Selasa, 08 Mei 2012
Surat Terbuka untuk Pak Polisi (tentang Anarki, Penghakiman Massa, Maling Sapi, dan lain-lain)
Yang terhormat,
Pak Polisi Sektor Guluk-Guluk dan Resor Sumenep
di tempat tugas
Assalamu’alaikum wr. wb.
Pak Polisi, apa kabar? Apa Bapak sempat membaca koran Radar Madura edisi Ahad (6/5) kemarin? Saya terkejut saat membaca teras berita yang cukup menghebohkan di halaman pertama Radar Madura. Judulnya “Massa Bakar Maling Hidup-Hidup”.
Di bawah judul itu, ada sebuah foto besar yang menampilkan gambar sejumlah orang di sisi kiri dan api yang sedang berkobar di sisi kanan. Orang-orang itu tidak sedang main api unggun, karena di antara kobaran api itu ada semacam papan dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Di dekat kobaran api itu, tampak sebuah sudut bangunan. Membaca keterangan foto, saya tahu bahwa yang terbakar itu adalah kandang sapi.
Tentu Bapak sudah tahu detailnya. Tapi izinkan saya meringkas kabar yang saya baca dari Radar Madura itu. Berita itu mengabarkan peristiwa amuk massa di Dasuk Laok, Dasuk, Sumenep. Radar Madura menyebutkan, sekitar 1.500 orang membakar hidup-hidup seorang yang diduga gembong maling sapi. Selain menghakimi dan mengeksekusi sendiri maling sapi yang bernama Alwan (50) itu, massa kemudian juga memburu maling sapi lain di desa lain di Kecamatan Dasuk yang diduga masih komplotannya Alwan. Namanya Nur Bahri. Namun Nur Bahri tak ada di rumah. Massa melampiaskan kemarahan mereka dengan membakar rumah dan kandang sapi Nur Bahri.
Pak Polisi. Saya tertarik mencermati apa yang dikatakan oleh polisi setempat menanggapi berita itu. Kapolsek Dasuk AKP Zulkarnain melalui Kanit Reskrim Dasuk Ipda Haryono berujar, “Saya lagi malas wawancara. Nanti sajalah.”
Di Radar Madura keesokan harinya, yakni edisi Senin (7/5), tak ada tanggapan resmi dari pihak kepolisian terkait aksi anarkis dan penghakiman massa tersebut. Sebenarnya saya agak heran, Pak. Tidakkah aksi anarkis dan penghakiman massa seperti itu tergolong tindakan melawan hukum? Apakah bapak-bapak di sana diam-diam sedang menyelidiki masalah ini? Apakah komentar seperti di koran itu memang semacam strategi yang sudah menjadi semacam SOP (standard operating procedure) dalam penanganannya?
Pak Polisi. Membaca berita penghakiman massa tersebut saya jadi teringat Michel Foucault. Foucalt ini, Pak Polisi, adalah seorang filsuf besar Prancis yang populer dengan foto plontosnya. Dia menulis sebuah buku yang berjudul Discipline and Punish: The Birth of the Prison. Buku ini menelaah tentang pembentukan (disiplin) individu Eropa modern dengan titik fokus sejarah penjara.
Saya teringat Foucault karena dia pernah membahas soal aksi anarkis semacam itu—seperti yang di Dasuk itu, Pak. Melalui penelitian sejarah, Foucault di antaranya membahas tentang popular justice. Kakak angkatan saya di Filsafat UGM, Seno Joko Suyono (2002: 313-314), dalam skripsinya menulis bahwa popular justice adalah “istilah yang dipakai Foucault untuk menyebut fenomena riuh di masa lampau akan adanya berbagai tindakan pengadilan langsung yang dilakukan oleh masyarakat atas orang-orang yang terbukti berlaku sewenang-wenang terhadap masyarakat tanpa diperlukan lembaga perantara di antara masyarakat dan mereka yang menjadi sasaran kemarahan masyarakat seperti halnya pengadilan kini”.
Aksi anarkis yang disebut popular justice ini menurut Foucault lahir di Eropa di sepanjang abad ke-14 hingga abad ke-18 sebagai aksi perlawanan terhadap fiskalisasi sistem pengadilan yang menguntungkan sekelompok elite masyarakat. Pak Polisi, si Foucault ini memang orang yang percaya bahwa lembaga pengadilan bukanlah institusi pemberi hukuman yang netral. Nah, aksi-aksi anarkis semacam ini menurut Foucault mulai surut setelah lembaga peradilan mulai memperlengkapi dirinya dengan penjara.
Dalam skripsinya, Seno Joko Suyono (2002: 316) yang kini menjadi salah seorang jurnalis senior di Majalah Tempo menulis bahwa salah satu benang merah pembahasan Foucault tentang popular justice dan kelahiran penjara ini menunjukkan bahwa “lembaga peradilan yang kini sah disepakati sebagai institusi penegak keadilan merupakan institusi yang ternyata dalam sejarahnya tidak dikehendaki kehadirannya oleh masyarakat”.
Wah, pemikiran Foucault ini tentu bagi Bapak yang berstatus sebagai penegak hukum akan terdengar cukup “mengerikan” ya. Saya saja masih sulit untuk menerima pemikiran semacam itu. Bayangkan saja, bagaimana jadinya jika tak ada lembaga peradilan? Di mana keadilan akan dicari? Pak Polisi, tampaknya cukup menarik jika kita bisa berdiskusi soal ini lebih mendalam.
Terus apa hubungannya berita di Radar Madura itu dengan si Foucault? Juga tanggapan polisi yang katanya lagi malas wawancara itu?
Sebenarnya cukup sederhana, Pak. Melalui Foucault, saya kok jadi menduga bahwa aksi anarkis dan penghakiman massa seperti itu terjadi karena kekecewaan masyarakat atas kerja lembaga kepolisian, terutama dalam mengatasi masalah pencurian. Sama seperti aksi popular justice di Eropa yang berlatar kekecewaan masyarakat atas fiskalisasi sistem pengadilan.
Andai sekarang Foucault masih hidup, dan kebetulan sedang bertamasya ke Pantai Lombang dan mendengar kabar heboh di Radar Madura itu (eh, tapi Foucault tak bisa bahasa Indonesia ya), ia mungkin akan semakin yakin dengan tesisnya tentang popular justice dan lembaga peradilan itu.
Tapi saya pikir mungkin sebenarnya saya tak perlu harus mengundang Foucault di surat ini untuk berkesimpulan bahwa masyarakat selama ini telah cukup sering kecewa dengan kerja penanganan kriminalitas oleh kepolisian. Kesimpulan semacam ini paling tidak bisa saya dapatkan dari rekaman percakapan sehari-hari beberapa warga di sekitar saya.
Ambil contoh saja kasus yang cukup populer. Bapak ‘kan tahu, masyarakat Madura itu banyak yang memelihara sapi. Dan setiap kali saya mendengar kasus pencurian sapi, saya sering sedih karena masyarakat, terutama yang berasal dari kelas menengah ke bawah, akan kesulitan untuk mendapatkan haknya atas keadilan. Sulit sekali sapi yang dicuri bisa kembali—saya jadi berpikir mungkin maling sapi jauh lebih hebat daripada para teroris yang suka main bom itu. Kadang sapi yang dicari ditemukan, namun si maling malah minta tebusan. Ibarat jatuh masih kena roboh tangga.
Saya mengambil contoh kasus pencurian sapi karena ini kasus aktual di desa saya. Jum’at dini hari dua minggu yang lalu (27/4), misalnya, salah seorang tetangga saya kehilangan sepasang sapinya. (Sebetulnya itu sapi adik saya yang dipelihara salah seorang tetangga dekat kami.) Tak lama setelah dilakukan pencarian, ditemukanlah salah seekor sapi yang hilang itu di desa tetangga. Setelah diurus, lalu ada desas-desus: jika satu ekor sapi lainnya ingin ditemukan, silakan bayar dua juta rupiah. Dengan kata lain, minta tebusan.
Kasus ini semakin mengenaskan lagi, Pak. Kepala Desa beserta perangkatnya yang kami hubungi malah bilang hal seperti itu biasa. Hilang dua kembali satu, dan dimintai tebusan. Biasa? Saya tidak yakin Pak Klebun ini bisa bergurau menghadapi masalah seperti ini. Bukannya mau membantu mencarikan sapi yang hilang atau melaporkannya ke pihak kepolisian, dia malah terkesan diam saja. Saya berpikir, apakah dia masih sibuk mengurusi tuntutan sejumlah masyarakat yang mempersoalkan pembagian beras untuk masyarakat miskin yang tak beres dan sempat digugat ke DPRD beberapa waktu lalu?
Seminggu setelah peristiwa pencurian itu, lagi-lagi ada pencurian sapi di desa sebelah. Saya tidak tahu detail kelanjutannya. Yang jelas para tetangga di desa saya saat ini menjadi resah.
Pak Polisi, tampaknya alur kisah kasus pencurian sapi nyaris selalu seperti itu. Masyarakat bawah menjadi korban dan sulit sekali menemukan keadilan. Ini pengamatan awam saya, yang tak punya data detail seperti Bapak.
Jadi, membaca berita di Radar Madura, setelah saya berpikir seperti ini, saya kok rasanya menjadi tidak terkejut lagi, Pak. Pak Polisi, masyarakat tampaknya sudah capek. Bapak tahu, kehidupan ekonomi masyarakat kian hari kian sangat sulit. Lalu harta berharga mereka, sapi, dicuri. Keadilan hanya mimpi. Para pengurus publik tampak tak punya empati. Jadi, kalau proposisi-proposisi seperti ini disusun rapi, saya kira kesimpulannya akan mudah ditemukan. Tak perlu kuliah Logika untuk menguji validitas penyimpulannya: bahwa aksi anarkis dan penghakiman massa itu adalah buah dari kekecewaan atas susahnya menemukan keadilan.
Memikirkan kesimpulan saya ini, saya mencoba menemukan dan menyusun proposisi-proposisi yang lain—proposisi alternatif—yang diharapkan dapat mengantarkan pada kesimpulan berbeda. Tapi ternyata saya sulit sekali dan tak berhasil menemukan proposisi alternatif itu. Apa Bapak kira-kira bisa membantu?
Apakah Kapolsek Dasuk yang bilang lagi malas wawancara itu sebenarnya sama seperti saya yang sudah berusaha mencari proposisi alternatif dan ternyata benar-benar tak bisa menemukan kesimpulan lain, lalu yang ada hanya kesimpulan yang berbau Foucault seperti di atas tadi? Hanya saja Pak Kapolsek mungkin merasa tak pantas untuk mengemukakan kesimpulan semacam itu kepada publik.
Saat saya menyimpan kesimpulan seperti di atas tadi, secara kebetulan Senin (7/5) kemarin saya membaca sebuah berita menarik di Kompas. Berita itu tampaknya adalah semacam tanggapan, rangkuman, atau refleksi atas kasus heboh “Koboi Palmerah” yang ramai dibicarakan masyarakat di berbagai situs jejaring sosial. Kompas menurunkan tulisan yang agak komprehensif tentang arogansi aparat TNI dan Polri belakangan ini. Data Kompas menyebutkan bahwa di tahun 2011, ada 657 kasus kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian, baik berupa penyiksaan, penganiayaan, penembakan, pelecehan seksual, intimidasi, ataupun penangkapan dan penahanan sewenang-wenang.
Kompas mengutip Kepala Lembaga Pendidikan Polri Komisaris Jenderal Oegroseno. Oegroseno tak menampik masih adanya perilaku arogan di jajaran kepolisian itu. Menurutnya, ini tak bisa dilepaskan dari rendahnya pendidikan di kalangan anggota kepolisian dan kurangnya pengawasan di lapangan. Sampai di sini, misi pengayoman dan perlindungan yang menjadi norma menjadi bermasalah.
Banyak pendapat dikutip di Kompas, termasuk Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro yang mengatakan bahwa mental arogan itu tak ada—kejadian semacam “Koboi Palmerah” adalah kasuistis.
Pak Polisi, mungkin surat saya ini sudah terlalu panjang. Intinya, melalui kesempatan ini, saya ingin mengatakan kepada Bapak bahwa jika Bapak melakukan pembiaran terhadap berbagai tindakan pelanggaran hukum di wilayah Bapak, sangat mungkin tindakan anarkis dan penghakiman massa seperti yang terjadi di Dasuk itu terulang kembali. Saya kira proposisi saya di atas jika disusun akan cukup kuat untuk tiba pada kesimpulan semacam ini.
Di desa saya dan sekitarnya, belakangan cukup marak berbagai kejadian yang mestinya ditindaklanjuti dan diatasi. Perjudian (togel) dan pencurian, misalnya, cukup sering terjadi. Sayang saya belum punya waktu untuk mencatat kasus-kasus pencurian mulai dari tabung gas elpiji, mesin pompa air, hingga sapi yang dalam beberapa tahun terakhir cukup sering saya dengar. Yang jelas itu semua tak boleh dibiarkan, karena ada Bapak di sini, yang mengemban tugas mulia dari negara untuk mengatasinya.
Bagi Bapak yang terhormat, menangani tindakan pelanggaran hukum adalah tugas negara, dan itu, dalam bahasa Stephen Covey, berada dalam lingkaran pengaruh (circle of influence) Bapak. Bagi kami yang awam, itu sekadar ada dalam lingkaran kepedulian (circle of concern) kami. Jadi tolong, jangan sampai Bapak membuat masyarakat menganggap Bapak sudah tiada, sehingga secara paksa mereka kemudian menobatkan diri sebagai yang berwenang untuk menumpas kesewenang-wenangan seperti kasus-kasus pencurian itu.
Kiranya ini yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan. Semoga Bapak diberi kekuatan untuk menjalankan tugas pengabdian di tengah banyaknya keterbatasan dan masalah. Saya percaya, jika niat baik dan niat tulus diperjuangkan, keterbatasan tak akan jadi penghalang untuk melakukan sesuatu demi kebaikan.
Wassalam,
Guluk-Guluk, 8 Mei 2012
M. Mushthafa
Read More..
Label: Madura, Public Service, Social-Politics
Rabu, 25 April 2012
Sudahkah Anda Punya Kamus?
