Dalam salah satu tulisannya, Alif Danya Munsyi pernah menuturkan tentang gejala ‘nginggris’ yang menjajah Jakarta. Di berbagai tempat umum di kota itu, bertaburan kata-kata berbahasa Inggris seperti no smoking, three in one, flying over, busway, ring road, dan sebagainya.
Malah dia juga menemukan ada kasus ‘nginggris’ yang salah kaprah. Di beberapa gedung megah di Jakarta, tulisan tanda masuk dan keluar ada yang menggunakan kata in di gerbang masuk dan out di gerbang keluar. “Dengan begitu manusia seakan-akan menjadi bola tenis atau kok bulutangkis yang diteriaki wasit antara masuk dan keluar garis,” tulisnya.
Kasus salah kaprah ‘nginggris’ yang serupa baru-baru ini saya temukan di desa saya tepat sehari sebelum peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober lalu. Saya menemukannya saat saya hendak meninggalkan acara wisuda sarjana Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Sumenep, pada 27 Oktober 2013 lalu. Di tempat parkir, saya melihat tulisan yang langsung membuat saya—untuk kesekian kali—tertawa melihat kecerobohan berbahasa pengurus publik yang juga lazim disebut “korps baju cokelat” itu.
Saya melihat mobil operasional polisi sektor Guluk-Guluk bernomor polisi 3702-67 mencantumkan tulisan berbahasa Inggris tetapi keliru. Di belakang ruang kemudi, ada tulisan besar “SABHARA”, dan di bawahnya tertulis “Contack Center (021) 110”. Tulisan berbahasa Inggris yang keliru ini, “Contack”, juga saya temukan di sisi kanan bagian belakang Mitsubishi Strada itu.
Saya agak terburu-buru saat menemukan kejanggalan itu dan tidak sempat memfoto secara lebih detail mobil yang sedang parkir itu. Dalam perjalanan pulang dari tempat acara saya jadi teringat kasus kecerobohan berbahasa aparat kepolisian yang sebelumnya juga sempat saya temukan dan saya tulis di blog saya.
Korps yang terkesan amat suka membuat akronim ini pernah membuat masalah serius di Kabupaten Sumenep gara-gara mereka tidak bisa memahami kalimat yang tercantum dalam brosur penerimaan brigadir brimob dan dalmas 2012 Kepolisian Resor Sumenep, Jawa Timur, yang dibuat oleh institusi mereka sendiri. Akibat ketidakpahaman ini, mereka bersikeras menolak seorang lulusan Madrasah Aliyah yang dikelola oleh sebuah pesantren di Sumenep. Aparat masih terus ngotot meski sudah diberi penjelasan baik dari sudut kebahasaan maupun dari aspek yang lain. Ujungnya, Polres Sumenep baru menyatakan permohonan maaf sepekan setelah ada tekanan berupa aksi massa pada 17 Juli 2012 dan pengaduan hingga tingkat Jawa Timur.
Selain teringat pada kasus tahun lalu itu, saya juga sempat bertanya-tanya: apakah ini hanya satu kasus kesalahan, atau dalam bahasa aparat biasa disebut “oknum”, atau memang terjadi secara masif? Secara kebetulan, hari Sabtu (9/11) lalu saat saya sedang ke kota Sumenep, pertanyaan saya ini terjawab. Saat melintas di depan Masjid Jamik Sumenep, saya melihat mobil operasional polisi sektor kota Sumenep, dan sekilas saya melihat tulisan berbahasa Inggris dengan kesalahan yang persis sama di bagian belakang sisi kanan mobil yang sedang parkir tersebut. Sayang sekali saya tak sempat memfoto mobil tersebut.
Pikiran saya terus berlanjut: jangan-jangan ini terjadi di semua mobil operasional polisi di Sumenep. Atau bahkan di Jawa Timur! Teringat kembali pada kasus tahun lalu, saya jadi khawatir bahwa kecerobohan berbahasa semacam ini juga menunjukkan kekacauan berpikir pengurus publik di negeri kita.
Beberapa ahli bahasa melihat gejala ‘nginggris’ ini sebagai bentuk sikap minder. Di sisi lain, ini bisa juga menunjukkan kehidupan kita yang semakin mendunia. Di atas itu semua, jangan sampai keinginan untuk ‘nginggris’ dan tampil sebagai warga dunia terjerembab ke dalam sikap yang justru bisa bikin orang meringis, seperti pengalaman saya di atas.
