Jumat, 12 April 2013
Penerbit Peduli Literasi
Kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia ditengarai masih rendah. Produksi dan konsumsi buku menjadi salah satu ukurannya. Rendahnya literasi juga dapat dilihat di sekolah, saat siswa mengerjakan soal-soal bahasa yang berbasis bacaan. Secara umum mereka lambat dalam mencerna teks atau bahkan masih kesulitan menangkap ide pokok sebuah paragraf. Ironisnya, hal ini bahkan juga terjadi di kalangan pelajar tingkat pendidikan tinggi atau bahkan pengurus publik.
Dukungan dan perhatian para pengambil kebijakan, baik di sekolah maupun di tingkat pengurus publik, untuk mendukung literasi tampak masih kurang. Membaca dan menulis masih belum dianggap sebagai basis penting pendidikan. Dukungan dan perhatian yang ada kadang lebih bersifat formal saja. Contoh konkretnya, sejauh ini tidak banyak sekolah yang memberi perhatian serius pada pengembangan perpustakaan dan kegiatan pendukung lain untuk mendukung semangat membaca dan menulis.
Selain sekolah dan pengambil kebijakan di jajaran pengurus publik, ada pihak lain yang sebenarnya dapat memainkan peran dalam meningkatkan literasi khususnya di kalangan pelajar dan remaja, yakni penerbit. Sebagai “pabrik buku”, penerbit sebenarnya menjadi salah satu pemain penting dalam menyemarakkan literasi. Penerbitlah yang menyediakan bahan-bahan bacaan untuk masyarakat. Peran penerbit yang paling tampak adalah pada penyediaan bahan bacaan yang bermutu dan diminati masyarakat.
Dalam konteks ini, penerbit yang punya idealisme untuk ikut mengembangkan literasi dan “mencerdaskan kehidupan bangsa” tentu akan berupaya untuk menerbitkan bacaan yang bermutu. Dengan sejumlah cara, penerbit akan berusaha untuk mengendalikan mutu buku yang disiarkannya. Namun, menghadapi perkembangan dan persaingan pasar, kadang penerbit buku bersikap cukup pragmatis. Hasilnya, mutu buku kadang kurang terjaga.
Selain berkaitan dengan unsur di dalam penerbit itu sendiri, sebenarnya penerbit buku dapat memainkan peran yang lebih besar untuk mendukung gerakan literasi, khususnya di sekolah atau kalangan remaja atau komunitas (masyarakat) pada umumnya. Bentuknya dapat berupa memberi bantuan buku atau harga khusus untuk pembelian buku oleh perpustakaan atau komunitas, terutama yang memang memiliki kemampuan keuangan di bawah rata-rata.
Para pegiat literasi sebenarnya berharap penerbit secara strategis memiliki visi dan kepedulian dalam mengembangkan literasi secara lebih aktif. Secara perhitungan bisnis, jika literasi semarak, penerbit tentu juga akan diuntungkan. Penjualan buku sangat mungkin akan meningkat jika masyarakat sudah gemar membaca. Bahkan penyuplai naskah layak terbit bisa saja akan menjadi lebih mudah dibandingkan situasi saat ini.
Namun sejauh ini saya tak melihat ada penerbit yang secara terencana memiliki program untuk ikut menyemarakkan literasi. Sampai kemudian kemarin saya menerima kiriman buku dari rekan saya yang merupakan pemilik dan CEO Penerbit Diva Press Group Yogyakarta, Edi AH Iyubenu.
Buku yang dikirimkannya berjudul Silabus Menulis Fiksi. Buku setebal 44 halaman yang memuat tutorial praktis menulis fiksi ini ditulis sendiri oleh Edi. Pria yang bernama asli Edi Mulyono kelahiran Sumenep ini sebelum mendirikan penerbit memang telah malang-melintang di dunia kepenulisan, khususnya fiksi. Cerpen-cerpennya dahulu telah dimuat di mana-mana, mulai dari Kompas, Republika, Media Indonesia, Horison, dan media-media seantero nusantara.
Buku ini sangat menarik paling tidak karena dua alasan. Pertama, buku ini dapat menjadi panduan menulis fiksi bagi pemula. Penyajiannya yang sederhana dan disertai contoh-contoh tampak banyak berangkat dari pengalaman penulisnya sehingga benar-benar dapat menuntun penulis pemula untuk berkarya. Bahasa dan gaya penyampaiannya cenderung disesuaikan dengan gaya remaja masa kini.
Karena alasan ini, semalam saya pamit kepada Edi untuk memperbanyak buku ini. Sebenarnya, di bagian kata pengantar Edi telah mempersilakan pembaca yang berminat untuk menggandakan buku ini. Saya pamit sekaligus sebagai pemberitahuan dan pengakuan bahwa buku ini akan sangat bermanfaat untuk saya gunakan dalam mendorong kegiatan kepenulisan fiksi pada khususnya di sekolah dan komunitas saya. Apalagi saya di SMA 3 Annuqayah mengampu pelajaran Bahasa Indonesia sehingga buku ini akan saya wajibkan untuk dibaca siswa di kelas saya pada khususnya.
Alasan kedua ketertarikan saya pada buku ini adalah karena ternyata kehadiran buku ini tidaklah berdiri sendiri. Ternyata, Diva Press Group memiliki beberapa program yang menunjukkan kepedulian mereka untuk mendorong literasi, khususnya di kalangan remaja. Buku Silabus Menulis Fiksi ini sebenarnya merupakan bagian dari rancangan kegiatan Diva Press itu.
Di bagian akhir buku ini, tercantum empat program Diva Press Group berupa pelatihan penulisan fiksi dan juga pendampingan penulisan novel sampai layak terbit. Pelatihan penulisan dilakukan dalam program #KampusFiksi, #JustWrite, dan #TimTentorMenulisAntarKotaAntarPropinsi.
#KampusFiksi dilaksanakan tiap bulan bertempat di Yogyakarta. Pada kegiatan ini, Diva menyediakan 30 kursi bagi mereka yang lolos seleksi untuk mengikuti pelatihan penulisan fiksi. #KampusFiksi akan dimulai akhir bulan ini. Alumni #KampusFiksi nanti akan diberi kesempatan untuk hadir dalam acara tahunan #JustWrite. Sebagai acara tahunan, #JustWrite sebenarnya sudah dilaksanakan sejak 2012.
#LelangNulisNovel adalah program mingguan yang memberi kesempatan kepada peserta yang mendaftar via akun twitter @edi_akhiles (Edi AH Iyubenu) untuk mendapatkan bimbingan pengembangan cerita pendek menjadi novel hingga layak terbit.
Program keempat, #TimTentorMenulisAntarKotaAntarPropinsi, merupakan kegiatan bimbingan menulis yang dilaksanakan di sekolah atau komunitas yang mengundang Tim Diva Press. Buku Silabus Menulis Fiksi ini adalah panduan utamanya. Tim Diva secara gratis akan memberikan pelatihan penulisan fiksi. Untuk wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, 100% gratis. Di luar itu, Tim Diva hanya perlu biaya transportasi.
Keempat program Diva Press Group ini bagi saya memperlihatkan kepedulian penerbit untuk melakukan sesuatu yang sekiranya dapat mendorong semangat menulis pada khususnya di kalangan remaja. Tentu saja Diva memiliki kepentingan bahwa para penulis yang mungkin lahir dari kegiatan ini akan menerbitkan karyanya di Penerbit Diva Press Group. Tapi sejak awal Diva menyampaikan bahwa penulis alumni kegiatan Diva tidak terikat untuk harus menerbitkan karyanya di Diva Press Group.
Saya memberi penghargaan yang setinggi-tingginya atas penerbitan buku Silabus Menulis Fiksi yang menurut Edi AH Iyubenu dibagikan gratis dan keempat program yang dirancang Diva Press Group ini. Jika dibandingkan dengan penerbit lainnya, Diva Press Group, yang didirikan sejak tahun 2001, mungkin belum bisa dibilang penerbit yang sangat besar. Saya tahu persis bagaimana di awal-awal berdirinya Edi bekerja keras agar Diva dapat “bertahan hidup” di tengah persaingan bisnis perbukuan yang pada waktu itu cukup ketat. Beberapa penerbit di Yogyakarta seangkatan Diva kini sudah tak terdengar lagi kabarnya. Tapi Diva masih eksis.
Terlepas dari kekurangan yang mungkin masih ada, sekali lagi saya salut pada Diva yang sependek pengetahuan saya menjadi penerbit pertama yang meluncurkan sejumlah program untuk menyemarakkan literasi di kalangan remaja.
Setelah saya tamat membaca buku Silabus Menulis Fiksi kemarin sore, gagasan tentang kepedulian penerbit pada literasi ini terus menyerbu pikiran saya. Saya sempat mengutarakannya kepada Edi melalui akun twitter saya. Namun saya merasa perlu menuliskannya secara lebih utuh.
Saya percaya bahwa gagasan Edi dan Diva Press untuk merancang kegiatan ini bukan semata didorong oleh pertimbangan bisnis, yakni investasi jaringan penulis muda yang bisa saja di antara mereka suatu saat akan muncul sebagai penulis hebat. Saya mencoba memahami terobosan Edi dan Diva ini sebagai bagian dari sejarah hidup Edi dan Diva “bertahan hidup” di dunia kepenulisan dan penerbitan.
Pada rentang tahun sekitar 1996 hingga 2000-an, Edi AH Iyubenu dikenal sebagai penulis yang tak kenal menyerah. Salah seorang saudara sepupu saya, M. Faizi, yang cukup dekat dengan Edi AH Iyubenu kerap menyampaikan cerita bahwa ketika Edi baru kuliah di Yogyakarta pada pertengahan 1995, tulisannya ketika itu masih bisa dibilang belum layak terbit. “Edi bahkan saat itu menulis cerpen tanpa menggunakan paragraf. Dia bilang, ‘kan nanti redakturnya yang akan membuat paragraf,” tutur M. Faizi pada saya.
Tapi dia memberi kesaksian bahwa kerja keras Edi dalam mengasah kemampuan kepenulisannya memang luar biasa. Dengan mesin ketik manual, produktivitas Edi dalam menulis cerpen pada masa awal di Yogyakarta patut dicontoh. Menurut pengakuannya, waktu itu dia bisa menulis 2 hingga 5 cerpen dalam sehari. Salah satu yang cukup fenomenal adalah pada 13 November 1997, saat ulang tahunnya yang ke-20, Edi mencoba menulis cerpen nonstop di kamarnya. Menurut penuturan M. Faizi, Edi memang tidak berhasil memenuhi targetnya, yakni menulis 20 cerpen di hari ulang tahunnya yang ke-20. Tapi Edi di hari itu menulis belasan cerpen!
