Friday, 18 May 2018

Menumbuhkan Ketabahan untuk Meraih Kesuksesan


Judul buku: Grit: Kekuatan Passion + Kegigihan
Penulis: Angela Duckworth
Penerbit: Gramedia, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2018
Tebal: 402 halaman
ISBN: 978-602-03-8159-6


Jika orang ditanya tentang kunci kesuksesan, banyak yang menjawab bahwa kerja keras adalah hal yang lebih penting daripada bakat. Meski demikian, dalam kehidupan sehari-hari faktanya kita cenderung untuk memberi tempat yang lebih istimewa pada orang yang dianggap berbakat.

Penelitian Chia-Jung Tsay membuktikan “bias bakat” yang diam-diam menguasai kecenderungan banyak orang. Chia meneliti pendapat orang tentang dua pemain piano dan dua profil wirausaha. Ternyata profil yang lebih disukai dan dinilai akan sukses adalah mereka yang biodatanya menunjukkan latar bakat alami (hlm. 27-28).

Buku berbasis penelitian yang disajikan dengan gaya bertutur yang sungguh renyah ini memperlihatkan bahwa rahasia kesuksesan yang sebenarnya terletak pada perpaduan antara hasrat (passion) dan kegigihan (perseverance) yang disebut “ketabahan” (grit). Orang yang sukses adalah orang yang tahu secara sangat mendalam apa yang mereka inginkan. Dia tahu ke arah mana dia akan melangkah. Selain itu, orang yang sukses juga luar biasa tegar dan bekerja keras untuk menjalani alur menuju tujuan yang dia tetapkan (hlm. 9).

Angela Duckworth, penulis buku ini, menggarisbawahi bahwa keterpesonaan pada bakat dapat membuat orang menjauh dari jalan kesuksesan. Karena terarah pada bakat, maka upaya atau kerja keras akan kurang diperhatikan. Bahkan, lebih jauh Duckworth mengutip filsuf besar Jerman, Nietzsche, yang menyatakan bahwa ketika kita menilai seseorang itu istimewa—dengan kata lain: berbakat—maka kita terdorong untuk tidak menyainginya. Kita seperti kemudian diperbolehkan untuk tidak bekerja keras jika sudah berhadapan dengan sosok berbakat.

Nilai paling penting buku ini bukan terletak pada pemaparannya tentang apa sebenarnya kunci kesuksesan itu. Buku ini sangat penting untuk dibaca karena memaparkan secara mendalam cara menumbuhkan ketabahan. Pada bagian awal, Duckworth mengembangkan Skala Ketabahan untuk mengukur ketabahan yang kita miliki pada saat tertentu.

Menurut Duckworth, ketabahan ditumbuhkan melalui dua jalur utama, yakni dari dalam ke luar, dan dari luar ke dalam. Ketabahan dapat ditumbuhkan dari dalam dengan menegaskan dan memupuk minat, kebiasaan dan kemampuan berlatih secara terfokus, merumuskan tujuan dalam berbagai kegiatan atau pekerjaan dengan level yang padu, dan harapan atau kemampuan untuk bangkit setiap menghadapi kegagalan. Empat hal ini adalah aset psikologis yang dapat ditumbuhkan dari dalam diri seseorang sebagai bekal meraih kesuksesan (hlm. 103-104).

Sedangkan dari faktor luar ketabahan dapat ditumbuhkan dengan pengasuhan. Kata pengasuhan berasal dari bahasa Latin yang berarti “untuk membawa maju”. Duckworth lalu memperkenalkan model pengasuhan yang bijaksana untuk menjelaskan model pengasuhan yang ideal yang baik untuk mendukung tumbuhnya ketabahan. Pada bagian ini, Duckworth memberi pengertian yang jernih dan bisa menengahi model pengasuhan otoriter dan pengasuhan yang penuh kasih sayang (hlm. 233-253).

Duckworth juga menggarisbawahi bahwa pengasuhan bukan hanya terkait dengan ibu dan ayah. Guru, mentor, pelatih, atasan, bahkan teman, dapat berada dalam kerangka pengasuhan yang dapat menumbuhkan ketabahan.

Buku ini ditulis dengan penyajian yang ringan. Ada banyak contoh kasus yang diangkat yang sebagian besar merupakan hasil riset penelitian terkait sehingga informasi yang termuat begitu kaya dengan data ilmiah.

Dari buku ini kita diingatkan untuk mengalihkan fokus dan strategi kita yang semula bertolak dari kekaguman berlebihan pada bakat, tingkat IQ yang tinggi, dan semacamnya, pada upaya untuk membentuk iklim hasrat dan kegigihan yang kuat. Buku yang ditulis oleh mantan guru sekolah menengah dan kini menjadi profesor psikologi di University of Pennsylvania ini bernilai penting bagi kita sebagai bekal untuk menyiapkan generasi mendatang yang sukses baik pada tingkat individu maupun kolektif.

Versi pendek tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 18 Mei 2018.


Read More..

Friday, 9 March 2018

Derita, Makna, dan Kebebasan Batin


Judul buku: Man’s Search for Meaning
Penulis: Viktor E. Frankl
Penerjemah: Haris Priyatna
Penerbit: Noura Books, Jakarta
Cetakan: Pertama, Desember 2017
Tebal: xxii + 234 halaman
ISBN: 978-602-385-416-5


“Segala sesuatu yang tidak membunuh saya, membuat saya jadi lebih kuat”. Demikian ujar Nietzsche. Viktor E Frankl (1905-1997), seorang neuorolog dan psikiater terkemuka di Eropa, telah membuktikan pernyataan ini.

Frankl selama tiga tahun (1942-1945) pernah berada di empat kamp konsentrasi yang berbeda, termasuk Auschwitz. Di antara kekejaman, keganasan, dan penderitaannya di kamp, Frankl menemukan dan berhasil merefleksikan banyak hal yang kemudian dituliskannya setelah ia bebas. Dari situ, lahirlah buku yang berjudul Man’s Search for Meaning ini. Hingga sekarang, buku ini telah dicetak ulang lebih dari 100 kali dalam edisi bahasa Inggris dan diterbitkan dalam 49 bahasa ini.

Melalui buku ini, Frankl kemudian dikenal sebagai pendiri teori psikologi logoterapi. Dalam teorinya, Frankl menyatakan bahwa dorongan utama manusia dalam hidup bukanlah untuk mencari kesenangan atau kepuasan atau juga kekuasaan. Logoterapi meyakini bahwa perjuangan untuk mencari makna adalah dorongan utama manusia. Karena itu, logoterapi lebih memfokuskan pada masa depan. Dalam konteks ini, logoterapi membantu seseorang untuk menemukan makna hidupnya melalui proses yang bersifat analitis (hlm. 142-143).

Manusia yang tidak dipandu oleh makna hidup akan mengalami kehampaan eksistensial. Ini adalah fenomena yang mewabah khususnya sejak abad ke-20. Karena menjalani hidup tanpa orientasi makna yang jelas, manusia kemudian mengubah arah hidupnya pada upaya untuk mencari kesenangan belaka (hlm. 155).

Dalam pandangan logoterapi, makna hidup bukanlah hal yang bersifat abstrak. Makna hidup yang harus ditemukan adalah makna yang spesifik. Dalam pengertian sederhana, ia adalah tugas yang unik yang dijalani dalam hidup sehari-hari. Hidup dengan tugas khusus yang disadari bagi Frankl adalah juga sebentuk pertanggungjawaban atas hidup itu sendiri.

Pengalaman Frankl hidup di kamp selama tiga tahun membuktikan bahwa makna hidup bermakna sangat penting saat seseorang menjalani pengalaman negatif atau penderitaan. Menurut Frankl, orang yang relatif memiliki makna hidup akan lebih mudah bertahan menghadapi berbagai bentuk ancaman fisik dalam tahanan. Frankl memberi kesaksian bahwa kekuatan batin manusia bisa berdiri lebih tinggi dari nasib yang menimpa fisiknya (hlm. 98).

Kehidupan di kamp yang sangat kejam tidak hanya dapat menumpulkan emosi seseorang, tapi juga dapat membunuh harapan. Namun, bagi seseorang yang kebebasan batinnya masih terawat baik, orientasi makna hidupnya dapat menjadi tempat berlindung dari kehampaan dan keterasingan (hlm. 54).