Kamus apa saja yang Anda punya? Berapa jumlahnya?
Pertanyaan ini pernah saya lontarkan di kelas Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah. Pernah juga saya ajukan kepada murid-murid di kelas Jurnalistik, kelas Tata Bahasa Arab, atau dulu di Klub Penerjemah (Bahasa Inggris) yang dampingi.
Saat itu, jawabannya kebanyakan negatif.
Ketika beberapa pekan lalu saya diundang sebuah lembaga Bahasa Arab untuk mendiskusikan tema liputan majalah yang akan mereka terbitkan, saya bertanya pada mereka: apa ada yang masih belum punya Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia? Tak ada jawaban tegas. Tapi ada yang senyum malu-malu—sebuah pengakuan terselubung—di antara yang hadir saat itu.
Perhatian para pelajar di tempat saya berkegiatan, yakni di Pondok Pesantren Annuqayah, terhadap nilai penting kamus tampaknya masih kurang. Memang, mungkin saja mereka punya masalah daya beli. Pada umumnya, kamus yang baik biasanya memang agak mahal harganya. Namun demikian, saya menduga kuat bahwa yang terjadi bisa saja bukan semata soal daya beli, tapi juga karena mereka tak merasakan nilai penting kamus.
Menurut saya, kamus punya nilai penting yang sangat mendasar bagi seorang pelajar. Pemahaman terhadap makna kata-kata dari berbagai teks yang kita jumpai merupakan syarat penting agar kita dapat menyerap pengetahuan, informasi, dan ilmu baru dengan lebih mudah. Saat ini, hampir dipastikan setiap hari kita melakukan kegiatan membaca: pesan pendek, berita di koran atau majalah, kitab suci, iklan, mungkin juga buku. Jika kita tak berhasil memahami kata-kata dari teks yang kita baca, apalagi kata-kata itu menjadi kata kunci, maka hambatan kita amatlah berat untuk dapat menangkap makna dan pesan teks tersebut.
Pada kamus-lah kita dapat menimba informasi tentang makna kata-kata. Memang, bisa saja kita bertanya kepada orang lain. Tapi kamus menyediakan penjelasan yang lebih mantap dan kukuh.
Penguasaan makna kata-kata yang lebih banyak akan memberi kemungkinan yang lebih luas bagi kita untuk menerima pengetahuan, informasi, dan ilmu baru. Demikian pula, penguasaan bahasa baru selain bahasa ibu kita juga akan memperlebar cakrawala kemungkinan penyerapan ilmu baru.
Dalam sejarah Islam, ada kisah yang menuturkan bahwa Nabi Muhammad saw. meminta tebusan pada musuh yang ditangkap dengan mengajarkan bahasa asing yang dikuasainya kepada kaum muslim. Kisah semacam ini menunjukkan adanya kesadaran nilai penting bahasa dalam kaitannya dengan kelompok masyarakat dan peradaban.
Sayangnya, banyak pelajar, bahkan mungkin juga mereka yang berstatus sebagai guru, kurang tertarik dengan kamus (atau, dalam konteks yang lebih luas, bahasa). Bisa jadi lupa. Atau, mereka tidak mengutamakan untuk memiliki kamus. Mungkin memang ada banyak daftar lain yang mengalahkan kamus. Misalnya, telepon genggam baru, baju baru, dan semacamnya. Dan kamus ada di nomor kesekian puluh—atau bahkan mungkin tak terpikir.
Saya lalu teringat pada salah satu kamus “besar” yang dahulu pernah saya beli ketika masih bersekolah. Saya periksa barusan. Ada Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia yang bertanggal pembelian 25 Agustus 1994. Ada juga Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer karangan Peter Salim dan Yenny Salim yang saya beli pada tanggal 12 Agustus 1996. Saya ingat, kamus yang saya beli seharga Rp 72.000,- ini saya beli bersama beberapa buku lain setelah saya punya uang dari hasil usaha jasa rental komputer amatiran yang saya kelola.
Cicilan Kamus
Beberapa bulan yang lalu, saya punya gagasan untuk membantu mendorong murid-murid dan santri di lingkungan saya untuk mencintai dan membeli kamus. Idenya muncul setelah saya melihat di mana-mana semakin banyak program kredit kendaraan bermotor dan barang-barang lainnya. Saya lalu berpikir: kenapa tidak mencoba membuat program cicilan kamus?
Saya lalu mencoba menjajaki kemungkinannya. Di beberapa kesempatan, saya bicara dan bertanya kepada murid-murid. Tanggapannya positif.
Maka saya kemudian mengambil langkah-langkah nyata. Pertama, saya memutuskan kamus apa yang akan diangsurkan. Saya memilih Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia. Kebetulan, di kompleks tempat saya tinggal baru saja dibentuk kelompok Bahasa Arab. Dan ternyata anggotanya masih banyak yang belum punya kamus. Jadi saya pikir cicilan kamus akan menjadi sebentuk dukungan saya untuk mereka.
Kemampuan keuangan saya saat itu terbatas. Saya hanya menyediakan 30 eksemplar kamus untuk diangsurkan. Saya memesan 30 eksemplar kamus itu ke sebuah toko kitab di Surabaya dan lalu dikirimkan ke alamat saya di Guluk-Guluk, Sumenep.
Saya mendapatkan potongan harga sekitar 30%. Harga asli Rp 161.000,- dipotong menjadi Rp 111.000,-. Biaya pengiriman Rp 100.000,-. Kepada mereka yang berminat mencicil, biayanya dibulatkan Rp 115.000,- (jika harga kamus dan biaya pengiriman dijumlahkan dan dibagi 30, hasilnya sebenarnya Rp 114.333,-). Pengangsurannya saya tawarkan Rp 5.000,- setiap minggu, sehingga nanti cicilan akan lunas dalam waktu 23 minggu.
Setelah saya terima, dalam waktu singkat, ketiga puluh kamus tersebut langsung habis. Maklum, selain karena bisa mencicil, ternyata harga sebesar Rp 115.000,- itu tergolong murah, karena di toko buku terdekat kamus yang sama harganya lebih mahal sepuluh ribu rupiah. Sebenarnya, masih banyak yang berminat untuk ikut program cicilan kamus ini. Bahkan, ada yang menanyakan kamus yang lain, yakni Kamus al-Munawwir Indonesia-Arab. Sayangnya, keuangan saya terbatas untuk menyediakan kamus tersebut dalam jumlah yang lebih besar.
Jadi, sementara ini, saya minta mereka bersabar dulu.
Saya sendiri sebenarnya ingin sekali agar program semacam ini bisa diperluas. Saya bahkan berpikir, andai sekolah tempat saya mengajar punya dana yang cukup, program cicilan kamus ini bisa dilaksanakan dengan skala yang lebih luas. Termasuk dengan menyediakan kamus yang beragam, mulai dari kamus Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, atau bahkan mungkin kamus yang lainnya. Malahan, andai sekolah punya dana melimpah, khusus untuk murid sekolah membantu meringankan harga dengan subsidi sekadarnya.
Bayangkan, jika sejak setingkat SMA sederajat para murid sudah ditanamkan kecintaan pada kamus dan bahasa. Saya pikir, kemungkinan untuk membentuk semangat pembelajar dalam diri mereka akan lebih terbuka.
Baru Langkah Awal
Namun begitu, ada hal penting yang harus digarisbawahi di sini. Penyediaan kamus hanya satu langkah. Ini baru langkah awal. Program semacam cicilan kamus ini mustinya tak boleh dianggap cukup. Yang lebih penting adalah memadukan program semacam ini dengan kegiatan kreatif lainnya, seperti pengalaman saya ketika mendampingi Klub Penerjemah di Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah.
Tahun 2008 lalu, saat saya masih aktif mendampingi Klub Penerjemah yang anggotanya kebanyakan murid setingkat SMA itu, saya mewajibkan anggota klub yang berjumlah sekitar 20 orang itu untuk membeli Learner’s Dictionary English-Indonesian 6.000 Entries yang disusun oleh Drs. R. Hardjono dan A. Widyamartaja (Kanisius, cetakan pertama tahun 1974). Kamusnya kecil, tipis, dan murah—kalau tak salah, harganya di bawah sepuluh ribu rupiah. Saya membantu membelikan kamus bagus yang sudah cetak ulang lebih 30 kali ini di Yogyakarta. Kamus itu digunakan untuk kegiatan menerjemah dan berdiskusi yang dilakukan secara rutin tiap pekan.
Jadi, tantangan selanjutnya, jika sudah banyak murid atau santri yang punya kamus, yang perlu dilakukan adalah mendorong agar mereka dapat mendayagunakan kamus-kamus itu sebaik mungkin. Di antara yang terpikir sejauh ini adalah membentuk semacam klub penerjemah yang sudah pernah saya lakukan namun hanya bertahan tak sampai 2 tahun itu.
Kegiatan-kegiatan semacam itu diharapkan akan dapat menularkan semangat dan kecintaan yang lebih luas pada pengetahuan dan ilmu. Bermula dari kecintaan pada kamus, berikutnya yang diharapkan adalah semakin meningkatnya mutu kehidupan dan peradaban yang terbentuk melalui bimbingan pengetahuan. Saya pikir ini harapan yang masuk akal dan sangat mungkin dikerjakan.
Read More..
Jumat, 20 April 2012
Menyelamatkan Otak Kanan
Sejak tahun pelajaran 2011/2012 ini, saya membuat sedikit perubahan dalam cara mengajar saya di kelas. Pertama, saya kerap memutar lagu-lagu instrumental di ruang kelas. Lagu-lagu itu saya putar dari telepon genggam yang saya bawa dengan bantuan pengeras suara portable. Kadang-kadang, lagu-lagu itu diputar dari laptop yang saya gunakan di ruang kelas.
Lagu instrumental yang saya putar bermacam-macam. Kadang musik klasik, seperti Beethoven, Bach, Mozart, atau Vivaldi. Kadang Kenny G, Richard Clayderman, Spyro Gyra, Secret Garden, atau favorit saya, Joe Satriani.
Hal lainnya baru dimulai semester ini. Sejak awal tahun 2012 ini, jika memungkinkan, saya menulis di papan dengan menggunakan spidol warna-warni: hitam, biru, merah, dan hijau. Dari sekolah tempat saya mengajar, biasanya hanya disediakan spidol warna hitam. Spidol warna-warni saya beli sendiri. Spidol warna-warni ini tak cukup mudah saya dapatkan. Spidol boardmarker biru dan merah tak saya temukan di Guluk-Guluk. Saya belinya di sebuah toko di Sumenep. Yang terakhir, warna hijau, baru saya dapatkan beberapa waktu yang lalu dengan memesan ke Yogyakarta.
Ada apa dengan musik instrumental dan spidol warna-warni? Belum lama ini beberapa mahasiswa di kelas Logika di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) bertanya kepada saya perihal musik dan spidol warna-warni itu. Secara spontan ketika itu saya menjawab: “Saya menggunakannya untuk menyelamatkan otak kanan.”
Menyelamatkan otak kanan? Aha, rupanya pertanyaan mahasiswa tersebut telah membantu memancing otak saya untuk menemukan frasa yang kemudian menjadi judul tulisan ini—ya, pertanyaan itu berperan besar dalam melahirkan tulisan ini. Sebelumnya, saya tak membayangkan formula kata-kata tersebut sebagai jawaban atau latar belakang dari musik instrumental dan spidol warna-warni itu. Namun begitu, memang demikianlah adanya: saya pikir musik instrumental dan spidol warna-warni itu akan membantu murid di kelas untuk menyelamatkan otak kanan.
Saya menjelaskan kepada si penanya apa yang saya maksudkan dengan menyelamatkan otak kanan. Menurut saya, sistem pendidikan dan cara belajar kebanyakan kita selama ini cenderung terlalu terpaku pada potensi otak kiri saja. Karena itu, saya mencoba untuk mengimbangi penguasaan otak kiri di dunia pendidikan itu dengan musik instrumental dan spidol warna-warni.
Sebagaimana jamak diketahui, otak kiri berurusan dengan logika, angka, urutan, pola pikir linear, dan semacamnya. Sedangkan otak kanan berkaitan dengan imajinasi, kesadaran holistik, kesadaran seni, warna, dan sebagainya.
Sekarang, coba perhatikan hal-hal yang berkaitan dengan dunia pendidikan kita di sekolah. Buku pelajaran di sekolah nyaris semuanya disajikan dengan kering dan kaku. Cara siswa mencatat pun dari dulu masih tak jauh berbeda: kalimat-kalimat deskripsi atau eksposisi, dan semacamnya.
Penyajian bahan pembelajaran dan cara pencatatan yang kering dan kaku selama ini pada tingkat tertentu tampaknya telah cukup berhasil memenjarakan otak kanan. Akibatnya, sisi kreatif peserta didik kurang menemukan tempat untuk berkembang.
Penjara otak kiri yang bercorak positivistik tergambar melalui sebuah permainan yang sebenarnya cukup populer yang beberapa kali telah saya ujicobakan di kelas: sembilan titik yang membentuk kubus terdiri dari tiga baris mendatar dan menurun, lalu murid diminta untuk membuat empat garis lurus tak terputus dan harus bisa mengenai kesembilan titik tersebut. Menghadapi permainan semacam ini, pikiran murid-murid sering kali terpenjara dengan titik terluar yang membentuk kubus tersebut. Akibatnya, mereka kesulitan untuk memecahkan permainan ini.
Potensi otak kanan untuk berkembang bukan hanya dihadang oleh bahan dan penyajian kegiatan pembelajaran maupun cara pencatatan. Dalam kehidupan masyarakat kita yang lebih luas, penghargaan terhadap otak kiri cenderung lebih besar. Sedang penghargaan terhadap prestasi otak kanan masih kurang. Seorang kiai muda dan guru di Gapura yang aktif sekali menulis di blog, A. Dardiri Zubairi, pernah mencatat kurangnya penghargaan pemerintah daerah Sumenep atas prestasi di bidang sastra dibandingkan dengan bidang lain yang mengandalkan otak kiri—dan tampaknya ini bisa jadi bukan hanya terjadi di Sumenep saja. Sudah sering terjadi, murid yang berprestasi di bidang matematika atau bidang sains lainnya diberi apresiasi yang begitu meriah. Ini tak berlaku bagi murid yang punya kelebihan di bidang yang berbasis otak kanan, seperti bidang sastra.
