Selasa, 02 Juni 2009

Pameran Kreativitas untuk Masa Depan Bumi yang Hijau

Ahad (31/5) kemarin, tiga proyek kegiatan School Climate Challenge (SCC) Competition British Council SMA 3 Annuqayah mengadakan perhelatan penutupan dan pameran kegiatan. Acara intinya adalah presentasi perjalanan dan pencapaian masing-masing proyek kegiatan yang telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan, tepatnya dimulai dari sekitar pertengahan Februari hingga akhir Mei kemarin.

Masing-masing tim yang mengikuti kompetisi tingkat nasional ini terdiri dari lima orang guru dan siswa. Ketiga tim itu adalah Tim Sampah Plastik (satu guru empat siswa), Tim Gula Merah (dua guru tiga siswa), dan Tim Pupuk Organik (dua guru tiga siswa). Mereka bekerja dengan didukung oleh siswa-siswa yang lain di luar anggota tim inti. Demikian pula, kegiatan penutupan kemarin melibatkan panitia teknis di luar anggota tim inti.

Anak-anak berupaya untuk menyajikan dan mengemas acara ini dengan unik dan menarik. Dengan kata lain, momentum acara ini dijadikan sebagai ajang penumpahan kreativitas berbagai potensi yang dimiliki siswa di SMA 3 Annuqayah. Karena itu, mulai dari desain undangan, anak-anak sudah mulai menampilkan satu terobosan kreasi yang cukup menendang. Undangan untuk acara ini dibuat dari bahan kardus bekas dan dihias secara manual dengan krayon dan pernak-pernik lainnya. Teks undangannya pun tak biasa. Selain dilipat sedemikian rupa sehingga menjadi unik, teks undangan terkesan ditempel di atas koran yang memuat berita tentang isu-isu lingkungan. Panitia mengerjakan undangan yang dibuat sebanyak lebih dari 150 eksemplar ini selama dua hari dengan mengerahkan tak kurang dari 10 siswa yang dipandang memiliki cita rasa seni yang baik.

Demikian pula, Paduan Suara Madaris 3 Annuqayah (Paramarta) dalam kegiatan ini tampil dengan lagu himne dan mars Madaris 3 Annuqayah, ditambah dengan satu lagu spesial bertema lingkungan yang dicipta oleh Muhammad Affan, guru Pendidikan Seni di SMA 3 Annuqayah. Paramarta berlatih dan mempersiapkan untuk acara ini selama kurang lebih tiga hari.

Selain itu, tata panggung dan setting tempat pameran dirancang oleh tim yang bertugas dengan cukup unik pula. Ketiga tim secara simbolis hadir dalam ornamen dan dekorasi yang dibuat anak-anak. Panggung, misalnya, dihias dengan daun dan buah siwalan, dan di bagian dasarnya diberi tumpukan jerami. Sementara itu, huruf yang dibuat dekorasi di panggung dibuat dari sampah plastik, dan di bagian bawah dihias dengan jerami sehingga dari kejauhan mengesankan seperti rumput yang membentang.

Tak hanya panggung, ketiga stan pameran masing-masing tim juga memperkuat simbol-simbol proyek yang dikerjakannya. Foto-foto dan berita kegiatan yang ditempel di masing-masing stan dipasang sedemikian rupa dengan menggunakan atau berhiaskan unsur sampah plastik, siwalan, dan jerami.

Khusus untuk kreasi penataan panggung, tempat, dan kelengkapan acara, saya terasa kurang jika hanya memberi panitia dua jempol!

Alur acara kemarin sebenarnya cukup sederhana. Seremoni acara dimulai tepat pukul 09.15 WIB, sebagaimana telah dirancang sebelumnya oleh panitia. Sebelum itu, para tamu undangan yang tiba di tempat dipersilakan untuk berkunjung ke tiga stan tim proyek untuk melihat dokumentasi dan hasil kegiatan mereka. Di stan mereka dilayani oleh masing-masing anggota tim yang siap memberi penjelasan terperinci tentang segala sesuatu berkaitan dengan perjalanan proyek tim.

Kabid Dikmen Diknas Sumenep, M. Sudirman, yang datang cukup awal, bersama beberapa pejabat lain, seperti Camat Guluk-Guluk dan perwakilan dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumenep, tampak antusias menyaksikan kreativitas anak-anak. Pak Ya’kub dan Pak Nasir, pimpinan SMA 3 Annuqayah, menemani mereka berkeliling stan. Sebagai bekal awal, panitia memberikan laporan singkat ketiga tim yang sudah ditulis dan digandakan kepada mereka.

Perwakilan dari BLH bahkan tampak tertarik dengan tulisan-tulisan anak-anak tim yang cukup banyak menceritakan berbagai aktivitas mereka selama tiga bulan. Dia menyatakan minatnya untuk meminta kopi tulisan anak-anak.

Acara seremoni sebelum presentasi berlangsung sekitar 45 menit, sehingga presentasi dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Saya sebagai koordinator guru pendamping SCC memandu sesi ini. Sebelum mempersilakan semua anggota tim untuk naik ke panggung dan presentasi, saya memberi pengantar singkat tentang masalah tantangan perubahan iklim dan bagaimana ketiga tim ini berupaya memberi solusi. Tentang konteks lomba, saya sudah menyampaikannya saat memberi kata sambutan.

Saya sempat khawatir dengan sesi presentasi ini, karena anak-anak tidak punya waktu yang cukup untuk membuat persiapan khusus dan berlatih presentasi. Mereka juga sibuk menyiapkan stan dan persiapan teknis lainnya sehingga mereka hanya sempat menyiapkan laporan singkat tertulis 2-3 lembar saja. Memang, mereka telah cukup terbiasa presentasi dalam kegiatan sosialisasi di masing-masing proyek di berbagai tempat. Tapi di acara ini hadir para pejabat dan pimpinan-pimpinan lembaga, dan acaranya cukup besar.

Presentasi dimulai dari Tim Sampah Plastik. Saat mulai presentasi, saya dapat menangkap sedikit perasaan tegang dan kurang lepas dalam diri mereka, sehingga mereka kurang bisa berimprovisasi dan agak mengandalkan catatan yang mereka buat. Anak-anak, terutama dari kedua tim lain, tampak dapat menangkap kegelisahan saya. Dan untung, dua tim yang lain dapat lebih lepas mempresentasikan kegiatan proyek mereka. Bahkan, Tim Gula Merah ada yang presentasi dengan bahasa Inggris sekitar tiga menit.

Alhamdulillah, Tim Pupuk Organik dapat menampilkan presentasi yang sangat lepas dan cukup mengalir. Mereka tampak nothing to lose. Sesekali dicampur dengan bahasa Madura dan bumbu guyon, sehingga para hadirin senyum-senyum dan tertawa kecil.

