Kamis, 10 September 2026

Suatu Malam di Arek Lancor Bersama Lora Abbas


Malam baru beranjak. Di pusat kota Pamekasan, di area monumen Arek Lancor, keramaian di malam Minggu terlihat seperti biasa. Sudah cukup lama tak ada penjual kaki lima di area ini. Tapi tempat ini tetap menjadi favorit tempat nongkrong di kota Pamekasan.

Di sisi sebelah timur, tampak tiga orang anak muda berdiri di gerbang yang letaknya persis di tengah. Saat ada sepeda motor yang hendak masuk ke area dalam monumen, tiga pemuda ini tampak bertanya kepada pengendara. Ada pengendara yang urung masuk, dan kemudian parkir di area luar di sebelah pintu masuk.

Saya yang tak pernah ke area ini dengan bersepeda motor di malam hari memilih memarkir mio-J saya di area luar. Setelah membayar parkir kepada petugas, saya bertanya, “Pak, manabi koloma Lora Abbas se e dhalem, enggi?” (Pak, tempat pengajian Lora Abbas ada di dalam ya?). Bapak itu mengiyakan, dan menjelaskan bahwa sebenarnya mereka yang mau ikut pengajian bisa memarkir kendaraannya di area dalam.

Saya membiarkan sepeda saya diparkir di luar, dan kemudian berjalan melintas gerbang sisi timur itu. Saya melewati ketiga pemuda yang berjaga di pintu, menyaksikan mereka yang berpenampilan seperti santri pada umumnya: bersarung, berkopiah, dan berpakaian rapi. Di dalam, ada cukup banyak mobil dan sepeda motor yang parkir. Tepat di titik tengah, di sebelah selatan monumen Arek Lancor, sejumlah orang duduk lesehan di atas alas terpal yang terbagi dua di sisi barat dan timur. Sisi barat diisi oleh laki-laki, dan di timur perempuan.

Saya tidak langsung duduk di situ, dan memilih berkeliling untuk melihat-lihat suasana.

Di antara orang-orang yang duduk lesehan dan tugu Arek Lancor itu, ada semacam alas yang berbeda, lebih tebal, yang di antaranya ada kursi duduk lesehan. Ada meja kecil di depan kursi itu. Di belakangnya, ada layar monitor LED yang berukuran sekitar 2x3 meter. Di sisi baratnya, ada sound system yang cukup besar menghadap ke arah tenggara. Di dekat sound system, ada beberapa alat musik tabuh. Sedangkan di ujung selatan, di baris paling belakang alas terpal, duduk sejumlah orang dengan alat-alat pengendali sound dan perekam video. Beberapa lampu sorot warna-warni yang ada di bagian depan tampak berputar-putar ke arah langit dan sesekali merendah ke area kerumunan. Alat-alat elektronik itu terhubung dengan sebuah genset yang ada di belakang layar monitor LED.

Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat beberapa menit. Selain orang-orang yang berkumpul di titik tengah itu, banyak juga orang-orang yang menikmati suasana malam pusat kota Pamekasan itu. Sebagian dari mereka saya duga sebenarnya juga bagian dari orang-orang yang duduk lesehan itu, yang sedang menunggu gelaran acara dimulai. Ada juga yang tampak bersama keluarga, juga anak-anak, duduk-duduk atau bermain seadanya. Saat melintas di sisi utara area monumen, tampak dua pasang remaja, laki-laki dan perempuan, seperti sedang membuat konten video. Salah satunya memegang semacam karangan bunga.

Tepat pukul 20.22 WIB, dari pengeras suara terdengar suara lantunan zikir. Kalimat tauhid. Seketika beberapa orang di pinggiran berkumpul ke orang-orang yang duduk lesehan, mengisi alas yang masih kosong. Saya bergerak ke bagian agak belakang, sisi barat, duduk bersama beberapa anak muda lainnya yang sebelumnya duduk-duduk di sisi barat monumen.

Zikir terus berlanjut. Seterusnya, bacaan selawat, lalu syair-syair maulid diba’i, kemudian petikan dari aqaid 50, selawat nariyah, dan syair-syair keagamaan berbahasa Madura. Setelah maulid diba’i, musik tetabuhan mengiringi.

