Jumat, 21 Juni 2013

Kerangka Acuan Program Pengembangan Literasi SMA 3 Annuqayah Tahun Pelajaran 2013/2014


Latar Belakang

Era informasi ditandai dengan membanjirnya informasi dalam berbagai bentuk. Ini tidak hanya ditandai dengan semakin banyaknya penerbitan buku, majalah, koran, dan media cetak lainnya. Revolusi teknologi informasi melalui kehadiran internet yang semakin cepat dan intens masuk ke wilayah perkampungan telah memberikan dampak yang sangat besar bagi generasi muda Indonesia.

Generasi muda Indonesia saat ini telah benar-benar menjadi generasi informasi. Dengan akses internet yang semakin meluas, mereka dengan mudah bisa mengakses informasi dan berhubungan dengan orang-orang dan gagasan yang bahkan mungkin tak mereka bayangkan sebelumnya.

Pertanyaannya, apakah sekolah telah cukup memberi bekal keterampilan dan pengalaman yang cukup agar mereka tidak gagap menghadapi era informasi semacam ini?

Dalam kerangka menjawab pertanyaan ini, SMA 3 Annuqayah dalam beberapa tahun terakhir ini telah berupaya membekali siswa agar memiliki kemampuan literasi yang baik. Wujudnya berupa kebiasaan membaca dan keterampilan mencerna dan menggali/mendalami informasi dengan baik. Siswa dilatih untuk dapat melek informasi, tangkas mengolah informasi, dan mampu menyampaikan gagasan dengan baik melalui berbagai media. Kemampuan literasi yang baik ini diharapkan dapat mengantarkan mereka untuk menjadi pembelajar mandiri yang kreatif dan kritis.

Penguatan literasi di sekolah perlu didorong dan dikuatkan dengan penyediaan bacaan-bacaan bermutu yang terpilih. Juga perlu adanya arahan dan bimbingan agar siswa terbiasa dan terampil membaca dan mendalami informasi. Selain itu, siswa juga membutuhkan pendampingan dalam belajar dan berlatih menyampaikan gagasan melalui tulisan.

Secara umum, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa penguatan literasi tampak belum menjadi perhatian utama sekolah. Belum banyak upaya yang dilakukan sekolah secara sistematis untuk membimbing siswa dalam memilih buku bacaan yang menarik dan memahaminya dengan baik.

Secara lebih khusus, ini terlihat dari kondisi siswa SMA 3 Annuqayah pada umumnya yang dalam pengamatan sepintas tiga tahun terakhir tergolong relatif kurang akrab dengan buku. Cukup bisa dimaklumi, karena dalam pengamatan tersebut ditemukan bahwa kebanyakan sekolah asal siswa SMA 3 Annuqayah tidak memiliki program yang secara khusus mendorong siswa memiliki keterampilan membaca dan menulis. Selain itu, mayoritas siswa SMA 3 Annuqayah berasal dari masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah yang belum memiliki akses ke dunia buku dan media informasi.

Sejauh ini, siswa SMA 3 Annuqayah mengakses buku dan memperoleh penguatan literasi melalui Perpustakaan Madaris III Annuqayah. Perpustakaan Madaris III Annuqayah yang digunakan bersama oleh siswa Madrasah Ibtidaiyah 3 Annuqayah, Madrasah Tsanawiyah 3 Annuqayah, dan SMA 3 Annuqayah sejak tahun 2006 telah dihidupkan kembali dan aktif dengan sejumlah kegiatan literasi. Meski dananya terbatas, perpustakaan ini berusaha menjadi perpustakaan aktif dengan cara mengelola beberapa kegiatan rutin yang dimaksudkan untuk mendorong literasi. (Tentang Perpustakaan Madaris III Annuqayah, silakan baca di sini).

Namun SMA 3 Annuqayah merasa perlu untuk memberikan kegiatan literasi yang lebih menantang pada siswa SMA 3 Annuqayah pada khususnya sehingga dalam dua tahun terakhir ini SMA 3 Annuqayah mencoba melakukan sejumlah kegiatan pengembangan dan penguatan literasi, termasuk juga yang menyentuh pada guru. Dengan latar belakang ini, maka untuk tahun pelajaran 2013/2014 mendatang, SMA 3 Annuqayah merancang beberapa program pengembangan literasi.


Tujuan/Target

  1. Siswa memiliki kebiasaan dan keterampilan membaca yang baik. 
  2. Siswa memiliki kemampuan untuk mendalami informasi atau bahan bacaan dengan kritis. 
  3. Siswa mampu berbagi informasi dan gagasan dengan baik khususnya melalui tulisan. 
  4. Siswa memiliki wawasan kepustakaan dan pengalaman membaca jenis tulisan yang beragam. 
  5. Siswa dekat dengan buku-buku pemancing minat baca. 
  6. Siswa membaca secara mendalam paling tidak 3 buku terpilih dalam satu tahun dan mampu memaparkan hasil bacaannya secara lisan dan tertulis. 
  7. Guru terlibat aktif dalam program literasi sekolah sehingga guru terdorong untuk terus belajar dan menambah wawasan terutama terkait bidang yang digelutinya. 

Bentuk Program

Program literasi di SMA 3 Annuqayah sejauh ini yang paling menonjol adalah program Perpus Masuk Kelas, yakni program penyediaan naskah kutipan pendek (sekitar 500-1300 kata) dari buku atau sumber terpilih yang setiap hari diantarkan ke tiap kelas. Program ini adalah pengembangan dari apa yang sudah populer dengan nama “silent reading” atau “membaca senyap” yang banyak dipraktikkan di beberapa sekolah. Bedanya, dalam Perpus Masuk Kelas, sekolah memilih kutipan-kutipan menarik yang sekiranya dapat memancing minat baca siswa. Sejauh ini SMA 3 Annuqayah baru memiliki 80 naskah bacaan (lebih jelasnya, silakan baca di sini).

Untuk tahun pelajaran 2013/2014 mendatang, SMA 3 Annuqayah merancang 4 program literasi:

1. Perpus Masuk Kelas.
Sejak mulai dilaksanakan pada akhir Februari 2012, program ini telah mendapatkan dukungan dari murid dan guru. Dukungan tersebut tampak dari angket yang pernah disebarkan sekolah kepada siswa untuk mengevaluasi program ini dan tanggapan beberapa guru dan masyarakat pada umumnya dalam berbagai kesempatan. Untuk tahun pelajaran 2013/2014, program ini akan berupaya menambah dan memperkaya bahan bacaan. Paling tidak di akhir tahun pelajaran 2013/2014 ditargetkan SMA 3 Annuqayah sudah memiliki sekitar 150-200 naskah terpilih.

2. Buku Wajib Baca.
Adapun perincian teknis program ini adalah sebagai berikut:
  1. Program ini akan mewajibkan setiap siswa SMA 3 Annuqayah untuk membaca sedikitnya 3 buku pilihan dalam satu tahun pelajaran. Satu buku di semester pertama, dan dua buku di semester kedua. 
  2. Sekolah akan menentukan sekitar 25 judul buku terpilih dan masing-masing judul akan disediakan sedikitnya sebanyak 10 eksemplar (jumlah siswa di SMA 3 Annuqayah sekitar 220 orang). Daftar sementara buku wajib baca terlampir. 
  3. Pilihan buku didasarkan atas tema yang menarik, kesesuaian dengan visi dan misi sekolah, potensi isi buku untuk digali dan didiskusikan dari beberapa segi, keberagaman tema, ketebalan buku, dan keterjangkauan pemahaman siswa. 
  4. Siswa diwajibkan membuat rangkuman dan ulasan buku yang sudah dibaca tuntas. Diupayakan agar rangkuman dan ulasan tersebut dibimbing dengan bentuk kerangka atau pertanyaan yang dapat memunculkan unsur-unsur penting dari buku (akan dibuat setelah daftar buku wajib baca ditentukan/disepakati). 
  5. Rangkuman dan ulasan tersebut harus dipaparkan di hadapan paling tidak 10 murid dan 1 guru (sekolah memfasilitasi kegiatan presentasi ini). Diharapkan, peserta yang mengikuti diskusi adalah mereka yang juga membaca buku yang sama. Mungkin saja dibuat dua atau tiga hari khusus untuk acara presentasi (sekolah diliburkan, mungkin sebelum ujian semester) dengan sesi paralel. Namun presentasi juga dimungkinkan dilaksanakan jauh sebelum ujian semester asalkan memenuhi syarat kehadiran audien. Guru yang hadir diharapkan dapat menjadi fasilitator (karena itu seharusnya sudah membaca bukunya). Tidak menutup kemungkinan untuk melibatkan alumni SMA 3 Annuqayah agar sewaktu-waktu dapat ikut membantu memfasilitasi diskusi. 
3. Penerbitan buku antologi cerpen terpilih.
Untuk memperkenalkan para penulis cerpen dan karya-karya terbaik mereka kepada siswa, SMA 3 Annuqayah bermaksud untuk menerbitkan buku antologi cerpen terpilih yang memuat cerpen karya penulis-penulis terkemuka di Indonesia dan dunia. Sekolah akan mengumpulkan cerpen-cerpen terpilih dan dicetak terbatas untuk dibaca siswa (mungkin sekitar 50 eks). Cerpen dipilih dengan maksud untuk memberi rujukan berbagai teknik penceritaan atau gaya bertutur kepada siswa sekaligus memperkenalkan penulis-penulis terkemuka. Program ini untuk mendukung kecenderungan siswa yang suka membaca atau menulis cerpen tetapi kekurangan referensi/contoh cerpen yang baik dari beragam penulis.

4. Perpus dalam Kelas.
Letak Perpustakaan Madaris III Annuqayah yang terpisah/berjarak dengan kompleks kelas SMA 3 Annuqayah terkadang membuat siswa malas datang ke perpustakaan. Untuk itu, SMA 3 Annuqayah memandang bahwa siswa perlu didekatkan dengan bahan pustaka tertentu yang kira-kira dapat memancing minat baca dan rasa ingin tahu siswa. Karena itu, untuk tahun pelajaran 2013/2014 mendatang, SMA 3 Annuqayah memprogram untuk menyediakan lemari kecil berukuran 80 cm x 120 cm di tiap kelas (total ada 8 kelas) sebagai tempat buku-buku terpilih, termasuk buku-buku yang masuk dalam kategori Buku Wajib Baca, antologi cerpen terpilih, dan pustaka primer untuk mendukung literasi dan pembelajaran secara umum (seperti kamus bahasa, kamus subjek ilmu tertentu, dan sebagainya).

Untuk mendukung keempat program literasi tersebut di atas, sekolah juga memprogram pelatihan membaca dan menulis, diskusi buku, temu penulis, penerbitan kumpulan tulisan karya siswa, dan semacamnya. Sebenarnya, beberapa bentuk kegiatan seperti ini sudah cukup sering diadakan di SMA 3 Annuqayah (silakan baca di sini), termasuk dukungan siswa untuk menulis berita kegiatan sekolah di blog sekolah. Namun ke depan kegiatan semacam ini secara khusus akan diarahkan terutama untuk membantu siswa mencerna dan mendalami bahan bacaan yang masuk dalam kategori Buku Wajib Baca. Pertimbangannya, dalam pengamatan sekilas dua tahun terakhir, beberapa siswa tampaknya memiliki kemampuan membaca atau memahami bacaan yang cukup rendah karena sebelumnya belum terbiasa atau belum akrab dengan bahan pustaka sehingga program pendukung yang bersifat bimbingan dan pendampingan sangatlah dibutuhkan.