Presentasi masing-masing tim diiringi dengan slide gambar-gambar kegiatan yang sudah disiapkan sebelumnya dan dikendalikan dari laptop di depan saya. Meski tidak tampak sangat jelas karena terik matahari yang cukup menyengat, gambar-gambar itu juga membantu melengkapi presentasi anak-anak.

Presentasi berlangsung sekitar hampir satu jam. Begitu selesai, saya mengambil alih kendali acara dan mencoba memancing hadirin untuk menanggapi perjalanan kegiatan semua proyek, dan terutama mengenai rencana tindak lanjut yang dirancang.

Empat penanggap pertama adalah “para pembesar”. Dimulai dari Pak Rahem (Camat Guluk-Guluk), Pak Dirman (Diknas Sumenep), Pak Ya’kub (Kepala SMA 3 Annuqayah), dan terakhir H.A. Pandji Taufiq, tokoh lingkungan dan aktivitas sosial yang kini menjabat sebagai Ketua Yayasan Annuqayah.

Pak Camat memberi tanggapan yang cukup panjang lebar. Dia menanggapi satu persatu untuk tiga tim. Secara umum, perspektifnya memang tampak kental sebagai birokrat. Dia, misalnya, mengingatkan bahwa ada instansi-instansi pemerintah yang bisa dimintai partisipasi dalam kegiatan masing-masing tim. Kepada masing-masing tim dia memberi masukan khusus. Untuk Tim Sampah Plastik, dia bertanya: yang mana kegiatan daur ulangnya. Untuk Tim Pupuk Organik, dia menanyakan apakah pupuk organiknya sudah diuji coba digunakan untuk tanaman tertentu. Untuk Tim Gula Merah, dia mengkritik mengapa memilih pohon siwalan dan bukan pohon kelapa. Sementara potensi di Kecamatan Guluk-Guluk lebih banyak pohon kelapa. Pak Camat juga mempertanyakan keterlibatan siswa yang lain di luar tim proyek ini.

Pak Dirman dari Diknas Sumenep lebih banyak menekankan pada soal keberlanjutan kegiatan ini ke depan. Sedang Pak Ya’kub, Kepala SMA 3 Annuqayah, secara retoris menambahkan soal kegiatan tiga proyek ini yang tak menggunakan uang dari sekolah. Tampaknya Pak Ya’kub ingin menunjukkan bahwa kegiatan tanpa uang pun bisa terlaksana, dan bahwa anak-anak bisa mandiri menyiasati hal semacam itu.

Pak Panji, yang menjadi penanggap terakhir di sesi pertama, menggarisbawahi komentar retoris Pak Ya’kub: bahwa yang paling penting itu semangat dan kerja keras, bukan uang. Selain itu, Pak Panji juga mengapresiasi kegiatan ketiga tim proyek ini dengan sangat positif, terutama dalam menginspirasi kita semua, baik sebagai individu, kepala keluarga, pimpinan lembaga pendidikan, instansi pemerintah, dan sebagainya, untuk peduli dan melek dengan masalah-masalah lingkungan di sekitar kita. “Jika anak-anak SMA 3 Annuqayah ini bisa berbuat sesuatu untuk menyebarkan kepedulian lingkungan dengan terutama hanya bermodal semangat, mestinya lembaga pendidikan yang lain juga bisa melakukan hal serupa,” tegasnya.

Pak Panji memberi penekanan-penekanan substantif atas kegiatan ketiga tim proyek ini, sehingga beberapa tampak dapat menjawab pertanyaan dari penanggap sebelumnya. Selain itu, Pak Panji juga memberikan gambaran tentang tantangan masalah-masalah lingkungan di sekitar kita yang membutuhkan kepedulian. “Di Kabupaten Sumenep saja, urusan sampah masih belum menjadi prioritas, sehingga kota Sumenep saja sampai sekarang belum punya TPA yang resmi. Demikian juga, di Annuqayah, yang dihuni oleh sekitar enam ribu pelajar, yang menurut perhitungan kasar saya setiap hari bisa ‘menghasilkan’ sampah sekitar 2 ton, masalah sampah belum menjadi prioritas,” tegasnya.

Alhamdulillah, anak-anak dapat menanggapi keempat tanggapan ini dengan baik. Soal dukungan dana, anak-anak menceritakan bagaimana mereka di antaranya mendapatkan dukungan dari luar sekolah atas dasar capaian kegiatan peduli lingkungan yang sudah dilaksanakan sebelumnya, sehingga untuk kegiatan ini pendanaan proyek sama sekali bukan dari kas sekolah. Untuk dicatat, organ peduli lingkungan di SMA 3 Annuqayah terbentuk pada 2006 lalu, dengan nama Duta Lingkungan, yang kemudian disusul dengan Pemulung Sampah Gaul (PSG) pada April 2008, yang fokus pada penanganan sampah plastik. Selain itu, dalam beberapa kegiatan proyek, tim mendapatkan dukungan finansial dari mitra mereka di lapangan. Saat tampil mengudara di Ganding FM 104.10, misalnya, anak-anak justru mendapat ganti biaya transportasi dan bahkan uang saku. Demikian juga, saat ke Madrasah Aliyah Nasy’atul Muta’allimin Gapura, anak-anak juga mendapat ganti biaya transportasi. Bagi kami, hal ini menunjukkan bahwa dua mitra lembaga tersebut menunjukkan kepedulian, dukungan, dan komitmen yang sama atas kegiatan kami. Ini semakin jelas saat seusai acara penutupan Ahad kemarin, Ganding FM menyiarkan ulang sesi presentasi anak-anak di gelombang radio mereka.

Keterlibatan dan dukungan komunitas lain, termasuk di lingkungan SMA 3 Annuqayah, juga dijelaskan cukup panjang lebar oleh anak-anak. Saat beraktivitas, ketiga tim tak bekerja sendiri, tapi juga didukung oleh siswa yang lain di sekolah. Secara khusus, tim memang berupaya untuk mendorong keterlibatan siswa secara lebih luas. Tim Gula Merah, misalnya, saat bersosialisasi tentang gula merah di sekolah juga meminta partisipasi siswa yang lain untuk menyumbangkan menu makanan tradisional berbahan gula merah untuk didokumentasikan. Demikian juga, Tim Sampah Plastik meminta siswa untuk juga meletakkan sampah plastik di sekolah di tempat khusus untuk diolah menjadi kriya kreatif.

Keberlanjutan masing-masing proyek menjadi tantangan tersendiri yang juga ditanggapi oleh ketiga tim. Pada sesi kedua, salah seorang guru pendamping, Mus’idah Amien (pendamping Tim Gula Merah) mengemukakan komentar menarik. “Kami tidak ingin menjadi lelaki mata keranjang. Kami akan terus konsisten mengerjakan dan mengembangkan proyek kami masing-masing agar dapat lebih baik,” tuturnya, yang disambut dengan tepuk tangan meriah.

Pada sesi kedua, penanggap semua berasal dari sekolah. Tim SCC Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Putri juga berbagi pengalaman tentang kegiatan mereka. Beberapa pertanyaan bersifat agak teknis. Dan semuanya ditanggapi dengan baik oleh ketiga tim.

