Perpustakaan adalah jantung sekolah. Perpustakaan sejatinya dapat menjadi basis pembelajaran sehingga mampu memacu kreativitas dan wawasan siswa. Namun demikian, tidak semua sekolah atau lembaga pendidikan melakukan langkah serius dalam mengembangkan perpustakaan untuk dapat mendukung kegiatan pendidikan atau untuk dapat berfungsi secara maksimal.
Secara normatif, menurut Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0103/O/1981 tentang Pokok-Pokok Kebijakan Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan di Indonesia, perpustakaan sekolah berfungsi (1) sebagai pusat kegiatan belajar-mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan seperti tercantum dalam kurikulum sekolah; (2) sebagai pusat penelitian sederhana yang memungkinkan para siswa mengembangkan kreativitas dan imajinasinya; dan (3) sebagai pusat kegiatan membaca buku yang bersifat rekreatif dan mengisi waktu luang. Jika dicermati lebih mendalam, ketiga fungsi ini jelas menunjukkan potensi perpustakaan sekolah untuk dapat didorong mencapai tujuan yang lebih luas.
Sulit dibantah bahwa tradisi membaca yang dapat ditanamkan melalui perpustakaan memiliki nilai yang sangat penting dalam proses pembelajaran dan pendidikan. Mungkin bisa disebut sebagai omong kosong jika proses pendidikan tidak dibangun dengan tradisi membaca sebagai salah satu pilar utamanya. Tradisi membaca bukan sekadar pintu masuk untuk memperlebar wawasan atau meningkatkan penguasaan materi keilmuan tertentu. Tradisi membaca juga menjadi langkah awal untuk membangun tradisi keilmuan dan atau komunitas keilmuan yang kuat dan mapan, untuk mengembangkan semangat dalam meneliti, menelaah, dan berpikir secara cermat menghadapi suatu masalah.
Sementara itu, kenyataan yang terlihat di lapangan kebanyakan menunjukkan bahwa perpustakaan sering kali hanya menjadi semacam “gudang” tempat menyimpan buku—termasuk perpustakaan sekolah. Pengunjung datang, membaca atau meminjam buku, dan petugas melayaninya.
Salah satu langkah yang dapat diambil untuk lebih memaksimalkan fungsi perpustakaan sekolah adalah dengan mencoba mengintegrasikan aktivitas pembelajaran di sekolah dengan unit perpustakaan. Perpustakaan sekolah, sesuai dengan konteks keberadaannya di sekolah, pada satu sisi idealnya diposisikan sebagai badan pendukung utama kegiatan pembelajaran. Dengan berpijak pada asumsi ini maka koleksi buku yang dihimpun perpustakaan sekolah pertama dan terutama harus dirancang untuk dapat mendukung setiap mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, sesuai dengan tingkatan dan daya serap siswa.
Untuk dapat mencapai tujuan maksimalisasi pemilihan koleksi bahan pustaka di perpustakaan sekolah, dibutuhkan seorang pustakawan yang memiliki wawasan kepustakaan yang cukup bagus dan selalu mengikuti perkembangan mutakhir dunia perbukuan. Pemilihan koleksi bahan pustaka yang efektif dan tepat sasaran ini akan semakin terasa urgensinya jika dihubungkan dengan minimnya ketersediaan alokasi dana sekolah untuk perpustakaan, terutama di sekolah-sekolah swasta di pedesaan.
Setelah bahan pustaka yang disediakan perpustakaan sekolah diarahkan sedemikian rupa untuk dapat mendukung fungsi aktivitas pembelajaran, selanjutnya harus ada langkah serius lebih jauh agar bahan pustaka yang ada itu dapat berfungsi maksimal. Sekolah harus membuat kebijakan dan mendorong agar semua guru dapat lebih aktif mendukung pendayagunaan perpustakaan, misalnya dengan memberi tugas bagi siswa untuk membaca dan membuat sinopsis buku tertentu yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diampu. Pembelajaran di kelas sebisa mungkin diarahkan oleh guru bidang studi untuk selalu merujuk pada bahan pustaka tertentu yang tersedia di perpustakaan sekolah. Dengan demikian, ini berarti bahwa pada akhirnya guru juga dituntut untuk terus ikut memperluas wawasan keilmuannya dengan bahan-bahan pustaka terbaru.
Peluang untuk melakukan integrasi aktivitas kelas dengan unit perpustakaan tampak semakin terbuka jika kita mempertimbangkan mulai semakin semaraknya penerbitan buku-buku ilmiah populer yang muatannya cukup dapat dicerna oleh siswa dan disajikan dengan pengemasan yang tak lagi konvensional. Sejumlah buku ilmiah populer yang belakangan terbit menggunakan visualisasi yang menarik, atau disajikan dengan gaya bertutur yang mudah dipahami, terutama oleh anak usia sekolah.
Selain mendorong dari dalam kelas, unit perpustakaan itu sendiri tak boleh tinggal diam. Perpustakaan sekolah harus menjadi perpustakaan aktif, yakni perpustakaan yang secara aktif mendorong upaya maksimalisasi pemanfaatan koleksi bahan pustaka yang dimilikinya. Salah satu langkah strategis yang dapat dilakukan adalah dengan membentuk semacam klub membaca, yang secara berkala menjadi forum latihan bagi siswa untuk mengapresiasi buku-buku tertentu yang telah dibaca bersama. Dalam forum semacam ini, yang dibutuhkan adalah fasilitator yang berperan mendorong dan mengarahkan diskusi siswa dalam mengapresiasi buku. Siswa diajak untuk lebih aktif berbicara untuk menuturkan pengalaman mereka membaca buku.