Waktu Pelaksanaan

Program Perpus Masuk Kelas akan dimulai setelah siswa baru (kelas X) masuk aktif seusai mengikuti MOS tahun pelajaran 2013/2014. Saat ini, naskah-naskah baru terus diketik dan diproses dengan standar pemilihan yang sama sebagaimana naskah-naskah sebelumnya. Penyiapan naskah melibatkan siswa aktif dan alumni SMA 3 Annuqayah.

Sedangkan program Wajib Baca Buku akan diberlakukan mulai semester kedua tahun pelajaran 2013/2014, bulan Januari 2014. Semester pertama digunakan untuk menyiapkan buku dan perangkat yang dibutuhkan, termasuk untuk sosialisasi program ini kepada siswa dan guru. Selain itu, pada semester pertama program ini akan diujicobakan untuk siswa tertentu, termasuk siswa yang kemampuan membacanya di bawah rata-rata. Untuk yang terakhir ini, juga akan diujicobakan program khusus pendampingan bagi mereka yang memiliki kemampuan membaca di bawah rata-rata.

Penerbitan buku antologi cerpen pilihan ditargetkan dapat terlaksana di akhir semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014 mendatang. Tahapan kerja yang diperlukan adalah (1) pemilihan cerpen tahap awal; (2) seleksi cerpen yang akan masuk dalam antologi; (3) pengetikan cerpen; (4) lay-out; dan (5) pencetakan.

Sedangkan Perpus dalam Kelas akan mulai diaktifkan pada awal tahun pelajaran 2013/2014, karena lemari buku untuk tiap kelas saat ini sudah hampir tersedia semuanya (saat ini sudah tersedia 5 lemari). Buku-buku yang akan diletakkan sementara di awal tahun pelajaran mendatang adalah buku-buku bantuan beberapa pihak yang jumlahnya sekitar 100 eksemplar yang setahun terakhir ini diletakkan di kantor sekolah dan dipinjamkan kepada siswa dan guru.

Anggaran

Dana yang dibutuhkan untuk program yang dipaparkan di sini kurang lebih sebagai berikut:
- Naskah Perpus Masuk Kelas 80 x 45 x Rp 175     = Rp 630.000,-
- Buku Wajib Baca 25 judul x 10 eks x Rp 60.000     = Rp 15.000.000,-
- Penerbitan Antologi Cerpen 50 eks x Rp 50.000   = Rp 2.500.000,-
- Pengadaan KBBI 9 eks @ Rp 375.000,-                 = Rp 3.375.000,-
- Pelatihan membaca/menulis, diskusi buku, dll        = Rp 5.000.000,-
                                                                  Jumlah   = Rp 26.505.000,-

Secara keuangan, SMA 3 Annuqayah hampir sepenuhnya mengandalkan anggaran sekolah pada dana dari pemerintah. Karena kemampuan ekonomi orangtua siswa yang secara umum termasuk golongan ekonomi menengah ke bawah, sekolah tiap tahun hanya menarik uang sebesar Rp 60.000,- per siswa. Karena tergantung pada dana pemerintah, kasus ketidakjelasan alokasi dana dan realisasinya dari pemerintah seperti yang terjadi pada tahun pelajaran 2012/2013 misalnya menyebabkan rencana program sekolah yang sudah disusun di awal tahun pelajaran tidak dapat terlaksana semua. Dana dari pemerintah yang terbatas tersebut tentu saja didahulukan terutama untuk melaksanakan kegiatan rutin kependidikan yang sebagian besar tersedot untuk honor guru dan operasional sehari-hari.

Karena keterbatasan dana sekolah ini, maka kami sangat berharap adanya dukungan dari berbagai pihak yang memiliki visi yang sama untuk menguatkan literasi di sekolah pada khususnya. Secara khusus kami juga berharap adanya dukungan dari penerbit buku berupa penyediaan buku gratis atau bentuk dukungan lainnya.

Penutup

Demikian kerangka acuan program pengembangan literasi SMA 3 Annuqayah ini dibuat untuk menjadi bahan rujukan bagi semua pihak terkait terutama agar dapat lebih mudah dalam memberikan dukungan yang lebih konkret pada program ini. Hal-hal yang belum jelas akan dijelaskan kemudian.

Guluk-Guluk, 21 Juni 2013

Kepala SMA 3 Annuqayah,

M. Mushthafa



Lampiran

Daftar Sementara Buku Wajib Baca SMA 3 Annuqayah

  1. Guruku Orang-Orang dari Pesantren, KH Saifuddin Zuhri, LKiS. 
  2. Emak, Daoed Joesoef, Kompas. 
  3. Lukisan Kaligrafi, A Mustofa Bisri, Kompas. 
  4. Rahasia Perempuan Madura, A. Dardiri Zubairi, Andhap Asor. 
  5. Manusia Madura, Mien A. Rifai, Pilar Media. 
  6. Annuqayah: Gerak Transformasi Sosial di Madura, Bisri Effendy, P3M. 
  7. Satu Abad Annuqayah, Tim Penulis, PP Annuqayah. 
  8. Bilik-Bilik Cinta Muhammad, Nizar Abazhah, Zaman. 
  9. Wanita-Wanita al-Qur’an, Fathi Fawzi ‘Abd al-Mu’thi, Zaman. 
  10. Perempuan, M. Quraish Shihab, Lentera. 
  11. Bukuku Kakiku, St Sularto (Editor), Gramedia. 
  12. Ganti Hati, Dahlan Iskan, JP Books. 
  13. Sekolah itu Candu, Roem Topatimasang, Insist. 
  14. Lumbung Pangan, Hira Jhamtani, Insist. 
  15. Creative Writing, AS Laksana, Gagas Media. 
  16. Buku Pintar Mind Map, Tony Buzan, Gramedia. 
  17. Bekisar Merah, Ahmad Tohari, Gramedia. 
  18. Harimau! Harimau!, Mochtar Lubis, YOI. 
  19. Pertemuan Dua Hati, NH Dini, Gramedia. 
  20. Para Priyayi, Umar Kayam, Grafiti. 
  21. Burung-Burung Manyar, YB Mangunwijaya, Djambatan. 
  22. Totto-chan, Tetsuko Kuroyanagi, Gramedia. 
  23. City of Joy (Negeri Bahagia), Dominique Lapierre, Bentang. 
  24. To Kill a Mockingbird, Harper Lee, Qanita. 
  25. The Kite Runner, Khaled Hosseini, Qanita. 
  26. Sheila, Torey Hayden, Qanita. 
  27. Gadis Jeruk, Jostein Gaarder, Mizan. 



Versi paling mutakhir kerangka acuan ini, termasuk daftar buku wajib baca yang telah diperbarui, dapat diunduh di sini.

Read More..

Jumat, 10 Mei 2013

Sisi Moral Sepeda Gembira


Adakah sisi moral yang harus dipertimbangkan dalam pelaksanaan sepeda gembira atau fun bike? Pertanyaan ini mengemuka saat Kamis (9/5) kemarin saya bersama rekan-rekan Komunitas Meddal Annuqayah (KoMA) mengikuti Sumenep Fun Bike 2013 yang dilaksanakan oleh Dinas Budaya, Parisiwata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Sumenep.

Pertanyaan ini muncul tepatnya setelah kami selesai menuntaskan rute sepeda gembira yang ditetapkan panitia, yakni di sekitar kota Sumenep. Setelah memarkir sepeda di area akhir rute yang akan menjadi tempat pengundian, saya dan rekan-rekan mengambil air minum dalam kemasan yang telah disediakan panitia. Kebetulan persediaan air minum yang saya bawa dalam botol minuman sudah hampir habis setelah menempuh jarak sekitar 26 kilometer dari Guluk-Guluk ke kota Sumenep.

Saya memasukkan air minum itu ke dalam botol saya. Setelah tertuang semua, saya jadi kebingungan karena saya tak melihat ada tempat sampah di sekitar tempat itu. Rekan setim dari KoMA juga tampak kebingungan mencari tempat sampah. Setelah melihat kanan kiri dan tak berhasil menemukan tempat sampah, saya mencoba bertanya ke salah seorang panitia yang ada di panggung. Ternyata dia juga tidak tahu.

Singkatnya, akhirnya saya menemukan tempat sampah di depan Kantor Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sumenep yang berjarak sekitar 140 meter dari tempat acara.

Pengalaman inilah yang memunculkan pertanyaan di atas: adakah sisi moral yang harus dipertimbangkan dalam pelaksanaan sepeda gembira atau acara-acara lain yang melibatkan banyak orang dan berpeluang untuk menghasilkan banyak sampah? Saya tidak tahu persis berapa peserta sepeda gembira kemarin. Sepengamatan saya, jumlahnya ratusan. Atau bahkan bisa lebih seribu orang. Bayangkan, bagaimana jadinya jika sepuluh persen saja dari peserta yang ada tak menemukan tempat untuk membuang sampah dan akhirnya membuangnya sembarangan. Kenyataannya, kemarin saya memang menyaksikan sampah botol minuman berserakan di mana-mana di area acara.


Di sisi utara dan selatan lapangan yang menjadi tempat acara saya juga melihat ada orang berjualan minuman menggunakan gelas plastik. Mereka berjualan dengan tenda yang tampaknya disediakan panitia. Namun saya lihat mereka tak menyediakan tempat sampah sehingga pembeli tampaknya kemudian membuang sampah secara sembarangan.

Pertanyaan seperti yang saya kemukakan di atas pernah menjadi bahan diskusi di salah satu kelas saya saat kuliah Etika Terapan di Utrecht University, Belanda. Kebetulan di antara teman sekelas saya ada seorang dosen NHTV Breda University, Belanda, yang meminati studi turisme dan dia kerap kali mengungkap sisi moral dari turisme. Misalnya, sering kali dia melihat pengelolaan sampah di tempat wisata kurang baik sehingga justru merugikan penduduk setempat. Atau bahkan turisme juga bisa berdampak buruk dari sisi kesehatan karena penyakit yang dibawa oleh para pelancong yang tidak diatur dan dikendalikan oleh para pengelola atau pengambil kebijakan terkait.

Apa yang saya alami dalam kegiatan sepeda gembira kemarin bagi saya memperlihatkan bahwa rupanya panitia, dalam hal ini Disbudparpora Kabupaten Sumenep, lupa untuk memperhatikan sisi kebersihan yang mungkin muncul dalam bentuk negatif dari kegiatan yang mereka laksanakan. Memang, mereka bukan dinas yang bertugas untuk menjaga kebersihan. Tapi saya pikir lembaga seperti dinas budaya dan pariwisata mestinya memiliki visi kebersihan yang menurut saya merupakan salah satu nilai (moral) mendasar baik dalam budaya maupun pariwisata.

Saya mencatat sisi moral sepeda gembira ini sekaligus sebagai pengingat bagi saya pada khususnya, juga Komunitas Meddal Annuqayah (KoMA), dan kita semua pada umumnya, agar bisa cukup peka dan lebih utuh dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kesukaan bersepeda, misalnya, dalam pandangan saya di antaranya menunjukkan pandangan dasar untuk menghargai bumi dengan mengurangi pencemaran udara yang mungkin muncul jika kita menggunakan kendaraan bermotor. Visi semacam ini mestinya harus lebih utuh dan juga dikuatkan, misalnya, dengan juga mendorong kebiasaan untuk tidak membuang sampah secara sembarangan. Akan terasa lucu misalnya jika ada sebuah komunitas sepeda yang para anggotanya ternyata cukup sering melakukan sesuatu yang tidak ramah lingkungan.

Tulisan ini juga saya tempatkan sebagai pengingat untuk saya pada khususnya agar saat melaksanakan kegiatan yang melibatkan banyak orang, saya harus juga memikirkan sisi kebersihan dan kemungkinan sampah yang akan dihasilkan oleh para peserta. Tak hanya menyediakan tempat sampah, dalam kegiatan semacam ini panitia pelaksana juga seharusnya mengingatkan kepada para hadirin atau peserta untuk menjaga kebersihan dan bertanggung jawab pada sampahnya masing-masing.