Presentasi diakhiri pada pukul 12.10 WIB. Setelah ditutup dengan doa, para hadirin kembali dipersilakan untuk kembali menyaksikan stan pameran. Kali ini, stan Tim Gula Merah telah dilengkapi dengan dua puluh empat macam makanan tradisional berbahan gula merah yang langsung diserbu oleh pada undangan. Para pengunjung tak hanya datang untuk mencicipi makanan tradisional itu, tapi juga ada yang bertanya resep dan cara pembuatannya.

Stan Tim Pupuk Organik dan Sampah Plastik juga ramai dikunjungi undangan. Ada yang langsung berbincang dengan tim yang bersiap di stan masing-masing, dan ada pula yang melihat-lihat foto dan arsip berita yang ditulis anak-anak. Tim Sampah Plastik kemarin juga menjual produk tas yang berhasil dibuat, dan beberapa produk sempat laku terjual. “Harganya masih agak mahal,” kata salah seorang pengunjung yang tampak ngebet untuk membeli salah satu produk.

Secara spontan, Mus’idah, salah satu guru pendamping proyek SCC, menyiarkan acara ini lewat pengeras suara sambil meminta komentar dan kesan beberapa tamu undangan. Menjelang pukul satu siang, pada undangan meninggalkan tempat acara satu persatu. Sebelum meninggalkan tempat, banyak di antara mereka yang menuliskan kesan-kesannya di lembaran yang disediakan panitia dan diserahkan saat mereka baru tiba.

Setelah acara benar-benar selesai, panitia dan seluruh tim proyek SCC mengadakan rapat evaluasi singkat, dan juga menyinggung persiapan penyusunan laporan lengkap kegiatan SCC untuk dikirimkan ke British Council Jakarta. Tentu saja, anak-anak dari ketiga tim pada khususnya merasa lega karena acara penutupan dan pameran kegiatan SCC ini dapat berlangsung dengan sukses. Kerja keras dan tenaga yang terkuras beberapa hari ini yang sempat membuat kami kadang lupa makan tampak impas terbayar. Alhamdulillah.

Read More..

Minggu, 24 Mei 2009

Jejaring Civitas Kependidikan Peduli Lingkungan

Hari Kamis (21/5) kemarin, sekolah tempat saya mengajar kedatangan rombongan tamu dari dua sekolah di Pamekasan berlatar pesantren. Rombongan itu terdiri dari sebelas murid dan tiga orang guru.

Kunjungan ini bermula dari sebuah pertemuan tak disengaja di sebuah acara di Bangkalan akhir bulan lalu. Saat itu, saya bersama beberapa rekan sedang menghadiri acara Sosialisasi Program Ekopesantren yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup RI. Di acara itu saya bertemu dengan seorang teman lama yang sekarang mengajar di sebuah sekolah di Pamekasan. Teman saya tertarik melihat tas yang saya gunakan saat itu: tas yang dibuat dari sampah plastik karya kreatif murid-murid saya di sekolah. Setelah bercerita singkat tentang riwayat dan asal-usul tas itu, teman saya menyatakan ketertarikannya untuk berkunjung ke sekolah saya membawa murid-muridnya untuk berbagi cerita tentang pengalaman bergiat di aktivitas peduli lingkungan.

Acara kunjungan kemarin berlangsung selama sekitar lebih dari tiga jam. Saat rombongan datang, saya masih sedang dalam perjalanan dari Karduluk. Mereka memang tiba lebih awal dari jadwal yang dijanjikan. Sambil menunggu kedatangan saya, rombongan melihat-lihat markas Tim Proyek Lomba School Climate Challenge (SCC) SMA 3 Annuqayah di sekolah. Secara khusus mereka melihat hasil kreasi tas yang dibuat anak-anak dari sampah plastik. Karena salah satu sekolah dari rombongan tersebut adalah SMK yang juga belajar tata busana alias jahit-menjahit, perbincangan tampak begitu nyambung. Saat mereka sedang asyik berbincang dengan Tim Sampah Plastik SCC pada khususnya, saya tiba di sekolah.

Saya langsung menuju ke teman saya yang ternyata menjabat sebagai Waka Kesiswaan di sekolahnya. Saya sempat terkejut karena teman saya yang kenal saat masih kuliah di Jogja itu ternyata membawa rekan guru lainnya yang ternyata adalah kakak angkatan saya saat Aliyah dulu. Dan ternyata teman saya ini menjabat Waka Kurikulum di sekolah yang sama. Jadilah pertemuan itu semakin hangat dengan cerita-cerita lama.

Setelah rombongan melihat-lihat markas sambil mendokumentasikan melalui kamera, mereka kemudian istirahat sejenak untuk shalat Zhuhur. Baru setelah itu acara sharing dilakukan dengan bertempat di Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah.

Acara sharing berlangsung tanpa seremoni yang ketat. Setelah saya memberi pengantar singkat, saya langsung mempersilakan ketua rombongan tamu untuk memberikan kata sambutan. Ali Wasik, teman saya yang menjadi ketua rombongan itu secara ringkas memaparkan latar belakang dan tujuan kunjungan tersebut. Setelah itu, saya kemudian memaparkan secara kronologis berbagai kegiatan peduli lingkungan di sekolah saya, SMA 3 Annuqayah, dengan cukup panjang lebar, termasuk tiga Tim Proyek SCC.

Pemaparan saya dilanjutkan dengan dialog di antara semua yang hadir. Rombongan kemudian menanyakan berbagai detail kegiatan peduli lingkungan kami di sekolah. Tentu saja yang menanggapi tak hanya saya. Empat guru pendamping Tim Proyek SCC selain saya juga hadir di situ. Mereka adalah Ustadz Mahmudi, Syaiful Bahri, serta Ustadzah Mus’idah dan Bekti Utami. Hadir pula Waka Kurikulum sekolah saya, Ustadz Nasiruddin. Demikian juga, seluruh murid anggota tim juga hadir dan membagikan cerita mereka setelah sekitar tiga bulan ini bergiat di aktivitas mereka masing-masing.

Dialog berlangsung selama hampir dua jam. Sambil berdialog, kami menikmati sajian masakan tradisional kreasi murid-murid dari Tim Gula Merah SCC. Hari itu mereka memasak tiga jenis makanan berbahan gula merah: jhemblèng, bhug-ghebug, dan klepon. Rombongan pun akhirnya meninggalkan sekolah kami saat waktu Asar mulai masuk.

Selain kesempatan untuk membagikan pengalaman bergerak di kegiatan peduli lingkungan, saya melihat bahwa kegiatan semacam ini dapat menjadi cikal-bakal bagi terbentuknya jaringan civitas kependidikan peduli lingkungan. Dengan berjejaring, guru-guru dan murid-murid dapat saling berbagi pengalaman, saling mendukung, dan bekerja bersama dengan proyek mereka masing-masing.

