Judul buku: Istana Kedua
Penulis: Asma Nadia
Penerbit: Gramedia, Jakarta
Cetakan: Pertama, Agustus 2007
Tebal: 248 halaman
Beberapa bulan terakhir ini, di beberapa koran nasional terjadi perdebatan yang cukup sengit dan panas tentang kecenderungan beberapa sastrawan dalam merepresentasikan perempuan dan seksualitas dalam karya-karya mereka. Ada kalangan yang berdiri di titik ekstrem: menghujat atau membela, dan ada pula yang berusaha menengahi. Karya sastra yang kental dengan tema seksualitas pada tingkat tertentu identik dengan perempuan penulis yang melahirkan karya tersebut.
Polemik tersebut, hingga tingkat tertentu, berpeluang untuk mengabaikan kreativitas dan pergulatan perempuan penulis lainnya yang juga melahirkan karya-karya sastra. Jika sastra bertema seksualitas perempuan oleh beberapa kalangan dipandang sebagai karya yang bernuansa pemberontakan atas pengekangan seksualitas perempuan dalam lingkungan budaya patriarki, maka sebenarnya para perempuan penulis memiliki caranya masing-masing untuk menunjukkan “perlawanannya” terhadap konstruksi budaya yang melingkupinya.
Contohnya bisa ditemukan dalam novel terbaru karya Asma Nadia ini. Dalam novel ini, Asma mengangkat tema poligami dengan memberi penekanan pada segi nasib dan pergulatan perempuan di ruang keluarga.
Kisah dalam novel ini berpusat pada kehidupan sepasang suami istri yang hidup berbahagia, Andika Prasetya dan Arini. Keduanya telah menikah selama sepuluh tahun dan dikaruniai tiga orang anak. Alur cerita dibuka dengan kegundahan Arini. Secara kebetulan ia menemukan informasi mencurigakan yang mengantarkannya pada sebuah nomor telepon. Ketika nomor itu dihubungi, di ujung telepon terdengar suara perempuan yang langsung memperkenalkan diri sebagai “Nyonya Prasetya”.
Kegundahan Arini, yang seorang penulis, dalam novel ini diperkuat oleh guratan nasib yang dialami Lia, teman kosnya ketika kuliah dulu. Dalam sebuah reuni kecil-kecilan, Arini terkejut begitu tahu bahwa Lia telah cerai dengan Benny, suaminya yang mantan aktivis kampus. Menurut Lia, ia menemukan suaminya tidur dengan sekretarisnya di rumah mereka.
Arini menjadi semakin sadar, bahwa laki-laki itu cukup mudah berpaling ke perempuan lain—sesuatu yang membuatnya tak habis mengerti. Saat mencoba berintrospeksi, Arini berkesimpulan bahwa dirinya sudah cukup berbakti kepada suaminya dan memberikan semua yang ia punya. Tapi mengapa diam-diam suaminya membangun istana kedua tanpa sepengetahuan dirinya?
Selain Arini, ada tokoh kunci lain dalam novel ini, yang kemudian diketahui sebagai “Nyonya Prasetya” itu. Ia adalah Mei Rose, seorang gadis berdarah keturunan yang menjalani hidup memilukan bersama tantenya. Di tengah upayanya untuk merajut kehidupannya secara mandiri, Mei beberapa kali ditipu mentah-mentah oleh beberapa orang lelaki, yang salah satunya sampai membuatnya hamil. Dalam rasa putus asanya, ia mencoba bunuh diri. Namun nasib berkata lain. Pada saat kritis itulah Mei bertemu dengan Pras, yang menolongnya dan kemudian mengantarkannya pada mahligai pernikahan.
Kisah dalam novel ini berakhir dengan pertemuan Arini dan Mei. Ada dialog tajam antara keduanya, yang cukup menghentak kesadaran Arini. Mei menggugat Arini, agar Arini bisa maklum dengan nasibnya. Mei mengingatkan bahwa Arini telah mendapatkan banyak hal yang patut disyukuri: orangtua, suami yang baik, anak-anak yang sehat, karier kepenulisan, segalanya. Lalu Mei bercerita tentang kemalangannya, bahwa hal baik yang pernah terjadi pada hidupnya hanyalah kehadiran Pras. Mei menuntut permakluman.
Di halaman-halaman akhir, digambarkan bagaimana perasaan Arini yang sepertinya bisa memberi permakluman untuk Pras dan Mei. Dalam bagian terakhir, digambarkan bagaimana masa depan anak-anaknya menjadi penguat tersendiri bagi Arini untuk menerima garis hidupnya itu.
Dalam novel ini, banyak bagian yang memuat gugatan kritis terhadap praktik poligami. Ada bagian yang mencoba menelanjangi dalih kaum laki-laki yang beralasan poligami dalam rangka mengikuti sunah Nabi, sementara dalam praktiknya mereka kurang menghargai istri pertama dan anak-anaknya. Lagi pula, mengapa teladan kehidupan Nabi yang dicontoh adalah episode poligami Nabi, padahal Nabi menjalin rumah tangga hanya bersama seorang istri, Khadijah, selama 28 tahun? Kaum lelaki kadang juga berdalih menikahi istri keduanya untuk alasan menolong, dan demi mendidik istri pertama mereka untuk belajar ikhlas dan mendapatkan tiket yang semakin mudah menuju surga!
Akan tetapi, berbagai gugatan atas poligami yang diangkat Asma dalam novel ini menjadi agak dilematis. Alur novel ini pada akhirnya memang seperti memberi permakluman untuk pilihan poligami Pras—dan Arini juga menerimanya. Mei yang mualaf; Mei yang tak punya siapa-siapa; Mei yang memilukan; semuanya seperti dibuat sebagai alasan untuk memaafkan kasus poligami Pras. Alur dalam novel ini seperti hendak mengatakan bahwa kasus poligami Pras adalah “aturan main yang ditetapkan Tuhan”, atau sebuah “takdir”. Mungkin dapat dikatakan bahwa sepertinya Asma ingin mengantarkan akhir kisah ini dalam sebuah happy ending, dengan plot yang diatur sedemikian rupa. Meski arahnya cenderung demikian, dalam novel ini kita dapat merasakan bahwa Asma juga merasa wajib memberi catatan-catatan kritis atas praktik poligami yang ada selama ini.
Dari sini pembaca dapat memahami dan membaca secara implisit “batas-batas wacana” yang hendak ditegaskan Asma dalam masalah poligami ini. Seperti juga di salah satu bagian novel ini yang menggambarkan pengandaian Arini yang merasa jijik bila berhubungan badan dengan suaminya—karena mengetahui suaminya yang berpoligami—tetapi akhirnya Arini tak bisa menggugat lebih jauh karena ada teks hadis yang menyatakan bahwa Allah dan malaikat mengutuk istri yang menolak suaminya dalam masalah itu.
Banyak hal lain yang bisa digali dan didiskusikan lebih lanjut dari novel yang ditulis oleh penulis berbakat yang saat ini menjadi CEO Lingkar Pena Publishing House ini. Terlepas dari pro dan kontra masalah poligami dan “pesan” yang berusaha disampaikan, novel ini telah memperkaya perspektif perempuan dalam membaca masalah poligami. Dan itu menegaskan bahwa perempuan penulis di Indonesia tak hanya bisa menggugat budaya patriarki dengan mengeksplorasi tema seksualitas, tetapi bisa juga berangkat dari tema yang lain yang sebenarnya juga masih cukup kaya dan bernilai penting untuk terus digali.
Rabu, 23 Januari 2008
Asma Nadia dan Dilema Poligami
Selasa, 18 Desember 2007
Asma Nadia tentang Poligami dan Perselingkuhan
Judul buku: Catatan Hati Seorang Istri
Penulis: Asma Nadia
Penerbit: Lingkar Pena, Depok
Cetakan: Pertama, Mei 2007
Tebal: xii + 212 halaman
Dalam beberapa tahun terakhir, melalui tayangan televisi dan media, masyarakat kita semakin akrab dengan isu poligami dan perselingkuhan. Tema poligami kembali populer ketika ada sejumlah tokoh nasional yang menjadi kontroversial karena kasus poligami, dengan bumbu pro-kontra yang kemudian juga difasilitasi oleh media. Tema perselingkuhan pada tingkat tertentu, dengan cara yang cukup unik, menyebar melalui dunia hiburan dan selebriti. Ada yang mengatakan bahwa perselingkuhan kini sudah menjadi gaya hidup. Tayangan televisi yang hampir setiap hari tak luput mengabarkan kabar buruk tentang retaknya keluarga seorang selebriti belakangan ini memperkuat hal tersebut. Di bagian yang lain, akhir-akhir ini kita menemukan cukup banyak lagu yang digubah dan kemudian populer yang mengisahkan tema perselingkuhan. Pokok soal menarik yang patut disorot dalam dua persoalan ini adalah nasib perempuan berhadapan dengan situasi semacam itu. Bagaimana perempuan di sana?
