Senin, 12 April 2010

Tarian Aurora di Langit Utara


Sungguh saya tak menduga sebelumnya bahwa di negeri Viking ini saya akan punya kesempatan untuk menyaksikan salah satu keindahan alam yang hanya dapat disaksikan di belahan bumi tertentu saja. Setelah sempat gagal sebelumnya, akhirnya tadi malam saya berhasil menikmati keindahan langit utara yang menampilkan aurora.

Aurora adalah cahaya di langit dekat wilayah kutub yang hadir di malam hari. Cahaya ini muncul sebagai akibat dari interaksi antara medan magnetik bumi dengan partikel bermuatan yang dipancarkan matahari. Aurora di langit utara disebut Aurora Borealis. Saya cukup kesulitan dan tak paham membaca penjelasan ilmiahnya yang cukup terperinci di Wikipedia. Mungkin saya harus membacanya berulang-ulang dengan lebih cermat untuk bisa menangkap penjelasannya.

Yang pasti, tadi malam saya tak perlu benar-benar harus mengerti penjelasan ilmiah tentang apa itu aurora untuk bisa mengagumi dan menikmati keindahannya. Cahaya kehijau-hijauan itu berpendar di langit. Kadang ia membentang panjang dari timur ke barat, berkelebat, lalu mengental, meremang, menebal, dan menipis. Di saat yang lain, ia tampak menumpuk di langit utara dalam area yang cukup melebar, lalu sesekali mementaskan tarian lembut sebelum akhirnya menghilang ditelan langit cerah bertabur bintang. Dari sudut yang berbeda, kadang cahaya kehijauan itu membentuk seperti tanduk Viking yang menggantung di langit.

Saya menyaksikan aurora tadi malam dari puncak bukit kecil di komplek asrama mahasiswa Moholt, Trondheim. Jaraknya hanya sekitar 150 meter dari apartemen saya. Selasa jelang tengah malam hingga Rabu dini hari yang lalu, hampir dua jam saya di sana menunggu aurora, namun mendung tebal telah menyembunyikannya. Untungnya, tadi malam aurora berhasil hadir dengan sempurna, sejak mendekati tengah malam hingga menyongsong fajar.

Di antara puluhan mahasiswa dari berbagai negara yang ramai-ramai berkumpul di bukit kecil untuk menyaksikan keindahan aurora itu, saya mencoba merekam gambar aurora dengan kamera saku saya dari berbagai sudut. Sayangnya, di puncak bukit kecil yang juga menjadi tempat parkir mobil itu ada satu lampu di tengah yang agak mengganggu untuk dapat menyaksikan pemandangan langit malam dengan lebih sempurna. Namun demikian, dengan mengambil sudut pandang yang tepat, sedikit teknik, dan tentu saja kesabaran, saya dapat mengabadikan beberapa gambar aurora dengan cukup memuaskan.

Dari atas bukit itu, aurora kadang tampak melintang seumpama selendang yang dikibarkan di atas bangunan komplek mahasiswa Moholt Studentby. Jauh di belakang, tampak bukit yang bercahaya oleh lampu-lampu kota. Saya juga sempat mengambil gambar aurora dari balik pohon yang masih belum berdaun. Warna kehijauan bertaburan di langit di balik pohon yang tampak meranggas itu. Titik-titik bintang kecil bersinar keputihan.

Tarian cahaya indah di langit utara—apakah saya masih akan punya kesempatan untuk kembali menyaksikannya? Mengingat kembali pemandangan langit tadi malam itu, saya masih merasa takjub dan bertanya-tanya: seberapa dalam sebenarnya rahasia semesta telah berhasil kita singkapkan? Aurora, bagaimanapun, hanyalah bagian kecil dari mukjizat bumi, planet kecil di antara bintang-bintang terserak dan benda langit di angkasa yang tak terhingga hitungannya.

Wahai aurora, pesan apakah yang hendak kau bawa untuk kami di sini?

Read More..

Jumat, 02 April 2010

Ayah, Apa Kau Masih Bisa Memimpin Pembacaan Shalawat di Perayaan Maulid Tahun ini?

Andai kau sedang berada di rantau, momen apakah yang akan membuatmu paling mudah untuk teringat pada ayah atau ibumu? Saya menduga kuat bahwa salah satu jawaban favorit adalah saat sakit. Bila kebetulan terbaring sakit di rantau, kita akan tersadar bahwa kita sedang benar-benar sendiri dan jauh dari keluarga.

Tujuh bulan di Eropa, alhamdulillah bisa dibilang saya belum pernah benar-benar sakit. Pernah juga sih, dua kali kurang enak badan agak serius. Yang pertama gara-gara kelelahan sepulang dari Jerman, dan yang kedua pas awal-awal baru tiba di Belanda—mungkin karena masih penyesuaian dengan cuaca dan sibuk mengurus ini itu. Masing-masing, sekitar dua hingga tiga hari saya tak banyak beraktivitas dan hanya beristirahat di kamar saja.

Namun demikian, bukan sakit yang mengingatkan saya pada orang rumah. Selama di Eropa, bulan Maulid-lah yang telah benar-benar mengingatkan saya pada ayah. Dalam rindu, saya bertanya-tanya: apakah ayah masih bisa memimpin pembacaan shalawat di perayaan Maulid tahun ini?

Di sepanjang bulan Maulid, bahkan kadang juga sebelum dan sesudahnya, di Madura pada khususnya biasanya ramai dengan perayaan Maulid. Orang-orang maupun lembaga banyak yang ikut memperingati kelahiran Baginda Nabi Muhammad saw. Bisa dikatakan hampir tiap hari. Dalam perayaan Maulid, shalawat, diba’ dan barzanji dilantunkan bersama-sama dengan dipandu oleh salah seorang yang hadir. Sering kali juga diiringi dengan tabuhan rebana.

Ayah saya bisa dibilang biasa memandu atau memimpin pembacaan shalawat di acara-acara perayaan Maulid di daerah saya. (Sebenarnya, shalawat juga biasa dibacakan dalam acara pernikahan dan ritus lainnya.) Memang, ayah memiliki suara yang merdu. Beberapa orang mengatakan bahwa jika membaca al-Qur’an, suara ayah mirip dengan Syeikh Ali bin Abdurrahman al-Hudzaifi, imam Masjid Nabawi, Madinah, yang terkenal itu.

