Friday 20 April 2012

Menyelamatkan Otak Kanan


Sejak tahun pelajaran 2011/2012 ini, saya membuat sedikit perubahan dalam cara mengajar saya di kelas. Pertama, saya kerap memutar lagu-lagu instrumental di ruang kelas. Lagu-lagu itu saya putar dari telepon genggam yang saya bawa dengan bantuan pengeras suara portable. Kadang-kadang, lagu-lagu itu diputar dari laptop yang saya gunakan di ruang kelas.

Lagu instrumental yang saya putar bermacam-macam. Kadang musik klasik, seperti Beethoven, Bach, Mozart, atau Vivaldi. Kadang Kenny G, Richard Clayderman, Spyro Gyra, Secret Garden, atau favorit saya, Joe Satriani.

Hal lainnya baru dimulai semester ini. Sejak awal tahun 2012 ini, jika memungkinkan, saya menulis di papan dengan menggunakan spidol warna-warni: hitam, biru, merah, dan hijau. Dari sekolah tempat saya mengajar, biasanya hanya disediakan spidol warna hitam. Spidol warna-warni saya beli sendiri. Spidol warna-warni ini tak cukup mudah saya dapatkan. Spidol boardmarker biru dan merah tak saya temukan di Guluk-Guluk. Saya belinya di sebuah toko di Sumenep. Yang terakhir, warna hijau, baru saya dapatkan beberapa waktu yang lalu dengan memesan ke Yogyakarta.

Ada apa dengan musik instrumental dan spidol warna-warni? Belum lama ini beberapa mahasiswa di kelas Logika di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) bertanya kepada saya perihal musik dan spidol warna-warni itu. Secara spontan ketika itu saya menjawab: “Saya menggunakannya untuk menyelamatkan otak kanan.”

Menyelamatkan otak kanan? Aha, rupanya pertanyaan mahasiswa tersebut telah membantu memancing otak saya untuk menemukan frasa yang kemudian menjadi judul tulisan ini—ya, pertanyaan itu berperan besar dalam melahirkan tulisan ini. Sebelumnya, saya tak membayangkan formula kata-kata tersebut sebagai jawaban atau latar belakang dari musik instrumental dan spidol warna-warni itu. Namun begitu, memang demikianlah adanya: saya pikir musik instrumental dan spidol warna-warni itu akan membantu murid di kelas untuk menyelamatkan otak kanan.

Saya menjelaskan kepada si penanya apa yang saya maksudkan dengan menyelamatkan otak kanan. Menurut saya, sistem pendidikan dan cara belajar kebanyakan kita selama ini cenderung terlalu terpaku pada potensi otak kiri saja. Karena itu, saya mencoba untuk mengimbangi penguasaan otak kiri di dunia pendidikan itu dengan musik instrumental dan spidol warna-warni.

Sebagaimana jamak diketahui, otak kiri berurusan dengan logika, angka, urutan, pola pikir linear, dan semacamnya. Sedangkan otak kanan berkaitan dengan imajinasi, kesadaran holistik, kesadaran seni, warna, dan sebagainya.

Sekarang, coba perhatikan hal-hal yang berkaitan dengan dunia pendidikan kita di sekolah. Buku pelajaran di sekolah nyaris semuanya disajikan dengan kering dan kaku. Cara siswa mencatat pun dari dulu masih tak jauh berbeda: kalimat-kalimat deskripsi atau eksposisi, dan semacamnya.

Penyajian bahan pembelajaran dan cara pencatatan yang kering dan kaku selama ini pada tingkat tertentu tampaknya telah cukup berhasil memenjarakan otak kanan. Akibatnya, sisi kreatif peserta didik kurang menemukan tempat untuk berkembang.

Penjara otak kiri yang bercorak positivistik tergambar melalui sebuah permainan yang sebenarnya cukup populer yang beberapa kali telah saya ujicobakan di kelas: sembilan titik yang membentuk kubus terdiri dari tiga baris mendatar dan menurun, lalu murid diminta untuk membuat empat garis lurus tak terputus dan harus bisa mengenai kesembilan titik tersebut. Menghadapi permainan semacam ini, pikiran murid-murid sering kali terpenjara dengan titik terluar yang membentuk kubus tersebut. Akibatnya, mereka kesulitan untuk memecahkan permainan ini.


