Rabu, 19 Maret 2008

Matahari Tak Pernah Gerhana

Entah mengapa, tiba-tiba pikiran ini datang tadi lewat tengah malam . Aku baru sadar, bahwa sebenarnya matahari itu tak pernah gerhana. Matahari tak pernah berhenti mencurahkan cahayanya walau sekejap. Para ilmuwan memperkenalkan istilah “gerhana matahari” hanya dalam pengertian teknis belaka. Gerhana matahari, demikian kata para ilmuwan, terjadi manakala bayangan bulan menghalangi cahaya matahari karena ia lurus sejajar ke arah belahan bumi tertentu. Gerhana matahari total terjadi ketika bayangan bulan yang menghalangi matahari benar-benar sejajar ke arah bumi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa gerhana matahari adalah gambaran keterbatasan sudut pandang manusia yang tak bisa menangkap wujud cahaya matahari karena kondisi tertentu yang menghalanginya, yakni posisi bulan dengan bayangannya yang sejajar.

Benar, Yulis, matahari sesungguhnya tak pernah gerhana. Kalaupun ia harus disebut gerhana, bahkan gerhana total, konon kata para ilmuwan itu berlangsung tak lebih dari delapan menit saja. Dengan kata lain, sungguh sebentar.

Yulis... Jika aku harus tampak gerhana, yakinlah bahwa itu hanya pertanda dari keterbatasanku saja—juga keterbatasan kita semua. Jauh di atas sana, cahaya matahariku sejatinya tetap tersorot bersama lantunan doa.

Read More..

Kamis, 06 Maret 2008

Gagasan Subversif

Berhentilah berpikir sejenak. Jangan terus-terusan berpikir. Kau perlu memilah terlebih dahulu, mana gagasan yang layak untuk dikembangkan, dan mana gagasan yang perlu dikarantina dan dijinakkan terlebih dahulu. Kau sudah tahu, sejak dahulu kala, banyak orang yang gentar dengan gagasan. Kau ingat Sokrates? Dia dihukum mati karena gagasannya konon dianggap meracuni para pemuda Athena. Konon, ada juga orang yang bunuh diri karena terlalu serius menanggapi gagasan tertentu.

Berhentilah berpikir sejenak. Jangan terus berpikir. Gagasan subversifmu disimpan saja terlebih dahulu. Tak ada gunanya mengembangkan gagasan subversifmu menjadi penggalan kisah, surat, pesan pendek, atau bahkan mungkin catatan harian. Kau tahu, gagasan subversifmu itu bisa membunuhmu, atau membunuh kebahagiaan dan masa depan orang lain. Gagasan picik telah terlalu lama menguasai dirimu. Aku tahu siasatmu. Jangan kira kau bisa meredakan semuanya dengan gagasan kerdilmu. Jangan kira dengan begitu kau bisa sok jadi pahlawan!

Jangan kau kira gagasan subversif itu selalu bisa melahirkan transformasi atau bahkan revolusi. Kau tahu, gagasan subversifmu itu sama sekali tak transformatif atau revolusioner. Gagasan subversifmu itu tak hanya akan membuatmu jalan di tempat. Gagasan subversifmu akan mengurung dirimu dalam lingkaran yang sempurna—kau tak akan bisa ke mana-mana.

Kemarilah. Tatap mataku. Aku ingin tahu, apa yang sebenarnya kau inginkan? Sudah, diam saja, jangan lagi berpikir seperti itu! Jangan hiraukan gagasan subversifmu. Jangan kau beri nafas pikiran setanmu. Tetaplah menjadi matahari!

Read More..

Jumat, 29 Februari 2008

Di Jalanan Kota London

Yulis, semalam Candice datang kepadaku, mengajakku berkeliling jalanan kota London. Candice datang kepadaku dengan kereta indah dari Abad Renaisans. “Mari, bersamaku ke Renaisans, menyusuri jalanan kota London,” katanya dengan senyuman, sambil mengulurkan tangannya dari atas kereta. Aku terpana melihat pakaiannya, seperti juga pakaian yang dikenakan oleh sais kereta. Hitam-hitam dan longgar, dengan topi lebar yang juga hitam. Aku jadi teringat dengan sosok penyihir yang digambarkan di cerita-cerita lama. Tapi kupikir, penyihir tak naik kereta—mereka naik sapu ajaib. Rambut keemasan Candice yang terurai indah terlihat serasi dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Tapi pasti, tatapan matanya tak seindah tatapanmu, Yulis.

Kereta yang ditarik dua kuda berkulit cokelat pekat itu berjalan pelan. Tak ada goncangan kasar. Kereta berjalan seperti diiringi petikan irama gitar klasik yang terasa lembut. Pelan-pelan, London Renaisans membentang. Yulis, jangan kau bayangkan jalanan kota London seperti sekarang. Di sepanjang perjalanan, tak satu pun aku melewati markas klub sepak bola, atau pusat-pusat perbelanjaan raksasa.

Tak ada jejak industri. Bahkan aku tak diajaknya berkeliling di antara benih-benih cerobong kapitalisme industri modern. Candice justru membawaku ke sudut-sudut kota yang mengesankan. Tempat-tempat biasa, dan bukan tempat istimewa, tetapi menyimpan ruh dan pesan yang kuat.

Entah kenapa, Yulis, Candice pertama membawaku ke sebuah tempat yang sepertinya merupakan komplek pasar tua yang baru saja ditutup. Bekas-bekas orang berjualan tak begitu kelihatan. Seorang tua renta tampak berjalan gontai dengan tangan di pinggang. Sepatunya yang lusuh seperti mengisyaratkan bahwa ia telah menempuh perjalanan yang panjang melintasi batu dan beratus musim—suka dan duka. Wajahnya lesu. Tatapan matanya kuyu. Koran lama yang dipegang dengan tangan kirinya sesekali dikipas-kipaskan. Tapi langkah kakinya kelihatan tetap menyimpan sisa semangat. Seakan ia tahu, bahwa ia tetap harus berjalan ke depan meski dalam cahaya redup senja. Yulis, aku bertanya-tanya, ke manakah ia melangkah? Ke rumahnya? Apakah ada seseorang yang menantinya di tempat yang ia tuju? Apakah ada seseorang yang meresahkannya karena ia tak kunjung pulang?

Sore bergerak perlahan. Malam mulai turun. Jalanan masih cukup ramai. Kami tiba di sudut lain jalanan kota London. Di sudut yang lain itu, seorang perempuan tua tampak berjalan dengan langkah agak terburu. Rambut dan pakaiannya tampak kotor, nyaris seperti kain kasar yang digunakan untuk lap. Kedua tangannya sibuk memegangi dua kantong yang hampir penuh. Di depan sebuah toko makanan, di bawah lampu jalanan yang mulai berpendar lemah, seorang perempuan bermantel bulu binatang menyapanya. Tapi perempuan tua itu seperti tak punya waktu untuk sekadar menjawab sapaan itu. Ia terus saja melangkah dengan lebih bergegas. Mungkin saja ia takut kemalaman. Atau ia tergesa ingin segera memberikan oleh-olehnya kepada anaknya yang sudah menunggu di rumah.

Malam terus merambat hingga mulai larut. Dan hari pun akan segera berganti. Di salah satu alun-alun kota, Candice membawaku ke sebuah kedai yang buka semalaman—semacam angkringan. Alun-alun itu bukan alun-alun utama, tetapi cukup ramai dikunjungi orang, karena suasananya yang menyenangkan. Di malam hari, dua pohon besar yang berdiri kokoh tak terlihat menyeramkan, karena cahaya lampu yang menerangi kawasan alun-alun itu. Di kedai itu, aku kembali bertemu dengan si orang tua tadi sore. Ia duduk sendiri, menikmati secangkir teh. Saat kutatap orang tua itu, ia sedang mengarahkan pandangannya pada bibir cangkir yang ada di hadapannya. Dia menatap lekat-lekat. Cara dia menatap bibir cangkir itu mengesankan seakan dia sedang menatap wajah dunianya yang entah seperti apa sebenarnya. Lama sekali dia terdiam mengarahkan pandangannya. Aku sendiri tak terus berusaha menatapnya. Pandanganku mencoba berputar sekeliling. Namun sesekali aku kembali ke orang tua itu. Sampai akhirnya, ia pun meninggalkan kedai itu lewat tengah malam.

Rupanya Candice tahu bahwa dari tadi aku memerhatikan orang tua itu, yang kemudian menghilang di kegelapan entah ke mana—mungkin menuju pulang sendirian. Tiba-tiba dia berkata, “Jadi, bagaimana kau akan berkata kepadaku bahwa kau sekarang merasa sendiri?” Candice berkata begitu sambil mengarahkan pandangannya ke kegelapan yang menelan tubuh renta itu. “Kuharap, jalanan kota London akan membuatmu mengubah cara berpikirmu. Paling tidak, kau tahu bahwa jalanan masih akan terus membentang, dan, seperti orang tua tadi, ia akan tetap melangkah, dan kemudian pulang, meski lewat tengah malam.” Candice melanjutkan kata-katanya dengan tetap menatap ke kegelapan.

Di kedai itu, di antara jalanan kota London, di kedai yang mengingatkanku pada sebuah kota dan pikiran-pikiranku yang larut bersama malam-malam bersama kedai angkringan, Candice mengajakku untuk menghidupkan kembali harapan. Ya, Yulis, harapan. Harapan yang tak mesti bercerita tentang cahaya matahari, rumah mungil, anak kecil yang berlarian, sawah membentang, dan dedaunan yang menghijau. Harapan tentang hidup yang lebih baik. Tentang cinta yang tetap disimpan bersama doa.


Tulisan ini diinspirasi oleh lagu yang dibawakan oleh Blackmore's Night, "Streets of London", album The Village Lanterne (2006)

Read More..

Selasa, 26 Februari 2008

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pembelajaran

Di gerbang milenium ketiga, peradaban manusia telah maju begitu rupa. Banyak pencapaian yang telah diraih, mulai dari yang sifatnya “nilai-nilai” (penghargaan atas kemanusiaan, kebebasan, hak atas informasi, dan semacamnya) hingga ke penemuan berbagai artefak kebudayaan.


Jauh sebelum penghujung milenium kedua tiba, revolusi teknologi informasi telah merambah ke segenap pelosok bumi. Berbagai perangkat teknologi yang ditemukan telah menghadirkan definisi baru tentang ruang dan waktu. Seiring dengan itu, berbagai proses sosial yang berwujud transformasi terjadi di mana-mana. Istilah yang paling populer untuk menjelaskan situasi ini adalah “globalisasi”. Secara sederhana, globalisasi dapat dipahami sebagai sebuah proses sosial yang meruntuhkan batas-batas, sehingga dunia menjelma sebagai sepetak kampung. Globalisasi bukan semata fenomena ekonomi, tetapi juga menyangkut transformasi ruang dan waktu. Revolusi teknologi informasi dan massifnya intensitas komunikasi tingkat global memungkinkan manusia sekarang ini untuk melangsungkan model interaksi yang lambat laun berubah. Intensifikasi hubungan tingkat dunia ini selanjutnya akan melahirkan pola-pola relasi baru dalam bidang ekonomi, sosial, politik, komunikasi, pola perilaku sehari-hari, dan termasuk relasi antar-individu.