Dalam perayaan Maulid, ayah biasanya membacakan diba’ dan barzanji atau bacaan shalawat dengan irama lagu yang konvensional. Saya tidak tahu apakah penggambaran saya ini benar. Yang jelas, pilihan irama lagunya bisa dibilang relatif sudah lazim didengar dan mudah diikuti oleh jama’ah yang hadir.

Saya sendiri memang lebih suka seperti itu. Dengan pilihan shalawat yang kurang akrab didengar, saya kadang merasa kurang bisa menyatu dengan suasana religius yang berusaha dibangun dalam sebuah perayaan Maulid.

Meski pilihan irama lagunya biasa, saya harus katakan bahwa saat ayah membacakan diba’, barzanji, atau shalawat, saya dapat merasakan keindahan dan ketulusannya dalam memberikan pujian dan penghormatan kepada Baginda Rasul.

Saat ini, tujuh bulan berpisah dengan keluarga di rumah, dipisahkan jarak sebelas ribu kilometer, saya bertanya-tanya: apakah ayah masih bisa melantunkan diba’, barzanji, dan shalawat di perayaan Maulid tahun ini?

Sejak akhir 2007, yakni sejak stroke (ringan) menyerangnya, saraf motorik ayah terganggu. Ini menyebabkan ayah menjadi agak kesulitan mengolah suaranya. Ayah juga mengatakan bahwa nafasnya menjadi tidak cukup panjang lagi. Sejak saat itu, terkadang ayah menolak memimpin pembacaan diba’ atau barzanji di acara perayaan Maulid.

Kalaupun ayah bersedia, saya dapat merasakan betapa ayah sudah tak bisa fasih membaca diba’ atau barzanji seperti dulu, sebelum stroke menyerangnya. Saya masih ingat, di suatu siang di awal 2007 saya sempat mengikuti sebuah acara Maulid di rumah salah satu famili, dan ayah memimpin pembacaan diba’ di acara itu. Saya masih bisa merasakan kekuatan lantunan suaranya. Bacaan diba’, barzanji, dan shalawat ayah buat saya terasa cukup mampu untuk menghadirkan Baginda Rasul di antara kekhidmatan jama’ah yang hadir di sana.

Setelah itu, saya dapat merasakan betapa kadang ayah tampak kesulitan untuk melafalkan bait-bait syair yang berisi pujian kepada Nabi Muhammad itu. Bahkan kadang ketika membaca ayat al-Qur’an saat shalat berjama’ah, ayah juga kesulitan dan tak sefasih sebelumnya. Kadang ayah tampak cukup emosional dan tak sabar saat ia mengalami kesulitan semacam itu.

Kini, bulan Maulid telah lewat. Tapi mungkin saja masih ada orang yang merayakan Maulid Nabi di sekitar rumah saya. Dan, sampai sekarang pun, pikiran itu masih terus membayangi saya: apakah ayah masih bisa memimpin pembacaan shalawat dalam perayaan Maulid tahun ini—juga tahun-tahun mendatang?

Ayah, saya rindu bacaan shalawatmu. Ayah, saya berdoa untukmu, dan semoga syafa’at Nabi selalu tercurah untukmu. Ayah, maafkan saya, anakmu yang tak tahu berbakti ini.

Read More..

Minggu, 28 Maret 2010

Sebuah Cerita Akhir Pekan


Hari ini gerimis turun hampir seharian. Sesekali salju yang agak keras turun, mirip butiran es yang amat kecil. Saya merasakannya saat keluar membeli jeruk ke tempat belanja di sudut komplek asrama. Butir-butir es itu jatuh menerpa jaket dan terdengar seumpama alat musik perkusi. Saat saya melintas di atas tumpukan salju yang agak mengeras atau yang becek, suaranya menjadi nyaris tak terdengar tergantikan oleh suara gesekan sepatu.

Hari ini langit mendung berwarna kelabu. Tak ada matahari. Jendela kamar basah diterpa rintik yang tertiup angin. Jelang petang, saat lampu-lampu rumah yang berderet di bebukitan mulai dinyalakan di kejauhan, kabut turun memotong jarak pandang.

Malam datang semakin terlambat. Menghadap jendela yang agak buram, saya menunggu bulan yang akan muncul dari balik gedung di seberang kamar. Tapi langit memang kelam tertutup awan—dan bulan bersembunyi di sana.

Tirai jendela saya biarkan terbuka, berharap akan menemukan bulan menggantung di angkasa memancarkan cahaya saat orang memadamkan lampu-lampu mereka selama sejam. Langit tetap berselimut awan yang gelap.

Pukul 20.30, lampu kamar saya padamkan. Saya buka jendela kamar pelan-pelan. Dingin seketika masuk menyerbu. Rumah-rumah di bebukitan itu masih bercahaya. Di bawah, pohon yang kerontang tampak suram di antara penerangan lampu yang berwarna kekuningan. Salju masih menutupi tanah di bawahnya. Suasana begitu lengang.

Malam terus berjingkat, seperti pencuri yang tak ingin diketahui keberadaannya. Apakah saya memang punya harta yang cukup berharga untuk dicuri? Entahlah. Akhir pekan ini, saya merasa begitu tua dan lelah. Tua dan malam. Sedang meja saya masih berantakan.

Moholt, Trondheim, 27/03/2010 22.48

Read More..

Sabtu, 27 Maret 2010

Perkenalan yang Terlambat


“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” demikian sebuah ungkapan bijak mengatakan. Kalimat ini terlintas di pikiran saya saat baru beberapa menit menonton film dokumenter berjudul Addicted to Plastic (2009). Di bagian pembuka film itu, ada gambaran singkat betapa kehidupan kita mulai dari kamar tidur hingga berbagai kegiatan yang lain telah dikepung habis-habisan oleh plastik.

Saya merasa terlambat berkenalan dengan informasi penting perihal plastik—dengan berbagai masalahnya. Meski saat duduk di bangku Madrasah Aliyah pernah tertarik pada isu lingkungan dan sempat menulis sebuah artikel tentang lingkungan, saya merasa cukup terlambat untuk mendapatkan “pencerahan” yang pada gilirannya berlabuh pada sikap yang konsisten, lebih konkret, dan lebih luas.