Perjuangan Edi dalam membangun penerbit, yakni Diva Press Group, juga tak kalah heroik. Dengan modal yang pas-pasan dan di tengah persaingan yang cukup ketat, pada akhirnya Diva bisa bertahan dan malah berkembang hingga saat ini menjadi salah satu penerbit yang cukup produktif.
Jadi, berangkat dari kerja keras dan perjuangan yang luar biasa di dunia kepenulisan dan penerbitan, Edi tampaknya punya semangat berbagi yang kuat. Jika ia kini bisa dikatakan telah meraih kesuksesan duniawi melalui dan dalam dunia literasi (perbukuan), saya melihat bahwa Edi melalui programnya ini ingin mempersembahkan sesuatu untuk jagad literasi dan remaja pada khususnya.
Saya membayangkan andai kata beberapa penerbit yang lain mengambil langkah serupa dengan merancang kegiatan yang membantu mendorong literasi, saya pikir generasi muda kita dan bangsa kita pada umumnya akan lebih sigap menghadapi tantangan era informasi.
Sekali lagi, salut untuk Edi dan Diva Press Group!
Read More..
Label: Literacy
Kamis, 04 April 2013
Dekor Ramah Lingkungan
Setelah saya memasang foto kegiatan Temu Guru Penulis di SMA 3 Annuqayah yang dilaksanakan 21 Maret lalu di sebuah grup Facebook, ada sebuah komentar menarik dari Ahmad Fawaid Sjadzili, seorang teman yang saat ini menjadi dosen di STAIN Pamekasan. Berbeda dengan komentar orang lain yang menyorot tema kegiatan atau narasumber yang hadir, Fawaid mengomentari dekor yang menjadi latar acara. Fawaid menulis bahwa ia menyukai kreativitas pembuat latar (dekor) yang mau bersabar dengan menggunting kertas dan menghindari cara-cara instan.
Memang, dari foto kegiatan tersebut terlihat bahwa dekor yang digunakan bukanlah spanduk dari plastik dengan huruf-huruf yang dicetak rapi dari program pengolah desain di komputer. Dekor berlatar kain biru dongker yang kemudian ditempeli kertas-kertas bertuliskan nama kegiatan itu dibuat secara manual oleh siswa.
Seingat saya, SMA 3 Annuqayah tidak pernah mengeluarkan biaya untuk membuat banner (spanduk) kegiatan yang menggunakan plastik dan dicetak dari desain komputer itu. Sejak saya menjabat sebagai kepala sekolah pada pertengahan 2010, saya memang menegaskan bahwa saya tidak suka dengan banner sekali pakai itu.
Selain biayanya relatif mahal, dekor menggunakan banner itu terasa mubazir karena hanya digunakan sekali. Lagi pula, dekor dengan cara manual (model lama) buat saya memberi kesempatan bagi pembuatnya untuk bersentuhan secara langsung dengan banyak benda, mulai dari gunting, kertas, lem, dan juga kain. Sedangkan desain berbasis komputer relatif terpusat pada komputer. Paling jauh, bila menggunakan komputer, perancangnya mencari bahan-bahan dari internet.
Sebenarnya tidak semua banner akan menjadi mubazir setelah digunakan di sebuah acara. Ada banner yang dibuat untuk kegiatan yang sifatnya rutin. Artinya, ia akan dipergunakan kembali pada kegiatan serupa di waktu yang berbeda. Untuk yang seperti ini, bagi saya tidak masalah membuat banner dengan bahan plastik. Atau, banner tersebut bisa saja dimanfaatkan untuk keperluan lain setelah digunakan pada acara yang dimaksud. Misalnya, digunakan sebagai latar sorot untuk LCD proyektor.
Pertengahan 2012 lalu, SMA 3 Annuqayah, misalnya, pernah menyelenggarakan bedah buku bekerja sama dengan salah satu unit perusahaan PT Mizan Pustaka, Bandung, dan Mizan menyediakan banner berbahan plastik dalam ukuran yang cukup lebar. Setelah kegiatan itu, kami memanfaatkan banner tersebut untuk kegiatan di luar ruangan yang membutuhkan latar sorot LCD proyektor.
Bagi sekolah yang memiliki dana besar, membuat banner berbahan plastik itu mungkin tidak masalah secara keuangan. Tapi bagi kami, sekolah yang dana kegiatannya cukup minim, sekian ratus ribu rupiah tampak akan jauh lebih bermanfaat untuk dibelanjakan buku bacaan untuk menambah koleksi perpustakaan atau bahan pengayaan referensi guru. Atau untuk membiayai kegiatan sekolah lainnya.
Terkadang dekor manual yang dibuat di SMA 3 Annuqayah menggunakan bahan-bahan yang mungkin bisa disebut sampah, seperti plastik bekas bungkus deterjen, atau juga koran bekas. Pada pertengahan 2009, saat memaparkan hasil proyek kegiatan lingkungan dalam kerangka School Climate Challenge Competition yang diadakan oleh British Council Indonesia, siswa SMA 3 Annuqayah membuat dekor dengan menggunakan sampah plastik. Demikian pula, pada kegiatan Kemah Lingkungan (2) yang diadakan oleh Pemulung Sampah Gaul (PSG) SMA 3 Annuqayah Juni 2012 lalu, siswa menggunakan sampah plastik sebagai bahan dekor.
Dekor manual bagi saya menjadi pilihan karena sifatnya yang lebih ramah lingkungan. Lebih dari itu, ini juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai kepekaan dan sikap cinta lingkungan, yakni untuk menghemat penggunaan sumber daya alam, di tengah arah kehidupan yang kini semakin serba instan. Read More..
Selasa, 02 April 2013
Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel
Setelah menerbitkan kumpulan tulisan terpilih selama saya belajar di Eropa—yang diberi judul 10 Bulan Pengalaman Eropa—secara mandiri tanpa label penerbit pada awal November 2012 lalu, saya tergoda untuk menghimpun tulisan-tulisan saya yang lain dan mencetaknya sebagai arsip pribadi.
Saya kemudian membuka berkas arsip tulisan saya, dan saya menemukan tulisan-tulisan bertema pendidikan yang cukup banyak. Ada yang berbentuk artikel. Ada pula yang seperti catatan harian. Saya kemudian memilah, menyusun urutan, menatanya secara perwajahan di komputer, dan mencetaknya secara POD (print on demand) untuk arsip pribadi.
Melihat wujud bukunya setelah selesai dicetak, saya kok jadi tertarik untuk mengajukan naskah kumpulan tulisan bertema pendidikan yang dalam versi POD saya beri judul Membangun Peradaban Melalui Pendidikan: Kumpulan Artikel dan Esai Pendidikan itu ke penerbit. Saya lalu berpikir soal penerbit yang cocok untuk kumpulan tulisan saya itu.
Singkatnya, pada pertengahan Desember 2012, naskah itu disetujui oleh Penerbit LKiS untuk diterbitkan. LKiS mengusulkan agar judul buku diubah karena terkesan terlalu serius. Saya juga punya pikiran yang sama. Maka saya lalu mengusulkan judul yang kemudian disetujui, yakni Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel.
Judul ini saya pikir dapat merangkum tiga persoalan utama yang termuat dalam 30 tulisan saya. Namun, untuk menegaskan, saya mencoba memperjelasnya dalam kata pengantar yang saya buat.
Berikut kata pengantar yang saya buat khusus untuk penerbitan buku Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel.
Pengantar Penulis
Setelah lebih enam tahun pulang kampung dan bergiat di dunia pendidikan, khususnya sekolah, saya menyaksikan banyak hal yang berubah baik secara langsung maupun tidak langsung dalam kehidupan siswa dan komunitas kependidikan pada umumnya di kampung saya. Rujukan perbandingan saya adalah pengalaman saya sendiri saat menempuh pendidikan dasar dan menengah di kampung halaman saya mulai pertengahan dekade 1980-an hingga tahun 1990-an.
Perubahan sosial di kampung saya telah banyak terjadi dalam rentang waktu belasan tahun. Saya masih ingat, awal 1996, telepon masuk ke desa saya dan sekitarnya. Sekitar delapan tahun kemudian, jaringan telepon seluler masuk. Tiga tahun setelah itu, jaringan internet mulai populer.
Revolusi teknologi informasi dan komunikasi seperti ini memang semakin meluas ke berbagai pelosok Indonesia beberapa tahun terakhir. Inilah era informasi dan globalisasi. Generasi tua, para pendidik, dan lembaga-lembaga masyarakat, termasuk sekolah, tampak kerepotan dan cukup gagap menghadapi berbagai bentuk perubahan dan dampak nyata dari derasnya arus informasi dan komunikasi.
Lembaga pendidikan, seperti pesantren (yang cukup populer di Madura) dan sekolah pada umumnya, menjadi harapan masyarakat untuk menyiapkan generasi yang mampu bertahan dan berkembang dalam situasi perubahan yang begitu dahsyat ini. Masyarakat Madura pada khususnya banyak menaruh harapan yang besar pada pesantren untuk membekali anak mereka dengan moral agama yang kuat. Akan tetapi, dalam pergulatan saya sehari-hari di lembaga pendidikan, termasuk pesantren, saya menyaksikan keakutan yang cenderung terus semakin menumpuk di dalam tubuh lembaga pendidikan itu sendiri.
Dari lingkungan pergaulan saya sehari-hari, saya lamat-lamat mendengar lembaga pendidikan yang katanya “menjual murid” demi mendapatkan kucuran dana dari pemerintah. Saya juga menemukan guru yang menggunakan sertifikat atau dokumen palsu untuk mendapatkan tunjangan profesi. Dokumen rencana pembelajaran yang dibuat beberapa guru di sekolah tampak hanya merupakan hasil salin-tempel. Berbagai perubahan di lingkungan pendidikan tampak terlambat diantisipasi. Di rapat-rapat guru dan sekolah, saya kadang menemukan sikap yang amat pragmatis dalam melihat masalah pendidikan. Untuk soal yang terakhir ini, saya kadang menangkap bahwa ini terjadi di antaranya karena arah kebijakan pengurus publik yang memang memaksakan cara pragmatis dan instan digunakan di sekolah.
Yang cukup mendasar, saya merasa cukup kesulitan untuk menemukan upaya-upaya pengambil kebijakan di sekolah atau pengurus publik untuk membawa arah pendidikan sebagai upaya antisipatif menghadapi tantangan zaman di masa depan.
