Senin, 25 April 2016

Bumi dan Beban Konsumsi


Tujuh miliar manusia saat ini semakin hari semakin terasa membebani bumi. Masalahnya, beban itu bukan semata terkait jumlah penduduk bumi yang terus bertambah. Beban yang mendera sehingga wajah bumi kini menjadi kusut terkait dengan hal yang lain, yakni gaya hidup konsumtif.

Perubahan drastis wajah bumi dicatat oleh Paul Crutzen, seorang ahli kimia dari Belanda, dengan istilah Era Manusia (Antroposen). Istilah ini dibuat untuk menggambarkan zaman ketika dampak kehadiran manusia benar-benar terasa (membebani) bagi bumi. Crutzen mengusulkan bahwa Era Manusia dimulai pada akhir abad ke-18. Ukurannya, sejak saat itu kadar CO2 di bumi meningkat secara teratur (Kolbert, 2011).

Para ilmuwan lainnya mengukur dampak kehadiran manusia dengan rumus IPAT. Dampak kehadiran manusia (Impact) ditentukan oleh jumlah penduduk (Population), tingkat kemakmuran (Affluence), dan perkembangan teknologi (Technology).

Jika dibaca secara cermat, rumus IPAT ini masih memperlihatkan hasrat para ilmuwan untuk menampilkan ilmu sebagai perkakas objektif. Akibatnya, mereka mengabaikan unsur subjektif manusia yang justru berperan besar dalam mengukur dampak kehadiran manusia. Unsur subjektif itu terkait dengan hasrat konsumsi.

Filsuf kontemporer seperti Jean Baudrillard menyatakan bahwa dalam kegiatan konsumsi saat ini ada logika sosial dan logika hasrat. Kegiatan konsumsi tidak hanya urusan pemenuhan kebutuhan belaka. Ia bisa terkait dengan identitas, status, atau pengakuan sosial. Demikian pula, bisa saja hasrat konsumsi ditumbuhkan dari meniru hasrat orang lain (Haryatmoko, 2016: 63-85).

Iklan mendorong kegiatan konsumsi berlebih sehingga salah satu nafsu purba manusia, yakni keserakahan, mendapatkan ruang aktualnya. Kita ingat Mahatma Gandhi pernah menyatakan bahwa ketamakan manusialah yang membuat bumi ini tak cukup untuk memuaskan segelintir manusia.

Namun, mesin hasrat yang menggelora pada diri manusia saat ini tidak datang begitu saja. Dari Herbert Marcuse, penulis buku One-Dimensional Man (1964), kita mengetahui bahwa mekanisme ekonomi kapitalis telah memanipulasi pengertian tentang kebutuhan sehingga manusia dijebak dengan kebutuhan palsu. Dalam masyarakat kapitalis, kata Marcuse, semua segi kehidupan—pendidikan, sosial, kebudayaan, politik, juga agama—diarahkan untuk tujuan keberlangsungan budaya kapitalis yang konsumeristis. Masyarakat dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan alur yang dirancang oleh sistem kapitalis ini.

Sistem kapitalis terus berusaha mendongkrak produktivitas barang yang kemudian dibarengi dengan upaya untuk mendorong konsumsi habis-habisan. Senjata utamanya adalah iklan. Iklan mendorong perilaku konsumsi dengan mengubah definisi sederhana tentang kebutuhan. Iklan diam-diam juga memperkenalkan konsep baru tentang barang yang usang dan ketinggalan (mode) zaman.

Annie Leonard, kritikus fenomena konsumerisme dari Amerika yang membuat video animasi The Story of Stuff (2007), mengutip sebuah data yang menyebutkan bahwa warga Amerika Serikat setiap hari diserbu oleh tiga ribu iklan—Anda berapa? Iklan-iklan inilah yang membuat kehidupan mereka tidak tenang. Mereka didikte untuk terus berbelanja dan mengikuti ritme produksi barang-barang baru yang terus dikampanyekan tiada henti.

Serbuan iklan inilah di antaranya yang membuat nafsu konsumtif kita hampir tak terbendung. Setidaknya ada dua hal yang kemudian hilang dari kesadaran kita dalam aktivitas konsumsi dan menyampah yang dilakukan setiap hari. Pertama, kesadaran bahwa sumber daya alam yang ada di bumi ini bersifat terbatas. Kedua, kesadaran bahwa barang yang kita konsumsi semuanya berasal dari alam dan akan berakhir menjadi sampah.

Kegiatan konsumsi telah benar-benar mengubah wajah bumi. Seorang biolog kelautan, Rachel Carson, pada 1962 menulis buku fenomenal berjudul Silent Spring. Buku itu mencatat kepekaan Carson dalam membaca alam saat musim semi terasa menjadi sepi. Serangga-serangga dan kehidupan liar lainnya terganggu akibat penggunaan pestisida DDT.

Penggunaan pupuk dan bahan-bahan kimia lainnya dalam dunia pertanian saat ini sudah disadari dapat berdampak buruk pada alam. Namun umat manusia saat ini sangatlah sulit untuk menghentikan laju beban berat yang mereka berikan pada alam akibat aktivitas bercocok tanam itu. Apa sebabnya? Di era konsumsi saat ini, pertanian tak hanya dilakukan untuk memberi makan umat manusia, tapi juga untuk peternakan besar-besaran demi menghasilkan daging dan juga untuk bahan bio-solar (BBM).

Menghadapi dorongan hasrat konsumsi yang terus menggempur tiap saat, umat manusia harus terus dibangunkan kesadarannya akan makna kehadirannya yang singkat dan tanggung jawabnya bagi kelestarian alam. Hasrat konsumtif manusia menguat di antaranya karena dia lupa akan kefanaan hidup dan dampak perilakunya bagi alam dan generasi mendatang.

Manusia terus berlari mengejar mimpi kemajuan dan produktivitas melalui proses produksi dan konsumsi yang tiada henti. Pada saat yang sama, manusia lupa bahwa jejak-jejaknya di jalan konsumtif itu sudah terlalu jauh hingga benar-benar membebani bumi.

Butuh revolusi kesadaran yang sifatnya radikal untuk menghentikan jalan kehancuran bumi melalui konsumsi berlebih ini. Ini adalah sebentuk jihad diri, karena lawan sebenarnya yang dihadapi manusia dalam hal ini adalah dirinya sendiri yang berbentuk keserakahan yang tak mengenal batas.


Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 24 April 2016.


Read More..

Minggu, 24 April 2016

Nasionalisme Kaum Minoritas


Judul buku: Mencari Sila Kelima: Sebuah Surat Cinta untuk Indonesia
Penulis: Audrey Yu Jia Hui
Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Oktober 2015
Tebal: xxiv + 162 halaman


Dalam konteks kehidupan kebangsaan, nasionalisme kadang menjadi konsep yang mengawang-awang. Hal ini di antaranya terjadi jika konsep nasionalisme itu tidak pernah direfleksikan dan didialogkan dengan kehidupan konkret para warga. Malah terkadang nasionalisme dijadikan pembenaran untuk tindakan yang melanggar hak individu.

Buku ini adalah suara warga tentang nasionalisme yang sangat patut didengar. Nilai penting buku ini bukan saja karena suara itu berasal dari kelompok minoritas dalam konteks kehidupan kebangsaan Indonesia, tetapi juga karena selama ini tidak banyak pembahasan tentang nasionalisme yang sifatnya reflektif dengan bertolak dari pengalaman konkret individu warga negara.

