Selasa, 19 Mei 2015

Mutiara Pencerahan di Balik Kisah Jenaka

Judul buku: Tiada Sufi Tanpa Humor
Penulis: Imam Jamal Rahman
Penerbit: Serambi, Jakarta
Cetakan: Pertama, Maret 2015
Tebal: viii + 240 halaman


Masyarakat modern dengan kehidupan yang bernuansa materialistis sering digambarkan mengalami kehampaan makna hidup. Spiritualitas dalam diri mereka mati dan terabaikan. Tasawuf tampil sebagai jalan untuk menghidupkan unsur mendalam pada diri manusia.

Buku ini mengambil sudut pandang yang unik dalam mengajukan tasawuf sebagai langkah reflektif menuju penyucian diri. Buku ini mengemukakan humor sebagai hal yang merupakan dasar kesamaan di antara berbagai aliran sufi yang ada. Menurut penulis buku ini, secara umum kaum sufi sering tertawa. Pada saat yang sama, banyak hikmah-hikmah tasawuf dituturkan melalui tokoh Nasruddin Hoja atau Sang Mullah yang digambarkan sebagai orang bahlul (hlm. 3-5).

Imam Jamal Rahman, penulis buku ini, percaya bahwa campuran antara kejenakaan dan kebahlulan dapat menerbitkan kebijaksanaan. Untuk itu, penulis menghimpun kisah-kisah jenaka yang populer di dunia tasawuf dan kemudian disusun secara tematis dalam buku ini. Ada 48 bab singkat yang terangkum dalam 9 tema besar. Di antaranya tentang kondisi manusia yang fana, perubahan dalam kesadaran, latihan spiritual, dan aktif dalam dunia. Meski sebagian besar kisah-kisahnya fiktif, namun nilai inspiratifnya tak dapat disepelekan.

Saat mengangkat tema tentang cara mengubah diri dalam kerangka spiritualitas, penulis menekankan bahwa spiritualitas adalah pengalaman langsung. Penulis mengangkat kisah seorang anak dokter yang mendapat tugas untuk membersihkan jamban di pondokan sufinya. Karena tahu bahwa jamban penuh dengan penyakit, sang ayah mengirimkan 12 budak Ethiopia untuk menggantikan tugas anaknya. Pada titik ini sang guru sufi memberi pertanyaan retoris: “Jika anakmu terkena radang empedu, apa kau akan memberikan obatnya pada seorang budak Ethiopia?” (hlm. 38-40).

Kisah ini menyinggung orang yang ingin mengubah dirinya tapi hanya berhenti di tingkat pemahaman yang bersifat formal. Padahal, inti perubahan ada pada diri, tepatnya pada pengalaman diri terjun pada jalan perubahan tersebut.

Di tingkat pemahaman pun, bahkan ada orang yang enggan menerima informasi atau pengetahuan yang dirasa akan merugikan bagi dirinya, tapi di saat yang lain dia dengan senang hati akan menerima informasi serupa bila dirasa akan menguntungkan. Inilah yang disebut dengan kebenaran selektif.

Alkisah seorang tetangga Mullah ragu untuk meminjamkan pancinya pada Mullah. Namun setelah dipinjamkan dan kemudian dikembalikan, Mullah memberi dua panci. Mullah bilang, panci itu hamil dan melahirkan saat dipinjamnya. Beberapa bulan kemudian, saat kembali meminjam panci, ternyata Mullah tidak mengembalikan panci itu. Katanya, pancinya meninggal saat proses melahirkan. Si tetangga protes bahwa itu tidak mungkin. Tapi Mullah mempertanyakan mengapa dulu si tetangga percaya bahwa pancinya bisa hamil (hlm. 79).

Perubahan diri sering membutuhkan keteguhan dan kesungguhan. Saat seseorang mengalami perasaan negatif, ego yang terluka perlu berusaha keras untuk keluar dari situasinya. Tapi kadang orang enggan untuk bertahan dalam situasi yang tidak mengenakkan dalam proses perubahan diri. Ini tecermin dalam kisah yang diangkat oleh Rumi tentang seorang pria yang ingin punya tato singa di bahunya. Saat jarum ditusukkan, si pria melolong kesakitan dan bertanya bagian singa mana yang sedang dikerjakan. Saat dijawab bahwa itu adalah bagian ekor, si pria bilang bahwa singanya tak usah ekor saja. Demikian seterusnya hingga akhirnya tato gagal dibuat (hlm. 144-145).

Meski kisah-kisah jenaka dan reflektif dalam buku ini sumbernya beragam dan tidak faktual, di setiap bab penulis buku ini menyajikan kutipan hikmah dari al-Qur’an, hadis, atau aforisme tokoh-tokoh sufi terkemuka terkait tema yang sedang diangkat. Sumber hadisnya diambil dari kitab hadis yang otoritatif. Selain itu, penulis juga memberi panduan praktis bagaimana untuk melatih hal yang terkait tema yang diangkat.

Saat mengangkat tema syukur, misalnya, penulis di antaranya memandu dengan latihan agar kita secara rutin membuat ritual bersyukur sebelum tidur. Kita diajak menghitung kenikmatan apa saja yang sudah diterima dalam satu hari. Melakukan hal ini, menurut guru sufi, sama dengan menciptakan bulu dan sayap pada burung rohani kita untuk terbang menjumpai Tuhan (hlm. 123).

Jika berbicara tentang perubahan diri, pendidikan karakter, atau bahkan revolusi mental, buku ini sangat tepat untuk dinikmati dan dijadikan bahan pengaya dan penuntun menuju perubahan sejati yang nyata.


Versi yang lebih pendek dari tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 19 Mei 2015.

Read More..

Minggu, 26 April 2015

Chomsky Menelanjangi Amerika


Judul buku: How the World Works
Penulis: Noam Chomsky
Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Februari 2015
Tebal: xii + 444 halaman


Kalau ditanya tentang siapa sekarang penguasa dunia, orang akan mudah menjawab: Amerika. Supremasi Amerika atas negara-negara lain begitu mudah dibaca. Negara yang penduduknya hanya 5% dari total populasi dunia itu mengonsumsi 40% sumber daya bumi. Selain itu, saat ini Amerika punya 700 pangkalan militer di luar negeri.

Meski buku buah gagasan Noam Chomsky ini dari segi judulnya tampak bermaksud untuk membahas tatanan-kerja dunia saat ini, sesuatu yang mungkin terkesan bersifat umum, tak pelak Chomsky nyatanya sedang fokus menelanjangi Amerika. Profesor linguistik dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) ini menyatakan bahwa Amerika “muncul dari Perang Dunia II sebagai kekuasaan global pertama dalam sejarah.” Sejak itulah, Amerika merancang sejumlah kebijakan politik luar negeri pada khususnya yang dimaksudkan untuk mempertahankan supremasinya itu.

Chomsky mengungkap dokumen racikan George Kennan, kepala staf perencanaan Departemen Luar Negeri Amerika yang memegang kendali hingga tahun 1950. Di situ disebutkan dengan jelas bahwa Amerika menaruh perhatian yang besar untuk mempertahankan pola hubungan yang menguntungkan mereka, yakni disparitas yang membuat mereka menguasai sekitar separoh kekayaan dunia. Untuk tujuan itu, Amerika tak segan menyebut ide-ide tentang demokrasi dan hak asasi manusia sebagai penghambat.

Strategi dan contoh diungkap Chomsky dalam buku ini dengan terang benderang. Amerika, jelas Chomsky, telah menyiapkan desain setelah Perang Dunia II yang memetakan negara-negara di seluruh dunia untuk mendukung supremasinya. Jerman dan Jepang, misalnya, yang telah berperan penting dalam Perang Dunia II, akan bekerja di bawah pengawasan Amerika. Sementara itu, negara dunia ketiga akan menjadi sumber utama bahan mentah dan sekaligus pasar.

Ancaman utama tatanan dunia baru di bawah pimpinan Amerika adalah nasionalisme. Pemerintahan nasional bekerja untuk memenuhi dan meningkatkan mutu kehidupan warganya sehingga dapat bertentangan dengan kepentingan investasi Amerika. Di antara strategi dasar Amerika untuk mengatasi hal ini adalah aliansi dengan militer dalam negeri. Atau juga dengan jaringan mafia. Jika tidak berhasil, kekuatan militer Amerika tak segan untuk langsung masuk ke dalam.