Pada titik ini, logoterapi tampak menempatkan kebebasan positif di tempat yang istimewa pada kehidupan seseorang. Kebebasan positif, yakni kebebasan untuk secara sadar dan aktif mengorientasikan hidupnya pada titik tujuan tertentu atau kebebasan untuk menentukan sikap dalam setiap keadaan, akan dapat menjadi benteng dan sekoci penyelamat bagi seseorang yang sedang berada di titik nadir penderitaan.

Dengan kekuatan kebebasan batin dan kebebasan spiritual yang hebat, penderitaan sebagai sebuah nasib yang tak terhindarkan kemudian dilihat sebagai kesempatan untuk memperdalam makna hidup. Bahkan, kalau perlu penderitaan dilihat sebagai bagian dari tugas hidup. Berbekal orientasi makna hidup yang kuat, perasaan lemah dan takut lalu disingkirkan, sedangkan keberanian mengemuka.

Di tengah beratnya beban hidup di masa kini yang rawan menciptakan kegalauan, kecemasan, dan bahkan kehampaan eksistensial, buku ini membawa pesan yang kuat bahwa dalam kondisi terburuk pun hidup punya potensi untuk memiliki makna. Tugas kitalah untuk menemukannya. Dengan cara ini, buku ini berusaha memupuk optimisme dan memperluas cakrawala harapan kita.

Naskah ini adalah versi awal yang kemudian dimuat di Koran Jakarta, 9 Maret 2018.


Read More..

Sunday, 18 February 2018

Sumbangan Islam untuk Peradaban Dunia


Judul buku: The Genius of Islam: Penemuan-Penemuan Hebat Umat Islam yang Mengubah Dunia
Penulis: Bryn Barnard
Penerbit: Noura Books, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2017
Tebal: 84 halaman
ISBN: 978-602-385-262-8

Ketika umat Islam saat ini tak berada di baris terdepan dalam kancah peradaban dunia, ada orang yang tidak tahu bahwa peradaban Islam telah ikut memberikan sumbangan besar bagi peradaban dunia. Catatan sumbangan peradaban Islam telah tercatat dalam buku-buku sejarah. Tapi kadang akses yang terbatas membuat hal ini kurang tersebar, bahkan di kalangan umat Islam sendiri.

Buku ini menyajikan beberapa sumbangan penting peradaban Islam dalam kemasan yang dirancang untuk anak-anak dan remaja. Ada 12 tema atau fokus khusus yang dipilih di antara berbagai sumbangan peradaban Islam yang tersaji dalam buku ini.

Pada bagian pertama, penulis buku sekaligus ilustrator yang memang fokus pada penerbitan buku anak-anak ini memberikan pemaparan singkat tentang peradaban Islam. Selain uraian kronologi singkat tentang peradaban Islam, Barnard juga memberikan penjelasan tentang dorongan Islam untuk mencari pengetahuan sehingga umat Islam sejak awal sejarahnya telah mulai menyelami khazanah ilmu yang berasal dari peradaban lain.

Untuk menjelaskan jejak peradaban muslim pada dunia saat ini, Barnard menuturkan bahwa buku yang kita baca, musik yang kita mainkan, kata-kata yang kita ucapkan, angka-angka yang kita hitung, makanan yang kita santap, dan sains yang menjadi landasan kehidupan kita memiliki unsur yang dipengaruhi oleh Islam.

Jejak peradaban Islam di antaranya terlihat pada penggunaan kertas. Saat ini, manusia menggunakan sekitar 300 juta ton kertas setiap tahunnya. Jejak penggunaan kertas secara massal ditemukan sejak era masyarakat Islam. Memang, penemu kertas adalah bangsa China pada sekitar sebelum abad ke-2 SM. Akan tetapi, Islam merupakan masyarakat pertama yang menghasilkan kertas secara massal. Di antara tandanya, pada pertengahan abad ke-9, Baghdad memiliki lebih dari seratus toko yang menjual kertas dan buku.

Peradaban kertas mendorong peradaban buku yang luar biasa sehingga bangsa muslim menjadi masyarakat pencinta buku. Salah seorang khalifah Abbasiyah, al-Mansur, mendirikan perpustakaan dan pusat penerjemahan yang luar biasa di Baghdad. Karena sudah berhasil membentuk peradaban kertas, pembudayaan buku memiliki sisi berbeda dengan Perpustakaan Alexandria yang legendaris di Mesir. Saat perpustakaan Alexandria dihancurkan pada 391, sebagian besar pengetahuan yang tersimpan di sana hilang. Sementara itu, saat bangsa Mongol menyerang Baghdad pada 1238, peradaban Islam sudah berhasil menyimpan dan menggandakan buku-buku di sana di kota-kota muslim lainnya seperti di Kairo, Damaskus, dan juga Kordoba.

Namun peradaban Islam tidak hanya berkutat dalam dunia keilmuan yang sifatnya teoretis. Peradaban Islam juga tercatat sebagai perintis sistem pelayanan kesehatan yang digunakan saat ini. Pelayanan kesehatan dalam bentuk rumah sakit dikembangkan oleh peradaban muslim setelah mereka menemukan model perawatan kesehatan di Persia. Sistem yang lebih rumit dalam pelayanan kesehatan, termasuk apotek dan sistem hierarki dan spesialisasi dalam tata kerja rumah sakit, lahir dari dunia muslim.

Dunia arsitektur juga tak lepas dari jejak peradaban muslim. Bahkan di dunia Eropa, jejak ini dapat kita temukan dengan mudah. Secara umum, bangsa muslim menggabungkan unsur-unsur arsitektur dari Mesopotamia dan Romawi kuno, yang kemudian ditiru oleh bangsa Eropa dan disebarkan seiring dengan kolonialisme ke berbagai penjuru dunia.

Bentuk konkret arsitektur yang dikembangkan masyarakat muslim adalah pelengkung runcing yang dibuat untuk mengurangi tekanan tembok sehingga memungkinkan mereka untuk membangun gedung yang lebih tinggi dengan lebih banyak ruang terbuka di dalam.

Hal lain yang disampaikan buku ini terkait dengan sumbangan peradaban Islam di bidang astronomi, pertanian, optik, mesin dengan mekanisme engkol dan tuas, dan juga musik.

Setiap pokok bahasan dalam buku ini disajikan dengan ilustrasi yang menarik. Selain itu, teks ide-ide pokok dicetak dengan warna yang berbeda sehingga memudahkan pembaca untuk memberi perhatian lebih pada bagian tersebut. Pemaparan juga melibatkan fakta-fakta kunci yang mendukung atas narasi yang disusun.

Meski ditujukan untuk anak-anak, buku ini memuat informasi yang sangat penting untuk diketahui pula oleh kalangan dewasa. Ada beberapa fakta unik yang relatif sulit untuk ditemukan di sumber yang lain yang tersaji dalam buku ini.

Buku ini membangun kesadaran kita semua bahwa peradaban dunia bagaimanapun dibentuk melalui proses bersama di antara berbagai unsur kebudayaan. Sumbangan peradaban muslim yang disampaikan dalam buku ini pun tentu saja tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang berangkat dari ruang kosong. Ia juga adalah lanjutan yang berkesinambungan dengan capaian peradaban masyarakat lain di era yang berbeda.

Buku ini adalah upaya untuk menanamkan wawasan dunia dan peradaban yang terbuka untuk anak-anak dan remaja sejak dini untuk membekali mereka kesadaran akan peradaban masa kini tempat mereka hidup.


Tulisan ini dimuat di Harian Radar Madura, 18 Februari 2018.

Read More..

Saturday, 10 February 2018

Kata Baku dan Selingkung


“Otentik” atau “autentik”? “Sekedar” atau “sekadar”? “Nopember” atau “november”? “Shalat” atau “salat”? Di manakah di antara kedua kata-kata tersebut yang merupakan kata baku? Yang disebut pertama atau yang kedua?

Ketika tulisan saya hari Ahad 21 Januari 2018 dimuat di Jawa Pos di rubrik Buku, saya lihat redaktur Jawa Pos mengubah kata “autentik” dalam tulisan saya menjadi “otentik”. Saya menemukan pengubahan itu dengan mudah karena saya menggunakan kata itu pada bagian judul. Tentu saja pengubahan tidak hanya dilakukan pada judul tulisan saya. Kata “autentik” dalam tubuh tulisan juga diganti dengan kata “otentik”.