Pikiran semacam ini memang sering muncul di benak saya terutama saat mendampingi anak-anak bersosialisasi ke sekolah atau komunitas lain di seantero Sumenep. Saya yakin, kebutuhan akan berjejaring suatu saat akan menjadi sangat penting, agar gerakan yang dilakukan dapat lebih kuat dan berdaya.

Tentu saja jejaring ini mensyaratkan adanya penguatan di masing-masing komunitas. Akan tetapi, dengan beberapa titik komunitas yang relatif sudah cukup kuat, jejaring dapat membantu menyemangati satu komunitas yang masih belum stabil kekuatannya. Apalagi, pengalaman di lapangan tentu akan menghadirkan nuansa permasalahan dan lika-liku yang berbeda. Dengan berjejaring, kesinambungan dan keberlanjutan kegiatan peduli lingkungan di satu komunitas akan mungkin untuk terus didukung oleh simpul jaringan yang dibuat. Tentu saja, sebagai sebuah gerakan, syarat utama yang diperlukan adalah konsistensi.

Menguatkan pendidikan lingkungan di sekolah dari perspektif yang lain sebenarnya juga berarti membawa kurikulum sekolah ke arah yang lebih kontekstual , membumi, dan mengakar dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat tempat murid itu berasal. Di tengah iklim pendidikan formal yang terkesan textbook dan kaku, sungguh kegiatan peduli lingkungan dengan impian akan jaringannya yang kuat akan tampak sebagai sesuatu yang sangat menarik untuk terus ditekuni.


Tulisan terkait:

Read More..

Jumat, 08 Mei 2009

Environmental Week Still Continues

Environmental week still continues. After celebrating Earth Day 2009 with several environmental activities, that are environmental workshop, live television interview, and my involvement on some activities of School Climate Challenge Competition team, the following week, I had, at least, two valuable environmental activities. On Tuesday, April 28, with SCC full team, I went to Batang-Batang, a sub-district in northeast Sumenep—Banuaju Timur, exactly.

We had two main activities in Banuaju Timur. First, socialization at SMK Bina Mandiri about plastic rubbish. Our team presented their activities on recycling plastic rubbish and discussed about climate change in front of approximately thirty students at that school. Four members of the team confidently gave their presentations. We had a very enthusiastic discussion at that time. They submitted questions, suggestions, and supports to our team. Ninety minutes had gone, and we left the school with joy.

Plastic rubbish team had done a good job. Then, gula merah (Javanese sugar) team took over the SCC team control. At midday, the team started to do a deep research on siwalan (Asian palmyra palm, Borassus flabellifer). Three students and one teacher—the other teacher could not participate this interesting research—digged all informations about gula merah and siwalan. We did the research mainly in one of villager’s house, observing the process of making gula merah closely.

But this field study was not only about gula merah or siwalan. The team tried to focus to the context of conservation of gula merah and siwalan. Of course, they connected this issue with climate change problem, and implicitly conveyed the message of building environmental awareness and promoting ecofriendly values.

Actually, this team had done a similar research at another village about a month ago—at Brungbung, Pragaan. So, the team had a comparison data as a basis of their research. However, they found another important data at this opportunity. The villagers told about widespread logging activities in their rural community. Furthermore, siwalan climbers, the key person to exploit the tree, are rare to be found. The values of siwalan trees degenerated, and this make the conservation of siwalan tree now really in danger.

Sharing and discussing with the villagers at Banuaju Timur was a fascinating chance, not only about environmental issues, but also about cultural heritage of Madura. As considered before, conserving gula merah and siwalan trees actually has a wide-ranging impact, including cultural and economic.

We left Banuaju Timur at 02.00 p.m., and drop in Gapura to visit a friend to make an appointment about socialization in his school. We also went to Pasar Anom Sumenep to buy some traditional kitchenware.

My second activity was talk show at Ganding FM 104.10 at Saturday, May 2. This talk show held to celebrate the National Education Day. I did the talk show with plastic rubbish full team. We discussed about education and our environmental activities in our school. I took that opportunity to underline contextual education on our school curriculum.

At 09.30 a.m., the talk show began. Two hours left with an interesting discussion. We also discussed with audiences from Guluk-Guluk and Ganding by phone. Some of them gave good appreciation, some of them criticized rubbish management on Annuqayah in general, and one of them seemed to underestimate our environmental activities.
We had a really precious experience that day. And we know that our environmental activities still go on.

Read More..

Sabtu, 02 Mei 2009

Blue

Why do I like blue colour? This question arose out of the blue, when I was sitting on a stool in the corner of school courtyard yesterday.

I looked at the blue sky that noon. The sky was clear, and it was a bright day. Once again, the blue colour came into question, as I remembered the sea. Unexpectedly, my mind was full of the image of blue sky and blue sea met in the horizon. New simple questions arose again, sparkling in my mind, bring me to the answer.

From the sky and sea, I know that blue is a colour of our limitedness in front of the Infinite. The real blue still saves the flickering stars, pearls, and any mysterious and precious things to be found.

Sky and sea, what is the true colour of you? When I just can see the blue, is that the real of you?

Read More..

Sabtu, 25 April 2009

Environmental Week

This week, I had several environmental activities. First, I had an environmental workshop held by Community Development Bureau of Pondok Pesantren Annuqayah. The theme of this workshop is “Global Warming, Local Cooling”, and participants are thirty Annuqayah teachers. This workshop conducted on Tuesday, April 21, at MAK Annuqayah. Facilitator of this workshop is Ridho Saiful Ashadi, former Executive Director of WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia—Indonesian Forum for the Environment) East Java.

The workshop began at 10.00 a.m., two hours late from the schedule. Mas Ipul, the facilitator, delayed his departure from Surabaya because his wife borne approximately at midnight.

Actually, this workshop didn’t really satisfy me because plot of discussion during the workshop didn’t go on as I expected—at least based on the schedule that I received before. The discussion primarily focused on developing social transformation in general. Environmental issues had a minor space to be discussed here. Mas Ipul said that the most important thing to develop local cooling movement is concerning to framework of idea. Mas Ipul introduced new method of thinking called “Asset-Based Thinking”. This reminded me to positive psychology developed by Martin EP Seligman, a professor at the University of Pennsylvania, which I knew from his book, Authentic Happiness. Mas Ipul explored this method of thinking extensively.

In fact, I can understand his choice to underline this approach in front of environmental and social problem on the whole. Environmental movement needs new, fresh strategies and power. But, in my opinion, environmental awareness as a basis of environmental education for the teachers should be built up by a sufficient supply of information and knowledge. OK, Mas Ipul said that such information is very easily found on internet webpages. The teachers just need to type the keyword on the search engine webpage and they will have a great deal of information and knowledge to encourage their environmental insight. But the fact is Annuqayah teachers are generally not acquainted with internet and information technology. And I’m almost sure that those who are familiar enough with internet maybe have a little concern to environmental issues.

