Minggu, 04 Mei 2008

Runtuhnya Kekuatan Bahasa Ibu: Madura



Bahasa ibu – atau yang secara populer, tetapi kurang tepat, disebut juga bahasa daerah – di Indonesia saat ini sedang terancam kepunahan. Globalisasi yang menyerbu melalui berbagai media telah meminggirkan khazanah budaya daerah, termasuk bahasa. Penutur bahasa daerah cenderung semakin sedikit.

Kekhawatiran semacam ini sebenarnya cukup berkembang di Tanah Air, seperti tercermin pada Kongres Kebudayaan Madura Maret 2007 di Sumenep, atau dalam Kongres Bahasa Jawa IV di Semarang beberapa bulan sebelumnya.

Kerisauan berbagai pihak, terutama kalangan budayawan, atas nasib budaya dan bahasa ibu ini didasarkan atas kesadaran, kedua hal tersebut memuat nilai-nilai signifikan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seseorang.

Ajip Rosidi (Suara Merdeka, 26/2/2007), sastrawan dan penggagas Hadiah Rancage, menegaskan, anak-anak belajar memahami dunia dan lingkungannya melalui bahasa ibu. Bahasa ibu menancapkan nilai-nilai dan norma yang kemudian berakar kuat pada diri seseorang.

Seperti disinyalir Ajip Rosidi, generasi mutakhir Indonesia saat ini bahasa ibunya adalah bahasa Indonesia. Ini terutama banyak ditemukan di kota-kota besar. Afrizal Malna, penyair kontemporer Indonesia, memberikan pengakuan yang cukup menarik disimak. Bagi penyair kelahiran Jakarta itu, bahasa Indonesia yang menjadi bahasa ibunya ?telah kehilangan akal budayanya dan diterima hanya sebagai alat komunikasi dan politik penyatuan? (Afrizal, 2002: 68-70).

Ada nuansa keterasingan yang terekam karena nilai-nilai kebudayaan yang tersimpan dalam bahasa Indonesia tak pernah bisa akrab dengannya. Ada catatan kerinduan atas bahasa ibu dan khazanah kebudayaan yang dikandungnya, yang ternyata tak dimiliki oleh bahasa Indonesia.


Kasus di Madura

Dalam konteks kebudayaan Madura, ada satu contoh mutakhir tentang meredupnya bahasa Madura. Awal 2008 ini, Lomba Cipta dan Baca Puisi Madura yang digelar Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Wiraraja Sumenep ternyata hanya diikuti 17 peserta.

Terkait dengan itu, Achmad Zaini Makmun, Staf Ahli Balai Bahasa Surabaya, semakin yakin dengan hasil riset yang memprediksi bahwa bahasa Madura akan musnah pada tahun 2024. Hal itu akan ditandai dengan hilangnya apresiasi dan kepemilikan warga Madura terhadap bahasa ibunya.


Tiga masalah utama

Menurut penulis, setidaknya ada tiga masalah utama dalam proses pemudaran bahasa ibu ini. Pertama, masalah dokumentasi yang ditandai oleh tidak cukup banyaknya dokumentasi tentang bahasa Madura yang ditulis dengan rapi, baik, dan dapat diakes secara luas, baik dalam bentuk kamus maupun karya kesusastraan pada umumnya. Menurut Prof Mien, sampai saat ini berbagai karya literer Madura, seperti Trunojoyo, Joko Tole, Ke' Lesap, dan Bindara Saud, belum tertuang dalam buku sastra yang standar.

Andai kata sudah ada upaya dan produk yang terdokumentasi, lalu ke mana sebenarnya arah pemanfaatan khazanah bahasa Madura tersebut untuk konteks kekinian?

Di zaman dengan kemajuan ilmu dan teknologi luar biasa seperti saat ini, terlihat jelas betapa bahasa ibu seperti bahasa Madura tak cukup kredibel berperan sebagai penyampai kemajuan-kemajuan itu.

Sebenarnya cukup menarik untuk melihat peran pesantren tradisional (atau pesantren salaf) di Madura yang hingga saat ini menggunakan bahasa Madura sebagai bahasa pengantar utama dalam pengajaran kitab kuning. Bagi sebagian mereka, bahasa Madura bahkan dipandang lebih lengkap dan komprehensif menggambarkan status gramatikal struktur bahasa Arab dalam kitab kuning yang diajarkan dibandingkan dengan bahasa lain.

Akan tetapi, saat ini banyak pesantren di Madura mengalami transformasi kelembagaan (pendidikan) yang cukup menarik untuk diamati sehingga lambat laun penggunaan bahasa Madura dalam pengajaran kitab kuning atau sebagai bahasa pengantar mulai merosot. Banyak pesantren mengadopsi begitu saja sistem pendidikan nasional yang notabene tidak berbasis bahasa ibu. Kecenderungan kuat ini sungguh telah melemahkan peran pesantren dalam melestarikan bahasa Madura.

Hal penting lain: parahnya kedudukan karya terjemahan kitab-kitab kuning ke dalam bahasa Madura yang ditulis dengan huruf Arab pegon dalam dunia percetakan. Banyak karya jenis ini yang dicetak dengan kemasan amat sederhana dan dijual dengan harga cukup murah.

Seperti cetakan karya-karya bernilai dari Kiai Abdul Madjid Tamim (Pamekasan), Kiai Umar Faruq (Bangkalan), Kiai Muhammad Nur Muniri Isma'ili (Pamekasan), dan sebagainya. Bahkan, beberapa karya kiai ternama, Kiai Habibullah Rais (Sumenep), harus dicetak dan didistribusikan sendiri. Hal ini seperti sebuah proses pemusnahan yang berlangsung sistemik dan sistematis.


Dalam kesenian

Peran penting lain pesantren dalam pelestarian bahasa Madura ada pada pengembangan sastra Madura, khususnya pada bentuk syi’ir, salah satu bentuk puisi Arab yang lazim digubah di kalangan santri atau kiai.

D Zawawi Imron (1989: 194-198) mencatat, sebenarnya ada beberapa syi’ir Madura yang pernah diterbitkan. Namun, sayang, dokumentasi syi’ir Madura itu saat ini nyaris tak dapat ditemukan lagi, antara lain karena dokumentasi tidak dilakukan dengan cukup baik, bahkan oleh penggubahnya.

Akhirnya, masalah ketiga bahasa Madura ada di soal kelembagaan. Siapakah secara kelembagaan yang dapat berperan aktif untuk mengupayakan pelestarian bahasa dan sastra Madura? Berbagai lembaga sosial di masyarakat, seperti digambarkan di atas, semisal pesantren atau seni tradisi, ternyata tak cukup memiliki daya tahan kuat untuk memaksimalkan pemanfaatan bahasa dan sastra Madura.

Sementara itu, pemerintah cenderung memperlakukan kekayaan khazanah budaya lokal dalam paradigma pariwisata, yang sesungguhnya hanya selimut dari proses peminggiran.

Kini tinggal mengharap Kongres Bahasa Madura dapat segera terlaksana. Di ajang itu berbagai persoalan dapat dibicarakan secara mendalam sehingga bahasa Madura yang digunakan oleh lebih dari 13 juta penutur itu tak tinggal hanya jadi sejarah, pengisi kertas yang kian menguning.


Tulisan ini dimuat di Harian Kompas, 7 Juni 2008.

Read More..

Senin, 28 April 2008

Dilema Etis Pembocoran UN

Setelah Ujian Nasional (UN) SMA usai dilaksanakan selama 3 hari (22-25 April 2008), berbagai media kembali menurunkan berita tentang kebocoran dan atau kecurangan. Kasus di SMAN 2 Lubuk Pakam, Deli Serdang, Sumatera Utara, mungkin termasuk yang cukup dramatis. 16 orang guru dipergoki membetulkan lembar jawaban siswa saat ujian Bahasa Inggris di hari kedua UN. Keenam belas guru tersebut kini berstatus tersangka ditambah dengan seorang kepala sekolah.

Pro-kontra UN kembali mencuat. Perdebatan kembali mengemuka. Mereka yang membenarkan tindakan para guru yang membantu murid-muridnya seperti dalam kasus Lubuk Pakam itu berargumen bahwa para guru itu—juga murid—sebenarnya adalah korban kebijakan Depdiknas atas UN. Karena UN dijadikan tolok ukur keberhasilan pendidikan di daerah dan satu-satunya penentu kelulusan siswa, maka baik guru maupun siswa menjadi tertekan dan berupaya dengan segala cara untuk memenuhi target kelulusan yang ditetapkan.

Dari sisi positif, ketertekanan ini telah menjadikan UN sebagai pemacu semangat belajar (Fathurrofiq, Kompas, 7/1/2008). UN menuntut sekolah dan siswa untuk unjuk prestasi. Bimbingan belajar digalakkan, dan program-program pendukung serupa giat dilaksanakan. Senada dengan fenomena ini, demikianlah pendapat yang dinyatakan oleh kelompok pendukung UN, yakni bahwa UN diyakini akan mampu meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

Namun demikian, aspek negatif dari tekanan target kelulusan UN juga telah banyak dikemukakan. Suparman, Ketua Federasi Guru Independen Indonesia, di bulan November tahun lalu menyatakan bahwa UN telah menyebabkan proses belajar di dalam kelas bertambah kering (Kompas, 5/11/2007). Anak didik lebih hanya dilatih untuk menyiasati soal. Guru dan murid kemudian terperangkap dalam mentalitas instan, lebih mengutamakan hasil akhir dan mengabaikan proses.

Aktivitas pembelajaran kemudian diarahkan pada upaya agar siswa dapat menjawab soal-soal UN. Yang demikian ini pada gilirannya kemudian membuat arah pembelajaran rentan terlepas dari basis kebutuhan siswa yang sebenarnya. Pelajaran Bahasa Inggris di sebuah SMK jurusan perkapalan, misalnya, kemudian akan lebih difokuskan pada kisi-kisi soal seperti yang biasa muncul di dalam UN. Padahal, bisa jadi yang lebih dibutuhkan para siswa sebenarnya adalah pelajaran Bahasa Inggris dengan tema-tema yang berkaitan dengan dunia perkapalan.

Meski penolakan atas UN cukup gencar, nyatanya UN tetap dilaksanakan. Mungkin karena yang terjadi demikian, yakni UN tetap digelar, maka mereka yang menolak UN karena memandangnya sebagai “kekerasan” negara dalam dunia pendidikan— khususnya berkaitan dengan otorisasi evaluasi mutu pendidikan di tengah kesenjangan yang cukup kentara antara di kota-kota besar dan daerah—merasa menemukan semacam pembenaran untuk membantu siswa saat siswa dilihat tak mampu menjawab soal-soal ujian.

Sejauh ini, perdebatan tentang pro-kontra UN, yang kemudian juga cukup terkait dengan kasus pembocoran soal melalui sebuah upaya disengaja untuk membantu siswa, lebih banyak berfokus pada peranan negara dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, sebagaimana tergambar dalam pemaparan di atas. Kemudian, bagaimana jika kontroversi UN ini dilihat dari perspektif anak didik, terutama jika UN dilihat sebagai bagian dari seluruh proses evaluasi pendidikan?

Terlepas dari setuju atau tidak atas kasus pembocoran kunci jawaban UN dengan maksud untuk membantu siswa, jika dilihat dari perspektif anak didik, maka di balik kasus ini sebenarnya terjadi pencederaan atas hakikat pendidikan. Bagaimana para pendidik yang mestinya menjadi teladan pendidikan itu akan menjelaskan kepada para siswa dan masyarakat luas sehingga mereka harus melakukan tindakan pembocoran tersebut—bahkan jika, anggaplah, kita sepakat bahwa negara telah menerapkan kebijakan yang keliru dengan UN?