Dengan langkah seperti ini, maka kegiatan apa pun, entah itu sepeda gembira, pengajian agama, lomba-lomba, atau yang lainnya, juga akan memiliki nilai lebih sebagai pendidikan moral yang saya pikir akan lebih manjur untuk bisa tertanam dalam diri kita masing-masing. Dengan seperti itu juga, berarti kita turut mengambil langkah bersama untuk menjaga bumi yang lebih lestari.

Read More..

Selasa, 07 Mei 2013

Bincang Profesi untuk Mendorong Refleksi


Sependek pengamatan saya, di lingkungan sekolah secara umum guru-guru cukup jarang berbincang hal-hal yang berkaitan dengan profesi mereka secara intens. Lebih jauh lagi, tidak banyak upaya yang dilakukan sekolah untuk mendorong guru-guru merefleksikan kegiatan yang terkait profesi mereka sehari-hari.

Kegiatan rapat di sekolah lebih banyak mengangkat masalah teknis. Dalam pengalaman saya, rasanya agak sulit membawa perbincangan rapat yang memang cukup formal ke tema-tema reflektif. Maka gagasan tentang “professional talk” atau “bincang profesi” bagi saya menjadi menarik untuk dicoba dilakukan di sekolah.

Saya belajar tentang professional talk atau bincang profesi ini pada hari Sabtu (4/5) kemarin dalam sebuah kegiatan yang dilaksanakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) di Surabaya. Bertempat di Pecel Bu Kus di Jalan Barata Jaya 17, Surabaya, acara ini menghadirkan dua nara sumber: Itje Chodidjah (seorang praktisi pendidikan dari Jakarta) dan Dhitta Puti Sarasvati (Direktur Riset dan Pengembangan Program IGI).

Bincang profesi pada dasarnya merupakan kegiatan yang sederhana. Ia berupa kegiatan berbincang-bincang secara ringan berkaitan dengan berbagai pernik dunia pendidikan atau secara lebih khusus lagi kegiatan pengajaran di kelas. Bincang profesi ini mengasumsikan bahwa guru punya banyak pengalaman sehari-hari yang menarik yang bisa dibagi dan direfleksikan bersama.

Hal sederhana yang dibicarakan bisa saja akan membutuhkan waktu yang cukup panjang jika terus digali dan dikembangkan dengan baik. Pada pertemuan Sabtu kemarin, dua nara sumber mencoba mengemukakan topik sederhana untuk dibincangkan oleh para guru yang hadir. Ada yang berupa foto salah satu pajangan di kelas yang diamati dan kemudian dikomentari. Diskusi pun berkembang ke beberapa hal penting dalam pembelajaran.

Bincang profesi bisa juga berangkat dari masalah-masalah yang muncul di sekolah. Pada Sabtu kemarin, para peserta misalnya diminta untuk berdiskusi soal bullying di sekolah yang terjadi di antara sesama guru, yang menurut survei IGI merupakan salah satu masalah yang jamak terjadi di sekolah-sekolah.

Memang tak harus ada jalan keluar yang disepakati atas permasalahan yang dibicarakan. Akan tetapi, dengan berbagi dan berefleksi, paling tidak para guru memiliki persediaan rujukan dan wawasan yang semakin kaya dalam menjalani kegiatan kependidikan mereka sehari-hari. Ini juga adalah cara untuk mendorong guru-guru agar terus belajar melalui pengalaman-pengalaman sederhana di sekolah.

Selain rapat, tampaknya bincang profesi ini perlu diberi ruang tersendiri secara khusus di sekolah. Tujuannya juga agar sekolah bisa menjadi sebuah lingkungan yang reflektif, sehingga berbagai kegiatan yang kependidikan yang ada tetap terjaga untuk terus ditemalikan dengan diri guru masing-masing dan lingkungan atau masyarakat.

Read More..

Minggu, 14 April 2013

Pak Polisi, Tolong Berantas Maling Sapi



Pada hari Jum’at (12/4) kemarin, rombongan Kepolisian Resor Sumenep melaksanakan shalat Jum’at di Masjid Jamik Annuqayah, Guluk-Guluk. Rombongan Polres Sumenep menggunakan lima kendaraan, di antaranya bus mini. Rombongan ini dipimpin langsung oleh Kapolres Sumenep, AKBP Marjoko, S.I.K., M.Si.

Sejak melihat rombongan mobil Polres Sumenep yang parkir di sekitar masjid, saya sudah menduga bahwa mungkin mereka ingin menyampaikan sesuatu setelah shalat Jum’at. Ternyata benar. Seusai shalat Jum’at, Kapolres menyampaikan beberapa hal di depan jamaah yang terdiri dari santri dan masyarakat.

Saya mencatat beberapa poin penting dari penyampaian Kapolres Sumenep tersebut. Pertama, dia memaparkan bahwa menurut laporan yang dia terima, kondisi Guluk-Guluk kondusif. Cuma ada indikasi bahwa ada masyarakat Guluk-Guluk yang menyimpan bahan peledak, di antaranya yang populer di masyarakat dengan sebutan potas. Kapolres mengingatkan bahwa orang yang memiliki dan menyimpan bahan peledak seperti itu, seperti juga senjata tajam selain yang digunakan sebagai alat pertanian, diancam dengan Undang-Undang Darurat RI Nomor 12 Tahun 1951.

Kapolres juga menyampaikan salah satu tugas kepolisian dalam memberantas apa yang disebutnya “penyakit masyarakat”. Polisi punya satu operasi khusus untuk masalah ini yang diberi akronim “operasi pekat”—ya, polisi dan tentara memang hobi sekali membuat akronim. Dalam kamus kepolisian, Kapolres menyebutkan penyakit masyarakat itu meliputi perjudian, minum minuman keras, prostitusi, dan premanisme.

Kapolres juga menyinggung soal pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat SMA dan sederajat. Kapolres melaporkan kesiapan pihak kepolisian untuk mengamakan pelaksanaan UN. Kapolres kemudian melanjutkan bahwa bulan depan akan diselenggarakan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di beberapa desa di Kabupaten Sumenep. Dia meminta dukungan masyarakat untuk ikut mengamankan pelaksanaan Pilkades tersebut.

Yang menarik dari kehadiran rombongan Polres Sumenep ini adalah karena seusai Kapolres memaparkan beberapa hal tersebut di atas, dia memberi kesempatan kepada jamaah yang hadir untuk menyampaikan masukan atau pertanyaan. Menurut catatan saya, ada tiga penanya yang mengajukan pertanyaan kepada Kapolres. Penanya terakhir, K.H. M. Syafi’ie Anshari, sempat bolak-balik bertanya untuk meminta uraian lebih mendalam atas jawaban yang diberikan sebelumnya.

Semua pertanyaan mengarah pada kasus yang marak terjadi belakangan di masyarakat, termasuk di wilayah Guluk-Guluk, yakni pencurian, khususnya pencurian hewan dan kendaraan bermotor. Intinya, para penanya menginginkan adanya tindakan yang tegas dari aparat kepolisian. Malah Kiai Syafi’ie sempat menyampaikan kemungkinan perlunya terapi kejut ala Penembak Misterius yang sempat dilakukan Presiden Soeharto pada sekitar tahun 1983 hingga 1985. Penanya yang lain mengeluhkan soal modus pemerasan yang dilakukan pencuri hewan atau kendaraan bermotor. Kerap terjadi, hewan atau kendaraan yang hilang dapat dikembalikan bila si pemilik menyerahkan sejumlah uang tebusan kepada pihak tertentu yang memiliki hubungan dengan si pencuri.

Jawaban Kapolres dalam pemahaman saya cenderung normatif dan datar. Kapolres mengajak masyarakat untuk ikut membantu penanganan kasus pencurian dengan cara memberikan laporan dan kesaksian bila ada kasus pencurian yang diketahui. Kapolres juga menyinggung bahwa saksi akan dilindungi—bahkan perlindungan saksi juga sudah diatur dalam undang-undang.

Mengenai modus uang tebusan, Kapolres menyampaikan bahwa saat ini di Polres Sumenep sudah ada kasus maling yang diproses secara hukum setelah ditangkap akibat memeras dengan modus seperti ini.

Kapolres juga mengingatkan agar jika ada masyarakat yang menemukan kasus pencurian, masyarakat diminta untuk membantu dengan menangkap si pelaku dan menyerahkannya pada aparat kepolisian. Kapolres mengingatkan agar masyarakat jangan sampai main hakim sendiri dengan membakar pelaku pencurian atau menganiaya.

Meskipun sesi dialog berlangsung cukup lama, mungkin sekitar 30 menit, saya merasa kurang puas. Tentu saja, berbincang masalah pencurian hewan dan kendaraan saja membutuhkan waktu yang lama, karena masalah ini cukup rumit dan melibatkan banyak pihak.

Saya membayangkan, idealnya Polres Sumenep memiliki semacam visi penanganan yang lebih utuh dan menyeluruh untuk masalah ini. Saya sebenarnya berharap bahwa pada saat menghadapi beberapa pertanyaan jamaah tersebut, Kapolres akan menyampaikan visi penanganan yang menyeluruh itu, termasuk penjelasan yang bersifat praktis (how to) yang dapat menuntun warga untuk berpartisipasi dalam menyelesaikan soal ini. Ternyata tidak. Kapolres hanya menjawab sebatas poin pertanyaan yang diajukan, tidak masuk lebih mendalam dan meluas secara lebih radikal.

Sebagai pendengar awam, di benak saya, misalnya, saya bertanya-tanya kenapa Kapolres menyampaikan bahwa menurut laporan, kondisi di Guluk-Guluk kondusif. Padahal, belum genap satu bulan di sebelah utara Masjid Jamik Annuqayah terjadi kasus pencurian sapi sebanyak 3 ekor. Belum genap sebulan pula, di kompleks PP Annuqayah terjadi kasus pencurian kendaraan bermotor. Saya sempat menyampaikan ini kepada santri yang duduk di sebelah, dan salah seorang peserta rombongan Polres yang tidak jauh dari saya menjawab, “Ya laporkan.”

Saya heran, apakah memang harus seperti itu? Artinya, polisi baru bergerak setelah ada laporan? Sependek pengetahuan saya, kasus pencurian seperti pencurian sapi itu bukanlah delik aduan. Jadi, sekali lagi, apa polisi baru akan bekerja jika ada warga yang melaporkan? Bagi saya, dalam kasus pencurian 3 ekor sapi di dekat Masjid Jamik Annuqayah itu, nyaris mustahil polisi tidak tahu kejadiannya karena lokasi kejadian hanya berjarak 650 meter dari kantor Kepolisian Sektor Guluk-Guluk. Jadi, jika polisi benar-benar tidak tahu, saya sungguh heran.

Masalah perlindungan saksi sempat ditegaskan dan ditanyakan lebih sekali oleh Kiai Syafi’ie yang tampaknya merasa kurang puas dengan jawaban Kapolres. Saya bisa memahami ketidakpuasan Kiai Syafi’ie, karena memang dalam situasi sosial masyarakat Madura, warga yang memberi kesaksian atas kasus pencurian sapi (bahkan mungkin juga keluarganya) akan diancam oleh si pencuri. Saya menangkap keraguan dan pertanyaan di benak Kiai Syafi’ie: sejauh mana polisi akan melindungi dan menjamin keselamatan saksi dan atau pelapor?

Saat dialog diakhiri pada pukul 13.23 WIB, paling tidak saya merasa senang melihat pihak kepolisian mau berbincang dan mendengar suara rakyat. Namun, karena sifatnya umum dan waktunya terbatas, saya punya harapan yang lebih. Saya berharap, suatu saat akan ada suatu pertemuan yang lebih fokus ke satu soal tertentu, misalnya masalah pencurian hewan dan kendaraan bermotor, yang memang belakangan cukup marak terjadi di lingkungan saya.