When the workshop had finished, I thought that this workshop must be followed by another environmental workshop, or even an integrative action managed by Annuqayah teachers or at their respective schools. This subsequent workshop should reach to the core issues of environmental education, that environmental education is about our moral education—our ethical attitudes to the nature.

My second activity is a live interview at local television, Madura Channel, Sumenep. This interview held on Thursday, April 23, one day after the celebration of Earth Day. The theme is about environmental education. More exactly, about my experience accompanying environmental community at SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep. This community concern on specific issue, that is plastic rubbish. The students recycled plastic rubbish in school neighbourhood to be creative accessories, like a school bag, pencil case, etc. Their activities got public attention through publication of mass media.

In that session of live interview, I tried to make the idea of Earth Day become more concrete through the example of my students’ activities. I tried to turn the discussion on the focus of ethical perspective, but the interviewer still focused to my students’ activities and achievements.

During the live interview, there was an interesting comment from Pak Gani, an audience who is a teacher in Sumenep. He said that my students’ activities, that are recycling plastic rubbish to be a handicraft, are not creative achievements. Pak Gani said that other individuals and communities in Indonesia also had done the same creation, including Pak Gani himself. So, Pak Gani challenged me and my students to initiate a truly new creation related to environmental project.

To be honest, I believe that our environmental activities are not a genuine project. But I’m very sure that every project has specific complexities in its local context. Those are the real challenge of every social project. Furthermore, plastic rubbish increases around us, so we cannot underestimate this fact and have to make a concrete response in our community.

My third environmental activity this week is a voluntary work with my students cleaning up our base camp of our environmental project on School Climate Challenge Competition British Council. Our school participated in this prestigious competition by managing three environmental projects, that is recycling plastic rubbish, conservation of the Asian palmyra palm (Borassus flabellifer), and organic fertilizer.

We cleaned up the dirty area at the corner of our school area this morning until midday. We are very contented with the result of our hard work. We think that we will be more enthusiastic to manage our project.

Yes, this environmental week give me valuable supplies to encourage the struggle on environmental issues.

Read More..

Kamis, 23 April 2009

Al-Hikmah Surabaya: Ironi untuk Pesantren

Rabu pekan lalu, 15 April, saya berkesempatan mengunjungi SMA Al-Hikmah Surabaya. Saya tidak sendiri ke saya. Saya bersama rombongan guru-guru Annuqayah. Semuanya berjumlah 60 orang. Keenam puluh orang itu adalah perwakilan Yayasan Annuqayah, pengurus Pesantren, pimpinan satuan pendidikan dari tingkat dasar sampai menengah atas, dan wali kelas MA 1 Annuqayah Putra dan MA 1 Annuqayah Putri.

Kegiatan ini sebenarnya adalah bagian dari Program Peningkatan Mutu Madrasah kerja sama Pondok Pesantren Annuqayah dengan Sampoerna Foundation (SF) Jakarta. Program ini fokus pada peningkatan mutu dua madrasah yang saya sebut tadi. Kebetulan saya membantu mengorganisasi kegiatan untuk program ini. Tujuan utama kunjungan ke SMA Al-Hikmah yang langsung dilanjutkan dengan magang beberapa guru Annuqayah selama dua hari di Al-Hikmah terutama adalah untuk mempelajari model pengelolaan program bimbingan dan konseling di sekolah itu. Karena itu, dua Madrasah Induk—istilah untuk menyebut satuan pendidikan yang terlibat dengan program SF tersebut—melibatkan seluruh wali kelasnya dalam kunjungan ini.

Rencana kunjungan ini sebenarnya sudah cukup lama, cuma sempat tertunda. Koordinasi dengan pihak SMA Al-Hikmah dilakukan oleh Kiai Alawi Thaha, termasuk tentang alur kegiatan di sana. Saya lebih banyak membantu teknis penyiapan di belakang.

Rombongan berangkat dari Annuqayah Rabu lewat tengah malam, sekitar pukul 00.35 WIB. Perjalanan ke Surabaya lancar-lancar saja. Saat azan subuh, kami terapung di tengah Selat Madura. Begitu merapat ke Tanjung Perak, kami langsung menuju Masjid Al-Akbar Surabaya untuk shalat Subuh dan istirahat. Setelah sarapan dengan nasi katering, tepat pukul 07.25 WIB rombongan menuju SMA Al-Hikmah yang lokasinya tak jauh dari Masjid Al-Akbar.

Matahari bersinar cerah saat rombongan kami memasuki komplek SMA Al-Hikmah yang cukup luas. Di halaman dan lapangan, tampak murid-murid sedang berolah raga. Bus langsung menuju lokasi parkir. Begitu turun dan masuk ke komplek gedung SMA Al-Hikmah, rombongan langsung disambut oleh petugas dan langsung diantarkan ke ruang pertemuan.

Begitu semua rombongan duduk rapi di tempat yang tersedia, acara langsung dimulai. Susunan acara berlangsung cukup sederhana. Setelah dibuka, ketua rombongan Annuqayah, Kiai Alawi Thaha, memberikan sambutan dan perkenalan. Kemudian, Kepala SMA Al-Hikmah, Drs. Edy Kuntjoro, memberikan sambutan sekaligus presentasi tentang pengelolaan SMA Al-Hikmah.

Presentasi berlangsung sangat menarik dan menyentuh. Waktu berjalan tanpa terasa. Tak tampak rasa bosan di wajah hadirin. Mungkin karena Pak Edy bisa menguasai para hadirin dengan retorika dan penampilannya. Alurnya runtut dan penggambarannya terperinci dan sangat hidup. Pak Edy juga pandai mempermainkan intonasi. Sesekali dia melambatkan kecepatan suaranya, atau berbicara tanpa pengeras suara dengan setengah berbisik.

Pemaparan Pak Edy dimulai dari sejarah lembaga pendidikan Al-Hikmah yang berdiri pada tahun 1989 dan diinisiasi oleh warga sekitar Gayungsari Surabaya yang berpusat di Masjid Al-Hikmah. Saat itu muridnya hanya 13 orang. Kini murid di semua lembaga pendidikan Al-Hikmah mencapai 2300 orang. SMA Al-Hikmah sendiri baru berdiri pada tahun 2005, dan saat ini jumlah muridnya sekitar 210 orang.

Meski baru meluluskan satu angkatan, SMA Al-Hikmah tampak mampu menorehkan prestasi yang cukup luar biasa. Dari sekian pemaparan tentang manajemen pengelolaan, aktivitas, dan capaian SMA Al-Hikmah, saya dapat berkesimpulan bahwa visi sekolah yang menerapkan sistem full day school ini tampak membuahkan hasil yang positif.


”Visi SMA Al-Hikmah adalah membentuk murid yang berakhlaqul karimah dan berprestasi akademik optimal,” demikian kata Edy di bagian awal presentasi, mengacu pada teks PowerPoint yang ditampilkan di layar. Dari pemaparan lebih terperinci, tampak bahwa visi yang sederhana tapi bernilai substantif ini mampu dibumikan dengan rangkaian strategi dan manajemen yang begitu rapi, tertata, padu, dan konsisten.