Pada titik ini, guru yang membantu siswa menjawab soal UN berhadapan dengan dilema etis: apakah dia akan membiarkan siswanya kesulitan menjawab soal-soal UN, dengan konsekuensi si anak didik kemungkinan akan tidak lulus dan kemudian frustrasi, atau dia akan membantu siswa dengan konsekuensi dia akan memperlihatkan teladan yang secara umum akan dipandang kurang baik?

Berdasarkan fakta kebocoran dan atau kecurangan yang terjadi di lapangan dan melibatkan unsur sekolah, sebagaimana dilansir berbagai media, dilema etis ini kemudian terjawab: bahwa lebih baik membantu siswa, agar mereka dapat melanjutkan proses pendidikan dengan lancar. Pilihan yang diambil semacam ini mungkin dapat dikatakan sebagai sikap pragmatis. Akan tetapi, dalam situasi yang dilematis, mereka yang memilih tindakan pembocoran ini mungkin beranggapan bahwa pemenuhan target kelulusan siswa adalah yang paling utama. Perlu digarisbawahi, fakta kebocoran yang terungkap di media boleh jadi hanyalah gunung es dari fakta yang lebih luas dan lebih memprihatinkan.

Sampai di sini, dilema etis dan pilihan sikap yang sepertinya relatif cukup banyak diambil oleh guru dan sekolah kembali menerbitkan implikasi lain yang cukup penting dikemukakan: dalam konteks proses pendidikan, UN ternyata tak cukup mampu meneguhkan sekolah sebagai tempat persemaian pendidikan karakter para siswa. Dalam konteks hasil akhir evaluasi, UN kemudian hanya menjadi semacam seremoni yang sarat dengan unsur formalitas belaka. Alih-alih meningkatkan mutu pendidikan, tekanan kuat UN malah menjadi semacam teror mental bagi sekolah dan anak didik. Di sisi yang lain, pembocoran jawaban seperti yang telah terjadi berpotensi untuk kurang menghargai siswa-siswa yang telah belajar dengan tekun dan cukup berprestasi, sehingga malah berpeluang untuk memupuk iklim malas belajar. Buat apa belajar, jika nanti saat UN akan ada tim sukses.

Sejalan dengan kerangka pemikiran Mochtar Buchori (2007: 178-180), evaluasi pendidikan melalui UN kemudian menjadi sangat simplistik dan sangat jauh untuk dapat memahami diri setiap murid secara utuh sebagai sosok pribadi (person), sehingga potensi masing-masing anak didik tak dapat dikenali dan dikembangkan secara baik di sekolah.

Implikasi dilema etis pembocoran kunci jawaban UN ini tidak hanya menjadi masalah bagi mereka yang terlibat dalam tindakan pembocoran tersebut. Ini adalah pekerjaan rumah bersama yang harus diselesaikan oleh para pendidik di negeri ini. Arah akhirnya adalah bagaimana sistem evaluasi pendidikan di sekolah dapat membantu mendukung cita-cita pendidikan yang membebaskan, bahwa sekolah akhirnya dapat berfungsi sebagai tempat penanaman nilai-nilai dan keteladanan serta pola berpikir yang jernih bagi anak didik, untuk membentuk generasi yang berkarakter dan tangguh menghadapi tantangan zaman.

Read More..

Selasa, 22 April 2008

Menyemai Pendidikan Lingkungan di Sekolah


Beberapa pekan terakhir, kasus penjarahan hutan kembali menguap ke media massa. Di Ketapang, puluhan tersangka ditangkap dan 12 ribu meter kubik kayu olahan disita. Di antara yang ditangkap termasuk juga aparat kepolisian,. Kerugian negara dalam kasus ini diperkirakan bernilai triliunan rupiah. Sementara itu, sebuah data mengungkapkan bahwa laju perusakan hutan di Indonesia mencapai 2 juta hektar per tahun.

Berita penjarahan hutan yang dilakukan secara berjamaah adalah salah satu tragedi lingkungan yang mengenaskan. Pembabatan hutan telah meminta ongkos sosial yang sangat mahal: perubahan iklim dan beragam bencana alam seperti longsor dan banjir pada gilirannya telah semakin sering terjadi, yang menyumbangkan kerugian tak terhingga pada masyarakat luas.

Yang menarik dicermati, kehancuran ekosistem yang mengganggu keseimbangan alam sejauh ini nyaris hanya menjadi perhatian para aktivis lingkungan saja, selain para aparat terkait. Masyarakat umum seperti tak terlalu berkepentingan dan merasa tak terhubung dengan isu-isu lingkungan. Isu-isu lingkungan oleh masyarakat umum dipersepsikan sebagai sesuatu yang hanya terkait dengan soal penebangan liar atau konservasi hutan, dan jauh dari kehidupan sehari-hari yang mereka jalani.

Pemahaman seperti ini semestinya harus diubah. Tanggung jawab untuk merawat bumi dengan segala isinya seharusnya menjadi tugas bersama, tak hanya para pejabat atau aktivis lingkungan. Menyelamatkan masa depan bumi bisa dilakukan oleh setiap orang. Kesadaran untuk peduli, memikirkan, dan ikut ambil bagian dalam upaya menjaga alam dan lingkungan semestinya ditanamkan sejak dini.

Selain di lingkungan keluarga, pendidikan lingkungan hidup akan baik jika dilakukan melalui jalur pendidikan formal atau sekolah. Isu-isu lingkungan dapat diperkenalkan secara integral dengan dipadukan ke dalam berbagai mata pelajaran yang relevan di sekolah. Anak didik sejak dini diperkenalkan dengan krisis lingkungan, seperti perubahan iklim dan pemanasan global.

Menjelaskan perubahan iklim dan pemanasan global dapat dilakukan dengan pendekatan yang sangat ilmiah. Dalam hal ini, mata pelajaran eksak (seperti fisika, kimia, atau biologi) bisa mengambil peran. Akan tetapi, isu perubahan iklim dan pemanasan global bisa juga dijelaskan dari hal-hal yang sederhana. Seperti bahwa sampah plastik turut memiliki andil terhadap perubahan iklim, bahwa sejak proses produksi hingga tahap pembuangan, sampah plastik mengemisikan gas rumah kaca ke atmosfer, bahwa kegiatan produksi plastik membutuhkan sekitar 12 juta barel minyak dan 14 juta pohon setiap tahunnya, bahwa proses produksinya sangat tidak hemat energi, dan bahwa pada tahap pembuangan di lahan penimbunan sampah (TPA), sampah plastik mengeluarkan gas rumah kaca.

Dewi Lestari, penulis novel laris Supernova yang juga seorang environmentalis, dalam weblognya (www.dee-idea.blogspot.com) menulis bahwa pelajaran ilmu alam di sekolah semestinya juga diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran kepada anak didik tentang hulu dan hilir dari benda-benda yang kita konsumsi sehari-hari; tentang bagaimana sumber daya alam dikuras untuk memproduksi barang-barang, dan bagaimana barang-barang yang dihasilkan itu pada akhirnya justru menjadi perusak keseimbangan alam itu.

Pendidikan lingkungan di sekolah yang bertolak dari hal-hal yang bersifat ilmiah dan dipadukan dengan contoh sehari-hari yang dekat dengan anak didik selanjutnya diarahkan pada perubahan perilaku anak didik yang lebih bersahabat dengan lingkungan. Penting untuk dicatat bahwa upaya pelestarian lingkungan dapat dilakukan dari hal yang paling sederhana, dari hal-hal yang kecil. Penangkapan para pembabat hutan mungkin merupakan salah satu contoh yang bisa jadi terasa jauh dan terlalu “besar” dari sudut pandang kehidupan sehari-hari anak didik. Sebaliknya, mengurangi penggunaan kantong plastik—atas dasar kesadaran betapa merusaknya sampah plastik bagi kelestarian alam—dapat dilakukan dari sekolah dan juga dari rumah langsung oleh anak didik.

Pada titik ini pendidikan lingkungan diharapkan dapat membiasakan anak didik untuk hidup dengan pola yang ramah lingkungan. Dengan mengambil contoh pengurangan sampah plastik misalnya, anak didik diajak untuk terbiasa menggunakan tas kain ketika berbelanja atau membawa kantong plastik bekas sendiri dari rumah. Tentu saja ini bukan langkah yang mudah—bahkan bagi seorang aktivis lingkungan sekali pun.

Menyemai pendidikan lingkungan hidup di sekolah telah menjadi perhatian para aktivis lingkungan. Pada Environmental Teachers’ International Convention (ETIC) 2008 yang diselenggarakan di Pasuruan akhir Maret lalu, penulis mendapatkan banyak pengalaman yang cukup berharga tentang beragam metode dan pendekatan yang mungkin dilakukan untuk menanamkan kesadaran lingkungan pada anak didik. Di antaranya dengan mengarusutamakan isu-isu lingkungan dalam kurikulum dan aktivitas sekolah. Juga dengan kegiatan-kegiatan lapangan yang mendekatkan anak didik dengan problem lingkungan sehari-hari.
Agenda penguatan pendidikan lingkungan di sekolah ini harus mendapatkan perhatian khusus bagi kalangan pendidik. Di kota-kota besar, lingkungan sekolah terbukti juga menjadi pusat penyumbang sampah yang tidak kecil. Seorang rekan penulis yang menjadi guru di sebuah sekolah swasta di Surabaya menyatakan bahwa di sekolahnya setiap hari rata-rata seluruh siswa membuang lebih dari 100 kemasan minuman berbahan plastik. Itu pun baru dari dua merek minuman dalam kemasan yang paling laku. Belum lagi bungkus makanan ringan yang semuanya berbahan plastik.

Data sederhana seperti ini tentu saja harus menjadi perhatian pihak sekolah untuk kemudian turut berpartisipasi menyalakan kembali kesadaran dan tanggung jawab siswa dan seluruh elemen sekolah tentang upaya pelestarian bumi. Ikhtiar ini akan sangat menantang karena pada dasarnya juga akan masuk pada soal penyadaran dan pengubahan gaya hidup kita yang kian hari nyaris semakin tak peduli dengan nasib dan masa depan bumi. Akan tetapi, jika tak kunjung dimulai, bahkan dari hal yang sangat sederhana sekali pun, nasib bumi akan semakin merana, dan itu juga berarti bahwa masa depan umat manusia juga akan suram dan nestapa.

Read More..

Sabtu, 12 April 2008

Ganti Hati dan Renungan Menjemput Mati

Judul buku : Ganti Hati
Penulis : Dahlan Iskan
Penerbit : JP Books, Surabaya
Cetakan : Pertama, Oktober 2007
Tebal : viii + 328 halaman


Saat pertama kali dimuat secara bersambung di Harian Jawa Pos bulan Ramadan lalu, saya tak terlalu tertarik untuk membaca tulisan Dahlan Iskan bertajuk Ganti Hati. Lagi pula, Ramadan lalu, setiap pagi, saya punya jadwal yang cukup padat sehingga saya hanya melihat-lihat headline Jawa Pos, dan membaca berita sekadarnya.