Baca juga:
>> Nalar Bahasa Pengurus Publik
Kamis, 14 November 2013
Maunya ‘Nginggris’ Malah Bikin Meringis
Label: Social-Politics
Senin, 14 Oktober 2013
Cerpen Terpilih Lintas-Dekade untuk Program Literasi SMA 3 Annuqayah
Keluasan bacaan sangat penting untuk membantu proses kreatif kepenulisan. Wawasan bacaan yang terbatas bisa jadi akan membuat penjelajahan kreasi kepenulisan seseorang juga terbatas.
Gagasan semacam inilah yang membuat saya sebagai Kepala SMA 3 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, merasa penting untuk menghimpun cerpen (cerita pendek) terpilih dalam satu buku yang diharapkan dapat membantu siswa untuk memperkaya wawasan bacaan dan kepenulisan cerpen pada khususnya. Penting diketahui bahwa minat bacaan dan kepenulisan siswa di SMA 3 Annuqayah (yang semuanya perempuan) pada khususnya dan siswa/santri putri Pesantren Annuqayah pada umumnya relatif cukup banyak yang mengarah pada fiksi, baik novel maupun cerpen. Sedang dari pengamatan sepintas terlihat bahwa rujukan bacaan siswa untuk karya fiksi berupa novel dan cerpen masih terbatas. Akibatnya, siswa yang menulis cerpen cenderung memperlihatkan gaya yang relatif seragam.
Dengan landasan pemikiran seperti ini, saya merancang program penerbitan buku antologi cerpen terpilih yang bertujuan untuk memperkenalkan para penulis cerpen terkemuka di Indonesia dan karya-karya terbaik mereka. Program penerbitan antologi ini berada dalam kerangka program pengembangan literasi di SMA 3 Annuqayah yang dirancang khusus pada tahun pelajaran 2013/2014.
Sebuah buku yang menghimpun cerpen-cerpen terbaik lintas-generasi dan lintas-dekade menjadi penting karena sependek pengetahuan saya, buku seperti ini belum ada atau belum diterbitkan untuk umum. Buku Angkatan 66: Prosa dan Puisi yang dihimpun oleh HB Jassin, misalnya, sebagaimana judulnya, hanya terbatas pada generasi sastrawan yang disebut “Angkatan 66”. Kumpulan cerpen terbaik Kompas yang rutin terbit sejak 1992, misalnya, hanya terbatas pada cerpen-cerpen yang dimuat di Harian Kompas.
Memilih penulis cerpen dan karya mereka untuk dihimpun dalam satu buku memiliki keterbatasan dan juga kesulitan tertentu. Ada banyak penulis cerpen terkemuka di Indonesia yang mewakili generasi dan gaya atau teknik bercerita yang khas. Jika buku ini memuat banyak penulis dan karyanya, maka bukunya harus tebal. Dan buku antologi yang terlalu tebal saya pikir mungkin akan kurang nyaman. Pengamatan sepintas, siswa di lingkungan saya masih agak “ketakutan” bila berhadapan dengan buku yang tebal. Karena itu, saya berpikir bahwa buku antologi cerpen terpilih ini bisa dibuat berseri—tidak hanya satu antologi. Dan ini adalah antologi yang pertama.
Antologi cerpen yang pertama ini memuat 18 cerita pendek karya penulis cerpen terkemuka di Indonesia. Kedelapan belas cerpen ini mewakili generasi penulis yang merentang dari cerpenis kelahiran tahun 1924 sampai 1977. Para penulis cerpen yang terpilih dalam antologi ini diseleksi berdasarkan dua pertimbangan utama: wakil dari generasi berdasar dekade tahun kelahiran dan kekhasan gaya kepenulisan. Proses pemilihannya memang agak sulit dan lama. Untuk dua hal ini, saya meminta masukan dari beberapa orang yang punya wawasan cerpen yang luas dan pemahaman akan kebutuhan bacaan siswa di lingkungan sekolah kami pada khususnya. Di antara mereka adalah Kiai Muhammad Faizi, Ahmad Badrus Sholihin, dan Bernando J. Sujibto. Saya juga sempat berkomunikasi langsung dengan Joni Ariadinata dan Puthut EA berkaitan dengan proyek antologi ini dan cerpen karya mereka.