Kurikulum bisa jadi memang telah berubah. Pada waktu saya dulu menjadi murid, saya mendengar istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Beberapa tahun yang lalu, ada istilah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Namun, di lapangan kenyataannya saya cukup sulit untuk menyaksikan perubahan yang cukup signifikan di bidang kurikulum, terutama terkait dengan visi antisipatif pendidikan terkait dengan persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan di masa mendatang. Beberapa tampak hanya berhenti sebagai jargon semata. Pengurus publik di jajaran pemerintahan saya tangkap kadang kesulitan untuk menjelaskan visi atau rencana strategis arah pendidikan di wilayah kewenangannya. Mungkin juga di tingkat satuan lembaga pendidikan hal yang bersifat strategis masih amat jarang dibicarakan—entah karena merasa tidak tertarik, tidak penting, tidak tahu, atau enggan berbuat sesuatu. Mungkin juga cara sebagian guru mengajar di ruang kelas pun secara mendasar belum banyak berubah—bisa jadi juga termasuk cara saya mengajar. Tampak bahwa iklim dinamis dan progresif masih agak sulit ditemukan di lingkungan pendidikan, khususnya dalam bentuk yang lebih terencana dan terpadu.
Keprihatinan semacam ini sebenarnya ada di benak banyak pihak. Saya sangat yakin bahwa dalam soal ini saya tidak sendiri. Di antara mereka, ada yang kemudian mencoba melakukan sesuatu di wilayah yang paling mungkin mereka lakukan, sesuai dengan besar cakupan lingkaran pengaruh mereka. Perjumpaan saya dengan beberapa guru di tingkat daerah dan regional menunjukkan hal itu. Demikian pula, pergaulan saya di milis Ikatan Guru Indonesia (IGI), sebuah organisasi guru yang banyak melakukan sesuatu untuk peningkatan profesionalitas guru dan mutu pendidikan pada umumnya, memperlihatkan banyak guru yang punya kegelisahan atas arah dan nasib dunia pendidikan Indonesia saat ini. Banyak di antara mereka yang dengan penuh ketulusan dan semangat berusaha melakukan sesuatu di tengah segala keterbatasan yang mereka miliki.
Bersentuhan secara langsung dengan berbagai gejala dan peristiwa di dunia pendidikan semacam ini beberapa tahun terakhir di sebuah kampung pedalaman Madura, saya bersyukur bahwa saya sempat membuat tulisan sebagai refleksi, meski mungkin sifatnya amatiran, atas berbagai hal yang saya temui itu. Catatan-catatan yang di antaranya cukup singkat itu beberapa waktu lalu sempat saya himpun sebagai dokumentasi pribadi. Saya pun kembali bersyukur saat Penerbit LKiS Yogyakarta tertarik untuk menerbitkan kumpulan naskah saya ini.
Secara tematik, buku ini dibagi dalam tiga bagian. Bagian pertama mendiskusikan visi dan hal-hal mendasar dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Beberapa tulisan mungkin memang membahas hal yang bersifat praktis. Tapi saya rasa ada muatan yang cukup mendasar yang diangkat di dalamnya. Bagian kedua mengulas literasi dan tantangan era informasi, termasuk pembelajaran bahasa. Bagian ketiga mengupas pendidikan lingkungan hidup di sekolah.
Ketiga tema ini di satu sisi menggambarkan tantangan sekaligus tuntutan terhadap dunia pendidikan yang menurut saya secara mendasar harus mampu menjawab tantangan zaman dan membawa arah pendidikan untuk semakin tersambung dengan kenyataan dan kebutuhan masyarakat—terutama mereka yang dipinggirkan dalam proses kehidupan sosial. Saya sering merasa sedih saat berpikir bahwa mungkin saja kegiatan sekolah dan kegiatan kependidikan yang lain justru bisa mengasingkan anak didik dari kenyataan dan akar kehidupannya. Dana, waktu, dan tenaga yang telah mereka keluarkan—sebagian dengan susah payah—pada akhirnya mungkin tidak dapat dimanfaatkan secara penuh untuk kepentingan mereka dan komunitas mereka sendiri.
Bagian yang membahas tentang pendidikan lingkungan merupakan refleksi saya setelah sekitar lima tahun mendampingi kegiatan peduli lingkungan di sekolah. Saya berkesimpulan bahwa jika diberi sentuhan visi yang mendalam, pendidikan lingkungan di sekolah membuka kesempatan bagi terhubungnya kegiatan kependidikan dengan isu-isu kontekstual—tidak hanya tentang perubahan iklim, tetapi juga soal keadilan, hak-hak warga, dan sebagainya.
Isu literasi bagi saya sangat penting diangkat karena hal mendasar dalam perubahan sosial kita saat ini adalah laju era informasi yang melahirkan sejumlah tantangan konkret bagi dunia pendidikan. Kemampuan mencerna informasi secara kritis, memilah dan mengolahnya secara tepat, sangatlah diperlukan. Penjajahan model baru sangat mungkin terjadi jika generasi muda kita tak dapat menggunakan perangkat teknologi informasi dan komunikasi dengan baik sehingga mereka mungkin akan cukup mudah digiring untuk kepentingan kelompok tertentu.
Pada tingkat yang lebih jauh, semangat literasi dapat membawa anak didik pada terbentuknya semangat pembelajar yang tak kenal ruang dan waktu. Sejauh ini, saya melihat sekolah kurang berhasil untuk membentuk jiwa pembelajar pada diri generasi muda. Salah satu tandanya, sekolah tampak gagal memberikan bekal keterampilan dan kebiasaan membaca dan menulis secara baik kepada anak didik.
Belajar di sekolah belakangan ini cenderung didorong untuk orientasi pragmatis—untuk mendapatkan nilai, naik kelas, lulus Ujian Nasional (UN). Caranya pun cenderung instan. Google dan bimbingan belajar (bimbel) tampak bisa menjadi simbol yang cukup tepat untuk menunjukkan problem pendidikan dan kegiatan kependidikan di sekolah saat ini. Google saat ini digunakan oleh siapa saja dan untuk apa saja. Sayangnya, guru, misalnya, kadang terlalu mengandalkan mesin pencari di internet yang paling populer itu untuk memperkaya bahan pengajarannya. Akibatnya, bahan yang dihimpun masih banyak berasal dari sumber yang dangkal. Saya pikir, mereka yang hampir sepenuhnya mengandalkan internet dan mesin pencari bagi saya tampak belum menjadi sosok pembelajar sejati.
Sedangkan tentang bimbingan belajar, saya teringat sebuah laporan penelitian Forum Kajian Sosial Humaniora (FKSH) Yogyakarta yang dimuat di Majalah Basis edisi Juli-Agustus 1997 tentang maraknya lembaga bimbingan tes untuk menyiapkan siswa lulusan SMA ikut seleksi masuk ke perguruan tinggi. Dalam tulisan yang berjudul “Bisnis Kecemasan” itu, diungkap beberapa hal dari fenomena lembaga bimbingan tes yang sekarang juga disebut dengan istilah bimbingan belajar itu. Di antaranya, fenomena itu dipandang menunjukkan kegagalan sekolah untuk memberi bekal kemampuan akademik yang cukup kepada anak didik untuk masuk ke jenjang pendidikan berikutnya. Pada titik ini, lembaga bimbingan tes itu tampak kental dengan orientasi pragmatis.
Kurang lebih, ini juga yang terjadi saat kecemasan anak didik harus datang lebih awal dengan adanya UN. Kecemasan menghadapi UN cenderung mendorong sekolah dan guru untuk memberikan model pembelajaran yang arahnya hanya bertujuan agar anak-anak didik bisa menjawab soal dengan baik—seperti yang tampak dalam kegiatan bimbingan belajar. Saya berjumpa dengan beberapa guru yang gelisah dengan kecenderungan ini. Ada yang merasa seperti terjebak pada dilema saat kebijakan pengurus publik cenderung menggiring guru untuk menggunakan model pragmatis ini, sedangkan dia memiliki gambaran ideal yang lain.
Persoalan dan tantangan dunia pendidikan semacam inilah yang menurut saya penting untuk terus direfleksikan oleh para pegiat kependidikan dan pengambil kebijakan. Penerbitan kumpulan tulisan ini di antaranya didorong oleh semangat saya untuk berbagi gagasan dan kepedulian tentang masalah-masalah dalam dunia pendidikan. Saya pikir, dengan berbagi, berbagai kekuatan masyarakat, baik perorangan maupun kelembagaan, dapat bergabung dan bersama-sama melakukan sesuatu untuk perubahan yang ujungnya adalah peningkatan mutu manusia dan kehidupan yang lebih beradab. Berbagi dan berefleksi ini menurut saya sangatlah penting untuk terus dilakukan baik secara perorangan maupun kelembagaan.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Penerbit LKiS Yogyakarta yang telah bersedia menerbitkan kumpulan tulisan ini. Saya juga berhutang budi kepada guru-guru saya yang penuh dengan ketulusan dan pengabdian, terutama yang memberikan pendidikan dan pengajaran di tingkat dasar, sehingga saya sampai saat ini bisa menulis dan berkarya. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada kedua orangtua yang selama ini dengan tulus terus memberikan dukungan dalam berbagai bentuk. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah menginspirasi saya dan menjadi guru secara tidak langsung bagi saya sehingga turut mendorong lahirnya tulisan-tulisan dalam buku ini. Kepada semuanya, semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik.
Kepada pembaca yang sudi membeli buku ini dan mencerna gagasan-gagasan saya, saya mengucapkan terima kasih. Dari pembaca, saya sangat mengharapkan kritik dan masukan agar gagasan-gagasan saya dalam buku ini pada khususnya dapat lebih teruji, bersinergi, bahkan mungkin mewujud lebih nyata, dan terus berkembang.
Semoga perjumpaan gagasan ini dapat melahirkan sesuatu yang lebih baik untuk kehidupan kita dan generasi mendatang. Yang paling penting, semoga buku ini bernilai di sisi Allah swt.
Wa mâ tawfîq illâ bi l-Lâh.
Guluk-Guluk, 26 Januari 2013
M. Mushthafa
Read More..
Label: Literacy
Kamis, 28 Maret 2013
Guru Annuqayah Merancang Buku Tafsir Juz ‘Amma
Menindaklanjuti Temu Guru Penulis di SMA 3 Annuqayah 21 Maret lalu yang merupakan forum diskusi guru untuk menyemarakkan semangat membaca dan menulis, tadi sore 13 guru berkumpul di SMA 3 Annuqayah. Mereka berasal dari beberapa sekolah di Annuqayah, yakni SMA 3 Annuqayah, Madrasah Aliyah 1 Annuqayah, dan Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Putri. Beberapa guru yang semula berniat hadir, termasuk dari beberapa sekolah yang lain, ternyata izin karena beberapa hal.
Pertemuan ini merupakan pertemuan pertama yang dimaksudkan sebagai langkah pertama untuk menebitkan buku karya bersama guru Annuqayah. Kepada guru-guru Annuqayah, saya menawarkan untuk menulis buku yang bertajuk “Tafsir Juz ‘Amma”. Setelah beberapa hari sebelumnya saya berjumpa dan berdiskusi dengan beberapa guru Annuqayah yang kira-kira berminat untuk bergabung dalam proyek ini, saya menyusun kerangka acuan dan melampirkan contoh tulisan saya yang kira-kira serupa dengan model tulisan yang akan disusun nanti. Alhamdulillah banyak guru yang berminat. Tercatat 20 guru yang menyatakan siap bergabung dalam proyek penerbitan buku karya bersama ini.