Meminjam cara penggambaran yang dibuat oleh Jean-Francois Lyotard, globalisasi dapat digambarkan demikian: seorang pemuda kampung di pedalaman Madura sedang mengobrol dengan saudaranya yang bekerja di sebuah hotel Amerika di Arab Saudi dengan menggunakan telepon genggam produk Finlandia, simcard yang dimodali oleh perusahaan Malaysia, dengan jasa piranti lunak buatan Australia. Dia sedang memesan jam tangan Swiss, dan sedang dipertimbangkan apa akan dikirim dengan jasa pengiriman perusahaan Belanda atau lewat tetangganya yang akan pulang ke kampung halaman.


Riwayat globalisasi sebagai efek lebih jauh dari berbagai produk teknologi dan sains dapat ditelusuri jauh ke belakang. Adalah filsuf Inggris Francis Bacon (1561-1626) yang mula-mula meneguhkan metodologi ilmiah yang menjadi motor penggerak perkembangan sains, yakni dengan memperkenalkan metode (penalaran) induktif. Dalam paham Bacon, arah kerja filsafat dibalik: daripada mempersoalkan final causes (teleologi), filsafat sebaiknya mulai menyibukkan diri dengan efficient causes (kausalitas). Dari sini, eksprimentasi dan observasi kemudian didaulat sebagai ruh sains. Dan filsafat pun kemudian diberi basis praktis untuk kehidupan sehari-hari, sehingga dari situlah muncul diktum: knowledge is power (pengetahuan adalah kekuasaan).1


Sains atau pengetahuan ilmiah bekerja dengan prinsip keterukuran. Cita-cita sains adalah kehendak untuk memegang kendali kehidupan dengan lebih besar, atau, dalam bahasa Giddens, untuk “membentuk sejarah menurut tujuan kita sendiri”. Dengan pencapaian sains dan teknologi, dunia diharapkan dapat lebih stabil dan tertata. Akan tetapi, kenyataannya, dunia yang hadir saat ini tak seperti yang diperkirakan oleh para pemikir itu. Bukannya menjadi lebih terkendali, dunia saat ini tampaknya menjadi tak terkontrol, menjadi dunia yang lari tunggang langgang (runaway world). Proses globalisasi membentuk corak masyarakat yang penuh risiko. Capaian-capaian ilmu pengetahuan dan teknologi manusia memang telah sanggup mengantarkan manusia pada status ontologis keserbapastian (ontological security). Namun, di sisi lain, berkat iptek pula, manusia dewasa ini terjebak dalam situasi keserbatakpastian, yang merupakan konsekuensi logis yang inheren dari sistem relasi yang diciptakan manusia sendiri (manufactured uncertainties). Relasi manusia dengan alam dan lingkungan, dengan dukungan teknologi industri yang eksploitatif, ternyata melahirkan efek-efek destruktif seperti pemanasan bumi, perusakan lapisan ozon, polusi, dan semacamnya. Risiko yang lahir dari pola-pola relasi itu tak syak lagi akan menjadi ancaman bagi keberadaan hidup manusia itu sendiri.2


Pembicaraan mengenai pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk kegiatan pembelajaran yang belakangan ini marak dilakukan dalam konteks uraian di atas seperti dimaksudkan untuk mengarahkan produk teknologi agar dapat dimanfaatkan dengan baik untuk kepentingan pengembangan pendidikan. Maksudnya, pembicaraan tentang pemanfaatan teknologi informasi untuk pembelajaran sebenarnya berlangsung di atas kesadaran bahwa bagaimanapun fungsi produk teknologi itu dapat saja “lepas kendali” dan justru bergerak di wilayah yang dipandang negatif.


Posisi TIK


Kemudian, di manakah sebenarnya letak fungsi dan peran teknologi dalam aktivitas pembelajaran, khususnya teknologi informasi dan komunikasi? Untuk memahami ini, kita bisa kembali pada pengertian mendasar teknologi, sebagai bagian dari wujud kebudayaan (fisik) manusia. Kata teknologi berasal dari bahasa Yunani, technologia, techne yang berarti ‘keahlian’ dan logia yang berarti ‘pengetahuan’. Dalam pengertian yang sempit, teknologi mengacu pada objek benda yang dipergunakan untuk kemudahan aktivitas manusia, seperti mesin, perkakas, atau perangkat keras. Dalam pengertian yang lebih luas, teknologi dapat meliputi pengertian sistem, organisasi, juga teknik. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan dan kemajuan zaman, pengertian teknologi menjadi semakin meluas, sehingga saat ini teknologi merupakan sebuah konsep yang berkaitan dengan jenis penggunaan dan pengetahuan tentang alat dan keahlian, dan bagaimana ia dapat memberi pengaruh pada kemampuan manusia untuk mengendalikan dan mengubah sesuatu yang ada di sekitarnya.3 Jadi, teknologi adalah semacam perpanjangan tangan manusia untuk dapat memanfaatkan alam dan sesuatu yang ada di sekelilingnya secara lebih maksimal. Dengan demikian, secara sederhana teknologi bertujuan untuk mempermudah pemenuhan kebutuhan manusia.4


Seiring dengan berkembangnya ilmu, yakni dengan semakin bercabangnya berbagai gugus ilmu yang ada menjadi lebih spesifik dan khusus, maka kemudian muncul disiplin teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan dalam pengertian yang sederhana adalah satu sistem yang meliputi alat dan bahan media, organisasi, yang digunakan secara terencana untuk mendukung proses pembelajaran. Seperti halnya teknologi pada umumnya, dalam disiplin ini, teknologi dibahas sedemikian rupa untuk memberikan sesuatu yang baru dan mencerahkan bagi aktivitas pembelajaran. Jadi, bisa disebut, untuk efisiensi dan efektivitas, agar kegiatan pembelajaran menjadi menyenangkan, dan semacamnya. Ada yang menyebutkan beberapa manfaat teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan sebagai berikut: (1) meningkatkan motivasi siswa; (2) digital portofolio efektif dan efisien; (3) menambah wawasan dan cakrawala berpikir; (4) menumbuhkan jiwa kebersamaan; (5) menjadi alat ukur konsep pembelajaran yang kita lakukan dengan sekolah dari negara lain.5


Salah satu manfaat penting yang dapat ditemukan dari penggunaan perangkat teknologi dalam kegiatan pembelajaran adalah soal akses. Teknologi informasi dan komunikasi mempermudah kita untuk mengakses sumber-sumber informasi dan pengetahuan. Internet adalah contoh yang paling mudah dikemukakan. Dengan internet, kita dapat mengakses jutaan sumber informasi yang dibutuhkan dengan sangat mudah. Saat ini, di internet cukup banyak website yang menyediakan bahan-bahan yang sangat menarik untuk ditampilkan dan dipergunakan di ruang pembelajaran di sekolah. Selain itu, fasilitas surat elektronik dan grup diskusi (mailing-list) dapat menjadi media komunikasi yang sangat bermanfaat.


Selain sebagai sumber informasi dan media komunikasi, internet juga dapat berfungsi sebagai media publikasi yang murah, mudah, dan mendunia. Belakangan ini, populer sekali penggunaan fasilitas weblog di internet. Weblog adalah semacam catatan harian yang dapat ditampilkan di internet. Banyak situs yang menyediakan tempat untuk ngeblog, mulai dari Blogger yang merupakan bagian dari Google, atau jurnal di Multiply. Dalam beberapa tahun terakhir ini, beberapa weblog yang cukup populer bahkan telah diterbitkan menjadi buku oleh beberapa penerbit. Salah satu di antaranya adalah karya penulis cilik Abdurrahman Faiz yang berjudul Permen-Permen Cinta Untukmu (DAR Mizan, 2006).


Internet hanya salah contoh dari teknologi informasi dan komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas pembelajaran. Selain itu, sebenarnya banyak piranti lunak (software) yang telah dibuat yang sangat mendukung untuk media pembelajaran, baik produk lokal maupun produk perusahaan sekelas Microsoft. Kita, misalnya, mengenal Microsoft Encarta Encyclopedia, yang sejak edisi terbaru dirilis dengan nama Microsoft Student 2008.


Selain piranti lunak yang sudah jadi, media komputer juga menyediakan berbagai piranti lunak yang sangat membantu dan dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Mulai dari pengolah kata, pengolah data numerik, hingga data visual. Berbagai piranti lunak itu memiliki potensi yang cukup besar untuk dimanfaatkan dan membuat kegiatan pembelajaran lebih mudah, menarik, dan menghibur. Macromedia Flash misalnya, menginspirasi guru untuk menggunakan media animasi flash sebagai media pembelajaran yang lebih menarik dan mudah dicerna.6


Dari Soal Teknis Hingga Mental


Gambaran fasilitas yang disediakan oleh berbagai perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang sangat mendukung untuk kegiatan pembelajaran sungguh sangat memberi harapan bagi model pembelajaran yang lebih baik. Akan tetapi, kenyataannya, pemanfaatan berbagai perangkat teknologi itu tidak semudah yang kita bayangkan. Membayangkan manfaat dan kemudahan yang akan didapat dari teknologi untuk pembelajaran memang terasa indah. Meski demikian, mencoba merancang pemanfaatan teknologi di sekolah akan mengantarkan kita pada sejumlah masalah di lapangan, mulai dari yang sifatnya teknis hingga yang terkait dengan aspek mental (kebudayaan) dalam pengertian yang lebih luas.


Situs www.e-pendidikan.net, misalnya, secara kritis mengajukan beberapa pertanyaan berkaitan dengan internet dan pendidikan.



Internet Masuk Sekolah - Mengapa?

Internet adalah "Alat Bantu", bukan "Solusi Pendidikan" (di tingkat Sekolah). Internet (tanpa bahasa Inggris) sebagai sumber informasi yang sangat terbatas. Bahan pelajaran (dalam bahasa Indonesia) juga sangat sedikit. Kelihatannya kurikulum kita juga tidak berbasis-penelitian, jadi untuk apa Internet di sekolah? Internet di sekolah jelas bukan prioritas kan?


Kutipan di atas mengajukan sejumlah pertanyaan yang bahkan terasa cukup mendasar tentang pemanfaatan internet sebagai media pendukung pembelajaran, yang mungkin juga dapat berlaku pada perangkat teknologi lain pada umumnya. Kemampuan berbahasa Inggris, misalnya, dipertanyakan, karena tanpa itu, internet—dan juga perangkat atau produk teknologi yang lain—akan menjadi kurang maksimal nilai manfaatnya. Seorang teman yang kurang menguasai bahasa Inggris pernah berseloroh kepada saya dengan berkata: “Andai Encarta ada versi bahasa Indonesianya, alangkah enaknya.”


