Selasa, 21 Maret 2006

Satir Hidup tentang Popularitas


Judul buku : Heavier Than Heaven: Biografi Kurt Cobain
Penulis : Charles R. Cross
Penerbit : Alinea, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, November 2005
Tebal : x + 540 halaman


Popularitas menjadi impian hidup yang jamak menghinggapi kalangan muda yang menghirup udara awal milenia ketiga. Jika kesuksesan dapat didefinisikan, popularitas termasuk ke dalam salah satu ciri utamanya. Belakangan ini, di berbagai stasiun televisi kita gencar sekali disajikan tayangan-tayangan semacam reality show yang memikat kalangan muda dengan janji pemenuhan obsesi popularitas mereka.

Tak banyak orang yang berpikir tentang sisi gelap popularitas. Popularitas terlalu sering diidentikkan dengan tahap pencapaian yang memungkinkan seseorang dapat menikmati hidup dengan segala kemudahan dan kenyamanannya.

Kisah hidup Kurt Cobain—vokalis kelompok Nirvana yang oleh majalah Rolling Stones dimasukkan ke dalam kategori 50 artis terbaik sepanjang masa—yang berakhir dengan tragedi bunuh diri dan dipaparkan dengan baik dalam buku ini dari cara pandang tertentu menunjukkan kepada kita betapa popularitas ternyata juga menyimpan sisi-sisi kelam yang kadang terasa absurd. Dengan cara pandang semacam ini, kita akan semakin mengerti bahwa para idola termasyhur yang dipuja-puja itu juga tak lebih dari manusia biasa.

Kurt Cobain lahir di Aberdeen, sebuah kota yang khas dengan industri penggergajian di negara bagian Washington, 20 Februari 1967. Sejak kecil ia sudah memperlihatkan berbagai bakat dan kecerdasannya, baik di bidang olahraga maupun seni. Kurt masuk dan berperan besar dalam tim bisbol dan gulat di sekolah. Dia juga sangat menyukai pelajaran seni dan senang melukis.

Tapi kehidupan Kurt dalam keluarganya begitu suram, terutama sejak perceraian kedua orang tuanya ketika dia berusia sembilan tahun. Peristiwa ini menjadi bencana emosional terbesar dalam hidupnya. Kurt jadi membenci kedua orang tuanya. Apalagi ketika ayahnya menikah lagi dan ibunya berpacaran dengan pemuda yang umurnya hanya 7 tahun lebih tua darinya. Peristiwa ini mengubah Kurt menjadi sosok pemurung, tertutup, dan berandal. Kurt kemudian mulai berkenalan dengan dunia obat-obatan hingga akhirnya putus sekolah.

Jalan menuju popularitas Kurt di jalur musik juga tak mudah diraih. Di masa-masa awal sebelum sukses, Kurt bersama personel Nirvana lainnya kadang harus menempuh jarak ratusan hingga ribuan mil untuk melangsungkan konser promosi album pertamanya, Bleach. Penontonnya pun kadang cuma 20 atau belasan orang. Bayarannya hanya cukup untuk mengganti bensin.

Tapi semua perjuangan keras Kurt terbayar ketika album kedua Nirvana, Nevermind, hadir dengan hentakan dahsyat sehingga menggoncang peta musik internasional. Album yang dirilis September 1991 itu dengan cepat berhasil bertengger di puncak teratas tangga lagu Billboard, menggeser Dangerous-nya Michael Jackson. Seiring dengan itu pula, popularitas Kurt dan Nirvana mencuat luar biasa.

Pada titik inilah kemudian pelan-pelan mulai terlihat sisi-sisi suram popularitas sebagaimana dialami Kurt. Sikap dan gaya hidup Kurt yang memang penuh kontradiksi dan kontroversi, keterlibatannya dengan dunia narkoba, yang menurut pengakuan Kurt juga dipicu oleh penyakit perut yang dideritanya sejak lama, serta kisah kehidupan keluarganya dengan Courtney Love, semua menjadi bahan menarik untuk diangkat media. Pemberitaan dari tabloid The Globe dan majalah Vanity Fair tak lama setelah kelahiran anaknya, Frances, misalnya, bagi Kurt dan istrinya tampak seperti penghakiman bahwa keduanya tak berhak mengasuh anaknya itu, dengan mengabaikan kenyataan bahwa Frances lahir dengan sehat. Karena itulah, pada tingkat tertentu, Kurt kadang mengalami semacam paranoid terhadap media, khawatir bila ternyata apa yang diberitakan tentangnya justru sesuatu yang tak ia sukai—entah itu karena berupa fitnah maupun semacamnya.

Rasa putus asa dalam mengatasi problem kecanduannya serta untuk memperbaiki kehidupan keluarganya, baik dalam relasinya dengan kedua orang tuanya maupun keluarganya sendiri, mengantarkan Kurt pada satu kondisi depresi yang luar biasa. Akhirnya, di awal April 1994, Kurt ditemukan bunuh diri di rumahnya dengan meledakkan kepalanya sambil mengkonsumsi obat-obatan, setelah beberapa hari sebelumnya kabur dari rumah sakit di Los Angeles tempat ia dirawat untuk mengatasi kecanduannya.

Meninggalnya Kurt akibat bunuh diri ini menambah daftar panjang para artis dan orang-orang ternama lainnya yang mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis itu. Sebelumnya tercatat nama Jim Morrison, Jimi Hendrix, dan Janis Joplin, para musisi yang secara kebetulan sama-sama meninggal di usia 27 tahun—seperti juga Kurt.

Charles R Cross menyajikan kisah hidup Kurt Cobain dalam buku ini dengan cukup detail dan komprehensif. Dengan dibagi ke dalam dua puluh empat bab, Cross mengimbuhkan catatan keterangan waktu dan tempat di tiap awal bab, sehingga pembaca akan cukup mudah menelusuri alur hidup Kurt. Cross, yang menjadi editor di majalah musik The Rocket ini, cukup berhasil memperlihatkan berbagai segi manusiawi Kurt, seorang artis terkemuka yang gema pengaruhnya hingga kini masih terasa, terutama di kalangan muda. Segi-segi manusiawi yang penuh lika-liku dari jejak kehidupan Kurt disampaikan dengan keahlian bertutur yang indah dan menawan; tentang perjuangan Kurt yang berkreasi dengan penuh kerja keras di dunia musik, bagaimana karya-karya musiknya itu lahir, Kurt kecil dan remaja yang merasa terabaikan dan terbuang di keluarganya, Kurt yang merasa dieksploitasi oleh media dan para penggemarnya, serta hubungan-hubungan kemanusiaan yang rumit antara Kurt dengan orang di sekelilingnya. Cross cukup berhasil menuturkan semua itu dengan keterlibatan emosi yang mendalam, sehingga pembaca buku ini dapat berempati dan masuk ke relung suasana setiap peristiwa.

Kelebihan utama buku ini lebih terlihat karena Cross berhasil menghimpun dan mengolah segudang data yang cukup berharga tentang kehidupan Kurt itu sendiri. Cross dalam buku ini tidak sedang bergosip atau sekadar menyajikan isu-isu murahan tak berdasar tentang kehidupan Kurt. Empat ratus wawancara dengan berbagai pihak yang terlibat dengan kehidupan pribadi dan karier Kurt di dunia musik dilakukan Cross selama sekitar empat tahun. Belum lagi berbagai arsip dan dokumen penting berkaitan dengan Kurt yang ditelusuri Cross, seperti catatan medis dan kepolisian, serta catatan harian yang ditulis Kurt sendiri. Kegigihan menelisik dan mengolah data inilah yang sebenarnya memang sangat dibutuhkan seseorang dalam menulis sebuah buku berjenis biografi, karena hanya dengan begitu sebuah buku biografi akan dapat tampil bertenaga dan tersaji secara baik—seperti buku ini.

Meski diterjemahkan secara keroyokan oleh tiga orang, buku ini cukup enak dibaca. Pilihan kata dan strukturnya sengaja dibuat lebih populer, sehingga dalam dialog-dialognya kita akan banyak menjumpai kata-kata yang tidak baku, seperti “kalo”, “ancur”, dan sebagainya. Beberapa ungkapan bahasa Inggris yang dalam konteks Indonesia saat ini juga sedang populer dan sering digunakan sehari-hari, seperti ungkapan “so what?”, oleh penerjemahnya tetap dibiarkan dalam bahasa Inggris. Dengan cara ini, suasana dan karakter tokoh-tokoh di buku ini, yang kebanyakan memang anak muda, menjadi lebih kental terasa.


* Tulisan ini dimuat di Harian Media Indonesia, Sabtu, 8 April 2006


Read More..