Ada banyak strategi yang diambil untuk mencapai visi tersebut, mulai dari sistem perekrutan guru, sistem evaluasi, penanaman karakter keagamaan yang kuat, dan sebagainya. Hasilnya, untuk poin yang pertama, yakni soal akhlaqul karimah, saya menyaksikan hal-hal yang luar biasa di sini yang mengantarkan saya pada kesimpulan bahwa pendidikan moral atau pendidikan karakter di sini terlaksana cukup efektif dan padu sehingga memberi hasil yang baik.

Pendidikan karakter berbasis ajaran Islam tampak jelas menjadi ruh kehidupan dan aktivitas sehari-hari di Al-Hikmah. Setiap sebelum masuk kelas, seluruh warga Al-Hikmah membaca a-Qur’an tanpa kecuali. Ajaran-ajaran keagamaan yang sederhana benar-benar dihargai dengan cara membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari, baik itu oleh guru maupun murid. Warga Al-Hikmah terbiasa shalat tahajjud, shalat berjamaah, puasa sunnah, berinfak, berdoa setiap memulai aktivitas, mengaji al-Qur’an, dan amalan-amalan lainnya.

Tak hanya ajaran keagamaan yang bersifat formal, nilai-nilai keagamaan yang bersifat substansial juga tampak menjadi ruh Al-Hikmah, seperti kejujuran, kebersihan, kedisiplinan, sikap saling menghormati, penghargaan kepada orang lain, semangat belajar, dan lain sebagainya. Jika ditemukan dalam suatu ujian ada guru yang memberi kunci jawaban pada murid, atau ada guru yang memberi nilai ujian yang tak semestinya, maka si guru mendapatkan sanksi berat dari Yayasan. Jika guru datang terlambat di sekolah, dan itu berarti ia tidak mengikuti sesi mengaji bersama, maka si guru langsung akan diminta mengaji di ruangan Kepala Sekolah.

Dalam tingkat tertentu, banyak hal yang semestinya ada di pesantren dan belakangan sudah terasa mulai langka saya temukan di Al-Hikmah. Di Annuqayah, saya punya dugaan kuat bahwa tak banyak murid lulusan Aliyah dan sederajat yang hafal Juz ‘Amma. Sementara itu, murid SMA Al-Hikmah yang akan lulus diwajibkan menghapal Juz ’Amma dan juz pertama dengan maknanya. Saya tahu kefasihan bacaan al-Qur’an murid SMA Al-Hikmah saat saya shalat berjamaah Zhuhur yang dipimpin oleh salah murid. Memang, Al-Hikmah menaruh perhatian khusus pada soal kemampuan baca al-Qur’an, sehingga jika ada guru yang diterima di Al-Hikmah dan masih belum lancar baca al-Qur’an, maka ia wajib mengikuti program bimbingan membaca al-Qur’an hingga lancar.

Baik melalui pemaparan Pak Edy maupun melalui pengalaman yang ditemukan di lapangan, terutama oleh peserta kunjungan yang kemudian magang, rombongan guru Annuqayah dapat merasakan berbagai macam kelebihan sekolah ini, mulai dari komitmen pengabdian guru, bimbingan kepada murid, pendidikan karakter (spiritual), dan sebagainya. Lebih dari itu, beberapa guru Annuqayah juga sampai terharu, tersentuh, terpana, dan kagum dengan torehan prestasi Al-Hikmah dalam membentuk suasana pendidikan di lingkungan sekolah mereka.

Setelah presentasi dan dialog yang berlangsung hingga sekitar pukul 10.00 WIB itu, rombongan Annuqayah kemudian melihat secara langsung kegiatan murid dan guru serta berbagai fasilitas yang ada di SMA Al-Hikmah. Pada saat berkeliling, banyak hal mengagumkan yang ditemui di Al-Hikmah terkait dengan kerapian, ketertiban, kedisiplinan, dan sebagainya. Saat makan siang selepas shalat Zhuhur, misalnya, ada salah seorang guru Annuqayah yang ditegur oleh murid Al-Hikmah karena makan sosis sambil berdiri. Si murid menegur dengan sangat sopan. Luar biasa!

Sekitar pukul 13.15 WIB, rombongan Annuqayah meninggalkan SMA Al-Hikmah. Dari Al-Hikmah, rombongan kembali menuju Masjid Al-Akbar untuk shalat. Rombongan baru meninggalkan Surabaya pada pukul 17.00 WIB dan tiba di Annuqayah jelang tengah malam.
Oleh-oleh terbesar dari Al-Hikmah adalah ironi pendidikan untuk pesantren. Al-Hikmah, tempat pendidikan berbasis masyarakat perkotaan, tampak lebih berdaya untuk menghidupkan nilai keagamaan dan nilai moral yang sangat dijunjung pesantren. Sementara saat ini pesantren tampak mengalami krisis, terutama di bidang pendidikan—khususnya pendidikan moral.

Tentu ini tak berarti bahwa pesantren kemudian tak memiliki kekuatan positif yang tersisa. Pak Edy benar—sebagaimana disampaikannya saat sambutan. Jika Annuqayah telah bertahan sebagai lembaga pendidikan keagamaan sepanjang lebih 120 tahun, maka itu berarti Annuqayah punya satu kekuatan besar.

Saya sangat menggarisbawahi pernyataan Pak Edy ini, terutama untuk menumbuhkan semangat bahwa berbagai pekerjaan rumah yang menunggu untuk diselesaikan di Annuqayah mestinya dapat menemukan jalan keluarnya jika kekuatan besar yang membuat Annuqayah bertahan melewati berbagai periode zaman itu ditemukan dan dimanfaatkan dengan baik. Demikianlah—semestinya.

Read More..

Jumat, 10 April 2009

Money Politics Around Us

Indonesian people had taken part in legislature election yesterday. Regardless of many critics of people toward some aspect of the election, including the preparation of the election, controversy about fixed list of voters, questionable capacity of the candidates of legislature, abstentions (non-voters), etc., we can say that the election had held successfully.

But I was very sorry that I cannot attend at the election booth when the ballot has been counted. I cannot look closer at the counting process because I had another job yesterday. I cycled around Annuqayah, and I had not enough time to pay close attention to the counting.

Last night, in the midst of my business, I had a little talk about the result of the election in some local voting booth with some colleagues. They are moslem students (santri) in this pesantren. They told me some valuable information about the result and something connected with the election yesterday.

They gave emphasis on the contested local candidates, especially the members of big family of Annuqayah. They mentioned numbers. From this starting point, they notified me such a bad news about the students. They reported about “the dawn attack”, a term for the practice of money politics just before the election.