Saya baru tertarik untuk membaca buku Ganti Hati ketika saya berjumpa dengan sahabat saya di Jakarta, di sebuah acara di akhir November tahun lalu. Di sela-sela acara yang kami ikuti, teman saya yang populer dipanggil Pak Guru itu mengajak saya untuk berkunjung ke Ibu Listiana Srisanti, kepala editor fiksi Gramedia. Di sana, Pak Guru—yang nama aslinya J Sumardianta dan mengajar di SMU Kolese de Britto Yogyakarta—memperlihatkan dan bercerita buku Ganti Hati yang baru dibacanya.

Sepulang dari Jakarta, saya sempatkan membeli buku Ganti Hati itu di sebuah toko buku di Surabaya. Beberapa hari kemudian, saya membaca buku itu. Tak genap dua hari saya melahap buku setebal 300-an halaman itu (teman saya yang meminjamnya kemudian menuntaskannya tak lebih dari 7 jam!). Dan ternyata Pak Guru tak salah: Ganti Hati memang buku bagus.

Buku Ganti Hati pada dasarnya adalah semacam catatan harian Dahlan Iskan yang menceritakan pengalamannya di sekitar operasi ganti hati yang dijalaninya di sebuah rumah sakit terkemuka di Tianjin, Tiongkok. Dasar seorang wartawan, Dahlan merekam semua pengalamannya itu dengan cukup terperinci untuk kemudian disajikan dalam sebuah tulisan berseri selama 32 hari.

Karena keluasan wawasan dan pengalaman yang dimilikinya, selain mungkin juga karena teknik penulisannya yang cukup mengalir dan pintar mengelola alur, maka buku Ganti Hati ini kemudian menjadi lebih dari sekadar catatan pengalaman cangkok hati. Ia juga bisa bergerak ke sana kemari: bercerita tentang lika-liku kehidupan Dahlan yang kemudian mengantarkannya pada kesuksesan bisnis yang diraihnya saat ini, mengkritik berbagai fenomena sosial-politik, atau juga mengantar pada perenungan hidup yang mendalam di sekitar—meminjam istilahnya Pak Guru—zona sakaratul maut.

Dahlan menjalani operasi ganti hati karena livernya sudah rusak. Ada tiga kanker yang sudah berbiak dalam livernya itu, selain dua calon kanker yang lain yang siap bersarang. Secara medis, fungsi liver Dahlan sudah nyaris tak berfungsi karena mengalami sirosis. Kadar albuminnya juga rendah, yakni 2,7 (normalnya 3,2), selama lebih dari 10 tahun, sehingga Dahlan susah berkeringat dan sulit buang air kecil.

Liver Dahlan rusak akibat virus hepatitis B yang tak dapat diatasi. Karena sudah rutin disuntik, Dahlan mengira hepatitisnya sudah beres. Tapi ternyata tidak demikian. Dahlan baru sadar bahwa virus hepatitis yang mendekam dalam tubuhnya ternyata telah nyaris mengancam nyawanya pada Mei 2005, ketika dalam waktu delapan hari ia terbang ke 19 kota. Setibanya dari perjalanan maraton itu, Dahlan muntah darah di Surabaya.

Sadar bahwa penyakitnya cukup serius, Dahlan pun berobat dan berkonsultasi dengan dokter, yang akhirnya menuntunnya pada keputusan untuk melakukan operasi ganti hati. Mengapa di Tiongkok? Dalam sebuah liputan di Majalah Tempo Dahlan menjelaskan bahwa dia memilih Tiongkok karena di sana tingkat kecelakaan lalu-lintas cukup tinggi, yakni 300 orang setiap hari (sebagian pasti meninggal), sehingga kemungkinan untuk mendapatkan hati yang cocok lebih besar daripada di Singapura, misalnya—di Singapura, bisa-bisa Dahlan harus antre 10 tahun! Di Tiongkok, Dahlan menjalani operasi di Rumah Sakit Yi Zhong Xin Yi Yuan, di Tianjin. Dokter yang memimpin operasinya bernama Shen Zhong Yang. Dokter berumur 52 tahun ini sudah melakukan operasi cangkok liver lebih dari 800 kali dan mencatat berbagai rekor cangkok liver.

Dengan kepekaan insting kewartawanannya, Dahlan mencatat detik-detik proses operasi dan hal-hal penting lainnya dengan cermat, dan kemudian dituturkan dengan baik. Akan tetapi, dalam buku ini Dahlan tidak hanya bercerita aspek medis dan teknis dari operasi ganti hati yang mengharuskannya untuk dibius selama 18 jam di awal Agustus 2007 lalu. Dahlan juga menghadirkan refleksi mendalam tentang makna kesederhanaan, kesyukuran atas nikmat hidup dan kesehatan, penanganan kesehatan masyarakat oleh negara, kaitan ilmu (kedokteran) dan agama, dan sebagainya.

Salah satu yang cukup menarik adalah ketika Dahlan membandingkan keberhasilan proses operasi yang dijalaninya dengan operasi yang dijalani Nurcholish Madjid yang gagal, sehingga ketika meninggal wajah Cak Nur menghitam. Pada saat itu ada pihak-pihak yang berbicara di media mencoba menghubungkan wajah Cak Nur yang menghitam itu dengan kemurkaan Tuhan yang dikaitkan dengan almarhum Cak Nur. Dalam salah satu bagian buku ini, Dahlan membongkar mitos tak berdasar dan kadang terkesan mengada-ada itu. Dahlan menjelaskan bahwa secara medis penderita sirosis akan mengalami wajah yang menghitam. Jadi, wajah menghitam saat meninggal itu belum tentu karena kemurkaan Tuhan. Yang pasti, menurut ilmu kedokteran, karena sirosis.

Membaca utuh Ganti Hati pada akhirnya akan mengantarkan kita pada satu kesimpulan besar betapa nikmat kesehatan yang kita miliki sungguh amat mahal harganya. Ironisnya, kebanyakan kita jarang sekali memberi harga yang tepat untuk nikmat kesehatan kita itu. Sering kali kesadaran kita akan nikmat kesehatan itu baru muncul saat kita tak lagi sehat dan tak berdaya. Refleksi Dahlan di zona sakaratul maut ini menyimpan banyak hikmah yang dalam yang semakin menyadarkan kita akan makna hidup yang bergulir menuju kematian, untuk kemudian masuk ke alam keabadian.

Read More..

Selasa, 08 April 2008

Bulan Mei Tanpa Waktu Bumi

Akhir bulan ini, aku ingin berlibur ke bintang. Aku tak ingin berada di waktu bumi untuk sekitar enam pekan. Aku tak ingin melihat kalender, jam-jam yang berdetak, berita-berita, pesan pendek, notulensi rapat atau agenda kerja. Aku ingin rehat. Aku butuh jeda.

Aku tak akan memberitahumu ke bintang apa aku akan berlibur. Aku ingin melewati bulan Mei tidak di bumi. Lalu, setibanya kembali nanti, aku akan sangat merindukan hujan bulan Juni.

Read More..

Kamis, 03 April 2008

Sepekan di Kaliandra


Rombongan kami tiba di Kaliandra sekitar jam 9 malam di penghujung hari Minggu. Suasana cukup gelap. Tak banyak lampu penerangan yang menyala di halaman begitu kami masuk di gerbang yang terbuat dari bambu. Saat itu aku masih tak punya bayangan tentang tempat yang akan kami tinggali selama sepekan. Juga orang-orang yang akan bersama kami. Aku tak terlalu memikirkan itu. Perjalanan dari jelang tengah siang tadi agak melelahkan juga. Ditambah dengan udara dingin dan gerimis yang turun sejak dari Surabaya tadi.

Kami diantar ke kamar oleh seorang anak yang kira-kira seusia dengan adik bungsuku. Dia membawa payung. Kami melewati jalan menaik berbatu yang tertata rapi. Kanan-kirinya cukup rimbun. Sekilas dari beberapa bangunan yang kami lewati, aku melihat corak bangunan tradisional Jawa dengan penataan yang asri. Akhirnya kami tiba di bangunan yang disebut-sebut oleh salah seorang yang menyambut kami tadi di halaman sebagai “Rumah Anjasmara”.

Rumah Anjasmara dapat dikatakan sebagai sebuah pondokan. Sederhana, tapi bersih dan rapi tertata. Bentuknya kubus dan memiliki loteng. Pintu depan tepat ada di tengah. Begitu masuk, kita akan berada di ruang tengah yang tak begitu luas. Ada seperangkat meja kursi yang ditata di bawah tangga yang menaik ke arah loteng. Lurus dengan pintu masuk, berderet 8 kamar mandi yang memenuhi sepanjang satu sisi rumah. Sisi kanan kiri ruang tengah adalah kamar tidur yang kulihat sudah ditempati beberapa orang.

Kami dipersilakan naik ke loteng. Tepat di sisi tangga terbawah, tertempel nama-nama peserta yang akan menempati loteng. Kalau tak salah ingat, ada sekitar 15 nama lengkap dengan alamatnya. Setelah melewati tangga terakhir, kami tiba di atas. Ada sekitar lima orang yang sudah di loteng. Di loteng yang berbentuk huruf “U” itu berderet kasur-kasur yang pas untuk satu orang. Rombongan kami memilih di bagian terdekat dengan tangga untuk turun. Sebelum keluar, si anak yang mengantar kami mempersilakan kami untuk makan malam di tempat yang sudah disediakan di dekat dapur. Tapi kami sudah makan tadi di perjalanan. Kami pun menata barang-barang kami, untuk kemudian rebahan.

Pagi pertama di Kaliandra. Aku keluar dari rumah sekitar jam setengah enam. Udara masih terasa dingin sekali. Maklum, Kaliandra berada di ketinggian sekitar hampir 900 meter di atas permukaan laut. Cahaya matahari tak cukup memancarkan kehangatan. Sisa gerimis selama masih cukup terasa di rimbun dedaunan. Di luar, aku melihat-lihat keadaan, mencoba mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang tempat yang ditata menghijau ini. Akhirnya aku tiba di sebuah pendopo yang sepertinya akan menjadi tempat utama kegiatan kami selama hampir sepekan. Sebuah pendopo biasa. Ada spanduk panjang terpasang di dalam. Di depannya, halaman yang cukup luas membentang. Ada pohon beringin berdiri kokoh.

Sepertinya, halaman pendopo ini akan difungsikan sebagai tempat pameran. Kami pun menyiapkan poster sederhana dan barang-barang lainnya yang akan diikutsertakan di tempat pameran tersebut. Kesibukan kami di pagi pertama selesai saat sarapan sudah disiapkan di ruang makan terbuka yang sederet dengan rumah penginapan kami.

Setelah mandi dan sarapan, semua peserta melihat-lihat poster dan berbagai macam barang yang dipamerkan di halaman pendopo. Hampir semua menampilkan kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan lingkungan hidup atau isu pemanasan global. Beberapa poster didesain dengan cukup serius.

Pembukaan resmi acara pertemuan guru lingkungan internasional ini dimulai agak siang—sekitar jam sepuluh. Selain sambutan-sambutan, kami juga disuguhi penampilan anak-anak Sekolah Ciputra yang membawakan beberapa lagu dan solo biola. Juga ada tarian tradisional Jawa. Prosesi pembukaan diakhiri dengan penyatuan tanah dan air yang dibawa oleh masing-masing tim peserta dari berbagai daerah dan penjuru dunia.

Selepas istirahat siang, acara dilanjutkan dengan pembicara utama. Seorang nenek tua yang tampak masih sangat energik. Profesor dari Universitas Negeri Malang bernama lengkap Radyastuti Suwarno. Dia berbicara dengan cukup mengalir, meyakinkan, dan tak membosankan. Namun begitu, hujan di luar yang cukup deras mengguyur cukup mengganggu konsentrasi kami mengikuti pemaparan pakar pendidikan lingkungan ini.

