Jumat, 25 April 2003

Pendidikan Nilai dan Khazanah Lokal

Beberapa tahun yang lalu, dunia pendidikan kita diramaikan oleh diskusi soal format baru pendidikan moral di sekolah. Bila sebelumnya moral selalu dikaitkan dengan nilai-nilai dasar Pancasila (sebagai filosofi atau pandangan-dunia bangsa Indonesia) yang kemudian disajikan dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (sebelumnya disebut Pendidikan Moral Pancasila), maka diskusi tersebut berusaha memberi ruang yang lebih terbuka bagi pemaknaan moral bagi peserta didik. Gagasan yang melandasi usaha ini adalah bahwa pendidikan moral di sekolah yang berlangsung sebelumnya terlalu negara-sentris, kering, hambar, bahkan cenderung ideologis dan pro-status quo. Reformasi di bidang pendidikan moral di sekolah ini juga dipandang mendesak karena diduga salah satu biang terpuruknya bangsa ini dalam krisis multi-dimensi diakibatkan oleh kegagalan pendidikan moral di sekolah.

Formulasi substansi dan materi pengajaran pendidikan moral yang lama memang terlalu berpola deduktif, khas kebijakan politik Orde Baru yang ingin melakukan kontrol di semua bidang kehidupan. Pemaknaaan nasionalisme, misalnya, jarang sekali dikaitkan dari sudut pandang kelompok-kelompok masyarakat yang begitu beragam. Nasionalisme disajikan dalam bentuknya yang negara-sentris. Separatisme dimaknai secara hitam-putih tanpa dilihat dari perspektif yang lebih luas. Sementara itu, nilai-nilai seperti kejujuran, ketulusan, dan semacamnya, sering kali tampil sekadar semacam petuah tanpa eksplorasi mendalam dari segi raison d’être-nya, eksplisit maupun implisit.

Momentum lahirnya kebijakan otonomi daerah, yang diatur dalam UU No. 22/1999, seperti memberi nafas baru bagi dunia pendidikan kita yang terengah-engah. Berdasarkan undang-undang tersebut, wewenang terbesar bidang pendidikan berada di tangan pemerintah daerah, baik kebijakan menyangkut alokasi budget maupun kebijakan yang bersifat strategis di bidang kurikulum. Apalagi dengan diterbitkannya Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, maka perangkat pemulihan daya pendidikan semakin tersedia.

Dari perspektif otonomi pendidikan ini, menarik untuk didiskusikan peluang pengembangan pendidikan moral atau pendidikan nilai di sekolah yang berbasis pada sumber daya atau khazanah setempat, yakni yang bisa berupa sejarah atau pemikiran yang bersumber dari kearifan lokal. Asumsi dasarnya adalah bahwa dalam warisan sejarah dan pemikiran lokal itu terdapat sejumlah etos dan nilai moral yang inheren dan betul-betul hidup dalam masyarakat, sehingga ada keterjalinan yang cukup kuat antara peserta didik dengan kurikulum yang disajikan. Bahkan, khazanah yang juga bisa disebut tradisi ini pada titik tertentu dapat menjelma visi dan orientasi bersama yang dapat mengarahkan gerak maju masyarakat. Dalam ranah tersebut pula dimungkinkan terjadinya proses dialog-kreatif baik bersifat personal-eksistensial maupun sosial-kolektif dengan nilai-nilai keberadaban yang menjadi muasal akar hidup masyarakat itu sendiri.

Selain karena memang didukung oleh instrumen kebijakan yang cukup memungkinkan itu, peluang pengembangan ini menjadi cukup terbuka karena belakangan kita relatif semakin mudah mengakses khazanah lokal melalui buku-buku ilmiah populer. Beberapa penerbit seperti Kepustakaan Populer Gramedia (kelompok Penerbit Gramedia) cukup antusias menerbitkan buku bernuansa sejarah dan antropologi bertema budaya lokal, seperti Cilacap: 1830-1942 karya Susanto Zuhdi, Tapanuli: 1915-1940 karya Lance Castles, dan Makassar Abad XIX karya Edward L. Poelinggomang. Sementara Penerbit Mata Bangsa di Yogyakarta misalnya menerbitkan disertasi Prof. Kuntowijoyo berjudul Madura 1850-1940, dan penerbit LKiS menerbitkan buku Carok karya Dr. A. Latief Wiyata. Buku-buku tersebut setidaknya sudah bisa menjadi bahan awal untuk mengangkat khazanah lokal yang selama ini kurang diperhatikan untuk disajikan kepada siswa di sekolah. Belum lagi bila pemerintah daerah nantinya membaca peluang ini dan mengeksplorasi serta memberdayakan karya-karya putra daerah di seantero perguruan tinggi yang mengupas khazanah lokal tersebut. Karya-karya semacam ini yang bersifat ilmiah dan berbasis penelitian serius kemungkinan besar akan cukup banyak ditemukan di lingkungan akademik kita.

Dengan memberi ruang kepada khazanah dan sejarah lokal ini, berarti dunia pendidikan kita berusaha mempertautkan kembali keterputusan dunia pendidikan dengan proses pembudayaan yang menjadi titik akhir dari pendidikan moral itu sendiri. Proses internalisasi nilai-nilai moral tidak lagi akan bercorak terlalu deduktif, tetapi bisa lebih bersifat induktif sehingga secara perlahan dan mendalam dapat diturunkan ke lubuk pemahaman peserta didik. Alur induksi nilai-nilai tersebut menjadi mungkin karena nilai-nilai itu sendiri memang sudah terjangkarkan secara cukup baik dalam jalan panjang wawasan kebudayaan masyarakat.

Memang dalam proses penerapannya nanti kreativitas pemerintah (dalam hal ini terutama mungkin adalah Dewan Pendidikan di masing-masing kabupaten) akan banyak dituntut, terutama dalam meramu bahan-bahan untuk bidang studi ini. Demikian juga penyediaan fasilitas pendukung dan sistematisasi bahan mentah yang relatif masih belum terstruktur. Tantangan ini di sisi yang lain juga dapat meningkatkan kepedulian putra daerah bagi pengembangan pendidikan dan konservasi khazanah lokal yang belakangan terancam punah dilibat arus globalisasi.

Tulisan ini dimuat di Harian Kompas, 23 April 2003.

Read More..

Kamis, 17 April 2003

Mengenali Diri dengan Cerdas Kata


Judul buku : Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza
Penulis : Hernowo
Penerbit : Kaifa, Bandung
Cetakan : Pertama, Februari 2003
Tebal : xxxii + 276 halaman


Masyarakat Indonesia pada umumnya masih memandang buku sebagai sesuatu yang mewah. Bahkan di kalangan insan pendidikan pun, buku belum mendarah-daging dalam proses pembelajaran. Kegiatan membaca dan menulis dirasakan sebagai aktivitas elitis yang memberatkan baik oleh siswa atau guru di sekolah dan dianggap sebagai kegemaran sekelompok orang yang biasa disebut orang-orang serius, intelektual, dan pemikir.

Padahal keterampilan membaca dan menulis adalah ruh proses pendidikan dan bisa menjadi basis pembelajaran. Lebih dari itu, menurut Hernowo, penulis buku ini, cerdas kata (word smart) memiliki rentang fungsi yang cukup luas, mulai dari manfaat untuk menjalankan kehidupan sehari-hari (menulis surat, berbicara di depan publik), untuk memantapkan suatu profesi (wartawan, pembawa acara), hingga untuk pengembangan diri dan kepribadian.

Buku ini, yang seperti hendak mengulang sukses buku yang ditulis sebelumnya berjudul Mengikat Makna, diangkat dari pengalaman-pengalaman keseharian penulisnya bergulat dengan dunia pembelajaran dan tulis-menulis, baik sebagai seorang senior di Penerbit Mizan Bandung, guru di SMU Muthahhari, maupun sebagai dosen di STIKOM Bandung. Dari setumpuk pengalamannya itulah, Hernowo dalam buku ini berbagi pengalaman dan pemikiran perihal dunia buku dan kepenulisan.