Apa yang bisa dilakukan menghadapi ancaman terus terbatasnya ruang otak kanan di dunia pendidikan kita? Banyak hal yang bisa dilakukan. Bisa bersifat mendasar, sistematis, maupun massal. Sementara ini, di ruang kelas saya melakukannya dengan musik instrumental dan spidol warna-warni. Musik instrumental dan spidol warna-warni itu saya pikir adalah salah satu media sederhana yang tampaknya dapat merangsang otak kanan untuk berbiak dan memperkuat jejaringnya.
Kepada mahasiswa mata kuliah Logika saya katakan bahwa pelajaran Logika berpihak pada otak kiri. Karena itu, mengimbangi dominasi otak kiri dengan musik instrumental dan spidol warna-warni mungkin merupakan langkah sederhana yang patut untuk dicoba dilakukan.
Selebihnya, saya sepenuhnya sadar bahwa masih perlu dilakukan upaya-upaya lain yang lebih luas, mendasar, dan berkelanjutan untuk memberi ruang yang lebih lapang bagi otak kanan ini—ruang bagi kreativitas dan imajinasi. Musik instrumental dan spidol warna-warni mungkin hanya semacam balatentara yang pasti membutuhkan panglima yang memberi arahan dan taktik strategis.
Namun, kalaupun belum ada panglima, musik dan spidol warna-warni harus terus berjalan. Karena jika kita terus membiarkan otak kanan terpenjara maka sebenarnya, meminjam kata-kata Tony Buzan, kita telah melawan cara kerja alamiah otak. Jika demikian adanya, kita tidak saja akan mengalami hambatan yang berkepanjangan dalam belajar, bahkan mungkin saja sisi dan nilai kemanusiaan kita tak akan melangkah sempurna.
Read More..
Label: Education, School Corner
Kamis, 29 Maret 2012
Perincian Listrik Padam 130 Kali
![]() |
| Tanggapan PLN Area Madura di Kompas 16 Maret 2012 |
Surat pembaca saya yang dimuat Kompas 1 Maret 2012 yang memaparkan hasil pencatatan saya tentang listrik padam di Guluk-Guluk, Sumenep, dalam waktu setahun, yakni mulai 12 Januari 2011 hingga 12 Januari 2012, sebanyak 130 kali ditanggapi PLN Area Madura pada Kompas 16 Maret 2012. Menurut PLN, listrik padam pada periode tersebut sebanyak 58 kali, dengan perincian 25 kali akibat kegiatan pemeliharaan terencana (preventif) dan 33 kali akibat gangguan (dengan perincian 24 kali padam di bawah lima menit dan 9 kali padam di atas lima menit).
Saya merasa perlu menanggapi PLN Area Madura karena hasil pencatatan saya ternyata berbeda cukup jauh dengan rekaman PLN. Berikut catatan saya.
Pertama, saya ingin menegaskan bahwa pengertian listrik padam dalam catatan saya adalah jika ada pemadaman dari PLN—entah karena apa—berapa pun durasinya. Padam tiga detik saya catat sebagai padam satu kali. Padam tiga jam juga saya catat satu kali. Kenyataannya, listrik padam kadang terjadi beberapa detik dengan frekuensi dua kali atau lebih dalam waktu yang relatif singkat—satu hingga dua jam, misalnya.
Kedua, agar lebih jelas, PLN, pembaca Kompas, dan juga pembaca blog saya yang budiman dapat memeriksa catatan saya tentang perincian listrik padam 130 kali tersebut. Saya cantumkan di bawah ini. Saya salin langsung dari akun twitter saya agar nuansa dan konteksnya bisa tertangkap. Mohon dimaklumi bahwa perincian catatan saya tidak terlalu detail. Bahkan kadang tak menyebutkan tanggal secara spesifik. Akan tetapi, mulai Maret 2012, saya berkomitmen untuk lebih detail mencatat listrik padam di wilayah saya.
Ketiga, saya ingin menambahkan catatan untuk PLN. Salah seorang pembaca blog saya menanggapi tulisan saya tentang listrik padam 130 kali tersebut. Dia menambahkan bahwa di Guluk-Guluk, Sumenep, yang menjadi masalah bukan hanya listrik padam, tetapi juga voltage yang kadang tak sesuai dengan yang dijanjikan, yakni 220 volt, sehingga beberapa perangkat elektronik sangat terganggu kinerjanya.
Berikut ini perincian listrik padam 130 kali:
12 Januari 2011
bbrp hari lalu PLN pasang iklan di koran, katanya di wilayah pamekasan (madura) tahun 2010 #listrikpadam 25kali /pelanggan/tahun.
14 Januari 2011
rabu 12/1 kemarin, di tempat saya (guluk2, sumenep, madura) #listrikpadam lebih 12 jam seharian.
hari ini jum'at 14/1 di tempat saya #listrikpadam barusan sekitar 30 menit.
15 Januari 2011
sabtu 15/1 subuh #listrikpadam sekitar 3 menit. apa kasus spt ini dihitung juga Pak Dahlan Iskan?
16 Januari 2011
ahad 16/1, pukul 14.35 di guluk2 sumenep #listrikpadam sekitar 3 menit. apa seperti ini juga dihitung Pak Dahlan Iskan ya wahai @infoPLN ?
24 Januari 2011
Ahad 23/1 sekitar pukul 12.54 di gulukguluk #listrikpadam sekitar 1-2 menit. kok sering begini, Pak Dahlan? @infoPLN bagaimana menurutmu?
25 Januari 2011
Selasa 25/1 pkl 12.08, di guluk2 sumenep #listrikpadam sekitar satu jam.
5 Februari 2011
Pak Dahlan Iskan, #listrikpadam jgn sering2 di sktr guluk2 sumenep. td pkl sktr 17.15 pdam. Rabu 2/2 jg. UPS sy sdh mati. kasian kmpternya.
7 Februari 2011
#listrikpadam #listrikpadam.. lagi2 Pak Dahlan Iskan..barusan pas saya di kelas jam 12an #listrikpadam beberapa menit..
26 Februari 2011
Pak Dahlan, beberapa pekan terakhir terjadi #listrikpadam di sini tapi saya tak sempat mencatatnya. sepertinya ada sekitar 3-4 kali.
1 Maret 2011
2 hari lalu #listrikpadam di sini, guluk2 sumenep. kmrn jg. tadi jg. tiap hari. sangat mengganggu, meski msg2 ga smp sejam.. gmn Pak Dahlan?
2 Maret 2011
jelang tengah malam hingga pagi agak siang tadi di guluk2 sumenep #listrikpadam lagi. apa krn angin dan hujan, Pak Dahlan?
4 Maret 2011
kemarin siang sekitar pukul 11 dan tadi malam sekitar pukul 22 #listrikpadam di guluk2. gimana targetmu, Pak Dahlan?
6 Maret 2011
di guluk2, barusan #listrikpadam beberapa menit pas setelah MU dikalahkan Liverpool 3-1..
11 Maret 2011
semalam #listrikpadam berkali2 sejak pukul 10 di wilayah guluk2 dan sekitarnya..
14 Maret 2011
tadi malam beberapa kali #listrikpadam di guluk2. barusan jg begitu. ini sdh yg kesekian kali di 2011. gmn Pak Dahlan?
23 Maret 2011
#listrikpadam betul2 nyebbelin! tadi sore. kemarin juga. kemarinnya lagi. untung UPS sdh jalan.
24 Maret 2011
jelang maghrib tadi #listrikpadam beberapa detik. untung UPS sudah bekerja dg baik.. sy mencatat #listrikpadam di daerah saya, sejak 12/1/11 sdh 27x. sy catat krn tak percaya pd iklan PLN bhw pamekasan th 2010 padam 25x.
26 Maret 2011
2 hari lalu #listrikpadam. tadi juga. msh perlukah earth hour?
29 Maret 2011
Laporan utk @infoPLN : untuk yg ke-28 sejak 12/1/2011, di guluk2 kemarin sore #listrikpadam beberapa menit.
9 April 2011
tadi malam dan barusan #listrikpadam di guluk2. berarti sejak 12/1/2011, ini yg ke-31 kali. laporan selesai... @infoPLN
10 April 2011
tadi sore #listrikpadam di guluk2, sumenep. ini yg ke-32 sejak 12/1/2011. ada yg bisa ngasi tau ke Dahlan Iskan? @infoPLN
12 April 2011
kemarin, di guluk2 sumenep #listrikpadam. trus tadi jg #listrikpadam, utk yg ke-34 sejak 12/1/2011. gimana tanggapan @infoPLN ?
13 April 2011
tadi siang, di guluk2 sumenep #listrikpadam utk yg ke-35 sejak 12/1/2011
14 April 2011
tadi siang, di guluk2 sumenep #listrikpadam utk yang ke-36 kalinya sejak 12/1/2011.. gimana Pak Dahlan Iskan? @infoPLN
16 April 2011
td mlm #listrikpadam 2x di guluk2 sumenep. td 1x. berarti td yg ke-39 sjk 12/1/2011. sptnya perlu ditulis di suratpembaca kompas nih.
17 April 2011
terang bulan di guluk2 sumenep, brsn #listrikpadam utk yg ke-40 kali sejak 12/1/2011..mgkn dahlan iskan sdg ingin menikmati bulan ya..
26 April 2011
hari ini #listrikpadam 2x di guluk2 sumenep. berarti sudah 42 kali #listrikpadam sejak 12/1/2011.
27 April 2011
hr ini #listrikpadam 2x d guluk2 sumenep. berarti sdh 44x #listrikpadam sjk 12/1/2011. apa Dahlan Iskan mau ganti alat2 elektronik yg rusak.
2 Mei 2011
hari ini #listrikpadam 2x di guluk2 sumenep. berarti sejak 12/1/2011 sdh padam 46 kali.. valentino rossi dong..!
5 Mei 2011
semalam raungan UPS membangunkanku gara2 #listrikpadam utk yg ke-47 kali sjk 12/1/2011 di guluk2 sumenep..tp aku tak bermimpi dahlan iskan..
15 Mei 2011
hatrick #listrikpadam: jum'at(an) siang, sabtu siang, smlm jam 9an. brarti sdh 50 kali #listrikpadam di guluk2 sumenep sjk 12/1/2011.
22 Mei 2011
bbrp kali #listrikpadam di guluk2 sumenep tdk diinfokan. ada 4x, shg total sjk 12/1/2011 #listrikpadam berjumlah 54 kali.
29 Mei 2011
Sabtu siang kmrn, trus pas final champion smlm, dan td siang, #listrikpadam di guluk2 sumenep. brarti sdh 57 kali padam sjk 12/1/2011/
30 Mei 2011
semalam #listrikpadam yg ke-58 sejak 12/1/2011. UPS menjerit2 membangunkan tidur saya.. apa maksudmu membangunkan saya, Pak Dahlan Iskan?
2 Juni 2011
kemarin siang, ditambah barusan, total #listrikpadam di guluk2 sumenep sdh 60 kali sejak 12/1/2011. apa kau baca wahai Pak Dahlan Iskan?
9 Juni 2011
jum'at pagi-siang &td malam #listrikpadam di guluk2 sumenep. brarti sdh 62 kali sjk 12/1/2011. sabtu-slasa kmrn ga trpantau krn sy tdk d rmh
13 Juni 2011
smlm saya tak mimpi Dahlan Iskan. UPS menjerit2 saat #listrikpadam untuk yg ke-64 kalinya di wilayah guluk2 sumenep sejak 12/1/2011.
17 Juni 2011
skdr mncatat: tgl 16/6 kmrn, #listrikpadam 4x di guluk2 sumenep. jd sjk 12/1/2011, #listrikpadam saya hitung sdh 68 kali!
dlm wkt sktr 2 jam brsn, #listrikpadam 2x di guluk2 sumenep. jd total 70 kali sejak 12/1/2011. berapa korban barang elektronik yg rusak?
19 Juni 2011
hari ini #listrikpadam 2x di guluk2 sumenep. berarti sdh 72 kali #listrikpadam sejak 12/1/2011.
21 Juni 2011
kemarin #listrikpadam sekali, jadi sejak 12/1/2011 sdh 73 kali #listrikpadam di guluk2 sumenep.
22 Juni 2011
tadi malam dan barusan #listrikpadam di guluk2 sumenep. artinya sdh padam 75 kali sejak 12/1/2011.
27 Juni 2011
ya, betul. td mlm UPS menjerit2 2x. jadi sjk 12/1/2011 #listrikpadam sdh 77 kali. RT @pangapora Apakah betul, kabarnya semalam lampu mati 2x
30 Juni 2011
semalam #listrikpadam bbrp kali sbntr2, shg total sjk 12/1/2011 #listrikpadam di guluk2 sumenep sdh 78 kali.
3 Juli 2011
lewat tengah malam, #listrikpadam membuat UPS di kamar menjerit2, membangunkan tidur saya. Ini adalah #listrikpadam ke-79 sejak 12/1/2011.
5 Agustus 2011
satu bulan tak mencatat #listrikpadam. mmg agk jarang. tp plg tidak ada 7x #listrikpadam. jd sjk 12/1/11, #listrikpadam di guluk2 sdh 86kali.
16 Agustus 2011
semalam #listrikpadam. sepekan terakhir ini ada sekitar 4x. jd sejak 12/1/2011 di guluk2 sumenep #listrikpadam sdh berjumlah 90 kali.
17 Agustus 2011
Selamat! Di hari kemerdekaan, Dahlan Iskan telah menghadiahkan #listrikpadam utk yang ke-91 kali sejak 12/1/2011 bagi warga Guluk2 Sumenep.
20 Agustus 2011
tadi siang dan tadi sore #listrikpadam di guluk2 sumenep. jadi sejak 12/1/2011 #listrikpadam sdh 93 kali.
21 Agustus 2011
tadi sore #listrikpadam di guluk2 sumenep. jadi sejak 12/1/2011 #listrikpadam sdh 94 kali.
25 Agustus 2011
kemarin malam #listrikpadam di guluk2 sumenep ketika jam tarawih. itu yg ke-95 sejak 12/1/2011.