Perbedaan penulisan beberapa kata sebagaimana disebutkan di atas ada yang merupakan kata baku dan tidak baku. Ada juga yang perbedaannya lebih karena pilihan lingkungan atau lembaga tertentu.

Kata “otentik”, “sekedar”, “nopember”, “shalat”, bisa kita temukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun demikian, dalam KBBI, kata-kata tersebut disebutkan sebagai bentuk tidak baku.

Meski kata-kata tersebut oleh KBBI disebut sebagai bentuk tidak baku, ada lembaga atau lingkungan tertentu yang secara sadar tetap memilih menggunakan kata-kata tidak baku tersebut. Begitulah. Memang ada orang atau lembaga yang mengikuti sepenuhnya pada standar KBBI. Namun ada pula orang atau lembaga yang memilih berbeda untuk kasus tertentu.

Saya lihat di situlah posisi Jawa Pos yang mengubah kata “autentik” dengan “otentik” pada tulisan saya. Gaya selingkung seperti yang dilakukan Jawa Pos biasanya sudah melewati proses internal berupa kesepakatan dan sosialisasi kepada unsur-unsur internal: bahwa ada kata-kata tertentu yang dipilih untuk tidak mengikuti standar baku KBBI.

Pilihan untuk tidak mengikuti kata baku KBBI tersebut bisa saja dibuat dengan alasan “ilmiah”. Tapi mungkin ada juga orang yang hanya berdasarkan pada sekadar alasan yang lebih bersifat subjektif. Saya, misalnya, sampai saat ini masih merasa kurang nyaman untuk menulis kata “Alquran”, “shalat”, “selawat”, dalam tulisan-tulisan saya sebagaimana standar KBBI. Sebagai muslim yang sehari-hari juga hidup di lembaga dan lingkungan keilmuan muslim, lidah saya terasa kurang nyaman untuk mengikuti lafal penulisan ala KBBI untuk kata-kata tersebut.

Saya bukan ahli bahasa. Tapi tentu saja boleh-boleh saja saya punya pilihan. Namun begitu, saat tulisan saya harus tampil di tempat yang memiliki standar yang berbeda dengan pilihan saya, saya biasa saja dan menghormati pilihan mereka.

Demikian.


Read More..

Sunday, 21 January 2018

Tantangan Menjadi Manusia Autentik


Judul buku: Solitude: In Pursuit of a Singular Life in a Crowded World
Penulis: Michael Harris
Penerbit: Thomas Dunne Books, New York
Cetakan: Pertama, 2017
Tebal: 256 halaman
ISBN: 978-1-250-08860-4

Manusia masa kini menjalani kehidupan sehari-hari dengan dikepung oleh berbagai perangkat teknologi. Obsesi untuk terus terhubung dengan orang lain melalui berbagai media sosial di gawai yang kita jinjing ternyata berpotensi menghilangkan salah satu sisi penting dalam kehidupan kita, yakni momen kesendirian, yang nilainya tak bisa diremehkan.

Itulah gagasan pokok yang dituturkan Michael Harris, penulis asal Kanada, dalam buku ini. Manusia di era digital kini tampaknya memiliki ketakutan berlebih untuk terputus dari jejaring maya yang dirajut oleh perangkat teknologi dengan berbagai fasilitas pendukungnya. Harris memberi ilustrasi yang cukup mengena. Cobalah mengetik “fear of being without” di mesin pencari Google, maka fitur auto-complete di baris pertama akan menampilkan “fear of being without your phone”.

Harris juga mengutip sebuah penelitian tahun 2013 yang melibatkan 7.500 pengguna telepon seluler di Amerika. Salah satu hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa 80 persen di antara mereka segera mengambil telepon seluler 15 menit setelah bangun tidur.

Semakin tergerusnya momen kesendirian menurut Harris dapat menggerogoti hal-hal yang cukup bernilai. Kesendirian bagi Harris menjadi tempat yang baik untuk lahirnya kreativitas, inovasi, dan pemikiran yang segar. Tengoklah para penemu seperti Einstein atau Newton. Momen kesendirian juga dapat menjadi pengantar bagi lahirnya pencerahan. Buddha, Yesus, juga Nabi Muhammad, tulis Harris, tiba pada titik transformatif kesadaran dan awal kepemimpinan sosialnya yang revolusioner setelah menjalani momen kesendirian.

Kesendirian dapat memperdalam pemahaman seseorang akan aspek interior dirinya. Tapi di sisi yang lain ia juga dapat memperkuat ikatan seseorang dengan orang lain. Kesendirian juga dapat membebaskan seseorang dari tekanan konformitas. Selain itu, kesendirian menyediakan ruang yang dibutuhkan seseorang untuk menemukan sumber terdalam gairah, kegembiraan, dan kepenuhan makna hidupnya.

Kehidupan zaman modern di era teknologi memang rawan menimbulkan depresi dan alienasi. Namun menurut Harris banyak orang salah paham. Mereka berpikir bahwa keterasingan harus diobati dengan berbaur seluas-luasnya—termasuk di media sosial. Bagi Harris, memaknai dan menggeluti kesendirian hingga mendalam justru menawarkan solusi bagi problem alienasi, yakni dengan cara mengajak individu untuk menemukan dan memperjuangkan sisi kehidupannya yang unik—itulah hidup yang autentik.

Harris juga mencontohkan salah satu momen kesendirian yang cukup klasik, yakni membaca. Mengutip Keith Oatley, profesor psikologi kognitif di University of Toronto, Harris menyatakan bahwa membaca dapat membantu seseorang untuk meningkatkan kemampuan berempati—kemampuan untuk menyingkirkan ego dan terlibat dengan posisi orang lain. Namun demikian, kepungan perangkat teknologi yang hiper-sosial membentuk budaya membaca yang baru.

Di era digital ini, pengalaman membaca akan sulit mendapatkan kepenuhan fungsinya, yakni untuk membaca mendalam dengan manfaat seperti yang dikemukakan Oatley. Mengutip Maryanne Wolf, neurosaintis dari Tufts University, Harris menulis bahwa membaca dengan gawai—bahkan meski kita mematikan fungsi notifikasi—adalah antitesis dari membaca secara mendalam.

Secara umum, buku ini menggambarkan tantangan manusia zaman now untuk menjadi manusia autentik. Penetrasi perangkat teknologi dalam kehidupan sehari-hari yang semakin menghilangkan momen kesendirian cenderung menyulitkan seseorang untuk keluar dari arus kerumunan karena semakin tumpulnya kemampuan reflektif yang dimilikinya. Lebih jauh, tanpa disadari ritme kehidupan individu perlahan semakin dikendalikan oleh aktor-aktor di balik layar berbagai perangkat teknologi itu yang pusatnya terutama adalah kepentingan pasar.

Buku ini bermakna penting sebagai pengingat bahwa momen kesendirian itu bukan hanya menyia-nyiakan waktu. Ia memuat nilai yang sangat kontekstual dengan tantangan zaman sekarang ketika era teknologi diam-diam dapat merenggut kebebasan dan mengantarkan manusia pada perbudakan akali terselubung.

Tulisan ini adalah naskah awal yang kemudian dimuat di Harian Jawa Pos, 21 Januari 2018.


Read More..

Sunday, 17 December 2017

Menata Migas Menuju Kedaulatan Energi


Judul buku: Tata Kelola Migas Merah Putih
Penulis: M. Kholid Syeirazi
Pengantar: Andang Bachtiar
Penerbit: LP3ES, Jakarta
Cetakan: Pertama, Oktober 2017
Tebal: xvii + 288 halaman
ISBN: 978-602-7984-31-8


Indonesia adalah negara yang memiliki potensi sumber daya energi yang melimpah, baik berupa energi yang dapat diperbarui maupun yang tak terbarui. Meski demikian, kondisi keenergian nasional beberapa tahun terakhir memperlihatkan sejumlah masalah krusial yang menunjukkan ketimpangan antara potensi dan fakta yang ada.

Sejak 2003, konsumsi BBM di Indonesia telah melampaui produksi. Tahun berikutnya, Indonesia resmi menjadi nett oil importer. Cadangan dan produksi migas yang menurun juga disertai dengan rendahnya partisipasi perusahaan minyak nasional dan tidak berkembangnya infrastruktur energi. Pertamina hanya menguasai 10% dari total cadangan migas nasional. Sementara itu, upaya pemerintah untuk mengarusutamakan gas terkendala infrastruktur yang terbatas sehingga salah satu dampaknya harga gas menjadi mahal.