Terhadap keprihatinan pada minimnya gairah membaca dan menulis khususnya di kalangan pendidikan sebagaimana disinggung di atas, Hernowo menyatakan bahwa kunci pendobraknya adalah revolusi paradigmatik: bahwa buku sebaiknya didorong untuk dipersepsikan sebagai makanan. Lebih tepatnya lagi, buku adalah makanan ruhani yang diperlukan untuk memupuk kepribadian sehingga mengantarkan seseorang pada kematangan diri. Tentu saja, dalam konteks ini, ada keterjalinan yang tak terhindarkan antara aktivitas membaca dan menulis itu sendiri, yang keduanya merupakan wujud dari cerdas kata.

Bertolak dari pemikiran Howard Gardner tentang multiple intelligences yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki delapan macam kecerdasan, Hernowo menduga kuat bahwa cerdas kata ini dapat menjadi gerbang pembuka pada puncak pengenalan dan revolusi diri. Dengan pengenalan diri ini, seseorang akan dapat mengembangkan dan mendewasakan kepribadian serta mendapatkan “mata baru” dalam menatap persoalan-persoalan hidup. Hernowo juga mengutip James W. Pennebaker, psikolog dari Universitas Texas, yang mengungkapkan bahwa seseorang yang dapat mengekspresikan dirinya secara sangat bebas secara tertulis akan tertolong dari serangan depresi.

Untuk tiba pada manfaat luar biasa dari aktivitas menulis itu, Hernowo dalam buku ini memberikan sejumlah trik menarik. Dalam konteks mempersepsikan buku sebagai makanan, Hernowo menganjurkan untuk memulai kegiatan membaca dan menulis dari tema-tema atau hal-hal yang kita sukai dan lekat dengan kehidupan kita sehari-hari, sebagaimana kita memilih makanan yang kita gemari. Dalam hal menulis, menulis catatan harian menjadi sebuah aktivitas yang bisa menjadi ajang kita melumasi “mesin” menulis atau melemaskan “otot-otot” menulis kita sehingga terus terasah dengan baik. Ekspresi lepas tanpa keterikatan ketat pada pakem-pakem bahasa pada suatu titik dapat memunculkan daya kreatif yang luar biasa. Dalam hal membaca buku kita sudah cukup dibantu dengan adanya beragam bentuk penyajian buku yang dirancang untuk membantu mengenyahkan rasa bosan dan menangkap gagasan secara lebih menyenangkan. Seperti juga halnya makanan, mencicipi nikmatnya membaca dan menulis tidak perlu harus dilahap sekalian, bisa secara ngemil (sedikit demi sedikit).

Menghidupkan semangat membaca dan menulis di lingkungan keluarga dilakukan dengan menyediakan ruang kondusif bagi pembelajaran, dengan menempatkan ruang belajar yang mudah diakses dan mudah terlihat oleh anak-anak (sehingga mempertunjukkan keteladanan) dan membagikan pengalaman membaca dan menulis itu kepada keluarga dengan penyajian yang menarik. Ini juga berlaku di ruang kelas.

Rasa dan aroma bacaan yang sudah kita tangkap itu tidak boleh dibiarkan lenyap. Pengalaman membaca dan kehidupan kita sehari-hari bersifat acak, sampai kemudian ditata dalam sebuah komposisi tulisan yang membermaknakan dan menjalinnya sedemikian rupa sehingga dapat mengekspresikan kedalaman dan kesatuan emosi, gagasan, keinginan, dan harapan kita. Dalam wadah semacam itulah, seseorang mengasah seluruh potensi diri kemanusiaannya. Cerdas kata menggali potensi otak kiri manusia yang berkaitan dengan penalaran logis (ingat, tulisan menuntut struktur logis dan sistematis yang koheren) sekaligus otak kanan yang mengungkapkan kekayaan emosi (sebuah tulisan juga menggambarkan semangat, imajinasi, dan spontanitas).

Refleksi pengalaman dan pergulatan Hernowo dalam buku ini selain banyak menggagas beberapa hal untuk melembagakan kegemaran membaca dan menulis di lingkungan sekolah dan keluarga (dimensi sosial) juga berusaha merangsang optimalisasi potensi kecerdasan manusia dari sisi cerdas kata (dimensi personal-eksistensial). Kelebihan buku ini adalah gaya penyajiannya yang cukup menyenangkan, dilengkapi dengan ilustrasi dan kutipan-kutipan kata-kata menarik, dan memiliki variasi penyajian yang kaya, mulai dari tulisan bergaya makalah, esai ringan, surat, hingga berbentuk tanya-jawab. Hanya saja pemilihan simbol “pizza” sebagai makanan yang berusaha dikaitkan dengan aktivitas membaca mungkin akan terasa kurang akrab di kalangan kelas menengah ke bawah dalam masyarakat kita.


Read More..

Kamis, 27 Februari 2003

Spiritualitas Para Pebisnis

Judul buku : The Corporate Mystic: Sukses Berbisnis dengan Hati
Penulis : Gay Hendricks dan Kate Ludeman
Pengantar : Haidar Bagir
Penerbit : Kaifa, Bandung
Cetakan : Pertama, Desember 2002
Tebal : xxxii + 248 halaman



Peraih Nobel Ekonomi 1998, Amartya Sen, menyatakan bahwa aktivitas ekonomi pada dasarnya adalah suatu kegiatan manusiawi biasa yang karena itu semestinya juga memperhatikan segi-segi etis. Bila dalam buku On Ethics and Economics Sen telah melakukan suatu eksplorasi yang lebih bersifat teoritik-konseptual dan lebih berkaitan dengan aspek makro ekonomi, maka buku ini mencoba menelaah pengalaman konkret para pebisnis sukses di Amerika dalam memberikan sentuhan etis dan spiritual dalam aktivitas bisnis mereka itu.

Buku ini didasarkan atas sejumlah wawancara panjang tak kurang dari seribu jam dengan ratusan pengusaha dan eksekutif perusahaan sukses di Amerika. Dari situ terungkap bahwa ternyata para pengusaha sukses itu amat layak disebut mistikus korporat (The Corporate Mystic), karena di perusahaan mereka mampu menampilkan sejumlah nilai dan karakteristik yang amat berkait dengan dasar-dasar spiritualitas universal dan perenial. Di antaranya adalah nilai kejujuran, visi ke depan dan fokus yang cermat, disiplin yang kuat, dan integritas.

Mereka menjalani hidup dengan asas-asas spiritualisme yang betul-betul hidup, nyata, dan empiris—tidak melulu konseptual apalagi dogmatik. Mereka berbisnis tidak hanya dengan mengerahkan kemampuan otak rasional, tapi juga dengan mengedepankan hati dan intuisi. Para pengusaha yang diteliti pada umumnya adalah sosok pemimpin yang mampu menerjemahkan spiritualitas menjadi kekuatan visioner yang mampu menggerakkan perusahaan menuju kesuksesan.

Pengamatan Hendricks dan Ludeman, penulis buku ini, menunjukkan bahwa sebagai pemimpin, mistikus korporat ini memiliki tiga modal utama: integritas yang mampu menonjolkan kejujuran sejati, visi yang mampu menegaskan niat, dan intuisi yang mampu menggenapi potensi kemanusiaan. Integritas di sini adalah suatu landasan kokoh bagi kesadaran akan dua kutub keberadaan kita: bahwa di satu sisi seseorang harus menjadi diri sendiri seutuhnya, dengan menampilkan kejujuran dan autentisitas kepribadian; sementara di sisi lain seseorang juga harus menyatakan rasa kebersamaan kemanusiaan dengan memandang perusahaan dari sudut semesta.

Sementara itu, visi dalam kepemimpinan adalah suluh kesadaran yang dapat menuntun pergerakan semua elemen perusahaan menghadapi tantangan masa depan. Yang menarik, mistikus korporat tidak hanya membiarkan visinya mendekam dalam pikirannya sendiri, tapi juga dialirkan pada anggota keluarga perusahaannya. Sedangkan naluri memberi ruang bagi kreativitas dalam memutuskan suatu persoalan yang menentukan, serta membantu arah perjuangan visi yang sudah jelas itu.