Selepas rehat sore, para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk diajak berkeliling di komplek Kaliandra. Selama berkeliling hingga matahari terbenam, kami mendapatkan banyak pemandangan indah di pusat pendidikan alam dan budaya yang luasnya 16 hektar ini. Masing-masing kelompok melewati jalur yang berbeda, sesuai dengan arahan pemandu. Kami naik turun bebukitan, beratus kelokan, menyeberangi semacam parit kecil, dan melewati beberapa bangunan dengan berbagai fungsi—rumah tinggal, kolam renang, pendopo, bengkel kerja, tempat pembibitan, kandang peternakan, pengolahan kompos, lumbung, dan sebagainya. Semuanya dalam lingkungan yang perdu menghijau dan penuh nuansa natural. Yang menarik, semua aktivitas dalam komplek Kaliandra ini seperti satu kesatuan yang saling menyokong, seperti sebuah sistem yang begitu menyatu padu.

Perjalanan berkeliling Kaliandra tak terasa cukup melelahkan. Udara dingin yang diselingi kabut menahan keringat di tubuh kami yang mungkin berjalan dalam jarak yang sebenarnya cukup jauh. Rehat malam berlangsung cukup singkat. Lalu dilanjutkan dengan sharing harapan dan kekhawatiran untuk kegiatan yang akan berlangsung hingga akhir pekan.

Hari kedua seharian diisi dengan presentasi. Dari pagi hingga siang, ada lanjutan presentasi dari pembicara utama, yakni dari Suko Widodo (Unair Surabaya). Selepas siang hingga malam, presentasi dilanjutkan dengan sesi paralel. Aku mengikuti sesi paralel presentasi dari utusan dari Polandia (Antoni Salamon), dan setelah itu dari Portugal (Fatima Matos Almeida).

Tim kami dari Annuqayah tampil sore harinya. Tak mengira presentasi kami cukup mencuri perhatian para peserta yang kebetulan memilih hadir di sesi kami. Seorang peserta dari Malaysia semalam memang sudah menaruh sedikit rasa takjub karena kami dari sebuah pesantren di Madura mau berbicara tentang lingkungan. Katanya, di Malaysia orang Madura memiliki citra yang kurang baik. Lagipula, pesantren di sana tak lebih dari hanya mengajar mengaji saja. Presentasi kami rupanya telah cukup mengubah citra dan kesan negatif tentang Madura—mungkin juga tentang pesantren.

Sesi malam diisi dengan pembicara utama yang tak bisa hadir tadi siang, yakni Richard Bachmann, seorang guru Sekolah Ciputra Surabaya. Dia mengantarkan diskusi pada bagaimana metode menumbuhkan kesadaran lingkungan melalui pendidikan—yang memang merupakan tajuk besar kegiatan ini.

Hari ketiga kami diajak jalan-jalan. Ada enam tempat tujuan yang disediakan panitia. Ke pantai (bakau) di Bangil, pusat industri di Pasuruan, hutan dan sawah (padi) di dekat komplek Kaliandra, sungai di Purwodadi, dan ekosistem urban di Malang. Semua peserta diminta untuk memilih tempat tujuan masing-masing. Aku memilih ikut ke sungai.

Setengah sembilan keenam rombongan diberangkatkan. Perjalanan ke Sungai Kaliadem Purwodadi di belakang Kebun Raya ditempuh sekitar satu jam. Begitu tiba, kelompok kami yang terdiri dari delapan orang dibagi menjadi tiga kelompok kecil, dan diminta melakukan survei singkat lokasi. Setelah berkeliling setengah jam, kami berkumpul dan berbagi informasi tentang sungai tersebut. Setelah itu, kami pun diajak kembali ke sungai, melakukan beberapa percobaan sederhana, dan mendiskusikan isu-isu lingkungan yang terkait hingga tiba makan siang. Kami kemudian makan siang sambil melanjutkan diskusi. Kami kembali ke Kaliandra sekitar jam dua siang, ketika hujan mulai turun.

Tiba di Kaliandra, ternyata rombongan yang lain masih banyak yang pulang datang. Tiba bersama kami, kelompok hutan dan sawah. Ditunggu-tunggu, kelompok yang lain cukup lama tiba, hingga waktu makan malam siap terhidang. Sesi malam yang mestinya sharing tentang pengalaman di lapangan tertunda. Tiap kelompok malam itu menyiapkan bahan presentasi besok.

Hari keempat seharian berupa presentasi hasil studi lapangan dari keenam kelompok. Masing-masing diminta berbagi apa yang sudah didapat, dengan penekanan pada metodologi apa yang mungkin dikembangkan untuk dapat dibawa ke sekolah atau komunitas dalam rangka penguatan kesadaran lingkungan. Sharing seharian telah cukup memberi banyak inspirasi, terutama menyangkut apa yang dapat dilakukan di masing-masing komunitas. Apa yang ada di sekitar kita ternyata dapat dijadikan sebagai titik tolak untuk menyemaikan kesadaran lingkungan. Alam adalah laboratorium besar yang dapat dimanfaatkan untuk banyak hal.

Malam harinya adalah penampilan bertajuk “Cultural Night”. Masing-masing daerah diminta menampilkan kesenian tradisional. Dari Papua, Pak Faroka, Pak Sipri, dan Pak Frans tampil dengan koteka dan lagu daerah. Demikian pula dari Jawa, Bali, dan yang lain. Kami dari Madura tak punya cukup persiapan, dan tampil seadanya menyanyikan dua lagu Madura.

Hari kelima adalah hari terakhir acara resmi. Setelah sesi foto-foto di pagi hari, masing-masing kelompok diminta untuk menyusun rencana aksi. Sore harinya, rencana tindak lanjut dipajang dan disharing tanpa presentasi langsung, tapi dengan cara berkeliling saling melihat-lihat.

Malam harinya adalah malam penutupan. Malam itu kami dijamu makan malam di rumah megah Pak Bagoes, pendiri Yayasan Kaliandra. Jamuan makan malam berlangsung dengan protokoler yang cukup ketat dan resmi. Kami tiba di rumah Pak Bagoes sekitar jam tujuh lewat. Begitu tiba, kami menikmati hidangan makanan ringan, lalu tari topeng diiringi suara gamelan. Makan malam berakhir lewat jam sembilan.

Setelah makan malam, acara selanjutnya hiburan. Tapi sebelum penampilan hiburan oleh tim panitia, kami melewati acara yang cukup seru. Semua peserta diminta untuk berjalan di atas arang yang membara sepanjang tiga meter tanpa alas kaki. Saat itu waktu sudah menunjuk sekitar jam sepuluh. Sebagai persiapan, kami bermeditasi sebentar dengan dipandu panitia bernama Anam. Setelah bermeditasi, mental kami disiapkan untuk berjalan di atas arang membara. Ya, semacam latihan. Selain tip teknis saat melintas nanti, yang terpenting mental kami diperkuat dengan kata-kata penyemangat yang harus kami teriakkan keras-keras dan sepenuh hati nanti sebelum melintas arang: “Saya bisa! Saya harus bisa! Saya pasti bisa!” Kami berlatih atau bersimulasi dengan kata-kata itu dua kali.

Waktunya pun tiba. Satu per satu peserta berjalan di atas arang membara itu. Tak ada urutan yang ditentukan. Yang siap, langsung saja berangkat. Aku pun akhirnya mengambil giliran. Aku teriakkan kata-kata penyemangat itu sepenuh hati, dan aku pun berjalan di atas arang yang membara itu dengan pasti.

Malam semakin larut tanpa terasa. Setelah semua peserta melintas, kami disuguhi hiburan bermacam kesenian tradisional, sambil menikmati jajanan tradisional yang disediakan di pinggir halaman. Semua peserta menikmati semua sajian dengan penuh suka cita. Lewat tengah malam suasana masih penuh semangat. Aku dan beberapa kawan baru menuju Rumah Anjasmara setelah waktu menunjukkan jam satu dini hari lewat.

Hari keenam adalah hari terakhir di Kaliandra. Acaranya hanya penutupan resmi yang berlangsung singkat di pagi hari. Dalam acara penutupan juga ada pengumuman singkat dari panitia tentang rencana aksi terbaik yang disusun peserta. Ternyata, rencana aksi terbaik adalah milik tim kami dari Annuqayah.

Sekitar setengah sepuluh acara penutupan berakhir. Setelah itu kami berkemas untuk pulang. Mobil jemputan sudah menunggu satu jam sebelumnya. Menjelang jam sebelas siang, rombongan kami pun meluncur turun meninggalkan ketinggian Kaliandra bersama banyak hal yang kami dapatkan selama sepekan.

Tulisan terkait:
>> Inspirasi dari Kaliandra dan Malang

Read More..

Rabu, 19 Maret 2008

Matahari Tak Pernah Gerhana

Entah mengapa, tiba-tiba pikiran ini datang tadi lewat tengah malam . Aku baru sadar, bahwa sebenarnya matahari itu tak pernah gerhana. Matahari tak pernah berhenti mencurahkan cahayanya walau sekejap. Para ilmuwan memperkenalkan istilah “gerhana matahari” hanya dalam pengertian teknis belaka. Gerhana matahari, demikian kata para ilmuwan, terjadi manakala bayangan bulan menghalangi cahaya matahari karena ia lurus sejajar ke arah belahan bumi tertentu. Gerhana matahari total terjadi ketika bayangan bulan yang menghalangi matahari benar-benar sejajar ke arah bumi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa gerhana matahari adalah gambaran keterbatasan sudut pandang manusia yang tak bisa menangkap wujud cahaya matahari karena kondisi tertentu yang menghalanginya, yakni posisi bulan dengan bayangannya yang sejajar.

Benar, Yulis, matahari sesungguhnya tak pernah gerhana. Kalaupun ia harus disebut gerhana, bahkan gerhana total, konon kata para ilmuwan itu berlangsung tak lebih dari delapan menit saja. Dengan kata lain, sungguh sebentar.

Yulis... Jika aku harus tampak gerhana, yakinlah bahwa itu hanya pertanda dari keterbatasanku saja—juga keterbatasan kita semua. Jauh di atas sana, cahaya matahariku sejatinya tetap tersorot bersama lantunan doa.

Read More..

Kamis, 06 Maret 2008

Gagasan Subversif

Berhentilah berpikir sejenak. Jangan terus-terusan berpikir. Kau perlu memilah terlebih dahulu, mana gagasan yang layak untuk dikembangkan, dan mana gagasan yang perlu dikarantina dan dijinakkan terlebih dahulu. Kau sudah tahu, sejak dahulu kala, banyak orang yang gentar dengan gagasan. Kau ingat Sokrates? Dia dihukum mati karena gagasannya konon dianggap meracuni para pemuda Athena. Konon, ada juga orang yang bunuh diri karena terlalu serius menanggapi gagasan tertentu.

Berhentilah berpikir sejenak. Jangan terus berpikir. Gagasan subversifmu disimpan saja terlebih dahulu. Tak ada gunanya mengembangkan gagasan subversifmu menjadi penggalan kisah, surat, pesan pendek, atau bahkan mungkin catatan harian. Kau tahu, gagasan subversifmu itu bisa membunuhmu, atau membunuh kebahagiaan dan masa depan orang lain. Gagasan picik telah terlalu lama menguasai dirimu. Aku tahu siasatmu. Jangan kira kau bisa meredakan semuanya dengan gagasan kerdilmu. Jangan kira dengan begitu kau bisa sok jadi pahlawan!

