Rabu, 28 Maret 2012

Revolusi Paradigma Guru

Judul buku: Gurunya Manusia: Menjadikan Semua Anak Istimewa dan Semua Anak Juara
Penulis: Munif Chatib
Penerbit: Kaifa, Bandung
Cetakan: Pertama, Mei 2011
Tebal: xx + 256 halaman


Kualitas pendidikan di Indonesia hingga kini masih terus dipertanyakan. Amanat kemerdekaan untuk memajukan bangsa dengan pendidikan tampak masih penuh masalah akut. Banyak pihak percaya bahwa guru adalah kunci utama untuk mengurai masalah pendidikan dan kemajuan bangsa.

Buku ini menawarkan revolusi paradigmatik agar guru dapat lebih berperan dalam meningkatkan mutu pendidikan sehingga pada akhirnya dapat ikut serta memajukan mutu kehidupan masyarakat. Munif Chatib, penulisnya, menyebut guru sejati yang diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi masalah kebangsaan ini dengan istilah “gurunya manusia”.

Munif menyebut lima syarat mendasar untuk menjadi gurunya manusia, yaitu bersedia untuk selalu belajar, membuat rencana pembelajaran sebelum mengajar, bersedia diobservasi, selalu tertantang untuk meningkatkan kreativitas, dan memiliki karakter yang baik.

Oleh Munif, gurunya manusia dibedakan dengan guru robot dan guru materialistis. Guru robot bekerja secara mekanis, sedang guru materialistis mengajar dengan logika dagang. Gurunya manusia bekerja dengan landasan ketulusan untuk menanamkan ilmu dan pengetahuan kepada anak didik sehingga ia terus berusaha untuk maju, berkembang, terus kreatif, dan tak bosan mengembangkan kompetensinya.

Sejauh ini, jika kita melihat di lapangan, dorongan agar guru senantiasa terus mengembangkan diri sebenarnya telah dilakukan oleh pemerintah, misalnya melalui kebijakan sertifikasi guru. Namun demikian, kenyataan di lapangan tidaklah seindah yang dibayangkan. Beberapa pihak menilai bahwa semangat pemberdayaan yang diusung sertifikasi gagal. Indikasinya, di beberapa daerah ditemukan kecurangan dalam memenuhi portofolio sertifikasi. Bahkan, ada kecenderungan bahwa sertifikasi justru memicu lahirnya model guru yang oleh Munif disebut guru materialistis.

Karena itu, penting sekali memberikan sejumlah catatan yang bersifat prinsipil dalam rangka pengembangan mutu guru agar terhindar dari ekses buruk yang mungkin ditimbulkannya. Atau mungkin juga dengan mengajukan konsep pengembangan guru yang lain, seperti yang dicoba dilakukan Munif melalui buku ini.

Munif percaya bahwa pada dasarnya guru itu adalah manusia pembelajar. Ini adalah kondisi ideal guru yang dituntut jika guru diharapkan dapat memainkan peran penting dalam perubahan kualitas hidup masyarakat. Munif menyatakan bahwa tak ada guru yang tidak mampu mengajar, asalkan ia mau terus belajar dan mengasah kreativitas dan kompetensinya.

Dalam buku ini, Munif, yang sebenarnya juga adalah seorang praktisi dan konsultan pendidikan, mengemukakan bahwa terkadang semangat guru untuk berkembang terhambat oleh kebijakan sekolah atau lembaga yang menaunginya—yakni yayasan dalam kasus sekolah swasta. Karena itu Munif memberi petunjuk bahwa sekolah yang baik adalah sekolah yang banyak memberi kesempatan dan membuat program pengembangan kualitas guru secara terencana dan berkala.

Pada titik ini, Munif sebenarnya tengah mengemukakan kritik kelembagaan atas manajemen sekolah yang tak berhasil menumbuhkan iklim yang mendukung bagi pengembangan kreativitas dan kompetensi guru. Dengan demikian, menurut Munif, manajemen sekolah memiliki peran yang sangat penting untuk menjawab masalah ini. Di buku ini Munif memberi sejumlah contoh praktis tentang cara merancang berbagai kegiatan pengembangan mutu guru di sekolah.

Namun kritik kelembagaan terkait dengan manajemen sekolah yang dikemukakan Munif tampak tak bergerak lebih jauh, misalnya dengan mencoba membuka kemungkinan kritik atas kebijakan pemerintah di bidang pendidikan, baik pemerintah lokal, regional, maupun nasional. Padahal, dukungan dari pemegang kebijakan juga sangat menentukan. Misalnya, masih adanya iklim korupsi dan feodal di daerah tertentu yang berimbas pada dunia pendidikan, termasuk juga guru.

Selain konteks kelembagaan, Munif dalam buku ini juga membahas panjang lebar paradigma seorang guru ideal dalam berhadapan dengan anak didik. Gurunya manusia adalah guru yang berusaha memanusiakan anak didiknya. Bagaimana caranya? Yakni dengan berpegang pada cara pandang kecerdasan majemuk (multiple intelligences) sehingga terus berupaya menggali kemampuan dan potensi siswa. Anak didik diposisikan sebagai sosok yang istimewa dan didekati dengan hati, sehingga anak didik dapat menyerahkan hak untuk mengajar kepada guru.

Munif mencatat bahwa cukup banyak guru yang tidak sadar bahwa sejak awal masuk kelas dia sebenarnya tidak diterima oleh anak didiknya. Karena itu, dalam satu bab khusus Munif membahas cara merebut ketertarikan dan minat belajar siswa di menit-menit pertama. Dalam ilmu pendidikan ini disebut dengan apersepsi. Langkah ini dimaksudkan agar tumbuh motivasi dari dalam diri siswa untuk menyimak topik pelajaran yang akan disampaikan oleh guru.

Bagian yang paling banyak dibahas Munif dalam buku ini adalah kiat dan panduan praktis untuk menjadi guru yang melakukan aktivitas belajar-mengajar di kelas atas dasar pendekatan kecerdasan majemuk. Dalam pendekatan ini, anak didik menjadi pusat proses pembelajaran sehingga guru musti mengupayakan strategi pembelajaran yang kreatif sesuai dengan beragam potensi dan gaya belajar siswa. Pada bagian ini, Munif memaparkan banyak contoh strategi belajar-mengajar dengan kecerdasan majemuk. Ada lima belas strategi yang dijelaskan Munif lengkap dengan contohnya, seperti strategi diskusi, action research, analogi, sosiodrama, environment learning, dan sebagainya.

Bagian terakhir yang dijelaskan Munif adalah cara guru menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (lesson plan) yang populer disingkat RPP. Munif percaya bahwa RPP sangat mendukung keberhasilan proses pembelajaran di kelas, karena selain untuk mematangkan persiapan, RPP juga dapat menjadi media refleksi dan evaluasi pembelajaran guru di kelas.

Buku ini sangat penting dibaca oleh para guru serta pengelola dan pemegang kebijakan pendidikan. Buku ini adalah sebuah upaya jawaban serta tawaran jalan keluar atas pihak-pihak yang kecewa dengan mutu guru. Memang, revolusi paradigmatik yang ditawarkan Munif dalam buku ini lebih banyak menyorot dan menyelami aspek teknis pedagogis, bukan menyangkut visi besar revolusioner ala Paulo Freire atau Ivan Illich yang berlandaskan kritik atas kapitalisme dan komersialisme pendidikan.

Namun demikian, visi dan paradigma guru yang hendak dibangun Munif dalam buku ini bisa dibilang cukup sejalan dengan kedua filsuf pendidikan tersebut karena sama-sama mengasumsikan visi kemanusiaan yang mendalam. Mereka bersepakat dalam menempatkan guru sebagai aktor penting pembangun peradaban dan sama-sama memperlakukan anak didik sebagai sosok unik yang perlu didekati dengan hati. Tapi dalam hal lain Munif tampak kurang menyelami aspek-aspek struktural menyangkut kehidupan sosial, budaya dan ideologi secara lebih kritis.

Meski begitu, kita bisa menemukan kelebihan buku ini yang cukup baik, yakni arahan teknis yang begitu banyak digali untuk membumikan paradigma guru tersebut yang sebenarnya banyak dipetik dari pengalaman Munif selama bertahun-bertahun bergelut di dunia pendidikan.

Sebagai seorang guru, melalui buku ini Munif telah mencoba menginspirasi guru-guru yang lain dan masyarakat umum untuk lebih menguatkan peran pendidikan dan meningkatkan mutu guru pada khususnya sehingga bisa mengantar Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat.


Tulisan ini dimuat di Majalah Suluh MHSA, edisi X, Maret 2012.

Read More..

Rabu, 21 Maret 2012

Lapis-Lapis Diri

Dalam kehidupan sehari-hari, saat menjalin hubungan dengan orang lain, seseorang akan hadir seumpama lapisan-lapisan yang membentuk struktur tanah. Ketika sedang berurusan dengan si A, saya hadir sebagai seorang guru Bahasa dan Sastra Indonesia. Bila berbincang dengan si B, saya tampil sebagai seorang mitra belajar dalam hal kepenulisan. Manakala berbicara dengan si C, saya hadir sebagai semacam catatan harian yang siap mendengar dan merekam lika-liku kehidupannya. Bersama si D, saya adalah gumpal kegalauan dari berbagai persoalan kemasyarakatan dan tantangan masa depan. Saat ada bersama si E, saya seperti petugas perpustakaan dunia yang sedang mencari koleksi-koleksi buku langka dan berharga. Berjumpa dengan si F, saya adalah peminat filsafat yang ingin menyelam ke dasar lautan dan mencari makna di tengah ketakmasukakalan dunia.

Sosok A, B, C, D, E, F, dan seterusnya, hingga tak berhingga, tampaknya dapat disebut sebagai para peubah yang membentuk lapis-lapis diri pada diri saya. Mereka berkenalan, hadir, dan hidup bersama saya, dengan kadar dan geloranya masing-masing, sambil mengembangbiakkan wajah-wajah saya yang beraneka rupa. Masing-masing tampak seperti memberi kartu pengenal yang berbeda-beda untuk saya, lalu kadang dipampangkannya di halaman atau di simpang jalan—atau sekadar mereka simpan.

Lapis-lapis diri ini juga tampak ibarat lorong yang menghubungkan saya dengan orang lain. Semakin dekat hubungan saya dengan seseorang, semakin banyak lorong yang menghubungkan saya dengan dirinya. Dalam sebuah jalinan profesional, misalnya, lazimnya seseorang hanya akan berhubungan dengan saya di satu lapis-diri saja. Kecil sekali kemungkinannya bagi dia untuk memasuki saya lewat lorong yang lainnya. Hanya di satu lorong itulah dia mendekati dan memahami saya.

Sebenarnya, pola jalinan-satu-lorong ini merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan sehari-hari, karena saya memang tak akan mungkin selalu menjangkau orang lain dari lorong yang banyak. Urusan kehidupan terlalu banyak cabangnya sehingga saya pikir akan mubazir juga bila saya harus berbagi semuanya pada sebanyak-banyak orang.

Hanya saja, sulit dibantah bahwa pola jalinan-satu-lorong ini tampak semakin mengemuka di zaman ini, saat kehidupan semakin tersekat ke dalam lorong-lorong khusus dan lapis-lapis diri semakin terkotak dalam definisi yang sempit dan khusus, seperti apa yang kemudian disebut dengan profesi. Akibatnya, cara orang berhubungan dengan orang lain semakin terbatas ke dalam pola jalinan-satu-lorong ini.

Dalam kewajaran pola jalinan-satu-lorong ini, atau dengan lorong yang relatif tidak banyak, di antara lapis-lapis diri yang mendefinisikan seseorang, saya lalu berpikir tentang bagaimana masing-masing lapis diri itu menjadi landasan untuk menilai pribadi seseorang. Dalam pergaulan sehari-hari, orang lain memberi penilaian pada saya mungkin hanya di satu lapis diri saya saja. Atau mungkin dua. Yakni di lorong tempat dia lalu-lalang menjumpai saya. Atau dari pintu masuk yang baru saja dia lintasi. Karena itu, sangat mungkin saya akan dinilai dengan mutu pribadi yang sangat berbeda oleh dua orang yang bertamu pada saya melalui dua lorong, pintu, atau lorong-lorong yang berbeda.