Ini dapat kita saksikan pada kasus intervensi Amerika dalam Perang Vietnam. Dari kasus ini pula, kita bisa melihat bahwa dalam kerangka pandang Amerika, tak ada wilayah yang dapat disepelekan. Poin utamanya bukan seberapa besar kekuatan perlawanan itu, tapi jangan sampai penolakan terhadap fungsi penyuplai dan fungsi pasar ala Amerika dapat menginspirasi bangsa-bangsa lain untuk melakukan gerakan perlawanan serupa.

Salah satu perhatian utama Chomsky, yang juga menulis karya berjudul Manufacturing Consent (1988), atas tatanan dunia baru Amerika ini berkaitan dengan masalah propaganda. Istilah ini menggambarkan bagaimana kesadaran masyarakat dirancang, diarahkan, dan dikendalikan sedemikian rupa sehingga dapat tunduk dan takluk menurut kehendak si perancang.

Untuk kepentingan propaganda ini, dibuatlah pemaknaan-pemaknaan baru atas konsep-konsep kunci yang penting, seperti istilah globalisasi ekonomi, demokrasi, komunisme, terorisme, proses perdamaian, dan sebagainya. Globalisasi ekonomi misalnya adalah penghalusan istilah untuk menggambarkan ekspor pekerjaan ke wilayah-wilayah dengan tingkat penindasan tinggi dan sistem pengupahan yang rendah.

Istilah komunisme dan terorisme dirancang dan dilekatkan pada kelompok-kelompok yang mengganggu misi kapitalisme Amerika dan perusahaan-perusahaan transnasional. Gerakan berbasis rakyat akan digiring ke dalam stigma negatif komunisme. Lalu, ketika komunisme Soviet mulai melemah, istilah terorisme internasional mulai diperkenalkan. Melalui propaganda, istilah “terorisme” dirancang untuk merujuk pada aksi politik kaum oposisi/marginal di luar mainstream politik dunia yang menentang kebijakan dan kepentingan politik Amerika bersama korporasi yang berada di belakangnya.

Gagasan-gagasan Chomsky dalam buku ini yang sebagian besar tersaji dalam bentuk wawancara memang kebanyakan berasal dari dekade 1990-an. Namun, jika pembaca mencermati gagasan dan contoh yang dipaparkan dengan baik, kita akan menemukan bahwa analisis Chomsky masih sangat aktual. Analisisnya bahkan mungkin jauh lebih mendalam daripada ulasan pengamat politik saat ini.

Walhasil, uraian bernas Chomsky dalam buku ini membawa kabar buruk bagi kita bahwa tatanan dunia saat ini tidaklah setara dan jauh dari prinsip keadilan. Demokrasi dan nilai kemanusiaan lebih sering tampil sebagai retorika.

Tapi Chomsky tak berhenti di situ. Ia juga mengulas bagaimana perubahan dimungkinkan. Dalam hal ini, Chomsky mengritik kaum elite yang cenderung suka mencari jawaban ajaib atas krisis demokrasi yang dihadapi. Bagi Chomsky, tak ada jawaban ajaib yang bersifat instan. Jawabannya harus diperoleh secara spesifik di lapangan dengan landasan dedikasi yang penuh oleh mereka yang mau terlibat. Kecenderungan terkini, orang-orang dijauhkan dari keinginan untuk terlibat pada proses-proses perubahan yang memang menuntut militansi tinggi. Tambahan lagi, orang-orang dilupakan untuk merevitalisasi sumber daya kultural yang dimiliki.

Selain itu, Chomsky juga mengritik gerakan-gerakan perubahan yang sifatnya sporadis dan tak memiliki agenda jangka panjang yang jelas setelah reformasi terjadi. Bagian ini tampak sangat relevan dengan kondisi kekinian Indonesia. Tujuh belas tahun reformasi, masyarakat Indonesia tampak masih terombang-ambing dan tak menemukan arah.

Dalam arus perubahan politik di Indonesia yang kian intensif, buku ini penting dibaca karena sekaligus memberi kerangka pandang situasi global secara tajam (yakni supremasi Amerika dan hegemoni korporasi) dan juga dapat memberi inspirasi untuk hal-hal yang lebih spesifik dalam proses perubahan Indonesia menuju ke tatanan yang lebih baik.

Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 26 April 2015.


Read More..

Kamis, 09 April 2015

Pesan Moral Nabi dalam Ilustrasi

Judul buku: 40 Sabda Nabi 40 Ilustrasi
Penulis: Hasan Aycin
Penerbit: Zaman, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2015
Tebal: 86 halaman


Pikiran manusia bekerja secara visual. Menghadapi deretan abjad yang berbaris, pikiran akan mengubah huruf-huruf tersebut menjadi gambar. Karena itu, dalam ilmu pendidikan mutakhir, ilustrasi mendapatkan tempat yang istimewa untuk membantu anak-anak agar lebih mudah menyerap butir-butir pengetahuan. Ilustrasi tidak sekadar dilihat sebagai pelengkap teks yang menarasikan sesuatu. Ilustrasi diperlakukan sebagai salah satu kunci penting tertanamnya pemahaman pada diri seseorang.

Buku tipis ini memuat 40 hadis nabi terpilih yang masing-masing dilengkapi dengan ilustrasi. Di satu sisi, buku ini melanjutkan tradisi baik para ulama untuk menghimpun 40 hadis terpilih dalam satu buku. Dalam khazanah klasik, kita mengenal kitab al-‘Arba‘in al-Nawawiyyah karya Imam Nawawi (ulama abad ke-7 H) yang memuat 40 hadis pilihan yang hingga kini terus dibaca oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia.

Dari segi tema, hadis-hadis yang terhimpun dalam buku ini mengangkat tema dorongan untuk meningkatkan kesalehan kepada Allah dan anjuran untuk meningkatkan hubungan baik dengan sesama makhluk. Dengan kata lain, bisa disebut buku ini memuat pesan-pesan moral dalam bergaul dengan Sang Khalik (hablunminallah) sekaligus juga dengan makhluk (hablunminannas).

Dua tema besar tersebut tentu saja merupakan tema abadi dalam narasi keagamaan maupun kemanusiaan sehingga tampak jelas nilai aktual dan relevansi pesan-pesan hadis yang termuat dalam buku ini. Hadis yang keenam belas dalam buku yang disusun oleh Hasan Aycin ini, misalnya, menuturkan pesan yang sangat tepat dalam konteks era informasi saat ini. Hadis tersebut dalam bahasa Indonesia diterjemahkan: “Cukuplah berdosa seseorang jika ia menceritakan apa saja yang didengarnya (kepada orang lain).”

Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud ini mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam menyebarkan informasi. Orang yang langsung meneruskan informasi yang dia terima bisa saja akan tercatat sebagai orang yang berbuat dosa. Hadis ini menegaskan pentingnya konfirmasi dan verifikasi informasi, baik dari segi isi maupun pembawa berita. Saat banjir informasi begitu mudah tersebar secara viral melalui media internet, seseorang kadang tak sadar bahwa membagi informasi yang belum diperiksa kebenarannya akan mengantarkannya pada status sebagai “penjaja dusta”.

Ilustrasi yang melengkapi hadis ini juga menarik. Tampak sosok orang setengah badan menghadap ke kiri, kepalanya terlihat plontos, bajunya cukup rapi. Lalu di telinganya ada puluhan panah kecil yang masuk yang kemudian diteruskan keluar ke mulutnya yang sedikit menganga.


Akhlak bergaul dengan orang lain juga menjadi tema yang ditampilkan dalam beberapa hadis pilihan di buku ini—selain dari hadis di atas. Ada hadis yang mengingatkan agar kita berhati-hati dengan prasangka. Ada pula hadis yang menegaskan bahwa seorang muslim wajib menjaga lisannya agar jangan sampai menyakiti orang lain. Demikian juga, ada hadis yang mengingatkan bahwa lebih baik diam jika apa yang terlontar dari mulut kita bukanlah kata-kata yang baik atau menebar kebaikan.