Rabu, 22 Februari 2006

Pembalasan Si Pengantin

Ternyata,‭ ‬jalan pulang untuk bertobat tak cukup mudah ditempuh.‭ ‬Iblis telah tersebar ke sekian banyak tempat.‭ ‬Ia menarik,‭ ‬menggiring,‭ ‬menguntit,‭ ‬dan mengepung,‭ ‬agar kita tetap merasa hangat dalam pelukannya.‭ ‬Iblis tahu betul setiap kali ada anak buahnya yang mencoba berusaha mengambil jalan lain atau kabur dari kelompoknya.

Demikianlah.‭ ‬Si Pengantin telah menetapkan keputusannya:‭ ‬menjadi istri yang baik,‭ ‬menjaga toko kasetnya,‭ ‬menemani hari-hari suaminya,‭ ‬melepas masa lalunya yang kelabu.‭ ‬Si pengantin ingin memulai sesuatu yang baru,‭ ‬catatan baru yang indah dalam episode hidupnya.‭ ‬Entah berapa lama ia harus berpikir keras untuk membuat keputusan itu.‭ ‬Entah seteguh apa hati dan tekadnya sehingga ia cukup berani untuk kabur dari lingkaran gelap yang telah ia hidupi sekian lama.

Keputusannya yang bulat itu lalu akan berlanjut di sebuah kapel kecil di perbatasan negeri.‭ ‬Tempatnya cukup terpencil,‭ ‬tandus,‭ ‬jauh dari ingar bingar dan pusat kota.‭ ‬Bangunannya sederhana,‭ ‬dari papan kayu yang disusun rapi dan kokoh.‭ ‬Tempat itu seperti menyimpan keheningan dan kekhidmatan.‭ ‬Cocok untuk sebuah langkah awal suatu pertobatan.

Dia belum betul-betul masuk ke pintu pertobatannya,‭ ‬ketika dalam sesi gladi yang dilakukan sehari sebelum resepsinya,‭ ‬iblis-iblis itu datang seketika,‭ ‬dengan rentetan salak senapan yang tak terkira.‭ ‬Para iblis itu tak membutuhkan waktu yang lama untuk mengantarkan mereka yang hadir di kapel itu ke alam baka.‭ ‬Si Pengantin pun terbujur telentang di lantai.‭ ‬Perutnya yang membuncit semakin jelas terlihat di antara gaun pengantin putih yang ia kenakan,‭ ‬yang telah bersimbah darah.

Tapi mungkin memang benar,‭ ‬Tuhan Maha Pengampun.‭ ‬Tuhan telah mencatat niat pertobatan Si Pengantin.‭ ‬Dengan cara yang tak terjelaskan nalar,‭ ‬Tuhan telah mengirim malaikat untuk menyelamatkan Si Pengantin.‭ ‬Tuhan menahan roh kehidupan Si Pengantin untuk lepas meninggalkan raganya.‭ ‬Memang tak cepat.‭ ‬Dua tahun.‭ ‬Saat kemudian Si Pengantin menemukan dirinya terbujur kaku di atas ranjang rumah sakit,‭ ‬dengan infus dan peralatan medis.‭ ‬Dengan perut yang tak lagi buncit.‭ ‬Dengan janin yang telah raib.

Si Pengantin masih ingat segalanya.‭ ‬Jalan pertobatan yang hendak ditempuhnya telah diputus.‭ ‬Para iblis itu telah mengacaukan niat sucinya.‭ ‬Para iblis yang adalah teman-teman dari balik halaman masa lalunya.‭ ‬Para iblis yang diam-diam menghidupkan kembali sosok-iblis-dalam-dirinya.‭ ‬Para Iblis yang telah mengundang kembali Si Ular Hitam Dari Afrika,‭ ‬Black Mamba,‭ ‬untuk keluar dari sarang lamanya yang pengap.

Si Pengantin menemukan kuldesak,‭ ‬jalan buntu yang berujung di titik dendam,‭ ‬yang menagih untuk segera dilunasi.‭ ‬Si Pengantin memang tak hendak menagih dendam dengan impas.‭ ‬Dia hanya ingin riwayat para iblis keparat itu tamat.‭ ‬Dia hanya ingin mereka tahu bahwa ia tulus dengan pertobatannya,‭ ‬dan bahwa Tuhan telah merestuinya,‭ ‬sehingga Tuhan sendiri turun tangan untuk menyelamatkannya dan memberi jalan untuk balas dendamnya.‭ ‬Karena itu,‭ ‬ia sangat sadar bahwa perjalanannya menuntaskan dendam adalah juga perjalanan spiritual,‭ ‬yang mungkin tak jauh berbeda nilainya dengan pertobatan.

Tentu ia tak dapat menghindar dari pembantaian.‭ ‬Karena melawan para iblis,‭ ‬tak boleh ada ragu untuk mengayun samurai,‭ ‬memotong leher dan lengan,‭ ‬mencongkel mata,‭ ‬atau menusuk jantung.‭ ‬Satu persatu,‭ ‬Si Pengantin membuat perhitungan,‭ ‬mengantar mereka semua ke ranjang peristirahatan mereka yang terakhir.‭ ‬Satu persatu,‭ ‬Si Pengantin mengakhiri riwayat mereka dalam kematian yang indah.

Si Pengantin melukis hamparan salju putih dengan darah,‭ ‬di antara butir-butir salju yang berderai dihembus angin,‭ ‬dengan latar Fuji yang indah,‭ ‬di halaman belakang Pondok Daun Biru.‭ ‬Ada iringan musik yang berkisah tentang bunga yang bermekaran di antara ladang pembantaian,‭ ‬yang dinyanyikan dengan penuh penghayatan,‭ ‬sehingga melantunkan aura spiritual yang mendalam.‭ ‬Aura spiritual yang juga dapat ditemukan dalam lukisan seorang gembala yang sedang sendiri,‭ ‬merenungi jalan hidup penuh misteri yang digariskan untuknya.

Si Pengantin menghamburkan sereal di dapur yang dicat warna-warni.‭ ‬Sereal itu tak ia hamburkan sendiri.‭ ‬Ia hanya melesakkan pisau ke jantung seorang iblis-curang yang menembaknya seketika,‭ ‬saat ia pura-pura membuatkan sereal untuk anaknya.‭ ‬Padahal ia tak ingin menghabisi iblis-curang itu di depan anaknya.‭ ‬Ia tak ingin anak itu mendendam,‭ ‬dan kemudian juga menjadi iblis seperti ibunya.

Si Pengantin sungguh disayang Tuhan.‭ ‬Ia tak perlu membunuh salah satu iblis itu dengan tangannya sendiri.‭ ‬Dua iblis saling berbunuhan,‭ ‬karena sifat tamak yang tak sanggup mereka pendam.‭ ‬Dan Tuhan betul-betul menyayangi orang-orang yang bertobat.‭ ‬Kuburan yang dibuat untuknya dia tinggalkan sepi tanpa penghuni.‭ ‬Mungkin dahulu Tuhanlah yang menuntunnya untuk belajar pada Sang Suhu,‭ ‬tentang bagaimana mengoyak papan dengan kepalan tangan.

Si Pengantin berduel dalam karavan sempit yang penuh dengan barang-barang yang berantakan.‭ ‬Si Pengantin membuktikan ketangguhannya bermain samurai yang dia dapat dari seorang Empu.‭ ‬Setelah cukup tegang berjibaku,‭ ‬Si Pengantin membalaskan dendam Sang Suhu dengan sisa satu kelopak mata iblis yang ia injak tanpa ampun.

Perburuan iblis terus berlanjut.‭ ‬Daftar iblis bersisa satu nama.‭ ‬Si Pengantin tahu,‭ ‬iblis yang satu ini adalah Raja Iblis.‭ ‬Dan untuk melawan dan menaklukkan Raja Iblis,‭ ‬yang dibutuhkan tak hanya nyali dan ketangkasan olah tubuh.‭ ‬Karena berburu Raja Iblis sangat mungkin akan mengantarkannya ke salah satu bilik dirinya sendiri.‭ ‬Karena pertempuran paling hebat memang adalah pertempuran menghadapi diri sendiri dan menundukkan hawa nafsu.‭ ‬Karena Raja Iblis diam-diam adalah sosok yang dicinta,‭ ‬sehingga ia juga menitipkan anak-anaknya untuk dibesarkan,‭ ‬dirawat,‭ ‬dan dijaga.‭ ‬Di titik ini,‭ ‬Si Pengantin harus bersitegang dengan dilema.

Sebenarnya,‭ ‬Si Pengantin telah menjawab dilema terbesar dalam dirinya dengan jalan pertobatan yang telah dipilihnya itu.‭ ‬Si Pengantin tak ingin anaknya tumbuh dewasa dengan mengetahui yang sebenarnya,‭ ‬bahwa bapaknya adalah seorang Raja Iblis.‭ ‬Si Pengantin tak ingin anaknya menjadi penerus Raja Iblis.‭ ‬Tapi untuk memilih jalan itu,‭ ‬Si Pengantin memang harus menghimpun segenap kekuatan hatinya untuk dapat memutuskan untuk meninggalkan lelaki yang diam-diam dicintainya itu.