Apakah ini semacam subjektivisme atau relativisme dalam memberikan penilaian? Saya kurang tertarik untuk melihat soal ini dari sudut pandang yang cenderung mengarah pada pengelompokan teoretis semacam ini. Pada soal ini, saya tampaknya lebih tertarik untuk melihatnya dalam kerangka yang lebih praktis dan mungkin sederhana. Saya ingin menempatkannya sebagai bagian dari keterbatasan saya untuk bisa memberi penilaian yang utuh pada orang lain, sehingga tampaknya sulit bagi saya untuk mencerna lapis-lapis diri orang lain sebanyak mungkin.

Saya bukanlah Raqib dan ‘Atid yang bekerja sepanjang waktu mencatat rekam jejak semua perbuatan seseorang. Saya hanyalah seorang guru yang bersama si A tiga atau empat jam pelajaran setiap pekan selama satu, dua, atau tiga tahun pelajaran. Saya hanyalah seorang murid yang mencerna dan menimba ilmu dari si B selama enam tahun, bersama-sama di kelas, dan di luar itu si B nyaris saya jumpai sama seperti orang kebanyakan.

Lalu dengan alasan macam apa jika saya kemudian kadang tergoda untuk seolah-olah menjadi seperti Sang Majikan Raqib dan ‘Atid?

Lapis-lapis diri saya, seperti juga orang lain, pun tidak senantiasa diam. Ia bergeliat, dengan perlahan, kadang tanpa terasa, kadang juga tak demikian. Suatu saat, mungkin saja salah satu lapisan itu akan bergerak dan mencipta semacam gempa mini dalam diri saya. Jika struktur lapisan diri kita tertata sedemikian rupa, bisa jadi gempa mini itu tak memakan korban. Tapi bisa juga gempa mini itu akan merombak struktur lapisan diri kita yang lain.

Saya berpikir tentang lapis-lapis diri ini terutama untuk saya sendiri. Maksudnya, saya sebenarnya sedang mencoba memahami diri saya sendiri, lapis-lapis yang menyusun dan membentuk diri saya di hadapan yang lain: keluarga, rekan, masyarakat. Di sela-sela pikiran saya ini, sekilas sempat terbersit pertanyaan, selain Tuhan apa mungkin akan ada orang yang nantinya akan mendekati saya dari lorong yang nyaris penuh dan utuh?

Sekali lagi, tulisan ini pada dasarnya dibuat agar saya sadar diri untuk melihat ke dalam diri saya. Tulisan ini bukan untuk menjadi lampu sorot untuk orang lain. Mungkin juga bisa dikatakan bahwa tulisan ini semacam jalan pulang ke ruang kecil dalam diri saya agar saya tak tersesat terlalu jauh dalam hiruk-pikuk kehidupan saat ini.

Read More..

Kamis, 01 Maret 2012

Listrik Padam 130 Kali Setahun

Iklan PLN di Harian Kompas, 12 Januari 2011, halaman 2.

Pada hari Kamis, 23 Februari 2012, saya mengirimkan tulisan untuk rubrik “Redaksi Yth” Harian Kompas. Isinya tentang hasil pengamatan saya selama setahun mencatat listrik padam di Guluk-Guluk, Sumenep. Tulisan saya itu berjudul “Listrik Padam 130 Kali Setahun”.

Tulisan saya itu kemudian dimuat hari ini, tepat sepekan setelah dikirimkan. Ironisnya, pada hari tulisan saya tentang listrik padam itu dimuat, PLN melakukan pemadaman di wilayah Guluk-Guluk, Sumenep, setelah lewat tengah hari. Saat itu, listrik padam sekitar 90 menit. Sekitar 30 menit setelah menyala, listrik sempat padam kembali beberapa detik.

“Apakah petugas PLN Guluk-Guluk, Sumenep, sudah membaca Kompas hari ini?” tanya saya. Salah seorang rekan saya menjawab, “Itu respons PLN terhadap tulisan, biar hitungannya tambah banyak.”

Tidak, saya pikir PLN memang belum membaca Kompas hari ini.



Berikut ini tulisan yang saya kirimkan ke Kompas dalam versi awal. Setelah dimuat, Kompas menyunting dan meringkas tulisan saya tersebut, sebagaimana dapat dibaca dalam kliping Kompas cetak yang juga saya sertakan di sini.

"Pada tanggal 12 Januari 2011, di Harian Kompas saya mendapatkan iklan Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang memuat data listrik padam di tahun 2010. Di situ di antaranya tercantum bahwa untuk Pamekasan, di tahun 2010 listrik padam 25 kali.

Saya tidak tahu pasti yang dimaksud “Pamekasan” apakah merujuk pada kota atau kabupaten. Saya juga bertanya-tanya, apakah wilayah Pulau Madura yang lain, seperti Sumenep, tempat saya tinggal, juga sama.

Pertanyaan ini muncul karena di lingkungan rumah tinggal saya, yakni Desa Guluk-Guluk, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, listrik padam sangat sering terjadi, meski beberapa tahun yang lalu sudah sempat ada lembaga masyarakat yang mengadvokasi masalah listrik padam ini.

Sejak melihat iklan itu, saya lalu tertarik untuk mencatat listrik padam di lingkungan rumah tinggal saya. Akhirnya, dalam waktu setahun, yakni mulai 12 Januari 2011 hingga 12 Januari 2012, saya mencatat listrik padam di Guluk-Guluk, Sumenep, terjadi sebanyak 130 kali (teknisnya, setiap listrik padam, saya menuliskannya di akun twitter saya). Listrik padam yang saya catat adalah pemadaman dari PLN, baik itu berlangsung beberapa detik, atau beberapa jam. Jumlah 130 kali ini saya pikir adalah jumlah minimal, karena sangat mungkin ada kejadian listrik padam yang tak tercatat, baik karena saya sedang bepergian ke luar desa, atau hal lainnya.

Saya mencatat listrik padam di wilayah saya sebagai bagian dari partisipasi untuk mengontrol pelayanan publik di wilayah saya. Selama ini, jika warga telat membayar listrik, langsung kena sanksi. Sedangkan pemadaman dari PLN yang seringnya tanpa pemberitahuan ini saya pikir telah banyak memakan korban barang-barang elektronik warga yang usianya dipotong karena terlalu sering mengalami kejutan.

Saya pikir menarik jika warga melakukan upaya kontrol seperti ini. Bahkan jika mungkin dengan catatan yang lebih terperinci, misalnya mencatat hingga durasinya. Meski mungkin terkesan sederhana, tapi paling tidak dengan cara ini saya berharap PLN mau lebih serius melanjutkan tugasnya untuk memberikan layanan yang baik kepada warga."


Tulisan terkait:
>> Jam Bumi dan Keadilan Energi.

Read More..

Senin, 27 Februari 2012

Mengantarkan Perpustakaan ke Ruang Kelas

Siswa SMA 3 Annuqayah menikmati suguhan "perpustakaan" yang diantar ke ruang kelas.

Membangkitkan minat baca menjadi salah satu persoalan penting di negeri kita, termasuk juga di sekolah. Apalagi di tengah terbatasnya fasilitas perpustakaan sekolah dan kurang terbiasanya siswa dalam membaca di lingkungan sebelumnya, misi untuk menumbuhkan kebiasaan membaca di sekolah menjadi semakin menantang. Perpustakaan yang tampil kurang menarik dan buku bacaan yang terbatas membuat siswa enggan datang ke perpustakaan dan menekuri buku. Beginilah mungkin nasib dan tantangan siswa dan sekolah khususnya di daerah pelosok yang minim fasilitas.

Tambahan lagi, sekolah-sekolah di pedalaman kadang juga berhadapan dengan masalah keaktifan dan kedisiplinan guru untuk datang tepat waktu ke sekolah.

Sekitar setahun yang lalu, saya menemukan tawaran ide untuk menjawab dua persoalan ini. Jadi, dalam rangka membangkitkan minat baca siswa di sekolah dan sekaligus sambil menunggu guru yang belum masuk kelas (aspek yang kedua ini bisa diabaikan jika guru-guru sudah bisa masuk tepat waktu ke sekolah/kelas), maka saya pikir akan menarik kiranya jika kita mencoba mengantarkan perpustakaan ke ruang kelas.

Mengantarkan perpustakaan ke ruang kelas? Maksudnya?

Sambil menunggu guru datang, atau di awal jam pelajaran, kita bagikan satu tulisan bermutu dan inspiratif kepada tiap siswa untuk dibaca di dalam kelas. Karakteristik dan kriteria tulisannya adalah: panjangnya berkisar antara 600 hingga 700 kata, memuat ide atau tema yang menarik dan atau inspiratif serta dekat dengan kehidupan atau pengalaman siswa, memiliki gaya bertutur naratif atau mudah dicerna, dan bisa mendukung kepada kegiatan pembelajaran dan pendidikan.

Mengapa 600 hingga 700 kata? Jumlah ini sebenarnya bersifat relatif. Tapi tulisan dengan panjang sedemikian ini kira-kira dianggap cukup nyaman dibaca karena siswa hanya akan membutuhkan waktu sekitar 3-5 menit untuk menuntaskannya. Jika berhadapan dengan tulisan yang relatif panjang, mereka yang belum terbiasa membaca bisa jadi sudah akan merasa malas sebelum mulai membaca.

Dari mana tulisan itu diambil? Tulisan-tulisan itu bisa diambil dari buku, majalah, koran, internet, dan sebagainya. Patokannya adalah kriteria di atas tadi, yang pada dasarnya dibuat dengan asumsi bahwa kriteria ini akan menjaga mutu tulisan sekaligus akan cocok untuk mereka yang belum terbiasa membaca—dengan kata lain, bisa membangkitkan semangat membaca.

Siapa yang memilih tulisan itu? Semula, saya melakukannya sendiri. Tetapi selanjutnya saya juga menghubungi beberapa teman yang cukup akrab dan mengerti dengan dunia perbukuan dan kepenulisan, berpesan kepada mereka bahwa jika mereka menemukan tulisan dengan kriteria di atas, mohon untuk memberi tahu saya. Tentu saja saya juga memaparkan gagasan di balik permohonan saya ini. Jadi, bisa dikatakan tulisan dipilih oleh tim.

Sampai di sini, saya merasa gagasan ini cukup menarik, karena bisa dibilang juga menjadi bagian dari gagasan yang sangat saya dukung—dan pernah saya tulis serta dicoba dipraktikkan saat saya menjadi Kepala Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, tahun 2008-2009 lalu—agar perpustakaan bisa lebih aktif mendorong tradisi membaca dengan bentuk kegiatan dan inovasi-inovasi kreatif.

Secara sederhana, dengan program ini saya menargetkan siswa akan membaca paling sedikitnya 100 tulisan bermutu (dengan kendali mutu yang harus dijaga dengan ketat) dalam satu tahun pelajaran. Untuk diketahui, dalam satu tahun pelajaran biasanya ada sekitar 230 hari efektif. Jadi target 100 tulisan per tahun pelajaran ini sebenarnya adalah target minimal yang tidak muluk dan cukup realistis.

Jika dalam satu tahun pelajaran siswa membaca paling sedikit 100 tulisan bermutu, maka dalam tiga tahun mereka akan telah membaca 300 tulisan! Saya pikir target ini masih sangat mungkin berlipat ganda.

Tantangannya sementara ini adalah menemukan tulisan yang benar-benar bermutu, bertema beragam, dan cocok dengan siswa. Karena itu, catatan saya ini sebenarnya saya maksudkan sekaligus sebagai undangan kepada semua pihak untuk berpartisipasi. Mari, jika punya atau ketemu dengan tulisan bagus yang kira-kira cocok dengan kriteria dan latar belakang di atas, segera hubungi saya. Atau mungkin Anda memiliki tulisan karya Anda sendiri yang kira-kira layak diantarkan ke ruang kelas, silakan, saya tunggu.

Andaikan para pengelola sekolah punya gagasan yang sama dengan saya dan mau bekerja sama menemukan esai-esai atau tulisan dengan mutu dan racikan yang tepat, saya kira target menemukan sekian ratus judul bisa lebih mudah. Karena itu, mari, jika ada kepala sekolah atau kepala perpustakaan yang mau bekerja sama, saya tunggu.

Berapa tulisan yang sejauh ini sudah terkumpul? Meski gagasan ini sudah muncul sekitar setahun yang lalu, tapi saya baru bisa menggarapnya secara lebih serius beberapa waktu yang lalu. Sampai sejauh ini saya sudah mengumpulkan sekitar 60 judul tulisan. Artinya, 60 judul itu sudah diketik ulang. Tapi tidak semuanya siap pakai, karena masih ada proses yang harus dilalui, di antaranya memastikan mutu dan kelayakan tulisan sebelum diperbanyak dan dibagikan kepada siswa.

Selain 60 judul tersebut, ada beberapa tulisan yang sedang dalam proses pengetikan.