29 Agustus 2011
OOT: 2 malam yg lalu, #listrikpadam di guluk2 sumenep. ini yg ke-96 sjk 12/1/2011..
24 September 2011
cukup lama ga ada #listrikpadam di guluk2 sumenep. sore ini muncul kembali. ini #listrikpadam yg ke-97 sjk 12/1/2011..
26 September 2011
td sore #listrikpadam di guluk2 sumenep. ini adalah yg ke-98 sjk 12/1/2011..
11 November 2011
kalau mau dihitung kasar, ada lbh 10x #listrikpadam sjk terakhir saya mencatat 26 sept lalu. di antaranya yg 4 hari berturut2 itu..
jd kl mau dirangkum, sjk 12/1/2011, #listrikpadam di area guluk2 sumenep sdh 108 kali. saya pikir ini minimal. krn kdg saya lupa tak catat.
14 November 2011
kmrn, #listrikpadam 4x di guluk2 sumenep. jd sjk 12/1/2011 #listrikpadam 112 kali.
18 November 2011
tadi jelang sore #listrikpadam di guluk2 sumenep. rabu kemarin jg. jd sjk 12/1/2011 #listrikpadam di guluk2 berjumlah 114 kali.
4 Desember 2011
Rabu kmrn #listrikpadam di guluk2 sumenep. berarti #listrikpadam sdh 116 kali sjk 12/1/2011.
6 Desember 2011
tadi malam sktr isya #listrikpadam bbrp detik di guluk2 sumenep. ini #listrikpadam yg ke-117 sjk 12/1/2011.
9 Desember 2011
Hari Kamis kemarin #listrikpadam 2x di guluk2 sumenep. jd total sjk 12/1/2011 #listrikpadam 119x...
21 Desember 2011
kemarin siang #listrikpadam dua kali di guluk2 sumenep. berarti sjk 12/1/2011 sdh 122 kali #listrikpadam. adakah HOPE terang utk 2012?
22 Desember 2011
antologi #listrikpadam guluk2 sumenep: td malam tambah 2 kali. jd sjk 12/1/2011 sdh berjumlah 124 kali.
26 Desember 2011
hari ini ada #listrikpadam di guluk2 sumenep. dlm perhitungan saya, ini #listrikpadam yg ke-125 sjk 12/1/2011.
1 Januari 2012
berarti ini #listrikpadam yg ke-126 sjk 12/1/2011 (pdhl setahun!) > RT @ahmadamal: matilampu setahun, dr 2011 sampai 2012 msh blm nyala jg..
4 Januari 2011
td malam #listrikpadam di guluk2 sumenep. sjk 12/1/2011 (hampir pas setahun),berarti ini #listrikpadam yg ke-127 utk wilayah guluk2 sumenep.
pagi ini #listrikpadam lg di guluk2 sumenep. ini yg ke-128 sjk 12/1/2011.
10 Januari 2011
mlm ahad kmrn & td mlm #listrikpadam di guluk2 sumenep. berarti, sjk 12/1/2011, sdh 130 kali. ayo, msh ada hr ini &bsk jk mau padam lg.
1 Maret 2012
saya mencatat #listrikpadam utk wilayah guluk2 sumenep mulai 12/1/2011 hingga setahun kemudian. hasilnya #listrikpadam 130 kali.
ironisnya, barusan jam 12-an #listrikpadam sktr 90 menit. mgkn org PLN blm baca Kompas.
Tulisan terkait:
>> Listrik Padam 130 Kali Setahun
>> Jam Bumi dan Keadilan Energi Read More..
Rabu, 28 Maret 2012
Revolusi Paradigma Guru
Penulis: Munif Chatib
Penerbit: Kaifa, Bandung
Cetakan: Pertama, Mei 2011
Tebal: xx + 256 halaman
Kualitas pendidikan di Indonesia hingga kini masih terus dipertanyakan. Amanat kemerdekaan untuk memajukan bangsa dengan pendidikan tampak masih penuh masalah akut. Banyak pihak percaya bahwa guru adalah kunci utama untuk mengurai masalah pendidikan dan kemajuan bangsa.
Buku ini menawarkan revolusi paradigmatik agar guru dapat lebih berperan dalam meningkatkan mutu pendidikan sehingga pada akhirnya dapat ikut serta memajukan mutu kehidupan masyarakat. Munif Chatib, penulisnya, menyebut guru sejati yang diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi masalah kebangsaan ini dengan istilah “gurunya manusia”.
Munif menyebut lima syarat mendasar untuk menjadi gurunya manusia, yaitu bersedia untuk selalu belajar, membuat rencana pembelajaran sebelum mengajar, bersedia diobservasi, selalu tertantang untuk meningkatkan kreativitas, dan memiliki karakter yang baik.
Oleh Munif, gurunya manusia dibedakan dengan guru robot dan guru materialistis. Guru robot bekerja secara mekanis, sedang guru materialistis mengajar dengan logika dagang. Gurunya manusia bekerja dengan landasan ketulusan untuk menanamkan ilmu dan pengetahuan kepada anak didik sehingga ia terus berusaha untuk maju, berkembang, terus kreatif, dan tak bosan mengembangkan kompetensinya.
Sejauh ini, jika kita melihat di lapangan, dorongan agar guru senantiasa terus mengembangkan diri sebenarnya telah dilakukan oleh pemerintah, misalnya melalui kebijakan sertifikasi guru. Namun demikian, kenyataan di lapangan tidaklah seindah yang dibayangkan. Beberapa pihak menilai bahwa semangat pemberdayaan yang diusung sertifikasi gagal. Indikasinya, di beberapa daerah ditemukan kecurangan dalam memenuhi portofolio sertifikasi. Bahkan, ada kecenderungan bahwa sertifikasi justru memicu lahirnya model guru yang oleh Munif disebut guru materialistis.
Karena itu, penting sekali memberikan sejumlah catatan yang bersifat prinsipil dalam rangka pengembangan mutu guru agar terhindar dari ekses buruk yang mungkin ditimbulkannya. Atau mungkin juga dengan mengajukan konsep pengembangan guru yang lain, seperti yang dicoba dilakukan Munif melalui buku ini.
Munif percaya bahwa pada dasarnya guru itu adalah manusia pembelajar. Ini adalah kondisi ideal guru yang dituntut jika guru diharapkan dapat memainkan peran penting dalam perubahan kualitas hidup masyarakat. Munif menyatakan bahwa tak ada guru yang tidak mampu mengajar, asalkan ia mau terus belajar dan mengasah kreativitas dan kompetensinya.
Dalam buku ini, Munif, yang sebenarnya juga adalah seorang praktisi dan konsultan pendidikan, mengemukakan bahwa terkadang semangat guru untuk berkembang terhambat oleh kebijakan sekolah atau lembaga yang menaunginya—yakni yayasan dalam kasus sekolah swasta. Karena itu Munif memberi petunjuk bahwa sekolah yang baik adalah sekolah yang banyak memberi kesempatan dan membuat program pengembangan kualitas guru secara terencana dan berkala.
Pada titik ini, Munif sebenarnya tengah mengemukakan kritik kelembagaan atas manajemen sekolah yang tak berhasil menumbuhkan iklim yang mendukung bagi pengembangan kreativitas dan kompetensi guru. Dengan demikian, menurut Munif, manajemen sekolah memiliki peran yang sangat penting untuk menjawab masalah ini. Di buku ini Munif memberi sejumlah contoh praktis tentang cara merancang berbagai kegiatan pengembangan mutu guru di sekolah.
Namun kritik kelembagaan terkait dengan manajemen sekolah yang dikemukakan Munif tampak tak bergerak lebih jauh, misalnya dengan mencoba membuka kemungkinan kritik atas kebijakan pemerintah di bidang pendidikan, baik pemerintah lokal, regional, maupun nasional. Padahal, dukungan dari pemegang kebijakan juga sangat menentukan. Misalnya, masih adanya iklim korupsi dan feodal di daerah tertentu yang berimbas pada dunia pendidikan, termasuk juga guru.
Selain konteks kelembagaan, Munif dalam buku ini juga membahas panjang lebar paradigma seorang guru ideal dalam berhadapan dengan anak didik. Gurunya manusia adalah guru yang berusaha memanusiakan anak didiknya. Bagaimana caranya? Yakni dengan berpegang pada cara pandang kecerdasan majemuk (multiple intelligences) sehingga terus berupaya menggali kemampuan dan potensi siswa. Anak didik diposisikan sebagai sosok yang istimewa dan didekati dengan hati, sehingga anak didik dapat menyerahkan hak untuk mengajar kepada guru.
Munif mencatat bahwa cukup banyak guru yang tidak sadar bahwa sejak awal masuk kelas dia sebenarnya tidak diterima oleh anak didiknya. Karena itu, dalam satu bab khusus Munif membahas cara merebut ketertarikan dan minat belajar siswa di menit-menit pertama. Dalam ilmu pendidikan ini disebut dengan apersepsi. Langkah ini dimaksudkan agar tumbuh motivasi dari dalam diri siswa untuk menyimak topik pelajaran yang akan disampaikan oleh guru.
Bagian yang paling banyak dibahas Munif dalam buku ini adalah kiat dan panduan praktis untuk menjadi guru yang melakukan aktivitas belajar-mengajar di kelas atas dasar pendekatan kecerdasan majemuk. Dalam pendekatan ini, anak didik menjadi pusat proses pembelajaran sehingga guru musti mengupayakan strategi pembelajaran yang kreatif sesuai dengan beragam potensi dan gaya belajar siswa. Pada bagian ini, Munif memaparkan banyak contoh strategi belajar-mengajar dengan kecerdasan majemuk. Ada lima belas strategi yang dijelaskan Munif lengkap dengan contohnya, seperti strategi diskusi, action research, analogi, sosiodrama, environment learning, dan sebagainya.
Bagian terakhir yang dijelaskan Munif adalah cara guru menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (lesson plan) yang populer disingkat RPP. Munif percaya bahwa RPP sangat mendukung keberhasilan proses pembelajaran di kelas, karena selain untuk mematangkan persiapan, RPP juga dapat menjadi media refleksi dan evaluasi pembelajaran guru di kelas.
Buku ini sangat penting dibaca oleh para guru serta pengelola dan pemegang kebijakan pendidikan. Buku ini adalah sebuah upaya jawaban serta tawaran jalan keluar atas pihak-pihak yang kecewa dengan mutu guru. Memang, revolusi paradigmatik yang ditawarkan Munif dalam buku ini lebih banyak menyorot dan menyelami aspek teknis pedagogis, bukan menyangkut visi besar revolusioner ala Paulo Freire atau Ivan Illich yang berlandaskan kritik atas kapitalisme dan komersialisme pendidikan.
Namun demikian, visi dan paradigma guru yang hendak dibangun Munif dalam buku ini bisa dibilang cukup sejalan dengan kedua filsuf pendidikan tersebut karena sama-sama mengasumsikan visi kemanusiaan yang mendalam. Mereka bersepakat dalam menempatkan guru sebagai aktor penting pembangun peradaban dan sama-sama memperlakukan anak didik sebagai sosok unik yang perlu didekati dengan hati. Tapi dalam hal lain Munif tampak kurang menyelami aspek-aspek struktural menyangkut kehidupan sosial, budaya dan ideologi secara lebih kritis.
Meski begitu, kita bisa menemukan kelebihan buku ini yang cukup baik, yakni arahan teknis yang begitu banyak digali untuk membumikan paradigma guru tersebut yang sebenarnya banyak dipetik dari pengalaman Munif selama bertahun-bertahun bergelut di dunia pendidikan.
Sebagai seorang guru, melalui buku ini Munif telah mencoba menginspirasi guru-guru yang lain dan masyarakat umum untuk lebih menguatkan peran pendidikan dan meningkatkan mutu guru pada khususnya sehingga bisa mengantar Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat.
Tulisan ini dimuat di Majalah Suluh MHSA, edisi X, Maret 2012. Read More..
Rabu, 21 Maret 2012
Lapis-Lapis Diri
Dalam kehidupan sehari-hari, saat menjalin hubungan dengan orang lain, seseorang akan hadir seumpama lapisan-lapisan yang membentuk struktur tanah. Ketika sedang berurusan dengan si A, saya hadir sebagai seorang guru Bahasa dan Sastra Indonesia. Bila berbincang dengan si B, saya tampil sebagai seorang mitra belajar dalam hal kepenulisan. Manakala berbicara dengan si C, saya hadir sebagai semacam catatan harian yang siap mendengar dan merekam lika-liku kehidupannya. Bersama si D, saya adalah gumpal kegalauan dari berbagai persoalan kemasyarakatan dan tantangan masa depan. Saat ada bersama si E, saya seperti petugas perpustakaan dunia yang sedang mencari koleksi-koleksi buku langka dan berharga. Berjumpa dengan si F, saya adalah peminat filsafat yang ingin menyelam ke dasar lautan dan mencari makna di tengah ketakmasukakalan dunia.
Sosok A, B, C, D, E, F, dan seterusnya, hingga tak berhingga, tampaknya dapat disebut sebagai para peubah yang membentuk lapis-lapis diri pada diri saya. Mereka berkenalan, hadir, dan hidup bersama saya, dengan kadar dan geloranya masing-masing, sambil mengembangbiakkan wajah-wajah saya yang beraneka rupa. Masing-masing tampak seperti memberi kartu pengenal yang berbeda-beda untuk saya, lalu kadang dipampangkannya di halaman atau di simpang jalan—atau sekadar mereka simpan.
Lapis-lapis diri ini juga tampak ibarat lorong yang menghubungkan saya dengan orang lain. Semakin dekat hubungan saya dengan seseorang, semakin banyak lorong yang menghubungkan saya dengan dirinya. Dalam sebuah jalinan profesional, misalnya, lazimnya seseorang hanya akan berhubungan dengan saya di satu lapis-diri saja. Kecil sekali kemungkinannya bagi dia untuk memasuki saya lewat lorong yang lainnya. Hanya di satu lorong itulah dia mendekati dan memahami saya.
Sebenarnya, pola jalinan-satu-lorong ini merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan sehari-hari, karena saya memang tak akan mungkin selalu menjangkau orang lain dari lorong yang banyak. Urusan kehidupan terlalu banyak cabangnya sehingga saya pikir akan mubazir juga bila saya harus berbagi semuanya pada sebanyak-banyak orang.