Penulis buku ini, Audrey Yu Jia Hui, adalah gadis keturunan Tionghoa dengan tingkat kecerdasan yang luar biasa. Ia menamatkan S-1 di Amerika Serikat pada usia 16 tahun dan pada saat berumur 10 tahun telah memecahkan rekor MURI untuk skor TOEFL 573.

Namun buku ini bukan tentang kegeniusan Audrey. Buku yang ditulis seperti surat ini menuturkan pengalaman keseharian Audrey yang direfleksikan dalam bingkai nasionalisme. Di antara hal yang direfleksikan adalah masih begitu banyaknya benih prasangka di antara berbagai kelompok masyarakat Indonesia sehingga pergaulan sosial mudah tersulut konflik.

Audrey yang dibesarkan dalam keluarga berkecukupan di Surabaya bercerita tentang prasangka terhadap asisten rumah tangga. Mereka dikesankan bodoh dan tak bisa dipercaya. Akibat prasangka, sisi kemanusiaan pada asisten rumah tangga itu sering tak terlihat, misalnya tentang perjuangan mereka untuk menghidupi keluarganya, kesulitan hidup yang mereka hadapi, dan sebagainya.

Audrey, yang kini bekerja di Changzhou, Tiongkok, bercerita tentang pengalamannya saat bertemu dengan para TKW di penerbangan Hongkong-Surabaya. Saat menyaksikan tingkah para TKW yang memalukan, Audrey merasa terdorong untuk memisahkan identitasnya dengan mereka: bahwa ia berbeda, dan karena itu tak perlu dipedulikan.

Pergulatan eksistensial semacam ini dirasakan Audrey sebagai ujian bagi nasionalisme dan rasa persaudaraannya sebagai sesama warga Indonesia. Dalam momen seperti ini, Audrey tertantang untuk tetap memperlakukan mereka sebagai tóng bāo, yakni sebagai orang yang “lahir dari rahim yang sama”, yakni Indonesia.

Tidak mudah untuk menghadapi prasangka seperti ini, bukan hanya karena prasangka itu begitu telah ditanamkan berulang-ulang tapi juga kadang didukung dengan pembenaran oleh para pemuka agama atau kasusnya beririsan dengan prasangka yang berlatar agama—selain juga prasangka berbasis etnis.

Rasa kebangsaan ini harus dipulihkan dengan pendidikan sejati. Pendidikan sejati akan mengembalikan hati nurani dan status primordial warga negara sebagai manusia. Selain itu, pendidikan sejati juga diharapkan dapat menumbuhkan kasih sayang di antara sesama warga, sebagaimana yang menjadi ruh dan inti pesan agama.

Pada bagian ini, Audrey memberi perbandingan dengan pengalamannya di Tiongkok. Di sana ia melihat proses pendidikan banyak digali dari khazanah lokal, seperti filosofi dan tradisi leluhur.

Audrey juga mengkritik sekolah-sekolah internasional di Indonesia yang menurutnya gagal membangun identitas kebangsaan. Bahkan, murid-murid di sana cenderung menyimpan sikap superior yang pada titik tertentu dapat mengikis rasa persaudaraan kebangsaan.

Sementara itu, di sisi lain, negara tampak gagal membangun identitas dan persaudaraan di antara sesama warga. Padahal Indonesia memiliki filosofi kebangsaan yang luar biasa, yakni Pancasila. Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, banyak pengurus publik yang justru sering mempertunjukkan sikap yang bertentangan dengan Pancasila. Bentuknya banyak yang berupa ketimpangan dan absennya keadilan sosial dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Selain sebagai refleksi kebangsaan, buku ini memperlihatkan tantangan kebangsaan Indonesia di hari depan. Dalam tatanan dunia yang semakin menyatu, Audrey menunjukkan generasi muda bangsa yang mengalami kegalauan dalam merumuskan identitas kebangsaan. Jika semua tinggal diam, ini akan menjadi ancaman serius bagi masa depan Indonesia.

Buku ini adalah panggilan yang tulus kepada seluruh elemen bangsa untuk lebih membumikan Pancasila.


Tulisan ini dimuat di Harian Radar Madura, 24 April 2016.


Read More..

Jumat, 15 April 2016

Pesan Cinta Buku untuk Anak dan Remaja

Judul buku: The Magic Library: Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Penulis: Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Januari 2016
Tebal: 284 halaman
ISBN: 978-979-433-924-4


Jostein Gaarder adalah penulis Norwegia yang karya-karyanya telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sisi paling menarik dari karya-karyanya adalah bahwa ia mengangkat tokoh anak dan remaja serta memberi nuansa reflektif yang kental.

Dalam karya Gaarder yang ditulis bersama Klaus Hagerup ini, tokoh remaja kembali tampil sebagai pemeran utama. Novel ini mengambil tema yang relatif lebih ringan, bukan dengan bobot filosofis yang cukup berat, yakni tentang dunia kepenulisan dan perbukuan. Cara penyajiannya khas Gaarder: berlapis, mengandung unsur cerita detektif dan misteri, dan ada unsur petualangan yang khas anak-anak dan remaja.

Novel ini berkisah tentang dua saudara sepupu, Berit dan Nils, yang tinggal di kota yang berbeda di Norwegia. Keduanya berkorespondensi dengan menggunakan buku-surat yang mereka kirimkan via pos. Nah, bersamaan dengan awal mereka saling berkirim surat itu, Berit dan Nils mengalami beberapa kejadian aneh yang berhubungan dengan seorang perempuan misterius.

Di sebuah toko buku, perempuan misterius, yang belakangan diketahui bernama Bibbi Bokken itu, membayari buku yang dibeli Nils dan tampak ngiler menyusur dan memandangi buku-buku. Sementara Berit secara tak sengaja menemukan dan membaca surat untuk Bibbi Bokken dari seseorang yang menyinggung soal “perpustakaan ajaib” dan “buku yang akan terbit tahun depan di Norwegia” (hlm. 11-15).

Jadilah kemudian buku-surat Berit dan Nils itu dipenuhi dengan tema peristiwa misterius itu. Semakin tebal misteri yang menyelimuti beberapa kejadian terkait dengan Bibbi Bokken itu, semakin Berit dan Nils diliputi rasa penasaran yang kadang bercampur dengan rasa ketakutan. Ada dugaan bahwa Bibbi Bokken, yang kadang disebut si Nyonya Buku dan si Penyihir Buku, bersama komplotannya sedang mengincar buku-surat Berit dan Nils. Dan itu tampak terbungkus dalam sebuah rencana rahasia berbau konspirasi yang berkaitan dengan Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken dan dunia perbukuan di Norwegia.

Yang unik, dan ini khas Gaarder, di sepanjang petualangan bak detektif penuh misteri itu, ada banyak hal menarik yang tersaji ke hadapan pembaca tentang dunia perbukuan dan kepenulisan. Berit dan Nils dalam buku-suratnya berbicara tentang Winnie the Pooh karya A.A. Milne, penulis buku anak-anak dari Swedia Astrid Lindgren, HC Andersen yang masyhur dari Denmark, Anne Frank yang meninggal di usia remaja sebagai korban Perang Dunia II dengan catatan hariannya yang kemudian cukup melegenda, penulis drama dari Norwegia Henrik Ibsen, dan sebagainya (hlm. 36-52).