Potensi otak kanan untuk berkembang bukan hanya dihadang oleh bahan dan penyajian kegiatan pembelajaran maupun cara pencatatan. Dalam kehidupan masyarakat kita yang lebih luas, penghargaan terhadap otak kiri cenderung lebih besar. Sedang penghargaan terhadap prestasi otak kanan masih kurang. Seorang kiai muda dan guru di Gapura yang aktif sekali menulis di blog, A. Dardiri Zubairi, pernah mencatat kurangnya penghargaan pemerintah daerah Sumenep atas prestasi di bidang sastra dibandingkan dengan bidang lain yang mengandalkan otak kiri—dan tampaknya ini bisa jadi bukan hanya terjadi di Sumenep saja. Sudah sering terjadi, murid yang berprestasi di bidang matematika atau bidang sains lainnya diberi apresiasi yang begitu meriah. Ini tak berlaku bagi murid yang punya kelebihan di bidang yang berbasis otak kanan, seperti bidang sastra.

Apa yang bisa dilakukan menghadapi ancaman terus terbatasnya ruang otak kanan di dunia pendidikan kita? Banyak hal yang bisa dilakukan. Bisa bersifat mendasar, sistematis, maupun massal. Sementara ini, di ruang kelas saya melakukannya dengan musik instrumental dan spidol warna-warni. Musik instrumental dan spidol warna-warni itu saya pikir adalah salah satu media sederhana yang tampaknya dapat merangsang otak kanan untuk berbiak dan memperkuat jejaringnya.

Kepada mahasiswa mata kuliah Logika saya katakan bahwa pelajaran Logika berpihak pada otak kiri. Karena itu, mengimbangi dominasi otak kiri dengan musik instrumental dan spidol warna-warni mungkin merupakan langkah sederhana yang patut untuk dicoba dilakukan.

Selebihnya, saya sepenuhnya sadar bahwa masih perlu dilakukan upaya-upaya lain yang lebih luas, mendasar, dan berkelanjutan untuk memberi ruang yang lebih lapang bagi otak kanan ini—ruang bagi kreativitas dan imajinasi. Musik instrumental dan spidol warna-warni mungkin hanya semacam balatentara yang pasti membutuhkan panglima yang memberi arahan dan taktik strategis.

Namun, kalaupun belum ada panglima, musik dan spidol warna-warni harus terus berjalan. Karena jika kita terus membiarkan otak kanan terpenjara maka sebenarnya, meminjam kata-kata Tony Buzan, kita telah melawan cara kerja alamiah otak. Jika demikian adanya, kita tidak saja akan mengalami hambatan yang berkepanjangan dalam belajar, bahkan mungkin saja sisi dan nilai kemanusiaan kita tak akan melangkah sempurna.

9 komentar:

Megi Tristisan said...

heheheh, bener juga mas setelah di pikir2... salam kenal mas dari saya.

M Mushthafa said...

Megi, terima kasiha atas kunjungan dan komentarnya. Salam kenal juga dari saya.

rampak naong said...

he..he...selamat balik ke dunia lama..(ngeblog tanpa lelah)..soal otak kanan, saya akan melakukannya cara jenengan yang meski sederhana tapi pasti ada manfaatnya

Chacings said...

Wow..Spidolnya Merk Snowman..

M Mushthafa said...

@K Dardiri: terima kasih atas kunjungan dan komentarnya. Saya kembali menulis banyak terinspirasi oleh blog Panjenengan yang luar biasa.
@Chacings: ya, bukan merk hanoman. tampaknya di pasaran adanya hanya itu.

Pangapora said...

Kalau merk batman, pasti saya ikutan pesan ke Jogja :D Suka sekali tulisan ini. Kerennn.... Jadi semangat ingin mengajar :-) Tapi mengapa tidak ada unsur "Blackmore's" nya?

M Mushthafa said...

@Pangapora: ayo pulang, murid-murid sudah merindukan..
Blackmore's? adanya cuma blackboard..

adib said...

salam kanan:)

M Mushthafa said...

Adib, terima kasih. Salam kanan juga. Kanan-kiri oke :-)