Tenaga kependidikan di Madura pada khususnya tak hanya bermasalah dengan penguasaan bahasa Inggris untuk dapat memaksimalkan perangkat dan produk teknologi untuk pembelajaran—bahkan, di kalangan terdidik semacam mahasiswa, kemampuan berbahasa Inggris masih menjadi masalah yang cukup serius. Para guru di Madura bahkan sebenarnya juga masih cukup bermasalah dengan keterampilan mendasar untuk menggunakan perangkat teknologi komputer. Tak hanya tentang keterampilan praktis, bahkan kadang saya menduga kuat bahwa pemahaman mendasar sebagian kalangan terdidik di Madura terhadap internet masih cukup jauh dari cukup. Salah satu kasus yang cukup sering ditemui adalah ketidakmampuan mereka membedakan antara alamat email dan alamat website, sehingga—menurut cerita seorang kawan—di sebuah papan nama instansi pemerintah daerah di Madura tercantum alamat email yang didahului dengan “www” yang semestinya digunakan dalam alamat website. Ini mungkin dapat dimaklumi, karena menurut Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2003 pengguna internet di Indonesia berjumlah sekitar 8 juta atau 3,6 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Meski untuk tahun 2004 diperkirakan akan bertambah menjadi 12 juta, jumlah ini terbilang masih jauh dari persentase yang signifikan.7


Selain pertanyaan tersebut di atas, situs www.e-pendidikan.net juga mengemukakan data yang menyebutkan bahwa 30 ribu desa di Indonesia belum teraliri listrik.8 Persoalan teknis semacam ini patut menjadi perhatian penting karena listrik adalah basis dan syarat utama dari penggunaan teknologi. Di Madura, atau paling tidak di desa saya (Guluk-Guluk), masalah listrik menjadi masalah yang cukup serius. Tulisan ini saja, misalnya, disusun di antara hari-hari yang penuh dengan pemadaman listrik—mungkin karena cuaca dan angin yang tak cukup bersahabat—sehingga menjadi cukup tersendat, karena sebagian besar data yang dibutuhkan tersimpan dalam bentuk digital di komputer.


Lebih jauh, kutipan di atas sebenarnya juga mempertanyakan arah kurikulum sekolah yang kurang memberi dorongan kepada siswa untuk meneliti dan berkreativitas secara mandiri. Dengan kata lain, mempersoalkan kultur, mentalitas, atau tradisi belajar di kalangan masyarakat Indonesia pada umumnya. Jika mental belajar masih belum kokoh, lalu untuk apa internet akan digunakan?


Masuknya sebuah produk ilmu pengetahuan pada umumnya dan teknologi pada khususnya menuntut keterbukaan sikap kultural masyarakat untuk proses integrasi yang lebih baik. Tanpa integrasi ilmu atau produk teknologi dengan kebudayaan yang menerimanya, maka yang akan muncul adalah gejala disintegrasi antara pengetahuan ilmiah dan sikap ilmiah. Penerapan sebuah teknologi tertentu dalam suatu masyarakat, misalnya, menuntut kedisiplinan yang—secara relatif—tinggi dalam pemanfaatannya, sehingga berlaku kaidah: semakin tinggi suatu jenis teknologi maka semakin kecil kekeliruan yang diizinkan.9


Dalam konteks pembelajaran, kehadiran teknologi informasi dan komunikasi menuntut keterbukaan sikap dan mental dari civitas kependidikan untuk mengubah paradigma atau cara pandang mereka terkait dengan aktivitas kependidikan. Yuyun Estriyanto menyebutkan beberapa perubahan budaya pembelajaran yang patut diperhatikan. Di antara yang disebutkan yang menarik untuk dicermati adalah bahwa, dengan pemanfaatan teknologi, guru tak lagi menjadi satu-satunya sumber otoritas atau sumber informasi, karena teknologi mengubah sumber pengetahuan menjadi tak terbatas. Jadi, guru kadang kemudian lebih berperan sebagai pendamping, pengarah, atau fasilitator.10


Untuk lingkungan pendidikan di Madura, mengubah cara pandang guru untuk dapat bersikap lebih terbuka, dalam pengertian terbuka bahwa dirinya bukan satu-satunya sumber otoritas pengetahuan dalam aktivitas pembelajaran, mungkin dapat dikatakan gampang-gampang susah. Memang, dalam khazanah tradisional pesantren yang lekat di Madura, kerendahan hati atau sikap tawâdhu‘ untuk menempatkan otoritas tertinggi pengetahuan hanya pada Yang Mahatahu sudah menjadi pengetahuan umum dan cukup mentradisi. Bahkan, dalam kitab-kitab karya ulama klasik, selalu ada ungkapan khas “wallahu a‘lam” yang menyiratkan landasan epistemologis sikap semacam ini.11 Akan tetapi, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa karena sekolah formal yang ada secara umum cenderung mengadopsi pendidikan bergaya bank—meminjam istilah Paulo Freire—maka otomatis otoritas pengetahuan nyaris hanya diidentikkan dengan guru. Dalam pendidikan dengan gaya bank, kreativitas siswa kurang diperhatikan. Anak didik diperlakukan sebagai bejana kosong yang diisi pengetahuan oleh para guru. Guru dipandang tahu segalanya, dan murid tidak tahu apa-apa. Guru berbicara, murid mendengarkan. Guru adalah subjek proses belajar dan murid adalah objeknya. Guru memilih bahan dan isi pelajaran dan murid (tanpa diminta pendapatnya) menyesuaikan diri dengan isi pelajaran itu.12


Dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi, dalam masyarakat kita otoritas dan sumber pengetahuan sering kali hanya selalu diidentikkan dengan sekolah. Menurut Ivan Illich, pandangan populer seperti ini sangat bias kapitalis. Sekolah, lanjut Illich, adalah fenomena modern yang lahir seiring dengan perkembangan masyarakat industri kapitalistik. Sekolah lebih menekankan pengajaran menurut kurikulum yang telah dipaket untuk memperoleh sertifikat (ijazah). Sertifikat ini nantinya akan digunakan sebagai alat legitimasi bagi individu untuk memainkan perannya dalam pasar kerja yang tersedia—menjadi sekrup dalam mesin besar kapitalisme. Sekolah justru cenderung berdampak anti-edukasi terhadap masyarakat, karena sekolah lalu diakui sebagai satu-satunya spesialis lembaga pendidikan. Padahal, dalam situasi ini, sekolah adalah lembaga yang dibangun atas dasar anggapan bahwa kegiatan belajar adalah hasil dari kegiatan mengajar. Guru dianggap sebagai pengawas, pengkhotbah, sekaligus ahli terapi untuk memberi petuah-petuah moral. Jadilah guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga berfungsi sebagai ideolog, hakim, dan dokter, yang menentukan masa depan peserta didik.13


Nah, kehadiran teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan pendidikan paling tidak dapat pula berperan membantu mendekonstruksi pandangan tradisional tentang posisi dan otoritas guru serta sekolah seperti tergambar di atas. Dengan demikian, pertanyaannya adalah: apakah secara kultural masyarakat pendidikan kita sudah memiliki kesiapan mental untuk itu?


Persoalan atau tantangan kultural lainnya yang dapat dikemukakan di sini adalah soal ketegasan orientasi pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pembelajaran. Apakah perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang ada akan dapat maksimal dimanfaatkan untuk aktivitas pembelajaran? Lebih tepatnya, siapkah kita mengarahkan optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi tersebut? Apakah internet tidak hanya dijadikan tempat ngobrol, bukan sebagai sumber informasi dan tempat berdiskusi? Berkaitan dengan ini, tak heran jika Onno W. Purbo, praktisi IT terkemuka, menggarisbawahi bahwa internet membutuhkan masyarakat baca-tulis yang kuat. Artinya, butuh kultur belajar yang kuat, untuk dapat memberi hasil yang optimal.14


Salah satu cerminan yang cukup menarik—dan mungkin juga cukup menggelitik—dari pemanfaatan teknologi internet di Indonesia dapat terbaca dari sumber data hasil penelitian ClearCommerse.com, sebuah situs e-security (pengamanan elektronik), yang pada tahun 2000 hingga 2001 melakukan penelitian atas 40.000 ribu pelanggan, 1.137 merchant, dan 6 juta transaksi. Survei tersebut menyatakan bahwa dalam hal fraud atau carder, Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia, di antara Ukraina dan Yugoslavia. Fraud atau carder adalah pelaku transaksi di toko online di internet dengan menggunakan kartu kredit milik orang lain tanpa izin—alias mencuri. Data tersebut menjelaskan bahwa 20 persen transaksi kartu kredit dari Indonesia dilakukan oleh carder—di Amerika kurang dari satu persen.15 Data semacam ini menunjukkan bahwa internet kadang menjadi media yang lepas kendali, yang kurang lebih disebabkan oleh kesiapan mental para penggunanya.


Karena itu, pengarahan yang intensif, terencana, dan menyeluruh perlu sekali dilakukan agar fasilitas teknologi yang ada dapat benar-benar dimanfaatkan untuk kemajuan pendidikan dan peradaban. Salah satu contoh yang cukup menarik dipaparkan di sini adalah bagaimana komunitas SMP Qaryah Thayyibah yang dikelola oleh Ahmad Bahruddin di Salatiga dapat memanfaatkan media internet sebagai pendukung kegiatan belajar. Bahkan, pada tingkat tertentu, membantu mendorong kreativitas anak dalam belajar dan berkarya. Dr. Naswil Idris, dosen komunikasi dan peneliti untuk Asia Pacific Telecommunity yang berpusat di Bangkok menyetarakan komunitas SMP Qaryah Thayyibah di Salatiga dengan tujuh komunitas pengguna internet dan komputer terbaik di dunia. Diceritakan bahwa mula-mula memang ada keraguan untuk memperkenalkan internet kepada siswa yang masih duduk di bangku SLTP, sampai akhirnya dipertimbangkan bahwa sebelum bersentuhan dengan hal-hal yang negatif, siswa diajarkan menggunakan internet untuk belajar dan memperluas wawasan ke sumber informasi yang tak terbatas itu.16 Di antara hasil kreativitas siswa di sana, terbitlah buku hasil penelitian tiga orang siswa SMP Qaryah Thayyibah, yakni Naylul Izza, Fina Af’idatussofa, dan Siti Qona’ah, berjudul Lebih Asyik Tanpa UAN (LKiS, Januari 2007).17


Sikap mental yang masih menjadi persoalan dalam kaitannya dengan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan dapat pula ditemukan dalam kasus proyek-proyek pemerintah. Pada tahun 1996, pemerintah mulai mencanangkan program pengembangan teknologi informasi dan komunikasi bernama Nusantara 21. Sayangnya, proyek prestisius yang pada 1997 mendapatkan bantuan Bank Dunia senilai US$ 34,5 juta itu akhirnya berakhir dengan kegagalan. Dana ratusan juta rupiah menguap hanya untuk membayar para ahli dan hanya menghasilkan konsep yang tertuang dalam buku.18 Setali tiga uang dengan kasus ini, situs www.e-pendidikan.net menyorot beberapa situs pemerintah yang dikelola di bawah Departemen Pendidikan Nasional yang sudah lama sekali tidak diupdate. Contohnya: www.pustekkom.go.id (website Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan), www.perpustakaan.diknas.go.id, dan sebagainya.


Kutipan lainnya dari situs tersebut menulis demikian:


Walapun kita sangat mendukung pelajaran teknologi, kita juga harus menjaga bahwa "teknologi pelajaran", yang hanya sebagai beberapa medium untuk menyampaikan pendidikan dan belum tentu meningkatkan mutu pendidikannya, tidak menjadi fokusnya mamajemen pendidikan sampai merugikan aspek-aspek lain yang betul dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Misalnya, JarDikNas. Salah satu tujuan utama adalah meningkatkan mutu pendidikan lewat informasi yang lebih lengkap. Tetapi kelihatannya informasi mengenai masalah-masalah di lapangan sudah banyak sekali. Termasuk informasi mengenai keadaan di banyak sekolah yang ambruk dan mengancam keamanan anak-anak kita. Kapan masalah-masalah begini akan diatasi?19


Apakah ini berarti bahwa para petinggi kita yang mengurusi soal pendidikan masih bermental proyek, termasuk juga dalam hal yang berkaitan dengan pengembangan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi?