Memilih satu cerpen dari penulis terkemuka yang sudah dipilih juga tidak mudah. Saya berusaha mengambil cerpen yang kira-kira mewakili kekhasan gaya kepenulisannya tapi kira-kira tidak terlalu sulit dicerna siswa setingkat SMA/MA. Untuk hal ini, saya sempat mengganti beberapa cerpen karena saat diujicobakan kepada beberapa siswa atau saat dibaca dan dicermati ulang oleh saya sendiri, saya merasa kurang begitu pas dengan cerpen yang sudah dipilih sebelumnya. Cerpen “Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan” karya Kuntowijoyo, misalnya, muncul setelah sebelumnya terpilih cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon” dan “Rumah yang Terbakar”. Cerpen “Lukisan Perkawinan” karya Hamsad Rangkuti, misalnya, dipilih setelah cerpen “Lagu di Atas Bus” dikomentari siswa bahwa katanya terkesan agak membosankan.
Memutuskan cerpen yang mana dari cerpenis seperti Putu Wijaya yang sangat produktif bahkan hingga sekarang untuk dimasukkan dalam antologi ini terasa cukup menyulitkan juga. Dalam situasi seperti ini, pertimbangan saya bisa jadi akan terkesan subjektif, meskipun saya sudah berusaha menyisir buku-buku kumpulan cerpen, buku-buku antologi cerpen Putu Wijaya yang saya punya semisal Blok dan Yel, dan juga laman blog yang khusus menampung cerpen-cerpen Putu Wijaya.
Selain melibatkan kenalan yang saya pandang ahli dalam proses memilih penulis dan karyanya, proses penyusunan antologi cerpen ini juga melibatkan siswa, termasuk juga dalam tahap pengetikan ulang naskah, koreksi pengetikan, pemilihan kata-kata yang kemudian dibuatkan kamus kecilnya di bagian belakang buku, dan pembuatan ilustrasi. Dari berbagai proses itu, saya juga meminta komentar dan penilaian siswa atas cerpen yang dibacanya itu.
Bagi siswa yang belajar di sebuah sekolah di pedalaman seperti SMA 3 Annuqayah yang berada di kampung Sabajarin, Desa Guluk-Guluk, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, antologi semacam ini pasti akan sangat berarti. Hanya dalam satu buku, siswa diperkenalkan dengan cerpenis-cerpenis terkemuka dengan satu karya pilihan mereka. Di tengah keterbatasan akses buku dan informasi, sejak bangku SMA siswa bisa memperluas dunia imajinasi mereka melalui karya-karya yang terhimpun dalam antologi ini.
Antologi ini rencananya akan dikemas dalam bentuk buku dan diperbanyak secara terbatas untuk digunakan dalam program pengembangan literasi SMA 3 Annuqayah. Di satu sisi, antologi ini diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran siswa yang hendak menulis cerpen, karena dalam kerangka program literasi di SMA 3 Annuqayah, sekolah rencananya akan menghimpun dan menerbitkan cerpen karya siswa secara rutin. Selain itu, dalam kegiatan pembelajaran di kelas untuk pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, antologi ini tentu saja dapat dipergunakan saat membahas tema cerpen di kelas, baik sebagai bahan latihan maupun pengayaan pembelajaran.
Sebagai pendukung pembelajaran, dalam antologi ini saya juga melampirkan kamus kecil di bagian akhir yang memuat kata-kata yang relatif baru bagi siswa. Ada 153 lema dalam kamus kecil ini. Lema dipilih sebagian besar oleh siswa selain oleh saya sendiri. Dengan adanya kamus kecil ini, kegiatan membaca akan menjadi lebih bergizi dan bernilai tambah karena siswa juga mungkin akan memperluas wawasan kosakata mereka.
Selain kamus, setelah 18 cerpen terpilih, saya juga memilih satu esai karya Budi Darma sebagai penutup yang kira-kira bisa menjadi bahan pengaya tentang proses kreatif kepenulisan cerpen.
Saat ini buku ini sudah berada dalam tahap penataan perwajahan akhir. Ada beberapa pernik perwajahan-dalam yang belum selesai, dan sampul untuk buku ini juga masih dalam tahap penyelesaian.