Berdiri di hadapan Raja Iblis di sebuah medan duel memaksanya untuk kembali ke halaman depan gerbang pertobatannya,‭ ‬beberapa tahun sebelumnya.‭ ‬Di situ,‭ ‬Si Pengantin merasa berada di sepotong senja penuh bimbang,‭ ‬saat dia harus memutuskan ke manakah dia akan pulang.‭ ‬Konon,‭ ‬di senja hari,‭ ‬setan-setan memang tengah berpesta,‭ ‬berkeliaran mencari-cari mangsa.‭ ‬Si Pengantin buru-buru membuat rumah darurat di senja itu,‭ ‬demi menyelamatkan calon anaknya yang akan segera menyaksikan dunia.

Bayangan senja itulah yang lebih dulu menyerangnya,‭ ‬bersama dengan pertanyaan-pertanyaan Raja Iblis yang membangkitkan semua kenangannya tentang dilema di senja penuh bimbang yang mencekam itu.

Balas dendam memang bisa seperti belantara,‭ ‬yang dapat membawanya ke arah yang tak pernah diduga.‭ ‬Dan akhirnya,‭ ‬Si Pengantin memang harus kembali memutuskan.‭ ‬Membuat jawaban di antara dua pilihan yang sebenarnya tak jauh berbeda.‭ ‬Si Pengantin harus bersikap dingin,‭ ‬tegar,‭ ‬dan kuat,‭ ‬untuk menetapkan pilihan.‭ ‬Dengan kepedihan yang menyayat,‭ ‬ia pun mengakhirinya dengan jurus Tapak Lima Langkah Mematikan.

Si Pengantin pun pulang di pagi yang cerah,‭ ‬ke rumah barunya.‭ ‬Si Pengantin pun menapaki jalan takdirnya yang baru.


‭* ‬Mengenang insomnia,‭ ‬awal Maret‭ ‬2005--ditemani gerimis.

Read More..

Menyelamatkan Islam dari Ekstremisme

Judul buku : The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists
Penulis : Khaled Abou El Fadl
Penerbit : HarperSanFrancisco, New York
Cetakan : Pertama, Oktober 2005
Tebal : 320 halaman



Beberapa peristiwa yang sering dikaitkan dengan latar kekerasan agama, seperti pengeboman WTC, bom Bali, dan semacamnya, hingga tingkat tertentu telah cukup berhasil mencitrakan Islam sebagai agama yang identik dengan terorisme dan ekstremisme. Sentimen anti-muslim mencapai level yang cukup mengkhawatirkan. Ini membuat banyak kalangan muslim mengambil sikap defensif berhadapan dengan klaim dan tudingan yang memojokkan Islam.

Khaled Abou El Fadl dalam buku ini menyatakan sikapnya yang tak cukup percaya bahwa sikap demikian ini akan dapat menghidupkan kembali semangat pesan moral Islam yang sejati. Bagi Abou El Fadl, jalan ke arah itu adalah dengan melakukan semacam introspeksi dan reformasi ke dalam. Termasuk di antaranya memetakan kondisi umat Islam terkini dengan berbagai tantangan yang dihadapinya.

Untuk maksud yang demikian Abou El Fadl menulis buku terbarunya ini. Profesor Hukum Islam dari UCLA tersebut dalam buku ini memberikan pemetaan yang cukup jernih dan gamblang tentang dua arah kecenderungan atau kelompok pemikiran kaum muslim yang menurutnya akan cukup mewarnai wajah Islam di masa depan, yaitu muslim puritan dan muslim moderat.

Gerakan kaum muslim puritan saat ini dimotori oleh kelompok Wahhabi dan Salafi yang memanfaatkan terjadinya krisis otoritas keagamaan dalam Islam, setelah kolonialisme berhasil menyingkirkan peran ulama tradisional dengan berbagai sistem yang mendukungnya. Abou El Fadl menguraikan secara cukup detail bagaimana dua kelompok ini lahir dan berkembang sejak abad ke-18.

Ideologi Wahhabi—yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab di Semenanjung Arab dan menguat ketika berkolaborasi dengan kekuasaan keluarga Al Sa’ud yang menjadi cikal bakal negara Arab Saudi—saat ini telah menyebar begitu rupa ke berbagai pelosok Dunia Islam. Ini didukung dengan kekayaan finansial mereka yang menguasai sumber-sumber minyak serta kendali atas dua kota suci umat Islam, Mekah dan Madinah.

Dalam persebarannya, Wahhabisme menggunakan bendera Salafisme. Salafisme menolak untuk terikat pada khazanah para generasi ulama terdahulu, menolak berbagai mazhab, dan menyeru untuk langsung mengacu pada Alquran dan Sunnah. Bagi mereka, ini adalah cara untuk menjaga autentisitas Islam. Dalam menafsir sumber-sumber primer tersebut, mereka cenderung memperkecil peran manusia dan memperbesar peran teks. Bagi mereka, makna teks sudah ditentukan oleh Pengarang teks, sehingga pembaca teks hanya bertugas untuk memahami dan mematuhinya saja. Karena itu, pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab pada suatu perbuatan yang mengatasnamakan otoritas agama atau Tuhan bagi kelompok ini dipandang sebagai pertanyaan yang keliru.

Kelompok moderat, yang menerima khazanah tradisi dan memodifikasi beberapa aspek darinya untuk memenuhi tujuan moral iman, percaya bahwa kehendak Tuhan tak bisa sepenuhnya ditangkap oleh manusia yang terbatas dan fana. Peran manusia dalam membaca maksud Tuhan cukup besar, sehingga manusia turut memikul tanggung jawab atas hasil pembacaannya itu. Karena itu, kaum moderat percaya bahwa sikap menghormati pendapat orang lain penting untuk dijunjung tinggi, asal memang dilandasi oleh sikap tulus dan tekun.

Kaum puritan menurut Abou El Fadl saat ini sebenarnya termasuk kelompok minoritas dalam Dunia Islam. Cuma saja, karena mereka memiliki semangat yang kuat serta dukungan finansial yang mencukupi, gaungnya kemudian menjadi cukup terdengar di berbagai pelosok dunia.

Kaum moderat, yang senyatanya merupakan mayoritas, saat ini berkewajiban untuk menyelamatkan reputasi dan semangat Islam yang sejati. Muslim moderat, menurut Abou El Fadl, pertama harus dapat memahami secara baik tentang Islam dan Syariah sehingga cukup memiliki legitimasi untuk berbicara dan mendefinisikan Islam. Muslim moderat juga harus sadar bahwa mereka tengah mempertahankan Islam dari serangan gencar tafsir-tafsir kaum puritan yang menggerogoti pesan moral Islam. Jika kaum puritan lantang menyerukan tindakan yang dapat menjurus pada kekerasan, muslim moderat harus lebih bersemangat untuk mengajak menebarkan perdamaian.

Buku ini mungkin dapat disebut sebagai kajian pertama yang berusaha memberikan penggambaran yang cukup jelas tentang dua kelompok Islam yang berperan penting belakangan ini. Buku ini dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama memaparkan peta umum yang menjadi panggung pergulatan kaum moderat dan kaum puritan. Bagian kedua memetakan hal-hal yang disepakati serta tujuh tema besar yang menjadi titik kontroversi di antara kedua kelompok tersebut, seperti masalah hukum dan moralitas, interaksi dengan kaum non-muslim, jihad dan peperangan, serta peran kaum perempuan. Secara lebih khusus, Abou El Fadl memberikan banyak catatan kritis tentang bagaimana sebenarnya puritanisme yang cenderung mengarah ke ekstremisme itu memuat sejumlah inkonsistensi di dalam dirinya sendiri.

Buku terbaru Khaled Abou El Fadl ini semakin menegaskan produktivitas dan perhatiannya terhadap isu-isu penting kaum muslim saat ini. Jika dibandingkan dengan karya sebelumnya, yang bisa dibilang sebagai karya besarnya, Speaking in God’s Name (edisi Indonesia diterbitkan dengan judul Atas Nama Tuhan, Serambi, 2004), karya ini lebih bersifat populer dan berusaha menyorot isu dan kecenderungan aktual saat ini, yakni persoalan terorisme (ekstremisme) yang sering dikaitkan dengan Islam. Meski bersifat populer, kedalaman dan ketajaman argumen Abou El Fadl masih jelas terlihat, yang juga memperlihatkan keluasan wawasannya terhadap khazanah Islam klasik.

Nilai kontekstual buku ini terletak pada seruan Abou El Fadl untuk menyelamatkan Islam dari ekstremisme serta bagaimana menghadirkan agama sebagai gugus kekuatan cinta dan semangat humanisme untuk mengatasi nestapa umat manusia saat ini.


Read More..

