara lirih atau pelan. Ini seperti yang dikisahkan al-Qur’an saat Nabi Zakariya berdoa agar mendapatkan keturunan. Selain itu, berdasarkan hadis, berdoa dilakukan sambil menengadahkan tangan.

Dalam melafalkan doa, telah lazim diketahui bahwa sebaiknya dimulai dengan memuji dan mengagungkan Tuhan, kemudian dilanjutkan dengan mengucapkan shalawat atas nabi-Nya. Sementara itu, terkait redaksi doa, dikatakan bahwa memohon dengan cara halus lebih baik daripada terang-terangan sebagaimana telah banyak dicontohkan oleh para nabi, seperti Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan yang lainnya.

Sebagian ulama berpendapat bahwa memuji kepada Tuhan itu lebih utama daripada sekadar berdoa. Ini yang misalnya dapat kita temukan dalam kisah Nabi Yunus yang ditelan ikan besar. Al-Qur’an surah al-Anbiya’ ayat 87 merekam apa yang dibaca Nabi Yunus. Dari bacaan itu, kita melihat bahwa yang dilakukan Nabi Yunus bukan memohon, tapi mengesakan dan menyucikan Tuhan serta mengakui kesalahannya.

Abu Bakr menulis bahwa Allah telah memuliakan umat Nabi Muhammad saw dengan diturunkannya surah al-Fatihah yang sangat istimewa. Surah ini menjadi contoh yang sangat baik tentang doa karena paruh awalnya memuat pujian dan pengagungan, dan separuh sisanya memuat doa.

Abu Bakr juga menguraikan tentang waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa. Berdasarkan keterangan beberapa hadis, disebutkan bahwa di antara waktu yang mustajab adalah tengah malam, hari jum’at, antara azan dan iqamat, setelah shalat fardu, malam lailatul qadar, dan hari ‘Arafah.

Lebih dari separuh buku yang aslinya berjudul al-Du‘a’ al-Ma’tsur wa Adabuhu wa Ma Yajibu ‘ala al-Da‘i Ittiba‘uhu wa Ijtinabuhu ini memuat doa-doa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Ada banyak contoh doa, mulai dari yang sifatnya umum seperti tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir, atau juga doa yang sifatnya spesifik atau terkait dengan hal tertentu. Ada doa ketika mendengar azan, masuk rumah, mendengar kokok ayam, ditimpa kesusahan, digigit binatang beracun, naik kendaraan, ketika terkejut, dan sebagainya.

Melimpah dan beranekanya contoh doa Nabi ini di satu sisi menegaskan makna spiritual doa bagi seorang mukmin. Ini memberi gambaran ideal bahwa kehidupan seorang mukmin harus selalu diliputi oleh kepasrahan dan kebergantungan pada Zat Yang Mahakuasa yang kemudian terekspresikan melalui doa.

Keunggulan buku ini tidak saja terletak pada sumber rujukannya yang otoritatif, tapi juga pada kelengkapan uraiannya tentang berbagai segi doa. Selain itu, dalam menguraikan doa-doa Nabi, juga dijelaskan latar peristiwa yang ada di balik doa-doa tersebut.


Tulisan ini dimuat di Kabar Madura, 27 Agustus 2015.

Read More..