Surat-surat Berit dan Nils serta alur novel ini juga banyak menyajikan pengenalan tentang dunia perbukuan dan perpustakaan. Misalnya tentang sistem klasifikasi desimal Dewey, yang digunakan untuk memudahkan pengkategorian buku di perpustakaan (hlm. 63-66). Ada juga dialog dan pemaparan tentang sejarah buku dan penerbitan, penemuan mesin cetak yang dikenal dengan Revolusi Gutenberg, teori sastra, teori fiksi, proses kreatif kepengarangan (teori menulis), dan semacamnya (hlm. 215-219).

Novel ini memang tepat dikatakan sebagai “sebuah surat cinta kepada buku dan dunia penulisan”—sebutan yang diberikan oleh sebuah terbitan di Jerman untuk karya ini. Novel ini tampaknya sengaja disusun untuk mempromosikan budaya baca-tulis dan mengenalkan lika-liku dunia kepustakaan dan kepenulisan kepada anak dan remaja.

Strategi tekstual yang dimainkan karya ini cukup kena dan cocok untuk segmen pembaca yang disasar. Alih-alih memaparkan secara kronologis atau sistematis, karya ini justru menyelipkan pesan cinta buku dan menyuguhkan pesona karya-karya dari dunia aksara dalam jalinan kisah misteri petualangan yang menarik dan enak diikuti—sesuai dengan selera kaum remaja dan anak-anak.


Versi yang sedikit berbeda dengan tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 15 April 2016.


Read More..

Minggu, 10 April 2016

Pesan Spiritual dalam Kisah Menawan

Judul buku: Secawan Anggur Cinta: Ajaran-Ajaran Inti Tasawuf dalam Kisah-Kisah
Penulis: Syekh Muzaffer Ozak
Penyunting: Robert Frager, Ph.D.
Penerbit: Zaman, Jakarta
Cetakan: Pertama, Februari 2016
Tebal: 211 halaman
ISBN: 978-602-1687-86-4


Semua agama membawa pesan spiritual. Bentuk dan polanya bisa berbeda, tapi semangatnya kurang lebih sama.

Dalam Islam, pesan spiritual ini tersampaikan dalam tasawuf. Jalan tasawuf bertujuan mengantar seseorang agar berlaku selaras dengan Tuhan dan mampu bertindak sebagai perpanjangan kehendak-Nya. Buku Secawan Anggur Cinta memaparkan ajaran-ajaran pokok tasawuf. Yang menarik, ajaran inti tasawuf itu dalam buku ini disampaikan dalam kisah-kisah.

Naskah buku ini semula merupakan ceramah dan kuliah yang disampaikan penulisnya, Syekh Muzaffer Ozak, pada rentang tahun 1980 hingga 1985 di Amerika. Penyuntingnya adalah murid Syekh Muzaffer bernama Robert Frager, psikolog lulusan Harvard University dan pendiri Institute of Transpersonal Psychology.

Buku ini memuat 11 bab yang menjelaskan ajaran inti tasawuf, di antaranya tentang cinta, pengenalan diri, berserah diri pada Tuhan, sikap sabar, macammacam godaan, dan sikap murah hati. Menurut Syekh Muzaffer, jika tasawuf adalah upaya untuk menyingkap tabir antara seseorang dan Tuhan, maka jalan sufi tak lain adalah jalan cinta. Langkah awalnya adalah mensyukuri semua pemberian Tuhan (hlm. 29, 41). Dalam menempuh jalan sufi, seseorang harus bisa mengelola bilik batinnya sehingga tidak dikuasai oleh nafsu duniawi.

Tampilan luar kadang menipu. Dikisahkan bahwa ada seorang nelayan miskin yang menjadi guru sufi di kampungnya. Suatu saat, ada salah seorang muridnya yang hendak mengunjungi kota tempat tinggal guru si nelayan sufi tersebut di negeri yang jauh. Si nelayan sufi menyampaikan pesan agar ia mendapatkan nasihat dari gurunya. Murid si nelayan cukup kaget saat tiba di kediaman guru nelayan sufi tersebut.

Tempat tinggalnya sangat mewah dan pakaiannya lebih bagus daripada orang kaya di daerah itu. Murid si nelayan tambah merasa aneh karena Sang Guru memberi nasihat agar si nelayan sufi “jangan terlalu terikat pada dunia.” Pesan itu terasa aneh berhadapan dengan fakta kemewahan yang dilihatnya. Namun nyatanya, si nelayan sufi terkejut saat menerima nasihat itu. Dia mengakui bahwa ternyata selama ini hati dan pikirannya masih sering berpikir tentang dunia.

Saat makan kepala ikan hasil tangkapannya di laut, dia sering berharap menikmati makanan mewah yang jauh lebih nikmat (hlm. 57-60). Cerita ini menegaskan bahwa dalam jalan tasawuf yang lebih penting adalah cara menguasai nafsu yang sering kali begitu tersembunyi. Kisah lainnya mengingatkan tentang betapa godaan iblis kadang begitu sederhana tetapi dampaknya bisa berantai. Suatu saat, iblis protes karena selalu dipersalahkan sebagai yang menyesatkan manusia.

Padahal, kata si iblis, ia kadang hanya melonggarkan pasak seekor domba yang sedang diikat. Namun, gara-gara dilonggarkan, domba itu mengamuk di rumah seseorang. Akibatnya, suami-istri di rumah itu bertengkar hingga bercerai. Pertengkaran pun meluas ke pihak dua keluarga (hlm. 167-169).

Ajaran inti tasawuf yang lain mendorong manusia untuk berbuat baik kepada sesama dengan bermurah hati. Ada kisah-kisah menarik yang diangkat di buku ini untuk menggambarkan sikap murah hati dengan sederhana, seperti senang melayani dan memuliakan tamu, membantu tetangga meski harus menggagalkan rencana untuk naik haji, dan sebagainya (hlm 181-189). Sikap bermurah hati dengan mendahulukan pelayanan kepada orang lain adalah latihan dasar dalam jalan sufi untuk menaklukkan ego yang merusak.

Kisah-kisah dalam buku ini mengangkat cerita bertema sederhana tapi mengilhamkan agar kita dapat mereguk secawan anggur cinta di jalan spiritual yang terjal. Di tengah kehidupan yang cenderung semakin materialistis, kisah-kisah dalam buku ini dapat membantu pembaca untuk menghidupkan dimensi batin dalam dirinya sehingga dapat menerangi jalan hidup yang kian membingungkan dan kadang sulit dicerna nalar.


Tulisan ini dimuat di Harian Koran Sindo, 10 April 2016.

Read More..

Kamis, 10 Maret 2016

Membaca Ulang Hukuman Mati

Judul Buku: Menolak Hukuman Mati: Perspektif Intelektual Muda
Editor: Lucia Ratih Kusumadewi dan Gracia Asriningsih
Pengantar: Franz Magnis-Suseno
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Desember 2015
Tebal: 222 halaman
ISBN: 978-979-21-4462-8


Hukuman mati adalah hukuman yang kontroversial. Ini terlihat saat seorang narapidana diputuskan akan dihukum mati, masyarakat dari berbagai kalangan ramai berkomentar di media, mulai dari akademisi, ahli hukum, agamawan, pengamat politik, dan masyarakat biasa.