Sabtu, 21 Januari 2006

Perspektif Cinta dalam Mendidik Anak-Anak

Judul buku‭ ‬:‭ ‬Rumah Cinta Penuh Warna:‭ ‬Catatan Kebahagiaan Mendidik Buah Hati
Penulis‭ ‬:‭ ‬Asma Nadia dan Isa
Penerbit ‬:‭ ‬Qanita,‭ ‬Bandung
Cetakan ‬:‭ ‬Pertama,‭ ‬September‭ ‬2005
Tebal‭ :‭ ‬168‭ ‬halaman



Selain berbagai tindak kekerasan,‭ ‬saat ini dunia anak-anak kita dikepung dengan berbagai bentuk serbuan dan tekanan sosial-budaya yang dapat membuatnya kehilangan masa depan yang cerah.‭ ‬Beberapa kasus anak-anak bunuh diri yang belakangan cukup sering diberitakan di media misalnya menunjukkan bagaimana anak-anak menghadapi tekanan sosial yang hebat di sekolah atau komunitasnya sehingga kemudian dapat memilih jalan keluar yang cukup tragis itu.‭ ‬Penelitian Organisasi Buruh Internasional‭ (‬ILO‭) ‬Jakarta mengungkapkan bahwa di Jakarta anak-anak saat ini sudah mulai tak asing dengan dunia narkoba.‭ ‬Anak-anak bahkan juga terlibat dalam proses produksi dan distribusi narkoba‭ (‬Kompas,‭ ‬13/07/2005‭)‬.

Lalu di manakah keluarga,‭ ‬tempat anak-anak berbagi masalah dan ruang menempa kepribadiannya‭? ‬Sulit dibantah bahwa institusi keluarga saat ini tengah menghadapi krisis yang membuatnya kehilangan fungsi sosial untuk mendidik dan menanamkan nilai-nilai dasar kemanusiaan dan kedewasaan kepada anak-anak.‭ ‬Apakah saat ini para orangtua telah terlalu sibuk bekerja dan beraktivitas,‭ ‬lalu nyaris sepenuhnya memercayakan pendidikan anak-anaknya pada‭ ‬baby sitter,‭ ‬sekolah,‭ ‬atau bahkan televisi‭? ‬Apakah para orangtua saat ini juga sudah cukup yakin bahwa pola relasi dan pendekatan pendidikan yang mereka terapkan sudah cukup memberi ruang bagi anak-anak mereka untuk dapat merasakan nuansa cinta yang penuh warna dalam rumah mereka‭?

Salah satu simpul solusi dari persoalan dunia anak yang rentan dan rapuhnya fungsi institusi keluarga saat ini adalah dengan memberdayakan sekaligus menciptakan kehangatan di lingkungan keluarga itu sendiri.‭ ‬Atas hal ini,‭ ‬sebenarnya sudah cukup banyak buku yang mencoba memberikan kiat-kiat ataupun penjelasan yang lebih bersifat teoretis tentang mendidik anak dalam keluarga,‭ ‬menjadi orangtua yang baik,‭ ‬mencipta keluarga yang kompak,‭ ‬atau semacamnya.

Keunikan buku ini mengemuka karena ia menyajikan pengalaman sehari-hari dalam keluarga yang dituturkan dengan cukup sederhana.‭ ‬Pasangan muda Asma Nadia dan Isa dalam buku ini berbagi kisah tentang pengalaman mereka membesarkan kedua anaknya,‭ ‬Caca‭ (‬8‭ ‬tahun‭) ‬dan Adam‭ (‬4‭ ‬tahun‭)‬.‭ ‬Secara garis besar pembaca akan menemukan dua poin penting dalam catatan pengalaman Asma dan Isa ini:‭ ‬bagaimana kedua buah hati mereka itu kadang dapat memperlihatkan potensi-potensi kreatif yang menakjubkan,‭ ‬dan bagaimana mereka semua mengelola kebersamaan dalam bingkai cinta dan kasih sayang.

Asma dan Isa dapat dikatakan tipikal pasangan muda dengan aktivitas yang sibuk.‭ ‬Sebagai penulis fiksi remaja terkemuka,‭ ‬sehari-hari Asma sibuk mengelola Forum Lingkar Pena dan atau berbicara di‭ ‬workshop kepenulisan atau forum-forum ilmiah lainnya.‭ ‬Sementara Isa bekerja di TV NHK Jepang selain juga menekuni bidang pengembangan pendidikan anak.‭ ‬Tapi pasangan muda ini begitu sadar bahwa anak-anak mereka tak hanya butuh uang.‭ ‬Di tengah kesibukan,‭ ‬mereka tetap berupaya keras untuk memberikan kebahagiaan dalam cinta,‭ ‬perhatian,‭ ‬dan waktu untuk anak-anak mereka‭ (‬hlm.‭ ‬111‭)‬.‭ ‬Isa,‭ ‬yang juga pernah mengembangkan konsep dongeng interaktif untuk anak,‭ ‬sering ditunggu-tunggu kepulangannya dari kantor oleh kedua anak mereka untuk diajak bermain bersama.‭ ‬Di antara rasa lelah,‭ ‬dengan sabar Isa memenuhi keinginan mereka.‭ ‬Alasannya sederhana:‭ ‬mumpung mereka masih membutuhkan,‭ ‬mumpung orangtua mereka masih menjadi teman favorit mereka,‭ ‬mumpung mereka belum menjadi dewasa dan dibekap dengan berbagai kesibukan‭ (‬hlm.‭ ‬18‭)‬.

Menyediakan waktu untuk bermain dengan anak ternyata tidak hanya baik untuk menanamkan kedekatan emosional anak dengan orangtua,‭ ‬tapi juga bisa menjadi media membangun kekompakan antara dua anak kecil yang sama-sama baru mulai meninggi egonya.‭ ‬Begitulah pendekatan Isa untuk membentuk‭ ‬sense kerjasama di antara kedua anaknya.‭ ‬Saat bermain berantem-beranteman,‭ ‬Isa yang berperan sebagai monster yang berusaha dikalahkan Adam berbisik,‭ “‬Kau tak mungkin menang,‭ ‬apalagi kalau kakakmu tidak membantu‭” (‬hlm.‭ ‬65‭)‬.

Anak-anak kerap membuat kesal para orangtua dengan sikap nakal dan usilnya.‭ ‬Menghadapi hal semacam ini para orangtua kebanyakan bereaksi dengan marah atau memberi hukuman.‭ ‬Tapi justru Asma menemukan bahwa ternyata teguran itu lebih mudah diterima jika diungkapkan dengan cara yang lebih lembut,‭ ‬dengan mengutarakan betapa sedihnya mereka saat melihat Caca dan Adam berbuat hal-hal yang nakal‭ (‬hlm.‭ ‬80‭)‬.

Jika terpaksa harus menghukum,‭ ‬hukuman harus disosialisasikan sebelumnya,‭ ‬logis,‭ ‬mendidik,‭ ‬dan memberi efek jera.‭ ‬Pernah Asma begitu marah pada Caca sehingga ia memutuskan untuk memberinya hukuman:‭ ‬dikurung di kamar mandi.‭ ‬Tapi,‭ ‬demi menghindar dari hal-hal yang tak diinginkan,‭ ‬Asma menemukan cara menarik dalam mengeksekusi hukumannya.‭ ‬Asma menemani Caca dalam kamar mandi yang gelap,‭ ‬begitu lama,‭ ‬sampai akhirnya Caca sadar dan meminta maaf atas kesalahannya‭ (‬hlm.‭ ‬41‭)‬.

Mendidik dengan cinta.‭ ‬Itulah benang merah dan kata kunci utama yang dapat dipetik dari kisah-kisah Asma dan Isa dalam mendidik anak-anak mereka.‭ ‬Mungkin kekuatan misterius cinta ini pulalah yang kemudian tak jarang melahirkan sikap-sikap yang menakjubkan dari anak-anak,‭ ‬seperti yang juga ditemukan dalam kisah-kisah Asma dan Isa.‭ ‬Tentang bagaimana suatu hari di sebuah rumah makan Caca memasukkan delapan koinnya ke kotak amal,‭ ‬atau Caca yang berinisiatif menyumbangkan tabungannya untuk ulang tahun Adam yang nyaris tak dirayakan karena keterbatasan dana keluarga,‭ ‬atau ungkapan-ungkapan cinta kedua anak mereka dalam kata-kata atau gambar yang indah.

Atas hal-hal yang menakjubkan semacam ini Asma dan Isa memang seperti membiarkannya tak terjelaskan,‭ ‬bagaimana semua ini bisa muncul dari sikap kedua anak mereka yang masih polos itu.‭ ‬Mungkin memang sulit memberikan penjelasan tentang bagaimana anak-anak dapat digiring untuk bersikap peka dan solider dengan sesama.‭ ‬Mungkin itu semua adalah bagian dari misteri menakjubkan anak-anak.‭ ‬Mungkin pula semua itu memang didapat tidak dengan tips-tips instan,‭ ‬tapi dengan cinta yang terus ditempa saban hari dengan kelembutan dan ketulusan.