Ketiga karakter ini setelah diolah dan disinergikan mampu menghidupkan ruh perusahaan, sehingga perusahaan menjadi semacam media aktualisasi bersama. Ini berarti bahwa adonan integritas, visi, dan naluri pada gilirannya menghasilkan tanggung jawab, komitmen, dan kebersamaan. Komunikasi yang cair menjadi kata kunci lainnya yang memampukan semua elemen perusahaan menjadi bisa saling berempati dan mengolah gagasan-gagasan dengan terbuka untuk perubahan yang lebih baik.

Kualitas-kualitas moral yang ditemukan Hendricks dan Ludeman di kalangan pengusaha itu sebenarnya memang akan menegaskan hal yang sudah cukup lama disuarakan: bahwa ada dimensi etis dalam berbisnis yang perlu diperhatikan, karena itu juga adalah suatu faktor penting yang dapat mengantarkan kepada keberhasilan perusahaan itu. Kolapsnya perekonomian bisa bermula dari tercederanya moralitas dalam dunia bisnis. Contoh yang bisa dikemukakan di sini adalah kasus resesi ekonomi AS pada awal 1990-an yang terjadi akibat skandal perusahaan-perusahaan Saving and Loans yang menjajakan junk-bonds. Krisis ekonomi dan moneter yang terjadi di beberapa kawasan Asia Tenggara sejak 1998 pun ada yang melihatnya dari sisi ini.

Buku ini semakin menegaskan makna penting moralitas dalam kehidupan bisnis. Moralitas, atau lebih spesifik lagi: spiritualitas, akan memompakan kekuatan yang tak terkira untuk merawat daya hidup perusahaan. Maka tak aneh bila Hendricks dan Ludeman dalam buku ini meramalkan bahwa pengusaha yang sukses pada abad ke-21 akan menjadi para pemimpin spiritual. Mereka mungkin saja akan menyisihkan para spiritualis yang lain yang dibesarkan di masjid, gereja, kuil, atau wihara.

Ada dua catatan menarik yang dapat dikemukakan berdasarkan uraian-uraian dalam buku ini. Pertama, dengan menawarkan bentuk spiritualitas yang terlepas dari agama-agama formal, buku ini dari sisi lain adalah sebentuk tantangan terhadap agama-agama formal untuk dapat mampu mengembangkan tipe spiritualitas yang bersifat produktif, dapat membimbing manusia dalam kebersamaan dan kesuksesan. Kedua, karena buku ini amat menekankan bentuk spiritualitas dan dimensi etis dalam bisnis yang lebih erat dengan aspek kepemimpinan perusahaan, maka buku ini mengabaikan aspek eksternal dari kehidupan bisnis: negara. Persoalannya, mampukah sebuah pemimpin perusahaan yang spiritualis menggerakkan perusahaannya untuk hidup dengan nilai yang diyakininya itu bila ternyata ia berada dalam suatu sistem sosial-politik yang korup?

Lepas dari dua hal tersebut buku ini tentu amat layak diapresiasi. Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa keterpurukan ekonomi yang mendera bangsa kita juga disebabkan oleh terabaikannya dimensi etis ini. Dari buku ini kita dapat menggali bersama pengalaman pengusaha Amerika meraih sukses dan menangkap benang merah yang dapat diikatkan ke dalam kehidupan konkret kita sehari-hari.


Tulisan ini dimuat di Koran Tempo, 24 Februari 2003.


Read More..

Selasa, 28 Januari 2003

Menghargai Sejarah

Setiap arus waktu yang telah berlalu tak akan dapat lagi kembali. Bahkan, upaya untuk merangkumnya dalam suatu bentuk dokumentasi, bila itu diartikan secara ketat, hanya akan berakhir muspra. Apa yang telah berlalu, akan segera retak. Tetapi, manusia adalah makhluk dengan kemampuan untuk selalu mengatasi berbagai bentuk keterbatasannya, mentransendensi ruang-waktu menjelajah ke dimensi tak terbatas—masa lalu, masa depan, yang ada dalam kenyataan, yang ada dalam impian, atau yang ada dalam kemungkinan. Dalam konteks inilah, manusia menurut Martin Heidegger (1889-1976) ditandai dengan ciri historisitas (historicity). Dalam pengertian ini, manusia adalah subyek sekaligus obyek sejarah. Di satu sisi, manusia terlahir dalam suatu kubangan sejarah tertentu yang akan terus membentuknya sepanjang waktu, sementara ia sendiri juga senantiasa berusaha melakukan pergulatan-pergulatan dalam bentuk inovasi-inovasi kreatif dalam rangka menapakkan jejak langkahnya di antara lorong-lorong sejarah.

Historisitas ini tidak saja melekat pada level individu, tapi juga berkait dengan tatanan kebudayaan suatu masyarakat. Kontinuitas perkembangan suatu peradaban direkam dan dirawat dalam dan melalui pita sejarah. Dalam wadah sejarah itulah akar tradisi yang mewujud nilai-nilai luhur diseduh untuk merengkuh identitas bersama masyarakat.

Akan tetapi dalam masyarakat kita, kesadaran terhadap sisi historisitas itu, baik dalam level individu maupun sosio-kultural, saat ini tanpa disadari tengah dikekang dan diblokade sedemikian rupa. Belenggu kesadaran itu bisa saja pernah bernama Rezim Totaliter yang maha meliputi semua relung kehidupan masyarakat, bisa juga rayuan untuk bergabung dengan tarian globalisasi yang kadang menganggap sejarah sebagai semacam sampah, atau bisa juga situasi yang menjemukan lantaran tidak betah merunut benang kusut yang dibiarkan sekian lama direnggut para penggadai kearifan sejarah.

Dalam konteks ini patutlah kita menyimak pandangan Goenawan Mohamad, yang menyatakan bahwa dalam masyarakat kita tidak ada institutional memory yang mampu menghubungkan pengalaman antar-generasi, sehingga kesadaran sejarah sulit terbentuk. Situasi semacam ini menjadikan masyarakat begitu rentan terhadap arus raksasa bernama globalisasi yang berpotensi menyeret masyarakat dari dekapan nilai-nilai lokal.

Memang globalisasi merupakan sesuatu fakta sejarah yang tidak tertolak walaupun tak dapat dipungkiri bahwa ia juga memiliki sisi-sisi positifnya. Tapi patut disadari bahwa bagaimanapun denyut nadi dan perkembangan suatu masyarakat yang sebenarnya akan banyak ditentukan oleh pemaknaan terhadap aliran darah sejarah yang berwujud tradisi (yang bersifat lokal) yang memuat nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Tradisi yang dimaksudkan di sini sejalan dengan yang telah didefinisikan Marshall Hodgson, yaitu sebagai suatu dialog yang hidup dan berakar pada referensi bersama atas peristiwa-peristiwa kreatif tertentu dari masa lampau. Dari situlah suatu masyarakat dapat merumuskan bersama-sama visi dan orientasi ke depan. Dari situlah para generasi menemukan anak tangga yang begitu berharga untuk akhirnya tiba di suatu kebudayaan yang mampu mengaktualisasi nilai-nilai keberadaban dan kemanusiaan.

Namun demikian, persoalan yang dihadapi masyarakat kita saat ini, terutama di kalangan para generasi baru, adalah sulitnya akses yang cukup memadai untuk terlibat kembali ke pengembaraan kekayaan tradisi atau sejarah kebudayaan masyarakatnya. Berbagai fasilitas sosial yang dapat merujukkan pengalaman aktual para generasi baru kepada tatanan nilai para pendahulunya kurang mendapat tempat yang cukup diperhatikan. Museum-museum sudah terlalu kering dan hambar, pelajaran sejarah lokal di sekolah sudah punah, dan kesenian-kesenian daerah kalah dengan musik-musik populer. Pun, tak ada lagi cerita sebelum tidur tentang legenda-legenda masyarakat daerah, karena para orang tua sudah digantikan perannya oleh sang kotak ajaib bernama televisi.