Dalam hal tertentu, perpustakaan sekolah mungkin dapat mencontoh toko buku profesional, yang menempatkan buku best-seller atau buku baru di rak tersendiri, dengan tujuan untuk menarik perhatian pengunjung. Jika perlu, ulasan singkat tentang buku-buku tersebut juga ditempel di majalah dinding perpustakaan sekolah.
Upaya untuk meningkatan mutu pendidikan melalui perpustakaan sekolah yang lebih semarak ini dirasa amat penting dan mendesak di tengah kritik yang berkembang yang menyatakan adanya kecenderungan yang mengarah pada mulai berkembangnya budaya instan dalam belajar. Aktivitas belajar lebih banyak ditekankan pada kemampuan siswa dalam menjawab soal-soal ujian, bukan pada penguasaan yang lebih substantif atas bidang keilmuan tertentu. Dengan menghidupkan perpustakaan dan mengintegrasikannya dengan aktivitas pembelajaran di kelas, diharapkan terjadi peningkatan kualitas pembelajaran dan pendidikan yang lebih baik. Dengan begitu, pendidikan di sekolah menjadi lebih berarti dan lebih bermakna sebagai upaya untuk memperkuat mentalitas kebudayaan dan keberadaban siswa dalam menghadapi tantangan dunia global.
Sabtu, 30 Agustus 2008
Menyemarakkan Perpustakaan Sekolah
Label: Literacy
Rabu, 30 Juli 2008
Senja Kala Keluarga dan Belenggu Transisi Budaya: Ulasan atas Novel "Belenggu" karya Armijn Pane
Setiap gugus kebudayaan pada dasarnya selalu berada dalam situasi dinamis. Di satu sisi, ia berjumpa dan bergaul dengan gugus kebudayaan yang lain. Di sisi yang lain, ia mengalami pergesekan internal di antara berbagai elemen di dalam untuk menafsirkan kembali nilai-nilai dan fondasi kebudayaannya. Sudut pandang semacam ini menegaskan bahwa kebudayaan bukan semata produk atau sesuatu yang diciptakan, tetapi lebih merupakan proses atau kata kerja sehingga ia sangat berkaitan dengan agenda dayacipta masyarakat. Merujuk pada tipologi Sutan Takdir Alisjahbana, kebudayaan ditandai dengan tiga aspek pokok, yaitu aspek ekspresif dalam seni dan agama, aspek progresif dalam ilmu, teknologi, dan ekonomi, dan aspek organisasional dalam politik, yaitu dalam kekuasaan dan solidaritas (Kleden, 1988: 166-181). Melalui ketiga aspek inilah dayacipta kebudayaan selalu tampak bergerak dalam proses perubahan.
Perubahan dalam kebudayaan melibatkan proses tawar-menawar yang mengharuskan setiap individu dalam masyarakat bergulat dengan warisan kebudayaan yang dimilikinya untuk menatap tantangan masa depan dengan penuh keberanian. Karena kebudayaan adalah juga paradigma kultural (cultural paradigm) bagi seseorang yang akan sangat menentukan bentuk dan sudut pandangnya melihat persoalan di sekitar, tak jarang transformasi dan transisi kebudayaan memperlihatkan sebuah pergolakan dan kontroversi yang intens. Intensitas itu terjadi karena manusia sebagai subjek kebudayaan pada titik yang sama berada di dalam paradigma-kultural lama yang melingkupinya, sementara ia juga dituntut untuk dapat mengambil jarak agar dapat melihat paradigma baru yang dinegosiasikan itu secara lebih jernih. Sampai di sini, transformasi dan transisi kebudayaan itu pada tingkat tertentu kemudian dapat mengantarkan subjek kebudayaan pada situasi krisis yang mengguncang paradigma-kulturalnya yang lama (Kleden, 1988: 185-189).
Guncangan budaya dan krisis paradigmatis tersebut menjadi salah satu tema yang muncul dalam karya sastra modern. Karya sastra modern menjadi saksi yang mendokumentasikan pergulatan para subjek kebudayaan menghadapi perubahan. Karya sastra jenis ini di
Dalam konteks kesenian dan kebudayaan, Denys Lombard (2005: 199-201) menggambarkan periode
Dalam konteks kesusastraan dan kondisi sosial
Gagasan Armijn Pane, yang pernah mendapat penghargaan Anugerah Seni pada tahun 1967 dari pemerintah karena karya-karyanya dan jasa-jasanya dalam bidang sastra terutama dalam bidang Sastra Indonesia Modern, terbilang sangat maju dan cukup berbeda dengan arus utama zamannya, sehingga tak heran jika Belenggu ditolak oleh Balai Pustaka dan akhirnya diterbitkan oleh penerbit swasta dengan minat intelektual, Dian Rakyat. Selain filosofi kepenulisannya yang berbeda, novel Belenggu juga mengangkat tema yang pada saat itu terbilang tabu, yakni masalah perselingkuhan dalam keluarga. Perselingkuhan waktu itu dipandang sebagai masalah pribadi dalam kehidupan rumah tangga yang tak pantas dibicarakan secara terbuka—berbeda dengan sekarang, ketika gosip masalah rumah tangga oleh media
Ketiga tokoh utama ini berinteraksi dalam ketegangan atmosfer perselingkuhan yang digambarkan sejak bagian pembuka novel ini. Kisah dalam novel ini diawali dengan penggambaran keretakan hubungan Tono dan Tini, yang dilukiskan dengan cara menyajikan Tono yang baru pulang menangani pasien dan tengah kebingungan mencari-cari bloknot yang berisi pesan telepon dari para pasien. Mestinya Tini yang bertugas mencatat dan menyimpan bloknot itu di dekat pesawat telepon. Tapi Tono tak menemukannya. Pada bagian ini digambarkan Tono yang kesal, dan di bagian yang lain kemudian ditegaskan perasaan Tini yang tak sudi menjadi “budak suruhan penjaga telepon” (hlm. 17, 62).