Saya menawarkan tafsir juz ‘amma atas beberapa pertimbangan. Pertama, belajar menulis yang mudah itu adalah jika kerangka tulisannya sudah cukup jelas. Menurut saya, dengan target menulis karangan yang kira-kira bertujuan untuk memperkaya pemahaman pembaca pada ayat atau sekelompok ayat tertentu dengan tema yang sudah ditentukan, maka prosesnya relatif akan lebih mudah. Kedua, saya melihat guru Annuqayah banyak yang cukup akrab dengan pustaka kitab klasik karya ulama-ulama terdahulu, termasuk kitab tafsir. Jadi, guru-guru ini sudah punya jalan masuk yang cukup mulus untuk mengisi kerangka karangan yang sudah tersedia itu.
Selain dua pertimbangan ini, saya sebenarnya juga punya pertimbangan subyektif. SMA 3 Annuqayah membutuhkan bahan pengayaan pelajaran al-Qur’an khusus untuk juz ‘amma, karena SMA 3 Annuqayah sejak 2008 mencanangkan fokus pembelajaran al-Qur’an pada juz terakhir tersebut. Jadi, proyek ini secara tidak langsung juga akan membantu SMA 3 Annuqayah untuk memenuhi kebutuhannya itu.
Pertimbangan-pertimbangan di atas sebenarnya muncul setelah saya terinspirasi oleh faktor yang lain, yakni keterlibatan saya dalam sebuah proyek penerbitan al-Qur’an yang digagas oleh Penerbit Al-Mizan, salah satu anak perusahaan PT Mizan Pustaka, Bandung, yang bergerak secara khusus dalam penerbitan al-Qur’an. Setelah mengerjakan pesanan tulisan untuk proyek yang saya kerjakan selama hampir dua bulan itu, saya merasa bahwa menulis esai atau artikel pengayaan untuk ayat al-Qur’an akan cukup mudah dilakukan oleh guru-guru pesantren pada umumnya.
Diskusi tadi sore dimulai pukul 14.00 WIB, telat 30 menit dari rencana semula karena para peserta terhalang oleh hujan deras. Saya memulai pertemuan tadi dengan memaparkan kerangka acuan yang telah saya buat, mulai dari latar belakang, tujuan, dan desain buku yang saya tawarkan. Diskusi cukup menghangat saat kami mendiskusikan desain buku yang akan ditulis. Setelah beberapa guru mengemukakan pendapatnya, kami sepakat bahwa buku yang akan disusun ini sifatnya adalah pengayaan pembelajaran yang sekaligus bisa dinikmati oleh pembaca umum. Para guru bersepakat untuk menggunakan rujukan utama kitab tafsir klasik ditambah dengan pustaka masa kini. Adapun panjang tulisan tiap judul disepakati paling sedikit 400 kata.
Diskusi menjadi panjang saat masuk pada tahap penentuan tema dan kelompok ayat yang akan dibahas. Akhirnya, kami membagi juz ‘amma dalam enam bagian yang masing-masing bagian ditugaskan kepada 2-3 orang guru untuk mengangkat tema dan menentukan kelompok ayatnya. Guru yang tidak hadir tapi bersedia bergabung juga akan diminta untuk memilih tema yang akan ditulis nanti.
Rencananya, jika nanti sudah terkumpul semua, kami akan mendiskusikan dan memilih tema-tema yang telah ditentukan oleh guru yang ditunjuk. Kami akan memilih tema-tema apa saja yang nantinya akan ditulis untuk buku ini. Kami sepakat untuk menyelesaikan pemilihan tema ini di kelompok masing-masing pada tanggal 8 April, dan 11 April kami akan mendiskusikannya bersama-sama. Setelah itu, tema terpilih akan dibagikan kepada para guru yang bersedia menulis.
Sampai pada titik ini, rasanya kami optimis bahwa karya bersama para guru Annuqayah ini telah menemukan jalan yang cukup lapang. Di bagian akhir, saya menambahkan sedikit dorongan kepada para guru yang hadir untuk mencoba mengembangkan proyek penulisan buku yang dilakukan secara pribadi. Saya memberi contoh kemungkinan model buku yang bisa ditulis oleh para guru yang bahan dasarnya berangkat dari al-Qur’an. Jika kemampuan membaca bahan-bahan rujukan utama sudah dimiliki, para guru ini tinggal maju beberapa langkah saja untuk bisa menerbitkan buku karya sendiri. Dan dengan sering berjumpa dan saling memberi semangat, saya pikir kekuatan kami bisa tetap terjaga dan mungkin akan bertambah.
Semoga Allah meridai dan memberi kami kemudahan untuk niat baik ini.
Read More..
Rabu, 27 Maret 2013
Menyemarakkan Semangat Membaca dan Menulis di Sekolah
Perhatian lembaga pendidikan pada kemampuan membaca dan menulis tampak masih kurang. Tidak banyak kebijakan yang dibuat untuk mendukung pada penguatan kedua hal tersebut. Membaca dan menulis tidak dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting. Di antara fakta yang dapat membuktikan hal ini adalah lemahnya dukungan sekolah pada perpustakaan dan penerbitan. Guru-gurunya pun tidak didorong untuk rajin membaca dan atau menulis.
Dengan keadaan seperti ini, saya bersama beberapa rekan guru yang menaruh perhatian pada membaca dan menulis merancang kegiatan yang dimaksudkan untuk menyemarakkan semangat membaca dan menulis di sekolah. Kami menamakannya Gerakan Literasi.
Gerakan Literasi ini sudah dimulai pada 14 Maret lalu. Bersama K. A. Dardiri Zubairi dan Asy’ari Khatib, saya berbincang di hadapan guru-guru belasan sekolah di wilayah timur Sumenep. Acara yang diberi judul Temu Guru Penulis ini dilaksanakan di Madrasah Aliyah Nasy’atul Muta’allimin Gapura yang dikepalai oleh Kiai Dardiri. Diskusi yang berlangsung hampir 3 jam ini berlangsung penuh semangat.
Momentum Gerakan Literasi ini secara kebetulan juga bersamaan dengan baru saja diterbitkannya buku yang ditulis oleh kami bertiga yang menjadi narasumber di Gapura. Kiai Dardiri baru saja menerbitkan buku Rahasia Perempuan Madura: Esai-Esai Remeh Seputar Kebudayaan Madura (Pena Pesantren, 2013), Pak Asy’ari belum lama menerbitkan Tobat Itu Nikmat (Zaman, 2013), dan saya sendiri baru saja menerbitkan buku di LKiS, berjudul Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel.
Kegiatan di Gapura menyepakati beberapa tindak lanjut, seperti pelatihan menulis untuk guru, pembuatan media komunikasi di internet, dan sebagainya. Yang tak kalah penting, forum menyadari akan pentingnya berjejaring.
Dalam kerangka membangun langkah bersama, kegiatan serupa kemudian juga dilaksanakan di SMA 3 Annuqayah sepekan kemudian, yakni pada hari Kamis (21/3) yang lalu. Dalam acara ini, hadir pula K. M. Faizi, pengasuh muda Annuqayah yang sudah menerbitkan banyak buku. Jika kegiatan di Gapura menghadirkan guru-guru dari wilayah timur Sumenep, dalam acara ini guru-guru yang diundang berasal dari sekolah-sekolah di wilayah barat Sumenep, yakni meliputi Kecamatan Guluk-Guluk, Ganding, dan Pragaan. Hadir pula beberapa guru dari Kecamatan Bluto dan Rubaru. Semuanya berjumlah sekitar 100 orang.
Sebelum diskusi dimulai, sambil menunggu peserta, mulai pukul 8.30 WIB diputar film Science and Islam, sebuah film dokumenter produksi BBC (2009) yang memaparkan cikal bakal kemajuan peradaban Islam abad pertengahan.
Pukul 9.40 WIB, diskusi dimulai. Setelah saya memberi pengantar yang menjelaskan tentang latar belakang dan tujuan kegiatan ini, Asy’ari Khatib memaparkan pengalamannya bergelut dengan dunia buku dan kepenulisan. Selain sering menulis puisi, dia telah banyak menerjemahkan buku-buku dari bahasa Arab.
Pak Asy’ari menuturkan bahwa dalam pandangan masyarakat awam, membaca dan menulis itu dianggap bukan pekerjaan—dipandang tidak bernilai. Guru yang kini tinggal di Pekamban, Pragaan, itu menceritakan pengalamannya di lingkungan keluarganya dalam menilai kegiatan membaca dan menulis. Meski semula dipandang dengan kurang simpatik, namun kini dia berhasil menunjukkan bahwa menulis dapat menghasilkan uang. Lebih dari itu, dia menyampaikan pengalamannya dalam menerjemahkan sejumlah buku yang mengangkat tema kehidupan Nabi Muhammad saw. yang memberinya banyak hikmah terutama yang bersifat spiritual.
Setelah Pak Asy’ari, giliran Kiai Faizi yang menyampaikan pemaparan. Kiai muda yang pada tahun 2011 diundang ke Berlin untuk membacakan puisi ini berkisah tentang beberapa eksprimen kepenulisan di sekolah. Sekitar delapan tahun yang lalu, dia pernah mendorong dua siswa Madrasah Tsanawiyah 3 Annuqayah untuk menulis sampai akhirnya diterbitkan oleh sebuah penerbit di Yogyakarta. Untuk mendorong semangat membaca dan menulis, dia pernah mengadakan lomba meresensi buku di perpustakan sekolah. Pemenangnya diberi hadiah buku yang dibelinya dari buku-buku obral di Yogyakarta.
Selain itu, Kiai Faizi juga bercerita tentang proses kreatif menulis. Dia menyampaikan bahwa penting sekali untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang tak biasa. Maksudnya, dengan membebaskan imajinasi sehingga ide yang muncul menjadi menarik. Dia memberi contoh kreativitas pembuat film Tom & Jerry yang ide-idenya kaya dan melabrak logika.
Kiai Faizi juga memaparkan pengalamannya dalam menerjemah buku dan menulis buku anak. Dalam kesempatan ini, dia juga membawa contoh buku-buku yang diterbitkannya serta buku karya murid-murid yang lahir dari proses pendampingan yang dilakukannya.