Karena itulah,‭ ‬Asma dan Isa bertutur dengan sama sekali tak hendak menggurui.‭ ‬Teori-teori,‭ ‬tips-tips,‭ ‬atau kiat-kiat,‭ ‬tak terlalu banyak ditemukan di sepanjang buku ini.‭ ‬Yang banyak adalah kisah-kisah ringan,‭ ‬tempat pembaca akan banyak menemukan hikmah bertaburan,‭ ‬yang kadang cukup menggugah dan mengharukan.‭ ‬Tapi justru karena kisah-kisah yang diangkat dari pengalaman sehari-hari itulah,‭ ‬Asma dan Isa cukup berhasil untuk memberikan sebuah potret sederhana tentang bagaimana cinta dan kehangatan itu mestinya disemaikan kepada anak-anak kita dalam keluarga—sesuatu yang mungkin bisa menjadi perspektif alternatif dalam mendidik anak-anak.

Buku ini sangat cocok untuk pasangan muda yang baru mulai menapaki mahligai pernikahan,‭ ‬terutama sebagai bekal untuk melahirkan individu-individu baru yang berdaya,‭ ‬berkualitas,‭ ‬dan untuk mengantar mereka ke gerbang dunia dengan senyum bahagia.


Read More..

Minggu, 08 Januari 2006

Bastian Tito dan Kenangan Seorang Anak Kampung

Ilustrasi karya Zainur Rahman van Hamme

Pagi itu, dalam sisa suasana tahun baru, saya mendapat berita yang mengejutkan. Bastian Tito, penulis cerita silat Wiro Sableng, meninggal dunia pada Senin pagi, 2 Januari 2006. Sejenak saya tertegun diam. Rimba persilatan berduka. Dunia kepenulisan kita kembali berduka.

Nama Bastian Tito sebagai penulis menjadi lebih populer setelah cerita-cerita silat Wiro Sableng yang ditulisnya, yang dikenal dengan julukan Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, diangkat ke layar kaca pada pertengahan dekade 1990-an. Tapi dahulu, bagi saya dan teman-teman sepermainan saya, di sebuah kampung pedalaman Madura, Bastian Tito adalah sosok yang menghidupkan imajinasi dan mengantar saya menjelajah ke banyak dunia.

Bagi saya pribadi, Bastian termasuk orang yang berhasil membuat saya keranjingan membaca dan mencintai pustaka. Buku-bukunya saya beli di pasar desa atau di kios koran di kota (Sumenep). Harga jualnya di tahun 1990-an terhitung murah: seribu perak. Tebalnya antara 100 hingga 200 halaman. Penerbitnya tak cukup ternama. Kemasannya juga tak cukup mewah, dengan kertas buram dan binding yang tak terlalu kuat.

Kemasan karya-karyanya yang sederhana tak terlalu jadi masalah, karena sebagai seorang pencerita, Bastian sungguh menunjukkan kemampuan yang andal dan cukup luar biasa. Setting cerita, alur, penokohan, dan cara penggambaran suasana dalam karya-karyanya sungguh kaya, menarik, dan khas. Pengembaraan Wiro yang membuana mulai dari seantero Pulau Jawa, Madura, Bali, Sumatera, hingga ke negeri Cina dan Jepang, menegaskan penggalian bahan referensi yang cukup mendalam dari penulisnya. Cara penggambaran Bastian saat seorang tokoh muncul dalam sebuah momen peristiwa juga cukup menarik. Tanpa perlu secara langsung menyebut nama atau identitas seorang tokoh, seperti Wiro Sableng, Pangeran Matahari, Sinto Gendeng, Si Muka Bangkai, Tua Gila, Kakek Segala Tahu, atau Dewa Tuak, Bastian justru lebih sering memunculkan seorang tokoh dengan ciri khas mereka dengan karakter yang kuat. Wiro misalnya digambarkan dengan pakaiannya yang serba putih dan agak kumal, sering garuk-garuk kepala, serta sikapnya yang konyol dan kocak.

Seperti dalam cerita silat Kho Ping Hoo, banyak filosofi universal yang termuat dalam kisah Wiro. Penggunaan angka 212 (baca: dua satu dua) pada kapak yang Wiro gunakan, yang juga ditato ke dada Wiro, dijelaskan dalam Empat Brewok dari Goa Sanggreng, dimaksudkan untuk mengingatkan bahwa dalam kehidupan selalu melekat hal-hal yang berpasangan, seperti senang-susah, menang-kalah, atau hidup-mati, tapi semuanya berasal dari dan akan kembali ke Yang Mahasatu.

Pencapaian kebahasaan (kesusastraan) Bastian dalam karya-karyanya tak dapat dipandang sebelah mata, meski karya-karyanya tak dipajang di toko-toko buku terkemuka sekelas Gunung Agung atau Gramedia. Selain cara penggambaran tokoh, cerita, dan suasana yang bernas, cerdas, dan merangsang imajinasi, Bastian juga memperkenalkan ungkapan-ungkapan khas berbau lokal dalam menuturkan peristiwa. Untuk menggambarkan durasi waktu, misalnya, kita akan cukup sering menemukan frasa “sepeminuman teh” atau “sepenanakan nasi” yang tak kita jumpai dalam karya penulis lainnya. Untuk jarak atau ukuran, misalnya, Bastian sering menggunakan “lima tombak” atau “tiga langkah”. Pencapaian kebahasaan yang khas semacam ini jelas akan sulit divisualisasikan ketika cerita silat Wiro Sableng ini diangkat ke layar kaca, sehingga kebanyakan para penggemar Wiro Sableng konon tidak terlalu menyukai versi televisinya.

Kelincahan bercerita yang ditemukan dalam karya-karya pria kelahiran 23 Agustus 1945 ini mungkin tidak terlalu mengherankan, jika kita tahu bahwa Bastian telah tekun menulis sejak kelas 3 SD dan menerbitkan karyanya sejak 1964. Kisah Wiro Sableng sendiri mulai diterbitkan pada 1967. Ratusan judul karya cerita silat telah ditulisnya. Seorang saudara saya yang setia mengoleksi cerita silat Wiro Sableng mengatakan bahwa koleksinya sudah hampir 200 judul. Padahal Bastian juga sempat menulis cerita-cerita lain selain Wiro Sableng, seperti Boma si pendekar cilik, dan juga cerita berlatar budaya Minang, Kupu-kupu Giok Ngarai Sianok.

Kepulangan Almarhum ke hadirat-Nya pada tanggal dua bulan satu di awal tahun baru ini buat saya menorehkan kesan mendalam dan sejumlah harapan besar dan doa. Semoga masih akan ada penulis-penulis semacam Bastian di masa depan, yang tak henti menulis cerita-cerita memikat, tapi karyanya dapat dijangkau oleh anak-anak kampung yang uang jajannya pas-pasan. Saya berharap akan ada penerbit besar yang tertarik untuk menerbitkan karya-karya “sederhana dan murah” semacam karya Bastian, seperti halnya juga komik-komik lokal, yang mungkin tak cukup memberi gengsi, tapi akan cukup berarti. Saya juga berharap bahwa anak-anak di kampung saya saat ini masih akan bisa menemukan karya-karya murah tapi tak kalah berkualitas semacam karya Bastian di pasar desa, di tengah gempuran sinetron dan tayangan televisi, sehingga itu dapat mengokohkan tradisi membaca di kalangan mereka. Karya-karya Bastian dan semacamnya buat saya, teman-teman sepermainan saya, dan mungkin anak-anak di kampung lainnya, adalah pahlawan dan guru yang telah menyontekkan tradisi membaca dan membuka akses ke dunia aksara.

Selamat jalan Bastian Tito. Karya-karyamu adalah amal yang akan terus diberi pahala oleh Yang Mahakuasa.

* Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 8 Januari 2006

Read More..

Kamis, 05 Januari 2006

Vampir Kebudayaan dan Sisi Hitam Dunia Kepenulisan

Tulisan ini ingin memperkaya perspektif tentang sisi hitam dunia kepenulisan yang dalam beberapa pekan terakhir menjadi topik yang hangat dibicarakan di rubrik "Di Balik Buku" Jawa Pos. Jika sebelumnya disinggung soal fenomena ghost-writers dan pialang kepengarangan, yang pada satu titik memperlihatkan terkikisnya idealisme dalam dunia kepenulisan, tulisan ini ingin menekankan peranan perangkat teknologi dalam memperlancar berbagai praktik penyelewengan dalam aktivitas kepenulisan tersebut.

Ada satu kasus menarik yang dapat diungkapkan di sini menyangkut hal ini. Seorang rekan saya yang di antaranya mengelola penerbitan buku-buku fiksi remaja, selain buku-buku yang lain, bercerita bahwa ia pernah menerima email komplain dari pembaca yang merasa tertipu karena salah satu buku fiksi remaja yang ia beli sebagian isinya sama dengan buku yang terbit di penerbit lain di kota yang sama, dengan pengarang yang sama, hanya dengan perbedaan tokoh-tokoh dan tempat kejadiannya saja; sementara kalimat hingga titik-komanya pun bahkan persis.