To be honest, this dawn attack actually is not a new method to get supports and obtain votes. But I really shocked to hear that because the students, that is santri, who had learned and absorbed religious values in pesantren, fell into the temptation of the money politics. In fact, they not only had injected by a set of religious values. They also had learned civic education in their formal education. They are without doubt well-educated persons.

But the religious values and their complicated concept about democracy has no meaning in front of the dawn attack. I really amazed to know that something knocked them down were a pack of cigarette, instant noodles, a ten thousand rupiah, or even “wrapped rice”. They are the price of their votes.

When my colleagues told me about the money politics around this religious educational institution, a such radical conclusion arose on my mind: that our moral-religious education and civic education had failed. I know that this is an inconvenient conclusion. Moreover, for the candidates who still have honesty and sincerity, and they lose in this election by way of the dawn attack, this is really a bitter truth. But of course this will remind us that the struggle to civilize our society requires more energy and better strategy.

Read More..

Sabtu, 04 April 2009

For whom the People (don’t) Hope

A few days before the Indonesian legislature election will be held on 9 April 2009, I wonder what do the people think about this election. Do they still keep their hope for the betterment of their lives? During the time of public campaign provided by General Election Commission, I didn’t see glittering campaigns in my district except a little that I read the news in mass media. I found cold responses from people’s everyday talks concerning this election. The exited interest maybe only on the money politics. I conclude that people’s enthusiasm to discuss and participate to this election tend to be decreased. Some people talk about political apathism, the indifferences of people’s participation in this celebration of democracy.

Bringing to light on this case and revealing from a more radical question, I wonder what do the people think about this election. More exactly: do they think that they will vote their representatives, their leaders—people who speak, act, and struggle on behalf their interests and aspirations? I am increasingly doubtful that they have this kind of point of view. Political corruption, the conduct of member of legislative assembly and the candidates, even in this reformation period, frustrated and shrunk their hopes to this election. I read about the candidates who were arrested for criminal causes on the magazine: distributing marijuana, ecstasy, or illegal drugs, even stealing motorcycle.

I was really disappointed when I thought that this election had lost its ethical meaning, its substantive meaning. How many times, material and social cost had wasted for this election? Is it fair enough if I hope nothing—maybe just a little? As an individual, what should I do? Thus, importantly, I wonder for whom the people must hope?

Ooo the true leader of our community, please save our nation.

Read More..

Kamis, 02 April 2009

Pesantren dan Pendidikan Lingkungan

Di antara ajaran agama yang bersumber dari hadis Nabi Muhammad saw yang diajarkan cukup awal dan cukup populer adalah hadis yang menjelaskan tentang salah satu cabang iman, yang berbunyi: “Kebersihan adalah bagian dari iman.” Sayangnya, hadis ini di pusat komunitas muslim sendiri ternyata nyaris berhenti sebagai slogan dan kehilangan kekuatannya untuk menyuntikkan kesadaran akan kebersihan dan kepedulian lingkungan pada umumnya. Ironisnya, pesantren, yang sering digambarkan sebagai pusat pendidikan muslim tradisional yang telah cukup lama berakar di Indonesia, seperti sulit untuk dilepaskan dari citra yang berseberangan dengan ajaran tersebut. Bagaimana kita bisa memahami salah satu ironi di dunia pesantren ini?

Secara sosiologis, kebanyakan pesantren di Indonesia tumbuh dari lingkungan alam pedesaan. Dengan latar seperti ini, maka kedekatan komunitas pesantren dengan alam terajut secara natural. Seperti di lingkungan masyarakat pedesaan pada umumnya, santri mula-mula terbiasa membersihkan lingkungan pondoknya dua kali sehari, yakni pada pagi hari dan sore hari. Nasi bungkus atau sejenisnya yang dijual di lingkungan pondok menggunakan daun pisang. Warung atau toko di dalam pesantren relatif tidak banyak, karena santri-santrinya kebanyakan masih memasak sendiri untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Perubahan pola konsumsi masyarakat akibat semakin masifnya infiltrasi dunia industri dan bisnis (lebih tepatnya: kapitalisme) ke wilayah pelosok pedesaan pada satu sisi telah menantang proses pendidikan lingkungan berbasis pendidikan moral yang dilakukan di pesantren. Sementara pesantren masih bergulat keras untuk lebih membumikan ajaran-ajarannya tentang kebersihan, cinta lingkungan, pola hidup sederhana, dan semacamnya, pesantren tiba-tiba juga harus berhadapan dengan tantangan terpaan badai global berupa gaya hidup konsumeristik dan instan yang pada gilirannya dapat menyurutkan pencapaian upaya penanaman pendidikan lingkungan tersebut.

Seperti halnya di komunitas masyarakat lain pada umumnya, modernisasi dengan berbagai produk teknologi dan mesin kapitalismenya telah menceraikan kesadaran akan persaudaraan manusia dengan alam. Masyarakat kita, seperti juga terjadi di pesantren, menjadi miskin wawasan, informasi, dan—yang terpenting—kepekaan, tentang berbagai dampak buruk dari pola dan gaya hidup kita yang berubah itu. Miskinnya informasi dan kepekaan ini praktis kemudian tak memberikan dorongan yang berdaya untuk memikirkan secara lebih intens penanganan teknis masalah lingkungan, kebersihan, dan semacamnya secara lebih terpadu dan “radikal”.

Berbagai potensi bidang studi di sekolah formal, baik sains maupun humaniora, yang dapat diarahkan pada upaya pendidikan lingkungan tetap bergerak dengan alur kurikulum yang standar: mengikuti kehendak negara—bukankah hampir semua pesantren kini memiliki sekolah formal “bermazhab negara” yang seperti nyaris “lebih kuat” dibandingkan dengan kegiatan kepesantrenannya? Kalaupun ada beberapa guru atau sekolah yang mulai melakukan terobosan baru untuk memasukkan unsur ekopedagogi dalam aktivitas kependidikannya, itu masih membutuhkan dukungan integratif dari pihak-pihak dan sistem terkait, termasuk yang bersifat teknis.

Pendidikan sains dan humaniora di sekolah kita tak cukup mampu merespons perubahan cepat pola konsumsi dan gaya hidup instan yang terjadi di masyarakat, sehingga ia tak memberi porsi yang cukup besar untuk memperkaya informasi dan wawasan serta memupuk kesadaran akan kecintaan terhadap bumi—satu-satunya rumah bersama umat manusia. Padahal, jika ditarik ke dimensi religius, penghargaan terhadap sumber daya alam pada dasarnya adalah sebentuk rasa syukur terhadap anugerah Allah swt.

Dewi Lestari, seorang novelis yang belakangan juga memberi perhatian yang besar terhadap isu lingkungan, menulis di weblognya ihwal bagaimana kita tidak dididik untuk tahu—atau mau tahu—tentang dari mana benda-benda yang kita konsumsi berasal, berapa banyak sumber daya alam yang digunakan untuk memproduksi itu semua, dan ke mana semua itu akan berakhir riwayatnya—kertas, tisu, bungkus permen, puntung rokok, komputer, pakaian, dan sebagainya.