Sesudah Kiai Faizi, Kiai Dardiri mengisahkan pengalaman menulisnya, khususnya di media blog. Dia mulai membuat blog sejak tahun 2009. Sejak itu, dia berusaha menulis dua tema utama, yakni kebudayaan Madura serta keluarga dan pendidikan. Khusus tentang kebudayaan Madura, dia melihat bahwa banyak hal menarik di Madura yang belum diangkat ke permukaan, seperti tentang memelihara ayam, kebiasaan merokok dan minum kopi, naik haji, dan sebagainya. Hal-hal tersebut dia pikir akan dapat memperkenalkan kebudayaan Madura yang penuh nilai-nilai menarik kepada khalayak lebih luas. Beberapa tulisan tentang kebudayaan Madura di blognya itulah yang kemudian baru saja diterbitkan menjadi buku.
Selanjutnya, saya berusaha merangkum pemaparan ketiga narasumber dengan memberikan gambaran betapa nilai membaca dan menulis ini sangat penting dalam mendukung proses pendidikan. Membaca dan menulis bisa menjadi penyelamat dalam keterbatasan sistem dan fasilitas pendidikan yang ada. Saya menggambarkan betapa potensi membaca dan menulis bisa memberi nilai lebih bagi proses pendidikan. Saya juga mencoba menampilkan beberapa upaya yang telah dilakukan SMA 3 Annuqayah untuk menyemarakkan semangat membaca dan menulis di sekolah, seperti program Perpustakaan Masuk Kelas, dan sebagainya.
Dalam sesi tanya-jawab, banyak sekali guru yang mengajukan pertanyaan. Namun, karena keterbatasan waktu, pertanyaan dan tanggapan hanya diberikan kepada empat penanya. Setelah ditanggapi, sesi dilanjutkan dengan rencana tindak lanjut. Peserta dari Rubaru, Raudlatun Odax, meminta narasumber untuk bersedia menghadiri kegiatan serupa di sekolah di Rubaru. Peserta juga menyarankan untuk mengadakan pertemuan rutin di antara guru-guru untuk berbagi pengalaman membaca sambil belajar menulis. Forum juga merekomendasikan agar sekolah-sekolah yang ada berjejaring, termasuk dengan jaringan guru di wilayah timur Sumenep.
Kegiatan ini diakhiri pada pukul 13.00 WIB. Sebelum ditutup, beberapa peserta mendapatkan buku gratis dari narasumber. Selain itu, 30 perwakilan lembaga yang hadir masing-masing mendapatkan 10 eksemplar buku saya yang berjudul 10 Bulan Pengalaman Eropa untuk koleksi perpustakaannya masing-masing. Ada 383 judul yang dibagikan dalam acara ini. (Di Gapura, saya membagikan 296 buku yang sama kepada peserta dan perwakilan sekolah).
Pembagian buku gratis ini terlaksana atas dukungan Satria Dharma, ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI), yang mengganti biaya cetak buku yang dibagikan tersebut. Selain itu, Pak Satria, yang punya semangat luar biasa untuk mendorong literasi di sekolah, juga membantu pendanaan kegiatan ini, baik kegiatan di MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura maupun di SMA 3 Annuqayah. Terima kasih, Pak Satria. Jazakumullah khayral jaza’. Semoga langkah ini akan dapat memberikan hasil bagi peningkatan mutu pendidikan kita semua.
Read More..
Minggu, 17 Maret 2013
Menjadi Kepala Sekolah yang Cakap
Sejak diangkat menjadi kepala sekolah pada pertengahan 2010 yang lalu, saya belum pernah mendapatkan arahan atau pelatihan secara khusus yang berkaitan dengan kecakapan (kompetensi) kepala sekolah. Secara lebih terperinci, saya tidak tahu persis tugas-tugas sebagai kepala sekolah. Sementara itu, latar belakang atau riwayat pendidikan saya bukan dari jurusan kependidikan.
Namun bukan berarti saya bekerja tanpa arahan sama sekali. Di tahun pertama, bersama pengurus sekolah, saya mencoba menegaskan tata kerja struktur pengurus sekolah yang memang sudah ada. Butir-butir dalam tata kerja ini dibuat lebih jelas dan ditegaskan maksud serta cakupan pengertiannya.
Melihat jauh ke belakang, di tahun 2008 saya sebenarnya pernah mengikuti pelatihan untuk kepala sekolah yang diadakan oleh Teacher Institute Sampoerna Foundation, Jakarta. Kebetulan pada waktu itu Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, sedang menjalin kerja sama dengan Sampoerna Foundation untuk peningkatan mutu madrasah, dan saya bekerja sebagai petugas setempat di Annuqayah yang membantu mengelola kegiatan dalam kerja sama tersebut. Jadi, meski waktu itu saya bukan kepala sekolah, saya juga mengikuti kegiatan pelatihan kepala sekolah itu.
Silabus kegiatannya meliputi beberapa tema, di antaranya: kepemimpinan, pengembangan visi dan misi sekolah, pengembangan kebijakan, pengelolaan keuangan, dan sebagainya.
Namun kegiatan tersebut bagi saya terasa kurang secara jelas memberikan gambaran tugas dan kecakapan yang harus dimiliki seorang kepala sekolah. Mungkin kesan kurang jelas ini saya dapatkan karena waktu itu saya sendiri belum menjadi kepala sekolah.
Karena itu, ketika di pertengahan Januari lalu saya mendapatkan informasi bahwa Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan (Pusbang Tendik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI akan merekrut tim penulis Bahan Pembelajaran Utama (BPU) untuk pengembangan keprofesian berkelanjutan kepala sekolah, saya seperti menemukan sesuatu yang saya tunggu-tunggu. Ini kesempatan untuk belajar tentang bagaimana menjadi kepala sekolah “yang benar” dalam sudut pandang yang lebih utuh. Tambahan lagi, ini juga kesempatan untuk terlibat dalam sebuah tim kerja yang akan berperan cukup penting di tingkat nasional.
Singkat cerita, pertengahan Februari saya mendapatkan kabar bahwa saya lolos seleksi masuk sebagai salah satu anggota tim penulisan Bahan Pembelajaran Utama (BPU) untuk pengembangan keprofesian berkelanjutan kepala sekolah tersebut.
Lokakarya Penulisan Bahan Pembelajaran Utama (BPU) untuk pengembangan keprofesian berkelanjutan kepala sekolah dilaksanakan selama 5 hari di Hotel Grand Mercure, Jakarta, tepatnya pada tanggal 4-8 Maret yang lalu. Ada sekitar 100 anggota tim yang hadir pada kegiatan ini.
Kenapa anggota timnya bisa banyak sekali?
BPU pengembangan profesi keberlanjutan kepala sekolah dibuat dengan bertitik tolak pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Dalam peraturan tersebut, disebutkan ada 33 kecakapan yang harus dimiliki oleh kepala sekolah yang meliputi lima dimensi, yakni kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial. Nah, BPU yang disusun ini menargetkan untuk secara berkelanjutan memberi bekal semua kecakapan tersebut kepada kepala sekolah.
Berbeda dengan modul, BPU ini menggunakan pendekatan in-on-in dan berbasis kegiatan. Pendekatan in-on-in maksudnya adalah rancangan kegiatan yang terdiri dari tiga tahapan. Tahap pertama, in service learning (disingkat in-1), kepala sekolah mendapatkan pelatihan awal untuk bekal kecakapan tertentu. Selanjutnya, di tahapan on the job learning (disingkat on), kepala sekolah diberi tugas belajar mandiri untuk melakukan sesuatu di sekolahnya terkait kecakapan tertentu tersebut. Di tahapan ketiga, in service learning (disingkat in-2), kepala sekolah kembali berkumpul untuk berbagi pengalaman dan mengevaluasi atas apa yang sudah dilakukan pada tahap on the job learning.
Tim penyusun BPU dari Pusbang Tendik yang bekerja sama dengan Australia’s Education Partnership with Indonesia (AEPI), School System and Quality (SSQ)-AusAID, telah memetakan ketiga puluh tiga kecakapan tersebut dengan juga mempertimbangkan 8 Standar Nasional Pendidikan. Dalam peta yang dibuat itu, dirumuskan ada tiga level kecakapan kepala sekolah yakni pemula, berpengalaman, dan mahir. Di level pemula, kecakapan yang dimasukkan sifatnya mendasar. Maksudnya, kecakapan yang menjadi syarat utama kepala sekolah untuk dapat melaksanakan tugas dasarnya. Di level berpengalaman, kecakapannya sudah lebih rumit karena beberapa merupakan gabungan dari sejumlah butir kecakapan yang ada dalam Permendiknas 13/2007. Di level mahir, kecakapannya lebih bersifat pengembangan tingkat lanjut.
Secara kasar, dari ketiga level ini, ada 24 BPU yang akan disusun untuk masing-masing jenjang pendidikan. Padahal, BPU ini akan dibuat untuk jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK. Artinya, target kasarnya nanti ada sekitar 96 BPU.
Sebenarnya, Pusbang Tendik sudah memiliki BPU tingkat SD/MI untuk level 1, 2, dan 3. BPU tingkat SD inilah yang kemudian dikaji dan dikembangkan untuk tingkat SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK. Sekitar seratus anggota tim yang diundang kemudian dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang.
Saya kebagian BPU Kewirausahaan. BPU Kewirausahaan ini termasuk dalam kelompok BPU level 2. Anggota tim BPU Kewirausahaan ini adalah Drs. Achmad Ghozin, M.Pd. (pengawas TK/SD pada Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh), Drs. Sunnaidi Solihin, M.M. (Kepala SMK Yapentob Toboali, Kab. Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung), Ahmad Fadloli, M.Pd. (Kepala SMP Negeri 7 Karawang Barat, Karawang, Jawa Barat), dan saya sendiri.
Semua tim bekerja mengikuti arahan dari panitia dengan runtutan, alokasi waktu, dan pelaporan kemajuan yang terus dipantau. Alur pertama adalah mencermati BPU jenjang SD/MI dengan membuat ringkasannya dalam bentuk tabel. Kemudian masing-masing tim memberikan rekomendasi atas BPU SD tersebut. Rekomendasi di sini bisa dibilang sama dengan kerangka baru untuk BPU yang akan disusun. Pada tahapan ini diskusi di tim terasa cukup serius. Argumen bertaburan dan menghangatkan ruangan yang cukup dingin itu.
Setelah rekomendasi selesai dibuat, tim diminta untuk memasukkan kerangka yang sudah disusun ke dalam template yang telah disediakan panitia untuk kemudian dikembangkan sebagai draft BPU yang dikumpulkan di acara penutupan lokakarya.
Dalam proses penyusunan, tim BPU Kewirausahaan terbilang perlu bekerja lebih keras. Pasalnya, menurut salah seorang peserta yang pernah terlibat dalam proses penyusunan BPU SD/MI, BPU Kewirausahaan termasuk BPU yang paling banyak disorot karena mutunya di bawah rata-rata dibandingkan dengan BPU lainnya. Jadinya, tim BPU Kewirausahaan memang sejak awal sudah merasa tertantang untuk bekerja sebaik mungkin.