Setelah sekitar 10 menit, zikir berhenti. Seorang anak muda berkemeja hitam lengan panjang dan berkopiah putih yang duduk di kursi lantai dan ada meja kecil di depannya memegang mik. Dia adalah Lora Abbas. Tanpa basa-basi, Lora Abbas mengajak hadirin untuk memulai bacaan kasidah burdah. “Ngereng kita maos burdah, kadi biyasana, kaangguy ngarep eparengi tekka hajat, eparengi cokop dunnya ban akherat, ban eparengi tera’en ate.” Mari kita membaca burdah, seperti biasa, dengan harapan hajat kita terkabul, mendapatkan kecukupan di dunia dan akhirat, hati kita terang.

Bacaan burdah dimulai. Sebagian hadirin tampak memegang fotokopian bacaan burdah yang dibagikan sebelumnya oleh sejumlah anak muda, yang kemudian juga diiringi dengan pembagian segelas kopi dalam wadah plastik instan. Setelah satu fasal, bacaan berhenti. Acara inti dimulai. Lora Abbas mengambil kendali.

Lora Abbas, putra Kiai Muhammad Rofi’i Baidhowi, pengasuh PP Al-Hamidy Banyuanyar, Pamekasan, mulai berbicara, dimulai dengan permintaan maaf karena datang terlambat. Dia datang ke tempat itu langsung dari Buduran, Sidoarjo. Di Buduran, dia menghadiri acara walimah familinya. Dari jalur ibunya, Lora Abbas adalah cucu Kiai Abdul Mujib Abbas (1932-2010), pengasuh Pesantren Al-Khoziny Buduran.

Setelah cerita ringan dan santai—tentang vespanya yang ditawar 115 juta rupiah yang mogok karena kehabisan bensin di jalan menuju ke acara itu, tentang vespanya yang lain yang dulu pada tahun 2014 dibeli dengan harga 7,5 juta rupiah dan sekarang ditawar 40 juta rupiah, dan cerita-cerita keseharian lainnya—Lora Abbas memulai acara malam itu dengan membaca sebuah kutipan hadis Nabi dari sebuah kitab yang tergelar di meja kecil di depannya.

أفضل الأعمال بعد الإيمان بالله التودد إلى الناس

"Paling utamanya amal setelah beriman kepada Allah adalah mengasihi (tawaddud) kepada sesama manusia."

Lora Abbas, yang pernah mondok di Sarang, Jawa Tengah, dan juga di Yaman, Timur Tengah, memulai penjelasan hadis ini dengan menjernihkan pengertian kata “tawaddud”, akar katanya, dan nuansa perbedaan maknanya, misalnya dengan kata “mahabbah” (cinta). Kemudian, contoh-contoh sederhana yang diambil dari pengalaman dikemukakan.

Di sesi agak belakangan, setelah diselingi dengan pembicaraan lain dan juga lantunan kasidah burdah dari fasal berikutnya, Lora Abbas menyampaikan kepada hadirin aksi nyata tawaddud yang ingin dia tawarkan. “Sebagai wujud tawaddud, saya ingin menawarkan kepada Anda sekalian jika ada yang membutuhkan modal usaha kecil maksimal 10 juta rupiah. Saya sediakan untuk 3 orang, dengan syarat (1) harus mendapat rekom dari kepala desa setempat, dan (2) prosentase pembagian keuntungannya adalah 30 persen untuk saya, 60 persen untuk yang mengelola, dan 10 persen untuk dana sosial (tawaddud),” kata Lora Abbas, dalam bahasa Madura.

Sambil menyampaikan tawarannya itu, Lora Abbas menceritakan bahwa dia juga punya kegiatan kolom (komunitas pengajian) rutin dua bulanan dengan kepala-kepala desa di Pamekasan, sehingga nanti usulan pengajuan modal usaha akan diverifikasi pada pertemuan itu. Dia juga bercerita tentang komitmen pribadinya untuk menyisihkan dana sosial 10 persen dari penghasilannya, sebagai wujud tawaddud.