Dorongan untuk berperilaku sopan juga dituturkan dalam beberapa hadis dalam buku ini. Ada hadis yang menyatakan bahwa memperlihatkan wajah yang berseri di hadapan orang lain juga akan dihitung sebagai sedekah. Juga ada hadis yang mengingatkan kita untuk juga menghormati orang lain, bahkan kepada anak kecil.

Akhlak yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan kemasyarakatan juga dapat kita temukan dalam buku ini. Ada hadis yang menyatakan bahwa seseorang yang baik adalah yang makan dari hasil kerja tangannya. Ilustrasi untuk hadis ini menggambarkan lukisan abstrak seperti pohon dengan akar dan ranting yang bentuk pokoknya seperti tangan dengan jari-jari yang mengembang. Dari tiap jemari itu muncul ranting-ranting kecil yang ditumbuhi daun. Ilustrasi ini seperti hendak menegaskan nilai keberkahan dari hasil jerih payah seseorang.


Dorongan untuk hidup mandiri secara ekonomi ini juga ada dalam hadis yang lain yang menegaskan bahwa “tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah.”

Sedangkan tentang peribadatan kepada Allah, buku ini menyebutkan hadis tentang keutamaan shalat yang tepat waktu yang disebutkan sebagai amal yang paling disukai Allah. Nabi juga menegaskan bahwa shalat adalah mikrajnya orang mukmin. Dalam shalat, seorang mukmin berjumpa dengan Tuhan. Di situlah keintiman spiritualitas seseorang dirajut.

Hadis-hadis yang pendek dan sederhana yang termuat dalam buku ini dipilih dari sumber-sumber terkemuka, seperti dari riwayat-riwayat Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasai, dan sebagainya. Selain muatan pesan yang mudah ditangkap karena dukungan ilustrasi yang tak kalah menarik, tiap hadis dalam buku ini juga diterjemahkan dalam bahasa Inggris sehingga bisa menjadi bahan pembelajaran tersendiri bagi pelajar.

Melalui himpunan hadis-hadis dalam buku ini, pesan-pesan moral Nabi Muhammad saw yang agung terpancar kembali untuk para pembaca di abad yang semakin membutuhkan bimbingan spiritual-keagamaan ini.


Tulisan ini dimuat di Harian Kabar Madura, 9 April 2015.

Read More..

Selasa, 27 Januari 2015

Pantulan Cahaya dari Pribadi Agung

Judul buku: 60 Orang Besar di Sekitar Rasulullah saw: Serial Kisah Rasul dan Para Sahabat
Penulis: Khalid Muhammad Khalid
Penerbit: Mizania, Bandung
Cetakan: Pertama, September 2014
Tebal: 778 halaman


Sosok Nabi Muhammad saw. merupakan pribadi yang sangat dikagumi oleh banyak pihak. Michael H. Hart, seorang ilmuwan Amerika, dalam bukunya yang legendaris berjudul The 100 menempatkan Nabi Muhammad di urutan pertama sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah. Menurut Hart, sebagai nabi pembawa agama Islam, Muhammad telah memberi warna yang sangat penting pada perkembangan sejarah dunia.

Di kalangan umat Islam, penghormatan terhadap Nabi Muhammad tentu saja lebih jelas terlihat. Kaum muslim meyakini bahwa beliau adalah teladan kebajikan (uswah hasanah) yang mencerminkan inti ajaran Islam. Karena itu, seruan untuk meneladani kepribadian dan perilaku Nabi Muhammad selalu muncul di komunitas muslim.

Dalam kerangka keteladanan pribadi agung Nabi Muhammad saw itulah buku ini menunjukkan nilai pentingnya. Buku ini sebenarnya memuat 60 kisah para sahabat Nabi. Tapi, dengan mempelajari kehidupan para sahabat Nabi tersebut, pembaca buku ini secara tidak langsung dapat memperoleh pantulan cahaya dari pribadi agung Nabi Muhammad.

Bagaimanapun, para sahabat Nabi itu—terlepas dari segala kekurangannya sebagai manusia biasa—memiliki akses pertama untuk mendapatkan bimbingan dari Nabi Muhammad sehingga kepribadian mereka lebih mudah untuk menghayati nilai-nilai Islam. Di sisi lain, para sahabat Nabi secara umum memiliki tingkat ketulusan yang mendalam dalam keputusannya memilih keyakinan Islam karena pilihan tersebut di awal perkembangan Islam secara umum bukanlah pilihan yang populer dan nyaman secara politis.

Enam puluh sosok sahabat Nabi yang dikisahkan dalam buku ini memiliki sisi menarik yang beragam, termasuk juga dalam statusnya sebagai pantulan cahaya pribadi agung Nabi. Di antara mereka, misalnya, ada Zaid ibn Haritsah, yang darinya kita bisa membayangkan keagungan pribadi Nabi Muhammad saw.

Zaid yang berasal dari Bani Ma‘n suatu ketika tertawan dalam serangan suku lain sehingga kemudian dijual sebagai budak di Mekah. Ia dibeli oleh keponakan Khadijah, istri Nabi, yang kemudian menghadiahkannya kepada bibinya. Khadijah lalu memberikan Zaid kepada suaminya. Muhammad, yang ketika itu masih belum menerima wahyu dari Allah swt., langsung memerdekakan Zaid.

Selang beberapa lama kemudian, orangtua Zaid berhasil mendapatkan informasi tentang keberadaan Zaid dan ia lalu mendatangi Nabi di Mekah. Orangtua Zaid bermaksud untuk menebus anaknya dari Nabi. Tapi Nabi justru menolak dan memberi tawaran lain. Nabi menawarkan agar Zaid diberi pilihan: apakah ia akan kembali ke kampungnya atau tetap bersama Nabi. Jika memang Zaid mau pulang bersama orangtuanya, Nabi tak perlu mendapatkan tebusan.

Ternyata Zaid memilih untuk tinggal bersama Nabi. Alasannya sederhana: Zaid merasa mendapatkan perlakuan dan perhatian yang luar biasa dari Nabi. Zaid merasakan secara langsung kelembutan dan keagungan pribadi Nabi.

Di antara teladan yang ditunjukkan Nabi adalah kemampuannya untuk tidak terikat pada pesona dunia dan tetap hidup sederhana. Dalam buku ini, banyak sekali sahabat Nabi yang digambarkan memiliki sifat zuhud dan wara’. Salman al-Farisi, misalnya, pada saat menjadi Gubernur Madain menunjukkan teladan kesederhanaan yang luar biasa. Meski ia di negeri asalnya, Persia, berasal dari keluarga terpandang dan berada, ia tak ragu untuk mendermakan gajinya sebagai pejabat kepada yang lebih membutuhkan dan memilih hidup seadanya.

Teladan serupa bernama ‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Ia dikenal sebagai sahabat yang memiliki naluri bisnis yang hebat. Saat baru tiba di Madinah, ia hanya minta ditunjukkan pasar, lalu dari situ ia bisa sukses berniaga. Tapi ‘Abdurrahman ibn ‘Auf tidak menjadi budak dari hartanya. Ia dikenal sangat dermawan dan hidup zuhud, hingga konon orang akan kesulitan membedakan penampilannya saat ia sedang bersama pelayannya.

Sahabat Nabi lainnya yang cukup dikenal bernama Abu Dzar al-Ghifari. Ia berasal dari suku pembegal. Makanya Nabi heran saat ia mendatangi Nabi dan menyatakan hendak masuk Islam. Abu Dzar, yang tercatat memeluk Islam pada masa-masa awal, kemudian dikenal sebagai sahabat Nabi yang tegas dan tidak segan untuk menegur kaum muslim lainnya yang dianggap melenceng dari teladan Nabi. Dikisahkan, Abu Dzar pernah menegur Mu‘awiyah dan ‘Utsman ibn ‘Affan karena sebagai pejabat tampak mengabaikan nilai-nilai zuhud dan kesederhanaan.

Dibandingkan dengan buku-buku tentang sahabat Nabi yang lain, buku yang ditulis oleh cendekiawan-sosiolog Mesir ini memiliki kelebihan dari segi gaya tuturnya yang menyentuh. Buku yang berjudul asli Rijal Hawlarrasul ini seolah ingin menggugat emosi pembaca agar keagungan Nabi benar-benar terasa.