Selanjutnya, cerita berlanjut pada benih perselingkuhan yang kemudian terjadi antara Tono dan Rohayah. Dengan menyamar sebagai pasien yang pura-pura sakit dan perlu ditolong, Rohayah memanggil Tono untuk mengobatinya. Saat pertama kali bertemu, Tono tak ingat bahwa perempuan yang memperkenalkan diri sebagai Nyonya Eni dan tinggal di sebuah hotel itu adalah teman lama yang memang mendamba cintanya sejak dahulu.
Pada pertemuan pertama, Tono memang berhasil selamat dari jebakan Nyonya Eni. Tono tak tergoda. Akan tetapi, situasi kritis yang tengah dihadapi ikatan pernikahan Tono dan Tini memungkinkan perselingkuhan berlanjut dengan nyaris mulus. Tono, yang mengharapkan sosok seorang istri yang dapat melayani dan mendukung profesinya sebagai seorang dokter, tak menemukan itu pada Tini. Sebaliknya, pada sosok Rohayah, Tono menemukan pemenuhan atas harapan-harapannya akan seorang istri yang “berlutut, membukakan tali sepatu” atau “menunggu suami dengan senyum yang murah di rumah” (hlm. 17, 33).
Jika Tono mewakili gagasan tentang pernikahan dalam paradigma “konvensional”, dalam novel ini Tini ditampilkan memiliki pandangan yang berseberangan. Menurut Tini, sebagai istri, perempuan juga berhak untuk “menyenangkan pikiran, menggembirakan hati” karena dia “manusia juga yang berkemauan sendiri”. Tini mengibaratkan istri yang hanya tinggal di rumah sebagai “barang simpanan, berbedak dan berpakaian bersih, sekali setahun dijemur diluar”. Tini menolak situasi yang demikian. Dia menegaskan, “Kami lain, kami bimbing nasib kami sendiri, tiada hendak menanti rahmat laki-laki” (hlm. 53). Di bagian yang lain, dalam dialog melalui
“Yu, Yu, benarkah kita perempuan, baru boleh dikatakan benar-benar cinta, kalau kesenangannya saja yang kita ingat, kalau kita tiada ingat akan diri kita, kalau kesukaan kita cuma memelihara dia? Kalau tiada perasaan yang demikian, benarkah kita belum benar-benar kasih akan dia? Aku bingung, yu, bukankah kita berhak juga hidup sendiri? Bukankah kita ada juga kemauan kita? Mestikah kita matikan kemauan kita itu? Entahlah, yu, aku belum dapat berbuat begitu” (hlm. 71).
Pikiran-pikiran Tini dan berbagai gagasan yang ditampilkan dalam novel ini dapat dikatakan cukup maju untuk sebuah pandangan beraroma feminisme di zamannya. Salah satu diskusi cukup hangat yang bersifat filosofis tentang eksistensi perempuan dalam pernikahan adalah negosiasi yang mesti dihadapi perempuan antara tuntutan aspek personal-eksistensial seperti gagasan Tini atau Tati di atas dan aspek sosial pernikahan untuk dapat memenuhi harapan “masyarakat” (baca: laki-laki). Eko Bambang Subiantoro (2002: 7-18) memaparkan bagaimana dalam pernikahan dan atau keluarga dalam masyarakat patriarki terjadi sublimasi identitas dan eksistensi diri perempuan pada laki-laki. Karlina Supelli (2003: 12-21) menunjukkan bagaimana makna hidup bagi perempuan setelah masuk ke dalam keluarga lebih sebagai hidup untuk memenuhi harapan masyarakat, masuk ke kawasan the generalized other, mengubur “diri” dalam sosialitas “fungsi”. Gugatan Tini dan Tati di atas kurang lebih mirip dengan penggambaran Simone de Beauvoir (1908-1986), filsuf Prancis terkemuka dan tokoh feminis, saat menggambarkan takdir perempuan dalam keluarga yang terjebak dalam rutinitas domestik yang nyaris tak bermakna. Beauvoir bahkan mengibaratkannya dengan kutukan Sisifus—sosok yang dipopulerkan oleh Albert Camus (1913-1960) untuk menggambarkan absurditas hidup.