Pergaulan Lora Abbas setidaknya di Pamekasan cukup luas. Selain di forum rutin di area Arek Lancor yang diberi nama “Rutinan Lentera Katandur” dan sudah berlangsung sejak tahun 2015 itu, Lora Abbas sebelumnya aktif di forum serupa, seperti Ngasango (ngaji sambil ngopi) yang digagas oleh KH Fauzan Badruddin (Pamekasan) pada 2017 tapi kini sudah tidak aktif lagi. Lora Abbas juga aktif di kegiatan Majelis Rasulullah Madura. Bulan puasa lalu, saya bertemu Lora Abbas di sebuah diskusi bertema lingkungan hidup yang digelar oleh sebuah organisasi jurnalis di Pamekasan dan menghadirkan sejumlah pengurus publik, termasuk Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak.

Selain menjelaskan satu kutipan hadis di atas, malam itu Lora Abbas juga membacakan dan menjelaskan penggalan dari kitab fikih klasik, Matan Taqrib karangan al-Qadhi Abu Syuja’—sebuah kitab fikih dasar yang sangat dikenal dan pasti diajarkan di pesantren tradisional Madura. Petikannya diketik ulang dengan terjemahan bahasa Indonesia, dan dibagikan kepada hadirin di awal acara.

Untuk mempertajam pembahasan, ada sesi tanya jawab, baik yang disampaikan secara langsung maupun yang disampaikan secara daring. Salah satu penanggap/penanya menyampaikan bahwa dia baru pertama kali hadir di acara itu.

Dua bahan, hadis dan kutipan dari kitab fikih, mungkin adalah menu yang relatif “berat” di malam itu. Lainnya adalah kisah-kisah keseharian yang cukup akrab dengan para hadirin, termasuk juga kisah-kisah teladan dari para guru dan keluarga Lora Abbas. Penyampaian Lora Abbas yang cukup lugas dan bersahaja menarik para hadirin untuk terus menyimak sehingga tanpa terasa waktu bergerak hingga hampir pukul 10 malam.

Sebelum acara itu diakhiri, Lora Abbas menyampaikan pengumuman tentang rencana peringatan maulid yang ingin dia selenggarakan khusus untuk forum itu. Mungkin seminggu lagi, katanya, atau sembilan hari mendatang. Panitia juga mengumumkan uang yang terhimpun malam itu dari para hadirin. Acara ditutup dengan pembacaan selawat qiyam dan doa.

Tepat pukul 10 acara berakhir. Panitia beres-beres, termasuk membersihkan area itu dari sampah yang tersisa—area yang pada masa agresi Belanda tahun 1947 pernah menjadi tempat pertempuran sengit orang-orang Madura melawan tentara Belanda. Sebagian hadirin saya lihat pulang dengan naik mobil pickup, menandakan bahwa mereka berangkat dari satu titik yang mungkin berjarak cukup jauh. Sebuah mobil pickup L300 saya berplat nomor daerah Kabupaten Sumenep.

Saya sebenarnya ingin menyapa di antara hadirin yang tersisa, mengobrol sebentar. Tapi tiba-tiba terasa ada tetesan air yang menerpa wajah saya. Rupanya sedikit gerimis. Saya khawatir gerimisnya bertambah—meski kemudian ternyata saya salah—sehingga saya bergegas bergerak ke arah parkiran di sisi timur luar area monumen Arek Lancor.

Sepanjang jalan ke rumah, yang ternyata gerimisnya hanya singkat dan tak berlanjut, saya berpikir tentang acara yang saya ikuti malam itu. Kiai muda, para remaja dan juga sebagian orang tua, juga ada beberapa aparat desa dan negara, hadir bersama-sama di malam itu, mungkin di antaranya dipertemukan dengan niatan untuk menghidupkan agama dalam kehidupan nyata. Mungkin juga sebagian mereka berkumpul di situ seperti para perempuan yang diceritakan Saba Mahmood di Kairo, Mesir, yang hadir di pengajian di masjid-masjid di sana karena melihat Mesir yang bergerak semakin sekular. Mungkin juga mereka adalah orang-orang yang ingin merawat identitas kesantriannya, sebuah identitas yang menurut Yanwar Pribadi sangat lekat bagi warga Madura—entah seperti apa cakupan makna identitas santri di sini. Mungkin sebuah langkah kecil, di tengah keragaman keberagamaan dan dinamika masyarakat Pamekasan yang juga diiringi dengan beberapa perubahan sosial-ekonomi—merebaknya usaha rokok lokal, para pemuda yang merantau membuka warung Madura, dan juga pergaulan yang semakin cepat di ranah digital.