Saat mengikuti acara Environmental Teachers’ International Convention (ETIC) 24-29 Maret 2008 yang lalu di Kaliandra, Pasuruan, momentum “pencerahan” itu pun datang. Forum yang kaya inspirasi itu mendorong saya untuk kemudian menemukan berbagai informasi mendasar yang cukup revolusioner buat saya berkaitan dengan isu lingkungan.

Plastik adalah yang paling awal. Hasil penelusuran saya di internet memberi saya banyak informasi yang cukup mengejutkan. Buat saya yang hidup dan dibesarkan di kampung di pedalaman Madura, saya baru sadar bahwa plastik sebenarnya adalah sejenis makhluk yang hadir secara diam-diam di sekitar saya, sampai akhirnya saya tersadar ketika mereka telah memberi ancaman nyata yang mewujud dalam tumpukan sampah yang nyaris tak dapat terurai.

Air minum dalam kemasan plastik adalah contoh yang cukup mudah dilihat. Saya tidak tahu kapan persisnya orang-orang di kampung saya dan yang lainnya menjadi begitu terpikat dengan produk ini. Air dalam kemasan sudah menjadi bagian hidup sehari-hari masyarakat di sekitar saya. Di sekolah, kantor-kantor pemerintah, bahkan saat bertamu ke tetangga pun, saya biasanya akan disuguhi air dalam kemasan plastik. Semakin hari jenisnya pun semakin beragam—tak hanya air minum biasa, tapi juga teh, dan sebagainya. Sulit saya bayangkan sebelumnya: bahkan saya bisa mendapatkannya setelah ikut tahlilan di tetangga.

Kantong kresek adalah wujud lain dari plastik yang paling populer. Dari pusat perbelanjaan di kota-kota hingga pasar tradisional di desa, hampir semua menggunakan kantong kresek atau berbahan plastik. Mungkin karena proses kedatangannya yang cukup samar, orang-orang kebanyakan sulit bersikap kritis untuk mempertanyakan muasal dan nasib akhir dari kantong kresek yang diterima setiap kali mereka berbelanja ini. Mereka tak sadar bahwa usia kantong-kantong kresek itu akan jauh lebih panjang dari rata-rata usia kita. Tak hanya itu, mereka juga tak sadar akan harga yang harus dibayar untuk itu semua.

Ketaksadaran ini sering kali saya temukan saat saya berbelanja. Juli 2009, saat berkunjung ke Yogyakarta, saya sempat mampir ke sebuah toko buku dan membeli dua buah buku tipis. Saya membayar Rp 24.800,- untuk dua buku tersebut. Kebetulan saya tak membawa tas ransel. Akan tetapi, karena merasa kedua buku itu dapat saya pegang dengan nyaman, saya menolak kantong kresek yang diberikan oleh pelayan toko itu.

Si pelayan tampak keheranan dan setengah memaksa saya untuk menerima kantong kresek itu. “Mbak, saya tak mau menambah jumlah sampah,” kata saya, singkat.

Tapi dia tetap memaksa. “Gapapa Mas, ini. Nanti kalau sudah di luar, buang saja ke tempat sampah kalau memang tak mau,” katanya dengan nada dan ekspresi yang tak nyaman.

Saya tambah heran dan jadi bertanya-tanya dalam hati, apakah dia memaksa karena alasan promosi, yakni karena di kantong kresek itu ada nama toko buku ini?

“Mbak, tanpa kantong kresek, saya bisa membawa dua buku saya dengan nyaman. Jadi tak perlu. Lagi pula, sampah plastik itu butuh puluhan atau bahkan ratusan tahun untuk dapat terurai di tanah,” jawab saya sambil bergegas meninggalkannya yang tampak masih menunjukkan rasa jengkelnya atas penolakan saya.

Ini bukan pengalaman pertama saya berhadapan dengan pelayan toko yang keheranan saat ada pembeli menolak diberi kantong kresek. Sebenarnya, di penghujung 2008, di toko buku yang sama, saya juga mengalami kejadian serupa—dengan pelayan yang berbeda.

Bagi saya, pengalaman seperti ini jelas menunjukkan lemahnya pengetahuan dasar mereka tentang bahaya sampah plastik sehingga mereka tidak merasa sedang dikepung oleh bahaya sampah plastik. Akhirnya, peluang besar untuk menyampah dengan kantong kresek menjadi biasa. Sebaliknya, menolak kantong kresek tampak sebagai sikap yang aneh.

Biasanya, jika memang berniat untuk berbelanja, saya akan membawa kantong kain atau tas ransel dari rumah. Saat di rumah, saya cukup sering membawa tas plastik daur ulang karya murid-murid SMA 3 Annuqayah jika memang berniat mau berbelanja. Sering kali tas plastik daur ulang ini menjadi perhatian orang, termasuk pelayan toko. Pada saat itulah saya sering mendapat kesempatan untuk sekadar berbagi info mendasar tentang bahaya sampah plastik.

Berbagi pengetahuan, berbagi pengalaman, dan berbagi kesadaran. Itulah yang juga saya lakukan bersama murid-murid SMA 3 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, sejak April 2008. Sepulang dari ETIC di Pasuruan, bersama murid-murid saya mencoba menyebarkan informasi tentang bahaya sampah plastik. Sejauh ini, kami menggunakan media hasil kreasi daur ulang sampah plastik sebagai penarik perhatian atau sebagai pintu masuk ke perbincangan yang lebih luas dan mendalam. Dari satu sekolah ke sekolah yang lain, juga dari satu komunitas ke komunitas yang lain, kami mencoba mengajak mereka untuk mencermati perubahan di sekitar, khususnya bagaimana sampah plastik telah pelan-pelan semakin mengancam.

Sampai di sini saya berkesimpulan bahwa sering kali kita butuh informasi dan pengetahuan untuk bisa mengubah perilaku tertentu. Tentu tak semua jenis informasi dan pengetahuan bisa memberi pengaruh perubahan. Mungkin kita juga harus pintar mengolahnya, meraciknya dengan “bahan” yang lain, agar informasi dan pengetahuan itu bisa menginspirasi untuk perubahan.

Dan ini bukanlah hal yang mudah.

Selain informasi dan pengetahuan, saya percaya bahwa dukungan sistem itu perlu, seperti bahwa kantong kresek itu tak dibagikan secara gratis di pusat perbelanjaan, seperti juga kenyamanan bersepeda di Belanda, dan semacamnya.