Her home is thus her earthly lot, the expression of her social value and of her truest self. Because she does nothing, she eagerly seeks self-realization in what she has… Few task are more like the torture of Sisyphus than housework, with its endless repetition: the clean becomes soiled, the soiled is made clean, over and over, day after day (Beauvoir, 1989: 451).
(Rumahnya menjadi takdir perempuan di dunia, ekspresi nilai sosialnya dan dirinya yang sejati. Karena tidak melakukan apa-apa, dengan bersemangat perempuan mencari pewujudan dirinya pada apa yang dia miliki… Beberapa tugas lebih seperti penderitaan Sisifus daripada pekerjaan rumah, dengan pengulangan tanpa akhir: barang yang bersih menjadi kotor, yang kotor dibersihkan, begitu terus-menerus, hari demi hari).
Alur novel ini cukup dapat ditebak. Pada akhirnya Tono dan Tini tak kuasa mempertahankan bahtera keluarga mereka. Keduanya bercerai. Tini berangkat ke
Dengan bertolak dari semangat realisme kejiwaan, Armijn Pane dalam novel ini mencoba bersikap “objektif”. Tak ada penilaian moral atas perselingkuhan yang dilakukan antara Tono dan Rohayah. Tak ada isyarat atau penjelasan tentang pihak mana yang dipandang benar atau pihak mana yang patut dipersalahkan (Kleden, 1988: 205). Padahal, dalam bingkai kultur masyarakat patriarki, dalam kasus perselingkuhan perempuan sering kali dapat dengan mudah dijadikan kambing hitam yang harus menanggung kesalahan—apalagi perempuan yang memang hidup sebagai “perempuan panggilan” seperti Rohayah. Pilihan Armijn Pane untuk tak memberi penilaian moral atas kasus perselingkuhan ini jelas berseberangan dengan arus utama semangat kepenulisan di zamannya. Seperti dicatat oleh
Tak terjebak pada sikap menghakimi yang kadang bersifat apriori seperti itu, fokus uraian Armijn Pane dalam novel ini justru terletak pada situasi batin ketiga tokoh utamanya itu. Pada titik inilah kita dapat menemukan keistimewaan lain novel ini. Monolog atau komunikasi intrapersonal yang bersifat reflektif di antara ketiga tokohnya digali dan tersaji begitu intens, sehingga situasi transisi dan guncangan budaya yang dialami masyarakat
Paling tidak ada dua titik fokus yang bisa diambil untuk melihat lebih dekat pergulatan batin tokoh-tokoh utama novel ini. Yang pertama berkaitan dengan substansi pergulatan itu digambarkan, sehingga dari situ pada tingkat tertentu dapat terlihat “pesan terselubung” yang ingin disampaikan penulis. Gugatan-gugatan Tini, kegelisahan Rohayah dan juga Tono pada taraf tertentu memperlihatkan kadar perenungan yang mendalam dan berani. Dalam bingkai transisi kebudayaan, refleksi yang dilakukan para tokoh utama dalam novel ini tak lain adalah negosiasi untuk menghadapi senja kala keluarga yang tak mampu memenuhi harapan para tokohnya masing-masing.
Pada titik inilah makna judul novel ini menjadi dapat lebih dimengerti. Dalam novel ini, para tokohnya digambarkan berada dalam belenggu arus transisi. Tini, yang mulai berkenalan dengan ide emansipasi, terbelenggu dalam perjuangannya sebagai aktivis sosial yang justru menjauhkannya dari Tono. Sementara itu, Tono dibelenggu oleh angan-angannya—demikian Armijn Pane mengistilahkannya—tentang sosok ideal seorang istri dokter yang mestinya dapat membantu dan mendukung profesi suaminya. Sedangkan Rohayah berada dalam proses transisi dari belenggu masa lalunya yang kelam. Masing-masing tokoh dalam novel ini terikat dengan kepentingan nilai subjektifnya yang terbentuk melalui pendidikan dan pengalaman hidupnya.
Jika mau disebut sebagai “pesan terselubung” yang ingin disampaikan Armijn Pane, maka itu adalah ihwal belenggu subjektivitas yang menempatkan masing-masing karakter dalam ruang sempit yang mengerdilkan pikirannya (Dahana, 2008: 65). Belenggu subjektivitas itu secara sosiologis tampak sebagai sesuatu yang wajar, karena proses transformasi dan transisi kebudayaan memang membentuk situasi sosio-kultural yang cukup kompleks. Ide-ide baru yang berkaitan dengan kebebasan dan pembebasan, seperti halnya emansipasi, pada titik tertentu dapat memunculkan situasi serupa euforia. Euforia adalah perasaan nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan (Tim KBBI, 2001: 310). Bersentuhan dengan gagasan dan paradigma baru, subjek kebudayaan bisa saja larut dalam euforia yang bisa mengantarkannya ke berbagai wilayah penjelajahan personal-eksistensial yang tak tertebak. Seperti itulah kira-kira yang dialami Tini. Petualangannya dengan euforia gagasan emansipasi harus dibayar dengan keretakan kehidupan keluarganya. Dalam situasi seperti ini, euforia dapat menjadi jenis belenggu yang lain—selain belenggu obsesi dan belenggu masa lalu.