Rapuhnya ketahanan dan kedaulatan energi di Indonesia menurut penulis buku ini, M. Kholid Syeirazi, sebagian besar akibat kebijakan tata kelola migas yang buruk. Kholid melihat bahwa UU Migas No 22 Tahun 2001 memuat banyak masalah mendasar dalam hal tata kelola migas sehingga wajar bila undang-undang tersebut sejak 2004 sebagian normanya telah dilucuti oleh Mahkamah Konstitusi (MK).

Buku ini merupakan telaah atas kebijakan tata kelola migas di Indonesia yang berusaha menegaskan dan meletakkan kembali masalah migas dalam kerangka filosofi kolektivisme di tengah arus liberalisme. Kritik kebijakan yang dikemukakan Kholid dalam buku ini dibuat dengan berlandaskan pada tafsir pasal 33 UUD 1945 ayat (2) yang berbunyi: “Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.”

Kholid mengutip dan menganalisis uraian Mohammad Hatta, arsitek dan perumus pasal 33 UUD 1945, dan juga poin-poin yang menjadi pertimbangan dalam keputusan Mahkamah Konstitusi untuk judicial review beberapa pasal UU Migas. Di antara poin kesimpulannya ditegaskan bahwa dengan landasan semangat kolektivisme, monopoli negara untuk sektor strategis diperbolehkan. Penguasaan negara ini—yang meliputi aspek kebijakan, pengurusan, pengaturan, pengelolaan, dan pengawasan—berangkat dari konsepsi kedaulatan rakyat Indonesia atas segala sumber kekayaan.

Dengan menelaah tiga keputusan MK untuk uji materi UU Migas dan juga model tata kelola migas di beberapa negara di dunia, Kholid kemudian mengelaborasi beberapa aspek mendasar terkait kebijakan tata kelola migas. Kholid juga memaparkan dan menganalisis data-data aktual keenergian dan perminyakan nasional, juga konstelasi global. Ujungnya, buku ini kemudian mengajukan beberapa rekomendasi agar Indonesia menuju pada kedaulatan energi.

Rekomendasi pertama, Kholid mengusulkan bahwa pengaturan migas harus bersifat khusus karena merupakan bidang usaha strategis dan menguasai hajat hidup orang banyak. Dengan sifat khusus ini, sektor migas tidak bisa diperlakukan seperti industri umum lainnya yang terikat dengan banyak peraturan teknis. Usulan ini merupakan kritik atas beberapa poin dalam UU Migas yang membuat investasi di sektor migas menjadi terhambat akibat birokrasi yang rumit.

Poin rekomendasi penting yang diajukan Kholid dalam buku ini adalah perombakan paradigma pengelolaan migas dari revenue-oriented kepada growth-oriented. Migas tidak boleh diletakkan sebagai komoditi ekspor penghasil devisa. Kholid mengusulkan agar sektor migas dijadikan sebagai modal pembangunan sehingga dalam jangka panjang sektor ini harus dikeluarkan seluruhnya dari keranjang penerimaan APBN.

Dalam kerangka jangka panjang, penerimaan migas dikelola oleh badan khusus sebagai petroleum fund untuk menopang program intensifikasi, diversifikasi, dan konservasi energi. Di sektor hulu, petroleum fund ini digunakan untuk menunjang eksplorasi dan litbang, sedang di hilir untuk membangun infrastruktur energi dan stabilisasi harga. Selain itu, Kholid mengusulkan agar ambang batas wajib pasok dalam negeri diperbesar menjadi 50%.

Selain aspek praktis rekomendasi yang diajukan dalam konteks politik kebijakan, kelebihan buku ini terletak pada ketajaman analisis penulisnya dalam mengurai masalah tata kelola migas. Filosofi mendasar dari konstitusi dibaca secara lebih kritis, aktual, dan padu dengan berbagai keputusan hukum lain yang relevan. Data mutakhir baik tentang kondisi energi dalam negeri maupun tata politik ekonomi migas international juga sangatlah kaya tersaji dalam buku ini.

Buku ini sangatlah bernilai untuk diskursus publik menuju cita-cita negara yang berdaulat. Bagaimanapun, kedaulatan nasional di antaranya mensyaratkan kemandirian dan kedaulatan di bidang energi.


Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, 17 Desember 2017


Tulisan terkait:
>> Jerat Liberalisasi dan Kedaulatan Energi

Read More..

Friday, 10 November 2017

Al-Sari, Kiai Basyir, & Tirakat Mendisiplinkan Jiwa

KH Ahmad Basyir Abdullah Sajjad - foto tahun 2011.

Ada satu penggalan kisah yang menarik tentang al-Sari al-Saqathi (w. 867), sufi besar dari Baghdad, yang dikisahkan dalam kitab-kitab tasawuf klasik seperti Ihya’ Ulumiddin atau Risalah Qusyayriyyah. Diceritakan bahwa paman Junayd al-Baghdadi tersebut pernah berkata: “Selama empat puluh tahun, nafsuku memintaku untuk mencelupkan roti ke dalam sirup gula tapi aku tidak menurutinya.”

Kutipan al-Sari, murid sufi besar al-Karkhi, di atas disebutkan al-Ghazali dalam kitab Ihya’ juz ketiga dalam bab Riyadlatunnafs (Olah Jiwa). Kutipan ini muncul saat al-Ghazali mendiskusikan masalah bernikmat-nikmat dalam hal yang diperbolehkan (al-tana‘‘um bi al-mubah). Al-Ghazali menjelaskan bahwa menikmati hal yang diperbolehkan haruslah tetap diwaspadai karena itu bisa menjadi penyebab menjauhnya kita dari Allah.

Apa yang diutarakan oleh al-Sari ini tidak lain adalah contoh mujahadah (memerangi nafsu/diri, berusaha keras) sekaligus riyadlah (olah batin, pendisiplinan) yang dalam Ihya’ disebut sebagai salah satu upaya untuk memperoleh akhlak yang baik. Kisah ini menggambarkan usaha keras al-Sari untuk menampik bisikan nafsunya untuk menikmati kelezatan makanan tertentu yang sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang dilarang. Namun demikian, hal semacam ini bagi kaum sufi adalah langkah penting untuk menjinakkan nafsu—yang jika sudah mulai menguasai diri bisa dengan seketika membalikkan keadaan batin seseorang sehingga dapat menjerumuskannya ke jurang kehinaan.

Waktu “empat puluh tahun” dalam kutipan di atas menunjukkan bahwa tirakat menaklukkan jiwa bukanlah episode yang pendek. Ia bukan seperti usaha keras dalam lari jarak pendek. Ia adalah usaha keras yang harus dilakoni dalam waktu yang panjang—mungkin seperti lari maraton. Karena itu, ikhtiar untuk menaklukkan nafsu mungkin akan terus berlangsung hingga akhir hayat.



Saat membaca kutipan al-Sari ini, saya jadi teringat sebuah petikan kisah almarhum ayah saya yang pernah bercerita tentang almarhum Kiai Ahmad Basyir Abdullah Sajjad, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah yang wafat pada bulan Juli lalu. Saat masih kecil, ayah saya mondok di Pesantren Sidogiri Pasuruan dengan “dititipkan” (oleh kakek saya) kepada Kiai Basyir yang saat itu berusia remaja.

Salah satu hal yang sering diceritakan ayah saya adalah tentang bagaimana Kiai Basyir makan sehari-hari di pondok. Pada sekitar awal tahun 1950-an, saya pikir makanan di pesantren pada khususnya tentu tidak seperti saat ini yang mudah didapat dan banyak pilihan. Yang menarik, di tengah keterbatasan makanan seperti itu, Kiai Basyir remaja memberi teladan yang luar biasa. Kata ayah saya, jika Kiai Basyir sedang menikmati makanan yang lezat, dan beliau menikmatinya, sering kali beliau tiba-tiba segera mengakhiri aktivitas makannya itu.

“Jadi, beliau buru-buru berhenti makan justru saat makanannya sedang terasa nikmat sekali,” kata ayah saya bertahun-tahun lalu.