Jangan kau kira gagasan subversif itu selalu bisa melahirkan transformasi atau bahkan revolusi. Kau tahu, gagasan subversifmu itu sama sekali tak transformatif atau revolusioner. Gagasan subversifmu itu tak hanya akan membuatmu jalan di tempat. Gagasan subversifmu akan mengurung dirimu dalam lingkaran yang sempurna—kau tak akan bisa ke mana-mana.

Kemarilah. Tatap mataku. Aku ingin tahu, apa yang sebenarnya kau inginkan? Sudah, diam saja, jangan lagi berpikir seperti itu! Jangan hiraukan gagasan subversifmu. Jangan kau beri nafas pikiran setanmu. Tetaplah menjadi matahari!

Read More..

Jumat, 29 Februari 2008

Di Jalanan Kota London

Yulis, semalam Candice datang kepadaku, mengajakku berkeliling jalanan kota London. Candice datang kepadaku dengan kereta indah dari Abad Renaisans. “Mari, bersamaku ke Renaisans, menyusuri jalanan kota London,” katanya dengan senyuman, sambil mengulurkan tangannya dari atas kereta. Aku terpana melihat pakaiannya, seperti juga pakaian yang dikenakan oleh sais kereta. Hitam-hitam dan longgar, dengan topi lebar yang juga hitam. Aku jadi teringat dengan sosok penyihir yang digambarkan di cerita-cerita lama. Tapi kupikir, penyihir tak naik kereta—mereka naik sapu ajaib. Rambut keemasan Candice yang terurai indah terlihat serasi dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Tapi pasti, tatapan matanya tak seindah tatapanmu, Yulis.

Kereta yang ditarik dua kuda berkulit cokelat pekat itu berjalan pelan. Tak ada goncangan kasar. Kereta berjalan seperti diiringi petikan irama gitar klasik yang terasa lembut. Pelan-pelan, London Renaisans membentang. Yulis, jangan kau bayangkan jalanan kota London seperti sekarang. Di sepanjang perjalanan, tak satu pun aku melewati markas klub sepak bola, atau pusat-pusat perbelanjaan raksasa.

Tak ada jejak industri. Bahkan aku tak diajaknya berkeliling di antara benih-benih cerobong kapitalisme industri modern. Candice justru membawaku ke sudut-sudut kota yang mengesankan. Tempat-tempat biasa, dan bukan tempat istimewa, tetapi menyimpan ruh dan pesan yang kuat.

Entah kenapa, Yulis, Candice pertama membawaku ke sebuah tempat yang sepertinya merupakan komplek pasar tua yang baru saja ditutup. Bekas-bekas orang berjualan tak begitu kelihatan. Seorang tua renta tampak berjalan gontai dengan tangan di pinggang. Sepatunya yang lusuh seperti mengisyaratkan bahwa ia telah menempuh perjalanan yang panjang melintasi batu dan beratus musim—suka dan duka. Wajahnya lesu. Tatapan matanya kuyu. Koran lama yang dipegang dengan tangan kirinya sesekali dikipas-kipaskan. Tapi langkah kakinya kelihatan tetap menyimpan sisa semangat. Seakan ia tahu, bahwa ia tetap harus berjalan ke depan meski dalam cahaya redup senja. Yulis, aku bertanya-tanya, ke manakah ia melangkah? Ke rumahnya? Apakah ada seseorang yang menantinya di tempat yang ia tuju? Apakah ada seseorang yang meresahkannya karena ia tak kunjung pulang?

Sore bergerak perlahan. Malam mulai turun. Jalanan masih cukup ramai. Kami tiba di sudut lain jalanan kota London. Di sudut yang lain itu, seorang perempuan tua tampak berjalan dengan langkah agak terburu. Rambut dan pakaiannya tampak kotor, nyaris seperti kain kasar yang digunakan untuk lap. Kedua tangannya sibuk memegangi dua kantong yang hampir penuh. Di depan sebuah toko makanan, di bawah lampu jalanan yang mulai berpendar lemah, seorang perempuan bermantel bulu binatang menyapanya. Tapi perempuan tua itu seperti tak punya waktu untuk sekadar menjawab sapaan itu. Ia terus saja melangkah dengan lebih bergegas. Mungkin saja ia takut kemalaman. Atau ia tergesa ingin segera memberikan oleh-olehnya kepada anaknya yang sudah menunggu di rumah.

Malam terus merambat hingga mulai larut. Dan hari pun akan segera berganti. Di salah satu alun-alun kota, Candice membawaku ke sebuah kedai yang buka semalaman—semacam angkringan. Alun-alun itu bukan alun-alun utama, tetapi cukup ramai dikunjungi orang, karena suasananya yang menyenangkan. Di malam hari, dua pohon besar yang berdiri kokoh tak terlihat menyeramkan, karena cahaya lampu yang menerangi kawasan alun-alun itu. Di kedai itu, aku kembali bertemu dengan si orang tua tadi sore. Ia duduk sendiri, menikmati secangkir teh. Saat kutatap orang tua itu, ia sedang mengarahkan pandangannya pada bibir cangkir yang ada di hadapannya. Dia menatap lekat-lekat. Cara dia menatap bibir cangkir itu mengesankan seakan dia sedang menatap wajah dunianya yang entah seperti apa sebenarnya. Lama sekali dia terdiam mengarahkan pandangannya. Aku sendiri tak terus berusaha menatapnya. Pandanganku mencoba berputar sekeliling. Namun sesekali aku kembali ke orang tua itu. Sampai akhirnya, ia pun meninggalkan kedai itu lewat tengah malam.

Rupanya Candice tahu bahwa dari tadi aku memerhatikan orang tua itu, yang kemudian menghilang di kegelapan entah ke mana—mungkin menuju pulang sendirian. Tiba-tiba dia berkata, “Jadi, bagaimana kau akan berkata kepadaku bahwa kau sekarang merasa sendiri?” Candice berkata begitu sambil mengarahkan pandangannya ke kegelapan yang menelan tubuh renta itu. “Kuharap, jalanan kota London akan membuatmu mengubah cara berpikirmu. Paling tidak, kau tahu bahwa jalanan masih akan terus membentang, dan, seperti orang tua tadi, ia akan tetap melangkah, dan kemudian pulang, meski lewat tengah malam.” Candice melanjutkan kata-katanya dengan tetap menatap ke kegelapan.

Di kedai itu, di antara jalanan kota London, di kedai yang mengingatkanku pada sebuah kota dan pikiran-pikiranku yang larut bersama malam-malam bersama kedai angkringan, Candice mengajakku untuk menghidupkan kembali harapan. Ya, Yulis, harapan. Harapan yang tak mesti bercerita tentang cahaya matahari, rumah mungil, anak kecil yang berlarian, sawah membentang, dan dedaunan yang menghijau. Harapan tentang hidup yang lebih baik. Tentang cinta yang tetap disimpan bersama doa.


Tulisan ini diinspirasi oleh lagu yang dibawakan oleh Blackmore's Night, "Streets of London", album The Village Lanterne (2006)

Read More..

Selasa, 26 Februari 2008

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pembelajaran

Di gerbang milenium ketiga, peradaban manusia telah maju begitu rupa. Banyak pencapaian yang telah diraih, mulai dari yang sifatnya “nilai-nilai” (penghargaan atas kemanusiaan, kebebasan, hak atas informasi, dan semacamnya) hingga ke penemuan berbagai artefak kebudayaan.


Jauh sebelum penghujung milenium kedua tiba, revolusi teknologi informasi telah merambah ke segenap pelosok bumi. Berbagai perangkat teknologi yang ditemukan telah menghadirkan definisi baru tentang ruang dan waktu. Seiring dengan itu, berbagai proses sosial yang berwujud transformasi terjadi di mana-mana. Istilah yang paling populer untuk menjelaskan situasi ini adalah “globalisasi”. Secara sederhana, globalisasi dapat dipahami sebagai sebuah proses sosial yang meruntuhkan batas-batas, sehingga dunia menjelma sebagai sepetak kampung. Globalisasi bukan semata fenomena ekonomi, tetapi juga menyangkut transformasi ruang dan waktu. Revolusi teknologi informasi dan massifnya intensitas komunikasi tingkat global memungkinkan manusia sekarang ini untuk melangsungkan model interaksi yang lambat laun berubah. Intensifikasi hubungan tingkat dunia ini selanjutnya akan melahirkan pola-pola relasi baru dalam bidang ekonomi, sosial, politik, komunikasi, pola perilaku sehari-hari, dan termasuk relasi antar-individu.


Meminjam cara penggambaran yang dibuat oleh Jean-Francois Lyotard, globalisasi dapat digambarkan demikian: seorang pemuda kampung di pedalaman Madura sedang mengobrol dengan saudaranya yang bekerja di sebuah hotel Amerika di Arab Saudi dengan menggunakan telepon genggam produk Finlandia, simcard yang dimodali oleh perusahaan Malaysia, dengan jasa piranti lunak buatan Australia. Dia sedang memesan jam tangan Swiss, dan sedang dipertimbangkan apa akan dikirim dengan jasa pengiriman perusahaan Belanda atau lewat tetangganya yang akan pulang ke kampung halaman.


Riwayat globalisasi sebagai efek lebih jauh dari berbagai produk teknologi dan sains dapat ditelusuri jauh ke belakang. Adalah filsuf Inggris Francis Bacon (1561-1626) yang mula-mula meneguhkan metodologi ilmiah yang menjadi motor penggerak perkembangan sains, yakni dengan memperkenalkan metode (penalaran) induktif. Dalam paham Bacon, arah kerja filsafat dibalik: daripada mempersoalkan final causes (teleologi), filsafat sebaiknya mulai menyibukkan diri dengan efficient causes (kausalitas). Dari sini, eksprimentasi dan observasi kemudian didaulat sebagai ruh sains. Dan filsafat pun kemudian diberi basis praktis untuk kehidupan sehari-hari, sehingga dari situlah muncul diktum: knowledge is power (pengetahuan adalah kekuasaan).1


Sains atau pengetahuan ilmiah bekerja dengan prinsip keterukuran. Cita-cita sains adalah kehendak untuk memegang kendali kehidupan dengan lebih besar, atau, dalam bahasa Giddens, untuk “membentuk sejarah menurut tujuan kita sendiri”. Dengan pencapaian sains dan teknologi, dunia diharapkan dapat lebih stabil dan tertata. Akan tetapi, kenyataannya, dunia yang hadir saat ini tak seperti yang diperkirakan oleh para pemikir itu. Bukannya menjadi lebih terkendali, dunia saat ini tampaknya menjadi tak terkontrol, menjadi dunia yang lari tunggang langgang (runaway world). Proses globalisasi membentuk corak masyarakat yang penuh risiko. Capaian-capaian ilmu pengetahuan dan teknologi manusia memang telah sanggup mengantarkan manusia pada status ontologis keserbapastian (ontological security). Namun, di sisi lain, berkat iptek pula, manusia dewasa ini terjebak dalam situasi keserbatakpastian, yang merupakan konsekuensi logis yang inheren dari sistem relasi yang diciptakan manusia sendiri (manufactured uncertainties). Relasi manusia dengan alam dan lingkungan, dengan dukungan teknologi industri yang eksploitatif, ternyata melahirkan efek-efek destruktif seperti pemanasan bumi, perusakan lapisan ozon, polusi, dan semacamnya. Risiko yang lahir dari pola-pola relasi itu tak syak lagi akan menjadi ancaman bagi keberadaan hidup manusia itu sendiri.2


Pembicaraan mengenai pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk kegiatan pembelajaran yang belakangan ini marak dilakukan dalam konteks uraian di atas seperti dimaksudkan untuk mengarahkan produk teknologi agar dapat dimanfaatkan dengan baik untuk kepentingan pengembangan pendidikan. Maksudnya, pembicaraan tentang pemanfaatan teknologi informasi untuk pembelajaran sebenarnya berlangsung di atas kesadaran bahwa bagaimanapun fungsi produk teknologi itu dapat saja “lepas kendali” dan justru bergerak di wilayah yang dipandang negatif.