Tokoh-tokoh dalam novel ini, terutama dua tokoh perempuan, yakni Tini dan Rohayah, memperlihatkan sikap berani yang cukup menarik diamati. Keputusan mereka untuk lepas dari ikatan keluarga dan cinta—Tini yang bersikeras untuk bercerai dan Rohayah yang memutuskan untuk melanjutkan petualangannya di saat kemungkinan untuk menjalin kehidupan berkeluarga dengan Tono mulai terbuka—seperti menegaskan bahwa keduanya adalah sosok yang kuat, mandiri, dan berani menanggung risiko. Dalam perspektif pemikiran Beauvoir, keputusan tindakan kedua perempuan dalam novel ini seperti ingin menunjukkan bahwa mereka bukanlah jenis kelamin kedua (the second sex) yang tak berdaya dan takut dengan pilihan kebebasannya (Swastika, 2004). Sedang mengenai Tono, Armijn Pane menggambarkan di akhir kisah bagaimana dia menatap masa depannya dan kesadarannya untuk lepas dari belenggu subjektivitasnya.
Diapun insaf, sekali-sekali manusia itu akan merasa terbelenggu semangatnya dan pikirannya, tetapi hal itu hanya untuk sementara waktu saja, sebagai tempat perhentian sebelum sampai ke masa yang baru, ketika belenggu zaman dahulu terlepas sama sekali, matapun dapat memandang dengan leluasa ke zaman yang akan datang (hlm. 148).
Dalam kisah pergulatan batin para tokoh novel ini menghadapi belenggunya masing-masing, kita dapat merasakan perasaan bimbang, “rusuh”, pedih, dan dilema yang mengombang-ambingkan mereka. Hal ini turut menegaskan kadar akut problem yang mereka hadapi. Dalam situasi disharmoni, Tono dan Tini kadang merindukan keintiman keluarga seperti yang mereka lihat pada sahabat-sahabat di sekitar mereka. Dalam beberapa bagian novel ini digambarkan tentang bagaimana harapan-harapan, kerinduan, dan kebimbangan itu muncul (hlm. 57, 72, 77-78, 89-90). Akan tetapi, nyatanya Tono dan Tini tetap saja terbelenggu dengan subjektivitas dan egoisme mereka—tak ada yang mau mengalah.
Khusus mengenai Tini, diceritakan bahwa puncak kegelisahan Tini terjadi saat ia berjumpa dengan Hartono yang mengunjungi suaminya, Sukartono, yang kebetulan sahabat lamanya. Sementara itu, Hartono adalah mantan kekasih Tini. Dalam pertemuan itu, terjadi perbincangan mendalam tentang bagaimana keduanya menghadapi belenggu masa lalu dan obsesi mereka masing-masing. Di akhir perjumpaan, Armijn Pane menggambarkan:
Tini menganjurkan tangannya, hendak berjabat tangan. Dijabat oleh Hartono, terasa padanya tangan Tini dingin dan lenyap. Didalam hati Hartono, seolah-olah hidup, berkembang. Katanya dengan gembira: “Selamat tinggal Pop, sama-sama berani hidup, kehidupan baru. Mari kita pikul beban kita, mari kita buang belenggu semangat kita.”
…Tini tersenyum: “Benarlah, masing-masing manusia mempunyai beban, marilah kita pakai beban itu untuk alas gedung baru.” (hlm. 116).
Titik balik Tini untuk mengambil keputusan yang menentukan, yakni bercerai dengan suaminya, semakin menguat saat ia mengunjungi Rohayah tak lama setelah ia bertemu dengan Hartono. Di
Demikianlah. Dalam kaitannya dengan belenggu yang mengikat ketiga tokoh utama novel ini, akhir novel ini memperlihatkan cara mereka mengatasi problem transisi budaya dan belenggu subjektivitas yang menderanya. Pilihan eksistensial ini sungguh terasa amat sulit, karena memang membutuhkan keberanian yang tak sedikit. Keberanian ketiga tokoh utama ini untuk melepaskan belenggunya sepertinya tak jauh berbeda dengan keberanian Armijn Pane untuk mengangkat tema yang kontroversial di zamannya ini dan untuk memilih alur dan
Perahu tumpangan keyakinanku, berlayarlah engkau, jangan enggan menempuh angin ribut, taufan badai, ke tempat pelabuhan yang hendak engkau tuju. Berlayarlah engkau ke dunia baru (hlm. 5).
Titik fokus kedua yang dapat digunakan untuk melihat pergulatan batin para tokoh dalam novel ini adalah berkaitan dengan alasan mengapa pergolakan eksistensial dan transisi budaya yang dialami para tokoh utama dalam novel ini digambarkan dengan cara yang mirip dengan monolog. Monolog, jika mengacu pada teori komunikasi, merupakan sebentuk komunikasi intrapersonal. Komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang berlangsung dalam diri seseorang. Seseorang berbicara kepada dirinya sendiri, bertanya kepada dirinya, dan dijawab oleh dirinya sendiri. Komunikasi intrapersonal ini terjadi karena adanya perangsang internal dari subjek dan juga perangsang eksternal dari lingkungan sekitar (Effendi, 1993: 57-58). Nah, pertanyaannya, mengapa Tini, Rohayah, dan juga Tono dalam novel ini digambarkan lebih banyak membicarakan kerisauan mereka dengan dirinya sendiri, yakni dalam modus monolog?