Saat mengingat cerita ini dengan latar kisah al-Sari dalam kitab Ihya’, saya jadi mengerti bahwa apa yang dilakukan Kiai Basyir remaja itu adalah contoh nyata tentang pelajaran pengendalian atau pendisiplinan nafsu/diri sekaligus upaya keras untuk menjinakkan atau menaklukkannya. Dengan latar kisah al-Sari, saya memahami pilihan sikap Kiai Basyir remaja itu dilakukan tak lain untuk menjaga agar jangan sampai saat kita tengah menikmati kelezatan makanan, yang mengendalikan kita justru nafsu kita—yang dari situ sangat mungkin lahir sikap melebihi batas.

Masih dalam hal makan, ayah saya juga sering bercerita bahwa saat menanak nasi, Kiai Basyir remaja acap kali mengurangi takaran beras yang akan dimasaknya. Caranya, beliau memukulkan wadah takaran yang terbuat dari alumunium ke benda keras sehingga sedikit demi sedikit membentuk benjolan ke dalam. Lambat laun, otomatis isi takaran akan menjadi lebih sedikit.

Kisah al-Sari dan juga Kiai Basyir di atas memperlihatkan bahwa tirakat atau mujahadah tidaklah harus selalu berkaitan dengan hal-hal yang besar dan wah. Hal-hal kecil yang mungkin bersifat atau terkait dengan hal yang bersifat material atau duniawi jika dilakukan secara terus-menerus mungkin akan dapat membentuk sikap batin (akhlak, hay’ah) tertentu yang dapat menopang pada bentuk sikap batin yang lebih mendasar, seperti ketulusan, kejujuran, kegigihan, dan sebagainya.

Di lingkungan Pesantren Annuqayah, misalnya, saya mendengar bahwa almarhum Kiai Basyir, seperti juga almarhum Kiai Abdul Warits Ilyas, secara istikamah mencuci sendiri semua pakaiannya hingga akhir hayatnya—kecuali di saat-saat akhir keduanya sakit keras sehingga harus istirahat dan mengurangi aktivitas fisik.

Praktik-praktik sederhana seperti ini bagi saya adalah salah satu teladan spiritual yang luar biasa yang mungkin juga turut mendukung konsistensi beliau, misalnya, dalam keistikamahan memimpin shalat berjamaah lima waktu di pondok bersama santri-santri.

Saya pikir, pesantren-pesantren di Nusantara menyimpan banyak cerita tentang tirakat-tirakat spiritual seperti ini yang jika dihimpun akan bisa memperkaya khazanah kisah-kisah spiritual sebagaimana termuat dalam kitab-kitab tasawuf klasik.

Read More..

Saturday, 4 November 2017

Ihwal Pembiayaan Pendidikan di Amerika

Ruangan untuk makan siang di St Alban's School

Saat terbang dari Jakarta ke Surabaya dalam rute perjalanan terakhir dari Amerika di awal Oktober lalu, di pesawat saya sempat membaca sebuah esai di Harian Kompas yang mengangkat profil tokoh yang berjuang di bidang pendidikan. Esai di halaman 16 itu secara singkat memaparkan sosok bernama Irma Suryani, seorang perempuan yang memperjuangkan akses pendidikan bagi anak-anak yang tidak mampu di Kalimantan Selatan.

Kisah singkat Irma Suryani bagi saya merupakan gambaran tentang satu sisi persoalan pendidikan di Indonesia. Isu keterbatasan dana dalam akses pendidikan yang bermutu masih menjadi masalah yang cukup mengemuka di negeri ini. Kewajiban pemerintah untuk memberikan pelayanan pendidikan dasar yang baik untuk semua warga masih belum sepenuhnya terpenuhi. Di sekolah-sekolah negeri, kita masih bisa menjumpai beban pembiayaan yang harus dibayar oleh orangtua murid.

Selama kunjungan tiga pekan di Amerika dalam rangka program International Visitor Leadership Program (IVLP) bertema Pendidikan Berbasis Agama, ada beberapa hal yang cukup menarik perhatian saya terkait pembiayaan pendidikan di Amerika. Dari berbagai diskusi bersama para ahli dan kunjungan ke sekolah negeri dan swasta, juga ke instansi terkait seperti Department of Education di Washington DC dan lembaga terkait lainnya, saya mencatat beberapa hal menarik.

Pertama, tentang pemenuhan kewajiban negara atau pemerintah. Di Amerika, sekitar 90 persen peserta didik hingga jenjang menengah atas mengikuti pendidikan yang diselenggarakan pemerintah. Di sekolah negeri, mereka mendapatkan layanan yang penuh sehingga bebas dari pembiayaan. Ada fasilitas bus jemput-antar—bus kuning yang sering kita jumpai di film-film Amerika. Kebutuhan buku juga dipenuhi.

Yang menarik, kebijakan nasional terkait pengelolaan pendidikan yang dibuat oleh pemerintah federal Amerika lebih bersifat umum. Menurut Maureen F. Dowling, Ed.D., Direktur Kantor Pendidikan Swasta Departemen Pendidikan Pemerintah Amerika Serikat, Kementerian Pendidikan pemerintah federal Amerika memiliki empat wilayah kewenangan dan tugas pokok. Pertama, wewenang dalam hal distribusi dana, termasuk juga pengawasannya. Kedua, mengumpulkan data-data di bidang pendidikan yang dapat dijadikan dasar bagi perumusan kebijakan. Ketiga, menggarisbawahi isu-isu penting di bidang pendidikan untuk diprioritaskan dan ditekankan. Keempat, memastikan bahwa tidak ada diskriminasi dalam praktik dan layanan pendidikan.

Sementara itu, pemerintah negara bagian memiliki kewenangan yang cukup leluasa untuk mengarahkan kurikulum, misalnya. Itu pun dengan ruang yang cukup luwes sehingga kita dapat dengan mudah menemukan sekolah negeri yang mengakomodasi kebutuhan khas siswa-siswanya. Fordson High School di Detroit, Michigan, misalnya, mengakomodasi kebutuhan siswa-siswanya yang sekitar 95 persen keturunan Arab. Di sekolah ini, misalnya, diajarkan pelajaran Bahasa Arab sehingga tak heran guru-gurunya juga sedikit mengerti Bahasa Arab meski bukan keturunan Arab. Untuk momen-momen yang terkait dengan peribadatan umat Islam seperti bulan Ramadan atau perayaan Islam, Fordson dengan cukup luwes memberi keringanan untuk kegiatan olahraga di bulan Ramadan, waktu libur, dan semacamnya.

Jadi, poinnya, dari jumlah keikutsertaan masyarakat yang tinggi pada sekolah negeri di Amerika, kita mungkin dapat mengatakan bahwa pemerintah Amerika tampaknya memberikan layanan pendidikan dasar yang cukup baik sehingga dapat mengurangi beban masyarakat dalam pembiayaan pendidikan. Memang, biaya pendidikan selain di sekolah negeri di Amerika terbilang mahal.

St. Alban’s School di Washington DC, misalnya, yang secara kelembagaan merupakan anggota the Protestant Episcopal Cathedral Foundation, menetapkan beban biaya yang cukup mahal untuk ukuran kantong orang Indonesia secara umum. Sekolah yang mengelola pendidikan khusus untuk siswa tingkat 4-12 dan juga memiliki fasilitas asrama siswa ini kurang lebih memungut biaya pendidikan setidaknya sekitar 40 juta per bulan.

Namun, fasilitas dan layanan pendidikan di sekolah ini memang terbilang bagus. Saat kami berkunjung, kami melihat ruang-ruang kecil yang ternyata merupakan ruang kerja guru. Salah satu kelas yang kami amati memuat siswa sebanyak 8 orang. Saat ke bengkel seni, kami melihat 5 orang siswa sedang praktik didampingi seorang guru. Di ruangan teater, kami melihat satu orang siswa tengah berdiskusi dengan guru seni.

Sekolah swasta lainnya, seperti Al Fatih Academy, di Reston, Virginia, memungut biaya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan biaya pendidikan di St. Alban’s School. Di Al Fatih Academy, misalnya, untuk tingkat 1-8 (masuk Senin sampai Jum’at, tiap hari Senin hingga Kamis masuk dari pukul 08.30 hingga pukul 15.30, dan untuk hari Jum’at masuk dari pukul 08.30 hingga pukul 13.30), biaya tahunannya per siswa 8.512 dolar Amerika (Rp 114.912.000,- jika menggunakan kurs satu dolar setara Rp 13.500,-). Untuk jenjang taman kanak-kanak (kindergarten), biaya tahunannya per siswa 9.924 dolar Amerika (Rp 133.974.000,- jika menggunakan kurs satu dolar setara Rp 13.500,-).