Salah satu contoh lain yang juga bisa dikemukakan di sini adalah maraknya upaya penerapan E-Government di beberapa daerah. Pemerintah Daerah atau instansi pemerintah berlomba meluncurkan situs resmi mereka. Pertanyaannya: apakah upaya seperti itu akan dapat memberi dampak yang terlihat nyata bagi upaya pembangunan? Jika situs atau media internet secara umum dilihat sebagai upaya untuk memudahkan akses, apakah situs semacam itu akan cukup efektif untuk memberi akses kepada masyarakat atas informasi publik dan mempermudah akses mereka untuk menyalurkan aspirasi?20 Onno W. Purbo misalnya mengatakan bahwa dalam kasus semacam ini mungkin yang lebih tepat bukan situs, tetapi email. Buatkan akun email untuk instansi, dan pastikan bahwa email yang masuk akan direspons dengan langkah nyata. Jika seperti ini, baru akan terlihat manfaat kemudahan akses yang diberikan oleh perangkat teknologi.21


Mesin-Hasrat Teknologi


Felix Guattari dan Gilles Deleuze, pemikir Posmodernis, mengemukakan sebuah konsep yang cukup kontekstual untuk diangkat di sini, yakni Mesin Hasrat (Desiring Machine). Mesin Hasrat adalah sebuah mekanisme psikis dalam psikoanalisis yang fungsinya memproduksi dan mereproduksi hasrat, sehingga ia selalu menginginkan sesuatu yang lain.22 Konsep Mesin Hasrat ini rasanya cukup tepat untuk menggambarkan realitas perkembangan teknologi saat ini, yang dalam konteks kerangka pembicaraan tulisan ini akan menjadi semacam tantangan yang harus dijawab dalam upaya optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.


Teknologi, pada tingkat tertentu, telah mencipta dunia tersendiri yang berkembang sedemikian rupa dengan begitu pesat. Gerak laju perkembangan teknologi yang cukup luar biasa ini kurang lebih dapat dilihat sebagai didorong oleh Mesin Hasrat. Dorongan Mesin Hasrat ini mengintensifkan interaksi antara sains dan teknologi. Jika mula-mula sainslah yang melahirkan teknologi, hubungan sains dan teknologi saat ini, menurut Nirwan Dewanto, sudah seperti ayam dan telur.23 Penggambaran yang lebih jelas tentang hal ini dapat dicermati dalam uraian Ignas Kleden atas pemikiran Jurgen Habermas dalam Theory and Practice.


Perkembangan teknik moderen yang kuasiotonom bukan saja berarti bahwa perkembangannya sulit dikendalikan untuk kepentingan manusia, tetapi berarti pula bahwa perkembangan itu sangat sulit dihentikan atau dikurangi kecepatannya. Sebabnya ialah karena ada semacam “etos” dalam kalangan teknisi, bahwa keberhasilan dan prestasi mereka diukur dengan apa yang masih dapat diciptakannya lagi. Efisiensi berubah menjadi nilai. Maka apa yang mungkin secara teoretis, harus pula diwujudkan dan dimanfaatkan secara teknis. Dalam bentuk ekstrimnya ini berarti bahwa perkembangan teknik bukanlah dikendalikan atau ditentukan oleh suatu tujuan yang sekaligus menjadi normanya. Yang terjadi adalah sebaliknya: setiap ditemukan teknik baru, segera diusahakan pula bagaimana teknik tersebut dapat dan harus dipergunakan. Maka terlihatlah suatu etik yang aneh: bukanlah tujuan yang menentukan cara, melainkan cara yang menentukan tujuan.24


Posisi teknologi yang relatif otonom ini pada gilirannya menjadikan produk-produk teknologi sebagai satu bagian yang sulit dipisahkan dari gaya hidup. Ketika masih terhitung langka, pemilik telepon seluler dahulu tak hanya memiliki kemudahan berkomunikasi, tetapi juga dapat memiliki rasa bangga dengan kadar relatif tertentu.25 Saat ini, ketika telepon seluler sudah banyak dimiliki orang, tetap saja terlihat jelas bagaimana telepon seluler kebanyakan lebih sering berada dalam kerangka gaya hidup, bukan pada aspek fungsional. Di sekitar kita, cukup banyak orang yang memiliki perangkat telepon genggam canggih dengan fungsi yang tak maksimal. Sementara si pemakai hanya menggunakan fitur telepon dan pesan pendek, telepon canggihnya sebenarnya tak hanya memiliki fasilitas GRPS, tetapi juga Wi-Fi.


Mesin Hasrat yang diturunkan oleh teknologi juga dapat berbentuk aktivitas ilmiah yang tak terpuji. Hasrat terhadap pengetahuan, atau tepatnya terhadap popularitas ilmiah, terkadang berwujud tindakan plagiarisme. Dengan kemudahan sumber informasi yang tersedia di internet dan kemudahan mengolah data dengan komputer, orang kadang terdorong untuk menggunakan sumber-sumber informasi itu secara kurang jujur. Secara pribadi, saya pernah beberapa kali menemukan praktik plagiarisme yang memanfaatkan jasa mesin pencari di dunia maya (yakni Google). Tentu saja, plagiarisme tak harus menggunakan komputer. Akan tetapi, teknologi menyediakan peluang dan kemudahan yang cukup besar untuk melakukannya.26


Penutup


Pemaparan sekilas dalam tulisan ini sebenarnya berupaya untuk memetakan potensi dan tantangan yang harus dijawab dalam upaya pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran. Berbagai catatan penting yang berusaha diajukan dalam tulisan ini pada dasarnya dapat dilihat sebagai peringatan agar jangan sampai teknologi informasi dan komunikasi dalam kegiatan pembelajaran kemudian berubah menjadi semacam “mitos baru”27 yang diagung-agungkan tetapi kurang memiliki manfaat nyata yang betul-betul sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Era informasi saat ini benar-benar telah melahirkan banjir elektronika, air bah dan apokalipso informasi, yang membutuhkan bahtera penyelamat.28 Wujudnya yang paling tepat mungkin adalah mentalitas dan integritas moral civitas pendidikan dan masyarakat pada umumnya untuk dapat membaca itu semua dalam kerangka kerja peradaban dalam pengertian seluas-luasnya.


WalLâhu a‘lam.


Catatan Kaki

  1. Ignas Kleden, Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan, LP3ES, Jakarta, Cet. II, 1988, hlm. 85-86.
  2. Anthony Giddens, Runaway World: How Globalisation is Reshaping Our Lives, Profile Books, London, 1999, hlm. 1-2, 21-35.
  3. Lebih jauh, baca di Wikipedia, URL = http://en.wikipedia.org/wiki/Technology. Diakses pada 15 Februari 2008. Juga, Raymond H Merritt, “Technology”, Microsoft Student 2008Teknologi mentransformasikan relasi manusia dengan alam sehingga juga ikut mengubah sistem kerja manusia. Lihat, M. Sastrapratedja, “Kebudayaan Ditinjau dari Segi Filsafat”, dalam FX Mudji Sutrisno (Ed.), Manusia dalam Pijar-Pijar Kekayaan Dimensinya, Kanisius, Yogyakarta, 1993, hlm. 92. [DVD], Microsoft Corporation, Redond, WA, 2007.
  4. Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Gramedia, Jakarta, 1996, hlm. 1083-1084.
  5. Jalu Noor Cahyanto, “Pemanfaatan ICT dalam Membangun Jaringan Pembelajaran Internasional”, paper dalam Konferensi Guru Indonesia 2007, Jakarta, 27-28 November 2007.
  6. Lihat, Chusnul Chotimah, “Macromedia Flash sebagai Media Pembelajaran”, Jawa Pos, 21 Januari 2008. Departemen Pendidikan Nasional mengembangkan situs percontohan untuk sistem pembelajaran elektronik yang memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi, misalnya www.sekolahmaya.net. .
  7. International Telecommunication Union (ITU) pada tahun 2003 mengeluarkan data yang sama. Dijelaskan bahwa dengan 8 juta pengguna internet di Indonesia, berarti dalam tiap 10 ribu penduduk, ada 377 pengguna internet. Bandingkan dengan Malaysia yang berpenduduk 25 juta orang lebih, yang memiliki pengguna internet lebih dari 8,5 juta orang. Artinya, dalam tiap 10 ribu orang, ada 3.453 pengguna internet. Gilang Desti Parahita, dkk, “Cerita tentang Proyek Pemerataan Itu”, Jurnal Balairung, Edisi 38, Tahun XIX, 2005, Diterbitkan oleh Badan Penerbitan Pers Mahasiswa UGM Yogyakarta, hlm. 122-123.
  8. Lihat, website Tempo Interaktif 5 September 2007, URL = http://tempointeraktif.com/hg/nasional/2007/09/05/brk,20070905-107001,id.html. Diakses pada 15 Februari 2008. Tentang krisis listrik di Indonesia dalam konteks yang lebih mutakhir, baca berita utama di Kompas, “Sebagian Jawa-Bali Padam: Masyarakat Diminta dengan Sangat Menghemat Pemakaian Listrik”, 21 Februari 2008, dan beberapa hari berikutnya. Menurut Faisal Basri, rasio kelistrikan di Indonesia menunjukkan bahwa hanya sekitar separuh rumah tangga yang beroleh aliran listrik. Bandingkan dengan Vietnam yang sudah 79 persen, Filipina 80 persen, Thailand 84 persen, dan China 99 persen. Di antara 12 negara sekawasan, Indonesia di peringkat 11. Untuk ulasan lebih lengkap, baca tulisan Faisal Basri, “Krisis Listrik”, Kompas, 25 Februari 2008.
  9. Ignas Kleden, Op. Cit., hlm. xxxi-xxxiv.
  10. Yuyun Estriyanto, MT, “Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pembelajaran”, URL = http://mail.uns.ac.id/~yuyunestriyanto. Diakses pada 15 Februari 2008.
  11. Khaled Abou El Fadl, Speaking in God’s Name: Islamic Law, Authority, and Women, Oneworld Publications, Oxford, 2003, hlm. 32-33.
  12. Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, penerjemah, Mansour Fakih, dkk, LP3ES, Jakarta, Cet. III, 2000, hlm. 51-53.
  13. Ivan Illich, Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah, penerjemah: A. Sonny Keraf, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2000, terutama hlm. 1-46.
  14. Wawancara dengan Onno W. Purbo, “Internet Membutuhkan Masyarakat Baca-Tulis”, Jurnal Balairung, Edisi 38, Tahun XIX, 2005, Diterbitkan oleh Badan Penerbitan Pers Mahasiswa UGM Yogyakarta, hlm. 136-143.
  15. Gilang Desti Parahita, dkk, “Menjelajah Dunia dalam sebuah Warung”, Jurnal Balairung, Edisi 38, Tahun XIX, 2005, Diterbitkan oleh Badan Penerbitan Pers Mahasiswa UGM Yogyakarta, hlm. 82-83. Baca juga tulisan Antariksa, “I’m a Thief, Not a Hacker: Indonesia’s Electronic Underground”, Majalah Latitudes, Vol. 06, Juli 2001, PT Teduh Mitra Utama, Denpasar, hlm. 13-17.
  16. A. Zaenurrasyid (Ed.), Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah, LKiS, Yogyakarta, Cetakan Pertama, Januari 2007, hlm. 43-44.
  17. Tentang komunitas Qaryah Thayyibah Salatiga, baca M Mushthafa, “Pendidikan Berbasis Komunitas: Melawan Kapitalisme Pendidikan”, URL = http://rindupulang.blogspot.com/2007/06/pendidikan-berbasis-komunitas-melawan.html.
  18. Gilang Desti Parahita, dkk, “Cerita tentang Proyek Pemerataan Itu”, Op. Cit., hlm. 121-122.
  19. URL = http://e-pendidikan.net/dikotomi.html. Diakses pada 15 Februari 2008.
  20. Sebuah contoh kasus yang lebih dekat dapat dibaca dalam liputan Majalah Kritis Edisi IV, Agustus 2006 (diterbitkan oleh Lembaga Kajian Kritis Sumenep) yang mengangkat masalah E-Government di Sumenep, dengan judul sampul: “G-Online: Tong Kosong Nyaring Bunyinya”.
  21. Wawancara dengan Onno W. Purbo, “Internet Membutuhkan Masyarakat Baca-Tulis”, Jurnal Balairung, Edisi 38, Tahun XIX, 2005, Diterbitkan oleh Badan Penerbitan Pers Mahasiswa UGM Yogyakarta, hlm. 142.
  22. Yasraf Amir Piliang, Sebuah Dunia yang Menakutkan: Mesin-Mesin Kekerasan dalam Jagat Raya Chaos, Mizan, Bandung, Januari 2001, hlm. 18, 101-107.
  23. Nirwan Dewanto, “Kebudayaan Indonesia: Pandangan 1991”, Jurnal Prisma, No. 20, Tahun XX, Oktober 1991, PT Pustaka LP3ES Indonesia, Jakarta, hlm. 15-16.
  24. Ignas Kleden, Op. Cit., hlm. 90.
  25. Nuraini Juliastuti, “The Mobile Phone: A Small Source of Pride”, Majalah Latitudes, Vol. 06, Juli 2001, PT Teduh Mitra Utama, Denpasar, hlm. 74-77.
  26. M Mushthafa, “Vampir Kebudayaan dan Sisi Hitam Dunia Kepenulisan”, Jawa Pos, 4 Desember 2005. Dapat juga dibaca di http://rindupulang.blogspot.com/2006/01/vampir-kebudayaan-dan-sisi-hitam-dunia.html.
  27. Salah satu contoh mutakhir tentang mitos baru dalam dunia pendidikan adalah label “Sekolah Bertaraf Internasional”. Tentang ini, baca rubrik “Pendidikan” di Majalah Tempo, No. 25/XXXVI/13-19 Agustus 2007.
  28. Ivan A Hadar, “Buku dalam Banjir Elektronika”, Kompas, 29 Juli 2000. Tulisan ini memberikan sebuah refleksi yang sangat bagus tentang fenomena kemelimpahan informasi sebagai sebuah masalah kebudayaan.