Hari Jum’at tanggal 8 Maret sekitar pukul 10.00 WIB, lokakarya ditutup. Berkas BPU dari semua tim dikumpulkan untuk kemudian dievaluasi oleh tim Pusbang Tendik dan SSQ. Alhamdulillah, BPU Kewirausahaan dengan segala keterbatasan akhirnya selesai meski anggota tim memang merasa belum puas. Ada beberapa hal yang belum tuntas. Akan tetapi, karena keterbatasan waktu bagaimanapun naskah BPU harus dikumpulkan.
Perjalanan BPU ini masih panjang. Menurut Pusbang Tendik, sebagaimana disampaikan dalam acara penutupan, dalam satu atau dua bulan ini Pusbang Tendik akan menyelenggarakan lokakarya lanjutan. Namun tidak semua peserta akan diundang. Pusbang Tendik terlebih dahulu masih akan melihat laporan hasil kerja seluruh tim dan laporan pemantauan kerja seluruh peserta selama lokakarya kemarin.
Ya, perjalanan BPU masih panjang untuk benar-benar selesai dan digunakan dalam kegiatan pelatihan peningkatan kecakapan kepala sekolah. Setelah BPU ini selesai disusun, menurut Pusbang Tendik BPU akan diujicobakan di beberapa daerah terlebih dahulu dan dimintakan masukan dari para ahli pendidikan. Baru setelah melewati proses ini, maka BPU secara definitif dianggap selesai, siap dipergunakan, dan diperbanyak sesuai kebutuhan.
Banyak hal baru yang saya peroleh dari kegiatan ini. Jika mau disebutkan, ada tiga manfaat pokok yang saya dapatkan. Pertama, sekarang saya punya pemahaman yang lebih utuh tentang apa yang disebut kepala sekolah yang cakap (kompeten). Dan kecakapan tersebut sudah dipetakan secara baik sehingga dapat lebih mudah dipahami. Memang daftar kecakapan dan pemetaannya itu tidak bersifat statis. Masih terbuka kemungkinan untuk menambahkan bentuk kecakapan yang baru yang belum termuat dalam dokumen Permendiknas 13/2007. Namun daftar kecakapan yang ada saya pikir sudah bagus.
Kedua, saya punya pengalaman baru dalam menyusun buku yang mirip dengan modul, atau buku yang akan dipergunakan untuk pelatihan. Dengan pendekatan in-on-in untuk membekali kepala sekolah dengan sejumlah kecakapan yang telah dirumuskan, model buku yang disusun tentu tak semata menuntut keluasan wawasan dan penguasaan teori yang memadai. Tim penulis dituntut untuk dapat merangkai sejumlah kegiatan (dalam kerangka pendekatan in-on-in) dengan target penguasaan kecakapan tertentu.
Sedangkan manfaat ketiga, melalui kegiatan lokakarya ini saya berjumpa dan berkenalan dengan para pegiat pendidikan yang memiliki latar belakang bermacam-macam. Ada kepala sekolah, pengawas, dosen, pejabat Kemendikbud, penulis, dan sebagainya. Dengan kata lain, kegiatan ini telah memperlebar jaringan kependidikan saya.
Semoga kegiatan ini dapat memberi manfaat kepada saya, dan yang terpenting kegiatan ini dapat terus berlanjut sehingga tujuan untuk meningkatkan mutu kepala sekolah dapat terwujud. Jika lembaga-lembaga pendidikan di negeri ini dikelola oleh kepala sekolah yang baik, saya pikir kita bisa punya harapan yang lebih besar untuk perbaikan mutu kehidupan bangsa ini di hari-hari yang akan datang.
Read More..
Sabtu, 16 Maret 2013
Air Hujan Mencari Jalan Pulang
![]() |
| Air menggenang di tepi jalan masuk ke kompleks PP Annuqayah setelah hujan lebat mengguyur. Foto diambil pada 21 November 2008, dengan kamera Nokia E50. |
Di musim hujan, tak ada orang mengeluh soal kekurangan air. Namanya saja musim hujan. Air tumpah nyaris tiap hari dari langit. Tanah lebih sering basah. Tak ada debu beterbangan. Pohon-pohon segar menghijau dan bermekaran.
Namun coba ingat musim kemarau. Tanah kerontang. Debu akan sangat cepat menebal di bangku dan meja yang sehari dua hari tak dibersihkan. Pohon-pohon gersang. Orang akan enggan menanam pohon di musim kemarau, kecuali ia bersiap untuk secara rutin memberinya jatah air setiap satu atau dua hari.
Ke manakah perginya air hujan yang turun selama beberapa bulan di musim penghujan? Di manakah ia berada saat musim kemarau tiba?
Air hujan yang turun ke bumi itu selalu merindukan pulang. Tapi hamparan bumi telah memberinya nasib yang berbeda-beda.
Bersyukurlah kau, wahai air hujan, jika di saat musim hujan kau menemukan jalan yang lapang untuk masuk ke kedalaman tanah. Kau akan mengikuti akar-akar tanaman yang menghunjam ke perut bumi. Atau bisa saja kau akan menyusuri terowongan-terowongan mini yang dibor oleh si lemah cacing yang tak berkaki. Atau mungkin kau menemukan orang yang berbaik hati yang memberimu celah lebar, sumur resapan, sehingga kau lebih mudah diantar ke kedalaman.
Tapi jika tanah telah ditutupi aspal atau dilapisi semen, kau akan berjalan ke sana kemari, wahai air hujan. Catatan nasib dan perjalananmu akan lebih panjang. Kau harus berkelana lebih lama untuk menemukan jalan menuju pulang. Kau harus bergentayangan. Kau harus bekerja keras mencari sisa-sisa celah di antara sampah-sampah plastik yang menghadang jalanmu. Aspal, semen, dan plastik, terlalu keras untuk kau tembus. Dan perjalananmu mungkin harus lebih banyak di permukaan.
Jika kau harus bergentayangan dan bersusah payah mencari jalan pulang, mungkin akhirnya kau akan kesal. Lalu pikiranmu digelayuti hasrat untuk membalas dendam. Kau lalu berhimpun dan bergandeng tangan menyatukan kekuatan. Dan pesta pembalasan pun kau rayakan. Itulah yang mungkin secara langsung kau lakukan di musim hujan.
Sedang bila tiba musim kemarau, kau telah berada di sana di kejauhan, di sungai yang mengering dan lautan yang mulai kotor dengan sampah plastik. Kau tak menemukan tempat yang leluasa untuk berdiam di daratan, di kedalaman.
Jadi jangan heran, wahai manusia, bila saat kemarau air begitu jauh di sana, entah di mana. Karena tanah tak memberinya pintu untuk sekadar bertamu. Dan pohon-pohon pun mengerang kepanasan diterpa terik setiap siang. Dan tanah tak bisa lagi merasakan sejuknya pelukanmu, wahai air hujan.
Namun begitu, wahai manusia, jangan hanya bisa mengutuk pada nasib. Berbuatlah sesuatu. Mumpung masih musim hujan, mari bantu air menemukan jalan pulang.
Baca juga:
>> Diguyur Hujan
Read More..
Label: Environmental Issues, Reflection
Jumat, 15 Maret 2013
42 Esai al-Qur’an
Dua bulan tidak posting tulisan di blog ini, saya sebenarnya tetap menulis. Namun, tulisan-tulisan yang saya buat sepanjang Januari hingga Februari 2013 ini tak bisa saya tayangkan di sini karena pada rentang waktu tersebut saya mengerjakan 42 tulisan pesanan Penerbit al-Mizan. Al-Mizan adalah salah satu unit penerbitan PT Mizan Pustaka Bandung yang khusus bergerak di bidang penerbitan al-Qur’an.
42 tulisan tersebut adalah pesanan al-Mizan untuk sebuah proyek penerbitan buku. Karena itu, saya pikir tulisan-tulisan tersebut kurang etis jika tampil terlebih dahulu di sini sementara buku yang dimaksud belum terbit.
Bagaimana kisah penulisan 42 esai tersebut?
***
Saat pertama kali dihubungi Mizan untuk menulis esai-esai tersebut pada akhir November 2012, saya sempat ragu. Saya tak memiliki latar belakang keilmuan yang mendalam di bidang studi al-Qur’an. Pengetahuan keagamaan saya rasanya tidak cukup mendalam untuk menulis esai sepanjang sekitar 400 kata tiap satu judul yang dimaksudkan untuk memperkaya ayat atau sekelompok ayat tertentu yang telah dipilih oleh Mizan untuk sebuah proyek penerbitan al-Qur’an.
Saya menyampaikan keraguan ini secara langsung kepada Cak Amar Faishal, perwakilan Mizan yang menghubungi saya lewat telepon. Namun Cak Amar meyakinkan saya bahwa saya bisa menulis seperti apa yang diinginkan Mizan. Dalam pembicaraan telepon, Cak Amar menjelaskan secara singkat jenis tulisan dan tujuan yang diinginkan Mizan serta kerangka besar proyek penerbitan al-Qur’an tersebut.
Akan tetapi, keraguan saya masih terus menggantung di pikiran. Lebih dari sekadar soal penguasaan keilmuan, keraguan saya sebenarnya juga bersumber dari pikiran yang lain. Menulis esai yang dimaksudkan untuk menjelaskan atau memperkaya ayat al-Qur’an buat saya memberi beban psikologis tersendiri. Apa yang akan saya tulis berkaitan dengan subjek yang bernilai suci dan agung. Ini tidak sama dengan menulis kisah tentang salju yang masih turun di bulan Mei di sebuah kota terpencil di dekat kutub utara. Atau menulis makalah tentang cara menulis artikel atau resensi buku. Atau menyusun bahan ajar Bahasa Indonesia untuk kelas X SMA.
Berhadapan dengan subjek agung yang akan saya tulis, saya merasa diri saya terlalu kotor sehingga saya bertanya-tanya: tulisan seperti apa yang akan lahir dari diri yang kotor ini saat menulis sesuatu yang agung?
Pertanyaan ini mengganggu saya cukup lama sehingga saya tak kunjung memulai menulis esai-esai yang diminta oleh Mizan itu. Jika akhirnya saya mulai menulis, itu karena saya menemukan penjelasan yang bagi saya rasanya cukup melegakan. Melalui komentar atas status Facebook saya tanggal 26 Desember 2012 yang menggambarkan kegelisahan saya, Cak Amar memberi kerangka pikir bahwa bisa jadi menulis esai-esai sebagaimana dipesan Mizan buat saya akan menjadi bagian dari penyucian dari kotoran-kotoran diri itu.
Singkatnya, awal Januari 2013 saya mulai menulis.
