Wednesday, 21 March 2012

Lapis-Lapis Diri

Dalam kehidupan sehari-hari, saat menjalin hubungan dengan orang lain, seseorang akan hadir seumpama lapisan-lapisan yang membentuk struktur tanah. Ketika sedang berurusan dengan si A, saya hadir sebagai seorang guru Bahasa dan Sastra Indonesia. Bila berbincang dengan si B, saya tampil sebagai seorang mitra belajar dalam hal kepenulisan. Manakala berbicara dengan si C, saya hadir sebagai semacam catatan harian yang siap mendengar dan merekam lika-liku kehidupannya. Bersama si D, saya adalah gumpal kegalauan dari berbagai persoalan kemasyarakatan dan tantangan masa depan. Saat ada bersama si E, saya seperti petugas perpustakaan dunia yang sedang mencari koleksi-koleksi buku langka dan berharga. Berjumpa dengan si F, saya adalah peminat filsafat yang ingin menyelam ke dasar lautan dan mencari makna di tengah ketakmasukakalan dunia.

Sosok A, B, C, D, E, F, dan seterusnya, hingga tak berhingga, tampaknya dapat disebut sebagai para peubah yang membentuk lapis-lapis diri pada diri saya. Mereka berkenalan, hadir, dan hidup bersama saya, dengan kadar dan geloranya masing-masing, sambil mengembangbiakkan wajah-wajah saya yang beraneka rupa. Masing-masing tampak seperti memberi kartu pengenal yang berbeda-beda untuk saya, lalu kadang dipampangkannya di halaman atau di simpang jalan—atau sekadar mereka simpan.

Lapis-lapis diri ini juga tampak ibarat lorong yang menghubungkan saya dengan orang lain. Semakin dekat hubungan saya dengan seseorang, semakin banyak lorong yang menghubungkan saya dengan dirinya. Dalam sebuah jalinan profesional, misalnya, lazimnya seseorang hanya akan berhubungan dengan saya di satu lapis-diri saja. Kecil sekali kemungkinannya bagi dia untuk memasuki saya lewat lorong yang lainnya. Hanya di satu lorong itulah dia mendekati dan memahami saya.

Sebenarnya, pola jalinan-satu-lorong ini merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan sehari-hari, karena saya memang tak akan mungkin selalu menjangkau orang lain dari lorong yang banyak. Urusan kehidupan terlalu banyak cabangnya sehingga saya pikir akan mubazir juga bila saya harus berbagi semuanya pada sebanyak-banyak orang.

Hanya saja, sulit dibantah bahwa pola jalinan-satu-lorong ini tampak semakin mengemuka di zaman ini, saat kehidupan semakin tersekat ke dalam lorong-lorong khusus dan lapis-lapis diri semakin terkotak dalam definisi yang sempit dan khusus, seperti apa yang kemudian disebut dengan profesi. Akibatnya, cara orang berhubungan dengan orang lain semakin terbatas ke dalam pola jalinan-satu-lorong ini.

Dalam kewajaran pola jalinan-satu-lorong ini, atau dengan lorong yang relatif tidak banyak, di antara lapis-lapis diri yang mendefinisikan seseorang, saya lalu berpikir tentang bagaimana masing-masing lapis diri itu menjadi landasan untuk menilai pribadi seseorang. Dalam pergaulan sehari-hari, orang lain memberi penilaian pada saya mungkin hanya di satu lapis diri saya saja. Atau mungkin dua. Yakni di lorong tempat dia lalu-lalang menjumpai saya. Atau dari pintu masuk yang baru saja dia lintasi. Karena itu, sangat mungkin saya akan dinilai dengan mutu pribadi yang sangat berbeda oleh dua orang yang bertamu pada saya melalui dua lorong, pintu, atau lorong-lorong yang berbeda.

Apakah ini semacam subjektivisme atau relativisme dalam memberikan penilaian? Saya kurang tertarik untuk melihat soal ini dari sudut pandang yang cenderung mengarah pada pengelompokan teoretis semacam ini. Pada soal ini, saya tampaknya lebih tertarik untuk melihatnya dalam kerangka yang lebih praktis dan mungkin sederhana. Saya ingin menempatkannya sebagai bagian dari keterbatasan saya untuk bisa memberi penilaian yang utuh pada orang lain, sehingga tampaknya sulit bagi saya untuk mencerna lapis-lapis diri orang lain sebanyak mungkin.

Saya bukanlah Raqib dan ‘Atid yang bekerja sepanjang waktu mencatat rekam jejak semua perbuatan seseorang. Saya hanyalah seorang guru yang bersama si A tiga atau empat jam pelajaran setiap pekan selama satu, dua, atau tiga tahun pelajaran. Saya hanyalah seorang murid yang mencerna dan menimba ilmu dari si B selama enam tahun, bersama-sama di kelas, dan di luar itu si B nyaris saya jumpai sama seperti orang kebanyakan.

Lalu dengan alasan macam apa jika saya kemudian kadang tergoda untuk seolah-olah menjadi seperti Sang Majikan Raqib dan ‘Atid?

Lapis-lapis diri saya, seperti juga orang lain, pun tidak senantiasa diam. Ia bergeliat, dengan perlahan, kadang tanpa terasa, kadang juga tak demikian. Suatu saat, mungkin saja salah satu lapisan itu akan bergerak dan mencipta semacam gempa mini dalam diri saya. Jika struktur lapisan diri kita tertata sedemikian rupa, bisa jadi gempa mini itu tak memakan korban. Tapi bisa juga gempa mini itu akan merombak struktur lapisan diri kita yang lain.

Saya berpikir tentang lapis-lapis diri ini terutama untuk saya sendiri. Maksudnya, saya sebenarnya sedang mencoba memahami diri saya sendiri, lapis-lapis yang menyusun dan membentuk diri saya di hadapan yang lain: keluarga, rekan, masyarakat. Di sela-sela pikiran saya ini, sekilas sempat terbersit pertanyaan, selain Tuhan apa mungkin akan ada orang yang nantinya akan mendekati saya dari lorong yang nyaris penuh dan utuh?

Sekali lagi, tulisan ini pada dasarnya dibuat agar saya sadar diri untuk melihat ke dalam diri saya. Tulisan ini bukan untuk menjadi lampu sorot untuk orang lain. Mungkin juga bisa dikatakan bahwa tulisan ini semacam jalan pulang ke ruang kecil dalam diri saya agar saya tak tersesat terlalu jauh dalam hiruk-pikuk kehidupan saat ini.

4 komentar:

ahmad saihdah said...

Tabik. Lapisan diri adalah pintu untuk menemukan diri yang sempurna.

M. Mushthafa said...

Terima kasih, Dr. Ahmad. Semoga pencarian ini tidak sia-sia.

Anonymous said...

LAPIS-LAPIS DIRI: MARI KITA PELIHARA
(tanggapan tulisan : www.parjugeh.blogspot.com
Hamiddin

M Mushthafa said...

Hamiddin, terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.