Keadaan yang demikian ini menuntut perhatian semua pihak yang masih mau menghargai sejarah untuk bersepakat bahwa di sanalah sebenarnya rumah tinggal jiwa kebudayaan kita. Di atas landasan kesadaran semacam ini seluruh elemen masyarakat dapat segera memulai mengikatkan kembali temali tradisi ini ke tiang-tiang penyangga kebudayaan masa depan. Dengan langkah-langkah kecil ini dimungkinkan masyarakat kita akan dapat menegaskan kembali identitas kulturalnya sehingga dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, dan rasa percaya diri dapat bangkit kembali dari keterpurukannya. Jejak langkah sejarah tidak boleh dibiarkan punah, karena di situlah para leluhur menanamkan petuah-petuah.

Januari 2003

Read More..

Senin, 13 Januari 2003

Menyambung Missing Link Sains dan Agama

Judul Buku: Revolusi IQ/EQ/SQ: Antara Neurosains dan Al-Qur’an
Penulis: Taufiq Pasiak
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, November 2002
Tebal: 363 halaman


Beberapa tahun belakangan ini di kalangan intelektual Barat muncul suatu perkembangan yang cukup menarik dalam ranah studi psikologi, yakni ditemukannya dimensi baru kecerdasan manusia yang disebut EQ (Emotional Quotient/Kecerdasan Emosional) dan SQ (Spiritual Quotient/Kecerdasan Spiritual). Penemuan yang memberi apresiasi tinggi terhadap emosi dan spiritualitas manusia ini menjadi menarik karena menyiratkan adanya suatu perjumpaan epistemologis antara disiplin psikologi dengan tradisi spiritual (agama).

Namun karena penemuan ini banyak digagas dan dipopulerkan oleh ilmuwan Barat, maka masih terdapat semacam wajah sekuler dalam proses pengembangannya. Apa yang disebut spiritualitas dalam perspektif SQ masih merupakan suatu bentuk spiritualitas ala Barat, spiritualitas yang lepas dari bayang-bayang ikatan agama formal.

Buku utuh yang ditulis oleh Taufiq Pasiak ini berusaha memberikan perspektif yang lebih mendalam tentang keutuhan potensi akal manusia yang tercermin dalam tiga bentuk kecerdasan (IQ, EQ, dan SQ), terutama dengan memosisikan SQ sebagai ultimate intelligence. Penulis buku ini dalam soal ini cukup otoritatif karena ia lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi dan kini tengah menjalani S2 di IAIN Alauddin Makasar dan Pasca-Sarjana IKD UGM Yogyakarta. Cara pemaparannya yang enak diikuti (dan dilengkapi dengan banyak ilustrasi) menjadi begitu menarik karena di satu sisi buku ini mengeksplorasi struktur dan fungsi otak manusia secara cukup lengkap (bab pertama hingga bab keenam), ditambah lagi dengan perspektif Al-Qur’an tentang tiga dimensi kecerdasan otak tersebut (bab ketujuh hingga bab kesepuluh). Jadilah perjumpaan epistemologis itu menjadi lebih eksplisit.

Sejauh ini orang kebanyakan mengidentikkan kecerdasan dengan kecerdasan IQ semata, sehingga yang dihargai hanyalah orang cerdas di bidang matematika atau bahasa, sementara orang yang memiliki kemampuan lain kurang mendapat penghargaan yang layak. Padahal tidak jarang orang yang memiliki IQ rendah mempunyai bentuk kecerdasan yang lain (pandai bergaul, berkemampuan seni atau olah raga, dan sebagainya). Fakta ini amatlah merugikan, karena penghargaan terhadap potensi kecerdasan orang-orang semacam ini menjadi kurang, seperti terlihat dalam iklan-iklan lowongan pekerjaan.

Enam bab pertama buku ini memberikan uraian yang cukup jelas tentang berbagai potensi otak yang begitu kaya itu. Otak adalah sebuah universum di kepala manusia yang memiliki kemampuan lebih daripada prosesor sebuah komputer. Otak dapat terus berkembang terus-menerus dan secara otomatis dapat mempelajari dirinya. Seorang ahli saraf, Brodmann, memetakan otak dalam 47 wilayah dengan pembagian kerja masing-masing yang berbeda, termasuk yang berhubungan dengan organ-organ penting seperti lidah, tangan, telinga, kaki, dan sebagainya. Dua penemuan penting yang memperluas pemahaman kita tentang potensi otak adalah konsep EQ Daniel Goleman yang berpijak pada jalur saraf emosi yang ditemukan oleh ahli saraf Joseph deLoux, serta penemuan Titik Tuhan (God Spot) oleh Ramachandran bersama timnya dari Universitas California yang terletak di bagian samping kepala yang disebut lobus temporal.

Sinyal Al-Qur’an yang bersifat paralel terhadap berbagai penemuan sains mengenai otak ini diurai dalam bab ketujuh hingga kesepuluh. Untuk menggambarkan potensi otak ini Al-Qur’an menggunakan kata ‘aql (akal), sesuatu daya berpikir yang meliputi tiga bentuk kecerdasan (IQ, EQ, SQ). Dari sudut semantik, kata ‘aql mulanya bermakna kecerdasan praktis, tapi Al-Qur’an kemudian menggunakannya dalam rentang makna yang luas: mulai dari daya memahami (rasional maupun intuitif) hingga dorongan moral yang bersifat spiritual (lihat, misalnya, Q.S. al-‘Ankabût [29]: 42; al-Mulk [67]: 10). Karena itu tidak aneh bila kata akal dalam Al-Qur’an memiliki keterkaitan dengan kata qalb (kalbu), sehingga akal seakan-akan adalah mata hati (‘ayn al-qalb).

Uraian-uraian dalam buku ini menggenapi upaya menyambung missing link sains dan agama dengan jalan yang lebih eksplisit, yakni dengan pemaparan komprehensif tentang seluk-beluk otak manusia yang disertai dengan beberapa kajian terhadap beberapa pandangan dan ayat-ayat Al-Qur’an. Dari perspektif yang lebih luas apa yang dilakukan penulis buku ini adalah semacam usaha islamisasi sains yang selama ini sudah mulai dilakukan pada beberapa cabang ilmu (ekonomi, sosiologi, psikologi, fisika, kedokteran, dan sebagainya). Bila dilihat dari perspektif Hanna Djumhana Bastaman—ahli psikologi yang telah merintis islamisasi psikologi di Indonesia—maka yang dilakukan Taufiq Pasiak dalam buku ini masuk dalam kategori paralelisasi, yakni menunjukkan adanya kesejalanan (paralelitas) konsepsi Al-Qur’an dengan temuan sains mutakhir menyangkut otak dan kecerdasan manusia (IQ, EQ, SQ).

Kritik yang selama ini ditujukan kepada kalangan intelektual yang getol mempromosikan proyek islamisasi ilmu adalah kekhawatiran adanya sikap yang kurang teliti (atau malah “semena-mena”) dalam kerja epistemologis tersebut sehingga akhirnya hanya dapat meninggalkan kesan apologis belaka. Dalam konteks buku ini pembaca dapat saja menangkap kesan adanya kekurangmantapan dalam proses paralelisasi dan perbandingan tersebut lantaran pengkajian terhadap paralelitas neurosains dan Al-Qur’an dalam buku ini cenderung berat sebelah: terlalu banyak porsi yang diberikan kepada kajian masalah otak, sementara analisis terhadap pandangan dunia Al-Qur’an yang bersifat lebih mendalam terasa kurang.

Terlepas dari itu, terdapat satu hal yang berhasil ditegaskan buku ini dalam konteks islamisasi ilmu, yaitu menyangkut soal orientasi profetis ilmu, bahwa bagaimanapun pada akhirnya titik akhir suatu ilmu adalah kesejahteraan manusia. Ada dimensi humanisme teosentris (rahmat li al-‘âlamîn) yang hendak ditegaskan, yang selama ini lambat-laun semakin pupus dari aras paradigmatik ilmu. Secara eksplisit hal ini ditegaskan di bagian akhir buku ini, bahwa mesti ada tindak lanjut dari pergeseran paradigmatik psikologi dan kedokteran, yakni bahwa kesadaran sains harus menjelma menjadi kesadaran moral, kesadaran untuk berbuat. Artinya, penemuan dimensi kodrati spiritualitas manusia dalam otak ini mesti menjadi landasan bagi suatu aksi sosial yang berlandaskan pada kebersihan hati, kebesaran jiwa, dan spiritualitas kemanusiaan yang memungkinkan bertemunya visi persaudaraan kemanusiaan. Dengan begitu, ruang-ruang interaksi masyarakat menjadi relatif lebih steril dari nafsu dan egoisme, serta kembali disemarakkan dengan kemurnian mata-hati yang fitri.