Secara statistik, sekolah swasta di Amerika yang dalam ukuran kantong rata-rata orang Indonesia mungkin cukup mahal itu memang hanya sekitar 10 persen. Tapi orangtua di Amerika punya alasan tersendiri untuk memilih menyekolahkan anak mereka di sekolah swasta meski biayanya mahal.

Namun demikian, meski mahal, orangtua yang menyekolahkan anaknya di sekolah swasta bisa mendapatkan bantuan keuangan dari lembaga swasta, bahkan juga dari pemerintah.

Di Al Fatih Academy, misalnya, orangtua siswa bisa mengajukan bantuan keuangan melalui prosedur yang informasinya bisa diperoleh di laman sekolah tersebut. Bantuan keuangan diberikan setelah melalui proses penilaian kelayakan terhadap keluarga yang mengajukan bantuan. Penilaian dilakukan oleh pihak ketiga, yakni oleh FACTS Management, sebuah perusahaan yang khusus membidangi bantuan di bidang pendidikan yang berkantor di Lincoln, Nebraska, dan telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 13 ribu sekolah.

Faktor yang dipertimbangkan meliputi pemasukan dan aset keluarga, jumlah anggota keluarga, usia orangtua, jumlah anak dalam keluarga yang membutuhkan pembiayaan dalam pendidikan, kota atau negara bagian tempat tinggal keluarga, dan jumlah anggota keluarga yang bekerja.

Sumber dana bantuan diambil dari zakat yang diterima dan dikelola oleh Al Fatih Academy. Tentu saja pengelolaannya berdasarkan prinsip-prinsip pengelolaan zakat dalam Islam yang melibatkan para ahli hukum Islam.

Yang juga menarik, data-data terkait pengajuan bantuan keuangan ini dijaga kerahasiaannya. Siapa yang mengajukan dan seperti apa hasil penilaian dari FACTS Management hanya diketahui oleh bagian terkait di sekolah, dan dijamin kerahasiaannya.

Ada lagi hal menarik lainnya yang saya dapatkan tentang pembiayaan pendidikan di Amerika. Kita tahu, fasilitas dan layanan pendidikan di sekolah negeri diberikan oleh pemerintah dari sumber pajak warga. Nah, masyarakat yang memilih untuk menyekolahkan anaknya di sekolah swasta berarti tidak ikut menikmati pemanfaatan pajak yang dibayarkannya kepada pemerintah. Atas situasi ini, beberapa negara bagian membuat kebijakan khusus, yakni dengan memberikan voucher untuk membantu pembiayaan pendidikan di sekolah swasta khusus bagi orangtua yang menyekolahkan anaknya di sekolah swasta. Besar dana dalam voucher yang diberikan tidaklah sama, disesuaikan dengan pembayaran pajak yang dilakukan.

Sistem voucher untuk pendidikan ini cukup menjadi isu yang kontroversial, karena pada tingkat tertentu seperti turut mendelegitimasi mutu layanan pendidikan sekolah negeri. Namun, di sisi lain, voucher pendidikan ini dinilai positif karena dapat mengakomodasi pilihan orangtua tanpa mengesampingkan kewajiban negara untuk membantu dalam hal pembiayaan pendidikan warganya.

Kunjungan singkat yang saya ikuti selama mengikuti program IVLP di sepanjang bulan September 2017 lalu tentu tidak bisa memotret secara lengkap dinamika dunia pendidikan di Amerika. Salah satu hal yang masih belum tergambar, misalnya, adalah tentang kebijakan ekonomi liberal yang bisa diberi label kapitalistik dan imbasnya di dunia pendidikan. Saya belum bisa memberikan gambaran spesifik, misalnya, tentang bagaimana kepentingan industri di Amerika mempengaruhi dan mengarahkan kebijakan-kebijakan pendidikan, termasuk juga nuansa politisnya.

Yang dapat dikemukakan melalui tulisan singkat ini baru sebatas beberapa hal terkait pembiayaan pendidikan di Amerika yang dari situ menggambarkan upaya dan pelaksanaan kewajiban negara untuk memberikan layanan pendidikan, usaha-usaha masyarakat sipil untuk ikut menyelenggarakan pendidikan yang khas, dan juga siasat untuk mengatasi masalah pembiayaan yang dihadapi oleh sebagian masyarakat.

Meski demikian, dari beberapa informasi yang masih secuil ini, kita tentu dapat mengambil pelajaran khususnya untuk memperkuat masalah aspek pembiayaan dalam pendidikan untuk mencapai kualitas pendidikan yang baik.

Read More..

Friday, 20 October 2017

Buku dan Pendidikan di Amerika

Perpustakaan Fordson High School di Detroit, Michigan 

Saat mendapatkan penjelasan dari Kepala Sekolah Al Fatih Academy (AFA), Ms. Afeefa Syeed, bahwa sekolah yang dikelolanya tidak menggunakan buku paket dalam proses pembelajaran di kelas, saya cukup terkejut. Apa alasannya? Menurut Afeefa, buku pelajaran dapat berpotensi membatasi ruang lingkup pembelajaran. Pembelajaran bisa menjadi kaku dan hanya terfokus pada buku teks yang digunakan.

Di Al Fatih Academy—sekolah swasta yang mengelola pendidikan dari jenjang PAUD hingga SMP di Reston, Virginia—pembelajaran lebih ditekankan pada arahan kurikulum yang telah disusun dengan pendekatan terpadu, interdisipliner, dan terutama menggunakan metode inquiry. Dengan arahan tema dan pembahasan sesuai kurikulum sekolah dan juga nilai-nilai pokok yang ingin dikembangkan, siswa difasilitasi untuk belajar dengan bertanya dan berpikir tentang hal-hal yang ada di sekitar mereka.

Saya melihat dokumen kurikulum mereka. Pada tingkat Kindergarten, saya menemukan satu halaman tema pembelajaran tentang “My Five Senses”. Saya dapat melihat bagaimana subjek-subjek pelajaran—sains, ilmu sosial, bahasa, seni, matematika, dan keislaman—dapat terintegrasi dalam tema tersebut. Saya juga sempat melihat dokumen kurikulum untuk Islamic Studies dengan konsentrasi akidah di jenjang SD, dan memperhatikan bagaimana di tiap jenjang tingkat kerumitan materi disusun dengan baik.

Pembelajaran tanpa buku pelajaran ala Al Fatih Academy, yang saat ini siswanya semua berjumlah 292 anak itu, dalam pandangan saya haruslah mengandalkan guru yang mumpuni dalam mengelola kelas sesuai dengan arahan dan target kurikulum. Selain itu, saya melihat peran ketersediaan fasilitas buku di perpustakaan sangatlah penting juga diperhatikan.

Di Perpustakaan Al Fatih Academy, saya menemukan buku-buku menarik yang rasanya akan cukup sulit saya temukan dalam versi bahasa Indonesianya. Saya cukup terkagum-kagum saat menemukan buku versi anak-anak yang dipetik dan diolah dari karya besar Imam al-Ghazali. Beberapa buku yang terlihat seperti serial terbitan Fons Vitae tersebut dicetak dengan kemasan hardcover dan full colour.

Ada yang isinya lebih dominan gambar, yakni dalam bentuk cerita bergambar, yang kemudian di bagian belakang disajikan terjemahan bahasa Inggris yang dipetik dari salah satu bab Ihya’ Ulumiddin. Untuk yang ditujukan pada pembaca yang levelnya lebih tinggi, gambar tidak terlalu dominan, tapi tetap dengan tata letak dan perwajahan yang menarik.



Di Perpustakaan Al Fatih Academy yang dapat dibilang tidak terlalu besar, saya juga menemukan buku-buku cerita yang menarik, seperti fabel lingkungan yang cukup ternama yang dikemas dalam buku berjudul When the Animals Saved Earth, dan juga buku-buku anak lainnya.

Terprovokasi dengan buku-buku semacam ini yang kemudian juga saya temukan dalam kunjungan ke sekolah-sekolah lainnya di Amerika selama tiga pekan di bulan September lalu, saya mencoba membeli beberapa buku anak di toko daring Amazon. Setelah memilih dan membeli beberapa buku yang di antaranya memang merupakan buku yang saya temukan di beberapa perpustakaan sekolah di Amerika, di Amazon saya menemukan buku-buku anak dan remaja yang menarik lainnya yang memperlihatkan kekayaan dunia bacaan berbahasa Inggris.