Buku karya Asma Nadia ini menghadirkan potret pergulatan perempuan dengan kedua persoalan tersebut. Buku ini menyajikan kumpulan jejak pengalaman perempuan, terutama dalam kehidupan berkeluarga, yang sarat dengan kekerasan dan tragedi. Dalam kata pengantarnya, Asma mengatakan bahwa buku ini adalah rekaman perjalanannya sebagai perempuan, istri dan ibu, dan juga pengalaman, dialog hati, pertanyaan dan ketidakmengertiannya tentang isi kepala dan sikap laki-laki.
Memang tak berlebihan jika Asma menggunakan istilah seperti itu. Dalam buku ini, melalui banyak kisah, muncul sikap dan perilaku laki-laki yang tak menghargai perempuan—bahkan perempuan yang disebutnya sebagai istri. Simak saja kisah Amini, ibu dan tiga orang anak yang sudah menikah selama tujuh belas tahun. Suaminya, Arief, yang dari awal pernikahan sudah tampak sangat baik dan bertanggung jawab dalam memperhatikan keluarga, tiba-tiba diketahui menjalin hubungan dengan Dian, adik dari teman Amini. Memang, di akhir kisah Amini dan Arief tetap bisa bertahan, dengan permaafan dan kebesaran hati Amini yang cukup luar biasa, sehingga Dian tak sampai menjadi penyebab perceraian mereka dan melepas Arief.
Ada lagi kisah Safitri, dengan suaminya yang sangat baik dan telah hidup berbahagia dengan pernikahannya selama lima belas tahun dan telah dikaruniai tiga orang anak. Suatu hari, tanpa sengaja, Safitri menemukan nama aneh di buku telepon suaminya: Spongebob. Safitri heran. Suaminya itu tipe lelaki serius, pendiam, dan sangat dewasa. Mengapa sampai ada kontak dengan nama tokoh kartun itu? Safitri sangat terpukul ketika dengan tenang dia mengklarifikasi masalah itu kepada suaminya, sehingga muncul pengakuan bahwa suaminya yang rajin beribadah itu telah menjalin hubungan khusus dengan “Spongebob” selama tiga tahun. Safitri menulis bahwa sejak itu ia merasa sulit membangun kepercayaan bersama suaminya.
Kisah-kisah lain yang diungkap dalam buku ini tak banyak beranjak dari penuturan soal kekerasan psikis terhadap perempuan—yang dalam istilah lain populer dengan sebutan Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau KDRT. Ada kisah tentang suami yang ketahuan selingkuh dengan baby sitter-nya. Tragedi Nejla Humaira mengisahkan kesuksesan kariernya di dunia kerja, sementara suaminya yang sudah sepuluh tahun dinikahinya hanya menguras hasil kerjanya sambil berselingkuh dengan karyawatinya. Langkah cerai pun diambil, dengan tekanan batin yang sangat menyedihkan Nejla. Dan Nejla pun menjadi single parent, membesarkan anak-anaknya dengan keteguhan, kegigihan, kesabaran, dan penuh kasih sayang.
Simpul utama kisah-kisah dalam buku ini menegaskan bahwa perselingkuhan, bagaimanapun, hanya akan menghancurkan ikatan suci yang dibina dalam keluarga. Rasa saling percaya yang menjadi fondasi bahtera keluarga tercederai. Seorang perempuan sangat paham dan sangat menghayati arti kepercayaan, sehingga begitu ia dilanggar, maka ia menjadi sulit untuk dipulihkan. Perselingkuhan menghancurkan keluarga tak hanya dengan merusak rasa kepercayaan, tetapi juga dengan aspek kekerasan yang diam-diam terjadi di sana. Kekerasan itu bisa berwujud kekerasan psikis hingga fisik. Dan eskalasinya dapat meluas hingga ke tingkat keluarga, yang meliputi anak atau anggota keluarga besar lainnya.
Kelebihan buku ini terletak pada pertanyaan-pertanyaan mendasar yang diajukan terhadap kaum laki-laki atas berbagai bentuk kekerasan yang dilakukan—sadar maupun tidak, diakui atau tidak—terhadap perempuan. Pertanyaan tersebut mengusik pola relasi kemanusiaan yang selama ini terjalin antara laki-laki dan perempuan, dalam ruang keluarga pada khususnya dan ranah sosial pada umumnya. Pertanyaan yang dimunculkan Asma beberapa tampak cukup reflektif dan fundamental, seperti dalam kisah Pak Haris, seorang pemimpin penerbitan di Solo, yang berkisah tentang poligami. Dalam potongan pembicaraan Asma dan Pak Haris tentang poligami, muncul pernyataan yang cukup menohok dari Pak Haris: kebahagiaan dengan istri kedua belum tentu, sementara luka hati istri pertama sudah pasti dan abadi. Jadi, lanjut Pak Haris dengan sebuah pertanyaan retoris yang cukup tajam, “bagaimana saya melakukan sebuah tindakan untuk keuntungan yang tidak pasti, dengan mengambil resiko yang kerusakannya pasti dan permanen?”
Eksplorasi Asma tentang tema poligami juga menjangkau wilayah agama. Asma memang tak mencoba masuk ke wilayah panas yang mendiskusikan hukum poligami dari perspektif agama (Islam), seperti yang sempat ramai dibicarakan belakangan ini. Dalam sebuah tulisannya di buku ini, Asma memunculkan sebuah pertanyaan tajam yang cukup menyindir: “tetapi apakah dimadu dan menjadi istri tua, merupakan jalan satu-satunya untuk mendekatkan perempuan pada surga?” Dalam tulisannya ini Asma menunjukkan bagaimana dalam praktiknya para lelaki—yang konon beralasan menikah lagi dalam rangka mengikuti sunnah Nabi—kurang memberi penghargaan yang pantas kepada istri pertama mereka dan melupakan jasa besar serta pengorbanan si istri pertamanya.
Dalam tulisan terakhir di buku ini, Asma secara tidak langsung mencoba menghadirkan potret kesetiaan laki-laki melalui kisah Aba Agil, seorang tokoh terkemuka di Ambon yang tak mau menikah lagi setelah istrinya meninggal, meski anak-anaknya mendorong untuk itu. Ada nada kagum dan bangga yang tertuang dari pemaparan Asma—seperti yang juga tergambar dari benak anak-anaknya.
Kisah-kisah dalam buku ini dapat dilihat sebagai semacam dokumentasi pengalaman perempuan dalam pergaulan mereka di ruang keluarga dan masyarakat dalam konteks sosial saat ini. Yang menarik, Asma membidik persoalan itu dari perspektif perempuan, yakni dari sudut pandang yang menempatkan perempuan sebagai subjek yang berbicara untuk kepentingan mereka. Dengan demikian, pembaca buku ini dapat ikut berempati dengan perasaan, gejolak, dan nasib perempuan dalam setiap pengalaman yang tersaji itu. Memang Asma tidak hanya menceritakan kisah pergulatannya sendiri, tetapi menghimpun pengalaman dan pertemuannya dengan banyak perempuan lain. Buku yang cetak ulang dalam waktu dua pekan sejak penerbitannya yang pertama ini memperkaya diskusi tentang perempuan dan keluarga dalam masyarakat Indonesia, dan yang lebih penting lagi, dengan cukup tegas menghadirkan suara perempuan dengan penuh empati dan menggugah.
* Tulisan ini dimuat di Jurnal Perempuan No 56/2007.
Minggu, 18 November 2007
Catatan Harian dan Mukjizat Bahasa
Banyak hal istimewa yang bisa ditemukan dari sebuah catatan harian. Dalam khazanah buku Indonesia, paling tidak ada dua buku catatan harian yang cukup legendaris dan inspiratif, yaitu catatan harian Ahmad Wahib (1942-1973) yang diterbitkan LP3ES dengan judul Pergolakan Pemikiran Islam, dan catatan harian Soe Hok Gie (1942-1969) yang juga diterbitkan LP3ES dengan judul Catatan Seorang Demonstran.
Kedua catatan harian ini ditulis oleh orang-orang yang kemudian ditahbiskan sebagai sosok revolusioner pada zamannya. Lalu bagaimana jika catatan harian ditulis oleh “orang biasa”, seperti anak-anak sekolah tingkat SLTA?