Akan tetapi, setelah tujuh bulan tinggal di Eropa, saya menjadi semakin percaya bahwa pengetahuan dan dukungan sistem saja mungkin tak akan cukup. Di Belanda dan Norwegia, misalnya, meski kantong kresek di pusat perbelanjaan ada harganya (EUR 0,22 di Belanda dan NOK 0,70 di Norwegia), saya kadang masih melihat orang belanja tak membawa kantong sendiri dari rumah sehingga harus beli kantong kresek.

Lain dari itu, teman flat saya yang orang Eropa ternyata juga tak terbiasa memilah jenis sampah, meski di komplek asrama mahasiswa di sini tong sampah dibuat terpisah dan para mahasiswa diingatkan untuk memilah sampah. Saat teman-teman di Milis Keluarga Trondheim, milis warga Indonesia di Trondheim, Norwegia, membahas tentang Earth Hour, ada yang kritis mempertanyakan mengapa lampu di kampus NTNU Trondheim sering menyala di malam hari meski mungkin ruangannya sedang tak digunakan.

Di Indonesia pun, saya juga pernah mengalami paradoks serupa saat mengikuti sebuah acara yang diselenggarakan oleh lembaga yang menaruh minat besar pada pendidikan lingkungan. Sajian makan siangnya menggunakan kemasan styrofoam.

Memang, sikap konsisten itu tak mudah dilakukan.

Pengalaman menyaksikan paradoks semacam itu, baik di tanah air maupun di Eropa, menjadi hiburan tersendiri buat saya. Perkenalan saya yang terlambat dengan pengetahuan dan informasi yang revolusioner dalam kaitannya dengan gaya hidup ramah lingkungan tak membuat saya minder dan surut untuk mendorong diri saya sendiri agar bisa lebih konsisten.

Lebih dari itu, ada hal penting yang selalu saya garis bawahi, yakni bahwa dukungan pengetahuan dan informasi, sistem, dan mungkin perangkat teknologi ramah lingkungan, semuanya adalah faktor eksternal. Perubahan, bagaimanapun, selalu akan kembali ke diri kita sendiri—bukan yang lain.

Moholt, Trondheim, 27/03/2010 12.10

Baca juga:
Against Plastic Rubbish

Read More..

Sabtu, 06 Maret 2010

Serasa di Minas Tirith


Sebulan di Trondheim, 500 kilometer arah utara ibukota Norwegia, Oslo, saya kadang membayangkan seolah sedang tinggal di Minas Tirith, ibukota kerajaan Gondor. Paling tidak, itu yang cukup sering saya rasakan setiap kali berjalan mendaki atau turun bukit menuju atau dari kampus Dragvoll NTNU.

Dari sepanjang jalan setapak yang masih tertimbun salju tebal, tak begitu jauh, tampak pemandangan rumah-rumah warna-warni yang menutupi sisi bukit. Rumah-rumah itu warna-warni karena kebanyakan terbuat dari kayu dan dicat merah, kuning, hijau, biru, putih, dan nuansa warna indah yang agak sulit saya gambarkan. Satu di antaranya membentuk seperti tangga berundak mengikuti kontur bukit. Memang bukitnya tak setinggi dan securam Minas Tirith, tapi cukup untuk mengingatkan saya pada kota imajiner rekaan Tolkiens dalam trilogi terakhir The Lord of the Rings yang tergambar begitu eksotik di versi filmnya yang legendaris itu.

Saat saya melewatinya di hari yang sangat cerah, pemandangannya benar-benar indah. Langit biru yang begitu bersih benar-benar seakan ruang kosong yang aneh tapi memukau. Sisa-sisa salju yang menutupi sebagian atap rumah dan sedikit sisi bukit yang kosong membuat pemandangannya seperti negeri fantasi—ya, seperti Bumi-Tengah. Sisi bukit yang kosong itu tampak seperti cadas terjal yang tak begitu rata, sehingga salju yang memutih membentuk lukisan yang juga indah. Di halaman salah satu rumah yang berada dekat kaki bukit, tampak beberapa gazebo kecil dihampari salju di sekelilingnya yang tampak kontras dengan ukuran rumah yang begitu besar.

Sisi bukit itu terkesan sangat indah di mata saya juga karena saya telah melihatnya dalam suasana yang berbeda. Tepat sebulan yang lalu, saat baru mulai kuliah, saya pernah menikmati pemandangan bukit ini di pagi buta, satu jam sebelum matahari terbit. Waktu itu, kuliah saya masuk pukul 08.15, sedang matahari terbit pukul 08.26. Lampu-lampu temaram dan suasana yang masih gelap memberi kesan dan detail pemandangan yang berbeda.

Di kesempatan lain, saya menikmati pemandangan bukit itu saat saya pulang dari kampus dan salju sedang turun cukup lebat. Memang, pandangan mata jadi agak terbatas. Tapi rumah-rumah di lereng bukit itu tetap terlihat meski samar di antara warna putih yang dominan.

Tentu saja, pandangan saya tak selalu mengarah pada sisi bukit di jalan setapak menuju kampus itu. Karena tepat di seberang arah bukit, terhamparlah lanskap kota Trondheim yang begitu indah, lengkap dengan selat dan bebukitan lain di batas akhir pandangan saya. Tyholt Tower di area kampus Teknologi Kelautan NTNU tampak menjulang, selain menara Nidaros Cathedral yang terkenal karena menjadi tempat penobatan raja-raja Norwegia.

Pemandangan berbukit di Trondheim memang menarik karena kota kecil yang berpenduduk sekitar 170 ribu jiwa ini berada di dekat laut (selat) serta merupakan pertemuan Sungai Nidelva dan Trondheimsfjorden. Salah satu hal yang menarik saya temukan saat saya mencoba mengelili “pulau” kecil yang menjadi pusat kota Trondheim. Dikelilingi oleh Sungai Nidelva, dari situ pandangan saya dibatasi oleh bukit-bukit di kejauhan yang mengelilingi pusat kota Trondheim. Rumah-rumah kayu di tepi Sungai Nidelva pun tak kalah eksotiknya dengan rumah-rumah yang menutupi sebagian bukit-bukit itu.

Memang, sampai saat ini saya belum cukup jauh menjelajahi kota yang merupakan bekas ibukota Norwegia ini. Tapi saya sudah cukup bisa merasakan nuansa fantasi yang cukup kuat di sini. Setidaknya demikianlah dari sudut pandang saya.