Di tengah krisis keteladanan yang mendera bangsa ini, kehadiran buku ini patut disambut dengan baik. Dengan menyelami kisah para sahabat Nabi dalam buku ini, diharapkan nilai-nilai kenabian dapat lebih mudah dipahami, dipraktikkan, dan disebarkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tulisan ini dimuat di Harian Kabar Madura, 27 Januari 2015.

Read More..

Jumat, 23 Januari 2015

Fenomenologi Stigma Terorisme Islam

Judul buku: Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam?: Sebuah Narasi Sejarah Alternatif
Penulis: Graham E. Fuller
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, November 2014
Tebal: 406 halaman


Saat Islam kerap dihubung-hubungkan dengan kekerasan dan terorisme, adakah jalan lain untuk menyangkalnya selain dari paparan normatif pandangan dunia Islam yang inklusif dan praktik toleran dalam sejarah Islam?

Buku ini mencoba memberi ulasan alternatif yang cukup menyeluruh tentang posisi Islam dalam isu-isu kekerasan dan terorisme dengan meletakkannya dalam terang sejarah peradaban dunia. Penulisnya, Graham E. Fuller, yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Intelijen Nasional di CIA, mencoba menawarkan eksperimen berpikir dengan skenario alternatif andai Islam tidak pernah ada.

Kesimpulan utamanya adalah bahwa faktor-faktor geopolitik yang lebih intens menjadi faktor pertentangan Barat dengan Timur yang sudah ada sebelum Islam. Dalam kerangka pertentangan yang terbentuk lebih awal dan lebih mendalam inilah, Islam dipergunakan sebagai bendera yang berperan sebagai pemersatu yang sangat efektif dalam tataran praktis.

Metode eksperimen berpikir yang digunakan Fuller terilhami dari salah satu metode kerja intelijen. Caranya, kita membayangkan sebuah peristiwa penting di masa depan dengan skenario agak teperinci tentang jalan peristiwa tersebut. Tujuannya untuk melihat kemungkinan kecil yang sebelumnya tak terpikirkan yang ternyata dapat mendorong terjadinya hal yang sangat penting itu.

Secara metodologis, perspektif ini mirip pendekatan fenomenologis. Pembaca diajak meletakkan Islam sebagai sebuah agama dan ideologi ke dalam tanda kurung, lalu berbagai konflik besar dalam sejarah dunia dilihat secara lebih sederhana. Dalam bahasa Fuller, buku ini mengajak pembaca untuk men-de-Islami-kan persepsi tentang konflik-konflik tersebut dan melihatnya sebagai masalah sosial dan politik manusiawi yang bersifat universal. Dalam bahasa fenomenologi, mengembalikan peristiwa-peristiwa itu ke dunia pra-reflektif atau Lebenswelt (dunia keseharian) sebelum dikerangkakan dalam bingkai ideologi.

Dengan cara pandang seperti ini, Fuller menemukan bahwa Timur Tengah tanpa Islam tetap akan berpotensi mencurigai Barat. Kekuatan pengganti Islam dalam berhadapan dengan Barat adalah Kristen Ortodoks Timur, yang dalam pikiran Fuller akan mendominasi kawasan Mediterania dan Timur Tengah andai tak ada Islam. Sikap anti-Barat Gereja Ortodoks Timur dinarasikan panjang lebar oleh Fuller yang lalu tampak mirip sekali dengan sikap umat Islam terhadap Barat.

Di antara uraiannya, Fuller mengutip potongan pidato Paus Urbanus II pada 1095 yang menjadi titik mula Perang Salib. Fuller menggarisbawahi bahwa dalam pidatonya, Paus Urbanus II tidak spesifik menyebut musuh mereka itu kaum muslim. Musuh dan penindas kaum Kristen adalah agama apa pun di luar agama Kristen. Terbukti, dalam Perang Salib kaum Barat juga menunjukkan sikap agresif pada kaum Gereja Ortodoks Timur bahkan juga pada kaum Yahudi.

Kristen Barat yang menjadi musuh Islam dalam Perang Salib digambarkan secara kontras dengan kaum Kristen Timur yang telah lama hidup berdampingan secara damai dengan umat Islam, termasuk juga dengan Yahudi. Bahkan Fuller mencatat bahwa kaum Yahudi pernah berperang membantu umat Islam menghadapi serbuan Tentara Salib. Hal ini menegaskan bahwa agama bukanlah faktor terpenting.

Saat ini, konfrontasi Barat dan Timur terus berlangsung. Di antara wakil Timur adalah Rusia. Rusia, seperti negara-negara Eropa Timur yang kerap masih dianggap sebagai dunia yang berbeda dengan Eropa Barat, dipandang sebagai pewaris ortodoksi Timur.

Menurut Fuller, adopsi negara Rusia pasca-Soviet atas Gereja Ortodoks lebih terkait dengan problem identitas nasional, mirip dengan penggunaan Islam sebagai identitas pemersatu di Timur Tengah untuk menghadapi Barat. Karena itu, tak heran jika beberapa tahun yang lalu Parlemen Rusia mengesahkan undang-undang yang membatasi kebebasan dakwah asing yang ditujukan pada Kristen Barat, bukan Islam.

Upaya Fuller untuk memarkir sementara ideologi agama, dalam hal ini Islam, dalam memahami konflik dan terorisme dan melihatnya secara fenomenologis dapat dipandang sebagai upaya untuk melucuti stigma terorisme Islam. Stigma ini telah menyesatkan pandangan banyak pihak dan membuat solusi yang tepat dan manjur atas peristiwa dan potensi konflik dan terorisme tak kunjung ditemukan.

Di bagian akhir, Fuller mengajukan beberapa langkah praktis yang harus dilakukan Barat, khususnya Amerika, atas dasar perspektif yang dikembangkan dalam buku ini. Misalnya, campur tangan militer Amerika di Dunia Islam harus dihentikan. Bagi Fuller, 700 pangkalan militer Amerika di luar negeri sangatlah provokatif dan menyumbang bagi terciptanya konflik dan terorisme.

Buku karya Fuller yang kini menjadi guru besar sejarah di Simon Fraser University, Kanada, ini adalah sebuah langkah introspeksi Barat yang patut diapresiasi untuk membuka jalan bagi pandangan berimbang demi masa depan dunia yang damai.


Versi yang sedikit berbeda dengan tulisan ini dimuat di Majalah Gatra, 22-28 Januari 2015.


Read More..

Kamis, 15 Januari 2015

Resep Kaum Sufi untuk Transformasi Diri

Judul buku: Psikologi Sufi untuk Transformasi Hati, Jiwa, dan Ruh
Penulis: Robert Frager, Ph.D.
Penerbit: Zaman, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2014
Tebal: 372 halaman


Ritme kehidupan manusia modern melaju dengan kecepatan tinggi. Rutinitas sehari-hari nyaris tak memberi jeda untuk sejenak merenung dan mengevaluasi terkait hal-hal mendasar yang sifatnya substansial. Tak heran, manusia modern kerap dihinggapi keterasingan.

Buku yang ditulis oleh Robert Frager, seorang mursyid yang juga doktor psikologi dari Harvard University, ini memberikan uraian sistematis untuk membawa pembacanya pada refleksi ke sisi terdalam diri manusia. Untuk masuk ke wilayah tersebut, Frager yang juga dikenal dengan nama Syekh Ragip al-Jerrahi ini tidak menggunakan perspektif psikologi Barat. Ia menggunakan pendekatan tasawuf.

Menurut Frager, psikologi Barat memiliki sejumlah kelemahan untuk bisa menyelam ke kedalaman diri manusia. Di antaranya, psikologi Barat menempatkan kesadaran rasional sebagai puncak kesadaran manusia. Selain itu, dalam kerangka psikologi Barat, perasaan akan identitas yang ditandai dengan harga diri dan perasaan yang kuat akan jati diri ego sangatlah penting. Padahal, itu semua akan menjelma tabir yang menghalangi diri manusia dengan Tuhan, unsur terpenting dalam pandangan dunia tasawuf (hlm. 38-41).

Salah satu kelebihan buku ini adalah uraiannya yang sangat sistematis. Setelah secara umum menjelaskan sudut pandang tasawuf dan perbedaannya dengan psikologi Barat dalam melihat manusia, Frager secara tertata menguraikan tiga unsur mendasar manusia, yakni hati, diri (nafs), dan ruh.