Itulah yang dikisahkan film Freedom Writers (2007). Film yang diangkat dari kisah nyata ini menceritakan perjalanan Erin Gruwell (dalam film ini diperankan oleh Hilary Swank), seorang guru bahasa Inggris di Woodrow Wilson High School Long Beach California, dalam mendidik murid-muridnya yang susah diatur. Gruwell yang mulai mengajar di situ pada tahun 1994, baru lulus dari University of California, dan baru berusia 25 tahun, harus berhadapan dengan murid-murid yang hidup dalam iklim sentimen rasial yang cukup tinggi, akrab dengan geng anak muda berandalan, narkoba, senjata api, dan juga penjara.
Menghadapi situasi kelas yang seperti itu, Erin Gruwell tak bisa bersikap sebagaimana guru kurikulum—guru yang tunduk melahap menu kurikulum dan menuangkannya begitu saja ke kepala murid-muridnya. Ia mengajak murid-muridnya berpikir kreatif, dengan memberi inspirasi untuk menemukan potensi diri mereka masing-masing.
Bekal inspirasi yang diberikan Gruwell untuk murid-muridnya yang bengal dan oleh birokrasi sekolah dipandang sebagai anak bodoh yang tak mencintai pendidikan dan tak dapat diajar itu bertolak dari catatan harian. Gruwell memberi mereka buku Anne Frank: The Diary of a Young Girl, sebuah buku catatan harian yang ditulis oleh seorang gadis remaja korban Holocaust. Juga catatan harian Zlata Filipovic, Zlata’s Diary: A Child’s Life in Sarajevo. Lambat laun, buku-buku ini bisa membuat murid-muridnya itu merasa terhubung dengan orang lain dalam penggalan sejarah dunia. Sekat geng dan ras di kelas mulai mencair. Toleransi dan empati mulai bersemi.
Gruwell kemudian memberi mereka buku tulis untuk dijadikan catatan harian. Hasilnya, murid-muridnya itu semua aktif mengisi catatan harian mereka. Gruwell menemukan beragam kisah di sana. Tentang geng, imigrasi, kekerasan, kesewenangan, obat-obatan terlarang, kegundahan, cinta anak muda, perceraian, bunuh diri, dan sebagainya. Dalam catatan harian, murid-muridnya itu seperti menemukan ruang bebas untuk berekspresi tanpa takut akan dihakimi. Di antara muridnya ada yang menulis, bahwa menulis catatan harian bagi mereka kemudian menjadi sebentuk ekspresi diri yang kuat dan mampu membantu mereka untuk memaknai masa lalu dan menyemai harapan di masa depan. Catatan harian kemudian menjadi semacam tempat singgah yang dapat menenteramkan para remaja yang gelisah itu. Mereka seakan-akan mulai menyalakan lilin kecil dalam kamar gelap mereka masing-masing.
Catatan harian memang menyimpan mukjizat bahasa yang cukup luar biasa. Dalam catatan harian, bahasa tak hanya diperlakukan sebagai media untuk membantu terlaksananya kehidupan sehari-hari, seperti untuk berkomunikasi dalam pengertian yang paling sederhana, atau untuk memantapkan profesi. Dalam catatan harian, bahasa juga berperan sebagai alat untuk mengembangkan dan mengenali diri, hingga akhirnya si penulis menemukan perspektif baru untuk kemudian mentransformasikan dirinya. Menulis catatan harian membantu memperkuat intensitas keintiman seseorang dalam merefleksikan pengalaman dan dunia di sekitarnya. Dari perspektif Heideggerian, dalam catatan harian bahasa betul-betul dipersepsikan sebagai “rumah sang Ada”, yang diolah dan dijelajahi bersama-sama dengan proses pembaruan dan penyusunan definisi diri, nilai-nilai, serta relasi dengan dunia. Bahasa kemudian berada pada aras eksistensi.
Sayangnya, tak cukup banyak guru bahasa Indonesia di negeri ini yang mencoba untuk menjadikan pelajaran bahasa sebagai media untuk mengeksplorasi kekayaan bahasa serta untuk mengembangkan martabat dan mutu kehidupan melalui media catatan harian. Riris K Toha-Sarumpaet (Kompas, 5/5/2003) mencatat bahwa pendidikan bahasa di Indonesia masih menganut konsep perbankan, karena ujian direkayasa hanya untuk menguji apa yang didepositokan guru kepada muridnya, atau apa yang dikunyah dan dihafalkan. Model pembelajaran bahasa yang dominan cenderung berpusat pada aspek ketatabahasaan dalam pengertian yang sempit, yakni dalam fungsi deskriptif saja, sehingga menciutkan fungsinya pada tataran yang bersifat instrumental belaka, dan dengan demikian juga berarti mendistorsi pengertian tentang “dunia” dan “eksistensi” (Sugiharto, 1996: 90). Bahasa tidak diletakkan dalam konteks dan kerangka peradaban yang lebih luas, yang dapat mengantarkan peserta didik baik untuk menemukan jati dirinya maupun untuk secara kritis membaca dunia.
Belum banyak upaya serius yang dilakukan agar dalam pendidikan bahasa siswa dapat menjadi subjek yang berbicara dan mengeskpresikan diri, seperti yang dapat kita saksikan dalam kisah Erin Gruwell yang kini bergiat mengembangkan aktivitas kepenulisan dan kependidikan di Freedom Writers Foundation itu. Dalam kisah Gruwell kita menemukan bagaimana catatan harian dan mukjizat bahasa dapat mengubah karakter dan cara pandang anak-anak muda terhadap dunia di sekitarnya. Dalam keluarganya masing-masing, mayoritas murid-murid Gruwell adalah generasi pertama yang menamatkan SLTA dan kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi.
Jejak pergulatan Gruwell, yang dapat kita baca lebih detail dalam buku The Freedom Writers Diary (1999) yang merupakan catatan harian murid-murid Gruwell, dan buku karya Gruwell sendiri berjudul Teach with Your Heart (2007), memberikan catatan berharga kepada kita tentang model pendidikan pada umumnya dan pemberdayaan serta kreativitas pengajaran bahasa untuk diletakkan dalam konteks yang tak hanya bersifat teknis dan “biasa”, sehingga dapat melahirkan anak-anak muda yang berkarakter dan mampu menggunakan bahasa untuk memaknai dan mencipta dunia baru yang lebih cerah.
Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 18 November 2007.
Rabu, 24 Oktober 2007
Dapur dan Peradaban
Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Seberapa lama sebenarnya dapur telah menjadi bagian dari peradaban manusia? Tak dapat disangkal bahwa dapur menjadi salah satu tahapan perkembangan peradaban manusia yang cukup penting. Saat hidup secara nomaden, manusia memenuhi kebutuhan makanannya dengan cara berburu. Saat api belum ditemukan, manusia makan makanan mentah atau makanan yang tak diolah. Api kemudian menjadi babak baru peradaban, yang juga menjadi cikal bakal lahirnya dapur. Selain api, penemuan alat semacam bejana yang memungkinkan munculnya teknik memasak yang lebih canggih dan lebih rumit juga menjadi tanda bagi perkembangan peradaban manusia. Konon, itu terjadi kira-kira antara tujuh hingga dua belas ribu tahun yang lalu.
Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Saat ini peradaban kita telah melangkah begitu jauh. Memasak, yang merupakan kegiatan utama dalam ruang dapur, telah menjadi satu bidang dengan pengetahuan dan diskusi yang begitu mendalam. Dapur dan memasak, di sisi lain, kadang tak hanya berkaitan dengan soal pemenuhan kebutuhan nutrisi, tetapi bisa juga menjadi isyarat gengsi. Sementara ada sekelompok orang yang hingga kini masih seperti berada di periode Zaman Batu, yakni bahwa mereka masih berada di tahap pemenuhan kebutuhan dapur tanpa terlalu memedulikan kualitas dan selera, ada sekelompok orang lainnya yang lebih peduli untuk memenuhi “kebutuhan dapur” binatang piaraannya.
Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Tahukah bapak-bapak dan saudara sekalian bahwa peradaban dapur telah melahirkan banyak produk kebudayaan? Mulai dari peralatan memasak, aneka resep, dan berbagai ukuran takaran untuk mengatur komposisi resep agar lebih eksak? Jika ke toko buku, kita tak hanya akan menemukan buku-buku tentang resep makanan—seperti juga tersaji secara rutin di rubrik-rubrik koran atau tabloid. Kita juga akan menemukan desain interior untuk dapur-dapur modern.