Buku ini menggugat keberadaan hukuman mati dalam sistem hukum di Indonesia. Buku yang ditulis oleh sebelas intelektual muda ini membedah hukuman mati dari perspektif filsafat, sosiologi, psikologi sosial, sejarah, politik, dan budaya. Pandangan umum yang diusung secara tegas oleh para penulis buku ini adalah bahwa sudah waktunya hukuman mati dihapuskan dari segenap sistem hukum kita.

Lucia Ratih Kusumadewi, salah satu penulis sekaligus editor buku ini, menunjukkan bahwa adanya hukuman mati merupakan potret masyarakat yang sakit jiwa. Dalam masyarakat yang sakit, bentuk-bentuk kekerasan termasuk hukuman mati tidak hanya dilegalkan tapi juga dinikmati oleh masyarakat.

Lucia menunjukkan contoh konkretnya saat ia menemukan sebuah foto bocah kecil yang beredar di internet kala kontroversi hukuman mati mencuat di awal tahun 2015. Dalam gambar tersebut, anak kecil itu menyampaikan pesan dalam poster kecil bertuliskan: “Tante Anggun.. Biarkan gembong narkoba MATI”. Lucia merasa miris bahwa anak kecil di negeri ini telah mulai terlibat dalam wacana sadisme.

Dengan meminjam teori tentang masyarakat yang sehat dari Sigmund Freud, Lucia mengusulkan pentingnya penguatan etika biofilia yang menjunjung tinggi nilai kehidupan dan berdasar pada humanisme normatif. Dalam kerangka etika biofilia, ada tiga kondisi sosial yang perlu didorong agar penolakan hukuman mati bisa mendapatkan jalan keluar yang tepat dan manusiawi, yakni penguatan rasa aman, penegakan keadilan, dan jaminan kebebasan sehingga masyarakat dapat berpartisipasi aktif dan bertanggung jawab.

Dari sudut pandang hukum dan politik, terungkap bahwa hukuman mati di Indonesia lebih banyak terkait dengan pertimbangan politik daripada pertimbangan hukum dan keadilan. Benny Hari Juliawan dalam buku ini menyebut hukuman mati sebagai pertunjukan kekuasaan negara. Dalam kilasan sejarah Indonesia, hukuman mati dalam berbagai periode menegaskan hal ini, seperti dalam kasus eksekusi mati Kartosoewirjo pada 1962, operasi penembakan misterius pada 1982-1985, dan sebagainya.

Dilihat dari perspektif grasi dan praktiknya di Indonesia, hukuman mati juga tampak sangat politis. Robertus Robet, pengajar di program sosiologi Universitas Negeri Jakarta, menganalisis penolakan grasi Presiden Joko Widodo dalam kasus hukuman mati terpidana narkoba tahun 2015 lalu. Menurutnya, keputusan presiden untuk menolak memberikan grasi lebih sebagai sarana yang mudah dan “murah” untuk mendapatkan simpati publik di tengah keterjepitannya akibat kisruh calon kapolri saat itu.

Salah satu argumen yang paling populer untuk mendukung hukuman mati adalah efek jera sehingga diharapkan kejahatan berat serupa tidak akan muncul di masa depan. Untuk mematahkan argumen ini, Poengky Indarti, salah satu penulis dalam buku ini yang juga direktur eksekutif Imparsial, memberikan analisisnya.

Di antara sanggahannya disebutkan bahwa berdasarkan statistik di beberapa negara nyatanya kasus kriminalitas justru ditemukan rendah jumlahnya di tempat yang tak menganut sistem hukuman mati. Selain itu, jika dianalisis karakter kejahatan yang diberi sanksi hukuman mati, ditemukan bahwa ia berada dalam jenis kejahatan yang tidak terpengaruh pada hukuman, yakni dalam kategori instrumental-acts yang bersifat high commitment.

Kontroversi hukuman mati di Indonesia tampaknya memang masih akan panjang ceritanya. Buku ini dapat ditempatkan sebagai upaya untuk membuka ruang diskusi yang lebih terbuka dan kritis atas masalah penting tersebut karena berdasarkan analisis beberapa penulis di buku ini terungkap bahwa hukuman mati selain banyak yang bersifat politis juga banyak melibatkan unsur emosi.

Selain itu, buku ini mengajak kita untuk melihat kasus kejahatan dalam kerangka yang lebih luas, seperti juga dalam kaitannya dengan isu kemiskinan, lemahnya penegakan hukum, dan kecenderungan aparat negara yang korup.


Tulisan ini dimuat di Majalah Gatra, 10-16 Maret 2016.

Read More..

Jumat, 12 Februari 2016

Berkomunikasi dengan Anonim


Pernahkah Anda berkomunikasi dengan seseorang yang tak Anda kenal? Di mana? Seberapa lama? Untuk urusan apa? Bagaimana rasanya?

Saat media komunikasi sekarang semakin beragam dan juga semakin mempermudah kita, beberapa orang kadang melupakan hal-hal yang sebenarnya cukup mendasar dalam berkomunikasi. Bagi saya, komunikasi secara sederhana adalah upaya untuk menjalin hubungan dengan orang lain baik—bisa untuk keperluan yang hanya singkat atau bahkan untuk urusan yang akan berlangsung dalam waktu yang lama. Sebagai sebuah upaya menjalin relasi, tentu saja ada dimensi etis di situ.

Karena itu, menurut saya, hal yang penting dilakukan dalam menjalin komunikasi agar tetap berada dalam kerang etis adalah memperkenalkan diri. Saat hendak berhubungan dengan orang lain, sewajarnya pertama kali kita saling memperkenalkan diri jika memang salah satu atau keduanya belum saling kenal.

Dalam bentuk komunikasi langsung, yakni yang berlangsung secara tatap muka, hal ini mungkin bukan lagi hal yang perlu diingatkan. Tapi seiring dengan semakin bermacamnya media komunikasi, saya sering mengalami berkomunikasi dengan anonim atau dengan entah siapa. Itu bisa terjadi dalam pesan pendek atau sms, panggilan telepon, email, atau di jejaring sosial di internet.

Komunikasi anonim ini terjadi misalnya saat tiba-tiba ada nomor telepon baru yang menelepon dan langsung saja bicara pada poin utamanya. Padahal, saya masih belum kenal orang ini sehingga kadang saya masih butuh waktu untuk berpikir tentang arah atau topik pembicaraan si penelepon dan kaitannya dengan saya.

Ada pula bentuk komunikasi anonim yang lain. Si penelepon atau orang yang sms kadang hanya menyebut kelompok tertentu sehingga identitas spesifik si penelepon menjadi tak begitu jelas. Misalnya: “Saya pengurus xxx, Pak,” katanya di seberang. Ya, saya tahu bahwa xxx itu lembaga atau organisasi yang memang saya kenal. Tapi komunikasi ‘kan pada dasarnya juga bersifat personal meskipun sedang mewakili lembaga atau organisasi.

Dalam jalur komunikasi yang berlangsung di internet, komunikasi anonim cenderung semakin sering saya jumpai. Di Facebook, akun-akun anonim dengan nama organisasi, lembaga, atau perkumpulan, sering saya jumpai. Hal yang membuat saya kesal adalah bila akun-akun semacam itu, termasuk akun email (organisasi/lembaga/perkumpulan), menghubungi saya dan di dalam pesan yang dikirim tak ada nama orang yang mengirim.

Sekali lagi, saya memang sudah tahu lembaga atau organisasi itu. Tapi ‘kan yang mengirim pasti orang, bukan lembaga atau organisasi. Mengapa tidak dicantumkan?