Satu hal yang masih mengganjal dalam pikiran saya adalah soal hak cipta. Pengetahuan saya yang lebih teperinci tentang hak cipta memang masih sangat kurang. Tapi muncul pertanyaan dalam benak saya: apakah penerbitan buku ini secara terbatas dalam konteks, situasi, dan tujuan seperti saya paparkan di atas bisa dibenarkan secara moral atau tidak mencederai hak para penulis yang karyanya termuat di sini?
Untuk sementara, saya berbaik sangka bahwa para penulis yang karyanya termuat dalam antologi ini akan tidak merasa bermasalah atau tidak merasa haknya tercederai. Dalam bahasa pesantren, ‘ulima ridlâhu (artinya: diketahui bahwa dia akan rela). Buku antologi yang saya siapkan ini sangat jauh dari tujuan-tujuan yang sifatnya komersial atau bersifat pribadi. Saya yakin, para penulis yang karyanya termuat dalam antologi ini akan merasa seperti saling bergandeng tangan— juga dengan kami di sini, guru dan siswa di sebuah sekolah di pedalaman Madura—untuk bersiasat mengatasi keterbatasan dan sekaligus bergerak untuk memajukan pendidikan dan kehidupan masyarakat melalui sastra dan literasi.
Saya yakin, Allah akan mencatat semua niat baik dan usaha kebaikan yang dilakukan semua orang, sekecil apa pun itu, sesederhana apa pun itu. Dan semoga niat baik saya melalui penerbitan buku antologi cerpen terpilih ini tidak termasuk dalam kategori niat baik yang dilakukan dengan jalan yang tidak/kurang baik.
Semoga mendapat perkenan Allah. Terima kasih.
Daftar Cerpen Terpilih dan Sumber Naskah
Robohnya Surau Kami, AA Navis
AA Navis, Robohnya Surau Kami, Jakarta: Gramedia, Cetakan XIII, September 2007.
Tegak Lurus dengan Langit, Iwan Simatupang
Iwan Simatupang, Tegak Lurus dengan Langit, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2004.
Sumpah Dua Lelaki Bersaudara, Mohammad Diponegoro
Mohammad Diponegoro, Odah dan Cerita Lainnya, Yogyakarta: Hikayat Publishing, Maret 2006.
Secangkir Kopi dan Sepotong Donat, Umar Kayam
Umar Kayam, Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, Jakarta: Grafiti, April 2003.
Laki-Laki Tua Tanpa Nama, Budi Darma
Budi Darma, Orang-Orang Bloomington, Jakarta: Sinar Harapan, 1980.
Keberanian Manusia, Motinggo Busye
Motinggo Busye, Nyonya dan Nyonya, Jakarta: KPG, Oktober 2004.
Setangkai Melati di Sayap Jibril, Danarto
Danarto, Setangkai Melati di Sayap Jibril, Yogyakarta: Bentang Budaya, Februari 2001.
Lukisan Perkawinan, Hamsad Rangkuti
Hamsad Rangkuti, Lukisan Perkawinan, Yogyakarta: Mahatari, Oktober 2004.
Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan, Kuntowijoyo
Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (Cerpen Pilihan Kompas 1997), Jakarta: Penerbit Buku Kompas, Cetakan II, Maret 2002.
Kamus, Putu Wijaya
Putu Wijaya, Blok, Jakarta: Pustaka Firdaus, Cetakan II, September 1995.
Gus Jakfar, A, Mustofa Bisri
A. Mustofa Bisri, Lukisan Kaligrafi, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, Cetakan III, April 2008.
Senyum Karyamin, Ahmad Tohari
Ahmad Tohari, Senyum Karyamin, Jakarta: Gramedia, Cetakan IV, Oktober 2000.
Dongeng Sebelum Tidur, Seno Gumira Ajidarma
Seno Gumira Ajidarma, Iblis Tak Pernah Mati, Yogyakarta: Galang Press, Mei 1999.
Malaikat tak Datang Malam Hari, Joni Ariadinata
Joni Ariadinata, Malaikat Tak Datang Malam Hari, Bandung: DAR Mizan, 2004.
Otobiografi Gloria, AS Laksana
AS Laksana, Murjangkung, Jakarta: GagasMedia, 2013.
Makam Keempat, Linda Christanty
Linda Christanty, Kuda Terbang Mario Pinto, Jakarta: Kata Kita, Februari 2004.
Ketika Mas Gagah Pergi, Helvi Tyana Rosa
Helvy Tiana Rosa, Ketika Mas Gagah Pergi, Jakarta: Pustaka Annida, 1997.