Posisi TIK


Kemudian, di manakah sebenarnya letak fungsi dan peran teknologi dalam aktivitas pembelajaran, khususnya teknologi informasi dan komunikasi? Untuk memahami ini, kita bisa kembali pada pengertian mendasar teknologi, sebagai bagian dari wujud kebudayaan (fisik) manusia. Kata teknologi berasal dari bahasa Yunani, technologia, techne yang berarti ‘keahlian’ dan logia yang berarti ‘pengetahuan’. Dalam pengertian yang sempit, teknologi mengacu pada objek benda yang dipergunakan untuk kemudahan aktivitas manusia, seperti mesin, perkakas, atau perangkat keras. Dalam pengertian yang lebih luas, teknologi dapat meliputi pengertian sistem, organisasi, juga teknik. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan dan kemajuan zaman, pengertian teknologi menjadi semakin meluas, sehingga saat ini teknologi merupakan sebuah konsep yang berkaitan dengan jenis penggunaan dan pengetahuan tentang alat dan keahlian, dan bagaimana ia dapat memberi pengaruh pada kemampuan manusia untuk mengendalikan dan mengubah sesuatu yang ada di sekitarnya.3 Jadi, teknologi adalah semacam perpanjangan tangan manusia untuk dapat memanfaatkan alam dan sesuatu yang ada di sekelilingnya secara lebih maksimal. Dengan demikian, secara sederhana teknologi bertujuan untuk mempermudah pemenuhan kebutuhan manusia.4


Seiring dengan berkembangnya ilmu, yakni dengan semakin bercabangnya berbagai gugus ilmu yang ada menjadi lebih spesifik dan khusus, maka kemudian muncul disiplin teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan dalam pengertian yang sederhana adalah satu sistem yang meliputi alat dan bahan media, organisasi, yang digunakan secara terencana untuk mendukung proses pembelajaran. Seperti halnya teknologi pada umumnya, dalam disiplin ini, teknologi dibahas sedemikian rupa untuk memberikan sesuatu yang baru dan mencerahkan bagi aktivitas pembelajaran. Jadi, bisa disebut, untuk efisiensi dan efektivitas, agar kegiatan pembelajaran menjadi menyenangkan, dan semacamnya. Ada yang menyebutkan beberapa manfaat teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan sebagai berikut: (1) meningkatkan motivasi siswa; (2) digital portofolio efektif dan efisien; (3) menambah wawasan dan cakrawala berpikir; (4) menumbuhkan jiwa kebersamaan; (5) menjadi alat ukur konsep pembelajaran yang kita lakukan dengan sekolah dari negara lain.5


Salah satu manfaat penting yang dapat ditemukan dari penggunaan perangkat teknologi dalam kegiatan pembelajaran adalah soal akses. Teknologi informasi dan komunikasi mempermudah kita untuk mengakses sumber-sumber informasi dan pengetahuan. Internet adalah contoh yang paling mudah dikemukakan. Dengan internet, kita dapat mengakses jutaan sumber informasi yang dibutuhkan dengan sangat mudah. Saat ini, di internet cukup banyak website yang menyediakan bahan-bahan yang sangat menarik untuk ditampilkan dan dipergunakan di ruang pembelajaran di sekolah. Selain itu, fasilitas surat elektronik dan grup diskusi (mailing-list) dapat menjadi media komunikasi yang sangat bermanfaat.


Selain sebagai sumber informasi dan media komunikasi, internet juga dapat berfungsi sebagai media publikasi yang murah, mudah, dan mendunia. Belakangan ini, populer sekali penggunaan fasilitas weblog di internet. Weblog adalah semacam catatan harian yang dapat ditampilkan di internet. Banyak situs yang menyediakan tempat untuk ngeblog, mulai dari Blogger yang merupakan bagian dari Google, atau jurnal di Multiply. Dalam beberapa tahun terakhir ini, beberapa weblog yang cukup populer bahkan telah diterbitkan menjadi buku oleh beberapa penerbit. Salah satu di antaranya adalah karya penulis cilik Abdurrahman Faiz yang berjudul Permen-Permen Cinta Untukmu (DAR Mizan, 2006).


Internet hanya salah contoh dari teknologi informasi dan komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas pembelajaran. Selain itu, sebenarnya banyak piranti lunak (software) yang telah dibuat yang sangat mendukung untuk media pembelajaran, baik produk lokal maupun produk perusahaan sekelas Microsoft. Kita, misalnya, mengenal Microsoft Encarta Encyclopedia, yang sejak edisi terbaru dirilis dengan nama Microsoft Student 2008.


Selain piranti lunak yang sudah jadi, media komputer juga menyediakan berbagai piranti lunak yang sangat membantu dan dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Mulai dari pengolah kata, pengolah data numerik, hingga data visual. Berbagai piranti lunak itu memiliki potensi yang cukup besar untuk dimanfaatkan dan membuat kegiatan pembelajaran lebih mudah, menarik, dan menghibur. Macromedia Flash misalnya, menginspirasi guru untuk menggunakan media animasi flash sebagai media pembelajaran yang lebih menarik dan mudah dicerna.6


Dari Soal Teknis Hingga Mental


Gambaran fasilitas yang disediakan oleh berbagai perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang sangat mendukung untuk kegiatan pembelajaran sungguh sangat memberi harapan bagi model pembelajaran yang lebih baik. Akan tetapi, kenyataannya, pemanfaatan berbagai perangkat teknologi itu tidak semudah yang kita bayangkan. Membayangkan manfaat dan kemudahan yang akan didapat dari teknologi untuk pembelajaran memang terasa indah. Meski demikian, mencoba merancang pemanfaatan teknologi di sekolah akan mengantarkan kita pada sejumlah masalah di lapangan, mulai dari yang sifatnya teknis hingga yang terkait dengan aspek mental (kebudayaan) dalam pengertian yang lebih luas.


Situs www.e-pendidikan.net, misalnya, secara kritis mengajukan beberapa pertanyaan berkaitan dengan internet dan pendidikan.



Internet Masuk Sekolah - Mengapa?

Internet adalah "Alat Bantu", bukan "Solusi Pendidikan" (di tingkat Sekolah). Internet (tanpa bahasa Inggris) sebagai sumber informasi yang sangat terbatas. Bahan pelajaran (dalam bahasa Indonesia) juga sangat sedikit. Kelihatannya kurikulum kita juga tidak berbasis-penelitian, jadi untuk apa Internet di sekolah? Internet di sekolah jelas bukan prioritas kan?


Kutipan di atas mengajukan sejumlah pertanyaan yang bahkan terasa cukup mendasar tentang pemanfaatan internet sebagai media pendukung pembelajaran, yang mungkin juga dapat berlaku pada perangkat teknologi lain pada umumnya. Kemampuan berbahasa Inggris, misalnya, dipertanyakan, karena tanpa itu, internet—dan juga perangkat atau produk teknologi yang lain—akan menjadi kurang maksimal nilai manfaatnya. Seorang teman yang kurang menguasai bahasa Inggris pernah berseloroh kepada saya dengan berkata: “Andai Encarta ada versi bahasa Indonesianya, alangkah enaknya.”


Tenaga kependidikan di Madura pada khususnya tak hanya bermasalah dengan penguasaan bahasa Inggris untuk dapat memaksimalkan perangkat dan produk teknologi untuk pembelajaran—bahkan, di kalangan terdidik semacam mahasiswa, kemampuan berbahasa Inggris masih menjadi masalah yang cukup serius. Para guru di Madura bahkan sebenarnya juga masih cukup bermasalah dengan keterampilan mendasar untuk menggunakan perangkat teknologi komputer. Tak hanya tentang keterampilan praktis, bahkan kadang saya menduga kuat bahwa pemahaman mendasar sebagian kalangan terdidik di Madura terhadap internet masih cukup jauh dari cukup. Salah satu kasus yang cukup sering ditemui adalah ketidakmampuan mereka membedakan antara alamat email dan alamat website, sehingga—menurut cerita seorang kawan—di sebuah papan nama instansi pemerintah daerah di Madura tercantum alamat email yang didahului dengan “www” yang semestinya digunakan dalam alamat website. Ini mungkin dapat dimaklumi, karena menurut Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2003 pengguna internet di Indonesia berjumlah sekitar 8 juta atau 3,6 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Meski untuk tahun 2004 diperkirakan akan bertambah menjadi 12 juta, jumlah ini terbilang masih jauh dari persentase yang signifikan.7


Selain pertanyaan tersebut di atas, situs www.e-pendidikan.net juga mengemukakan data yang menyebutkan bahwa 30 ribu desa di Indonesia belum teraliri listrik.8 Persoalan teknis semacam ini patut menjadi perhatian penting karena listrik adalah basis dan syarat utama dari penggunaan teknologi. Di Madura, atau paling tidak di desa saya (Guluk-Guluk), masalah listrik menjadi masalah yang cukup serius. Tulisan ini saja, misalnya, disusun di antara hari-hari yang penuh dengan pemadaman listrik—mungkin karena cuaca dan angin yang tak cukup bersahabat—sehingga menjadi cukup tersendat, karena sebagian besar data yang dibutuhkan tersimpan dalam bentuk digital di komputer.


Lebih jauh, kutipan di atas sebenarnya juga mempertanyakan arah kurikulum sekolah yang kurang memberi dorongan kepada siswa untuk meneliti dan berkreativitas secara mandiri. Dengan kata lain, mempersoalkan kultur, mentalitas, atau tradisi belajar di kalangan masyarakat Indonesia pada umumnya. Jika mental belajar masih belum kokoh, lalu untuk apa internet akan digunakan?