Tulisan ini dimuat di Jurnal Edukasi, No. 10/2008.


Read More..

Rabu, 23 Januari 2008

Asma Nadia dan Dilema Poligami

Judul buku: Istana Kedua
Penulis: Asma Nadia
Penerbit: Gramedia, Jakarta
Cetakan: Pertama, Agustus 2007
Tebal: 248 halaman


Beberapa bulan terakhir ini, di beberapa koran nasional terjadi perdebatan yang cukup sengit dan panas tentang kecenderungan beberapa sastrawan dalam merepresentasikan perempuan dan seksualitas dalam karya-karya mereka. Ada kalangan yang berdiri di titik ekstrem: menghujat atau membela, dan ada pula yang berusaha menengahi. Karya sastra yang kental dengan tema seksualitas pada tingkat tertentu identik dengan perempuan penulis yang melahirkan karya tersebut.

Polemik tersebut, hingga tingkat tertentu, berpeluang untuk mengabaikan kreativitas dan pergulatan perempuan penulis lainnya yang juga melahirkan karya-karya sastra. Jika sastra bertema seksualitas perempuan oleh beberapa kalangan dipandang sebagai karya yang bernuansa pemberontakan atas pengekangan seksualitas perempuan dalam lingkungan budaya patriarki, maka sebenarnya para perempuan penulis memiliki caranya masing-masing untuk menunjukkan “perlawanannya” terhadap konstruksi budaya yang melingkupinya.

Contohnya bisa ditemukan dalam novel terbaru karya Asma Nadia ini. Dalam novel ini, Asma mengangkat tema poligami dengan memberi penekanan pada segi nasib dan pergulatan perempuan di ruang keluarga.

Kisah dalam novel ini berpusat pada kehidupan sepasang suami istri yang hidup berbahagia, Andika Prasetya dan Arini. Keduanya telah menikah selama sepuluh tahun dan dikaruniai tiga orang anak. Alur cerita dibuka dengan kegundahan Arini. Secara kebetulan ia menemukan informasi mencurigakan yang mengantarkannya pada sebuah nomor telepon. Ketika nomor itu dihubungi, di ujung telepon terdengar suara perempuan yang langsung memperkenalkan diri sebagai “Nyonya Prasetya”.

Kegundahan Arini, yang seorang penulis, dalam novel ini diperkuat oleh guratan nasib yang dialami Lia, teman kosnya ketika kuliah dulu. Dalam sebuah reuni kecil-kecilan, Arini terkejut begitu tahu bahwa Lia telah cerai dengan Benny, suaminya yang mantan aktivis kampus. Menurut Lia, ia menemukan suaminya tidur dengan sekretarisnya di rumah mereka.

Arini menjadi semakin sadar, bahwa laki-laki itu cukup mudah berpaling ke perempuan lain—sesuatu yang membuatnya tak habis mengerti. Saat mencoba berintrospeksi, Arini berkesimpulan bahwa dirinya sudah cukup berbakti kepada suaminya dan memberikan semua yang ia punya. Tapi mengapa diam-diam suaminya membangun istana kedua tanpa sepengetahuan dirinya?

Selain Arini, ada tokoh kunci lain dalam novel ini, yang kemudian diketahui sebagai “Nyonya Prasetya” itu. Ia adalah Mei Rose, seorang gadis berdarah keturunan yang menjalani hidup memilukan bersama tantenya. Di tengah upayanya untuk merajut kehidupannya secara mandiri, Mei beberapa kali ditipu mentah-mentah oleh beberapa orang lelaki, yang salah satunya sampai membuatnya hamil. Dalam rasa putus asanya, ia mencoba bunuh diri. Namun nasib berkata lain. Pada saat kritis itulah Mei bertemu dengan Pras, yang menolongnya dan kemudian mengantarkannya pada mahligai pernikahan.
Kisah dalam novel ini berakhir dengan pertemuan Arini dan Mei. Ada dialog tajam antara keduanya, yang cukup menghentak kesadaran Arini. Mei menggugat Arini, agar Arini bisa maklum dengan nasibnya. Mei mengingatkan bahwa Arini telah mendapatkan banyak hal yang patut disyukuri: orangtua, suami yang baik, anak-anak yang sehat, karier kepenulisan, segalanya. Lalu Mei bercerita tentang kemalangannya, bahwa hal baik yang pernah terjadi pada hidupnya hanyalah kehadiran Pras. Mei menuntut permakluman.

Di halaman-halaman akhir, digambarkan bagaimana perasaan Arini yang sepertinya bisa memberi permakluman untuk Pras dan Mei. Dalam bagian terakhir, digambarkan bagaimana masa depan anak-anaknya menjadi penguat tersendiri bagi Arini untuk menerima garis hidupnya itu.

Dalam novel ini, banyak bagian yang memuat gugatan kritis terhadap praktik poligami. Ada bagian yang mencoba menelanjangi dalih kaum laki-laki yang beralasan poligami dalam rangka mengikuti sunah Nabi, sementara dalam praktiknya mereka kurang menghargai istri pertama dan anak-anaknya. Lagi pula, mengapa teladan kehidupan Nabi yang dicontoh adalah episode poligami Nabi, padahal Nabi menjalin rumah tangga hanya bersama seorang istri, Khadijah, selama 28 tahun? Kaum lelaki kadang juga berdalih menikahi istri keduanya untuk alasan menolong, dan demi mendidik istri pertama mereka untuk belajar ikhlas dan mendapatkan tiket yang semakin mudah menuju surga!

Akan tetapi, berbagai gugatan atas poligami yang diangkat Asma dalam novel ini menjadi agak dilematis. Alur novel ini pada akhirnya memang seperti memberi permakluman untuk pilihan poligami Pras—dan Arini juga menerimanya. Mei yang mualaf; Mei yang tak punya siapa-siapa; Mei yang memilukan; semuanya seperti dibuat sebagai alasan untuk memaafkan kasus poligami Pras. Alur dalam novel ini seperti hendak mengatakan bahwa kasus poligami Pras adalah “aturan main yang ditetapkan Tuhan”, atau sebuah “takdir”. Mungkin dapat dikatakan bahwa sepertinya Asma ingin mengantarkan akhir kisah ini dalam sebuah happy ending, dengan plot yang diatur sedemikian rupa. Meski arahnya cenderung demikian, dalam novel ini kita dapat merasakan bahwa Asma juga merasa wajib memberi catatan-catatan kritis atas praktik poligami yang ada selama ini.

Dari sini pembaca dapat memahami dan membaca secara implisit “batas-batas wacana” yang hendak ditegaskan Asma dalam masalah poligami ini. Seperti juga di salah satu bagian novel ini yang menggambarkan pengandaian Arini yang merasa jijik bila berhubungan badan dengan suaminya—karena mengetahui suaminya yang berpoligami—tetapi akhirnya Arini tak bisa menggugat lebih jauh karena ada teks hadis yang menyatakan bahwa Allah dan malaikat mengutuk istri yang menolak suaminya dalam masalah itu.

Banyak hal lain yang bisa digali dan didiskusikan lebih lanjut dari novel yang ditulis oleh penulis berbakat yang saat ini menjadi CEO Lingkar Pena Publishing House ini. Terlepas dari pro dan kontra masalah poligami dan “pesan” yang berusaha disampaikan, novel ini telah memperkaya perspektif perempuan dalam membaca masalah poligami. Dan itu menegaskan bahwa perempuan penulis di Indonesia tak hanya bisa menggugat budaya patriarki dengan mengeksplorasi tema seksualitas, tetapi bisa juga berangkat dari tema yang lain yang sebenarnya juga masih cukup kaya dan bernilai penting untuk terus digali.




Read More..

Selasa, 18 Desember 2007

Asma Nadia tentang Poligami dan Perselingkuhan

Judul buku: Catatan Hati Seorang Istri
Penulis: Asma Nadia
Penerbit: Lingkar Pena, Depok
Cetakan: Pertama, Mei 2007
Tebal: xii + 212 halaman

Dalam beberapa tahun terakhir, melalui tayangan televisi dan media, masyarakat kita semakin akrab dengan isu poligami dan perselingkuhan. Tema poligami kembali populer ketika ada sejumlah tokoh nasional yang menjadi kontroversial karena kasus poligami, dengan bumbu pro-kontra yang kemudian juga difasilitasi oleh media. Tema perselingkuhan pada tingkat tertentu, dengan cara yang cukup unik, menyebar melalui dunia hiburan dan selebriti. Ada yang mengatakan bahwa perselingkuhan kini sudah menjadi gaya hidup. Tayangan televisi yang hampir setiap hari tak luput mengabarkan kabar buruk tentang retaknya keluarga seorang selebriti belakangan ini memperkuat hal tersebut. Di bagian yang lain, akhir-akhir ini kita menemukan cukup banyak lagu yang digubah dan kemudian populer yang mengisahkan tema perselingkuhan. Pokok soal menarik yang patut disorot dalam dua persoalan ini adalah nasib perempuan berhadapan dengan situasi semacam itu. Bagaimana perempuan di sana?