Seperti apa contoh tulisan yang sudah dianggap layak dan bermutu? Sekali lagi, saya memilih tulisan atas dasar kriteria di atas. Dalam prosesnya, saya menemukan tulisan Jalaluddin Rakhmat, M. Quraish Shihab, Nurcholish Madjid, Dewi Lestari (Dee), Goenawan Mohamad, Jakob Sumardjo, dan sebagainya. Yang menarik, sangat mungkin ada satu buku yang sangat layak untuk disuguhkan semua ke ruang kelas dengan cara dicicil. Misalnya, saya sedang memproses buku Jalaluddin Rakhmat, Tafsir Kebahagiaan (Serambi, 2010), untuk disuguhkan semuanya ke ruang kelas karena semua bagian di buku ini tampaknya akan sangat cocok dan bakal disukai siswa.

Mungkin siswa—khususnya yang belum terbiasa membaca—bisa menolak untuk membaca sebuah buku tertentu, meski itu bagus. Tapi kalau dengan cara dicicil, bisa jadi dia akan tuntas membaca buku tersebut tanpa merasa terbebani.

Jika sebuah tulisan sudah melewati proses “jaminan mutu” dan diketik rapi, apa langsung siap pakai dan diperbanyak?

Nah, ini dia yang menarik. Untuk mendukung tujuan besar yang terkandung dalam proyek ini, menurut saya, kita juga layak bekerja keras dengan menyuguhkan kamus kecil untuk setiap tulisan yang akan dibawa ke ruang kelas itu. Kamus kecil ini bukan semacam makanan penutup. Ini lebih merupakan sayur yang akan menambah gizi tulisan yang disajikan ke ruang kelas itu. Jadi, kata-kata yang sekiranya belum cukup akrab untuk siswa dicetak tebal, dan di bagian bawah kemudian disajikan kamus kecil yang definisinya diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa. Kamus kecil ini juga akan menerangkan nama-nama tokoh atau tempat yang ada dalam tulisan tersebut.


Salah satu contoh tulisan yang diantarkan ke ruang kelas.


Di antara naskah yang saya pilih, ada cerita-cerita singkat penuh hikmah dengan tokoh Nasruddin yang juga terkenal di kalangan sufi yang diceritakan ulang oleh Sugeng Hariyanto dalam bahasa Inggris. Bukunya diterbitkan oleh Penerbit Kanisius. Saya mengambil cerita berbahasa Inggris dari buku ini sekaligus juga dengan disertai terjemahan bahasa Indonesianya yang disusun oleh Klub Penerjemah Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah pada tahun 2008 lalu. Anggota klub ini dahulu kebanyakan adalah siswa SMA 3 Annuqayah. Nah, untuk tulisan seperti ini, kamus kecilnya adalah kamus bahasa Inggris.

Di banyak kesempatan jika saya berbicara tentang kepenulisan atau mengajar bahasa Indonesia di ruang kelas, saya sering menekankan pentingnya penguasaan kosa kata bagi mereka yang ingin belajar bahasa—bahasa apa pun. Jadi, proyek mengantarkan perpustakaan ke ruang kelas ini sekaligus juga memastikan bahwa mereka juga disuguhi kamus bahasa.

Dalam praktiknya, yakni di tempat saya mengajar, SMA 3 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, saya senang sekali saat kemarin melihat beberapa siswa tampak dengan rajin mencatat kosa kata yang dicantumkan dalam tulisan yang dibagikan tersebut. Artinya, mereka tidak hanya mencerna makanan utamanya, tetapi juga menikmati sayurnya.

Tanggapan positif lain yang sudah muncul dan menggembirakan adalah saat ada beberapa siswa yang kemudian datang ke kantor sekolah dan minta izin untuk memfotokopi tulisan yang sebelumnya dibagikan dan telah dibacanya di kelas. Ini mungkin bisa menjadi dorongan agar saya sebagai pengelola harus terus menjaga dan mengevaluasi kualitas setiap tulisan yang dibagikan.

Terakhir, saya ingin menggarisbawahi bahwa program mengantarkan perpustakaan ke ruang kelas ini pada dasarnya hanyalah program pemicu. Tujuannya adalah membangkitkan minat baca dan menginspirasi siswa untuk bergerak menjelajah lebih jauh ke perpustakaan—seperti apa pun kondisinya—atau ke sumber-sumber pengetahuan dan ilmu lainnya. Khusus tentang perpustakaan, bagaimanapun ia akan memainkan peran penting untuk memfasilitasi siswa atau masyarakat pada umumnya untuk terus belajar dan menggali pengetahuan dan ilmu.

Karena itu, wahai pembaca yang budiman, lebih jauh lagi saya sampaikan bahwa sebenarnya, selain berharap dukungan dan partisipasi konkret dari para pembaca sekalian untuk pelaksanaan proyek ini, saya juga berharap dukungan para pembaca yang budiman untuk turut juga membantu memajukan perpustakaan di komunitas saya, misalnya dengan menyumbangkan buku-buku, majalah, dan sebagainya. Andaikan nanti minat baca siswa semakin baik, di antaranya mungkin karena keberhasilan proyek ini, misalnya, maka ini tentu juga akan menuntut peningkatan kualitas perpustakaan untuk memenuhi hasrat akan pengetahuan yang sudah tumbuh di kalangan mereka.

Saya tidak punya banyak daya untuk membangun perpustakaan di komunitas saya—di sekolah tempat saya mengajar, juga di pesantren tempat saya berkhidmat—sendirian, karena kami punya banyak keterbatasan. Tapi saya tidak tinggal diam. Program mengantarkan perpustakaan ke ruang kelas ini, misalnya, adalah salah satu langkah konkret saya menghadapi sekian keterbatasan itu.

Namun, jika Anda, pembaca yang budiman, sepakat dan bersedia menjadi satu tim dengan saya untuk mendukung secara konkret gagasan-gagasan saya di atas, maka keterbatasan itu mungkin tak akan begitu terasa buat saya. Dengan dukungan konkret itu, Anda, pembaca yang budiman, pada akhirnya mungkin akan menjelma lilin-lilin yang pelan-pelan dapat mengusir gelap di sini, di sebuah kampung di pedalaman Madura yang senyatanya sudah tak bisa lepas dari arus globalisasi.

Saya rasa demikian.

Saya tunggu.

Terima kasih.

Read More..

Selasa, 21 Februari 2012

Melek Informasi

Ada berapa status Facebook yang saya baca hari ini? Ada berapa tweet yang saya ikuti hari ini? Ada berapa iklan yang—sadar atau tidak—menyerbu saya hari ini melalui koran, televisi, radio, internet, dan sebagainya? Ada berapa judul dan teras berita yang saya baca hari ini?

Pertanyaan-pertanyaan ini muncul di benak saya saat saya berpikir soal banjir informasi dari berbagai media yang menimpa kehidupan saya dan orang lain di zaman ini. Informasi itu menyerbu saya melalui bermacam bentuk media komunikasi yang terus memperbarui diri secara cepat. Media komunikasi itu—seperti televisi, internet, koran atau majalah, iklan—tak putus berusaha untuk tampil dengan wajah baru untuk lebih memikat dan menarik perhatian orang banyak.

Di zaman informasi ini, kita memang dikepung oleh media dan informasi. Saya teringat pemaparan Annie Leonard yang menyatakan bahwa warga Amerika saat ini disasar oleh lebih dari tiga ribu iklan setiap hari—bahkan ada yang bilang lebih dari itu.

Saya, yang hidup di pelosok kampung di Madura, mungkin diserbu iklan tak sebanyak itu. Tapi saya yakin jumlahnya bisa mencapai puluhan. Saya akan menemuinya di lembar-lembar koran yang saya baca. Tanpa sadar, saya juga akan melihat iklan di laman-laman yang saya buka. Di kawasan “pertigaan emas” dekat rumah saya, saya akan menemukan iklan-iklan di beberapa toko yang berderet di situ.

Sementara itu, berita-berita, baik itu di koran terbitan lokal maupun nasional, atau juga di internet, setiap hari menyajikan informasi yang melimpah. Saya rasanya ingin menyerapnya setiap pagi. Tapi sering kali waktu saya terbatas untuk melahap informasi yang sepertinya tak terbatas itu.

Kehadiran media yang memuat informasi yang banyak dan beragam, alirannya yang deras, serta kemasannya yang cermat dan memikat ini menurut saya memiliki kekuatan dan pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan masyarakat saat ini. Pengaruhnya memang tidak serta-merta terasa, karena perubahan yang kemudian dimunculkannya sering serupa tangga dengan sudut yang agak landai—bukan seperti tikungan tajam.

Pengaruh media ini bagi saya menjadi begitu terasa justru karena saya hidup di kampung. Masyarakat kampung di tempat saya, dengan segala keterbatasan mereka, rata-rata tidak memiliki ruang gerak yang memungkinkannya berjumpa secara langsung dengan banyak hal di luar kebudayaan dan lingkungan mereka. Akan tetapi, kehadiran media, mulai dari yang sederhana seperti televisi hingga internet yang belakangan relatif mulai semakin mudah didapat, telah memberi kemungkinan baru bagi masyarakat di pedalaman—tentu termasuk saya—untuk mengenal dan bersentuhan dengan hal-hal baru, yakni hal-hal yang sebelumnya tampak asing.

Di kelas, misalnya, saya bisa menemukan dengan cukup mudah siswa yang hafal nama-nama pasangan artis dengan beberapa perincian penggalan kisah kehidupan pribadi mereka. Mereka mungkin juga telah memiliki perbendaraan kata berupa istilah-istilah trendi yang bisa saja tak saya pahami. Lebih jauh lagi, mereka bahkan sangat mungkin tak hanya hafal nama-nama atau kosakata, tapi juga diam-diam mengikuti gaya atau segi tertentu dari orang atau hal-hal yang mereka temukan di media. Tambahan lagi, saya kadang bersentuhan langsung dengan orang yang tampaknya telah menjadi korban media di lingkungan pendidikan tempat saya bergiat—dan saya seperti sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk membantu keluar dari jeratan dan pengaruh buruknya.

Media mungkin memang telah menjadi kiblat sekaligus “rasul” yang menawarkan bimbingan ke arah hidup tertentu. Tapi izinkan saya menyebutnya dengan ungkapan yang lain: media saat ini telah menjadi rezim yang diam-diam mengendalikan kehidupan kita. Ia adalah pemerintah yang mungkin tanpa sadar kita pilih melalui sebuah pemungutan-suara-tiada-henti-setiap-hari saat kita menyimak berita, berbelanja, dan sebagainya.

Sampai di sini saya lalu teringat Althusser yang menyatakan bahwa media adalah perkakas ideologis negara. Media bekerja untuk secara diam-diam mengendalikan kehidupan masyarakat agar tetap selaras dengan kepentingan ideologis mereka yang menikmati empuknya kursi kekuasaan.

Menyadari situasi dan tatanan yang sedemikian rupa ini, saya semakin sadar bahwa baik perorangan maupun lembaga-lembaga di masyarakat saat ini sebenarnya memiliki tugas bersama untuk menyiapkan generasi dan masyarakat yang melek informasi dan melek media. Secara khusus, kaum muda tampaknya telah dan akan menjadi sasaran dan mangsa empuk media, karena situasi kejiwaan mereka yang tengah berada di persimpangan jalan memberikan banyak peluang dan keuntungan bagi mereka yang menguasai media untuk dapat diarahkan sesuai dengan kehendak mereka.

Sebagai orang yang setiap hari bergelut di dunia pendidikan, saya pun bertanya: untuk mereka yang memerankan dirinya sebagai pendidik, apakah mereka menyadari dan mengamati tantangan media dalam kehidupan masyarakat saat ini? Jika jawabannya positif, apakah mereka sudah mereka-reka dan merancang siasat yang perlu dipersiapkan untuk menjawab tantangan berat ini? Lebih masuk lagi, kemudian, di pelajaran apakah dan di kegiatan apakah sekolah dan lembaga pendidikan serupa ikut bersama-sama membekali kaum muda untuk bisa lebih sadar informasi dan sadar media sehingga mereka tak mudah diperdaya?