Read More..

Senin, 02 Desember 2002

Mengembangkan Teologi Islam Positif

Judul Buku : Teologi Dialog Islam-Barat: Pergumulan Muslim Eropa
Penulis : Tariq Ramadan
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : Pertama, Maret 2002
Tebal : 322 halaman


Hidup sebagai kelompok minoritas memang selalu mengundang konflik identitas personal yang diam-diam terjadi secara massif. Kadangkala, rasa inferiority complex timbul, diiringi dengan sikap-sikap tidak dewasa yang malah semakin merugikan dan membatasi ruang gerak mereka.

Buku ini, yang berjudul asli To be a European Muslim: A Study of Islamic Sources in the European Context, merupakan hasil refleksi kritis penulisnya, Tariq Ramadan, selama hidup dan mengamati pergumulan identitas kaum muslim di kawasan Eropa. Komunitas muslim Eropa mulai muncul pada sekitar Perang Dunia Kedua, ketika kawasan Eropa secara sosial-ekonomi berantakan dan membutuhkan banyak tenaga kerja murah. Arus imigrasi mengalir deras dari kawasan Asia, Afrika Utara, dan Turki ke negara-negara Eropa, terutama Inggris, Jerman, dan Prancis. Di penghujung milenium, umat Islam di Eropa Barat sudah mencapai jumlah antara 12 hingga 15 juta jiwa.

Konflik identitas yang dihadapi mereka di lingkungannya menyangkut pilihan subjektif apakah mereka adalah seorang muslim atau seorang warga negara di Eropa. Pertanyaannya, mungkinkah ada identitas jalan tengah yang mampu menyelamatkan mereka dari tuduhan sebagai seorang fundamentalis atau orang yang terasing dari ajaran agama Islam?

Hal penting yang digarisbawahi Tariq Ramadan, penulis buku ini yang merupakan cucu Hasan Al-Banna dan tinggal di Prancis, dalam buku ini adalah adanya kenyataan bahwa seringkali kaum muslim Eropa merespons persoalan konflik identitas mereka secara emosional dan penuh ketakutan sehingga justru memperumit identifikasi masalah yang sebenarnya mereka hadapi. Bahkan mereka cenderung reaktif dan defensif sehingga kadang-kadang merusak citra diri kaum muslim sendiri.

Berangkat dari keprihatinan itulah, Tariq Ramadan dalam buku ini berusaha untuk mengkonstruksi semacam “teologi dialog” yang bercorak positif, tidak protektif tapi bersifat kontributif bagi komunitas baru kaum muslim di Eropa. Untuk menjawab persoalan tersebut, Tariq dalam buku ini mencoba menggali kembali sumber-sumber utama ajaran Islam baik yang bersifat teologis maupun yuridis yang berhubungan dengan soal persoalan tersebut.

Salah satu pokok ajaran Islam yang cukup penting yang dibahas oleh Tariq adalah bahwa keberadaan seorang muslim di muka bumi ini harus merupakan keberadaan yang aktif, dengan melibatkan diri dalam semua urusan manusia. Ini adalah refleksi dari keberimanan seorang muslim itu sendiri, seperti tampak dalam banyak ayat al-Qur’an yang selalu mengaitkan iman dengan perbuatan baik (amal saleh) (bandingkan, Q., s. Ali Imran/3: 110). Lebih jauh lagi, kalimat syahadat (persaksian keberislaman) menurut Tariq bukan sekedar pernyataan biasa, tetapi juga mengandung konsep mendalam tentang pemberian amanah yang menuntun jalan hidup seseorang maupun masyarakat.

Untuk itulah, Tariq juga menekankan pentingnya pemikiran-pemikiran baru yang berbasis pada aktivitas ijtihad (atau fatwa) untuk mengarahkan keberimanan seorang muslim kepada suatu bentuk Teologi Islam yang aktif-positif. Bagian pertama buku ini merupakan usaha Tariq untuk memberikan landasan pemikiran terhadap hal tersebut, yakni ketika Tariq menguraikan historisitas perkembangan khazanah keilmuan Islam. Ilmu-ilmu keislaman pada dasarnya adalah upaya untuk memelihara agar iman selalu intens, sejalan dengan ajaran al-Qur’an dan Nabi Saw dalam setiap situasi sejarah.

Pada salah satu uraian dalam bagian pertama buku ini Tariq mencatat beberapa prinsip penting yang terdapat di dalam prinsip-prinsip metodologi hukum Islam (ushul fiqh). Di antaranya prinsip al-mashlahat (pertimbangan manfaat umum), ketentuan pertanggungjawaban setiap tindakan manusia, serta adanya beberapa hal menyangkut hukum yang pemutusannya diserahkan pada ijtihad manusia sendiri.

Salah satu konsep hukum Islam yang mengatur legalitas eksistensi seorang muslim di tengah komunitas masyarakat tercermin dalam konsep dar al-Islam dan dar al-harb. Dua konsep ini sebenarnya memang tidak terdapat dalam al-Qur’an dan Sunnah, tapi merupakan hasil klasifikasi ijtihad ulama klasik. Dar al-Islam (wilayah Islam) adalah wilayah geografis tempat diberlakukannya hukum Islam, dan atau berada di bawah naungan pemerintahan muslim. Dar al-harb (wilayah perang) secara umum didefinisikan sebagai wilayah sistem pemerintahan yang “tidak islami”.

Tariq jelas-jelas mengkritik model pembagian yang sangat dikotomis itu. Konstruksi dunia kontemporer sudah sedemikian kompleks sehingga persoalan tersebut tidak dapat disederhanakan begitu saja. Bahkan terkadang, dari definisi tersebut di atas, muncul paradoks: di negara yang disebut dar al-harb komunitas muslim justru lebih menikmati kebebasan mengekspresikan ajaran keberagamaannya ketimbang di wilayah dar al-Islam.

Logika konflik yang diusung dalam gambaran dwipolar itu telah menjebak umat Islam dalam suatu cara berpikir yang tidak positif. Tariq mengajukan suatu cara pandang baru: Barat bersama negara-negara yang dipengaruhinya saat ini adalah pusat dunia, sedang yang lain adalah periferi. Dengan cara pandang demikian, ketika seseorang hidup di dunia Barat (pusat), maka ia tidak harus mundur ke visi lama dua kutub dengan mencari-cari musuh, melainkan harus mencari mitra yang bersedia dan bertekad memilih produk budaya Barat untuk meningkatkan kontribusi positif terhadap dunia, menolak penyimpangannya yang merusak, meningkatkan kebajikan dan keadilan dalam dan melalui persaudaraan manusia, untuk semua umat manusia apapun ras, asal, atau agama mereka. Di Barat, mereka (kaum muslim) harus memberi kesaksian (membuktikan kebenaran), mereka harus menjadi saksi atas siapa mereka sebenarnya dan atas nilai-nilai (positif) yang mereka percayai.

Dengan mempertimbangkan uraian tersebut, Tariq mengaitkan posisi komunitas muslim di Eropa dengan konsep dar al-da`wah. Dar al-da`wah mengacu kepada situasi Nabi sebelum hijrah ke Madinah, ketika beliau hidup sebagai minoritas dan dituntut untuk mempertunjukkan (mempersaksikan) keyakinan agamanya kepada masyarakat Mekah.

Untuk memperjelas uraiannya, Tariq menjelaskan bahwa ada lima unsur pokok yang menjadi bagian dari identitas seorang muslim, yakni iman dan spiritualitas yang diyakininya, kepatuhan melaksanakan ibadah dan perintah agama, perlindungan hak sosial, politik dan ekonomi, kebebasan untuk beribadah atau memberi kesaksian terhadap kebenaran agamanya, serta partisipasi aktif dalam masyarakat. Ketika kelima hal ini ada, maka seorang muslim bertanggung jawab untuk bertindak memastikan keamanan mereka atau memperbaiki situasi mereka maupun masyarakat secara menyeluruh.