Selain itu, saya juga menemukan dugaan kuat bahwa dalam proses penyediaan sumber bacaan untuk kalangan anak dan remaja tersebut, pihak-pihak yang sangat berkompeten ikut serta dengan baik. Dugaan ini saya simpulkan dari salah satu buku yang saya beli yang berjudul Painting Heaven: Polishing the Mirror of the Heart (Ghazali Children) terbitan Fons Vitae. Buku komik tipis yang diolah dari bagian kecil dalam bab ‘Ajâibul-Qalb dari kitab Ihya’ Ulumiddin ini melibatkan Profesor Coleman Barks yang terkenal dengan terjemahannya atas puisi-puisi Rumi. Barks, penyair dan profesor emiritus di University of Georgia, menyiapkan naskah untuk buku yang saya beli dengan harga 16,71 dolar Amerika ini (sebelum pajak). Sedangkan yang menggarap ilustrasinya adalah Demi Hunt yang memang telah terlibat dengan penerbitan ratusan buku anak dan mendapatkan berbagai penghargaan bergengsi.

Selain itu, saya juga ingat bahwa Ms. Afeefa Syeed, kepala sekolah Al Fatih Academy, juga tercatat sebagai konsultan untuk penerbit Simon & Schuster Children’s Book Division—penerbit yang di antaranya menerbitkan buku-buku karya William J. Bennett.

Nama William J. Bennett ini menjadi masuk dalam rekam ingatan saya lantaran dia menerbitkan sebuah buku yang cukup membuat saya penasaran karena saya temukan di hampir semua perpustakaan sekolah yang saya kunjungi di Amerika. Bukunya berjudul The Book of Virtues: A Treasury of Great Moral Stories. Setelah saya membaca sebagian isi buku ini di versi Kindle yang saya beli di Amazon, pertanyaan saya tentang pendidikan moral di Amerika sedikit terjawab.

Buku yang menghimpun cerita, puisi, dan esai-esai terpilih ini berusaha membantu menumbuhkan moral literacy (kesadaran moral atau melek moral) di kalangan anak-anak dan remaja. Caranya adalah dengan berbagi keutamaan (virtues) yang termuat dalam cerita, puisi, dan esai-esai tersebut, pada anak-anak, pelajar, orangtua, dan juga guru. Dalam pengantarnya, Bennett menjelaskan empat alasan penggunaan model pendidikan moral yang dikembangkan dalam buku ini.

Pertama, cerita-cerita yang terhimpun dalam buku ini dapat menjadi titik rujukan tentang praktik konkret berbagai keutamaan moral. Kedua, kisah-kisah dalam buku ini dapat menarik perhatian anak-anak. Ketiga, cerita-cerita dalam buku ini membantu anak-anak untuk menjangkarkan diri mereka dengan akar budaya, sejarah, dan tradisi mereka. Keempat, dengan mengajarkan kisah-kisah dalam buku ini berarti kita terlibat dengan usaha pembaruan dan pemaknaan kontekstual atas kisah-kisah tersebut.

Buku yang berfokus pada 10 sifat utama ini ternyata juga dibuat dalam versi yang lebih spesifik. Bennett juga menulis buku The Book of Virtues for Your People, The Children’s Book of Virtues, dan The Book of Virtues for Boys and Girls. Bennett juga menulis buku The Moral Compass: Stories for a Life’s Journey, The Children’s Book of Heroes, The Children’s Book of America, dan lain-lain.

Satu hal lain yang cukup menarik tentang buku dan pendidikan di Amerika saya temukan di University of Dallas di Texas. Saat kunjungan ke Departemen Pendidikan kampus tersebut, saya bersama teman-teman rombongan International Visitor Leadership Program (IVLP) berkesempatan mengikuti salah satu kelas perkuliahan di kampus berlatar Katolik tersebut. Nah, kebetulan kelas yang kami ikuti terkait dengan buku. Nama mata kuliahnya “Child and Young Adult Literature” yang diampu oleh Dr. Amie Sarker.



Pada saat kami mengikuti kelas tersebut, dosen sedang fokus pada pembahasan tentang bagaimana cara mempertimbangkan buku yang cocok untuk digunakan sebagai bahan pembelajaran di tingkat sekolah dasar dan yang lebih rendah. Selain pemaparan yang menarik, dosen juga membagikan beberapa tulisan pendukung yang di antaranya juga memuat data-data tentang buku anak menarik dari berbagai belahan dunia. Dia juga membawa contoh buku-buku dan mengajak mahasiswa untuk mendiskusikannya di kelas.

Sepulang dari kunjungan di kampus tersebut, saya mencoba menjelajah ke laman kampus University of Dallas, dan ternyata saya menemukan mata kuliah yang lain di Department of Education yang juga berkaitan dengan buku. Ada mata kuliah Writing Children’s Books, Reading in the Secondary Schools, Developmental Reading, Diagnostic and Corrective Reading, dan juga Storytelling.

Lebih jauh, di laman kampus University of Dallas, saya menemukan satu hal yang sangat menarik, yakni bahwa kampus ini menyelenggarakan kelas-kelas dengan jumlah mahasiswa sekitar 16 orang per kelas yang membahas teks-teks babon untuk beberapa disiplin, seperti filsafat, teologi, ekonomi, sejarah, dan lain-lain. Kelas semacam ini diharapkan dapat mengantarkan profesor dan mahasiswa yang ikut serta untuk terlibat dalam dialog mendalam dan bermakna yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menginspirasi mereka untuk mencintai pengembaraan intelektual sehingga itu semua dapat bermanfaat untuk karier akademik dan kehidupan mereka secara umum kelak. Di laman kampus juga disebutkan buku-buku induk yang akan dibahas, seperti The Communist Manifesto karya Marx dan Engels, Crime and Punishment karya Fyodor Dostoevsky, The Question Concerning Technology karya Martin Heidegger, Genealogy of Morals karya Friedrich Nietzsche, dan sebagainya.

Pada titik ini, saya melihat kesadaran yang kuat akan pentingnya buku dalam proses pendidikan sehingga hal yang berkaitan dengan buku mendapatkan tempat yang istimewa dalam perkuliahan di bidang pendidikan atau kegiatan perkuliahan lain pada umumnya di University of Dallas.

Membandingkan antara keadaan dunia perbukuan dalam kaitannya dengan praktik dunia pendidikan di Amerika dan situasi di Indonesia, saya melihat jurang yang cukup lebar dalam berbagai aspeknya. Ketersediaan buku-buku bermutu yang sangat menunjang pada proses pendidikan, mungkin termasuk juga kemudahan aksesnya oleh masyarakat dan pelajar pada khususnya, keterlibatan dan dukungan kalangan ahli dan akademisi untuk menghasilkan produk buku yang bermutu, perhatian dunia pendidikan termasuk kampus untuk memanfaatkan buku-buku tersebut dalam proses pendidikan, semuanya tampak begitu padu sehingga dengan jelas memperlihatkan jurang yang cukup lebar tersebut.

Mengakui adanya jurang yang lebar dalam hal mutu dunia perbukuan dalam kaitannya dengan praktik pendidikan antara di Amerika dan di Indonesia mungkin akan terdengar sebagai hal yang menyedihkan. Namun begitu, kita tahu bahwa pengakuan dan kesadaran semacam ini dapat juga menjadi peluang dan tantangan: bahwa ada sesuatu, atau bahkan banyak hal, yang masih harus kita lakukan dengan penuh kerja keras untuk bersama-sama membangun dunia pendidikan yang lebih baik dan membangun peradaban yang lebih maju di masa depan.

Read More..

Friday, 13 October 2017

Legenda Demonstran di Seberang White House

Tenda demonstran WHPV di seberang White House, Washington DC

Ada hal menarik saat untuk pertama kalinya kami berkegiatan di Amerika, yakni jalan-jalan ke White House di Washington DC. Saat itu hari Ahad siang, 9 September 2017. Itu adalah hari kedua kami di Washington DC untuk rangkaian kegiatan sekitar 3 pekan di beberapa kota di Amerika. Mobil yang mengantar kami dari hotel menurunkan kami di Lafayette Square yang terletak di salah satu sisi White House.