Saya teringat iklan-iklan politik di koran lokal di Madura saat musim pemilihan umum atau calon anggota legislatif yang dimuat sedemikian rupa sehingga tampak seperti berita. Saya juga teringat berita-berita yang masih menggunakan pilihan-pilihan kata yang tidak adil, seperti kata “menggagahi” untuk kasus pemerkosaan, sehingga pemerkosaan diam-diam dikesankan sebagai sesuatu yang gagah. Saya juga teringat berita-berita di koran yang memuat penggambaran elite-elite politik yang kemudian naik daun karena terkesan tampil merakyat atau peduli dengan nasib rakyat, sementara kenyataan atau rekam jejaknya kadang tampak menunjukkan hal yang berseberangan. Saya pun merasa risau jika mengingat tayangan-tayangan televisi yang sering kali menjauhkan pikiran masyarakat dengan kehidupan nyata di sekitar mereka.

Apa jadinya jika generasi masa depan kita terus dibiarkan melahap sampah informasi dan atau virus-virus yang kadang ikut menyertai banjir informasi di zaman ini?

Sambil terus bergelut menuntaskan pemberantasan buta aksara, saat ini bangsa kita menghadapi tantangan baru untuk menyiapkan dan mendidik warga masyarakatnya agar melek informasi. Tugas ini penting disadari dan ditindaklanjuti dengan langkah nyata, karena jika dibiarkan, masyarakat yang tak dibekali kemampuan kritis untuk mencerna informasi dapat terjatuh pada perbudakan akal budi sehingga kemudian harkat dan martabat kemanusiaannya mungkin bisa terlucuti.

Wallahualam.

Read More..

Minggu, 19 Februari 2012

Sejarah Dunia Perspektif Islam: Problem Identitas dan Dialog Peradaban

Judul buku: Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam
Penulis: Tamim Ansary
Penerjemah: Yuliani Liputo
Penerbit: Zaman, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2010
Tebal: 590 halaman


History is not knowledge of external facts or events; it is a form of self-knowledge.
—Ernest Cassirer

Dalam buku berjudul An Essay on Man yang mengulas tentang manusia dan kebudayaan, Ernst Cassirer (1847-1945) menempatkan sejarah dalam satu konteks yang menarik. Menurut Cassirer, sejarah bukanlah pengetahuan yang memuat fakta dan kejadian eksternal. Sejarah adalah bentuk pengenalan-diri, atau upaya manusia untuk “terus-menerus kembali kepada dirinya sendiri” (constantly returns to himself). Cassirer menjelaskan bahwa sejarah berbeda dengan proses yang terdapat dalam ilmu alam yang oleh Max Planck dilukiskan sebagai upaya untuk menghilangkan unsur-unsur antropologis, mengubur manusia dan menyingkap hukum-hukum alam yang sebelumnya tersembunyi. Sementara itu, apa yang dikejar oleh sejarah dinyatakan Cassirer dalam formula yang cukup paradoks, yakni “antropomorfisme objektif” (Cassirer, 1944: 241-242).

Pernyataan Cassirer ini tentu saja tak dimaksudkan untuk menutup karakter objektif dalam catatan sejarah. Poin penting yang hendak disampaikan Cassirer dalam butir pemikiran ini adalah terkait dengan makna sejarah dalam arus kehidupan dan peradaban manusia. Sejarah sangat terkait erat dengan identitas manusia, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok masyarakat. Individu maupun kelompok masyarakat merumuskan identitas mereka dengan mencari rujukan sejarah dalam berbagai bentuknya. Ada sekelompok masyarakat yang mungkin merumuskan identitas mereka dengan rujukan historis yang bersifat mitis. Ada pula yang mencari acuan pada jalinan peristiwa yang dirumuskan secara ilmiah (objektif). Namun terkadang rujukan mitis dan ilmiah itu dapat bersanding.

Sampai di sini, ada satu sudut pandang menarik untuk melihat pembedaan kategori rujukan sejarah yang bersifat mitis dan ilmiah ini. Sejak pemikiran yang berlabel postmodernis menjadi salah satu gairah intelektual di berbagai penjuru dunia, muncul pandangan yang kritis dalam melihat pembedaan antara kategori mitos dan logos (yang mitis dan yang ilmiah). Logos, yang dalam bahasa Yunani bisa berarti ilmu dan dipahami sebagai ilmu dalam kategori ilmiah-objektif, tanpa disadari terkadang sesungguhnya berpindah menempati kategori mitos. Kedokteran modern, misalnya, sebagai contoh yang mewakili logos, pada kasus tertentu kadang didudukkan sebagai mitos oleh orang atau masyarakat tertentu.

Dalam kerangka kritik semacam ini, Tamim Ansary dalam buku ini berusaha untuk menguliti sejarah dunia arus utama dengan menghadirkan sejarah dunia dengan sudut pandang yang “tak cukup biasa”, yakni sudut pandang Islam. Dalam istilah yang agak ekstrem, langkah ini mungkin bisa disebut sebagai “demitologisasi” (sejarah). Sebagai seorang muslim yang menggeluti disiplin sejarah begitu lama sejak dibesarkan di Afghanistan, melalui buku ini Ansary menyampaikan kritik atas Erosentrisme sejarah dunia. Erosentrisme ini mewujud dalam bentuk penyingkiran peran Islam sebagai sebuah kelompok masyarakat dan peradaban dalam titik-titik penting arus perjalanan peradaban manusia.

Di bagian kata pengantar, Ansary bercerita tentang keterlibatannya dalam sebuah proyek penyusunan buku teks sejarah dunia untuk sekolah di Amerika pada tahun 2000. Saat menyusun sistematika buku bersama tim editor yang lain, Ansary merasakan bagaimana unsur-unsur sejarah dan peran masyarakat Islam dipandang sebagai sesuatu yang tak begitu penting sehingga cenderung untuk dikeluarkan, dikecilkan, atau dipinggirkan. Memang tak ada klaim langsung bahwa Islam itu lebih buruk daripada Barat, atau semacam itu. Akan tetapi, Ansary merasakan begitu kuat asumsi yang tampaknya sudah menjadi kesepakatan para editor lainnya bahwa “Islam adalah fenomena relatif kecil yang dampaknya sudah berakhir jauh sebelum Renaisans” (hlm. 16).

Ansary begitu heran mengapa orang-orang Barat ini dapat mengabaikan Islam begitu saja. Padahal, cukup hanya dengan memberikan gambaran berupa fakta geografis “dunia Islam” saat ini, kita akan menyadari betapa Islam masih menjadi sebuah kelompok masyarakat yang besar dari masa ke masa sejak era kelahirannya.

Erosentrisme yang dirasakan Ansary ini kemudian disadarinya memang telah merasuk begitu dalam, mungkin tanpa sadar, pada bidang sejarah. Ansary mengingat salah satu buku favoritnya di masa kecil karya V.V. Hillyer berjudul Child’s History of the World yang ternyata sangat Erosentris. Demikian pula, buku Perspectives on the Past, buku teks sejarah dunia edisi 1997, berbicara tentang Islam hanya dalam satu bab dari 37 bab yang ada.

Bagaimana Erosentrisme ini terjadi? Mari kita sedikit simak teori analisis wacana kritis (critical discourse analysis) yang berada dalam wilayah kajian konsumsi produk media. Pendekatan analisis wacana memahami media sebagai sebuah alat dominasi, yang dalam bahasa Louis Althusser berperan sebagai ideological state aparatus. Dominasi dan hegemoni media dalam kerangka kepentingan kelompok tertentu berlangsung dengan beberapa cara, seperti pemilihan fakta yang diangkat sebagai berita, pemilihan nara sumber, pemilihan sudut pandang pemberitaan, pilihan kata atau istilah kunci, dan termasuk juga terkait beberapa aspek teknis tata bahasa (Eriyanto, 2001).

Erosentrisme dalam buku sejarah kurang lebih bisa ditemukan dengan cara seperti demikian ini. Selain dalam soal pemilihan fakta, misalnya, dalam wujud yang lebih umum dan sederhana Erosentrisme ini tampak juga dalam penggunaan istilah-istilah dan pemilihan sudut pandang penceritaan. Istilah “Timur Tengah”, misalnya, jelas menunjukkan sudut pandang Eropa. Demikian pula istilah “Zaman Kegelapan” (dark ages) yang merujuk pada era kegelapan masyarakat Barat yang kala itu dikuasai dogma agama.

Saya lalu teringat salah satu bagian dalam novel N. Marewo, Lambo, yang menceritakan seorang siswa yang menggugat guru sejarahnya di kelas saat dikatakan bahwa Columbus adalah orang yang pertama kali menemukan benua Amerika. Kata “menemukan” di sini jelas cerminan sudut pandang orang Eropa. Padahal, kata tersebut akan menjadi sulit dicerna akal sehat jika dipahami dari sudut pandang penduduk asli Amerika (Marewo, 1995: 8-9).

Masih terkait Columbus dan penjelajahan orang-orang Eropa, saya sering teringat betapa buku pelajaran di sekolah tak memberi tempat pada kisah hebat pelayaran Laksamana Cheng Ho dari Dinasti Ming di Cina. Padahal, sebagaimana dibahas oleh Frank Viviano, armada Cheng Ho jauh lebih besar dari ekspedisi kaum Eropa. Viviano menggambarkan, bila seluruh armada kapal Columbus dan Vasco da Gama digabungkan, maka cukup ditempatkan di satu geladak kapal dalam armada Cheng Ho (Viviano, 2005: 28-51). Tapi mengapa buku pelajaran sejarah di sekolah tak memberi ruang untuk ekspedisi laksamana muslim berdarah Asia Tengah yang berlayar menjelajah dunia hampir satu abad lebih awal daripada Columbus itu?

Menghadapi pendekatan sejarah yang seperti ini, lalu apa sebenarnya yang tengah dilakukan Ansary melalui buku ini? Dalam pengantarnya, Ansary menegaskan bahwa ia ingin bercerita tentang sejarah dunia dari kacamata seorang muslim. Disebut bercerita karena Ansary terutama bertujuan “untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi menurut pikiran kaum muslim” (hlm. 25). Ansary mengibaratkan penuturannya ini lebih seperti perbincangan di kedai kopi daripada sebagai buku teks ilmiah.

Nah, sampai di sini, saya ingin kembali ke awal, saat saya mengutip Cassirer yang menghubungkan sejarah dengan pencarian identitas. Pilihan Ansary untuk menyajikan sejarah dunia dari sudut pandang Islam dengan gaya bercerita, yakni sejarah dunia menurut pikiran kaum muslim, menurut saya kurang lebih dapat menjadi penjelasan atas istilah “antropomorfisme objektif” yang disebut Cassirer di atas. Istilah antropomorfisme di sini dapat merujuk pada bagaimana kita memahami semangat hidup yang memotivasi umat Islam berabad-abad, yakni kerangka makna yang dibangun umat Islam. Istilah ini juga memiliki keterkaitan dengan soal identitas, terutama dalam pengertian kolektif. Sedangkan istilah objektif menyiratkan bahwa penuturan Ansary ini tak bisa dipandang sebagai semacam alegori belaka. Narasi sejarah dunia bersudut pandang Islam ini juga memiliki semangat yang sama sebagai catatan sejarah, sebagaimana halnya kaum muslim sejak awal telah mengembangkan satu model metode kritik sejarah yang canggih dalam disiplin ilmu ‘ulûmul hadîts (Shihab, 2011: 11).

Dengan latar dan cara pandang seperti ini, Ansary kemudian menyusun kerangka besar sejarah dunia versi Islam dalam beberapa tahapan, dimulai dari era Mesopotamia dan Persia, lalu masuk ke zaman Islam hingga terus ke zaman terkini dengan garis utama pengalaman umat Islam sebagai suatu kelompok masyarakat.

Di bagian paling awal, sebelum bercerita tentang peradaban awal di Mesopotamia, Ansary sedikit menuturkan cikal-bakal dua peradaban dunia saat ini: Barat dan Islam. Menurut Ansary, peradaban Barat lahir dari perkembangan lebih lanjut dari dunia Mediterania yang terpusat dan terhubung melalui rute laut. Sementara itu, peradaban Islam berkembang dari jalinan Dunia Tengah (yang dalam perspektif Barat disebut Timur Tengah) yang terhubung melalui rute darat.