Saya pernah menegur sebuah email yang dikirim dari akun organisasi/perkumpulan yang di situ tak tercantum nama orang yang mengirimkannya. Saya merasa tak nyaman. Komunikasinya terasa tidak manusiawi. Saya seperti berkomunikasi dengan “makhluk halus”. Akhirnya saya menyampaikan unek-unek saya itu. Saya sampaikan bahwa sebaiknya si pengirim mencantumkan nama sehingga saya tahu saat itu sedang berbicara dengan siapa.

Kadang saya terpikir bahwa pengirim email dari akun lembaga atau organisasi atau perkumpulan yang tak mencantumkan nama orang pengirimnya terkesan enggan untuk bertanggung jawab. Bukankah tanggung jawab merupakan salah satu dimensi etis dalam berkomunikasi?

Namun kadang saya tidak berani berpikiran terlalu jauh seperti itu, yakni bahwa si pengirim itu orang yang tak mau bertanggung jawab. Saya berpikir mungkin ini terjadi semata lantaran kekhilafan atau ketidaktahuan saja. Mungkin si pengirim lupa. Atau ini sebentuk sikap awam saat seseorang menggunakan media komunikasi baru dan kesadarannya masih belum menjangkau hal teknis yang ternyata juga terkait dengan dimensi etis itu.

Jadi, pesan moral dari pengalaman saya ini ada dua. Pertama, jika mau berkomunikasi dengan orang yang sekiranya belum mengenal kita, awalilah dengan perkenalan singkat sebelum masuk ke pokok pembicaraan. Kedua, jika menggunakan akun lembaga atau organisasi atau perkumpulan dalam berkomunikasi, jangan lupa untuk mencantumkan nama Anda sebagai orang yang mengirimkan pesan dengan akun tersebut. Kedua hal ini penting untuk mengingatkan kita bahwa ada dimensi etis dalam komunikasi sehari-hari—meski itu sifatnya sederhana—yang semestinya senantiasa kita jaga.

Wallahu a’lam.


Read More..

Minggu, 07 Februari 2016

Upaya Mengatasi Literalisme


Judul buku: Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher Sampai Derrida
Penulis: F. Budi Hardiman
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2015
Tebal: 344 halaman
ISBN: 978-979-21-4345-4


Dalam salah satu bukunya, Jalaluddin Rakhmat pernah mengungkapkan sebuah penelitian yang menyatakan bahwa 70 persen waktu bangun kita digunakan untuk berkomunikasi. Lalu apa jadinya jika komunikasi yang berlangsung antarmanusia itu justru gagal?

Kegagalan dalam berkomunikasi pada dasarnya merupakan kegagalan untuk memahami. Jika kegagalan itu terjadi pada tingkat perseorangan atau dalam hal-hal biasa mungkin dampaknya tidak akan terlalu terasa. Namun apa jadinya jika kegagalan memahami itu terkait dengan hal-hal penting seperti yang tertuang dalam teks-teks otoritatif, yakni teks yang memiliki kewenangan luas, seperti teks terkait otoritas agama atau otoritas politik?

Buku karya F. Budi Hardiman ini menyajikan pemikiran yang bersifat metodologis tentang seni memahami yang dikemukakan oleh para filsuf hermeneutik modern. Ada delapan filsuf yang disajikan di sini, yakni Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Bultmann, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan Derrida. Kedelapan filsuf ini menyajikan gagasannya tentang apa itu memahami, bagaimana langkah-langkahnya, dan apa saja titik masalah pentingnya.

Istilah “seni” dalam judul buku ini merujuk pada Schleiermacher (w. 1834) yang memaksudkan “seni” di sini sebagai “kepiawaian”. Menurut Schleiermacher, upaya memahami itu ada yang sifatnya spontan dan ada pula yang memerlukan upaya tertentu. Upaya di sini dibutuhkan karena sering kali kita menghadapi situasi yang memuat kesalahpahaman.a

Apalagi dalam konteks kehidupan masyarakat modern yang ditandai dengan kemajemukan. Kesalahpahaman itu menurut Schleiermacher disebabkan oleh prasangka (Vorurteil) saat orang hanya mau menggunakan sudut pandangnya sendiri di hadapan orang lain. Pada titik ini, hermeneutik juga berarti seni mendengarkan, yakni upaya untuk menangkap perspektif orang lain.

Schleiermacher dianggap sebagai pelopor hermeneutik modern karena ia berhasil melepaskan hermeneutik dari disiplin spesifik, seperti teologi, hukum, dan filologi. Sebelumnya, hermeneutik berkembang sebagai bidang khusus.

Hermeneutik Schleiermacher bersifat psikologis karena tujuan utamanya adalah untuk mengungkap dan menghadirkan kembali secara utuh maksud si penulis. Dalam pengertian ini, memahami adalah juga berempati. Namun begitu, Schleiermacher juga menekankan pentingnya interpretasi gramatis dalam proses memahami yang harus dilakukan serentak dengan interpretasi psikologis.

Jika Schleiermacher berhasil membangun dasar bagi hermeneutik universal, Dilthey (w. 1911) meletakkan hermeneutik sebagai salah satu metode ilmiah, khususnya bagi ilmu sosial-kemanusiaan. Dilthey menerobos dominasi positivisme dengan menyatakan bahwa ilmu sosial-kemanusiaan memerlukan metode yang berbeda dengan ilmu-ilmu alam, yakni hermeneutik. Menurut Dilthey, dalam ilmu sosial-kemanusiaan, kita mendekati objek dengan melibatkan diri untuk memahami makna, bukan dengan cara berjarak sebagaimana dalam menghadapi objek ilmu-ilmu alam.

Jika dalam pemikiran Schleiermacher dan Dilthey memahami berada di ranah kognitif, Heidegger (w. 1976) membawa hermeneutik ke wilayah ontologi. Menurutnya, memahami adalah cara Dasein (manusia) bereksistensi. Ia terkait dengan “kemampuan seseorang dalam menangkap kemungkinan-kemungkinannya sendiri untuk berada”. Sebelum masuk dalam wilayah kognitif, ada pra-struktur memahami yang akan mengarahkan proses memahami seseorang.

Sementara itu, Habermas (l. 1929) memberi misi emansipatoris dalam tindakan memahami. Habermas memfokuskan pembahasannya pada teks abnormal, yakni jenis teks yang sebenarnya bahkan tidak bisa dipahami oleh si pembuat teks. Teks abnormal ditemukan dalam kasus psikopatologis dan perilaku kolektif hasil indoktrinasi. Kedua kasus ini merupakan hasil dari bentuk “komunikasi yang terdistorsi secara sistematis”. Karena itu, hermeneutik kritis berupaya untuk membebaskan subjek agar ia dapat meraih otonominya.

Derrida (w. 2004) membawa tindakan pemahaman dalam situasi radikal. Dengan metode dekonstruksi, Derrida menghidupkan perspektif yang berubah-ubah sehingga makna suatu teks tak pernah dapat distabilkan dan diguncang dari dalam.

Sisi menarik gagasan yang diuraikan dengan sangat bernas di buku ini terletak pada kerangka yang dibuat oleh penulisnya yang merupakan dosen di STF Driyarkara, Jakarta. Menurut Budi Hardiman, berbagai pemikiran hermeneutik dari para filsuf ini adalah sebuah upaya untuk mengatasi literalisme. Pemaknaan literal atas teks-teks otoritatif dapat mendorong lahirnya praktik radikalisme dan ekstremisme agama maupun juga sikap antidemokratis dalam politik.