Dengan lebih fokus, mungkin saja polisi bisa menyusun satu rancangan yang lebih utuh dan jelas dalam membantu menyelesaikan nestapa masyarakat yang di tengah sulitnya kehidupan ekonomi mereka masih juga dihantui oleh tindak kejahatan pencurian. Jika masalah konkret seperti ini tak kunjung berusaha keras diatasi, artinya polisi tidak menunjukkan upaya serius dan menyeluruh untuk menyelesaikannya, saya cenderung berpikir bahwa kepercayaan masyarakat pada pihak kepolisian yang di mata saya saat ini cenderung rendah akan sangat sulit untuk dipulihkan.

Wallahualam.


Baca juga:
>> Surat Terbuka Untuk Pak Polisi

Read More..

Jumat, 12 April 2013

Penerbit Peduli Literasi


Kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia ditengarai masih rendah. Produksi dan konsumsi buku menjadi salah satu ukurannya. Rendahnya literasi juga dapat dilihat di sekolah, saat siswa mengerjakan soal-soal bahasa yang berbasis bacaan. Secara umum mereka lambat dalam mencerna teks atau bahkan masih kesulitan menangkap ide pokok sebuah paragraf. Ironisnya, hal ini bahkan juga terjadi di kalangan pelajar tingkat pendidikan tinggi atau bahkan pengurus publik.

Dukungan dan perhatian para pengambil kebijakan, baik di sekolah maupun di tingkat pengurus publik, untuk mendukung literasi tampak masih kurang. Membaca dan menulis masih belum dianggap sebagai basis penting pendidikan. Dukungan dan perhatian yang ada kadang lebih bersifat formal saja. Contoh konkretnya, sejauh ini tidak banyak sekolah yang memberi perhatian serius pada pengembangan perpustakaan dan kegiatan pendukung lain untuk mendukung semangat membaca dan menulis.

Selain sekolah dan pengambil kebijakan di jajaran pengurus publik, ada pihak lain yang sebenarnya dapat memainkan peran dalam meningkatkan literasi khususnya di kalangan pelajar dan remaja, yakni penerbit. Sebagai “pabrik buku”, penerbit sebenarnya menjadi salah satu pemain penting dalam menyemarakkan literasi. Penerbitlah yang menyediakan bahan-bahan bacaan untuk masyarakat. Peran penerbit yang paling tampak adalah pada penyediaan bahan bacaan yang bermutu dan diminati masyarakat.

Dalam konteks ini, penerbit yang punya idealisme untuk ikut mengembangkan literasi dan “mencerdaskan kehidupan bangsa” tentu akan berupaya untuk menerbitkan bacaan yang bermutu. Dengan sejumlah cara, penerbit akan berusaha untuk mengendalikan mutu buku yang disiarkannya. Namun, menghadapi perkembangan dan persaingan pasar, kadang penerbit buku bersikap cukup pragmatis. Hasilnya, mutu buku kadang kurang terjaga.

Selain berkaitan dengan unsur di dalam penerbit itu sendiri, sebenarnya penerbit buku dapat memainkan peran yang lebih besar untuk mendukung gerakan literasi, khususnya di sekolah atau kalangan remaja atau komunitas (masyarakat) pada umumnya. Bentuknya dapat berupa memberi bantuan buku atau harga khusus untuk pembelian buku oleh perpustakaan atau komunitas, terutama yang memang memiliki kemampuan keuangan di bawah rata-rata.

Para pegiat literasi sebenarnya berharap penerbit secara strategis memiliki visi dan kepedulian dalam mengembangkan literasi secara lebih aktif. Secara perhitungan bisnis, jika literasi semarak, penerbit tentu juga akan diuntungkan. Penjualan buku sangat mungkin akan meningkat jika masyarakat sudah gemar membaca. Bahkan penyuplai naskah layak terbit bisa saja akan menjadi lebih mudah dibandingkan situasi saat ini.

Namun sejauh ini saya tak melihat ada penerbit yang secara terencana memiliki program untuk ikut menyemarakkan literasi. Sampai kemudian kemarin saya menerima kiriman buku dari rekan saya yang merupakan pemilik dan CEO Penerbit Diva Press Group Yogyakarta, Edi AH Iyubenu.

Buku yang dikirimkannya berjudul Silabus Menulis Fiksi. Buku setebal 44 halaman yang memuat tutorial praktis menulis fiksi ini ditulis sendiri oleh Edi. Pria yang bernama asli Edi Mulyono kelahiran Sumenep ini sebelum mendirikan penerbit memang telah malang-melintang di dunia kepenulisan, khususnya fiksi. Cerpen-cerpennya dahulu telah dimuat di mana-mana, mulai dari Kompas, Republika, Media Indonesia, Horison, dan media-media seantero nusantara.

Buku ini sangat menarik paling tidak karena dua alasan. Pertama, buku ini dapat menjadi panduan menulis fiksi bagi pemula. Penyajiannya yang sederhana dan disertai contoh-contoh tampak banyak berangkat dari pengalaman penulisnya sehingga benar-benar dapat menuntun penulis pemula untuk berkarya. Bahasa dan gaya penyampaiannya cenderung disesuaikan dengan gaya remaja masa kini.

Karena alasan ini, semalam saya pamit kepada Edi untuk memperbanyak buku ini. Sebenarnya, di bagian kata pengantar Edi telah mempersilakan pembaca yang berminat untuk menggandakan buku ini. Saya pamit sekaligus sebagai pemberitahuan dan pengakuan bahwa buku ini akan sangat bermanfaat untuk saya gunakan dalam mendorong kegiatan kepenulisan fiksi pada khususnya di sekolah dan komunitas saya. Apalagi saya di SMA 3 Annuqayah mengampu pelajaran Bahasa Indonesia sehingga buku ini akan saya wajibkan untuk dibaca siswa di kelas saya pada khususnya.

Alasan kedua ketertarikan saya pada buku ini adalah karena ternyata kehadiran buku ini tidaklah berdiri sendiri. Ternyata, Diva Press Group memiliki beberapa program yang menunjukkan kepedulian mereka untuk mendorong literasi, khususnya di kalangan remaja. Buku Silabus Menulis Fiksi ini sebenarnya merupakan bagian dari rancangan kegiatan Diva Press itu.

Di bagian akhir buku ini, tercantum empat program Diva Press Group berupa pelatihan penulisan fiksi dan juga pendampingan penulisan novel sampai layak terbit. Pelatihan penulisan dilakukan dalam program #KampusFiksi, #JustWrite, dan #TimTentorMenulisAntarKotaAntarPropinsi.

#KampusFiksi dilaksanakan tiap bulan bertempat di Yogyakarta. Pada kegiatan ini, Diva menyediakan 30 kursi bagi mereka yang lolos seleksi untuk mengikuti pelatihan penulisan fiksi. #KampusFiksi akan dimulai akhir bulan ini. Alumni #KampusFiksi nanti akan diberi kesempatan untuk hadir dalam acara tahunan #JustWrite. Sebagai acara tahunan, #JustWrite sebenarnya sudah dilaksanakan sejak 2012.

#LelangNulisNovel adalah program mingguan yang memberi kesempatan kepada peserta yang mendaftar via akun twitter @edi_akhiles (Edi AH Iyubenu) untuk mendapatkan bimbingan pengembangan cerita pendek menjadi novel hingga layak terbit.

Program keempat, #TimTentorMenulisAntarKotaAntarPropinsi, merupakan kegiatan bimbingan menulis yang dilaksanakan di sekolah atau komunitas yang mengundang Tim Diva Press. Buku Silabus Menulis Fiksi ini adalah panduan utamanya. Tim Diva secara gratis akan memberikan pelatihan penulisan fiksi. Untuk wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, 100% gratis. Di luar itu, Tim Diva hanya perlu biaya transportasi.

Keempat program Diva Press Group ini bagi saya memperlihatkan kepedulian penerbit untuk melakukan sesuatu yang sekiranya dapat mendorong semangat menulis pada khususnya di kalangan remaja. Tentu saja Diva memiliki kepentingan bahwa para penulis yang mungkin lahir dari kegiatan ini akan menerbitkan karyanya di Penerbit Diva Press Group. Tapi sejak awal Diva menyampaikan bahwa penulis alumni kegiatan Diva tidak terikat untuk harus menerbitkan karyanya di Diva Press Group.

Saya memberi penghargaan yang setinggi-tingginya atas penerbitan buku Silabus Menulis Fiksi yang menurut Edi AH Iyubenu dibagikan gratis dan keempat program yang dirancang Diva Press Group ini. Jika dibandingkan dengan penerbit lainnya, Diva Press Group, yang didirikan sejak tahun 2001, mungkin belum bisa dibilang penerbit yang sangat besar. Saya tahu persis bagaimana di awal-awal berdirinya Edi bekerja keras agar Diva dapat “bertahan hidup” di tengah persaingan bisnis perbukuan yang pada waktu itu cukup ketat. Beberapa penerbit di Yogyakarta seangkatan Diva kini sudah tak terdengar lagi kabarnya. Tapi Diva masih eksis.

Terlepas dari kekurangan yang mungkin masih ada, sekali lagi saya salut pada Diva yang sependek pengetahuan saya menjadi penerbit pertama yang meluncurkan sejumlah program untuk menyemarakkan literasi di kalangan remaja.

Setelah saya tamat membaca buku Silabus Menulis Fiksi kemarin sore, gagasan tentang kepedulian penerbit pada literasi ini terus menyerbu pikiran saya. Saya sempat mengutarakannya kepada Edi melalui akun twitter saya. Namun saya merasa perlu menuliskannya secara lebih utuh.

Saya percaya bahwa gagasan Edi dan Diva Press untuk merancang kegiatan ini bukan semata didorong oleh pertimbangan bisnis, yakni investasi jaringan penulis muda yang bisa saja di antara mereka suatu saat akan muncul sebagai penulis hebat. Saya mencoba memahami terobosan Edi dan Diva ini sebagai bagian dari sejarah hidup Edi dan Diva “bertahan hidup” di dunia kepenulisan dan penerbitan.

Pada rentang tahun sekitar 1996 hingga 2000-an, Edi AH Iyubenu dikenal sebagai penulis yang tak kenal menyerah. Salah seorang saudara sepupu saya, M. Faizi, yang cukup dekat dengan Edi AH Iyubenu kerap menyampaikan cerita bahwa ketika Edi baru kuliah di Yogyakarta pada pertengahan 1995, tulisannya ketika itu masih bisa dibilang belum layak terbit. “Edi bahkan saat itu menulis cerpen tanpa menggunakan paragraf. Dia bilang, ‘kan nanti redakturnya yang akan membuat paragraf,” tutur M. Faizi pada saya.

Tapi dia memberi kesaksian bahwa kerja keras Edi dalam mengasah kemampuan kepenulisannya memang luar biasa. Dengan mesin ketik manual, produktivitas Edi dalam menulis cerpen pada masa awal di Yogyakarta patut dicontoh. Menurut pengakuannya, waktu itu dia bisa menulis 2 hingga 5 cerpen dalam sehari. Salah satu yang cukup fenomenal adalah pada 13 November 1997, saat ulang tahunnya yang ke-20, Edi mencoba menulis cerpen nonstop di kamarnya. Menurut penuturan M. Faizi, Edi memang tidak berhasil memenuhi targetnya, yakni menulis 20 cerpen di hari ulang tahunnya yang ke-20. Tapi Edi di hari itu menulis belasan cerpen!