Tahukah bapak-bapak dan saudara sekalian bahwa satu sendok teh itu sama dengan lima mililiter? Mungkin itu sudah terlalu teknis, ilmiah, atau akademis. Atau bahkan mungkin itu adalah sesuatu yang hanya dikenal oleh pemilik peradaban dapur “modern”. Kalau begitu pertanyaannya saya ganti dengan pertanyaan praktis yang berkaitan dengan dapur tradisional saja: tahukah bapak-bapak dan saudara sekalian cara membuat perapian di tungku tanah liat dengan menggunakan kayu bakar?
Ah, itu gampang. Tinggal ambil kayu bakar, sedikit disiram minyak tanah, ditambah dengan semacam kertas, lalu tinggal disulut dengan korek api. Tungku pun akan mengepul.
Sebentar dulu, jangan keburu senang atau merasa hebat. Setelah perapian dibuat, jika memang bisa, tahukah bapak-bapak dan saudara sekalian bedanya cara menggoreng telur dadar, keripik pisang, melinjo, atau rengginang?
Ah, itu gampang. Tinggal goreng aja.
Jangan bilang gampang. Tahukah bapak-bapak dan saudara sekalian bahwa menggoreng itu juga ada ilmunya, ada takarannya? Kalau mau menggunakan ukuran yang lebih eksak, masing-masing menu yang akan digoreng membutuhkan derajat kepanasan yang berbeda. Jika tidak memperhatikan hal ini, bisa-bisa hasil gorengan bapak-bapak dan saudara sekalian akan gagal—atau setidaknya terasa amburadul. Kalau bapak-bapak dan saudara sekalian ingin lebih jelas, coba tanya istri, saudara, atau anak perempuan bapak dan saudara sekalian.
Ya. Wawasan peradaban dapur memang mungkin lebih dikuasai oleh kaum perempuan. Waktu mereka bergaul bersama masakan dan segala tetek bengeknya relatif lebih lama. Mengapa bapak-bapak tidak sesekali mencoba bergabung di sana, membantu mereka? Apakah bapak-bapak dan saudara sekalian merasa bahwa dapur adalah produk kebudayaan yang sepele, remeh, dan tak menarik—bagian dari peradaban primitif?
Terkait dengan ini, saya punya pengalaman menarik yang agak lucu juga. Suatu saat saya pernah bertemu dengan sebuah warung makan di wilayah kos-kosan mahasiswa yang memberi embel-embel semacam slogan unik pada nama warungnya. Warung dekat rel kereta api itu bernama Warung Teteg Plato, dan di bawah namanya tertulis kata-kata: “Makan dulu, baru mikir”. Orang mungkin akan berpikir itu kata-kata Plato (427-347 SM), filsuf Yunani Kuno murid Sokrates (469-399 SM). Lepas dari apakah benar itu dikutip dari Plato atau tidak, kata-kata itu seperti ingin mengingatkan kita, terutama bapak-bapak dan saudara sekalian, agar tak begitu saja menyepelekan peradaban dapur. Bagaimana bisa mau bekerja, bagaimana bisa mau berpikir, jika perut kosong?
Saya kira kata-kata itu dari satu sisi mengingatkan kita untuk bisa lebih menghargai orang-orang yang membesarkan dan menghidupkan peradaban dapur itu, orang-orang yang membuat dapur mengepul dan berproduksi, yakni terutama kaum perempuan. Memang mungkin bapak-bapak dan saudara sekalian adalah orang-orang yang menyuplai bahan-bahan untuk terlaksananya peradaban dapur. Tetapi kaum perempuan, mereka bersentuhan langsung dan mengelola peradaban dapur. Bahkan, tak jarang, kaum perempuan juga membantu menyuplai bahan-bahan dapur.
Sementara itu, dari penuturan kelompok feminis kita diberi tahu bahwa sejauh ini kaum perempuan sering diperlakukan dengan kurang baik dan atau kurang dihargai oleh kaum laki-laki—bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian—baik itu di lingkungan rumah tangga maupun di masyarakat luas. Salah satu bentuknya, mungkin, adalah dengan menyerahkan sepenuhnya urusan dapur kepada mereka, atau dengan terus mengasumsikan bahwa bagaimanapun perempuan itu hanya akan pulang ke dapur. Akibatnya, kadang potensi besar yang mereka miliki tak dapat dikembangkan sepenuhnya. Pendidikan bagi mereka kadang tak dianggap penting.
Saya enggan untuk memperdebatkan soal pembagian kerja seperti dalam masalah ini. Poin yang ingin saya tekankan dalam tulisan ini adalah bagaimana kita bisa melihat dapur sebagai sebuah suatu produk peradaban dengan segala permasalahan yang mungkin kita temukan di sana. Baru-baru ini saya membaca sebuah buku komik menarik yang bertutur tentang pangan, tentang bagaimana ada politik-ekonomi pangan yang bisa berujung pada sebentuk penindasan atau bahkan penjajahan terselubung. Dalam konteks seperti itu, mungkin perempuan adalah salah satu korban utamanya. Bukankah para pemilik kapital kebanyakan adalah kaum lelaki? Tetapi saya belum tuntas membaca buku itu. Jadi saya belum bisa cerita panjang lebar.
Oke. Bapak-bapak dan saudara sekalian. Sekarang mari kita kembali ke dapur. Sekarang sudah saatnya sarapan. Kita simpan dulu persoalan-persoalan ini ya. Kapan-kapan kita bicarakan lagi. Sekarang kita makan dulu, biar tidak sakit dan bisa berpikir lebih jernih. Jangan lupa, sehabis makan nanti piring dan perabot kotor lainnya dicuci ya sampai bersih. Sesekali tidak apa-apa kan? Biar tahu rasa, kata seorang saudara saya dengan nada yang khas.
Label: Diary, Gender Issues, Philosophy
Kamis, 04 Oktober 2007
Sampai Di Manakah Kita?
Yulis, tak terasa Ramadan telah memasuki sepertiga yang terakhir. Entah seperti apa rasa lapar dan dahaga yang kita jalani tiga pekan ini membentuk kita saat ini. Adakah yang berubah dengan diri kita dengan itu semua? Yulis, sampai di manakah kita saat ini?
Tahun demi tahun telah berlalu. Tiga tahun terakhir telah berlalu pula. Ramadan datang dan pergi. Pertemuan, perpisahan, suka dan duka, tangis dan tawa, sedih dan gembira, harapan yang redup dan semangat yang menyala, hari-hari biasa, hari-hari istimewa, semua telah kita lewati. Lalu apa yang kita peroleh dari itu semua? Sampai di manakah kita? Di titik manakah aku saat ini, di titik manakah kita saat ini, dalam sulur waktu yang telah ditetapkan Semesta padaku, pada kita?
Yulis. Di penghujung Ramadan ini Kakak ingin mencoba berhitung tentang semuanya. Hutang-hutang Kakak, borok-borok Kakak, tapak jejak Kakak. Adakah masa depan dapat menyisakan cahaya untuk Kakak, untuk kita? Adakah modal Kakak sekarang yang tak seberapa dapat melunasi semuanya?
“Kak, apakah kebaikan itu dapat melunasi dosa kita yang berlepotan?” tanyamu kemarin lusa, di sebuah percakapan telepon jelang berbuka.
“Tuhan Maha Pengampun. Perbuatan baik dapat membasuh keburukan yang kita perbuat. Tentu jika kita tulus melakukannya,” jawabku, sambil mengingat potongan ayat yang menegaskan hal itu.
“Yulis, dalam bentuk yang lebih detail dan lebih luas, Kakak sering gundah saat bertanya: apakah kita pernah merasakan nikmatnya berpuasa? Apakah kita pernah merasakan nikmatnya mencintai Tuhan, mencintai Nabi, mencintai orang tua dan keluarga, mencintai guru, mencintai sesama, mencintai kekasih kita?” Aku terdiam, mendesah sejenak, dan kembali terdiam. Di ujung telepon, Yulis juga terdiam.
“Yulis, pertanyaan-pertanyaan itu datang bertubi, bersama dengan rekam jejak amal perbuatan Kakak di hari-hari yang telah berlalu. Kakak seperti mencoba menghimpun sesuatu yang cukup bernilai dan layak untuk dihitung sebagai “kebaikan”. Tapi Kakak sering sedih dan kecewa, karena tak menemukan apa-apa,” lanjutku.
“Sudahlah Kak, jangan terlalu berkecil hati begitu,” Yulis segera memotong kata-kataku. “Kita masih punya hari ini, juga hari esok. Yang terpenting, saat ini kita mesti bersyukur karena telah diberi anugerah untuk ingat bahwa berhitung, atau evaluasi, atau refleksi, atau—katakanlah—audit internal, sangat kita butuhkan dalam menjalani hari-hari kita.”