Kasus ini jelas menunjukkan bagaimana perangkat komputer telah benar-benar berperan untuk memudahkan si pelaku dalam menyelewengkan sebuah karya. Tindakan tak bermoral ini tidak dilakukan secara manual dengan sedikit mengotak-atik judul dan segi-segi kebahasaan dalam suatu naskah, tapi cukup diolah dengan bantuan software pengolah kata MS-Word, tekan Ctrl-H, dan seterusnya. Bahkan, duplikasi semacam itu sebenarnya juga bisa dilakukan tidak saja oleh “si penulis asli”, tapi juga oleh orang ketiga, dengan bantuan teknologi scanner. Sebuah buku atau artikel tinggal discan, diambil teksnya, lalu olah di MS-Word (tinggal pilih: apa dengan find-replace, atau copy-paste). Kerja-kerja semacam ini dijamin tak bakalan cukup banyak memeras tenaga—jika dibandingkan dengan aktivitas kepenulisan yang sesungguhnya—dan hanya akan memakan waktu tak lebih dari 1 x 24 jam!

Praktik yang sebelumnya paling lazim dan sederhana dilakukan dengan bantuan kecanggihan komputer adalah mengedit segi-segi kebahasaan naskah, mengganti judul, dan kemudian menjual naskah tersebut ke beberapa penerbit. Rekan saya tersebut di atas juga sempat bertutur bahwa ia pernah dikibuli oleh seorang dosen dari sebuah perguruan tinggi berlabel Islam di sebuah kota yang “berhasil” menjual dan menerbitkan naskahnya ke tiga penerbit di kota itu sekaligus pada waktu yang hampir bersamaan (termasuk ke penerbit yang dikelolanya), dengan beberapa modifikasi yang tidak signifikan. Yang dirugikan jelas penerbit dan pembaca. Pembaca yang kurang cermat bisa jadi akan membeli ketiga buku yang sebenarnya sama itu—dan dengan begitu ia telah menghamburkan uangnya dengan sia-sia. Sementara penerbit, selain akan memperoleh citra kurang baik dari pembaca yang kurang paham duduk soal yang sebenarnya, juga akan membuat market share untuk buku tersebut menjadi berkurang.

Karena itu, tak berlebihan kiranya jika dalam konteks persoalan ini saya ingin menyebut komputer dan perangkat teknologi lainnya itu sebagai “vampir kebudayaan”—meminjam istilah Afrizal Malna dalam salah satu esainya di tahun 1997—, ketika teknologi canggih tersebut dapat juga menjadi semacam penghisap darah kreativitas-sejati manusia dalam aktivitas pengembangan kebudayaan—tanpa harus menafikan segi positif teknologi tersebut—dan mengantarkan pada tindakan-tindakan tak bermoral.

Konon, modifikasi dan pengembangan dari teknologi copy-paste yang relatif sederhana ini telah berkembang pesat, mulai dari mengkopi dan mengedit seadanya beberapa halaman dari sebuah naskah buku terjemahan, untuk kemudian dimasukkan dalam salah satu bagian buku yang diaku sebagai karyanya, hingga dengan modus paling mutakhir yang ditopang dengan fasilitas internet. Belakangan, di lingkungan terbatas, berkembang rumor yang menyatakan bahwa ada sebagian (kecil) penulis di media yang bekerja dengan cara tersebut, dengan memanfaatkan mesin pencari di dunia maya yang memang sangat cerdas itu (semacam “google” atau “altavista”)—dengan bergiga-giga data yang dapat diakses dari seantero dunia, dengan berbagai pilihan bahasa dan tema—bukan untuk diolah sebagai referensi, tetapi dengan lebih banyak comot sana sini, diracik dan digabung-gabungkan, tanpa ada unsur-unsur baru. Dengan kata lain, semacam copy-paste.

Persoalannya sekarang, bagaimana kita menghadapi kejahatan intelektual semacam ini? Bagaimana penerbit dapat mengendus tindak penyelewengan yang memanfaatkan teknologi ini? Terus terang memang sulit rasanya menemukan solusi yang paling mujarab. Menyerahkan tugas penyingkapan kejahatan semacam ini kepada penerbit sebelum menerbitkan suatu naskah jelas terdengar tak masuk akal. Apalagi arus buku-buku baru di pasaran belakangan ini berkembang sangat pesat. Begitu banyak karya terbit, begitu banyak penulis baru muncul; begitu banyak penerbit berdiri dengan lini-lini baru; semakin meluas pula jaringan distribusi penjualan buku ke pelosok nusantara.

Yang paling mungkin dilakukan adalah semacam pemantauan dan sosialisasi tentang modus-modus kejahatan semacam ini, baik kepada para pembaca, peresensi, penerbit, atau siapapun yang peduli, baik melalui forum-forum informal, media massa, atau di forum-forum mailing list. Bila ditemukan, penerbit bersangkutan harus diberi tahu, sehingga untuk selanjutnya, nama “si penjahat”, meski mungkin tak dapat diseret ke pengadilan, harus di-black list dan dibekukan dari daftar jagat kepenulisan. Selain itu, mungkin saja dilakukan jika praktik yang dapat dikategorikan dalam modus plagiarisme ini dimasukkan dalam salah satu klausul surat perjanjian penerbitan, tentu dengan poin yang akan memberatkan pihak penulis. Siapa tahu “si penjahat” akan urung menjual naskahnya justru karena dia kemudian takut ketahuan dan dihukum secara moral oleh masyarakat.

* Tulisan ini pernah dimuat di Harian Jawa Pos, 4 Desember 2005

Read More..

Senin, 02 Januari 2006

Menjadi Petualang


Larut tertinggal di belakang. Pagi datang menjelang. Aku masih terbangun, terantuk-antuk di kursi belakang bus yang terus melaju. Kulirik jam tangan, jam dua lima belas menit. Kebanyakan penumpang di atas bus yang hampir penuh itu tertidur lelap. Beberapa kelihatan lelah terkantuk-kantuk. Mungkin pikiran mereka sedang berkelana entah ke mana, ke arah belakang atau ke depan. Lampu bus di dalam yang remang terlihat indah, berpadu dengan pemandangan kiri kanan yang memperlihatkan hamparan sawah diterangi purnama. Deru mesin bus terdengar lantang di antara senyap malam dan suasana pedesaan.

Tak lama lagi bus ini akan tiba di perhentiannya yang terakhir. Tak lama lagi aku akan tiba di rumah. Tapi pikiranku seperti masih tertinggal di jalur-jalur perjalananku. Ini bukan semacam kenangan, memorabilia suatu perjalanan. Ini semacam kesan sederhana tentang suatu petualangan—atau tepatnya, seseorang yang menjadi petualang—yang kemudian mengantar ke sejumlah pertanyaan.

Aku teringat pada seorang filsuf terkemuka Jerman yang butir-butir pemikirannya disebut-sebut menjadi salah satu dasar bagi lahirnya semangat Pencerahan Eropa di abad kedelapan belas. Dia, yang putra seorang pembuat pelana kuda, tinggal di sebuah kota di Prusia Timur nyaris sepanjang hidupnya—delapan puluh tahun! Meski sekarang dunia telah menjadi desa, aku tak bisa membayangkan jika di abad ini akan ada orang yang semacam itu; yang nyaris terus berdiam dalam milieunya, tak berjumpa langsung dengan wajah-wajah dari lain nusa, tak mendengar langsung orang-orang yang bercakap dengan lain bahasa.

Aku cukup tahu bagaimana rasanya rindu pulang. Setiap di suatu perjalanan, setiap di suatu tempat persinggahan, setiap di kampung perantauan, ada saatnya perasaan rindu pulang menyeruak datang. Tapi perjalanan kemarin telah memberiku suatu pengertian baru tentang indahnya petualangan.

Sebuah petualangan ibarat air yang mengalir, yang membawa kita ke sungai-sungai, jeram, selokan, atau sebuah pemandangan pasar apung yang menakjubkan. Sebuah petualangan adalah arus sungai yang mengalirkan sehelai daun ke muara, terus ke laut. Dalam petualangan, mungkin kita akan disambut hangat oleh seorang kawan lama atau menemukan sanak saudara yang sebelumnya bahkan kita tak pernah berjumpa. Mungkin pula kita akan menyaksikan pemandangan alam yang belum pernah kita lihat, pasar yang terbakar dan orang-orang yang meratapi barang-barangnya yang hangus dilahap api, atau suasana hening pedesaan. Mungkin pula di sebuah terminal kita akan kecopetan.