Hanya saja, sulit dibantah bahwa pola jalinan-satu-lorong ini tampak semakin mengemuka di zaman ini, saat kehidupan semakin tersekat ke dalam lorong-lorong khusus dan lapis-lapis diri semakin terkotak dalam definisi yang sempit dan khusus, seperti apa yang kemudian disebut dengan profesi. Akibatnya, cara orang berhubungan dengan orang lain semakin terbatas ke dalam pola jalinan-satu-lorong ini.
Dalam kewajaran pola jalinan-satu-lorong ini, atau dengan lorong yang relatif tidak banyak, di antara lapis-lapis diri yang mendefinisikan seseorang, saya lalu berpikir tentang bagaimana masing-masing lapis diri itu menjadi landasan untuk menilai pribadi seseorang. Dalam pergaulan sehari-hari, orang lain memberi penilaian pada saya mungkin hanya di satu lapis diri saya saja. Atau mungkin dua. Yakni di lorong tempat dia lalu-lalang menjumpai saya. Atau dari pintu masuk yang baru saja dia lintasi. Karena itu, sangat mungkin saya akan dinilai dengan mutu pribadi yang sangat berbeda oleh dua orang yang bertamu pada saya melalui dua lorong, pintu, atau lorong-lorong yang berbeda.
Apakah ini semacam subjektivisme atau relativisme dalam memberikan penilaian? Saya kurang tertarik untuk melihat soal ini dari sudut pandang yang cenderung mengarah pada pengelompokan teoretis semacam ini. Pada soal ini, saya tampaknya lebih tertarik untuk melihatnya dalam kerangka yang lebih praktis dan mungkin sederhana. Saya ingin menempatkannya sebagai bagian dari keterbatasan saya untuk bisa memberi penilaian yang utuh pada orang lain, sehingga tampaknya sulit bagi saya untuk mencerna lapis-lapis diri orang lain sebanyak mungkin.
Saya bukanlah Raqib dan ‘Atid yang bekerja sepanjang waktu mencatat rekam jejak semua perbuatan seseorang. Saya hanyalah seorang guru yang bersama si A tiga atau empat jam pelajaran setiap pekan selama satu, dua, atau tiga tahun pelajaran. Saya hanyalah seorang murid yang mencerna dan menimba ilmu dari si B selama enam tahun, bersama-sama di kelas, dan di luar itu si B nyaris saya jumpai sama seperti orang kebanyakan.
Lalu dengan alasan macam apa jika saya kemudian kadang tergoda untuk seolah-olah menjadi seperti Sang Majikan Raqib dan ‘Atid?
Lapis-lapis diri saya, seperti juga orang lain, pun tidak senantiasa diam. Ia bergeliat, dengan perlahan, kadang tanpa terasa, kadang juga tak demikian. Suatu saat, mungkin saja salah satu lapisan itu akan bergerak dan mencipta semacam gempa mini dalam diri saya. Jika struktur lapisan diri kita tertata sedemikian rupa, bisa jadi gempa mini itu tak memakan korban. Tapi bisa juga gempa mini itu akan merombak struktur lapisan diri kita yang lain.
Saya berpikir tentang lapis-lapis diri ini terutama untuk saya sendiri. Maksudnya, saya sebenarnya sedang mencoba memahami diri saya sendiri, lapis-lapis yang menyusun dan membentuk diri saya di hadapan yang lain: keluarga, rekan, masyarakat. Di sela-sela pikiran saya ini, sekilas sempat terbersit pertanyaan, selain Tuhan apa mungkin akan ada orang yang nantinya akan mendekati saya dari lorong yang nyaris penuh dan utuh?
Sekali lagi, tulisan ini pada dasarnya dibuat agar saya sadar diri untuk melihat ke dalam diri saya. Tulisan ini bukan untuk menjadi lampu sorot untuk orang lain. Mungkin juga bisa dikatakan bahwa tulisan ini semacam jalan pulang ke ruang kecil dalam diri saya agar saya tak tersesat terlalu jauh dalam hiruk-pikuk kehidupan saat ini.
Label: Reflection
Kamis, 01 Maret 2012
Listrik Padam 130 Kali Setahun
![]() |
| Iklan PLN di Harian Kompas, 12 Januari 2011, halaman 2. |
Pada hari Kamis, 23 Februari 2012, saya mengirimkan tulisan untuk rubrik “Redaksi Yth” Harian Kompas. Isinya tentang hasil pengamatan saya selama setahun mencatat listrik padam di Guluk-Guluk, Sumenep. Tulisan saya itu berjudul “Listrik Padam 130 Kali Setahun”.
Tulisan saya itu kemudian dimuat hari ini, tepat sepekan setelah dikirimkan. Ironisnya, pada hari tulisan saya tentang listrik padam itu dimuat, PLN melakukan pemadaman di wilayah Guluk-Guluk, Sumenep, setelah lewat tengah hari. Saat itu, listrik padam sekitar 90 menit. Sekitar 30 menit setelah menyala, listrik sempat padam kembali beberapa detik.
“Apakah petugas PLN Guluk-Guluk, Sumenep, sudah membaca Kompas hari ini?” tanya saya. Salah seorang rekan saya menjawab, “Itu respons PLN terhadap tulisan, biar hitungannya tambah banyak.”
Tidak, saya pikir PLN memang belum membaca Kompas hari ini.
Berikut ini tulisan yang saya kirimkan ke Kompas dalam versi awal. Setelah dimuat, Kompas menyunting dan meringkas tulisan saya tersebut, sebagaimana dapat dibaca dalam kliping Kompas cetak yang juga saya sertakan di sini.
"Pada tanggal 12 Januari 2011, di Harian Kompas saya mendapatkan iklan Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang memuat data listrik padam di tahun 2010. Di situ di antaranya tercantum bahwa untuk Pamekasan, di tahun 2010 listrik padam 25 kali.
Saya tidak tahu pasti yang dimaksud “Pamekasan” apakah merujuk pada kota atau kabupaten. Saya juga bertanya-tanya, apakah wilayah Pulau Madura yang lain, seperti Sumenep, tempat saya tinggal, juga sama.
Pertanyaan ini muncul karena di lingkungan rumah tinggal saya, yakni Desa Guluk-Guluk, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, listrik padam sangat sering terjadi, meski beberapa tahun yang lalu sudah sempat ada lembaga masyarakat yang mengadvokasi masalah listrik padam ini.
Sejak melihat iklan itu, saya lalu tertarik untuk mencatat listrik padam di lingkungan rumah tinggal saya. Akhirnya, dalam waktu setahun, yakni mulai 12 Januari 2011 hingga 12 Januari 2012, saya mencatat listrik padam di Guluk-Guluk, Sumenep, terjadi sebanyak 130 kali (teknisnya, setiap listrik padam, saya menuliskannya di akun twitter saya). Listrik padam yang saya catat adalah pemadaman dari PLN, baik itu berlangsung beberapa detik, atau beberapa jam. Jumlah 130 kali ini saya pikir adalah jumlah minimal, karena sangat mungkin ada kejadian listrik padam yang tak tercatat, baik karena saya sedang bepergian ke luar desa, atau hal lainnya.
Saya mencatat listrik padam di wilayah saya sebagai bagian dari partisipasi untuk mengontrol pelayanan publik di wilayah saya. Selama ini, jika warga telat membayar listrik, langsung kena sanksi. Sedangkan pemadaman dari PLN yang seringnya tanpa pemberitahuan ini saya pikir telah banyak memakan korban barang-barang elektronik warga yang usianya dipotong karena terlalu sering mengalami kejutan.
Saya pikir menarik jika warga melakukan upaya kontrol seperti ini. Bahkan jika mungkin dengan catatan yang lebih terperinci, misalnya mencatat hingga durasinya. Meski mungkin terkesan sederhana, tapi paling tidak dengan cara ini saya berharap PLN mau lebih serius melanjutkan tugasnya untuk memberikan layanan yang baik kepada warga."
Tulisan terkait:
>> Jam Bumi dan Keadilan Energi. Read More..
Senin, 27 Februari 2012
Mengantarkan Perpustakaan ke Ruang Kelas
| Siswa SMA 3 Annuqayah menikmati suguhan "perpustakaan" yang diantar ke ruang kelas. |
Membangkitkan minat baca menjadi salah satu persoalan penting di negeri kita, termasuk juga di sekolah. Apalagi di tengah terbatasnya fasilitas perpustakaan sekolah dan kurang terbiasanya siswa dalam membaca di lingkungan sebelumnya, misi untuk menumbuhkan kebiasaan membaca di sekolah menjadi semakin menantang. Perpustakaan yang tampil kurang menarik dan buku bacaan yang terbatas membuat siswa enggan datang ke perpustakaan dan menekuri buku. Beginilah mungkin nasib dan tantangan siswa dan sekolah khususnya di daerah pelosok yang minim fasilitas.
Tambahan lagi, sekolah-sekolah di pedalaman kadang juga berhadapan dengan masalah keaktifan dan kedisiplinan guru untuk datang tepat waktu ke sekolah.
Sekitar setahun yang lalu, saya menemukan tawaran ide untuk menjawab dua persoalan ini. Jadi, dalam rangka membangkitkan minat baca siswa di sekolah dan sekaligus sambil menunggu guru yang belum masuk kelas (aspek yang kedua ini bisa diabaikan jika guru-guru sudah bisa masuk tepat waktu ke sekolah/kelas), maka saya pikir akan menarik kiranya jika kita mencoba mengantarkan perpustakaan ke ruang kelas.
Mengantarkan perpustakaan ke ruang kelas? Maksudnya?
Sambil menunggu guru datang, atau di awal jam pelajaran, kita bagikan satu tulisan bermutu dan inspiratif kepada tiap siswa untuk dibaca di dalam kelas. Karakteristik dan kriteria tulisannya adalah: panjangnya berkisar antara 600 hingga 700 kata, memuat ide atau tema yang menarik dan atau inspiratif serta dekat dengan kehidupan atau pengalaman siswa, memiliki gaya bertutur naratif atau mudah dicerna, dan bisa mendukung kepada kegiatan pembelajaran dan pendidikan.
Mengapa 600 hingga 700 kata? Jumlah ini sebenarnya bersifat relatif. Tapi tulisan dengan panjang sedemikian ini kira-kira dianggap cukup nyaman dibaca karena siswa hanya akan membutuhkan waktu sekitar 3-5 menit untuk menuntaskannya. Jika berhadapan dengan tulisan yang relatif panjang, mereka yang belum terbiasa membaca bisa jadi sudah akan merasa malas sebelum mulai membaca.
Dari mana tulisan itu diambil? Tulisan-tulisan itu bisa diambil dari buku, majalah, koran, internet, dan sebagainya. Patokannya adalah kriteria di atas tadi, yang pada dasarnya dibuat dengan asumsi bahwa kriteria ini akan menjaga mutu tulisan sekaligus akan cocok untuk mereka yang belum terbiasa membaca—dengan kata lain, bisa membangkitkan semangat membaca.
Siapa yang memilih tulisan itu? Semula, saya melakukannya sendiri. Tetapi selanjutnya saya juga menghubungi beberapa teman yang cukup akrab dan mengerti dengan dunia perbukuan dan kepenulisan, berpesan kepada mereka bahwa jika mereka menemukan tulisan dengan kriteria di atas, mohon untuk memberi tahu saya. Tentu saja saya juga memaparkan gagasan di balik permohonan saya ini. Jadi, bisa dikatakan tulisan dipilih oleh tim.
Sampai di sini, saya merasa gagasan ini cukup menarik, karena bisa dibilang juga menjadi bagian dari gagasan yang sangat saya dukung—dan pernah saya tulis serta dicoba dipraktikkan saat saya menjadi Kepala Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, tahun 2008-2009 lalu—agar perpustakaan bisa lebih aktif mendorong tradisi membaca dengan bentuk kegiatan dan inovasi-inovasi kreatif.
Secara sederhana, dengan program ini saya menargetkan siswa akan membaca paling sedikitnya 100 tulisan bermutu (dengan kendali mutu yang harus dijaga dengan ketat) dalam satu tahun pelajaran. Untuk diketahui, dalam satu tahun pelajaran biasanya ada sekitar 230 hari efektif. Jadi target 100 tulisan per tahun pelajaran ini sebenarnya adalah target minimal yang tidak muluk dan cukup realistis.
Jika dalam satu tahun pelajaran siswa membaca paling sedikit 100 tulisan bermutu, maka dalam tiga tahun mereka akan telah membaca 300 tulisan! Saya pikir target ini masih sangat mungkin berlipat ganda.
Tantangannya sementara ini adalah menemukan tulisan yang benar-benar bermutu, bertema beragam, dan cocok dengan siswa. Karena itu, catatan saya ini sebenarnya saya maksudkan sekaligus sebagai undangan kepada semua pihak untuk berpartisipasi. Mari, jika punya atau ketemu dengan tulisan bagus yang kira-kira cocok dengan kriteria dan latar belakang di atas, segera hubungi saya. Atau mungkin Anda memiliki tulisan karya Anda sendiri yang kira-kira layak diantarkan ke ruang kelas, silakan, saya tunggu.
Andaikan para pengelola sekolah punya gagasan yang sama dengan saya dan mau bekerja sama menemukan esai-esai atau tulisan dengan mutu dan racikan yang tepat, saya kira target menemukan sekian ratus judul bisa lebih mudah. Karena itu, mari, jika ada kepala sekolah atau kepala perpustakaan yang mau bekerja sama, saya tunggu.
Berapa tulisan yang sejauh ini sudah terkumpul? Meski gagasan ini sudah muncul sekitar setahun yang lalu, tapi saya baru bisa menggarapnya secara lebih serius beberapa waktu yang lalu. Sampai sejauh ini saya sudah mengumpulkan sekitar 60 judul tulisan. Artinya, 60 judul itu sudah diketik ulang. Tapi tidak semuanya siap pakai, karena masih ada proses yang harus dilalui, di antaranya memastikan mutu dan kelayakan tulisan sebelum diperbanyak dan dibagikan kepada siswa.
Selain 60 judul tersebut, ada beberapa tulisan yang sedang dalam proses pengetikan.