Peradaban awal manusia di kawasan Dunia Tengah diceritakan dengan cukup singkat oleh Ansary, tepatnya hanya 22 halaman, sebelum kemudian langsung masuk pada kisah penting tentang kelahiran dan awal pertumbuhan Islam. Untuk bagian ini, Ansary memberikan pemaparan yang cukup detail, karena ini adalah masa-masa ditegakkannya dasar-dasar narasi Islam. Dalam menguraikan masa awal pertumbuhan Islam, Ansary menekankan bahwa Islam adalah sebuah proyek sosial, yakni sebuah ikhtiar untuk membangun masyarakat yang adil dan setara secara sosial. Ini adalah visi mendasar yang tampak jelas pada awal pertumbuhan Islam, termasuk juga selama periode empat khalifah: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Perjalanan Islam sebagai sebuah agama dengan visi yang sedemikian ini mengalami dinamika dalam bentangan sejarah. Terlepas dari beberapa kekurangan yang bersifat manusiawi, Ansary menegaskan bahwa keempat khalifah yang populer dengan gelar Khulafâ’ al-Rasyidûn tersebut dapat dipandang sebagai penjaga visi komunitarian Nabi Muhammad saw. yang bergulat untuk menerapkan wahyu dengan tulus. Setelah kematian Ali, tulis Ansary, “kekhalifahan hanyalah sebuah kekaisaran” (hlm. 126).

Penilaian Ansary atas perjalanan Islam setelah periode ini memang tak secara eksplisit diurai panjang lebar dari sudut pandang politik kekuasaan saja. Memang ada pernyataan tentang pemerintahan Umayyah yang gagal dalam mewujudkan visi persaudaraan egaliter sebagaimana yang dijanjikan Islam akibat dominannya bayang-bayang politik kesukuan di saat kekuasaan Islam semakin meluas (hlm. 148). Namun Ansary menyatakan hal ini untuk menjelaskan cikal-bakal kemunculan Dinasti Abbasiyah. Ini tak seperti ulasan Asghar Ali Engineer, misalnya, yang menggunakan data dan analisis panjang lebar dan kemudian menyimpulkan hal yang kurang lebih senada dengan Ansary. Engineer menulis masalah ini dalam bukunya yang berjudul Islamic State, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Devolusi Negara Islam (2000).

Uraian Ansary untuk menjelaskan pernyataan bahwa kekhalifahan Islam (setelah empat khalifah pertama) kemudian menjadi “hanyalah sebuah kekaisaran” lebih berupa pemaparan tentang jatuh-bangunnya kekuasaan politik berbagai kelompok dalam Islam atau muncul dan berkembangnya sekte-sekte politik dalam Islam, termasuk juga lahirnya kantong-kantong kekuasaan muslim baru di beberapa wilayah seperti Dinasti Fathimiyah di Mesir, peran unik keluarga Buwaihi keturunan Persia dalam kekuasaan Abbasiyah, dan Dinasti Seljuk yang menandai masuknya orang-orang Turki dalam sejarah Islam.

Dalam menjelaskan dinamika politik kekuasaan ini, Ansary juga tetap mengacu dan menghubungkan dengan cita-cita atau visi mendasar Islam tersebut di atas. Demikian juga ketika Ansary menjelaskan kelahiran disiplin keilmuan utama dalam Islam yang melahirkan komunitas intelektual tertentu, yakni ulama (fiqih dan teologi), filsuf (filsafat dan sains), dan kaum sufi (tasawuf). Artinya, kemunculan tiga gugus komunitas utama dalam Islam ini oleh Ansary diletakkan dalam kerangka Islam sebagai sebuah proyek peradaban.

Anak judul buku ini, “Sejarah Dunia Versi Islam”, juga bermakna bahwa pengalaman umat Islam dalam kisah sejarah dunia dijadikan sebagai sudut pandang utama. Karena itu, banyak hal menarik yang diungkapkan Ansary dalam buku ini dengan sudut pandang yang dipilihnya itu. Misalnya menyangkut masuknya orang-orang Eropa secara masif dalam sejarah Islam yang dimulai dari peristiwa Perang Salib. Di akhir bagian penuturannya tentang Perang Salib, Ansary mengemukakan sebuah gagasan yang cukup menarik. Ansary tidak sepakat dengan beberapa kalangan yang menggambarkan Perang Salib sebagai benturan peradaban antara Islam dan Barat. Menurut Ansary, laporan-laporan pihak Arab tak menunjukkan bahwa kaum muslim berpikiran demikian (bandingkan, buku karya Carole Hillenbrand, The Crusade: Islamic Perspectives yang sudah diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Serambi). Gagasan tentang benturan peradaban dapat mungkin jika dilihat dari sudut pandang Tentara Salib. Bagi kaum muslim, mereka tak melihat bukti adanya peradaban dari Tentara Salib, karena memang Eropa ketika itu baru hendak beranjak dari masa yang mereka sebut Zaman Kegelapan. Tambahan lagi, kehadiran Tentara Salib juga tak cukup menantang secara intelektual terhadap ide-ide dan keyakinan kaum muslim. Bahkan, Tentara Salib tidak pernah menembus jauh ke dalam dunia muslim, seperti kawasan Mekah dan Madinah, Bagdad, dan juga Persia. Demikian pula, peristiwa Perang Salib tak merangsang keingintahuan tertentu di dunia muslim tentang Eropa (hlm. 248-249).

Sejauh terkait dengan Perang Salib, Ansary menjelaskan dengan baik bagaimana peristiwa ini justru mendorong warga Eropa untuk menjelajah ke timur. Selama periode Perang Salib, masyarakat Eropa dapat mencium adanya peradaban yang canggih di timur. Namun sayang, mereka tak bisa menembus wilayah Dunia Tengah sampai akhirnya mereka memiliki kemampuan mengarungi laut yang bagus sehingga dapat mencapai wilayah timur melalui jalur laut.

Salah satu kelebihan yang cukup menonjol dari pemaparan Ansary dalam buku ini adalah kemampuannya untuk dapat merangkai berbagai peristiwa penting dalam sejarah dunia dalam suatu jalinan kisah yang padu. Misalnya saat menjelaskan kemunduran umat Islam setelah Perang Salib dan awal kebangkitan Barat (Eropa). Memang para ilmuwan muslim sudah banyak mengukir prestasi terutama selama masa Dinasti Abbasiyah. Akan tetapi, tatanan sosial kaum muslim saat itu mulai runtuh akibat serangan dari Eropa, dan juga dari timur yakni kaum Mongol. Yang paling utama, kemunduran umat Islam disebabkan karena perpecahan politik internal di antara berbagai pusat kekuasaan. Akibatnya, perkembangan keilmuan dan peradaban kaum muslim menjadi macet.

Ini berbeda dengan Barat yang meraih penemuan-penemuan ilmiah yang besar saat tatanan sosial mereka mulai bangkit, termasuk reformasi keagamaan yang melahirkan kaum Protestan dan selanjutnya memapankan proses pembentukan konsep negara-bangsa (hlm. 344-345). Selanjutnya, dominasi Barat atas wilayah dunia lainnya bergerak melalui penjelajahannya yang berwatak imperialis.

Namun Ansary menggarisbawahi bahwa saat Barat mendatangi timur melalui imperialisme, Barat tak bisa berperang secara langsung ketika berhadapan dengan masyarakat-mayoritas-muslim yang relatif masih kuat dan punya basis peradaban yang cukup baik. Termasuk juga dengan Cina yang masyarakatnya sudah terorganisasi dengan baik, kaya, dan berteknologi maju. Karena itu, atas wilayah-wilayah semacam ini, Barat hadir sebagai pedagang. Ini jelas berbeda dengan kehadiran Barat di kawasan Amerika Utara dan Amerika Selatan, Australia, dan Afrika.

Sementara Eropa mengalami kemajuan pesat dengan berbagai revolusi di berbagai sisi peradabannya, tatanan masyarakat Islam di ketiga dinastinya (Utsmani di kawasan utama atau Arab, Safawi di Persia, dan Moghul di India) mulai abad ke-17 secara lambat laun melemah. Salah satu gambaran menarik yang dipaparkan Ansary di antaranya terkait keruntuhan Kekaisaran Utsmani yang disebabkan oleh hancurnya tatanan ekonomi mereka akibat strategi para pedagang Eropa. Masuknya orang Eropa dalam sistem ekonomi Kekaisaran Utsmani ditandai dengan pembelian yang mereka lakukan atas bahan baku produksi secara masif sehingga menganjlokkan produksi dalam negeri. Dampak berikutnya, praktik penyelundupan dan mental korup tumbuh subur dan pelan-pelan menggerogoti Kekaisaran Utsmani (hlm. 361-366).

Saat membaca uraian tentang bagaimana kaum imperialis Eropa masuk ke komunitas muslim melalui jalur perdagangan dan pelan-pelan memberi pengaruh yang signifikan, saya teringat paparan Zamakhsyari Dhofier dalam bukunya yang sudah menjadi klasik, Tradisi Pesantren. Di bagian awal buku itu, Dhofier menyinggung tentang penghancuran kehidupan komunitas-komunitas perdagangan di nusantara oleh kaum penjajah Belanda yang pada gilirannya memberi pengaruh secara mendalam dengan mengubah struktur dasar organisasi kemasyarakatan orang Jawa (Dhofier, 1994: 9, 132).

Kemunduran peradaban komunitas muslim di berbagai titik pentingnya pada periode ini memunculkan kejutan-kejutan internal. Bagi beberapa pihak, ini serupa tamparan keras yang menohok pada titik keimanan mereka. Krisis dan kemunduran Islam memicu krisis teologi Islam: jika wahyu Islam memang benar, mengapa kemudian komunitas muslim mundur atau bahkan terkalahkan? Apa artinya? Di manakah letak kesalahannya?

Sebenarnya, krisis semacam ini sudah terjadi sebelumnya. Bisa dikatakan bahwa krisis serupa terjadi setelah Islam diserang oleh Tentara Salib dari Barat dan juga tentara Mongol. Ini juga yang terjadi saat ini, ketika gelombang modernitas dengan berbagai kompleksitas persoalannya dan kedahsyatan gempurannya juga dapat memojokkan komunitas muslim di berbagai penjuru dunia.

Terkait krisis setelah serbuan Tentara Salib dan Tentara Mongol, misalnya, Tamim Ansary mencatat dua model respons yang dilakukan umat Islam, yakni salafisme ala Ibn Taimiyyah dan gerakan tasawuf (hlm. 266-278). Salafisme Ibn Taimiyyah sangat erat dengan pemikiran puritan, karena dia memandang kemunduran Islam terjadi karena umat Islam berhenti mengamalkan Islam yang “benar”. Ia bersikeras untuk membersihkan Islam dari ide-ide baru, interpretasi, dan inovasi. Dari sini, dalam pembicaraan tentang jihad, Ibn Taimiyyah di antaranya kemudian juga memperluas daftar orang-orang yang dapat dilawan dengan jihad hingga termasuk juga para pembid’ah atau mereka yang dianggap menyempal.

Gerakan tasawuf atau sufisme berkembang di kalangan mereka yang ingin mencapai persatuan mistik dengan Allah. Gerakan ini pada titik tertentu membentuk komunitas-komunitas sufi yang bermula dan berpusat di sekitar individu sufi terkemuka.

Serbuan modernitas bagi Ansary lebih kompleks. Pada paruh kedua abad kesembilan belas, orang Eropa telah memegang kendali semua penjuru dunia Islam, dan dominasi ini dicapai tanpa perang atau penyerbuan berskala besar. Namun demikian, penetrasi orang Eropa ini bukan terutama dengan membawa keimanan Kristen mereka. Modernitas yang disebarkan oleh cengkeraman orang Eropa ini membawa pandangan dunia sekuler humanistik. Inilah yang dihadapi umat Islam saat ini.

Tamim Ansary mencatat tiga jenis tanggapan umum sebagai bentuk reformasi yang diambil oleh umat Islam. Tanggapan pertama mengatakan bahwa yang perlu diubah bukan Islam, tapi umat Islam. Tanggapan kedua mengritik pandangan agama yang ketinggalan zaman dan memandang bahwa Barat itu benar. Karena itu, yang perlu dilakukan adalah memodernisasi iman dengan membersihkan takhayul dan memikirkan Islam sebagai sistem yang cocok dengan ilmu. Tanggapan ketiga mirip dengan tanggapan kedua. Bedanya, mereka menekankan pencarian makna iman, sejarah, dan tradisi dari dalam Islam sendiri, sambil menyerap beberapa hal dari Barat. Ketiga respons ini menurut Ansary terwakili oleh sosok Abdul Wahhab dari semenanjung Arab, Sayyid Ahmad dari Aligarh, India, dan Sayyid Jamaluddin-i-Afghan (hlm. 403-404).

Banyak hal menarik yang bisa didapatkan dari buku yang dalam versi bahasa Inggris berjudul Destiny Disrupted: A History of the World through Islamic Eyes dan semula terbit pada tahun 2009 ini. Yang pertama dan utama, buku ini memberi sudut pandang alternatif (Islam) atas sejarah dunia yang selama ini cenderung Erosentris. Kedua, meski terbilang singkat dan tidak sangat detail, uraian dalam buku ini mampu menghubungkan titik-titik penting dalam sejarah dari sisi dialektisnya dengan sangat baik. Ketiga, cara bertutur buku ini sangat nyaman dan tak membosankan sehingga mudah untuk dicerna.