Buku karya Asma Nadia ini menghadirkan potret pergulatan perempuan dengan kedua persoalan tersebut. Buku ini menyajikan kumpulan jejak pengalaman perempuan, terutama dalam kehidupan berkeluarga, yang sarat dengan kekerasan dan tragedi. Dalam kata pengantarnya, Asma mengatakan bahwa buku ini adalah rekaman perjalanannya sebagai perempuan, istri dan ibu, dan juga pengalaman, dialog hati, pertanyaan dan ketidakmengertiannya tentang isi kepala dan sikap laki-laki.

Memang tak berlebihan jika Asma menggunakan istilah seperti itu. Dalam buku ini, melalui banyak kisah, muncul sikap dan perilaku laki-laki yang tak menghargai perempuan—bahkan perempuan yang disebutnya sebagai istri. Simak saja kisah Amini, ibu dan tiga orang anak yang sudah menikah selama tujuh belas tahun. Suaminya, Arief, yang dari awal pernikahan sudah tampak sangat baik dan bertanggung jawab dalam memperhatikan keluarga, tiba-tiba diketahui menjalin hubungan dengan Dian, adik dari teman Amini. Memang, di akhir kisah Amini dan Arief tetap bisa bertahan, dengan permaafan dan kebesaran hati Amini yang cukup luar biasa, sehingga Dian tak sampai menjadi penyebab perceraian mereka dan melepas Arief.

Ada lagi kisah Safitri, dengan suaminya yang sangat baik dan telah hidup berbahagia dengan pernikahannya selama lima belas tahun dan telah dikaruniai tiga orang anak. Suatu hari, tanpa sengaja, Safitri menemukan nama aneh di buku telepon suaminya: Spongebob. Safitri heran. Suaminya itu tipe lelaki serius, pendiam, dan sangat dewasa. Mengapa sampai ada kontak dengan nama tokoh kartun itu? Safitri sangat terpukul ketika dengan tenang dia mengklarifikasi masalah itu kepada suaminya, sehingga muncul pengakuan bahwa suaminya yang rajin beribadah itu telah menjalin hubungan khusus dengan “Spongebob” selama tiga tahun. Safitri menulis bahwa sejak itu ia merasa sulit membangun kepercayaan bersama suaminya.

Kisah-kisah lain yang diungkap dalam buku ini tak banyak beranjak dari penuturan soal kekerasan psikis terhadap perempuan—yang dalam istilah lain populer dengan sebutan Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau KDRT. Ada kisah tentang suami yang ketahuan selingkuh dengan baby sitter-nya. Tragedi Nejla Humaira mengisahkan kesuksesan kariernya di dunia kerja, sementara suaminya yang sudah sepuluh tahun dinikahinya hanya menguras hasil kerjanya sambil berselingkuh dengan karyawatinya. Langkah cerai pun diambil, dengan tekanan batin yang sangat menyedihkan Nejla. Dan Nejla pun menjadi single parent, membesarkan anak-anaknya dengan keteguhan, kegigihan, kesabaran, dan penuh kasih sayang.

Simpul utama kisah-kisah dalam buku ini menegaskan bahwa perselingkuhan, bagaimanapun, hanya akan menghancurkan ikatan suci yang dibina dalam keluarga. Rasa saling percaya yang menjadi fondasi bahtera keluarga tercederai. Seorang perempuan sangat paham dan sangat menghayati arti kepercayaan, sehingga begitu ia dilanggar, maka ia menjadi sulit untuk dipulihkan. Perselingkuhan menghancurkan keluarga tak hanya dengan merusak rasa kepercayaan, tetapi juga dengan aspek kekerasan yang diam-diam terjadi di sana. Kekerasan itu bisa berwujud kekerasan psikis hingga fisik. Dan eskalasinya dapat meluas hingga ke tingkat keluarga, yang meliputi anak atau anggota keluarga besar lainnya.

Kelebihan buku ini terletak pada pertanyaan-pertanyaan mendasar yang diajukan terhadap kaum laki-laki atas berbagai bentuk kekerasan yang dilakukan—sadar maupun tidak, diakui atau tidak—terhadap perempuan. Pertanyaan tersebut mengusik pola relasi kemanusiaan yang selama ini terjalin antara laki-laki dan perempuan, dalam ruang keluarga pada khususnya dan ranah sosial pada umumnya. Pertanyaan yang dimunculkan Asma beberapa tampak cukup reflektif dan fundamental, seperti dalam kisah Pak Haris, seorang pemimpin penerbitan di Solo, yang berkisah tentang poligami. Dalam potongan pembicaraan Asma dan Pak Haris tentang poligami, muncul pernyataan yang cukup menohok dari Pak Haris: kebahagiaan dengan istri kedua belum tentu, sementara luka hati istri pertama sudah pasti dan abadi. Jadi, lanjut Pak Haris dengan sebuah pertanyaan retoris yang cukup tajam, “bagaimana saya melakukan sebuah tindakan untuk keuntungan yang tidak pasti, dengan mengambil resiko yang kerusakannya pasti dan permanen?”

Eksplorasi Asma tentang tema poligami juga menjangkau wilayah agama. Asma memang tak mencoba masuk ke wilayah panas yang mendiskusikan hukum poligami dari perspektif agama (Islam), seperti yang sempat ramai dibicarakan belakangan ini. Dalam sebuah tulisannya di buku ini, Asma memunculkan sebuah pertanyaan tajam yang cukup menyindir: “tetapi apakah dimadu dan menjadi istri tua, merupakan jalan satu-satunya untuk mendekatkan perempuan pada surga?” Dalam tulisannya ini Asma menunjukkan bagaimana dalam praktiknya para lelaki—yang konon beralasan menikah lagi dalam rangka mengikuti sunnah Nabi—kurang memberi penghargaan yang pantas kepada istri pertama mereka dan melupakan jasa besar serta pengorbanan si istri pertamanya.

Dalam tulisan terakhir di buku ini, Asma secara tidak langsung mencoba menghadirkan potret kesetiaan laki-laki melalui kisah Aba Agil, seorang tokoh terkemuka di Ambon yang tak mau menikah lagi setelah istrinya meninggal, meski anak-anaknya mendorong untuk itu. Ada nada kagum dan bangga yang tertuang dari pemaparan Asma—seperti yang juga tergambar dari benak anak-anaknya.

Kisah-kisah dalam buku ini dapat dilihat sebagai semacam dokumentasi pengalaman perempuan dalam pergaulan mereka di ruang keluarga dan masyarakat dalam konteks sosial saat ini. Yang menarik, Asma membidik persoalan itu dari perspektif perempuan, yakni dari sudut pandang yang menempatkan perempuan sebagai subjek yang berbicara untuk kepentingan mereka. Dengan demikian, pembaca buku ini dapat ikut berempati dengan perasaan, gejolak, dan nasib perempuan dalam setiap pengalaman yang tersaji itu. Memang Asma tidak hanya menceritakan kisah pergulatannya sendiri, tetapi menghimpun pengalaman dan pertemuannya dengan banyak perempuan lain. Buku yang cetak ulang dalam waktu dua pekan sejak penerbitannya yang pertama ini memperkaya diskusi tentang perempuan dan keluarga dalam masyarakat Indonesia, dan yang lebih penting lagi, dengan cukup tegas menghadirkan suara perempuan dengan penuh empati dan menggugah.

* Tulisan ini dimuat di Jurnal Perempuan No 56/2007.

Read More..

Minggu, 18 November 2007

Catatan Harian dan Mukjizat Bahasa


Banyak hal istimewa yang bisa ditemukan dari sebuah catatan harian. Dalam khazanah buku Indonesia, paling tidak ada dua buku catatan harian yang cukup legendaris dan inspiratif, yaitu catatan harian Ahmad Wahib (1942-1973) yang diterbitkan LP3ES dengan judul Pergolakan Pemikiran Islam, dan catatan harian Soe Hok Gie (1942-1969) yang juga diterbitkan LP3ES dengan judul Catatan Seorang Demonstran.

Kedua catatan harian ini ditulis oleh orang-orang yang kemudian ditahbiskan sebagai sosok revolusioner pada zamannya. Lalu bagaimana jika catatan harian ditulis oleh “orang biasa”, seperti anak-anak sekolah tingkat SLTA?

Itulah yang dikisahkan film Freedom Writers (2007). Film yang diangkat dari kisah nyata ini menceritakan perjalanan Erin Gruwell (dalam film ini diperankan oleh Hilary Swank), seorang guru bahasa Inggris di Woodrow Wilson High School Long Beach California, dalam mendidik murid-muridnya yang susah diatur. Gruwell yang mulai mengajar di situ pada tahun 1994, baru lulus dari University of California, dan baru berusia 25 tahun, harus berhadapan dengan murid-murid yang hidup dalam iklim sentimen rasial yang cukup tinggi, akrab dengan geng anak muda berandalan, narkoba, senjata api, dan juga penjara.

Menghadapi situasi kelas yang seperti itu, Erin Gruwell tak bisa bersikap sebagaimana guru kurikulum—guru yang tunduk melahap menu kurikulum dan menuangkannya begitu saja ke kepala murid-muridnya. Ia mengajak murid-muridnya berpikir kreatif, dengan memberi inspirasi untuk menemukan potensi diri mereka masing-masing.

Bekal inspirasi yang diberikan Gruwell untuk murid-muridnya yang bengal dan oleh birokrasi sekolah dipandang sebagai anak bodoh yang tak mencintai pendidikan dan tak dapat diajar itu bertolak dari catatan harian. Gruwell memberi mereka buku Anne Frank: The Diary of a Young Girl, sebuah buku catatan harian yang ditulis oleh seorang gadis remaja korban Holocaust. Juga catatan harian Zlata Filipovic, Zlata’s Diary: A Child’s Life in Sarajevo. Lambat laun, buku-buku ini bisa membuat murid-muridnya itu merasa terhubung dengan orang lain dalam penggalan sejarah dunia. Sekat geng dan ras di kelas mulai mencair. Toleransi dan empati mulai bersemi.

Gruwell kemudian memberi mereka buku tulis untuk dijadikan catatan harian. Hasilnya, murid-muridnya itu semua aktif mengisi catatan harian mereka. Gruwell menemukan beragam kisah di sana. Tentang geng, imigrasi, kekerasan, kesewenangan, obat-obatan terlarang, kegundahan, cinta anak muda, perceraian, bunuh diri, dan sebagainya. Dalam catatan harian, murid-muridnya itu seperti menemukan ruang bebas untuk berekspresi tanpa takut akan dihakimi. Di antara muridnya ada yang menulis, bahwa menulis catatan harian bagi mereka kemudian menjadi sebentuk ekspresi diri yang kuat dan mampu membantu mereka untuk memaknai masa lalu dan menyemai harapan di masa depan. Catatan harian kemudian menjadi semacam tempat singgah yang dapat menenteramkan para remaja yang gelisah itu. Mereka seakan-akan mulai menyalakan lilin kecil dalam kamar gelap mereka masing-masing.