Ya, serasa di Minas Tirith. Tapi saya tak bertemu Gandalf, Frodo, atau Aragorn. Pun, jangan harap saya nanti pulang akan membawa Cincin buatan Sauron. Saya bukan pahlawan—atau apa pun semacam itu. Saya berharap nanti pulang dari kota ini bukannya membawa fantasi. Saya ingin membawa sesuatu yang lebih nyata, yang mungkin akan cukup berharga untuk dibagi untuk semua.

Read More..

Minggu, 14 Februari 2010

Mengunjungi Rumah Anne Frank

Dari luar, tak tampak sesuatu yang istimewa pada rumah itu. Di tepi sebuah kanal, berjarak sekitar 1,5 km dari Amsterdam Centraal Station, rumah yang berdiri kokoh itu tampak biasa saja, seperti rumah-rumah lain di sebelahnya. Namun, di siang hari, di pintu masuk rumah itu akan sering tampak orang-orang berbaris panjang membentuk antrean.

Rumah itu tak lain adalah “Anne Frank House”, sebuah museum yang mendokumentasikan kisah persembunyian Anne Frank dari kejaran rezim Hitler Jerman di era Perang Dunia Kedua. Gadis yang bernama lengkap Annelies Frank itu adalah satu dari jutaan korban pembantaian atas orang-orang Yahudi oleh Hitler.

Gadis kelahiran Frankfurt 12 Juni 1929 ini pada tahun 1933 bersama keluarganya mengungsi ke Belanda, saat Hitler memulai kekuasaannya yang anti-Yahudi di Jerman. Namun, pada bulan Mei 1940, tentara Jerman berhasil menduduki Belanda. Perburuan Yahudi pun juga terjadi di Belanda.

Terhitung sejak 6 Juli 1942, keluarga Anne Frank bersembunyi di rumah yang kini telah dijadikan museum itu. Lebih dua tahun mereka bersembunyi di tempat itu, sampai akhirnya di bulan Agustus 1944 tentara Nazi berhasil menemukan mereka.

Bagaimana kisah Anne Frank dapat tersiar ke seluruh penjuru dunia? Selama di persembunyian, Anne Frank menuliskan catatan-catatan hariannya dan akhirnya diterbitkan pertama kali pada tahun 1947. Saat ini, buku harian yang berjudul The Diary of a Young Girl itu telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa dunia, termasuk bahasa Indonesia.

Saat berkunjung ke museum ini, saya berusaha menangkap dari dekat suasana tempat yang menjadi latar penulisan salah satu autobiografi atau catatan harian yang paling menarik untuk dibaca itu. Rumah itu sendiri ditata sedemikian rupa sehingga tetap menyerupai kondisi aslinya.

Ketika berhasil menangkap mereka yang bersembunyi di rumah itu, tentara Jerman juga mengangkut semua furnitur. Akan tetapi, untuk dapat mengetahui gambaran lengkap kondisi rumah sebelum dikosongkan, di salah satu kamar terdapat miniatur rumah yang memberi gambaran detail setiap kamar-kamarnya.

Selain itu, di beberapa kamar terdapat semacam layar televisi yang menampilkan video-video pendek berkaitan dengan sejarah Anne Frank, termasuk video Otto Frank, ayah Anne Frank yang selamat dari eksekusi tentara Jerman.

Tentu saja, salah satu bagian paling penting dalam rumah ini adalah Secret Annex, sebutan untuk tempat persembunyian keluarga Anne Frank. Kamar yang menjadi persembunyian itu tampak begitu muram dengan pencahayaan yang terbatas. Toilet dan alat memasak yang cukup sederhana dibiarkan sebagaimana adanya.

Di salah satu sisi dinding, ada garis-garis pendek menandai perkembangan tinggi badan Anne Frank dan saudarinya, Margot. Dekat jendela, tampak sebuah iklan untuk Opekta, perusahaan Otto Frank, yang selama pendudukan tak dikelola secara langsung olehnya. Ada pula beberapa edisi majalah hiburan tergeletak di meja di ruangan yang lain, yang dahulu disuplai oleh pegawai Victor Kugler dan rekan-rekannya, yang mengamankan keluarga Anne Frank di rumah itu dan membantu mengelola perusahaan Otto.

Hidup yang muram dan sangat mendambakan kebebasan memang sempat tergambar dalam catatan harian Anne Frank. Bukalah catatan harian tanggal 24 Desember 1943, saat Anne Frank menulis: “I long to ride a bike, dance, whistle, look at the world, feel young and know that I’m free.”

Selama dalam persembunyian di Secret Annex, mereka harus menggunakan toilet dan bak cuci seminimal mungkin. Suara pun harus benar-benar dijaga—karena nyawa adalah taruhannya.

Sesungguhnya, hidup dalam persembunyian sekian lama karena nyawa yang terancam memang merupakan sebuah tragedi dan tekanan psikologis yang tak mudah dilewati. Hari-hari tak hanya dilalui dengan membosankan, tapi penuh waspada dan kecemasan. Apalagi untuk anak gadis belia seusia Anne Frank saat itu, yang mestinya melewati masa-masa indahnya dengan hari-hari penuh kebebasan. Namun, Anne Frank mengaku dengan tegas bahwa menulis dapat memberinya jalan pembebasan dalam mengatasi segala dukanya itu.

“When I write I can shake off all my cares. My sorrow disappears, my spirits are revived!”
tulisnya pada 5 April 1944. Menulis kemudian ternyata memang benar-benar menjadi satu-satunya jalan bagi Anne Frank untuk menyapa dunia yang sulit untuk dijangkaunya saat itu.

Rumah Anne Frank yang beralamat di Prinsengracht 263, Amsterdam itu mulai dibuka untuk masyarakat umum sejak 1960, 50 tahun yang lalu. Otto Frank sendiri yang secara aktif terlibat mengusahakan agar Secret Annex itu dapat diakses oleh publik sebagai sebuah museum.

Museum ini bukanlah museum biasa. Siapapun yang menyusuri ruang-ruang kecilnya yang penuh dengan sejarah pasti akan dengan cukup mudah terlibat secara emosional ke dalam situasi yang ingin digambarkannya. Sebagaimana disadari oleh Otto Frank, museum ini dapat menjadi tempat berbagi nilai-nilai kemanusiaan, hak asasi manusia, kesadaran akan ancaman prasangka, diskriminasi, dan kekerasan.