Secara khusus saya terpikir dengan anak-anak muda yang ada di area Arek Lancor malam itu. Sebagian besar mungkin mengikuti pengajian Lora Abbas di titik tengah Arek Lancor itu, meski sebagian yang lain menikmati malam Minggu di Arek Lancor itu sesuai dengan kadar orientasi dan kepentingan mereka. Namun, pada intinya, pikiran saya ditarik ke sebuah pertanyaan: siapa saja di tanah ini yang punya kepedulian khusus pada anak-anak muda yang tengah menghadapi perubahan cepat luar biasa yang di antaranya pasti juga mempengaruhi cara anak muda itu menghayati agama?

Pamekasan, 10 September 2026


Read More..

Sabtu, 20 Juni 2026

Tak Ada Penjual Buku di UIN Yogyakarta

Gerbang kampus UIN Yogyakarta yang dulunya menjadi salah satu tempat lapak buku.

Jika Anda mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta akhir dekade 1990-an hingga 2000-an atau setelah kampus itu kemudian menjadi UIN, Anda mungkin akan cukup dimanjakan oleh suasana kampus yang sangat meriah dengan pajangan buku-buku di lingkungan sekitar kampus. Di jalan akses sisi selatan kampus yang kini menjadi pintu utama kampus UIN, mulai sekitar pukul tujuh pagi Anda akan menyaksikan gelaran buku-buku yang dijual oleh beberapa pelapak. Mereka berjejer rapi di sisi selatan jalan, tanpa mengganggu arus kendaraan yang keluar masuk di jalan tersebut.

Tepat di samping pintu masuk utama kampus yang mengarah ke masjid, persisnya di sisi kanan, ada koperasi mahasiswa (kopma) yang di antaranya menjual buku-buku dari berbagai penerbit. Kalau pelapak yang ada di area pinggir selatan kampus membuka gelaran mereka dari pagi hingga jelang waktu zhuhur, toko buku Kopma buka hingga malam hari.

Selain dua titik utama tersebut, kadang ada juga pelapak “non-reguler” yang menjual buku-buku secara acak di sekitar UPT Perpustakaan di bagian utara kampus (kini menjadi gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora), atau juga di halte bus seberang pintu masuk utama. Pelapak “non-reguler” ini sering kali menjual buku-buku obral dari penerbit tertentu.

Tak jauh dari kampus, tepatnya di Gowok, mulai sekitar tahun 2000-an, ada toko buku Social Agency yang koleksi bukunya jauh lebih lengkap dari penjual buku lain di area kampus UIN waktu itu. Social Agency, yang sebelumnya dikenal membuka gerai di Jalan Gejayan dan juga di shopping center (kini bernama Taman Pintar) dekat Malioboro, memberi diskon yang cukup standar untuk harga mahasiswa, ditambah juga fasilitas sampul plastik gratis.

Tapi itu semua adalah kisah dari masa lalu. Anda tak akan menemukannya lagi sekarang.

Perubahan mungkin memang terjadi pelan-pelan. Anda akan terkejut saat menyadari kontras antara satu titik waktu dengan titik waktu lainnya.

Begitulah yang terjadi, saat tadi saya mengetahui bahwa Kopma UIN Sunan Kalijaga sudah tidak lagi menjual buku. Kopma UIN yang saya tahu pada tahun 2000-an cukup solid dan banyak menorehkan prestasi, kini tak memberi layanan pemenuhan salah satu kebutuhan pokok mahasiswa, yakni buku.

“Kopma sudah tidak jualan buku lagi, Pak,” kata petugas yang sedang berjaga, tadi sore. “Sudah tutup beberapa waktu yang lalu,” tambahnya, yang tampak bisa menangkap keterkejutan saya.

Saya jadi teringat koleksi buku-buku saya yang dibeli di Kopma IAIN/UIN. Meski saya dulu kuliah di UGM, saya dulu kos di sekitar IAIN dan cukup sering melihat-lihat dan membeli buku-buku di sekitaran kampus itu. Saya jadi ingat betapa koleksi buku yang dijual di Kopma IAIN waktu itu rasanya jauh lebih lengkap daripada koleksi Kopma UGM. Buku-buku baru juga cepat tersedia di situ.

