Friday, 6 October 2017

Nasionalisme Sederhana ala Warga Amerika

Bendera Amerika dalam ukuran besar di Ronald Reagan Washington National Airport

Ada pelajaran kecil yang cukup berharga yang saya dapatkan dari kunjungan saya ke Amerika selama 3 pekan dalam rangka undangan Department of State (Kementerian Luar Negeri) untuk program International Visitor Leadership Program (IVLP). Pelajaran itu tentang nasionalisme yang terwujud dalam bentuk sederhana tapi saya rasakan cukup kuat dan berdampak.

Selama 3 pekan di Amerika, berpindah dari kota ke kota (Washington DC, Detroit di Michigan, Dallas dan Austin di Texas, dan Portland di Oregon), saya menyaksikan warga Amerika banyak yang memasang bendera Amerika di rumah-rumah mereka. Tidak semua berbentuk bendera. Ada juga kain dekoratif yang dipasang di pagar rumah tapi bermotif bendera Amerika.

Menurut pengalaman saya, di Indonesia, orang-orang ramai memasang bendera umumnya hanya pada bulan Agustus, yakni dalam rangka peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Memasang bendera memang tampak sebagai laku sederhana. Tapi saya pikir kecintaan pada negara dan perasaan sebagai suatu bangsa di antaranya dapat terpupuk melalui tindakan-tindakan seperti itu. Identitas juga terbentuk melalui ungkapan sederhana yang dilakukan terus-menerus dan terjadi secara masif. Sifat masif di sini saya pikir dapat berfungsi untuk saling menguatkan dan saling menegaskan.



Selain di rumah-rumah, saya juga menemukan bendera Amerika dipajang di gedung-gedung publik, seperti sekolah, bandara, kantor, dan sebagainya. Tidak hanya di halaman, bendera kadang saya temukan di salah satu ruangan di gedung publik seperti sekolah.

Dalam pertunjukan Rodeo di Fort Worth, Texas, saya menyaksikan di arena dalam ruangan dekorasi bermotif bendera Amerika di sepanjang pagar tribun. Selain itu, pertunjukan dimulai dengan nyanyian kebangsaan yang juga menampilkan seseorang yang berkuda mengelilingi arena sambil membawa bendera Amerika.



Pernah juga sekali saya melihat sepeda onthel yang di belakangnya dipasang bendera Amerika sampai bersusun empat. Saya melihat sepeda itu di halaman Capuchin Soup Kitchen di Detroit.

Memasang bendera mungkin memang hal yang sederhana. Sekilas, maknanya seperti tak seberapa. Tapi kita tahu, di negeri kita, ada juga orang-orang yang sangat serius mempersoalkan bendera sehingga mereka melarang sikap hormat pada bendera sebagaimana lazim dilakukan pada upacara-upacara—konon, menurut mereka, hormat bendera bisa termasuk syirik, dosa terbesar dalam agama.

Dalam konteks kehidupan bernegara dan berkebangsaan, saya pikir memasang bendera adalah salah satu cara sederhana untuk menanamkan rasa kebangsaan dan untuk membentuk identitas dan nasionalisme. Identitas di sini, dalam konteks Indonesia, tentu merupakan identitas yang berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila yang menghargai kemajemukan dan memberi tempat pada asas-asas pokok seperti ketuhanan, kemanusiaan, dan juga keadilan.

2 komentar:

News Daily said...

Sangat inspirati...
Menanamkan rasa nasionalisme dengan sederhana tapi penuh makna...

Top

M Mushthafa said...

@News Daily, terima kasih sudah membaca dan mampir di kolom komentar..