Perjuangan Edi dalam membangun penerbit, yakni Diva Press Group, juga tak kalah heroik. Dengan modal yang pas-pasan dan di tengah persaingan yang cukup ketat, pada akhirnya Diva bisa bertahan dan malah berkembang hingga saat ini menjadi salah satu penerbit yang cukup produktif.

Jadi, berangkat dari kerja keras dan perjuangan yang luar biasa di dunia kepenulisan dan penerbitan, Edi tampaknya punya semangat berbagi yang kuat. Jika ia kini bisa dikatakan telah meraih kesuksesan duniawi melalui dan dalam dunia literasi (perbukuan), saya melihat bahwa Edi melalui programnya ini ingin mempersembahkan sesuatu untuk jagad literasi dan remaja pada khususnya.

Saya membayangkan andai kata beberapa penerbit yang lain mengambil langkah serupa dengan merancang kegiatan yang membantu mendorong literasi, saya pikir generasi muda kita dan bangsa kita pada umumnya akan lebih sigap menghadapi tantangan era informasi.

Sekali lagi, salut untuk Edi dan Diva Press Group!

Read More..

Kamis, 04 April 2013

Dekor Ramah Lingkungan


Setelah saya memasang foto kegiatan Temu Guru Penulis di SMA 3 Annuqayah yang dilaksanakan 21 Maret lalu di sebuah grup Facebook, ada sebuah komentar menarik dari Ahmad Fawaid Sjadzili, seorang teman yang saat ini menjadi dosen di STAIN Pamekasan. Berbeda dengan komentar orang lain yang menyorot tema kegiatan atau narasumber yang hadir, Fawaid mengomentari dekor yang menjadi latar acara. Fawaid menulis bahwa ia menyukai kreativitas pembuat latar (dekor) yang mau bersabar dengan menggunting kertas dan menghindari cara-cara instan.

Memang, dari foto kegiatan tersebut terlihat bahwa dekor yang digunakan bukanlah spanduk dari plastik dengan huruf-huruf yang dicetak rapi dari program pengolah desain di komputer. Dekor berlatar kain biru dongker yang kemudian ditempeli kertas-kertas bertuliskan nama kegiatan itu dibuat secara manual oleh siswa.

Seingat saya, SMA 3 Annuqayah tidak pernah mengeluarkan biaya untuk membuat banner (spanduk) kegiatan yang menggunakan plastik dan dicetak dari desain komputer itu. Sejak saya menjabat sebagai kepala sekolah pada pertengahan 2010, saya memang menegaskan bahwa saya tidak suka dengan banner sekali pakai itu.

Selain biayanya relatif mahal, dekor menggunakan banner itu terasa mubazir karena hanya digunakan sekali. Lagi pula, dekor dengan cara manual (model lama) buat saya memberi kesempatan bagi pembuatnya untuk bersentuhan secara langsung dengan banyak benda, mulai dari gunting, kertas, lem, dan juga kain. Sedangkan desain berbasis komputer relatif terpusat pada komputer. Paling jauh, bila menggunakan komputer, perancangnya mencari bahan-bahan dari internet.



Sebenarnya tidak semua banner akan menjadi mubazir setelah digunakan di sebuah acara. Ada banner yang dibuat untuk kegiatan yang sifatnya rutin. Artinya, ia akan dipergunakan kembali pada kegiatan serupa di waktu yang berbeda. Untuk yang seperti ini, bagi saya tidak masalah membuat banner dengan bahan plastik. Atau, banner tersebut bisa saja dimanfaatkan untuk keperluan lain setelah digunakan pada acara yang dimaksud. Misalnya, digunakan sebagai latar sorot untuk LCD proyektor.

Pertengahan 2012 lalu, SMA 3 Annuqayah, misalnya, pernah menyelenggarakan bedah buku bekerja sama dengan salah satu unit perusahaan PT Mizan Pustaka, Bandung, dan Mizan menyediakan banner berbahan plastik dalam ukuran yang cukup lebar. Setelah kegiatan itu, kami memanfaatkan banner tersebut untuk kegiatan di luar ruangan yang membutuhkan latar sorot LCD proyektor.

Bagi sekolah yang memiliki dana besar, membuat banner berbahan plastik itu mungkin tidak masalah secara keuangan. Tapi bagi kami, sekolah yang dana kegiatannya cukup minim, sekian ratus ribu rupiah tampak akan jauh lebih bermanfaat untuk dibelanjakan buku bacaan untuk menambah koleksi perpustakaan atau bahan pengayaan referensi guru. Atau untuk membiayai kegiatan sekolah lainnya.

Terkadang dekor manual yang dibuat di SMA 3 Annuqayah menggunakan bahan-bahan yang mungkin bisa disebut sampah, seperti plastik bekas bungkus deterjen, atau juga koran bekas. Pada pertengahan 2009, saat memaparkan hasil proyek kegiatan lingkungan dalam kerangka School Climate Challenge Competition yang diadakan oleh British Council Indonesia, siswa SMA 3 Annuqayah membuat dekor dengan menggunakan sampah plastik. Demikian pula, pada kegiatan Kemah Lingkungan (2) yang diadakan oleh Pemulung Sampah Gaul (PSG) SMA 3 Annuqayah Juni 2012 lalu, siswa menggunakan sampah plastik sebagai bahan dekor.


Mengurangi penggunaan dekor yang sekali pakai pada dasarnya merupakan bagi dari upaya untuk mendorong siswa dan komunitas sekolah untuk lebih peka dalam menggunakan barang-barang keperluan sehari-hari. Secara tidak langsung siswa diajak berpikir tentang asal-muasal benda-benda yang dipergunakan dan ke mana selanjutnya benda-benda itu bergerak.

Dekor manual bagi saya menjadi pilihan karena sifatnya yang lebih ramah lingkungan. Lebih dari itu, ini juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai kepekaan dan sikap cinta lingkungan, yakni untuk menghemat penggunaan sumber daya alam, di tengah arah kehidupan yang kini semakin serba instan.

Read More..

Selasa, 02 April 2013

Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel


Setelah menerbitkan kumpulan tulisan terpilih selama saya belajar di Eropa—yang diberi judul 10 Bulan Pengalaman Eropa—secara mandiri tanpa label penerbit pada awal November 2012 lalu, saya tergoda untuk menghimpun tulisan-tulisan saya yang lain dan mencetaknya sebagai arsip pribadi.

Saya kemudian membuka berkas arsip tulisan saya, dan saya menemukan tulisan-tulisan bertema pendidikan yang cukup banyak. Ada yang berbentuk artikel. Ada pula yang seperti catatan harian. Saya kemudian memilah, menyusun urutan, menatanya secara perwajahan di komputer, dan mencetaknya secara POD (print on demand) untuk arsip pribadi.

Melihat wujud bukunya setelah selesai dicetak, saya kok jadi tertarik untuk mengajukan naskah kumpulan tulisan bertema pendidikan yang dalam versi POD saya beri judul Membangun Peradaban Melalui Pendidikan: Kumpulan Artikel dan Esai Pendidikan itu ke penerbit. Saya lalu berpikir soal penerbit yang cocok untuk kumpulan tulisan saya itu.

Singkatnya, pada pertengahan Desember 2012, naskah itu disetujui oleh Penerbit LKiS untuk diterbitkan. LKiS mengusulkan agar judul buku diubah karena terkesan terlalu serius. Saya juga punya pikiran yang sama. Maka saya lalu mengusulkan judul yang kemudian disetujui, yakni Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel.

Judul ini saya pikir dapat merangkum tiga persoalan utama yang termuat dalam 30 tulisan saya. Namun, untuk menegaskan, saya mencoba memperjelasnya dalam kata pengantar yang saya buat.

Berikut kata pengantar yang saya buat khusus untuk penerbitan buku Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel.

Pengantar Penulis

Setelah lebih enam tahun pulang kampung dan bergiat di dunia pendidikan, khususnya sekolah, saya menyaksikan banyak hal yang berubah baik secara langsung maupun tidak langsung dalam kehidupan siswa dan komunitas kependidikan pada umumnya di kampung saya. Rujukan perbandingan saya adalah pengalaman saya sendiri saat menempuh pendidikan dasar dan menengah di kampung halaman saya mulai pertengahan dekade 1980-an hingga tahun 1990-an.

Perubahan sosial di kampung saya telah banyak terjadi dalam rentang waktu belasan tahun. Saya masih ingat, awal 1996, telepon masuk ke desa saya dan sekitarnya. Sekitar delapan tahun kemudian, jaringan telepon seluler masuk. Tiga tahun setelah itu, jaringan internet mulai populer.

Revolusi teknologi informasi dan komunikasi seperti ini memang semakin meluas ke berbagai pelosok Indonesia beberapa tahun terakhir. Inilah era informasi dan globalisasi. Generasi tua, para pendidik, dan lembaga-lembaga masyarakat, termasuk sekolah, tampak kerepotan dan cukup gagap menghadapi berbagai bentuk perubahan dan dampak nyata dari derasnya arus informasi dan komunikasi.

Lembaga pendidikan, seperti pesantren (yang cukup populer di Madura) dan sekolah pada umumnya, menjadi harapan masyarakat untuk menyiapkan generasi yang mampu bertahan dan berkembang dalam situasi perubahan yang begitu dahsyat ini. Masyarakat Madura pada khususnya banyak menaruh harapan yang besar pada pesantren untuk membekali anak mereka dengan moral agama yang kuat. Akan tetapi, dalam pergulatan saya sehari-hari di lembaga pendidikan, termasuk pesantren, saya menyaksikan keakutan yang cenderung terus semakin menumpuk di dalam tubuh lembaga pendidikan itu sendiri.

Dari lingkungan pergaulan saya sehari-hari, saya lamat-lamat mendengar lembaga pendidikan yang katanya “menjual murid” demi mendapatkan kucuran dana dari pemerintah. Saya juga menemukan guru yang menggunakan sertifikat atau dokumen palsu untuk mendapatkan tunjangan profesi. Dokumen rencana pembelajaran yang dibuat beberapa guru di sekolah tampak hanya merupakan hasil salin-tempel. Berbagai perubahan di lingkungan pendidikan tampak terlambat diantisipasi. Di rapat-rapat guru dan sekolah, saya kadang menemukan sikap yang amat pragmatis dalam melihat masalah pendidikan. Untuk soal yang terakhir ini, saya kadang menangkap bahwa ini terjadi di antaranya karena arah kebijakan pengurus publik yang memang memaksakan cara pragmatis dan instan digunakan di sekolah.

Yang cukup mendasar, saya merasa cukup kesulitan untuk menemukan upaya-upaya pengambil kebijakan di sekolah atau pengurus publik untuk membawa arah pendidikan sebagai upaya antisipatif menghadapi tantangan zaman di masa depan.

Kurikulum bisa jadi memang telah berubah. Pada waktu saya dulu menjadi murid, saya mendengar istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Beberapa tahun yang lalu, ada istilah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Namun, di lapangan kenyataannya saya cukup sulit untuk menyaksikan perubahan yang cukup signifikan di bidang kurikulum, terutama terkait dengan visi antisipatif pendidikan terkait dengan persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan di masa mendatang. Beberapa tampak hanya berhenti sebagai jargon semata. Pengurus publik di jajaran pemerintahan saya tangkap kadang kesulitan untuk menjelaskan visi atau rencana strategis arah pendidikan di wilayah kewenangannya. Mungkin juga di tingkat satuan lembaga pendidikan hal yang bersifat strategis masih amat jarang dibicarakan—entah karena merasa tidak tertarik, tidak penting, tidak tahu, atau enggan berbuat sesuatu. Mungkin juga cara sebagian guru mengajar di ruang kelas pun secara mendasar belum banyak berubah—bisa jadi juga termasuk cara saya mengajar. Tampak bahwa iklim dinamis dan progresif masih agak sulit ditemukan di lingkungan pendidikan, khususnya dalam bentuk yang lebih terencana dan terpadu.