Dalam menjelaskan tentang hati, Frager menggunakan uraian sufi terkemuka, al-Hakim al-Tirmidzi, tentang empat stasiun hati. Menurut al-Tirmidzi, manusia memiliki empat stasiun hati, yakni dada (shadr), hati (qalb), hati-lebih-dalam (fu’ad), dan lubuk-hati-terdalam (lubb). Tiap stasiun menggambarkan tingkat spiritualitas yang berbeda. Dada (shadr) merupakan titik mula cahaya Islam yang menjadi tempat pertempuran kekuatan positif dan negatif. Jika kekuatan positif menang, unsur ilahiah dalam hati yang merupakan pusat spiritual akan menyala dan berkembang sehingga orang itu naik tingkat menjadi seorang mukmin (hlm. 64-66).

Di sisi lain, ada nafs (diri) yang dalam tawasuf digambarkan secara bertingkat. Manusia memiliki tujuh tingkat nafs yang juga menunjukkan tingkat spiritualitas. Namun, berbeda dengan empat lapis hati, nafs di tingkat terendah hanya menyimpan potensi keburukan. Itulah nafsu tirani. Saat manusia dikuasai nafsu tirani, yang terpikir olehnya hanya kenikmatan duniawi. Nafsu tirani menempatkan manusia pada posisi budak kesenangan pribadi. Ia kecanduan pada pujian. Sebagaimana namanya, ia menyerang diri manusia secara berulang dan berusaha membentuk menjadi kebiasaan (hlm. 102-105).

Transformasi diri terjadi saat seseorang bisa mengubah kekuatan utama yang menguasai dirinya dari nafsu rendah ke yang lebih tinggi. Secara berurut, ketujuh nafs itu adalah nafs tirani, penuh penyesalan, terilhami, tenteram, rida, diridai, dan suci (hlm. 99).

Sementara itu, ruh manusia tidak berupa lapisan atau tingkatan. Ruh manusia dalam model kaum sufi digambarkan memiliki tujuh dimensi. Ketujuh dimensi ruh itu—yakni ruh mineral, ruh nabati, ruh hewani, ruh pribadi, ruh insani, ruh rahasia, ruh maharahasia—memiliki unsur positif dan negatif sekaligus. Yang perlu dilakukan adalah menyelaraskan atau menyeimbangkan ketujuh sisi ruh tersebut (hlm. 164-167).

Selanjutnya, Frager menerangkan cara untuk menghidupkan hati, menjinakkan nafsu, dan menyeimbangkan ruh. Amalan-amalan tasawuf pada dasarnya mengarah pada hal tersebut. Frager menguraikan enam amalan utama tasawuf, yakni berpuasa, mengasingkan diri, adab, pelayanan, mengingat Tuhan, dan mengingat mati (hlm. 233-267). Selain keenam amalan tersebut, Frager menekankan pentingnya guru yang berperan sebagai pembimbing spiritual (hlm. 294-295).

Selain sistematika yang runtut, kelebihan buku ini adalah cara penyajiannya yang penuh dengan kisah penguat untuk mengantar pembaca pada refleksi mendalam. Selain itu, di setiap akhir bab, Frager memberi arahan berupa latihan yang bersifat praktis terkait tema yang dibahas.


Versi yang lebih pendek dari tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 15 Januari 2015.


Read More..

Jumat, 09 Januari 2015

Meneladani Kesejukan Beragama al-Syadzili


Judul buku: Syekh Abu al-Hasan al-Syadzili: Kisah Hidup Sang Wali dan Pesan-Pesan yang Menghidupkan Hati
Penulis: Makmun Gharib
Penerbit: Zaman, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2014
Tebal: 240 halaman


Bagi umat Islam di Indonesia, tasawuf bukanlah hal yang asing. Sejumlah ahli sejarah mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia terutama melalui ajaran tasawuf yang dibawa oleh para saudagar muslim. Karena itu, tak heran hingga kini praktik tasawuf terlihat jelas dalam kehidupan keagamaan umat Islam Indonesia yang di antaranya berbentuk persekutuan sufi atau tarekat.

Buku yang ditulis oleh Makmun Gharib ini memaparkan kisah hidup dan pesan-pesan spiritual pendiri salah satu tarekat terkemuka, Tarekat Syadziliyah, yakni yang bernama Syekh Abu al-Hasan al-Syadzili. Tarekat Syadziliyah yang juga cukup populer di Indonesia ini dikenal sebagai tarekat yang memberi dorongan kuat bagi para pengikutnya untuk bekerja dan berusaha sehingga tarekat ini banyak diikuti oleh kalangan pengusaha dan pejabat.

Syekh Abu al-Hasan al-Syadzili lahir di Maroko pada 593 H. Ia memperoleh pendidikan agama yang kuat. Di masa kanak-kanak, ia menghapal al-Qur’an dan mendalami ilmu-ilmu agama. Pengembaraan intelektualnya berlanjut ke Irak, tempat ia belajar pada seorang sufi besar, Abu al-Fath al-Wasithi. Dari Irak, ia kembali ke negerinya dan menemukan pembimbing ruhaninya, Abdul Salam ibn Masyisy (hlm. 15-16).

Atas perintah gurunya ini, al-Syadzili lalu pindah ke Tunisia. Setelah dirasa cukup menempa diri di sana, al-Syadzili mulai menyebarkan ilmunya kepada masyarakat luas. Namun, saat ketenaran al-Syadzili mulai menguat, seorang hakim Tunisia bernama Abu al-Qasim al-Barra’ menaruh rasa dengki padanya. Mulailah ia menyebar fitnah tentang al-Syadzili, di antaranya bahwa ia adalah mata-mata dari Maroko yang akan menyebarkan paham syiah Dinasti Fathimiyyah (hlm. 19).

Namun, pada akhirnya, fitnah itu reda setelah al-Syadzili diuji secara terbuka oleh penguasa setempat. Malah akhirnya sultan justru bersimpati pada al-Syadzili.

Setelah tinggal beberapa lama di Tunisia, al-Syadzili kemudian menunaikan ibadah haji. Setelah naik haji, pengaruh al-Syadzili di Tunisia semakin kuat. Pengikutnya semakin banyak. Pada titik itulah al-Syadzili kemudian mendapatkan ilham berupa mimpi berjumpa Rasulullah yang memerintahkannya untuk pindah ke Mesir. Bersama seorang murid utamanya, Abu al-Abbas al-Mursi, ia pindah ke Mesir, tepatnya di Iskandaria. Di situlah kemudian tarekat dan dakwah al-Syadzili berkembang pesat. Kelak, dari Iskandaria, di antara muridnya kita mengenal nama Ibn ‘Athaillah al-Sakandari yang terkenal dengan kitab tasawufnya, al-Hikam (hlm. 26-28).

Tasawuf dan tarekat al-Syadzili tak jauh berbeda dengan tasawuf dan tarekat pada umumnya. Tasawuf al-Syadzili adalah tasawuf yang moderat. Al-Syadzili tak terjebak dalam ungkapan-ungkapan filosofis yang bisa membingungkan dan bahkan menyesatkan. Dalam posisinya yang moderat ini, al-Syadzili suka mengajarkan Ihya’ Ulumiddin-nya al-Ghazali, selain juga Qut al-Qulub karya Abu Thalib al-Makki dan al-Syifa’ karya al-Qadhi ‘Iyadh (hlm. 64-65).

Praktik Tarekat Syadziliyah bertumpu pada zikir. Selain itu, di antara prinsip yang dipegang adalah kepasrahan pada Allah swt. (hlm. 76-78). Namun demikian, bukan berarti al-Syadzili mengajarkan pandangan dan sikap negatif pada dunia. Dijelaskan bahwa al-Syadzili bekerja dan bercocok tanam untuk kebutuhan diri dan keluarganya. Ia juga suka mengenakan pakaian yang bagus dan menyukai kuda yang tegap dan kuat (hlm. 28-29, 51).

Terkait godaan harta dan dunia, yang terpenting bagi al-Syadzili adalah sikap batin. Di satu sisi diri tidak boleh tergantung kepada dunia, dan di sisi yang lain jangan sampai ketakterpenuhan kebutuhan hidup dapat memalingkan diri dari Allah swt.