Jawaban yang mungkin untuk dikemukakan adalah karena tema yang diangkat novel ini tergolong tabu. Tokoh-tokoh dalam novel ini tak bisa secara vulgar membicarakan masalah keretakan kehidupan keluarga mereka dengan orang lain, karena hal itu masih dipandang sebagai aib pribadi dan keluarga. Dalam konteks tokoh perempuan, jawaban lain yang mungkin diajukan adalah karena perempuan tak dapat bersuara dengan cukup leluasa untuk mengutarakan kegalauan dan gugatan mereka. Menghadapi tekanan budaya patriarki yang menempatkan perempuan tak sejajar dengan kaum laki-laki, dialog yang adil seperti menjadi sesuatu yang terlalu sulit diperoleh. Karena jalur komunikasi interpersonal sudah tak menjanjikan situasi yang nyaman dan setara, maka perempuan kemudian lebih banyak bergulat dengan monolog pribadi. Kemungkinan kedua ini menjadi lebih kuat dan mengemuka karena tema yang dibicarakan oleh tokoh-tokoh perempuan dalam novel ini terbilang sensitif dan berkaitan dengan paradigma-kultural yang baru. Terlepas dari sikap setuju atau tidak, gugatan Tini berkaitan dengan tatanan keluarga pada zamannya tampak sebagai sesuatu yang luar biasa.
Dari pemaparan singkat ini, tampaklah keistimewaan novel Belenggu yang memiliki semangat berbeda dengan novel-novel yang lahir pada era sebelum kemerdekaan
Jika dilihat dari segi “pesan” dan tema yang diangkat, nilai kontekstual novel ini akan tetap terasa dan relevan untuk masyarakat
Sementara itu, di sisi yang lain, gagasan-gagasan emansipasi seperti yang diusung oleh Tini saat ini telah tiba pada tingkat pencapaian yang cukup jauh. Jika Tini dahulu menuntut agar perempuan memperoleh haknya untuk menyalurkan kehendak dan cita-citanya di sektor publik, maka saat ini gagasan seperti itu sudah tak cukup asing lagi dan relatif lebih diterima. Otonomi perempuan dalam relasinya dengan laki-laki dalam ruang keluarga sudah lebih baik—meski memang belum purna. Akan tetapi, dalam konteks feminisme, saat ini terjadi “serangan balik” terhadap perempuan saat mereka dibayang-bayangi oleh belenggu mitos kecantikan dan konsumerisme yang berkongkalikong dengan penguasa modal (Wolf, 2004: 25-26, 129).
Dengan situasi seperti ini, tak dapat disangkal bahwa saat ini berbagai belenggu seperti yang tergambar dalam novel ini terus hadir dengan berbagai rupa—tak hanya subjektivitas obsesif, masa lalu, atau euforia—seiring dengan transformasi dan transisi budaya yang terus berlangsung. Dalam konteks inilah maka novel ini diharapkan dapat menginspirasikan refleksi dan banyak hal lain berkaitan dengan cara kita bersiasat menghadapi berbagai bentuk belenggu tersebut.
Wallahualam.
Bahan Bacaan
Beauvoir, Simone, 1989, The Second Sex, Penerjemah: H.M. Parshley, Vintage Books,
Dahana, Radhar Panca, 2008, “Nasionalisme dalam Belenggu Waktu”, dalam Majalah Tempo Edisi Khusus 100 Tahun Kebangkitan Nasional, Edisi 19-25 Mei 2008, PT Tempo Inti Media, Jakarta.
Effendi, Onong Uchjana, 1993, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Citra Aditya Bakti,
Kieser, Bernhard, 2003, “Keluarga: Bahtera yang sudah Karam?”, Majalah Basis, Mei-Juni 2003, Yayasan BP Basis,
Kleden, Ignas, 1988, Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan, Cetakan Kedua, LP3ES,
Lombard, Denys, 2005, Nusa Jawa: Silang Budaya, Penerjemah: Winarsih Partaningrat Arifin, dkk, Cetakan Ketiga, Gramedia,
Pane, Armijn, 2006, Belenggu, Cetakan Kedua Puluh, Dian Rakyat,
Sahal, Ahmad, 1999, “Sastra, Ambiguitas, dan Tawa Tuhan”, kata pengantar dalam Kenedi Nurhan (Ed.), Derabat: Cerpen Pilihan Kompas 1999, Kompas,
Subiantoro, Eko Bambang, 2002, “Perempuan dan Perkawinan: Sebuah Pertaruhan Eksistensi”, Jurnal Perempuan, No. 22/2002, Yayasan Jurnal Perempuan,
Sumardjo, Jakob, 2000, “Armijn Pane dan ‘Belenggu’”, dalam J.B. Kristanto (Ed.), Seribu Tahun Nusantara, Kompas, Jakarta.
Supelli, Karlina, 2003, “Keluarga: Jarak Fungsi dari Diri (Surat-Surat Nokturnal)”, Majalah Basis, Mei-Juni 2003, Yayasan BP Basis,
Swastika, Alia, 2004, “Perempuan dalam Sastra
Tim KBBI, 2001, Kamus Besar Bahasa
Wolf, Naomi, 2004, Mitos Kecantikan: Kala Kecantikan Menindas Perempuan, Penerjemah: Alia Swastika, Niagara,
Read More..