Masuknya sebuah produk ilmu pengetahuan pada umumnya dan teknologi pada khususnya menuntut keterbukaan sikap kultural masyarakat untuk proses integrasi yang lebih baik. Tanpa integrasi ilmu atau produk teknologi dengan kebudayaan yang menerimanya, maka yang akan muncul adalah gejala disintegrasi antara pengetahuan ilmiah dan sikap ilmiah. Penerapan sebuah teknologi tertentu dalam suatu masyarakat, misalnya, menuntut kedisiplinan yang—secara relatif—tinggi dalam pemanfaatannya, sehingga berlaku kaidah: semakin tinggi suatu jenis teknologi maka semakin kecil kekeliruan yang diizinkan.9


Dalam konteks pembelajaran, kehadiran teknologi informasi dan komunikasi menuntut keterbukaan sikap dan mental dari civitas kependidikan untuk mengubah paradigma atau cara pandang mereka terkait dengan aktivitas kependidikan. Yuyun Estriyanto menyebutkan beberapa perubahan budaya pembelajaran yang patut diperhatikan. Di antara yang disebutkan yang menarik untuk dicermati adalah bahwa, dengan pemanfaatan teknologi, guru tak lagi menjadi satu-satunya sumber otoritas atau sumber informasi, karena teknologi mengubah sumber pengetahuan menjadi tak terbatas. Jadi, guru kadang kemudian lebih berperan sebagai pendamping, pengarah, atau fasilitator.10


Untuk lingkungan pendidikan di Madura, mengubah cara pandang guru untuk dapat bersikap lebih terbuka, dalam pengertian terbuka bahwa dirinya bukan satu-satunya sumber otoritas pengetahuan dalam aktivitas pembelajaran, mungkin dapat dikatakan gampang-gampang susah. Memang, dalam khazanah tradisional pesantren yang lekat di Madura, kerendahan hati atau sikap tawâdhu‘ untuk menempatkan otoritas tertinggi pengetahuan hanya pada Yang Mahatahu sudah menjadi pengetahuan umum dan cukup mentradisi. Bahkan, dalam kitab-kitab karya ulama klasik, selalu ada ungkapan khas “wallahu a‘lam” yang menyiratkan landasan epistemologis sikap semacam ini.11 Akan tetapi, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa karena sekolah formal yang ada secara umum cenderung mengadopsi pendidikan bergaya bank—meminjam istilah Paulo Freire—maka otomatis otoritas pengetahuan nyaris hanya diidentikkan dengan guru. Dalam pendidikan dengan gaya bank, kreativitas siswa kurang diperhatikan. Anak didik diperlakukan sebagai bejana kosong yang diisi pengetahuan oleh para guru. Guru dipandang tahu segalanya, dan murid tidak tahu apa-apa. Guru berbicara, murid mendengarkan. Guru adalah subjek proses belajar dan murid adalah objeknya. Guru memilih bahan dan isi pelajaran dan murid (tanpa diminta pendapatnya) menyesuaikan diri dengan isi pelajaran itu.12


Dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi, dalam masyarakat kita otoritas dan sumber pengetahuan sering kali hanya selalu diidentikkan dengan sekolah. Menurut Ivan Illich, pandangan populer seperti ini sangat bias kapitalis. Sekolah, lanjut Illich, adalah fenomena modern yang lahir seiring dengan perkembangan masyarakat industri kapitalistik. Sekolah lebih menekankan pengajaran menurut kurikulum yang telah dipaket untuk memperoleh sertifikat (ijazah). Sertifikat ini nantinya akan digunakan sebagai alat legitimasi bagi individu untuk memainkan perannya dalam pasar kerja yang tersedia—menjadi sekrup dalam mesin besar kapitalisme. Sekolah justru cenderung berdampak anti-edukasi terhadap masyarakat, karena sekolah lalu diakui sebagai satu-satunya spesialis lembaga pendidikan. Padahal, dalam situasi ini, sekolah adalah lembaga yang dibangun atas dasar anggapan bahwa kegiatan belajar adalah hasil dari kegiatan mengajar. Guru dianggap sebagai pengawas, pengkhotbah, sekaligus ahli terapi untuk memberi petuah-petuah moral. Jadilah guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga berfungsi sebagai ideolog, hakim, dan dokter, yang menentukan masa depan peserta didik.13


Nah, kehadiran teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan pendidikan paling tidak dapat pula berperan membantu mendekonstruksi pandangan tradisional tentang posisi dan otoritas guru serta sekolah seperti tergambar di atas. Dengan demikian, pertanyaannya adalah: apakah secara kultural masyarakat pendidikan kita sudah memiliki kesiapan mental untuk itu?


Persoalan atau tantangan kultural lainnya yang dapat dikemukakan di sini adalah soal ketegasan orientasi pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pembelajaran. Apakah perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang ada akan dapat maksimal dimanfaatkan untuk aktivitas pembelajaran? Lebih tepatnya, siapkah kita mengarahkan optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi tersebut? Apakah internet tidak hanya dijadikan tempat ngobrol, bukan sebagai sumber informasi dan tempat berdiskusi? Berkaitan dengan ini, tak heran jika Onno W. Purbo, praktisi IT terkemuka, menggarisbawahi bahwa internet membutuhkan masyarakat baca-tulis yang kuat. Artinya, butuh kultur belajar yang kuat, untuk dapat memberi hasil yang optimal.14


Salah satu cerminan yang cukup menarik—dan mungkin juga cukup menggelitik—dari pemanfaatan teknologi internet di Indonesia dapat terbaca dari sumber data hasil penelitian ClearCommerse.com, sebuah situs e-security (pengamanan elektronik), yang pada tahun 2000 hingga 2001 melakukan penelitian atas 40.000 ribu pelanggan, 1.137 merchant, dan 6 juta transaksi. Survei tersebut menyatakan bahwa dalam hal fraud atau carder, Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia, di antara Ukraina dan Yugoslavia. Fraud atau carder adalah pelaku transaksi di toko online di internet dengan menggunakan kartu kredit milik orang lain tanpa izin—alias mencuri. Data tersebut menjelaskan bahwa 20 persen transaksi kartu kredit dari Indonesia dilakukan oleh carder—di Amerika kurang dari satu persen.15 Data semacam ini menunjukkan bahwa internet kadang menjadi media yang lepas kendali, yang kurang lebih disebabkan oleh kesiapan mental para penggunanya.


Karena itu, pengarahan yang intensif, terencana, dan menyeluruh perlu sekali dilakukan agar fasilitas teknologi yang ada dapat benar-benar dimanfaatkan untuk kemajuan pendidikan dan peradaban. Salah satu contoh yang cukup menarik dipaparkan di sini adalah bagaimana komunitas SMP Qaryah Thayyibah yang dikelola oleh Ahmad Bahruddin di Salatiga dapat memanfaatkan media internet sebagai pendukung kegiatan belajar. Bahkan, pada tingkat tertentu, membantu mendorong kreativitas anak dalam belajar dan berkarya. Dr. Naswil Idris, dosen komunikasi dan peneliti untuk Asia Pacific Telecommunity yang berpusat di Bangkok menyetarakan komunitas SMP Qaryah Thayyibah di Salatiga dengan tujuh komunitas pengguna internet dan komputer terbaik di dunia. Diceritakan bahwa mula-mula memang ada keraguan untuk memperkenalkan internet kepada siswa yang masih duduk di bangku SLTP, sampai akhirnya dipertimbangkan bahwa sebelum bersentuhan dengan hal-hal yang negatif, siswa diajarkan menggunakan internet untuk belajar dan memperluas wawasan ke sumber informasi yang tak terbatas itu.16 Di antara hasil kreativitas siswa di sana, terbitlah buku hasil penelitian tiga orang siswa SMP Qaryah Thayyibah, yakni Naylul Izza, Fina Af’idatussofa, dan Siti Qona’ah, berjudul Lebih Asyik Tanpa UAN (LKiS, Januari 2007).17


Sikap mental yang masih menjadi persoalan dalam kaitannya dengan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan dapat pula ditemukan dalam kasus proyek-proyek pemerintah. Pada tahun 1996, pemerintah mulai mencanangkan program pengembangan teknologi informasi dan komunikasi bernama Nusantara 21. Sayangnya, proyek prestisius yang pada 1997 mendapatkan bantuan Bank Dunia senilai US$ 34,5 juta itu akhirnya berakhir dengan kegagalan. Dana ratusan juta rupiah menguap hanya untuk membayar para ahli dan hanya menghasilkan konsep yang tertuang dalam buku.18 Setali tiga uang dengan kasus ini, situs www.e-pendidikan.net menyorot beberapa situs pemerintah yang dikelola di bawah Departemen Pendidikan Nasional yang sudah lama sekali tidak diupdate. Contohnya: www.pustekkom.go.id (website Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan), www.perpustakaan.diknas.go.id, dan sebagainya.


Kutipan lainnya dari situs tersebut menulis demikian:


Walapun kita sangat mendukung pelajaran teknologi, kita juga harus menjaga bahwa "teknologi pelajaran", yang hanya sebagai beberapa medium untuk menyampaikan pendidikan dan belum tentu meningkatkan mutu pendidikannya, tidak menjadi fokusnya mamajemen pendidikan sampai merugikan aspek-aspek lain yang betul dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Misalnya, JarDikNas. Salah satu tujuan utama adalah meningkatkan mutu pendidikan lewat informasi yang lebih lengkap. Tetapi kelihatannya informasi mengenai masalah-masalah di lapangan sudah banyak sekali. Termasuk informasi mengenai keadaan di banyak sekolah yang ambruk dan mengancam keamanan anak-anak kita. Kapan masalah-masalah begini akan diatasi?19


Apakah ini berarti bahwa para petinggi kita yang mengurusi soal pendidikan masih bermental proyek, termasuk juga dalam hal yang berkaitan dengan pengembangan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi?


Salah satu contoh lain yang juga bisa dikemukakan di sini adalah maraknya upaya penerapan E-Government di beberapa daerah. Pemerintah Daerah atau instansi pemerintah berlomba meluncurkan situs resmi mereka. Pertanyaannya: apakah upaya seperti itu akan dapat memberi dampak yang terlihat nyata bagi upaya pembangunan? Jika situs atau media internet secara umum dilihat sebagai upaya untuk memudahkan akses, apakah situs semacam itu akan cukup efektif untuk memberi akses kepada masyarakat atas informasi publik dan mempermudah akses mereka untuk menyalurkan aspirasi?20 Onno W. Purbo misalnya mengatakan bahwa dalam kasus semacam ini mungkin yang lebih tepat bukan situs, tetapi email. Buatkan akun email untuk instansi, dan pastikan bahwa email yang masuk akan direspons dengan langkah nyata. Jika seperti ini, baru akan terlihat manfaat kemudahan akses yang diberikan oleh perangkat teknologi.21


Mesin-Hasrat Teknologi


Felix Guattari dan Gilles Deleuze, pemikir Posmodernis, mengemukakan sebuah konsep yang cukup kontekstual untuk diangkat di sini, yakni Mesin Hasrat (Desiring Machine). Mesin Hasrat adalah sebuah mekanisme psikis dalam psikoanalisis yang fungsinya memproduksi dan mereproduksi hasrat, sehingga ia selalu menginginkan sesuatu yang lain.22 Konsep Mesin Hasrat ini rasanya cukup tepat untuk menggambarkan realitas perkembangan teknologi saat ini, yang dalam konteks kerangka pembicaraan tulisan ini akan menjadi semacam tantangan yang harus dijawab dalam upaya optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.


Teknologi, pada tingkat tertentu, telah mencipta dunia tersendiri yang berkembang sedemikian rupa dengan begitu pesat. Gerak laju perkembangan teknologi yang cukup luar biasa ini kurang lebih dapat dilihat sebagai didorong oleh Mesin Hasrat. Dorongan Mesin Hasrat ini mengintensifkan interaksi antara sains dan teknologi. Jika mula-mula sainslah yang melahirkan teknologi, hubungan sains dan teknologi saat ini, menurut Nirwan Dewanto, sudah seperti ayam dan telur.23 Penggambaran yang lebih jelas tentang hal ini dapat dicermati dalam uraian Ignas Kleden atas pemikiran Jurgen Habermas dalam Theory and Practice.