Lafayette Square tidaklah amat luas. Setelah pemandu berbincang ringan tentang taman itu dan juga tentang White House, kami kemudian melintasi taman itu ke arah Gedung Putih. Begitu melewatinya, kami tiba di halaman luar White House yang dikelilingi pagar dan dijaga oleh beberapa petugas kepolisian.

Siang itu pengunjung begitu ramai lalu-lalang di situ. Namun, begitu masuk ke area halaman luar White House, perhatian saya langsung tertuju pada sebuah tenda yang di sekitarnya dipenuhi dengan tulisan-tulisan dan foto-foto semacam poster. Seorang lelaki berjanggut dan menggunakan kursi roda tampak di depan tenda berbicara keras ke arah orang-orang yang melintas.

Rombongan kami tak berhenti lama di tenda tempat orang yang tampak sedang melakukan aksi demonstrasi itu. Rombongan kami keburu bergerak mendekat ke arah White House mengikuti gerak pemandu yang terus memberi penjelasan.

Sambil mendengarkan penjelasan pemandu yang bergerak mulai dari depan White House, terus ke arah kanan ke Blair House dan Eisenhower Executive Office Building, dan kemudian berbalik ke arah gedung Treasury Department, di pikiran saya kadang melintas tenda demonstrasi dan sosok berjanggut itu.

Agak penasaran, hari Selasa pagi, 12 September, setelah shalat subuh saya berangkat sendiri dari One Washington Circle, hotel tempat saya menginap, ke White House dengan jalan kaki. Jarak 1,5 km ditempuh sekitar 16 menit. Hari masih gelap. Saya mengambil jalur Jalan K, lalu Jalan H, hingga tiba di Lafayette Square. Mendekati halaman luar White House yang tak berpenerangan yang cukup, saya mendengar gema suara orang yang seperti berteriak. Sampai di area halaman luar White House, di samping tenda demonstran itu, lurus ke arah White House, saya melihat sesosok orang menghadap pagar White House. Dialah sumber suara itu. Di hadapannya ada tiga orang petugas kepolisian.

Saya berusaha menangkap omongannya. Pembicaraannya ternyata tentang bencana Badai Irma di kawasan Florida. Dia menuntut pemerintah untuk benar-benar memberi perhatian kepada warga yang terkena musibah alam tersebut.

Saya mencoba mendekat ke arah petugas, lalu pura-pura bertanya letak ATM Bank of America terdekat, hanya untuk mencoba melihat dari dekat sosok lelaki yang berteriak itu. Si petugas tidak tahu pasti ATM yang saya tanyakan. Saat bertanya, saya melirik ke sosok lelaki yang agak gemuk dan mengenakan pakaian berwarna merah muda itu. Dia bukan orang yang saya lihat di hari Ahad sebelumnya dengan berkursi roda di dekat tenda. Dia tampak tidak terganggu dengan kedatangan saya ke petugas di dekatnya. Dia tetap bermonolog ke arah White House.

Saat Jum’at sore (15 September) saya melewati kawasan White House itu lagi, saya masih melihat si demonstran dengan tendanya.

Meninggalkan Washington DC pada hari Sabtu 16 September untuk pindah ke kota Detroit di Michigan, saya masih belum menyadari bahwa tenda dan demonstran di Lafayette Square seberang White House itu adalah sebuah legenda. Sementara itu, saya hanya menyimpan rasa kagum bahwa ada orang demonstrasi (yang dilakukan berhari-hari) di depan White House yang dibiarkan begitu saja oleh petugas kepolisian. Terlintas pertanyaan apakah itu bagian dari praktik kebebasan berbicara di Amerika.

Tenda dan demonstran di White House kembali muncul dalam pikiran saya saat di kota Detroit saya berjumpa dengan seorang perempuan yang tengah melakukan aksi demonstrasi sendirian di sebuah persimpangan jalan di dekat gedung perkantoran Renaissance Center. Dia mengangkat tulisan besar yang intinya mengecam General Motors yang persis berkantor di gedung Renaissance Center itu. Beberapa tulisan lainnya disiapkan di dekatnya.

Kesan saya saat menyaksikan aksi solo demo di pagi hari di kota Detroit yang katanya memang sedang dilanda krisis ekonomi sehingga di antaranya mengakibatkan terjadinya PHK yang cukup masif itu adalah soal kegigihan. Rupanya untuk mengungkapkan aspirasi atau tuntutan memang tak harus beramai-ramai. Satu orang sudah cukup. Asal cari tempat yang tepat. Seperti juga halnya aksi demo di Lafayette Square itu.



Saat saya bermaksud menuliskan catatan tentang dua aksi solo demo di Washington DC dan Detroit itu, saya mencoba menggali data di internet. Saat mencoba mengamati dua foto tersebut yang sempat saya ambil, khususnya foto tenda dan demonstran di White House, saya cukup terkejut saat saya melihat bendera Palestina ukuran kecil dipasang di atas tenda, bersebelahan dengan bendera Amerika.

Wah! Tenda dan demonstran ini pasti bukanlah hal sembarangan. Bendera Palestina bukan sesuatu yang biasa jika ia dipasang di dekat White House. Tapi mengapa saya tidak ingat pernah mendengar komentar atau pemaparan tentang tenda dan demonstran itu dari pemandu saat keliling kota Washington DC? Apa saya melewatkan bagian itu?

Saya coba minta bantuan Google dengan kata kunci teks yang saya temukan di foto tersebut. Saya menggunakan kata kunci “William Thomas anti nuclear peace vigil”. Saya juga coba “Palestine flag white house”, juga dengan variasi bahasa Indonesia. Dan ternyata saya menemukan cerita tentang legenda!

Dari Wikipedia dan beberapa sumber lainnya, saya jadi tahu bahwa tenda dan demonstran di Lafayette Square itu sudah memulai aksinya sejak 3 Juni 1981. William Thomas adalah pelopornya. Thomas yang kelahiran New York ini adalah seorang aktivis anti-nuklir dan juga aktivis perdamaian. Saat meninggal pada 23 Januari 2009, aksinya di depan White House yang sudah menjadi legenda dilanjutkan oleh Concepcion Picciotto—biasa disebut Connie—yang telah mengikuti aksi Thomas sejak Agustus 1981. Connie yang berdarah Spanyol ini meninggal pada 25 Januari 2016, dan aksinya kini dilanjutkan oleh rekan-rekannya sesama aktivis perdamaian yang tergabung dalam kelompok White House Peace Vigil (WHPV).

Adapun bendera Palestina yang dipasang di tenda demonstran itu, itu merupakan tanda bahwa isu Palestina adalah salah satu fokus masalah yang disuarakan selain masalah Irak dan juga Suriah yang belakangan juga hangat. Dari kunjungan saya selama tiga pekan di Amerika, saya akhirnya dapat memahami bahwa isu perdamaian dan perang di berbagai negara di dunia sangatlah berkaitan dengan Amerika karena faktanya cukup banyak warga yang mengalami konflik di berbagai negara tersebut yang kemudian hijrah ke Amerika.

Begitu selesai membaca beberapa informasi di internet tentang tenda dan demonstran di depan White House itu, saya merasa cukup menyesal bahwa saya baru mengetahui tentang legenda demonstran yang katanya sempat berkali-kali berurusan dengan pengadilan di Amerika akibat aksinya yang tercatat sebagai aksi demonstrasi terlama di Amerika yang tak bisa dibubarkan oleh pemerintah. Aturan bahwa aksi demonstrasi tidak boleh sampai menginap tidak bisa menghentikan aksi kelompok White House Peace Vigil ini, karena aksi ini jauh lebih awal digelar daripada terbitnya peraturan tersebut.

Andai saya tahu saat saya masih tinggal di Washington DC, mungkin saya bisa menggali informasi secara langsung di sana. Saya bisa bertanya tentang suka duka para aktivis perdamaian yang bergantian meneriakkan tuntutannya pada salah satu pusat politik di dunia itu. Saya mungkin juga akan menanyakan tentang keluarga mereka dan juga aneka tanggapan yang mereka terima dari para pengunjung di tempat itu.

Ah, semua hanya tinggal penyesalan. Ini akibat keterbatasan pengetahuan saya sehingga saya melewatkan salah satu legenda demonstran yang bernilai penting di Amerika. Akhirnya, saya sendiri tidak tahu apa saya masih akan punya kesempatan untuk kembali ke Lafayette Square itu untuk sekadar berbincang, foto bareng, atau turut menyumbang 10 atau 20 dolar untuk aksi damai tersebut.

Read More..