Label: Book Review: Novel
Selasa, 17 Juni 2008
Krisis Lingkungan, Krisis Spiritualitas
Belakangan ini, isu pemanasan global menjadi tema yang begitu ramai dibicarakan. Masyarakat gundah dengan alam yang semakin tak bersahabat. Bencana alam mulai dari banjir, longsor, naiknya permukaan air laut, dan semacamnya, seperti menjadi ritual yang datang silih berganti. Pada saat yang sama, krisis energi semakin memberi dampak yang dirasakan masyarakat luas. Semua itu menerbitkan kekhawatiran akan terancamnya keberlangsungan kehidupan umat manusia di bumi. Jika krisis lingkungan seperti yang ramai dibicarakan itu dibiarkan tak segera ditangani bersama-sama, maka bukan mustahil harga yang harus dibayar oleh umat manusia amatlah mahal.
Beberapa kalangan menganalisis bahwa krisis lingkungan tersebut salah satunya dipicu oleh perkembangan ilmu dan teknologi yang miskin perspektif etika. Alam dan segenap isinya dieksploitasi sedemikian rupa tanpa mempertimbangkan aspek keseimbangan dan kesinambungannya. Bencana alam adalah jawaban tak langsung dari perlakuan manusia yang tak ramah terhadap alam.
Jika kita mencermati lebih mendalam, sebenarnya krisis lingkungan yang melanda bumi saat ini juga berakar dari krisis spiritualitas umat manusia. Pandangan dasar dunia tentang diri, hakikat penciptaan, dan perspektif yang holistis tentang alam terpuruk ke dalam nalar materialistis-positivistis. Di berbagai ruang sosial, juga keagamaan, kesadaran kita tak dibangun untuk peka dan peduli menelusuri jejak dan efek dari setiap tindakan kita, kecil atau besar, terhadap alam dan masa depan semesta. Dengan tanpa berpikir panjang, kita begitu mudah mengonsumsi plastik kresek dan jenis plastik lainnya, bahkan mungkin membuang sampah plastik itu seenaknya, tanpa (diajak untuk) menyadari betapa plastik adalah neraka buat tanah dan bumi, yang dapat menjadi benih bencana bagi manusia—salah satu spesies penghuni bumi.
Spiritualitas pada level yang universal merupakan cara pandang yang lebih mengutamakan aspek-aspek batiniah, menyeluruh, dan menitiktekankan pada aspek yang lebih berorientasi ke depan. Dalam ajaran Islam, ada seruan untuk lebih mempertimbangkan aspek ukhrawi (akhirat) ketimbang aspek duniawi. Secara etimologis, dun-ya dalam bahasa Arab berarti ‘rendah’, ‘dekat’, ‘hina’, dan akhirat berarti ‘yang mendatang’. Dari sini, spiritualitas kemudian dipupuk dengan tujuan agar manusia dapat mencapai jenis kehidupan yang lebih tinggi, suatu kehidupan yang menurut Alquran khayr wa abqâ, “lebih baik dan lebih abadi” (Brohi, 2002: 14).
Peradaban modern telah menciptakan sejumlah
Polusi kesadaran spiritualitas holistis itu saat ini juga turut dipupuk oleh sampah kapitalisme yang sudah melakukan penetrasi hingga kampung-kampung di pelosok.
Dalam Islam, ada sebuah hadis yang begitu populer tapi sepertinya maknanya yang hakiki sudah dilupakan. Hadis itu berbunyi: kebersihan adalah bagian dari iman. Jika dibaca dengan lebih cermat, hadis ini menegaskan keterkaitan antara spiritualitas dan kepedulian lingkungan. Seseorang yang tak peduli dengan kebersihan, tak mau peduli untuk merawat alam, maka imannya sungguh layak dipertanyakan.
Mengambil teladan dari kisah hidup Nabi Muhammad saw, Tariq Ramadan (2007: 37-41) menjelaskan bahwa kehidupan Nabi pada masa kecil yang hidup di pedalaman
Krisis lingkungan saat ini semestinya harus menjadi keprihatinan bersama, termasuk para pemuka dan tokoh agama, karena krisis tersebut pada dasarnya juga adalah krisis spiritualitas. Polusi kesadaran dan sampah kapitalisme telah mengikis ruh hakiki spiritualitas agama, yang salah satunya menegaskan tugas dan tanggung jawab manusia untuk merawat bumi. Yang terpenting, setelah menyadari akan ikatan primordial manusia dan bumi, setiap kita dituntut untuk berbuat sesuatu yang nyata untuk bertobat dan kembali menyantuni bumi. Sekecil apa pun, langkah kita itu akan bermakna sebagai upaya untuk kembali menunjukkan penghormatan kita pada Sang Pencipta.
Tulisan ini dimuat di Radar Madura, 20 Oktober 2008.
Minggu, 25 Mei 2008
Bukan Cerita-Pembunuhan Biasa
Penulis : Truman Capote
Penerjemah : Santi Indra Astuti
Penerbit : Bentang Pustaka,
Cetakan : Pertama, September 2007
Tebal : viii + 476 halaman
Cukup banyak novel yang mengisahkan cerita pembunuhan bergaya detektif ataupun horor. Tapi buku karya Truman Capote—wartawan The New Yorker—ini bukanlah cerita-pembunuhan biasa. Hal utama yang membedakan karya Capote ini adalah titik tolak dan pengolahannya. Capote mengangkat cerita dalam buku ini dari kisah nyata.