Kaum muslim yang membaca buku ini paling tidak dapat memaknainya sebagai pencarian akar identitas dirinya serta upaya untuk lebih memahami peristiwa-peristiwa penting di dunia saat ini yang melibatkan unsur Islam. Sebagai pencarian identitas, kaum muslim secara lebih mendalam sebenarnya sedang mencoba menjawab pertanyaan: apa makna menjadi seorang muslim di abad ini? Melalui buku ini, Tamim Ansary memberikan kilasan sejarah yang sangat penting untuk menjadi modal menjawab pertanyaan reflektif tersebut.

Karen Armstrong dalam bukunya, Holy War (2001), menghubungkan peristiwa Perang Salib dengan identitas kaum Eropa. Armstrong tak hanya mengaitkan Perang Salib dengan proses pembentukan identitas orang-orang Barat saat ini, tetapi juga menjelaskan bahwa Perang Salib juga terjadi di antaranya lantaran krisis identitas yang dialami orang-orang Eropa setelah keruntuhan Kekaisaran Romawi. Menjelang Perang Salib, orang-orang Eropa berusaha mencari jiwa-kristen baru untuk mendefinisikan ulang jati diri dan identitas mereka.

Namun pencarian identitas yang menjadi kerangka tutur buku yang diterjemahkan dengan sangat baik oleh Yuliani Liputo, seorang penerjemah senior, ini sama sekali tak menggiring pada arah yang cenderung agresif atau negatif, seperti yang diuraikan Armstrong dalam kasus Perang Salib dan orang-orang Eropa. Bahkan, Ansary sesungguhnya mendorong upaya untuk saling memahami kerangka pikir yang melandasi nalar sejarah Barat dan Islam (hlm. 561).

Dalam konteks inilah, bila dicermati dengan lebih mendalam, menempatkan sejarah dunia dari sudut pandang Islam sebagai sebuah upaya untuk mencari makna menjadi seorang muslim mau tidak mau akan mengantarkan kita pada sebuah ruang dialog, yakni dialog peradaban antara Islam dan Barat. Secara tidak langsung, Ansary dalam buku ini berusaha merajut sebuah ruang dialog yang lebih setara antara Barat yang saat ini dominan dan Islam yang cenderung dipinggirkan. Sebagai sebuah ruang dialog, buku ini amatlah menarik karena dapat menggambarkan perjumpaan kedua gugus peradaban tersebut secara proporsional. Dengan demikian, buku ini sekaligus sangat baik dibaca oleh kaum muslim sendiri maupun orang Barat yang selama ini cenderung merasa sendirian, apalagi setelah kehancuran Uni Soviet dan Fukuyama mencatatnya sebagai Akhir Sejarah.

Di halaman-halaman terakhir, Ansary menegaskan perihal ruang dialog ini, juga secara tidak langsung. Paling akhir, ia mengilustrasikan sejarah dunia dengan meminjam analogi seorang filsuf Jerman, Leibniz, yang menyatakan bahwa alam semesta ini terdiri dari “monad-monad”; setiap monad menyusun keseluruhan semesta; setiap monad dipahami dari sudut pandang tertentu; dan setiap monad memuat semua yang lain. Dari ilustrasi ini, Ansary menegaskan tugas bersama untuk menyusun sebuah sejarah-bersama yang tiada lain dilakukan dengan menyusun langkah-langkah kecil bersama menghadirkan sudut pandang tertentu atas sejarah. Jika dipikirkan secara mendalam, terutama mempertimbangkan keberagaman latar dan peradaban manusia saat ini, menyusun sejarah-bersama akan menjadi tugas yang sangat besar. Namun itu semua akan cair dan menjadi ringan jika ruang dialog seperti yang berusaha dibangun Ansary melalui buku ini terus dirawat, diperluas, dan dikembangkan—tentu saja dengan landasan ketulusan.

Wallahualam.


Bacaan Pendukung

Armstrong, Karen. 2001. Holy War: The Crusades and their Impact on Today’s World. Edisi Kedua. New York: Achor Books.

Cassirer, Ernst. 1944. An Essay on Man: An Introduction to a Philosophy of Human Culture. New York: Doubleday.

Dhofier, Zamakhsyari. 1994. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Cetakan Keenam. Jakarta: LP3ES.

Engineer, Asghar Ali. 2000. Devolusi Negara Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS.

Hillenbrand, Carole. 1999. The Crusade: Islamic Perspectives. Edinburgh: Edinburgh University Press.

Marewo, N. 1995. Lambo. Yogyakarta: Bentang Budaya.

Shihab, M. Quraish. 2011. Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. dalam Sorotan al-Qur’an dan Hadits-Hadits Shahih. Jakarta: Lentera Hati.

Viviano, Frank. 2005. “Armada Raksasa dari Timur”. National Geographic Indonesia, Juli 2005.

Tulisan ini dimuat di Jurnal 'Anil Islam, Volume 4, Nomor 2, Desember 2011, terbitan Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep.

Read More..

Selasa, 31 Januari 2012

Memaknai Nasionalisme dengan Keliling Nusantara

Judul buku : Meraba Indonesia: Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara
Penulis : Ahmad Yunus
Penerbit : Serambi, Jakarta
Cetakan : Pertama, Juli 2011
Tebal : 372 halaman

Banyak penulis menyatakan bahwa perjalanan merupakan lumbung inspirasi. Di tangan seorang penulis, perjumpaan dengan orang-orang dan kenyataan yang ditemui sepanjang perjalanan bisa memantik ide-ide yang terpendam untuk muncul ke permukaan.

Dari sudut pandang seperti inilah kita bisa memulai mencerna buku yang ditulis oleh Ahmad Yunus ini. Yunus, seorang jurnalis, melalui buku ini menuliskan catatan perjalanannya selama hampir setahun keliling nusantara. Yang menarik, sebagai pengembara, sebelum memulai perjalanannya, Yunus telah menegaskan sudut pandangnya, yakni bahwa ia ingin bisa lebih menjiwai makna nasionalisme. Karena itu, ia, bersama rekan seperjalanannya yang juga seorang jurnalis, Farid Gaban, menyebut perjalanannya ini sebagai Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa.

Seperti Farid Gaban, Yunus dibesarkan sebagai anak gunung. Keduanya tak akrab dengan laut. Sedang Indonesia adalah bentangan negeri kepulauan yang memiliki lebih dari tujuh belas ribu pulau. Demi meneguhkan kecintaannya akan tanah air Indonesia, keduanya lalu menyusun rencana gila: keliling nusantara dengan sepeda motor.

Misi ekspedisi ini adalah untuk mengenal Indonesia lebih dekat dengan terutama mengelilingi pulau-pulau terluar nusantara serta merekam berbagai potret kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia di sana. Di sini, tampak jelas bahwa Yunus ingin memaknai nasionalisme dengan kategori objektif, yakni dengan melihat secara langsung pengalaman orang-orang biasa menjalani kehidupannya dalam bingkai kebangsaan Indonesia.

Perjalanan Yunus bersama Farid Gaban dimulai pada awal Juni 2009 dari Jakarta, bergerak ke arah Sumatera hingga Sabang, terus melintas kepulauan di Selat Malaka hingga Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Papua, Nusa Tenggara, dan terus ke arah barat hingga tiba kembali di Jakarta. Melalui rute ini, tercatat 80 pulau telah disinggahi.

Secara umum, Yunus menemukan dua hal sepanjang penjelajahannya dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote. Pertama, Yunus menemukan kekayaan dan keindahan alam nusantara yang luar biasa. Dalam buku ini, ditampilkan beberapa foto hasil jepretan Farid Gaban, di samping bonus DVD yang menampilkan ringkasan alur perjalanan ekspedisi ini. Namun demikian, Yunus dalam buku ini juga mempersaksikan berbagai ironi yang dialami masyarakat Indonesia. Ironi itu dapat berupa kekayaan dan keindahan alam yang dieksploitasi oleh segelintir orang, kesejahteraan masyarakat yang terhalang oleh kebijakan publik yang tak berpihak, atau “pengkhianatan” para aparat atas amanat kebangsaan yang mereka pikul.

Di sepanjang perjalanan, Yunus menjadi saksi atas jurang ketimpangan antara kondisi masyarakat di Pulau Jawa dan luar Jawa. Mulai menginjakkan kaki di daerah Lampung, tepatnya di Teluk Kiluan, Yunus sudah menjumpai perkampungan yang tak mendapat jaringan listrik. Jalanannya berbatu sehingga ketika hujan medannya menjadi semakin berat.

Di Pulau Enggano, Bengkulu, kondisinya tak jauh berbeda. Fasilitas publik sungguh mengenaskan. Rumah sakit di pulau yang dihuni sekitar 2.600 jiwa ini terlantar. Padahal pulau ini ke Bengkulu berjarak 156 kilometer. Bandara yang dijanjikan dibangun terbengkalai.

Sementara itu, di Kepulauan Mentawai, Yunus menyaksikan eksploitasi hutan yang sudah berlangsung sejak era Orde Baru yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan ekosistem kepulauan. Air laut menjadi keruh. Hutan bakau rusak, dan terumbu karang juga rusak. Kerusakan ekosistem juga terlihat dalam perjalanan Yunus di Kalimantan, mulai dari hutan yang terus ditebangi dan juga terbakar, perdagangan satwa liar, atau nasib Sungai Kapuas yang menyedihkan.

Di antara pengalaman yang cukup mengenaskan adalah kisah perompak di kawasan Selat Malaka. Dalam perjalanan dari Dumai ke Batam, kapal sayur yang ditumpangi Yunus empat kali dicegat petugas patroli (polisi laut). Ternyata mereka ini memalak kapal yang ditumpanginya, masing-masing dibayar antara 150-200 ribu rupiah. “Merekalah bajak laut yang diberi wewenang oleh negara,” tulis Yunus geram. Ironi ini semakin bertambah saat Yunus juga melihat bagaimana penyelundupan berlangsung di kawasan yang menjadi etalase pembangunan ekonomi nasional ini.

Perjalanan Yunus bersama Farid Gaban yang pembiayaannya secara swadaya ini banyak yang ditempuh dengan menggunakan jalur laut sehingga keduanya dapat merasakan secara langsung kondisi transportasi laut di berbagai daerah di nusantara. Secara umum, Yunus menulis bahwa negara tak berhasil menyediakan angkutan laut yang nyaman dan bersih. Berulang kali Yunus merasakan aneka ketidaknyamanan jalur laut, mulai dari sanitasi, makanan, hingga tempat istirahat yang layak dan manusiawi. Sayangnya, media massa sangat kurang mengangkat soal ini ke permukaan. Padahal, ini adalah isu publik yang menyangkut kehidupan banyak orang.

Buruknya transportasi laut ini sangat terasa bagi masyarakat kepulauan. Beban hidup mereka bertambah berat sehingga mereka kesulitan meningkatkan taraf kehidupan mereka. Mereka sering dicekik oleh harga bahan bakar yang melambung. Di Kepulauan Ayau Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, ada masyarakat yang perlu bensin 200 liter untuk ke Sorong, sedang harga per liternya mencapai dua belas ribu rupiah.

Selain memotret kehidupan masyarakat, dalam ekspedisi ini Yunus juga singgah di tempat-tempat bersejarah, seperti pengasingan Soekarno di Ende, pengasingan Hatta dan Sjahrir di Banda Neira, dan sebagainya. Memang, dalam buku ini Yunus juga banyak melengkapi penuturannya dengan data-data sejarah sehingga memperkuat refleksinya dalam melihat kehidupan masyarakat dalam kerangka kehidupan berbangsa.

Narasi Ahmad Yunus yang cukup lincah dalam buku ini akan sangat bernilai jika kita menempatkannya sebagai upaya seorang warga negara Indonesia dalam menemukan makna kehidupan kebangsaan yang nyata. Ini dilakukan ketika nasionalisme sering kali hanya dimunculkan sebagai jargon politik yang kering dan cenderung menipu. Juga ketika kebijakan pemerintah kurang mampu mempertimbangkan situasi sosial-ekonomi masyarakat yang nyata, seperti kondisi di luar Jawa.

Yunus menulis bahwa ini adalah cara sederhana mencintai Indonesia. Dalam hal ini, Yunus menunjukkan cintanya dengan berusaha untuk lebih dekat, sambil menyimak, melihat dengan cermat, serta berempati dengan kehidupan masyarakat biasa seantero nusantara.