“Iya, Yulis. Kakak patut bersyukur bahwa Kakak telah dipertemukan dengan orang-orang yang dapat menjadi cermin hati untuk memperbaiki diri, sehingga Kakak tak senantiasa lupa untuk sesekali bertanya: sampai di manakah kita saat ini? Apa kita sedang berada di sebuah tikungan, tanjakan, atau belantara liar?”
Beduk magrib sudah ditabuh saat Yulis memotong kata-kataku sebelumnya. Tapi kami masih menuntaskan pembicaraan kami—meski tak pernah bisa purna. Masing-masing kami masih menyimpan berbagai kegundahan, tentang hari yang lalu, tentang hari mendatang. Tapi masa tak peduli itu semua. Ia akan terus bergerak di antara makna dan hampa yang kita lalui tanpa terasa.
Label: Diary
Senin, 01 Oktober 2007
Malam Penuh Bintang di Halaman Belakang
Dini hari, aku kembali menyaksikan malam yang penuh bintang di halaman belakang. Kubayangkan, aku seperti duduk di balai-balai rumahmu, Yulis, di antara pepohonan dan sawah luas yang membentang di sekeliling. Kau bilang tak ada balai-balai di halaman. Tapi kelak aku pasti akan meletakkan balai-balai di halaman belakang ini, tempat kita nanti sesekali menghabiskan malam sambil menyaksikan bintang-bintang.
Yulis, kau tahu cahaya terang di ufuk timur itu, yang bergerak dari dasar garis langit dan terlihat seperti baru keluar dari peraduannya. Itu bukan bintang. Itu Venus, Yulis. Konon Venus adalah benda langit yang paling terang jika dilihat dari bumi, selain matahari dan bulan. Konon, ada yang bilang bahwa perempuan itu berasal dari sana. Entah mengapa, aku tak tahu pasti. Apa karena muasal nama Venus berhubungan dengan dewi kecantikan Romawi? Dalam sistem tata surya, planet yang berjuluk “bintang pagi” itu adalah planet paling panas, melebihi Merkurius. Temperatur permukaannya mencapai 460 derajat celcius. Jaraknya sekitar 41 juta kilometer dari bumi. Ya, 41 juta kilometer, Yulis. Itu artinya, jika kita—aku dan kau, Yulis—jalan-jalan ke sana dengan berkendara cahaya, maka kita akan menempuhnya sekitar 137 detik. Dua menit 17 detik.
Di arah timur agak ke tenggara, dengan posisi yang cukup meninggi dari halaman belakang rumah kita, yang tak kalah terang itu namanya Sirius. Pelajar yang menekuni astronomi mengenalnya dengan nama Alpha Canis Majoris. Ia menampakkan wujudnya dari horison di timur sejak jelang tengah malam tadi, dan terus bergerak meninggi. Yulis, aku sulit membayangkan bahwa kita dapat bertamasya ke sana, meski dengan cahaya. Dari halaman belakang rumah kita, Sirius itu berjarak sekitar 81,4 triliun kilometer. Jika dengan cahaya, kita akan menempuhnya selama hampir sembilan tahun. Ya, sembilan tahun, Yulis. Jika kita jadi berkendara cahaya ke sana, entah sudah seperti apa wajah lucu ponakan-ponakanmu. Entah juga bagaimana nanti ibu dan yang lain akan menatap kita dengan sedikit heran, menyaksikan raut usia kita yang seperti sedikit tertahan.
Yulis. Dari halaman belakang rumah kita, hamparan bintang dan benda-benda langit lainnya itu seperti mengejek kepongahan kita, yang kadang lupa diri bercampur takabur, merasa bahwa diri kita adalah segalanya dan orang lain tak punya apa-apa. Padahal, apa sih kita ini? Bahkan, jika berkendara dengan cahaya, mungkin usia kita tak akan cukup untuk sampai tiba di Antares, yang tadi malam selepas tarawih kulihat bersinar temaram kemerahan di ufuk barat daya, sedikit di bawah Jupiter yang tampak lebih terang. Yulis, kau tahu Antares itu berapa jaraknya dari halaman belakang rumah kita? Bintang yang diameternya lebih besar tiga ratus kali ketimbang matahari itu berjarak sekitar 3,7 kuadriliun kilometer dari sini. Artinya, ditempuh selama sekitar 400 tahun jika kita berkendara cahaya ke sana!
“Akan tetapi, katanya bintang-bintang juga dapat memberi rasa tenteram.” Tiba-tiba kau kubayangkan berkata pelan sambil tetap menatap ke arah Venus. “Yulis kemarin sempat membaca buku yang Kakak kirimkan terakhir, yang bercerita tentang bagaimana Nabi naik ke Langit melesat bersama cahaya kilat, setelah beliau dirundung oleh serentetan kejadian yang menyedihkan—istri dan pamannya tercinta meninggal dunia, di tengah upaya dakwahnya yang menghadapi tantangan berat. Yulis pikir, Nabi mungkin sekali merasa kehilangan, sangat terpukul dan sedih. Namun, ketika Nabi naik ke Langit, Yulis pikir Nabi kemudian menyaksikan bintang-bintang dari jarak yang lebih dekat, melewati atau bahkan mungkin singgah di bintang-bintang itu, dan betul-betul dapat merasakan keagungan Penciptanya.”
“Ya, mungkin.”
“Dan di saat merasakan keagungan Pencipta bintang-bintang itu, Nabi tak lagi sedih dan berkecil hati. Hatinya tenteram, karena sadar bahwa ia menjalankan misi sucinya atas titah Sang Maha Pencipta,yang selalu berada bersamanya.” Yulis melanjutkan. Aku melirik sedikit. Aku melihat senyum manis di ujung kata-katamu, dengan mata yang bercahaya.
Angin pagi berembus pelan di halaman belakang, seperti menyapa kita yang terkagum-kagum memikirkan bintang-bintang itu. Apakah angin ini dikirim dari bintang-bintang itu? Cahaya bulan yang masih cukup terang memoles rasa takjub dengan suasana yang meneduhkan dan begitu indah. Bulan akan terus melanjutkan perjalanannya ke arah barat. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar lantunan pengeras suara yang memutar ayat-ayat suci. Ayat-ayat itu bercerita tentang alam semesta, tentang unta yang dicipta, bumi yang dihampar, langit yang membentang, dan gunung yang menjulang. Ayat-ayat itu seperti meneruskan bisikan pelan bintang-bintang.
“Kak, apakah di bintang-bintang itu ada kehidupan yang lebih tenteram?” Tiba-tiba kau bertanya. Tatapanmu masih tak mau lepas dari bintang-bintang itu.
“Entahlah, Yulis. Tapi sepertinya Kakak sudah cukup tenteram hidup di sini. Kakak tak terpikir bahwa bintang dapat menjadi rumah yang lebih indah daripada di sini.”
“Apa Kakak tak lagi rindu pulang?”
“Yulis, Kakak sudah menemukan tempat untuk pulang. Kakak menemukan banyak bintang di sini. Tak hanya di malam ini. Tak hanya di halaman belakang ini. Bintang-bintang itu tinggal di hati Kakak. Bintang-bintang yang tak hanya mengajarkan Kakak untuk mengubur rasa congkak dan menerbitkan semangat. Bintang-bintang yang menyejukkan, teramat indah, dan selalu memancarkan sinar terang.”
Aku menjawab pelan, dengan tempo yang melambat. Dan aku menghentikan kata-kataku di situ. Yulis diam, tak melanjutkan bertanya. Suara binatang malam masih terdengar dari sekitar, di antara pematang dan rimbun semak dan pepohonan. Yulis mengubah posisi duduknya, menggenggam erat tanganku, sambil terus menatap Venus yang bergerak menaik.
Label: Celestial Bodies, Diary
Minggu, 30 September 2007
Menelisik Makna Kompetensi Guru
Judul buku: Evolusi Pendidikan di Indonesia: Dari Kweekschool Sampai ke IKIP (1852-1998)
Penulis: Mochtar Buchori
Penerbit: Insist Press, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Juli 2007
Tebal: xiv + 206 halaman
Dalam beberapa pekan ini, berbagai media menyorot program sertifikasi guru yang sedang dilakukan pemerintah. Merujuk pada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, program ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan guru dan meningkatkan mutu pendidikan. Banyak yang menyorot berbagai kemungkinan “permainan” dalam program yang pelaksanaannya secara hukum berlandaskan pada Peraturan Mendiknas No 18/2007 tersebut. Dugaan negatif semacam itu pada satu sisi tampak seperti sebentuk rasa cemas bahwa tujuan program sertifikasi itu tidak cukup mudah untuk dapat terwujud sepenuhnya.