Ibu Pergi ke Laut, Puthut EA
Ripin: Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006, Jakarta: Kompas, 2006.
Pengarang dan Obsesinya, Budi Darma
Budi Darma, Laki-Laki Lain dalam Secarik Surat, Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2008.
Baca juga:
>> Kerangka Acuan Program Pengembangan Literasi SMA 3 Annuqayah
Read More..
Label: Literacy
Kamis, 12 September 2013
Kerja Efektif
Setiap hari kita tenggelam dalam pekerjaan atau kegiatan yang kita lakukan. Namun pernahkah kita mencoba diam sejenak lalu bertanya pada diri kita sendiri: seberapa jauh sebenarnya langkah yang kita buat dalam pekerjaan kita? Seperti apa sebenarnya nilai pekerjaan atau kegiatan yang telah kita lakukan itu?
Pertanyaan semacam ini dapat kita bawa ke wilayah pekerjaan atau kegiatan yang sifatnya perseorangan maupun kelembagaan. Mengajukan pertanyaan ini kepada diri kita sendiri mungkin terasa cukup sederhana. Pertanyaan itu hanya untuk kita, tidak untuk orang lain. Akan tetapi jika terkait dengan lembaga, pertanyaan ini tampak menjadi lebih rumit karena tentu saja pekerjaan atau kegiatan yang kita maksud melibatkan orang dan faktor yang tidak tunggal.
Baik diarahkan kepada diri kita sendiri maupun pada suatu lembaga, pertanyaan ini pada dasarnya bersifat evaluatif dan reflektif. Pertanyaan ini hendak mengukur dan melihat kembali secara lebih cermat titik-titik yang telah kita lalui dalam serangkaian pekerjaan atau kegiatan kita itu. Seperti apakah bentuk titik-titik yang kita bentuk dalam jejak pekerjaan atau kegiatan kita?
Membiasakan diri untuk mengangkat pertanyaan yang sifatnya evaluatif dan reflektif ini secara gamblang dan terus terang sangatlah penting. Di SMA 3 Annuqayah, hal ini saya wujudkan dengan membiasakan menyusun laporan kegiatan kependidikan sekolah setiap akhir tahun pelajaran. Dalam tiga tahun masa kepemimpinan saya, ada tiga laporan yang telah dibuat. Sejak tahun lalu, saya juga berusaha mendorong tradisi membuat laporan ini pada Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan juga salah satu unit kegiatan siswa di SMA 3 Annuqayah, yakni komunitas siswa peduli lingkungan yang bernama Pemulung Sampah Gaul (PSG).
Dalam laporan yang dibuat sekolah ini saya berusaha untuk mengangkat dan menyajikan semua data yang kami miliki terkait dengan seluruh kegiatan sekolah. Sistematikanya mengikuti bidang-bidang utama yang dikerjakan sekolah, yakni bidang kelembagaan, kurikuler, kesiswaan, sarana dan prasarana, dan administrasi.
Kadang data dan butir informasi yang kami cantumkan terasa agak remeh. Misalnya data asal sekolah siswa atau tanggal pelaksanaan rapat yang pernah dilaksanakan di sekolah. Akan tetapi saya yakin bahwa catatan-catatan seperti itu suatu saat akan kelihatan nilai gunanya.
Laporan sekolah yang kami buat saya dorong agar tidak hanya bersifat formal dan sangat singkat. Dalam tiap butir laporan kegiatan, saya mendorong agar ada deskripsi atau narasi sesingkat apa pun tentang kegiatan yang telah dilaksanakan itu. Pada titik ini kami merasa sangat terbantu oleh tradisi kami yang lain yang sejak tahun 2008 mendorong siswa-siswa kami untuk menulis berita kegiatan di sekolah. Tulisan-tulisan siswa itu pada akhirnya dapat menjadi paparan penjelas yang sifatnya naratif dan deskriptif tentang kegiatan-kegiatan sekolah yang dilaksanakan dalam satu tahun pelajaran. Sadar akan pentingnya “laporan” yang dibuat siswa ini, sejak tahun lalu kami melampirkan tulisan-tulisan siswa tersebut dalam laporan pertanggungjawaban kegiatan kependidikan sekolah.