Jalan tengah yang diusahakan Tariq Ramadan untuk merumuskan identitas seorang muslim di tengah-tengah dunia global yang plural ini adalah bagian dari usaha pembuktian bahwa Islam dapat (dan seharusnya) tampil sebagai rahmat bagi semesta (rahmat li al-`alamien). Hal ini menjadi penting untuk dipikirkan dan diagendakan mengingat kecenderungan akhir-akhir ini yang menunjukkan adanya sikap-sikap defensif dan protektif yang berlebihan dalam menyikapi berbagai bentuk ancaman dan rongrongan terhadap identitas dan ajaran agama.

Ini tidak saja dialami oleh komunitas muslim minoritas seperti di Eropa. Tapi, sebagai umat mayoritas pun komunitas muslim kadang-kadang masih bersikap tidak dewasa dan proporsional menyikapi pluralitas sosial di masyarakat, sehingga secara ironis memunculkan sikap-sikap yang justru mencitrakan sesuatu yang negatif. Sikap percaya diri berlebih memang kadang berpotensi melahirkan perilaku totaliter.

Kelebihan buku ini terletak pada uraiannya yang khas, yang menggali kembali etos sejarah nilai Islam dalam tradisi keilmuan yang dibangunnya sepanjang zaman, berhadapan dengan problem pluralitas agama dan sosial. Etos yang termuat dalam lembar sejarah ini belakangan memang kurang begitu diperhatikan, akibat keterjebakan komunitas muslim ketika membaca warisan sejarah dan tradisi keilmuan yang dimilikinya. Pendasaran kepada nilai-nilai yang terkandung dalam fakta sejarah memang kemudian menjadikan argumen yang disusun menjadi cukup kuat.

Teologi Dialog yang direkomendasikan buku ini pada akhirnya memang tidak saja menuntut dialog intens intra-agama untuk membangun keberimanan yang positif, tetapi juga ajakan untuk memberdayakan diri melalui kemandirian politik dan finansial, serta pemilihan agenda-agenda mengakar yang berorientasi ke depan.

Tulisan ini dimuat di www.attin.org 1 Desember 2002.

Read More..

Senin, 18 November 2002

Bahasa, Yang Menjelma Jendela

Bulan ini bulan bahasa. Di bulan ini, orang-orang memperingati kekuatan serangkaian bunyi dan aksara, yang dulunya sanggup menyatukan bangsa, mengantarkan warga menuju gerbang kemerdekaan negeri tercinta, Indonesia. Tapi itulah sejarah, yang kini mungkin sudah tak lagi bertuah, bahkan bagi orang-orang yang mengaku sebagai pewaris sah darah juang para pahlawan. Sekarang adalah tahun 2002, suatu anak tangga yang retak-retak di awal milenum ketiga; bukan lagi Oktober 1928, yang udaranya dipenuhi bara gelora yang sanggup menggerakkan dan menghimpun kekuatan bangsa.

Saat ini, masihkah kita bisa berharap pada kekuatan bahasa, untuk kembali mengantarkan bangsa ini ke sebuah ruang masa depan yang lebih bermakna? Adakah bahasa masih dapat menyisakan kekuatannya ketika sekian lama ia dipecundangi dan dilumuri dengan ambisi dan ketidakjujuran yang seringkali malah dibangga-banggakan? Otoritarianisme Orde Baru sepanjang lebih dari 30 tahun telah memerkosa bahasa sedemikian rupa, sehingga setiap kata diabsahkan tafsirnya dalam suatu kamus tunggal penguasa. Rakyat tak lagi berdaya menentukan makna, menjiwai bahasa.

Tapi reformasi terbukti tidak sekonyong-konyong menyediakan ruang yang melegakan bagi unit-unit bahasa untuk mementaskan kejernihannya. Reformasi masih juga tak kunjung bersih dari asap sisa pembakaran, halimun, atau juga endusan nafas angkuh yang selalu mencari celah untuk berselingkuh. Bahasa yang hanya menjadi sebentuk jargon malah tak dapat dibendung kehadirannya. Spanduk-spanduk, pamflet, salebaran, dari yang bernada membujuk hingga yang provokatif (dari level biasa hingga yang berbau ancaman) terpampang di tempat-tempat umum, disebar untuk menggalang kekuatan politik massa.

Dengan kata lain, belum ada ruang publik yang sanggup menampung pengungkapan bahasa yang dapat memaparkan lempeng ketajaman logika yang tertata dan disepuh permata ketulusan. Pertanyaannya, di manakah dimensi itu kini berada, di antara sejumlah harapan dan keinginan yang selalu terintangi oleh sekian bencana? Ke arah mana sebenarnya para elit bangsa sedang berpikir, sadar atau tidak, tentang bahasa dalam kerangka masa depan bangsa?

Hal yang cukup mendesak saat ini adalah bagaimana memosisikan kembali bahasa dalam kesadaran kolektif bangsa sebagai sebuah media penghantar menuju kemenyatuan aras rasional yang jernih dalam menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa. Sudah cukup lama bangsa ini menjadikan bahasa tidak sebagai jendela, tapi sebagai sekat yang semakin mengentalkan komunalisme, fanatisme, dan jargonisme. Masyarakat dirintangi untuk dapat menikmati kejernihan tatanan bahasa yang sanggup membuka mata dunia, membelah akal majal yang selama ini hanya menerpurukkan bangsa dalam perasaan saling dendam.

Bahasa yang menjelma jendela adalah bahasa yang membebaskan, ungkapan polos rakyat bawah yang memiliki kejujuran dan ketulusan, tuturan kaum ilmuwan yang berpegang pada prinsip dasar epistemologis pengembangan pengetahuan, bahwa titik akhir suatu ilmu adalah prinsip etis yang indah dan bermoral. Bahasa yang menjelma jendela adalah bahasa yang sanggup merobohkan dinding pembatas kelompok, mempertemukan dalam satu ruang perjamuan kemanusiaan, meleburkan hasrat jahat dan mengangkat niat bulat demi mengecap nikmat yang hakikat.

Di bulan bahasa ini, kita diajak bersama-sama mengail kembali kearifan sejarah dari peristiwa Sumpah Pemuda 1928. Bersama ini pula, seluruh komponen bangsa diseru untuk melepas atribut partikular kediriannya untuk menyatu dalam satu rombongan besar kebangsaan. Lalu, bahasa, yang menjadi latar peristiwa sejarah ini, kita kembalikan dalam kefitriannya yang paling dasar: sebagai bentuk cara berpikir yang relatif steril dari sesat pikir, kontradiksi, dan ketidakmasukakalan. Bersama inilah, kita semua berharap agar cara berkomunikasi kita semakin dipulihkan, dengan mengandalkan kejernihan nalar dan kejujuran suatu niatan. Bukan cuma dalam level komunikasi sosial sehari-hari, tapi juga dalam soal pengembangan ilmu, pemilihan opsi keputusan publik, juga media massa.

Masa depan bangsa ini, di antaranya, mungkin saja terselip di antara baris-baris aksara, baik yang meluncur di antara lisan orang-orang, atau yang terpahat di pagina-pagina terbitan buku, harian atau mingguan. Memulai berbenah dari titik paling rendah, di antara jejak langkah sejarah dan masa depan yang cerah, adalah sebentuk pertanggungjawaban kita sebagai anak bangsa.

Tulisan ini dimuat di Rubrik "Budaya" Harian Jawa Pos, 17 November 2002.

Read More..