Tadi sore saya jadi tersadar bahwa di lingkungan kampus Sapen itu kini sudah tak ada lagi penjual buku. Penjual buku terdekat yang tersisa adalah Social Agency Gowok. Saya lalu bergegas ke situ, teringat bahwa pada sekitar dua tahun yang lalu, toko buku itu sudah sangat sepi pengunjung. Saya ingat, waktu itu saya keliling melihat-lihat koleksi buku yang sangat banyak hingga ke lantai dua. Sayangnya, jumlah pengunjung waktu itu tak lebih banyak dari petugas jaga di toko tersebut.

Social Agency Ambarrukmo (Gowok) dekat kampus UIN Yogyakarta.

Bagaimana dengan tadi sore? Satu perbedaan yang cukup mencolok adalah bahwa berbeda dengan dua tahun lalu, Social Agency tak lagi menjual sembako di salah satu sudut tokonya. Kembali ke pengaturan awal: hanya ada buku, dan beberapa alat tulis dan alat peraga pendidikan. Tapi soal pengunjung tetap sama. Toko buku yang sangat luas itu sepi pengunjung. Saya hanya melihat lima pengunjung. Koleksi bukunya juga lebih banyak didominasi oleh buku-buku produk Pustaka Pelajar, penerbit yang juga dimiliki oleh pemilik toko buku tersebut.

Tutupnya toko buku di Kopma UIN saya pikir pastilah karena alasan bisnis. Menjual buku sudah tidak menguntungkan secara hitung-hitungan bisnis, sehingga apalah daya divisi tersebut akhirnya haruslah ditutup. Kalau berjualan buku di lingkungan mahasiswa yang seharusnya akrab dengan buku sudah tidak lagi punya prospek, lalu memangnya yang prospek itu jualan apa? Pikiran nakal saya muncul sekilas.

Kalau para penjual buku di lingkungan kampus UIN sudah tidak ada, di manakah para mahasiswa kini mengakses buku? Koleksi dan pengelolaan perpustakaan kampus sekarang sudah jauh lebih bagus daripada dahulu. Demikian pula, toko-toko buka sudah banyak tersedia di lokapasar online yang sangat mudah diakses dan menawarkan layanan yang relatif nyaman—termasuk harga yang kompetitif.

Jika melihat secara lebih luas, memang dunia buku saat ini tampaknya sudah banyak berubah. Sumber informasi dan pengetahuan selain buku sudah muncul sedemikian masif dan pervasif: menyeruak sebegitu banyak dan tumpah ruah seperti tak terbatas. Kanal-kanal video diskusi dan ceramah keilmuan di berbagai platform tersedia dan terus berkembang. Demikian juga, akses buku berbahasa asing dalam format pdf atau yang lainnya juga semakin mudah diperoleh. Yang paling baru, mesin kecerdasan buatan menyediakan kemampuan untuk merangkum bahan-bahan bacaan dengan cepat dan mudah.

Itulah beberapa perubahan yang sedang terjadi di lingkungan yang lebih luas, yang sebagiannya kemudian mungkin turut berpengaruh pada menurunnya prospek penjualan buku khususnya di lingkungan kampus UIN Sapen.

Setelah tidak ada toko buku atau orang berjualan buku fisik di lingkungan kampus, mungkin interaksi mahasiswa UIN Sapen sekarang lebih banyak dengan perpustakaan kampus, toko buku online, dan sumber-sumber belajar di internet. Pertanyaannya: ketika buku-buku fisik tidak terpajang di lingkungan terbuka atau ruang publik seperti dulu tersedia di para pelapak sekitar kampus, seberapa itu berpengaruh terhadap interaksi dan produksi diskursus keilmuan di sana pada khususnya?

Tentu saja ini bukan pertanyaan yang diharapkan dapat dijawab dengan cepat. Tapi setidaknya ini bagian dari kegelisahan saya atas adanya sebuah perubahan di sebuah lingkungan ilmiah yang memiliki sejarah cukup panjang. Lapak buku fisik adalah salah satu infrastruktur ilmu dan peradaban. Kehadirannya, dan juga peralihan bentuknya, mungkin akan mengubah cara ilmu beredar dan dikonsumsi.

Wallahualam.

Kotagede, 18 Juni 2026

Read More..