Budi Hardiman mengutip Karen Armstrong yang memberi contoh penafsiran literal kaum Yahudi. Orang Yahudi berpendapat bahwa Allah telah menjanjikan Kanaan (Israel modern) untuk mereka sehingga kebijakan opresif atas orang Palestina memperoleh pembenaran.

Problem penafsiran literal dalam agama juga dijumpai dalam Kristen dan Islam. Kaum literalis berpegang pada asumsi bahwa teks suci membawa kebenaran yang sifatnya siap pakai dan tak perlu dipahami dengan cara lain yang mungkin rumit. Literalisme percaya bahwa makna harfiah sifatnya final, sedangkan hermeneutik berupaya untuk melihat teks dalam model intertekstual dan mempertimbangkan berbagai faktor lain dalam teks dan di luar teks secara lebih luas.

Pemikiran hermeneutik yang disajikan buku ini menarik dan bermakna penting karena pada tingkat mendasar tindakan memahami adalah upaya untuk menjangkau orang lain dan merawat hubungan antarmanusia yang lebih bermartabat dan lebih baik. Dengan demikian, buku ini adalah tentang kehendak untuk menjalin hubungan etis dengan orang lain.

Memang, posisi metodologis hermeneutik dalam kajian agama masih diperdebatkan karena ia dianggap bersumber dari perspektif sekuler. Namun demikian, dalam kaitannya dengan teks keagamaan, pemikiran hermeneutik yang tersaji di buku ini bagaimanapun dapat membantu memperkaya dan mempertajam misi profetis agama sekaligus menjaganya dari penyimpangan akibat godaan kekuasaan dan bentuk penyelewengan lainnya.


Versi yang sedikit berbeda dimuat di Harian Jawa Pos, 7 Februari 2016, dengan judul "Sebuah Seni Mendengarkan Orang Lain."


Read More..

Kamis, 04 Februari 2016

Membentuk Karakter di Sekolah


Judul Buku: Pendidikan Karakter di Sekolah: Sebuah Pengantar Umum
Penulis: Paul Suparno, SJ
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2015
Tebal: 176 halaman
ISBN: 978-979-21-4367-6


Dalam beberapa tahun terakhir, konsep pendidikan karakter menjadi tema paling hangat dan menonjol. Perubahan kurikulum sebagai bagian penting dari upaya perbaikan mutu pendidikan juga dikaitkan dengan pendidikan karakter. Bahkan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertengahan 2015 lalu meluncurkan program Penumbuhan Budi Pekerti (PBP) melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 yang isinya berkesinambungan dengan program pendidikan karakter yang dicanangkan beberapa tahun sebelumnya.

Buku yang ditulis oleh mantan rektor Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini berusaha untuk memberikan pemahaman yang cukup lengkap tentang pendidikan karakter di sekolah. Pembahasannya meliputi latar situasi dan landasan sehingga pendidikan karakter menjadi penting, pengertian pendidikan karakter, siapa saja yang perlu dilibatkan di sekolah, model pelaksanaan dan contohnya di sekolah, dan juga penilaiannya.

Di bagian awal, Paul Suparno menegaskan bahwa pendidikan karakter sangat penting untuk diseriusi jika kita mencermati situasi dan persoalan bangsa serta tantangan globalisasi. Pada tingkat yang mendasar, berbagai persoalan bangsa seperti pelaku korupsi yang tak kunjung jera, konflik dan tindak kekerasan di masyarakat, kepekaan pada kaum pinggiran, dan sebagainya, sangat terkait dengan pendidikan karakter (hlm 14-20).

Sementara itu, tantangan globalisasi menghadirkan tantangan yang berat. Masyarakat dituntut untuk punya daya saing yang lebih baik. Arus informasi justru cenderung lebih banyak merusak mental generasi muda. Pada tingkat yang cukup jauh, globalisasi yang di antaranya dicirikan dengan arus informas yang semakin cepat bahkan dapat mendorong sikap instan sehingga daya juang dan kerja keras sulit terbentuk.

Dengan melihat pada struktur dasar hakikat manusia yang kaya dimensi, Paul Suparno menegaskan peran penting pendidikan untuk menyiapkan generasi yang berkarakter. Melalui proses pendidikan di sekolah, siswa dibantu untuk mengalami, memperoleh, dan memiliki sejumlah karakter yang diinginkan (hlm. 29).

Paul Suparno menyatakan bahwa faktor penentu pendidikan karakter itu banyak sehingga semua pihak di sekolah harus terlibat, mulai dari siswa, guru, karyawan, pengelola dan pengambil kebijakan, orangtua, dan juga masyarakat.

Kelebihan buku ini di antaranya terletak pada kesederhanaan dan kejelasannya dalam memaparkan pendidikan karakter di sekolah. Pada bagian selanjutnya, Paul Suparno menjelaskan model-model pendidikan karakter yang bisa dilaksanakan di sekolah. Kesimpulannya, Paul Suparno menegaskan bahwa pendidikan karakter harus dilaksanakan secara utuh, yakni tidak hanya melalui pemaparan di dalam kelas, tapi juga melalui program, kegiatan (baik ekstra maupun kokurikuler), dan situasi (seperti aturan, dsb) yang ada di sekolah (hlm. 93).

Paul Suparno juga menguraikan berbagai bentuk pelaksanaan pendidikan karakter melalui pelajaran di kelas. Pendidikan karakter bisa masuk lewat isi bahan pelajaran, juga lewat metode mengajar dan sikap dalam belajar, juga dalam praktik materi tertentu.

Selain uraian yang cukup teperinci, buku ini juga memberi contoh konkret bentuk-bentuk pendidikan karakter yang mungkin dilakukan di sekolah, mulai dari jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK. Dalam memberi contoh, Paul Suparno berangkat dari contoh nilai atau karakter tertentu yang kemudian diturunkan dalam bentuk program atau kegiatan di sekolah (hlm. 139-154).

Buku ini penting dibaca tidak saja oleh para guru dan kepala sekolah, tapi juga para calon guru dan pendidik pada umumnya. Pemahaman yang baik yang diperoleh dari buku ini diharapkan dapat lebih meningkatkan mutu pendidikan karakter sehingga mutu kehidupan masyarakat menjadi semakin baik. Bagaimanapun, tujuan mendasar pendidikan sangat terkait dengan keberhasilan pendidikan karakter. Bila pendidikan karakter terabaikan, berarti salah satu fokus utama proses pendidikan tak mencapai hasilnya, yakni membentuk pribadi manusia yang kuat dan beradab sehingga mampu menjawab tantangan zaman.


Versi yang sedikit berbeda dari tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 4 Februari 2016.


Baca juga:
>> "Meradikalkan" Revolusi Mental di Sekolah


Read More..

Minggu, 31 Januari 2016

Penguatan Potensi Sosial-Budaya Madura di Era MEA


Noam Chomsky, profesor linguistik di MIT, menyatakan bahwa dalam genggaman hegemoni kapitalisme, masyarakat lokal cenderung didorong untuk mengabaikan kekuatan kultural mereka. Dalam How the World Works Chomsky menulis: “Mengosongkan pikiran seseorang dari kemampuan, atau bahkan semangat, untuk mengakses sumber daya kultural merupakan kemenangan terbesar bagi sistem kapitalis.” Saat individu dan masyarakat berpaling dari kekuatan kultural yang dimilikinya, secara perlahan namun pasti globalisasi dan kapitalisme datang menguasai.