Catatan harian memang menyimpan mukjizat bahasa yang cukup luar biasa. Dalam catatan harian, bahasa tak hanya diperlakukan sebagai media untuk membantu terlaksananya kehidupan sehari-hari, seperti untuk berkomunikasi dalam pengertian yang paling sederhana, atau untuk memantapkan profesi. Dalam catatan harian, bahasa juga berperan sebagai alat untuk mengembangkan dan mengenali diri, hingga akhirnya si penulis menemukan perspektif baru untuk kemudian mentransformasikan dirinya. Menulis catatan harian membantu memperkuat intensitas keintiman seseorang dalam merefleksikan pengalaman dan dunia di sekitarnya. Dari perspektif Heideggerian, dalam catatan harian bahasa betul-betul dipersepsikan sebagai “rumah sang Ada”, yang diolah dan dijelajahi bersama-sama dengan proses pembaruan dan penyusunan definisi diri, nilai-nilai, serta relasi dengan dunia. Bahasa kemudian berada pada aras eksistensi.

Sayangnya, tak cukup banyak guru bahasa Indonesia di negeri ini yang mencoba untuk menjadikan pelajaran bahasa sebagai media untuk mengeksplorasi kekayaan bahasa serta untuk mengembangkan martabat dan mutu kehidupan melalui media catatan harian. Riris K Toha-Sarumpaet (Kompas, 5/5/2003) mencatat bahwa pendidikan bahasa di Indonesia masih menganut konsep perbankan, karena ujian direkayasa hanya untuk menguji apa yang didepositokan guru kepada muridnya, atau apa yang dikunyah dan dihafalkan. Model pembelajaran bahasa yang dominan cenderung berpusat pada aspek ketatabahasaan dalam pengertian yang sempit, yakni dalam fungsi deskriptif saja, sehingga menciutkan fungsinya pada tataran yang bersifat instrumental belaka, dan dengan demikian juga berarti mendistorsi pengertian tentang “dunia” dan “eksistensi” (Sugiharto, 1996: 90). Bahasa tidak diletakkan dalam konteks dan kerangka peradaban yang lebih luas, yang dapat mengantarkan peserta didik baik untuk menemukan jati dirinya maupun untuk secara kritis membaca dunia.

Belum banyak upaya serius yang dilakukan agar dalam pendidikan bahasa siswa dapat menjadi subjek yang berbicara dan mengeskpresikan diri, seperti yang dapat kita saksikan dalam kisah Erin Gruwell yang kini bergiat mengembangkan aktivitas kepenulisan dan kependidikan di Freedom Writers Foundation itu. Dalam kisah Gruwell kita menemukan bagaimana catatan harian dan mukjizat bahasa dapat mengubah karakter dan cara pandang anak-anak muda terhadap dunia di sekitarnya. Dalam keluarganya masing-masing, mayoritas murid-murid Gruwell adalah generasi pertama yang menamatkan SLTA dan kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi.

Jejak pergulatan Gruwell, yang dapat kita baca lebih detail dalam buku The Freedom Writers Diary (1999) yang merupakan catatan harian murid-murid Gruwell, dan buku karya Gruwell sendiri berjudul Teach with Your Heart (2007), memberikan catatan berharga kepada kita tentang model pendidikan pada umumnya dan pemberdayaan serta kreativitas pengajaran bahasa untuk diletakkan dalam konteks yang tak hanya bersifat teknis dan “biasa”, sehingga dapat melahirkan anak-anak muda yang berkarakter dan mampu menggunakan bahasa untuk memaknai dan mencipta dunia baru yang lebih cerah.


Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 18 November 2007.

Read More..

Rabu, 24 Oktober 2007

Dapur dan Peradaban


Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Selamat pagi. Selamat datang di dapur, tempat memasak, tempat menanak, tempat menggoreng, tempat menjerang air, tempat mencuci piring dan perabot kotor lainnya. Pertama-tama, saya ingin bertanya: pernahkah sebelumnya bapak-bapak dan saudara sekalian berkunjung ke dapur, dan mencoba tinggal barang setengah sampai satu jam atau lebih? Saya kira tak banyak yang akan menjawab iya. Meski begitu, saya bisa memberi permakluman, karena dapur bagi kebanyakan bapak-bapak dan saudara sekalian tak lebih dari tempat makan—jika tak ada ruang khusus untuk itu. Bapak-bapak dan saudara sekalian sebagian besar tak punya pekerjaan yang harus diselesaikan di dapur. Mungkin dapur terlalu kotor untuk bapak-bapak dan saudara sekalian, sehingga bapak-bapak dan saudara-saudara tak cukup kerasan untuk berlama-lama berdiam di dapur. Apalagi dapur “tradisional”. Tempat bapak-bapak dan saudara sekalian bekerja mungkin di tempat yang bersih, necis, dan rapi.

Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Seberapa lama sebenarnya dapur telah menjadi bagian dari peradaban manusia? Tak dapat disangkal bahwa dapur menjadi salah satu tahapan perkembangan peradaban manusia yang cukup penting. Saat hidup secara nomaden, manusia memenuhi kebutuhan makanannya dengan cara berburu. Saat api belum ditemukan, manusia makan makanan mentah atau makanan yang tak diolah. Api kemudian menjadi babak baru peradaban, yang juga menjadi cikal bakal lahirnya dapur. Selain api, penemuan alat semacam bejana yang memungkinkan munculnya teknik memasak yang lebih canggih dan lebih rumit juga menjadi tanda bagi perkembangan peradaban manusia. Konon, itu terjadi kira-kira antara tujuh hingga dua belas ribu tahun yang lalu.

Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Saat ini peradaban kita telah melangkah begitu jauh. Memasak, yang merupakan kegiatan utama dalam ruang dapur, telah menjadi satu bidang dengan pengetahuan dan diskusi yang begitu mendalam. Dapur dan memasak, di sisi lain, kadang tak hanya berkaitan dengan soal pemenuhan kebutuhan nutrisi, tetapi bisa juga menjadi isyarat gengsi. Sementara ada sekelompok orang yang hingga kini masih seperti berada di periode Zaman Batu, yakni bahwa mereka masih berada di tahap pemenuhan kebutuhan dapur tanpa terlalu memedulikan kualitas dan selera, ada sekelompok orang lainnya yang lebih peduli untuk memenuhi “kebutuhan dapur” binatang piaraannya.

Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Tahukah bapak-bapak dan saudara sekalian bahwa peradaban dapur telah melahirkan banyak produk kebudayaan? Mulai dari peralatan memasak, aneka resep, dan berbagai ukuran takaran untuk mengatur komposisi resep agar lebih eksak? Jika ke toko buku, kita tak hanya akan menemukan buku-buku tentang resep makanan—seperti juga tersaji secara rutin di rubrik-rubrik koran atau tabloid. Kita juga akan menemukan desain interior untuk dapur-dapur modern.

Tahukah bapak-bapak dan saudara sekalian bahwa satu sendok teh itu sama dengan lima mililiter? Mungkin itu sudah terlalu teknis, ilmiah, atau akademis. Atau bahkan mungkin itu adalah sesuatu yang hanya dikenal oleh pemilik peradaban dapur “modern”. Kalau begitu pertanyaannya saya ganti dengan pertanyaan praktis yang berkaitan dengan dapur tradisional saja: tahukah bapak-bapak dan saudara sekalian cara membuat perapian di tungku tanah liat dengan menggunakan kayu bakar?

Ah, itu gampang. Tinggal ambil kayu bakar, sedikit disiram minyak tanah, ditambah dengan semacam kertas, lalu tinggal disulut dengan korek api. Tungku pun akan mengepul.

Sebentar dulu, jangan keburu senang atau merasa hebat. Setelah perapian dibuat, jika memang bisa, tahukah bapak-bapak dan saudara sekalian bedanya cara menggoreng telur dadar, keripik pisang, melinjo, atau rengginang?

Ah, itu gampang. Tinggal goreng aja.

Jangan bilang gampang. Tahukah bapak-bapak dan saudara sekalian bahwa menggoreng itu juga ada ilmunya, ada takarannya? Kalau mau menggunakan ukuran yang lebih eksak, masing-masing menu yang akan digoreng membutuhkan derajat kepanasan yang berbeda. Jika tidak memperhatikan hal ini, bisa-bisa hasil gorengan bapak-bapak dan saudara sekalian akan gagal—atau setidaknya terasa amburadul. Kalau bapak-bapak dan saudara sekalian ingin lebih jelas, coba tanya istri, saudara, atau anak perempuan bapak dan saudara sekalian.

Ya. Wawasan peradaban dapur memang mungkin lebih dikuasai oleh kaum perempuan. Waktu mereka bergaul bersama masakan dan segala tetek bengeknya relatif lebih lama. Mengapa bapak-bapak tidak sesekali mencoba bergabung di sana, membantu mereka? Apakah bapak-bapak dan saudara sekalian merasa bahwa dapur adalah produk kebudayaan yang sepele, remeh, dan tak menarik—bagian dari peradaban primitif?

Terkait dengan ini, saya punya pengalaman menarik yang agak lucu juga. Suatu saat saya pernah bertemu dengan sebuah warung makan di wilayah kos-kosan mahasiswa yang memberi embel-embel semacam slogan unik pada nama warungnya. Warung dekat rel kereta api itu bernama Warung Teteg Plato, dan di bawah namanya tertulis kata-kata: “Makan dulu, baru mikir”. Orang mungkin akan berpikir itu kata-kata Plato (427-347 SM), filsuf Yunani Kuno murid Sokrates (469-399 SM). Lepas dari apakah benar itu dikutip dari Plato atau tidak, kata-kata itu seperti ingin mengingatkan kita, terutama bapak-bapak dan saudara sekalian, agar tak begitu saja menyepelekan peradaban dapur. Bagaimana bisa mau bekerja, bagaimana bisa mau berpikir, jika perut kosong?

Saya kira kata-kata itu dari satu sisi mengingatkan kita untuk bisa lebih menghargai orang-orang yang membesarkan dan menghidupkan peradaban dapur itu, orang-orang yang membuat dapur mengepul dan berproduksi, yakni terutama kaum perempuan. Memang mungkin bapak-bapak dan saudara sekalian adalah orang-orang yang menyuplai bahan-bahan untuk terlaksananya peradaban dapur. Tetapi kaum perempuan, mereka bersentuhan langsung dan mengelola peradaban dapur. Bahkan, tak jarang, kaum perempuan juga membantu menyuplai bahan-bahan dapur.

Sementara itu, dari penuturan kelompok feminis kita diberi tahu bahwa sejauh ini kaum perempuan sering diperlakukan dengan kurang baik dan atau kurang dihargai oleh kaum laki-laki—bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian—baik itu di lingkungan rumah tangga maupun di masyarakat luas. Salah satu bentuknya, mungkin, adalah dengan menyerahkan sepenuhnya urusan dapur kepada mereka, atau dengan terus mengasumsikan bahwa bagaimanapun perempuan itu hanya akan pulang ke dapur. Akibatnya, kadang potensi besar yang mereka miliki tak dapat dikembangkan sepenuhnya. Pendidikan bagi mereka kadang tak dianggap penting.

Saya enggan untuk memperdebatkan soal pembagian kerja seperti dalam masalah ini. Poin yang ingin saya tekankan dalam tulisan ini adalah bagaimana kita bisa melihat dapur sebagai sebuah suatu produk peradaban dengan segala permasalahan yang mungkin kita temukan di sana. Baru-baru ini saya membaca sebuah buku komik menarik yang bertutur tentang pangan, tentang bagaimana ada politik-ekonomi pangan yang bisa berujung pada sebentuk penindasan atau bahkan penjajahan terselubung. Dalam konteks seperti itu, mungkin perempuan adalah salah satu korban utamanya. Bukankah para pemilik kapital kebanyakan adalah kaum lelaki? Tetapi saya belum tuntas membaca buku itu. Jadi saya belum bisa cerita panjang lebar.