Mungkin matematika akan sedikit menunjukkan manfaatnya jika kita secara kasar mencoba berhitung tentang satu segi atau salah satu sumber daya yang terpakai di lingkungan Pesantren Annuqayah ini. Pasta gigi, misalnya. Dari empat ribu lebih santri Annuqayah, ke manakah kemasan pasta gigi mereka tiap bulannya, dan bagaimana nasibnya? Dari sedikitnya 17 unit pendidikan formal di Annuqayah yang hampir dipastikan semuanya mengkonsumsi air dalam kemasan plastik, bagaimana dan ke mana sampah-sampahnya ditangani?

Lemahnya upaya untuk memperkuat dan menyebarkan informasi dan kepekaan ini membuat tantangan untuk membumikan ajaran-ajaran moral tentang kebersihan dan pendidikan lingkungan di pesantren menghadapi tantangan berat. Pendidikan moral untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk merawat kehidupan dan alam semesta menjadi seperti tak berjangkar jika tak dibarengi dengan informasi, media, contoh, dan “basis material” yang memadai.

Dari paparan singkat di atas ini, dapatlah disimpulkan bahwa untuk membenahi pendidikan lingkungan di pesantren, pesantren setidaknya harus bermain di dua wilayah sekaligus: perhatian di bidang pengayaan dan penyebaran informasi serta aspek teknis terkait, serta integrasi pendidikan lingkungan berbasis moral ke dalam seluruh aktivitas kependidikan.

Pergulatan pesantren untuk mengokohkan pendidikan lingkungan di komunitasnya pada sisi yang lain juga memperlihatkan cara pesantren merespons perubahan yang bersumber dari luar. Aspek yang cukup terkait dengan pendidikan lingkungan ini dapat berupa pola konsumsi komunitas pesantren pada umumnya dan juga praksis pendidikan moral, yakni pendidikan nilai-nilai keagamaan, di lingkungan pesantren. Sungguh, dua hal ini sangat menarik dan menggoda untuk ditelaah secara lebih serius dan mendalam, terutama hal yang terakhir. Karena bagaimanapun, pendidikan di pesantren sejatinya adalah pendidikan moral yang berlandaskan ajaran-ajaran Islam.



Tulisan ini dimuat di Majalah Muara, 2009.

Baca juga:

Read More..

Rabu, 01 April 2009

Belajar Bersama tentang Persoalan Lingkungan

Setelah sempat tertunda dua kali, akhirnya program pelatihan dan penguatan kapasitas untuk seluruh anggota tim proyek School Climate Challenge (SCC) Competition British Council SMA 3 Annuqayah terlaksana. Memang, realisasinya tidak persis sama dengan yang direncanakan. Jika mulanya program pelatihan dan penguatan kapasitas di awal ini dirancang berlangsung tiga hari berturut-turut, namun akhirnya terlaksana tidak demikian.

Pelatihan yang isinya membahas persoalan-persoalan lingkungan hidup yang bersifat mendasar dalam konteks perubahan iklim terlaksana dengan waktu yang terpisah selama empat kali. Putaran yang pertama berlangsung pada hari Rabu, 18 Maret 2009 bertempat di Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah.

Sebelumnya, anak-anak sudah disuplai dengan bahan-bahan berupa buku, majalah, dan berbagai kutipan dari internet yang cukup melimpah yang berisi berbagai pembahasan tentang masalah lingkungan hidup dengan berbagai aspeknya. Awal Maret kemarin, ketiga anggota tim juga mencari data dengan mengkliping koran-koran beberapa bulan terakhir. Jadi, fungsi saya hanya lebih sebagai fasilitator saja, atau mencoba mengarahkan pembicaraan berdasar apa yang mereka baca.

Pesertanya bukan hanya anggota tim inti tiga proyek, yakni proyek sampah plastik, proyek konservasi pohon siwalan, dan proyek pupuk. Siswi yang juga menyatakan diri siap sebagai pendamping tim inti juga mengikuti kegiatan pelatihan ini.

Dalam sesi yang berlangsung mulai 13.45 hingga 16.00 WIB ini, saya memfasilitasi anak-anak untuk berdiskusi masalah perubahan iklim atau pemanasan global. Sebelum memulai diskusi, saya memutar video pendek bertajuk “Pemanasan Global dan Dampaknya” yang dikeluarkan oleh Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI. Video berdurasi sekitar 11 menit ini menjadi pengantar yang baik untuk memahami masalah perubahan iklim. Bahan utama sesi ini juga adalah hasil unduhan dari situs Wikipedia dan National Geographic edisi khusus yang membahas tentang Perubahan Iklim.

Putaran kedua diskusi berlangsung pada hari Ahad, 22 Maret 2009. Tempatnya juga masih di Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah. Pada kesempatan ini, diskusi diarahkan untuk menggali masalah-masalah lingkungan hidup secara umum. Khusus pada putaran kedua ini, saya mencoba fokus pada masalah penanganan sampah dan energi.

Putaran ketiga diskusi berlangsung pada hari Selasa, 24 Maret 2009. Diskusinya melanjutkan perbincangan pada pertemuan sebelumnya, dengan berpindah pada isu hutan, problem pangan, dan keanekaragaman hayati. Sesi ketiga ini berlangsung agak lama, karena setelah berdiskusi anak-anak saya ajak nonton film The Day After Tomorrow.

Putaran terakhir diskusi dilaksanakan pada hari Selasa, 31 Maret 2009. Kali ini tempatnya di Markas Tim Lomba SCC yang baru saja direhab. Meski tempatnya sangat sederhana, anak-anak tetap antusias. Pada putaran terakhir ini, diskusi diarahkan pada solusi penanganan masalah perubahan iklim. Saya juga mengajak anak-anak untuk mencoba memahami akar masalah perubahan iklim ini, yang sejatinya berakar pada problem akhlak manusia terhadap lingkungan. Sentuhan pendekatan etis saya masukkan di sini.

Dengan modal sentuhan etis itu, saya mencoba menghubungkan kegiatan masing-masing proyek sebagai refleksi dan tindak lanjut yang diperlukan untuk mengatasi salah satu aspek persoalan lingkungan yang sudah dibahas sebelumnya. Jadi, saya mencoba meneguhkan konteks masing-masing proyek.

Empat rangkaian diskusi ini saya harapkan dapat menjadi modal dan penyemangat bagi anak-anak untuk terlibat lebih jauh dalam kegiatan cinta lingkungan pada umumnya. Menurut saya, miskinnya informasi dan wawasan tentang masalah-masalah lingkungan menjadi salah satu penyebab rendahnya kepedulian masyarakat pada umumnya untuk bersikap lebih ramah pada alam. Karena itu, dengan terus memperkaya pengetahuan tentang masalah-masalah lingkungan, diharapkan muncul sikap dan kepedulian yang lebih kuat untuk bersahabat dengan alam.

Read More..