Pertanyaannya: apa saja potensi sosial-budaya masyarakat Madura yang penting untuk diperkuat menghadapi tantangan pasar bebas dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)? Pertanyaan ini mendorong kita untuk melihat kembali ke dalam pada apa yang dimiliki dan disadari oleh kita sebagai sebuah entitas budaya. Pertanyaan ini menuntut kita untuk berefleksi.

Sebagai individu, Prof. Mien Ahmad Rifai dalam bukunya, Manusia Madura, mengungkapkan bahwa manusia Madura itu—di antaranya—bersifat sangat individualistis tetapi tidak egois, sangat menekankan ketidaktergantungannya pada orang lain, ulet dan tegar, suka berterus terang, suka bertualang, sangat menghormati tetua dan guru, dan sebagainya.

Dalam nada yang sama, Kuntowijoyo melihat karakter individu orang Madura itu terbentuk oleh ekologi fisik Madura yang gersang, bercurah hujan rendah, dan memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi, sehingga membentuk pola pemukiman yang tersebar dalam kelompok perdusunan kecil dengan hubungan keluarga sebagai faktor pengikatnya. Karena itu, hubungan sosial lebih berpusat pada individu dengan keluarga inti sebagai unit dasarnya. Karakter ini pada satu sisi kemudian membuat sulit terbentuknya solidaritas dalam skala yang lebih luas, seperti solidaritas desa.

Kekuatan kultural masyarakat Madura juga ada pada perjumpaan dan pertaliannya yang erat dengan Islam. Pada sisi tertentu, karakter orang Madura terbentuk secara beririsan dengan ajaran-ajaran Islam. Karakter Islam yang moderat dan lentur yang diperkenalkan kepada masyarakat Madura pada satu sisi mempermudah akulturasi budaya antara Islam dan kebudayaan Madura.

Pesantren di Madura dapat dilihat sebagai salah satu kekuatan kultural yang tidak bisa dipandang remeh. Karakter orang Madura yang umumnya dipandang religius menempatkan pesantren dalam posisi penting.

Namun, pesantren sebagai lembaga pendidikan menghadapi tantangan dalam ikut menyiapkan generasi masa depan masyarakat Madura. Pada titik ini, menarik kiranya untuk mendiskusikan bagaimana peran yang diharapkan masyarakat Madura dari pesantren. Apakah kita berharap bahwa peran pengembangan ilmu dan teknologi juga akan diberikan pada pesantren? Atau pesantren cukup menjadi penjaga moral dan pengilham perubahan? Lebih jauh lagi, bisakah pesantren berperan sebagai fasilitator untuk memperkuat ikatan di antara berbagai elemen kultural lainnya di Madura?

Kenyataannya, di era globalisasi, pesantren juga mengalami perubahan kelembagaan, baik itu berupa semakin beragamnya orientasi keilmuan yang berkembang di kalangan pesantren maupun orientasi formal yang semakin menguat dalam pendidikan pesantren sehingga juga berpotensi mengikis karakter uniknya.

Selain itu, tarikan iklim politik pasca-reformasi juga berpengaruh pada pesantren. Ada kekhawatiran bahwa tarikan pusaran politik yang kian banal dapat menggerogoti wibawa dan otoritas moral pesantren di masyarakat yang pada gilirannya akan menyurutkan potensi transformatif pesantren.


Ruang Publik dan Demokratisasi

Dalam bukunya tentang globalisasi, Anthony Giddens menyarankan penguatan kembali ide-ide demokrasi. Globalisasi yang berpotensi mencipta jurang ketidakadilan harus dikawal dengan memperkuat nilai-nilai demokrasi sosial seperti solidaritas, kesamaan, kebebasan, keamanan, dan juga peran aktif negara.

Bagi masyarakat Madura, demokrasi atau demokratisasi kadang terlihat sebagai sebuah ide yang masih cukup sulit untuk menyatu dengan kehidupan sosial-budaya mereka. Selain karena iklim politik negara yang memang masih bergulat dengan demokrasi, arus reformasi yang kadang terjatuh pada pemujaan berlebihan pada kebebasan semakin mempersulit pelembagaan demokrasi dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan dalam hal tertentu ada arus balik demokrasi yang terjadi justru di jalur-jalur demokrasi prosedural.

Secara sederhana, demokratisasi adalah peningkatan partisipasi. Ini berarti bahwa berbagai unsur masyarakat memiliki ruang yang cukup leluasa untuk mengemukakan pendapat dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan untuk hal-hal terkait kepentingan mereka.

Dengan kerangka seperti ini, ruang publik apakah yang masih tersisa di masyarakat Madura? Krisis ruang publik sebagai salah satu masalah budaya yang dialami masyarakat Madura akan membuat masalah-masalah yang mungkin muncul seiring dengan terbukanya arus persaingan dalam MEA atau proses konstruktif dalam menyusun langkah bersama dalam menghadapi MEA kurang terartikulasikan secara mendalam dan luas.

Ruang publik tradisional, seperti keluarga, yang juga berfungsi sebagai media sosialisasi nilai, menghadapi tantangan yang luar biasa dari derasnya arus informasi sehingga pamor otoritasnya memudar. Demikian pula, kekuatan perkumpulan tradisional baik yang berbasis kesenian maupun keagamaan perlahan juga tampak berkurang.

Pada saat yang sama, ruang publik yang diproduksi dari proses modernisasi, seperti misalnya media massa (baik cetak, elektronik, maupun yang berbasis internet) tampaknya juga masih belum memperlihatkan tanda-tanda untuk menapaki jalan kematangannya. Berbagai keterbatasan, baik dari sudut pengelola maupun dari sisi masyarakat, membuat perkembangan media massa sebagai ruang publik dalam kerangka demokrasi partisipatif tampak masih cukup bermasalah.

Sementara itu, pengurus publik yang diharapkan dapat mengelola berbagai peluang penguatan ruang publik tersebut sering melihat persoalan kemasyarakatan secara dangkal—kurang radikal dan tidak substantif—sehingga langkah-langkah yang diambil memberi dampak yang kurang penting.


Anak Muda dan Masa Depan Madura

Globalisasi dan era pasar bebas tampaknya memang tak dapat ditolak. Perkembangan zaman di berbagai belahan dunia memperlihatkan jalur ke arah itu. Tantangan yang tampak berat dan situasi yang kadang dilematis pada akhirnya menuntut kerja keras dan kerja sama.

Menghadapi itu semua, harapan terbesar tampaknya patut diberikan kepada kaum muda Madura yang saat ini tersebar di berbagai tempat dan menempa diri dalam pengalaman individual mereka masing-masing. Mendengar berbagai potensi dan kreativitas yang ditunjukkan oleh mereka, kita patutlah bersikap optimistis bahwa perlu sedikit sentuhan yang bersifat kolaboratif dan terencana agar potensi anak muda ini dapat lebih menunjukkan dayanya bagi perubahan dan tantangan Madura.

Kita menunggu individu-individu yang tulus dan penuh passion untuk memperkuat optimisme ini, sebagaimana Margaret Mead (1901-1978), seorang antropolog Amerika, menyatakan: “Never depend upon institutions or government to solve any problem. All social movements are founded by, guided by, motivated and seen through by the passion of individuals.”