Selasa, 05 November 2002

Antara Representasi dan Simulasi

Judul buku : Jalan Tengah Memahami Iklan: Antara Realitas, Representasi dan Simulasi
Penulis : Ratna Noviani
Penerbit : Pustaka Pelajar bekerjasama dengan CCSS Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Juli 2002
Tebal : 157 halaman


Kritik Marx tentang eksploitasi kelas pekerja dan kaum proletar yang berada dalam asuhan sistem ekonomi kapitalisme akhir-akhir ini sudah tidak lagi mencukupi untuk mewadahi arus perubahan sosial di masyarakat. Seiring dengan pergeseran model kapitalisme yang kini tidak lagi berpusat pada aras produksi, melainkan pada level konsumsi, sejumlah teoritisi sosial menggenapi kritik Marx dengan memberi sejumlah peringatan perihal terkekangnya konsumen dalam menentukan aktivitas konsumsi sehari-hari. “Ketertindasan” konsumen ini memang nyaris tak terlihat oleh pandangan biasa, sebab argumen yang dibangun berlindung di balik dalih kebebasan individual.

Pada titik inilah, perbincangan mengenai iklan menjadi signifikan, karena dalam konteks ini, di satu sisi iklan adalah motor penggerak roda sistem ekonomi yang menjaga keseimbangan antara produksi massal berbasis industri dengan konsumsi masyarakat, dan di sisi lain iklan menjadi motif pendorong aktivitas konsumsi yang mampu mendefinisikan suatu barang dalam kerangka kebutuhan pribadi seseorang.

Dari sisi teori-teori komunikasi, dijelaskan bahwa ada dua perspektif teoritis dalam mendedahkan fenomena iklan, yang merujuk pada tiga kata kunci: realitas, representasi, dan simulasi. Perspektif pertama menerangkan bahwa iklan muncul dengan menghadirkan kembali (representasi) realitas sosial. Dalam prosesnya, iklan tidak semata-mata merepresentasikan realitas, tapi juga memberi perspektif baru, memilah, dan menonjolkan segi-segi tertentu dari realitas yang diangkat. Sementara menurut perspektif kedua, yang dalam hal ini merujuk pada sosok filsuf Perancis bernama Jean Baudrillard, justru iklan menjadi salah satu mesin pencipta dunia hiper-realitas yang terdiri dari citra-citra yang saling mengkait, sehingga menjebak masyarakat hidup dalam realitas semu. Inilah Era Simulasi, ketika teknologi informasi, media massa, dan komputerisasi melahirkan efek citra, simulakra, dan rimba tanda yang mengantar masyarakat dalam sebuah taman impian.

Buku ini adalah sebuah kajian kritis terhadap dua perspektif teoritis tersebut, yang berkeyakinan bahwa sebenarnya memahami fenomena iklan tidak harus terjebak ke dalam titik ekstrem salah satu cara pandang tersebut di atas. Dengan mengambil contoh lima buah iklan yang pernah cukup populer (yakni iklan Sampoerna A Mild versi Waktunya Unjuk Gigi, Clear Menthol versi Siapa Takut?, wanita-wanita Lux, Sari Ayu versi Mentari Pagi Bromo, dan iklan Majalah Tempo versi Bangunlah!), buku ini berkesimpulan bahwa iklan tidak hanya bersifat pasif menyerap citra, tetapi juga aktif berinteraksi dengan realitas sosial, sehingga konteks sosial dari kehadiran suatu iklan juga dapat mengemuka. Di sinilah lalu terjadi dialektika antara citra dan realitas dalam panggung realitas yang dihadirkan iklan itu sendiri.

Ambil saja contoh iklan Sampoerna A Mild versi Waktunya Unjuk Gigi. Iklan yang diluncurkan pada tahun 1998 ini menjadi semacam seruan kepada masyarakat untuk ikut menunjukkan partisipasi nyata dalam proses reformasi sosial-politik yang tengah berlangsung (inilah aspek representasinya). Semboyan Bukan Basa Basi yang melekat pada A Mild, yang semula merujuk pada kadar tar dan nikotin A Mild yang rendah, lalu dapat ditafsirkan sebagai pernyataan serta ajakan untuk berbuat yang lebih nyata. Ada semacam usaha penciptaan citra bahwa Sampoerna A Mild juga memiliki sense of crisis dan peduli dengan proses perubahan sosial. Kalimat "Waktunya Unjuk Gigi" di satu sisi menggambarkan terbukanya pintu kebebasan yang sebelumnya tak diperoleh—tapi nyatanya sebelum reformasi juga ada beberapa suara kritis yang menentang rezim (inilah aspek simulasinya). Pun di sini tampak nuansa ideologis yang berusaha ditampilkan A Mild, bahwa mereka memiliki semacam emosi nasionalisme.
Tapi juga tak jarang proyeksi visi ideologis yang muncul dari suatu iklan justru berpihak pada status quo yang kurang menguntungkan bagi proses transformasi sosial yang bernuansa egaliter. Ini terlihat dalam iklan sabun Lux maupun tata rias Sari Ayu yang meneguhkan konstruksi sosial atas peran domestik kaum perempuan. Dalam kedua iklan tersebut, sosok perempuan ditonjolkan sisi domestiknya, serta kurang diberi ruang untuk mengekspresikan peran sosialnya.

Studi yang dilakukan buku ini pada akhirnya menerbitkan beberapa hal penting. Berkait dengan perkembangan teoritik, buku ini berusaha mensintesakan dua arus teori yang mencermati fenomena iklan, yang dicontohkan dengan baik dalam kasus lima iklan tersebut di atas. Berkait dengan arah perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakat yang bertumpu pada perkembangan kapitalisme, buku ini menjadi semacam seruan kepada khalayak agar secara kritis dapat mencermati dan memosisikan iklan dalam proporsi yang tepat, sehingga masyarakat tidak masuk dalam jejaring budaya konsumsi yang hedonistik. Meski kelima iklan yang dikaji di buku ini terbilang "basi", tapi relevansi buku ini tetap kuat karena memang buku kajian tentang iklan di Indonesia yang bersifat empiris masih amat minim.


Tulisan ini dimuat di Koran Tempo, 4 November 2002.


Read More..

Senin, 04 November 2002

Letters from Palmerah

Surat dari Palmerah: Indonesia dalam Politik Mehong 1996-1999 (Letters from Palmerah: Indonesia under the Mehong Politics 1996 - 1999); By Seno Gumira Ajidarma; Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta, April 2002; xxii + 287 pp


Although the reform drive in Indonesia has been going on for four years, everyone is curious if Indonesia has really changed for the better.

Is Indonesia still trapped by the mehong politics so that the ongoing reform is nothing but reformehong? The political show by the political elite has only disappointed the public and to a certain extent has lent apathy, or even pessimism, to part of the community.

This book is a collection of editorial-like letters that Seno wrote in Jakarta Jakarta magazine between 1996 and 1999. These letters have some interesting aspects.

First, his choice to write an editorial in the form of a letter seems to suggest a more liquid form of communication generating a greater personal and humanitarian touch on the part of the readers. Perhaps, Seno saw something wrong in the communications involving all national elements. He may have seen the result is only a fawning attitude or a mentality fraught with revenge and animosity.

Second, given the fact that the readers of Jakarta Jakarta were mostly young executives who the New Order regime had alienated from the political realm, these letters in a certain sense could serve as an interesting medium of political education as they were intended for the middle-class people.

Sometimes, the letters very explicitly show this direction, especially when the writer uses words like yuppies and the like.

The next interesting aspect of these letters is they are conveyed in a good and interesting narrative flow, interspersed with sarcasm, worries, reflection, wisdom, comedy or a ridicule of our political life.

When Seno put under his spotlight the never-ending violent communal conflicts, he took the viewpoint of how the community got themselves trapped in the prison or labyrinth of animosity.

He described how people were no longer masters of themselves and willingly allowed themselves to be the slaves of unconsciousness called animosity, ambition or revenge. At this point, Seno made a conclusion that the reform was yet to produce a significant change, particularly in the political culture of everyday life.

Indeed, political ideology has found its freedom of expression. Unfortunately, it still came from a hypocritical and arrogant cultural tradition. Comically, Seno poses a question: While someone's mental crisis can be addressed by a psychologist or a witch doctor, what about a mentally ailing nation?

The acute ailment that this nation is afflicted with seems to be slowly leading it towards destruction. In the other part of the book, he also gives his warning that if you have an excessive desire to put down conflicts and anarchy for the sake of orderliness, the result will often be another form of anarchy.