Buku ini sarat dengan pesan-pesan agama yang sejuk karena pesan al-Syadzili bertumpu pada nilai moral Islam yang dapat menghidupkan hati. Ia tak terpaku pada formalitas ajaran agama yang kaku tapi berusaha menyelami semangat agama yang berpuncak pada akhlak.

Selain memaparkan kehidupan al-Syadzili dan ajaran Tarekat Syadziliyah, buku ini juga dilengkapi dengan wasiat praktis serta wirid dan doa (hlm. 162-214) yang bisa langsung dipraktikkan untuk menjalani kehidupan beragama berlandaskan tasawuf. Jadi, buku ini tak hanya memuat gagasan dan inspirasi sufistik, tapi juga memberi tuntunan praktis yang siap pakai.


Tulisan ini dimuat di Harian Kabar Madura, 9 Januari 2015.

Read More..

Minggu, 07 Desember 2014

Inspirasi al-Qur’an untuk Literasi


Al-Qur’an adalah kitab suci yang telah menjadi sumber inspirasi banyak orang di berbagai penjuru dunia. Inspirasi itu di antaranya mewujud dalam bentuk buku. Tak terbilang berapa buku yang sudah ditulis—baik oleh kaum muslim maupun nonmuslim—yang terilhami oleh al-Qur’an, mulai dari tafsir yang ditulis oleh ulama muslim klasik hingga kontemporer, buku bertema tertentu yang berperspektif al-Qur’an, hingga akhirnya al-Qur’an menjadi bidang keilmuan tersendiri sehingga kemudian melahirkan banyak karya tulis.

Di Indonesia kita punya Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab, Tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, Tafsir al-Ibriz karya KH Bisri Mustofa yang berbahasa Jawa, dan karya-karya yang lain. Kajian keilmuan tertentu berperspektif al-Qur’an di kalangan intelektual Indonesia juga sudah dikenal, seperti buku Al-Qur’an dan Lautan (Penerbit ‘Arasy, 2007) karya Agus S. Djamil.

Beberapa buku yang disebutkan di atas dan yang sejenisnya bisa dikelompokkan sebagai karya yang coraknya relatif akademis. Karena itu, karya-karya tersebut mungkin hanya dikenal di kalangan tertentu saja.

Namun, seiring dengan makin meluasnya minat masyarakat Indonesia pada wacana keislaman pada beberapa dekade terakhir, kita menemukan produk-produk perbukuan populer yang terinspirasi dari al-Qur’an. Mungkin yang paling banyak kita temukan paling tidak dalam 10 tahun terakhir adalah berupa pengemasan mushaf al-Qur’an dalam bentuk yang lebih menarik dengan berbagai pernik kreasinya.

Di toko-toko buku, kita menemukan al-Qur’an yang dicetak dengan pengemasan dan tata artistik dengan diberi nilai tambah tertentu. Ada al-Qur’an yang ayat-ayat di dalamnya diberi tanda tertentu terkait cara bacanya sesuai dengan Ilmu Tajwid. Ada pula yang selain memuat terjemahan versi Kementerian Agama RI juga mencantumkan terjemah per kata. Yang demikian ini dimaksudkan untuk mempermudah pembaca mendaras al-Qur’an secara benar dan membantu pembaca memahami makna literal al-Qur’an secara lebih teperinci.

Selain itu, pengembangan pengemasan al-Qur’an ini juga masuk pada minat-minat khusus. Salah satu edisi menyebut al-Qur’an yang diterbitkannya dengan istilah “edisi wanita” karena secara khusus juga memuat hal-hal yang berkaitan dengan perempuan, seperti kisah-kisah perempuan yang ada dalam al-Qur’an, ibadah tertentu terkait perempuan, dan semacamnya.

Ada juga al-Qur’an yang memberi tanda warna khusus pada ayat-ayat kauniah untuk menunjukkan keluasan cakupan al-Qur’an pada bidang sains. Ayat-ayat kauniah yang jumlahnya jauh lebih banyak dibanding ayat-ayat hukum itu diyakini merupakan isyarat al-Qur’an agar kita meneliti dan mengkaji isyarat-isyarat semesta dengan nalar.

Ada pula al-Qur’an yang disebut edisi “famy bi syauqin”. Edisi ini membagi seluruh surah al-Qur’an dalam tujuh bagian (yang lazim disebut “manzil”) yang dimaksudkan sebagai pedoman bagi mereka yang berkomitmen untuk mengkhatamkan membaca al-Qur’an selama sepekan.

Kreativitas penerbit dalam hal ini sudah menyentuh pada sisi teknologi. Penerbit Syaamil, misalnya, menerbitkan al-Qur’an yang selain memberi banyak nilai tambah dengan tafsir singkat, sebab turunnya ayat, doa terkait, dan sebagainya, juga melengkapinya dengan pena elektronik yang dapat bersuara atau melantunkan ayat al-Qur’an yang sedang ditunjuk.

Salah satu al-Qur’an yang terbit dikeluarkan oleh Penerbit Al-Mizan, Bandung berjudul al-Qur’an al-Karim: The Wisdom (Mei 2014). Selain memuat terjemahan versi Kementerian Agama RI dan terjemah per kata, al-Qur’an ini juga memuat 1420 artikel tafsir dan pengaya wawasan di setiap halamannya yang terpetakan dalam enam tema besar: akidah, akhlak, ibadah, muamalah, ilmu, dan kisah. Al-Qur’an yang penerbitannya melibatkan 17 kontributor artikel dan tebalnya mencapai 1236 halaman ini kemudian tampak seperti tafsir tematik terpilih yang penyajiannya bersifat populer. Rujukan yang digunakan meliputi kitab-kitab tafsir otoritatif, mulai dari tafsir klasik seperti al-Thabari hingga kontemporer seperti karya Wahbah Zuhaili.

Berbagai edisi pengemasan al-Qur’an dalam bentuk baru dan populer ini bisa dilihat sebagai kreativitas dan kejelian penerbit untuk melihat kebutuhan dan peluang pasar. Di media massa, khususnya televisi, kita dapat melihat bangkitnya minat keagamaan masyarakat muslim khususnya di kalangan kelas menengah perkotaan. Di industri mode, busana muslim juga mengalami peningkatan minat yang cukup luar biasa.

Seiring dengan inilah kreasi penerbit untuk mengemas al-Qur’an dengan sedemikian rupa juga muncul. Melihat semakin beragamnya kreasi penerbit dalam penerbitan al-Qur’an ini, kita dapat menilai bahwa berbagai versi al-Qur’an tersebut sangat laku di pasaran. Penerbit tampak tak ragu untuk mengeluarkan modal penerbitan yang cukup besar (tampak dari cetakannya yang rata-rata mewah) karena laba yang bisa diperoleh cukup menjanjikan.

Demikianlah, dalam bentuk yang lebih populer, kita belakangan ini menyaksikan bagaimana al-Qur’an menginspirasi dunia literasi. Sampai di titik ini, kita patut menggarisbawahi bahwa ayat al-Qur’an yang pertama diturunkan, yakni surah al-‘Alaq ayat 1-5, memang memuat semangat literasi yang kuat.

Berbagai versi al-Qur’an yang sifatnya kreatif itu memberi akses yang lebih mudah dan lebih luas pada masyarakat umum untuk dapat membaca, memahami, dan menggali pesan-pesan al-Qur’an sebagai pedoman hidup kaum muslim. Mereka yang awam di bidang ilmu keislaman dapat belajar al-Qur’an melalui produk populer ini. Tentu ini bisa menjadi kabar yang menggembirakan. Harapannya, semoga inspirasi al-Qur’an untuk literasi ini bisa memberi dampak yang lebih nyata bagi peningkatan mutu keberagamaan dan mutu kehidupan masyarakat.


Versi pendek tulisan ini dimuat di Harian Radar Surabaya, 7 Desember 2014.


Read More..