Menjadi petualang mungkin akan mengubah total makna rumah dalam pengertian yang konvensional. Seorang petualang mungkin tak pernah risau atau tak pernah dihinggapi perasaan rindu pulang, karena baginya semesta adalah rumah tinggalnya. Rumah bukan lagi menjadi semacam konsep yang mengacu ke sebuah pusat yang relatif stabil. Rumah selalu dibuat dan dimaknai dalam setiap momen kebaruan yang justru ditemukan dalam area pekarangan yang tak terbatas. Mungkin dengan itu rumah tak dicari di luar diri, karena diri kemudian mengganti sebagai pusat baru yang menempati posisi dan fungsi rumah. Seorang petualang, pikirku, berumah-dalam-diri.

Tapi kukira saat ini tak banyak orang yang sanggup kembali menjadi semacam kaum nomaden di zaman yang menuntut orang-orang untuk menemukan sebentuk tempat sandaran, mungkin jaminan, agar tak digilas dunia yang bergerak entah ke mana. Kalaupun ada, mungkin ia akan sangat terbantu dengan piranti komunikasi yang sanggup menemaninya menyelusup hingga ke pelosok kampung, untuk tetap menghubungkannya dengan sang pusat, rumah tinggalnya. Para petualang sejati mungkin memang hanya bisa kita temukan di masa lalu, dalam cerita-cerita silat dan sandiwara radio.

Seperti inilah tepatnya pikiranku saat itu, saat diguncang di atas bus yang melaju. Samar-samar muncul bayangan lain dari suatu senja, dari masa lalu, di balai-balai di bawah pohon mangga, di halaman langgar tua, seorang bocah yang khusyuk mendengarkan kisah para pendekar dari sebuah radio. Para pendekar yang membela kebenaran, menumpas kejahatan, berkelana menebar kebajikan. Entah, apakah pikiran bocah itu ikut larut dalam keasyikan bertualang seperti dalam kisah yang ia dengarkan.

Akan tetapi aku kadang berpikir, apakah justru seorang petualang awalnya adalah seorang yang terbuang? Apakah rumah si petualang di kampung halamannya telah diluluhlantakkan, sehingga ia harus mengembara, membangun rumah baru entah di mana atau membangun rumah dalam dirinya? Ataukah dia terusir dari rumah asalnya; terusir karena perbuatannya yang dianggap tak benar? Apakah seorang petualang awalnya adalah seorang yang sebatang kara?

Waktu terus merambat. Pertanyaan-pertanyaanku terhenti di situ. Bus bergerak melambat. Di depan, tempat terakhir untuk menurunkan penumpang telah terlihat.


Juli-November 2005

Read More..

Senin, 19 Desember 2005

Simone de Beauvoir dan Etika Pembebasan Perempuan

Judul Buku : Pembebasan Tubuh Perempuan:
Gugatan Etis Simone de Beauvoir terhadap Budaya Patriarkat
Penulis : Shirley Lie
Pengantar : Karlina Supelli
Penerbit : Grasindo, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2005
Tebal : xx + 102 halaman



Di kalangan para aktivis gender, Simone de Beauvoir merupakan salah satu tokoh kunci yang pemikirannya tak bisa dilewatkan untuk ditelaah. Magnum opusnya, Le Deuxième Sexe (1949), dicatat sebagai karya klasik yang memberikan uraian cukup komprehensif tentang kondisi (ketertindasan) perempuan dan telah memberikan pengaruh yang cukup signifikan dalam menginspirasi dan memotivasi gerakan-gerakan pembebasan perempuan. Karya klasiknya itu, yang dalam bahasa Inggris berjudul The Second Sex, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, diterbitkan oleh Pustaka Promethea Yogyakarta (2003).

Buku yang semula adalah tesis di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta ini adalah salah satu dari sedikit karya dalam bahasa Indonesia yang mencoba mensistematisasi dan mengkontekstualkan pemikiran-pemikiran Beauvoir. Gagasan-gagasan Beauvoir yang dapat dikatakan bersifat filosofis dan merupakan kritik pedas terhadap budaya patriarkat yang menindas dalam buku ini diletakkan dalam kerangka praksis-etis pembebasan kaum perempuan. Untuk itu, penulis buku ini, selain mengolah dari The Second Sex, juga banyak mengolah pemikiran filosofis Beauvoir yang tertuang dalam The Ethics of Ambiguity.

Budaya patriarkat memulai riwayat penindasannya terhadap perempuan dengan stigmatisasi negatif terhadap kebertubuhan perempuan. Unsur-unsur biologis pada tubuh perempuan dilekati dengan atribut-atribut patriarkat dengan cara menegaskan bahwa tubuh perempuan adalah hambatan untuk melakukan aktualisasi diri. Perempuan diciutkan semata dalam fungsi biologisnya saja. Dengan cara demikian, tubuh bagi kaum perempuan tak lagi dapat menjadi instrumen untuk melakukan transendensi sehingga perempuan tak dapat memperluas dimensi subjektivitasnya kepada dunia dan lingkungan di sekitarnya. Tubuh yang sudah dilekati nilai-nilai patriarkat ini kemudian dikukuhkan dalam proses sosialisasi serta diinternalisasikan melalui mitos-mitos yang ditebar ke berbagai pranata sosial: keluarga, sekolah, masyarakat, bahkan mungkin juga negara.

Dalam kerangka penjelasan seperti inilah maka perempuan kemudian diposisikan sebagai jenis kelamin kedua (the second sex) dalam struktur masyarakat. Akibatnya, perempuan tak dapat mengolah kebebasan dan identitas kediriannya dalam kegiatan-kegiatan yang positif, konstruktif, dan aktual. Dalam situasi yang demikian ini, pola relasi kaum laki-laki dan perempuan menjadi tak ramah lagi. Kaum laki-laki tak menghendaki adanya ketegangan relasi subjek-objek, sebagaimana dijelaskan oleh filsuf-filsuf eksistensial, dengan menyangkal subjektivitas perempuan dan menjadikannya sebagai pengada lain absolut.

Pada titik inilah pemikiran Beauvoir tentang etika ambiguitas menjadi penting dikemukakan. Dengan etika ambiguitas, Beauvoir menolak sikap yang ingin mengelak dari ketegangan relasi tersebut. Menurut Beauvoir, ketegangan antara “kebutuhan akan orang lain” dan “kekhawatiran dikuasai orang lain” (diobjekkan) merupakan situasi yang harus diterima apa adanya dan ditransendensikan ke dalam situasi yang lebih proporsional dan manusiawi.

Jalan pembebasan kaum perempuan ditempuh dari dua jalur utama, yakni level pemikiran dan praktik. Pada tataran pemikiran, tubuh perempuan harus dibebaskan dari label-label yang ditempelkan oleh budaya patriarkat yang membuatnya tak leluasa melakukan proses transendensi. Selain menempatkan konsep subjek dengan tubuh yang berbeda dan ambigu, Beauvoir juga menyerukan untuk mengubah pola relasi antara kaum laki-laki dan perempuan dari ikatan biologis dan fungsional menjadi ikatan manusawi dan etis, yang terangkum dalam semangat persahabatan dan kemurahan hati.

Di level praktik, Beauvoir mengusulkan pentingnya kemandirian ekonomi sebagai pintu pembuka bagi pembebasan tubuh perempuan, yang akan semakin mantap jika dipadukan dengan perlakuan setara terhadap perempuan di ranah sosial, budaya, dan politik, yang dicapai melalui revolusi sosial.

Selain melakukan sistematisasi, buku ini cukup berhasil melakukan kritik dan kontekstualisasi pemikiran-pemikiran Beauvoir dalam konteks problem-problem kekinian perempuan di era globalisasi. Di beberapa bagian, misalnya, menurut penulis buku ini, Beauvoir kadang terlihat terlalu menyederhanakan persoalan situasi perempuan dan tidak mengakomodasi kompleksitas situasi penindasan perempuan yang cukup rumit. Di akhir bagian, penulis buku ini menambahkan bahwa selain ancaman nilai-nilai patriarkat sebagaimana tampak jelas dalam pemikiran Beauvoir, perempuan kini juga ditantang oleh kekuatan pasar bebas yang untuk beberapa hal tak jauh berbeda dengan kultur patriarkat dalam soal menyempitkan ruang perempuan ke dalam kategori objek belaka, di tengah kegamangan kaum perempuan untuk terjun ke dalam ketegangan dan sifat dasar kebebasannya.

Karya ini cukup berhasil menyajikan pemikiran-pemikiran filosofis Simone de Beauvoir tentang praksis etis pembebasan perempuan dalam bahasa dan uraian yang cukup mudah dicerna tanpa harus kehilangan segi kedalaman kajiannya. Buat mereka yang terjun di level gerakan (sosial) pembebasan perempuan, buku ini dapat menyuguhkan peta umum kondisi perempuan dengan berbagai kompleksitas persoalannya, dan buat kaum perempuan sebagai individu, Beauvoir melalui karya ini memberikan semangat dan seruan untuk hidup lebih autentik dan hidup dengan menggali identitas dan kebebasannya.

* Tulisan ini dimuat di Jurnal Perempuan edisi 45, Januari 2006


Read More..