Pemaparan latar belakang atau kisah ini saya harapkan bisa menjadi bagian dari permakluman pembaca jika esai-esai yang saya tulis itu sangatlah jauh dari mutu yang dibayangkan. Saya mohon maaf jika esai-esai saya itu tidak banyak memberi kilau cahaya meski subjek yang diulas adalah Sumber-Maha-Cahaya. Keterbatasan wawasan dan pengetahuan serta mutu diri pribadi saya sangat mungkin menjadi penghalang untuk lahirnya tulisan yang lebih baik dan menggerakkan pembaca.
Namun saya berusaha untuk melakukan yang terbaik. Dalam menulis esai-esai itu, saya berusaha menggunakan rujukan dari kitab tafsir klasik. Inilah hikmah yang saya rasakan dalam proses penulisan esai-esai itu: saya jadi bersemangat membuka kitab-kitab tafsir koleksi saya yang sebelumnya sangat jarang disentuh. Proses penulisan esai-esai tersebut sekaligus memperkuat kecintaan saya pada al-Qur’an.
Dalam menyusun satu esai, paling tidak saya membuka Tafsir al-Kabir karya Fakhruddin al-Razi, Tafsir al-Munir karya Wahbah al-Zuhayli, dan Tafsir al-Mishbah karya M. Quraish Shihab. Setelah saya menemukan titik tertentu dari ketiga rujukan itu yang bisa saya gunakan sebagai fokus tulisan, saya berusaha memperkaya dengan bacaan yang lain. Jika tidak mendapatkan referensi tambahan, saya berusaha menguatkan sudut pandang dan fokus bidikan sehingga butir gagasan yang hendak disampaikan paling tidak bisa lebih jelas.
Dari keempat puluh dua esai yang saya susun itu, saya hitung ada 34 buku rujukan yang saya gunakan. 13 di antaranya berbahasa Arab, 1 berbahasa Inggris, dan sisanya berbahasa Indonesia. Namun di antara rujukan berbahasa Indonesia yang saya gunakan itu, ada yang merupakan buku terjemahan. 7 buku diterjemahkan dari bahasa Inggris, 1 buku terjemahan dan 1 buku saduran dari bahasa Arab.
Empat puluh dua esai yang saya tulis itu memiliki dua tema besar: akidah dan akhlak. Adapun fokus ayat dan tema yang diangkat memang sudah ditentukan oleh Mizan. Proses penulisannya dimulai pada tanggal 2 Januari dan berakhir pada 21 Februari 2013. Saya mengerjakannya di sela-sela kegiatan utama saya di SMA 3 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Kebanyakan esai-esai itu ditulis di penghujung hari menjelang saya beristirahat atau setelah subuh sebelum memulai aktivitas di sekolah.
Ada beberapa kejadian menarik yang saya alami selama saya menulis esai-esai tersebut. Saat baru saja menulis beberapa judul tulisan, secara kebetulan saya berada di sebuah forum yang juga membahas tema atau bahkan ayat yang saya ulas tersebut. Sehari setelah menulis ulasan surat al-Anfal ayat 17 bertema “perbuatan” Tuhan, pada tanggal 16 Januari saya ikut menyambut Syekh Khalil ibn Abdul Qadir dari Lebanon yang berkunjung ke Annuqayah. Dalam kesempatan itu, beliau sempat berdiskusi dengan pengasuh Annuqayah dan juga santri. Nah, di antara fokus pembahasan diskusi, beliau sempat membahas ayat yang baru sehari saya tulis ulasannya itu.
Sabtu malam tanggal 26 Januari, saya mengikuti pengajian Drs. K.H. A. Hanif Hasan dengan alumni Annuqayah di Kecamatan Ambunten. Dalam ceramah keagamaan yang disampaikan, beliau mengangkat tema yang serupa dengan ayat yang baru sehari saya tulis, yakni surat al-An‘am ayat 160.
Pada Rabu siang tanggal 30 Januari saya mengikuti pengajian Drs. K.H. A. Warits Ilyas dengan alumni Annuqayah di Kecamatan Rubaru. Dalam pengajian itu, beliau mengupas ayat yang isinya serupa dengan ayat yang baru saja saya tulis ulasannya di pagi hari yang sama, yakni surat al-Maidah ayat 69.
Kejadian terakhir, setelah di pagi hari tanggal 5 Februari saya selesai menulis esai yang membahas tentang zihar, yakni surat al-Mujadalah ayat 2-4, saya masuk ke salah satu kelas saya di SMA 3 Annuqayah. Ternyata, guru sebelum saya baru saja membahas tentang zihar.
Saya mencatat kejadian-kejadian ini karena bagi saya ini tampak sebagai sebuah kebetulan yang cukup unik. Saya berharap ini menjadi pertanda baik bahwa saya tidak salah menerima tawaran Mizan untuk menulis esai-esai al-Qur’an itu.
Saya menyampaikan terima kasih kepada Mizan yang telah memberi kepercayaan kepada saya untuk terlibat dalam proyek penulisan esai-esai al-Qur’an tersebut. Saya juga berterima kasih kepada Cak Amar Faishal yang telah meyakinkan saya sehingga saya cukup percaya diri untuk menerima tawaran Mizan dan akhirnya saya dapat menulis esai-esai tersebut.
Semoga Allah meridai.
Read More..
Label: Literacy
Jumat, 14 Desember 2012
Menularkan Semangat Modern Raden Saleh: Catatan Seorang Guru SMA
![]() |
| Potret diri Raden Saleh - foto diambil dari Wikipedia |
Namun, seiring berjalannya waktu serta bertambahnya bacaan dan pengalaman saya, saya seperti menghayati semangat tertentu saat di awal tahun pelajaran 2012/2013 ini mendiskusikan Raden Saleh bersama murid-murid di ruang kelas. Saya merasa menemukan makna tertentu di balik diskusi yang diliputi nuansa kesejarahan tersebut.
Membawa Raden Saleh ke ruang kelas nun jauh di pelosok Madura bagi saya terasa seperti mengantar semangat modern ke hadapan murid-murid saya. Di mata saya, mendiskusikan sosok Raden Saleh di depan murid yang kebanyakan bahkan masih tak pernah menginjakkan kaki di Jakarta adalah menanamkan semangat kosmopolitanisme untuk sebuah masa depan yang semakin majemuk.
Lini masa Raden Saleh di sepanjang abad ke-19 mencerminkan pergulatan seorang pemuda Indonesia yang mengecap gairah modern Eropa. Modernisme Raden Saleh tampak dari fakta bahwa dialah yang pertama merintis seni lukis modern Indonesia yang dibawanya dari Eropa setelah berkelana lebih 20 tahun di sana. Raden Saleh juga dipandang memelopori pelajaran kesenian di Indonesia, karena pada 1863 dia menyusun buku pelajaran menggambar untuk anak-anak sekolah dan disebar ke beberapa wilayah Nusantara.
Namun peneguhan label modern untuk Raden Saleh tak semata berdasar atas fakta-fakta tersebut. Modernisme adalah juga terutama sebuah gagasan. Memberikan label modern kepada Raden Saleh dalam dunia seni rupa Indonesia juga dilakukan karena dia membawa ide modern dalam karya lukisannya.
Salah satu gagasan modern yang mengemuka dari Raden Saleh adalah sumbangannya dalam membentuk sikap antipenjajahan. Lukisannya yang berjudul “Penangkapan Pangeran Diponegoro” yang diselesaikan pada 1857 dan dipersembahkan kepada Raja Willem III di Den Haag banyak diulas dan diapresiasi berbagai kalangan untuk menunjuk pada kesimpulan ini.
Semangat antipenjajahan ini, yang bagi sebagian kalangan juga dipandang sebagai cikal bakal tumbuhnya nasionalisme, saya diskusikan dengan penuh semangat di ruang kelas bersama murid-murid saya. Saat makna kebangsaan kini tertantang oleh aneka problem kebangsaan dalam kehidupan sosial yang semakin mendunia, saya jadi merasa seperti tengah memunguti semangat yang tersimpan dalam kisah hidup pelukis berdarah Arab ini untuk kemudian meletakkan nasionalisme dalam konteks yang lebih bermakna.
Dalam beberapa sumber, seperti ditulis oleh Werner Kraus, digambarkan betapa Raden Saleh—yang pernah tinggal di Belanda, Jerman, dan Prancis—sangat terpikat dengan modernisme Eropa. Kraus secara khusus menggambarkan bahwa kota Dresden di Jerman menjadi tempat yang istimewa di hati Raden Saleh. Tak hanya menemukan ekspresi artistik dan kepercayaan dirinya sebagai seorang seniman, periode Dresden digambarkan sebagai masa paling bahagia dalam hidupnya. Di sisi yang lain, masyarakat Jerman memberikan penghormatan yang tinggi kepadanya. Kisah Raden Saleh di Maxen, selatan Dresden, dan tinggalannya berupa Masjid Biru menjadi bagian dari peringatan ke-750 hari jadi kota Maxen tahun 2005 lalu.
Namun demikian, Raden Saleh melalui lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” tampak menyerap gagasan modern. Ia tampil sebagai individu yang independen. Meski mengagumi dan lama dididik, bekerja, dan dibesarkan di Eropa, Raden Saleh melalui adikaryanya itu memperlihatkan keteguhannya untuk menjungkirbalikkan gambaran Nicolaas Pieneman tentang peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro pada 28 Maret 1830. Fakta-fakta dalam lukisan Pieneman yang dibuat atas pesanan Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock berjudul “Penyerahan Diri Diponegoro” (1835) itu oleh Raden Saleh dibalik dan dibantah.
Sikap independen yang bertolak dari prinsip dan gagasan modern seperti antipenjajahan atau antipenindasan ini yang juga diperkaya dengan pengalaman dunia dan dedikasinya pada dunia seni bagi saya adalah semangat yang sangat berharga untuk ditanamkan pada generasi muda yang menurut saya akan menghadapi sebuah masa depan yang semakin mondial.
Saat mengakhiri kelas yang baru saja membahas tiga artikel tentang Raden Saleh dari berbagai sumber terpilih pekan lalu, saya teringat potret diri Raden Saleh di Rijksmuseum Amsterdam yang sempat saya tatap lekat-lekat di bulan Desember 2009. Saya membayangkan kelak di antara murid-murid saya ini mungkin akan ada yang juga menatap lukisan yang sama di museum terkemuka di Belanda itu. Mereka mungkin akan bersentuhan langsung dengan berbagai peradaban dunia. Atau saya pikir paling tidak mereka kelak pasti akan banyak bergelut dengan ide-ide dunia dan gagasan modern.
Dalam konteks dan kerangka seperti inilah, saya pikir pergulatan hidup Raden Saleh menjadi relevan untuk direfleksikan bersama murid-murid saya.
Guluk-Guluk, 16 September 2012
Bahan Bacaan
Dharmawan, Budi N.D.. 2012. “Pionir di Celah Dua Loka”. National Geographic Indonesia, Mei 2012.