Meski tidak secara langsung mengupas masalah sertifikasi guru, buku terbaru karya Mochtar Buchori ini sangat bernilai penting untuk dibaca dalam konteks sekarang ini, untuk merefleksikan kembali masalah-masalah yang dihadapi guru pada khususnya dan dunia pendidikan di Indonesia pada umumnya. Dalam buku ini, Mochtar Buchori berusaha meneliti perkembangan konsep kompetensi guru sejak masa kolonial Belanda hingga era reformasi, membentang dari tahun 1852 hingga 1998, yang diterjemahkan dalam program pendidikan dalam sekolah guru.
Secara garis besar, Mochtar Buchori membagi rentang tahun yang cukup panjang itu menjadi tiga fase utama, yakni fase zaman Hindia Belanda (1852-1942), zaman Jepang (1942-1945), dan zaman kemerdekaan (1945-1998). Pendidikan guru pada masa Belanda berwatak segregatif. Memang, pada saat itu sekolah mengenal sistem yang segregatif baik secara rasial, etnis, dan sosial-ekonomi. Ada sekolah untuk orang Eropa, untuk pribumi, dan untuk orang keturunan Cina. Untuk itu, setiap sistem persekolahan memiliki lembaga pendidikan guru sendiri. Ini menyebabkan timbulnya masyarakat guru yang heterogen.
Pada zaman Jepang, pendidikan guru dirampingkan. Pada satu sisi, hal ini tampak cocok dengan mulai menurunnya tingkat keragaman dan pelapisan sosial di masyarakat. Tapi di sisi yang lain muncul masalah: ketika menjadi relatif seragam, kendali mutu sekolah dan kinerja guru menjadi rumit. Belum lagi suasana militeristik yang sangat terasa pada zaman pendudukan Jepang ini, sehingga aspek akademis pendidikan guru kurang mendapat perhatian.
Memasuki era kemerdekaan, pemerintah Indonesia yang berdaulat mulai mengambil langkah-langkah serius untuk membenahi pendidikan guru. Mochtar Buchori membagi fase zaman kemerdekaan ini ke dalam empat periode. Periode 1945-1949, yang disebut periode rehabilitasi, ditandai dengan langkah pemulihan atas kondisi sistem pendidikan yang kurang membumi pada masa Jepang. Selanjutnya, pada periode ekspansi (1950-1965), dilakukan penambahan sekolah-sekolah guru, mulai dari sekolah guru yang paling bawah, hingga berdirinya IKIP pada tahun 1954 (semula bernama Perguruan Tinggi Pendidikan Guru atau PTPG). Sayangnya, pada periode ini, syahwat politik yang penuh nuansa persaingan antara “kekuatan kiri” dan “kekuatan kanan” telah memberi warna yang kurang kondusif bagi pendidikan guru. Situasi yang demikian telah membuat sulitnya suasana belajar atau iklim akademis yang cukup baik.
Mochtar Buchori membagi masa Orde Baru ke dalam dua periode. Awal Orde Baru (1966-1984) merupakan periode modernisasi pendidikan guru. Dalam periode ini, ada langkah-langkah untuk memutakhirkan kondisi pendidikan guru dengan memperkenalkan antara lain metode pembelajaran terbaru beserta perlengkapan teknologinya. Akan tetapi, pada paruh kedua periode Orde Baru (1985-1998) Mochtar Buchori menyebutnya sebagai periode ambivalensi. Pada periode ini terlihat kegamangan lembaga pendidikan guru dalam mendefinisikan identitasnya di antara perguruan tinggi yang lain serta dalam konteks perkembangan dan tantangan dunia global.
Bagian paling menarik dan kontekstual dalam buku ini terdapat dalam dua bab terakhir, yang berusaha mempertajam dan merefleksikan persepsi masyarakat dan kondisi pendidikan guru dalam sekitar tiga dasawarsa terakhir. Salah satu hal yang disorot dalam bagian ini adalah tentang mulai merosotnya status sosial dan wibawa guru di tengah masyarakat. Hal ini berkaitan erat dengan kondisi kerja, kinerja, dan sarana kerja guru. Sudah jamak diketahui kesejahteraan guru yang amat rendah saat ini, di tengah sistem manajemen sekolah yang cukup menekan guru dengan kurikulum yang dipandang terlampau sarat (overloaded). Kondisi yang demikian telah menghambat terbentuknya hubungan pedagogis yang ideal antara guru dan murid.
Pada bagian refleksi akhir, Mochtar Buchori memberikan renungan yang lebih bersifat paradigmatis tetapi cukup membumi dan tajam berkaitan dengan makna kompetensi mengajar dan profesionalisme guru. Salah satu poin menarik yang disorot adalah penciutan makna keterampilan pedagogik yang hanya dipandang sebagai kemampuan menyampaikan materi pembelajaran semata. Aktivitas mengajar cenderung hanya dipahami sebagai upaya untuk menyelesaikan agenda kurikulum, yaitu membahas semua topik pembelajaran, tanpa kedalaman mutu yang dapat dipertanggungjawabkan. Ini terlihat di antaranya pada model evaluasi belajar di lembaga pendidikan kita yang tak mampu memberikan penilaian kualitatif yang memadai tentang potensi dan prestasi belajar siswa sebagai sosok pribadi yang utuh. Yang berkembang hanya sistem ranking yang sungguh impersonal.
Nilai penting buku ini tampak mengemuka dalam konteks berbagai upaya bersama bangsa ini untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan yang ada. Belakangan ini, selain program sertifikasi guru, media massa juga semarak menyoroti masalah Sekolah Bertaraf Internasional yang.sedang ngetren, yang pada dasarnya juga berada dalam kerangka peningkatan mutu pendidikan. Demikian pula, pemikiran tentang model pendidikan alternatif mulai bermunculan pula, seperti pendidikan rumahan (home schooling), pendidikan berbasis komunitas ala Qaryah Thayyibah Salatiga, dan sebagainya.
Dalam sistem pendidikan, guru termasuk elemen signifikan yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan kegiatan pembelajaran. Buku ini menghadirkan sebuah refleksi yang sangat berharga, terutama bagi kalangan guru, untuk merenungkan dan mengevaluasi kembali langkah pengabdian yang diperjuangkannya untuk melahirkan generasi bangsa yang mampu bersaing di pentas dunia. Dengan refleksi ini, diharapkan kalangan pendidik pada khususnya dan civitas pendidikan pada umumnya dapat tergugah untuk tidak terjebak ke dalam formalisme administratif atas pengakuan penguasaan dan kompetensi keilmuan yang dimilikinya.
* Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 23 September 2007.
Minggu, 23 September 2007
Menjernihkan Stigma Manusia Madura
Judul buku: Manusia Madura: Pembawaan, Perilaku, Etos Kerja, Penampilan, dan Pandangan Hidupnya seperti Dicitrakan Peribahasanya
Penulis: Mien Ahmad Rifai
Penerbit: Pilar Media, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2007
Tebal: xii + 504 halaman
Stigma dan stereotipe tentang suatu hal muncul dan bertahan terutama karena miskinnya informasi dan klarifikasi. Stereotipe yang bertahan sedemikian lama pada satu sisi menunjukkan bahwa suasana komunikasi sosial yang ada cukup tidak sehat. Dengan kata lain, iklim komunikasinya keruh, tidak jernih. Bila yang terjadi demikian, dan itu menyangkut sekelompok masyarakat (baik etnis, golongan, atau mungkin agama), maka pergaulan sosial akan gampang memunculkan prasangka yang pada satu saat dapat mudah memicu konflik, dari skala paling kecil hingga yang lebih masif.
Dalam sebuah penelitian tentang stereotipe etnis di Indonesia, Profesor Suwarsih Warnaen (2002: 121) mendefinisikan stereotipe etnis sebagai kepercayaan yang dianut bersama oleh sebagian besar warga suatu golongan etnis tentang sifat khas berbagai kelompok etnis lain, termasuk etnis mereka sendiri. Dalam kehidupan sosial, stereotipe etnis muncul dari proses sosial yang panjang dan kompleks. Menurut Suwarsih, cara terbaik untuk menjernihkan cara pandang masyarakat terhadap stereotipe etnis suatu kelompok adalah dengan menghimpun informasi yang bersifat objektif sebanyak mungkin, untuk kemudian disebarkan.
Profesor Mien Ahmad Rifai, penulis buku ini, sangat sadar akan perlunya klarifikasi dan informasi yang jernih tentang manusia Madura, sehingga kemudian lahirlah buku yang cukup tebal dan kaya referensi ini. Dalam kata pengantarnya, Profesor Mien menjelaskan maksud penulisan buku ini, yakni untuk mengisi kekosongan referensi yang memadai yang menjelaskan sosok manusia Madura. Menurut Mien, pemahaman yang lebih baik terhadap manusia Madura akan membantu terbentuknya keharmonisan sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang memiliki masyarakat majemuk ini.