Laporan yang kami susun ini terasa sekali semakin memudahkan pekerjaan kami pada tahun-tahun berikutnya karena dari laporan itulah kami bisa menemukan satu informasi tertentu tentang satu butir kegiatan yang akan berguna saat kami merancang atau melaksanakan kegiatan serupa di tahun berikutnya. Lebih dari itu, kami juga bisa mendapatkan satu gambaran yang cukup utuh dengan melihat semua apa yang telah kami lakukan dalam rentang satu tahun pelajaran.
Kami merasa dapat bekerja secara lebih efektif saat sejak tahun pelajaran yang lalu, yakni tahun pelajaran 2012/2013, di awal tahun pelajaran kami berhasil menyusun dokumen rencana program sekolah yang cukup lengkap. Pada dua tahun pelajaran sebelumnya, kami hanya membuat alokasi anggaran secara kasar dengan berdasarkan pada apa yang sudah kami kerjakan pada tahun sebelumnya. Namun sejak tahun pelajaran yang lalu, kami berhasil membuat rencana program sekolah yang disusun melalui proses yang cukup panjang dan melibatkan pihak guru.
Rencana program sekolah itu menuntun arah pekerjaan dan kegiatan kami, dan laporan yang kami buat di akhir tahun mengukur dan menilai seberapa jauh rencana kami itu terlaksana.
Rencana dan evaluasi atau laporan sebenarnya hal yang sudah lazim diketahui oleh banyak orang. Apalagi mereka yang berada di posisi pengambil keputusan atau kebijakan suatu lembaga. Biasanya masalah ini disampaikan dalam pelatihan kepemimpinan atau organisasi. Namun rasanya, paling tidak di sekitar saya, belum banyak lembaga yang mencoba untuk berdisiplin melaksanakan hal ini.
Saya membayangkan seperti apa kira-kira jalannya suatu lembaga yang melaksanakan kegiatan-kegiatannya tanpa perencanaan dan tanpa evaluasi. Pada tingkat yang paling ekstrem, saya pikir lembaga itu mungkin akan sangat rentan dengan situasi darurat atau tantangan bila suatu saat datang. Pada tingkat yang masih bisa ditoleransi, mungkin lembaga itu tetap bisa bertahan dan melaksanakan kegiatan rutinnya. Namun saya pikir lembaga itu akan cukup sulit berkembang.
Kerja efektif dengan perencanaan dan laporan saya rasakan juga dalam kaitannya dengan soal jejaring. Dokumen perencanaan dan laporan sekolah jika disiarkan kepada khalayak terkait akan mempermudah suatu lembaga untuk bekerja sama atau berjejaring dengan pihak-pihak yang lebih luas. Jika saya berbincang dengan seseorang yang sekiranya dapat membantu program sekolah kami, saya cukup memberinya tautan dokumen atau tulisan tentang kami di internet sehingga dia bisa mendapatkan informasi yang lebih lengkap. Dari situ juga, orang itu dapat juga terus melanjutkan penelusurannya melalui tautan dan jejaring informasi yang tersedia. Saya sangat percaya bahwa kerja sama atau berjejaring adalah salah satu faktor yang sangat penting dalam membantu kesuksesan pekerjaan atau kegiatan yang kita lakukan.
Kesimpulannya, pekerjaan atau kegiatan kita semestinya kita rencanakan dengan baik dan kita nilai (evaluasi) dengan tertib dalam bentuk dokumen tertulis. Ini tidak saja akan membuat pekerjaan kita menjadi lebih berdaya dan berhasil guna, tapi juga memudahkan orang lain untuk terlibat dan membantu pekerjaan atau kegiatan kita itu.
Terakhir, tulisan ini sebenarnya adalah pengingat untuk diri saya sendiri. Ya, tulisan ini adalah semacam peneguhan agar saat saya berkegiatan di satu lembaga, saya bisa terus istikamah untuk membuat perencanaan dan evaluasi tertulis—sesederhana apa pun, seperti halnya tulisan ini—agar pekerjaan saya itu bisa lebih mangkus atau bahkan agar waktu yang saya habiskan dalam kegiatan saya itu tidak relatif sia-sia.
Wa mâ tawfîq illâ bi l-Lâh.
>> Laporan Pertanggungjawaban Kegiatan Kependidikan SMA 3 Annuqayah Tahun pelajaran 2012/2013 bisa diunduh di sini.
>> Dokumentasi berita kegiatan SMA 3 Annuqayah Tahun Pelajaran 2012/2013 bisa diunduh di sini.