Seperti apa contoh tulisan yang sudah dianggap layak dan bermutu? Sekali lagi, saya memilih tulisan atas dasar kriteria di atas. Dalam prosesnya, saya menemukan tulisan Jalaluddin Rakhmat, M. Quraish Shihab, Nurcholish Madjid, Dewi Lestari (Dee), Goenawan Mohamad, Jakob Sumardjo, dan sebagainya. Yang menarik, sangat mungkin ada satu buku yang sangat layak untuk disuguhkan semua ke ruang kelas dengan cara dicicil. Misalnya, saya sedang memproses buku Jalaluddin Rakhmat, Tafsir Kebahagiaan (Serambi, 2010), untuk disuguhkan semuanya ke ruang kelas karena semua bagian di buku ini tampaknya akan sangat cocok dan bakal disukai siswa.
Mungkin siswa—khususnya yang belum terbiasa membaca—bisa menolak untuk membaca sebuah buku tertentu, meski itu bagus. Tapi kalau dengan cara dicicil, bisa jadi dia akan tuntas membaca buku tersebut tanpa merasa terbebani.
Jika sebuah tulisan sudah melewati proses “jaminan mutu” dan diketik rapi, apa langsung siap pakai dan diperbanyak?
Nah, ini dia yang menarik. Untuk mendukung tujuan besar yang terkandung dalam proyek ini, menurut saya, kita juga layak bekerja keras dengan menyuguhkan kamus kecil untuk setiap tulisan yang akan dibawa ke ruang kelas itu. Kamus kecil ini bukan semacam makanan penutup. Ini lebih merupakan sayur yang akan menambah gizi tulisan yang disajikan ke ruang kelas itu. Jadi, kata-kata yang sekiranya belum cukup akrab untuk siswa dicetak tebal, dan di bagian bawah kemudian disajikan kamus kecil yang definisinya diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa. Kamus kecil ini juga akan menerangkan nama-nama tokoh atau tempat yang ada dalam tulisan tersebut.
![]() |
| Salah satu contoh tulisan yang diantarkan ke ruang kelas. |
Di antara naskah yang saya pilih, ada cerita-cerita singkat penuh hikmah dengan tokoh Nasruddin yang juga terkenal di kalangan sufi yang diceritakan ulang oleh Sugeng Hariyanto dalam bahasa Inggris. Bukunya diterbitkan oleh Penerbit Kanisius. Saya mengambil cerita berbahasa Inggris dari buku ini sekaligus juga dengan disertai terjemahan bahasa Indonesianya yang disusun oleh Klub Penerjemah Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah pada tahun 2008 lalu. Anggota klub ini dahulu kebanyakan adalah siswa SMA 3 Annuqayah. Nah, untuk tulisan seperti ini, kamus kecilnya adalah kamus bahasa Inggris.
Di banyak kesempatan jika saya berbicara tentang kepenulisan atau mengajar bahasa Indonesia di ruang kelas, saya sering menekankan pentingnya penguasaan kosa kata bagi mereka yang ingin belajar bahasa—bahasa apa pun. Jadi, proyek mengantarkan perpustakaan ke ruang kelas ini sekaligus juga memastikan bahwa mereka juga disuguhi kamus bahasa.
Dalam praktiknya, yakni di tempat saya mengajar, SMA 3 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, saya senang sekali saat kemarin melihat beberapa siswa tampak dengan rajin mencatat kosa kata yang dicantumkan dalam tulisan yang dibagikan tersebut. Artinya, mereka tidak hanya mencerna makanan utamanya, tetapi juga menikmati sayurnya.
Tanggapan positif lain yang sudah muncul dan menggembirakan adalah saat ada beberapa siswa yang kemudian datang ke kantor sekolah dan minta izin untuk memfotokopi tulisan yang sebelumnya dibagikan dan telah dibacanya di kelas. Ini mungkin bisa menjadi dorongan agar saya sebagai pengelola harus terus menjaga dan mengevaluasi kualitas setiap tulisan yang dibagikan.
Terakhir, saya ingin menggarisbawahi bahwa program mengantarkan perpustakaan ke ruang kelas ini pada dasarnya hanyalah program pemicu. Tujuannya adalah membangkitkan minat baca dan menginspirasi siswa untuk bergerak menjelajah lebih jauh ke perpustakaan—seperti apa pun kondisinya—atau ke sumber-sumber pengetahuan dan ilmu lainnya. Khusus tentang perpustakaan, bagaimanapun ia akan memainkan peran penting untuk memfasilitasi siswa atau masyarakat pada umumnya untuk terus belajar dan menggali pengetahuan dan ilmu.
Karena itu, wahai pembaca yang budiman, lebih jauh lagi saya sampaikan bahwa sebenarnya, selain berharap dukungan dan partisipasi konkret dari para pembaca sekalian untuk pelaksanaan proyek ini, saya juga berharap dukungan para pembaca yang budiman untuk turut juga membantu memajukan perpustakaan di komunitas saya, misalnya dengan menyumbangkan buku-buku, majalah, dan sebagainya. Andaikan nanti minat baca siswa semakin baik, di antaranya mungkin karena keberhasilan proyek ini, misalnya, maka ini tentu juga akan menuntut peningkatan kualitas perpustakaan untuk memenuhi hasrat akan pengetahuan yang sudah tumbuh di kalangan mereka.
Saya tidak punya banyak daya untuk membangun perpustakaan di komunitas saya—di sekolah tempat saya mengajar, juga di pesantren tempat saya berkhidmat—sendirian, karena kami punya banyak keterbatasan. Tapi saya tidak tinggal diam. Program mengantarkan perpustakaan ke ruang kelas ini, misalnya, adalah salah satu langkah konkret saya menghadapi sekian keterbatasan itu.
Namun, jika Anda, pembaca yang budiman, sepakat dan bersedia menjadi satu tim dengan saya untuk mendukung secara konkret gagasan-gagasan saya di atas, maka keterbatasan itu mungkin tak akan begitu terasa buat saya. Dengan dukungan konkret itu, Anda, pembaca yang budiman, pada akhirnya mungkin akan menjelma lilin-lilin yang pelan-pelan dapat mengusir gelap di sini, di sebuah kampung di pedalaman Madura yang senyatanya sudah tak bisa lepas dari arus globalisasi.
Saya rasa demikian.
Saya tunggu.
Terima kasih. Read More..
Label: Literacy, School Corner
Selasa, 21 Februari 2012
Melek Informasi
Ada berapa status Facebook yang saya baca hari ini? Ada berapa tweet yang saya ikuti hari ini? Ada berapa iklan yang—sadar atau tidak—menyerbu saya hari ini melalui koran, televisi, radio, internet, dan sebagainya? Ada berapa judul dan teras berita yang saya baca hari ini?
Pertanyaan-pertanyaan ini muncul di benak saya saat saya berpikir soal banjir informasi dari berbagai media yang menimpa kehidupan saya dan orang lain di zaman ini. Informasi itu menyerbu saya melalui bermacam bentuk media komunikasi yang terus memperbarui diri secara cepat. Media komunikasi itu—seperti televisi, internet, koran atau majalah, iklan—tak putus berusaha untuk tampil dengan wajah baru untuk lebih memikat dan menarik perhatian orang banyak.
Di zaman informasi ini, kita memang dikepung oleh media dan informasi. Saya teringat pemaparan Annie Leonard yang menyatakan bahwa warga Amerika saat ini disasar oleh lebih dari tiga ribu iklan setiap hari—bahkan ada yang bilang lebih dari itu.
Saya, yang hidup di pelosok kampung di Madura, mungkin diserbu iklan tak sebanyak itu. Tapi saya yakin jumlahnya bisa mencapai puluhan. Saya akan menemuinya di lembar-lembar koran yang saya baca. Tanpa sadar, saya juga akan melihat iklan di laman-laman yang saya buka. Di kawasan “pertigaan emas” dekat rumah saya, saya akan menemukan iklan-iklan di beberapa toko yang berderet di situ.
Sementara itu, berita-berita, baik itu di koran terbitan lokal maupun nasional, atau juga di internet, setiap hari menyajikan informasi yang melimpah. Saya rasanya ingin menyerapnya setiap pagi. Tapi sering kali waktu saya terbatas untuk melahap informasi yang sepertinya tak terbatas itu.
Kehadiran media yang memuat informasi yang banyak dan beragam, alirannya yang deras, serta kemasannya yang cermat dan memikat ini menurut saya memiliki kekuatan dan pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan masyarakat saat ini. Pengaruhnya memang tidak serta-merta terasa, karena perubahan yang kemudian dimunculkannya sering serupa tangga dengan sudut yang agak landai—bukan seperti tikungan tajam.
Pengaruh media ini bagi saya menjadi begitu terasa justru karena saya hidup di kampung. Masyarakat kampung di tempat saya, dengan segala keterbatasan mereka, rata-rata tidak memiliki ruang gerak yang memungkinkannya berjumpa secara langsung dengan banyak hal di luar kebudayaan dan lingkungan mereka. Akan tetapi, kehadiran media, mulai dari yang sederhana seperti televisi hingga internet yang belakangan relatif mulai semakin mudah didapat, telah memberi kemungkinan baru bagi masyarakat di pedalaman—tentu termasuk saya—untuk mengenal dan bersentuhan dengan hal-hal baru, yakni hal-hal yang sebelumnya tampak asing.
Di kelas, misalnya, saya bisa menemukan dengan cukup mudah siswa yang hafal nama-nama pasangan artis dengan beberapa perincian penggalan kisah kehidupan pribadi mereka. Mereka mungkin juga telah memiliki perbendaraan kata berupa istilah-istilah trendi yang bisa saja tak saya pahami. Lebih jauh lagi, mereka bahkan sangat mungkin tak hanya hafal nama-nama atau kosakata, tapi juga diam-diam mengikuti gaya atau segi tertentu dari orang atau hal-hal yang mereka temukan di media. Tambahan lagi, saya kadang bersentuhan langsung dengan orang yang tampaknya telah menjadi korban media di lingkungan pendidikan tempat saya bergiat—dan saya seperti sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk membantu keluar dari jeratan dan pengaruh buruknya.
Media mungkin memang telah menjadi kiblat sekaligus “rasul” yang menawarkan bimbingan ke arah hidup tertentu. Tapi izinkan saya menyebutnya dengan ungkapan yang lain: media saat ini telah menjadi rezim yang diam-diam mengendalikan kehidupan kita. Ia adalah pemerintah yang mungkin tanpa sadar kita pilih melalui sebuah pemungutan-suara-tiada-henti-setiap-hari saat kita menyimak berita, berbelanja, dan sebagainya.
Sampai di sini saya lalu teringat Althusser yang menyatakan bahwa media adalah perkakas ideologis negara. Media bekerja untuk secara diam-diam mengendalikan kehidupan masyarakat agar tetap selaras dengan kepentingan ideologis mereka yang menikmati empuknya kursi kekuasaan.
Menyadari situasi dan tatanan yang sedemikian rupa ini, saya semakin sadar bahwa baik perorangan maupun lembaga-lembaga di masyarakat saat ini sebenarnya memiliki tugas bersama untuk menyiapkan generasi dan masyarakat yang melek informasi dan melek media. Secara khusus, kaum muda tampaknya telah dan akan menjadi sasaran dan mangsa empuk media, karena situasi kejiwaan mereka yang tengah berada di persimpangan jalan memberikan banyak peluang dan keuntungan bagi mereka yang menguasai media untuk dapat diarahkan sesuai dengan kehendak mereka.
Sebagai orang yang setiap hari bergelut di dunia pendidikan, saya pun bertanya: untuk mereka yang memerankan dirinya sebagai pendidik, apakah mereka menyadari dan mengamati tantangan media dalam kehidupan masyarakat saat ini? Jika jawabannya positif, apakah mereka sudah mereka-reka dan merancang siasat yang perlu dipersiapkan untuk menjawab tantangan berat ini? Lebih masuk lagi, kemudian, di pelajaran apakah dan di kegiatan apakah sekolah dan lembaga pendidikan serupa ikut bersama-sama membekali kaum muda untuk bisa lebih sadar informasi dan sadar media sehingga mereka tak mudah diperdaya?
Saya teringat iklan-iklan politik di koran lokal di Madura saat musim pemilihan umum atau calon anggota legislatif yang dimuat sedemikian rupa sehingga tampak seperti berita. Saya juga teringat berita-berita yang masih menggunakan pilihan-pilihan kata yang tidak adil, seperti kata “menggagahi” untuk kasus pemerkosaan, sehingga pemerkosaan diam-diam dikesankan sebagai sesuatu yang gagah. Saya juga teringat berita-berita di koran yang memuat penggambaran elite-elite politik yang kemudian naik daun karena terkesan tampil merakyat atau peduli dengan nasib rakyat, sementara kenyataan atau rekam jejaknya kadang tampak menunjukkan hal yang berseberangan. Saya pun merasa risau jika mengingat tayangan-tayangan televisi yang sering kali menjauhkan pikiran masyarakat dengan kehidupan nyata di sekitar mereka.
Apa jadinya jika generasi masa depan kita terus dibiarkan melahap sampah informasi dan atau virus-virus yang kadang ikut menyertai banjir informasi di zaman ini?
Sambil terus bergelut menuntaskan pemberantasan buta aksara, saat ini bangsa kita menghadapi tantangan baru untuk menyiapkan dan mendidik warga masyarakatnya agar melek informasi. Tugas ini penting disadari dan ditindaklanjuti dengan langkah nyata, karena jika dibiarkan, masyarakat yang tak dibekali kemampuan kritis untuk mencerna informasi dapat terjatuh pada perbudakan akal budi sehingga kemudian harkat dan martabat kemanusiaannya mungkin bisa terlucuti.
Wallahualam.
Label: Literacy
Minggu, 19 Februari 2012
Sejarah Dunia Perspektif Islam: Problem Identitas dan Dialog Peradaban
Penulis: Tamim Ansary
Penerjemah: Yuliani Liputo
Penerbit: Zaman, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2010
Tebal: 590 halaman
History is not knowledge of external facts or events; it is a form of self-knowledge.