Pembahasan tentang manusia Madura dalam buku ini sangat luas dan mendalam. Hal itu sudah cukup tergambar dari subjudul buku ini, yang menunjukkan bahwa pembahasan tentang manusia Madura mencakup aspek pembawaan, perilaku, etos kerja, penampilan, dan pandangan hidupnya. Aspek-aspek yang disebutkan ini meliputi semua unsur kebudayaan manusia Madura, mulai dari kebudayaan fisik, hingga yang berhubungan dengan aspek nilai dan pandangan hidup.
Ada lima pokok bahasan atau sudut pandang yang digunakan untuk membahas manusia Madura. Yang pertama, sudut pandang sejarah, di bab kedua. Dalam bagian ini, Mien menguraikan sejarah sosial Madura sebagai sebuah unit kebudayaan. Pokok bahasan yang kedua adalah tentang pandangan (stereotipe) orang luar terhadap orang Madura. Dalam bab ketiga ini, dijelaskan berbagai stereotipe tentang manusia Madura, yang berkembang sejak zaman kolonial Belanda.
Di antara stereotipe itu adalah bahwa manusia Madura cepat tersinggung, pemarah, suka berkelahi, dan beringas. Dalam menyusun stereotipe itu, kadang ada upaya perbandingan dengan manusia Jawa. Digambarkan, misalnya, bahwa baik bangsawan Madura maupun rakyat jelatanya memiliki tubuh yang tidak seanggun orang Jawa. Tentang perempuan, digambarkan bahwa kecantikan wanita Madura itu jauh di bawah wanita Jawa Tengah dan Jawa Barat. Wanita Madura dipandang tidak anggun dan cepat tua. Dalam hampir segala hal, orang Madura dianggap lebih rendah dibandingkan dengan orang Jawa. Kalaupun orang Madura memiliki sifat-sifat positif, seperti bahwa manusia Madura memiliki tali kekeluargaan yang erat dan moral yang tinggi, itu kemudian dipandang sebagai konsekuensi sifat-sifat yang negatif tersebut.
Ironisnya, ketika Indonesia merdeka dan pengetahuan tentang masyarakat Madura meningkat, stereotipe semacam ini masih tetap bertahan. Mien menggarisbawahi, bahwa citra negatif orang Madura ini malah sering diperburuk sendiri oleh sejumlah orang Madura yang kurang berpendidikan dengan cara lebih menonjolkan kenegatifannya secara sengaja dengan maksud menakut-nakuti orang lain demi tujuan yang tak terpuji.
Pembahasan yang cukup panjang lebar tentang manusia Madura terdapat di bab keempat, yakni yang memaparkan cara pandang orang Madura terhadap dirinya sendiri. Pada bagian ini, Mien mengupas masalah ini dengan cara menafsirkan berbagai peribahasa yang hidup dalam kebudayaan Madura. Dalam bagian ini terungkap bahwa ternyata manusia Madura itu—di antaranya—bersifat sangat individualistis tetapi tidak egois, sangat menekankan ketidaktergantungannya pada orang lain, ulet dan tegar, suka berterus terang, suka bertualang, sangat menghormati tetua dan guru, dan sebagainya. Pada bagian ini, Mien juga menjelaskan fenomena carok, yang—seperti diungkap dalam penelitian A. Latief Wiyata—dikaitkan dengan konsep kehormatan atau harga diri. Akan tetapi Mien mencatat bahwa dalam beberapa ungkapan dan peribahasa Madura tersirat pandangan bahwa carok juga bukan kegiatan yang terpuji sehingga harus dihindari.
Di bagian kelima, Mien menjelaskan pandangan orang Madura terhadap etnis lain. Selanjutnya, di bagian keenam, Mien memberikan analisis tentang bagaimana tantangan manusia Madura ke depan. Mien menghubungkan masalah ini dengan proyek industrialisasi Madura. Menurut Mien, untuk meningkatkan harkat dan martabat masyarakat Madura, pendidikan harus menjadi prioritas tertinggi. Agenda perbaikan ekonomi masyarakat juga perlu mendapat perhatian, terutama dukungan dari pihak pemerintah. Selain itu, perlu juga ada ruang yang cukup leluasa bagi orang-orang Madura yang sukses baik dalam bidang keilmuan, ekonomi, dan sosial, untuk berkiprah kembali di kampung halamannya.
Terbitnya buku ini, dengan menghadirkan perspektif yang utuh tentang manusia Madura, tidak hanya mampu mengklarifikasi berbagai stigma dan stereotipe negatif yang selama ini mungkin cukup merugikan orang Madura, sehingga komunikasi antarbudaya yang terjalin dapat menjadi lebih baik. Dalam buku ini, Profesor Mien—yang kelahiran Sumenep—juga berhasil menghadirkan potret pergulatan budaya etnis Madura, etnis terbesar ketiga di Indonesia, di antara kebudayaan etnis yang lain. Bertolak dari situ, manusia Madura dapat merumuskan jati dirinya untuk dapat berkiprah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di era globalisasi ini.
Senin, 17 September 2007
Televisi dan Refleksi Religiusitas Puasa
Dalam dunia televisi di Indonesia, bulan Ramadan setiap tahun disambut dengan semarak. Berbagai program khusus bernuansa religius digelar. Bahkan, ada program televisi yang dimulai beberapa pekan sebelum umat Islam melaksanakan ibadah puasa, dan dirancang sebagai semacam sekuel dari program di bulan puasa sebelumnya.
Menurut beberapa penelitian, berbagai macam program televisi di bulan Ramadan tak bisa dilepaskan dari ideologi besar televisi, yakni dalam konteks posisinya sebagai media hiburan yang bekerja dengan logika pasar. Santri Indra Astuti (2007: 74-83) dalam sebuah penelitiannya misalnya menunjukkan bahwa bagi dunia televisi, Ramadan adalah komoditas—tidak lebih. Karena itu, tujuan berbagai program khusus Ramadan tidak lain adalah untuk meraih hati dan memanjakan pemirsa. Akibatnya, kendali mutu untuk muatan program-program tersebut kurang menjadi perhatian.
Sebagai ilustrasi, hampir semua program Ramadan di televisi disampaikan dengan gaya banyolan, dengan artis atau pelawak sebagai komunikator utamanya. Nyaris tak tampak ada upaya serius dari pihak produser untuk melibatkan kaum agamawan (ulama) dalam merancang program yang sesuai dan lebih kena. Yang lebih buruk lagi, meski tema yang diangkat memang berupa isu-isu keagamaan yang lebih bersifat sehari-hari, tak jarang muncul berbagai bentuk kekerasan verbal dan sikap yang tak santun yang terlontar dari komunikator utama di program tersebut.
Dari salah satu kesimpulan penelitian tersebut, menarik untuk lebih dicermati masalah makna religiusitas yang selama ini ditampilkan berbagai program Ramadan tersebut. Makna religiusitas macam apa yang dominan dalam program-program tersebut?
Patut disayangkan bahwa—sependek pengamatan penulis—makna religiusitas yang diusung oleh program Ramadan di televisi itu kebanyakan masih tak beranjak dari paradigma keberagamaan yang—dalam bahasa Gordon W. Allport—bersifat ekstrinsik. Dalam sikap keberagamaan ekstrinsik, agama digunakan untuk menunjang motif-motif lain, seperti kebutuhan akan status, rasa aman, atau harga diri. Orang-orang yang beragama dengan cara ini melaksanakan bentuk-bentuk ibadah hanya pada tataran kulitnya saja (Rakhmat, 1998: 26).
Kita bisa melihat pemaknaan religiusitas yang bersifat permukaan ini dalam tema-tema yang diangkat dalam berbagai program Ramadan tersebut. Kebanyakan tema agama yang disajikan di sana lebih banyak berkaitan dengan aspek-aspek keagamaan yang bersifat ritual atau bentuk-bentuk penghayatan keagamaan yang kurang secara signifikan berkaitan dengan penguatan moralitas individual atau sosial seseorang. Jika bentuknya cerita (sinetron), tema dan alurnya kebanyakan bisa sangat klise dan khas sinetron Indonesia: seseorang yang “beriman” dan teraniaya, tapi kemudian berkat ketabahannya dia dapat melewati segala masalahnya dengan akhir yang membahagiakan.