Oke. Bapak-bapak dan saudara sekalian. Sekarang mari kita kembali ke dapur. Sekarang sudah saatnya sarapan. Kita simpan dulu persoalan-persoalan ini ya. Kapan-kapan kita bicarakan lagi. Sekarang kita makan dulu, biar tidak sakit dan bisa berpikir lebih jernih. Jangan lupa, sehabis makan nanti piring dan perabot kotor lainnya dicuci ya sampai bersih. Sesekali tidak apa-apa kan? Biar tahu rasa, kata seorang saudara saya dengan nada yang khas.


Read More..

Kamis, 04 Oktober 2007

Sampai Di Manakah Kita?


Yulis, tak terasa Ramadan telah memasuki sepertiga yang terakhir. Entah seperti apa rasa lapar dan dahaga yang kita jalani tiga pekan ini membentuk kita saat ini. Adakah yang berubah dengan diri kita dengan itu semua? Yulis, sampai di manakah kita saat ini?

Tahun demi tahun telah berlalu. Tiga tahun terakhir telah berlalu pula. Ramadan datang dan pergi. Pertemuan, perpisahan, suka dan duka, tangis dan tawa, sedih dan gembira, harapan yang redup dan semangat yang menyala, hari-hari biasa, hari-hari istimewa, semua telah kita lewati. Lalu apa yang kita peroleh dari itu semua? Sampai di manakah kita? Di titik manakah aku saat ini, di titik manakah kita saat ini, dalam sulur waktu yang telah ditetapkan Semesta padaku, pada kita?

Yulis. Di penghujung Ramadan ini Kakak ingin mencoba berhitung tentang semuanya. Hutang-hutang Kakak, borok-borok Kakak, tapak jejak Kakak. Adakah masa depan dapat menyisakan cahaya untuk Kakak, untuk kita? Adakah modal Kakak sekarang yang tak seberapa dapat melunasi semuanya?

“Kak, apakah kebaikan itu dapat melunasi dosa kita yang berlepotan?” tanyamu kemarin lusa, di sebuah percakapan telepon jelang berbuka.

“Tuhan Maha Pengampun. Perbuatan baik dapat membasuh keburukan yang kita perbuat. Tentu jika kita tulus melakukannya,” jawabku, sambil mengingat potongan ayat yang menegaskan hal itu.

“Yulis, dalam bentuk yang lebih detail dan lebih luas, Kakak sering gundah saat bertanya: apakah kita pernah merasakan nikmatnya berpuasa? Apakah kita pernah merasakan nikmatnya mencintai Tuhan, mencintai Nabi, mencintai orang tua dan keluarga, mencintai guru, mencintai sesama, mencintai kekasih kita?” Aku terdiam, mendesah sejenak, dan kembali terdiam. Di ujung telepon, Yulis juga terdiam.

“Yulis, pertanyaan-pertanyaan itu datang bertubi, bersama dengan rekam jejak amal perbuatan Kakak di hari-hari yang telah berlalu. Kakak seperti mencoba menghimpun sesuatu yang cukup bernilai dan layak untuk dihitung sebagai “kebaikan”. Tapi Kakak sering sedih dan kecewa, karena tak menemukan apa-apa,” lanjutku.

“Sudahlah Kak, jangan terlalu berkecil hati begitu,” Yulis segera memotong kata-kataku. “Kita masih punya hari ini, juga hari esok. Yang terpenting, saat ini kita mesti bersyukur karena telah diberi anugerah untuk ingat bahwa berhitung, atau evaluasi, atau refleksi, atau—katakanlah—audit internal, sangat kita butuhkan dalam menjalani hari-hari kita.”

“Iya, Yulis. Kakak patut bersyukur bahwa Kakak telah dipertemukan dengan orang-orang yang dapat menjadi cermin hati untuk memperbaiki diri, sehingga Kakak tak senantiasa lupa untuk sesekali bertanya: sampai di manakah kita saat ini? Apa kita sedang berada di sebuah tikungan, tanjakan, atau belantara liar?”

Beduk magrib sudah ditabuh saat Yulis memotong kata-kataku sebelumnya. Tapi kami masih menuntaskan pembicaraan kami—meski tak pernah bisa purna. Masing-masing kami masih menyimpan berbagai kegundahan, tentang hari yang lalu, tentang hari mendatang. Tapi masa tak peduli itu semua. Ia akan terus bergerak di antara makna dan hampa yang kita lalui tanpa terasa.


Read More..

Senin, 01 Oktober 2007

Malam Penuh Bintang di Halaman Belakang


Dini hari, aku kembali menyaksikan malam yang penuh bintang di halaman belakang. Kubayangkan, aku seperti duduk di balai-balai rumahmu, Yulis, di antara pepohonan dan sawah luas yang membentang di sekeliling. Kau bilang tak ada balai-balai di halaman. Tapi kelak aku pasti akan meletakkan balai-balai di halaman belakang ini, tempat kita nanti sesekali menghabiskan malam sambil menyaksikan bintang-bintang.

Yulis, kau tahu cahaya terang di ufuk timur itu, yang bergerak dari dasar garis langit dan terlihat seperti baru keluar dari peraduannya. Itu bukan bintang. Itu Venus, Yulis. Konon Venus adalah benda langit yang paling terang jika dilihat dari bumi, selain matahari dan bulan. Konon, ada yang bilang bahwa perempuan itu berasal dari sana. Entah mengapa, aku tak tahu pasti. Apa karena muasal nama Venus berhubungan dengan dewi kecantikan Romawi? Dalam sistem tata surya, planet yang berjuluk “bintang pagi” itu adalah planet paling panas, melebihi Merkurius. Temperatur permukaannya mencapai 460 derajat celcius. Jaraknya sekitar 41 juta kilometer dari bumi. Ya, 41 juta kilometer, Yulis. Itu artinya, jika kita—aku dan kau, Yulis—jalan-jalan ke sana dengan berkendara cahaya, maka kita akan menempuhnya sekitar 137 detik. Dua menit 17 detik.

Di arah timur agak ke tenggara, dengan posisi yang cukup meninggi dari halaman belakang rumah kita, yang tak kalah terang itu namanya Sirius. Pelajar yang menekuni astronomi mengenalnya dengan nama Alpha Canis Majoris. Ia menampakkan wujudnya dari horison di timur sejak jelang tengah malam tadi, dan terus bergerak meninggi. Yulis, aku sulit membayangkan bahwa kita dapat bertamasya ke sana, meski dengan cahaya. Dari halaman belakang rumah kita, Sirius itu berjarak sekitar 81,4 triliun kilometer. Jika dengan cahaya, kita akan menempuhnya selama hampir sembilan tahun. Ya, sembilan tahun, Yulis. Jika kita jadi berkendara cahaya ke sana, entah sudah seperti apa wajah lucu ponakan-ponakanmu. Entah juga bagaimana nanti ibu dan yang lain akan menatap kita dengan sedikit heran, menyaksikan raut usia kita yang seperti sedikit tertahan.

Yulis. Dari halaman belakang rumah kita, hamparan bintang dan benda-benda langit lainnya itu seperti mengejek kepongahan kita, yang kadang lupa diri bercampur takabur, merasa bahwa diri kita adalah segalanya dan orang lain tak punya apa-apa. Padahal, apa sih kita ini? Bahkan, jika berkendara dengan cahaya, mungkin usia kita tak akan cukup untuk sampai tiba di Antares, yang tadi malam selepas tarawih kulihat bersinar temaram kemerahan di ufuk barat daya, sedikit di bawah Jupiter yang tampak lebih terang. Yulis, kau tahu Antares itu berapa jaraknya dari halaman belakang rumah kita? Bintang yang diameternya lebih besar tiga ratus kali ketimbang matahari itu berjarak sekitar 3,7 kuadriliun kilometer dari sini. Artinya, ditempuh selama sekitar 400 tahun jika kita berkendara cahaya ke sana!

“Akan tetapi, katanya bintang-bintang juga dapat memberi rasa tenteram.” Tiba-tiba kau kubayangkan berkata pelan sambil tetap menatap ke arah Venus. “Yulis kemarin sempat membaca buku yang Kakak kirimkan terakhir, yang bercerita tentang bagaimana Nabi naik ke Langit melesat bersama cahaya kilat, setelah beliau dirundung oleh serentetan kejadian yang menyedihkan—istri dan pamannya tercinta meninggal dunia, di tengah upaya dakwahnya yang menghadapi tantangan berat. Yulis pikir, Nabi mungkin sekali merasa kehilangan, sangat terpukul dan sedih. Namun, ketika Nabi naik ke Langit, Yulis pikir Nabi kemudian menyaksikan bintang-bintang dari jarak yang lebih dekat, melewati atau bahkan mungkin singgah di bintang-bintang itu, dan betul-betul dapat merasakan keagungan Penciptanya.”

“Ya, mungkin.”

“Dan di saat merasakan keagungan Pencipta bintang-bintang itu, Nabi tak lagi sedih dan berkecil hati. Hatinya tenteram, karena sadar bahwa ia menjalankan misi sucinya atas titah Sang Maha Pencipta,yang selalu berada bersamanya.” Yulis melanjutkan. Aku melirik sedikit. Aku melihat senyum manis di ujung kata-katamu, dengan mata yang bercahaya.

Angin pagi berembus pelan di halaman belakang, seperti menyapa kita yang terkagum-kagum memikirkan bintang-bintang itu. Apakah angin ini dikirim dari bintang-bintang itu? Cahaya bulan yang masih cukup terang memoles rasa takjub dengan suasana yang meneduhkan dan begitu indah. Bulan akan terus melanjutkan perjalanannya ke arah barat. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar lantunan pengeras suara yang memutar ayat-ayat suci. Ayat-ayat itu bercerita tentang alam semesta, tentang unta yang dicipta, bumi yang dihampar, langit yang membentang, dan gunung yang menjulang. Ayat-ayat itu seperti meneruskan bisikan pelan bintang-bintang.

“Kak, apakah di bintang-bintang itu ada kehidupan yang lebih tenteram?” Tiba-tiba kau bertanya. Tatapanmu masih tak mau lepas dari bintang-bintang itu.

“Entahlah, Yulis. Tapi sepertinya Kakak sudah cukup tenteram hidup di sini. Kakak tak terpikir bahwa bintang dapat menjadi rumah yang lebih indah daripada di sini.”

“Apa Kakak tak lagi rindu pulang?”

“Yulis, Kakak sudah menemukan tempat untuk pulang. Kakak menemukan banyak bintang di sini. Tak hanya di malam ini. Tak hanya di halaman belakang ini. Bintang-bintang itu tinggal di hati Kakak. Bintang-bintang yang tak hanya mengajarkan Kakak untuk mengubur rasa congkak dan menerbitkan semangat. Bintang-bintang yang menyejukkan, teramat indah, dan selalu memancarkan sinar terang.”

Aku menjawab pelan, dengan tempo yang melambat. Dan aku menghentikan kata-kataku di situ. Yulis diam, tak melanjutkan bertanya. Suara binatang malam masih terdengar dari sekitar, di antara pematang dan rimbun semak dan pepohonan. Yulis mengubah posisi duduknya, menggenggam erat tanganku, sambil terus menatap Venus yang bergerak menaik.


* Tulisan ini terilhami oleh software komputer "Starry Night Backyard". Terima kasih kepada Hendro Setyanto yang telah memperkenalkan saya pada software ini.

Read More..