Keprihatinan semacam ini sebenarnya ada di benak banyak pihak. Saya sangat yakin bahwa dalam soal ini saya tidak sendiri. Di antara mereka, ada yang kemudian mencoba melakukan sesuatu di wilayah yang paling mungkin mereka lakukan, sesuai dengan besar cakupan lingkaran pengaruh mereka. Perjumpaan saya dengan beberapa guru di tingkat daerah dan regional menunjukkan hal itu. Demikian pula, pergaulan saya di milis Ikatan Guru Indonesia (IGI), sebuah organisasi guru yang banyak melakukan sesuatu untuk peningkatan profesionalitas guru dan mutu pendidikan pada umumnya, memperlihatkan banyak guru yang punya kegelisahan atas arah dan nasib dunia pendidikan Indonesia saat ini. Banyak di antara mereka yang dengan penuh ketulusan dan semangat berusaha melakukan sesuatu di tengah segala keterbatasan yang mereka miliki.

Bersentuhan secara langsung dengan berbagai gejala dan peristiwa di dunia pendidikan semacam ini beberapa tahun terakhir di sebuah kampung pedalaman Madura, saya bersyukur bahwa saya sempat membuat tulisan sebagai refleksi, meski mungkin sifatnya amatiran, atas berbagai hal yang saya temui itu. Catatan-catatan yang di antaranya cukup singkat itu beberapa waktu lalu sempat saya himpun sebagai dokumentasi pribadi. Saya pun kembali bersyukur saat Penerbit LKiS Yogyakarta tertarik untuk menerbitkan kumpulan naskah saya ini.

Secara tematik, buku ini dibagi dalam tiga bagian. Bagian pertama mendiskusikan visi dan hal-hal mendasar dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Beberapa tulisan mungkin memang membahas hal yang bersifat praktis. Tapi saya rasa ada muatan yang cukup mendasar yang diangkat di dalamnya. Bagian kedua mengulas literasi dan tantangan era informasi, termasuk pembelajaran bahasa. Bagian ketiga mengupas pendidikan lingkungan hidup di sekolah.

Ketiga tema ini di satu sisi menggambarkan tantangan sekaligus tuntutan terhadap dunia pendidikan yang menurut saya secara mendasar harus mampu menjawab tantangan zaman dan membawa arah pendidikan untuk semakin tersambung dengan kenyataan dan kebutuhan masyarakat—terutama mereka yang dipinggirkan dalam proses kehidupan sosial. Saya sering merasa sedih saat berpikir bahwa mungkin saja kegiatan sekolah dan kegiatan kependidikan yang lain justru bisa mengasingkan anak didik dari kenyataan dan akar kehidupannya. Dana, waktu, dan tenaga yang telah mereka keluarkan—sebagian dengan susah payah—pada akhirnya mungkin tidak dapat dimanfaatkan secara penuh untuk kepentingan mereka dan komunitas mereka sendiri.

Bagian yang membahas tentang pendidikan lingkungan merupakan refleksi saya setelah sekitar lima tahun mendampingi kegiatan peduli lingkungan di sekolah. Saya berkesimpulan bahwa jika diberi sentuhan visi yang mendalam, pendidikan lingkungan di sekolah membuka kesempatan bagi terhubungnya kegiatan kependidikan dengan isu-isu kontekstual—tidak hanya tentang perubahan iklim, tetapi juga soal keadilan, hak-hak warga, dan sebagainya.

Isu literasi bagi saya sangat penting diangkat karena hal mendasar dalam perubahan sosial kita saat ini adalah laju era informasi yang melahirkan sejumlah tantangan konkret bagi dunia pendidikan. Kemampuan mencerna informasi secara kritis, memilah dan mengolahnya secara tepat, sangatlah diperlukan. Penjajahan model baru sangat mungkin terjadi jika generasi muda kita tak dapat menggunakan perangkat teknologi informasi dan komunikasi dengan baik sehingga mereka mungkin akan cukup mudah digiring untuk kepentingan kelompok tertentu.

Pada tingkat yang lebih jauh, semangat literasi dapat membawa anak didik pada terbentuknya semangat pembelajar yang tak kenal ruang dan waktu. Sejauh ini, saya melihat sekolah kurang berhasil untuk membentuk jiwa pembelajar pada diri generasi muda. Salah satu tandanya, sekolah tampak gagal memberikan bekal keterampilan dan kebiasaan membaca dan menulis secara baik kepada anak didik.

Belajar di sekolah belakangan ini cenderung didorong untuk orientasi pragmatis—untuk mendapatkan nilai, naik kelas, lulus Ujian Nasional (UN). Caranya pun cenderung instan. Google dan bimbingan belajar (bimbel) tampak bisa menjadi simbol yang cukup tepat untuk menunjukkan problem pendidikan dan kegiatan kependidikan di sekolah saat ini. Google saat ini digunakan oleh siapa saja dan untuk apa saja. Sayangnya, guru, misalnya, kadang terlalu mengandalkan mesin pencari di internet yang paling populer itu untuk memperkaya bahan pengajarannya. Akibatnya, bahan yang dihimpun masih banyak berasal dari sumber yang dangkal. Saya pikir, mereka yang hampir sepenuhnya mengandalkan internet dan mesin pencari bagi saya tampak belum menjadi sosok pembelajar sejati.

Sedangkan tentang bimbingan belajar, saya teringat sebuah laporan penelitian Forum Kajian Sosial Humaniora (FKSH) Yogyakarta yang dimuat di Majalah Basis edisi Juli-Agustus 1997 tentang maraknya lembaga bimbingan tes untuk menyiapkan siswa lulusan SMA ikut seleksi masuk ke perguruan tinggi. Dalam tulisan yang berjudul “Bisnis Kecemasan” itu, diungkap beberapa hal dari fenomena lembaga bimbingan tes yang sekarang juga disebut dengan istilah bimbingan belajar itu. Di antaranya, fenomena itu dipandang menunjukkan kegagalan sekolah untuk memberi bekal kemampuan akademik yang cukup kepada anak didik untuk masuk ke jenjang pendidikan berikutnya. Pada titik ini, lembaga bimbingan tes itu tampak kental dengan orientasi pragmatis.

Kurang lebih, ini juga yang terjadi saat kecemasan anak didik harus datang lebih awal dengan adanya UN. Kecemasan menghadapi UN cenderung mendorong sekolah dan guru untuk memberikan model pembelajaran yang arahnya hanya bertujuan agar anak-anak didik bisa menjawab soal dengan baik—seperti yang tampak dalam kegiatan bimbingan belajar. Saya berjumpa dengan beberapa guru yang gelisah dengan kecenderungan ini. Ada yang merasa seperti terjebak pada dilema saat kebijakan pengurus publik cenderung menggiring guru untuk menggunakan model pragmatis ini, sedangkan dia memiliki gambaran ideal yang lain.

Persoalan dan tantangan dunia pendidikan semacam inilah yang menurut saya penting untuk terus direfleksikan oleh para pegiat kependidikan dan pengambil kebijakan. Penerbitan kumpulan tulisan ini di antaranya didorong oleh semangat saya untuk berbagi gagasan dan kepedulian tentang masalah-masalah dalam dunia pendidikan. Saya pikir, dengan berbagi, berbagai kekuatan masyarakat, baik perorangan maupun kelembagaan, dapat bergabung dan bersama-sama melakukan sesuatu untuk perubahan yang ujungnya adalah peningkatan mutu manusia dan kehidupan yang lebih beradab. Berbagi dan berefleksi ini menurut saya sangatlah penting untuk terus dilakukan baik secara perorangan maupun kelembagaan.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Penerbit LKiS Yogyakarta yang telah bersedia menerbitkan kumpulan tulisan ini. Saya juga berhutang budi kepada guru-guru saya yang penuh dengan ketulusan dan pengabdian, terutama yang memberikan pendidikan dan pengajaran di tingkat dasar, sehingga saya sampai saat ini bisa menulis dan berkarya. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada kedua orangtua yang selama ini dengan tulus terus memberikan dukungan dalam berbagai bentuk. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah menginspirasi saya dan menjadi guru secara tidak langsung bagi saya sehingga turut mendorong lahirnya tulisan-tulisan dalam buku ini. Kepada semuanya, semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik.

Kepada pembaca yang sudi membeli buku ini dan mencerna gagasan-gagasan saya, saya mengucapkan terima kasih. Dari pembaca, saya sangat mengharapkan kritik dan masukan agar gagasan-gagasan saya dalam buku ini pada khususnya dapat lebih teruji, bersinergi, bahkan mungkin mewujud lebih nyata, dan terus berkembang.

Semoga perjumpaan gagasan ini dapat melahirkan sesuatu yang lebih baik untuk kehidupan kita dan generasi mendatang. Yang paling penting, semoga buku ini bernilai di sisi Allah swt.

Wa mâ tawfîq illâ bi l-Lâh.

Guluk-Guluk, 26 Januari 2013

M. Mushthafa

Read More..

Kamis, 28 Maret 2013

Guru Annuqayah Merancang Buku Tafsir Juz ‘Amma



Menindaklanjuti Temu Guru Penulis di SMA 3 Annuqayah 21 Maret lalu yang merupakan forum diskusi guru untuk menyemarakkan semangat membaca dan menulis, tadi sore 13 guru berkumpul di SMA 3 Annuqayah. Mereka berasal dari beberapa sekolah di Annuqayah, yakni SMA 3 Annuqayah, Madrasah Aliyah 1 Annuqayah, dan Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Putri. Beberapa guru yang semula berniat hadir, termasuk dari beberapa sekolah yang lain, ternyata izin karena beberapa hal.

Pertemuan ini merupakan pertemuan pertama yang dimaksudkan sebagai langkah pertama untuk menebitkan buku karya bersama guru Annuqayah. Kepada guru-guru Annuqayah, saya menawarkan untuk menulis buku yang bertajuk “Tafsir Juz ‘Amma”. Setelah beberapa hari sebelumnya saya berjumpa dan berdiskusi dengan beberapa guru Annuqayah yang kira-kira berminat untuk bergabung dalam proyek ini, saya menyusun kerangka acuan dan melampirkan contoh tulisan saya yang kira-kira serupa dengan model tulisan yang akan disusun nanti. Alhamdulillah banyak guru yang berminat. Tercatat 20 guru yang menyatakan siap bergabung dalam proyek penerbitan buku karya bersama ini.

Saya menawarkan tafsir juz ‘amma atas beberapa pertimbangan. Pertama, belajar menulis yang mudah itu adalah jika kerangka tulisannya sudah cukup jelas. Menurut saya, dengan target menulis karangan yang kira-kira bertujuan untuk memperkaya pemahaman pembaca pada ayat atau sekelompok ayat tertentu dengan tema yang sudah ditentukan, maka prosesnya relatif akan lebih mudah. Kedua, saya melihat guru Annuqayah banyak yang cukup akrab dengan pustaka kitab klasik karya ulama-ulama terdahulu, termasuk kitab tafsir. Jadi, guru-guru ini sudah punya jalan masuk yang cukup mulus untuk mengisi kerangka karangan yang sudah tersedia itu.

Selain dua pertimbangan ini, saya sebenarnya juga punya pertimbangan subyektif. SMA 3 Annuqayah membutuhkan bahan pengayaan pelajaran al-Qur’an khusus untuk juz ‘amma, karena SMA 3 Annuqayah sejak 2008 mencanangkan fokus pembelajaran al-Qur’an pada juz terakhir tersebut. Jadi, proyek ini secara tidak langsung juga akan membantu SMA 3 Annuqayah untuk memenuhi kebutuhannya itu.