Rabu, 03 Desember 2014

Ancaman Liberalisasi Pendidikan atas Kedaulatan Bangsa


Judul buku: Melawan Liberalisme Pendidikan
Penulis: Darmaningtyas, Edi Subkhan, Fahmi Panimbang
Penerbit: Penerbit Madani, Malang
Cetakan: Pertama, April 2014
Tebal: xxvi + 342 halaman


Dalam perbincangan publik, isu pendidikan sering kalah untuk mendapat perhatian masyarakat ketimbang isu politik praktis. Padahal, untuk membangun sendi utama kehidupan masyarakat yang bermutu dalam jangka panjang, pendidikan memiliki peran yang sangat penting.

Perhatian yang kurang dari masyarakat atas isu pendidikan ini terlihat saat pembahasan Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP) mengemuka selama sekitar satu tahun pada 2007-2008. Tak banyak mahasiswa atau pihak kampus yang bersuara secara kritis atau turun jalan—tak seperti dalam menyoal isu BBM, misalnya. Padahal, kehadiran RUU BHP tersebut akan berdampak langsung pada mahasiswa dan kampus pada khususnya.

Buku ini membincang salah satu bentuk ancaman peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, yakni yang berbentuk liberalisasi di sektor pendidikan. Liberalisasi yang dimaksud adalah kecenderungan negara untuk melepas tanggung jawabnya dalam memenuhi salah satu hak dasar warga negara, yakni pendidikan. Dalam bentuk yang konkret, liberalisasi pendidikan yang dibahas dalam buku ini mewujud berupa UU Badan Hukum Pendidikan.

Kemunculan UU BHP sebenarnya dimulai cukup lama, yakni sejak tahun 2003, namun mengemuka pada 2007-2008 hingga kemudian disahkan pada 17 Desember 2008. Kepada masyarakat luas, disampaikan bahwa UU ini diterbitkan terutama bertujuan untuk memperkuat otonomi kampus dan meningkatkan transparansi dan akuntibilitas pengelolaan perguruan tinggi.

Buku ini menyingkapkan dengan kritis berbagai segi problematis penerapan UU tersebut. Pada intinya, UU tersebut dipandang mengubah arah perguruan tinggi menjadi tak ubahnya seperti perusahaan (korporasi). Ini terlihat dari penekanannya yang besar pada aspek tata kelola agar lebih efisien dan produktif. Pendidikan bukan dipandang terutama sebagai kewajiban negara, tapi lebih sebagai bentuk jasa yang diperdagangkan.

Jadinya, hal-hal yang lebih substansial terkait arah dan kebijakan pendidikan nasional dalam hubungannya dengan tantangan kebangsaan kemudian menjadi kurang diutamakan. Pada gilirannya, masalah kemudahan akses masyarakat kurang mampu untuk mengenyam pendidikan tinggi, dukungan negara untuk pendidikan swasta, dan sebagainya, menjadi terabaikan. Buku ini menunjukkan dengan lugas bahwa ruh dan substansi UU BHP tersebut benar-benar mengarah pada liberalisasi, privatisasi, dan komersialisasi sektor pendidikan.

Menurut para penulis buku ini, membiarkan pendidikan nasional masuk dalam perangkap liberalisasi hanya akan menghancurkan masa depan bangsa Indonesia. Saat pendidikan mahal dan akses pendidikan tinggi hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki kemampuan ekonomi yang cukup, maka berarti kelak tak akan banyak warga Indonesia yang dapat berpartisipasi dalam mengelola kekayaan alam di Indonesia. Ketergantungan pada bangsa asing dalam hal pengelolaan sumber daya alam, seperti sekarang sudah terlihat, akan bisa menjadi penghambat bagi pemanfaatan kekayaan alam Indonesia demi kemakmuran, kesejahteraan, dan kedaulatan bangsa.

Selain itu, pendidikan mahal hanya akan mereproduksi kelas elite yang cenderung memiliki kepedulian yang kecil pada kepentingan masyarakat umum. Mereka akan cenderung lebih berpikir untuk mengembalikan biaya pendidikan mahal yang telah mereka keluarkan. Ini berarti bahwa pendidikan mahal hanya mereproduksi kemiskinan. Mereka yang miskin akan kesulitan untuk melakukan mobilitas vertikal.

Dalam contoh yang lebih spesifik, buku ini mengangkat problem pendidikan kedokteran di Indonesia. Sejak beberapa kampus berubah menjadi PT BHMN, biaya masuk ke Fakultas Kedokteran sangat mahal, berkisar antara Rp 50 juta hingga Rp 150 juta. Bahkan untuk jalur internasional bisa lebih tinggi. Mahalnya biaya pendidikan kedokteran ini menurut para penulis buku ini dapat mengubah karakter pendidikan yang akan menyiapkan tenaga-tenaga kemanusiaan itu. Tak heran, belakangan ini kita menemukan berita tentang kecenderungan komersial layanan kesehatan atau bahkan terjadinya malapraktik di bidang kesehatan. Secara kontras, buku ini mengungkap kebijakan pendidikan kedokteran di Iran dan India yang menempatkan Fakultas Kedokteran sebagai salah satu fakultas termurah sehingga dapat menyerap siswa-siswa terbaik tanpa melihat kemampuan ekonomi mereka.

Secara lebih teperinci, buku ini membahas berbagai dampak negatif liberalisasi pendidikan, seperti kesenjangan yang semakin lebar termasuk antara lembaga pendidikan negeri dan swasta, disorientasi pendidikan nasional yang kemudian mengabaikan visi pendidikan sebagai upaya pencerdasan maupun pemerdekaan, hilangnya idealisme dan integritas intelektual kalangan kampus, dan sebagainya.

Buku ini bukanlah kajian yang bersifat teoretis atas isu liberalisasi pendidikan. Buku ini sebenarnya merupakan dokumentasi para penulisnya yang merekam perlawanan mereka bersama rakyat Indonesia atas liberalisasi dan privatisasi pendidikan di Indonesia yang berbentuk terbitnya UU BHP No 9 Tahun 2009. Strategi perlawanan mereka berupa perang wacana di media publik dan yang terpenting berupa pengajuan uji materi UU BHP ke Mahkamah Konstitusi (MK). UU BHP dan Pasal 53 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjadi landasan terbitnya UU BHP digugat ke MK karena dipandang bertentangan dengan UUD 1945.

Setelah berproses sekian lama, pada 31 Maret 2010 hakim konstitusi di MK yang dipimpin oleh Prof. Dr. Mahfud MD akhirnya mengabulkan pembatalan UU BHP dan Pasal 53 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Dokumentasi yang teperinci seperti termuat dalam buku ini—yang dilengkapi data lapangan dan kutipan dari berbagai media—sangatlah bernilai karena menurut para penulis buku ini ancaman liberalisasi di bidang pendidikan di Indonesia masih terbuka. Buku ini menengarai bahwa semangat liberalistik masih mungkin muncul sebagaimana dalam UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang sempat diajukan ke MK untuk diuji materi namun ditolak.

Selain itu, pengaturan lembaga pendidikan asing sebagaimana termuat dalam pasal 65 UU No. 20/2013 juga berpotensi mengganggu kepentingan pendidikan nasional. Belum lama ini, kontroversi kasus pencabulan di Jakarta International School (JIS) sempat memunculkan diskusi tentang sekolah internasional vis-a-vis arah pendidikan nasional. Sayangnya, diskusi tersebut tergusur oleh isu pemilu calon anggota legislatif dan pemilu presiden.

Dengan adanya catatan yang tersusun rapi seperti buku ini, diharapkan bangsa Indonesia tidak lupa bahwa pernah ada regulasi pendidikan yang bersifat liberalistik, tidak pro-rakyat, dan bahkan bertentangan dengan UUD 1945, yang sangat mengancam masa depan kehidupan bangsa. Dalam posisinya sebagai dokumen sejarah inilah buku ini tak hanya pantas dicerna oleh para praktisi dan pengambil kebijakan di bidang pendidikan, tapi juga oleh mereka yang peduli dengan masa depan bangsa dan mereka yang meyakini bahwa pendidikan nasional yang bermutu akan menjadi kunci kemajuan dan kebangkitan bangsa Indonesia.


Versi pendek tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 3 Desember 2014.

Read More..