Jumat, 16 Desember 2005

Mata Itu...

Di balik kelopak mata ini ada luka, lara, gelisah dan air mata. Saat dia terbuka, berjuta warna akan menyilaukannya. Jadi biarkan dia tertutup, mengatup dalam gelap. Karena gelap melindunginya dari kelelahan dalam perjalanan panjang.



Aku terdiam, terpaku menatap mata itu. Mata yang seperti menyimpan berjuta enigma. Mata yang seperti menanggung beban tiada terkira. Mata yang seperti tiba di titik frustrasi, tak menemukan ruang untuk berbagi. Mata yang bila membuka seperti hanya menemukan ufuk-lazuardi yang terluka di serambi rumahnya.

Mata itu seperti betul-betul ingin bertutur tentang banyak hal yang tak kuasa ia ungkapkan. Tapi mengapa bila kutanya dia hanya menjawab dengan diam? Malah kadang dengan sedikit nada marah, sambil mengingatkan, agar aku tak lagi menyinggung soal itu. Teramat banyak cerita; begitu miskin kata-kata. Mungkin, bila tiba saatnya ia harus mendedahkan semuanya, dengan terbata ia akan bertutur dengan air mata, yang mengalir ke hidung mungil dan sudut bibirnya yang kadang bergetar. Ia berlari menjauh, menumpahkan itu semua dalam kesendiriannya. Dalam kesunyiannya.

Sementara dunia tak akan ke mana-mana; ia akan tetap di sana, dengan segala merah, jingga, kuning, biru, dan kelabunya.

Akan tetapi, bagaimanapun juga, aku sadar bahwa aku tak akan pernah bisa tahu sepenuhnya, apalagi merasakan sedalamnya, hamparan catatan harian yang tak kutulis sendiri. Jalan setapak yang rumputnya tak kuinjak. Paling-paling, dengan anugerah yang luar biasa, dengan imajinasi dan empati, aku mungkin saja melibatkan diri, membaca aksara-aksara yang ia pahatkan, garis-garis yang ia goreskan dan coretan-coretan spontan yang ia torehkan, yang kadang mewujud sesuatu yang membutuhkan penjelasan. Meski sering aku sadar, bahwa suatu saat imajinasi dan empati akan membentur garis demarkasi, yang memisahkan dunia-yang-dicipta-olehnya dan dunia-yang-terberi-di-hadapan-kita-begitu-saja.

Sementara imajinasi dan empati sangat tidak cukup bila hanya diolah dari (pemandangan) mata. Ia membutuhkan sejumlah bahan lainnya. Semacam catatan resep, ruang, waktu, dan juga tempat adonan.

Kadang aku berpikir bahwa mata adalah semacam tabung besar tempat menyimpan rahasia-rahasia diri yang terdalam. Mungkin juga tempat menyimpan kegelisahan dan kebahagiaan. Tebersit tanya, seberapa besar sebenarnya daya tampung tabung itu? Mungkinkah, suatu saat, tabung itu meluap, memuntahkan segala isinya? Atau jangan-jangan ternyata di dalam ada semacam alat yang dapat mendaur sebagian atau seluruh isinya, mengolah gelisah menjadi gairah, mengubah air mata menjadi api semangat, mengubah resah menjadi senyum sumringah… Jangan-jangan, seperti kata seorang teman, mata-yang-memutuskan-untuk-terpejam itu melewatkan kelebat fajar, cahaya pagi yang menyegarkan, dan hanya kembali membuka saat ia hanya bisa menemukan temaram…

Sejauh masih ada nikmat kesempatan dan kekuatan, mengapa tak kau tatap lanskap dunia, meski horison senja terhalang kepul asap bercampur jelaga? Tidakkah kau yang mengajariku, bahwa kita tak pernah sendiri di sini, dalam perjalanan panjang yang memang melelahkan ini? Perjalanan panjang, tak pernah kita tahu seberapa juta jengkal untaiannya terhampar, ke arah mana berkelok, dengan siapa kita akan bergenggam tangan, di mana akhir tanjakan. Di antara sisa-sisa titik keberadaan kita yang rentan, kita mungkin masih punya kesungguhan, kecermatan, dan niat suci untuk menjalaninya dengan tegar hati.

Mata itu… Aku ingin selalu becermin di antara retakan-retakan semesta. Tapi aku juga ingin menyaksikan saudaraku, kerabatku, orang-orang yang kucinta, bisa menemukan bahagia di antara cermin yang selalu ia bawa.

Read More..

Senin, 10 Oktober 2005

Senja di Pelabuhan (1)

Aku sungguh merindukan pulang. Aku rindu senja di pelabuhan.

Sebenarnya tak ada yang istimewa dengan pelabuhan itu. Hanya semacam tempat lalu-lalang orang-orang dengan berbagai tujuan dan keperluan. Tak sering aku menikmati senja di pelabuhan itu, karena kebanyakan aku menyeberangi selat itu di malam hari. Dan di malam hari, pelabuhan seperti tak menyisakan hal yang dapat dinikmati. Hanya temaram, di antara sisa-sisa bunyi yang tak seriuh di terik hari. Mungkin ada pula rasa kantuk yang tak tertahankan, selain juga sejenis kekhawatiran, bahwa di pojok remang bisa saja terjadi tindak kriminal.

Aku masih ingat, di suatu senja, aku duduk di perigi di sudut barat pelabuhan itu, memandangi laut dan orang-orang yang tak begitu ramai di sekitar. Ada beberapa orang yang sedang memancing ikan di ujung sebuah perigi yang menjorok agak jauh ke arah laut, di bagian barat pelabuhan. Di seberang terlihat pemandangan kota dan kapal-kapal besar yang menunggu jadwal keberangkatan.

Senja memang baru dimulai. Aku duduk di dekat sebatang pohon beringin, berlindung dari sisa-sisa sengatan sinar matahari. Aku duduk saja, kadang berjuntai, kadang bersila. Tak ada teman yang bisa kuajak bicara. Aku sendiri saja, menikmati suasana senja yang terasa membawa diriku ke mana-mana. Seperti kapal-kapal di seberang, yang mengantarkan orang-orang ke berbagai rumah tujuan atau tempat pengembaraan.

Tapi senja di pelabuhan itu telah membawaku ke tempat-tempat yang tak tertebak, yang merentang di antara masa silam hingga jauh ke masa depan. Dan aku mencoba menyerahkan diriku kepada sang nakhoda, ke arah manakah dia akan melayarkan kapalnya.

Aku masih ingat, di senja itu, aku tak habis bertanya, mengapa senja di pelabuhan memiliki sedemikian kekuatan yang sanggup membawaku ke tempat-tempat yang seperti tak kenal batas. Apakah diriku sebegitu lemahnya menghadapi metafor-metafor hidup yang terpancang di senja-pelabuhan itu, sehingga aku tak kuasa menolak untuk diajak ke dunianya, dunia-senja-di-pelabuhan? Apakah biru laut telah begitu rupa menggenangi sungai-sungai kesadaranku, sehingga luapannya menjadi tak tertampung lagi?

Dunia-senja-di-pelabuhan terlihat ibarat sehelai potret yang bertutur tentang bermacam hal. Orang-orang yang terburu di antara himpitan waktu, di antara tuntutan dan kebutuhan yang tak kunjung selesai didefinisikan. Lelaki-lelaki muda, anak-anak belia, perempuan paruh baya, yang berteriak menjajakan barang-barang dagangannya. Wajah-wajah yang menyimpan segudang cerita tentang haru-pilu hidup. Beberapa yang mungkin mengharap jemputan. Burung-burung yang beterbangan bernyanyi penuh riang—mungkin karena sedang menuju pulang. Kapal yang bergerak bolak-balik melintas dan mengantar ke seberang, seperti mengangkut harapan, lalu merapat dan beristirahat di pelabuhan. Bola matahari di ufuk barat yang bergerak pelan mendekati tenggelam, mengubah cahayanya yang tajam keputihan benderang menjadi kuning kemerah-merahan. Semburat cahaya senja yang teduh memukau, yang menghamparkan permadani anggun bersepuh emas di luas riak kecil gelombang. Senja yang berbatasan di antara siang dan petang. Senja yang membawa orang-orang ke halte peristirahatan.

Senja telah merangkak melewati separuh jalan. Aku masih duduk di situ, menyapukan pandangan ke sekeliling, berusaha memotret detail sudut-sudut senja di pelabuhan itu, lalu menyimpannya dalam saku memoriku yang entah berapa ribu giga kapasitasnya. Kelak, suatu waktu, aku ingin memperlihatkannya kepada sahabat-sahabat karibku, saudara-saudaraku, anak-istriku, sambil bercerita tentang setiap kelebat pikiran yang datang menghampiriku saat itu.

Aku masih mencermati detail senja di pelabuhan itu, sampai kemudian terasa ada suara merdu di belakang yang memanggil namaku. Aku pun menoleh.

Read More..