Kraus, Werner. 2004. “Raden Saleh di Jerman”. Jurnal Kalam, No 21, 2004.
Sachari, Agus. 2010. Seni Rupa dan Desain untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga. Cetakan Ketiga.
Supangkat, Jim. 2000. “Raden Saleh dan Revolusi 1848”. 1000 Tahun Nusantara. Editor: J.B. Kristanto. Jakarta: Penerbit Kompas.
Suyono, Seno Joko, dkk. 2010. “Merawat Raden Saleh”. Majalah Tempo, 5 Juli 2010.
Esai ini menang dalam Kompetisi Esai Mengenang Raden Saleh (Kategori Akademisi) yang diadakan oleh Goethe Institut Indonesia, Tempo Institute, Majalah Historia, dan Badan Kerjasama Kesenian Indonesia (BKKI). Fragmen esai ini dibacakan dalam Peluncuran Buku Raden Saleh: Awal Seni Lukis Modern Indonesia karya Dr. Werner Kraus di Langgeng Art Foundation, Yogyakarta, 12 Desember 2012. Read More..
Label: Cultural Issues
Kamis, 15 November 2012
Berbagi Rasa Eropa
Tiap kali mengingat pengalaman Eropa selama 10 bulan dalam rentang 2009-2010, saya senantiasa bersyukur. Menjalani studi di Utrecht, Belanda, dan Trondheim, Norwegia, dengan dukungan beasiswa dari Uni Eropa, saya tak hanya memperoleh pengalaman akademik yang menarik, tapi juga pengalaman hidup yang lebih berwarna.
Perjumpaan dengan manusia dengan latar yang sangat beragam, kehidupan di negeri dengan musim yang bahkan cukup ekstrem, hidup dalam tatanan sosial yang berbeda, nilai dan ideologi atau keyakinan yang berlainan, semua merupakan pengalaman berharga yang saya temukan dalam wajah Eropa.
Saya juga bersyukur bahwa sejak menjelang keberangkatan saya ke Eropa dulu hingga kembali ke kampung halaman, saya sempat menulis sekitar 30 catatan bertajuk pengalaman Eropa. Catatan-catatan itu mengangkat tema yang beragam: pengalaman ribetnya mengurus dokumen sebelum berangkat, pengalaman bersepeda di Belanda, pengalaman menggelandang semalam di Frankfurt, pengalaman mengunjungi museum Anne Frank di Amsterdam, kesan lalu-lalang di kereta bawah tanah kota Paris, keterpukauan menyaksikan daun-daun yang berjatuhan di musim gugur, kesunyian musim dingin, keterpencilan kota Trondheim, Norwegia, di dekat lingkar kutub utara, dan sebagainya. Ada juga catatan yang ditulis lebih setahun setelah kepulangan saya dari Eropa. Tulisan itu mengenang sebuah tempat di dekat kampus di Trondheim yang menjadi eksotis saat musim semi datang dan bunga-bunga liar bertebaran di pinggiran hutan.
Saya telah membagikan tulisan-tulisan itu di blog saya, langsung setelah tulisan-tulisan itu dibuat. Akan tetapi, meski menurut catatan tulisan-tulisan itu telah diklik oleh puluhan bahkan ratusan pengunjung, saya masih ingin tetap berbagi rasa Eropa yang saya rekam dalam tulisan-tulisan saya itu.
Ada beberapa pengalaman yang tak sempat saya tulis saat saya di Eropa. Karena itu, saya pikir idealnya mungkin saya mesti menulis ulang pengalaman Eropa itu secara lebih utuh. Namun saya masih tak berhasil mengatur waktu saya untuk hal ini. Hingga sekarang, saya membiarkan beberapa pengalaman itu hanya tercatat sebagai tema yang seperti menunggu waktu untuk dituliskan. Apa mungkin saya kekurangan kayu bakar untuk memasak ide-ide itu?
Akhirnya, setelah lebih dua tahun pulang dari Eropa, saya memutuskan untuk memilih tulisan-tulisan yang mencatat rasa Eropa itu. Saya ingin membukukannya, meskipun dengan cara dan kemasan yang sederhana. Setelah melalui proses yang relatif singkat, dengan berbagai pertimbangan, di hadapan saya akhirnya terpilih 20 tulisan.
Saya kemudian menatanya sendiri dengan perangkat lunak di komputer. Saya juga merancang sampulnya. Dalam hal ini, saya mungkin bisa dibilang cukup berani, atau nekat, karena sesungguhnya terkait dengan perangkat lunak perwajahan, saya benar-benar masih baru mulai belajar.
Saya menggunakan foto-foto jepretan saya ketika di Eropa untuk melengkapi tulisan-tulisan itu, termasuk juga untuk sampulnya. Saya tak bisa mengabaikan foto-foto saya itu, karena sebenarnya beberapa tulisan justru lahir dari gambar yang saya rekam dengan kamera saku saya saat di Eropa.
Demikianlah. Pada akhirnya, saya pun belajar menjadi wirausaha untuk membagikan rasa Eropa ini. Setelah semuanya rampung, saya membawa naskah dengan tebal 106 halaman itu ke percetakan. Saya memperbanyak naskah yang saya beri judul 10 Bulan Pengalaman Eropa itu hingga dua ribu eksemplar.
Sekarang saya hanya bisa penasaran, ke manakah kertas-kertas yang mencatat rasa Eropa itu akan menyebar. Saya juga penasaran, bagaimana rasanya racikan pengalaman yang saya susun dan saya sajikan ini di lidah para pembaca nanti.
Selebihnya, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada mereka yang berkenan ikut mencicipi rasa Eropa sajian saya ini. Saya juga menyampaikan terima kasih kepada mereka yang memungkinkan rasa Eropa ini dapat saya alami dan dibagi. Terakhir, saya mohon maaf jika sajian saya kurang sempurna.
Tabik.
Read More..
Label: European Adventures, Literacy
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengenai Saya
- M Mushthafa
- Sabajarin, Guluk-Guluk, Sumenep, Indonesia
- Dunianya relatif tak banyak warna. Ia cenderung konservatif, prokemapanan, proharmoni. Untungnya, ia lalu menyukai sastra dan filsafat, sehingga secara amatiran ia mulai banyak belajar tentang petualangan tak berbatas. Di sana ia kemudian terjebak di antara belantara dunia buku. Membaca dan menulis kemudian mengantarkannya ke banyak sudut mencerahkan yang tak pernah terbayang sebelumnya. Mungkin di situ ia tengah melarikan diri dan mencari penghiburan dari dunia yang tak cukup ramah. Mungkin juga ia sedang berupaya menghimpun bekal perjalanan. Mungkin juga di situ ia justru tengah mencari jalan pulang.
Blog ini mendapatkan penghargaan Internet Sehat Blog Award (ISBA) 2009 sebagai "Inspiring Blog" kategori mingguan, Selasa 27 Oktober 2009.
Informasi
Blog ini dibuat pada bulan Desember 2004. Semua tulisan bertanggal sebelum waktu pembuatan blog ini ditulis/disusun sesuai dengan tanggal penerbitan (tanggal posting) dan diposkan di blog ini untuk maksud dokumentasi.
Semua tulisan di blog ini dapat dikutip dengan mencantumkan sumber secara jelas agar tidak termasuk dalam tindak penjiplakan (plagiasi).
Popular Posts Last 30 Days
-
Judul buku: Kebohongan di Dunia Maya: Memahami Teori dan Praktik-Praktiknya di Indonesia Penulis: Budi Gunawan dan Barito Mulyo Ratmono P...
-
Nowadays, Indonesian people are ready to welcome the legislative election. Next April, the election will be performed. With the background o...
-
Judul buku: Islam dan Civil Society: Pandangan Muslim Indonesia Penulis: Hendro Prasetyo, Ali Munhanif, dkk Penerbit: PT Gramedia Pustaka Ut...
-
Mengamati pemberitaan media tentang kasus ijazah Moh. Azhari , alumnus Madrasah Aliyah 2 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, yang dianggap t...
-
Tiap kali mengingat pengalaman Eropa selama 10 bulan dalam rentang 2009-2010, saya senantiasa bersyukur. Menjalani studi di Utrecht, Be...
-
Para pewarta warga SMA 3 Annuqayah tahun pelajaran 2012/2013 Saat memimpin proses penyusunan Laporan Kegiatan Kependidikan SMA 3 Annuqa...
-
Dalam kehidupan sehari-hari, saat menjalin hubungan dengan orang lain, seseorang akan hadir seumpama lapisan-lapisan yang membentuk struktur...
-
Judul Buku : Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura 1850-1940 Penulis : Prof. Dr. Kuntowijoyo Penerbit : Mata Bangsa, Yogyakarta,...
-
Judul Buku : Carok: Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura Penulis : Dr. A. Latief Wiyata Pengantar : Dr. ...
-
Judul buku: Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher Sampai Derrida Penulis: F. Budi Hardiman Penerbit: Kanisius, Yogyakarta Cetak...
Cari Blog Ini
Blogroll
Archive
Label
- :: In English :: (26)
- :: Published - All :: (193)
- :: Published - Jawa Pos :: (39)
- :: Published - Journal :: (9)
- :: Published - Kompas :: (22)
- :: Published - Koran Jakarta :: (22)
- :: Published - Koran Sindo :: (9)
- :: Published - Koran Tempo :: (9)
- :: Published - Media Indonesia :: (8)
- :: Published - National Magazine :: (17)
- :: Published - Sinar Harapan :: (4)
- BIB Diary (8)
- Book Review: Biography (1)
- Book Review: Cultural Issues (15)
- Book Review: Drama (1)
- Book Review: Economy (6)
- Book Review: Education (16)
- Book Review: Environmental Issues (2)
- Book Review: Gender Issues (7)
- Book Review: History (4)
- Book Review: Journalism (5)
- Book Review: Novel (14)
- Book Review: NU-Gus Dur (10)
- Book Review: Philosophy (19)
- Book Review: Politics (23)
- Book Review: Religous (49)
- Book Review: Science (1)
- Book Review: Short Stories (5)
- Book Review: Social (34)
- Book Review: Theology-Spirituality (13)
- Celestial Bodies (7)
- Cultural Issues (14)
- Daily Life (31)
- Diary (55)
- Education (46)
- Environmental Issues (35)
- Ethics (12)
- European Adventures (33)
- Family Life (6)
- Gender Issues (5)
- IVLP 2017 (8)
- Journey (18)
- Literacy (49)
- Madura (22)
- Movie (5)
- Pesantren (8)
- Philosophy (9)
- Photography (1)
- Public Service (7)
- Reflection (8)
- Religious Issues (36)
- School Corner (34)
- Social-Politics (47)
- Spirituality (4)

.jpg)