Awal penulisan buku ini bermula saat Capote membaca berita pembantaian keluarga petani kaya
Tertarik dengan berita tersebut, Capote berangkat ke tempat kejadian bersama sahabatnya, Harper Lee—pengarang novel terkenal To Kill a Mockingbird. Setiba di Holcomb, Capote menjadi benar-benar terpikat dengan kasus ini, sehingga ia kemudian mengikuti perjalanan kasus ini hingga
Alur utama novel yang dibagi dalam empat bagian ini sebenarnya terbilang cukup sederhana. Dimulai dari latar kejadian dan kasus pembantaian di bagian pertama, perburuan si pelaku dan kisah perjalanan pelaku yang melarikan diri, tertangkapnya si pembantai, dan berakhir dengan penggambaran malam eksekusi si pembantai di bulan April 1965, di sebuah gudang yang dingin di sudut lapangan Penjara Negara Bagian Kansas di Lansing.
Keistimewaan pemaparan cerita dalam buku ini akan tampak jika pembaca melihatnya dari sudut pandang jurnalistik. Bagaimanapun, jika dilihat dari latar penulisan, novel ini pertama dan terutama harus dilihat sebagai sebuah karya jurnalistik. Sebuah liputan mendalam atas sebuah kasus yang disajikan dengan kecanggihan narasi yang memukau. Dalam novel ini, Capote berhasil menggambarkan detail setiap bagian cerita dengan amat cermat.
Karakter semua tokoh penting dalam novel ini tergambar dengan sangat kuat. Karakter masing-masing anggota keluarga Clutter, misalnya, tergambarkan dengan cukup kuat, baik dengan langsung menceritakan kehidupan sehari-hari mereka atau melalui interaksinya dengan para tetangga. Karakter keluarga Clutter yang dikenal baik dan disegani oleh para tetangga karena ramah dan suka membantu digambarkan di bagian awal novel ini dengan sangat baik, dengan secara detail menuturkan aktivitas masing-masing anggota keluarga di hari terakhir mereka sebelum pembantaian. Sesekali ada kilas balik yang bersifat umum untuk memperkuat deskripsi yang disajikan. Ketakutan warga Holcomb yang terteror setelah peristiwa pembantaian itu juga tergambar dengan baik dengan cara menuturkan pembicaraan orang-orang di kawasan terpencil itu, baik di kedai, kantor pos, sekolah, atau rumah penduduk.
Karakter dua pembunuh, Perry dan Dick, mendapat porsi pemaparan yang lebih banyak lagi—karena dapat dikatakan bahwa kedua orang inilah tokoh utama novel ini. Karakter dua pemuda ini menjadi semakin tergambar kuat setelah mereka ditangkap, dalam proses pemeriksaan, dan selama proses pengadilan. Dalam menggambarkan karakter Perry dan Dick ini sepertinya Capote cukup terbantu oleh akses yang dimilikinya untuk mengikuti kasus ini dari dekat dan menelaah arsip-arsip yang berhubungan dengan tokoh dan peristiwa. Dalam novel ini, misalnya, ada kutipan
Karya Capote ini sering digunakan sebagai rujukan dan contoh dari apa yang populer disebut sebagai “jurnalisme baru”. Jurnalisme baru, yang populer di Amerika sejak 1960-an, berusaha mengatasi keterbatasan
Tentu saja dalam model penulisan jurnalisme sastrawi fakta tetap harus menjadi patokan utama. Dalam konteks ini, buku Capote yang disebutnya sebagai “novel nonfiksi” ini bisa menjadi agak kontroversial. Disebutkan dalam Wikipedia bahwa selama mewawancarai narasumber, Capote tak pernah mencatat dan hanya mengandalkan ingatannya. Ia baru menulis setelah wawancara selesai. Capote mengklaim bahwa memorinya mampu mengingat 94% persis seperti apa yang dikatakan narasumber. Terkait dengan aspek faktual dalam novel ini, memang ada beberapa komentator yang meragukannya.
Terlepas dari hal tersebut, bagaimanapun novel ini memang bukan cerita-pembunuhan biasa. Jika kita melihatnya sebagai sebuah karya “fiksi”, sangat layak jika dikatakan bahwa novel ini disebut-sebut sebagai a brilliant insight of criminal mind, sebuah kajian lengkap dan emosional untuk mengenali benak para penjahat. Dunia gelap Perry dan Dick diceritakan dengan sangat terperinci dan penuh emosi. Di sisi yang lain, jika kita membaca karya ini sebagai “novel nonfiksi”, sebagai sebuah karya jurnalistik, maka novel ini bisa memberikan inspirasi bagi para jurnalis untuk menyajikan fakta, peristiwa, ataupun fenomena dengan cara penyajian baru yang lebih tajam, mendalam, dan mencerahkan.
Tulisan ini dimuat di Harian Sinar Harapan, 1 November 2008.
Read More..Selasa, 13 Mei 2008
Meneladani Muhammad
Judul buku : Muhammad: Rasul Zaman Kita
Tulisan ini dimuat di Jurnal 'Anil Islam No. 1/Vol. I/2008, diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Read More..