Pertimbangan-pertimbangan di atas sebenarnya muncul setelah saya terinspirasi oleh faktor yang lain, yakni keterlibatan saya dalam sebuah proyek penerbitan al-Qur’an yang digagas oleh Penerbit Al-Mizan, salah satu anak perusahaan PT Mizan Pustaka, Bandung, yang bergerak secara khusus dalam penerbitan al-Qur’an. Setelah mengerjakan pesanan tulisan untuk proyek yang saya kerjakan selama hampir dua bulan itu, saya merasa bahwa menulis esai atau artikel pengayaan untuk ayat al-Qur’an akan cukup mudah dilakukan oleh guru-guru pesantren pada umumnya.

Diskusi tadi sore dimulai pukul 14.00 WIB, telat 30 menit dari rencana semula karena para peserta terhalang oleh hujan deras. Saya memulai pertemuan tadi dengan memaparkan kerangka acuan yang telah saya buat, mulai dari latar belakang, tujuan, dan desain buku yang saya tawarkan. Diskusi cukup menghangat saat kami mendiskusikan desain buku yang akan ditulis. Setelah beberapa guru mengemukakan pendapatnya, kami sepakat bahwa buku yang akan disusun ini sifatnya adalah pengayaan pembelajaran yang sekaligus bisa dinikmati oleh pembaca umum. Para guru bersepakat untuk menggunakan rujukan utama kitab tafsir klasik ditambah dengan pustaka masa kini. Adapun panjang tulisan tiap judul disepakati paling sedikit 400 kata.

Diskusi menjadi panjang saat masuk pada tahap penentuan tema dan kelompok ayat yang akan dibahas. Akhirnya, kami membagi juz ‘amma dalam enam bagian yang masing-masing bagian ditugaskan kepada 2-3 orang guru untuk mengangkat tema dan menentukan kelompok ayatnya. Guru yang tidak hadir tapi bersedia bergabung juga akan diminta untuk memilih tema yang akan ditulis nanti.

Rencananya, jika nanti sudah terkumpul semua, kami akan mendiskusikan dan memilih tema-tema yang telah ditentukan oleh guru yang ditunjuk. Kami akan memilih tema-tema apa saja yang nantinya akan ditulis untuk buku ini. Kami sepakat untuk menyelesaikan pemilihan tema ini di kelompok masing-masing pada tanggal 8 April, dan 11 April kami akan mendiskusikannya bersama-sama. Setelah itu, tema terpilih akan dibagikan kepada para guru yang bersedia menulis.

Sampai pada titik ini, rasanya kami optimis bahwa karya bersama para guru Annuqayah ini telah menemukan jalan yang cukup lapang. Di bagian akhir, saya menambahkan sedikit dorongan kepada para guru yang hadir untuk mencoba mengembangkan proyek penulisan buku yang dilakukan secara pribadi. Saya memberi contoh kemungkinan model buku yang bisa ditulis oleh para guru yang bahan dasarnya berangkat dari al-Qur’an. Jika kemampuan membaca bahan-bahan rujukan utama sudah dimiliki, para guru ini tinggal maju beberapa langkah saja untuk bisa menerbitkan buku karya sendiri. Dan dengan sering berjumpa dan saling memberi semangat, saya pikir kekuatan kami bisa tetap terjaga dan mungkin akan bertambah.

Semoga Allah meridai dan memberi kami kemudahan untuk niat baik ini.

Read More..

Rabu, 27 Maret 2013

Menyemarakkan Semangat Membaca dan Menulis di Sekolah


Perhatian lembaga pendidikan pada kemampuan membaca dan menulis tampak masih kurang. Tidak banyak kebijakan yang dibuat untuk mendukung pada penguatan kedua hal tersebut. Membaca dan menulis tidak dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting. Di antara fakta yang dapat membuktikan hal ini adalah lemahnya dukungan sekolah pada perpustakaan dan penerbitan. Guru-gurunya pun tidak didorong untuk rajin membaca dan atau menulis.

Dengan keadaan seperti ini, saya bersama beberapa rekan guru yang menaruh perhatian pada membaca dan menulis merancang kegiatan yang dimaksudkan untuk menyemarakkan semangat membaca dan menulis di sekolah. Kami menamakannya Gerakan Literasi.

Gerakan Literasi ini sudah dimulai pada 14 Maret lalu. Bersama K. A. Dardiri Zubairi dan Asy’ari Khatib, saya berbincang di hadapan guru-guru belasan sekolah di wilayah timur Sumenep. Acara yang diberi judul Temu Guru Penulis ini dilaksanakan di Madrasah Aliyah Nasy’atul Muta’allimin Gapura yang dikepalai oleh Kiai Dardiri. Diskusi yang berlangsung hampir 3 jam ini berlangsung penuh semangat.

Momentum Gerakan Literasi ini secara kebetulan juga bersamaan dengan baru saja diterbitkannya buku yang ditulis oleh kami bertiga yang menjadi narasumber di Gapura. Kiai Dardiri baru saja menerbitkan buku Rahasia Perempuan Madura: Esai-Esai Remeh Seputar Kebudayaan Madura (Pena Pesantren, 2013), Pak Asy’ari belum lama menerbitkan Tobat Itu Nikmat (Zaman, 2013), dan saya sendiri baru saja menerbitkan buku di LKiS, berjudul Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel.

Kegiatan di Gapura menyepakati beberapa tindak lanjut, seperti pelatihan menulis untuk guru, pembuatan media komunikasi di internet, dan sebagainya. Yang tak kalah penting, forum menyadari akan pentingnya berjejaring.

Dalam kerangka membangun langkah bersama, kegiatan serupa kemudian juga dilaksanakan di SMA 3 Annuqayah sepekan kemudian, yakni pada hari Kamis (21/3) yang lalu. Dalam acara ini, hadir pula K. M. Faizi, pengasuh muda Annuqayah yang sudah menerbitkan banyak buku. Jika kegiatan di Gapura menghadirkan guru-guru dari wilayah timur Sumenep, dalam acara ini guru-guru yang diundang berasal dari sekolah-sekolah di wilayah barat Sumenep, yakni meliputi Kecamatan Guluk-Guluk, Ganding, dan Pragaan. Hadir pula beberapa guru dari Kecamatan Bluto dan Rubaru. Semuanya berjumlah sekitar 100 orang.

Sebelum diskusi dimulai, sambil menunggu peserta, mulai pukul 8.30 WIB diputar film Science and Islam, sebuah film dokumenter produksi BBC (2009) yang memaparkan cikal bakal kemajuan peradaban Islam abad pertengahan.

Pukul 9.40 WIB, diskusi dimulai. Setelah saya memberi pengantar yang menjelaskan tentang latar belakang dan tujuan kegiatan ini, Asy’ari Khatib memaparkan pengalamannya bergelut dengan dunia buku dan kepenulisan. Selain sering menulis puisi, dia telah banyak menerjemahkan buku-buku dari bahasa Arab.

Pak Asy’ari menuturkan bahwa dalam pandangan masyarakat awam, membaca dan menulis itu dianggap bukan pekerjaan—dipandang tidak bernilai. Guru yang kini tinggal di Pekamban, Pragaan, itu menceritakan pengalamannya di lingkungan keluarganya dalam menilai kegiatan membaca dan menulis. Meski semula dipandang dengan kurang simpatik, namun kini dia berhasil menunjukkan bahwa menulis dapat menghasilkan uang. Lebih dari itu, dia menyampaikan pengalamannya dalam menerjemahkan sejumlah buku yang mengangkat tema kehidupan Nabi Muhammad saw. yang memberinya banyak hikmah terutama yang bersifat spiritual.

Setelah Pak Asy’ari, giliran Kiai Faizi yang menyampaikan pemaparan. Kiai muda yang pada tahun 2011 diundang ke Berlin untuk membacakan puisi ini berkisah tentang beberapa eksprimen kepenulisan di sekolah. Sekitar delapan tahun yang lalu, dia pernah mendorong dua siswa Madrasah Tsanawiyah 3 Annuqayah untuk menulis sampai akhirnya diterbitkan oleh sebuah penerbit di Yogyakarta. Untuk mendorong semangat membaca dan menulis, dia pernah mengadakan lomba meresensi buku di perpustakan sekolah. Pemenangnya diberi hadiah buku yang dibelinya dari buku-buku obral di Yogyakarta.

Selain itu, Kiai Faizi juga bercerita tentang proses kreatif menulis. Dia menyampaikan bahwa penting sekali untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang tak biasa. Maksudnya, dengan membebaskan imajinasi sehingga ide yang muncul menjadi menarik. Dia memberi contoh kreativitas pembuat film Tom & Jerry yang ide-idenya kaya dan melabrak logika.

Kiai Faizi juga memaparkan pengalamannya dalam menerjemah buku dan menulis buku anak. Dalam kesempatan ini, dia juga membawa contoh buku-buku yang diterbitkannya serta buku karya murid-murid yang lahir dari proses pendampingan yang dilakukannya.

Sesudah Kiai Faizi, Kiai Dardiri mengisahkan pengalaman menulisnya, khususnya di media blog. Dia mulai membuat blog sejak tahun 2009. Sejak itu, dia berusaha menulis dua tema utama, yakni kebudayaan Madura serta keluarga dan pendidikan. Khusus tentang kebudayaan Madura, dia melihat bahwa banyak hal menarik di Madura yang belum diangkat ke permukaan, seperti tentang memelihara ayam, kebiasaan merokok dan minum kopi, naik haji, dan sebagainya. Hal-hal tersebut dia pikir akan dapat memperkenalkan kebudayaan Madura yang penuh nilai-nilai menarik kepada khalayak lebih luas. Beberapa tulisan tentang kebudayaan Madura di blognya itulah yang kemudian baru saja diterbitkan menjadi buku.

Selanjutnya, saya berusaha merangkum pemaparan ketiga narasumber dengan memberikan gambaran betapa nilai membaca dan menulis ini sangat penting dalam mendukung proses pendidikan. Membaca dan menulis bisa menjadi penyelamat dalam keterbatasan sistem dan fasilitas pendidikan yang ada. Saya menggambarkan betapa potensi membaca dan menulis bisa memberi nilai lebih bagi proses pendidikan. Saya juga mencoba menampilkan beberapa upaya yang telah dilakukan SMA 3 Annuqayah untuk menyemarakkan semangat membaca dan menulis di sekolah, seperti program Perpustakaan Masuk Kelas, dan sebagainya.


Dalam sesi tanya-jawab, banyak sekali guru yang mengajukan pertanyaan. Namun, karena keterbatasan waktu, pertanyaan dan tanggapan hanya diberikan kepada empat penanya. Setelah ditanggapi, sesi dilanjutkan dengan rencana tindak lanjut. Peserta dari Rubaru, Raudlatun Odax, meminta narasumber untuk bersedia menghadiri kegiatan serupa di sekolah di Rubaru. Peserta juga menyarankan untuk mengadakan pertemuan rutin di antara guru-guru untuk berbagi pengalaman membaca sambil belajar menulis. Forum juga merekomendasikan agar sekolah-sekolah yang ada berjejaring, termasuk dengan jaringan guru di wilayah timur Sumenep.

Kegiatan ini diakhiri pada pukul 13.00 WIB. Sebelum ditutup, beberapa peserta mendapatkan buku gratis dari narasumber. Selain itu, 30 perwakilan lembaga yang hadir masing-masing mendapatkan 10 eksemplar buku saya yang berjudul 10 Bulan Pengalaman Eropa untuk koleksi perpustakaannya masing-masing. Ada 383 judul yang dibagikan dalam acara ini. (Di Gapura, saya membagikan 296 buku yang sama kepada peserta dan perwakilan sekolah).