—Ernest Cassirer
Dalam buku berjudul An Essay on Man yang mengulas tentang manusia dan kebudayaan, Ernst Cassirer (1847-1945) menempatkan sejarah dalam satu konteks yang menarik. Menurut Cassirer, sejarah bukanlah pengetahuan yang memuat fakta dan kejadian eksternal. Sejarah adalah bentuk pengenalan-diri, atau upaya manusia untuk “terus-menerus kembali kepada dirinya sendiri” (constantly returns to himself). Cassirer menjelaskan bahwa sejarah berbeda dengan proses yang terdapat dalam ilmu alam yang oleh Max Planck dilukiskan sebagai upaya untuk menghilangkan unsur-unsur antropologis, mengubur manusia dan menyingkap hukum-hukum alam yang sebelumnya tersembunyi. Sementara itu, apa yang dikejar oleh sejarah dinyatakan Cassirer dalam formula yang cukup paradoks, yakni “antropomorfisme objektif” (Cassirer, 1944: 241-242).
Pernyataan Cassirer ini tentu saja tak dimaksudkan untuk menutup karakter objektif dalam catatan sejarah. Poin penting yang hendak disampaikan Cassirer dalam butir pemikiran ini adalah terkait dengan makna sejarah dalam arus kehidupan dan peradaban manusia. Sejarah sangat terkait erat dengan identitas manusia, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok masyarakat. Individu maupun kelompok masyarakat merumuskan identitas mereka dengan mencari rujukan sejarah dalam berbagai bentuknya. Ada sekelompok masyarakat yang mungkin merumuskan identitas mereka dengan rujukan historis yang bersifat mitis. Ada pula yang mencari acuan pada jalinan peristiwa yang dirumuskan secara ilmiah (objektif). Namun terkadang rujukan mitis dan ilmiah itu dapat bersanding.
Sampai di sini, ada satu sudut pandang menarik untuk melihat pembedaan kategori rujukan sejarah yang bersifat mitis dan ilmiah ini. Sejak pemikiran yang berlabel postmodernis menjadi salah satu gairah intelektual di berbagai penjuru dunia, muncul pandangan yang kritis dalam melihat pembedaan antara kategori mitos dan logos (yang mitis dan yang ilmiah). Logos, yang dalam bahasa Yunani bisa berarti ilmu dan dipahami sebagai ilmu dalam kategori ilmiah-objektif, tanpa disadari terkadang sesungguhnya berpindah menempati kategori mitos. Kedokteran modern, misalnya, sebagai contoh yang mewakili logos, pada kasus tertentu kadang didudukkan sebagai mitos oleh orang atau masyarakat tertentu.
Dalam kerangka kritik semacam ini, Tamim Ansary dalam buku ini berusaha untuk menguliti sejarah dunia arus utama dengan menghadirkan sejarah dunia dengan sudut pandang yang “tak cukup biasa”, yakni sudut pandang Islam. Dalam istilah yang agak ekstrem, langkah ini mungkin bisa disebut sebagai “demitologisasi” (sejarah). Sebagai seorang muslim yang menggeluti disiplin sejarah begitu lama sejak dibesarkan di Afghanistan, melalui buku ini Ansary menyampaikan kritik atas Erosentrisme sejarah dunia. Erosentrisme ini mewujud dalam bentuk penyingkiran peran Islam sebagai sebuah kelompok masyarakat dan peradaban dalam titik-titik penting arus perjalanan peradaban manusia.
Di bagian kata pengantar, Ansary bercerita tentang keterlibatannya dalam sebuah proyek penyusunan buku teks sejarah dunia untuk sekolah di Amerika pada tahun 2000. Saat menyusun sistematika buku bersama tim editor yang lain, Ansary merasakan bagaimana unsur-unsur sejarah dan peran masyarakat Islam dipandang sebagai sesuatu yang tak begitu penting sehingga cenderung untuk dikeluarkan, dikecilkan, atau dipinggirkan. Memang tak ada klaim langsung bahwa Islam itu lebih buruk daripada Barat, atau semacam itu. Akan tetapi, Ansary merasakan begitu kuat asumsi yang tampaknya sudah menjadi kesepakatan para editor lainnya bahwa “Islam adalah fenomena relatif kecil yang dampaknya sudah berakhir jauh sebelum Renaisans” (hlm. 16).
Ansary begitu heran mengapa orang-orang Barat ini dapat mengabaikan Islam begitu saja. Padahal, cukup hanya dengan memberikan gambaran berupa fakta geografis “dunia Islam” saat ini, kita akan menyadari betapa Islam masih menjadi sebuah kelompok masyarakat yang besar dari masa ke masa sejak era kelahirannya.
Erosentrisme yang dirasakan Ansary ini kemudian disadarinya memang telah merasuk begitu dalam, mungkin tanpa sadar, pada bidang sejarah. Ansary mengingat salah satu buku favoritnya di masa kecil karya V.V. Hillyer berjudul Child’s History of the World yang ternyata sangat Erosentris. Demikian pula, buku Perspectives on the Past, buku teks sejarah dunia edisi 1997, berbicara tentang Islam hanya dalam satu bab dari 37 bab yang ada.
Bagaimana Erosentrisme ini terjadi? Mari kita sedikit simak teori analisis wacana kritis (critical discourse analysis) yang berada dalam wilayah kajian konsumsi produk media. Pendekatan analisis wacana memahami media sebagai sebuah alat dominasi, yang dalam bahasa Louis Althusser berperan sebagai ideological state aparatus. Dominasi dan hegemoni media dalam kerangka kepentingan kelompok tertentu berlangsung dengan beberapa cara, seperti pemilihan fakta yang diangkat sebagai berita, pemilihan nara sumber, pemilihan sudut pandang pemberitaan, pilihan kata atau istilah kunci, dan termasuk juga terkait beberapa aspek teknis tata bahasa (Eriyanto, 2001).
Erosentrisme dalam buku sejarah kurang lebih bisa ditemukan dengan cara seperti demikian ini. Selain dalam soal pemilihan fakta, misalnya, dalam wujud yang lebih umum dan sederhana Erosentrisme ini tampak juga dalam penggunaan istilah-istilah dan pemilihan sudut pandang penceritaan. Istilah “Timur Tengah”, misalnya, jelas menunjukkan sudut pandang Eropa. Demikian pula istilah “Zaman Kegelapan” (dark ages) yang merujuk pada era kegelapan masyarakat Barat yang kala itu dikuasai dogma agama.
Saya lalu teringat salah satu bagian dalam novel N. Marewo, Lambo, yang menceritakan seorang siswa yang menggugat guru sejarahnya di kelas saat dikatakan bahwa Columbus adalah orang yang pertama kali menemukan benua Amerika. Kata “menemukan” di sini jelas cerminan sudut pandang orang Eropa. Padahal, kata tersebut akan menjadi sulit dicerna akal sehat jika dipahami dari sudut pandang penduduk asli Amerika (Marewo, 1995: 8-9).
Masih terkait Columbus dan penjelajahan orang-orang Eropa, saya sering teringat betapa buku pelajaran di sekolah tak memberi tempat pada kisah hebat pelayaran Laksamana Cheng Ho dari Dinasti Ming di Cina. Padahal, sebagaimana dibahas oleh Frank Viviano, armada Cheng Ho jauh lebih besar dari ekspedisi kaum Eropa. Viviano menggambarkan, bila seluruh armada kapal Columbus dan Vasco da Gama digabungkan, maka cukup ditempatkan di satu geladak kapal dalam armada Cheng Ho (Viviano, 2005: 28-51). Tapi mengapa buku pelajaran sejarah di sekolah tak memberi ruang untuk ekspedisi laksamana muslim berdarah Asia Tengah yang berlayar menjelajah dunia hampir satu abad lebih awal daripada Columbus itu?
Menghadapi pendekatan sejarah yang seperti ini, lalu apa sebenarnya yang tengah dilakukan Ansary melalui buku ini? Dalam pengantarnya, Ansary menegaskan bahwa ia ingin bercerita tentang sejarah dunia dari kacamata seorang muslim. Disebut bercerita karena Ansary terutama bertujuan “untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi menurut pikiran kaum muslim” (hlm. 25). Ansary mengibaratkan penuturannya ini lebih seperti perbincangan di kedai kopi daripada sebagai buku teks ilmiah.
Nah, sampai di sini, saya ingin kembali ke awal, saat saya mengutip Cassirer yang menghubungkan sejarah dengan pencarian identitas. Pilihan Ansary untuk menyajikan sejarah dunia dari sudut pandang Islam dengan gaya bercerita, yakni sejarah dunia menurut pikiran kaum muslim, menurut saya kurang lebih dapat menjadi penjelasan atas istilah “antropomorfisme objektif” yang disebut Cassirer di atas. Istilah antropomorfisme di sini dapat merujuk pada bagaimana kita memahami semangat hidup yang memotivasi umat Islam berabad-abad, yakni kerangka makna yang dibangun umat Islam. Istilah ini juga memiliki keterkaitan dengan soal identitas, terutama dalam pengertian kolektif. Sedangkan istilah objektif menyiratkan bahwa penuturan Ansary ini tak bisa dipandang sebagai semacam alegori belaka. Narasi sejarah dunia bersudut pandang Islam ini juga memiliki semangat yang sama sebagai catatan sejarah, sebagaimana halnya kaum muslim sejak awal telah mengembangkan satu model metode kritik sejarah yang canggih dalam disiplin ilmu ‘ulûmul hadîts (Shihab, 2011: 11).
Dengan latar dan cara pandang seperti ini, Ansary kemudian menyusun kerangka besar sejarah dunia versi Islam dalam beberapa tahapan, dimulai dari era Mesopotamia dan Persia, lalu masuk ke zaman Islam hingga terus ke zaman terkini dengan garis utama pengalaman umat Islam sebagai suatu kelompok masyarakat.
Di bagian paling awal, sebelum bercerita tentang peradaban awal di Mesopotamia, Ansary sedikit menuturkan cikal-bakal dua peradaban dunia saat ini: Barat dan Islam. Menurut Ansary, peradaban Barat lahir dari perkembangan lebih lanjut dari dunia Mediterania yang terpusat dan terhubung melalui rute laut. Sementara itu, peradaban Islam berkembang dari jalinan Dunia Tengah (yang dalam perspektif Barat disebut Timur Tengah) yang terhubung melalui rute darat.
Peradaban awal manusia di kawasan Dunia Tengah diceritakan dengan cukup singkat oleh Ansary, tepatnya hanya 22 halaman, sebelum kemudian langsung masuk pada kisah penting tentang kelahiran dan awal pertumbuhan Islam. Untuk bagian ini, Ansary memberikan pemaparan yang cukup detail, karena ini adalah masa-masa ditegakkannya dasar-dasar narasi Islam. Dalam menguraikan masa awal pertumbuhan Islam, Ansary menekankan bahwa Islam adalah sebuah proyek sosial, yakni sebuah ikhtiar untuk membangun masyarakat yang adil dan setara secara sosial. Ini adalah visi mendasar yang tampak jelas pada awal pertumbuhan Islam, termasuk juga selama periode empat khalifah: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.
Perjalanan Islam sebagai sebuah agama dengan visi yang sedemikian ini mengalami dinamika dalam bentangan sejarah. Terlepas dari beberapa kekurangan yang bersifat manusiawi, Ansary menegaskan bahwa keempat khalifah yang populer dengan gelar Khulafâ’ al-Rasyidûn tersebut dapat dipandang sebagai penjaga visi komunitarian Nabi Muhammad saw. yang bergulat untuk menerapkan wahyu dengan tulus. Setelah kematian Ali, tulis Ansary, “kekhalifahan hanyalah sebuah kekaisaran” (hlm. 126).
Penilaian Ansary atas perjalanan Islam setelah periode ini memang tak secara eksplisit diurai panjang lebar dari sudut pandang politik kekuasaan saja. Memang ada pernyataan tentang pemerintahan Umayyah yang gagal dalam mewujudkan visi persaudaraan egaliter sebagaimana yang dijanjikan Islam akibat dominannya bayang-bayang politik kesukuan di saat kekuasaan Islam semakin meluas (hlm. 148). Namun Ansary menyatakan hal ini untuk menjelaskan cikal-bakal kemunculan Dinasti Abbasiyah. Ini tak seperti ulasan Asghar Ali Engineer, misalnya, yang menggunakan data dan analisis panjang lebar dan kemudian menyimpulkan hal yang kurang lebih senada dengan Ansary. Engineer menulis masalah ini dalam bukunya yang berjudul Islamic State, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Devolusi Negara Islam (2000).
Uraian Ansary untuk menjelaskan pernyataan bahwa kekhalifahan Islam (setelah empat khalifah pertama) kemudian menjadi “hanyalah sebuah kekaisaran” lebih berupa pemaparan tentang jatuh-bangunnya kekuasaan politik berbagai kelompok dalam Islam atau muncul dan berkembangnya sekte-sekte politik dalam Islam, termasuk juga lahirnya kantong-kantong kekuasaan muslim baru di beberapa wilayah seperti Dinasti Fathimiyah di Mesir, peran unik keluarga Buwaihi keturunan Persia dalam kekuasaan Abbasiyah, dan Dinasti Seljuk yang menandai masuknya orang-orang Turki dalam sejarah Islam.
Dalam menjelaskan dinamika politik kekuasaan ini, Ansary juga tetap mengacu dan menghubungkan dengan cita-cita atau visi mendasar Islam tersebut di atas. Demikian juga ketika Ansary menjelaskan kelahiran disiplin keilmuan utama dalam Islam yang melahirkan komunitas intelektual tertentu, yakni ulama (fiqih dan teologi), filsuf (filsafat dan sains), dan kaum sufi (tasawuf). Artinya, kemunculan tiga gugus komunitas utama dalam Islam ini oleh Ansary diletakkan dalam kerangka Islam sebagai sebuah proyek peradaban.