Seno has touched the nation's political culture, an aspect of life which is yet to undergo substantial changes. It is true that it is now rare to find physical or militaristic repression of the New Order regime, but a conspiracy of oppression, which the illegal product of power that colludes with ignorance and deception, is not rare to find.

While the political elite are busy vying for power, the little people have been duped. While in fact these little people are the reform and development heroes, they have been turned into mere commodities.

In one of the letters, Seno rhetorically asks: "Do you know who has built Indonesia? They have no seats. They are the people that have been sacrificed."

In this context, the perspective of a political education intended to improve the political intelligence of the people and encourage their political participation has assumed great importance for a discussion. Seno criticizes the elite on the political stage because they provide little education to the people. Their speeches are rarely based on the clarity of their mind and a well-arranged thinking system. Their words sometimes resemble curses smacking of trash, provocations or an outburst of their personal emotion or the emotion of their own group.

His letters are good to read and observe. They will encourage us to reflect together upon the process of changes now under way in this country and ensure that in this way the victims of changes and reform, already quite big in number, will not just vanish.

The Jakarta Post, November 3, 2002.

Read More..

Minggu, 27 Oktober 2002

Kembalinya Seorang Penulis

Judul Buku: Kumpulan Kolom dan Artikel Selama Era Lengser
Penulis : Abdurrahman Wahid
Pengantar: A. Mustofa Bisri
Penerbit: LKiS, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, September 2002
Tebal: xx + 240 halaman


Gus Dur adalah sosok multidimensional. Secara objektif ini dapat dilihat dari berbagai posisi “formal” yang pernah digelutinya, mulai dari komentator bola, juri Festival Film Indonesia, aktivis LSM, kolumnis, kiai, hingga Presiden RI. Tapi figur Gus Dur secara mendasar memiliki basis identifikasi sebagai seorang intelektual yang dibesarkan dalam tradisi keagamaan (Islam, khususnya pesantren) yang kental. Lebih dari itu, Gus Dur juga adalah seorang yang intens menuangkan gagasannya dalam tulisan. Esai-esai Gus Dur sudah banyak muncul sejak tahun 1970-an. Bahkan di era itu Gus Dur aktif menulis tulisan panjang di Jurnal Prisma, sebuah jurnal ilmu sosial terkemuka.

Tapi dalam era reformasi, sejak Gus Dur terserang stroke di awal 1998 hingga terus menduduki kursi kepresidenan pada Oktober 1999 sampai akhirnya dilengserkan pada bulan Juli 2001, tulisan-tulisan Gus Dur raib dari media. Buku ini menandai kembalinya seorang penulis bernama Abdurrahman Wahid yang lekat dengan sejumlah ciri pemikiran dan style tulisannya.

Meski buku ini adalah kumpulan kolom dan artikel, buku ini tetap menarik diapresiasi, lantaran memiliki satu sisi unik dan kontekstual. Sekitar separuh bagian dari buku ini adalah kolom-kolom yang berisi refleksi Gus Dur terhadap perjalanan sejarah kebangsaan Indonesia. Dengan racikan yang kurang lebih seirama dengan gaya Gus Dur yang kontroversial, Gus Dur mengangkat ke permukaan beberapa sisi sejarah Indonesia yang selama ini dibiarkan tanpa peluang untuk dikritisi. Bahkan, pada beberapa bagian Gus Dur mencoba memberikan pemikiran spekulatif perihal keterkaitan beberapa segi sejarah tersebut dengan perilaku sosial-politik bangsa Indonesia saat ini.

Perihal berdirinya Kerajaan Majapahit, misalnya, Gus Dur mengemukakan bahwa penuturan sejarah selama ini tidak memberi penjelasaan mengapa Raden Wijaya, pendiri kerajaan besar di nusantara ini, membelot dari mertuanya, Kertanegara, raja Singosari. Gus Dur menduga kuat bahwa bisa jadi ada motif agama yang mendasari pertentangan ini, karena Raden Wijaya dalam merintis Majapahit dibantu oleh Angkatan Laut Cina yang nota bene beragama Islam. Pertanyaan besarnya adalah mengapa faktor agama selama ini diabaikan dalam setiap penjelasan sejarah berdirinya kerajaan-kerajaan di nusantara. Apakah demi merawat mitos persatuan dan kesatuan bangsa ini justru berpaling dari realitas kesejarahan yang dimilikinya?

Faktor agama ini juga berhasil diendus Gus Dur dalam peristiwa Perang Bubad, yang melibatkan Kerajaan Sunda dan Majapahit. Pecahnya pertempuran tersebut menurut Gus Dur bukanlah kehendak Hayam Wuruk, penguasa Majapahit, tapi lebih karena rekayasa sayap kaum muslim di Majapahit yang tidak menghendaki menyatunya dua kerajaan tersebut. Sebagaimana dimafhumi, rencananya rombongan Kerajaan Sunda itu mau menyerahkan puteri Sunda untuk dikawinkan dengan Hayam Wuruk. Kelompok muslim di Majapahit tidak menghendaki hal itu, karena dapat berdampak tersumbatnya saluran islamisasi, dan menguatnya ajaran-ajaran Bhirawa (campuran agama Budha dan Hindu).

Ada juga uraian tentang bagaimana Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) yang mengurungkan niatnya untuk membalas dendam terhadap menantunya, Sutawidjaya, yang lalu lebih memilih membangun masyarakat secara kultural di daerah Lamongan. Gus Dur mengapresiasi hal ini dengan cara menggambarkan pola hubungan periferal-pusat yang tidak simetris untuk pengembangan Islam tanpa merugikan agama Hindu dan Budha yang sedang berkuasa. Semacam perjuangan kultural.

Refleksi Gus Dur tentang beberapa segi sejarah bangsa ini menuntut kita bersama untuk lebih arif memosisikan keragaman warisan kultural kita secara lebih jujur dan kritis. Variabel pluralisme sosial yang memengaruhi jalannya sejarah perkembangan kehidupan masyarakat nusantara mesti diapresiasi secara terbuka, bukan dengan malah menutup-nutupinya atas dalih jargon kosong persatuan dan kesatuan. Ini penting demi mengharapkan munculnya kejernihan analisis sejarah yang mampu mengakomodasi fakta objektif masyarakat nusantara yang betul-betul kaya budaya. Di sisi lain, Gus Dur seperti memprovokasi para sejarawan untuk membaca ulang sejarah dalam bingkai ketulusan yang objektif dan kritis.

Dalam separuh bagian lainnya dari buku ini, Gus Dur memberi pengamatan terhadap sejumlah peristiwa sosial-politik aktual. Perihal kasus WTC 11 September misalnya, secara kritis Gus Dur mengingatkan betapa kadang kita bersikap hipokrit: mengutuk terorisme macam itu, tapi membiarkan terorisme dalam bentuk lain bergentayangan di hadapan kita, seperti pengabaian terhadap berbagai konflik etnis, atau berbagai kejahatan kemanusiaan yang lain.

Tema lain yang diulas Gus Dur dalam buku ini adalah tentang ekonomi kerakyatan, dinamika NU, juga soal-soal keislaman. Perspektif kritis, mendalam, dan khas (kultural) keindonesiaan tampak begitu kental dalam ulasan-ulasannya. Tentang relasi NU dan Muhammadiyah, misalnya, Gus Dur mengemukakan bahwa pada dasarnya yang terpenting adalah bagaimana mengapresiasi perkembangan kedua organisasi umat Islam terbesar di Indonesia itu dengan memerhatikan laju pencapaian budaya yang berhasil ditanamkan kepada warganya, bukan melulu melalui capaian formal kelembagaan.

Yang sedikit mengganggu dari buku ini adalah kesalahan ketik yang masih berserakan di sana-sini. Juga ada beberapa pengulangan pembahasan serta sistematika jalinan tulisan (kolom) yang kurang runtut sehingga kurang mengenakkan pembaca.

Terlepas dari hal tersebut, kehadiran kembali Gus Dur dalam kancah kepenulisan di Indonesia ini di sisi lain juga menggelitik beberapa politisi atau intelektual, yang selama ini membiarkan refleksinya mengapung dalam genangan pemikiran yang beku, tanpa mau berbagi dengan publik dalam suatu ruang dialog yang kritis.

Read More..