Inilah yang patut diteladani oleh para pemimpin dan pemegang amanat kebangsaan di negeri ini. Kita menyaksikan bahwa belakangan para pemimpin negeri ini cenderung terkesan jauh dan berjarak dengan rakyat. Bahkan mungkin tak mengetahui masalah yang dihadapi masyarakat, sehingga kebijakan yang diambilnya tak sejalan atau tak memberi solusi bagi masalah tersebut. Tentu para pemimpin kita itu tak harus keliling nusantara. Tapi buku ini memberi perspektif menarik yang tampaknya sudah mulai dilupakan oleh para pemimpin kita: bahwa menjadi pemimpin itu harus berusaha lebih dekat dan mendengar suara rakyat.

Secara tidak langsung, buku ini juga adalah semacam ajakan kepada seluruh warga negara Indonesia untuk mencoba belajar mengenali negerinya yang kaya dan indah dengan lebih baik. Dalam skala yang lebih kecil, mengenali secara lebih utuh dan mendalam lingkungan masyarakat kita adalah sebuah cara yang baik untuk menjadi titik tolak penghayatan atas kehidupan kebangsaan dan bermasyarakat. Selanjutnya, dari pengenalan yang lebih dekat itu, akan semakin benderanglah tantangan dan agenda yang harus dipikirkan dan dicarikan jawaban konkretnya.

Pada akhirnya, buku ini menghadirkan tantangan bagi kita semua untuk bersama-sama membangun semangat kebangsaan dalam wujud yang lebih nyata, sehingga nilai-nilai dasar kebangsaan yang dirumuskan oleh para pendiri republik ini dapat terwujud.

Sayangnya, buku yang memaparkan kisah menarik dan inspiratif ini tampaknya kurang disiapkan dengan cukup matang, terutama dari segi penyuntingannya, sehingga di beberapa bagian pembaca mungkin akan merasa kurang nyaman menikmati kisah petualangan keliling nusantara ini.

Read More..

Selasa, 17 Januari 2012

YouTube University

Internet sudah cukup lama masuk di Indonesia dan pelan-pelan menjadi semakin populer sejak sekitar sepuluh tahun terakhir ini. Persoalannya, berapa banyak dan bagaimana masyarakat Indonesia memanfaatkan internet sebagai sebuah ruang belajar alternatif, terutama dalam menyiasati keterbatasan mutu lembaga pendidikan dan akses terhadap ilmu dan pengetahuan?

Saat pertama kali mengenal internet di Yogyakarta tahun 1999, di antara hal menarik yang dilakukan dalam berinternet bagi saya dan para penggemar buku atau mahasiswa adalah berburu buku elektronik. Waktu itu buku-buku berhaluan kiri sedang populer, terutama di kalangan mahasiswa, dan internet memberi kesempatan yang luas untuk mengakses buku-buku semacam itu. Jika di dunia offline buku-buku kiri waktu itu cukup sulit didapat karena adanya pelarangan dari pemerintah, internet menjadi ruang yang lebih bebas untuk buku-buku yang diberangus tersebut.

Dalam konteks yang lebih luas, proyek digitalisasi buku yang kemudian dapat diakses lewat internet hingga kini terus berlangsung. Project Gutenberg, perpustakaan digital tertua yang didirikan oleh Michael S. Hart pada tahun 1971, hingga November 2011 menyatakan telah memiliki 38.000 koleksi, dan terus bertambah setiap pekan. Ini adalah salah satu contoh tentang bagaimana internet menyediakan ruang bagi akses yang lebih terbuka.

Seiring dengan kecepatan perkembangan teknologi internet yang luar biasa dan sulit diterka, akses pengetahuan dan informasi di internet tersaji dengan cara yang semakin beragam dan menarik. Di antaranya saya temukan dalam salah satu situs yang sangat terkenal: YouTube.

Situs tempat berbagi video yang didirikan pada Februari 2005 ini pada dasarnya mirip pasar swalayan. Aneka rupa video tersaji. Saya bisa menemukan video gol-gol indah para pesepakbola terkenal dunia, berita meninggalnya seorang ulama dari Madura, dokumentasi kegiatan lingkungan di sebuah SMA swasta di Madura, seekor anjing yang bisa melafalkan nama Obama, dan sebagainya.

Yang menarik, situs yang kini setiap hari dikunjungi lebih dari satu miliar peselancar itu sejak akhir Maret 2009 lalu membuka sebuah saluran yang sangat menarik yang diberi nama YouTube EDU. Saluran ini dibuat untuk maksud menghimpun content pendidikan yang diunggah oleh civitas akademika di Amerika. Belakangan, kampus-kampus Eropa dan negara lain juga berkontribusi di saluran ini.

Saluran ini semakin memperkaya pilihan bagi para pembelajar otodidak yang haus ilmu dan informasi. Saya dapat membayangkan, bagi masyarakat Indonesia atau warga negara dunia ketiga lainnya, menikmati ceramah ilmuwan-ilmuwan terkemuka melalui saluran ini akan serupa dengan harta karun bernilai tinggi.

Setelah saya membaca esai reflektif Peter Singer tentang kemiskinan di Bangladesh di jurnal Philosophy and Public Affair (1972) yang merupakan bahan diskusi di kelas saya saat kuliah di Utrecht University bulan September 2009 lalu, saya betul-betul menikmati saat kemudian menyimak ceramah filsuf terkemuka ini di Macquarie University Australia pada Juli 2009 yang saya temukan di saluran baru YouTube ini. Ceramah sekitar 70 menit bertajuk “Climate Change, Eating Meat and Ending Poverty” ini tidak saja membantu saya untuk lebih memahami esai klasik di bidang etika terapan tersebut, tetapi juga berhasil mendorong saya untuk membaca buku terbaru Singer: The Life You Can Save: Acting Now to End World Poverty (2009).

Hal serupa berulang saat saya menemukan ceramah seorang filsuf, dan aktivis lingkungan India terkemuka: Vandana Shiva. Ceramah-ceramahnya yang kritis dan radikal yang cukup banyak di saluran YouTube ini sungguh menyemangati saya untuk segera menuntaskan membaca beberapa bukunya.

Sebenarnya, berbagai disiplin keilmuan dan tema dapat kita temukan di saluran ini, mulai dari soal perdagangan karbon, bailout dalam konteks resesi ekonomi, game internet, diferensial dan kalkulus integral, dan yang lainnya. Banyak kampus terkemuka yang membuka akun untuk berbagi video kuliah atau ceramah di saluran ini, seperti MIT, Harvard University, Cambridge University, dan yang lainnya.

Fenomena semakin terbukanya akses pendidikan ini dalam konteks internet tentu saja terjadi tak hanya melalui saluran YouTube ini. Newsweek edisi 9 November 2009 menyebutkan bahwa pada tahun 1999 Tübingen University di Jerman menjadi kampus pertama yang membuka akses file-file ceramah dan perkuliahannya melalui internet. Pada tahun 2002, MIT menyusul. Dilaporkan bahwa dari 1,2 juta pengunjung situs MIT tiap bulan, 45 persen di antaranya adalah para pembelajar otodidak yang mengakses ceramah-ceramah ilmiah tersebut.

Lalu apa arti semua ini bagi masyarakat Indonesia? Terbukanya akses content pendidikan melalui internet memang sebuah hal yang sangat menggembirakan. Tak perlu kuliah ke luar negeri jika hanya mau menyimak perkuliahan dari kampus terkemuka dunia atau presentasi orang-orang atau pemikir ternama. Akan tetapi ini tentu mengandaikan beberapa hal yang bisa jadi masalah, atau lebih tepatnya tantangan, bagi masyarakat Indonesia.

Secara teknis, akses internet di Indonesia masih belum merata, dan kalaupun ada, kebanyakan masih belum bisa secara nyaman mengakses file video semacam di YouTube dengan lancar. Masalah teknis lainnya terkait dengan kemampuan bahasa, karena semua ceramah di YouTube EDU mensyaratkan penguasaan bahasa Inggris yang cukup baik untuk bisa menyerapnya secara optimal.

Content pendidikan berbahasa Indonesia, terutama dalam bentuk video, memang masih belum banyak dikembangkan. Belakangan ini, di YouTube ada channel TEDxJakarta yang merupakan program pengembangan dari situs TED yang berdiri sendiri dan telah cukup lama berbagi content video presentasi dengan narasumber terkemuka dan tema-tema aktual yang inspiratif. TED, yang berpusat di New York, telah mempublikasikan video-video ceramah atau presentasinya secara gratis sejak Juni 2006 dan hingga kini memuat lebih dari seribu video untuk berbagai tema.

Kehadiran saluran TEDxJakarta ini sementara bisa mengatasi keterbatasan bahasa masyarakat Indonesia, karena TEDxJakarta memuat presentasi orang-orang Indonesia—dan dengan bahasa Indonesia. Di saluran tersebut, kita bisa mendengarkan kisah Anies Baswedan dengan program Indonesia Mengajar-nya, juga Ade Rai tentang masyarakat Indonesia yang sehat, atau juga Ridwan Kamil, arsitek dan desainer yang penuh inspirasi dan belakangan dikenal dengan gerakan Indonesia Berkebun.

Tentu saja content pendidikan di internet tak hanya berupa video. Akan tetapi, saya pikir kita akan sepakat bahwa media video akan lebih mudah diterima oleh masyarakat luas daripada, misalnya, buku atau bahan bacaan yang mengandaikan kemampuan mencerna yang lebih kompleks.

Bagaimana dengan di Madura? Dalam pengamatan saya, masyarakat Madura mulai mengenal internet secara lebih luas sejak tahun 2007, saat Telkom mulai mengembangkan jaringan internet mereka ke wilayah kecamatan. Belakangan, penetrasi internet ke wilayah desa mulai semakin meluas. Tambahan lagi, beberapa kalangan di Madura juga mulai menggunakan provider telepon seluler untuk akses internet.

Akan tetapi, seperti masyarakat Indonesia umumnya, tantangan yang paling besar sebenarnya terkait dengan mental. Sepertinya, sosok pembelajar mandiri yang haus akan ilmu dalam arti yang sebenarnya dan tak terikat dengan formalitas masih tak merata. Fenomena penjiplakan dan semacamnya, seperti juga soal ijazah atau sertifikat palsu, yang sampai sekarang masih saja muncul, dan mungkin saja juga terbantu dengan teknologi internet, jelas sangat bertolak belakang dengan semangat sosok pembelajar mandiri yang diandaikan dalam kasus ini.

Sayangnya, di Madura, momentum penetrasi internet bersamaan dengan booming-nya situs-situs jejaring sosial seperti Facebook. Akhirnya, cukup banyak orang di Madura yang pertama kali mengenal internet melalui Facebook. Ini juga terjadi di kalangan pelajar atau mahasiswa. Dengan demikian, pelajar dan mahasiswa jenis ini mengenal internet pertama kali sebagai tempat bersosialisasi, atau bahkan mungkin bernarsis-ria, dan bukan sebagai tempat untuk mengatasi keterbatasan perpustakaan di kampus atau sekolahnya—juga keterbatasan guru dan dosennya.

Jika belakangan ini mulai muncul gerakan-gerakan bertajuk “internet sehat” maka menurut saya salah satunya harus berupa upaya untuk mendorong masyarakat memanfaatkan internet sebagai ruang belajar alternatif dalam konteks akses yang terbatas dan kualitas pendidikan yang perlu terus ditingkatkan. Umpama ada anak lulusan SMA dan sederajat yang tak bisa melanjutkan kuliah, kita bisa memberinya saluran alternatif. Mungkin dia bisa “kuliah” di semacam YouTube University, atau TED, dan sebagainya. Saya juga berpikir bahwa saluran-saluran semacam ini, terlepas dari kekurangannya sebagaimana kelemahan internet pada umumnya yang dinilai kurang mendalam dan mendangkalkan cara berpikir (Nicholas Carr, 2011), mungkin saja bisa membantu mendorong tumbuhnya sosok pembelajar mandiri. Artinya, memanfaatkan kelebihan internet sebagai batu loncatan untuk membentuk mental pembelajar.

Seorang pembelajar karbitan akan resah jika tak mendapatkan selembar ijazah setelah melalui proses pendidikannya. Tapi seorang pembelajar mandiri lulusan YouTube University, sebutlah demikian, tak sedikit pun risau bila tak punya sertifikat atau apa pun yang menyatakan bahwa ia telah mengikuti perkuliahan di sana. Siapa hendak bergabung?


Read More..