Perkembangan teknik moderen yang kuasiotonom bukan saja berarti bahwa perkembangannya sulit dikendalikan untuk kepentingan manusia, tetapi berarti pula bahwa perkembangan itu sangat sulit dihentikan atau dikurangi kecepatannya. Sebabnya ialah karena ada semacam “etos” dalam kalangan teknisi, bahwa keberhasilan dan prestasi mereka diukur dengan apa yang masih dapat diciptakannya lagi. Efisiensi berubah menjadi nilai. Maka apa yang mungkin secara teoretis, harus pula diwujudkan dan dimanfaatkan secara teknis. Dalam bentuk ekstrimnya ini berarti bahwa perkembangan teknik bukanlah dikendalikan atau ditentukan oleh suatu tujuan yang sekaligus menjadi normanya. Yang terjadi adalah sebaliknya: setiap ditemukan teknik baru, segera diusahakan pula bagaimana teknik tersebut dapat dan harus dipergunakan. Maka terlihatlah suatu etik yang aneh: bukanlah tujuan yang menentukan cara, melainkan cara yang menentukan tujuan.24


Posisi teknologi yang relatif otonom ini pada gilirannya menjadikan produk-produk teknologi sebagai satu bagian yang sulit dipisahkan dari gaya hidup. Ketika masih terhitung langka, pemilik telepon seluler dahulu tak hanya memiliki kemudahan berkomunikasi, tetapi juga dapat memiliki rasa bangga dengan kadar relatif tertentu.25 Saat ini, ketika telepon seluler sudah banyak dimiliki orang, tetap saja terlihat jelas bagaimana telepon seluler kebanyakan lebih sering berada dalam kerangka gaya hidup, bukan pada aspek fungsional. Di sekitar kita, cukup banyak orang yang memiliki perangkat telepon genggam canggih dengan fungsi yang tak maksimal. Sementara si pemakai hanya menggunakan fitur telepon dan pesan pendek, telepon canggihnya sebenarnya tak hanya memiliki fasilitas GRPS, tetapi juga Wi-Fi.


Mesin Hasrat yang diturunkan oleh teknologi juga dapat berbentuk aktivitas ilmiah yang tak terpuji. Hasrat terhadap pengetahuan, atau tepatnya terhadap popularitas ilmiah, terkadang berwujud tindakan plagiarisme. Dengan kemudahan sumber informasi yang tersedia di internet dan kemudahan mengolah data dengan komputer, orang kadang terdorong untuk menggunakan sumber-sumber informasi itu secara kurang jujur. Secara pribadi, saya pernah beberapa kali menemukan praktik plagiarisme yang memanfaatkan jasa mesin pencari di dunia maya (yakni Google). Tentu saja, plagiarisme tak harus menggunakan komputer. Akan tetapi, teknologi menyediakan peluang dan kemudahan yang cukup besar untuk melakukannya.26


Penutup


Pemaparan sekilas dalam tulisan ini sebenarnya berupaya untuk memetakan potensi dan tantangan yang harus dijawab dalam upaya pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran. Berbagai catatan penting yang berusaha diajukan dalam tulisan ini pada dasarnya dapat dilihat sebagai peringatan agar jangan sampai teknologi informasi dan komunikasi dalam kegiatan pembelajaran kemudian berubah menjadi semacam “mitos baru”27 yang diagung-agungkan tetapi kurang memiliki manfaat nyata yang betul-betul sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Era informasi saat ini benar-benar telah melahirkan banjir elektronika, air bah dan apokalipso informasi, yang membutuhkan bahtera penyelamat.28 Wujudnya yang paling tepat mungkin adalah mentalitas dan integritas moral civitas pendidikan dan masyarakat pada umumnya untuk dapat membaca itu semua dalam kerangka kerja peradaban dalam pengertian seluas-luasnya.


WalLâhu a‘lam.


Catatan Kaki

  1. Ignas Kleden, Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan, LP3ES, Jakarta, Cet. II, 1988, hlm. 85-86.
  2. Anthony Giddens, Runaway World: How Globalisation is Reshaping Our Lives, Profile Books, London, 1999, hlm. 1-2, 21-35.
  3. Lebih jauh, baca di Wikipedia, URL = http://en.wikipedia.org/wiki/Technology. Diakses pada 15 Februari 2008. Juga, Raymond H Merritt, “Technology”, Microsoft Student 2008Teknologi mentransformasikan relasi manusia dengan alam sehingga juga ikut mengubah sistem kerja manusia. Lihat, M. Sastrapratedja, “Kebudayaan Ditinjau dari Segi Filsafat”, dalam FX Mudji Sutrisno (Ed.), Manusia dalam Pijar-Pijar Kekayaan Dimensinya, Kanisius, Yogyakarta, 1993, hlm. 92. [DVD], Microsoft Corporation, Redond, WA, 2007.
  4. Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Gramedia, Jakarta, 1996, hlm. 1083-1084.
  5. Jalu Noor Cahyanto, “Pemanfaatan ICT dalam Membangun Jaringan Pembelajaran Internasional”, paper dalam Konferensi Guru Indonesia 2007, Jakarta, 27-28 November 2007.
  6. Lihat, Chusnul Chotimah, “Macromedia Flash sebagai Media Pembelajaran”, Jawa Pos, 21 Januari 2008. Departemen Pendidikan Nasional mengembangkan situs percontohan untuk sistem pembelajaran elektronik yang memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi, misalnya www.sekolahmaya.net. .
  7. International Telecommunication Union (ITU) pada tahun 2003 mengeluarkan data yang sama. Dijelaskan bahwa dengan 8 juta pengguna internet di Indonesia, berarti dalam tiap 10 ribu penduduk, ada 377 pengguna internet. Bandingkan dengan Malaysia yang berpenduduk 25 juta orang lebih, yang memiliki pengguna internet lebih dari 8,5 juta orang. Artinya, dalam tiap 10 ribu orang, ada 3.453 pengguna internet. Gilang Desti Parahita, dkk, “Cerita tentang Proyek Pemerataan Itu”, Jurnal Balairung, Edisi 38, Tahun XIX, 2005, Diterbitkan oleh Badan Penerbitan Pers Mahasiswa UGM Yogyakarta, hlm. 122-123.
  8. Lihat, website Tempo Interaktif 5 September 2007, URL = http://tempointeraktif.com/hg/nasional/2007/09/05/brk,20070905-107001,id.html. Diakses pada 15 Februari 2008. Tentang krisis listrik di Indonesia dalam konteks yang lebih mutakhir, baca berita utama di Kompas, “Sebagian Jawa-Bali Padam: Masyarakat Diminta dengan Sangat Menghemat Pemakaian Listrik”, 21 Februari 2008, dan beberapa hari berikutnya. Menurut Faisal Basri, rasio kelistrikan di Indonesia menunjukkan bahwa hanya sekitar separuh rumah tangga yang beroleh aliran listrik. Bandingkan dengan Vietnam yang sudah 79 persen, Filipina 80 persen, Thailand 84 persen, dan China 99 persen. Di antara 12 negara sekawasan, Indonesia di peringkat 11. Untuk ulasan lebih lengkap, baca tulisan Faisal Basri, “Krisis Listrik”, Kompas, 25 Februari 2008.
  9. Ignas Kleden, Op. Cit., hlm. xxxi-xxxiv.
  10. Yuyun Estriyanto, MT, “Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pembelajaran”, URL = http://mail.uns.ac.id/~yuyunestriyanto. Diakses pada 15 Februari 2008.
  11. Khaled Abou El Fadl, Speaking in God’s Name: Islamic Law, Authority, and Women, Oneworld Publications, Oxford, 2003, hlm. 32-33.
  12. Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, penerjemah, Mansour Fakih, dkk, LP3ES, Jakarta, Cet. III, 2000, hlm. 51-53.
  13. Ivan Illich, Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah, penerjemah: A. Sonny Keraf, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2000, terutama hlm. 1-46.
  14. Wawancara dengan Onno W. Purbo, “Internet Membutuhkan Masyarakat Baca-Tulis”, Jurnal Balairung, Edisi 38, Tahun XIX, 2005, Diterbitkan oleh Badan Penerbitan Pers Mahasiswa UGM Yogyakarta, hlm. 136-143.
  15. Gilang Desti Parahita, dkk, “Menjelajah Dunia dalam sebuah Warung”, Jurnal Balairung, Edisi 38, Tahun XIX, 2005, Diterbitkan oleh Badan Penerbitan Pers Mahasiswa UGM Yogyakarta, hlm. 82-83. Baca juga tulisan Antariksa, “I’m a Thief, Not a Hacker: Indonesia’s Electronic Underground”, Majalah Latitudes, Vol. 06, Juli 2001, PT Teduh Mitra Utama, Denpasar, hlm. 13-17.
  16. A. Zaenurrasyid (Ed.), Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah, LKiS, Yogyakarta, Cetakan Pertama, Januari 2007, hlm. 43-44.
  17. Tentang komunitas Qaryah Thayyibah Salatiga, baca M Mushthafa, “Pendidikan Berbasis Komunitas: Melawan Kapitalisme Pendidikan”, URL = http://rindupulang.blogspot.com/2007/06/pendidikan-berbasis-komunitas-melawan.html.
  18. Gilang Desti Parahita, dkk, “Cerita tentang Proyek Pemerataan Itu”, Op. Cit., hlm. 121-122.
  19. URL = http://e-pendidikan.net/dikotomi.html. Diakses pada 15 Februari 2008.
  20. Sebuah contoh kasus yang lebih dekat dapat dibaca dalam liputan Majalah Kritis Edisi IV, Agustus 2006 (diterbitkan oleh Lembaga Kajian Kritis Sumenep) yang mengangkat masalah E-Government di Sumenep, dengan judul sampul: “G-Online: Tong Kosong Nyaring Bunyinya”.
  21. Wawancara dengan Onno W. Purbo, “Internet Membutuhkan Masyarakat Baca-Tulis”, Jurnal Balairung, Edisi 38, Tahun XIX, 2005, Diterbitkan oleh Badan Penerbitan Pers Mahasiswa UGM Yogyakarta, hlm. 142.
  22. Yasraf Amir Piliang, Sebuah Dunia yang Menakutkan: Mesin-Mesin Kekerasan dalam Jagat Raya Chaos, Mizan, Bandung, Januari 2001, hlm. 18, 101-107.
  23. Nirwan Dewanto, “Kebudayaan Indonesia: Pandangan 1991”, Jurnal Prisma, No. 20, Tahun XX, Oktober 1991, PT Pustaka LP3ES Indonesia, Jakarta, hlm. 15-16.
  24. Ignas Kleden, Op. Cit., hlm. 90.
  25. Nuraini Juliastuti, “The Mobile Phone: A Small Source of Pride”, Majalah Latitudes, Vol. 06, Juli 2001, PT Teduh Mitra Utama, Denpasar, hlm. 74-77.
  26. M Mushthafa, “Vampir Kebudayaan dan Sisi Hitam Dunia Kepenulisan”, Jawa Pos, 4 Desember 2005. Dapat juga dibaca di http://rindupulang.blogspot.com/2006/01/vampir-kebudayaan-dan-sisi-hitam-dunia.html.
  27. Salah satu contoh mutakhir tentang mitos baru dalam dunia pendidikan adalah label “Sekolah Bertaraf Internasional”. Tentang ini, baca rubrik “Pendidikan” di Majalah Tempo, No. 25/XXXVI/13-19 Agustus 2007.
  28. Ivan A Hadar, “Buku dalam Banjir Elektronika”, Kompas, 29 Juli 2000. Tulisan ini memberikan sebuah refleksi yang sangat bagus tentang fenomena kemelimpahan informasi sebagai sebuah masalah kebudayaan.


Tulisan ini dimuat di Jurnal Edukasi, No. 10/2008.


Read More..