Meninggalkan Rumah Anne Frank, kesan mendalam tetap tertanam dalam ingatan. Saat ini, prasangka dan diskriminasi masih terus saja menghantui pergaulan masyarakat dunia. Kelompok masyarakat tertentu di berbagai belahan dunia masih sering dilekati dengan atribut-atribut tertentu yang secara sosial merugikan dan cenderung diskriminatif.

Rupanya, mempromosikan cara pandang yang sederhana untuk melihat orang lain memang tidak mudah. Proses dan dinamika sosial yang kompleks kadang mendorong seseorang untuk memperlakukan orang lain tidak sebagai manusia, tapi sebagai seseorang-dengan-atribut-tertentu—dengan berbagai konsekuensinya.

Beberapa pekan setelah mengunjungi Rumah Anne Frank, saya membayangkan, andai orang-orang yang telah pernah berkunjung ke rumah itu bisa menangkap kesadaran etis dalam memandang manusia yang lain, alangkah damainya dunia ini. Seandainya bukan seandainya.

Zeist, Utrecht, 5 Januari 2010.

Tulisan ini dimuat di Harian
Jawa Pos, 14 Februari 2010.

Read More..

Jumat, 15 Januari 2010

A Lonely Biker


“Ceritakanlah padaku tentang warna putih,” katanya di suatu senja. Lalu aku pun bercerita tentang salju.

Sore itu, dari balkon apartemen yang masih dipenuhi salju, aku melihat seorang penyepeda keluar dari komplek Warande, Zeist, yang menampung sekitar seribu penghuni itu. Duduk di atas sadel, mengayuh pedal di jalanan yang licin dikelilingi pemandangan putih yang menghampar, di antara pohon-pohon menjulang yang juga memutih, aku seperti menangkap nuansa kesunyian yang hadir diam-diam. Ia tampak bersembunyi dalam tas kotak di belakang sadel sepedanya.

Ia datang bersama butir-butir lembut yang telah mengurung benua ini di bawah titik nol. Dengan kepolosannya, ia telah menjungkalkan si penyepeda ke ngarai sunyi yang seperti tak bertepi. Kepada yang lain, ia telah memaksa mereka untuk memarkir sepedanya dalam gudang-gudang bawah tanah lebih lama.

Sore itu tak ada sinar matahari. Butir-butir salju yang menghampar itu tak sedang berkilauan diterpa cahaya keperakan. Si penyepeda bergerak perlahan di jalanan kecil yang saljunya sama sekali tak disingkirkan. Ia tampak bersabar. Bunyi roda sepedanya yang berputar melewati butir-butir salju yang lembut itu sesekali diiringi oleh kicau burung di kejauhan. Tiupan angin yang tak sedang amat kencang kadang menjatuhkan salju di pepohonan. Beberapa tampak menerpa jaketnya yang berwarna hitam. Wahai penyepeda, apa yang tengah kau jemput di luar sana?

Dari atas balkon, aku menyaksikan titik hitam itu bergerak perlahan di antara pemandangan putih yang tampak polos dan seperti berasal dari negeri kayangan.

Putih salju, apa pun makna keberadaanmu, apa pun atribut yang kau antarkan kepadaku, aku tahu, bahwa suatu saat kau akan luluh, mencair, lalu menghilang, entah ke mana, untuk kemudian kembali di suatu masa.

Read More..

Senin, 04 Januari 2010

Badai Salju dan Pengalaman Terburuk di Belanda


Musim dingin di Belanda adalah pengalaman pertama saya melihat salju secara langsung. Menyaksikan butir-butir salju berjatuhan di balkon dan lanskap yang memutih sejauh mata memandang, semua sungguh tampak begitu indah. Dua hari pertama salju turun, saya berusaha menikmati pemandangan di mana-mana. Saya ke Amsterdam, keliling pusat kota Utrecht, dan bersepeda di sekitar Zeist.

Akan tetapi, salju sebenarnya juga menyimpan cerita buruk. Dan saya juga telah benar-benar mengalaminya—di saat yang sungguh tepat!

Kejadian itu terjadi satu hari setelah badai salju yang melanda Belanda. Minggu, 20 Desember, salju turun sepanjang hari sehingga ketebalan salju di balkon saya hampir mencapai 30 cm! Menurut berita di situs Radio Nederland, badai salju yang turun di beberapa negara Eropa ini memang telah memakan cukup banyak korban.

Saya juga menjadi korban keesokan harinya, saat saya hendak berangkat liburan ke Frankfurt dengan menggunakan bus Eurolines dari Utrecht CS. Menurut jadwal dan tiket yang saya pegang, bus Eurolines ke Frankfurt akan berangkat pukul 09.45 dari Utrecht CS. Jadi, pukul 8.30 saya sudah menuju Utrecht CS dan tiba di halte bus Eurolines di Jaarbeursplein pada pukul 09.00.

Halte bus Eurolines satu komplek dengan halte bus-bus antarkota lain di sisi barat Utrecht CS itu. Kabar buruknya: tak ada tempat duduk untuk orang-orang yang menunggu di ruang terbuka itu. Jalanan, pohon-pohon yang meranggas, sepeda yang diparkir cukup lama, semua memutih akibat badai salju kemarin. Putih dan tebal. Butir-butir salju di pepohonan itu sesekali tertiup angin dan jatuh ke bawah.

Saya berdiri saja di halte Eurolines bersama beberapa orang yang juga sedang menunggu bus. Tas punggung saya tak dilepas. Tak lama setelah saya di situ, 4 mahasiswa Indonesia dari Deventer juga tiba di halte tersebut. Mereka mau berlibur ke Paris dan juga menggunakan Eurolines.

Waktu berjalan melambat saat menunggu. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 10 pas. Saya menunggu dengan agak cemas, karena udara dingin di situ seperti sudah sulit ditahan. Yang paling terasa adalah kaki dan tangan—agak kaku, seperti mau membeku. Karena itu, sesekali saya pindah ke tempat lain yang tak bersalju, agar sepatu tak bersentuhan langsung dengan salju tebal itu. Tapi tetap saja. Karena dingin telah menyebar ke mana-mana.

Saat pukul sebelas tampak ada bus Eurolines masuk ke area Jaarbeurs, saya berharap ini adalah bus ke Jerman. Ternyata itu bus ke Paris.