Minggu, 16 November 2014

Menjawab Ironi Era Manusia


Judul buku: Dunia Anna: Sebuah Novel Filsafat Semesta
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Oktober 2014
Tebal: 246 halaman


Paul Crutzen, seorang ahli kimia dari Belanda, menyebut zaman kita saat ini sebagai Era Manusia atau Antroposen. Istilah ini merujuk pada besarnya dampak kehadiran manusia pada bumi. Dampak tersebut terangkum dalam frasa yang cukup populer beberapa dekade terakhir ini: perubahan iklim.

Menurut Crutzen, Era Manusia dimulai sejak akhir abad ke-18. Sejak itu, kadar CO2 di atmosfer meningkat secara teratur. Akibatnya, terjadi banyak penurunan mutu lingkungan, seperti pencemaran yang semakin akut, keanekaragaman hayati yang terus tergerus, cuaca ekstrem yang semakin tak menentu, yang semuanya diikuti dengan sejumlah kejadian buruk bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Isu lingkungan dan perubahan iklim ini rupanya juga menarik minat Jostein Gaarder, penulis asal Norwegia yang sebelumnya dikenal dengan novel filsafat berjudul Dunia Sophie. Selain Dunia Sophie, Gaarder juga menulis novel-novel yang bernuansa filsafat, seperti Misteri Soliter dan Gadis Jeruk.

Novel yang dalam terjemahan bahasa Indonesia berjudul Dunia Anna ini adalah karya terbaru Gaarder, yakni diterbitkan pada tahun 2013. Sebagaimana karya-karyanya yang lain, dalam novel ini Gaarder menggunakan tokoh utama perempuan berusia remaja—yang dalam novel ini bernama Anna—untuk menyampaikan gagasan-gagasan utamanya kepada pembaca.

Berlatar tahun 2012 di Norwegia, Anna yang berusia 16 tahun bersama kekasihnya yang bernama Jonas merasa gelisah dengan dampak perubahan iklim yang dia saksikan di Norwegia. Salju yang biasanya tebal di sekitar pergantian tahun tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, orang-orang memperbincangkan beberapa ekor rusa kutub yang berkeliaran di perkebunan—sesuatu yang tak biasa.

Dengan beberapa tanda tersebut, Anna dan Jonas menunjukkan kepeduliannya pada masalah perubahan iklim. Namun, sesuai dengan karakter Gaarder, kepedulian mereka tidak difokuskan pada bentuk gerakan nyata di lapangan. Keduanya tidak bergerak pada level aksi advokasi. Gaarder lebih banyak menyajikan renungan mendalam yang tampil dalam dialog kedua remaja tersebut. Namun begitu, dialog keduanya tidak melulu berkutat dalam hal yang bersifat filosofis. Keduanya juga menggali strategi nyata apa yang bisa dilakukan untuk menanggulangi krisis lingkungan yang dihadapi umat manusia.

Yang menarik, Gaarder telah memiliki strategi yang tepat untuk memperkuat gagasannya tentang perubahan iklim. Novel yang diterjemahkan dari bahasa Norwegia ini menggunakan latar dua lapis. Selain dunia Anna dan Jonas yang berlatar tahun 2012, ada juga tokoh Nova yang hidup pada tahun 2082. Anna tidak lain adalah nenek buyut Nova, yang dalam novel ini juga merupakan gadis remaja.

Kisah berlapis yang memang menjadi ciri khas Gaarder dalam karya-karyanya yang lain tampak sangat cocok untuk memperkuat problem perubahan iklim. Bagaimanapun, isu perubahan iklim menjadi semakin penting jika dipikirkan dalam kerangka lintas-generasi. Kepedulian terhadap lingkungan tidak lain adalah kepedulian atas umat manusia generasi mendatang. Dalam bahasa Gaarder, isu krisis iklim bukanlah konflik antar bangsa. “Yang saling berhadapan dalam konflik ini ialah generasi-generasi,” tulis Gaarder.

Pada tahun 2082, Nova digambarkan mewarisi sebuah dunia yang sekarat. Banyak sekali jenis flora dan fauna yang sudah musnah dari bumi. Yang ada hanya rekaman gambar atau video aneka makhluk yang tersimpan dalam sekumpulan arsip digital. Ada juga kebun binatang internasional versi “virtual” di Den Haag yang binatang-binatangnya tidak terdiri dari darah dan daging tapi tercipta dari sinar laser. Kebun binatang ini dibuat sebagai pengingat bagi umat manusia tentang pemusnahan besar-besaran akibat ulah mereka.

Dunia Anna dan dunia Nova disajikan saling bergantian dalam novel ini. Kedua dunia yang berlatar tahun berbeda dan berjarak 70 tahun ini silih berganti saling memperkuat ironi Era Manusia: bahwa kehadiran manusia memang benar-benar berdampak luar biasa pada bumi dan makhluk hidup yang ada di dalamnya.

Pesan yang mengemuka dengan sangat kuat dalam novel ini adalah soal tanggung jawab manusia untuk bersikap bijak dalam menggunakan sumber daya bumi. Gaarder tampak ingin memberi peringatan tentang ironi Era Manusia. Manusia yang sering disebut sebagai makhluk cerdas atau bijak (homo sapiens) nyatanya terbukti berbuat yang sesuka hati pada alam dan lingkungan sehingga memberi dampak buruk. Jika demikian, di manakah wawasan etis yang dimiliki manusia?

Dengan kerangka imajiner-futuristik yang dibangun dalam alur cerita novel ini, Gaarder menunjukkan bahwa apa yang kita lakukan saat ini, dalam bentuk sesederhana dan sekecil apa pun, dapat membentuk wajah bumi di masa depan yang bisa saja di luar bayangan kita. Melalui imajinasi Anna, Gaarder membuat pengakuan bahwa kita adalah generasi yang egois dan brutal yang semena-mena mengeksploitasi alam dan mengabaikan nasib generasi mendatang.

Pesan Gaarder ini tak disampaikan hanya melalui renungan para tokoh utamanya yang bercorak filosofis atau reflektif. Melalui Anna dan Nova, Gaarder juga mengungkap data-data faktual yang dapat menggugah kepedulian kita atas isu-isu lingkungan. Misalnya, tentang jumlah CO2 yang telah dilepaskan manusia di atmosfer selama sepuluh tahun terakhir, atau juga perbandingan dampak lingkungan dari sebuah perjalanan udara dari Oslo ke New York pulang-pergi.

Melalui novel ini, Gaarder mengajak umat manusia untuk berani “menjadi lebih besar daripada diri sendiri”. Secara sederhana, ajakan Gaarder ini berarti seruan untuk melepas egoisme yang sempit. Gaarder, yang pada tahun 1997 bersama istrinya menginisiasi penghargaan internasional bernama Sophie Prize bagi mereka yang peduli lingkungan, menegaskan bahwa “aku adalah bagian dari—aku juga mengambil bagian dalam—sesuatu yang lebih besar dan lebih berkuasa ketimbang diriku.”

Dengan cara ini, sekali lagi Gaarder menekankan pentingnya kepedulian dan tanggung jawab sesama manusia terutama dalam kerangka lintas-generasi. Yang penting digarisbawahi, Gaarder tampaknya juga berharap adanya kerja sama yang kuat antarbangsa di dunia untuk mengatasi krisis iklim. Dalam novel ini, digambarkan bahwa Nova menjalin hubungan dengan seorang pemuda Arab yang menjadi pengungsi iklim di Norwegia. Demikian pula, dalam salah satu dialog Anna dengan psikiaternya, tersirat ajakan untuk tidak berprasangka buruk pada orang-orang Arab.

Untuk poin yang terakhir ini, Gaarder cukup mewakili pandangan terbuka masyarakat Norwegia yang menjadi kebijakan politik pemerintah saat ini untuk menerima kaum imigran dari berbagai wilayah, termasuk imigran muslim dari Asia dan Afrika. Sikap Gaarder ini bukan tanpa alasan. Pandangan terbuka semacam ini penting dikembangkan karena bagaimanapun problem krisis iklim bukanlah masalah yang dihadapi kelompok masyarakat tertentu, tapi merupakan masalah umat manusia secara keseluruhan.

Penggunaan tokoh remaja dalam novel ini menjadi sangat kuat relevansinya karena kaum muda dapat memainkan peran yang sangat penting untuk mengubah wajah dunia menjadi lebih hijau dan lestari.


Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 16 November 2014.

Read More..