Pembagian buku gratis ini terlaksana atas dukungan Satria Dharma, ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI), yang mengganti biaya cetak buku yang dibagikan tersebut. Selain itu, Pak Satria, yang punya semangat luar biasa untuk mendorong literasi di sekolah, juga membantu pendanaan kegiatan ini, baik kegiatan di MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura maupun di SMA 3 Annuqayah. Terima kasih, Pak Satria. Jazakumullah khayral jaza’. Semoga langkah ini akan dapat memberikan hasil bagi peningkatan mutu pendidikan kita semua.

Read More..

Minggu, 17 Maret 2013

Menjadi Kepala Sekolah yang Cakap



Sejak diangkat menjadi kepala sekolah pada pertengahan 2010 yang lalu, saya belum pernah mendapatkan arahan atau pelatihan secara khusus yang berkaitan dengan kecakapan (kompetensi) kepala sekolah. Secara lebih terperinci, saya tidak tahu persis tugas-tugas sebagai kepala sekolah. Sementara itu, latar belakang atau riwayat pendidikan saya bukan dari jurusan kependidikan.

Namun bukan berarti saya bekerja tanpa arahan sama sekali. Di tahun pertama, bersama pengurus sekolah, saya mencoba menegaskan tata kerja struktur pengurus sekolah yang memang sudah ada. Butir-butir dalam tata kerja ini dibuat lebih jelas dan ditegaskan maksud serta cakupan pengertiannya.

Melihat jauh ke belakang, di tahun 2008 saya sebenarnya pernah mengikuti pelatihan untuk kepala sekolah yang diadakan oleh Teacher Institute Sampoerna Foundation, Jakarta. Kebetulan pada waktu itu Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, sedang menjalin kerja sama dengan Sampoerna Foundation untuk peningkatan mutu madrasah, dan saya bekerja sebagai petugas setempat di Annuqayah yang membantu mengelola kegiatan dalam kerja sama tersebut. Jadi, meski waktu itu saya bukan kepala sekolah, saya juga mengikuti kegiatan pelatihan kepala sekolah itu.

Silabus kegiatannya meliputi beberapa tema, di antaranya: kepemimpinan, pengembangan visi dan misi sekolah, pengembangan kebijakan, pengelolaan keuangan, dan sebagainya.

Namun kegiatan tersebut bagi saya terasa kurang secara jelas memberikan gambaran tugas dan kecakapan yang harus dimiliki seorang kepala sekolah. Mungkin kesan kurang jelas ini saya dapatkan karena waktu itu saya sendiri belum menjadi kepala sekolah.

Karena itu, ketika di pertengahan Januari lalu saya mendapatkan informasi bahwa Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan (Pusbang Tendik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI akan merekrut tim penulis Bahan Pembelajaran Utama (BPU) untuk pengembangan keprofesian berkelanjutan kepala sekolah, saya seperti menemukan sesuatu yang saya tunggu-tunggu. Ini kesempatan untuk belajar tentang bagaimana menjadi kepala sekolah “yang benar” dalam sudut pandang yang lebih utuh. Tambahan lagi, ini juga kesempatan untuk terlibat dalam sebuah tim kerja yang akan berperan cukup penting di tingkat nasional.

Singkat cerita, pertengahan Februari saya mendapatkan kabar bahwa saya lolos seleksi masuk sebagai salah satu anggota tim penulisan Bahan Pembelajaran Utama (BPU) untuk pengembangan keprofesian berkelanjutan kepala sekolah tersebut.

Lokakarya Penulisan Bahan Pembelajaran Utama (BPU) untuk pengembangan keprofesian berkelanjutan kepala sekolah dilaksanakan selama 5 hari di Hotel Grand Mercure, Jakarta, tepatnya pada tanggal 4-8 Maret yang lalu. Ada sekitar 100 anggota tim yang hadir pada kegiatan ini.

Kenapa anggota timnya bisa banyak sekali?

BPU pengembangan profesi keberlanjutan kepala sekolah dibuat dengan bertitik tolak pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Dalam peraturan tersebut, disebutkan ada 33 kecakapan yang harus dimiliki oleh kepala sekolah yang meliputi lima dimensi, yakni kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial. Nah, BPU yang disusun ini menargetkan untuk secara berkelanjutan memberi bekal semua kecakapan tersebut kepada kepala sekolah.

Berbeda dengan modul, BPU ini menggunakan pendekatan in-on-in dan berbasis kegiatan. Pendekatan in-on-in maksudnya adalah rancangan kegiatan yang terdiri dari tiga tahapan. Tahap pertama, in service learning (disingkat in-1), kepala sekolah mendapatkan pelatihan awal untuk bekal kecakapan tertentu. Selanjutnya, di tahapan on the job learning (disingkat on), kepala sekolah diberi tugas belajar mandiri untuk melakukan sesuatu di sekolahnya terkait kecakapan tertentu tersebut. Di tahapan ketiga, in service learning (disingkat in-2), kepala sekolah kembali berkumpul untuk berbagi pengalaman dan mengevaluasi atas apa yang sudah dilakukan pada tahap on the job learning.

Tim penyusun BPU dari Pusbang Tendik yang bekerja sama dengan Australia’s Education Partnership with Indonesia (AEPI), School System and Quality (SSQ)-AusAID, telah memetakan ketiga puluh tiga kecakapan tersebut dengan juga mempertimbangkan 8 Standar Nasional Pendidikan. Dalam peta yang dibuat itu, dirumuskan ada tiga level kecakapan kepala sekolah yakni pemula, berpengalaman, dan mahir. Di level pemula, kecakapan yang dimasukkan sifatnya mendasar. Maksudnya, kecakapan yang menjadi syarat utama kepala sekolah untuk dapat melaksanakan tugas dasarnya. Di level berpengalaman, kecakapannya sudah lebih rumit karena beberapa merupakan gabungan dari sejumlah butir kecakapan yang ada dalam Permendiknas 13/2007. Di level mahir, kecakapannya lebih bersifat pengembangan tingkat lanjut.

Secara kasar, dari ketiga level ini, ada 24 BPU yang akan disusun untuk masing-masing jenjang pendidikan. Padahal, BPU ini akan dibuat untuk jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK. Artinya, target kasarnya nanti ada sekitar 96 BPU.

Sebenarnya, Pusbang Tendik sudah memiliki BPU tingkat SD/MI untuk level 1, 2, dan 3. BPU tingkat SD inilah yang kemudian dikaji dan dikembangkan untuk tingkat SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK. Sekitar seratus anggota tim yang diundang kemudian dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang.

Saya kebagian BPU Kewirausahaan. BPU Kewirausahaan ini termasuk dalam kelompok BPU level 2. Anggota tim BPU Kewirausahaan ini adalah Drs. Achmad Ghozin, M.Pd. (pengawas TK/SD pada Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh), Drs. Sunnaidi Solihin, M.M. (Kepala SMK Yapentob Toboali, Kab. Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung), Ahmad Fadloli, M.Pd. (Kepala SMP Negeri 7 Karawang Barat, Karawang, Jawa Barat), dan saya sendiri.

Semua tim bekerja mengikuti arahan dari panitia dengan runtutan, alokasi waktu, dan pelaporan kemajuan yang terus dipantau. Alur pertama adalah mencermati BPU jenjang SD/MI dengan membuat ringkasannya dalam bentuk tabel. Kemudian masing-masing tim memberikan rekomendasi atas BPU SD tersebut. Rekomendasi di sini bisa dibilang sama dengan kerangka baru untuk BPU yang akan disusun. Pada tahapan ini diskusi di tim terasa cukup serius. Argumen bertaburan dan menghangatkan ruangan yang cukup dingin itu.

Setelah rekomendasi selesai dibuat, tim diminta untuk memasukkan kerangka yang sudah disusun ke dalam template yang telah disediakan panitia untuk kemudian dikembangkan sebagai draft BPU yang dikumpulkan di acara penutupan lokakarya.

Dalam proses penyusunan, tim BPU Kewirausahaan terbilang perlu bekerja lebih keras. Pasalnya, menurut salah seorang peserta yang pernah terlibat dalam proses penyusunan BPU SD/MI, BPU Kewirausahaan termasuk BPU yang paling banyak disorot karena mutunya di bawah rata-rata dibandingkan dengan BPU lainnya. Jadinya, tim BPU Kewirausahaan memang sejak awal sudah merasa tertantang untuk bekerja sebaik mungkin.

Hari Jum’at tanggal 8 Maret sekitar pukul 10.00 WIB, lokakarya ditutup. Berkas BPU dari semua tim dikumpulkan untuk kemudian dievaluasi oleh tim Pusbang Tendik dan SSQ. Alhamdulillah, BPU Kewirausahaan dengan segala keterbatasan akhirnya selesai meski anggota tim memang merasa belum puas. Ada beberapa hal yang belum tuntas. Akan tetapi, karena keterbatasan waktu bagaimanapun naskah BPU harus dikumpulkan.

Perjalanan BPU ini masih panjang. Menurut Pusbang Tendik, sebagaimana disampaikan dalam acara penutupan, dalam satu atau dua bulan ini Pusbang Tendik akan menyelenggarakan lokakarya lanjutan. Namun tidak semua peserta akan diundang. Pusbang Tendik terlebih dahulu masih akan melihat laporan hasil kerja seluruh tim dan laporan pemantauan kerja seluruh peserta selama lokakarya kemarin.

Ya, perjalanan BPU masih panjang untuk benar-benar selesai dan digunakan dalam kegiatan pelatihan peningkatan kecakapan kepala sekolah. Setelah BPU ini selesai disusun, menurut Pusbang Tendik BPU akan diujicobakan di beberapa daerah terlebih dahulu dan dimintakan masukan dari para ahli pendidikan. Baru setelah melewati proses ini, maka BPU secara definitif dianggap selesai, siap dipergunakan, dan diperbanyak sesuai kebutuhan.

Banyak hal baru yang saya peroleh dari kegiatan ini. Jika mau disebutkan, ada tiga manfaat pokok yang saya dapatkan. Pertama, sekarang saya punya pemahaman yang lebih utuh tentang apa yang disebut kepala sekolah yang cakap (kompeten). Dan kecakapan tersebut sudah dipetakan secara baik sehingga dapat lebih mudah dipahami. Memang daftar kecakapan dan pemetaannya itu tidak bersifat statis. Masih terbuka kemungkinan untuk menambahkan bentuk kecakapan yang baru yang belum termuat dalam dokumen Permendiknas 13/2007. Namun daftar kecakapan yang ada saya pikir sudah bagus.

Kedua, saya punya pengalaman baru dalam menyusun buku yang mirip dengan modul, atau buku yang akan dipergunakan untuk pelatihan. Dengan pendekatan in-on-in untuk membekali kepala sekolah dengan sejumlah kecakapan yang telah dirumuskan, model buku yang disusun tentu tak semata menuntut keluasan wawasan dan penguasaan teori yang memadai. Tim penulis dituntut untuk dapat merangkai sejumlah kegiatan (dalam kerangka pendekatan in-on-in) dengan target penguasaan kecakapan tertentu.

Sedangkan manfaat ketiga, melalui kegiatan lokakarya ini saya berjumpa dan berkenalan dengan para pegiat pendidikan yang memiliki latar belakang bermacam-macam. Ada kepala sekolah, pengawas, dosen, pejabat Kemendikbud, penulis, dan sebagainya. Dengan kata lain, kegiatan ini telah memperlebar jaringan kependidikan saya.

Semoga kegiatan ini dapat memberi manfaat kepada saya, dan yang terpenting kegiatan ini dapat terus berlanjut sehingga tujuan untuk meningkatkan mutu kepala sekolah dapat terwujud. Jika lembaga-lembaga pendidikan di negeri ini dikelola oleh kepala sekolah yang baik, saya pikir kita bisa punya harapan yang lebih besar untuk perbaikan mutu kehidupan bangsa ini di hari-hari yang akan datang.

Read More..