Jelang pukul 12, saya sudah tak tahan dengan dingin dan penantian yang serba tak jelas itu. Saya heran, mengapa tak ada kabar dari Eurolines. Saya sudah mencoba menelepon nomor kantor Eurolines di Amsterdam, tapi saya harus antre panjang di jalur telepon itu sehingga saya akhiri saja. Akhirnya saya pun masuk ke komplek Utrecht CS. Mungkin bisa sedikit menghangatkan badan, pikir saya, dan sekalian untuk ke toilet.

Setelah dari toilet, saya duduk-duduk di ruang tunggu Utrecht CS, tepatnya di dekat Blue Screen, papan jadwal kereta. Sambil menikmati segelas kopi, saya kembali mencoba menghubungi kantor Eurolines. Akhirnya, meski berada di antrean ketujuh belas, saya menunggu. Setelah menunggu sekitar 15 menit dengan agak gelisah karena khawatir pulsa terkuras habis, akhirnya saya tersambung dengan operator.

Dan ini dia kabar buruknya: setelah diperiksa, si petugas mengabarkan bahwa bus Eurolines ke Frankfurt baru saja meninggalkan Utrecht! Saya pun menerangkan bahwa saya telah menunggu di halte selama hampir 3 jam, dan tak ada kabar apa pun, sampai akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke Utrecht CS karena sudah tak kuat menahan udara dingin. Si petugas menjelaskan bahwa hari itu semua jadwal bus menjadi kacau karena badai salju.

Tapi saya tetap saja heran: apa gunanya saya memberi nomor telepon saya di formulir pemesanan tiket jika dalam situasi darurat seperti ini saya sama sekali tak mendapat kabar! Memang sih, tiket Eurolines itu hitungannya bisa relatif murah. Tapi kan itu bukan alasan untuk membuat penumpang terlantar kedinginan. Satu-satunya jalan keluar adalah menunggu bus berikutnya. Dan itu, paling cepat, pukul tiga sore. Saya harus bersabar dan bertahan di tengah cuaca dingin.

Akhirnya, pukul empat kurang seperempat saya sudah berada di dalam bus Eurolines ke Frankfurt. Gara-gara badai salju, saya sudah terhukum kedinginan di Utrecht CS menunggu bus. Sungguh ini adalah pengalaman terburuk saya selama di Belanda.


>> Beri rating untuk tulisan ini di Blog Radio Nederland Wereldomroep.

Read More..

Sabtu, 02 Januari 2010

Gelandangan Semalam

Saat kereta yang kami tumpangi dari Kassel dalam perjalanan sekitar 8 jam dari Berlin tiba di halte Frankfurt West pada pukul 00.55 Senin (28/12) dini hari, saya dan Mas Suratno sudah merasa lega. Sebentar lagi kami akan segera tiba di rumah, di Eschborn, dua halte dari situ, dan benar-benar akan dapat istirahat setelah dua hari mengunjungi Leipzig dan Berlin.

“Nanti kita masak mi dan telur saja, baru tidur,” kata Mas Suratno. Bayangan mi dan telur yang masih hangat untuk melawan suhu udara musim dingin di bawah nol derajat sudah terlintas di benak saya. Namun, ketika melihat papan informasi di halte Frankfurt West, saya langsung merasa lemas. Ternyata kereta terakhir ke Eschborn, kotamadya di barat laut Frankfurt tempat Mas Suratno tinggal, sudah lewat sekitar 5 menit sebelumnya.

“Kalau begitu, alternatifnya, kita akan bermalam atau melewatkan malam ini di Hauptbahnhof (Hbf) Frankfurt,” kata Mas Suratno. Waduuuuh. Jadi tertunda nih istirahatnya, pikir saya. Memang, Hbf Frankfurt, atau stasiun pusat Frankfurt, memang besar dan luas. Tapi saya tidak yakin akan cukup nyaman menunggu sambil beristirahat di situ hingga kereta pertama ke Eschborn berangkat pukul 04.59. Untungnya, kami masih dapat menumpang kereta terakhir ke Hbf Frankfurt, pukul 01.10.

Tiba di Hbf Frankfurt, kami sepakat untuk mencari warung yang masih buka untuk menunggu kereta pagi. Beruntung, McD masih buka. Ternyata di McD banyak sekali orang-orang yang sepertinya juga sedang menunggu kereta atau kemalaman seperti kami. Tak jauh dari tempat kami duduk, ada 6 muda-mudi berbahasa Spanyol dengan tas-tas besar mereka. Di meja di depan saya, seorang berkulit hitam tidur dengan menundukkan kepalanya ke lengannya yang disilangkan di meja di depannya. Sisa makanan yang dipesannya baru saja diambil oleh petugas kebersihan McD. Seorang tua yang baru saja masuk mulai menyantap pesanannya di samping saya.

Waktu terasa berjalan lambat, sampai akhirnya tepat pada pukul 2 dini hari seorang pegawai McD yang tampak rapi dan mengenakan dasi menghampiri meja muda-mudi Spanyol yang tampak asyik sekali berbincang itu. Saya dapat mendengar kata-kata pegawai itu dengan jelas: “Kami akan segera tutup, mohon maaf,” katanya.

Belum setengah jam kami di situ, kami pun terpaksa keluar. Kami tak punya pilihan: kami pun berencana kembali masuk ke Hbf Frankfurt dan berharap menemukan tempat nyaman di dalam untuk menunggu.

Tapi sungguh sial nasib kami. Beberapa meter dari pintu masuk, kami sudah dapat melihat orang-orang yang hendak masuk tampak diperiksa oleh petugas keamanan. Saat mendekat, kami ditanya oleh petugas keamanan itu: hendak ke mana? Mas Suratno spontan menjawab: Darmstadt—sebuah kota di pinggiran Frankfurt. Si petugas langsung tak mengizinkan kami masuk. “Kereta pertama ke Darmstadt baru beroperasi nanti jam 5,” jawabnya singkat.

Ternyata petugas keamanan hanya mengizinkan masuk untuk mereka yang hendak segera berangkat. Petugas itu memeriksa tiket—mereka tak bisa ditipu. Kami, bersama beberapa orang lainnya yang juga tak bisa masuk, akhirnya ngeloyor pergi begitu saja.