Religiusitas yang dominan dalam program televisi di bulan Ramadan kurang menyentuh nilai-nilai substantif agama yang bertolak dari realitas umat. Religiusitas di sini nyaris sepenuhnya dikerangkeng dalam pengertian ritualisme, dan kadang seperti menjadikan agama sebagai pelarian atau penghiburan atas penderitaan hidup dan realitas masyarakat kita yang korup dan “sakit”. Makna “positif” religiusitas dalam kerangka penguatan nilai dan moralitas sosial, yakni nilai-nilai yang kental dalam makna terdalam ibadah puasa, tak menjadi tema dominan. Agama seperti tak diajak untuk berdialog dengan realitas konkret di masyarakat, dan hidup di “dunia lain” yang indah dan menyejukkan—tetapi sejatinya dangkal.
Jika dicermati lebih jauh dan lebih mendalam, hal ini mungkin tak terlalu mengejutkan. Program televisi bernuansa keagamaan di bulan Ramadan dapat dikatakan sebagai salah satu wujud representasi dan persepsi yang bersifat kontinu dari berbagai program keagamaan di layar kaca. Dalam beberapa tahun ini, dunia televisi kita tumpah ruah dengan berbagai “sinetron religi” yang dalam beberapa hal kadang mendangkalkan makna agama itu sendiri. Dalam beberapa tayangan tersebut, agama, misalnya, digambarkan identik dengan hal-hal yang berbau “mistik”. Realitas yang ditampilkan nyaris sama sekali tak berjangkar pada realitas umat.
Sungguh sayang, televisi yang dalam jagad Indonesia saat ini menjadi media yang sangat signifikan dalam menanamkan nilai-nilai kepada masyarakat masih berkutat pada logika kapital. Dalam program Ramadan, dapat dikatakan bahwa dalam beberapa hal televisi telah mengorbankan makna religiusitas agama yang substantif dan kontekstual, untuk kemudian ditukar dengan rating yang menawan.
Dengan mengambil cara pandang yang berbeda, dari perspektif masalah yang diulas ini kita juga dapat berefleksi dan mengaca diri dengan mengajukan pertanyaan: religiusitas dan sikap keberagamaan macam apa sebenarnya yang sejauh ini banyak berkembang dan dipahami masyarakat, seperti yang tercermin dalam penerimaan dan apresiasi mereka terhadap berbagai program Ramadan di televisi itu? Jawaban atas pertanyaan ini akan cukup berpengaruh atas upaya kaum agamawan dan kelompok masyarakat lainnya untuk lebih memberikan makna yang kontekstual dan membumi bagi agama yang dipeluknya.
Wallaualam.
Label: Religious Issues
Kamis, 06 September 2007
Sejarah Buku-Buku
Pagi ini ada seseorang yang mengembalikan beberapa buku yang dipinjamnya dariku. Satu di antaranya ternyata kembali dalam keadaan cacat: ada satu halaman yang sedikit sobek, dan ternyata, yang lebih parah lagi, jilidnya lepas mendua. Saat kubuka dengan perlahan, kelihatan ada semacam jurang yang menganga. Bekas-bekas lem yang sudah tak kuat lagi merekatkan lembar-lembar halaman itu tampak menyedihkan dan tak berdaya. Beberapa lembar halaman di perbatasan jilid yang mendua itu seperti sudah akan segera copot satu-satu.
“Saya sudah menyimpannya di lemari. Tapi ternyata masih ada yang ngambil tanpa setahu saya, dan beginilah jadinya. Saya mau menggantinya,” katanya, setelah dia lebih dulu memberi tahu soal halaman yang sobek.
“Nggak usah,” jawabku. “Lagi pula, tiga buku yang kamu pinjam itu tergolong buku langka. Saya ga yakin sekarang masih ada yang menjualnya. Termasuk yang jilidnya lepas itu.”
“Aduh, bagaimana ya. Saya ingin bertanggung jawab. Saya mau memesannya ke penerbit, langsung,” katanya, dengan wajah yang menunjukkan rasa penyesalan bercampur sedikit ketakutan.
“Nggak usah, ga usah dipikirkan. Kali ini saya maafkan. Anggaplah ini hadiah ulang tahun buat kamu,” jawabku. Kemarin sore aku memang ketemu dia, dan dia baru menerima hadiah ulang tahun dari teman-temannya.
“Ya udah, makasih ya…” katanya sambil sedikit senyum-senyum malu.
“Banyak di antara buku saya yang udah langka, udah ga ada lagi di toko-toko buku.”
“Terus buku-buku itu dapat dari mana?,” temannya bertanya, seperti ingin membantu mengatasi rasa bersalah yang masih tersisa di temannya.
“Buku-buku itu sudah lama saya beli. Lihat saja tanggalnya. Ada yang sudah sepuluh tahun yang lalu. Dan penerbitnya udah gulung tikar beberapa tahun lalu. Jadi kalo sekarang ga mungkin bisa dapat bukunya kan?”
“Iya, udah kalo gitu. Maafkan ya udah bikin bukumu cacat.”
“Iya,” jawabku singkat. Mereka kemudian berlalu. Mungkin masih dengan rasa bersalahnya.
Aku jadi ingat buku-bukuku yang lain. Beberapa bukuku itu tak hanya ada yang sudah langka, sudah seperti menjadi barang antik, tetapi ada juga beberapa bukuku yang menyejarah. Memiliki buku yang sudah sulit ditemukan di toko buku memang menjadi kebanggaan tersendiri. Kadang ada beberapa teman yang ingin fotokopi. Tapi, buku-buku yang menyejarah lain lagi. Nilainya lebih dari itu.
Aku jadi ingat buku yang baru tuntas kubaca semalam. Judulnya Creative Writing, karya AS Laksana. Buku itu aku dapatkan dengan memesan kepada teman di Jogja. Kebetulan kami bertemu di acara pernikahan teman kami di Gresik, beberapa waktu yang lalu. Buku pesananku itu dia bawa ke Gresik. Nah, aku ternyata asyik membaca buku itu selama di perjalanan. Dari Gresik ke Surabaya. Dari Surabaya ke Sumenep.
Ngomong-ngomong, bagi beberapa penulis, perjalanan memang sering menjadi sumber ilham. Konon, Arswendo Atmowiloto banyak menangkap isyarat ilham untuk tulisannya saat ia bepergian. Nawal el Saadawi, sastrawan feminis asal Mesir juga menulis semacam buku perjalanan yang reflektif. Diah Marsidi, seorang wartawan senior Kompas, juga menuliskan kisah-kisah perjalanannya yang menarik dalam buku Sekali Merengkuh Dayung.
Ada beberapa buku yang kubaca dalam suasana perjalanan. Sebuah buku yang dibaca dalam perjalanan biasanya selalu menarik. Jika tidak, kita bisa berhenti membacanya, dan menyimpannya rapi di tas ransel. Buku yang tuntas kubaca semalam itu aku baca di antara Gresik, Surabaya, dan Sumenep. Di Gresik, aku sedikit membacanya ketika baru melaju bersama bis yang mengangkutku menuju Surabaya. Di Surabaya, aku sempat membaca beberapa bab dari buku 164 halaman itu ketika sedang menginap di rumah paman. Juga ketika sedang menunggu teman, di trotoar sebuah jalan besar yang di tengahnya ditanami pohon-pohon rindang. Membaca saat menunggu ternyata kadang memang tak bisa total, karena menunggu kadang menyelipkan perasaan tak tenang. Apalagi menunggu sesuatu yang istimewa.
Pagi ini, aku juga ingat Pangeran Kecil, karya Antoine de Saint-Exupéry. Aku membeli buku itu di sebuah akhir pekan, sepulang dari kantor, lebih tiga tahun silam, lalu aku langsung membawanya serta dalam perjalananku dari Jogja ke Malang, dan terus ke Jombang.
Aku juga ingat buku-buku yang lain, baik yang kubaca dalam perjalanan, kubeli di perjalanan, atau yang aku dapatkan di sebuah acara bersama teman-teman. Atau ketika aku mendapatkan sebuah buku langka di antara tumpukan buku usang yang tak diperhatikan orang.
Sebenarnya aku ingin meminjamkan buku Creative Writing itu kepada si peminjam buku yang mengembalikan tiga bukuku pagi ini. Tapi ga jadi. Aku bukan ragu dengan cara dia menjaga bukuku. Aku jadi merasa ada yang istimewa dengan buku itu—buku yang baru tuntas kubaca semalam, setelah sebelumnya separohnya aku baca dalam perjalanan. Aku baru sadar, bahwa buku-buku ada yang memiliki sejarah—seperti juga lagu-lagu, dan perjalanan. Menulis buku juga memiliki sejarah. Demikian pula, membaca sebuah buku juga punya sejarah. Seperti halnya kita yang punya sejarah.
Aku tinggal di dalam itu semua. Di sana, aku tak sendiri.
Label: Diary