Label: Education, School Corner
Minggu, 01 September 2013
Mari Selamatkan Manuskrip Pesantren
| Salah satu manuskrip keislaman pesantren yang saya temukan bertanggal 10 Oktober 1977. |
Kajian pesantren dalam kerangka studi keislaman nusantara sudah cukup banyak dilakukan. Tapi pendekatan yang dilakukan masih sangat sedikit yang menggunakan metode penelitian naskah atau manuskrip pesantren. Studi yang dilakukan lebih banyak mengandalkan pada wawancara dan pengamatan. Ini terjadi terutama karena manuskrip pesantren masih belum mendapatkan perhatian oleh kalangan pesantren sendiri.
Demikian salah satu kunci gagasan yang saya dapatkan saat Pak Amiq Ahyad, kenalan di Facebook yang merupakan dosen filologi di Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya bertandang ke rumah saya beberapa hari setelah lebaran Idulfitri lalu. Kandidat doktor yang menyelesaikan dua program magister di Belanda ini memang mengajar dan menekuni studi naskah (manuskrip) dengan fokus ketertarikan pada manuskrip pesantren.
Kedatangan Pak Amiq kemarin itu di antaranya bertujuan untuk menyebarkan kesadaran akan pentingnya merawat dan menyelamatkan manuskrip pesantren yang menurut perkiraannya pasti sangat melimpah. Pak Amiq memberi ilustrasi kasar dugaannya bahwa di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, pastilah banyak sekali manuskrip pesantren.
Di pesantren yang tercatat berdiri pada tahun 1887 ini, dahulu pastilah para santrinya memiliki banyak catatan selama belajar di pesantren. Tambahan lagi, dahulu santri relatif sulit untuk mendapatkan kitab sehingga banyak di antara mereka yang menyalin atau menulis ulang kitab yang dipelajarinya di pesantren. Jika sepuluh persen saja dari para santri itu menyalin 2 kitab dalam setahun, maka potensi manuskrip pesantren di jaringan Annuqayah sangat besar.
Belum lagi ada fakta yang telah diketahui banyak orang bahwa beberapa kiai Annuqayah telah mengarang karya-karya berbahasa Arab. Beberapa di antaranya saat ini digunakan sebagai bahan pelajaran di lembaga pendidikan formal di Annuqayah dan lembaga jaringan atau alumninya.
Apa nilai penting salinan atau manuskrip-manuskrip tersebut? Secara sederhana Pak Amiq menjelaskan bahwa manuskrip-manuskrip pesantren itu akan dapat menjadi bukti yang sangat kuat betapa pesantren telah lama memiliki tradisi keilmuan yang canggih. Manuskrip pesantren akan memperlihatkan dengan jelas dialog-dialog keilmuan yang ada di pesantren sejak zaman dahulu.
Di sebuah pesantren di Jawa Timur, tutur Pak Amiq, dia menemukan sebuah karya yang luar biasa yang merupakan ulasan atas kitab Jawharatuttawhid karya Ibrahim al-Laqqani. Manuskrip yang lain, dalam bentuk catatan sederhana, juga berbicara banyak tentang semangat keilmuan yang ada di pesantren.
Saya sendiri sekitar dua tahun yang lalu secara kebetulan menemukan sebuah manuskrip pesantren tertanggal 10 Oktober 1977 di antara kitab-kitab ayah saya. Manuskrip yang saya temukan ini adalah rangkuman atas kitab Matnul Ajrumiyyah, kitab rujukan dasar tentang tata bahasa Arab yang biasa digunakan di pesantren. Manuskrip 31 halaman berbahasa Indonesia dan ditulis dengan huruf Arab pegon yang ditulis oleh seorang santri bernama Muhammad Sirri ini di mata saya memperlihatkan kecanggihan tradisi keilmuan pesantren pada masa itu. Menyusun rangkuman dari kitab kuning berbahasa Arab bukan sesuatu yang sederhana. Apalagi saya melihat si pengarang sudah bisa menyajikan beberapa poin rangkuman dalam bentuk tabel sehingga lebih mempermudah secara visual untuk memberikan pemahaman kepada pembaca. Tak heran bahwa naskah ini sampai sekarang di Annuqayah masih digunakan sebagai rujukan santri dalam belajar dasar-dasar tata bahasa Arab.
![]() |
MessagePengikutFacebook BadgeVisitors Last 30 DaysOnline VisitorsLive Traffic Feed |