Jelas kami tak punya tujuan. Tak ada kenalan di sekitar Hbf Frankfurt. Akhirnya, spontan saja, kami berjalan di sekitar bangunan Hbf yang besar, sambil berharap menemukan tempat yang nyaman untuk berlindung dari udara dingin. Saat di salah satu sisi bangunan Hbf kami menyaksikan ada orang berkerumun di semacam halte bus, kami pun mencoba mendekat dan berbaur dengan mereka. Ternyata mereka adalah rombongan yang sedang menunggu bus untuk perjalanan ke luar kota.

Agak lama di situ dan merasa kedinginan, kami coba lagi untuk berjalan. Di sebuah jalan masuk ke halte kereta bawah tanah, kami jadi terpikir untuk berlindung di situ. Tapi ternyata pintu masuk halte ditutup, dan kami hanya bisa nongkrong tepat di pintu masuk bawah tanah selama beberapa saat. Namun begitu, tetap saja kami kedinginan.

Akhirnya, jelang pukul tiga dini hari, kami pun berhasil menemukan penyelamat kami. Di salah satu sisi bangunan Hbf, kami menemukan sebuah ruangan yang tampak seperti kafe. Dari jendela, kami dapat melihat beberapa orang duduk-duduk di dalam. Kami pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Setelah menjelaskan bahwa kami ketinggalan kereta terakhir ke Eschborn, petugas yang membukakan pintu langsung mempersilakan kami masuk ke dalam dan duduk.

Kami duduk di meja bundar dekat jendela di sudut ruangan. Tak jauh dari kami, 6 muda-mudi Spanyol yang tadi kami jumpai di McD tampak sudah agak lama di situ, asyik berbincang. Di sudut lainnya, beberapa orang yang tampak tua terlihat tidur dengan cara mereka masing-masing. Seorang di antaranya mengorok cukup keras—yang kadang mengundang senyum muda-mudi Spanyol itu.

“Ternyata kami menemukan tempat yang tepat,” kata saya pada petugas yang sangat ramah dan berseragam biru itu setelah ia menjelaskan tempat tersebut. Menurut si petugas, tempat itu adalah semacam organisasi kemanusiaan, namanya Bahnhofs Mission, yang membantu orang-orang seperti kami, dan sebagainya. Bahnhofs Mission, sesuai dengan namanya, berbasis di stasiun-stasiun kereta api di Jerman, dan memberi bantuan bahkan untuk hal-hal kecil, seperti membantu menemukan jadwal kereta, kaum difabel, dan sebagainya.

Meski hanya duduk-duduk dan mengobrol, kami sungguh lega karena paling tidak kami selamat tak membeku kedinginan di luar. Kami di situ sekitar 90 menit. Setengah jam sebelum jadwal kereta pertama ke Eschborn, kami pun pamit dan melangkah masuk ke Hbf Frankfurt. Stasiun masih belum begitu ramai. Dengan rasa kantuk dan lelah yang seperti tak tertanggungkan, kami melangkah pasti, membayangkan tempat istirahat kami di Eschborn yang hangat.

Read More..

Jumat, 25 Desember 2009

“Kalian Ini Adalah Para Elite...”

“Kalian ini adalah para elite. Kalian punya kesempatan belajar di luar negeri. Kira-kira bagaimana jika Indonesia kelak dipimpin oleh kalian? Apakah bisa lebih baik, bisa lebih bersih?”

Kurang lebih, begitulah kalimat-kalimat yang sempat terlontar dari Ibu Tatiana malam itu di pesta ulang tahun salah seorang rekan mahasiswa Indonesia di Utrecht. Kehadiran Bu Tati, yang telah cukup lama tinggal di Zeist dan punya cukup banyak pengalaman internasional, memang terasa cukup mengubah suasana—tak seperti lazimnya acara kumpul-kumpul mahasiswa Indonesia di Utrecht pada umumnya.

Bu Tati menanyai satu per satu rekan-rekan mahasiswa Indonesia yang malam itu datang ke Warande 190: apa program studi yang ditekuni di Utrecht, apa saja aktivitas di Indonesia, dan sebagainya. Jadilah kami seperti harus presentasi singkat tentang diri kami masing-masing. Bu Tati tak segan untuk menggali lebih dalam. Salah seorang di antara kami ada yang kemudian presentasi tentang tesis yang dikerjakannya.

Pembicaraan kami sebenarnya cukup lepas. Bu Tati, yang juga bisa berbahasa Prancis dan Spanyol, juga banyak berbagi cerita dan pengalaman hidupnya di Belanda. Di bagian ini, tampak sikap kritis Bu Tati dalam melihat realitas sosial. “Bagi kalian, yang relatif tak begitu lama tinggal di Belanda, mungkin akan melihat bahwa hidup di sini enak. Sebenarnya, tantangan hidup dan masalah sosial di sini juga banyak,” katanya.

Masalah kesejahteraan masyarakat, prasangka kepada etnis atau kelompok tertentu, menurut Bu Tati tak sepenuhnya selesai di negeri Kincir Angin ini. Jangan dikira bahwa di negara maju dan liberal seperti Belanda tak ada diskriminasi. Tentang hal ini, Bu Tati menuturkan beberapa pengalaman kecil yang relevan. Hmmm... rupanya tajam juga cara pandang Bu Tati ini.

Malam itu, kami tak sekadar berkumpul untuk merayakan dan mensyukuri ulang tahun rekan kami. Secara tidak langsung, ada sedikit peringatan dari Bu Tati tentang hidup yang sedang kami jalani di sini—juga tentang hari depan. Ya, benar, kami mungkin memang bisa disebut sebagai para elite sosial. Kami menikmati kesempatan untuk merantau dan belajar di sini, di tempat yang disebut sebagai “negara maju”—sebuah kesempatan yang mungkin hanya bisa diimpikan oleh orang lain.

Apa yang bisa kami bawa pulang dari sini? Apa yang akan kami kerjakan nanti? Pertanyaan semacam ini sejatinya menuntut banyak hal dari kami: bahwa kami harus punya proyek masa depan, proyek peradaban, sesuai dengan minat dan kepedulian kami, di komunitas masing-masing. Apakah harapan ini terlampau berlebihan, atau memang wajar?

Beberapa pekan setelah obrolan di malam itu, kata-kata Bu Tati masih cukup sering terngiang di ingatan saya: “Kalian ini adalah para elite...”

Read More..