Anak judul buku ini, “Sejarah Dunia Versi Islam”, juga bermakna bahwa pengalaman umat Islam dalam kisah sejarah dunia dijadikan sebagai sudut pandang utama. Karena itu, banyak hal menarik yang diungkapkan Ansary dalam buku ini dengan sudut pandang yang dipilihnya itu. Misalnya menyangkut masuknya orang-orang Eropa secara masif dalam sejarah Islam yang dimulai dari peristiwa Perang Salib. Di akhir bagian penuturannya tentang Perang Salib, Ansary mengemukakan sebuah gagasan yang cukup menarik. Ansary tidak sepakat dengan beberapa kalangan yang menggambarkan Perang Salib sebagai benturan peradaban antara Islam dan Barat. Menurut Ansary, laporan-laporan pihak Arab tak menunjukkan bahwa kaum muslim berpikiran demikian (bandingkan, buku karya Carole Hillenbrand, The Crusade: Islamic Perspectives yang sudah diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Serambi). Gagasan tentang benturan peradaban dapat mungkin jika dilihat dari sudut pandang Tentara Salib. Bagi kaum muslim, mereka tak melihat bukti adanya peradaban dari Tentara Salib, karena memang Eropa ketika itu baru hendak beranjak dari masa yang mereka sebut Zaman Kegelapan. Tambahan lagi, kehadiran Tentara Salib juga tak cukup menantang secara intelektual terhadap ide-ide dan keyakinan kaum muslim. Bahkan, Tentara Salib tidak pernah menembus jauh ke dalam dunia muslim, seperti kawasan Mekah dan Madinah, Bagdad, dan juga Persia. Demikian pula, peristiwa Perang Salib tak merangsang keingintahuan tertentu di dunia muslim tentang Eropa (hlm. 248-249).
Sejauh terkait dengan Perang Salib, Ansary menjelaskan dengan baik bagaimana peristiwa ini justru mendorong warga Eropa untuk menjelajah ke timur. Selama periode Perang Salib, masyarakat Eropa dapat mencium adanya peradaban yang canggih di timur. Namun sayang, mereka tak bisa menembus wilayah Dunia Tengah sampai akhirnya mereka memiliki kemampuan mengarungi laut yang bagus sehingga dapat mencapai wilayah timur melalui jalur laut.
Salah satu kelebihan yang cukup menonjol dari pemaparan Ansary dalam buku ini adalah kemampuannya untuk dapat merangkai berbagai peristiwa penting dalam sejarah dunia dalam suatu jalinan kisah yang padu. Misalnya saat menjelaskan kemunduran umat Islam setelah Perang Salib dan awal kebangkitan Barat (Eropa). Memang para ilmuwan muslim sudah banyak mengukir prestasi terutama selama masa Dinasti Abbasiyah. Akan tetapi, tatanan sosial kaum muslim saat itu mulai runtuh akibat serangan dari Eropa, dan juga dari timur yakni kaum Mongol. Yang paling utama, kemunduran umat Islam disebabkan karena perpecahan politik internal di antara berbagai pusat kekuasaan. Akibatnya, perkembangan keilmuan dan peradaban kaum muslim menjadi macet.
Ini berbeda dengan Barat yang meraih penemuan-penemuan ilmiah yang besar saat tatanan sosial mereka mulai bangkit, termasuk reformasi keagamaan yang melahirkan kaum Protestan dan selanjutnya memapankan proses pembentukan konsep negara-bangsa (hlm. 344-345). Selanjutnya, dominasi Barat atas wilayah dunia lainnya bergerak melalui penjelajahannya yang berwatak imperialis.
Namun Ansary menggarisbawahi bahwa saat Barat mendatangi timur melalui imperialisme, Barat tak bisa berperang secara langsung ketika berhadapan dengan masyarakat-mayoritas-muslim yang relatif masih kuat dan punya basis peradaban yang cukup baik. Termasuk juga dengan Cina yang masyarakatnya sudah terorganisasi dengan baik, kaya, dan berteknologi maju. Karena itu, atas wilayah-wilayah semacam ini, Barat hadir sebagai pedagang. Ini jelas berbeda dengan kehadiran Barat di kawasan Amerika Utara dan Amerika Selatan, Australia, dan Afrika.
Sementara Eropa mengalami kemajuan pesat dengan berbagai revolusi di berbagai sisi peradabannya, tatanan masyarakat Islam di ketiga dinastinya (Utsmani di kawasan utama atau Arab, Safawi di Persia, dan Moghul di India) mulai abad ke-17 secara lambat laun melemah. Salah satu gambaran menarik yang dipaparkan Ansary di antaranya terkait keruntuhan Kekaisaran Utsmani yang disebabkan oleh hancurnya tatanan ekonomi mereka akibat strategi para pedagang Eropa. Masuknya orang Eropa dalam sistem ekonomi Kekaisaran Utsmani ditandai dengan pembelian yang mereka lakukan atas bahan baku produksi secara masif sehingga menganjlokkan produksi dalam negeri. Dampak berikutnya, praktik penyelundupan dan mental korup tumbuh subur dan pelan-pelan menggerogoti Kekaisaran Utsmani (hlm. 361-366).
Saat membaca uraian tentang bagaimana kaum imperialis Eropa masuk ke komunitas muslim melalui jalur perdagangan dan pelan-pelan memberi pengaruh yang signifikan, saya teringat paparan Zamakhsyari Dhofier dalam bukunya yang sudah menjadi klasik, Tradisi Pesantren. Di bagian awal buku itu, Dhofier menyinggung tentang penghancuran kehidupan komunitas-komunitas perdagangan di nusantara oleh kaum penjajah Belanda yang pada gilirannya memberi pengaruh secara mendalam dengan mengubah struktur dasar organisasi kemasyarakatan orang Jawa (Dhofier, 1994: 9, 132).
Kemunduran peradaban komunitas muslim di berbagai titik pentingnya pada periode ini memunculkan kejutan-kejutan internal. Bagi beberapa pihak, ini serupa tamparan keras yang menohok pada titik keimanan mereka. Krisis dan kemunduran Islam memicu krisis teologi Islam: jika wahyu Islam memang benar, mengapa kemudian komunitas muslim mundur atau bahkan terkalahkan? Apa artinya? Di manakah letak kesalahannya?
Sebenarnya, krisis semacam ini sudah terjadi sebelumnya. Bisa dikatakan bahwa krisis serupa terjadi setelah Islam diserang oleh Tentara Salib dari Barat dan juga tentara Mongol. Ini juga yang terjadi saat ini, ketika gelombang modernitas dengan berbagai kompleksitas persoalannya dan kedahsyatan gempurannya juga dapat memojokkan komunitas muslim di berbagai penjuru dunia.
Terkait krisis setelah serbuan Tentara Salib dan Tentara Mongol, misalnya, Tamim Ansary mencatat dua model respons yang dilakukan umat Islam, yakni salafisme ala Ibn Taimiyyah dan gerakan tasawuf (hlm. 266-278). Salafisme Ibn Taimiyyah sangat erat dengan pemikiran puritan, karena dia memandang kemunduran Islam terjadi karena umat Islam berhenti mengamalkan Islam yang “benar”. Ia bersikeras untuk membersihkan Islam dari ide-ide baru, interpretasi, dan inovasi. Dari sini, dalam pembicaraan tentang jihad, Ibn Taimiyyah di antaranya kemudian juga memperluas daftar orang-orang yang dapat dilawan dengan jihad hingga termasuk juga para pembid’ah atau mereka yang dianggap menyempal.
Gerakan tasawuf atau sufisme berkembang di kalangan mereka yang ingin mencapai persatuan mistik dengan Allah. Gerakan ini pada titik tertentu membentuk komunitas-komunitas sufi yang bermula dan berpusat di sekitar individu sufi terkemuka.
Serbuan modernitas bagi Ansary lebih kompleks. Pada paruh kedua abad kesembilan belas, orang Eropa telah memegang kendali semua penjuru dunia Islam, dan dominasi ini dicapai tanpa perang atau penyerbuan berskala besar. Namun demikian, penetrasi orang Eropa ini bukan terutama dengan membawa keimanan Kristen mereka. Modernitas yang disebarkan oleh cengkeraman orang Eropa ini membawa pandangan dunia sekuler humanistik. Inilah yang dihadapi umat Islam saat ini.
Tamim Ansary mencatat tiga jenis tanggapan umum sebagai bentuk reformasi yang diambil oleh umat Islam. Tanggapan pertama mengatakan bahwa yang perlu diubah bukan Islam, tapi umat Islam. Tanggapan kedua mengritik pandangan agama yang ketinggalan zaman dan memandang bahwa Barat itu benar. Karena itu, yang perlu dilakukan adalah memodernisasi iman dengan membersihkan takhayul dan memikirkan Islam sebagai sistem yang cocok dengan ilmu. Tanggapan ketiga mirip dengan tanggapan kedua. Bedanya, mereka menekankan pencarian makna iman, sejarah, dan tradisi dari dalam Islam sendiri, sambil menyerap beberapa hal dari Barat. Ketiga respons ini menurut Ansary terwakili oleh sosok Abdul Wahhab dari semenanjung Arab, Sayyid Ahmad dari Aligarh, India, dan Sayyid Jamaluddin-i-Afghan (hlm. 403-404).
Banyak hal menarik yang bisa didapatkan dari buku yang dalam versi bahasa Inggris berjudul Destiny Disrupted: A History of the World through Islamic Eyes dan semula terbit pada tahun 2009 ini. Yang pertama dan utama, buku ini memberi sudut pandang alternatif (Islam) atas sejarah dunia yang selama ini cenderung Erosentris. Kedua, meski terbilang singkat dan tidak sangat detail, uraian dalam buku ini mampu menghubungkan titik-titik penting dalam sejarah dari sisi dialektisnya dengan sangat baik. Ketiga, cara bertutur buku ini sangat nyaman dan tak membosankan sehingga mudah untuk dicerna.
Kaum muslim yang membaca buku ini paling tidak dapat memaknainya sebagai pencarian akar identitas dirinya serta upaya untuk lebih memahami peristiwa-peristiwa penting di dunia saat ini yang melibatkan unsur Islam. Sebagai pencarian identitas, kaum muslim secara lebih mendalam sebenarnya sedang mencoba menjawab pertanyaan: apa makna menjadi seorang muslim di abad ini? Melalui buku ini, Tamim Ansary memberikan kilasan sejarah yang sangat penting untuk menjadi modal menjawab pertanyaan reflektif tersebut.
Karen Armstrong dalam bukunya, Holy War (2001), menghubungkan peristiwa Perang Salib dengan identitas kaum Eropa. Armstrong tak hanya mengaitkan Perang Salib dengan proses pembentukan identitas orang-orang Barat saat ini, tetapi juga menjelaskan bahwa Perang Salib juga terjadi di antaranya lantaran krisis identitas yang dialami orang-orang Eropa setelah keruntuhan Kekaisaran Romawi. Menjelang Perang Salib, orang-orang Eropa berusaha mencari jiwa-kristen baru untuk mendefinisikan ulang jati diri dan identitas mereka.
Namun pencarian identitas yang menjadi kerangka tutur buku yang diterjemahkan dengan sangat baik oleh Yuliani Liputo, seorang penerjemah senior, ini sama sekali tak menggiring pada arah yang cenderung agresif atau negatif, seperti yang diuraikan Armstrong dalam kasus Perang Salib dan orang-orang Eropa. Bahkan, Ansary sesungguhnya mendorong upaya untuk saling memahami kerangka pikir yang melandasi nalar sejarah Barat dan Islam (hlm. 561).
Dalam konteks inilah, bila dicermati dengan lebih mendalam, menempatkan sejarah dunia dari sudut pandang Islam sebagai sebuah upaya untuk mencari makna menjadi seorang muslim mau tidak mau akan mengantarkan kita pada sebuah ruang dialog, yakni dialog peradaban antara Islam dan Barat. Secara tidak langsung, Ansary dalam buku ini berusaha merajut sebuah ruang dialog yang lebih setara antara Barat yang saat ini dominan dan Islam yang cenderung dipinggirkan. Sebagai sebuah ruang dialog, buku ini amatlah menarik karena dapat menggambarkan perjumpaan kedua gugus peradaban tersebut secara proporsional. Dengan demikian, buku ini sekaligus sangat baik dibaca oleh kaum muslim sendiri maupun orang Barat yang selama ini cenderung merasa sendirian, apalagi setelah kehancuran Uni Soviet dan Fukuyama mencatatnya sebagai Akhir Sejarah.
Di halaman-halaman terakhir, Ansary menegaskan perihal ruang dialog ini, juga secara tidak langsung. Paling akhir, ia mengilustrasikan sejarah dunia dengan meminjam analogi seorang filsuf Jerman, Leibniz, yang menyatakan bahwa alam semesta ini terdiri dari “monad-monad”; setiap monad menyusun keseluruhan semesta; setiap monad dipahami dari sudut pandang tertentu; dan setiap monad memuat semua yang lain. Dari ilustrasi ini, Ansary menegaskan tugas bersama untuk menyusun sebuah sejarah-bersama yang tiada lain dilakukan dengan menyusun langkah-langkah kecil bersama menghadirkan sudut pandang tertentu atas sejarah. Jika dipikirkan secara mendalam, terutama mempertimbangkan keberagaman latar dan peradaban manusia saat ini, menyusun sejarah-bersama akan menjadi tugas yang sangat besar. Namun itu semua akan cair dan menjadi ringan jika ruang dialog seperti yang berusaha dibangun Ansary melalui buku ini terus dirawat, diperluas, dan dikembangkan—tentu saja dengan landasan ketulusan.
Wallahualam.
Bacaan Pendukung
Armstrong, Karen. 2001. Holy War: The Crusades and their Impact on Today’s World. Edisi Kedua. New York: Achor Books.
Cassirer, Ernst. 1944. An Essay on Man: An Introduction to a Philosophy of Human Culture. New York: Doubleday.
Dhofier, Zamakhsyari. 1994. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Cetakan Keenam. Jakarta: LP3ES.
Engineer, Asghar Ali. 2000. Devolusi Negara Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS.
Hillenbrand, Carole. 1999. The Crusade: Islamic Perspectives. Edinburgh: Edinburgh University Press.
Marewo, N. 1995. Lambo. Yogyakarta: Bentang Budaya.
Shihab, M. Quraish. 2011. Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. dalam Sorotan al-Qur’an dan Hadits-Hadits Shahih. Jakarta: Lentera Hati.
Viviano, Frank. 2005. “Armada Raksasa dari Timur”. National Geographic Indonesia, Juli 2005.
Tulisan ini dimuat di Jurnal 'Anil Islam, Volume 4, Nomor 2, Desember 2011, terbitan Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Read More..