Selasa, 16 Agustus 2011

Taman Rahasia


Aku ingin bercerita kepadamu tentang taman rahasia di suatu tempat di Skandinavia. Taman rahasia itu hanya muncul sebentar di awal musim semi yang datang terlambat setelah salju turun berbulan-bulan. Namun ia melintas tak lama, sebelum musim panas kemudian mengubah senyum indahnya sehingga ia menyimpan kembali rahasianya rapat-rapat karena tak sanggup berhadapan langsung dengan terik matahari yang sebenarnya tak seberapa jika dibandingkan dengan terpaan panas negeri tropis seperti di negeri kita.

Taman rahasia itu terletak di dekat jalan setapak di puncak sebuah bukit. Dari sana, kau bisa menyaksikan fjord, semacam teluk kecil yang beriak tak terlalu besar, lalu bukit-bukit yang pucuknya masih sedikit bersalju akan kelihatan menjadi latar di belakangnya. Sesekali kau akan dapat mendengar riuh burung berkicau yang berlompatan di dedahan pohon yang mulai merimbun. Atau juga camar di kejauhan.

Di sekitar taman itu, kau tak akan dapat melihat tukang kebun yang merawat rumput hijau, bunga-bunga putih, dan bunga-bunga kuning yang mulai merekah. Sebenarnya, para tukang kebun itulah yang membuat taman ini disebut rahasia, karena mereka itu yang menyimpan rahasia keindahan taman ini, yang juga membuat taman ini tak terlihat oleh mata telanjang, tapi mesti dipandang dengan hati yang bening, serupa cermin yang memantulkan keindahan alam negeri-negeri dongeng.

Mereka menjaga rahasia itu dari ancaman campur tangan manusia yang datang mencari keindahan bunga musim semi tapi tak cukup peduli akan nilai kesuciannya. Mereka menjaga rahasia itu di antara kesunyian yang berbicara saat orang-orang tak lagi tampak di sekitar taman rahasia itu. Mereka menjaga rahasia itu sampai akhirnya tiba saatnya seseorang yang mereka tunggu melintas dan menemukan taman rahasia itu.

Sebenarnya, aku telah beberapa kali melintas di taman rahasia itu sambil tak jemu mengagumi keindahannya yang kadang memang tampak menyimpan misteri. Tapi sungguh sayang, aku baru menyadarinya saat ini, bahwa itu adalah taman rahasia Skandinavia, saat aku tak bisa lagi leluasa menceritakannya kepadamu, saat aku tak bisa lagi melihat jejak bunga-bunga putih bermekaran dan menyimak nyanyian burung di sana.

Angin musim semi telah jauh. Malam telah larut. Aku berusaha merengkuh keindahan taman rahasia dalam jarak yang tak mungkin kutaklukkan. Taman rahasia melantunkan keindahannya dalam tembang pengantar tidur tentang nyanyian bumi dan ladang persemaian nasib manusia.

Dan taman rahasia tetap di sana, menunggu si pelintas yang ditunggunya.

Read More..

Senin, 18 Juli 2011

ProFauna dan “the Passion of Individuals”


Sore itu, di antara sedikit rasa mengantuk, saya merasakan sunyi yang lain di tempat itu. Setelah sejak Jum’at malam hingga Ahad malam mengikuti ProFauna Conference 2011 dengan jadwal yang padat, Senin sore itu suasana P-WEC (Petungsewu Wildlife Education Center) yang menjadi tempat acara menjadi lengang. Area yang rimbun dan hijau seluas 5 hektar itu telah ditinggalkan oleh hampir semua peserta konferensi yang berjumlah seratusan orang mulai Ahad malam. Yang tersisa hanya sekitar sepuluh peserta yang masih akan mengikuti kegiatan tambahan yang akan dimulai Senin malam dan Selasa, ditambah dengan pengurus ProFauna dan P-WEC.

Sore itu, saya rebahan saja di kamar setelah datang dari kota Malang untuk mengikuti aksi kampanye perlindungan primata bersama suporter ProFauna yang lain. Dari dalam ruangan tempat menginap, bangunan yang terbuat dari kayu yang bersih dan asri, sore itu saya dapat mendengarkan suara burung-burung di sekitar kompleks yang tampak riuh dan riang. Sambil rebahan, dalam pikiran saya berkelebat kegiatan padat dua hari yang baru saja saya ikuti.

Dua hari ini saya telah mendapatkan banyak hal baru dalam acara ini. Yang terpenting, saya mendapatkan banyak sekali data dan informasi baru tentang keberadaan, nasib, dan juga masa depan satwa liar serta habitatnya khususnya di Indonesia. Lebih dari itu, data dan informasi tersebut pada giliran berikutnya memperkaya dan memberikan perspektif baru bagi wawasan pengetahuan saya sebelumnya, terutama terkait dengan masalah-masalah lingkungan pada umumnya dan termasuk juga bagi latar minat akademik saya di bidang etika lingkungan atau etika terapan.

Sore itu, saat rebahan, secara pribadi saya merasakan suatu momen jeda yang cukup istimewa. Beralih sejenak dari kegiatan kependidikan di sekolah di rumah saya, apa yang saya dapatkan dari konferensi ini selama dua hari penuh mendorong bagi munculnya sejumlah pertanyaan menarik dan mendasar. Di antaranya berupa pertanyaan: apa dan bagaimana yang bisa saya lakukan selanjutnya setelah mendapatkan data, informasi, dan pengetahuan selama konferensi ini?
* * *

Saya pertama kali mengenal ProFauna pada bulan Juni 2009 ketika diundang PMPTK Depdiknas dan British Council Jakarta yang mengadakan acara Training of Trainer Education for Sustainable Development di Malang. Salah satu sesi kegiatan itu diisi oleh Mas Rosek Nursahid, pendiri ProFauna, yang memaparkan kegiatannya di bidang konservasi satwa liar dan habitatnya.

Setelah terputus hampir dua tahun, di awal 2011 secara kebetulan saya mendapatkan informasi tentang ProFauna Conference 2011 yang akan dilaksanakan di bulan Juni 2011. Melihat rancangan materi konferensi, saya tertarik. Ketertarikan saya ini tumbuh terutama karena ketika studi Master Etika Terapan di Belanda dan Norwegia saya sempat mendapat matakuliah Etika Binatang di Utrecht. Karena disyaratkan harus terdaftar sebagai suporter ProFauna, maka di akhir Februari lalu saya langsung mendaftar sebagai suporter. Penantian antara saat mendaftar sebagai suporter dengan pelaksanaan konferensi, antara Februari ke Juni, bagi saya terasa tak lama. Tiba-tiba sudah masuk Juni, dan konferensi akan segera dimulai.

Saya agak terlambat tiba di konferensi yang dibuka pada Jum’at petang tanggal 3 Juni 2011 sehingga saya tidak mengikuti sesi pembukaan. Saya tiba di lokasi yang berjarak sekitar 10 km dari kota Malang itu sekitar pukul 21.30 WIB, dan setelah mendaftar ke panitia, saya langsung istirahat.

Jadwal konferensi selama dua hari, Sabtu dan Ahad, saya lihat sangat padat. Sabtu pagi hingga siang, dari jam 8 pagi hingga jam 12, kami mendapatkan empat materi, yakni tentang rehabilitasi orangutan, pendidikan konservasi alam, penyelamatan satwa di tengah letusan Gunung Merapi, dan investigasi perdagangan satwa liar di Jakarta. Yang menarik, jadwal yang padat ini berlangsung secara efektif. Materi yang disampaikan dapat dipaparkan secara ringkas, padat, kaya informasi, dan tetap interaktif.

Ini pelajaran pertama yang saya dapatkan di konferensi ini: mengelola waktu secara efektif dalam sebuah acara seperti konferensi ini penting. Tentu saja ini mengandaikan kemampuan narasumber dan juga peserta untuk mendukung efektivitas jadwal yang sudah dirancang. Narasumber mempersiapkan alur materi dengan baik, dan peserta mencerna serta memberi respons dengan fokus, tepat dan baik pula.

Materi konferensi yang lain tak jauh berbeda seperti yang di Sabtu pagi hingga siang. Ada tentang pelestarian burung nuri dan kakatua (burung paruh bengkok) di Maluku, juga tentang pelestarian penyu di Pantai Kuta. Ada pula materi yang bersifat wawasan, seperti tentang Islam dan perlindungan satwa, yang menghadirkan K.H. M. Azizi Chasbulloh, salah satu pengurus LBM NU Jawa Timur. Ada juga materi yang bersifat praktis-strategis: strategi kampanye perlindungan satwa liar dan hutan yang disampaikan oleh Mas Rosek, dan pengenalan membuat film tentang alam yang disampaikan oleh Joe Yaggi.

Di antara bermacam materi dalam konferensi ini, saya sangat tertarik dengan paparan yang menuturkan pengalaman para suporter ProFauna di lapangan yang bergiat di bidang penyelamatan satwa. Rentang wilayahnya pun cukup beragam, mulai dari penyelamatan satwa dalam bencana letusan Gunung Merapi, hingga kegiatan yang mengandung unsur investigasi seperti tentang perdagangan satwa di Jakarta dan juga pelestarian burung paruh bengkok di Maluku.

Tema-tema paparan yang saya sebut terakhir ini nuansanya cukup berbeda dengan paparan tentang rehabilitasi orangutan yang disampaikan oleh Ian Singleton, meskipun sama-sama bertolak dari pengalaman di lapangan. Ian, yang selama presentasi fasih sekali berbahasa Indonesia hingga banyak menggunakan ungkapan-ungkapan bahasa percakapan terkini, memang secara profesional bekerja sebagai direktur konservasi di PanEco Foundation—sebuah lembaga berbasis di Swiss yang fokus di isu satwa liar. Sedang para suporter ProFauna yang terlibat dalam kegiatan lapangan penyelamatan satwa liar di Jakarta, Maluku, dan yang lainnya, sehari-hari sebenarnya bekerja di bermacam bidang. Keprihatinan dan semangat merekalah yang menyatukan sehingga mereka bisa bergandeng tangan dalam sebuah proyek kampanye penyelamatan satwa.

Memang, di antara beberapa suporter ProFauna ada yang memiliki bekal keahlian dan keilmuan tertentu yang cukup memadai dan kemudian dibaktikan untuk semangat dan kepedulian mereka. Di antara suporter, cukup banyak yang berlatar keilmuan biologi, kedokteran hewan, dan juga kehutanan. Namun demikian, kesediaan mereka untuk meluangkan waktu, tenaga, dan bahkan biaya untuk melakukan sesuatu demi pelestarian satwa liar dan habitatnya menunjukkan bahwa mereka adalah sosok yang penuh semangat dan pengabdian.

Bertemu dan berkumpul dengan sejumlah orang-orang seperti ini telah menyulut optimisme dan semangat saya sendiri. Di tengah berbagai persoalan bangsa yang beraneka rupa dan cukup pelik, masih ada sekian orang yang penuh semangat dan dedikasi, berbuat sesuatu untuk masa depan yang lebih baik.

Sampai di sini saya jadi teringat kutipan menarik yang dilontarkan Margaret Mead (1901-1978), seorang antropolog Amerika, yang menyatakan: “Never depend upon institutions or government to solve any problem. All social movements are founded by, guided by, motivated and seen through by the passion of individuals.”


Di ProFauna Conference 2011 inilah, saya menemukan “the passion of individuals” yang tampak sangat kuat itu. Dari situ saya dapat menangkap sebuah potensi besar yang ada di masyarakat kita: bahwa masih banyak orang-orang yang peduli pada masyarakat, bangsa, dan lingkungan sekitarnya. Tinggal bagaimana memberi wadah dan mengorganisasi potensi semacam ini. Pada titik inilah, saya acungkan jempol dan rasa kagum yang luar biasa untuk ProFauna, khususnya buat Mas Rosek Nursahid yang telah merintis, terus merawat, mengorganisasi, dan mendayagunakan salah satu bentuk nyata dari potensi tersebut. Kekaguman saya bertambah besar saat tahu jumlah suporter ProFauna yang kini sudah lebih setengah juta dan juga bagaimana mereka bahu-membahu secara swadaya untuk membiayai berbagai macam kegiatan mereka.

Semangat dan inspirasi adalah oleh-oleh terbesar saya setelah mengikuti ProFauna Conference 2011 ini. Lebih dari itu, saya bangga telah bisa ikut serta dan menjadi bagian dari lembaga yang berdiri sejak tahun 1994 dan telah memiliki cabang di Inggris, Prancis, dan Australia ini.

Maju terus ProFauna Indonesia!

Read More..