Tulisan ini dimuat di Harian Radar Madura, 31 Januari 2016. Tulisan ini adalah versi ringkas dari makalah yang disampaikan dalam Sarasehan Kebudayaan Madura dengan tema “Dialektika Sosial Budaya Madura Menyongsong MEA” yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Universitas Trunojoyo Madura, Bangkalan, pada 7 November 2015.


Read More..

Minggu, 17 Januari 2016

"Meradikalkan" Revolusi Mental di Sekolah


Judul buku: Strategi Pendidikan Karakter: Revolusi Mental dalam Lembaga Pendidikan
Penulis: Doni Koesoema A
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2015
Tebal: xviii + 158


Di era pemerintahan Presiden Joko Widodo, pemerintah memperkenalkan istilah ”revolusi mental” yang kurang lebih semangatnya mirip dengan pendidikan karakter. Namun, sejauh mana revolusi mental menjadi konsep yang dapat mengambil peran perubahan yang lebih nyata?

Sejak diluncurkan pada tahun 2010, konsep pendidikan karakter di dunia pendidikan tampaknya belum banyak memberi dampak nyata. Indikatornya bisa terlihat dari masih banyaknya kasus kekerasan di lingkungan sekolah baik yang melibatkan siswa ataupun guru.

Buku ini lahir dari keprihatinan bahwa konsep pendidikan karakter sulit untuk dapat berfungsi transformatif di sekolah karena masih banyak kultur nonedukatif di kalangan pendidik dan pengelola pendidikan. Misalnya kultur teknis, sikap yang terlalu berorientasi praktis dalam melihat pendidikan karakter sehingga mengabaikan hal-hal yang bersifat mendasar terkait dengan visi dan orientasi pendidikan. Akibatnya, pelaku pendidikan terjebak dalam kultur teknis dan tanpa sadar cenderung mengambil posisi sebagai robot yang bekerja hanya dengan berfokus pada petunjuk teknis atau prosedur operasi standar.

Doni Koesoema A, penulis buku ini, mengajak para pendidik dan pengelola pendidikan mencermati aspek mendasar dalam pendidikan karakter. Doni menegaskan bahwa praksis pendidikan memiliki fungsi transformatif bagi individu dan masyarakat. Visi radikal ini harus menjiwai praksis pendidikan karakter di sekolah.

Poin utama buku ini, Doni berusaha menyajikan cara mendesain strategi pendidikan karakter di sekolah sebagai sebuah revolusi mental. Namun, sebelum masuk ke uraian tentang strategi yang bersifat praktis, Doni mengajak pembaca untuk mula-mula membereskan terlebih dahulu aspek mendasar dalam pendidikan karakter. Doni percaya bahwa praksis pendidikan karakter dipandu pemahaman teoretis tentang posisi mendasar guru dan visinya dalam mengabdi di dunia pendidikan.

Lima tahap

Menurut Doni, ada lima tahap yang harus diperhatikan sebagai landasan pengembangan pendidikan karakter di sekolah. Pertama, harus dipastikan bahwa sekolah dapat menjadi lingkungan yang mampu memberikan perlindungan bagi individu sehingga ia merasa nyaman, diterima, dan merasa dihargai. Bagaimanapun, sekolah adalah perpanjangan dari pendidikan dalam keluarga. Komunitas sekolah harus dibentuk sebagai keluarga. Sebagai keluarga, nilai penghormatan, apresiasi, dan partisipasi harus dijunjung tinggi.

Setelah prasyarat lingkungan sekolah yang kondusif terwujud, maka pada tahap kedua sekolah harus mendefinisikan nilai yang akan menjadi prioritas pengembangan. Terkait hal ini, sekolah harus memfasilitasi para warganya untuk mengemukakan gagasannya. Warga sekolah dimaksud bukan hanya guru, melainkan juga petugas satpam, penjaga kantin, petugas kebersihan, dan yang lainnya. Langkah partisipatif ini penting agar semua pihak mampu memahami posisi perannya dalam konteks pendidikan karakter di sekolah.

Pada titik ini Doni mengkritik pemerintah yang dalam rumusan pendidikan karakter menentukan 18 nilai yang wajib diajarkan di sekolah negeri dan mengabaikan partisipasi dan penghargaan pada konteks lokal yang lebih berakar. Tahapan kedua ini selanjutnya dilengkapi dengan menyusun indikator dari nilai prioritas yang menjadi tujuan pengembangan pendidikan karakter. Indikator di sini berfungsi evaluatif sekaligus proyektif.

Setelah dua tahapan ini beres, tahapan ketiga adalah merancang program konkret pendidikan karakter. Menurut Doni, yang penting dipahami adalah bahwa proses penyusunan program pendidikan karakter ini pada dasarnya merupakan upaya untuk membentuk ”habitus” dari nilai prioritas. Habitus di sini maksudnya nilai moral yang sudah terinternalisasi pada diri individu sehingga sikap yang lahir dari pemahaman nilai itu dilakukan secara spontan dan konsisten.

Agar habitus yang terbentuk dapat tetap stabil, pada tahap berikutnya (keempat) nilai-nilai prioritas itu harus dilembagakan ke dalam sistem sekolah. Ini penting dilakukan untuk memastikan keberlanjutan program pendidikan karakter di sekolah sehingga meski pemimpin atau pengelola sekolah berganti, program pendidikan karakter masih terus berlanjut.

Pada tahapan yang paling akhir (kelima), pendidikan karakter harus senantiasa dievaluasi dan direfleksikan. Nilai-nilai unggulan secara berkala perlu dicermati secara mendalam dan direfleksikan agar nilai-nilai tersebut tidak kehilangan relevansi dan nilai kontekstualnya.

Perspektif radikal

Pemaparan Doni Koesoema dalam buku ini menggunakan perspektif radikal berbasis filsafat. Dengan perspektif radikal, penjelasan tentang strategi pendidikan karakter yang dipaparkan terlihat bercorak kritis sekaligus begitu padu dan sistematis. Pertama, Doni mengkritik berbagai kecenderungan berpikir dangkal dalam praksis pendidikan di Indonesia, termasuk terkait program pendidikan karakter.

Selain itu, sudut pandang radikal yang digunakan Doni menghendaki para praktisi pendidikan terlebih dahulu mengokohkan landasan gagasannya dengan menjelaskan aspek mendasar pendidikan karakter. Setelah itu, tahapan strategi berikutnya harus diikat secara kuat dengan titik tolak landasan pemikiran teoretisnya itu.

Dengan sudut pandang radikal ini, Doni hendak mengembalikan watak humanis dan transformatif pendidikan yang secara nyata terancam oleh cara berpikir pragmatis dan teknis. Bagi Doni, proses pendidikan bukanlah proses mekanis dan teknis karena pelaku dan yang terlibat adalah manusia luhur yang harus dihargai. Kegagalan pendidikan karakter dan revolusi mental berakar dari asumsi teknis yang dangkal.

Selain itu, keunggulan buku ini terletak pada penyajian contoh konkret berbasis pengalaman yang diambil dari keterlibatan Doni saat menjadi guru di Yogyakarta dan Jakarta. Buku ini sangat penting dibaca oleh para guru, pengambil kebijakan di dunia pendidikan, dan siapa pun yang tertarik dengan dunia pendidikan agar pendidikan karakter dan revolusi mental benar-benar berkontribusi bagi perubahan.


Tulisan ini dimuat di Harian Kompas, 17 Januari 2016.


Read More..